PRECIOUS EYES
.
Main Cast :
Cho Kyuhyun
Lee Donghae
.
Genre : Friendship, Drama, Angst
.
Rated : T
Warning : Typo(s), bad plot, bored, OOC
Disclaimer : All Cast isn't mine but this plot story is mine!
.
LyELF
-Enjoy Reading!-
.
.
PART 5
ooOOoo Eyes ooOOoo
Rembulan sudah di gantikan oleh mentari yang siap memancarkan sinarnya untuk semua yang ada di permukaan bumi. Tak ada angin dingin yang berhembus lagi, melainkan angin segar yang lebih hangat.
Suasana cerah di luar rumah, tak membuat wajah seorang namja yang terjaga sepanjang malam dan terduduk di ranjangnya ini menjadi cerah juga. Tak ada senyuman khas lagi. Hanya ada ekspresi cemas dan khawatir. Kantung mata berwarna hitam pun samar terlihat menandakan dirinya yang sangat memerlukan istirahat. Namun apa daya, ia tidak akan bisa tertidur di tengah perasaan cemas ini.
Berulang kali ia meremas ponsel yang tengah di genggamnya untuk menyalurkan perasaannya saat ini. Kecemasan dan kebingungan menyelimuti hatinya. Bagaimanapun dongsaeng nya tidak pulang semalaman dan itu membuat namja ini ketakutan.
Donghae menghela napas beratnya lagi. Walaupun ia sudah tahu dimana Kyuhyun saat ini tapi tetap saja ia cemas. Bagaimana jika Kyuhyun tidak ingin tinggal bersamanya lagi? Kyuhyun marah… Ia tahu itu. Tapi di dalam hatinya, ia juga tidak terima jika Kyuhyun marah hanya karena dirinya menyanyi di pinggir jalan. Ia sedang berusaha untuk bangkit dan tidak mungkin ia kembali duduk diam setelah menemukan sesuatu yang bisa di kerjakannya. Ini semua juga demi Kyuhyun.
"Kyu…" gumaman lirih itu terdengar menyelimuti ruangan yang masih terang oleh lampu walaupun cahaya mentari sudah menyelusup masuk.
Jika Kyuhyun memang melarangnya untuk bernyanyi, mau tidak mau Donghae akan menyetujuinya. Walaupun tadi malam, ia menolak dengan tegas tapi setelah berpikir sepanjang malam, Donghae sadar bahwa Kyuhyun lebih penting dari itu.
Donghae mulai mengangkat ponselnya dan menekan speed dial nomor 2 yang telah di simpan oleh Kyuhyun di ponselnya. Sambungan kepada seseorang pun terlakukan dengan baik. Nada tunggu menyapa pendengaran Donghae saat ini.
'Yeoboseyo?'
"Yesung hyung…" panggil Donghae lemas setelah mendapat seruan dari sebrang.
'Ne. Waeyo, Hae-ah?'
Donghae terdiam sejenak, terlihat ragu untuk berbicara, "Kyunie…" lirihnya.
'Dia masih tidur. Hari ini dia bilang tidak akan sekolah. Kau tenang saja nde?'
Ucapan Yesung yang sepertinya mengerti maksud Donghae itu cukup membuat namja ini menghela napas lega. Tadi malam, Yesung memang menghubungi Donghae dan mengatakan bahwa Kyuhyun menginap di apartemennya lalu menyuruh Donghae tidak perlu khawatir lagi.
Donghae sedikit menarik sudut bibirnya, "Apa dia masih marah padaku?" tanyanya takut.
Yesung tak segera menjawab membuat Donghae meremas selimutnya sendiri.
'Ah, maaf. Tadi aku keluar apartemen dulu. Hmm, entahlah Hae. Dia tidak membahas hal itu sama sekali padaku. Aku tidak bisa membaca ekspresi datarnya itu.'
"Aku mengerti, hyung," balas Donghae lesu.
'Tenanglah. Kyu tidak pernah marah dalam waktu lama. Dia pasti akan segera pulang, arrachi?'
"Hmm… Tapi… Apa kau tahu, sebenarnya apa yang terjadi pada Kyu? Sungguh, kemarin aku merasa ada sesuatu lain yang terjadi pada Kyu selain dia marah padaku."
Donghae menunggu jawaban Yesung dengan sabar. Dia berharap agar Yesung mengetahui sedikit hal tentang apa yang di alami Kyuhyun kemarin.
'Tadi malam dia hanya mengatakan bahwa dirinya sudah tidak bekerja lagi di restoran. Ada masalah di sana. Jadi dia memintaku untuk mencarikan pekerjaan baru.'
Donghae terdiam mendengar ucapan itu. Masalah? Apa yang terjadi?
"Dia di pecat?" gumam Donghae sebenarnya pada dirinya sendiri tapi Yesung tetap menanggapi dengan kata, 'sepertinya begitu.'
"Baiklah hyung, gomawo. Tolong jaga Kyunie," balas Donghae.
'Tenang saja. Sudah ya, annyeong.'
Donghae meletakan ponselnya sembarangan di kasurnya. Pikirannya kembali terpecah.
Masalah apa yang terjadi di restoran? Kenapa dia di pecat?
Semua pertanyaan itu berputar dalam benaknya. Ekspresi cemas itu kembali terlihat dengan jelas. Donghae sangat penasaran apa yang terjadi sekarang. Pasti ada suatu masalah yang cukup besar yang membuat Kyuhyun semarah itu hingga saat tanpa sengaja mengetahui kejadian Donghae, amarah Kyuhyun keluar semua. Itu analisa yang di buat Donghae sendiri dalam pikirannya.
"Kyunie pabbo," rutuknya pelan.
"Jika ada masalah, seharusnya kau segera bercerita padaku. Kenapa menyimpannya sendiri?"
Donghae berdecak kesal lalu mulai merebahkan tubuhnya di kasur. Terdiam di sana walau tak terlelap. Pikirannya melayang-layang ke berbagai hal. Namun pikiran utamanya tentulah menuju pada dongsaeng nya itu.
"Sebenarnya ada masalah apa, Kyu?" gumam Donghae pelan.
Hembusan napas berat meluncur dari bibirnya. Ia memejamkan matanya. Rasa kantuk karena semalaman terjaga kembali menyerangnya.
"Apa aku bukan hyung yang baik?"
"Aku ingin menjadi hyung mu yang baik, Kyunie. Melindungi, membela, memberikan perhatian padamu. Aku tidak mau melihatmu kelelahan dan menanggung semuanya sendirian lagi. Tapi bagaimana caranya? Aku merasa tidak pernah bisa melakukan apapun untukmu. Maaf. Aku sangat bingung bagaimana cara agar menjadi hyung yang baik untukmu."
Di tengah pemikiran itu, Donghae pun mulai jatuh ke dalam dunia mimpinya. Lelah dan mengantuk, tak bisa di tahan lagi olehnya.
.
.
Yesung menatap layar ponselnya setelah memutuskan sambungan teleponnya dengan Donghae. Ia menggelengkan kepalanya. Donghae sudah menghubungi dirinya beberapa kali sepanjang malam hingga pagi ini. Namja itu menguap pelan menandakan dirinya yang juga tidak menikmati istirahat malamnya.
Tangan mungilnya mulai memegang gagang pintu apartemennya dan kembali dia masuk ke dalam. Tadi ia terpaksa keluar agar tidak mengganggu tidur Kyuhyun.
Yesung cukup terkesiap saat Kyuhyun yang sudah terduduk di kasur saat dia masuk. Kyuhyun menatapnya dengan pandangan sayu.
"Kau sudah bangun, Kyu?" sapa Yesung sambil melangkahkan kakinya mendekati Kyuhyun dan duduk di sisi kosong ranjangnya yang di tiduri Kyuhyun.
"Hae hyung?" tanya Kyuhyun pelan sambil menatap ponsel Yesung.
Yesung yang mengerti maksud pertanyaan Kyuhyun pun menganggukkan kepalanya, "Ne. Dia menelepon lagi. Sudah 10 kali ia menghubungiku hanya untuk menanyakan keadaanmu."
Kyuhyun menundukkan kepalanya, "Maafkan aku, hyung. Aku merepotkanmu."
"Sudahlah. Bagaimana keadaanmu? Sudah baikan?" tanya Yesung sambil memperhatikan wajah Kyuhyun yang masih terlihat pucat.
Tadi malam, Kyuhyun datang saat hampir tengah malam dengan keadaan pucat pasi. Suhu tubuhnya pun cukup tinggi membuat Yesung panik.
Kyuhyun menatap Yesung dengan cemas, "Kau tidak memberitahu Hae hyung kalau aku sakit 'kan, hyung?" tanyanya.
"Tenang saja. Aku sudah berjanji padamu 'kan? Aku juga tidak ingin menambah kekhawatirannya padamu," jawab Yesung membuat Kyuhyun menghela napas lega.
"Bagaimana?" Yesung mengulang pertanyaannya.
"Sudah baikan," jawab Kyuhyun sambil tersenyum tipis.
Yesung beranjak menuju pantry kecil dalam apartemennya. Tangannya bergerak lincah untuk membuat susu hangat. Setelah selesai, ia kembali menghampiri Kyuhyun dan mengangsurkan susu itu.
"Gomawo," ucap Kyuhyun sambil menerima susu itu lalu mulai meminumnya sedikit.
"Yakin tidak mau ke dokter?" tanya Yesung masih terlihat cemas karena melihat Kyuhyun yang lemas.
Kyuhyun menggelengkan kepalanya cepat dan menatap Yesung untuk meyakinkan. Yesung pun hanya bisa menghela napas lalu kembali duduk di sisi ranjangnya.
Keheningan pun terjadi sesaat. Kyuhyun tengah sibuk dengan susunya, meminumnya sedikit-sedikit sambil memikirkan beberapa hal. Yesung sendiri hanya bisa memperhatikan Kyuhyun. Bisa terlihat ekspresi Kyuhyun yang tengah berpikir di balik kepucatannya.
"Kau akan pulang?" Yesung berinisiatif untuk kembali bertanya.
Kyuhyun meletakan gelas yang masih berisi setengah itu di pangkuannya lalu beralih menatap Yesung, "Bolehkah aku menginap di sini untuk semalam lagi, hyung?"
"Kyu, aku tahu kalau kau marah pada Hae. Tapi… pulanglah. Kasihan Hae, dia benar-benar mengkhawatirkanmu. Kau tega meninggalkannya di rumah seorang diri hm?" ucap Yesung.
Kyuhyun langsung menggelengkan kepalanya, "Aniyo. Aku tidak marah pada Hae hyung. Aku sadar, aku yang salah. Aku… aku malu bertemu dengannya."
Yesung mengernyitkan dahinya, "Malu?"
"Semalam aku marah-marah tidak jelas untuk hal sepele seperti ini. Harusnya aku mendukungnya. Aku tahu dia suka dengan kegiatannya sekarang. Tidak seharusnya aku berkata seperti itu. Aku benar-benar bodoh," seru Kyuhyun dengan ekspresi sedih.
"Dan aku benar-benar malu jika mengingat apa yang ku lakukan juga katakan padanya. Aku takut justru Hae hyung yang marah padaku," lirih Kyuhyun.
Yesung tersenyum tipis lalu menepuk punggung tangan Kyuhyun, "Aku mengerti. Aku juga tidak menyalahkanmu. Kau sedang lelah dan banyak pikiran, pastinya kau bisa berbuat di luar kendali."
"Hae tidak mungkin marah padamu. Kalau dia marah, untuk apa dia menghubungiku terus hanya untuk menanyakan keadaanmu. Aku yakin dia juga tidak tidur semalaman karena cemas padamu," tambah Yesung.
"Cemas?" gumam Kyuhyun sambil menatap Yesung dengan tatapan polos.
Melihat itu, Yesung pun terkikik geli. Kyuhyun memang masih kecil. Walaupun terkadang pikirannya dewasa, dia tetap masih sangat muda.
"Tentu dia cemas. Dongsaeng nya tidak pulang semalaman. Jika kau yang menjadi dirinya saat ini, apa yang akan kau lakukan?" tanya Yesung membuat Kyuhyun termenung.
"Semalam saat aku mengabari bahwa dirimu berada di apartemenku, sangat jelas ia terdengar sangat cemas dan menahan tangis. Dia bilang, dia ingin mencarimu tapi dengan keadaannya, itu percuma saja."
Kyuhyun mengeratkan genggaman tangannya pada gelas yang masih di pegangnya. Matanya bergerak gelisah dan ekspresinya menunjukan bahwa namja itu merasa bersalah. Ia hanya bisa merapalkan sebuah kata, Hae hyung di dalam benaknya.
"Nanti aku akan mengantarmu pulang, nde?" seru Yesung.
"Yesung hyung…" Kyuhyun kembali menatap Yesung dengan tatapan memohon, "Ijinkan aku menginap di sini satu malam lagi. Setidaknya hingga aku sehat, aku tidak mau membuat Hae hyung semakin cemas jika tahu aku sakit."
Yesung terlihat berpikir sejenak sebelum menganggukkan kepalanya dan mengulas senyuman manis.
"Gomawo hyung," ucap Kyuhyun tulus.
"Aku harus ke kampus sekarang. Tidak apa aku tinggal sendiri?" tanya Yesung.
Kyuhyun menganggukkan kepalanya pasti.
Yesung pun mengacak rambut Kyuhyun pelan sebelum masuk ke kamar mandi dan mulai bersiap-siap untuk berangkat kuliah.
Kyuhyun segera menghabiskan susunya dan meletakan gelas kosong itu di meja nakas. Membenarkan posisi duduknya yang bersandar di kepala ranjang. Tangannya terangkat memegang kepalanya yang masih terasa berdenyut. Lalu beralih menyentuh dadanya yang masih terasa sedikit sesak. Hembusan napas berat pun meluncur dari mulutnya.
Kyuhyun beralih mengambil ponselnya yang tergeletak di meja. Senyuman getir terulas di wajahnya saat melihat banyaknya panggilan tak terjawab yang berasal dari satu nomor.
"Hae hyung… Mianhae."
.
.
.
ooOOoo Eyes ooOOoo
"Mwo?! Kyu di pecat? Bagaimana bisa?"
Sederet pertanyaan itu keluar dari mulut Sungmin setelah Donghae bertanya alasan kenapa Kyuhyun di pecat dari pekerjaannya. Donghae mengerutkan dahinya saat mendengar respon Sungmin yang justru terdengar tidak mengetahui hal ini.
"Kau tidak tahu, hyung?" tanya Donghae bingung.
Sungmin menggelengkan kepalanya tanpa sadar, "Kemarin tidak ada jadwal show jadi aku tidak ke restoran."
Donghae mengangguk paham, "Itu yang Yesung hyung katakan, Kyu bilang dia di pecat karena ada masalah."
"Masalah? Hm… aku tidak tahu sama sekali. Tapi, paman Shin jarang sekali memecat seseorang jika bukan masalah yang sangat besar. Dia selalu memberi kesempatan. Apalagi Kyuhyun jarang melakukan kesalahan."
Sungmin mulai menganalisa sambil mengelus dagunya sendiri. Tidak habis pikir jika bossnya memecat seseorang jika hanya melakukan satu kali kesalahan. 2 tahun bekerja di restoran itu membuat Sungmin sedikit mengenal bagaimana watak dari bossnya.
Donghae sendiri hanya memeluk gitar yang ada di pangkuannya. Ekspresi sedih terlihat jelas di wajah Donghae dan itu membuat Sungmin menghela napasnya.
"Aku akan menanyakan hal ini pada Shin ahjussi," seru Sungmin pasti.
Donghae terdiam sejenak, terlihat memikirkan sesuatu, "Boleh aku ikut?"
"Untuk apa?" tanya Sungmin bingung.
"Aku juga ingin bertanya dan mendengar langsung apa yang sebenarnya terjadi pada Kyuhyun," terang Donghae.
"Aku akan menanyakan semuanya dan menceritakannya padamu, Hae."
"Aniyo. Jebal, hyung. Biarkan aku ikut, nde?" pinta Donghae dengan nada memelas.
Sungmin menghela napasnya, "Baiklah."
Donghae mengulas senyuman tipis mendengar persetujuan itu. Mereka pun terdiam sejenak membiarkan keheningan terjadi. Seperti biasa, saat siang menjelang sore, Sungmin akan datang kemari setelah menyelesaikan kelasnya dan mengajarkan atau sekedar mendengar permainan Donghae.
"Hyung…" panggil Donghae membuat Sungmin yang tengah membaca beberapa kertas di tangannya menoleh.
"Ada apa, Hae?" tanyanya.
"Gitar ini…" Donghae mengelus gitar berwarna coklat yang di peluknya, "Apa tidak apa aku meminjam gitarmu ini terus? Aku merasa tidak enak."
Sungmin tersenyum geli. Gitar yang di pegang Donghae memang kepemilikannya. Ia memiliki 2 gitar. Satu yang menjadi kesayangannya dan selalu di bawa saat perform dan yang di pinjam Donghae yang selalu tersimpan di lemari sebagai cadangan.
"Gwenchana. Kalau kau mau, aku bisa memberikan itu untukmu," balas Sungmin.
Donghae menggelengkan kepalanya, "Ini gitarmu juga, hyung. Aku akan membelinya sendiri saja setelah mengumpulkan uang nanti."
"Ne. Pakai itu hingga kau mendapat gitarmu sendiri. Ah, tapi benarkah kau sudah mendapat pekerjaan tetap?" tanya Sungmin terlihat antusias.
Donghae melebarkan senyumannya lalu mengangguk dengan cepat.
"Di café yang sepertinya berbeda satu blok dari restoran. Itu yang di katakan paman yang kemarin ku temui. Minggu depan aku akan mulai bernyanyi di sana," ungkapnya dengan senang.
Sungmin pun mengacak rambut Donghae pelan, "Chukae!"
"Gomawo, hyung. Ini semua juga karenamu. Aku tidak akan bisa melakukannya jika kau dan Wookie tidak mengajarkanku dengan sabar. Aku berhutang pada kalian," ucap Donghae membuat Sungmin tergelak.
Donghae pun hanya bisa mengerutkan dahinya mendengar tawa dari guru gitarnya itu.
"Aigoo… Hae, kau tidak berhutang apapun. Kami senang melakukannya dan kau juga telah mengajarkan banyak pelajaran hidup pada kami," ucap Sungmin setelah menghentikan tawanya.
Masih terlihat kebingungan di wajah Donghae namun Sungmin hanya bisa tersenyum. Pelajaran hidup? Donghae bertanya apa maksud kata yang di lontarkan oleh Sungmin. Ia tidak pernah merasa mengajarkan apapun pada dua pengajar musiknya itu. Walaupun bingung, Donghae enggan untuk bertanya lebih lanjut. Toh, Sungmin juga sudah terdiam dan Donghae tak tahu apa yang tengah di lakukan gurunya itu.
"Min hyung…" Donghae kembali memanggil. Sungmin hanya menanggapi dengan sebuah gumaman.
"Lagu itu…" ucap Donghae sedikit ragu.
Sungmin mengalihkan tatapannya dari kertas kembali pada Donghae. Memperhatikan sejenak ekspresi yang di tunjukan oleh Donghae sebelum tersenyum lebar. Ia mengerti apa yang di maksud oleh Donghae.
Tangan Sungmin mulai beralih mengambil dua lembar kertas berisi not balok lengkap dengan liriknya. Ia memberikan kertas itu pada Donghae yang langsung mengernyit bingung.
"Aku dan Wookie sudah menyempurnakan lagumu. Wookie menambah iringan piano di awal intro sebelum masuk ke lirik," jelas Sungmin.
"Aku juga sudah menyalin semua notnya dan menulis lirik yang kau buat di kertas itu," tambah Sungmin lagi.
Donghae meraba kertas yang ada di tangannya lalu terkekeh pelan, "Gomawo, hyung. Tapi kertas ini… Aku tidak bisa melihat apa yang kau tuliskan di sini."
"Aku mengerti, Hae. Itu hanya salinan aslinya. Barangkali kau lupa beberapa part jadi aku bisa mengingatkanmu dengan salinan not itu," terang Sungmin.
"Ne. Gomawo, hyung," ucap Donghae sekali lagi. Ia meraba kertas di tangannya lalu tersenyum puas.
"Lirik yang kau buat begitu sederhana tapi aku bisa merasakan apa yang kau maksud di dalamnya. Sangat indah," puji Sungmin membuat Donghae tersenyum malu.
"Lalu, apa ada not yang di rubah? Di bagian mana?" tanya Donghae penasaran.
Sungmin pun beralih mengambil gitar yang di peluk Donghae lalu mendekatkan duduknya dengan anak itu.
"Aku akan memainkannya sesuai not baru ini. Kau dengarkan dulu, nde? Nanti aku ajarkan perubahannya," ucap Sungmin.
Donghae pun mengangguk paham dan mulai memfokuskan perhatiannya pada suara yang akan di dengarnya. Sungmin pun mulai memetik lagu yang pernah di buat Donghae beberapa bulan lalu dan segera di sempurnakan oleh Sungmin dan Ryeowook.
Alunan gitar terdengar menyelimuti rumah ini selama beberapa saat hingga Donghae mulai mengeluarkan suaranya menyanyikan lirik yang khusus di buatnya sendiri dengan iringan permainan Sungmin. Mereka tersenyum karena merasa lagu ini terdengar lebih indah dari awal pertama yang di ciptakan Donghae.
.
.
"Jamsimanyo (permisi). Tolong terima ini. Datanglah ke event Kshop pekan depan!"
Suara riang dan senyuman lebar di berikan Kyuhyun kepada setiap pejalan kaki yang melewati daerah ini. Kakinya berjalan lincah ke sana kemari untuk membagikan selebaran event kepada semua orang yang berjalan di sekitarnya.
Terik matahari yang cukup menyengat kulit, tak mengurangi semangat Kyuhyun untuk segera membagikan selebaran ini. Masih ada dua cap selebaran yang di berikan oleh agen agar di bagikan kepada pejalan kaki.
Setelah berkeliling mencari sebuah pekerjaan baru hingga memakan waktu setengah hari, akhirnya Kyuhyun mendapat satu pekerjaan lepas. Membagikan selebaran event. Pekerjaannya hanya berlaku satu hari untuk menggantikan pekerja lain yang tidak hadir. Namun, Kyuhyun tetap bersemangat. Setidaknya hari ini ia bisa mendapat pekerjaan yang akan menghasilkan uang.
"Jamsimanyo. Datanglah ke event Kshop!"
Kalimat itu terus terlontar dari mulutnya. Menghampiri setiap orang yang berlalu lalang dan memberikan satu selebaran.
Tak di pedulikan keadaannya yang belum pulih sepenuhnya. Wajah pucat itu tertutupi oleh senyuman lebar dan nada riangnya. Yesung sudah berpesan agar hari ini Kyuhyun istirahat total namun namja itu tidak bisa hanya diam di apartemen saja. Dengan nekat, ia melangkah keluar dan mencari pekerjaan baru. Sangat sulit mencari satu pekerjaan saja. Karena itu saat ia berhasil mendapat tugas ini walau satu hari, ia bertekad tidak akan menyia-nyiakannya. Setidaknya hari ini ia masih bisa menghasilkan uang walau tidak akan sebanding dengan kerja kerasnya berada di bawah terik matahari dan mondar mandir menghampiri setiap orang di jalan.
Kyuhyun beralih menuju pinggiran toko terlebih dahulu. Meneduh di bawah atap toko yang akan melindunginya dari terik matahari yang sejak tadi menyengat kulitnya. Kyuhyun bersandar di dinding toko itu lalu menghapus peluh yang menghiasi wajah tampannya.
Tangannya mengepal dan memukul-mukul pelan kakinya yang terasa sangat pegal. Sudah berjam-jam, ia tidak duduk dan terus berkeliling agar semua selebaran ini bisa terbagikan.
"Bertahanlah, Kyu."
Satu sugesti kembali terlontar dari mulutnya. Sugesti yang di tujukan untuk dirinya sendiri. Kyuhyun memejamkan matanya dan mengontrol napasnya yang cukup terengah. Badannya masih terasa hangat. Entah karena demam itu kembali menyerangnya seperti semalam atau karena terlalu lama berada di bawah terik matahari.
Kyuhyun mengambil botol air yang di belakang saku celananya. Tinggal berisi setengah air mineral dan Kyuhyun langsung menenggaknya hingga habis.
Mata Kyuhyun kembali terbuka dan terlihat sayu. Sangat berbeda dengan dirinya yang tadi membagikan selebaran, begitu ceria dan penuh semangat. Kyuhyun telah membuka topeng kuatnya itu sesaat, menampilkan kondisi dirinya yang sebenarnya. Bibir tebalnya terlihat kering dan pucat.
Kyuhyun menggelengkan kepalanya berharap rasa pusing itu menghilang. Tangannya pun memegang dadanya dan mengelusnya perlahan.
Terdiam sesaat di tempat itu untuk beristirahat. Mengedarkan pandangannya ke sekitar dan memperhatikan setiap orang yang lewat. Tatapannya terfokus pada sebuah tempat sampah di pinggir jalan tak jauh dari tempatnya berdiri.
Kyuhyun tersenyum getir saat melihat beberapa selebaran yang sudah di bagikannya berakhir di dekat tempat sampah itu. Ia tertawa aneh lalu menengadahkan kepalanya ke atas, menahan buliran bening yang sudah mengaburkan pandangannya.
Hasil kerja kerasnya membagikan selebaran itu seperti tak di lihat sedikit pun. Berjam-jam, ia berkeliling dan membagikan kertas itu namun sekarang yang di lihatnya adalah kertas itu hanya teronggok di tempat sampah. Tidak bisakah orang-orang itu menyimpan kertasnya? Menghargai sedikit kerja kerasnya yang sudah membagikan kertas tersebut di bawah terik matahari dalam kondisi seperti ini? Apa gunanya membagikan kertas itu jika akhirnya hanya berakhir di tempat sampah? Oke, Kyuhyun tahu ini bukan kesalahan orang-orang itu. Ini adalah salah satu resiko pekerjaan yang harus Kyuhyun terima.
"Ayolah, Kyu. Semangat!" Kembali bibir itu memberikan semangat pada dirinya sendiri.
Setelah beberapa saat beristirahat, Kyuhyun kembali ke aktivitasnya. Ia mulai berjalan, menghampiri dan membagikan kertas-kertas itu lagi. Tidak peduli apapun lagi, ia hanya perlu menghabiskan selebaran yang menjadi tanggung jawabnya lalu ia bisa menerima upahnya nanti.
Namun baru beberapa menit membagikan, Kyuhyun kembali terdiam di tengah lalu lalang orang. Tubuhnya tiba-tiba terasa membeku dan napasnya semakin terengah. Tangannya terangkat dan langsung meremas kaus depan tepat di bagian dadanya yang kembali terasa sangat sesak. Ia meringis kesakitan.
Bruk!
Dan beberapa detik kemudian kakinya terasa lemas hingga akhirnya ia jatuh berlutut. Beberapa orang yang berada di sekitar sedikit terkejut dan menatap Kyuhyun bingung. Tumpukan kertas yang tadi di pegang Kyuhyun pun jatuh berserakan di jalanan.
"Ukh."
Kyuhyun semakin meringis saat sesak itu bertambah dengan rasa sakit di kepalanya. Napasnya yang terengah mulai berubah menjadi putus-putus. Tak ia pedulikan beberapa orang yang menepuk pundaknya dan bertanya.
Hingga akhirnya, rasa sakit itu tidak bisa di tahan Kyuhyun lagi. Tubuh kurus itu pun langsung tergeletak begitu saja di jalanan membuat orang-orang sekitar berteriak histeris dan panik. Mereka menghampiri Kyuhyun dan memanggil anak itu agar terbangun namun kesadaran Kyuhyun sudah hilang sepenuhnya.
.
.
.
TAP!
Sungmin menghentikan langkahnya yang sudah berada di ambang pintu saat Donghae terdiam di tempat.
"Ada apa, Hae?" tanya Sungmin bingung.
Donghae tak menjawab. Dia hanya terdiam dengan ekspresi sulit di artikan. Kepalanya menoleh ke belakang entah mengapa. Tangannya menggenggam erat tongkat yang menuntunnya berjalan.
Perasaanku tidak enak…
Kalimat itu yang terlintas di dalam benak Donghae dan membuat dirinya terhenti tiba-tiba di depan pintu restoran. Tiba-tiba tubuhnya terasa seperti tersengat listrik.
"Hae!"
Donghae tersentak saat Sungmin menepuk pundaknya.
"Ada apa?" tanya Sungmin bingung sekaligus cemas.
Donghae mengulas senyuman yang sedikit di paksakan lalu menggelengkan kepalanya, "Tidak ada apa-apa, hyung."
Sungmin menatap Donghae penuh selidik. Terlihat jelas, ekspresi Donghae tiba-tiba berubah menjadi aneh. Tapi sepertinya Donghae tidak ingin membahasnya. Sungmin pun menghela napas lalu menarik tangan Donghae.
"Ayo masuk."
Donghae hanya mengikuti langkah Sungmin yang menuntunnya berjalan. Ia menarik napas dan menghembuskannya perlahan lalu berusaha menekan perasaan aneh ini.
Semua baik-baik saja…
Donghae meyakinkan apa yang baru saja ia ucapkan di dalam hatinya. Ia mulai melangkah dengan pasti dan menyiapkan diri untuk berbicara dengan orang yang akan di temuinya nanti.
Sungmin meletakan gitar yang di gendongnya di stage terlebih dahulu sebelum menggiring Donghae untuk menuju ruangan bossnya.
"Hyung…" panggil Donghae sebelum Sungmin mengetuk pintu yang ada di hadapannya.
"Waeyo?"
"Biar aku menemui paman Shin sendiri saja. Aku ingin berbicara berdua dengannya," seru Donghae.
"Mwo? Kenapa? Aku akan menemanimu," balas Sungmin.
Donghae menggelengkan kepalanya, "Jebal. Aku ingin bicara berdua dengannya."
Sungmin terdiam sambil memperhatikan wajah Donghae, mencari kepastian di sana. Dan tanpa menjawab permintaan itu, Sungmin mengetuk pintu di hadapannya beberapa kali sebelum membukanya. Paman Shin yang tengah mengecek laporan penjualan itu terlihat terkejut saat melihat Sungmin apalagi bersama sosok Donghae. Walaupun begitu, ia segera mempersilahkan keduanya masuk.
"Ahjussi, Donghae-ssi ingin berbicara denganmu," ucap Sungmin setelah mengantarkan Donghae untuk berdiri di hadapan meja bossnya.
Setelah mengucapkan itu, sesuai permintaan Donghae, Sungmin pun melangkah keluar setelah memberi bisikan pesan untuk Donghae dan memberi salam pada bossnya.
Sekarang, hanya tinggal pemilik ruangan dan Donghae yang saling berhadapan. Paman Shin memperhatikan Donghae dengan seksama sedangkan Donghae hanya memandang kosong udara di depannya dengan kedua tangan saling meremas satu sama lain untuk menyalurkan rasa gugupnya.
"Apa yang ingin kau bicarakan padaku, Donghae?" tanya paman Shin sambil mengulas senyum tipis.
Donghae menghela napas sejenak sebelum membuka suaranya, "Itu hm… tentang Kyuhyun," lirihnya.
Paman Shin pun mengangguk mengerti seakan sudah bisa menduga apa yang menjadi pertanyaan Donghae.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Donghae.
"Ye?"
"Kyuhyun bilang kemarin ia mendapat beberapa masalah di restoran. Dia tidak memberitahuku apa yang terjadi karena itu aku merasa penasaran dan menemui ahjussi untuk bertanya," terang Donghae.
Paman Shin terdiam sejenak membuat Donghae mengerutkan dahinya.
"Ahjussi, tolong beritahu aku. Apa saja yang terjadi kemarin?" desak Donghae tidak sabaran.
Helaan napas Shin ahjussi itu bisa terdengar oleh Donghae membuat namja itu semakin mengeratkan tautan tangannya. Ia merasa begitu penasaran namun juga takut.
"Kemarin… Kyu melakukan beberapa kesalahan. Pertama, dia menjatuhkan pesanan karena tersandung hingga ada pengunjung yang marah karena jasnya terkena noda makanan," Paman Shin mulai membuka suara untuk menjelaskan.
"Lalu setelahnya, ada seorang wanita yang tiba-tiba mengatakan bahwa Kyu mencuri kalung berliannya."
Donghae tercengang mendengar cerita itu. Ekspresi takutnya berubah menjadi kesal dan marah.
"Kyu tidak akan mencuri!" sanggah Donghae yang tidak terima dongsaeng nya di tuduh seperti itu.
"Wanita itu belum memilikki bukti kalau Kyu mencurinya tapi dia bilang dia yakin bahwa Kyu yang mengambilnya karena berlian itu masih ada sebelum barang-barangnya di titipkan pada Kyu," paman Shin memilih untuk melanjutkan ucapannya.
"Nah, dia tidak punya bukti. Dia tidak boleh menuduh orang seperti itu!" Donghae kembali berucap sambil menahan emosinya yang mulai meletup-letup.
Paman Shin tersenyum melihat Donghae yang tengah membela Kyuhyun. Ia menganggukkan kepalanya, "Ne. Aku juga tidak percaya bahwa Kyu mencurinya. Wanita itu akan datang lagi malam ini untuk membicarakannya lebih lanjut."
Donghae terdiam sesaat, bergelut dengan pemikirannya sendiri. Kyuhyun di tuduh mencuri. Jadi ini yang membuatnya kemarin terdengar begitu emosi? Banyak masalah yang terjadi sepanjang hari kemarin. Aigoo… Kyunie, harusnya kau menceritakan semuanya padaku.
"Jadi, ahjussi memecat Kyu karena hal ini?" tanya Donghae.
Paman Shin tersenyum tipis mendengar pertanyaan Donghae. Ia sudah menduga bahwa Donghae pasti akan menanyakan hal ini.
"Aku tidak memecatnya," jawab paman Shin santai membuat Donghae menautkan kedua alisnya.
"Tapi Kyu bilang…" Donghae terlihat ragu untuk melanjutkan ucapannya karena sebenarnya ia tak mendengar hal itu langsung dari Kyuhyun.
"Aku tidak memecat Kyu," tegas paman Shin lagi, "Kemarin, dia tidak mendengarkan ucapanku hingga akhir. Dia membuat kesimpulan begitu saja lalu langsung pergi."
"Jadi?" tanya Donghae bingung.
"Aku bilang, hari ini dia tidak perlu datang ke resto dulu. Aku ingin memberinya waktu istirahat," jelas paman Shin.
Donghae terdiam namun mulai terlihat senyuman lega tersimpul di wajah tampannya.
"Beberapa hari ini, aku melihat Kyu sangat kelelahan. Dia juga harus mengikuti pelajaran tambahan untuk ujian 'kan? Jadi kupikir, dia perlu waktu untuk istirahat," terang paman Shin lagi.
Kali ini senyuman di wajah Donghae memudar. Ekspresi Donghae berubah menjadi murung mendengar Kyuhyun yang kelelahan. Ada perasaan bersalah yang menyelusup dalam hatinya. Seminggu ini, dia memang tertidur lebih awal sehingga tidak bisa melakukan rutinitasnya setiap malam. Ia tidak bisa meneliti wajah Kyuhyun saat terlelap hingga tak bisa mengontrol kondisi dongsaeng nya itu. Helaan napas kecewa meluncur di tujukan pada dirinya sendiri.
"Hae…" panggil paman Shin saat menyadari Donghae yang sedang melamun.
"Ah? Hm… Mianhae ahjussi. Aku berprasangka buruk tadi," sesal Donghae.
"Gwenchana."
"Tapi… benar kau tidak memecat Kyu, ahjussi?" tanya Donghae memastikan lagi.
Paman Shin pun terkekeh pelan, "Apa aku terdengar seperti bercanda? Aku serius. Aku berencana ke rumah kalian jika Kyu tidak masuk kerja besok."
Donghae melebarkan senyumannya, "Kyu pasti senang mendengar ini," gumamnya senang.
Keduanya pun kembali terdiam sejenak. Paman Shin asyik memperhatikan Donghae yang sepertinya sedang sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Tok… Tok…
Ketokan pintu menginterupsi keheningan yang terjadi dalam ruangan itu. Paman Shin mengalihkan tatapannya menuju pintu sedangkan Donghae tetap terdiam di tempat walau ia juga mendengar ketukan itu.
Pintu pun terbuka dan menampilkan sosok seorang wanita berkelas yang sudah berdiri di sana. Wanita yang kemarin cukup bermasalah dengan Kyuhyun.
"Nyonya Yoo…" paman Shin segera berdiri dan menghampiri wanita itu.
"Anda datang lebih cepat dari perkiraan saya. Silahkan duduk," ucap paman Shin sambil wanita itu untuk duduk di sofa yang berada di tengah ruangan.
Wanita itu pun berjalan dengan angkuh dan duduk dengan gaya elegannya.
"Aku tidak punya banyak waktu. Aku harus segera ke bandara setelah ini. Sebaiknya kita selesaikan masalah ini dengan cepat," ucap wanita itu sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, "Mana pegawaimu itu? Segera panggilkan!"
Paman Shin terlihat bingung harus bersikap bagaimana pada wanita yang sepertinya tidak punya kesabaran ekstra ini. Walaupun begitu, ia tetap berusaha agar bersikap tenang.
"Kenapa diam? Panggilkan anak itu," ulang nyonya Yoo lagi.
"Hari ini dia tidak masuk, nyonya. Saya mem—"
"Dia kabur? Setelah mencuri kalung berlianku, dia kabur. Begitu?" nyonya Yoo memotong ucapan paman Shin.
"Tidak seperti itu, nyonya. Saya memberikannya waktu istirahat karena dia terlihat begitu lelah beberapa hari ini," sanggah paman Shin.
"Lalu? Bagaimana dengan masalah ini? Aku akan meminta pertanggung jawabannya. Dia harus membayar ganti rugi atas kalungku!" tegas nyonya Yoo sambil memberikan tatapan tajam untuk pemilik restoran.
"Jadi, anda yang menuduh dongsaeng ku mencuri?"
Sebuah suara menginterupsi perbincangan antara paman Shin dan nyonya Yoo. Keduanya pun beralih menatap Donghae yang sudah membalikan badannya menghadap ke arah pintu. Nyonya Yoo menautkan alisnya sedangkan paman Shin merutuk dirinya sendiri karena melupakan kehadiran Donghae di ruangannya.
"Anda tidak bisa menuduh Kyu seenaknya. Dia tidak akan pernah mencuri!" tegas Donghae.
Ekspresinya menunjukan bahwa namja itu serius dan sebisa mungkin menahan emosinya.
"Siapa dia?" nyonya Yoo bertanya pada paman Shin.
"Aku hyung nya Kyuhyun," Donghae yang menjawab sebelum paman Shin membuka mulutnya, "Aku tidak terima jika dongsaeng ku di tuduh seperti ini!" tegasnya.
Paman Shin segera menghampiri Donghae, "Hae, sudahlah. Sebaiknya kau pulang saja. Biar aku yang mengurus semuanya," bisiknya sambil meraih tangan Donghae untuk menuntunnya menuju pintu namun Donghae menepis tangannya.
"Aku mewakilkan Kyu. Jadi aku berhak berada di sini, ahjussi."
"Tapi Hae—"
"Aku akan berada di sini hingga masalahnya selesai!"
Paman Shin hanya bisa menghela napasnya mendengar penegasan dari Donghae.
Suara tawa pelan terdengar membuat paman Shin dan Donghae menoleh ke asal suara.
"Jadi, kau hyung dari anak itu?" tanya nyonya Yoo.
"Ne."
Nyonya Yoo memperhatikan Donghae dari atas hingga bawah, "Tidak bisa melihat?" simpulnya dari tongkat dan arah pandang Donghae yang entah menuju kemana.
"Aku tidak peduli," ucap wanita itu, "Yang terpenting adalah aku mendapat ganti rugi atas kalungku dan anak itu harus meminta maaf secara langsung. Atau… aku akan mengajukan masalah ini ke pengadilan."
Donghae mengepalkan kedua tangannya sangat erat hingga buku-buku tangannya memutih. Ekspresinya semakin tegang bercampur emosi.
"Anda tidak bisa melakukan itu tanpa bukti! Kyu tidak pernah mencuri!" pekik Donghae kesal.
Nyonya Yoo mengeluarkan sebuah kotak dari tasnya lalu meletakan kotak itu di meja. Ia membukanya dan itu hanyalah kotak kosong.
"Ini kotak kalungku. Sebelum aku ke kamar mandi, kalung itu masih berada di dalam kotak ini. Tapi sekarang tidak ada," ucap nyonya Yoo.
"Bukti anda lemah, nyonya Yoo. Jika Kyu mencurinya, kenapa dia harus repot-repot mengeluarkannya dari kotak? Itu akan memakan waktu lama," sanggah paman Shin.
"Karena itu akan memudahkannya untuk menyembunyikan kalungku," tukas nyonya Yoo lagi.
"Tapi ini bukan bukti kuat dan mengarah pada Kyu," balas paman Shin.
"Dia orang yang memegang tasku saat aku ke kamar mandi. Dia yang paling berpeluang melakukan hal itu!"
"Berarti anda juga salah. Kenapa anda menitipnya tas berisi barang penting itu pada orang asing?"
Paman Shin mencoba untuk bersabar menghadapi wanita itu.
"Tapi aku yakin dia yang mengambilnya. Dugaanku tidak pernah meleset!" bantah nyonya Yoo.
"Kyu tidak akan pernah melakukan hal seperti itu. Aku sangat mengenalnya. Dia tidak pernah memikirkan hal seperti itu apalagi jika melakukannya," Donghae kembali mengeluarkan suaranya dengan nada tinggi.
"Kau hyung nya, tentu kau akan membelanya."
"Mau aku hyung nya atau bukan, aku akan tetap membelanya. Anda tidak bisa menuduhnya seperti itu!"
Paman Shin menghela napas berat menghadapi sikap keras dari wanita di hadapannya. Telinganya juga cukup panas mendengar perdebatan dari Donghae dan nyonya Yoo.
"Kalau kalian tetap bersikeras membela anak yang tidak mau mengaku itu maka aku akan benar-benar mengajukan masalah ini ke pengadilan," tegas nyonya Yoo.
"Anda tidak punya bukti kuat untuk membawa masalah ini ke pengadilan," balas paman Shin.
Nyonya Yoo mulai memasukkan kotak itu kembali ke dalam tasnya.
"Pengacaraku akan mengurus semuanya. Aku tidak punya waktu untuk mengurus masalah seperti ini."
Paman Shin dan Donghae terdiam seribu bahasa. Pengacara… Wanita ini pasti serius dengan ucapannya. Paman Shin tidak ingin mengakuti namun ia sadar, apapun bisa terjadi jika hal ini masuk ke pengadilan dan lawannya adalah wanita ini.
Paman Shin segera memutar otaknya untuk mencari cara lain. Sedangkan Donghae menundukkan kepalanya. Ia benar-benar merasa kesal tapi apa yang bisa di lakukan untuk membela Kyuhyun?
"Aku harus segera ke bandara. Pengacaraku yang akan mengurus kelanjutan masalah ini."
Nyonya Yoo beranjak dari sofa dan mulai melangkah menuju pintu.
Bruk!
"Aku mohon, jangan menekan Kyuhyun seperti ini. Aku yakin bukan dia yang mengambilnya."
Nyonya Yoo dan paman Shin terkesiap saat tiba-tiba Donghae berlutut dan memohon. Buliran bening pun sudah membasahi wajah tampannya. Tak peduli jika ia di lihat seperti merendahkan dirinya sendiri.
"Kyu tidak akan mencurinya. Aku jamin hal itu," Donghae terus meracau.
Nyonya Yoo menatap namja itu dengan intens. Walaupun Donghae berlutut tak menghadap kearahnya tapi ia tahu semua permohonan itu tertuju padanya.
"Kenapa kau melakukan ini? Bukan kau yang melakukannya. Jika benar dia tidak mencuri, kalian tidak perlu khawatir. Dia pasti menang di pengadilan 'kan?" tanya nyonya Yoo heran.
"Aku akan melakukan apapun untuk dongsaeng ku karena aku adalah hyung nya. Mungkin memang begitu tapi jika Kyu mendengar semua ini, dia pasti akan tertekan dan sedih. Aku tidak mau dia merasa seperti itu," ucap Donghae dengan nada memohon dan penekanan di beberapa kata membuat nyonya Yoo terdiam.
"Hae, bangunlah. Jangan begini," paman Shin meraih lengan Donghae dan menariknya untuk berdiri namun Donghae menggelengkan kepalanya dan tetap bergeming.
"Aku mohon jangan menuntut Kyu. Maafkan dia kalau dia punya salah pada anda. Aku bisa jamin kalau Kyu tidak mengambilnya," pinya Donghae lagi.
Nyonya Yoo menghela napasnya, "Caramu ini percuma saja," gumamnya lalu melangkah kembali.
"Nyonya Yoo, kita masih perlu bicara," paman Shin mencoba untuk menahan kepergian wanita itu tapi sepertinya ucapan itu hanya di jadikan angin lalu.
Klek!
Baru saja nyonya Yoo hendak menyentuh handle, pintu di hadapannya sudah terbuka lebih dulu.
"Ara-ah, syukurlah kau belum pergi."
Seorang wanita sepantaran dengan nyonya Yoo muncul dengan ekspresi tegang dan terlihat tergesa-gesa.
"Ji Eun, sedang apa kau di sini?" tanya nyonya Yoo heran melihat salah satu temannya.
"Tadi aku ke rumahmu dan orang rumah mengatakan kau sudah ke restoran lalu akan langsung ke bandara."
"Kenapa?"
Nyonya Yoo menautkan alisnya saat temannya itu menyodorkan kotak yang serupa dengan kotak kalung miliknya.
"Sepertinya kotak kita tertukar. Ini milikmu," nyonya Yoo mengambil kotak itu dan segera membukanya. Matanya terbelalak tidak percaya, " Kalungku…"
"Ne. Kemarin saat aku mengeluarkan kotak ini dan memakai kalung di dalamnya, kau juga mengeluarkan kotakmu. Kita tidak sadar jika kotaknya sama dan aku salah memasukan milikmu ke dalam tasku. Mianhae, aku baru menyadarinya sore tadi."
Nyonya Yoo hanya mengangguk sekali sambil mengelus kalung berliannya. Ia menghela napas lega namun ekor matanya melirik ke belakang dengan panik.
Paman Shin sudah membantu Donghae untuk kembali berdiri dan Donghae pun pasrah saja.
Dengan langkah berat, nyonya Yoo menghampiri paman Shin dan Donghae.
"Sepertinya aku memang salah," lirih nyonya Yoo, "Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku malu berhadapan dengan kalian. Maafkan aku," nyonya Yoo membungkukkan badannya sedikit di hadapan Donghae dan paman Shin.
Donghae mengerjapkan matanya yang masih berair. Ia tersentak saat sebuah tangan halus menyentuh tangannya.
"Sikapku keterlaluan tadi. Maafkan aku ya," sesal nyonya Yoo.
Donghae terdiam sejenak sebelum berseru, "Anda tidak punya salah padaku jadi tidak perlu meminta maaf."
Nyonya Yoo tersenyum tipis, "Dongsaeng mu. Siapa namanya?"
"Kyuhyun. Cho Kyuhyun," seru Donghae lantang dan tanpa sadar mulai mengulas senyuman.
"Sampaikan maafku pada Kyuhyun. Aku harus ke Jepang sekarang jadi tidak bisa meminta maaf secara langsung," pesan nyonya Yoo.
Donghae pun mengangguk, "Akan saya sampaikan, nyonya."
Nyonya Yoo mengambil sebuah buku dari dalam tasnya lalu menuliskan sesuatu di dalam sana, "Ini sebagai permintaan maafku padanya," ucapnya sambil memberikan sebuah kertas pada Donghae.
Nyonya Yoo beralih menghadap kearah paman Shin, "Maafkan saya sudah merepotkan anda."
"Gwenchana nyonya Yoo. Lain kali berhati-hatilah dan jangan menuduh sembarangan lagi."
Setelah mengucapkan hal itu, nyonya Yoo mengangguk dan tersenyum. Ia undur diri untuk segera pergi ke bandara.
Ruangan itu pun kini kembali di huni oleh paman Shin dan Donghae.
"Selesai juga~" paman Shin tidak bisa menyembunyikan rasa leganya. Ia terkekeh pelan saat mengingat kejadian yang sebenarnya tidak perlu terjadi.
Paman Shin beralih menatap Donghae yang terlihat kebingungan, "Ada apa Hae? Masalahnya sudah selesai haha."
Donghae mengangguk lalu tersenyum, "Ahjussi, ini kertas apa?" tanyanya sambil menunjukan kertas yang ada di tangannya.
"Itu kertas cek. Nyonya itu memberi Kyu sejumlah uang. Kalian bisa menukarkannya di bank," ucap paman Shin.
Donghae menautkan alisnya, "Kenapa dia memberi uang?"
"Mungkin sebagai tanda permintaan maaf."
"Tapi, tadi dia sudah meminta maaf."
Paman Shin tergelak mendengar ucapan polos dari Donghae sedangkan namja di hadapannya itu masih terbingung.
"Setiap orang punya cara sendiri untuk meminta maaf. Nyonya Yoo memberikan itu sebagai ungkapan maafnya, itu caranya sendiri."
Donghae pun hanya bisa mengangguk ragu mendengar penjelasan paman Shin. Ia mengusap jejak air mata yang masih menyisa di pipinya lalu menyodorkan kertas di tangannya kepada paman Shin.
"Waeyo?" tanya namja paruh baya itu bingung.
"Ahjussi saja yang memberikannya pada Kyu," ucap Donghae sambil menunjukan senyum khasnya.
"Eh? Waeyo? Kau bisa memberikannya secara langsung."
Donghae menggelengkan kepalanya, "Kyu sedang marah padaku. Dia bisa tambah marah jika tahu aku menerima kertas seperti ini. Karena aku yakin, Kyu pasti akan menolaknya tadi," jelasnya.
"Aku juga tidak terlibat dalam masalah ini jadi ahjussi saja yang berikan," tambah Donghae.
Paman Shin berpikir sejenak sebelum mengangguk-anggukkan kepalanya, "Kau benar. Baiklah nanti akan ku berikan padanya."
Donghae tersenyum tipis. Ia masih terdiam di tempatnya dan terlihat memikirkan sesuatu.
"Ahjussi…" panggil Donghae membuat paman Shin yang baru menyimpan cek itu dalam lacinya menoleh.
"Ada apa?"
Donghae menghadap kearah suara yang di dengarnya, "Hm itu… Kau bilang, setiap orang punya cara sendiri untuk meminta maaf. Benarkah?" tanyanya ragu.
"Ne."
Donghae menghela napas sejenak, "Kemarin aku membuat Kyu marah. Aku… Ingin menunjukan sesuatu padanya sebagai permintaan maaf."
Paman Shin mengangguk dan mendengarkan dengan seksama.
"M-maukah ahjussi membantuku?" tanya Donghae ragu namun terlihat jelas ekspresi pengharapan itu.
Paman Shin terdiam sejenak sebelum tersenyum, "Apa yang perlu ku bantu?"
Mendengar persetujuan itu, Donghae mengerjap tidak percaya sebelum akhirnya tersenyum lebar.
.
.
"Eunghh…"
Lenguhan pelan itu terdengar di sebuah ruangan beraroma khas ini. Membuat seorang namja yang duduk di kursi samping ranjang langsung berdiri dan mendekat pada namja yang terbaring.
"Kyu? Kyu!"
Yesung terus memanggil Kyuhyun yang masih menggeliat pelan hingga akhirnya mata yang terpejam sejak beberapa jam lalu itupun terbuka.
Kyuhyun memandang Yesung yang terlihat cemas dengan tatapan sayu, "Yesung hyung…" lirihnya.
Yesung menghela napas lega, "Syukurlah kau sudah sadar."
Kyuhyun mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu, "Ini dimana?"
"Rumah sakit. Tadi pihak rumah sakit menghubungiku. Kau pingsan di pinggir jalan dan orang-orang membawamu kemari," jelas Yesung. Kyuhyun mengangguk lemah.
"Kenapa keliaran di luar rumah dalam keadaan begini eoh?! Kau berjanji padaku untuk istirahat, Kyu," ucap Yesung kesal.
"Aku bosan," balas Kyuhyun asal.
Yesung pun berdecak kesal. Ia hendak membuka mulut kembali namun Kyuhyun sudah bersuara terlebih dahulu, "Tenang saja, hyung. Aku baik-baik saja. Tadi aku pingsan karena cuaca di luar terlalu terik."
"Terik? Cho, kau pingsan saat sore hari. Uisa bilang kau kelelahan akut," ujar Yesung tegas membuat Kyuhyun hanya bisa meringis.
Yesung menggelengkan kepala dan kembali duduk di kursinya. Kyuhyun pun memperhatikan ruangan itu hingga tatapannya terfokus pada infus yang ada di kanan ranjangnya. Ia mendengus sebal saat mendapati jarum infuse yang sudah tersemat dalam pergelangan tangan kanannya.
"Berapa lama aku pingsan? Kenapa harus di infuse?"
"Sekitar 3 jam. Kau kelelahan dan kondisimu menurun drastis. Infus itu akan mempertahankan kondisimu sekarang," jawab Yesung.
Kyuhyun hanya menggembungkan pipinya kesal namun saat ia melihat Yesung, ekspresinya berubah menjadi menyesal, "Maaf. Aku merepotkan lagi, hyung."
Yesung hanya tersenyum sambil menepuk punggung tangan Kyuhyun, "Jangan nakal lagi. Besok kau harus istirahat total, arrachi?"
"Aku harus sekolah dan mengantar susu. Hari ini aku sudah absen, hyung."
"Tidak. Kau harus istirahat. Aku akan meminta izin ke sekolahmu dan kau juga tidak boleh mengantar susu dulu."
"Tapi—"
"Atau… Aku akan beritahu Donghae tentang kondisimu?"
"Andwae! Dia bisa cemas nanti," pekik Kyuhyun yang di akhiri dengan suara lirih.
Yesung pun terkekeh pelan, "Makanya turuti aku. Besok aku tidak ada kelas jadi aku akan mengawasimu."
Kyuhyun hanya mendengus sebal. Suara ponsel Yesung menginterupsi perbincangan mereka. Yesung mengerutkan dahinya saat melihat nama salah satu teman kampusnya di layar ponselnya.
"Yeoboseyo? Ada apa?"
Yesung menjawab telepon sambil membantu Kyuhyun yang hendak terduduk. Ia juga mengambil segelas air untuk anak itu membuat Kyuhyun tersenyum sebagai ucapan terima kasih.
"Bagaimana bisa?! Proposal itu harus di serahkan besok? Tidak bisa di tunda? Aku tidak bisa pergi. Aish!"
Kyuhyun meminum air mineralnya sambil memperhatikan Yesung yang terlihat serius menjawab telepon itu.
"Baiklah, aku ke sana sekarang."
Yesung memutuskan sambungan telepon itu lalu menghela napas berat. Ia menatap Kyuhyun dengan ekspresi bersalah.
"Ada apa, hyung?" tanya Kyuhyun bingung.
"Aku harus menemui temanku dulu. Apa bisa aku meninggalkanmu sebentar di sini? Aku akan segera kembali," ucap Yesung.
Kyuhyun terkekeh pelan lalu mengangguk, "Aku bukan anak kecil yang perlu di jaga. Pergilah."
"Jeongmal?"
"NE!"
Yesung terkekeh saat Kyuhyun membalasnya dengan penuh penekanan dan tatapan protes. Tangannya mulai mengacak rambut Kyuhyun pelan. Tentu Kyuhyun menepis tangan Yesung lalu memberikan tatapan tajamnya.
"Aku pergi dulu. Istirahatlah. Jangan nakal Kyu atau—"
"Jangan mengancamku. Cepat pergi!"
Yesung tergelak mendengar Kyuhyun yang memotong ucapannya. Ia memberi salam lalu melangkah menuju pintu dan bergegas pergi.
Tinggallah Kyuhyun sendiri di kamar rawat ini. Kyuhyun menghela napasnya. Merasa bosan dengan suasan hening dan sendirian seperti ini.
Kyuhyun termenung, memandangi jendela yang ada di samping kirinya. Langit sudah gelap. Cahaya lampu dari gedung-gedung di sekitar terlihat indah bagaikan hamparan bintang yang berkelap-kelip. Bisa di perkirakan bahwa saat ini dirinya berada di lantai 3 atau 4.
"Hae hyung…" gumam Kyuhyun pelan sambil menerawang jauh keluar jendela.
"Hyung… Apa yang kau lakukan sekarang?"
Kyuhyun mengangkat tangan kirinya yang terbebas dari infus. Jemarinya mulai menyentuh permukaan kaca yang dingin itu.
Hae hyung…
Dua kata itu yang Kyuhyun ukir dengan tangannya di kaca yang cukup berembun karena udara dingin. Senyuman tipis terulas di wajahnya yang masih terlihat pucat.
"Rasanya sepi… Baru satu hari, aku tidak melihatmu. Tapi rasanya seperti sudah lama sekali," gumamnya lagi.
"Hae hyung… Maafkan aku."
Kyuhyun menarik tangannya dari kaca. Tatapannya masih fokus ke pemandangan di luar.
"Aku merindukanmu, hyung. Apa kau merindukanku?" Kyuhyun menghela napas beratnya.
Suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatian Kyuhyun. Ia menoleh ke arah pintu dan seorang namja dengan jas putih sudah sudah berdiri di sana.
"Ternyata sudah sadar. Kenapa tidak memberitahu saya?" ucap seorang uisa yang berdiri di ambang pintu.
Kyuhyun tersenyum tipis saat uisa menghampirinya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya uisa itu.
"Harusnya kau yang bertanya seperti itu. Kau 'kan uisa yang memeriksaku," balas Kyuhyun membuat uisa terkekeh pelan.
"Aku merasa baik-baik saja," Kyuhyun kembali bersuara lalu tersenyum seakan menjawab pertanyaan uisa yang sebelumnya.
Uisa menganggukkan kepalanya. Ia menyuruh Kyuhyun berbaring dan mulai memeriksa kondisinya, "Jauh lebih baik dari kondisi awal. Tapi kau masih perlu banyak istirahat," ucap uisa itu.
"Sudah ku bilang, aku baik-baik saja," balas Kyuhyun sambil tersenyum puas.
Uisa balas tersenyum, "Sebenarnya ada yang ingin ku bicarakan denganmu berkaitan dengan pemeriksaanku saat kau pingsan, Kyuhyun-ssi," seru uisa itu membuat Kyuhyun menautkan alisnya.
"Apa?" tanya Kyuhyun ragu.
Uisa itu terdiam sebentar sebelum menjawab, "Tunggu. Aku akan mengambil catatanku dulu," ucapnya.
Kyuhyun mengangguk sekali membuat uisa itu berlalu keluar kamar rawatnya untuk mengambil catatan pemeriksaannya.
.
.
"Kyu… Kau menyebalkan!"
Umpatan itu memecah keheningan yang terjadi di sebuah rumah susun kecil kawasan Namdaemun ini.
Donghae yang masih duduk di atas ranjangnya itu mendengus sebal. Beberapa saat lalu, ia menelepon Yesung untuk menanyakan kondisi Kyuhyun kembali. Perasaannya tidak enak dan seharian ia menunggu juga berharap Kyuhyun akan segera pulang. Namun nyatanya hingga malam, Kyuhyun tak kunjung pulang.
Yesung mengatakan Kyuhyun masih ingin berada di apartemennya dan meminta Donghae untuk bersabar. Donghae pun hanya bisa menghela napas berat. Apa semarah itukah Kyuhyun padanya?
Donghae menundukan kepalanya. Suara khas milik Kyuhyun tidak di dengarnya satu hari ini. Sosoknya pun tak bisa di rasakannya. Suara, tawa, rengek manja, dengusan sebal dan kejahilan anak itu. Donghae merindukan semuanya.
Baru kali ini, Donghae merasakan benar-benar memiliki seorang saudara. Selama ini, ia selalu hidup sendiri. Banyak hal baru mengenai kebersamaan dan persaudaraan yang Donghae pelajari sejak bersama Kyuhyun.
"Kyunie… kapan pulang?" lirih Donghae.
"Apa kau tega membiarkanku di rumah sendirian. Aku akan menuruti semua kemauanmu, Kyu. Tapi cepat pulang."
"Kalau kau tidak pulang juga…" Donghae memberengut kesal seorang diri, "Aku tidak akan mengelus rambutmu lagi sebelum tidur. Jangan merengek padaku lagi."
Donghae terkekeh sendiri membayangkan ekspresi Kyuhyun saat anak itu berucap manja juga ngambek. Tak ada suara yang merespon semua racauan Donghae. Hanya suara detik jam yang menyahut curahan hatinya.
"Aku merindukanmu, dongsaeng-ah…"
Donghae terdiam sesaat sebelum merebahkan tubuhnya di kasur. Ia mengulas senyum tipis saat membayangkan rengekan manja Kyuhyun yang selalu meminta dirinya mengelus rambut anak itu hingga tertidur.
"Besok, aku akan memberitahumu semua yang ku rasakan selama ini," gumam Donghae.
"Sepenting apa sosokmu dan aku akan rela melakukan apapun agar kau tertawa, Kyunie."
Donghae pun mulai menarik selimutnya hingga sebatas leher dan mulai memejamkan matanya.
.
.
Derap langkah tergesa menyusuri lorong sebuah apartemen. Tak peduli akan mendapat protes karena membuat kesunyian malam di apartemen itu terganggu. Orang yang berlari itu harus segera menuju apartemennya di ujung lorong.
Kreek!
Pintu berwarna hitam itu di buka dengan kasar oleh pemiliknya. Ruangan gelap menyambut kehadiran pemilik apartemen.
Dengan napas yang masih terengah, ia masuk ke apartemennya dan langsung menuju saklar lampu. Ruangan gelap itu pun berubah menjadi terang seketika setelah semua lampu di nyalakan. Orang itu langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut hingga tatapan kesalnya mengarah pada ranjangnya.
"Cho Kyuhyun!" sentak Yesung keras.
Yesung menatap tajam anak yang sudah membuat jantungnya hampir berhenti berdegub. Beberapa menit lalu, ia mendapat kabar dari rumah sakit bahwa Kyuhyun menghilang. Anak itu melepas infusnya begitu saja dan langsung kabur.
Dan sesuai dugaan Yesung, Kyuhyun berada di apartemennya. Anak itu tengah duduk di atas ranjang sambil memeluk kedua lututnya sendiri. Kepalanya tertunduk dan wajahnya tersembunyi di atas lututnya.
"Apa yang kau pikirkan hah?! Kabur dari rumah sakit begitu saja. Kau membuatku cemas, Cho!" semprot Yesung sambil berjalan mendekati Kyuhyun.
Sungguh ia kesal dan tidak bisa mengerti arah pikiran Kyuhyun. Hari ini, anak itu sangat membuatnya cemas.
Tak ada respon dari Kyuhyun membuat kekesalan Yesung semakin bertambah.
"Kyuhyun, aku bicara padamu!" pekik Yesung lagi.
Tangan kecil Yesung mulai meraih lengan Kyuhyun dan memaksa anak itu untuk mengangkat wajahnya.
"Sebenarnya kau ini ke—"
Yesung membelalakan matanya saat melihat wajah Kyuhyun yang sudah di basahi oleh air mata. Kyuhyun menangis? Ini pertama kalinya, Yesung melihat Kyuhyun menangis hingga seperti ini. Tatapan kesal Yesung langsung berubah menjadi khawatir.
"—Kyu? Ada apa?" tanya Yesung pelan tersirat kecemasan besar di dalamnya. Ia duduk di sisi kosong ranjangnya.
Kyuhyun menangis dalam diam. Tak ada isakan namun air terus mengalir dari kedua sudut matanya. Yesung terdiam memberi waktu pada Kyuhyun untuk berbicara.
"Ye hyung… Biarkan aku tinggal di sini beberapa hari."
Akhirnya suara parau itu terdengar, memohon pada Yesung yang terlihat bingung.
"Ada apa sebenarnya, Kyu?" Yesung justru balik bertanya.
"Izinkan aku tinggal di sini sementara. Jebal hyung…" pinta Kyuhyun lagi.
Yesung termenung sejenak, "Kau boleh berada di sini kapanpun. Tapi beritahu aku apa yang terjadi? Kenapa kau kabur dari rumah sakit?" tanyanya penasaran.
Kyuhyun menggelengkan kepalanya berulang kali lalu menundukan kepalanya kembali. Isakan kecil akhirnya terdengar juga.
"Hae hyung… Hae hyung…"
Yesung bisa mendengar gumaman Kyuhyun yang di iringi isakan itu. Ia mengerutkan dahinya. Memutar otak, apa yang sebenarnya terjadi pada Kyuhyun.
"Kau ingin aku memanggil Donghae?" tanya Yesung memastikan.
Kyuhyun menatap Yesung tajam lalu menggelengkan kepalanya lagi, "Andwae!"
Yesung menghembuskan napas beratnya. Kyuhyun menolak tapi mulut anak itu terus memanggil nama Donghae. Apa ada kaitannya dengan Donghae? Yesung benar-benar tidak mengerti.
"Baiklah. Terserah kau saja. Tapi, jangan menangis lagi nde?"
Kyuhyun hanya terdiam masih dengan isakan pelan. Yesung pun tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya mengelus punggung Kyuhyun untuk menenangkan.
.
.
.
ooOOoo Eyes ooOOoo
"Hyung, kita mau kemana sih?!"
Kyuhyun menyentak tangan Yesung yang sedaritadi menariknya. Kyuhyun menghentikan langkahnya dan menatap kesal pada Yesung yang hanya menunjukan cengirannya.
"Kita mau kemana? Aku ngantuk!" tukas Kyuhyun sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Tadi Yesung tiba-tiba membangunkan tidurnya dan langsung menariknya keluar apartemen. Walaupun hari ini Kyuhyun sudah menghabiskan harinya dengan tertidur tapi sekarang dia masih mengantuk. Dia juga heran kenapa Yesung mengajaknya keluar hampir tengah malam padahal seharian namja itu seperti mengurungnya agar beristirahat penuh di apartemen.
"Sudahlah, ikut saja. Aku ingin jalan-jalan," jawab Yesung santai.
Kyuhyun mengerutkan dahinya, "Jalan-jalan tengah malam?" desisnya. Ia menyipitkan matanya dan menatap Yesung penuh selidik.
Yesung pun hanya bisa tersenyum untuk menutupi salah tingkahnya.
"Kau melarangku keluar sepanjang hari dan sekarang justru mengajakku keluar di tengah malam? Hyung, sepertinya aku perlu membawamu ke psikiater," ucap Kyuhyun.
Yesung menjitak pelan kepala Kyuhyun membuat anak itu menggembungkan pipinya.
"Sudah, aku mau pulang ke apartemenmu saja. Aku mau tidur!"
Kyuhyun berbalik dan mulai berjalan menyusuri jalan yang sudah di lewatinya tadi. Namun baru beberapa langkah, Yesung menahan lengannya. Kyuhyun pun kembali menatap Yesung dengan tatapan menuntut penjelasan.
"Ayolah. Sebentar saja," pinta Yesung.
"Aku masih sakit, hyung. Angin malam tidak baik untukku," balas Kyuhyun membuat Yesung ikut berpikir juga.
Kyuhyun memang belum pulih sepenuhnya dan apa yang di katakan anak itu memang benar.
"Tapi… ayolah Kyu~ temani aku," Yesung masih memohon.
Kyuhyun mendengus sebal melihat ekspresi penuh pengharapan yang Yesung tunjukkan. Dengan berat hati, Kyuhyun pun mengangguk.
Mereka pun kembali menyusuri jalan pertokoan yang sudah sepi. Hanya ada beberapa orang yang masih melewatinya. Beberapa lampu toko dan gedung pun sudah di padamkan. Terang jalanan pun lebih di dominasi dari lampu penerangan di sudut-sudut jalan. Kendaraan pun sudah tak banyak yang lewat.
Kyuhyun merapatkan jaketnya saat angin berhembus. Ia merutuk Yesung dalam hati. Jika pagi atau siang, dia di perbolehkan keluar, pasti dia sudah mencari pekerjaan baru. Tapi dengan keanehannya, Yesung justru menggiringnya keluar tengah malam seperti ini.
Mereka berjalan dalam diam. Tak ada perbincangan yang terjadi. Yesung berjalan sambil mengulas senyuman puas, sesekali ia melirik kearah Kyuhyun yang berjalan sambil menendang-nendang pelan kerikil di jalan.
Keheningan yang terjadi membuat Kyuhyun bergelut dengan pikirannya sendiri. Ekspresi datarnya mulai berubah menjadi lebih murung. Pandangan matanya terfokus pada kerikil yang di mainkannya sepanjang perjalanan.
Yesung mengerutkan dahinya melihat perubahan dalam ekspresi Kyuhyun. Sejak kemarin malam, anak itu memang terlihat sangat aneh. Yesung tak bertanya lebih lanjut karena Kyuhyun sepertinya enggan untuk bercerita. Yesung beralih menatap jalanan di depannya kembali.
Restoran, tempat kerja Kyuhyun sudah berada di depan mata keduanya. Sepertinya Kyuhyun tak sadar dimana dirinya berada karena sejak tadi ia menundukan kepalanya. Ia pasrah mengikuti Yesung yang menariknya ke sana kemari.
"Kita sampai," ucap Yesung.
Suara Yesung membuat lamunan Kyuhyun buyar. Anak itu mulai mengangkat wajahnya untuk melihat dimana dirinya berada. Matanya membulat lucu saat menyadari dirinya sudah berada di depan pintu restoran.
"Hyung?" gumam Kyuhyun sambil menatap Yesung meminta penjelasan.
"Ayo masuk," ajak Yesung sambil melangkah masuk.
Namun baru Yesung membuka pintu itu, Kyuhyun sudah menahan lengannya.
"Untuk apa kemari? Restoran sudah tutup," ucap Kyuhyun.
"Pintunya belum terkunci, Kyu," balas Yesung sambil tersenyum.
Kyuhyun menggelengkan kepala, "Untuk apa kemari?" desaknya.
"Nanti kau juga tahu. Ayo, masuk."
Yesung beralih ke belakang Kyuhyun dan mendorong punggung Kyuhyun agar anak itu segera masuk ke dalam restoran. Kyuhyun berontak dan menolak namun Yesung tetap memaksanya.
Suasana restoran itu sangat sepi. Lampu sudah di padamkan membuat ruangan itu cukup gelap. Dugaan Kyuhyun benar, restoran ini memang sudah di tutup sejak setengah jam yang lalu. Namun ia tidak mengerti kenapa Yesung membawanya kemari. Kyuhyun mengedarkan pandangannya ke sekitar dan meneliti ruangan gelap itu.
Tiba-tiba sebuah cahaya muncul. Lampu yang ada di atas stage menyala, menyinari stage yang tidak terlalu besar itu. Perhatian pun tertuju pada satu-satunya tempat yang bercahaya.
Kyuhyun menyipitkan matanya untuk melihat apa yang ada di stage hingga matanya terbuka lebar.
"Hae hyung…" gumam Kyuhyun saat menyadari sosok Donghae yang duduk di sebuah bangku yang berada di tengah stage. Tempat yang biasa di tempati Sungmin.
Donghae duduk santai di sana dengan sebuah gitar di pangkuannya. Pandangannya lurus ke depan dan senyuman khas childishnya itu terlihat dengan jelas.
"Ayo."
Kyuhyun menoleh ke Yesung yang sudah menuntunnya untuk duduk di sebuah meja yang berada tepat di depan stage. Tak ada penolakan. Kyuhyun pasrah saja. Dia masih tercengang di tambah kebingungan yang menyelimuti.
Setelah Kyuhyun duduk, Ryeowook naik ke atas stage lalu duduk di hadapan pianonya. Namja mungil itu tersenyum lalu melambaikan tangannya pada Kyuhyun.
Kyuhyun hanya membalas dengan senyuman tipis tersirat keraguan. Ia menatap Yesung yang sudah duduk di sebrangnya. Menatap namja itu meminta penjelasan namun Yesung fokus menatap Donghae dengan cengiran lebar.
"Kyu…"
Panggilan pelan dari Donghae membuat Kyuhyun kembali menatap hyung nya itu dengan intens. Meneliti ekspresi Donghae dengan seksama.
"Apa kau sudah di sini, Kyunie?" tanya Donghae lagi dengan nada pelan.
Kyuhyun tak menjawab. Dia terlalu sibuk memperhatikan Donghae. Hingga tendangan kecil, Yesung berikan pada anak itu.
"Hae hyung… apa yang kau lakukan di sana?" Kyuhyun mulai membuka suaranya setelah sadar dari pemikirannya sendiri.
Donghae melebarkan senyumannya mendengar suara yang sudah 2 hari tidak di dengarnya.
"Hae hyung, ada apa ini?" desak Kyuhyun tidak sabaran.
Donghae tak menjawab pertanyaan Kyuhyun. Ia justru membenarkan posisi gitarnya dan jemarinya siap untuk memetik senarnya.
"Hyung—"
"Mianhae, Kyu."
Donghae memotong Kyuhyun yang hendak melontarkan pertanyaan lagi. Mendengar itupun, Kyuhyun akhirnya terdiam.
"Mianhae. Aku sudah membuatmu marah kemarin," ucap Donghae lagi, " Aku ingin kau mendengar ini sebagai permintaan maafku."
Kyuhyun semakin terdiam. Ia hanya bisa menatap Donghae yang memandang lurus ke depan. Keheningan terjadi sesaat. Donghae mulai memejamkan matanya.
Suara dentingan piano mulai mengalun indah. Kyuhyun melirik kearah Ryeowook yang mulai memainkan sebuah intro lagu. Kemudian kembali fokus pada Donghae yang mulai memetik gitarnya. Kombinasi nada dari piano dan gitar itu pun menyelimuti restoran itu.
Kyuhyun mengerjapkan matanya dan menggigit bibir bawahnya tepat saat Donghae mulai mengeluarkan suara. Menyanyikan deretan lirik dengan penuh penghayatan. Sebuah nyanyian dengan suara khas itu mengalun indah dengan iringan piano dan gitar.
The loneliness of night alone
The search for strength to carry on
My every hope has seemed to die
My eyes had no more tears to cry
Tanpa di perintah, lirik yang baru saja di nyanyikan Donghae seperti masuk ke dalam hati Kyuhyun. Memori nya pun berputar. Lirik ini… Sangat mirip dengan apa yang di alami oleh Donghae sendiri.
Pertemuan pertamanya dengan Donghae di tengah malam bersalju itu. Saat dirinya sendirian di tengah malam, Kyuhyun tiba-tiba muncul dan mengajak bicara. Lalu, keputusasaan Donghae yang di lihat Kyuhyun beberapa hari setelah tinggal bersama. Donghae yang tidak berdaya dan tidak punya harapan sedikit pun. Malam dimana Donghae melihat ketegasan Kyuhyun. Menyadari kepedulian dan usaha Kyuhyun untuk membuatnya bangkit dari keterpurukannya.
Then like the sun shinning up above
You surrounded me with your endless love
Coz all the things I couldn't see are now so clear to me
Donghae dengan santai dan penuh penghayatan tetap mengalunkan lagu yang sudah di ciptakannya dengan bantuan Sungmin dan Ryeowook itu. Matanya terpejam. Dan sama seperti yang terjadi pada Kyuhyun. Semua memori itu pun tiba-tiba berputar dalam benaknya. Semua yang sudah di alaminya selama ini. Donghae pun seperti melihat sebuah cahaya dalam kegelapan yang selalu di lihatnya saat menyanyikan lagu ini.
You're my everything
Nothing your love won't bring
My life is your's alone
The only love I've ever known
Satu tetes air mata berhasil lolos dari salah satu sudut mata Kyuhyun. Kedua tangannya terkepal menahan rasa haru yang menyelimutinya. Matanya yang berair pun tak lepas dari Donghae yang masih setia bernyanyi di hadapannya.
"Hae hyung…" gumam Kyuhyun dengan suara paraunya.
Your spirit pulls me through
When nothing else will do
Every night I pray
On bended knee
That you will always be
My everything
Donghae mengakhiri nyanyian dengan sebuah intro dari gitarnya. Ia menghela napas lega lalu mulai membuka matanya. Ada sedikit kekecewaan karena masih saja kegelapan yang menyapa penglihatannya. Ingin sekali ia melihat ekspresi Kyuhyun saat mendengar nyanyiannya barusan.
"Kyu, a—"
Grep!
Baru saja Donghae ingin bersuara, ia sudah tersentak saat seseorang memeluknya. Ia mengerjapkan matanya bingung namun sebuah isakan mulai tertangkap pendengarannya.
"Hae hyung…"
Donghae tersenyum mendengar isakan yang terus merapalkan namanya. Kyuhyun memeluknya dengan erat. Kepalanya di sandarkan di bahu Donghae yang masih terduduk. Buliran bening itu pun semakin deras membasahi wajah hingga kaos yang di kenakan Donghae.
Tangan kanan Donghae terangkat dan mulai mengelus rambut belakang Kyuhyun, "Uljima, Kyunie…" bisiknya pada Kyuhyun.
Ini kedua kalinya, Donghae menyadari adik kecilnya ini menangis sambil memeluknya seperti ini. Perasaan haru pun ikut menyelusup ke dalam hati Donghae. Tapi namja itu tidak menangis. Ia ingin menjadi kuat di hadapan Kyuhyun. Menenangkan dongsaeng nya yang tengah menangis.
"Mianhae, Kyu. Maafkan aku, nde? Sudah. Uljima," Donghae terus berucap sambil mengelus rambut dan punggung Kyuhyun yang masih terisak di bahunya.
Kyuhyun menggelengkan kepalanya, "Aku yang salah. Hiks—Mianhae hyung…"
"Aniyo," balas Donghae sambil melebarkan senyumannya, "Tidak ada yang salah. Bagaimana?"
Kyuhyun terkekeh di dalam isakannya membuat Donghae ikut terkikik geli.
"Mana bisa begitu?" gumam Kyuhyun.
Kyuhyun menghela napasnya lalu melepaskan pelukannya dari Donghae. Ia menghapus jejak air mata yang membasahi wajahnya lalu menatap Donghae yang masih menunjukan senyumannya. Ia pun tak bisa menyembunyikan senyuman senangnya.
"Apa lagu tadi untukku?" tanya Kyuhyun.
"Menurutmu?" balas Donghae sambil tersenyum.
Kyuhyun mendecakan lidahnya dan ekspresinya di buat menjadi kesal namun terlihat lucu. Ia tidak peduli Donghae tidak dapat melihatnya. Namun ekspresi yang kau tunjukan bisa berpengaruh pada suara yang akan kau keluarkan.
"Kenapa membuat seperti itu? Aku jadi seperti yeoja yang kau cintai, hyung," seru Kyuhyun.
Donghae sedikit terkejut dengan pendapat Kyuhyun. Ia langsung menggelengkan kepalanya, "Aish, bukan begitu. Apa kau tidak mengerti maksud lagu itu, Kyunie?" tanyanya dengan nada kecewa.
Kyuhyun tergelak membuat Donghae menautkan alisnya. Kyuhyun berjongkok di hadapan Donghae. Kekehan pelan masih terdengar kala melihat ekspresi bingung Donghae.
"Aku bercanda. Tentu saja aku tahu maksudnya," ucap Kyuhyun, "Gomawo hyung."
Donghae menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman manis, "Kau menyukainya?"
"Ne."
"Syukurlah," gumam Donghae senang.
Kyuhyun terdiam sejenak, masih memperhatikan ekspresi senang di wajah Donghae. Namun sedetik kemudian ekspresi hyung nya berubah menjadi sedikit murung membuat Kyuhyun mengernyit.
"Apa kau masih marah karena kejadian kemarin?" tanya Donghae ragu.
"Hmm…" Kyuhyun bergumam membuat Donghae penasaran, "Aniyo. Aku sama sekali tidak marah. Aku yang salah. Tidak seharusnya aku melarangmu. Suaramu sangat bagus, hyung."
"Benarkah?"
Kyuhyun menganggukkan kepalanya pasti, "Ne."
"Tapi kenapa kau tidak pulang eoh? Aku sendirian di rumah. Kau tahu, aku tidak suka sendirian," ujar Donghae kesal.
Kyuhyun terlihat berpikir sebelum mengulas seringaian tipisnya, "Biar saja. Sekali-kali, aku ingin menjahilimu," balas Kyuhyun asal.
"Kau sudah sering menjahiliku pabbo," dengus Donghae sambil memberengut sebal.
Kyuhyun kembali tergelak mendengar balasan dari Donghae. Ia berdiri dan terkejut saat melihat Yesung, Ryeowook dan Sungmin berada di sudut stage sambil tersenyum.
"Kenapa kalian tersenyum begitu? Kalian sekongkol mengerjaiku," seru Kyuhyun sambil mempoutkan bibirnya.
Sungmin menghampiri Kyuhyun dan mengacak rambutnya, "Bukan mengerjai tapi memberikan kejutan dari Hae-ah," ralatnya.
"Benar. Hae hyung sudah membuat lagu ini beberapa bulan lalu," Ryeowook yang sudah merangkul Donghae dari belakang pun menimpali ucapan Sungmin sambil tersenyum lebar pada Kyuhyun.
"Jangan pura-pura sebal begitu. Kau juga senang, Kyu," seru Yesung membuat Kyuhyun menyengir lebar.
Sontak mereka pun tertawa melihat ekspresi senang di wajah Kyuhyun. Suasana restoran yang tadinya terasa dingin dan sepi itupun berubah menjadi lebih hangat dan menyenangkan.
"Kyu…"
Kyuhyun menoleh saat sebuah suara berat memanggilnya. Ia terkesiap saat melihat paman Shin yang sedang naik ke atas stage dan menghampiri kumpulan namja itu.
"Ahjussi,"
Kyuhyun langsung membungkukkan badannya di hadapan paman Shin, "Maafkan sikapku dua hari kemarin. Kau sangat baik padaku. Tak seharusnya aku bersikap seperti itu. Mianhae ahjussi."
Paman Shin tersenyum mendengar penyesalan dari Kyuhyun. Ia memegang kedua lengan Kyuhyun dan meminta anak itu untuk menegakkan tubuhnya.
"Aku mengerti. Kau pasti sedang lelah dan terbawa emosi. Gwenchana," balas paman Shin membuat Kyuhyun menghela napas lega.
"Aku benar-benar menyesal," gumam Kyuhyun sambil tersenyum getir.
Paman Shin menganggukkan kepalanya, "Jadi, besok kau bisa masuk kerja lagi kan?" tanyanya.
Kyuhyun menatap bossnya itu dengan tatapan tidak percaya. Dia terdiam sambil mengerjapkan matanya bingung, "Maksud ahjussi?"
"Maksudku apa? Tentu saja kau harus masuk. Waktu yang ku berikan untukmu istirahat sudah habis bahkan hari ini kau absen," terang paman Shin sambil mengulas senyuman jahil.
Kyuhyun memiringkan kepalanya, "Tapi, ahjussi kan sudah memecatku?" tanyanya.
Paman Shin terkekeh pelan, "Siapa yang memecatmu? Aku tidak bilang begitu," balasnya membuat Kyuhyun semakin mengernyit bingung.
"Aku hanya mengatakan kalau kau tidak perlu masuk kemarin karena aku ingin memberimu waktu istirahat. Kau terlihat lelah jadi aku cemas," paman Shin terlihat menjelaskan lebih.
Kyuhyun terdiam sejenak, mencerna ucapan paman Shin hingga akhirnya ia tersenyum lebar.
"Benarkah ahjussi?" tanya Kyuhyun memastikan. Paman Shin mengangguk.
Kyuhyun hampir bersorak kegirangan namun sebisa mungkin ia tahan. Ia menoleh ke Yesung, Sungmin dan Ryeowook yang menganggukkan kepalanya. Lalu akhirnya ia menatap Donghae yang tersenyum tipis.
"Gomawo ahjussi," ucap Kyuhyun sambil membungkukkan badannya beberapa kali di hadapan paman Shin.
Paman Shin pun hanya menepuk pundak anak itu.
"Ah, masalahmu dengan wanita itu juga sudah selesai," ucap paman Shin menambah kegirangan Kyuhyun.
"Ternyata kotaknya tertukar dan kalungnya terbawa oleh temannya," jelas paman Shin saat Kyuhyun menatapnya meminta penjelasan lebih.
"Nah. Sudah ku bilang aku tidak mengambil apapun," seru Kyuhyun pasti membuat yang lain terkikik geli.
Paman Shin mengambil amplop berwarna putih dan menyerahkannya kepada Kyuhyun, "Ini dari nyonya Yoo untukmu. Sebagai permintaan maafnya. Dia tidak menerima penolakan."
Kyuhyun menerima amplop itu dan segera membukanya. Matanya terbelalak saat melihat nominal yang tercetak di kertas cek itu. 500.000 KRW. Kyuhyun memandang paman Shin dengan tatapan ragu namun bossnya itu hanya menganggukkan kepalanya.
Donghae berdiri dan dengan bantuan Sungmin ia mendekat ke samping Kyuhyun. Ia pun merangkul bahu Kyuhyun.
Kyuhyun menoleh kearah Donghae, masih dalam keterkejutannya, "Hyung…"
Donghae tersenyum, "Kau senang?" tanyanya.
Kyuhyun mengangguk pasti membuat semua yang melihatnya ikut tersenyum lega. Hanya Donghae yang masih setia menanti suara yang akan memberikan jawaban.
"Ne. Aku sangat senang," balas Kyuhyun dengan nada riang membuat Donghae melebarkan senyumannya.
Kyuhyun memandangi kertas di tangannya lalu beralih menatap Donghae sesaat. Hal pertama yang terlintas dalam pikirannya setelah melihat sejumlah uang yang akan di dapatkannya ini adalah Donghae. Dengan uang ini, ia bisa membawa Donghae untuk periksa rutin. Dia bisa melakukan pemeriksaan untuk menentukan spesifikasi mata yang akan di daftarkan ke bank mata.
Helaan napas lega keluar dari mulutnya. Kyuhyun mengangguk pasti dan menunjukan senyuman lebar dan riangnya.
Pelangi setelah hujan. Mungkin, itu yang ku alami sekarang. Tuhan memiliki rencana sendiri untuk memberikan berkat-Nya. Semua kesulitan yang terjadi pasti memiliki makna tersendiri. Indah pada akhirnya. Dan satu hal yang aku sadari. Hae hyung… Aku tahu bagaimana perasaanmu sekarang. Kau juga akan menjadi yang terpenting untukku. Karena kau adalah hyung ku. Satu-satunya orang yang akan ku lindungi.
.
.
.
-To be Continued-
.
.
Annyeong~^^
Akhirnya bisa updet juga hehe
Maaf karena menunggu lama. Sepertinya memang tidak bisa apdet kilat lagi kkk~
Terimakasih untuk semua readers dan semua yang reviewnya^^
Jangan salahkan lye jika setiap chap nyesek ya, namanya juga angst /peace/. Semoga tidak mengecewakan.
Btw, besok adakah yang mau dateng ke event Lotte, ketemu KangHae? :3
See ya next next chap~
LyELF
.
Special Thanks to :
ChoNarra, Desviana407, Fitri MY, ChikaKYU, Jmhyewon, lianpangestu, AriskaXian, 92line, AngeLeeteuk, ratnasparkyu, Casanova indah, thiefhaniefhaa, kkyu32, Aisah92, dewiangel, Aulia, cece, riekyumidwife, FiWonKyu0201, nureazizah, yolyol, poppokyu, vha Chandra, Gyurievil, kyuline, gyu1315, Anonymouss, bella0203, heeeHyun, SelliHae, shakyu, haekyuLLua, ChoYeonRin, Choi Chahyun, dewi, Shinjoo24, MissBabyKyu, NaraKim, Naurra, Safa Fishy, ekha sparkyu, lee kyula, arumfishy, kyuzi, kmilla88, Evilkyu Vee, Hanhan, MichelleMaydeline, Kiyuh, chairun, elfishy09, and all Guest.
