PRECIOUS EYES
.
Main Cast :
Cho Kyuhyun
Lee Donghae
.
Genre : Friendship, Drama, Angst
.
Rated : T
Warning : Typo(s), bad plot, bored, OOC
Disclaimer : All Cast isn't mine but this plot story is mine!
.
LyELF
-Enjoy Reading!-
.
.
PART 4
ooOOoo Eyes ooOOoo
Kehangatan akhirnya di rasakan kota setelah melewati musim dingin selama kurang lebih 3 bulan. Salju-salju yang menumpuk di jalanan pun sudah mencair seluruhnya. Pucuk daun-daun baru mulai tumbuh menghiasi ranting pohon menandakan awal dari musim semi. Udara masih cukup lembab dan basah namun tidak terlalu dingin lagi. Suasana menjadi lebih hangat dan sejuk. Suasana baru yang membuat semangat bekerja dari seluruh penduduk menjadi naik, melakukan aktivitas dengan lebih ceria.
"Ayo hyung, ppalli!"
Kyuhyun langsung menggandeng tangan Donghae yang sejak tadi berjalan lebih lambat dari siput menurutnya. Donghae terlihat ragu untuk melangkah. Ia bingung Kyuhyun akan membawanya kemana. Berkali-kali ia bertanya namun Kyuhyun hanya menjawab ini rahasia.
"Kita mau kemana, Kyu?" tanya Donghae entah untuk keberapa kali.
Kyuhyun tak segera menjawab membuat Donghae berhenti dan menahan lengan nya, "Nanti kau akan tahu sendiri, hyung," akhirnya, Kyuhyun menjawab dengan penuh misteri.
Donghae menghela napas pasrah dan akhirnya mengikuti kemana pun Kyuhyun membawanya sekarang. Melihat itu, Kyuhyun tersenyum. Ia menambah kecepatan berjalannya.
Mereka mulai berjalan melewati halaman sebuah gedung besar di tengah kota. Kemudian langsung beralih menuju pelataran gedung. Banyak orang yang keluar masuk tempat itu dan Donghae bisa merasakan kehadiran banyak orang di sekitarnya.
Pintu kaca untuk masuk ke dalam gedung itu terbuka. Aroma obat langsung terkuar dari dalam membuat Donghae menghentikan langkahnya seketika. Kyuhyun pun terpaksa berhenti dan menatap hyung nya heran.
"Hyung?" panggil Kyuhyun.
Donghae terdiam dan lebih mencium aroma khas itu untuk memastikan, "Rumah sakit?" gumamnya sekaligus menjadi pertanyaan untuk Kyuhyun.
Kyuhyun hanya tersenyum tipis, ternyata Donghae bisa mengetahuinya juga. Ia kembali meraih tangan Donghae untuk mengajaknya kembali berjalan, "Ayo masuk."
Donghae menggeleng dan melepaskan tangan Kyuhyun, "Untuk apa kita ke rumah sakit? Apa kau sakit Kyunie?" tanyanya.
Kyuhyun menghela napasnya, "Aku tidak sakit, hyung."
"Lalu?"
Beberapa orang yang lewat di sekitar memandang Kyuhyun dan Donghae dengan tatapan heran karena berdiri di depan pintu, bagi mereka itu cukup mengganggu. Karena hal itulah, Kyuhyun harus tersenyum sebagai permintaan maaf dan membawa Donghae untuk sedikit menyingkir dari pintu.
"Kyu?!" pekik Donghae tak sabaran.
"Ne. Kita kemari karena aku ingin kau periksakan matamu ke dokter mata."
"Mwo?!"
Kyuhyun meringis mendengar pekikan dari Donghae yang kembali menarik perhatian orang-orang. Ia mendengus sebal, "Bisakah kau tidak berteriak, hyung?"
"Kita pulang!" Donghae tak menanggapi ucapan Kyuhyun dan langsung membalikan badannya. Kyuhyun langsung saja menyambar lengan nya.
"Hyung! Waeyo? Kita harus tahu bagaimana kondisi matamu. Kau sendiri yang bilang belum pernah memeriksakan nya secara langsung. Mungkin masih ada kemungkinan kau bisa kembali melihat jika melakukan pemeriksaan."
Kyuhyun membujuk Donghae dengan berbagai alasan. Ia sendiri tak tahu kenapa Donghae selalu menolak untuk pergi ke dokter mata saat Kyuhyun memintanya.
"Andwae!"
Donghae bersikeras untuk pulang namun Kyuhyun pun bersikeras untuk mengajak Donghae masuk. Dan tak terelakan, terjadi acara tarik-tarikan di dekat pintu. Sekali lagi kedua nya menjadi perhatian dari semua orang yang melewati pintu dan berjalan di pelataran luar rumah sakit.
"Kau bilang ingin melihatku 'kan?!" Donghae akhirnya terdiam setelah Kyuhyun sedikit berteriak.
Kyuhyun melepaskan lengan hyung nya dan menatap Donghae intens, "Dengar… Kita tidak tahu bagaimana keadaan matamu sekarang. Kita harus memeriksakannya dan berkonsultasi pada dokter. Mungkin ia bisa memberi solusi dan ada kemungkinan kau bisa melihat lagi, hyung."
Donghae menundukan kepalanya, menatap kosong lantai bersih rumah sakit itu, "Tapi…"
"Bukankah kau ingin melihatku? Itu harapan mu juga diriku," Kyuhyun mengingatkan.
"Ne. Tapi daripada ke dokter, kau bisa menyimpan uangmu saja, Kyu. Dokter mata seperti ini pasti mahal. Lebih baik kumpulkan uangmu untuk membuka toko seperti yang kau impikan," ucap Donghae.
Kyuhyun tersenyum tipis, "Kesehatan lebih penting dari segalanya di dunia ini."
Mendengar itu, Donghae pun bungkam. Ia tidak tahu bagaimana harus menolak lagi. Ia tidak ingin membuang uang hasil kerja keras Kyuhyun untuk hal seperti ini. Selain itu, ia juga merasa takut. Selama ini ia tidak pernah ke dokter mata. Keadaan keluarga Donghae saat di mokpo dulu tidak memungkinkan untuk melakukan pemeriksaan rutin. Donghae hanya tahu eomma pernah membawanya ke dokter biasa saat ia masih kecil.
"Sudah. Jangan memikirkan apa-apa lagi. Sekarang kita masuk dan periksakan matamu nde?"
Walaupun Donghae tak menjawab, Kyuhyun tetap menarik tangannya untuk masuk ke dalam rumah sakit. Donghae hanya mengikuti Kyuhyun dengan penuh kepasrahan. Mereka menuju lantai 4 dan menunggu sesaat di ruang tunggu bagian spesialis mata.
Setelah beberapa saat menunggu, seorang kanhosa menghampiri dan menunjukan sebuah ruangan praktek dokter kepada Donghae dan Kyuhyun. Ada sekitar 3 dokter mata yang praktek di rumah sakit terbesar di Seoul ini.
"Selamat siang. Silahkan duduk," seorang dokter muda dengan senyuman khas itu berdiri dan mempersilahkan pasien nya untuk duduk di sebrang meja kerjanya.
Kyuhyun menuntun Donghae dan keduanya langsung duduk bersebelahan. Kyuhyun memandangi ruangan ini sejenak. Ruangan yang lumayan besar dan ada beberapa alat yang tidak Kyuhyun mengerti. Ia beralih menatap meja dokter. Ada sebuah papan yang terukir sebuah nama 'dr. Park Jung Soo, Sp.M'. Kyuhyun manggut-manggut mengetahui nama dari dokter muda ini. Ia kembali menatap sang dokter yang tengah memperhatikan Donghae dengan seksama, sepertinya dokter ini sudah sedikit mengerti sebelum di beritahu.
Kyuhyun menjadi sedikit bingung harus memulai pembicaraan darimana. Dokter Park masih terlihat serius memperhatikan kedua belah mata Donghae yang hanya menatap lurus ke meja.
Dokter Park mulai beralih menatap Kyuhyun dan tersenyum.
"Jadi, apa yang menjadi keluhannya?" tanya dokter itu ramah.
Baru kali ini Kyuhyun berhadapan ke dokter spesialis mata seperti ini. Ia sungguh bingung harus menjelaskan darimana. Ia melirik kearah Donghae yang terlihat diam dan enggan bicara. Kyuhyun menghela napas, sepertinya memang harus dia yang menjelaskan.
"Hm… Uisa, aku ingin kau memeriksa kondisi mata hyung ku. Dia tak bisa melihat sejak kecil," jawab Kyuhyun sambil sesekali melirik Donghae, takut-takut ia salah menjabarkan.
"Kalian bersaudara?" tanya dokter Park lagi.
"Aniyo. Tapi aku sudah menganggap nya sebagai hyung ku sendiri," Kyuhyun menjawab pasti.
Donghae tersenyum kecil mendengar Kyuhyun menceritakan dirinya. Ia sendiri bingung harus bagaimana. Ia takut. Tapi mendengar suara ramah dari dokter ini sepertinya ia bisa menebak bahwa dokter di hadapan nya tidak terlalu mengerikan.
"Baiklah. Sekarang biar aku melihat matamu lebih seksama."
Dokter Park beranjak dari kursinya mendekati Donghae. Ia menuntun Donghae menuju sebuah ranjang dalam ruang prakteknya.
Donghae duduk di atas ranjang itu. Ia hanya pasrah saat uisa ini memeriksa nya. Dengan senter kecil, dokter Park meneliti seluruh mata Donghae dari dekat.
Kyuhyun hanya duduk di tempatnya. Memperhatikan dengan seksama apa yang di lakukan dokter itu pada Donghae.
Setelah beberapa saat pemeriksaan dasar, Donghae kembali duduk di samping Kyuhyun begitu pula dengan sang dokter yang kembali ke kursi besarnya. Dokter Park menumpukan kedua siku lengan nya di atas meja. Menatap Donghae dan Kyuhyun bergantian sebelum memberikan analisa awalnya.
"Jadi bagaimana?" Donghae yang sebenarnya sangat penasaran mulai mengeluarkan suaranya.
Dokter Park tersenyum, akhirnya pasiennya bersuara juga.
"Apa hm… Donghae-ssi tahu jika dulu anda lahir premature atau tidak?" tanya dokter Park terlebih dahulu.
Donghae terdiam sambil memikirkan apa yang di tanyakan oleh dokter sedangkan Kyuhyun justru memperhatikan Donghae dan dokter Park bergantian.
"Entahlah. Seperti nya eomma pernah memberitahu istilah seperti itu," jawab Donghae apa adanya.
Dokter Park menganggukan kepalanya, "Lalu dimana kedua orangtua anda? Mungkin lebih baik saya bicara langsung pada mereka."
Donghae tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu, "Kedua orangtua ku sudah meninggal."
Penuturan itu membuat sang dokter cukup terkesiap. Ia terdiam sesaat sebelum beralih menatap Kyuhyun. Yang di tatap hanya tersenyum kecil lalu menganggukan kepalanya.
"Maafkan saya," sesalnya.
Dokter Park menghela napasnya. Ia kembali menatap kedua orang di depannya. Entah mengapa ia merasa ikut sedih namun juga kagum. "Apa kalian hanya tinggal berdua?" tanyanya mengungkapkan apa yang mengganggu pikiran nya. Ia sangat tahu bagaimana pasien seperti Donghae memerlukan perhatian ekstra.
"Ne. Kami tinggal berdua hampir 4 bulan ini," Kyuhyun yang menjawab. Dokter Park menganggukan kepalanya.
Kyuhyun mulai merasa penasaran, "Jadi bagaimana, uisa?" tanyanya mengulang pertanyaan Donghae karena uisa di depan mereka tak kunjung menjawab.
Dokter Park tersenyum lalu menganggukan kepala sebagai tanda ia akan mulai menjelaskan. Kyuhyun memberikan perhatian untuk semua yang akan di ucapkan.
"Diagnosa awal saya adalah Donghae-ssi mengalami ROP atau Retinopathy of Prematurity. Ini adalah salah satu penyebab dari kelainan mata akibat kelahiran premature. Dimana saat kelahiran, saraf mata belum terbentuk sempurna sehingga timbul stimulus pembentukan pembuluh darah baru yang abnormal."
Kyuhyun mengerutkan dahi nya bingung dengan semua istilah asing dan bahasa kedokteran yang sama sekali tidak Ia mengerti. Namun, ia diam mendengarkan dengan seksama. Terkadang ia melirik kearah Donghae yang sepertinya sama-sama bingung.
"Kelainan ini dapat sembuh secara berkala saat bayi bertumbuh dewasa dengan melewati pemeriksaan rutin maupun terapi laser. Namun, ada juga beberapa dari mereka yang justru mengalami hal sebaliknya. Saat bayi bertumbuh justru mengalami hal yang lebih buruk yaitu retinal detachment atau ablosia retina yang menyebabkan kebutaan permanen pada kedua belah mata."
Dokter Park memberi jeda sejenak pada penjelasan nya. Ia memperhatikan kedua anak di hadapannya dengan seksama.
"Dan saya memasukan Donghae-ssi ke dalam kategori kedua yaitu ablosia retina yang menyebabkan kebutaan permanen."
Donghae dan Kyuhyun semakin terdiam seribu bahasa mendengar kesimpulan dari semua penjelasan medis yang menurut mereka rumit. Intinya mereka tahu bahwa Donghae mengalami kebutaan permanen.
Donghae hanya tersenyum tipis seakan sudah bisa menebaknya. Walaupun begitu hatinya terasa seperti di pukul-pukul. Sedikit harapannya seakan meluap entah kemana. Selama ini ia tahu ia mengalami kebutaan permanen namun setiap hari ia masih berharap bahwa setiap membuka mata mungkin ia bisa melihat. Namun, setelah mendengar penjelasan medis ini membuat keyakinannya tidak akan bisa melihat menjadi semakin besar.
Kyuhyun menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Ia menatap dokter Park dengan tatapan memelas, "Apa masih ada kemungkinan untuk di sembuhkan?" tanyanya ragu.
Sebenarnya dokter Park tak ingin mengatakan ini setelah melihat ekspresi sedih dari dua orang di hadapan nya. Satu hal yang menjadi kesakitan bagi seorang dokter adalah saat melihat ekspresi sedih di wajah pasien maupun keluarganya.
"Seperti yang kita tahu dari kebutaan permanen. Retina dari mata sudah rusak dan tidak bisa di sembuhkan lagi baik dengan terapi laser sekalipun."
"Lalu? Apa ada solusi agar hyung ku bisa melihat lagi?" Kyuhyun masih belum menyerah untuk bertanya sebanyak-banyak nya.
Dokter Park tak segera menjawab. Ia memperhatikan Donghae yang mulai menundukan kepalanya. Dokter Park sadar bahwa setiap pasien yang mengalami hal ini pasti memiliki trauma psikologis yang cukup besar apalagi jika di alami sejak kecil. Ada sedikit perasaan bersalah yang menyelusup. Tapi ini adalah tugas nya untuk memberitahu kebenaran yang ada.
"Ada."
Satu jawaban itu membuat Kyuhyun tanda sadar menarik sudut bibir nya membentuk senyum penuh harapan dan Donghae pun langsung mengangkat wajahnya.
"Pertama. Menggunakan protesa mata atau mata buatan palsu estetis," ucap dokter Park.
"Mata palsu?" Donghae dan Kyuhyun membeo secara bersamaan dengan ekspresi lucu membuat dokter Park tersenyum geli.
"Ya. Perkembangan medis saat ini cukup maju. Beberapa dokter mata mulai membuat protesa mata, mereka di sebut ocularist. Protesa mata ini untuk memberikan mata buatan untuk pasien sesuai dengan ukuran dan berbagai spesifikasi lain setelah melakukan pemeriksaan." Dokter Park menjelaskan dengan detail.
"Namun protesa mata tidak lah sempurna. Itu tak menjamin pasien untuk melihat secara sempurna. Pasien mungkin hanya akan mampu melihat samar, bayangan maupun hanya sedikit titik cahaya. Walaupun begitu, mata palsu ini bisa membuat kepercayaan diri dari pasien meningkat untuk bisa beradaptasi di tengah lingkungan. Mereka bisa memesan mata yang indah dan tak akan ada orang awam yang tahu jika pasien mengalami kelainan mata. Tapi ada efek samping dalam penggunaannya seperti mengalami peradangan ataupun infeksi jika pasien tidak cocok."
Mendengar penjelasan itu, Donghae dan Kyuhyun kembali lemas. Itu sama saja seperti kondisi awal. Tak akan berbeda jauh. Bahkan mempunyai efek samping yang cukup mengerikan. Dan bagi Donghae, ia tak peduli dengan penampilan matanya. Ia hanya ingin melihat dengan jelas, hanya itu.
Donghae dan Kyuhyun pun tanpa sadar menghela napas bersamaan.
"Yang kedua…" Dokter Park kembali melanjutkan ucapannya, "Donor mata."
Sebuah solusi yang Donghae dan Kyuhyun biasa dengar dari drama-drama yang ada. Donor mata, suatu cara yang membutuhkan biaya yang tinggi, baik untuk mencari donor secepatnya maupun untuk operasi nantinya.
"Jika kalian bersedia. Saya bisa mendaftarkan nama Donghae-ssi ke lembaga bank mata Seoul. Kita akan melakukan pemeriksaan intensif dan mengirimkan spesifikasi nya pada mereka. Sehingga saat ada bola mata sesuai spesifikasi, mereka akan memberikannya pada kita dan Donghae-ssi bisa segera melakukan operasi."
Dokter Park setia memperhatikan ekspresi Donghae dan Kyuhyun yang mendengarkan setiap penjelasan nya. Sedangkan yang di perhatikan mulai tidak fokus dan pikiran keduanya mulai melayang-layang sendiri.
"Tapi… Tentu itu tidak akan terjadi dalam waktu singkat. Ada ratusan bahkan ribuan orang yang sudah terdaftar menanti donor mata yang sesuai. Kita harus bersabar untuk menunggunya. Beberapa pasien harus menunggu selama bertahun-tahun untuk mendapat giliran donor yang sesuai."
Donghae dan Kyuhyun menganggukkan kepala paham. Dokter Park tersenyum tipis pada keduanya walaupun dua orang di hadapannya tengah menundukan kepala nya masing-masing.
"Saat ini hanya dua solusi itu yang bisa saya berikan. Saya lebih merekomendasikan agar Donghae-ssi segera mendaftarkan diri ke bank mata."
.
.
Semua ucapan dokter Park terus saja berputar dalam pikiran Kyuhyun. Semua solusi yang di berikan di tambah jumlah biaya yang di perlukan untuk pemeriksaan.
Pendaftaran mata ke bank mata gratis. Namun tak munafik, jika ada uang pasti bisa membuat list nama kita sedikit naik keatas dan donor mata akan lebih cepat di dapatkan. Oke, uang… tak bisa di pungkiri, terkadang uang memang bisa mempermudah segala sesuatu.
Helaan napas kembali meluncur dari bibir Kyuhyun. Ia menatap bulan purnama di pelataran luar rumah susunnya. Sudah hampir sejam berlalu ia berdiri di sini hanya di temani segelas coklat panas. Waktu sudah menunjukan lewat dari tengah malam tapi ia sama sekali tidak bisa tidur.
"Apa yang harus ku lakukan?" gumamnya pelan.
Sungguh ia bingung harus bagaimana sekarang. Untuk melakukan konsultasi dokter mata yang hanya berlangsung sejam tadi saja membuat Kyuhyun harus menabung selama 3 bulan. Lalu pemeriksaan? Lalu menembus nama dalam bank mata agar cepat mendapat donor? Setelahnya biaya operasi? Oh tidak mungkin ia sanggup menghasilkan uang puluhan juta won dalam waktu dekat dan dengan pekerjaan seperti ini.
Kyuhyun mengacak rambutnya sendiri. Walaupun Donghae sudah mengatakan dengan serius agar Kyuhyun tak perlu memikirkan apapun. Lupakan semua yang terjadi hari ini dan hidup seperti biasanya. Tapi Kyuhyun tak bisa menutup mata nya. Ia tahu Donghae juga memikirkan hal itu, hanya saja hyung nya tak ingin menjadi beban untuk Kyuhyun.
Angin malam semakin berhembus kencang dan udara semakin dingin membuat Kyuhyun memutuskan untuk masuk ke dalam rumahnya. Ia meletakan gelas kosongnya di meja dan beralih menuju kasur. Di sana Donghae sudah terlelap. Sepertinya Donghae kelelahan dan mungkin psikis nya kembali goyah setelah mendengar semua diagnosa mengenai dirinya hari ini. Kyuhyun jadi merasa bersalah.
Perlahan Kyuhyun menyentuh kedua kelopak mata Donghae yang tertutup sempurna, "Hyung… Kenapa rasanya sulit sekali ya?" gumam nya pelan.
"Aku ingin melihatmu bisa segera melihat lagi tapi… aku tak sanggup mengumpulkan uang sebanyak itu sekarang," ucap Kyuhyun dengan ekspresi memelas.
"Maukah kau menunggu beberapa tahun lagi? Aku akan segera lulus lalu kuliah, setelahnya aku akan bekerja dengan lebih layak dan mengumpulkan uang untuk semuanya. Tapi… Aish! Mianhae hyung, aku bingung harus bagaimana sekarang."
Kyuhyun berbaring di samping Donghae dengan kasar. Memandangi langit-langit kamar yang gelap. Entah mengapa sekarang Kyuhyun bisa merasakan bagaimana rasa putus asa dan ketakutan yang pernah Donghae alami. Ia meringis saat mengingat dulu ia berbuat sedikit keras pada hyung nya itu.
Tak ingin memikirkan apapun lagi, Kyuhyun langsung menarik bantal nya dan meletakan bantal itu di atas wajahnya. Ia harus tidur sekarang karena besok pagi ia harus mengantar susu.
Tuhan… Kau pasti mampu melakukan semua hal yang tak mampu di lakukan manusia 'kan? Bisakah aku memohon agar kau mengabulkan harapan hyung ku dan memberi nya mata baru? Aku ingin dia bisa melihat seluruh keindahan dari dunia yang Kau ciptakan ini.
.
.
.
ooOOoo Eyes ooOOoo
Waktu berjalan begitu cepat saat kau tak menghitung detik dari jarum jam itu. Seminggu telah berlalu setelah Kyuhyun mengajak Donghae untuk periksa. Semua berjalan seperti biasanya sekarang. Seakan melupakan hal itu, Donghae dan Kyuhyun tak pernah membahas mengenai pemeriksaan atau apapun lagi. Walaupun begitu, terkadang keduanya masih memikirkan hal itu sendiri.
Cklek
Donghae yang tengah asyik memainkan gitar yang di pinjamkan oleh Sungmin, langsung menoleh saat mendengar suara pintu terbuka.
"Kyu?"
Kyuhyun tersenyum melihat hyung nya itu. Ini masih jam 7 tapi tak heran Donghae sudah terbangun. Beberapa minggu ini justru Donghae bangun lebih awal dari Kyuhyun dan setia membangunkan dongsaeng nya.
Dengan berlari kecil, Kyuhyun masuk ke dalam rumah. Ia langsung mengambil dua buah mangkuk dan membawanya ke meja. Ia duduk di samping Donghae.
"Bubur?" tebak Donghae yang bisa mencium aroma khas itu.
Kyuhyun tertawa pelan, "Ne. Bubur nasi dengan potongan ayam," ucapnya riang.
"Ahjumma yang memberikan nya lagi?" tanya Donghae sambil terkekeh pelan.
Kyuhyun bergumam pelan sembari menuangkan bubur dari plastik ke mangkuk masing-masing. Ia memberikan salah satunya pada Donghae.
Donghae meletakan gitar di sampingnya dan menerima mangkuk dari Kyuhyun. Ia hirup aroma harum dan lezat yang menguar dari bubur panas itu.
"Aku sangat lapar. Selamat makan~"
Donghae tertawa mendengar suara Kyuhyun yang semangat sekali untuk segera menyantap buburnya. Tentu saja ia lapar. Setelah berkeliling komplek untuk mengantar susu pastilah ia memerlukan energi baru untuk beraktivitas.
Keduanya mulai memakan bubur masing-masing sebagai sarapan pagi ini.
"Hari ini kau tidak ke restoran lagi, hyung?"
Kyuhyun mengernyit bingung saat Donghae justru terbatuk setelah mendengar pertanyaannya. Tanpa pikir panjang, Kyuhyun memberikan segelas air pada Donghae.
Donghae menghela napas lega sebelum memberikan Kyuhyun cengiran khasnya.
"Kenapa bisa tersedak? Ish kau ini…" gumam Kyuhyun sambil menggelengkan kepalanya.
"Aniyo. Heum, ne aku tidak ke restoran dulu. Tak apa 'kan?" tanya Donghae.
Kyuhyun menaikan sebelah alisnya. Jujur ia penasaran ada apa dengan Donghae. Sudah seminggu ini Donghae absen datang ke restoran hingga menungguinya pulang. Donghae berdalih karena Ryeowook sedang liburan dan tidak ada yang mengajarinya piano dan Sungmin sudah mengajarinya gitar akan datang ke rumah setiap siang hari. Jadi, Donghae tidak perlu ke restoran dan mengganggu dulu. Tapi entah kenapa Kyuhyun tak yakin sepenuhnya dengan alasan itu. Ya walaupun begitu, Kyuhyun tak ingin berburuk sangka.
"Tidak ada yang kau sembunyikan dari ku 'kan, hyung?" Kyuhyun balik bertanya sambil meneliti wajah Donghae penuh selidik.
Donghae yang merasa di perhatikan secara intens pun hanya menyengir canggung lalu menggeleng cepat. Kyuhyun menghela napas lalu mengangguk paham.
"Ya sudahlah. Aku mau mandi dulu," ucap Kyuhyun sambil beranjak berdiri.
"Kyu…" Panggilan Donghae membuat Kyuhyun berhenti dan kembali menoleh kearah hyung nya.
"Kau tidak marah jika aku tidak ke restoran dulu 'kan?" tanya Donghae membuat Kyuhyun tertawa.
"Siapa yang marah? Tentu saja tidak. Hanya saja…" Kyuhyun menghela napas kembali, "Aku jadi pulang sendirian."
Donghae tersenyum mendengar kejujuran dari Kyuhyun. Ternyata Kyuhyun juga senang jika ia menunggu di restoran. Ya, bisa di bilang waktu bertemu mereka jadi lebih banyak di banding jika Donghae tidak ke restoran, hanya pagi hari mereka bisa bertemu dan berbincang bersama.
"Bagaimana jika aku menjemputmu saja nanti malam?" usul Donghae.
Kyuhyun berjalan mengambil handuk dan beralih menuju kamar mandi.
"Tidak perlu. Hyung istirahat saja," jawab Kyuhyun sebelum menutup pintu kamar mandinya.
Donghae tersenyum tipis. Dalam hati ia terus merapalkan kata maaf untuk Kyuhyun. Seminggu ini ia jarang mengobrol dengan Kyuhyun. Setiap malam ia selalu ketiduran lebih cepat sebelum Kyuhyun pulang dan itu membuat nya bersalah.
Donghae meletakan mangkuknya di meja secara hati-hati dan meraba sekitar untuk mengambil gitarnya kembali. Sebenarnya ia tidak ingin beralasan dan menyembunyikan sesuatu dari Kyuhyun tapi untuk saat ini ia terpaksa berbohong. Ia tak ingin Kyuhyun tahu apa yang sudah di lakukannya seminggu ini.
"Mianhae, Kyunie."
.
.
.
Matahari hampir mencapai puncak singgasananya. Waktu menunjukan pukul 10 pagi dan aktivitas pertokoan mulai terlihat cukup ramai. Semua toko sudah di buka dan para pembeli maupun turis yang hanya berwisata sudah berlalu lalang di jalan pertokoan Namdaemun ini.
Sudah hampir setengah jam pula, Donghae berjalan mengelilingi pertokoan dengan tuntunan tongkatnya. Sebuah keuntungan bahwa kini ia sudah bisa mengingat dengan jelas bagaimana alur dari pertokoan ini sehingga ia tidak mungkin tersesat dan tak bisa kembali ke rumah. Hampir 4 bulan berada di kota ini, ia sudah familiar dengan semua yang ada di sini.
Donghae memejamkan matanya dan menajamkan pendengarannya. Menurut suara yang di dengar nya, Donghae yakin jalanan ini cukup ramai di lewati orang. Ia pun beralih menuju pinggiran dan menyandarkan punggungnya di dinding sebuah toko kue. Gitar yang sedaritadi di gendongnya pun ia putar ke depan dan di peluknya di depan dada.
Ambil napas panjang dan hembuskan perlahan. Donghae berusaha mengontrol dirinya dan memastikan ia tidak akan merasa pusing berada di kerumunan orang ini. Ia sudah bertekad dan ia pasti bisa.
Ingatan Donghae kembali ke kejadian beberapa tahun silam saat Ia masih kanak-kanak. Saat itu ia berada di pasar ikan bersama eomma nya namun karena kondisi pasar yang ramai, ia pun harus terpisah dari sang eomma. Donghae bingung saat itu. Ia tidak bisa berbuat apapun dan mulai berjongkok di tengah jalan, hanya bisa terisak tangis seorang diri. Anehnya dari banyaknya orang yang lewat, tak ada seorang pun yang menolongnya. Suara keramaian orang di tambah beberapa teriakan pekerja pengangkut ikan di pasar serta suara bising kapal langsung berkumpul menjadi satu di pikirannya. Dua jam ia bertahan di tengah kebisingan itu hingga akhirnya ia tidak tahan. Suara yang banyak terdengar tanpa bisa melihat keadaan membuatnya terasa seperti di ombang-ambingkan di tengah badai lautan. Akhirnya, Donghae pingsan saat itu tapi untunglah sang eomma bisa menemukan nya dengan bantuan polisi pasar.
Donghae bergidik mengingat hal itu. Segera ia menggelengkan kepala berusaha menyingkirkan seluruh ingatan dan suara yang kadang masih terekam dalam memorinya.
Orang-orang yang berjalan di sepanjang jalan itu mulai menoleh saat Donghae mulai memetik sinar gitarnya. Hanya sekedar menoleh dan tetap berlalu. Donghae menunjukan senyuman manisnya. Dan dengan yakin ia mulai memainkan sebuah lagu di iringi gitar.
"Uriga manage doen nareul chuboghanun ee bamun. Hanulnen dari pyo-igo byoldurun misojijyo."
Hingga akhirnya suara merdu itu mulai melantun dari bibir Donghae. Dia mulai bernyanyi. Menyanyikan sebuah lagu dengan suara yang jarang ia gunakan untuk bernyanyi di depan orang banyak apalagi di pinggir jalan seperti ini.
"Gudeui misoga jiwojiji anhgil baleyo. Onjena haengbokhan nalduri gyesog doegil bilmyo."
Satu dua orang mulai berhenti untuk mendengarkan suara khas milik Donghae. Mereka merasa tertarik mendengarkan suara dengan cengkokan yang khas. Donghae mulai bisa merasakan keberadaan orang-orang yang menatapnya. Ia semakin bersemangat untuk bernyanyi.
Inilah yang ia lakukan selama seminggu ini. Menjadi seorang penyanyi jalanan yang tidak tentu. Ia bisa bernyanyi dimanapun dan kapanpun.
Beberapa minggu lalu saat ia berjalan-jalan bersama Kyuhyun, ia mendengar seseorang bernyanyi di pinggir jalan. Kyuhyun menjelaskan bahwa orang itu adalah penyanyi jalanan, menghibur setiap pejalan kaki dan tak jarang orang yang mendengar akan memberi uang.
Setelah hal itulah, seminggu lalu ia mulai mencoba kemampuannya. Ia tertarik untuk menjadi seorang penyanyi jalanan walaupun itu tidak mudah. Kenapa dia tidak memilih bekerja di restoran tempat Kyuhyun bekerja? Hei di sana masih ada Sungmin dan Ryeowook yang memegang tugas masing-masing. Toh pemilik restoran juga tidak sedang membuka lowongan. Donghae tidak ingin menyusahkan jadi ia lebih memilih mencoba bernyanyi di tempat seperti ini. Sekaligus melatih suara nya, permainan gitarnya dan respon dari banyak orang.
"Himdun iri idahedo gude mogsoril. Jamshirado dudge doendamyeon nan da idgo usul su—"
"YA KAU!"
Nyanyian Donghae sontak terhenti saat sebuah pekikan dari arah kanan terdengar. Donghae segera menoleh namun yang di dapat adalah seseorang yang justru mendorongnya ke samping sehingga tubuh Donghae terhuyung. Untung ia masih bisa menjaga keseimbangan sehingga tidak terjatuh.
Donghae menghela napasnya. Lagi-lagi hal seperti ini di temui nya. Ini bukan hal yang pertama seseorang marah padanya. Awalnya, Donghae tidak terima dan marah saat mendapat perlakuan seperti ini. Namun sekarang, Donghae sudah menebak pasti orang itu marah karena merasa terganggu oleh dirinya.
"Jangan bernyanyi di depan tokoku! Seenaknya saja, kau membuat pintu masuk terganggu!"
Benar bukan dugaannya? Sepertinya Donghae salah memilih tempat lagi.
Jika sudah seperti ini, hanya satu yang bisa di lakukan oleh Donghae. Ia membungkukan badannya berulang lagi untuk orang yang marah padan nya itu.
"Mianhae… Jeongmal mianhae," sesal Donghae.
Pemilik toko dan beberapa orang sekitar mengernyit bingung saat Donghae membungkukan badannya tidak pas berhadapan dengan seorang pun. Pemilik toko mendekati Donghae dan memperhatikan namja itu sesaat.
"Kau tidak bisa melihat?" tanyanya.
Donghae hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"Pantas saja. Yasudahlah, tolong jangan bernyanyi di sini. Cepatlah pergi." Pemilik toko itu tak mempermasalahkan hal itu lagi dan kembali masuk ke dalam tokonya.
Donghae masih berdiri di tempat selama beberapa saat. Masih bisa terdengar olehnya beberapa bisikan dari orang-orang sekitar yang membicarakan dirinya. Ia hanya bisa mengulas senyuman. Apa yang bisa dia lakukan lagi? Biarkan saja orang-orang berbisik.
Donghae memutar kembali gitarnya ke belakang punggungnya dan mulai mengambil tongkat hitam yang ia sandarkan di dinding. Ia berniat untuk pergi dan mencari tempat baru untuk bernyanyi. Tak peduli berapa banyak orang mengusir dan membicarakan dirinya. Ia hanya ingin menghibur dan mungkin mendapat sedikit uang.
Baru selangkah Donghae beranjak seorang namja paruh baya dengan pakaian kerja menghampirinya dan memberikan selembar uang kepada Donghae yang sedikit terbingung.
"Suaramu bagus, nak."
Donghae tersenyum mendengar pujian itu. Ia membungkukan badannya kepada namja itu, "Gomawo ahjussi." Namja itu hanya menepuk pundak Donghae dan berlalu pergi.
Beberapa remaja pun mulai menghampiri Donghae dan ikut memberikan beberapa recehan. Donghae hanya bisa tersenyum senang dan membungkukan badannya berulang kali mengucapkan rasa terimakasih nya.
Donghae tertawa kecil. Inilah yang sering terjadi selama seminggu. Walaupun ia selalu berakhir dengan di usir oleh pemilik toko maupun polisi yang bertugas, beberapa orang masih berbaik hati memberikan pujian dan sesuatu sebagai penghargaan.
Tidak ada satu pun usaha keras yang berakhir sia-sia. Selalu ada hasil yang di dapatkannya. Walau dengan rasa sakit dan lelah sekalipun. Dan hanya untuk mencari selembar uang itu tidaklah mudah. Berapa pun hasil yang di dapat, harus selalu berucap syukur.
Donghae menyimpan beberapa uang yang di dapat ke dalam sakunya. Uang ini akan ia berikan pada Kyuhyun secara diam-diam. Dia belum berani memberitahu Kyuhyun tentang hal ini. Ia takut Kyuhyun melarangnya dan memikirkan dirinya lagi. Ia tidak ingin membuat dongsaeng nya itu khawatir. Tapi suatu saat ia pasti akan menceritakan semuanya.
Dengan semangat, Donghae kembali melangkah menyusuri jalan pertokoan mencari tempat yang menurutnya cocok untuk bernyanyi lagi.
.
.
.
Berbeda dengan Donghae yang penuh semangat, sang dongsaeng justru berjalan menyusuri lorong sekolahnya di sore hari ini dengan tidak bersemangat sedikit pun. Lorong sudah sepi dan hampir semua murid sudah pulang ke rumahnya. Kyuhyun berjalan dengan wajah tertunduk memperhatikan dengan seksama setiap langkahnya.
'Ssaem tak pernah meragukan kemampuanmu, Kyu. Tapi dari hasil rekap nilai yang ku terima, nilaimu mendapat penurunan terutama pada pelajaran yang membutuhkan hafalan seperti sejarah. Karena itu aku ingin kau mulai mengikuti pelajaran tambahan. Kau tahu ujian akan berlangsung beberapa bulan lagi bukan? Kau masih ingin mendapat beasiswa?'
Helaan napas keluar dari bibir tebal Kyuhyun saat serangkaian kalimat dari seonsangnim nya mengalun lagi dalam pikirannya. Kyuhyun tidak bisa menutup mata, ia sadar nilai pelajarannya mengalami penurunan. Hanya pelajaran pasti seperti matematikan dan fisika saja yang masih stabil. Sedangkan nilai dari pelajaran yang membutuhkan banyak hafalan itu seluruhnya menurun. Bukan karena sebab hal itu terjadi. Beberapa bulan ini ia memang tak punya waktu untuk belajar dan menghafal lagi. Bangun pagi, mengantar susu dan koran, sekolah, kerja hingga tengah malam dan tidur. Itu yang di lakukannya tiap hari.
"Ish!"
Dengan kesal, Kyuhyun mengacak rambutnya sendiri. Ia bingung harus bagaimana. Pelajaran tambahan di mulai esok hari dan bagaimana caranya ia minta izin setiap harinya pada boss kalau ia akan datang terlambat. Seorang Kyuhyun mengikuti pelajaran tambahan? Kyuhyun menertawakan dirinya sendiri.
Kyuhyun mendongakan kepalanya, melihat langit cerah dengan berkas cahaya yang mulai kemerahan setelah berada di luar sekolah.
"Kyu!"
Sebuah panggilan membuat Kyuhyun menoleh dan mengernyit bingung melihat Changmin yang berada di atas motornya melambaikan tangan untuk memanggilnya. Tumben sekali namja jangkung itu masih di sekolah setelah sekolah berakhir.
Kyuhyun berjalan menghampiri Changmin yang sudah tersenyum lebar menyambut kedatangan sahabatnya.
"Kau belum pulang, Min?" tanya Kyuhyun heran.
Changmin menggelengkan kepalanya, "Aku antar ke restoran ya," tawarnya.
"Kau menungguku?" Kyuhyun kembali bertanya membuat Changmin memutar bola matanya malas.
"Kau kira aku menunggu siapa? Tidak mungkin aku menunggu Kim ssaem dan dengan baik hati mengantarkannya pulang 'kan?" ucap Changmin setengah mengejek membuat Kyuhyun terkekeh pelan.
"Kim ssaem mengatakan apa?" Changmin mulai bertanya mengutarakan rasa penasarannya.
Kyuhyun tersenyum tipis lalu menyandarkan sedikit tubuhnya di body motor sport Changmin. Ia melipat kedua tangannya di depan dada dengan pandangan lurus ke arah lapangan.
"Banyak nilai ku yang turun. Aku di suruh ikut pelajaran tambahan," jujur Kyuhyun.
Changmin mengangguk-anggukkan kepalanya, "Sudah ku duga…" gumam nya pelan. Kyuhyun langsung menoleh mendengar gumaman itu.
"Kau sudah menduga apa?" tanya Kyuhyun dengan alis nya terangkat sebelah.
Changmin menyengir lalu mengibaskan tangannya, "Aniyo. Hanya saja aku sudah menduga kau akan menemani ku di pelajaran tambahan," ujar nya, "Kita memang sahabat sejati."
Kali ini Kyuhyun yang memutar bola mata nya sedangkan Changmin sudah tergelak sendiri. Kyuhyun menghela napas nya, enggan protes dengan tawa Changmin. Ia terdiam membuat Changmin menghentikan tawanya. Sesaat Changmin memperhatikan Kyuhyun dengan seksama.
Changmin membuka ranselnya dan mengeluarkan sebuah PSP hitam yang belum di tebus oleh pemiliknya.
"Ini." Changmin menyodorkan PSP itu pada Kyuhyun.
Kyuhyun mengernyit bingung. Ia memperhatikan PSP nya dan Changmin secara bergantian, "Apa?"
"Ish. Ambil ini. Aku tahu kau memerlukannya," ucap Changmin.
Kyuhyun masih terdiam sebelum menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu. Aku belum melunasi hutang ku."
Ingin rasanya Changmin melemparkan PSP hitam itu ke kepala Kyuhyun agar otak sahabatnya bisa bekerja dengan baik. Changmin tak pernah mempermasalahkan hutang Kyuhyun sedikit pun.
"Kau berlagak seperti aku seorang renternir yang memaksa agar kau membayar hutang secepatnya," dengus Changmin kesal. Kyuhyun hanya mengangkat bibir nya membentuk seringaian tipis.
Changmin meraih tangan Kyuhyun dan dengan paksaan menyerahkan PSP hitam itu kembali pada pemilik nya.
"Aku tahu perasaanmu sedang kacau. Lampiaskan saja semua nya pada PSP itu seperti biasa dan kau pasti bisa lebih tenang nantinya," ucap Changmin.
Kyuhyun terlihat memperhatikan PSP nya dengan seksama. Apa yang di katakan Changmin itu benar. Dia memang membutuhkan ini untuk menenangkan pikirannya. Ia beralih menatap Changmin kembali sedikit ragu.
"Jangan menatap ku begitu," ujar Changmin, "Anggap saja aku meminjamkan itu padamu. Mudah 'kan?"
Senyuman geli terukir di wajah Kyuhyun sebelum ia menganggukkan kepalanya. Changmin pun tersenyum lebar.
"Sudahlah. Mau ku antar sekarang?" tanya Changmin mulai menyalakan mesin motornya.
Tanpa menjawab, Kyuhyun naik ke motor Changmin sembari menyalakan benda hitam di tangannya.
"10 menit. Jika dalam waktu 10 menit kita tidak sampai di restoran maka aku akan telat dan ini salahmu," ucap Kyuhyun membuat Changmin membelalakan matanya.
"Ya! Kenapa tidak bilang daritadi? Ish kau ini."
"Kau yang mengajakku mengobrol."
"Tapi… Ah sudahlah! Kenapa aku bisa punya sahabat keras kepala dan menyebalkan seperti dirimu sih?"
Kyuhyun tertawa mendengar decakan kesal dari Changmin yang mulai melajukan motornya keluar dari area sekolah dan dengan kecepatan cukup tinggi mereka menyusuri jalanan menuju tempat kerja Kyuhyun.
.
.
Hari ini restoran terlihat cukup ramai walau bukan saat weekend. Para pekerja pun harus bekerja ekstra untuk melayani setiap pesanan dari pengunjung. Mereka harus bekerja cepat namun tak menghilangkan ketelitian dan sopan santun. Walau terasa kerepotan namun akhirnya mereka bisa melakukannya dengan baik.
Waktu sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam. Sebentar lagi restoran akan di tutup. Kyuhyun mendudukan dirinya di kursi yang ada dalam ruang karyawan ini. Sudah tak ada pengunjung yang harus di layani olehnya. Pengunjung yang tersisa, tengah menikmati santapan mereka sudah di layani oleh rekan nya.
Kyuhyun memejamkan mata nya untuk meredam rasa lelah yang mendera seluruh tubuhnya. Tangannya terangkat dan menyentuh bagian dadanya. Beberapa saat lalu rasa sesak itu kembali datang. Ia sendiri tak tahu kenapa tapi sekarang jika ia merasa lelah maka dada ini akan terasa begitu sesak dan ia akan sedikit kesulitan bernapas.
"Ada apa denganku?" gumamnya yang merasa aneh sendiri dengan keadaan tubuhnya.
Sudah sebulan ini ia merasakan dada nya yang seperti terhimpit sesuatu dan ia mudah sekali merasa lelah. Apa ia terlalu memforsir dirinya untuk bekerja? Kyuhyun menepuk dadanya berulang kali dengan pelan menyebabkan dirinya sedikit terbatuk.
"Kyu?"
Sontak Kyuhyun mendongakan wajahnya mendengar seseorang menyerukan namanya. Ia hendak berdiri namun tiba-tiba kepala nya terasa pening dan membuatnya kembali terduduk sembari memejamkan mata nya.
"Hei, apa kau baik-baik saja?" Paman Shin terlihat terkejut dan segera menghampiri Kyuhyun.
Kyuhyun menggelengkan kepalanya namun tak segera bersuara membuat sang boss cukup khawatir.
"Kyu? Kalau kau sakit lebih baik kau istirahat di rumah saja dulu," ucapnya.
Setelah mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan beberapa kali, Kyuhyun mulai tersenyum, "Gwenchana ahjussi. Aku baik-baik saja."
"Benarkah?" tanya paman Shin ragu dengan jawaban karyawannya itu. Wajah Kyuhyun yang terlihat pucat membuatnya tidak percaya.
"Ne. Ah, paman mencariku? Ada apa? Maaf aku duduk di sini, tadi tidak ada pengunjung lagi jadi aku memutuskan kemari." Kyuhyun mengalihkan pembicaraannya dengan bertanya.
Paman Shin pun tersenyum mengingat apa alasan dirinya mencari karyawan termuda di restoran nya ini.
"Aniyo. Apa kau ingat pengunjung di meja VIP hari ini?" tanya paman Shin. Kyuhyun mengangguk polos namun ada sedikit kecemasan dalam hati nya. Hari ini memang tugasnya melayani tamu VIP dan ia takut jika melakukan kesalahan.
"Dia adalah pemilik Joo corp. Dia bilang keluarganya puas dengan pelayananmu. Mereka bilang kau sangat ramah," ucap paman Shin senang membuat Kyuhyun menghela napas lega.
"Syukurlah paman," balas Kyuhyun.
"Ne. Pertahankan prestasimu, Kyu. Aku bangga padamu."
Kyuhyun tak bisa menyembunyikan perasaan senangnya. Mendapat pujian dan di banggakan oleh boss itu rasanya seperti melayang ke angkasa. Kyuhyun pun tersenyum malu.
"Sudah tidak ada pengunjung lagi. Kau bisa bantu beres-beres yang lain dan segeralah pulang."
"Shin ahjussi."
Paman Shin memberi pesan lalu mulai melangkah keluar namun panggilan Kyuhyun membuatnya berhenti di ambang pintu dan kembali menoleh ke karyawannya itu.
Kyuhyun menghampiri bossnya. Ia terlihat ragu untuk mengatakan ini tapi ia harus segera mengatakan nya.
"Ada apa, Kyu?" tanya paman Shin.
Kyuhyun mengelus tengkuk nya merasa canggung juga takut, "Itu… Aku mau meminta izin," ucapnya pelan.
Shin ahjussi terlihat mengerutkan dahinya mendengar ucapan Kyuhyun yang tak di mengertinya, "Izin?"
"Ne. Besok aku akan ikut pelajaran tambahan di sekolah untuk persiapan ujian. Sepertinya, aku akan datang terlambat," terang Kyuhyun dengan perasaan tidak enak.
"Sampai jam?"
"Mungkin jam setengah 7 aku baru bisa datang," Kyuhyun menghela napas pasrah jika setelah ini paman Shin menolak izin nya atau malah memecatnya.
"Hm… Baiklah," Kyuhyun mengangkat wajahnya yang sempat tertunduk dan memandang wajah boss nya dengan tatapan bingung.
"Ahjussi mengizinkan?" tanya Kyuhyun ragu.
Paman Shin terkikik geli melihat ekspresi Kyuhyun, "Tentu saja. Aku mengerti posisimu, Kyu. Sudah cepat selesaikan pekerjaanmu atau kau akan pulang lebih malam."
Kyuhyun tersenyum lebar lalu membungkukan badannya beberapa kali pada boss nya, "Kamsahamnida."
Paman Shin menepuk pundak Kyuhyun dan berlalu pergi. Kyuhyun tersenyum lega. Sungguh beruntung dia memiliki atasan seperti paman Shin. Ia akan bekerja lebih keras lagi untuk membayar kebaikan namja yang mengingatkan dirinya pada sosok ayah itu.
.
.
.
ooOOoo Eyes ooOOoo
Kicauan burung bagaikan alarm yang membangunkan orang-orang di pagi hari. Donghae mengucek mata nya yang terasa lengket. Setelah itu tangannya meraba ke seluruh penjuru kasur. Dirinya langsung tersentak dan terduduk di kasur saat tak menemukan sosok dongsaeng yang biasa tidur di sebelahnya. Donghae meraba sekitar nya lagi untuk memastikan namun tubuh Kyuhyun tetap tidak ada.
"Jam berapa ini?" gumam Donghae sembari meraba permukaan meja nakas untuk mencari ponselnya.
Sebuah aplikasi waktu itu menyerukan pukul berapa saat ini. Masih jam 5 pagi, tapi kenapa Kyuhyun tidak ada?
"Kyu?" ucap Donghae memanggil nama Kyuhyun seakan memastikan bahwa adiknya berada di rumah atau tidak. Namun tak ada balasan yang di tangkap pendengarannya.
Donghae memukul kepalanya dan merutuk dirinya sendiri karena lagi-lagi ia ketiduran kemarin malam. Padahal ia sudah berusaha untuk terjaga hingga Kyuhyun pulang tapi nyatanya ia justru tertidur. Tangan nya bergerak memijat pelan kedua bahunya yang terasa berat. Tak mempedulikan rasa lelah yang menyelimutinya, Donghae kembali fokus pada ponselnya dan segera menekan speeddial untuk menghubungi Kyuhyun.
Kerutan bingung tercetak di dahi Donghae saat mendengar suara ponsel Kyuhyun secara samar di dalam kamar itu. Perlahan Donghae beranjak turun dari kasurnya dan berjalan mendekati arah suara ponsel.
Dugh!
Bruk!
"Aww!"
Kyuhyun yang masih terlelap dengan kepala beralaskan buku di meja dekat sofa itu langsung tersentak dan memekik kaget saat Donghae menginjak kakinya. Alhasil, Donghae terjatuh di sebelahnya karena kehilangan keseimbangan. Ia meringis karena lengan sedikit terkantuk sudut meja.
"Hae hyung, kenapa menginjakku! Appo…" protes Kyuhyun sembari mengelus kakinya yang sudah keram karena tidur sambil terduduk dan sekarang harus di injak cukup keras oleh hyung nya sendiri.
"Kyu?" Donghae mulai duduk bersila di samping Kyuhyun. Ekspresi bingung terlihat jelas di wajahnya yang menatap lurus ke depan, tanpa sadar menatap Kyuhyun yang masih kesakitan.
"Kakiku sakit, hyung~" rengek Kyuhyun sedikit manja walau kesal juga.
"Mianhae, aku tidak tahu kau di sini. Apa yang kau lakukan?" ucap Donghae merasa bersalah.
Kyuhyun terdiam sejenak dan mengerjapkan matanya menatap Donghae seakan berusaha mengingat kenapa ia duduk di sini. Dan sedetik kemudian ia berteriak histeris membuat Donghae tersentak.
"Tugasku! Aku ketiduran. Jam berapa sekarang? Aaah~ otthoke?"
Dengan panik Kyuhyun beralih pada bukunya. Segera ia ambil pena namun ia bingung harus menuliskan apa. Membolak-balik halaman buku tanpa mengerti sebenarnya apa yang di carinya. Donghae terdiam masih tak mengerti apa yang terjadi.
"Ada apa, Kyu? Tenanglah. Ini masih jam 5," ucap Donghae mendengar kepanikan Kyuhyun.
Kyuhyun mengacak rambutnya kesal, "Kemarin aku lupa jika ada tugas jadi aku tidak mengerjakannya di restoran. Aku baru ingat saat sampai di rumah dan sialnya aku malah tertidur. Aish, tugasnya harus di kumpulkan pagi ini. Aku harus bagaimana, hyung? Ini pasti tidak akan selesai."
Donghae terlihat pusing sendiri mendengar penjelasan Kyuhyun bagai kereta api tanpa memberi jeda itu. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tak tahu apa yang sedang di lakukan oleh dongsaeng nya itu.
"Kyu?" panggil Donghae.
Kyuhyun tak segera menjawab dan masih sibuk mengingat dan mengerjakan tugasnya sendiri. Donghae menghela napasnya. Ingin rasanya membantu Kyuhyun mengerjakan tugas seperti yang di lakukan oleh kakak-kakak lain nya di luar sana tapi apa yang bisa di lakukan Donghae. Membaca deretan tulisan di buku saja tak mampu.
"Hyung, otthoke? Aish, kenapa aku jadi lupa semua nya begini," gumam Kyuhyun sambil mengacak rambutnya frustasi. Biasanya ia akan masa bodo dengan tugas tapi sekarang Ia sudah masuk ke dalam daftar siswa pelajaran tambahan dan pasti guru akan mengawasinya lebih lagi.
Donghae tersenyum tipis walaupun Ia juga bingung harus bagaimana.
"Mandi saja dulu. Kau bisa langsung berangkat ke sekolah setelah mengantar susu dan lanjutkan tugas nya sebelum bel berbunyi. Jangan panik seperti ini," usul Donghae.
Kyuhyun menoleh dan menatap Donghae dengan seksama sebelum menganggukan kepalanya tanpa sadar, "Kau benar. Aku bisa menyalin tugas Changmin."
Tanpa membuang waktu, Kyuhyun langsung beranjak dan berlari ke kamar mandi. Donghae tersenyum geli membayangkan ekspresi Kyuhyun saat ini. Wajah panik Kyuhyun pasti lucu menurutnya.
Donghae mulai meraba sekitar sofa dan menemukan ransel Kyuhyun tergeletak di sana. Setelahnya ia langsung memasukan semua benda di atas meja ke dalam ransel itu. Menurutnya, semua yang ada di meja pasti di perlukan Kyuhyun termasuk beberapa buku dan alat tulis.
Setelahnya, Donghae berdiri dan menghampiri lemari. Meraba beberapa pakaian dan mengeluarkan sepasang seragam yang ia yakin adalah seragam Kyuhyun dan menaruh nya di kasur. Ya, hanya ini yang bisa di lakukan Donghae. Menyiapkan sedikit keperluan Kyuhyun sesuai yang ia bisa.
.
.
.
PRANG!
"YA!"
Benarkah ada yang namanya hari sial? Kyuhyun tak pernah mempercayai hal itu. Baginya semua hari adalah baik. Tapi hari ini, sepertinya Kyuhyun harus mengakui jika satu hari ini menjadi hari terburuknya. Setelah mengalami banyak sekali masalah. Tadi pagi, ia harus berurusan dengan salah satu pelanggan susunya. Ia di tuduh mengantar susu basi, lalu ada juga yang melaporkan bahwa Kyuhyun belum mengantarkan koran ke rumahnya. Dan karena semua itu, Kyuhyun harus rela terlambat datang ke sekolah. Kyuhyun harus membersihkan lapangan belakang seorang diri sebagai hukuman dan setelahnya, ia harus rela mendapat omelan karena belum menyelesaikan tugas yang di berikan seonsangnim.
Lalu sekarang… Kyuhyun harus terjatuh saat ingin mengantarkan pesanan ke meja tamu hanya karena kecerobohannya, ia tersandung kabel sound. Semua pesanan itu jatuh berantakan ke lantai dan piring juga gelas pecah. Pesanan itu pun mengenai pakaian salah satu pengunjung restoran tersebut. Lengkap sudah hari menyebalkan ini.
"Kau ini bisa kerja tidak?! Jas ku…"
"Jeosonghamnida…"
Kyuhyun terus membungkukan badannya berulang kali sambil mengucapkan kata maaf kepada pengunjung yang sudah menudingkan jari di depan wajahnya. Tak ada yang bisa di lakukan. Ini memang murni kesalahannya.
Paman Shin menarik Kyuhyun ke belakangnya dan mulai meminta maaf atas kesalahan pegawainya. Ia juga menawarkan untuk kompensasi jas pengunjung itu di tambah semua pesanan tidak perlu di bayar.
Kyuhyun menggigit bibir bawahnya. Matanya sudah memerah dan menahan tangis. Rasanya ia ingin berteriak dan bertanya… Ada apa dengan hari ini?!
Setelah pengunjung itu tenang, Kyuhyun segera membereskan kekacauan yang ia buat di bantu seorang pegawai lainnya.
"Gomawo hyung," ucap Kyuhyun pada rekan kerjanya.
"Lain kali berhati-hatilah. Tidak biasanya kau seperti ini, Kyu."
Kyuhyun hanya bisa tersenyum miris lalu berlalu menuju dapur. Beberapa tatapan heran di berikan oleh rekan kerjanya. Kyuhyun tak menanggapi hal itu.
"Ada apa denganku?" gumam Kyuhyun sembari menyandarkan punggungnya di dinding dekat ruang karyawan.
Tangan nya mengacak surai rambutnya sendiri dengan kesal. Mengumpat dirinya sendiri berulang kali di dalam hati. Kyuhyun melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu masih menunjukan pukul setengah 8 malam. Baru satu jam ia melayani di restoran ini. Pelajaran tambahan itu menyebabkan waktu kerjanya terpotong. Dan sekarang ia sudah menyiakan kepercayaan dari boss nya. Membuat masalah yang cukup merugikan restoran.
"Kyuhyun pabbo!" rutuknya lagi.
Kyuhyun menghela napas berat. Dengan lemas, Kyuhyun merogoh saku celananya dan mengambil ponsel nya. Ia sedikit tersenyum saat melihat wallpaper ponselnya adalah salah satu foto yang ia ambil bersama Donghae saat tahun baru.
Kyuhyun mendial nomor yang sudah di hafalnya. Menunggu nada sambung yang cukup lama hingga membuatnya mengernyit bingung. Tak ada jawaban membuat Kyuhyun mencoba menghubungi kembali. Ia menghela napas lega saat akhirnya sebuah suara menjawab panggilan teleponnya.
'Yoboseyo?'
"Hae hyung, eodiga? Kenapa ramai sekali?" tanya Kyuhyun saat mendengar suara ramai yang terdengar dari sebrang.
Donghae tak segera menjawab membuat Kyuhyun penasaran.
"Hyung—"
'Itu… Aku sedang di luar. Yesung hyung mengajakku makan malam di luar.'
Kyuhyun mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Hyung…" Kyuhyun menghela napas berat, "Aku—"
"Kyuhyun!"
Kyuhyun berdecih saat ucapannya di potong begitu saja oleh rekan kerjanya yang muncul dari ujung lorong ini. Niat Kyuhyun untuk bercerita menghilang sudah.
"Hae hyung, nanti aku hubungi lagi." Setelah mengucapkan itu, Kyuhyun menyimpan ponselnya kembali dan menatap rekannya yang terlihat panik dengan kerutan bingung.
"Waeyo?"
Rekan Kyuhyun terlihat menggelengkan kepalanya lalu menunjuk kearah luar, "Ada masalah lagi. Kau di minta keluar ke meja VIP."
Jantung Kyuhyun langsung berdegub kencang kembali saat mendengar ucapan itu. Masalah? Apa lagi yang ia perbuat hari ini?
Tak ingin pusing membuat spekulasi aneh, Kyuhyun langsung berlari kecil menuju luar. Beberapa pengunjung masih asyik menikmati santapan di mejanya namun keributan kecil terjadi meja dekat jendela dengan view yang bagus—meja VIP.
"Ahjussi, ada apa?" Kyuhyun langsung bertanya saat berada di belakang paman Shin.
Semua pandangan mata langsung tertuju padanya, terutama pengunjung wanita paruh baya yang terlihat berkelas, terbukti dari pakaian dan perhiasan mewah yang di kenakannya.
"Dia! Dia pasti yang mencuri berlianku!"
"Mwo?!"
Kyuhyun terbengong saat wanita itu menuding wajahnya sambil berkata keras. Otak Kyuhyun langsung berputar mencerna tuduhan yang baru saja di terimanya. Mencuri berlian? Ini gila! Tidak pernah terpikirkan oleh Kyuhyun untuk mencuri apalagi jika melakukannya.
"Ya, pasti kau yang mencuri berlianku 'kan? Tadi aku menitipkan mantel dan tasku pada mu saat aku ke kamar mandi," ucap wanita itu tegas sambil menatap Kyuhyun penuh amarah.
Akhirnya Kyuhyun ingat dimana ia bertemu dengan wanita ini. Ia bertemu beberapa menit lalu di depan kamar mandi. Wanita ini terlihat bingung dan tiba-tiba, Kyuhyun di panggil dan wanita itu menitipkan beberapa barangnya sesaat.
"Nyonya jangan menuduhku sembarangan. Aku sama sekali tidak melakukan apa yang anda tuduhkan. Aku tidak tahu menahu soal berlian itu!" ucap Kyuhyun sedikit tajam dengan suara cukup pelan agar tidak mengundang perhatian yang berlebihan walau mereka sudah menjadi pusat perhatian beberapa saat lalu.
"Aku yakin kau yang melakukannya! Berlian ku masih ada sebelum aku menitipkan tasku padamu!"
Ingin rasanya Kyuhyun menumpahkan air dari gelas yang ada di meja ke muka wanita itu. Enak sekali wanita ini menuduhnya mencuri.
"Aku tidak melakukan nya!" sentak Kyuhyun mulai kesal mendengar semua tuduhan palsu itu.
"Tidak ada maling yang mengaku. Dan sopan santun mu benar-benar buruk. Berani sekali kau membentak pengunjung," balas wanita itu lgi.
"Tapi anda menuduh saya melakukan hal yang tidak pernah saya lakukan. Tidak ada bukti jika saya melakukan itu 'kan?!"
Paman Shin menghela napas berat dan mengurut pelipisnya pelan. Ia kembali maju dan melerai di antara Kyuhyun dan pengunjungnya.
"Maafkan saya. Bisakah kita membicarakan ini di ruangan saya saja? Biarkan pengunjung yang lain menikmati hidangan mereka."
Wanita itu mendengus sebal lalu mengangguk. Paman Shin menggiringnya ke ruangannya bersama Kyuhyun yang pasti akan di interogasi setelah ini. Pegawai yang lain pun mulai memberi sedikit penjelasan pada pengunjung yang masih berada di sana. Dan suasana restoran kembali terkendali.
.
"Kyu…" panggil paman Shin yang terduduk di kursi sambil menyandarkan punggungnya. Jujur, ia merasa sedikit lelah hari ini setelah menghadapi dua masalah yang cukup membuat kepalanya berdenyut.
Kyuhyun tak membalas ucapan itu. Ia hanya menundukan kepalanya sambil meremas kedua tangannya sendiri. Geraman pelan masih meluncur dari bibirnya saat mengingat semua yang di katakan wanita tadi.
"Kyu…" paman Shin kembali memanggil membuat Kyuhyun mulai mengangkat wajahnya dan menatap boss nya.
"Aku tidak tahu ada apa dengan mu hari ini. Kau membuat dua masalah yang cukup merugikan ku juga restoran," ucap paman Shin.
"Harus berapa kali aku menyakinkanmu, ahjussi? Sungguh aku tidak mencurinya," balas Kyuhyun dengan nada memelas.
Paman Shin menghela napas, "Ne, aku percaya pada mu."
Kyuhyun menghela napas lega mendengar kepercayaan itu. Ia mulai menarik sudut bibirnya. Walaupun wanita tadi masih belum melepaskan dirinya dan akan membicarakan hal ini lagi besok. Setidaknya boss nya ini percaya, itu sudah cukup bagi Kyuhyun.
"Sepertinya hari ini kau sedang tidak berkonsentrasi, Kyu. Apa ada masalah dengan sekolah?" tanya paman Shin.
Kyuhyun meringis mengingat semua kejadian yang ia alami hari ini, "Ne. Hari ini, aku cukup mendapat masalah di sekolah. Tapi itu tidak apa-apa," ungkapnya.
Paman Shin mengangguk-anggukkan kepalanya, "Ne. Kau sudah kelas 3 pasti kau harus menyiapkan ujian segera."
"Aku pikir… Lebih baik besok kau tidak perlu datang ke restoran dulu, Kyu. Tenangkan saja pikiranmu dulu dan fokuslah ke sekolah. Untuk masalah hari ini, biar aku yang mengurus sepenuhnya."
Tatapan Kyuhyun langsung berubah menjadi horror mendengar semua itu. Beberapa saat, kedua mata nya menatap ke dalam mata boss nya itu untuk mencari kepastian di dalam sana. Kyuhyun menggigit bibir nya sebelum tertawa pelan entah menertawakan hal apa dan membuat paman Shin mengernyit bingung.
"Ahjussi… memecatku?" Kyuhyun menatap boss nya dengan penuh kekecewaan. Baru beberapa saat lalu ia senang bisa di percaya oleh paman Shin tapi sekarang ia seperti di jatuhkan ke dalam jurang.
Paman Shin terlihat terkejut, "Mwo? Bukan itu maksudku. Aku hanya ingin kau—"
"Bukankah kau bilang percaya padaku? Tapi sekarang kau justru memecatku karena masalah ini, ahjussi? Aku tidak mencurinya!" Kyuhyun memotong ucapan boss nya begitu saja.
"Kyu , dengarkan dulu. Ahjussi tidak memecatmu."
"Tapi besok aku tidak boleh datang untuk bekerja 'kan? Itu sama saja kau memecatku."
Napas Kyuhyun mulai memburu karena amarah yang di tahannya. Amarah terhadapan dirinya sendiri yang melakukan banyak sekali kesalahan hari ini di tambah kekecewaan dari orang-orang di sekitar nya.
"Kyu—"
"Baiklah." Lagi dan lagi, Kyuhyun memotong ucapan boss nya itu, "Aku tahu, aku melakukan kesalahan fatal dan merugikan banyak orang hari ini."
Kyuhyun mundur beberapa langkah, "Aku akan terima semua keputusan ahjussi. Terimakasih untuk semua kebaikan mu."
Paman Shin langsung berdiri dari kursinya saat Kyuhyun membungkukan badannya beberapa kali lalu tanpa memberi waktu untuk boss nya berbicara, anak itu sudah berlari keluar ruangan. Tak mempedulikan boss nya yang berteriak memanggilnya.
.
.
.
ooOOoo Eyes ooOOoo
Di bawah pancaran sinar lampu hias taman, Kyuhyun terduduk di bangku panjang ini. Punggungnya bersandar di sandaran bangku. Pandangan mata nya terlihat kosong, Ia hanya menerawang jauh ke depan. Ekspresi wajahnya yang terlihat lesu. Kepalanya terasa ingin pecah, berdenyut-denyut memikirkan banyak sekali hal yang menurutnya kacau.
Hal ini sama seperti yang ia alami beberapa bulan lalu. Di taman yang sama seperti yang di datangi saat awal musim dingin setelah ia memutuskan pergi dari rumah pamannya. Di bangku yang sama saat ia memikirkan banyak hal yang akan di lakukan untuk berikutnya.
"Arrgghh!"
Kyuhyun mengacak rambut nya yang sudah terlihat kusut itu untuk menyalurkan semua kekesalannya. Ia menumpukan lengannya di atas paha dan kedua tangan itu kembali saling meremas hingga memerah. Mata Kyuhyun terpejam.
"Apa yang harus ku lakukan setelah ini?" gumam Kyuhyun pada dirinya sendiri.
Sungguh Kyuhyun merasakan kebingungan lebih dari yang ia alami dulu. Sekarang ia tak punya pekerjaan lagi dan untuk melamar pekerjaan baru dengan waktu yang terbatas itu sangat sulit. Hasil dari antar koran dan susu tidak mungkin cukup memenuhi kebutuhannya dengan Donghae. Itu hanya bisa untuk makan setiap hari nya dan kebutuhan lain nya?
Kyuhyun menghela napas berat.
"Ayolah Kyu, kenapa kau jadi selemah ini? Semua akan baik-baik saja. Kau hanya perlu mencari pekerjaan baru dan semua selesai. Semua akan menjadi baik kembali."
Kyuhyun mulai berucap berusaha meyakinkan dirinya dan mensugestikan agar dirinya tidak menyerah. Namun sepertinya sugesti nya saat ini gagal, ia menundukan kepala nya lesu.
"Tapi bekerja apa?" gumam nya sendiri.
Otak Kyuhyun kembali di paksa bekerja, memikirkan dan menyusun rencana apa yang harus di lakukan nya.
"Ah!"
Seakan mendapat lampu terang di atas kepalanya, Kyuhyun sedikit menarik sudut bibirnya dan mulai mengeluarkan ponselnya lalu mendial beberapa nomor untuk menghubungi seseorang.
"Yesung hyung!" pekiknya memotong seseorang di sebrang yang baru ingin mengucapkan salam.
'Aigoo… Kyu, kau mau membuat ku tuli eoh?!'
"Hehe mianhae hyung… Ada yang ingin ku tanyakan."
'Apa?'
"Hm… Itu, apa di kedai es krim masih membutuhkan pekerja lagi? Atau mungkin kau tahu sebuah lowongan yang bisa bekerja saat malam?"
'Mwo? Untuk apa kau menanyakan lowongan? Ada masalah?'
"Begitulah. Aku akan menceritakannya nanti. Tapi, ada tidak hyung?"
'Entahlah. Besok akan ku tanyakan dulu, nde?'
Kyuhyun menghela napas lega, "Ne hyung, gomawo."
"Ah! Kau sudah tidak bersama Hae hyung? Kalian kemana saja tadi eoh?" Kyuhyun mulai mengalihkan pembicaraan untuk sedikit berbasa basi.
'Mwo? Donghae? Apa maksud mu? Aku tidak bersama nya bahkan kami tidak bertemu beberapa hari ini.'
Ucapan Yesung barusan membuat Kyuhyun terbengong. Ia masih sangat ingat, tadi Donghae mengatakan sedang makan di luar bersama Yesung.
"Benarkah?" tanya Kyuhyun ragu.
'Ne.'
Kyuhyun memejamkan matanya sesaat sambil menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia terdiam membuat Yesung yang memanggilnya sejak tadi mengerutkan dahinya di sebrang sana.
"Aku tutup dulu, hyung. Terimakasih bantuannya."
Kyuhyun memutuskan hubungan teleponnya secara sepihak lalu segera ia beranjak dari bangku. Ia langsung berlari keluar dari taman dan menyusuri jalanan yang masih di penuhi oleh orang-orang yang ingin menikmati suasana malam di luar rumah.
Jalanan pertokoan sekitar Namdaemun terlihat ramai malam ini. Hanya sekedar jalan-jalan maupun membeli beberapa barang yang di tawarkan toko-toko yang berjejer di sekitar area itu.
Kyuhyun berlari menembus orang-orang yang berlalu lalang itu membuat dirinya mendapat tatapan heran. Sesekali ia berhenti dan meminta maaf saat menyenggol orang yang di lewatinya. Ia ingin segera pulang ke rumah dan bertemu dengan Donghae. Jika benar apa yang di katakan oleh Yesung, berarti Donghae sudah berbohong padanya. Dan ini akan menjadi kali pertama, ia mengetahui kebohongan yang di buat oleh hyung nya itu. Entah apa yang di sembunyikan tapi Kyuhyun yakin, ini pasti ada hubungannya dengan keanehan Donghae seminggu ini.
Kerumunan orang-orang di depan sana membuat Kyuhyun menghentikan aksi berlarinya. Ia mengerutkan dahinya. Jarang sekali ada kerumunan orang di jalan ini Matanya menyipit untuk menangkap apa yang terjadi di sana.
"Apa yang kau lakukan di sini HAH?!"
"Berani-berani nya kau bernyanyi di sini. Ini area kami. Dan kau bernyanyi di sini tanpa izin sedikitpun!"
Suara teriakan itu berasal dari dua namja kekar yang terus berteriak sambil mendorong seseorang yang hanya bisa menundukan kepalanya dan meminta maaf berulang kali.
"Mianhae. Jeongmal mianhae…"
"Ah, banyak omong! Seenaknya saja kau bernyanyi di area kami!"
Bruk!
Kyuhyun membulatkan matanya saat melihat sosok namja yang sejak tadi di maki oleh beberapa orang kekar seperti preman itu. Namja itu sudah jatuh terduduk tepat saat seorang dari preman itu mendorongnya.
"Hae hyung…" lirih Kyuhyun hampir tak bersuara saat melihat Donghae di dorong, di tunjuk-tunjuk dan di maki.
Orang-orang sekitar pun seperti enggan menolong. Mereka hanya terdiam di tempat dan menjadikan hal itu sebagai tontonan gratis.
"Berikan uangmu!"
"Andwae! Ini hasil kerja keras ku bernyanyi."
"Tapi kau bernyanyi di wilayah kami jadi berikan uangnya!"
Kyuhyun mengepalkan kedua tangannya saat beberapa orang mengerubungi Donghae dan berusaha menarik beberapa uang dari tangan hyung nya itu. Kaki Kyuhyun sudah melangkah maju namun ia kembali terdiam di tempat.
'Itu… Aku sedang di luar. Yesung hyung mengajakku makan malam di luar.'
"Kau sungguh membohongiku, hyung. Apa yang kau lakukan di sana?" lirih Kyuhyun lagi dengan tatapan tajam.
Perasaan Kyuhyun yang sudah kacau semakin menjadi. Kyuhyun memejamkan matanya sesaat walau pendengarannya masih menangkap suara keributan itu samar-samar.
Kyuhyun mulai melangkah maju dengan pasti. Namun entah apa yang di pikirkan Kyuhyun, bukannya menghampiri Donghae, namja itu hanya melewati kerumunan orang begitu saja. Ia kembali berjalan menyusuri jalan untuk menuju rumah meninggalkan Donghae yang masih berada dalam kerumunan itu.
.
.
.
Waktu menunjukkan pukul 10 malam saat Donghae melangkah menyusuri jalan menuju rumahnya dengan tuntunan tongkat hitamnya. Wajahnya terlihat ceria dan senyuman senang tidak kunjung pudar sejak beberapa saat lalu. Hari ini, ia mendapat cukup banyak hasil. Ia tidak sabar menyelipkan uang yang di dapatkannya ke tabungan yang biasa Kyuhyun sembunyikan dalam lemari.
"Aku akan menunggu Kyu pulang," gumam Donghae riang.
Donghae bertekad agar hari ini, ia bisa menunggu kepulangan Kyuhyun. Ia tidak sabar memberikan kabar yang menurutnya sangat baik ini. Pikirannya melayang pada kejadian beberapa saat lalu. Beberapa preman yang mengaku sebagai penguasa kawasan tempat dimana dirinya menyanyi tadi sempat mengusir, mengatai dan memukulnya. Tapi, Donghae tidak terlalu ambil pusing dengan hal itu. Karena saat itu ada seorang namja paruh baya yang menolongnya dari preman-preman yang ingin merebut uangnya.
Tak hanya itu, namja paruh baya itu juga mengajak Donghae berbincang sejenak dan akhirnya menawarkan dirinya untuk bekerja di café barunya sebagai penyanyi. Tentu saja, Donghae langsung menerima kesempatan itu. Dan hal inilah salah satu yang membuat Donghae semakin ceria.
"Kyu pasti senang mendengar ini."
Donghae menambah langkahnya. Walaupun Kyuhyun belum pulang, Donghae harus segera tiba di rumah secepatnya.
Beberapa menit kemudian, Donghae sudah tiba di depan rumahnya. Tangannya merogoh saku celana mencari sebuah kunci. Meraba lubang di pintu dan kunci tersebut sesaat sebelum akhirnya membuka pintu tersebut.
Tuk!
Donghae mengernyit bingung saat ia hendak melepaskan sepatunya tetapi ia menendang sepatu lain di dekatnya. Seingat Donghae hanya ada sepatu miliknya dan Kyuhyun. Tapi bukankah Kyuhyun belum pulang? Jadi sepatu siapa?
Belum hilang keheranan Donghae, aroma ramen yang menguar di ruangan itu tertangkap indera penciumannya. Donghae pun semakin mengernyit bingung.
"Kyu?" gumam Donghae ragu.
Donghae terdiam di tempat hingga sebuah suara gumaman pelan meresponnya.
"Benar itu kau, Kyunie?" tanya Donghae lagi.
Kyuhyun yang duduk di sofa melirik dengan ekor matanya, memperhatikan Donghae sekilas lalu perhatiannya kembali ke cup ramen yang ada di meja. Ia mengambil cup itu dan segera memakannya.
"Kyu?"
"Apa?"
Donghae baru bisa menghela napas lega mendengar suara yang sangat familiar itu. Tanpa banyak pikir lagi, Donghae melangkahkan kakinya menuju aroma ramen. Donghae yakin, Kyuhyun sedang makan ramen itu. Walaupun Donghae bingung kenapa Kyuhyun sudah pulang, ia memilih tetap duduk di sofa samping Kyuhyun.
Tak ada perbincangan yang terjadi. Kyuhyun asyik memakan ramennya seorang diri dan Donghae terdiam dengan beberapa pikiran. Donghae merasa ada yang salah dengan Kyuhyun. Tidak seperti biasanya, dongsaeng nya itu hanya berdiam diri.
"K-kapan kau pulang?" tanya Donghae ragu.
"Sejak tadi," jawab Kyuhyun singkat.
"Kenapa pulang lebih a—"
"Kau darimana?"
Belum sempat Donghae menyelesaikan pertanyaannya, Kyuhyun balik bertanya tanpa menoleh kearah Donghae. Ekspresi Donghae berubah menjadi tegang. Ini yang ia khawatirkan. Kyuhyun tahu dia tidak berada di rumah. Otak Donghae mulai mencari alasan yang bisa di lontarkan.
"K-keluar. Makan malam di kedai dekat sini lalu berjalan-jalan sebentar," ucap Donghae lalu menyengir canggung.
Kyuhyun tertawa pelan lalu melanjutkan makannya untuk segera menghabiskan ramennya. Sedangkan Donghae hanya terdiam, pandangan lurus ke depan dengan ekspresi sedikit cemas karena tak mendengar respon dari Kyuhyun.
Keheningan terjadi sesaat. Berulang kali Donghae menghela napasnya. Rasa bingung melingkupi. Bingung harus melakukan apa dan memulai berbicara apa. Andai bisa melihat, Donghae ingin melihat ekspresi Kyuhyun saat ini.
Kyuhyun beranjak dari sofa dan mengambil air mineral dan meminum cukup banyak.
"Yesung hyung…" Kyuhyun mulai bersuara membuat Donghae sedikit menoleh ke suara yang di dengarnya.
"Kalian tidak bertemu sejak beberapa hari lalu. Itu yang di katakan Yesung hyung padaku," lanjut Kyuhyun.
Tubuh Donghae langsung menegang mendengar hal itu. Kedua tangannya saling meremas satu sama lain.
"Jadi, hari ini kau kemana saja? Berjalan-jalan seorang diri?" tanya Kyuhyun dengan nada datar.
Donghae membuka mulutnya untuk menjawab namun tak ada suara yang keluar. Akhirnya, Donghae memutuskan untuk diam seribu bahasa. Kyuhyun tertawa pelan entah karena hal apa.
"K-kyu… Aku—"
"Ah! Kau tahu hyung?"
Kyuhyun kembali memotong ucapan Donghae. Ia berjalan dan kembali duduk di sofa, tempat awal di dudukinya. Ia menghadap ke samping, menatap Donghae yang terlihat bingung.
"Tadi aku melihat keramaian di jalan pulang. Ada beberapa orang preman yang marah-marah pada seorang namja. Dari yang ku dengar, katanya namja itu menyanyi di pinggir jalan dan naasnya dia menyanyi di wilayah kekuasaan preman itu tapi tidak meminta izin."
Mata Donghae terbelalak dan jantungnya langsung berdegub kencang mendengar tuturan cerita Kyuhyun. Donghae menarik napas dalam dan menghembuskannya secara perlahan untuk menenangkan dirinya.
"Namja itu mirip sekali denganmu," Kyuhyun memberi jeda sejenak dan memperhatikan ekspresi Donghae, "Itu bukan kau 'kan, hyung?"
Suasana kembali hening sesaat. Ekspresi Kyuhyun mulai berubah menjadi keras namun sarat kekecewaan.
"Mianhae, Kyu…" Donghae mulai berani mengeluarkan suaranya, "Itu memang aku."
Kyuhyun tergelak kembali lalu menggelengkan kepalanya, "Apa yang kau lakukan? Menyanyi di jalanan?"
"Ne," jawab Donghae pasti.
"Sejak kapan?"
"S-seminggu lalu."
Kyuhyun menghela napasnya lalu menyandarkan punggungnya lemas di sandaran sofa, "Kau membohongiku selama seminggu?"
"Mianhae, Kyu. Aku tidak bermaksud untuk membohongimu,"jawab Donghae pelan.
"Tapi kau sudah membohongiku!"
Donghae memejamkan matanya saat Kyuhyun meninggikan suaranya.
"Waeyo hyung?!" tanya Kyuhyun dengan nada kecewa.
"Aku hanya…" Donghae berusaha untuk tenang dan menjelaskan dengan pelan. Dia mencari kata-kata yang cukup baik agar tidak menyulut emosi Kyuhyun.
"Hyung!" Namun sepertinya Kyuhyun sudah tidak sabar dan mulai mendesak Donghae untuk segera bicara.
"Kyu, jangan berteriak begini," tegur Donghae, "Aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir, karena itu aku tidak memberitahumu. Dan aku takut kau tidak setuju kalau aku melakukan ini."
"Tentu saja aku tidak setuju!" pekik Kyuhyun yang tidak mengindahkan teguran dari Donghae tadi.
"Pokoknya, aku tidak mau kau melakukan ini lagi. Dan aku tidak mau kau berkeliaran di luar rumah seenaknya. Kau hanya perlu diam di rumah!"
"Mwoya?"
Donghae tercengang mendengar penuturan Kyuhyun. Ekspresi nya berubah menjadi tidak terima. Ini bukan Kyuhyun. Sungguh, Donghae merasa di hadapannya sekarang bukanlah Kyuhyun. Semua perkataan yang baru saja Donghae terdengar sangat berbeda dengan ucapan Kyuhyun yang biasanya memberi semangat.
"Ada apa denganmu, Kyu?" tanya Donghae heran.
"Ada apa denganku? Aku hanya tidak suka di bohongi seperti ini!" pekik Kyuhyun lagi. Napasnya mulai terengah.
"Kyu! Sudah ku bilang, aku tidak bermaksud membohongimu."
"Terserah. Aku hanya ingin kau tidak berkeliaran di luar rumah lagi. Dulu, aku sudah mengatakan kalau kau hanya boleh keluar rumah jika bersama Yesung hyung," tegas Kyuhyun sambil mulai melangkah menuju tempat tidur.
"Kau tidak bisa melarangku!" kali ini Donghae balik memekik dengan suara cukup meninggi.
Kyuhyun menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Donghae yang tetap duduk di sofanya.
"Kau tidak mau mendengarkanku lagi?" tanya Kyuhyun kesal.
Donghae tertawa kecil, "Kau yang dulu berkata bahwa aku harus melangkah dan melakukan hal-hal baru yang be—"
"Tapi tidak dengan bernyanyi di jalanan. Di maki dan menjadi tontonan orang banyak seperti itu. Kau senang menjadi pusat perhatian?!" pekik Kyuhyun lagi.
Donghae menghela napas berat, "Kau tidak mengerti kejadian yang sebenarnya, Kyu."
"Apa?! Aku lebih tahu banyak tentang dunia ini di banding kau, hyung. Mereka menontonmu dengan tatapan kasihan tapi tak ada yang menolongmu. Banyak yang memaki dan menghinamu. Mere—"
"Tidak semua orang seperti itu! Aku lebih berpengalaman dengan apa yang orang-orang berikan padaku. Kau yang tidak mengerti!"
"Hyung!"
"Aku yang paling tahu apa yang ku rasakan."
Suasana menjadi semakin panas. Kyuhyun dan Donghae saling menyela ucapan satu sama lainnya seakan berlomba siapa yang lebih banyak mengutarakan perasaan kesalnya. Kyuhyun menatap Donghae dengan tatapan tajam. Kedua matanya yang sudah memerah itu menyipit tidak suka. Donghae yang memang duduk membelakangi Kyuhyun pun terus meremas kedua tangannya sendiri.
"Aku baik-baik saja. Semua hal buruk yang mungkin kau pikirkan, tidak sepenuhnya terjadi padaku. Saat ada hal buruk maka pasti akan ada hal baik juga. Itu hukum alam, Kyu," ucap Donghae mulai merendahkan nada suaranya.
Donghae menundukan kepalanya sedikit, "Aku sudah menemukan sesuatu yang bisa ku lakukan. Biarkan aku melakukannya. Aku ingin sedikit membantumu."
Kyuhyun memejamkan matanya. Kedua tangannya berkacak di pinggang. Ekspresi wajahnya terlihat begitu tegang.
"Jika aku tidak suka, apa kau akan tetap melakukannya? Jika aku memintamu untuk mencari hal lain yang bisa kau kerjakan, bagaimana?" tanya Kyuhyun.
"Aku akan tetap bernyanyi. Aku akan menghibur orang lain dengan suaraku dan membuktikan bahwa aku mampu melakukan dengan baik."
Kyuhyun tertawa pelan lalu memijit keningnya yang berdenyut, "Aku tidak suka melihatmu melakukannya," ucap nya penuh dengan penekanan.
"Aku akan tetap melakukannya," tegas Donghae, "Dan seharusnya, kau mendukungku seperti yang biasa kau lakukan. Bukan seperti ini…" tambahnya dengan suara semakin lirih.
Kyuhyun menatap sosok Donghae dengan tatapan sulit di artikan. Setelahnya, dia berjalan menuju lemari dan berganti pakaian. Ia mengambil jaket dan segera melangkah menuju pintu.
"Kyu…" panggil Donghae yang sejak tadi mendengarkan setiap langkah Kyuhyun dan memperkirakan dimana dongsaeng nya saat ini berada.
Kyuhyun hanya terdiam sambil memakai sepatunya.
"Kyuhyun!" pekik Donghae karena Kyuhyun yang ia yakin masih berada di ruangan ini namun tidak merespon panggilannya.
"Apa?" tanya Kyuhyun dingin.
Suara pintu yang di buka membuat Donghae menolehkan kepalanya kearah pintu.
"Kau mau kemana?" tanya Donghae cukup panik.
"Kemanapun aku pergi, apa pedulimu? Bukankah kau sudah tidak mau mendengarkanku lagi, hyung?"
"Kyu! Bukan begitu, a—"
Brak!
Mata Donghae terbelalak mendengar perkataan Kyuhyun. Donghae langsung berdiri secara reflek namun suara pintu yang di tutup dengan kasar langsung menyapa pendengarannya dan memotong ucapannya. Donghae hendak melangkah tetapi bodohnya, dia justru tersandung meja hingga dirinya jatuh terduduk.
Donghae tidak merasakan kehadiran Kyuhyun lagi dan ia yakin Kyuhyun benar-benar pergi. Donghae terduduk di lantai dan mengacak rambutnya dengan kesal.
"Ada apa denganmu, Kyu?" gumamnya pada ruangan yang kosong itu.
Sedangkan di luar rumah, Kyuhyun bersandar di pintu yang baru saja ia banting. Ia memejamkan matanya dan merasakan hembusan angin malam yang cukup kencang. Mengatur napasnya yang masih memburu dan pikirannya yang semakin kacau.
Setelah beberapa saat, Kyuhyun pun mulai melangkahkan kakinya menuruni anak tangga dan melenggang menyusuri jalanan malam kota dengan berbagai pikiran yang membuatnya pusing sendiri.
Kyuhyun merapatkan jaket yang di kenakannya. Entah mengapa, ia merasa udara malam ini benar-benar menusuk tulangnya. Angin malam yang menerpa tubuhnya membuat seluruh bulu romanya berdiri.
Menapaki jalan pertokoan dengan langkah gontai. Beberapa pikiran dan bayangan yang akan terjadi di masa depan seperti menghantuinya. Awalnya, ia tak berniat memikirkan semua itu namun pikiran itu seperti angin yang tiba-tiba menyelusup.
Helaan napas terdengar beberapa kali dari mulutnya yang terlihat sedikit pucat. Matanya menerawang ke aspal jalanan yang di laluinya. Sesekali ia harus bersenggolan dengan orang-orang yang berjalan di sekitarnya karena tidak memperhatikan jalannya.
"Eomma… Appa…"
Hingga dua kata itu akhirnya meluncur dengan suara yang lirih dan sedikit serak. Buliran bening yang sejak tadi di tahannya pun akhirnya meluncur dengan indah dari kedua sudut matanya. Ia merasa sendirian dan berada di titik terbawahnya.
Kurang lebih 20 menit, anak itu berjalan terus tanpa ada arah dan tujuan. Pikirannya terasa penuh membuatnya tidak bisa berpikir dengan logika dan hanya mengandalkan perasaannya saja.
Dan sekarang, Kyuhyun mulai sadar bahwa tingkahnya kepada Donghae beberapa saat lalu itu keterlaluan. Dia marah tanpa sebab yang khusus yang mungkin membuat hyung nya itu bingung sekarang. Memikirkan hal itu membuat tangisan Kyuhyun semakin menjadi.
Kyuhyun memilih berhenti di sebuah halte saat kakinya terasa begitu lemas dan tak mampu untuk melangkah lagi. Napasnya cukup terengah dan keringat dingin mulai keluar dari permukaan kulitnya. Tangannya terjulur menuju dadanya yang tiba-tiba terasa sesak kembali.
Kyuhyun hanya bisa meremas pakaiannya sendiri untuk menyalurkan rasa sesak yang menghimpit dadanya. Napasnya yang terengah mulai berubah menjadi putus-putus. Ia menyandarkan kepalanya di sebuah papan iklan yang ada di dekat bangku halte. Matanya pun mulai terpejam berusaha menetralisir rasa yang sangat tidak mengenakan ini.
Ini pertama kalinya kita bertengkar. Kita sama-sama keras dan mempertahankan keinginan masing-masing. Sosok kita seperti berbeda dari biasanya. Aku memang bersalah dan aku sadar itu, tapi… Ah, kata orang… tidak pernah ada hubungan yang selalu akur, baik dalam keluarga sekalipun. Ada saatnya kita berbeda pendapat dan tidak ingin saling mengalah. Dan semuanya sudah terjadi sekarang.
.
.
.
-To be Continued-
.
.
Oke, lebih dari dua minggu atau tiga minggu ya gak updet ff yang ini /peace/
Jujur, lye sempet ngestuck ide sama ff ini di tambah kemarin sakit jadi tambah ilang feelnya hehe
Mianhae untuk semua yang sudah menunggu lama…
Semoga masih bisa di terima lanjutan yang menurutku rada aneh dan feelnya kurang dapet ini -_-v
Gomawo untuk semua readers~
See ya~
-LyELF-
Special Thanks to :
Siskasparkyu0, Kiyuh, Kim Haemi, Augesteca, Guest11, lee Kyula, JewelsClouds, nureaziazah, chairun, arumfishy, dewi, Arum Junnie, oracle, Calista, riekyumidwife, NaraKim, SelliHae, heeeHyun, Aulia, Kyuline, bella0203, sparkyu amore, Jmhyewon, ekha sparkyu, Gyurievil, gyu1315, hikmajantapan, tiaraputri16, yolyol, Elfishy, Anonymouss, cece, lovely yesungielf, 92line, FiWonKyu0201, ShinJoo24, ChoNarra, Casanova indah, FitriMY, Blackyuline, haexhyuk, kyuzi, ChoYeonRin, Okta1004, MissBabyKyu, haekyuLLua, Desviana407, ChikaKyu, AngeLeeteuk.
