Glass.

Chapter 2.

.

.

.

Author Pov.

Baik Sungmin maupun Hyuk Jae terpaku menatap satu sama lain. Sesaat Sungmin menghela nafas dalam saat pikirannya kembali tercekat pada ingatan yang membawanya kembali kedalam masa lalu.

Ada perasaan tak percaya dalam benaknya. Orang yang sudah berulang kali coba ia usir, terus datang dan menghantuinya.

Sementara Hyuk Jae menatap Sungmin kosong. Hatinya bergejolak namun demi sebuah keegoisan ia mencoba mengubur perasaan tabu yang mungkin akan lebih merusak hatinya.

"Heh!" Sungmin berdecih. Wajahnya berpaling kearah lain memutus kontak mata antara dirinya dengan Hyuk Jae. Ada yang salah dengan itu?

"Kukira kau orang yang cukup tahu diri untuk tidak mengganggu hubungan orang lain, ternyata penilaianku selama ini salah." Cerca Sungmin. Hyuk Jae tidak menjawab. Seperti sebuah kebiasaan yang memaksanya untuk menikmati semua cacian Sungmin.

Ia menyeringai membalas celaan Sungmin. Hatinya sedikit tertohok menahan amarah, namun sekali lagi demi sebuah harga diri yang telah jatuh Hyuk Jae kembali menahan dirinya.

Sungmin menatap Hyuk Jae jengah. Dengan langkah angkuh ia melenggang bebas memasuki apartement 'mereka' meninggalkan Hyuk Jae yang mematung didepan pintu.

"6 bulan tidak melihat ranjang yang ditiduri Donghae oppa, rasanya sedikit kesepian. Selama aku tidak ada bukankah kau yang menemaninya diranjang itu Lee Hyuk Jaessi?" Sungmin berujar sinis. Ada nada menghina disetiap relung katanya.

Lagi-lagi Hyuk Jae tersenyum getir. Ia menutup pintu apartement menghalau hawa dingin dan beberapa orang yang mungkin saja akan terusik dengan perdebatan mereka nanti.

Walaupun dalam hatinya ia tidak setuju dengan perkataan Sungmin, namun Tuhan tetap memaksanya untuk mengaku bahwa ialah orang yang paling menjijikkan disituasi ini.

"Itu lebih baik dari pada menyewa pelacur-pelacur dijalanan, setidaknya aku tidak membawa penyakit. Itu menguntungkan untuk kita semua bukan?" Jawab atau tanyanya lagi tak kalah sinis.

Sungmin mengadahkan kepalanya kearah plafon. Menahan hasrat ingin membunuh Hyuk Jae sekarang juga.

"Apa hati nuranimu benar-benar sudah membeku? Kau bahkan tidak memikirkan rasa malu adikmu memiliki seorang kakak sepertimu. Kau menikmati ini semua? Kurasa iblis sepertimu akan selalu menyukai apa yang ditentang Tuhan?" Jelas Sungmin.

Tatapan mata Hyuk Jae sontak berubah. Lebih sendu. Tersirat ada kesedihan didalamnya. Menahan semua hinaan lalu saat ia menahannya kembali, yang lebih buruk datang dari itu semua.

"Setidaknya aku tidak mengemis cinta pada orang yang harusnya tidak kucintai." Jawab Hyuk Jae telak.

"Kau menghinaku?" Tanya Sungmin.

"Kau anggap itu sebuah penghinaan? Ya itu memang sebuah penghinaan." Terang Hyuk Jae.

Sungmin lagi-lagi menghela nafas dalam. Tangannya mengepal. Ingin sekali rasanya ia menampar Hyuk Jae dengan tas yang dibawanya.

"Menurutmu sampah sepertimu bisa menghinaku? Apa kehidupanmu begitu buruk sampai-sampai kau memilih menjadi seorang yang begitu buruk Lee Hyuk Jaessi?!" Sungmin meninggikan suaranya yang sedikit parau.

Amarah yang seharusnya ditahannya ketika dirinya menyandang predikat sebagai seseorang yang berpengaruh ditengah masyarakat, kini sudah menjadi sebuah doktrin terbuang yang tak akan kembali dibacanya.

"Karena aku sampah maka aku membutuhkan seseorang yang mau memungutku dengan lapang dada. Aku buruk? Ya, aku memang seperti itu dan akupun mulai menikmatinya. Bukankah terlalu tidak adil untukmu jika kata-kata sampah tidak melekat padaku?" Tuturnya dengan mimik wajah merendahkan.

Sampah mana yang bisa merendahkan seorang putri dinegri dongeng? Maka jawaban yang paling tepat akan mengarah pada Hyukjae. Sudut pandang masyarakat yang terlalu menuntut dirinya menghasilkan sebuah keegoisan dan obsesi yang tinggi. Tentu Hyuk Jae sesekali pernah merasa bersalah namun ia juga merasa muak dengan takdir. Begitu juga dengan takdir yang sudah mulai bosan bermain-main dengannya.

"Sebenarnya apa yang kau inginkan?! Jika kau memang benar-benar mencintainya mungkin aku akan berpikir 2 kali untuk melepasnya. Tapi disini, disini kau sedang bermain-main. Kau tahu apa yang kau lakukan ini membuat kami berdua kesulitan memilih jalan!" Sungmin berteriak.

Emosinya sudah tidak bisa dibendungnya. Ketika kembali berhadapan dengan obisidian itu selalu saja dirinya yang mengalah dan sekarang ia ingin merubahnya. Sungmin ingin merubahnya agar dirinyalah yang mendapat semua itu.

"Cih! Naïf sekali! Haruskah aku menjawabnya? Jika tidak, apa yang mau kau lakukan? Kau mau mengubahnya? Kau mau memaksaku untuk_"

Prakk!

Ucapan Hyuk Jae terhenti saat sebuah tas tepat mengarah kepipinya. Tubuh kurus itu terjungkal hingga kelantai. Sebuah tamparan dengan tas didapatkannya dari yeoja manis didepannya. Hyukjae meringis menyentuh pipinya yang terasa panas dan sedikit berdarah akibat goresan dari hiasan yang terdapat ditas yang dibawa Sungmin.

Namja brunette terlihat memasuki ruangan mereka dengan wajah yang amat terkejut, sebuah kejutan kembali didapatkannya saat melihat sosok yang 'dicintainya' terduduk dilantai dengan darah mengalir dari pipi kiri dan pelipisnya.

"Sungmin-ah…" Suara beratnya mengintrupsi kegiatan mereka. Sungmin tidak terkejut, bahkan sebuah senyuman getir kini tengah terpasang diwajah aegyo-nya.

"Gwean_" Belum sempat namja brunette itu membantu tubuh Hyukjae yang kini terduduk dilantai, sekarang lagi-lagi sebuah suara menghentikannya.

" Kita pergi dari sini Oppa!" Sungmin bertitah. Matanya menatap lurus Hyukjae yang terduduk dilantai memegangi pipinya yang berdarah.

"Itu…" Donghae berujar kebingungan, matanya terfokus pada tubuh Hyuk Jae yang tergeletak duduk tak berdaya dilantai.

"Pergi berarti semua ini berakhir." Hyukjae mengeluarkan sebuah ancaman. Setelah menekan pendarahan dipipinya ia membangunkan dirinya dan menatap Sungmin sinis.

Sang namja brunette hanya terdiam. Ia tidak bisa memilih pilihan manapun, karena memang menurutnya itu bukan sebuah pilihan.

"Jika kita tidak pergi bersamaku kau tahukan apa yang akan terjadi?" Sungmin mengubah gaya bicaranya, yang mulanya sebuah perintah kini beralih menjadi sebuah ancaman.

"Melangkahkan kakimu pergi itu berarti dengan sangat berat hati kita akan mengakhiri semuanya Choi Donghae." Ancaman baru kini dilontarkan Hyukjae. Tidak segan-segan mata sipitnya mengeluarkan sebuah pancaran keseriusan dari setiap baris kata yang dikeluarkannya.

"…." Donghae terlihat gelagapan. Dua orang yang berada diposisi berbeda dalam hati Donghae memberikan ancaman yang sama-sama tidak menguntungkan baginya.

.

.

.

"Kemana dua anak itu? Apa mereka main-main dengan kita?!" Geram Heechul. Sudah satu setengah jam lebih mereka menunggu namun dua orang yang dimaksudnya tidak juga memunculkan batang hidungnya.

Hankyung mengelus pundak Heechul. Bermaksud meredam kemarahan sang istri. Walaupun itu tidak akan ada pengaruhnya sama sekali.

Jung Soo menatap suaminya, Choi Young Woon sendu. Ia tahu suaminya sangat marah sekarang, namun dengan hebatnya ia menyembunyikan raut muka itu. Sementara Siwon dan Kibum hanya bisa terdiam, sesekali mereka menenangkan sang anak Shindong untuk berhenti menangis karena lelah menunggu.

"Kita pulang saja!" Marah Heechul ia beranjak dari tempat duduknya dan pergi keluar ruangan salah satu restorant ternama milik keluarga Kibum. Hankyung beranjak dari tempat duduknya dan menyusul Heechul. Setelah sebelumnya berpamitan pada keluarga Choi.

"Huh…" Young Woon menghela nafas dalam. Anak yang paling disayanginya lagi-lagi mengecewakannya.

.

.

.

Apartement Donghae terlihat gelap dan sepi. Hanya penerangan dari lampu meja yang menghiasi kamarnya. Hyuk Jae sedikit terisak saat Donghae mengobati pelipis dan pipinya dengan alkohol. Tidak ada kata-kata yang mereka ucapkan satu sama lain. Hanya lenguhan kesakitan dari Hyuk Jae yang menghiasi malam mereka.

"Apa kau benar-benar tidak mencintaiku? Sedikitpun?" Ucap Donghae memecah keheningan. Ia masih sibuk mengobati luka Hyuk Jae namun matanya menatap sendu 'kekasihnya' itu.

Hyuk Jae terdiam. Tatapannya kosong. Apakah ia harus menjawab pertanyaan laki-laki yang sering membuatnya berada disituasi tersulit? Bahkan Tuhan enggan membantunya saat ia mulai terjebak kedalam permainan laki-laki didepannya kini.

"Tanpa aku menjawabnyapun, kukira kau sudah tahu pasti jawabannya." Jawab Hyuk Jae ketus. Donghae tersenyum sinis.

Sekat yang mereka lewati terlalu jauh dan saat mereka melewatinya, perlahan namun pasti Hyuk Jae mulai melepaskan diri dan mundur lagi ketitik semula.

"Haruskah sefrontal itu? Tidak bisakah kau berpura-pura sedikit saja mencintaiku?" Tanya Donghae sinis dengan wajah memerah menahan marah. Setidaknya hanya untuk berpura-pura apa itu sulit untuk Hyuk Jae?

Bukan, Hyuk Jae bukannya tidak pernah mencintai Donghae. Dia pernah mencintai namja yang ada didepannya kini, hanya saja ia akhirnya membuang jauh-jauh perasaan itu saat tahu bagaimana konsekuensi yang harus diambilnya.

"Untuk apa melakukan itu jika aku sudah tahu hasil akhirnya, kau akan tetap menjadi milik wanita itu bukan? Aku hanya ingin terlihat berbeda dari simpanan-simpananmu yang lain dan terkenang dalam memori otakmu sebagai seseorang yang berbeda, dan suatu saat nanti jika kita bertemu disuatu tempat, kau akan mengenalkanku sebagai teman lama pada keluargamu…" Jawab Hyuk Jae dingin.

Donghae tersenyum getir. Jalan yang sulit bagi mereka berdua namun dengan bodohnya ia tetap memilih jalan ini. Jalan yang ditentang bahkan dikutuk Tuhan. Berakhir dengan ending yang mengejutkan dan sulit dipahami oleh mereka sendiri.

"Bukankah sudah kubilang itu tidak akan terjadi?! Aku akan berusaha sekuat mungkin agar kita tetap bersama! Apapun yang terjadi!" Bentak Donghae kesal. Hyuk Jae terdiam air mata sudah akan turun lagi dari pelupuk matanya.

Namun ia menahannya. Memori-memori selama dua tahun itu kembali terkenang dan membekas selamanya diotaknya.

"Apa yang bisa dilakukan namja sepertimu?" Jawab Hyuk Jae lirih. Air mata sudah tidak bisa dibendung lagi, air mata itu tumpah ruah membasahi wajah manisnya. Donghae menatap wajah manis itu sendu.

Wajah manis yang begitu dicintainya, wajah manis yang begitu diinginkannya, dan wajah manis yang sering kali mengkhianatinya.

Satu tangannya terulur menyeka cairan sebening kristal yang jatuh dari mata indah itu. Namun sebelum Hyuk Jae benar-benar merasakan kehangatan pemilik jari-jemari lentik itu, dengan cepat ia menepisnya. Menepis semua perasaan yang pernah ada didalam hatinya…

Lagi dan lagi Donghae menerima penolakkan. Ia beranjak dari tempat duduknya. Merebahkan diri disamping tubuh Hyuk Jae setelah sebelumnya mematikan lampu meja yang menjadi satu-satunya alat penerangan mereka saat ini.

"Tidurlah, kurasa kau lelah…" Ucap Donghae sebelum beralih kealam mimpi. Hyuk Jae tersenyum getir. Ketakutan itu lagi dan terus saja datang menghujam jantungnya…

.

.

.

Sungmin duduk terdiam menatap langit malam. Menghangatkan dirinya dari dinginnya udara malam kini bukan menjadi prioritas utama. Ia menatap sendu awan hitam yang bergumul menjadi satu yang terkadang membuat air mata turun dengan bebasnya membasahi wajah cantiknya.

Taman yang sepi bukan menjadi ketakutan utamanya saat ini. Suasana sepi menjadi pelebur utama kesedihan dan obsesi seorang Tan Sungmin.

Tangannya terluru mengambil smart phone yang sejak tadi tak henti-hentinya berdering. Ia menekan beberapa tombol, setelah sadar panggilannya terhubung dengan cepat ia melekatkan smart phone tersebut ketelinganya.

"Yeobsaeyeo!" Suara ketus dari seorang yeoja menjadi jawaban panggilan Tan Sungmin saat ini. Sungmin tersenyum menyadari respon sang ibu yang pasti sangat marah padanya.

"Ibu maafkan aku tadi tidak datang, aku dan Donghae oppa memilih berkencan berdua dari pada menghabiskan acara makan malam bersama kalian…" Ucap Sungmin. Tentu saja ucapannya tersebut bohong besar. Kencan yang ia maksud adalah bertemu dengan simpanan sang tunangan dan melihat sang tunangan lebih memilih bersama simpanannya dari pada dirinya.

"Kencan?! Apa kalian gila?! Apa kau ingin mempermalukan ibumu?!" Suara tenor namun anggun itu kembali melontarkan sebuah bentakkan pada sang anak.

Sungmin terkekeh ditengah isakannya. Dua ekspresi membingungkan yang begitu menyulitkan jalan pilihannya. Sekali lagi ia memilih menjadi orang bodoh…

"Maafkan aku ibu, kau tahukan kami juga butuh waktu berdua." Elak Sungmin. Terdengar helaan nafas Heechul dari seberang sana.

"Ibu ada hal penting yang harus kubicarakan denganmu…" Ungkap Sungmin langsung ketopik utama. Sejenak Heechul terdiam, ia sadar. Apa yang diinginkan sang anak pasti hal yang sangat penting dan ia tidak akan mampu menolaknya.

"Bicaralah…" Nada Heechul terdengar mulai melemah. Ia tidak akan pernah mampu berlama-lama mengacuhkan anak satu-satunya dan kesayangannya.

"Percepat pernikahan eomma, secepat mungkin. Aku tidak peduli Donghae oppa menyetujuinya atau tidak, yang terpenting aku harus menikah dengannya secepat mungkin. Sudah banyak hal yang kukorbankan demi Donghae oppa, termasuk anak itu." Ucap Sungmin penuh penekanan. Heechul terdiam.

Ia sangat terkejut, benar-benar terkejut. Ia tidak langsung menjawab permintaan sang anak, namun ia sadar ia harus melakukannya.

.

.

.

"Shindong sudah tidur?" Tanya Siwon dengan suara yang sangat pelan takut-takut membangunkan sang anak. Kibum mengangguk mengiyakan pertanyaan sang suami. Siwon mengangguk paham lalu menarik Kibum kedalam pelukannya.

Ia menyesap aroma rambut sehitam arang itu. Meresapi setiap jengkal kenyamanan yang diciptakan objek tersebut dan mengedarkannya keseluruh tubuh seolah-olah aroma surai hitam itu adalah candu baginya.

Kibum terdiam dalam dada bidang sang suami. Matanya sendu, entah apa yang sedang ditatap dan dipikirkannya.

Tangan Siwon beralih kedalam surai-surai halus Kibum. Mengelusnya sangat lembut lalu mengecupnya pelan. Pesona yang luar biasa yang terlalu memabukkan hidupnya ada pada namja dengan wajah cantik ini.

"Kurasa keadaan Donghae sama seperti kita dulu…" Ucap Kibum pelan memecah keheningan yang ada. Siwon membelalakkan matanya. Ia melepas rengkuhannya dan menatap laki-laki yang amat dicintainya tajam.

"Apa maksudmu?!" Tanya Siwon sinis. Ia benar-benar kesal dengan perkataan sang Snow White sekarang. Bagaimana bisa ia menyamakan situasi meraka dengan situasi Sungmin dan Donghae. Tentu saja sangat berbeda, ia sangat mencintai Kibum. Tidak seperti Donghae yang selalu mengacuhkan Sungmin.

"Aku mencintaimu, bagaimana bisa kau menyamankan situasi mereka dengan keadaan kita?!" Bentak Siwon. Kibum tersenyum getir dengan ucapan Siwon. 'cinta?' kata-kata ambigu yang memiliki banyak arti.

"Jangan katakan semua ini cinta, jika cinta yang kau maksud hanya sebuah tanggung jawab! Aku benar-benar muak dengan perasaanmu sekarang!" Elak Kibum tegas. Ia berjalan keluar menuju kamarnya meninggalkan Siwon sendiri yang masih berusaha menstabilkan perasaannya.

"Huh!" Siwon menghela nafas dalam.

Sudah ratusan kali ia mengyangkal bahwa perasaannya ini bukan hanya sebuah tanggung jawab dan formalitas semata, dan sudah ratusan kali juga ia mencoba menyangkal bahwa perasaannya bukanlah sebuah kata ambigu. Namun bak bualan yang diterima Kibum, ia selalu mengacuhkannya dan terdiam membisu seolah mereka benar-benar hanya sebatas partner kerja yang tengah menjalin sebuah perjanjian.

.

.

.

"Baiklah aku akan turun sekarang." Donghae langsung menghentikan jaringan telponnya dengan sebuah sentuhan ia layangkan pada sang ponsel pintar miliknya. Ia menghelas nafas halus mencoba mengeluarkan semua beban yang tersimpan dalam pikirannya.

"Hyuk Jae-ah aku akan pergi sekarang." Pamitnya.

Hyuk Jae hanya mengangguk memberi respon. Ia sangat tidak ingin berbicara dengan siapapun termasuk Donghae. Bibirnya terasa sangat kelu saat mata teduh itu harus kembali memandangnya dengan tatapan sendu.

Tepat saat Donghae melangkah pergi sebuah panggilan mengintrupsi kegiatan Hyuk Jae yang tengah menyantap sarapan paginya. Ia mengulurkan tangan putihnya mencoba meraih ponselnya yang terletak diujung meja makan.

"Yeobsaeyeo…"

"…"

" Oh… Sajangnim weayo?"

"…."

"Jinjjayeo? Eum…baiklah, aku akan segera kesana."

"…"

"Ne, algeseumnida". Kembali tangan putihnya terulur memutus jaringan telpon. Sebuah senyum lima jari terpahat sempurna diwajah manisnya. Sepertinya lagi-lagi seorang Hyuk Jae tengah mendapat sedikit berkah dari langit.

.

.

.

Plakk!

Tamparan kini sudah terpatri manis diwajah tampan pemilik namja brunette itu. Sang ayah yang sudah benar-benar geram akan tindakan anak yang dibesarkannnya dengan susah payah dan sudah menjadi prioritas kemarahannya. Jangan salahkan tindakan kasarnya karena memang ia sudah sangat sulit mengatur sang anak yang selalu bertindak diluar batas keseponan.

"Yeobo kumohon hentikan!" Wanita cantik bernama Jung Soo itu menengahi, ia takut kejadian lebih buruk akan menimpa putra kesayangannya.

Dengan rasa kasih sayang tinggi jemari lentiknya menyentuh pipi Donghae. Memberi rangsangan halus mencoba menghentikan kedutan perih yang harus didapatkannya.

"Gweanchanayo eomma." Lagi dan lagi Donghae harus kembali membiarkan dirinya menahan gejolak kemarahan.

Tak ada yang bisa ia lakukan saat sang ayah mulai bertitah, ia mengerti keinginan sang ayah yang memang akan berdampak baik untuk kehidupannya nanti, namun dengan memaksa dirinya melepaskan 'orang itu' sama saja memaksanya untuk mati muda segera ditempat.

"Tentu kau baik-baik saja! Tapi bagaimana denganku?! Kau tahu sudah berapa kali kita harus menanggung malu akibat ulahmu ini?! apa kesempatan yang kuberikan selama ini hanya kau anggap bualan?!" Teriakan dan sekali lagi teriakan.

Donghae tidak menjawab dan memang begitu seharusnya. Kesempatan yang ayahnya berikan sudah sangat menguntungkan bagi dirinya.

Namun dengan sangat kurang ajarnya ia masih menginginkan sesuatu yang lebih dari sebuah kesempatan. Harapan yang dibutuhkannya, sebuah harapan yang diinginkannya dan itu mutlak dalam pemikirannya. Apapun yang terjadi obesesinya akan selalu menjadi hal pertama yang ada didalam otak namja berwajah tampan ini.

"Hentikan! apa yang kau katakan?! Berhenti membentaknnya kau kira kenapa selama ini ia terus menentangmu?! Berhenti dan tenangkan pikiranmu. Aku tidak mau ada sebuah pertengkaran lagi dirumah ini Choi Yeong Woon." Jung Soo mengubah gaya bicaranya.

Ada nada kemarahan serius yang dilontarkannya. Tentu saja demi membuat sang istri nyaman dengan sangat terpaksa Yeong Won melangkahkan kakinya pergi keluar ruangan. Tidak ada yang bisa dilakukannya saat sang istri mulai menunjukkan sifat aslinya.

Lebih baik diam dari pada semua kejadian buruk tentang masa lalu lagi-lagi menjadi beban utama laki-laki berwajah tampan itu.

"Kau tidak apa-apa? Dimana yang sakit? Apa tadi ayahmu menampar dengan sangat keras?" Jung Soo membrondong Donghae dengan pertanyaan-pertannyaan yang baginya sangat penting.

Donghae hanya membalas dengan gelengan lembut. Ia sadar ini salahnya dan beginilah konsekuensinya.

"Ibu minta maaf." Kembali sosok malaikat tanpa sayap itu berujar.

Kristal bening mulai membuat pandangannya mengabur. Dengan lembut Donghae mengahadiahkan sebuah pelukan pada ibu yang selama ini mengurusnya itu.

"Untuk apa? Ini bukan salah ibu dan berhentilah menangis. Aku yang memulainya dan biarkan aku saja yang bertanggung jawab. Ibu tidak perlu melakukan hal yang membuatmu semakin terpukul." Donghae berujar dengan lembut.

Jung Soo kini menangis sesenggukan didada sang anak. Sebagai seorang ibu dirinya sangat tidak berarti. Tidak ada yang mampu dilakukannya dan begitu pula sebaliknya. Tidak ada yang harus dilakukannya dan tidak ada yang ingin melihatnya melakukan sesuatu.

.

.

.

"Kukira kau sudah berhenti melakukan ini." Seorang pria berubuh tambun tengah menyesap rokok yang bertengger dijari montoknya. Dengan pakaian rapi yang begitu menunjukkan kekuasaannya ditempat dimana ia berpijak.

"Berhenti jika keadaan benar-benar memaksaku berhenti sajangnim. Tapi keadaan masih memilihku untuk menjalaninya lagi pula untuk apa menolak? Itu bisa saja merugikanku." Namja manis ini menjawab dengan tenangnya.

Pria yang dipanggilnya sajangnim itu hanya mengangguk paham. Ia menyodorkan sebuah kunci kamar yang berisi barisan nomor.

"Kau boleh langsung menemuinya. Dia sudah menunggu." Kembali namja itu berucap. Pria manis itu mengulum senyum tulusnya. Entah itu benar-benar sebuah senyuman tulus atau itu hanya sebagai kedok semata namun kepastiannya ia tidak benar-benar menikmati hal tersebut.

Kaki kurusnya mulai menyusuri ruangan demi ruangan ditempat itu. Langkahnya terhenti saat menemukan kamar yang memilikii nomor sama dengan kunci yang diberikan bos-nya. Ia sedikit menghela nafas dalam saat tangan putihnya sudah menyentuh gagang pintu.

'Ini tidak akan terselesaikan dengan cepat jika kau masih saja bergantung ditempat yang sama.' Namja itu memantapkan hatinya sebelum benar-benar meraih gagang pintu dan…

Ceklek…

.

.

.

"Hyuk Jae-ah…" Donghae memasuki apartement-nya dengan langkah lesu. Sadar akan keberadaan sang kekasih yang tidak kunjung muncul, ia segera mematikan kembali semua penerangan yang sempat dihidupkannya. Merebahkannya dirinya dikasur empuk yang tersaji elegan didepannya.

.

.

.

Petang mulai datang dengan rembulan hangat yang meninggi. Membiarkan sinarnya kembali diagungkan oleh orang-orang yang membenci sang surya ditengah kekuasaannya. Siapa itu? Seseorang yang menentang langit pasti beradak dipihak sang rembulan…

"Aku suka blow jobmu Hyuk Jae-ah bisakah kita melakukannya lagi dilain waktu?" Seorang ahjussi tua berujar dibalik pergumulannya ditengah selimut. Menatap liar tubuh Hyuk Jae yang tengah mengancing kembali kemeja yang dikenakannya satu persatu.

Hyuk Jae hanya tersenyum memberi respon. Mata sipitnya menjadi menyendu saat melihat fatamorgana dirinya yang mulai terpantul. Bahkan bayangan dirinya mulai menangis akan kelakuannya yang ia anggap sebagai pertahanan diri.

.

.

.

"Sial!" Hyuk Jae mengumpat keras saat dirinya sudah berada diapartement milik mereka. Ia sontak melepas semua pakaiannya dan membuangnya kelantai. Berdiri dihadapan kaca dan menatap benci kissmark-kissmark yang bersarang ditubuhnya.

"Aku sampah dan benar-benar sampah!" Kembali ia mengumpat.

Ia menggosok-goskkan kissmark-kissmark itu dengan keras, mencoba memudarkan warna keunguan yang semakin pekat saat jari lentiknya menyentuh kasar bekas-bekas itu.

Tanpa sadar suara umpatan Hyuk Jae membangunkan Donghae. Ia melangkahkan kakinya menuju ruang tamu dan sontak kedua mata teduhnya membulat sempurna. Bekas keunguan itu terasa mematikan semua indra perasanya.

"Huh!" Donghae kembali melenguh dalam. Kedua tangannya sudah mengenggam erat menahan gejolak kemarahan yang terasa memberatkan kepalanya.

"Kau memang seorang pelacur tapi dengan bodohnya aku masih berharap bahwa kau akan benar-benar berhenti mempermainkanku."

Kristal bening melewati pipi mulus Hyuk Jae. Ia sangat tahu siapa pemilik suara lembut ini dan ia sangat tahu konsekuensi apa lagi yang harus ia dapatkan saat dirinya kembali 'harus' mengkhianati namja bermata teduh itu.

Tubuhnya kaku dan gemetar. Dengan sangat terpaksa ia membalikkan badannya dan menempati posisi terbaiknya agar mata sipitnya itu mampu menangkap sosok sempurna yang tengah ia belakangi itu.

Sebuah kristal bening kembali menurun saat dirinya mulai mendapati namja yang 'pernah' dicintainya itu melangkahkan kakinya mendekat, kakinya melemas saat tubuh Hyuk Jae seakan digoncang sebuah tatapan tajam dari namja yang menatapnya dengan kilatan kemarahan...

'Haruskah cinta seperti kaca...?'

TBC/DELETE?.

Author Note:

Annyeonghasaeyeo…, para readers. Yah…, kami terpaksa updet kilat karena masih banyak yang tidak mengerti jalan cerita ff ini. Apa perasaan Hae sudah terjelaskan di ff ini? jika belum tunggu chapt selanjutnya ne? hehe…

Aish! sejujurnya chapt pertama adalah chapt paling buruk menurut kami, kami buatnya terburu-buru dan dalam keadaan mengantuk. Juga sangat banyak berkeliaran kata-kata 'tersebut' kami saja sampai lelah menghitungnya. Sepertinya kami pantas jadi duta kata 'tersebut. Kami minta maaf jika masih sangat banyak sekali typo yang bertebaran dan alur yang terlalu cepat *bow*

Banyak yang bingung ini FF duet atau nggak, iya ini ff duet duo kembar abal gak ada kerjaan. Terimakasih bagi yang sudah mereview, dan maaf bagi review yang belum bisa kami balas. *deep bow* kami usahakan untuk membalasnya di chapt depan…

Jadi apakah ff ini masih layak untuk dilanjutkan? Jika masih, tinggal tulis komentar kalian dikolom review. Terimakasih banyak….