Glass Chapt 5.

Warning: Diharap bagi para pembaca yang masih dibawah umur dilarang keras untuk membaca chapt ini, tanpa bimbingan orang dewasa (Gak inget umur -_-")

.

.

.

Hyuk Jae Pov.

Aku menatapnya…

Dia menatapku…

Dan…

Posisi kami benar-benar berada dijarak pandang terjelas….

Senyuman hangat itu ia tunjukkan untukku, bahkan ketika sorak-sorai para tamu terasa menyesakkanku ia tetap tersenyum dalam posisi terbaiknya.

Tap…

Aku memundurkan langkahku, mencoba bersembunyi dari pandangannya yang terasa mengikatku. Dan begitu pula dengannya, ia mencoba mendekatiku namun langkahnya terlihat sangat berat.

Dia hampir menangis…

Mungkinkah ia menangis karena aku?

Kukira itu benar, karna sekarang dirikulah yang menjadi pihak paling jahat disini. Dimana aku menjadi sang antagonis dalam panggung semu ini. Aku memejamkan mataku sejenak, itu kulakukan agar air mata ini tidak jatuh dengan bodohnya melewati pipiku. Ini bukan tempat yang tepat untukku menangis, dan aku berani bertaruh mereka akan memandangku dengan remeh jika aku melakukannya disini.

Aku tak bisa menyeka air matamu Choi Donghae…

Bahkan gumaman cinta yang selalu kau lontarkan untukku setiap malam sangat sulit untuk kubalas.

Bukan, aku berani bersumpah aku bukannya tidak mau, hanya saja ini terlalu sulit bagiku. Terlalu sulit untuk mengatakan bahwa pria menjijikkan sepertiku telah menjatuhkanmu kedalam sebuah pusaran hitam yang bahkan tak pernah terpikirkan olehmu.

Disini aku hanyalah orang jahat…

Yang selalu dituntut untuk menjadi pihak paling baik…

Tapi aku tidak bisa…

Dan sekali lagi, itu sangat sulit untukku. Untuk sekarang, ini bukanlah cinta yang kuinginkan…

Hyuk Jae Pov END.

.

.

.

Author Pov.

Kemunculan seorang gadis cantik dengan gaun mewahnya mengalihkan pandangan setiap orang yang berada disana, segala mata terarah padanya. Menjadi pusat perhatian ketika seseorang malah ingin bersembunyi didalamnya.

Wanita itu tersenyum manis, namun satu senyuman getir ditunjukkannya untuk seorang laki-laki disudut sana yang tengah menatap mereka dengan kosong. Wanita cantik itu ingin menangis, tatapan pria pucat itu terlalu menuntutnya dan itu membuat langkahnya semakin sulit.

Lama mereka bertatapan, bertanya tentang sebuah kepastian yang selalu dipertanyakan. Hingga salah seorang pengiring menyadarkan wanita cantik itu. Ia berjalan pelan kearah namja brunette yang tak jauh dari keberadaannya. Langkahnya sangatlah bimbang, ia masih menerka-nerka memikirkan konsekuensi apa yang akan diterimanya ketika ia sudah memilih sebuah pilihan.

Lee Sungmin, wanita cantik itu menghela nafas. Raut sedihnya ia sembunyikan dibalik renda yang menyembunyikan wajahnya. Uluran tangan yang diperolehnya dari Donghae membuatnya semakin kalut, sesekali yeoja cantik ini melirikkan pandangannya kepria yang kini hanya menatap adegan itu dengan wajah yang amat miris.

Sekali lagi ia menghela nafas untuk memantapkan hatinya. Jarak diantara Sungmin dan Donghae semakin menipis. Satu orang pria…, ah tidak! Dua orang pria kini menitikkan air mata. Bukan air mata kebahagian ataupun air mata haru yang seharusnya menjadi pendamping mereka saat ini. Air mata itu, air mata kesedihan…

Seorang Pastor ditengah mereka mulai memanjatkan sebuah doa sekaligus janji yang diikuti oleh kedua insan ini. Janji suci itu sedikit tersendat keluar dari bibir Donghae ketika tatapan mata Hyuk Jae seolah meminta sebuah harapan.

Dan sorak sorai kembali terdengar saat janji-janji memuakkan bagi Donghae itu terselesaikan dengan mudah. Tepuk tangan, jepretan kamera, juga senyuman menghiasi suasana pernikahan mereka.

Seseorang datang membawa objek indah berkilau ke tempat mereka berada. Menyerahkan sebuah kotak berwarna merah darah itu pada Donghae. Jemari lentik Donghae benar-benar bergetar, rasa bersalah dan dosa yang menuntutnya selalu menjadi pihak yang akan menakutinya kelak.

Hyuk Jae kembali menangis ketika jemari Donghae mulai membuka kotak tersebut dengan gerakan perlahan. Semuanya terasa menyayat hatinya. Ini lebih dari sebuah pengkhianatan yang biasanya ia lakukan, ini adalah takdir yang terlalu menjatuhkannya. Tuhanpun membenarkan opini tersebut dengan senyuman hangat namun angkuh yang menjadi senandung mengerikan bagi diri Lee Hyuk Jae.

Donghae memejamkan matanya berat ketika tatapan sang ayah menjadi fokus utama dirinya untuk segera menyematkan cincin berlian itu kejemari lentik Lee Sungmin. Disaat-saat seperti ini ia masih berharap sebuah keajaiban akan datang. Membiarkan dirinya terlepas lalu menarik Hyuk Jae pergi dari takdir kejam ini.

Namun ia sadar, ini bukan sebuah dongeng. Bukan dongeng yang akan berakhir dengan bahagia ketika sang pemeran utama bersatu dengan segala kesederhanaan yang menjadi pemanisnya. Ini adalah kerealistisan yang menuntut dirinya untuk tetap bertahan ditempat ketika dirimu ingin merasakan apa itu kebahagian yang sebenarnya. Seperti…

Terluka dan melukai.

"Aku minta maaf." Gumaman Donghae tertangkap jelas iris mata Hyuk Jae ketika cincin berlian yang tengah dirutuki Hyuk Jae tersemat pas dijemari Tan Sungmin.

Hyuk Jae mengangguk mengerti. Ia menjauhkan dirinya dari kerumunan para tamu, beralih ketempat tersepi yang ada ditempat ini. Ia menepuk dadanya saat air mata itu benar-benar enggan untuk berhenti menetes. Tangannya melekat pada tembok, menumpu tubuhnya yang terasa amat lemas dan kehilangan keseimbangan. Keseimbangan yang sebenarnya memang sudah terenggut sejak dulu.

Tapi takdir kini juga menuntut bekasnya, sebuah bekas yang bahkan tak berarti apa-apa bagi orang lain namun terlalu berharga untuknya. Choi Donghae, Tuhan memintamu untuk melepaskannya Lee Hyuk Jae, dosamu sudah terlalu besar untuk dimaafkan. Mungkin kau adalah pendosa yang paling menjiikkan yang pernah datang ke kuil barat. Begitulah mereka menganggapmu…

"Aku tidak kuat lagi…" Hyuk Jae bergumam dengan segala batasan yang dimilikinya.

.

.

.

Seorang wanita cantik yang mengetahui keberadaan Hyuk Jae, juga tengah menahan tangisnya. Dirinya tidak ingin terlihat bodoh untuk menangis tersedu-sedu di acara pernikahan sang anak karena alasan yang tidak logis. Park Jung Soo berdiri ditengah kerumunan dengan pandangan sendunya yang hanya berpusat pada laki-laki yang kini menangis disudut rumah mewah ini.

Dirinya sadar, ia bahkan tak layak hanya untuk berkata bahwa kini perasaan iba tengah melanda hatinya. Dan ia tahu bayang-bayang tentang hal ini terjadi akibat kebodohannya, membuatnya tak bisa berkutik lagi selain mencoba untuk menegarkan diri agar berhenti bersikap sebagai orang yang munafik.

Berbeda dengan sang istri, Yeong Won kini memberikan sebuah ekspresi datarnya. Ia juga tengah memperhatikan Lee Hyuk Jae dengan tatapan mengintrograsi. Bisikan lemahnya disambut sempurna kedalam indera pendengaran sang kaki tangan.

Kaki tangan Choi Yeong Won itu membungkuk mengerti ketika sebuah perintah menjadi awal permainan didalam kisah cinta rumit namun lebih sederhana dibanding dengan dongeng-dongeng yang tercipta sebelumnya. Tak ada apel beracun, tak ada ibu peri, tak ada ibu tiri yang jahat, tak ada penyihir, juga tak ada kutukkan keramat. Ini menjadi begitu rumit hanya karna satu hal, yaitu keeogisan…

.

.

.

Kibum menatap kedatangan dua insan keacara pernikahan sang adik ipar dengan sinis. Decihan yang ditunjukkan untuk Henry tertangkap jelas oleh obsidian kelam sang suami. Kibum melangkahkan kakinya maju, mendekati tempat Zhoumi dan Henry yang tengah bergandengan mesra. Siwon ingin menghentikan langkah sang istri. Tapi bodoh baginya jika ia masih bersikeras melakukan itu.

Kemauan keras dari Kim Kibum membuatnya tak bisa berkutik, bahkan kini dua pasangan itu saling berhadapan menunjukkan kemesraan yang sangat menjijikkan.

Kibum tersenyum anggun menyambut kedatangan Zhoumi juga Henry, begitu juga dengan Henry dan Zhoumi yang saat ini tengah memberikan sebuah tundukkan hormat pada seorang yang lebih tinggi sebagai bentuk formalitas, juga salam awal pertemuan antara Kibum dan Zhoumi.

"Kau datang? Mungkinkah dia kakakmu yang sering kau ceritakan padaku, Henryssi?" Kibum berujar dengan penekanan kata yang begitu kentara. Hanya Zhoumi yang tak merasa janggal dengan hal tersebut. Siwon bahkan mencoba melepaskan genggaman erat tangan sang istri saat dirinya tersadar, akan sebuah ketidak nyamanan yang melanda hatinya.

"Ne. Zhoumi-hyung, perkenalkan ini nyonya Kim. Dia atasanku, aku pernah menceritakan tentangnya padamu sebelumnya bukan?" Henry berujar singkat. Mata sipitnya memberikan sebuah respon buruk pada Siwon yang juga melakukan hal yang sama pada dirinya.

Melakukan perang mata menjadi pilihan yang tepat saat ini untuk Siwon juga Henry.

"Ah, ne…, annyeonghaseyeo. Benar kata Henry, kau sangat cantik." Salam sopan nan hangat itu hanya dibalas dengan senyuman angkuh dari Kibum. Kibum menyeringai tipis ketika mendapati pandangan Henry teralihkan pada dirinya. Mereka saling bertatapan lama melupakan kedua orang yang menatap mereka dengan tatapan yang berbeda-beda.

Satu dengan sebuah kebingungan dan satu lagi dengan sebuah kesengsaraan.

Siwon dengan sekuat tenaga akhirnya berhasil melepaskan genggaman tangan sang istri dari jemari lentiknya. Setelah sebelumnya memberikan salam perpisahan pada Zhoumi, ia melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Kibum yang tengah menatapnya dengan nanar. Ekspresi datar lagi-lagi menyambut 2 manik Henry ketika dirinya ingin memandang sang pangeran salju didepannya.

.

.

.

Langkah Siwon tiba-tiba tercekat, ia menghentikan langkahnya dan mengkerutkan keningnya ketika siluet wajah yang tampak sama mengingatkannya pada seseorang. Lee Hyuk Jae, nama itu terngiang setelah keterkejutannya hilang. Dengan pelan ia mendekati tubuh kurus yang tengah sibuk menyeka air matanya.

"Hyuk Jae-ah…?" Ucapnya ragu berusaha memastikan bahwa orang yang ada didepannya kini benar-benar orang yang ia maksud. Tubuh Hyuk Jae menegang sekita, ketika kontak mata diantara mereka mulai terjalin.

"H…hyung?!" Ucapnya terbata berusaha sekuat tenaga menyembunyikan kepanikannya. Terdengar jelas bahwa suaranya sangat lirih kini.

"Kenapa kau bisa ada disini? Kau kenal dengan seseorang disini? Kenapa datang kepernikahan adikku?" Pertanyaan yang dilontarkan Siwon langsung membrondong Hyuk Jae yang masih sibuk menetralisir ketakutannya. Namun matanya melebar ketika kata 'adikku' tertangkap jelas olehnya.

"Adik?" Bukan sebuah jawaban tapi sebuah pertanyaan yang sekarang meluncur dari bibirnya. Refleks Siwon menganggukkan kepalanya, mencoba membenarkan ucapan laki-laki manis ini.

"Tan Sungmin?" Tanya Hyuk Jae lagi. Siwon kembali mengkerutkan keningnya ketika sebuah pikiran-pikiran aneh yang siap menjadi fakta muncul dalam benaknya.

"Tunggu, darimana kau tahu nama Tan Sungmin? Dan kenapa kau bisa ada disini?" Tanya Siwon lagi. Hyuk Jae terdiam memikirkan sebuah jawaban yang harus ia berikan pada laki-laki nyaris sempurna ini.

"Lupakan, harusnya aku tahu adikmu siapa." Jawab Hyuk Jae singkat ditengah keterkejutannya menyadari fakta bahwa orang yang beberapa tahun lalu pernah menjadi titik ternyamannya adalah kakak dari seseorang yang menjadi penguasa hatinya kini. Ia berjalan cepat meninggalkan Choi Siwon sambil menyeka air matanya cepat.

Namun dengan sigap, Siwon meraih tangan kurus itu hingga kini malah berbalik menghadapnya lagi. Hyuk Jae sempat terlonjak dengan gerakan spontan yang dilakukan Choi Siwon padanya. Hyuk Jae mencoba melepaskan genggaman tangan kekar itu namun sebuah kesia-siaan kini didapatkannya.

Sorak sorai mengalihkan perhatian semua orang termasuk kedua orang ini. Dua insan yang menjadi tokoh utama dalam acara ini kini tengah bercumbu mesra didepan banyaknya tamu yang datang. Tubuh Hyuk Jae membeku, lelehan air mata sekali lagi membasahi pipinya. Bahkan ia melupakan keberadaan Choi Siwon yang tengah memandang aneh reaksinya.

Ia menghempaskan kasar genggaman tangan Siwon ketika cumbuan itu semakin intens. Siwon kembali menginstrupsi kegiatan Hyuk Jae dengan genggaman tangan kekarnya.

"Kau belum menjawab pertanyaanku, jadi mana boleh kau pergi begitu saja. Lagipula acaranya belum selesai." Tegas Siwon membuat Hyuk Jae terpaksa menuruti keinginannya.

.

.

.

Suasana hening diantara kedua orang ini berbanding terbalik dengan hiruk pikuk para tamu didepannya. Sang pengantin akan membuang buket bunga yang dibawanya. Jelas saja semua tamu berkerumun didepan sana berniat menjadi seseorang beruntung yang mendapatkan buket bunga penuh mitos itu.

Tapi tentu saja itu tidak akan terjadi pada Hyuk Jae. Masa bodoh dengan mitos itu, masa bodoh dengan segalanya. Ia hanya ingin pergi, melarikan diri dari tempat yang menurutnya tak lebih baik dari neraka ini.

"Hana! Dul! Set!" Teriakkan serempak dari para tamu saat Sungmin mulai mengayunkan buket bunga itu kebelakang tubuhnya. Donghae mulai memamerkan senyum manisnya saat hitungan ketiga mulai terucapkan…bunga itu melayang…dan…

PUK!

Bucket bunga itu sukses berada ditangan Hyuk Jae. Semua mata terfokus pada dirinya, begitu juga dengan Donghae, Sungmin, juga Siwon yang berada disampingnya. Hyuk Jae gelagapan, tatapan Donghae yang seakan memerintahkannya untuk pergi juga tatapan Sungmin yang seakan menghina dan menyuruhnya untuk tetap diam. Sungmin tersenyum sinis melihat gerak-gerik yang ditunjukkan Hyuk Jae.

Hyuk Jae bersiap membalikkan dirinya, genangan kristal yang selalu menghampirinya sejak langkah kakinya dimulai ditempat ini tertangkap jelas oleh Siwon.

"Kurasa aku tidak perlu memberitahumu kenapa aku ada ditempat ini." Gumamnya rendah yang hanya terdengar oleh Siwon sebelum sukses melangkahkan kakinya pergi.

.

.

.

Hyuk Jae memandang nanar batu nisan didepannya, berpahatkan sebuah nama, nama seorang wanita yang sangat berarti dikehidupan Choi Donghae, tempat sang ibu kandung mengistirahatkan dirinya. Hyuk Jae terduduk disamping makam setelah sebelumnya meletakkan buket bunga yang didapatkannya dari pernikahan sang anak tepat diatas tanah basah itu. Menyiram sebotol soju ketempat itu, keatas tanah subur dengan rumput segar yang mengelilinginya sembari memanjatkan doa-doa abstrak.

Ia memejamkan matanya sejenak merasakan aura dingin yang menyapa tubuhnya. Tatapan kosong itu menjabarkan bagaimana kondisi hatinya saat ini. Cairan soju yang masih tersisa dibotol itu ditegaknya hingga tak bersisa. Rasa pahit yang memenuhi ruang mulutnya menjadi pemanis dalam kesedihannya.

"Lama tidak bertemu ahjumma." Ujarnya lemah kepada seseorang diatas sana. "Anakmu sudah menikah sekarang, bukan denganku. Mempelainya sangat cantik tapi jujur saja aku tidak menyukainya." Lanjutnya lagi. Isakkannya muncul dan air mata mulai jatuh membasahi tanah basah itu.

"Kau tidak membencikukan ahjumma? Aku mengacaukan hidup laki-laki itu. Tapi dia juga melakukannya padaku, haruskah aku meminta maaf sekarang?" Ujarnya lagi. Tak ada jawaban atas pertanyaannya.

Hanya angin, angin yang kembali menghardik setiap tindakannya.

"Aku minta maaf, aku minta maaf, aku minta maaf, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku…" Kalimat itu terus diulangnya. Ditengah isakan lirihnya juga deraian air mata yang tak kunjung berhenti membasahi setiap ruang wajahnya.

"Tapi apakah hanya aku yang bersalah? Aku bahkan sudah meminta maaf…" Kembali ia berujar. Hyuk Jae mendirikan tubuhnya dengan susah payah. Tatapan tajamnya memicing menatap buket bunga itu tajam.

"Kalian berdua harusnya mati…"

"Choi Donghae! Tan Sungmin!" Teriakkan itu benar-benar menggema dilahan kosong namun mencengkam ini. Teriakkan dengan segala emosi yang memenuhinya.

.

.

.

Hyuk Jae melangkahkan kakinya berat. Ia menysuri jembatan sungai Han dengan tangisan yang masih tak kunjung terhenti. Tanpa sadar sebuah mobil sport mewah berwarna hitam tengah mengikuti langkah lemahnya.

Ia menjatuhkan dirinya tepat menghadap sungai. Orang yang berada didalam mobil mewah itu sontak akan mengeluarkan tubuhnya dari mobil, namun hal itu urung ia lakukan saat jawaban pasti dari pertanyaannya sudah berada didepan matanya.

"Eomma!" Hyuk Jae berteriak kencang, memanggil sebuah julukkan untuk seseorang yang kini berada jauh dari jangkauannya. Bahkan kebaradaan orang tersebut telah lenyap dari dunia yang dipijakinya.

"Kenapa mendapatkan satu orang saja begitu sulit?! Aku hanya menginginkannya!" Teriaknya frustasi seraya mengacak surai cokelat yang dimilkinya. Nafasnya terengah berusaha menstabilkan emosinya. Suara mobil yang berlalu lalang tak mampu menyamarkan teriakannya.

Bahkan sosok itu kini mendengarnya, mendengarnya dengan sangat jelas. Hyuk Jae mendekatkan tubuhnya kepembatas jembatan hingga dirinya berhasil menatap aliran air sungai Han dengan sangat jelas. Langit malam yang menghitam senada dengan kondisi hatinya yang buruk.

Laki-laki didalam mobil mewah itu mulai melangkahkan kakinya untuk keluar. Suara debaman yang dihasilkan gesekan dari pintu mobil menyadarkan Hyuk Jae dari keterpurukkannya.

Kontan saja Hyuk Jae membulatkan matanya. Ia menatap arah suara dengan takut-takut. Ia hendak melangkah mundur namun tatapan laki-laki didepannya seperti menitahkan dirinya untuk tetap diam ditempatnya berada.

"Aku tidak percaya ini…" Bisikkan lemah itu kembali mengurungnya dalam sebuah ketidak pastian. Siwon, laki-laki itu melangkahkan kakinya maju menuju tempat Hyuk Jae berada. Langkah mereka semakin dekat hingga dua iris kelam itu saling bertautan.

"Kau dan adikku? Jadi bintang besar yang kau maksud itu dia?" Pertanyaan dari Siwon benar-benar membungkam mulutnya. Hyuk Jae tidak dapat berkelak lagi, semua tuduhan itu mengarah pada dirinya dan kini ia menjadi tersangka atas kesalah besar itu.

"Lee Hyuk Jae katakan padaku…" Siwon menekankan kata-katanya. Hyuk Jae menggeleng lemah, tidak bermaksud untuk berkelit. Sebuah gelengan yang ditunjukkan atas ketidak sanggupan menjawab pertannyaan dari namja tampan itu.

"Tidak…, katakan padaku. Kau mengenalnya?" Siwon menggengam kuat pundak Hyuk Jae. Memaksa Hyuk Jae untuk menjawab segala pertanyaan yang terus membayanginya berjam-jam yang lalu.

"Jadi orang yang ibuku maksud adalah kau?" Siwon kembali melontarkan pertanyaan yang tak dimengerti atau benar-benar dimengerti oleh Hyuk Jae. Hyuk Jae menundukkan kepalanya.

Menyembunyikan wajahnya atas rasa malunya. Melihat respon Hyuk Jae yang begitu kentara, Siwon hanya mendengus dalam ketidak percayaannya.

Ia melepaskan genggaman tangannya pada bahu Hyuk Jae. Mengumpat sesuatu yang bahkan tak terdengar oleh Hyuk Jae. Siwon benar-benar terkejut, bahkan ia tidak bisa menerima apa yang tengah melandanya kini. Dunia begitu sempit…, atau takdir yang terlalu kekanak-kanakkan?

"Hyung…" Hyuk Jae membuka suara, dengan perlahan Siwon kembali memfokuskan pandangannya pada Hyuk Jae yang sekarang tengah menatap wajahnya dengan intens.

"Apakah kesempatan yang kau maksud itu masih berlaku?" Tanyanya yang langsung dibalas pelukan hangat oleh Siwon. Keadaan benar-benar membuatnya menjadi orang yang jahat…

.

.

.

Donghae menatap objek layu didepannya nanar. Batu nisan itu seperti menjawab pertanyaan yang terus terlontar dalam hatinya. 'Hyuk Jae datang?' Pikirnya masih menatap buket bunga itu dengan tatapan yang tak bisa diartikan.

Ia terduduk disamping makam, keadaan yang mengcekam saat tengah malam tak menurunkan niatnya untuk tetap berada ditempat mengerikan ini. Jemari panjangnya meraih ponsel pintarnya. Mengetik beberapa baris kata yang hendak dikirmkannya untuk seseorang. Setelah itu ia kembali menyimpan ponsel pintar itu kedalam saku celananya. Doa-doa untuk sang Budha ia panjatkan.

.

.

.

Sungmin menatap layar ponselnya sinis. Pesan yang dikirimkan Donghae benar-benar membuatnya muak. Tangannya bergetar menahan rasa sedih ketika sebuah panggilan menginstrupsi kegiatannya yang tengah memikirkan bagaimana kelanjutan kisah cintanya.

Ingin sekali ia menekan tombol merah untuk menghentikan suara dari nada deringnya namun hal itu urung dilakukannya. Nama itu, suaranya, bahkan wajahnya sekarang terus membayangi pikiran Sungmin.

Sungmin menatap kamar hotel yang ditempatinya nanar. Bahkan rumah yang disiapkan sang orang tua untuk ditempati kedua mempelai ini hanya sia-sia sekarang. Ia kesepian dan dirinya merasa jatuh seketika. Pengorbanan yang dilakukannya untuk orang yang dicintainya hanya dianggap sebuah bualan belaka.

Ia membaringkan tubuhnya keatas ranjang berukuran besar nan elegan. Menekuk lututnya dan menengelamkan wajahnya disana. Memejamkan matanya mencoba menghalau segala kegelisahan yang mendera pikiran juga hatinya.

Tok!

Tok!

Tok!

Tok!

Suara ketukkan pintu yang berulang membuat Sungmin tersadar dari lamunannya. Ia mengerjapkan matanya bingung mencoba menebak siapa orang yang tengah menganggu kesendiriannya. Langkah lemahnya berirama dengan suara ketukkan yang semakin mengeras.

Ia membuka pintu lemah, mendongakkan wajahnya keluar pintu menatap siapa orang yang berani mengganggunya.

Dan seketika itupula matanya melebar. Ia menatap iba sosok didepannya. Keadannya sangatlah lusuh. Pakaian yang berantakan juga surai ikal yang teracak diterpa angin. Namja bersurai ikal itu menatap Sungmin dengan kosong.

Melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar tanpa persetujuan Sungmin sebelumnya. Sungmin terdiam sejenak, kemudian ia menutup pintu kamar hotel dengan gerakkan lemahnya.

"Dari mana kau tahu aku ada disini?" Sungmin membuka suara. Laki-laki bersurai cokelat itu membalikkan tubuhnya tepat memandang obsidian teduh milik Sungmin.

Langkahnya terdengar mendekati tubuh mungil wanita itu. Memeluknya erat ketika jarak tak mampu lagi memisahkan mereka. Kyuhyun, pria itu mendekatkan bibirnya ketelinga Sungmin. Membiarkan Sungmin mendengar segala helaan nafas yang dikeluarkan oleh tubuhnya.

"Apapun akan kulakukan untukmu, ini bukan apa-apa bagiku." Bisiknya lemah membuat siapa saja yang mendengarnya bergetar, termasuk Sungmin yang kini tengah menahan tangisannya.

Kyuhyun mengelus lembut surai sehitam arang milik Sungmin. Memberikan sebuah kehangatan mendalam untuk wanita yang dicintainya itu. Kyuhyun mendekatkan wajahnya kearah wajah Sungmin.

Hingga jarak mereka benar-benar tak tersisa sedikitpun. Melumat bibir bersahpe-M itu penuh nafsu namun tentu saja ia melakukannya atas dasar cinta yang mendalam.

Ciuman itu kini berubah menjadi lumat-lumatan kasar. Begitu menuntut namun menggairahkan. Kyuhyun mendorong tubuh Sungmin kearah ranjang berdiameter luas tersebut. Kembali menerjang dan memberikan rangsangan cinta yang tak akan pernah didapatkannya dari lelaki yang sudah menghancurkannya, Choi Donghae.

.

.

.

"Ini…"

Sebungkus heroine diterimanya dari sang sahabat, Shim Changmin. Hyuk Jae menerima obat-obatan itu dengan tatapan kosong. Menghirupnya sejenak memastikan bahwa barang yang dimintanya benar-benar barang yang ia maksud.

Hyuk Jae menepuk singkat punggung Changmin, berterimakasih atas apa yang dilakukan Changmin untuk dirinya, namun belum sempat Hyuk Jae melangkah untuk pergi dari rumah flat Changmin, laki-laki berjulukkan evil itu menahan tubuh Hyuk Jae dengan tangannya. Menggenggam erat tangan sang sehabat dengan pandangan sendunya.

"Kau tahu, ini adalah yang paling cepat membuat kita ketergantungan. Aku harap kau mengerti apa maksudku Hyuk…" Terangnya. Gurat kekhawatiran terlukis jelas dalam siluet wajahnya, Hyuk Jae mengangguk mengerti lalu menggenggam tangan Changmin dengan erat.

"Aku tahu, terimakasih." Katanya singkat memutus pertemuan mereka dipagi buta ini.

.

.

.

Hyuk Jae membuka pintu apartement mereka lemah. Mulai menghidupkan penerangan yang membantu indera penglihatannya untuk melihat walau dengan tatapan yang kosong sekalipun. Setelah meletakkan jaket juga tas selempangnya keatas sofa ia mulai melangkahkan kakinya menuju dapur.

Meraih sebuah sendok juga lilin kecil yang berada didekat meja makan mereka. Setelah itu ia mendudukkan dirinya didekat sofa, menjatuhkan dirinya tepat keatas lantai. Menyerap dinginnya tanah yang seakan ingin menelan tubuh kurusnya dalam sebuah kesakitan.

Jemarinya terulur meraih beberapa bungkus 'obat', juga jarum suntik yang diterimanya dari sang sahabat. Mulai menyalakan lilin juga meneteskan sedikit air kedalam sendok logam itu. Hyuk Jae juga menaburkan serbuk 'heroine' itu keatas air yang sudah dididihkan sebelumnya diatas sendok logam dengan lilin kecilnya.

Setelah membiarkan obat itu larut kedalam air tersebut, Hyuk Jae segera memasukkan cairan yang dibuatnya kedalam jarum suntik yang sudah berada digenggamannya.

Matanya sejenak terfokus pada objek kesakitan didalamnya. Masih mencoba menimbang segala tindakan juga konsekuensi yang mungkin saja menimpanya kelak. Ia menghela nafas dalam berusaha meyakinkan dirinya.

"Aku mohon maafkan aku, maafkan aku, aku minta maaf." Gumamam doa itu ia tunjukkan untuk sang Budha. "Hiks…, aku benar-benar minta maaf." Lagi ia menggumamkan kata itu. Entah ini sudah keberapa kalinya kata itu terucap dari bibir manisnya.

Ia meletakkan jarum suntik yang sudah berisi 'heroine' itu keatas lantai. Sedikit menyibak celana jeans yang digunakannya keatas. Memudahkannya untuk mencari tempat yang aman agar bekas dari suntikan itu tak akan nampak.

Ia mengarahkan jarum suntik itu tepat kearah jempol kakinya. Matanya terkatup rapat berusaha menghalau segala ketakutannya. Mengekrutkan kakinya ketika sensasi sengatan terasa menjulur memasuki tubuhnya, memberikan sebuah rangsangan ketenangan yang selalu dituntutnya.

Hyuk Jae memejamkan matanya sejenak membiarkan cairan itu mengalir keseluruh tubuhnya. Bersandar pada kaki sofa sembari mencari sebuah ketenangan absurd yang hanya bisa diperolehnya dengan cara buruk nan kotor ini.

Cara kotor dimana langit kembali menuduhkan dirinya kedalam sebuah kesalahan besar. Membiarkan angin membawa bisikkan yang menyatakan seberapa besar dosa yang telah dihasilkannya.

.

.

.

Getaran dari ponsel pintar itu menyadarkan Donghae dari tidur tenangnya. Ia mengerjap kaget ketika sadar dirinya tengah tertidur diatas lahan pemakaman. Bias matahari yang terpantulkan secara gamblang membuat kedua manik teduhnya mengerjap tak nyaman.

Perlahan ia membangunkan tubuhnya, meraih ponsel pintar yang diletakkan kedalam saku jas mahal miliknya. Donghae segera menekan tombol 'answer' ketika mengetahui siapa yang menghubunginya kini.

"Yeobsaeyeo eomma?"

.

.

.

Laki-laki berwajah teduh itu melangkahkan kakinya menuju apartement mereka dengan wajah lusuhnya. Pakaiannya berantakan begitu juga dengan surai brunettenya yang teracak tak rapi. Senyumannya terkembang saat ia berhasil berada tepat didepan apartement pribadi miliknya juga milik sang kekasih.

Decitan pintu terdengar ketika Donghae berhasil masuk setelah memasukkan beberapa kode pin rumah mereka. Ia berjalan masuk kedalam apartement itu dengan wajah yang berbeda 180 derajat dengan wajahnya yang sebelumnya.

Senyuman manis tak pernah luntur bahkan ketika dirinya kini sudah mendapati sang kekasih menatap kosong jendela apartement diatas lantai.

Tak ada respon yang diberikan Hyuk Jae ketika mengetahui sang kekasih tengah berdiri menatapnya dengan tatapan lembut. Ia masih memandang langit dengan bias fajar yang hampir menghilang.

Donghae melangkahkan kakinya mendekat kearah Hyuk Jae. Namun betapa terkejutnya ia ketika sebuah bungkusan obat mengalihkan pandangannya. Jarum suntik, lilin yang sudah redup, juga sendok logam semakin membuatnya bingung.

Mata teduhnya menatap marah kearah Hyuk Jae. Ia meriah cepat bungkusan tersebut lalu mencicipinya sedikit memastikan kecurigannya.

Matanya sontak membulat, ia menggeleng tak percaya. Dihempaskannya benda itu kasar tepat kearah Hyuk Jae.

Hyuk Jae? Ia masih terdiam tak bergeming. Tak ada respon, matanya masih terfokus pada pemandangan yang menurutnya sangat indah itu.

"Kau! Apa yang kau lakukan?!" Geram Donghae. Hyuk Jae masih diam tak berniat membalas, bahkan ketika Donghae mulai menelusuri tubuhnya untuk memastikan opininya, Hyuk Jae masih terdiam tak bergeming.

Sebuah bekas luka membiru dibagian jempol kaki Hyuk Jae mau tak mau membuat Donghae meneteskan air matanya. Ia menjatuhkan dirinya keatas lantai, tepat dihadapan Hyuk Jae dengan tangisan yang bahkan tak ditanggapi oleh namja manis ini.

Dengan terpaksa namja bersurai coklat itu mendongakkan wajahnya menatap laki-laki yang kini berada dibawah tubuhnya.

"Aku sudah tidak kuat, maafkan aku…" Ucapnya berusaha membuat sebuah pembelaan.

Donghae mendekati namja manis itu. Menangkup wajahnya, memaksa kedua manik sipit itu memandang iris hezel teduhnya. Mereka saling bertatapan, Donghae memandang Hyuk Jae dengan lembut. Mengecup bibir kissable itu singkat lalu merengkuhnya dalam pelukan hangatnya.

Hyuk Jae masih saja kokoh dalam kekosongannya. Ia terdiam dalam kehangatan yang Donghae berikan untuknya. Lelehan air mata yang jatuh ketika mendengar isakkan Donghae masih mengkokohkan keegoisannya.

Ia hanya ingin bahagia, walau itu semu tapi setidaknya…

Itu masih bisa terasakan…

.

.

.

TBC.

.

.

.

Mind to review?.

.

.

.

Author note: Chapther 5 akhirnya kami updet lagi, maaf jika di chapt ini penggambaran Hyuk Jae kami buat sedikit ekstrem. Huh~ apa menurut readers sekalian Sungminlah yang paling jahat? Eum..entahlah menurut kami Hyuk Jaelah yang paling jahat. Hehehe~ Maaf juga atas typo, alur yang aneh, diksi yang tidak jelas, juga kata-kata yang menyinggung para readers sekalian. Sampai jumpa di chapt depan ^^, untuk chapt ini kami akan membalas review, maaf baru bisa membalasnya sekarang dan itupun hanya review untuk chapt 4. Tapi jujur, kami sangat berterimkasih pada kalian semua para reader ^^

Jadi apa ff ini masih pantas untuk dilanjutkan?

.

.

.

Balasan review.

Sullhaehyuk: Jeongmalyeo? Chingu benaran mewek karena ff kami? Hu~ kami seneng dengernya ^^, ternyata ff kami masih bisa buat orang nangis wkwkwkwk. Kata-kata Hyuk Jae lebih jleb lagi chingu hehe, kami malah kasihan dengan semua cast yang ternistakan. Untuk bersatunya, eum…kita tunggu endnya aja ya chingudeul? Terimakasih atas reviewnya ^^.

Lee ikan: Hu~ kami juga nangis, heheheh XD! Semuanya kasian chingu! #tarikhyuk. Ini udah dilanjut ^^, terimakasih atas reviewnya ^^.

Wonnie: Betul chingu-deul! Sekali-kali biarkan Wonppa yang tersiksa! Jangan Bumma terus! #diinjek. Ini karma phala karena Wonppa sering selingkuh di ff lain, huahahahahaa! Huhu~ chapt depan sepertinya Wonppa bakal lebih tersiksa. Endnya? Biar waktu yang menjawabnya. Kekeke! Terimakasih atas reviewnya ^^.

Bluerissing: Hu~ andwae! Kalo dilepasin HaeHyuknya gimana? Sungmin jahatkah? Donghae lebih jahat lagi #ditabok. Ming gk menerima Kyu karena, Ming sukanya sama Hae eonni ^^, kesempatan akan terungkap dichapt selanjutnya, atau dichapt ini sudah terungkap? Hehehe, yang pasti eonni harus baca terus kalo mau semuanya benar-benar terungkap. Ini udah dilanjut eonni, Terimakasih atas reviewnya ^^.

Hideyatsutinielf: Betul! Semuanya memang sangat egois chingu ^^! Ini sudah dilanjut, terimakasih atas reviewnya ^^.

Amandhharu0522: Huhu! Saya senang chingu jadi korban ff ini..*eh? Hu~ terimakasih #blushing. Padahal tulisan kami ini sangat pas-passan, Iya Hyukkie selalu tersiksa karena Hae XD! Ucapan Donghae ke Sungmin bakal terungkap di chapt depan, juga ucapan Siwon akan segera terungkap! Jadi pantengin terus ne? XD! Ini next chaptnya, kami tidak tahu chapt ini bakal buat chingu nangis atau nggak, tp kami harap chingu mewek semewek-meweknya chapt lalu. Terimakasih atas reviewnya ^^.

Paprikapumkin: Terimakasih karena sudah menyempatkan merivew di ff ini ^^ huhu! Maaf jika ff ini membuat chingu bingung, tapi kami berharap semoga kebingungannya makin terhapuskan di chapt ini. Ne! semuanya mainin perasaan, terimakasih karena sudah suka ^^. Hehehe! Mereka bersatu gak ya? Happy end gak ya? Tunggu chapt selanjutnya ne? Terimakasih juga karena sudah membaca ff ini ^^.

Najika bunny: aing…aing! Iya ff ini memang sangat ambigu chingudeul ^^, kami juga gk tega lihat dua uke imut ini memperebutkan namja ikan itu! Bocah upil itu sudah muncul dichapt ini XD! Sibum kelarnya diakhir chingudeul, jadi pantengin terus ne? chingu mewek? Kami seneng dengernya #plak. Terimakasih atas reviewnya ^^.

Guest: Sungmin tega banget ya chingu? Hehe iya. Dia rada sangar di ep-ep ini, Hyuk bakalan terus manis kok, pasti! Kami berani jamin! Kapan yah yuk bahagia? Tunggu jawabannya di next chapt ne? Kalo Hyuk ama Won, Bumnnya sama siapa donk? Huehehehehe XD! Ini sudah dilanjut, terimakasih atas reviewnya ^^.

KyuMinKyuMin: Hehehe, iya Mingnya jahat disini. Sungmin nikah sama Hae karena dia suka Hae. Huhu! Tidak semudah itu memperjuangkan Hae chingudeul dan tidak semudah itu juga ming kembali ke kyu *smirk #ditampol, Terimakasih atas reviewnya ^^.

Cho ri rin: Hyukie pasti sabar kok, hehehehe ^^. Terimakasih atas reviewnya chingudeul…

Dindahaehyukshipper: Pistol? Omona! O_o, kejam sangat dirimu chingu-deul… wkwkwkwkwkw, Hyukkie mau? Mau apa chingu? Kami penasaran… :3, jangan bingung. Ini udh dilanjut kok. Terimakasih atas reviewnya ^^.

Anchofishy: Hu~ Hyuk juga jahat ke Ming chingu-deul…, karena kalo Hyukkie gak kesikasa ep ep ini gak bakal tercipta chingu… wkwkwkwkwkw, gak ada maksud apa-apa kok, Cuma mau nenangin ming aja… ^^. Terimakasih atas reviewnya…, ini sudah dilanjut ^^

Lee Hyuk Nara: Iya chingu, Hyukkie-nya kasian… :'(, sukses ga yah? wkwkwkwkwk Ini sudah dilanjut, Terimakasih atas reviewnya ^^.

Guest: hu~ kami senang chingu bisa nangis baca ep-ep ini (?) ini sudah dilanjut, terimakasih atas reviewnya ^^.

86H0404H1015: Wah chingu nyesek? He~ senangnya :D, Iya, kisah cinta mereka sakit bgt…, Bahagia? Huehehehehe…, kita lihat diend nanti :), Hyuk, iya. Dia kasian chingu. Bingung juga milih siapa yang paling tersiksa. Wkwkwkwkwkw ini udah dilanjut, terimakasih atas reviewnya ^^.

Asha lightyagamikun: Satu perasaan juga yang chingu ajarkan saat kami membaca review-an chingu-deul…, blushing… wkwkwkwkwkkw, Chingu nangiskah? Ah~ senangnya :), ne! ini sudah dilanjut! Terimakasih atas reviewnya ^^.

Niknukss: Kami malah nangis pas Hyuk Jae harus liat Hae pake tuxedo saat dikamar itu lho! Hehehehe…, senang denger chingu bisa nangis karna baca ff ini. Ne! ini udh dilanjut! Tapi untuk bahagia? Eum…, masih rahasia… wkwkwkwkwkw. Terimakasih atas reviewnya ^^.

Anonymouss: Pake ilmu joko tingkir sambil berendem di kali ciliwung.#nahloh? Gweanchanayeo, sudah membaca ff ini saja sudah membuat kami senang, apalagi sudah meriview… Chingu beneran tersentuh? Wah senangnya~ Iya, kami malah lemah di fluffy chingu deul… :'(, Kami? Kami 99 line… huwa! *ketahuan masih kecil* Ini sudah dilanjut, terimakasih atas reviewnya ^^.

Guest: Nyeseknya beneran berasa chingu? Ah~ akhirnya… ini sudah dilanjut, terimakasih atas reviewnya ^^.

Mrs. Lee Hyuk Jae: Selamat datang di ff kami :D. iya, ini beneran rumit chingu. Kami aja ampe pusing mikirin alurnya… :(, flashback? Pasti ada flashback untuk chap depan, dan terimakasih banyak atas review dan masukkan chingu :). Ini sudah dilanjut, Terimakasih banyak! ^^.

Lyndaariezz: Iya chingu, dia datang dan…, ah~ pasti perasaannya benar-benar hancur, wkwkwkwkwk. Hubungan Wonhyuk akan kami jelaskan di chap berikutnya :D. Terimakasih atas reviewnya ^^.

: Iya! Sakit chingu! Sakit bgt ampe Hyuk nangis dipelukkan kami… *ditoyor Hae* wkwkwkwkw, bahagia? Wane piro? #plak! Hae juga tega selingkuh sama Hyuk… #tendang Kyu *eh? Terimakasih atas reviewnya ^^.

Riri: Ini sudah dilanjut :D, nangis? Ah~ kami seneng dengernya chingu. Terimakasih atas reviewnya ^^.

MingMin: Hue~ annyeonghaseyeo 2 chinguku yang tercinta, *sok kenal. Iya, disini konfliknya bertambah. Wkwkwkwk, alurnya jelas? Ah! Terimakasih! *bow*Terimakasih atas reviewnya ^^.

Nvyptr: Chingu mewek? Aih~ senengnya :), Haemin udh nikah tuh #nunjuk tulisan diatas. Terimakasih atas reviewnya ^^.

Lee maria: Terimakasih karena sudah bersedia membaca ep-ep ini :D. Ceritanya bagus? Ah! Terimakasih banyak! :D*bow* Ini sudah dilanjut, sekali lagi terimakasih banyak atas reviewnya ^^.

F-polarise: Ini sudah dilanjut chingu :D. sabar ne Hyukmma? *elus-elus abs Hyukmma #Hae siapin parang, wkwkwkwkwkw…happy ending? Biarkan waktu yang menjawab chingu ;D, Terimakasih atas reviewnya ^^.

Tsuioku Lee: Terimakasih :D. FF ini bikin nyesek? Ah~ berhasil akhirnya…, iya sabar ne Hyukmma *elus-elsu bibir Hyukmma* Kebiasan appa kita menyakiti eomma… :'(, tapi tetep aja eomma kasih jatah, ih curang! #nah? Kok curhat? Wkwkwkwkwkw ini sudah dilanjut! Terimakasih atas reviewnya ^^.

Channie860404: Ini sudah dilanjut :D chingu, Terimakasih atas reviewnya ^^.

Kimelfly13: FF ini bisa buat chingu tegang? Ah~ beruntungnya kami… :), eum…, memang sangatlah rumit, bahkan kami bingung siapakah sang antagonis di ep ep ini ==, hehehehe… Ming gak suka dongek? Gak yakin chingu… Terimakasih atas reviewnya ^^.Ini sudah dilanjut…

.

.

.

Hua! Akhirnya selesai, maaf jika ada salah nama atau ada yang belum kami balas… kami benar-benar minta maaf untuk itu *bow* Dan untuk mempertegas kami 99 line… (masih bocah) heheheh…, sampai jumpa di chapt depan :D