Minna... lagi-lagi telat update T.T gomenasai... makasiih banyak buat Hitsugaya Bintang Zaoldyeck, Fa Vanadium, Luchia Hiruma, Hyou Hyouichiffer, dan Hiruma Yuuzu,
udah dibales lewat PM ya, dan yang ga log in...
Guest: nyahahaha… arigatou gozaimasu^^ Hiruma itu dimana-mana emang kejam sih XD #plak eeh.. Yamato sama Karin? Ikuti terus aja ya… kekekeke
Kuro Nami: Yaay… ga apa-apa… iya, akhirnya tahu juga, kekekeke… makasiih ya, selamat menikmati lanjutannya…
mari kita mulai ceritanya...kekeke
Disclaimer: Riichiro Inagaki & Yusuke Murata
Inspired Song by Jealkb-Shilhouette
Story: Mayou Fietry
Pair: Mamori Anezaki, Youichi Hiruma, Takeru Yamato
Rated: T
Genre: Romance, drama
Warning: AU, OOC, typo, gaje, ide pasaran, abal, kayak sinetron, dan segala keburukan lainnya yang bisa bikin keracunan..
.
.
.
"Selama ini, sehari pun aku tidak pernah melupakanmu, Youichi"/ "Saat bersamaku, apa kau juga selalu mengingatnya?"/ "Takeru dan Youichi itu berbeda, kalian tidak bisa dibandingkan."/ "Tidak apa, Mamori, aku akan menunggu…"/ "Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang? Pergi meninggalkannya atau memaksanya ikut denganku sementara hatinya ada pada orang lain? Keduanya sama-sama menyakitkan."
KIMI NO KIOKU
Chapter 5
"Arigatou," Mamori membungkukkan badannya saat ia dan Yamato tiba di depan rumah bertuliskan Anezaki. Ia tidak tahu kenapa, setelah insiden tadi, Mamori merasa canggung dengan kekasihnya ini. Rasanya dia tidak bisa cerewet seperti sebelumnya.
Yamato mengangguk menanggapi perkataan Mamori. Pria itu mengelus pelan rambut auburn kekasihnya. "Istirahat yang cukup, ya." Pesannya seraya tersenyum.
"Iya, pasti. Kau mau mampir?" Mamori menawarkan sebelum ia benar-benar masuk ke rumah.
"Hm, sepertinya tidak, aku langsung pulang saja." Tolak Yamato. "Tapi, Mamo-chan, ada yang ingin kutanyakan."
"A-apa?"
"Emm… Apakah kau, selama ini, saat bersamaku juga, kau selalu memikirkannya?" tanya Yamato. Meski nada bicara terdengar begitu lembut, tapi Mamori bisa melihat tatapan mata yang begitu tegas.
Jantung gadis itu berdegup cepat. Ia bingung harus menjawab apa. Jujur? Dan membiarkan pria ini terluka?
"Youichi dan Takeru itu berbeda, kalian tidak bisa dibandingkan." Akhirnya hanya kalimat seperti itu yang keluar dari mulut Mamori.
Yamato tersenyum—hampir tertawa. "Aku tidak minta dibandingkan," ujarnya.
Mamori tersenyum garing menanggapi tingkah Yamato.
"Sudahlah, kurasa pertanyaan itu tidak butuh jawaban. Maaf, aku jadi egois." Yamato mengangkat bahu. "Aku pulang ya, kau beristirahatlah." Ia mengecup kening Mamori sekilas sebelum akhirnya melangkah pulang.
Mamori memperhatikan tiap langkah pria itu. "Gomen," ia bergumam.
Salahkah? Selama ini Mamori selalu berfikir bahwa Hiruma hanya sekedar teman dekatnya. Bertahun-tahun menghabiskan waktu bersama membuatnya terbiasa dengan Hiruma. Selama ini dia selalu menyangkal tentang perasaannya. Mamori tidak ingin mengakuinya. Ia sudah memiliki Yamato, jadi tidak mungkin ada orang lain di hatinya.
Usai menghela nafas sejenak, agar bebannya menghilang, Mamori mulai melangkah masuk ke rumahnya. Sebenarnya ia senang, dan bersyukur, Hiruma Youichi yang ia rindukan selama bertahun-tahun ternyata masih ada di dunia. Lupakan sebentar tentang ingatannya yang hilang, yang penting dia ada, hidup, dan Mamori bisa melihatnya lagi, bicara dengannya, melihat matanya.
"Hiks."
Mamori terisak pelan, air matanya jatuh perlahan mengingat waktu yang ia habiskan untuk mencari Hiruma. Mamori teringat lagi dulu ia menangis tiap merindukannya. Sekarang, Mamori benar-benar bersyukur.
"Aku tidak mau kau pergi lagi, Youichi." Gumamnya pelan. "Gomen, gomen ne, Takeru-kun."
Hagito Arata—atau sekarang kita akan memanggilnya dengan Hiruma Youichi, menyusuri lorong-lorong berdinding putih itu dengan langkah tergesa. Ada hal penting yang harus ia selesaikan secepatnya. Dia tidak bisa menunggu. Dejavu yang ia alami akhir-akhir ini serta mimpi aneh yang ia lihat tempo hari benar-benar mengganggunya. Sekarang, dia ingin mengakhiri semuanya.
"Dokter sialan!" penggilnya keras dan tegas sambil membuka pintu sebuah ruangan di depannya. Tidak peduli pada tatapan aneh dan takut di sekitarnya.
Sang dokter yang tengah berbicara dengan seorang pasien dalam ruangan itu menatap Hiruma dengan pandangan bingung, tapi sedetik kemudian ia tersenyum.
"Ah! Hagito-san, apa yang membawamu kemari?" tanyanya ramah.
"Berikan aku obat!" jawab Hiruma—Hagito.
Alis sang dokter terangkat. "Setidaknya kau bisa mengantre, ini rumah sakit."
Hiruma memutar bola matanya dengan malas.
Dokter itu tersenyum maklum pada tingkah Hiruma. Ia lalu kembali fokus pada pasiennya. "Sebentar lagi aku istirahat, tunggulah. Kita akan bicara sambil makan siang." Ujar dokter itu.
Sekali lagi Hiruma memutar bola matanya. Tapi kali ini ia menurut. Pria itu beranjak dari pintu, lalu mengambil tempat duduk di ruang tunggu. Tidak sampai lima belas menit, sang dokter sudah menghampirinya. Keduanya langsung berjalan beriringan menuju kantin.
"Obat apa yang kau butuhkan, apa kau sedang sakit?" dokter yang sempat menangani Hiruma tujuh tahun lalu itu membuka percakapan setelah mereka memesan makanan. Sederet menu sehat penuh sayuran tampak di piring sang dokter.
"Aku mengalami dejavu akhir-akhir ini," Hiruma mulai bercerita sambil membuka bungkus roti yang ia beli.
"Kau mau aku memberikanmu obat supaya kau tidak dejavu? Obat seperti itu tentu saja tidak ada."
"Tentu saja bukan, dokter sialan!" sentak Hiruma. "Dejavu yang kumaksud itu mungkin saja dari kehidupan masa lalu."
"Oh, jadi, ingatanmu mulai kembali?" tanya sang dokter.
"Mungkin," Hiruma mengunyah gigitan pertama rotinya. "Aku tidak begitu mengerti."
"Lama sekali, Hagito. Apa yang membuatmu melihat lagi kenangan masa lalumu?"
"Seorang cewek, yang mengaku mengenalku." Hiruma mengalihkan pandangannya.
"Pacarmu di masa lalu?" sang dokter menaikan sebelah alisnya.
Hiruma menghela nafas sambil menyandarkan diri di punggung kursi tempat ia duduk. "Aku tidak memikirkan hal tidak penting seperti itu."
Dokter hanya tersenyum kecil. "Komunikasilah dengannya, minta dia menceritakan masa lalumu, atau kau ajak dia ke tempat yang pernah kalian kunjungi bersama. Saat ini, sebenarnya ada obat yang bisa membantumu memperoleh lagi ingatan secara perlahan, tapi obat itu akan manjur kalau ada yang terus mendorongmu untuk mengingat masa lalu."
Hiruma mengangguk tanda mengerti.
Begitu? Tapi bagaimana caranya ia berkomunikasi dengan gadis itu? Haruskah mendatanginya, memintanya pergi bersama? Hal-hal seperti itu terdengar konyol.
Disinilah Hiruma berada sekarang. Rumah yang ia lihat dalam mimpinya tempo hari. Sebuah rumah yang bertuliskan Anezaki. Sebenarnya pria ini ragu-ragu, tapi, hati kecilnya mendesak, ia harus melakukannya.
"Ting tong."
Bel sudah ditekan, tinggal menunggu penghuninya keluar dan serahkan kertas ini segera, lalu pulang.
Cklek.
Pintu dibuka, tapi yang keluar bukanlah orang yang diharapkan. Yang membukakan pintu ini seorang wanita yang berumur sekitar 40 tahun.
"You-ichi?" wanita itu bergumam pelan.
Hiruma mematung di tempatnya sambil terus menatap wanita itu.
"Kau benar Youichi? Kau masih hidup?" wanita itu mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah Hiruma. "Kau selamat… Kau sehat? Selama ini kau tinggal dimana?"
"Aku—"
"Ibu?"
Hiruma dan wanita itu menoleh ke asal di dalam rumah. Pandangan mata hijau emerald itu perhalan meredup saat melihat gadis yang tengah menghampirinya kini.
"Mamo-chan! Lihat, Youichi… dia masih hidup." Mami Anezaki berujar pada putrinya.
"Ya, ibu, aku tahu… tapi, dia tidak ingat kita." Mamori menepuk pelan pundak sang ibu.
"Apa… maksudmu tidak ingat?" tanya Mami yang mulai pucat.
"Dia hilang ingatan." Jawab Mamori. Sepertinya mereka malah melupakan keberadaan Hiruma.
"Aku mau memberikan ini!" Hiruma menarik tangan Mamori lalu memindahkan sebuah amplop merah yang ia bawa ke tangan gadis itu. Setelahnya, ia segera berbalik dan siap untuk pulang.
"Youichi, tunggu!" Mami menghentikan langkah Hiruma.
Pria itu melirik Mami dengan pandangan malas. Wanita itu masuk ke dalam rumah lalu kembali membawa sesuatu yang mirip buku.
"Aku mau kau bawa ini." Mami mengulurkannya.
Alis Hiruma naik memandangi benda yang disodorkan Mami. Ia tidak menerimanya dan membiarkan tangan wanita itu tetap terulur.
"Aku ibumu. Dan aku perintahkan kau bawa ini. Hiruma Youichi!" perintah Mami dengan suara tegas.
"Kau… siapa?" Hiruma memastikan.
"Ibumu! Terima ini, Youichi."
Hiruma memandanginya lekat, seperti sedang mencari kebohongan dalam kalimat Mami.
"Kau bisa dengar, Youichi?!"
"Ibu." Mamori hampir mencengkram bahu sang ibu.
Hiruma tersenyum tipis lalu menyambar benda yang diberikan Mami. Tanpa basa-basi lagi, pria itu segera pergi dari rumah Mamori.
"Ibu," Mamori menjatuhkan kepalanya di bahu sang ibu. Rasa sesak itu lagi-lagi datang menyerang dadanya.
"Dia akan kembali, sayang." Mami mengelus pelan puncak kepala putrinya.
Mamori mengangguk. Ia mengangkat lagi wajahnya kemudian memandangi amplop yang diberikan Hiruma tadi. Ia membukanya.
"Tiket?" Mamori bergumam.
Akuma Live Concert
Shibuya-AX
30 Juni 2012 at 06.00 pm
"Kenapa dia memberikan ini?"
Hiruma melangkah masuk ke kamar apartementnya dan langsung merebahkan diri di tempat tidur. Segala sesuatu yang terjadi belakangan ini membuatnya pusing. Ingatannya tentang masa lalu memang semakin bertambah, tapi itu malah membuatnya jadi bingung, mau jadi Hagito, atau Hiruma.
"Hiruma Youichi."
Pria itu reflek menoleh ke asal suara saat mendengar nama aslinya dipanggil. Ia melihat Musashi berdiri di pintu kamarnya sambil mengamati dirinya.
"Jadi benar itu nama aslimu, ya?" Musashi melangkah mendekati Hiruma dan duduk di tepi tempat tidur.
"Mau apa?" tanya Hiruma tegas seperti biasa, ia tidak menghiraukan kata-kata Musashi sebelumnya.
"Kau bertanya begitu seperti aku tidak pernah masuk kamarmu saja."
Hiruma mendengus lalu memalingkan wajah. Tidak suka pada obrolan Musashi yang menurutnya tidak penting.
"Akaba menceritakan semuanya," Musashi mulai bicara lagi. "Tentang interview dengan Anezaki, lalu kalian menguntitnya sampai ke Deimon, dan tentang pertemuan Akaba dengannya. Jadi, dia memang mengenalmu di masa lalu?"
"Mana aku tahu, aku tidak ingat!"
"Kau pernah cerita tentang gadis yang bilang kau meniru seseorang. Dia 'kan, gadis yang interview denganmu, Anezaki. Dia dari masa lalumu."
"Sudah kubilang aku nggak tahu! Kau tuli, orang tua sialan?!"
Musashi hanya tersenyum kecil melihat tingkah Hiruma. "Apa ada yang berdebar-debar, di dalam sini?" ia menunjuk dada Hiruma.
Hiruma meliriknya malas. "Nggak usah sok tahu!" komentarnya sambil menyingkirkan tangan Musashi.
Lagi-lagi Musashi tersenyum kecil. Ia menatap Hiruma dengan pandangan yang lebih lembut. "Kalau kau mendapatkan lagi ingatanmu, apa kau akan pergi meninggalkan kami?" tanyanya serius.
"Kekekekeke… aku yakin kalau aku melakukan itu kau akan menangis seminggu penuh!" Hiruma malah menyeringai jahil.
"Ya, mungkin. Biar bagaimanapun kau itu adikku."
Seringai Hiruma langsung menghilang. Wajahnya langsung berubah serius. "Aku masih belum ingat sepenuhnya, orang tua sialan. Yang kuingat cuma wartawan gadungan sialan itu, aku bahkan sama sekali nggak ingat tentang keluargaku."
"Jangan-jangan, dulu dia pacarmu?"
"Jangan ngaco! Dia sudah tunangan, mana mungkin dia pacarku!"
"Hoi, hoi, bicaranya santai saja." Musashi mengorek telinganya. Ia tersenyum lalu bangkit dari posisinya. "Kuharap kau tetap di sini, meskipun semua ingatanmu sudah kembali." Ujarnya sebelum melangkah keluar kamar Hiruma.
Hiruma memandangi langkah Musashi hingga pria itu menghilang di balik pintu. Ia menghela nafas berat. Kata-kata wanita di rumah Mamori tadi kembali terngiang. Ibu? Entah kenapa Hiruma tidak bisa mengingat apa pun tentang keluarganya, kecuali mimpi itu. Petunjuk yang ia tahu tentang keluarga hanya kata-kata yang diucapkan gadis kecil dalam mimpinya.
"Ayahmu selalu memukulmu."
Kenapa?
Sekali lagi Hiruma menghela nafas berat, ia meraih benda yang diberikan wanita yang mengaku sebagai ibunya itu. Hiruma membukanya perlahan. Album foto. Pria itu mengernyit.
"In Memoriam, Hiruma Youichi."
"Mami Anezaki?" Hiruma bergumam pelan membaca tulisan di halaman pertama album foto itu.
Di halaman berikutnya, Hiruma menemukan foto anak laki-laki dan perempuan dalam balutan seragam sekolah dasar, yang perempuan bisa ia tebak itu adalah Mamori Anezaki saat kecil, dan yang laki-laki, wajah tegas, telinga runcing, rambut hitam, dirinya sendiri?
"Hari pertama masuk sekolah dasar. Pertama kali bertemu dengannya, dia bilang namanya Hiruma Youichi. Dia datang sendiri ke sekolah, sangat berbeda dengan anak lainnya. Dia juga tidak mau bilang dimana ayah-ibunya. Tapi hari itu dia langsung akrab dengan Mamori."
Hiruma terdiam membaca tulisan itu. Tidak ada orang tua?
Foto berikutnya yang ia lihat adalah saat hanami bersama rombongan sekolah dan para orang tua, ia dan Mamori memamerkan onigiri ke kamera.
"Lagi-lagi, Youichi sendirian. Bahkan saat liburan sekolah seperti ini. Tapi dia tetap terlihat bahagia. Itu bagus."
Hiruma membuka lembaran album foto itu lagi, ia hanya melihat beberapa foto sekilas, lalu mengamati yang ia anggap menarik dan membaca tulisan yang ada di bawah tiap foto.
"Pesta natal pertama bersama Youichi. Dia tidak sengaja menginjak cream puff Mamo dan membuat Mamo ngambek seminggu penuh."
"Cewek sialan itu ngambek gara-gara cream puff sialan?!" Hiruma hampir tertawa melihat foto dirinya dan Mamori yang masih kecil duduk di sofa dengan ekspresi yang sama-sama sedang marah. "Kekekekeke…..! Cewek sialan bodoh!"
Setelah puas tertawa Hiruma kembali melihat foto berikutnya, sebuah foto dengan latar malam bersalju. Dalam foto itu, Mamori memegang sebuah kotak bergambar kue dan tersenyum manis, sementara Hiruma sendiri hanya tersenyum samar.
"Youichi akhirnya mengganti cream puff yang hancur saat natal, Mamori langsung bahagia, tuh. Ini malam pergantian tahun, kuharap mereka berdua selalu bahagia."
Sepertinya Hiruma baru sadar, dia dulu sangat dekat dengan keluarga Anezaki, meski Hiruma sendiri masih belum sepenuhnya ingat. Ia tersenyum pahit. Lagi-lagi ia memandangi album foto itu, sudah mulai menampilkan foto-foto saat Hiruma dan Mamori memasuki SMP.
"Hari ini Youichi dan Mamori bilang akan pergi berdua saja ke taman bermain. Hm… apa dia memang akan jadi menantuku, ya?"
"Menantu?" alis Hiruma bertaut. "Dasar wanita tua sialan!"
Tapi Hiruma tidak bisa pungkiri, fotonya dengan Mamori di atas tulisan itu seperti foto sepasang kekasih. Apa mungkin dulu Mamori itu pacarnya? Lalu karena Mamori pikir ia meninggal, Mamori akhirnya menjalin hubungan dengan pria yang kini jadi tunangannya?
Hiruma mendengus sebal dengan kesimpulan yang diambil otaknya. Ia melihat lagi foto yang lain, sebuah foto saat Mamori dan Hiruma di depan sebuah kuil, mereka mengangkat kelingking yang terikat benang berwarna merah.
"Mereka memang sepertinya sudah terikat oleh benang merah bernama 'takdir'."
Pandangan mata hijau itu meredup. Melihat semua gambar ini membuat sesuatu dalam dadanya berdenyut sakit. Mungkin ia lebih memilih mati saat kecelakaan itu dari pada harus kehilangan ingatannya seperti sekarang.
Hiruma melihat lagi foto di halaman berikutnya. Foto di depan rumah Anezaki, sepertinya dia sedang memakaikan kalung pada Mamori.
"Mereka berpisah. Youichi sudah kupaksa ikut mengantar sampai bandara, tapi dia menolak. Sepertinya mereka berdua sama-sama berat untuk mengatakan selamat tinggal."
Tangan Hiruma terangkat, memperlihatkan kalung yang ia jadikan gelang, symbol Akuma. Sebenarnya sejak awal menggunakan 'kelelawar terbang' sebagai symbol Akuma hanya untuk mencari orang yang mungkin mengenali symbol ini. Dan Hiruma kini menemukannya. Ia menemukan apa yang selama ini diam-diam ia cari. Apa dia masih harus mengingkari kata hatinya?
Pria itu menghela nafas berat. "Otak sialan! Apa kau benar-benar tidak bisa ingat sesuatu?!" ia memukul pelan keningnya sendiri, kemudian memijatnya.
"Aku selalu berharap Youichi selamat. Kecelakaan itu. Aku tetap berharap dia selamat."
Hiruma melihat sebuah foto bus yang terperosok ke jurang. Kondisi bus itu sangat parah, hancur di sana-sini dan terdapat banyak noda darah. Pria itu sempat bergidik, membayangkan dirinya ada di sana dulu.
"Aku harap kau bahagia di surga, Youichi. Aku, Mamori, dan ayah selalu mendoakanmu. Keluargamu pun pasti selalu mendoakanmu, Youichi. Bahagialah di surga."
"Aku belum mati!" protes Hiruma saat membaca tulisan itu dan melihat foto monumen peringatan kecil yang sempat ia datangi bersama Akaba tempo hari. Dalam foto itu tampak foto dirinya yang dikelilingi banyak bunga.
"Aku menulis semuanya agar bisa terus bersamamu, Youichi. Kau selalu hidup dalam keluarga kami, dalam hati kami. Kau terus hidup bersama kenangan yang pernah kaulukis dalam hidup kami. Kami menyayangimu, Youichi."
Hiruma menutup album itu lalu membuangnya ke lantai. "Album sialan." Gerutunya. Pria itu menarik selimut dan menyembunyikan diri di bawahnya. Ia butuh tidur.
"Ada apa, sopir sialan?!" protes Hiruma saat ia merasakan sebuah guncangan yang mengganggu tidurnya. Pria itu bangun dari tempat duduknya dan melihat keadaan bus yang ia tumpangi saat ini. Matanya terbelalak kaget saat bus ini makin miring ke kanan.
Hiruma bisa mendengar teman-temannya menjerit ketakutan, berlindung sambil berpegangan di jok, beberapa ada yang terpental dan terluka. Dia sendiri dengan gerakan super cepat meraih AK-47 miliknya lalu menembakannya ke jendela di sisi kanan tubuhnya. Kaca itu berlubang. Dan dengan segera ia menyingkirkan serpihan kaca dengan body senjatanya. Ia tidak peduli pada serpihan yang melukai beberapa kulit tangannya.
Dengan satu lompatan, Hiruma keluar dari bus yang ia naiki sebelum bus itu berguling. "Sialan!" dia mengumpat kesal. Dibuangnya senjata kesayangan itu saat Hiruma merasa tubuhnya terpental sebelum terperosok.
"Aaaarrgghh!" dia menjerit. Sakit. Beberapa bagian tubuhnya tercabik ranting pohon. Tangannya menggapai-gapai udara, mencari apapun yang bisa ia gunakan untuk menghentikan tubuhnya yang terus melaju mengikuti bentuk tanah yang miring. Ia menggapai sebuah akar pohon dan mencoba bertahan untuk terus memegangnya, tapi konsentrasinya buyar saat kepalanya berbenturan keras dengan sebuah batu yang tanpa Hiruma tahu ada di depannya. Pandangan pria itu perlahan-lahan berubah menjadi gelap.
Keringat bercucuran saat Hiruma terbangun dari tidurnya yang tidak nyenyak. Nafasnya memburu dan wajahnya pucat. Ia seperti baru merasakan lagi kejadian paling mengerikan yang pernah ia alami.
"Sialan," pria itu bergumam pelan. Ia menyambar botol air mineral di meja kecil dekat tempat tidurnya dan langsung meneguk habis isinya. Nafasnya perlahan-lahan mulai teratur.
"Youichi, pernah menghitung bintang di langit?"
"Ngapain melakukan hal nggak berguna seperti itu?!"
.
"Mou! Kau membuat benangnya kusut!"
"Kau sendiri yang tidak bisa diam!"
.
"Kau sadar tidak, kau cukup tampan kok!"
"Jangan bilang kalau kau mulai menyukaiku."
.
"Apa kita tidak akan bertemu lagi?"
"Tentu saja bisa, kau akan kembali ke Jepang 'kan?"
.
"Benda sialan ini hanya ada dua di dunia. Aku akan membunuhmu kalau sampai kau menghilangkannya!"
"Aku akan menjaganya seperti menjaga nyawaku sendiri, Youichi."
"Bagus kalau begitu. Sekarang cepat pergi, cewek jelek!"
.
Hiruma mengusap rambutnya. Lagi-lagi ingatannya muncul. Kali ini semuanya saling bertaut dan Hiruma tidak melewatkan satu bagian pun.
"Mamori," Hiruma bergumam pelan. "Aku ingat. Ya, aku ingat semuanya tentang Mamori sialan itu!" pria itu bangkit dari tempat tidurnya lalu duduk di depan meja kerjanya. Ia mengambil kertas dan mulai menuliskan sesuatu. Mungkin dia tidak salah, mengikuti hatinya memberikan undangan konser pada Mamori. Sekarang, dia ingin gadis itu tahu, kalau dia sudah mendapatkan lagi ingatannya. Ingatan tentang Mamori.
Mamori tersenyum pahit melihat ibunya yang sejak kedatangan Hagito―Hiruma Youichi kemarin menjadi pendiam. Wanita itu seperti sedang memikirkan hal yang sangat serius, wajahnya yang cantik juga lebih sering menunjukan ekspresi sedih. Seperti saat ini, Mami Anezaki duduk manis di teras rumahnya sambil memandangi bintang.
"Ibu," Mamori mengusap pelan pundak ibunya. "Sedang apa?" ia bertanya.
Mami hanya tersenyum dan mempersilahkan Mamori untuk duduk di sampingnya. "Kau ingat, Mamo-chan… Dulu, hampir setiap malam kau dan Youichi duduk di sini sambil menghitung bintang." Kenang Mami seraya tersenyum tipis.
"Apa? Huuh… Hanya aku yang menghitung bintang, karena ibu bilang kalau kita berhasil menghitung semua bintang di langit, keinginan kita akan terjuwud. Kalau dia sih, hanya mengganggu!" Mamori merengut. Ia teringat lagi pada masa-masa itu. Senyum pahit kembali terukir di bibirnya.
Mami mengelus rambut panjang putrinya perlahan. "Bagaimana Youichi?" tanyanya. "Sejak kapan kau bertemu dengannya?"
"Beberapa hari setelah aku di Jepang, apa ibu tahu? Dia sekarang menjadi orang terkenal."
Alis Mami menukik mendengar pertanyaan putrinya.
Mengerti apa yang membuat ibunya bingung, Mamori segera beranjak ke kamarnya lalu kembali membawa sebuah laptop. Ia membuka internet dan memperlihatkan profil Hagito Arata.
"Lihat," ujar Mamori sambil menunjukan layar laptopnya.
"Hagito Arata?" lagi-lagi alis Mami menukik. "Siapa itu?"
"Itu nama yang dipakai Youichi selama dia hilang ingatan. Selama tujuh tahun ini, dia menjadi orang yang sukses. Dia punya band dengan jutaan fans, jam terbang tinggi, uang banyak. Sepertinya dia bahagia."
"Dia tidak mungkin bisa bahagia kalau dia kehilangan ingatannya."
Mamori mengangguk. "Benar, temannya bilang, batas ingatan Youichi cuma sampai dia sadar di rumah sakit."
"Kau sudah bicara dengannya?"
"Sekali, tapi dia tidak ingat aku." Mamori memandangi laptopnya sebelum mengclose browser. Ia menghela nafas berat.
"Kenapa ibu tidak pernah liat dia di televisi kalau memang dia terkenal ya?"
Mamori terkikik pelan mendengar pertanyaan ibunya. "Ibu sih, mana mungkin mau memperhatikan band dengan aliran keras seperti Akuma. Aku tidak terkejut kalau ibu tidak tahu." Mamori menjulurkan lidah. "Tapi, bahkan Sena juga tidak mengenalinya. Mungkin Youichi memang berubah."
"Tidak, tidak ada yang berubah dari Youichi. Dia masih pakai anting, rambutnya juga masih pirang, gaya berpakaiannya…."
"Cara bicara, permen karet mint," Mamori melanjutkan perkataan ibunya. "Tidak berubah. Bahkan dia masih memakai ini." Ia menujukan kalung yang melingkar di lehernya.
Mami tersenyum. "Ibu mengerti bagaimana perasaannya. Dia tidak merubah apa pun dari dirinya, mungkin dia berharap ada yang akan mengenalinya, menceritakan padanya tentang kehidupan masa lalu, mungkin sebenarnya dia juga menunggumu."
Pandangan mata Mamori meredup. Ada sesuatu yang aneh dalam hatinya. Sesuatu yang mengganjal. "Ibu," panggilnya. "Bagaimana kalau misalnya aku… maksudku, perasaanku pada Youichi masih seperti dulu?"
Mami mengernyit sambil memandangi putrinya lekat-lekat. "Perasaan, seperti dulu? Maksudmu, kau dulu menyukai Youichi?" wanita itu terbelalak.
Putrinya hanya mengangguk pelan. "Sejak dulu, sejak pertama kali mengenalnya. Meski Youichi selalu memarahiku, meski kami selalu bertengkar. Youichi itu selalu ada waktu aku butuh. Dia seperti selalu mengikutiku. Aku―"
"Mamori, kau punya tunangan!" potong Mami tegas.
Mamori menoleh ke arah sang ibu dengan cepat. "Aku tahu itu, ibu. Tapi, kalau seperti ini aku tidak bisa diam saja dan membiarkan Youichi melupakanku, melupakan kita! Aku tahu, dia membutuhkanku, ibu. Aku… aku ingin bersama Youichi. Aku tidak mau dia pergi lagi…." Mamori mulai meracau, air matanya langsung mengalir dengan deras di kedua pipinya yang mulus.
"Mamo," Mami memeluk putrinya dengan lembut. Ia mengusap punggung Mamori dengan penuh kasih. Ibu memang paling mengerti persaan anaknya 'kan? Kali ini pun, Mami sangat mengerti apa yang dirasakan putri semata wayangnya itu.
"Mamori, jangan cuma memikirkan apa yang kau rasakan, pikirkan juga bagaimana perasaan orang lain." Ucap Mami lembut.
Mamori mengangguk pelan sebagai jawaban saat ibunya melepakan pelukan. Ia bisa melihat ibunya tersenyum tulus. Mamori membalas senyum itu sambil mengangguk sekali lagi.
"Ibu masuk duluan ya, kau jangan tidur terlalu larut." Mami mengusap rambut putrinya sebelum beranjak masuk.
Gadis berambut auburn itu memandangi langkah ibunya sebelum ia mengalihkan pandangan ke atas, menikmati hamparan bintang di langit musim panas. Ia mulai mengarahkan petunjuknya ke langit dan menghitung jutaan bintang itu.
'Aku harap, Youichi akan kembali.' Batin Mamori.
Mamori memandangi lagi undangan konser yang ia dapat. Satu jam lagi pintu Shibuya AX dibuka untuk konser Akuma. Ia dan Yamato—yang saat tahu Mamori mendapat undangan langsung membeli tiket untuk menemani kekasihnya, tampak sudah tidak sabar menunggu acara ini dimulai, sama seperti semua fans Akuma yang juga tengah menunggu penampilan idola mereka dengan tidak sabar. Suasana riuh terdengar di sekeliling mereka, semuanya membicarakan kira-kira seperti apa konser kali ini. Karena ini adalah final dari rangkaian Tour House Akuma, mereka semua berfikir kali ini pasti penampilan mereka sangat luar biasa.
Setelah menunggu lama, akhirnya pintu dibuka. Mamori dan Yamato memperlihatkan tiket mereka seperti yang lain dan langsung masuk ke lokasi konser, keduanya menuju barisan depan. Panggung masih gelap dan suasana masih riuh dengan suara-suara dari penonton yang sudah sangat tidak sabar.
Tiba-tiba lampu padam.
"Konbanwa, minna…!" terdengar suara seseorang entah dari mana.
"Konbanwa!" seluruh penonton menjawab kompak, kecuali Mamori dan Yamato.
"Siap untuk melompat?!"
"YAAA!"
"Siap untuk bernyanyi?!"
"YAAAA!"
"SIAP UNTUK PESTA?!" kali ini jelas-jelas suara Hagito-Hiruma yang berteriak.
"YYYAAAA…!"
Musik mulai dimainkan, lampu mulai menyala secara bertahap dan Hiruma melompat entah dari mana, ia mendarat dengan sempurna di atas panggung.
"KKKYYYAAAA….!" Penonton mulai histeris.
"JUMP!" komando sang vokalis dari atas panggung, membuat semua penonton melompat mengikuti irama musik yang keras.
Diam-diam Mamori tersenyum melihat Hiruma di atas sana, ia tidak pernah terfikir seorang Hiruma yang dulu dikenalnya sebagai pria menyebalkan yang tidak peduli sekitar, sekarang dia bernyanyi untuk menghibur semua penggemarnya.
"Tidak buruk juga." Komentar Yamato yang sudah terbawa arus. Ia tampak menikmati penampilan Akuma yang tidak bisa dibilang biasa.
Satu lagu pembuka yang panas dan bersemangat sukses menghipnotis penonton. Seisi hall tempat konser ini berlangsung melompat serentak dalam setiap lagu, karena lagu yang dibawakan Akuma semuanya keras, suasana juga ikut menjadi panas.
"Sudah cukup lompatannya," suara Hiruma terdengar lebih serak karena dia juga sepertinya mulai lelah. Pria itu menyeringai singkat sebelum meraih lagi mike-nya. Dengan sekali anggukan, musik mulai kembali dimainkan.
Mata biru milik Mamori menatap lekat pria di atas panggung. Lagu yang mereka bawakan memang masih keras, tapi kata-kata yang ada dalam lagu itu sedikit mengusik hati Mamori.
Sebuah cerita tentang seorang yang bisa melakukan apa pun, tapi dia kehilangan orang terkasihnya. Seorang yang merasa dirinya tersesat, sendirian, melihat bayangan dua orang yang sepertinya itu adalah dia dan orang yang ia sayangi. Seorang yang tidak mengerti tentang perasaannya, tapi dia tidak bisa menggantikan 'dia' dalam hatinya dengan orang lain.
"Donna koto ga attemo daijoubu, daijoubu… Kono saki zutto kimi wa boku ga mamoru…!"
Mamori tersentak. Apakah tadi Hiruma menunjuknya? Rasanya jantung Mamori berdegup dengan cepat melihat senyum dan tatapan mata yang sudah lama sekali ia rindukan. Cairan bening dalam matanya mendesak untuk keluar. "Youichi." Mamori bergumam pelan.
"Kyyaaaa….!"
Semua bertepuk tangan sambil menjerit heboh. Mamori baru sadar kalau lagu tadi sudah selesai dinyanyikan. Sekarang Hiruma berdiri santai di atas panggung sambil terus tersenyum-menyeringai. Ia kelihatan lelah, nafasnya agak putus-putus, tapi tetap bersemangat.
"Ehm… Aku kenal seorang cewek menyebalkan. Dia rakus, cerewet, cengeng, jelek." Hiruma berhenti bicara untuk mendengar teriakan fans-fansnya.
"Dia itu pacar Hagito!" celetuk Akaba yang membuat teriakan makin heboh.
"Urusai yo, Akabaka!" sentak Hiruma.
Semua penonton tertawa. Padahal suara Hiruma terdengar sangat menyeramkan. Tapi sepertinya mereka sudah terbiasa melihat seperti itu, makanya mereka bukannya takut, malah menganggap itu lucu.
"Hentikan! Setelah ini angka bunuh diri bisa-bisa menanjak!" giliran Juumonji yang nyeletuk.
Hiruma hanya melotot galak dan membuat penonton kembali tertawa. "Bukan, bukan," ia mengoreksi. "Ini cuma cerita. Mamori." Hiruma mundur dan duduk di depan sebuah grand piano di sisi kanan panggung.
Pria itu mulai menekan tuts-tuts piano dengan perlahan, mengalirkan nada indah yang belum pernah didengar oleh semua penonton.
Malam dingin menghantui
Mengganggu ingatanku
Menggelitik sisi lain dari diriku
Aku ingin berlari, berlari, dan berlari
Namun aku melihat air mata di ujung sana
Dan debaran ini tidak bisa aku kendalikan
Aku tidak tahu, semua terasa gelap
Tapi kau seperti cahaya, penerang di jalan yang asing
Mungkin aku terjebak dalam dunia baru
Dan mungkin dirimu menjemputku
Dalam tatapan itu aku tahu
Kita telah terikat oleh benang 'tak terlihat sejak bertahun-tahun lalu
Jalan hidup itu mulai bercahaya
Dalam keyakinan yang kuat
Aku juga merasakannya, setiap saat
Aku semakin tahu, semakin menyadari
Aku memang milikmu
Maka setelah kegelapan itu lenyap
Aku akan berlari kearahmu, aku akan memelukmu
Aku akan di sampingmu sebagai mamori (pelindung).
"Kyyyaaaa….!"
Penonton mulai heboh kembali saat Hiruma kembali. Mereka bertepuk tangan, beberapa ada yang mengusap air mata. Ini pertama kali melihat vokalis Akuma itu bernyanyi sambil memainkan piano. Mungkin ini adalah lagu Akuma pertama yang terdengar lembut.
"Dia ingat," bisik Mamori sambil berusaha menahan air mata. "Dia benar-benar ingat." Gadis itu menggigit bibir bawahnya agar tidak terisak.
Yamato menatapnya lekat sambil tersenyum tipis. Ia merangkul bahu Mamori dengan lembut. "Temui dia," ujarnya tulus.
"Aku cuma berharap, cewek menyebalkan itu mengerti tentang lagu tadi." Suara Hiruma kembali terdengar, membuat fans-fansnya menjerit.
"Dare… dare… dare…?!"
"Lompat lagi?!" Hiruma berteriak agar seisi hall mengalihkan perhatian dari lagu special barusan.
Dalam hitungan detik, suasana kembali memanas seiring permainan Akuma. Suasana panas itu terus berlanjut hingga konser selesai satu setengah jam kemudian.
Seluruh member Akuma berjejer di depan panggung untuk membungkuk sekali kemudian melambaikan tangan sambil mengucapkan terima kasih. Setelahnya mereka langsung menghilang di balik panggung.
Lagi-lagi ruangan kembali riuh. Satu per satu penonton mulai beranjak meninggalkan lokasi sambil bercerita tentang konser yang mereka saksikan tadi. Terutama bagian solo piano yang tidak mereka duga.
Mamori dan Yamato juga melangkah keluar mengikuti yang lain. Tapi begitu mereka menemukan sebuah lorong, keduanya saling pandang. Yamato tersenyum. "Pergilah, aku akan tunggu di sini." Ujarnya sambil menggandeng Mamori keluar dari kerumunan.
"Arigatou," Mamori memeluk kekasihnya sekilas lalu berlari kearah berlawanan dengan penonton lainnya. Ia berbelok sekali lagi di lorong yang kelihatannya dijaga dua orang bodyguard.
"Ada perlu apa, nona?" Tanya salah seorang diantaranya.
"Aku mau bertemu Youichi." Jawab Mamori yang membuat dua orang itu menaikan sebelah alis. "Maksudku Hagito. Aku mau bertemu dia!" Mamori melewati dua orang itu dengan tidak sabar. Tapi tentu saja, mereka tidak mengizinkan Mamori melangkah lebih jauh.
"Maaf, nona. Kau tidak boleh sembarangan masuk."
"Tapi aku mau bertemu Hagito! YOUICHI!" Mamori mulai berteriak.
"Nona, kalau kau memaksa, kami akan menyeretmu keluar!"
"Jangan ganggu dia, orang-orang sialan!"
Ketiga orang itu menoleh dan mendapati Hiruma tengah menatap mereka dengan pandangan galak. "Ha-Hagito-san, kami…."
"Youichi!" Mamori langsung berlari ke pelukan Hiruma tanpa memperdulikan dua orang itu. Pria yang ia peluk bahkan terhuyung mendapat serangan mendadak darinya.
"Wah… Kau tambah gendut! Lebih berat dari terakhir kali kupeluk!"
Mamori mendongak. Ia mengangkat tangannya untuk memukul Hiruma. Tapi ia mengurungkan niatnya saat melihat seringai pria itu. Seringai yang sama seperti dulu. Mamori membenamkan lagi wajahnya di dada Hiruma. Menghirup wangi mint yang masih sama seperti dulu. Matanya panas, sedetik kemudian, ia sudah menangis.
"O-Okaerinasai…hiks."
Hiruma tersenyum tipis sambil mengeratkan pelukannya. "Tadaima." Ucapnya.
Mamori tersenyum dalam pelukan Hiruma. "Kau benar-benar ingat?"
"Iya,"
"Semuanya?"
"Iya,"
"Bukan cuma pura-pura ingat?"
"Cerewet, monster sialan! Apa kau lebih suka aku lupa padamu?!"
Mamori menggeleng cepat. Ia mendongak untuk menatap Hiruma. Jarak wajah keduanya begitu dekat, hidung mereka bahkan bersentuhan.
"Yang bisa kuingat cuma kau, monster sialan. Aku belum bisa ingat yang lain." Ucap Hiruma.
"Tidak apa-apa, aku akan membantumu mengingat semuanya, Youichi." Mamori kembali memeluk Hiruma dengan erat.
Lagi-lagi Hiruma tersenyum tipis. Pria itu bisa merasakan sesuatu yang hangat mengalir dalam dadanya. "Sekarang sebaiknya kau pulang." Hiruma melonggarkan pelukannya agar bisa melihat wajah Mamori lagi.
Mamori mengangguk. Ia melepaskan pelukannya dan berjalan menjauh dari Hiruma. "Sampai ketemu lagi, Yoichi!" pamitnya seraya melambaikan tangan.
"Iya, iya," Hiruma hanya menjawabnya malas. Tapi pria itu tersenyum tipis melihat langkah Mamori yang menjauh.
Rasanya, seluruh tubuhnya jadi hangat, dan dadanya terasa lega. Seperti ada beban berat yang baru saja ia buang.
Tsuzuku
* "Oke, oke, tidak peduli apa pun, aku akan melindungimu hingga bertahun-tahun yang akan datang."
yaay... akhirnya bisa juga bikin Hiruma nyanyi... XDD #bahagia
mohon reviewnya... minna...
