"Secondary pneumothorax."
Kyuhyun memandang uisa yang beberapa saat lalu kembali ke kamarnya dan mulai berbicara itu. Satu istilah medis yang terdengar asing keluar dari mulut sang dokter. Walaupun asing, Kyuhyun tetap bisa menebak-nebak apa arti dari istilah tersebut. Itu adalah salah satu nama penyakit.
"Apa dulu kau pernah mengalami penyakit paru-paru atau sejenisnya?" tanya uisa itu.
Kyuhyun mengerjapkan matanya bingung dan masih mencerna pertanyaan itu. Otaknya berputar untuk mengingat kejadian di masa lampau.
"Aku… Dulu, aku pernah terkena infeksi paru saat masih kecil. Tapi eomma bilang, aku sudah sembuh total. Aku tidak sakit lagi," jawab Kyuhyun pasti.
Uisa itu mengangguk-anggukkan kepalanya, "Ya, kau benar. Tidak ada infeksi di paru-parumu lagi. Tapi…"
Kyuhyun baru saja ingin menghela napas lega jika tidak ada kata tapi yang di gantung pada akhir kalimat.
"Dugaanku ternyata tepat. Kau terkena secondary pneumothorax," ucap uisa serius.
"Apa itu?"
"Pneumothorax adalah pengumpulan udara atau gas dalam rongga pleura, yang berada antara paru-paru dan toraks. Ada dua jenisnya yaitu primer dan sekunder. Primer, terjadi secara spontan tanpa ada riwayat penyakit paru dari pasien. Dan sekunder, terjadi pada beberapa pasien yang memang memiliki riwayat penyakit paru yang mendasari."
Kyuhyun hanya bisa menautkan alisnya mendengar penjelasan dari dokter itu. Ekspresi wajahnya tegang dan cemas. Kedua tangannya sudah meremas selimut rumah sakit dengan sangat erat. Jantungnya pun seperti di pacu begitu cepat.
"Untuk kasus secondary pneumothorax sendiri bisa terjadi karena beberapa faktor. Secondary pneumothorax terjadi sebagai akibat dari latihan fisik yang terlalu berat atau singkatnya memforsir tubuh untuk bekerja sehingga terjadi kelelahan akut. Selain itu, juga bisa di akibatkan oleh sebuah benturan dada yang keras."
Uisa memandang Kyuhyun dengan cemas. Ekspresi Kyuhyun sangat berbeda dengan sebelumnya. Wajahnya masih terlihat pucat namun ekspresi shock pun tercetak jelas di sana. Kyuhyun pun terdiam seribu bahasa membuat sang dokter ragu untuk berbicara kembali.
"Lalu?" tanya Kyuhyun tanpa mengalihkan tatapan sendunya dari kedua tangannya yang sudah saling meremas.
Uisa sedikit terkejut. Ia menarik napas dalam sebelum kembali berbicara, "Udara di dalam rongga pleuramu masih sedikit. Tapi kita harus segera melakukan penyedotan untuk mengeluarkan semua udara itu."
"Setelah itu, apa aku bisa sembuh?" lirih Kyuhyun.
"Selama kau tidak kelelahan dan tidak banyak pikiran juga tetap menjaga kesehatanmu dengan baik, itu tidak akan terjadi. Tapi… Itu memang tidak menjamin seluruhnya," terang uisa.
Kyuhyun tertawa pelan membuat uisa menautkan kedua alisnya.
"Itu berarti, penyedotan akan terus di lakukan jika udara kembali masuk dalam paru-paruku. Begitu?" tanya Kyuhyun sambil tersenyum getir. Uisa tak menjawab apapun.
Kyuhyun memejamkan matanya dan menghela napas berat. Ia mulai membaringkan tubuhnya di ranjang.
"Aku ingin tidur," ucap Kyuhyun yang sudah memejamkan matanya.
Uisa memandang Kyuhyun dan memperhatikan ekspresi datar di wajah pasiennya dengan seksama, "Untuk masalah penyedotan, saya—"
"Jangan membicarakan hal itu lagi," potong Kyuhyun dengan suara lirih.
"Tapi Kyuhyun-ssi. Kita harus melakukannya untuk mengeluarkan semua udara itu. Jika tidak, udara akan terus berkumpul dalam pleuramu dan itu berpeluang besar terjadi kebocoran. Ki—"
"Aku mau tidur!" pekik Kyuhyun lagi-lagi sambil menatap uisa itu dengan tatapan tajam.
Uisa menelan salivanya dengan sulit. Ia menghela napas dan menepuk pundak Kyuhyun.
"Baiklah, kita akan bicarakan lagi besok. Istirahatlah."
Tepat setelah dokter itu keluar dari ruangan, buliran bening yang tadi menumpuk di pelupuk mata Kyuhyun mulai mengalir dari kedua sudut matanya. Menangis dalam diam. Otaknya sudah tidak bisa di ajak berpikir. Hanya ada kata 'kenapa' yang terus mengalun dalam benaknya.
Beberapa menit menangis, Kyuhyun mulai bangkit dari ranjangnya. Ia menghapus jejak air mata di wajahnya. Mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan hingga tatapannya terfokus pada jarum infuse di tangan kanannya. Entah apa yang di pikirkan olehnya, Kyuhyun menarik jarum itu hingga keluar dari permukaan kulitnya. Darah segar sedikit keluar dari luka itu namun tak di pedulikan oleh namja tersebut. Tanpa pikir panjang, Kyuhyun langsung turun dari ranjangnya dan berlari keluar dari rumah sakit.
.
.
.
PRECIOUS EYES
.
Main Cast :
Cho Kyuhyun
Lee Donghae
.
Genre : Friendship, Drama, Angst
.
Rated : T
Warning : Typo(s), bad plot, bored, OoC
Disclaimer : All cast belong to God and themselves. I just own the idea and story plot.
So I © Super Junior
Miss You © SM The Ballad
.
LyELF
-Enjoy Reading!-
.
.
PART 6
ooOOoo Eyes ooOOoo
Puk!
Kyuhyun tersentak saat seseorang menepuk pundaknya. Lamunannya langsung buyar semua. Kepalanya langsung menoleh dan mendapati Sungmin yang sudah berdiri di sampingnya sambil menatapnya bingung.
"Min hyung…" gumam Kyuhyun pelan.
Sungmin tersenyum lalu mendudukkan dirinya di sebrang Kyuhyun, "Ada apa? Kau melamun," serunya.
Mendengar ucapan Sungmin, ingatan Kyuhyun sedikit kembali pada pembicaraannya dengan dokter sebulan yang lalu. Mengingat semua hal yang terus menganggu pikirannya setiap hari. Ingin rasanya tidak memikirkan hal itu namun dengan sendirinya pikirannya akan kembali memutar memori yang bagi Kyuhyun tidak mengenakan itu.
Kyuhyun menggelengkan kepala lalu tersenyum, "Tidak ada," kilahnya.
Sungmin memperhatikan wajah Kyuhyun sesaat sebelum menganggukkan kepalanya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan kumpul karyawan ini.
"Kenapa belum pulang, hyung?" tanya Kyuhyun lalu meminum segelas air mineral di hadapannya.
"Sebentar lagi aku pulang. Kau sendiri, kenapa tidak melayani di depan dan duduk di sini eoh?" Sungmin balas bertanya setengah mengejek.
Kyuhyun hanya tersenyum, "Istirahat sebentar. Pengunjung juga hanya sisa sedikit."
Sungmin mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mulai beranjak berdiri dan menepuk pundak Kyuhyun pelan, "Baiklah. Aku duluan nde, Kyu?" ucapnya.
"Ne hyung. Hati-hati," balas Kyuhyun.
Kyuhyun memandangi bayangan Sungmin hingga menghilang di ambang pintu. Termenung kembali selama beberapa saat lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.
Tangan Kyuhyun terangkat dan di letakan di depan dadanya. Kyuhyun mengangkat sudut bibirnya membentuk senyuman tipis.
"Tolong kerjasamanya. Jangan membuatku susah," gumam Kyuhyun pelan entah kepada siapa.
Kyuhyun mulai beranjak berdiri dan merapikan seragam waiternya. Merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal sambil melenggang keluar ruangan.
"Saatnya beres-beres~"
.
.
"Hae hyung!" panggil Kyuhyun riang tepat saat dirinya membuka pintu depan restoran hendak pulang.
Donghae yang berdiri sambil menyandarkan punggungnya di dinding dekat pintu pun menoleh ke arah suara Kyuhyun yang di dengarnya. Ia menegakan posisi berdirinya dan menunjukan cengiran childishnya pada Kyuhyun.
"Sudah selesai, Kyunie?" tanya Donghae.
Kyuhyun terkekeh pelan lalu menghampiri hyung nya itu
"Heum. Kenapa tidak masuk saja? Apa sudah menunggu lama? Aku kira kau tidak menjemputku," ucap Kyuhyun dengan nada lucu membuat Donghae terkikik geli.
Kyuhyun meraih tangan Donghae yang tidak memegang tongkat. Mereka mulai berjalan meninggalkan restoran dan menyusuri jalan pertokoan yang sudah sepi.
"Aku sudah janji akan menjemputmu setiap malam 'kan?" balas Donghae.
"Tapi kenapa tidak masuk?" Kyuhyun mengulang pertanyaannya.
Donghae terlihat berpikir sejenak lalu menggedikkan bahunya, "Hanya ingin saja," ucapnya membuat Kyuhyun mencibir pelan dan Donghae tergelak mendengarnya.
Donghae sudah mulai bekerja di café yang berbeda satu blok dari restoran tempat kerja Kyuhyun. Jam kerja Donghae dari sore hari hingga jam 11 malam, setengah jam lebih cepat dari waktu kerja Kyuhyun. Karena hal itu, Donghae selalu menjemput Kyuhyun terlebih dahulu dan mereka akan pulang bersama ke rumah setelah bekerja. Awalnya Donghae tidak ingin Kyuhyun bekerja lagi dan membiarkan dongsaengnya fokus ke sekolah saja tapi Kyuhyun menolak. Shin ahjussi sudah terlalu baik memberikan kepercayaan untuknya kembali bekerja dan Kyuhyun tidak ingin menyiakan hal itu. Tapi, Kyuhyun harus merelakan pekerjaan paginya mengantar susu dan koran saat Donghae memaksa. Kyuhyun mulai bisa merasakan sosok Donghae yang sedikit demi sedikit berubah menjadi hyung yang err—mungkin posesif. Ya, Kyuhyun sadar bahwa Donghae hanya tidak ingin jika dirinya kelelahan.
"Bagaimana hari ini?" tanya Donghae memecah keheningan yang terjadi antara keduanya.
Kyuhyun melirik ke arah Donghae sekilas lalu kembali memperhatikan kerikil yang di tendangnya.
"Biasa saja," jawab Kyuhyun malas.
"Kau lelah, Kyu?" tanya Donghae lagi.
Kyuhyun tersenyum tipis, "Kalau aku jawab tidak pasti kau tidak akan percaya seperti biasanya. Benar 'kan hyungie?" ucapnya dengan nada manja.
Donghae terkekeh pelan lalu mengangguk dengan cepat. Kyuhyun berdecih pelan melihatnya namun tetap tersenyum.
"Sekolahmu bagaimana?" Donghae kembali bertanya. Sekarang, sebisa mungkin ia ingin memberi perhatian kepada semua yang di kerjakan oleh Kyuhyun. Mulai dari kerja hingga sekolah. Ia akan bertanya tentang semua yang di kerjakan Kyuhyun setiap harinya.
"Membosankan," gumam Kyuhyun.
"Ish. Kapan kau akan bilang kalau sekolahmu hari ini menyenangkan eoh?" balas Donghae.
Kyuhyun tersenyum jahil, "Jadi kau ingin aku membuat masalah, hyung? Hmm, bagaimana jika aku berkelahi sedikit dan membuat permainan menarik di sekolah? Pas—aww appo!"
Kyuhyun meringis dan menggembungkan pipinya kesal saat Donghae mencubit pelan tangan Kyuhyun yang menggandengnya.
"Jangan melakukan hal bodoh seperti itu. Kau tidak pandai berkelahi," ucap Donghae.
"Biar hari sekolahku menyenangkan. Aku selalu menjadi murid baik jadi tidak salahnya jadi murid nakal sekali," balas Kyuhyun lalu tertawa melihat ekspresi Donghae.
Kyuhyun menepuk pelan punggung tangan Donghae, "Hanya bercanda, hyung," ucapnya sambil tersenyum. Donghae mengangguk mengerti.
Mereka meneruskan setengah perjalanan menuju rumah dalam diam. Beberapa kali Donghae mendengar Kyuhyun yang menguap pelan. Ia tahu Kyuhyun sudah mengantuk.
Beberapa menit berjalan dan akhirnya sampailah kembali ke rumah kecil dan nyaman ini. Rumah yang sudah di tempati sejak beberapa bulan lalu.
"Aku ngantuk," seru Kyuhyun yang langsung melemparkan tasnya ke sembarang arah dan merebahkan tubuhnya di kasur.
"Ganti baju dulu, Kyu," tegur Donghae sebelum Kyuhyun benar-benar terlelap.
Kyuhyun membuka matanya yang sempat terpejam, memandang malas sang hyung yang sudah berada di lemari dan meraba beberapa pakaian di dalamnya. Donghae tengah mencari piyamanya sendiri.
"Ambilkan piyamaku, hyung,"pinta Kyuhyun yang malas berdiri.
Donghae menggelengkan kepalanya namun tetap meraba beberapa pakaian yang tidak terlalu banyak di dalam lemari itu, "Yang mana?" tanyanya bingung.
Kyuhyun merubah posisi tidur menjadi menyamping, menghadap ke lemari. Matanya menyipit berusaha melihat ke dalam lemari.
"Sebelah kiri… ah! ne. Yang itu saja," Kyuhyun memberikan arahan.
Donghae berjalan mendekati tempat tidur lalu meletakan piyama itu di sisi kosong.
"Gomawo hyung," ucap Kyuhyun sambil menyengir dan mulai terduduk. Ia menyambar piyama itu dan bergegas berganti pakaian.
Donghae mulai naik ke atas tempat tidur setelah berganti pakaian juga. Ia meraba sekitar dan menemukan tangan Kyuhyun.
"Belum tidur?" tanya Donghae memastikan.
Kyuhyun hanya bergumam pelan menjawab pertanyaan itu. Donghae pun tersenyum dan mulai mengangkat tangannya meraba tangan Kyuhyun hingga mencapai rambut dongsaengnya itu. Melakukan rutinitasnya, mengelus rambut dongsaeng nya itu hingga Kyuhyun tertidur pulas. Kyuhyun pun melebarkan senyumannya saat merasakan tangan Donghae. Jika sudah seperti ini, dia akan terlelap dengan cepat.
"Hyung…" panggil Kyuhyun pelan.
"Apa?"
"Besok kau akan menyanyi di jalanan lagi?" tanya Kyuhyun tanpa membuka matanya.
Donghae tersenyum lalu mengangguk, tak tahu jika Kyuhyun sudah memejamkan matanya. Hingga tak ada sahutan membuat Donghae membuka suaranya, "Ne. Aku akan bernyanyi di dekat stasiun seperti biasa."
Senyuman Kyuhyun sedikit pudar. Donghae memang masih sering bernyanyi di jalanan saat pagi hingga siang dan sorenya akan berlanjut di café. Entah kenapa, Kyuhyun merasa sekarang keadaan terbalik. Ia merasa tidak melakukan apapun setelah Donghae menemukan hal yang bisa di kerjakan olehnya. Kyuhyun hanya bekerja di restoran sedangkan Donghae harus berkeliling untuk bernyanyi sepanjang hari. Sebenarnya Kyuhyun masih tidak setuju tapi Donghae terus memohon.
"Kau pasti lelah, hyung," lirih Kyuhyun.
Donghae menggelengkan kepalanya, "Aniyo. Kau tenang saja nde?" balasnya.
"Jangan bohong. Aku tahu kau pasti lelah juga. Aku pernah merasakan hal seperti itu," seru Kyuhyun tanpa sadar.
Donghae tersenyum tipis. Dia memang merasa lelah tapi itu sudah menjadi kebiasaan dan tidak berpengaruh banyak baginya. Dia justru menjadi tahu bagaimana rasa yang di alami Kyuhyun selama ini.
"Tidak apa. Kita sama saja, Kyu. Sudah. Jangan di pikirkan nde?" ucap Donghae menenangkan sambil tetap mengelus helaian rambut dongsaengnya itu.
"Biarkan aku bekerja mengantar susu lagi, hyung," pinta Kyuhyun yang sudah membuka matanya dan menatap Donghae penuh harap.
"Tidak."
Jawaban Donghae membuat Kyuhyun memberengut kesal, "Wae? Kau curang!"
"Aku tidak mau kau kelelahan lagi. Bekerja di restoran saja sudah cukup, Kyu. Kau juga harus fokus dengan sekolahmu juga. Sebentar lagi ujian," balas Donghae.
Kyuhyun tak bisa membalas lagi. Dia kembali memejamkan matanya dan memeluk gulingnya erat. Donghae memang benar. Dua minggu ini, jam tidur Kyuhyun sedikit lebih lama. Kyuhyun juga mulai bisa belajar saat sore ataupun pagi. Ya, sepertinya Kyuhyun memang harus menuruti ucapan hyung nya itu.
"Weekend depan… Kita jadi ke mokpo?" tanya Kyuhyun setelah terdiam beberapa saat.
Donghae sedikit terkejut namun ia terkekeh pelan, "Terserah kau saja."
Kyuhyun melebarkan senyumannya lalu mengangguk. Mereka memang berencana untuk mengunjungi kota kelahiran Donghae. Apalagi minggu depan adalah peringatan kematian kedua orang tuanya. Donghae ingin mengunjungi makam mereka dan beberapa hari lalu ia sudah membicarakan hal ini dengan Kyuhyun.
"Ah~ aku ingin melihat laut. Sudah lama sekali aku tidak liburan ke laut. Kau harus menemaniku bermain di pantai, hyung. Ah! Aku juga ingin memancing ikan seperti yang kau ceritakan. Ajarkan aku nde?"
Donghae tersenyum geli mendengar Kyuhyun yang mulai menuturkan apa saja yang di inginkan. Kyuhyun memang selalu antusias jika menyangkut liburan. Donghae sudah mengenal watak adiknya itu.
"Ne, ne, kita lakukan semua yang kau inginkan nanti."
"Benarkah?"
"Heum. Tapi sekarang, saatnya tidur adik kecil."
"Aku bukan anak kecil!"
"Kau tetap adik kecilku, Kyunie."
"Uh. Kau menyebalkan, hyung!"
Donghae tergelak mendengar protesan dari Kyuhyun. Dan hal itu sukses membuat Kyuhyun cemberut lagi. Namun ia tersenyum melihat wajah Donghae yang senang. Matanya kembali terpejam dan sedikit demi sedikit, ia mulai terbang ke dunia mimpi.
Dengkuran halus mulai menyapa pendengaran Donghae. Ia pun tersenyum menyadari adiknya sudah terlelap. Tangannya yang sedaritadi mengelus rambut Kyuhyun mulai berpindah untuk meraba wajah adiknya itu. Perlahan ia meraba dan menebak ekspresi yang tercetak di sana. Ketenangan dan senyuman membuat Donghae merasa lega. Namun ia juga bisa merasakan garis wajah Kyuhyun yang menunjukkan rasa lelah dan sakit.
Donghae menghentikan rutinitasnya. Ia terdiam dan terlihat berpikir. Apa Kyuhyun masih kelelahan? Kyuhyun pasti akan menolak jika Donghae menyuruhnya untuk tidak bekerja lagi. Tapi sungguh, Donghae tidak ingin merasakan gurat lelah di wajah Kyuhyun. Helaan napas keluar dari mulutnya namun ia kembali tersenyum.
"Aku percaya padamu, Kyu. Jangan terlalu lelah, arrachi?" bisik Donghae pelan.
Donghae mulai merebahkan dirinya di samping Kyuhyun. Matanya yang sudah terasa berat langsung terpejam sempurna. Ia menarik selimut untuk menyelimuti dirinya dan Kyuhyun dari udara malam yang dingin.
"Jaljayo dongsaeng-ah."
.
.
.
ooOOoo Eyes ooOOoo
Tok! Tok!
Ketukan pintu itu terdengar menyelimuti sebuah ruangan bernuansa putih. Seorang namja yang tengah sibuk dengan catatan medisnya pun mengalihkan tatapan menuju pintu. Ia bersuara mempersilahkan orang yang mengetuk itu untuk masuk. Dan tak berapa lama, pintu pun terbuka dan menampilkan sosok seorang remaja yang masih mengenakan seragam.
"Park uisa, annyeong. Aku datang."
"Kyuhyun-ah, masuklah. Aku sudah menunggumu."
Dokter Park berdiri dan mempersilahkan Kyuhyun untuk masuk dan duduk di sebrang dirinya. Mereka pun duduk saling berhadapan. Kyuhyun mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan praktek dokter mata itu.
"Ruangan baru?" gumam Kyuhyun tanpa sadar.
Dokter Park terkekeh pelan, "Ne. Ruangan lama di alih fungsikan."
Kyuhyun tersenyum canggung saat mendengar sahutan dari gumamannya. Ia menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Kau datang sendiri?" tanya sang dokter.
"Kau tidak melihat orang di sampingku 'kan uisa?" Kyuhyun justru membalikkan pertanyaan membuat dokter muda itu tergelak.
"Aku mengerti," balas dokter itu, "Ah. Sudah ku bilang, panggil hyung saja. Arrachi?" tambahnya sambil tersenyum ramah.
"Ah. Baru kali ini aku menemui seorang dokter yang tidak ingin di panggil uisa tapi justru minta di panggil hyung," cibir Kyuhyun sambil tersenyum jahil.
Jung Soo—dokter Park itu hanya terkekeh pelan lalu menganggukkan kepalanya, "Kau memanggilku dokter dengan nada seperti itu, aku jadi merasa tua. Aku masih muda, Kyu."
"Ne. Terserah kau saja, hyung," balas Kyuhyun malas.
Kyuhyun dan Donghae memang sudah cukup dekat dengan dokter spesialis mata itu sejak Kyuhyun memaksa Donghae untuk melakukan pemeriksaan rutin sebulan lalu. Mereka melakukan pemeriksaan untuk menentukan spesifikasi mata yang cocok untuk donor bagi Donghae. Dan sejak saat itu, keduanya sering bertemu dengan Jung Soo.
"Jadi?" tanya Kyuhyun.
Jung Soo menautkan alisnya mendengar pertanyaan singkat itu membuat Kyuhyun berdecih pelan.
"Aish hyung. Jadi, kenapa kau menghubungiku dan meminta bertemu?" Kyuhyun mengulang pertanyaannya lebih jelas.
Jung Soo tersenyum lalu mengangguk. Tangannya beralih membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih.
"Ini…" Jung Soo menyodorkan amplop di meja hadapan Kyuhyun.
Kyuhyun mengernyit namun tangannya mulai mengambil amplop itu dan membukanya. Bukannya semakin mengerti setelah melihat sebuah kertas di dalam amplop itu, Kyuhyun justru semakin mengerutkan dahinya. Selembar kertas ini berisi nama-nama medis yang tidak di mengerti Kyuhyun.
"Itu adalah hasil pemeriksaan spesifikasi mata Donghae. Tadi pagi laboratorium baru menyerahkannya padaku," jelas Jung Soo.
Kyuhyun membaca beberapa deret kalimat di dalam kertas itu dan mulai mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti setelah Jung Soo menjelaskan. Walaupun tidak tahu arti dari keseluruhan di dalam kertas itu, Kyuhyun bisa menyimpulkan ini adalah data spesifikasinya. Tidak perlu ia meminta Jung Soo untuk menjelaskan setiap detail yang pasti akan berakhir dengan pengajaran study mata yang memakan waktu lama.
Kyuhyun memasukkan kertas itu ke dalam amplop dan meletakkannya di meja kembali.
"Lalu? Kau akan memasukkan data ini ke bank mata?" tanya Kyuhyun.
Jung Soo menganggukkan kepalanya pasti, "Aku akan memasukkan data ini besok pagi. Aku ingin kau melihatnya terlebih dahulu."
"Heum… Lebih cepat lebih baik, hyung," balas Kyuhyun dengan ekspresi penuh harap.
"Kita berdoa saja agar cepat di dapatkan donornya," kata Jung Soo sambil tersenyum menenangkan.
Kyuhyun mengangguk-anggukkan kepalanya. Setiap malam dia sudah berdoa agar harapan terbesar hyungnya bisa segera terkabul.
Kyuhyun menatap Jung Soo bertanya saat dokter itu kembali menyerahkan sebuah map.
"Itu adalah fotokopi dari data asli ini, Kyu. Rumah sakit membuat dua salinan asli untuk di simpan sebagai data dan di masukkan ke dalam bank mata. Aku sudah memperbanyak beberapa lembar untukmu," jelas Jung Soo lagi.
"Untukku?" tanya Kyuhyun sambil menunjuk dirinya sendiri.
Jung Soo mengangguk, "Selain mengandalkan bank mata, kita juga harus berusaha mencari sendiri. Mungkin kau mempunyai beberapa kenalan dokter ataupun pendonor, kau bisa memberikan spesifikasinya pada mereka."
Kyuhyun bergumam pelan sambil mengelus dagunya, "Aku tidak punya kenalan dokter. Tapi, mungkin aku bisa bertanya-tanya pada orang nantinya."
"Ah! Jung Soo hyung… kau 'kan dokter. Kau pasti punya banyak kenalan dokter," seru Kyuhyun lagi sambil menatap dokter di hadapannya.
"Ne. Aku akan membantu. Aku akan menanyakan pada seluruh kenalanku. Kau tenang saja," balas Jung Soo membuat Kyuhyun tersenyum puas.
"Gomawo hyung," ucap Kyuhyun tulus. Jung Soo pun mengangguk.
Kyuhyun mengambil map berisi fotokopian data itu dan membukanya. Memperhatikan kertas yang berada di sana. Sedangkan Jung Soo terdiam, meneliti ekspresi Kyuhyun yang terlihat berbeda hari ini.
"Apa kau sakit, Kyu?"
Pertanyaan Jung Soo membuat Kyuhyun sedikit terkesiap. Ia menatap Jung Soo dengan tatapan tidak percaya. Jung Soo semakin memperhatikan ekspresi anak di hadapannya penuh selidik.
"Ah? Haha tidak…" jawab Kyuhyun sambil tertawa hambar.
"Jangan berbohong," balas Jung Soo tidak percaya.
Kyuhyun mendecakan lidahnya, "Siapa yang berbohong? Aku tidak."
"Tapi wajahmu pucat. Dan sorot matamu menunjukkan kalau kau sedang menahan sakit," ucap Jung Soo, "Aku ini tetap dokter yang bisa meneliti keadaan orang lain."
Kyuhyun terdiam sebelum tersenyum tipis, "Kau 'kan dokter mata, hyung."
"Aku mempelajari seluruh study kedokteran sebelum mengambil spesialis mata. Ingat itu," balas Jung Soo telak.
Kyuhyun hanya menyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Mianhae. Aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah," ujar Kyuhyun.
Jung Soo terdiam masih terus memperhatikan ekspresi Kyuhyun yang mulai terlihat salah tingkah.
"Jangan memaksakan dirimu. Kau masih muda. Jangan paksa dirimu untuk bekerja keras, Kyu," ucap Jung Soo penuh perhatian membuat Kyuhyun mengangguk dan memberikan senyuman manisnya.
Kyuhyun memasukkan map yang di serahkan oleh Jung Soo ke dalam tas punggungnya. Setelah itu, ia beranjak berdiri.
"Aku harus pergi sekarang, hyung. Terimakasih untuk semuanya. Maaf… Aku sering merepotkanmu," kata Kyuhyun sambil membungkukkan badannya sedikit di hadapan Jung Soo.
Jung Soo ikut berdiri dan mendekati Kyuhyun. Ia menepuk pundak namja yang berbeda 9 tahun lebih muda darinya itu.
"Tidak perlu di pikirkan. Aku senang membantumu dan Hae. Sampaikan salamku pada anak itu nde?" ujar Jung Soo sambil menunjukkan senyuman khasnya.
Kyuhyun mengangguk mengerti. Memberi salam kembali pada Jung Soo sebelum benar-benar keluar dari ruang praktek dokter mata itu.
.
Setelah keluar dari rumah sakit besar di pusat kota itu, Kyuhyun berjalan pelan menyusuri jalan pertokoan. Lalu lalang orang di sekitarnya tak membuat namja ini terganggu. Ia berjalan tanpa suara. Pandangan matanya terlihat kosong dan memandang ujung sepatunya sendiri. Walaupun begitu, Ia tidak menabrak atau bersenggolan dengan orang lainnya. Kakinya seperti melangkah sendiri dengan baik.
Tap!
Kyuhyun menghentikan langkahnya secara tiba-tiba membuat orang yang berjalan di belakang Kyuhyun menatapnya heran sesaat sebelum melanjutkan perjalanan. Kyuhyun mengalihkan kakinya untuk bergerak ke tepi jalan. Mendekati sebuah toko dengan kaca besar yang memperlihatkan beberapa alat musik yang di pajang.
Bukan alat musik itu yang menarik perhatian Kyuhyun. Namja itu justru seperti tidak sadar dengan barang yang ada di balik kaca besar. Perhatian Kyuhyun terfokus seluruhnya pada pantulan dirinya sendiri di kaca. Meneliti dirinya sendiri dari atas hingga bawah dan mulai memperhatikan wajahnya.
"Apa aku terlihat seperti orang sakit?" gumamnya sendiri.
Kyuhyun tersenyum mengejek pada dirinya sendiri saat menyadari sedikit kepucatan di wajahnya. Raut lelah pun terlihat jelas dari pancaran matanya. Semakin hari, Kyuhyun memang merasa tubuhnya terasa lemas.
Tangan Kyuhyun terangkat menyentuh permukaan dadanya lagi. Rasa sesak itu tidak menghilang. Selalu ada setiap saat. Hanya saja intensitasnya berbeda. Terkadang rasa sesak itu hanya sedikit namun tak jarang, sesaknya membuat Kyuhyun seperti tidak bisa bernapas dan seluruh persendiannya lemas seketika. Rasa nyeri yang menusuk pun sudah Kyuhyun rasakan setiap harinya.
"Apa aku harus melakukan penyedotan itu?" lirihnya lagi dengan pancaran mata sendu.
"Tapi… uang itu ku kumpulkan untuk Hae hyung. Jika donor matanya ada tapi biaya untuk operasi belum terkumpul, apa gunanya?"
Kyuhyun menggigit bibir bawahnya. Itulah yang selalu mengganjal pikirannya. Melakukan aspiration atau penyedotan udara seperti yang di katakan dokter pastilah membutuhkan biaya. Sedangkan Kyuhyun dan Donghae sedang berusaha mengumpulkan uang untuk operasi Donghae suatu saat nanti.
Tangan Kyuhyun mulai mengusap wajahnya sendiri dengan kasar. Ingin rasanya menghilangkan raut pucat yang menghiasi wajah tampannya ini tapi hanya dengan mengusap seperti ini pastilah mustahil.
Kyuhyun mengulas sedikit senyuman, "Untung saja kau tidak bisa melihat wajahku sekarang, Hae hyung. Kau pasti akan cemas nanti dan akan bertanya macam-macam."
Kyuhyun menarik napas dalam dan siap untuk melangkahkan kakinya kembali. Ia harus segera sampai di restoran. Namun baru selangkah ia berjalan, langkahnya kembali terhenti. Kyuhyun kembali menoleh ke arah kaca yang tadi di pandanginya.
Bukan memperhatikan pantulan dirinya lagi. Sebuah gitar berwarna hitam bercorak putih menarik perhatian Kyuhyun. Tanpa sadar, Kyuhyun tersenyum. Membayangkan bahwa gitar itu adalah milik Donghae.
"Pasti Hae hyung senang jika mendapat gitar ini," kekeh Kyuhyun pelan.
Kyuhyun berpikir sejenak sambil menimbang-nimbang apa yang baru saja ide yang melintas dalam benaknya.
"Tak ada salahnya bertanya."
Setelah mengucapkan hal itu, Kyuhyun melangkahkan kakinya menuju ke dalam toko musik itu.
.
.
.
So I pray for you, oh, so I
So I promise you, oh, so I
Yaksokhaeyo modeungeoshi
Geudaerago mideulkkeyo
Will you come to me
Na jogeuman deo geudaepume
O saranghaeyo geudae my love
Na eonjekkajina, Ireohke
Ooh~So... I love you
Lagu itu melantun indah di sudut sebuah stasiun kota. Nyanyian indah seorang namja menarik perhatian beberapa orang yang hendak masuk maupun keluar dari stasiun. Beberapa dari mereka justru memutuskan diam dan menikmati lagu itu hingga akhir. Mereka mengelilingi seorang namja yang terus bernyanyi dengan iringan gitar. Matanya terpejam untuk menghayati setiap lirik yang di nyanyikannya. Seakan tidak peduli berapa orang yang melihatnya apalagi dengan beberapa receh dan lembar won yang sudah terkumpul di kotak kardus yang di letakan begitu saja di depannya. Ia hanya ingin bernyanyi. Menghibur setiap orang yang lewat di sana.
Donghae membuka matanya setelah menyelesaikan lagu yang entah sudah urutan ke berapa sejak ia bernyanyi di tempat ini sejak pagi menjelang siang tadi hingga hampir sore ini.
Senyuman manis terkesan childish itu, Donghae tunjukkan saat beberapa orang memberikan tepukan tangan dan pujian dari nyanyiannya.
"Gomawo."
Kata terimakasih pun terlontar dari mulutnya saat bisa mendengar beberapa kerincingan dari bunyi uang logam yang masuk ke dalam kardusnya.
Tak jarang wajah tampan dan senyuman menawan itu membuat beberapa remaja yang menyaksikan penampilannya itu tersipu malu dan saling berbisik pada temannya. Tak banyak yang menyadari kondisi mata Donghae. Mereka yang hanya melihat sekilas pastilah tidak sadar bahwa Donghae tidak bisa melihat. Apalagi saat ini Donghae hanya terduduk di pinggir sambil memeluk gitar milik Sungmin dengan gaya yang cukup keren dan terlihat sempurna.
Setelah tidak merasakan orang-orang yang mengerumuninya, Donghae mulai merapikan hasil yang di dapatkannya. Tidak pernah di hitungnya uang pemberian orang-orang itu akan suaranya. Ia hanya memasukkan semuanya ke dalam saku begitu saja.
Donghae beranjak berdiri dan memutar gitarnya sehingga gitar itu sudah berada di belakang punggungnya. Hari ini sudah cukup ia bernyanyi di sini. Dia akan menuju ke café saja. Mengistirahatkan tenggorokannya sebentar agar bisa bernyanyi maksimal di café.
"Maaf…"
Baru satu langkah Donghae berjalan mengikuti tuntunan tongkatnya, sebuah tangan memegangi lengannya. Donghae pun menoleh ke arah suara yang di dengarnya.
"Ya?" tanya Donghae bingung.
Seorang namja berusia 30 tahunan itu tersenyum. Pakaian dari namja itu terlihat modis dan menandakan bahwa orang di hadapan Donghae bukan orang biasa.
"Apa kau akan pergi sekarang?" tanya namja itu membuat Donghae menautkan kedua alisnya.
Donghae mengangguk ragu, "Ne. Ada apa?" tanyanya.
Namja asing itu meraih tangan Donghae dan mereka pun berjabat tangan singkat. Donghae sedikit terkejut namun tidak menolak.
"Perkenalkan, namaku Jang Seung Hoon. Apa kau ada waktu? Bisa kita bicara sebentar?" tanya namja itu lagi.
Donghae terlihat berpikir sejenak. Ia tidak mengenal orang di hadapannya ini. Donghae tidak berprasangka buruk, hanya merasa heran saja karena ada orang asing yang mengajaknya bicara. Hal ini sedikit mirip saat pertemuan pertamanya dengan bossnya di café.
Akhirnya, Donghae memutuskan untuk menganggukkan kepalanya.
"Apa yang ingin anda bicarakan?" tanya Donghae sopan.
Seung Hoon pun tersenyum mendengar persetujuan dari Donghae, "Kita bicara di coffe shop dekat pintu keluar saja, nde?"
Donghae kembali mengangguk. Mereka pun berjalan menuju keluar dari stasiun. Seung Hoon harus memberi arahan pada Donghae karena Donghae memang tidak tahu arah menuju coffe shop seperti di katakan oleh orang itu.
.
"Jadi, boleh aku tahu siapa namamu?"
Seung Hoon mulai mengeluarkan suara untuk bertanya setelah mereka terdiam beberap saat di dalam coffe shop ini. Seung Hoon dan Donghae duduk bersebrangan.
Donghae tersenyum lalu mengangguk, "Lee Donghae. Cukup panggil Donghae saja," ucapnya memperkenalkan diri.
"Hm, Donghae… Oke, seperti yang tadi aku bilang. Namaku Jang Seung Hoon. Sepetinya perbedaan umur kita cukup jauh," Seung Hoon terkekeh pelan berusaha untuk membuat suasana menjadi lebih nyaman dan santai.
"Kita bicara santai saja. Kau bisa memanggilku hyung," tambah Seung Hoon.
"Baiklah," balas Donghae.
Seung Hoon memilih untuk menyesap kopinya dulu. Donghae terdiam menunggu sebuah suara yang menyapa pendengarannya lagi.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan hmm—Seung Hoon hyung?" tanya Donghae saat orang di sebrangnya tak kunjung bersuara.
Seung Hoon memperhatikan Donghae sesaat. Dari ekspresi wajahnya, bisa terlihat namja cukup tampan itu tengah berpikir hingga akhirnya ia tersenyum.
"Begini… Bagaimana cara menjelaskannya ya? Haha" canda Seung Hoon yang sedikit bingung menjelaskan maksud dirinya menemui Donghae.
Donghae hanya menautkan kedua alisnya namun wajahnya yang childish itu terlihat imut saat kebingungan seperti ini.
"Apa kau tahu SM Entertainment?" tanya Seung Hoon memulai pembicaraan.
Donghae terdiam namun terlihat jelas bahwa namja itu tengah berpikir atau mengingat nama yang baru saja di tanyakan itu.
"Sepertinya aku sering mendengar nama itu di radio. Bukankah itu nama agensi artis?" gumam Donghae polos.
Seung Hoon tersenyum kecil, "Ye. SM Entertainment adalah sebuah perusahaan managemen bakat utama, produser dan penerbit musik pop Korea. Perusahaan tempat bernaungnya beberapa artis dan group papan atas."
Donghae hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan itu, "Lalu?"
"Aku…" Seung Hoon menggantung ucapannya sejenak, "Aku adalah salah satu talent agent dari perusahaan itu."
"Talent agent?" gumam Donghae bingung.
"Ne. Orang yang berkeliling ke berbagai tempat untuk mencari orang-orang yang memilikki bakat besar dalam dunia hiburan," jelas Seung Hoon.
"Wow. Kau pasti orang hebat," puji Donghae sambil tertawa pelan.
Seung Hoon pun ikut terkekeh lalu menggelengkan kepalanya, "Tidak juga."
Donghae hanya balas tersenyum sambil mengangguk. Tangannya mulai terangkat dan meraba sekitar permukaan meja mencari cangkir mocacinonya. Setelah menemukan cangkir miliknya, Donghae mengangkat cangkir itu perlahan dan mulai menyesapnya sedikit.
Seung Hoon memperhatikan setiap gerak gerik Donghae dengan seksama.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan padaku, hyung?" tanya Donghae lagi.
Seung Hoon tak segera menjawab namun Donghae setia menunggu sahutan atas pertanyaannya. Walaupun ia harus segera pergi ke café tapi tidak sopan jika mendesak orang untuk berbicara.
"Apa kau ingin bergabung dengan kami, Donghae?"
Ucapan Seung Hoon membuat Donghae yang baru saja ingin jatuh dalam lamunannya itu terkejut. Donghae mengerutkan dahinya dan menunjukkan ekspresi bingungnya.
"Apa?" gumam Donghae tidak mengerti.
Seung Hoon menyamankan posisi duduknya dan kembali menatap Donghae dengan senyuman, "Aku ingin merekrutmu untuk menjadi salah satu trainee kami. Apa kau mau bergabung dengan SM, Lee Donghae?"
"MWO?!"
Donghae berteriak cukup keras tanpa sadar membuat beberapa pengunjung di coffee shop itu menoleh ke arahnya. Seung Hoon hanya tersenyum geli melihat ekspresi super kaget di wajah Donghae.
"A-aku?" Donghae menunjuk dirinya sendiri tidak percaya.
"Ya benar. Kau. Apa kau mau menjadi trainee SM?" ulang Seung Hoon lagi.
"Kau pasti sedang bercanda, Seung Hoon hyung. Jangan membodohiku seperti ini. A—"
"Aku tidak sedang bercanda, Donghae-ah. Aku serius," Seung Hoon memotong elakan dari Donghae dengan penuh penekanan.
Donghae terdiam seribu bahasa. Mulutnya terbuka sedikit dan ekspresi terkejut masih tak bisa hilang. Jantungnya seperti berpacu lebih cepat. Ada perasaan aneh yang meletup-letup dalam hatinya. Senang? Bingung? Tidak percaya? Entahlah… Donghae sendiri tidak mengerti. Pikirannya langsung kosong. Hanya ucapan Seung Hoon yang tadi di dengarnya saja yang terus berputar dalam benaknya.
Walaupun belum mengenal Seung Hoon dan mungkin saja ia sedang di tipu tapi Donghae mendengar keyakinan dari setiap kata yang di ucapkan namja itu. Nada dan intonasi ucapannya begitu tenang dan penuh penekanan untuk meyakinkan orang yang mendengarnya. Orang itu tidak sedang berbohong. Itu yang bisa Donghae simpulkan.
"Tapi… Bagaimana mungkin? Aku?" gumam Donghae lagi.
"Aku sudah mengawasimu sejak dua minggu yang lalu. Pertama kali, aku mendengarmu bernyanyi di dekat tangga dalam stasiun itu," cerita Seung Hoon.
"Suaramu sangat khas, Donghae-ah. Suaramu memiliki karakter tersendiri yang jarang di miliki orang lain. Aku sangat tertarik dengan suaramu itu. Penghayatanmu dalam setiap lagu pun cukup baik. Sejak saat itu, setiap hari aku datang kemari untuk mendengarkanmu menyanyi dan memperhatikan gerak gerikmu."
Donghae tertegun mendengar penuturan itu. Satu orang lagi memberikan review untuk suaranya. Donghae pun menarik napas dalam, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"Tapi…" Donghae mulai berucap sedikit ragu sambil menunjukkan senyuman getirnya, "Kau tahu keadaanku 'kan hyung?"
"Aku… tidak bisa melihat," tambah Donghae untuk memperjelas maksudnya.
Seung Hoon tersenyum lalu mengangguk walau ia sadar namja di hadapannya tidak mampu melihatnya.
"Aku tahu. Sudah ku katakan bahwa aku sudah memperhatikanmu sejak dua minggu lalu," balasnya.
"Lalu?"
"Apa?"
Donghae menghela napasnya, "Apa mungkin seorang trainee itu cacat sepertiku? Semuanya pasti memilikki wajah dan tubuh yang sempurna," ucapnya sedih.
"Menurutmu, apakah bintang yang ada di langit itu sempurna?"
Pertanyaan Seung Hoon membuat Donghae mengerutkan dahinya tidak mengerti.
"Semua bintang di langit terlihat begitu indah dan bersinar. Mereka membuat orang-orang yang melihatnya berdecak kagum dan bisa membuat ketenangan tersendiri. Tapi… Tidak akan ada yang tahu jika bintang indah itu tidaklah sempurna."
"Dia mengalami banyak proses dari awan molekul untuk menjadi sebuah benda langit yang indah. Tidak ada yang tahu bagaimana bentuk asli dari bintang itu. Mungkin saja ia memiliki cacat di dalamnya. Tapi… Semua orang tidak pernah memikirkan hal itu setelah melihat apa yang di berikan bintang tersebut."
Lagi-lagi Donghae di buat tertegun dengan ucapan dari orang yang ada di hadapannya ini. Ia menundukkan sedikit kepalanya namun senyuman tipis terukir di wajahnya.
"Apa kau tahu? Saat kau bernyanyi di hadapan orang banyak, mereka tidak akan terlalu mempermasalahkan hal itu. Mereka sudah terlarut dalam suaramu, Hae," ucap Seung Hoon sambil tersenyum tulus.
Donghae menganggukkan kepalanya, "Tapi tetap saja… Itu akan sulit, hyung. Seorang penyanyi besar tidak hanya mengandalkan suara. Dia perlu banyak hal untuk mendukung penampilannya. Benar kan?"
"Itulah alasan perlunya dari latihan dan kerja keras. Kau pasti bisa melakukannya. Kau akan bernyanyi layaknya orang normal. Kau bisa membuktikan kepada semuanya," balas Seung Hoon lagi.
Donghae terdiam seribu bahasa. Apa yang di katakan Seung Hoon tidak salah tapi Donghae sadar itu tidaklah mudah. Dengan keadaannya seperti ini, hal itu seperti mustahil.
Donghae terkejut saat Seung Hoon menepuk tangannya pelan.
"Kau bisa memikirkannya dulu. Jika menurutmu kau sanggup dan ingin mencobanya, kau bisa menghubungiku kapanpun," ucap Seung Hoon lagi sambil menyelipkan sebuah kartu nama di tangan Donghae.
Donghae menarik tangannya dan mulai meraba kartu yang di berikan oleh Seung Hoon.
"Itu kartu namaku. Simpanlah," kata Seung Hoon.
Donghae menarik napas dalam sebelum menganggukkan kepalanya. Ia menunjukkan senyum tulusnya, "Gomawo hyung."
"Ne, tidak masalah."
Donghae menyimpan kartu itu di dalam saku jaketnya lalu mulai beranjak berdiri.
"Maafkan aku. Sekarang, aku harus segera pergi."
"Kau mau pulang?"
"Aniyo. Aku harus ke café untuk bekerja."
Seung Hoon mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia mengeluarkan sejumlah uang dan meletakannya di meja begitu saja. Ia ikut berdiri dan menghampiri Donghae.
"Aku akan mengantarmu ke tempatmu bekerja ya?" tawar Seung Hoon.
"Ah? Tidak perlu. Itu akan merepotkanmu, hyung," tolak Donghae secara halus.
Seung Hoon terkekeh pelan, "Tidak apa. Ayo."
Donghae pun pasrah mengikuti langkah namja yang baru saja di temuinya satu jam yang lalu itu.
.
.
.
"Kau tidak bercanda 'kan hyung?"
Kyuhyun masih tercengang sejak Donghae menceritakan semua yang di laluinya hari ini. Donghae baru saja menceritakan kejadian tadi sore saat bertemu dengan seorang talent agent. Donghae juga langsung memberikan kartu nama yang di berikan Seung Hoon tadi, membiarkan Kyuhyun untuk melihatnya.
Kyuhyun memandangi kartu yang ada di tangannya. Ini asli. Kartu ini di sertai nama SM dan cap khusus yang meyakinkan. Dari kartu, Kyuhyun beralih menatap Donghae yang sudah berbaring di kasurnya. Memandangi kartu itu dan Donghae secara bergantian selama beberapa saat.
"Kau hebat, hyung," gumam Kyuhyun tanpa sadar, "Sangat beruntung!"
Donghae hanya tersenyum tipis mendengar ucapan seperti pujian itu. Kyuhyun menggelengkan kepalanya masih tidak percaya namun senyuman lebar pun tidak bisa hilang dari wajahnya.
"Kau di tawari menjadi trainee dengan mudah seperti ini. Kau benar-benar hebat," ucap Kyuhyun lagi.
"Aku hanya sedang beruntung… mungkin," balas Donghae santai.
Kyuhyun mendekati Donghae dan menatap wajah hyung nya intens, "Kau akan menjadi penyanyi besar? Kau tidak boleh melupakanku jika sudah menjadi penyanyi hebat, hyung!"
Ucapan riang dan penuh semangat Kyuhyun membuat senyum Donghae sedikit memudar.
"Dia menawariku menjadi tranee, Kyu. Belum pasti aku akan debut menjadi penyanyi juga 'kan?"
"Ish. Tranee berarti akan mendapat pelatihan, hyung. Kau akan mempelajari semuanya dan aku yakin saat kau sudah menguasai semuanya, kau pasti akan segera debut."
Donghae senang mendengar semangat yang Kyuhyun berikan padanya. Tapi ia juga ragu dengan hal itu. Walaupun yakin dengan kemampuan tapi tak bisa di pungkiri pikirannya terus mengingatkan mengenai keadaan dirinya.
"Sepertinya… Aku tidak akan menerimanya," lirih Donghae.
Kyuhyun yang masih tersenyum-senyum sendiri, membayangkan Donghae yang berada di panggung besar dan menjadi penyanyi hebat itu sontak menoleh. Ia menatap hyung nya heran.
"Apa kau bilang?"
"Aku tidak akan menerima tawaran itu, Kyu."
Mata Kyuhyun membulat kaget saat Donghae menekankan ucapannya lagi. Mulutnya kembali terbuka tidak percaya.
"MWO? Hyung! Ini kesempatanmu menjadi seorang penyanyi besar. Banyak yang berlomba-lomba untuk mendapatkan kesempatan seperti ini. Bagaimana bisa kau menolaknya?" cerocos Kyuhyun.
Donghae menghembuskan napas panjang lalu merubah posisinya menjadi terduduk. Kyuhyun langsung meraih pundak Donghae dan membawa hyung nya itu untuk menghadap dirinya.
"Aku tahu kau pasti menginginkannya. Benar 'kan?" tanya Kyuhyun serius.
Donghaetersenyum tipis, "Tentu saja."
"Lalu?"
"Keadaanku," lirih Donghae dengan ekspresi sedih, "Apa kau pernah melihat penyanyi yang ada di televisi itu tidak bisa melihat sepertiku? Itu—"
"Ada!" Kyuhyun memotong ucapan Donghae, "Siapa yang bilang tidak ada? Aku pernah melihatnya. Banyak penyanyi luar negri yang memilikki kekurangan tapi mereka tetap bisa berkarya di depan semua orang."
"Bukankah tujuanmu bernyanyi itu untuk menghibur orang, hyung?" tanya Kyuhyun sambil tersenyum.
Kyuhyun tahu apa yang di rasakan Donghae sekarang. Donghae minder dan takut. Ia sangat mengerti hal itu. Tapi kesempatan ini tidak boleh di sia-siakan begitu saja.
"Ne. Aku bernyanyi untuk menghibur banyak orang," jawab Donghae pasti.
Kyuhyun mengangguk mantap, "Kalau begitu melangkahlah. Dengan ini, kau bisa menghibur lebih banyak orang lagi. Lebih banyak dari yang sebelumnya melihatmu di jalan maupun di café."
"Tapi… aku belum siap, Kyu."
Donghae mendesah pelan lalu menggelengkan kepalanya membuat Kyuhyun hanya bisa tersenyum getir.
"Jika aku menerima ini maka aku juga harus siap untuk merepotkan lebih banyak orang. Banyak hal yang perlu ku pelajari. Dan pasti banyak orang yang akan repot untuk mengajariku dengan sabar dan perlahan. Itu tidak mudah, Kyu."
Dengan terpaksa, Kyuhyun harus menyetujui apa yang baru saja Donghae utarakan. Memang tidak mudah. Donghae memerlukan waktu belajar yang lebih lama dari orang normal. Untuk beradaptasi dengan sesuatu pun tidak mudah baginya. Belum lagi pasti akan ada omongan tidak mengenakan dari banyak pihak.
Kyuhyun mulai tersenyum tulus lalu menepuk pundak hyung nya itu.
"Aku tahu. Apapun keputusanmu, aku akan mendukungnya. Lakukan seperti yang di katakan hatimu, hyung."
Donghae mulai menarik sudut bibirnya mendengar ucapan Kyuhyun, "Gomawo Kyunie," ucapnya riang.
Kyuhyun tersenyum geli melihatnya. Ia meraih tangan Donghae dan mengembalikan kartu nama itu.
"Kau simpan kartu ini baik-baik, hyung. Siapa tahu suatu saat kau berubah pikiran. Orang itu juga tidak memberikan batasan waktu 'kan?" ucap Kyuhyun.
"Baiklah. Akan ku simpan baik-baik," balas Donghae.
Kyuhyun merebahkan tubuhnya di kasur sambil mendesah panjang, "Aah~ kau ini beruntung, hyung. Aku jadi iri."
"Heum, bagaimana jika kau tanyakan pada orang itu. Apakah aku bisa menjadi trainee juga?" tanya Kyuhyun asal.
Donghae tersenyum, "Apa kau bisa menyanyi?"
"Ya hyung, jangan meremehkanku. Suaraku lebih bagus dari punyamu," protes Kyuhyun tidak terima. Donghae pun tergelak mendengar protesan itu.
"Kalau begitu coba menyanyi. Aku belum pernah mendengarmu menyanyi, Kyu," pinta Donghae dengan ekspresi semangat.
"Ani. Ani. Aku tidak mau kau tergila-gila pada suaraku nantinya," balas Kyuhyun sambil menampilkan smirknya.
Donghae merengut kesal, "Ayolah, nyanyi sedikit untukku."
"Shi-reo!"
"Kyu~"
"Jangan harap."
Donghae menggembungkan pipinya kesal dan ikut merebahkan tubuhnya juga. Kyuhyun terkikik geli melihat ekspresi hyung nya itu.
Keheningan terjadi sesaat. Waktu sudah menunjukkan tengah malam tapi keduanya masih terjaga. Sudah biasa mereka terjaga saat tengah malam. Mereka biasa tertidur justru setelah dinihari.
"Geuritji mothaeso apahanayo. Geudaega isseul jariga yogin anin gayo."
Kyuhyun memejamkan matanya dan mulai melantunkan sepenggal lirik dari lagu sebuah group ballad yang berjudul 'Miss You' itu. Sontak Donghae langsung terkesiap mendengar suara Kyuhyun. Ini pertama kalinya, Donghae mendengar Kyuhyun bernyanyi.
"Nareul wihan guhramyuhn chameul piryo uhbjyo. Uhnjengan kkeutnabuhrilteni."
Angel voice…
Suara Kyuhyun begitu menenangkan. Itu yang di rasakan oleh Donghae. Awalnya, Donghae ingin langsung membuka suara namun lantunan lagu itu justru membuatnya terdiam. Menajamkan pendengarannya untuk menikmati suara dongsaeng nya lebih lagi.
"Nae sarangi jejario oji mothago. Heulin nunmul mankeum molli ganeyo~"
Kyuhyun melirik ke samping dengan ekor matanya. Suaranya tetap melantun namun senyuman geli juga terlihat di sana saat memperhatikan ekspresi Donghae yang terlihat menikmati suaranya. Namun sedetik kemudian senyuman geli itu berubah menjadi senyuman jahil.
"Naega gajang jal saeng-gingeoya~"
Donghae mengerutkan dahinya saat mendengar lirik terakhir yang Kyuhyun nyanyikan. Seingat Donghae tidak ada lirik seperti itu.
"Eoh? Coba kau ulangi lagi Kyu," pinta Donghae tiba-tiba.
"Apa?"
"Lirik terakhir. Coba ulangi."
Kyuhyun melebarkan smirknya. Jika Donghae bisa melihat itu bisa di pastikan hyungnya pasti sudah memutar bola matanya malas.
"Naega gajang jal saeng-gingeoya (Akulah yang paling tampan)."
Donghae kembali terduduk di kasurnya. Ia mengerucutkan bibirnya, "Tidak ada lirik seperti itu, huh!"
"Terserah aku. Aku yang bernyanyi."
"Ish, narsis sekali bocah ini."
"Ah! Atau seperti ini saja. Hm… Nae hyung-eun yuchihago babo~ (Kakakku kekanakan dan bodoh)"
"Ya Kyu!"
"Wae? Wae? Nae hyung-eun yuchihago babo."
"Ish, anak ini."
"Ya hyung! Haha—henti—haha hentikan! Hyung!"
Donghae yang kesal pun mulai menggelitikki perut Kyuhyun. Bukan suatu yang sulit karena adiknya memang berbaring tepat di sampingnya. Kyuhyun tertawa geli sambil menggeliat dan berusaha menepis tangan hyung nya. Donghae sendiri ikut tertawa mendengar tawa geli dari Kyuhyun.
Puk!
"Ya!"
Tak bisa menghentikan aksi gila Donghae, Kyuhyun langsung menarik bantal dan memukulkannya pelan kepada Donghae.
Donghae meringis pelan membuat Kyuhyun yang gantian tertawa puas. Donghae mengambil bantal yang tadi mengenai kepalanya. Tanpa melihat arah, Donghae memukulkannya ke Kyuhyun. Sang adik pun tak mau kalah. Kyuhyun mengambil guling dan ikut memukul. Saling pukul memukul dengan bantal guling layaknya permainan anak kecil yang ternyata masih terasa menyenangkan saat di lakukan.
Tawa riang pun muncul memecah keheningan malam dalam rumah kecil itu. Tak peduli dengan waktu, keduanya tertawa bersama setelah bercanda. Suatu hal yang akan mengangkat semua rasa lelah yang ada.
Cukup seperti ini, hyung. Kita saling bercanda dan tertawa bersama. Aku sudah merasa sangat bahagia. Teruslah bersamaku dan kita akan terus tertawa seperti ini. Kesedihan itu sudah berganti dengan kebahagiaan. Kabut kelammu mulai menghilang dan berganti cahaya hangat yang baru. Banyak hal dan kebahagiaan yang akan kau dapat setelah ini. Percayalah padaku.
.
.
Sraak~
BRUK!
Kegaduhan itu terjadi di tengah pagi buta. Waktu masih menunjukkan pukul 5 pagi tapi salah satu rumah susun daerah Namdeumun itu terdengar berisik.
Kyuhyun jatuh berlutut di depan sofa setelah membuat semua isi tas sekolahnya berserakan di lantai. Satu tangannya yang bergetar itu mengacak semua barangnya itu untuk mencari sebuah tube berisi beberapa butir obat. Tangan yang lainnya mencengkram dadanya sendiri. Napasnya terengah namun pendek-pendek. Keringat dingin sudah membanjiri seluruh tubuhnya. Matanya terlihat sayu dan ekspresi kesakitan sangat jelas tercetak di wajahnya.
Beberapa saat lalu, Kyuhyun tersentak bangun dari tidurnya. Dadanya terasa nyeri dan sesak. Lagi-lagi ia merasa kesulitan bernapas seperti ini. Kyuhyun langsung loncat dari kasurnya dan menghampiri tas yang ada di sofa. Ada beberapa obat yang di belinya kemarin untuk meredam sakit ini. Tapi baru ia ingin menggapai tasnya, tubuhnya terasa begitu lemas. Akhirnya ia terjatuh di sana dan semua isi tasnya berserakan.
Donghae menggeliat pelan di kasurnya. Kernyitan bingung nampak di wajahnya setelah mendengar suara berisik demi sedikit matanya yang terpejam itu mulai terbuka. Tangannya meraba ke sekitar kasur hingga akhirnya ia langsung terbangun saat tidak menemukan sosok Kyuhyun.
"Kyu?" panggil Donghae pelan.
Jelas Donghae mendengar suara jatuh itu. Tidak ada Kyuhyun di kasur membuat Donghae berpikir apakah Kyuhyun jatuh dari kasur? Konyol mungkin tapi mungkin saja. Tak ada sahutan membuat Donghae mengerutkan dahinya.
"Kyuhyun…" panggil Donghae lagi.
Masih tidak ada jawaban membuat Donghae mulai panik, "Kyuhyun!" sentaknya lebih keras menuntut jawaban.
Kyuhyun yang baru saja menelan beberapa butir obat dan terduduk lemas di sofa itu menolehkan kepalanya sedikit ke belakang. Donghae masih terduduk di kasur dengan ekspresi bingung dan panik.
Ingin rasanya langsung menjawab panggilan hyungnya itu tapi… napas Kyuhyun masih terengah. Ia juga masih kesakitan. Bisa gawat jika Donghae mengetahui kondisinya. Akhirnya Kyuhyun memutuskan untuk diam terlebih dahulu. Memejamkan mata dan mengatur napasnya. Merapalkan doa agar rasa sesak dan nyeri ini segera menghilang. Sebisa mungkin ia menahan batuk yang sebenarnya ingin keluar dari mulutnya. Di gigitnya pelan bibir bawah untuk meredam ringisan sakit dan batuk.
"Cho Kyuhyun!" Donghae kembali berteriak keras untuk memanggil.
"Hyung…"
Donghae menyibak selimutnya dan hendak untuk turun dari kasurnya namun suara lirih Kyuhyun tertangkap pendengarannya.
"Kyu? Kau dimana?!" tanya Donghae lagi.
Kyuhyun menarik napas dalam. Ia memandang sayu Donghae dari balik sofa.
"Tidurlah lagi, hyung. Ini masih pagi," ucap Kyuhyun lebih keras dengan nada yang di buat senormal dan setenang mungkin.
Donghae mengerutkan dahinya, "Kau dimana, Kyu? Tadi itu suara apa?"
Kekehan pelan yang terdengar di paksakan itu meluncur dari bibir Kyuhyun, "Aniyo. Aku tadi tersandung meja jadi terjatuh dan semua barang di tasku berserakan," jawabnya.
"Kenapa berteriak eoh? Kau—ukh… Kau ini berisik," tambah Kyuhyun masih menahan rasa sakitnya.
Donghae terdiam. Walaupun suara Kyuhyun terdengar biasa tapi bagi Donghae yang memilikki pendengar tajam, suara itu terdengar aneh. Ada sesuatu yang berbeda.
"Kau ada di sofa?" tanya Donghae lagi. Kyuhyun hanya bergumam pelan untuk menanggapi.
"Apa yang kau lakukan, Kyu? Bukannya ini masih pagi?" Donghae terus bertanya pada Kyuhyun.
"A-ada tugas haah… Aku lupa mengerjakan tu-gasku tadi malam," jawab Kyuhyun pelan.
Donghae mengerutkan dahinya. Suara Kyuhyun terdengar terbata di ikuti dengan helaan napas berat.
"Apa kau baik-baik saja, Kyunie?"
"Jangan!"
Donghae yang sudah menurunkan kakinya dan hendak berdiri tersentak kaget saat Kyuhyun berteriak keras. Rasa bingung semakin menyelimuti Donghae.
"Mwo?"
"Jangan kemari, hyung. Kau ti-dur lagi saja. Ini masih pagi. A-ku juga akan tidur la-gi setelah tugasnya se-lesai."
Hanya mengucapkan kalimat itu sudah membuat Kyuhyun terengah seolah ia sudah berlari jauh. Kyuhyun merutuk dirinya sendiri. Kenapa rasa sakit ini datang saat ada Donghae di sekitarnya? Kyuhyun mulai meringkuk di sofa. Matanya terpejam erat dan tangannya terus mencengkram dadanya. Ingin rasanya berteriak keras untuk menyalurkan rasa nyeri dan sesak itu.
Donghae mengeraskan wajahnya. Ia yakin ada hal yang tidak beres. Dengan mantap, Donghae beranjak berdiri dan melangkah menuju sofa.
Kyuhyun bisa mendengar langkah Donghae yang mendekat. Tidak boleh… Donghae tidak boleh tahu kondisinya. Donghae tidak boleh khawatir dan memikirkannya karena hal ini. Kyuhyun mulai merubah posisinya menjadi terduduk. Otaknya di paksa untuk mencari alasan yang tepat untuk di lontarkan pada Donghae.
"Kyu?"
Donghae kembali memanggil Kyuhyun setelah dirinya berada di sofa. Ia semakin penasaran dan cemas saat bisa mendengar napas terengah Kyuhyun dari sini.
Donghae meraba sofa itu lalu memutuskan untuk duduk di sisi yang kosong. Wajahnya menghadap ke arah suara napas Kyuhyun yang terdengar jelas.
"Kyunie…" panggil Donghae lagi sambil meraba sekitarnya.
Kyuhyun memandang sayu tangan Donghae yang hampir menyentuh tangannya yang terasa dingin itu. Ia kembali menggigit bibir bawahnya sendiri.
Grep!
Baru saja Donghae menyentuh punggung tangan Kyuhyun yang di penuhi keringat dingin itu, Kyuhyun langsung menarik hyung nya.
Donghae terkesiap saat Kyuhyun memeluknya secara tiba-tiba. Napas memburu itu semakin bisa di dengarnya dari Kyuhyun yang sudah menyandarkan kepalanya di bahu Donghae. Terdiam sejenak. Donghae bisa merasakan tubuh Kyuhyun yang di basahi oleh keringat dingin. Tangan Donghae mulai membalas pelukan Kyuhyun. Mengelus punggungnya perlahan.
"K-kyu? Gwenchana?" tanya Donghae cemas.
"Ta-kut," Kyuhyun membalas dengan suara terbata.
Isakan tangis pelan mulai keluar dari bibir Kyuhyun. Rasa sakit itu seperti tidak mampu di tahannya. Tubuhnya sudah benar-benar lemas dan terkulai di pelukan Donghae.
"A-ada apa? Apa kau baik-baik saja, Kyu?" tanya Donghae lagi mulai panik.
Donghae merutuk dirinya sendiri. Andai saja ia bisa melihat, ia pasti tahu apa yang terjadi pada Kyuhyun. Ia pasti bisa melihat ekspresi yang di tunjukkan dongsaengnya itu. Sekarang, Donghae hanya bisa mendengar dan merasakan. Ringisan sakit sudah tersamarkan oleh isak tangis keras yang di sengaja oleh Kyuhyun.
"A-aku… Aku mimpi buruk," Akhirnya satu dusta meluncur dari mulut Kyuhyun.
"Mwo?"
"Appa… eomma… Aku mimpi mereka, hyung. Kecelakaan itu… A-ku takut… Ta-kut," kilah Kyuhyun di tengah isakan tangisnya.
Donghae terdiam sesaat. Kyuhyun mimpi buruk? Benarkah? Jika benar, Donghae bisa sedikit menghela napas lega. Setidaknya dongsaengnya baik-baik saja. Donghae tidak heran jika Kyuhyun seperti ini dengan napas terengah dan keringat dingin karena mimpi buruk. Terkadang Donghae juga mengalami hal itu jika memimpikan kedua orang tuanya.
"Kau bermimpi?"
"N-ne."
Donghae mengeratkan pelukannya pada tubuh Kyuhyun yang lemas. Tangannya kembali mengelus punggung dan rambut Kyuhyun secara bergantian. Senyuman tipis mulai terlihat.
"Gwenchana. Sudah tidak apa-apa. Ada hyung di sini," ucap Donghae menenangkan, "Uljima, Kyunie."
Kyuhyun terdiam sesaat. Rasa sesak dan nyeri itu mulai menghilang secara bertahap. Sepertinya obat yang di minumnya sudah bereaksi. Kyuhyun menghembuskan napas panjang menandakan kelegaannya.
Walaupun rasa sakit sudah menghilang, Kyuhyun masih menangis. Jujur, Kyuhyun juga masih merasa takut. Tangan Kyuhyun terangkat dan mulai balas memeluk Donghae kembali.
"Mianhae, hyung," lirih Kyuhyun di tengah isakannya.
Donghae yang mendengar itu sedikit terbingung namun ia enggan untuk bertanya. Dia hanya perlu menenangkan dongsaengnya saat ini, itu yang terpenting.
Sebenarnya Kyuhyun tidak ingin berbohong. Tapi… dia lebih tak mau melihat Donghae yang panik dan mencemaskan dirinya. Dia tak mau membuat Donghae sedih. Hyung nya baru saja mendapatkan beberapa hal yang cukup membahagiakan. Jangan sampai karena dirinya, kebahagiaan Donghae menjadi berkurang. Kyuhyun tak menginginkan hal itu. Kyuhyun akan berusaha untuk bersikap seperti biasanya.
Sedikit demi sedikit tangisan Kyuhyun mereda. Namja itu semakin terkulai dalam pelukan Donghae. Matanya terpejam dan napasnya mulai terdengar teratur. Kelelahan menahan sakit, Kyuhyun pun kembali jatuh dalam tidurnya kembali.
.
.
.
ooOOoo Eyes ooOOoo
"Akhirnya sampai~"
Ucapan lega keluar dari mulut Kyuhyun setelah mereka tiba di Mokpo Station. Kyuhyun merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal. 3 jam perjalanan dari Seoul menuju Mokpo dengan KTX cukup membuat tubuh menjadi penat karena lama duduk.
Donghae hanya bisa tersenyum mendengar perkataan Kyuhyun. Ia mulai menghirup udara kota yang sudah lama tak ia kunjungi. Rindu… Itu yang di rasakan oleh Donghae. Udara lembab karena dekat dengan lautan ini terasa begitu sejuk. Polusi pun tidak terlalu banyak di kota ini.
"Hyung. Ayo," ajak Kyuhyun yang langsung menarik tangan Donghae yang masih menikmati udara segar itu.
Mereka pun langsung saja keluar dari stasiun. Pamandangan kota yang cukup padat namun teratur menjadi hal pertama yang di lihat Kyuhyun. Ini pertama kalinya ia mengunjungi kota ini. Dari luar juga bisa terlihat Yudalsan—sebuah gunung tertinggi di Mokpo. Yudalsan memang berada tepat di belakang stasiun ini.
"Jadi sekarang mau kemana, hyung?" tanya Kyuhyun penuh semangat. Pandangannya masih berkeliling, memperhatikan orang-orang di sekitar mereka.
Tak ada jawaban membuat Kyuhyun menoleh ke samping. Alisnya naik sebelah saat melihat ekspresi bingung di wajah Donghae.
"Hyung…" panggil Kyuhyun lagi.
"Ah?" Donghae menyengir lebar lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Kita kemana ya…"
Kyuhyun melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Donghae intens, menunggu hyung nya untuk bicara lagi. Donghae yang mengajaknya kemari jadi Donghae harus menjadi tourguide untuknya juga.
"Hyung…" tegur Kyuhyun lagi.
Donghae menghembuskan napasnya, " Sebenarnya aku ingin ke rumah Song ahjumma terlebih dahulu."
"Mwo? Orang yang pernah membuangmu dulu?" tanya Kyuhyun memastikan. Ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa Kyuhyun tidak suka dengan ide itu.
Donghae mengangguk, "Ne. Aku mau ke sana. Setelahnya, aku ingin mengunjungi rumahku yang dulu. Rumahku tidak jauh dari rumah Song ahjumma."
"Kita langsung ke rumahmu saja. Tidak perlu ke rumah orang itu," balas Kyuhyun.
"Aniyo. Rumahku yang dulu sudah di beli oleh orang lain. Selama ini aku tinggal di rumah Song ahjumma," kata Donghae sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Lalu mau apa ke rumah orang itu? Dia orang jahat, hyung."
Donghae hanya tersenyum mendengar nada tidak suka dalam setiap ucapan Kyuhyun.
"Gwenchana. Aku hanya ingin berbicara dengannya lalu berterimakasih. Dia juga pernah merawatku," ucap Donghae, "Dan… mungkin kita bisa menginap di sana."
"Mwo? Andwae! Kita menginap di penginapan saja," tolak Kyuhyun langsung.
"Waeyo?" tanya Donghae bingung, "Rumahnya cukup besar dan suasana di sana juga segar. Itu juga ada di dekat pesisir pantai, Kyu. Ah, aku merindukan itu."
Kyuhyun memutar bola matanya malas. Tidak habis pikir. Donghae itu polos atau bodoh? Mengunjungi dan berniat menginap di rumah orang yang jelas-jelas membuangnya dulu. Kalau mau suasana seperti di katakan oleh Donghae, di tempat itu pasti ada penginapan juga.
"Ayolah Kyu~ kita ke sana saja nde?" pinta Donghae dengan ekspresi penuh harap.
Kyuhyun berdecih pelan, "Terserah saja."
Akhirnya Kyuhyun tidak bisa menolak. Ia akan ikut Donghae kemanapun. Biarkan Donghae melakukan apa yang di inginkan di kota kelahirannya itu. Kyuhyun juga merasa penasaran dengan wajah Song ahjumma itu.
Donghae bersorak pelan lalu tersenyum begitu lebar. Sepertinya dia merasa cukup senang.
"Jadi sekarang kita harus kemana? Apakah rumahnya jauh dari sini?" tanya Kyuhyun sambil membenarkan letak tasnya.
Mendengar pertanyaan Kyuhyun, senyuman Donghae sedikit memudar. Ekspresi bingung kembali terlihat di sana. Donghae terlihat berpikir keras sambil mengelus dagunya.
Kyuhyun menaikan alisnya memperhatikan gerak gerik Donghae. Beberapa saat mereka terdiam di depan stasiun. Hingga akhirnya Kyuhyun mulai bisa menebak apa maksud dari ekspresi Donghae. Ia mulai menyipitkan matanya dan menatap Donghae penuh selidik.
"Hyung…" panggil Kyuhyun yang lebih mirip teguran.
Donghae sedikit terkejut, "N-ne?"
"Jangan katakan kalau kau tidak tahu tempatnya?" tebak Kyuhyun membuat Donghae langsung tertawa. Tawa canggung yang menutupi salah tingkahnya.
"A-aku memang tidak tahu. A—"
"MWO? Ya hyung! Lalu kita bagaimana sekarang?!"
Kyuhyun berteriak cukup keras mendengar penuturan Donghae. Apa yang di takutkannya terjadi. Donghae kembali menggaruk kepalanya dan menyengir canggung.
"Mianhae, Kyu. Ini pertama kalinya aku ke stasiun sendirian. Lalu… Aku juga sudah lama tidak kemari, jadi aku lupa," jujur Donghae membuat Kyuhyun menghela napasnya.
"Tapi… Kalau kita sudah sampai pelabuhan, aku pasti ingat jalannya. Sejak kecil, aku sering ke pantai dekat pelabuhan," Donghae menjentikan jarinya dan kembali tersenyum lebar.
"Hyung, kau ini…" Kyuhyun hanya mampu menggelengkan kepalanya.
"Baiklah. Berarti sekarang, kita hanya perlu ke pelabuhan. Begitu?" tanya Kyuhyun memastikan.
"Heum!" Donghae mengangguk dengan mantap.
Tanpa banyak pikir lagi, Kyuhyun langsung menarik tangan Donghae untuk melangkah lagi. Kyuhyun mulai bertanya kepada orang-orang sekitar. Bertanya bagaimana cara mencapai pelabuhan dari stasiun ini.
Setelah bertanya dan mendapat jawaban pasti, mereka pun menaiki sebuah bus untuk menuju ke pelabuhan. Sepanjang perjalanan, Kyuhyun terus berdecak kagum dan berucap tentang semua yang di lihatnya. Pemandangan yang masih asri menjadi hal menarik tersendiri.
Donghae pun hanya menanggapi semua kekaguman Kyuhyun dengan senyuman dan tawa kecil. Terkadang dia juga menjelaskan beberapa tempat menarik yang sering di bicarakan orang-orang. Kyuhyun tentu langsung bersemangat dan memaksa Donghae agar mengunjungi semua tempat itu sebelum kembali ke Seoul. Mereka akan berada di sini selama 2 hari selama weekend ini.
Kepala Kyuhyun sedikit menyembul dari jendela bus. Angin segar pun langsung menerpa wajahnya. Matanya terpejam dan menikmati udara di kota ini.
Aroma air laut yang terbawa angin mulai tercium. Kyuhyun kembali membuka matanya dan pemandangan laut di depan sana membuat senyumannya semakin terkembang.
"Hyung, laut!" pekik Kyuhyun kesenangan.
Donghae hanya terkekeh pelan. Dia juga bisa mencium aroma khas laut ini. Perasaan rindu yang menyelimutinya semakin meletup-letup dalam hatinya. Belum ada satu tahun ia meninggalkan kota ini tapi rasanya begitu merindukannya. Tempat yang di tinggalinya sejak kecil.
"Appa… Eomma…" lirih Donghae seperti tak bersuara.
Donghae dan Kyuhyun turun di perhentian bus terakhir yaitu di pelabuhan. Perjalanan cukup singkat, hanya sekitar 20 menit.
Aktivitas pelabuhan sangat terlihat jelas. Beberapa kapal ferry maupun nelayan berjejer di dermaga. Orang-orang pun sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Tak jauh dari pelabuhan terdapat sebuah pasar ikan. Pasar yang sangat terkenal. Banyak para pedagang dari berbagai kota datang ke pasar itu untuk membeli ikan-ikan segar. Banyak juga wisatawan yang datang, hanya untuk melihat suasana ramai pasar maupun ikan-ikan yang di tawarkan. Ikan laut dengan ukuran kecil hingga besar, biasa hingga langka, untuk konsumsi maupun hias. Semua ada di pasar tersebut.
Donghae menarik Kyuhyun untuk menjauh dari tempat ramai itu. Traumanya akan pasar dan pelabuhan yang sangat ramai itu kembali membuat tubuhnya bergetar. Walaupun ia mulai terbiasa dengan keramaian namun mendengar hiruk pikuk pelabuhan dan pasar tetap membuatnya bergidik.
"Hyung, bisakah kita ke pantai sebentar?" tanya Kyuhyun sambil memandang takjub hamparan laut di depan sana.
Donghae menghentikan langkahnya dan terdiam sesaat.
"Kau mau ke pantai sekarang?" tanya Donghae.
Kyuhyun mengangguk dengan mantap sambil terus memperhatikan laut itu, "Ne."
Donghae tersenyum geli. Nada bicara Kyuhyun yang penuh semangat dan senang itu selalu membuat Donghae tersenyum sendiri. Andai bisa melihat bagaimana ekspresi senang Kyuhyun saat ini, Donghae pasti akan merasa sangat bahagia.
"Hyung!" panggil Kyuhyun membuyarkan lamunan Donghae.
Kyuhyun menggembungkan pipinya merasa kesal karena Donghae melamun padahal sejak tadi ia berbicara terus menerus. Donghae pasti tidak mendengarkan seluruh ucapannya.
"Kau tidak mendengarkan ucapanku," dengus Kyuhyun.
Donghae tertawa pelan, "Mianhae."
"Sudahlah. Kajja. Kita ke pantai sekarang," ajak Donghae sambil menarik tangan Kyuhyun.
Kyuhyun menahan lengan hyungnya itu membuat Donghae mengerutkan dahinya.
"Kau yakin tahu arah ke pantai 'kan hyung?" tanya Kyuhyun penuh selidik.
Donghae tergelak mendengar pertanyaan dengan nada tak yakin itu.
"Tenang saja. Sudah ku bilang, sejak kecil aku sering ke pelabuhan ini. Rumahku juga tak jauh dari sini jadi aku biasa ke pantai sendiri untuk memancing," jelas Donghae.
"Aku tidak lupa dengan arah sekitar daerah ini," Donghae kembali meyakinkan.
Kyuhyun menghela napas lega sebelum menunjukkan senyum senangnya kembali.
"Ne. Kajja. Kita ke pantai~" seru Kyuhyun sambil merentangkan kedua tangannya ke atas.
Donghae hanya menggelengkan kepalanya lalu mulai melangkah. Kyuhyun pun langsung berjalan di samping hyungnya itu. Keduanya berbincang ringan selama perjalanan menuju pantai yang tidak terlalu jauh dari pelabuhan. Donghae menceritakan masa kecilnya dan Kyuhyun menjadi pendengar yang baik, sesekali menanggapi bahkan mengejek.
.
Desiran ombak dan angin yang berhembus kencang membuat sensasi tersendiri saat berada di tepi pantai. Ketenangannya pun membuat semua orang melupakan bebannya sesaat. Tepi pantai ini memang tidak terlalu ramai. Aktivitas orang lebih banyak terlihat di pelabuhan. Kilauan pasir bagaikan hamparan taburan emas saat sinar mentari mengenainya. Kicauan burung camar yang saling bersahutan menambah suasana khas pantai.
"Daebak!" teriakan keras itu Kyuhyun berikan pada hamparan laut di depannya. Senyuman lebar terus tercetak di wajahnya.
"Hyung, ini hebat! Err—airnya dingin."
Kyuhyun yang memang sudah melepaskan tas juga sepatunya itu tengah berlarian di tepi pantai. Kakinya menandang-nendang pasir dan mulai bermain dengan ombak kecil yang mencapai pantai. Donghae yang berdiri di pinggir, menjaga sepatu dan tas Kyuhyun itu hanya tersenyum sesekali tertawa mendengar seruan dongsaeng nya. Kyuhyun benar-benar seperti anak kecil yang begitu bahagia saat berwisata ke laut.
"Kyu, kembalilah!" teriak Donghae untuk memanggil Kyuhyun saat tak mendengar seruan dari dongsaengnya itu.
Donghae mengernyit bingung saat tak mendapat sahutan dari Kyuhyun. Ekspresinya menunjukkan ia mulai khawatir sekarang.
"Kyuhyun!" panggil Donghae lagi sambil mulai melangkahkan kakinya beberapa langkah dari tempat awal.
"Kyu, kau dimana?!"
Donghae menelan ludahnya sulit. Pikiran buruk mulai terbayang dalam benaknya. Kyuhyun tenggelam? Kyuhyun hilang? Apa terjadi sesuatu? Donghae menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan semua prasangka buruk itu.
"KYU—"
"DOR!—hahaha"
Donghae langsung tersentak saat Kyuhyun tiba-tiba menepuk pundaknya dari belakang dan berteriak keras tepat di samping telinganya. Kyuhyun pun tertawa terbahak melihat ekspresi kaget dan shock dari Donghae. Memeganggi perutnya yang terasa geli hingga sesekali ia terbatuk karena terlalu banyak tertawa.
Donghae hanya berdecak pelan sambil menggembungkan pipinya kesal. Kyuhyun membodohinya.
"Mu-mukamu lucu, hyung—hahaha" ucap Kyuhyun di tengah tawanya.
"Menyebalkan," dengus Donghae sambil mendudukan dirinya di hamparan pasir.
Kyuhyun berjongkok di samping Donghae. Menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan, mengontrol dirinya agar bisa berhenti tertawa. Tangannya terangkat memegang dadanya yang sedikit sesak karena tertawa tadi. Sepertinya ia tidak boleh tertawa terlalu banyak. Ck, merepotkan saja.
"Ini," Kyuhyun menyodorkan sebotol air mineral dingin untuk Donghae.
Beberapa saat lalu, Kyuhyun memang berlari ke pinggir pantai untuk membeli minuman di sebuah kedai di sana. Saat ia kembali ternyata Donghae sudah berteriak-teriak memanggilnya.
"Jangan membuatku cemas, Kyu," ucap Donghae.
Kyuhyun hanya tersenyum geli, "Mianhae."
Kyuhyun mulai meminum airnya sendiri hingga habis setengah. Ia melirik Donghae yang masih diam tanpa meminum airnya. Tangannya mulai meraih botol air Donghae dan membukakannya. Ia lupa jika Donghae selalu kesulitan jika membuka tutup botol seperti ini. Donghae hanya tersenyum sebagai ucapan terimakasih dan mulai meminum airnya sedikit.
"Tempat ini sungguh indah. Kau beruntung lahir di sini, hyung," ucap Kyuhyun. Pandangannya kembali tertuju pada pemandangan laut di hadapannya.
"Benarkah seindah itu?" tanya Donghae sambil terkekeh pelan. Walaupun lahir di tempat ini, Donghae sendiri belum pernah melihat keindahan laut di sini.
"Heum!" gumam Kyuhyun mantap, "Ah! Bukankah di sebrang laut ini adalah pulau Jeju?"
Donghae menganggukkan kepalanya, "Itu yang orang katakan. Di sebrang sana, hanya menggunakan kapal selama beberapa menit kita akan tiba di Jeju."
"Apa kau pernah ke sana?" tanya Kyuhyun.
Donghae menggelengkan kepalanya.
"Ah, kalau begitu kapan-kapan kita ke sana nde? Aku pernah ke sana beberapa kali saat kecil," ucap Kyuhyun senang. Donghae hanya menanggapi dengan senyuman.
"Besok kita ke sini lagi ya hyung? Aku belum puas bermain di pantai ini. Ah, ajarkan aku memancing seperti yang kau ceritakan juga."
Kyuhyun terus berucap membeberkan apa saja hal yang sudah di rencanakannya.
"Apa kau bisa memancing, Kyu?"
"Aniyo. Makanya aku memintamu mengajariku."
Donghae mulai beranjak berdiri membuat Kyuhyun menoleh kearahnya.
"Kita pergi sekarang?" ajak Donghae sambil tersenyum.
Kyuhyun bergumam pelan untuk menanggapi ajakan itu. Ia mulai mengambil sepatu dan memakainya. Donghae pun setia menunggu adiknya itu untuk bersiap. Tangannya membersihkan pakaian yang sedikit ternodai oleh pasir keemasan tersebut.
Guk! Guk!
Suara gonggongan anjing membuat Donghae menautkan alisnya. Kyuhyun sendiri mengalihkan tatapannya ke arah suara gonggongan itu. Matanya menyipit saat melihat seekor anjing pomeranian berwarna putih yang berlari kencang menuju arah mereka.
Guk!
Kyuhyun langsung berdiri dan hendak menarik tangan Donghae untuk pergi saat anjing itu mendekat. Namun Donghae menahannya dan bergeming di tempat. Anjing yang berukuran kecil itu terus menggonggong lucu sambil mengibaskan ekornya.
Kyuhyun mundur beberapa langkah secara reflek saat anjing itu sudah berada di dekatnya. Namun alisnya terangkat sebelah saat melihat anjing kecil itu justru mengelilingi Donghae.
"Hyung…" gumam Kyuhyun.
Donghae berjongkok dengan satu lututnya. Senyuman manis terukir di wajahnya membuat Kyuhyun semakin terheran. Tangan Donghae terangkat. Ia menjulurkan tangannya dan anjing kecil itu langsung mendekati tangan Donghae, menjilatinya pelan.
"Bada?" gumam Donghae masih dengan senyuman lebar.
Guk!
Donghae terkekeh pelan saat anjing itu kembali menggonggong pelan seakan menjawab pertanyaan dari orang yang pernah merawatnya dulu. Donghae langsung mengangkat anjing itu dan menggendongnya. Mengelus bulunya pelan membuat sang anjing meraung senang.
Kyuhyun mulai berjalan mendekati Donghae saat hyungnya kembali berdiri sambil menggendong anjing itu.
"Hyung… Itu?" tanya Kyuhyun langsung mengutarakan kebingungannya.
Donghae mengalihkan tubuhnya ke arah suara Kyuhyun agar bisa berhadapan dengan dongsaengnya itu. Kyuhyun memperhatikan intens anjing yang meringkuk dalam gendongan Donghae.
"Kyunie. Ini… Dia anjingku, dia ba—"
"BADA!"
Sebuah teriakan cukup keras memotong ucapan Donghae. Kyuhyun mengalihkan tatapannya belakang. Seorang namja kecil bersama yeoja paruh baya terlihat berlarian menuju arah mereka. Kyuhyun menarik tangan Donghae untuk mendekat ke arahnya.
"Maaf…" sapa seorang yeoja paruh baya tersebut, "Anjing itu milik anak saya."
Donghae yang masih menghadap arah Kyuhyun terlihat terkesiap saat mendengar suara yang baru saja menyapa pendengarannya. Kyuhyun hanya mengerjapkan matanya sambil memperhatikan Donghae dan anjing itu.
"Hyung, tolong kembalikan badaku. Tadi dia kabur dariku," kali ini sang namja kecil yang berucap.
Donghae menarik napas dalam sebelum membalikkan tubuhnya secara perlahan. Ekspresi wajahnya datar namun senyuman tipis terulas.
Yeoja paruh baya yang tengah merangkul anak laki-lakinya itu sontak membulatkan matanya melihat sosok Donghae. Napasnya seperti tercekat dan keringat dingin tiba-tiba keluar dari pori-pori kulitnya. Wajahnya pucat pasi seperti habis melihat hantu.
"Song ahjumma…" sapa Donghae pelan sambil melebarkan senyumannya.
"Dong—Hae?"
.
.
.
-To be Continued-
.
.
Annyeong~
Saya kembali bawa chap baru ehehe.
Terimakasih untuk semua yang setia membaca ff ini^^
Bingung mau ngomong apa lagi wkwk
Btw, bagi yang membaca TPF juga… FF itu akan saya lanjutkan setelah PE ini selesai. Mau fokus nyelesaiin PE dulu baru bergelut dengan TPF lagi ehehe
Oke, see ya next chap!
Sign,
LyELF
.
Replying Riview :
Elfishy09 : terharu liat suamimu buta? Seharusnya anda sedih nyonya fishy... wkwkwk sip, sudah lanjut. Gomawo~
Babykyupa : selamat datang (?) hehe ne, sudah di lanjut. Gomawo~
AngeLeeteuk : wooaah, mau di boikot ff ku. Andwae! Wkwkwk sabarlah menanti nde? Gomawo~
Arumfishy : Sudah di lanjut ehehe gomawo~
Lee HwaKyung : ehehe ceritanya nano-nano dong. Eh? Ini sama kayak ChoNarra? Tadi aku liat review dari Cho Narra juga… sip, sudah lanjut. Gomawo~
Cece : ahaha iyanih. Aku lagi sibuk dengan RL jadi buat ngetik rasanya susah bener. Yea ada yang setia menanti. Oke, gak terlalu lama kan? Gomawo~
ChikaKyU : cup cup jangan nangis. Sudah terungkap di sini /peace/ hehe gomawo~
Dewiangel : sudah terungkap di chap ini. ahaha sip, sudah lanjut. Gomawo~
Blackyuline : yup, doakan saja dia cepat dapat donor matanya ahaha sudah terungkap di sini. Bukan yang tidak-tidak kok._. ehehe gomawo~
Poppokyu : Aku juga ngetik FF ini sambil dengerin My Everything. Itu pas banget sama sikon mereka ahaha sip, sudah apdet. Gomawo~
Ratnasparkyu : syukurlah, jadi gak galau setiap chap ya. Hehe sip, gomawo~
Readerfanpit : Yup, aku suka ngeliatin orang yang bagi selebaran gitu dan itu memang kenyataan. Banyak yang buang kertasnya gitu aja terkadang termasuk aku /slaped/ -.-v sip, ini gak lama kan? Ehehe gomawo~
Anonymouss : wow sudah di warning! wkwkwk /kabur ah. gomawo~
Yjwkcksj : sudah terungkap di sini. Sip, sudah lanjut tapi gak kilat ehehe gomawo~
Arum Junnie : sakit Kyu sudah terungkap. Ini berat tidak? /plak/ ehehe sip, gomawo~
Aulia : hahaha semuanya? Wah terimakasih~ eh? Maksud kamu ini genrenya romance atau minta ff romance yang KyuHyuk? Aku bingung ._.)? Kalau ini rada ke Bromance… mianhae kkk sip, gomawo~
Auhaehae : yup, dimana ada air mata pasti akan ada senyuman juga hehe sip, gomawo~
92line : ahahaha aku suka buat FF yang begini. Ngetiknya juga nyesek sama mewek sendiri eonn xD Sakit Gyu sudah terungkap di sini. Endingnya? Hmmm… nantikan saja eonni /slaped/ sip, gomawoo~
VinaLoveSiwon : Sakit Kyu sudah di jabarkan di sini. Hehe gomawo~
Yolyol : ahahaha Kyu gak terlalu parah kok sakitnya /eh/ nah… chap ini gak terlalu menyedihkan kok gomawo~
Safa Fishy : ehehe mianhae~ yup, nantikan saja endingnya ya. Gomawo~
MissBabyKyu : ahaha mianhae~ baru buat readers penasaran dulu /slaped/. Diagnosanya sudah di jabarkan disini. Oke, gomawo~
Changmin loppie : Sakit Kyu sudah terungkap ehehe semoga Hae cepat dapat donornya jadi cepet deh buat lihat lagi. Sip, sudah lanjut. Gomawo~
Elfishy : gwenchana ehehe ini terlalu berat yang masalah mereka? Hmm… sepertinya iya, tapi biarlah /slaped/ ahaha sip deh, gomawo~
Vha Chandra : ahaha di kasih teka teki biar yang baca penasaran :p endingnya? Hmm… nantikan saja, oke? Kkk~ gomawo
ChoNarra : mwooyyaa? Kurang panjang? O.O hahaha sudah lumayan panjang ini bagi aku yang ngetiknya. Sepertinya susah untuk lebih panjang. Kalo lebih panjang berarti lebih lama apdetnya :3 /slaped/ tergantung cerita deh. Gomawo~
KyuChul : yup, aku sama Kyu setuju deh sama kamu. Itu Hae gak tahu kalo Kyu sakit padahal udah deket gitu wkwk sip, gak bisa kilat lagi /peace/ gomawo~
MichelleMaydeline : wah, ne. sudah di lanjut kok. Gomawo~
FitriMY : sudah terungkap di sini. Sad or happy end? Nantikan saja ya /angelic smile/ gomawo~
Gyu1315 : wkwkwk oke-oke gwenchana… sip, sudah lanjut tapi yang TPF belom hehe gomawo~
Aisah92 : sudah terungkap di sini kok unnie. Hahaha Hae ngeliatnya kapan ya? /merenung/ sip, sudah lanjut. Gomawo~
Riekyumidwife : nah ini dia yang seneng bener kalo Kyu di siksa /geleng-geleng kepala bareng Kyu/. Wkwkwk asyik buat unnie jadi mellow galau (?). Yang ini pasti sedikit galaunya #eh. Aku gak bisa tanggung jawab eonn, dirimu yang minta Kyu di siksa jadi tanggung sendiri /evil laugh/. Sip, udah lanjut. Gomawo~
Jmhyewon : eoh, tanggung jawab? /kasih tisu ; angelic smile (?)/ ahahaa sip, sudah lanjut. Gomawo~
OnyKyu : ahahaha iyasih kebanyakan gitu. Gimana ya endingnya… hmmm, liat aja nanti deh /slaped/ sudah lanjut. Gomawo~
BunnyKyunnie : yup, jawaban kamu tepat /gampang ketebak saya/ ahaha endingnya? Nantikan saja ya, masih rahasia perusahaan (?) hehe gomawo~
iGaemGyu : ne sudah di lanjut ahahaha sip, gomawo~
Casanova indah : cup cup jangan mewek ehehe sip, sudah lanjut. Gomawo~
Chocoteuk : sudah terungkap apa yang di bicarakan sama dokter. Ahaha sip, gomawo~
Kmilla : syukur deh kalo quotesnya berguna juga ehehe sakit Kyu sudah terungkap di sini. Gomawo~
Gyurievil : Yup benar. Cobaan datang silih berganti (?) ahaha gomawo~
Hauraddict : Selamat datang di FF ini (?). Haha nantikan saja kelanjutannya ya. Gomawo~
Guest6/22 : haha bikin nyesek ya? Mianhae~ sip, sudah lanjut. Gomawo~
Augesteca : Semua yang di omongin dokter sudah terungkap. Yang nawarin Hae kerja hanya OC jadi gak di jelaskan secara lebih.
Vic : Kamsahamnida~^^
NaraKim : hahaha ne, Kyu juga bilang Hae kayak kasih kejutan ke yeoja. Tapi intinya memberitahu kasih sayang masing-masing /ngomong apasih ini #slaped/ hehe gomawo~
SelliHae : Sudah terungkap di sini jadi gak penasaran lagi kan? Hehe gomawo~
Adindatuzzahra : annyeong adinda, nado bangapta^^ selamat datang di FF ini (?) haha gomawo~
Dewi : sudah terungkap di chapter ini sesuai keinginanmu hahaha jinja? /senyum misterius/ nantikan saja akhirnya ya hehe gomawo~
Kim Haemi : Yup, SJ members the real brother! Wkwk gomawo~
Kiyuh : wah, aku gak sanggup bikin lebih panjang dari ini kayaknya. Tapi tergantung juga sih, di sesuaiin ceritanya hahaha gomawo~
heeeHyun : hehehe sakit Kyu sudah terungkap. Jangan nangis ya /peace/. Ne, gomawo~
FiWonKyu0201 : merubah mood burukmu jadi apa? Semoga jadi lebih baik ya setelah nangis ehehe ne, gomawo~
JustELF : ehehe lagi mau aja buat Kyu menderita di sini /di FF lain juga menderita-.-v/ haha sip, gomawo~
Sindylia88 : hahaha aku seneng bikin story yang ngefeel begini (?) /slaped/ Hae dapat donor mata kapan? Kalau bisa secepatnya._. haha gomawo~
haekyuLLua : Kyuhyun sakit apa sudah terungkap di sini. Hahaha gak boleh ya? Hmmm… oke! Gomawo~
sparkyu amore : Kyu enggak sekarat kok ehehe nantikan saja nde? /slaped/ gomawo~
