Glass Chapter 6.
Title: Glass.
Author: Meonk and Deog.
Warning: Yaoi, boys love, shonen ai, NC, Drugs, GS for Heechul, Sungmin and Leeteuk, EYD yang berantakan, gaje, abal, dll.
Bagi yang puasa, tolong skip NC-nya ne? ^^.
NO COPAST! NO PLAGIARISM!
Read and Review please~
.
.
.
Flashback 3 Tahun yang lalu…
Hyuk Jae Pov.
Sebuah lampu meja ia arahkan tepat kewajahku. Mencoba menghindar namun hal itu percuma saja karena benda tumpul itu tetap mengenai wajah ini. Aku jatuh tersungkur kelantai, dengan darah yang berasal dari sudut bibir juga hidungku. Mereka menyeringai, memberi sebuah tatapan yang amat tajam kepadaku.
Rasanya sakit dan amat perih…
Kucoba membangunkan tubuhku, namun salah satu diantara mereka menendang dadaku, membuat tubuh kurus ini kembali tersungkur kelantai. Mereka mendekat, namun sebuah instruksi dari sang ketua atau germo dari pemilik klub ini menghentikannya.
Aku berusaha memundurkan tubuhku, dan lagi-lagi beton kokoh menghentikan pergerakkanku. 2 dari 5 orang itu berjalan kearahku. Menarik kerah kemeja yang kupakai dan menghantam pipiku dengan sangat keras.
Darah mengalir…dan aku tetap tidak bisa apa-apa…
Aku tidak ingin mati sekarang…
Setelah puas membuat pipiku penuh dengan luka lebam juga darah yang mengalir dari berbagai arah, dua orang itu kembali menghempaskan tubuhku.
3 orang kini kembali maju, menendang tubuhku secara bersamaan. Aku merintih meminta tolong, tapi mereka malah menjawabnya dengan sebuah tawa.
Seorang lagi merobek kemejaku dengan paksa. Membuat tubuh dengan sedikit abs samar ini kini terekspos bebas. Sang germo menyeringai, menatap tubuh toplessku dengan tatapan yang menjijikkan.
"Padahal kau punya tubuh yang bagus, tapi kenapa sifatmu begitu buruk?" Tanyanya dengan mimik wajah yang begitu membuatku muak.
Ia menjongkokkan tubuhnya, mensejajarkan tubuh tambunnya dengan posisiku yang sekarang. Ia meraih wajahku, hingga kuku-kuku panjangnya sedikit menembus kulit wajahku.
"Apa jika mereka mencekokiku cocaine aku tetap harus bersikap manis?! Kau gila?!" Bentakku membuatnya juga beberapa orang disana tersentak. Sesaat suasana hening, hingga sebuah tawa memecah semuanya.
Ia tertawa, apa yang lucu? Aku bahkan merendahkan harga diriku untuk ini, harga diri yang entah sudah jatuh berapa kali.
"Apa jika memakainya sekali saja akan membuatmu ketagihan?! Tidak bukan?! Jika kau tidak mengerti apa-apa jangan bersikap sok pintar Lee Hyuk Jae!" Ia membentak tepat didepan wajahku.
Cuih!
Gerakkan spontan itu kulakukan tanpa menggunakan otakku. Aku meludahi wajahnya…
Semuanya menegang kaku memperhatikan adegan ini. Termasuk diriku, bisa kurasakan tubuhku bergetar hebat.
Suasana semakin hening, semua mata yang ada diruangan pribadinya serentak menuju padaku. Aku menggelengkan kepalaku mencoba menjelaskan bahwa aku sebenarnya benar-benar tidak sengaja saat melakukannya. Alasan konyol yang mungkin membuat mereka tertawa dalam hati.
Tuan Kim, atau sang germo mendirikan tubuhnya perlahan. Meraih sapu tangan yang berada disaku celana hitamnya, lalu membersihkan wajahnya dari salivaku. Seseorang berbadan paling besar beranjak dari posisinya, berniat menghajarku. Ya aku tahu pasti itu…
Namun tangan Tuan Kim mencegahnya, aku menghela nafas dalam. Setidaknya sebuah pukulan tak akan kudapatkan lagi. Mungkin…,
Bruagh!
Tuan Kim menendang wajahku, ini adalah yang tersakit dari semua pukulan yang kudapatkan hari ini. Jika saja orang-orang itu tidak ada, bisa kupastikan laki-laki gendut ini mati ditanganku. Ia berjalan keluar, menghentikan langkahnya saat ia berada tepat didepan pintu.
"Biarkan dia pergi, aku tidak mau wajah yang awalnya manis berubah menjadi rusak karena ulah kalian. Aku bisa rugi besar jika seperti ini…" Jelasnya sebelum benar-benar pergi meninggalkan ruangan ini.
Hyuk Jae Pov End.
.
.
.
Author Pov.
Ia mencuci wajahnya yang penuh dengan bercak darah. Sedikit meringis saat luka itu terasa begitu perih jika air menyapanya. Bibirnya bergetar menahan tangis, saat refleksi dirinya tampil didepan cermin toilet.
Namun sayang, sekali lagi air mata itu tak ingin menuruti perintahnya. Bulir kristal itu perlahan jatuh membasahi wajah manisnya. Isakkan-isakkan mulai terdengar menggema, memenuhi ruangan sempit ini.
Drt…Drt…Drt..
Suara ponsel membuat fokus utamanya teralihkan, perlahan ia meraih ponsel flipnya dari saku celana jeansnya. Tangisan kembali keluar saat ikon kontak orang yang begitu disayanginya tertera dilayar benda canggih itu.
Ia menghapus air matanya cepat, berbarengan dengan helaan nafas berusaha menahan agar bulir-bulir itu tak jatuh lagi.
Tangannya bergetar saat ia mencoba menekan tombol answer…
"Yeobsaeyeo." Jawabnya sembari berusaha menahanan isakkannya.
"Hyung!" Teriak namja disebrang sana.
"Kapan kau akan membayar uang sekolah bulananku? Guru-guru sudah mendesakku, ini sudah bulan ke-5! Mereka bahkan memintaku untuk keluar dari sekolah." Lirih Ryeowook, sang adik. Tangisan juga sangat kentara dikeluarkan oleh pemuda mungil ini.
Hyuk Jae mendesah pelan, tangisan kembali keluar namun isakkan masih coba ia tahan. Ia meremas ujung bajunya menahan segala emosi yang kini mendominasi dalam relung hatinya.
"Hiks…" Isakkan itu lolos lagi…
"Hyung?" Sahut namja disebrang sana.
"Ji…jika, jika semuanya terlalu berat. Aku bersedia keluar dari sekolah…" Lanjutnya lagi. Hyuk Jae menggeleng, menentang ucapan sang adik.
"Kau gila?! Mau berakhir seperti hyungmu?!" Hyuk Jae membentak dengan suara paraunya. Sangat tidak ingin sang adik berakhir dengan nasib sepertinya . Mengemis dengan menjual tubuhnya dijalanan.
"Lalu apa yang harus kulakukan?! Jika semuanya begitu berat apa aku harus tetap seperti ini?! Semua juga sulit bagiku…! Kau semakin terberatkan! Bekerja rodipun ini tidak akan terselesaikan!" Ryeowook ikut membentak, dengan tangisan yang mengiringinya. Dua tangisan kini beradu dan mengalun bersamaan.
"Itu tidak akan terjadi! Aku akan berusaha! Katakan pada gurumu 2 minggu lagi aku akan datang kedesa, semua akan kulunasi…! Belajarlah dengan serius!" Sang hyung membentak, ia dengan segera memutus koneksi telpon tanpa ingin sedikitpun mendengar jawaban yang akan Ryeowook lontarkan atas aksinya.
Kembali ia mengusap air matanya dengan sedikit kasar. Setelah itu ia meletakkan kembali ponsel flipnya kedalam saku celana jeansnya. Berjalan cepat menuju ruang dansa Klub, tak membiarkan waktu 2 minggu yang sudah dijanjikkannya berakhir dengan sang adik yang didepak dari sekolahnya.
.
.
.
Langkah kecilnya menggema dilorong sepi itu. Mata sembab sehabis menangis belum juga mau hilang untuk beberapa jam kedepan. Suasana sunyi dilorong tersebut berbanding terbalik dengan ujung lorong yang menampakkan ruang dansa dengan keramaian, juga sesak para pengunjung.
Ia mengerenyitkan dahinya saat sang calon mangsa sudah berada tepat didepan mata.
"Selebritis?" Gumamnya dengan seringai yang menghiasi wajah manisnya. Langkah kakinya semakin cepat menuju seseorang yang duduk diujung ruangan itu. Menyendiri ditengah keramaian klub.
"Butuh teman?" Tanya Hyuk Jae membuyarkan lamunan Selebritis tersebut.
Yang diajak bicara mengangguk, mengiyakan. Hyuk Jae memamerkan senyum indahnya lalu mendudukkan tubuhnya tepat disamping namja tampan ini.
"Seorang gay? Aku benar-benar terkejut." Ucapan frontal Hyuk Jae menciptakan sebuah obrolan baru diantara mereka. Namja tampan itu menggidikkan bahunya keatas lalu menuangkan brandy cognac, minuman sejenis whiskey kegelas kaca yang berada diatas meja dekat mereka.
Menyuguhkan minuman keras itu kepada namja manis didepannya. Hyuk Jae tersenyum menerima dengan senang hati minuman berharga mahal tersebut.
"Bukannya banyak rumor tentang itu…" Namja bersurai brunette itu menjawab sembari memiringkan kepalanya kearah kanan. Mengajak namja didepannya untuk bersulang.
Ting!
Suara gelas kaca yang beradu kini begitu kontras dengan musik yang mengalun keras. Kedua namja ini saling memamerkan senyumnya, lalu meneguk minuman beralkohol tinggi itu berbarengan. Meneguk perlahan, hingga cairan terakhir habis tak tersisa…
"Dan sekarang itu menjadi sebuah fakta yang kuketahui…" Balasnya dengan nada seduktif. Ia mencondongkan tubuhnya kearah depan, mendekati namja berdada bidang didepannya. Tanganya beralih keselangkangan pria tampan disampingnya. Memberikan service pertamanya sebagai, sebagai seorang pelacur…
Donghae, atau Choi Donghae, namja bersurai brunette itu sedikit terkejut dengan perlakuan Hyuk Jae. Tangannya dengan cepat menghentikan pergerakkan jemari lentik pemuda berkulit seputih susu ini.
"Waeyeo?" Tanya Hyuk Jae.
Donghae menggeleng, ia mengecup perlahan bibir kissable didepannya. Setelah itu ia mengarahkan bibir tipisnya kearah telinga Lee Hyuk Jae. Menghembuskan nafasnya sepelan mungkin sebelum mengucapkan sebuah kalimat.
"Bahkan tidak ada perkenalan?" Bisiknya. Hyuk Jae mendongak, menatap sekaligus menjauhkan wajahnya dari Donghae.
"Kita hanya akan melakukan sex, jadi untuk menanyakan sebuah nama, menurutku itu terlalu berlebihan." Balasnya. Donghae terdiam, dan dengan cepat mengangguk. Membenarkan ucapan seseorang yang beberapa jam lagi pasti akan berakhir diranjang yang sama dengannya.
Hyuk Jae mendirikan tubuhnya, menunjuk lantai dua, tepatnya sebuah kamar VIP yang disediakan Klub gay tersebut.
Flashback off…
.
.
.
Lama mereka berpelukan, entah sudah berapa menit mereka menghabiskan waktu hanya untuk menangis dan menghangatkan tubuh satu sama lain, hingga Donghae melepaskan tubuh kurus itu dari rengkuhannya. Menatap 2 manik kelam itu dalam tanpa respon yang diberikan oleh sang pemilik.
Donghae mengusap pelan pipi sang kekasih, masih sama. Hyuk Jae tidak memberikan respon, hanya sebuah titikkan air mata yang menjawab segala kegelisahan dalam hatinya.
"Aku mencintaimu…" Ucapan itu membuat namja didepannya mengeluarkan isakkannya. Hyuk Jae menggeleng, tangan Donghae yang masih mengenggam pipi tirusnya memaksanya untuk tetap menatap laki-laki teduh itu.
Sekali lagi, Hyuk Jae menyangkal takdir bahwa ia 'pernah' mencintai namja tampan ini.
"Aku sangat mencintaimu, kumohon jangan lakukan ini lagi…" Lirih Donghae. Hyuk Jae kembali menitikkan air matanya. Bahkan ketika sebuah benda kenyal menyentuh bibirnya dengan lembut, ia masih terisak.
Donghae melumat bibir pulm itu lembut, mata mereka tidak terpejam. Tidak ingin melewatkan momen menyedihkan ini dengan menutup mata.
Donghae menghentikan ciuman mereka, saliva yang menetes tak dihiraukannya lagi. Donghae membawa tubuh kurus Hyuk Jae kepunggungnya, megendong namja manis itu dipunggungnya lalu berjalan kearah kamar mereka.
Hyuk Jae mengeratkan pelukannya pada leher Donghae. Menghirup aroma khas yang dikeluarkan namja tampan itu. Pemuda yang membuatnya terkekang dalam takdir yang tak pernah diharapkannya.
Donghae merebahkan tubuh Hyuk Jae keatas ranjang mewah itu dengan perlahan. Jemarinya terulur menyibak surai yang menghalangi kekasihnya untuk melihat, ia mendekatkan tubuhnya kearah tubuh Hyuk Jae.
Wajah mereka semakin mendekat, hembusan nafas kedua insan ini berbaur menjadi satu, perlahan namun pasti bibir mereka saling bertaut mencari sebuah kepastian. Lama hanya sebuah tautan bibir yang mereka lakukan, hingga benda tak bertulang milik Hyuk Jae mulai menyentuh permukaan bibir tipis sang seme.
Tak mau membuat sang uke menunggu lama, Donghae dengan cepat mengeluarkan lidahnya. Membawa dua benda lunak tak bertulang itu kedalam sebuah pertarungan panas. Saliva yang mengalir bebas kedada pria manis disampingnya tak dihiraukannya lagi. Bahkan jemari lentiknya kini sudah bermain diatas nipple Hyuk Jae yang masih terbalut kemeja putih.
Perlahan Donghae membawa tubuh kurus itu naik keatas tubuhnya, tanpa melepaskan ciuman juga tatapan yang saling bertautan antara dua pemuda ini. Jemari Donghae perlahan melepas kancing kemeja Hyuk Jae.
Ia tak membuka sepenuhnya, membiarkan kancing baju terakhir masih menutupi tubuh kurus pemuda yang dua tahun belakangan ini menjadi miliknya. Jari-jarinya bergerilia juga bermain-main dinipple kecil itu. Sesekali mencubitnya keras membuat lenguhan tak tertahankan keluar dari bibir kissable Hyuk Jae.
Hyuk Jae meremas kuat surai brunette dibawahnya. Melampiaskan kenikmatan yang menjalar diseluruh tubuhnya. Kenikmatan yang didapatnya kini menjadi dua kali lipat, dari heroine juga rangsangan sex yang diberikan Donghae padanya.
"Hhahh…Donghae…." Desahnya panjang. Ia menggesek-gesekkan tubuhnya dengan bagian bawah Donghae yang masih tertutupi oleh celana panjang hitam. Ciuman lagi-lagi ditautakan Hyuk Jae. Lidah mereka bermain beriringan dengan tangan Donghae yang terus saja memilin, juga sesekali mencubit nipplenya.
Donghae melepas permainan bibir mereka, meraup dengan cepat nipple kiri Hyuk Jae.
"Ouhhh…" Lenguhan kembali dikeluarkan Hyuk Jae. Melupakan fakta bahwa laki-laki yang kini berada dibawahnya sudah memiliki seorang istri. Perlahan, Hyuk Jae ikut mendongakkan wajahnya kebawah, menjilat juga memberi kissmark dileher Donghae.
Donghae melepaskan bibirnya dari nipple Hyuk Jae, menatap laki-laki diatasnya yang masih sibuk memberi tanda dilehernya, tulus. Sedetik kemudian, senyuman manis dikembangkannya tak peduli pemuda yang begitu dicintainya ini melihatnya atau tidak.
Ia membawa tangan Hyuk Jae keatas gundukkan tegang yang masih terbalut celana itu. Memaksa Hyuk Jae untuk meremasnya, memberikan rangsangan lebih pada dirinya.
Tak ingin menolak aksi Donghae, Hyuk Jae meremas kasar gundukkan itu tanpa melepas ciumannya dari leher Donghae.
"Uhhh…le…lepas saja celanaku Hyuk Jae…a..ahhh…" Ucap Donghae. Hyuk Jae mendongakkan kepalanya keatas, menatap pria dibawahnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia membangunkan tubuhnya dari ranjang, melepas semua pakaian yang membalut tubuhnya cepat, lalu memposisikan wajahnya tepat didepan celana hitam Donghae.
Donghae tersenyum, tangannya beralih panjang mengelus surai coklat yang dimiliki kekasihnya. Tangan Hyuk Jae dengan cepat membuka celana yang membalut kaki Donghae, tidak sepenuhnya, hanya hingga lutut laki-laki bermata teduh ini.
Menampilkan penis tegak milik Donghae. Tidak ingin membuat sang kekasih menunggu lama, dengan cepat ia memasukkan benda tak bertulang itu kedalam mulutnya. Memberikan sensasi nikmat dan hangat yang menjalar keseluruh tubuh Donghae.
"Ahh…lebih cepat…Hyukhhh..ahh…uhh!" Donghae menggeram nikmat. Ia menjambak surai coklat itu melampiaskan kenikmatan yang begitu menjeratnya. Hyuk Jae tersenyum dalam aksinya mengulum penis Donghae.
Ia mengeluar masukkan penis itu, memainkannya dengan lidah terlatihnya, juga sesekali menghisapnya kuat membuat Donghae terus saja menggeram nikmat. Bahkan bunyi ponsel yang berdering tak lagi kedua orang ini hiraukan.
Setelah 10 menit lebih bermain dengan benda tak bertulang itu, bisa dirasakannya penis Donghae berkedut hebat. Sebentar lagi Hyuk Jae tahu, kekasihnya ini akan mencampai klikmaks pertamanya. Hyuk Jae semakin keras menghisap kejantanan Donghae, pipinya mengempis dan…
Crot!
Sperma Donghae tepat memenuhi bibirnya. Ia menelan juga menjilat sperma yang berjatuhan dari kejantanan sang kekasih. Meneguknya hingga tak bersisa, tak membiarkan sperma itu jatuh percuma. Donghae menarik nafas panjang, senyum tak pernah lepas dari wajah tampannya.
"Gomawo…" Gumamnya pada pria yang berusia dua tahun lebih tua darinya. Hyuk Jae terdiam tak menjawab, ia membantu Donghae melepas kemeja yang membalut tubuh laki-laki berzodiak libra ini.
Donghae menyederkan punggungnya dikepala ranjang, tangannya menarik tangan putih Hyuk Jae. Membawa tubuh Hyuk Jae keatas pangkuannya.
"Ahhh..." Lenguhan terdengar beriringan saat dua penis mereka tak sengaja bergesekkan. Donghae mengecup bibir kissable itu singkat, tangannya membantu melonggarkan rectum sempit Hyuk Jae dengan merenggangkan dua bongkahan kenyal itu kearah yang berlawanan.
Sementara Hyuk Jae, ia sibuk mengarahkan penis Donghae yang kembali menegang kedalam rectumnya.
Jlebbb…
Kejantanan Donghae menyeruak masuk tiba-tiba, membuat Hyuk Jae meringis menahan perih. Ini memang bukan yang pertama, sangat konyol jika ini yang pertama, mereka juga melakukannya hampir setiap hari. Hanya saja gesekkan kasar yang terjadi antara kejantanan Donghae dengan dinding rectumnya membuat rasa perih tak bisa dielaknya. Membuatnya kembali mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.
"Ahh…" Lenguh Donghae ketika rasa nikmat yang amat sangat itu kembali menderanya.
"Sa…sakit…" Lirih Hyuk Jae. Donghae spontan mendongak, menatap wajah laki-laki yang berada diatasnya.
"Sakit?" Ulangnya. Hyuk Jae menutup matanya kemudian mengangguk, mengiyakan. Donghae tersenyum lalu menghapus sedikit bulir air mata yang sekarang jatuh dari pelupuk mata sang namjachingu.
"Aku mengerti, aku akan hati-hati." Balasnya. Hyuk Jae tidak menjawab, ia mengecup bibir Donghae sebagai pengalih rasa sakit. Rasa manis dari kedua bibir yang bertarung ini, setidaknya sedikit mampu membuatnya melupakan rasa sakitnya.
"Uhh…ouh...kenapa seketat ini, eum? Padahal aku sudah sering memasukimu…" Racau Donghae ditengah usahanya menggerakkan penis tegaknya secara perlahan didalam rectum milik Hyuk Jae. Hyuk Jae membelalakkan matanya saat Donghae kembali membuat gerakkan tiba-tiba didinding sempitnya.
Donghae yang tidak tega melihat sang kekasih yang kini menahan sakit, mengalihkan tangannya kearah junior Hyuk Jae, mengocoknya cepat membuat desahan demi desahan dikeluarkan pemuda kurus ini.
"Mmmhh…ahh…Haehh…ahh…Choi Donghae…hahh…lebihhh cepat…" Desahan panjang dikeluarkan si namja kurus. Donghae menyeringai lebar menyadari sang kekasih mulai menikmati permainannya, dengan gerakkan cepat nan berirama ia menyodok penisnya kedalam lubang sempit itu mencari titik prostat milik Hyuk Jae, juga mengocok penis berukuran sedang itu kasar.
"Ah…haahh…ya…di..disanahh…ouh…lagi…lebihh cepat..uhh" Hyuk Jae kembali mengeluarkan desahannya saat Donghae tepat menyodok titik tersensitifnya.
"Hahh…Hyuk…kau…uh…sempithhh…kenapa bisa seindah ini? Ouh…" Donghae terus mendesah, ia mempercepat sodokkannya. Hyuk Jae terus mengerang menikmati dua kenikmatan yang diberikan Donghae padanya.
Penis Hyuk Jae berkedut hebat, dan…
Crot
Klikmaks pertama didapatkannya untuk hari ini, ia memeluk tubuh Donghae erat, semakin mengerang ketika namja dibawahnya terus saja menyodok titik sensitifnya tanpa ampun.
"Ouh…uh…Hyuk…ahh…ah…ah..aku…aku…sampaihhh…" Desah Donghae panjang saat klikmaks kedua didapatkannya dari namja berwajah amat manis ini. Hyuk Jae bisa merasakan lubangnya penuh dengan cairan sperma milik Donghae. Nafas mereka terengah, mencoba mengaturnya agar senormal mungkin.
Hyuk Jae memeluk tubuh bidang itu semakin erat, saat Donghae mulai mengecupi pucuk kepalanya…
.
.
.
Sungmin mengerjapkan matanya saat biasan matahari terpantul menyentuh retina matanya. Kedua manik yang dimilikinya mengedar dan ketika siluet seseorang muncul dari balik pintu kamar mandi ia segera kembali menutup tubuh nakednya dengan selimut. Berpura-pura terlelap saat sosok itu berjalan mendekat kearahnya.
Kyuhyun tersenyum singkat melihat wanita yang dicintainya tertidur pulas. Pakaiannya sudah lengkap, pakaian yang sejak kemarin belum digantinya. Ia berjalan mendekat kearah ranjang, mendudukkan tubuhnya disamping tubuh Sungmin.
Dikibaskannya poni yang menutupi kening wanita cantik itu, mengecup pelan dahi indahnya lalu menggumamkan kata cinta yang bahkan tak bisa diresponnya. Setelah melakukan hal yang menurutnya sangat penting, Kyuhyun segera meraih ponsel juga kunci mobilnya. Berlalu pergi meninggalkan yeoja manis yang kini tengah bergelut dengan kesedihannya.
Bunyi debaman pintu hotel menghentikan aksi Sungmin yang terus berakting tengah tertidur. Ia membuka matanya perlahan. Menatap langit-langit kamar hotel miliknya dengan tatapan sendu. Kembali satu kristal bening tak bisa ditahannya…
.
.
.
Seorang namja cantik membuka matanya secara perlahan, wajah seseorang menjadi penyambut dalam hari barunya. Laki-laki itu tersenyum getir, jemarinya terulur menyibak surai sang suami dengan perlahan. Ia mendekatkan tubuhnya dengan tubuh namja nyaris sempurna didepannya.
Ketika matanya masih terfokus menatap wajah sang suami, jemarinya malah beralih menyentuh wajah sang suami. Bulir bening itu memenuhi ruang pandangnya. Ia tak bisa melihat dengan jelas ketika air mata itu hendak jatuh.
Sekuat mungkin menahan emosi jiwanya dalam ekspresi datar yang selalu ditunjukkannya. Bibir merahnya perlahan mengecup bibir joker sang suami. Menggumamkan kata selamat pagi dengan sangat lembut, bahkan ini jauh dari kesan sinis yang selama ini selalu ditunjukkannya didepan umum juga didepan namja yang amat mencintainya itu.
"Mianhae…" Kibum, namja ini bergumam dengan sangat pelan. Tak bisa ditahan, dan air mata itu jatuh begitu saja. Pengkhianatan, cinta dan obsesi menjadi alasan dirinya untuk terus menentang takdir. Siwon yang sejak tadi sudah berada dalam batas kesadarannya langsung memeluk tubuh indah itu dengan erat.
Membuat Kibum, namja cantik ini tersentak kaget. Tak ada penolakkan dari rengkuhan itu, tak ada lagi kata benci yang Kibum lontarkan untuk dirinya, hanya sebuah tangisan, isakkan juga kata maaf yang memenuhi pagi baru yang menyambut namja nyaris sempura ini.
Jemari Siwon beralih mengusap surai sehitam arang sang istri, tatapan mata mereka bertemu hingga sebuah hasrat tercipta pada kedua insan ini. Perlahan namun pasti Siwon mendekatkan wajah mereka, menempelkan bibir jokernya kebibir merekah sang istri.
Kelembutan yang awalnya terjadi kini berubah menjadi lumatan-lumatan halus yang bahkan tak bisa membuat pemikiran rasional namja cantik bernama Kim Kibum menolak rangsangan cinta yang diberikan oleh Siwon.
"Aku mencintaimu…"
.
.
.
Flashback 3 tahun yang lalu…
Author Pov.
Asap dari hisapan rokok yang dibuat pemuda manis itu berbaur dengan udara disekitarnya. Tangannya mengalung dileher seorang laki-laki tampan yang menjadi pelanggan barunya. Ia membisikkan sebuah kata manis, menggoda pemuda kaya yang berusia jauh lebih tua darinya.
Sebuah kata-kata kotor tak jarang menjadi percakapan mereka. Jemari Hyuk Jae mengelus pelan pipi laki-laki ini. Memamerkan senyum menawannya, hingga mampu membuat banyak pria gay terpikat padanya.
Sementara itu, tepat didepan mereka seorang namja bersurai brunette dengan seorang uke manis yang mendampinginya kini tengah menatap Hyuk Jae, pria yang sibuk menggoda tamunya sejak tadi, dengan tajam.
Ucapan menggoda dari uke disampingnya, tak mampu mengalihkan pandangannya dari namja rendahan itu. Kedua manik mereka bertemu, namun hanya senyuman sinis yang dilontarkan Hyuk Jae untuknya.
Tangan terlatih Hyuk Jae dengan perlahan menungkan jinro, minuman sejenis vodka yang hanya diperuntungkan untuk seseorang berkantung tebal. Ia bicara, juga tersenyum memang untuk namja disampingnya, namun berbeda dengan tatapannya, pandangannya lurus menatap Choi Donghae.
Ia tersenyum samar pada tamunya, jemari lentiknya menunjuk arah toilet, berkata bahwa ia perlu kekamar kecil. Tamu itu mengangguk, mempersilahkan keinginannya. Hyuk Jae berjalan melewati tempat Donghae. Senyum sinis dikembangkannya saat sadar tubuhnya sudah berbalik membelakangi Donghae.
.
.
.
Hyuk Jae menatap refleksi dirinya dicermin toilet sembari mencuci tangannya diwashtafel itu. Senyum singkat dikembangkannya ketika mendengar decitan pintu toilet. Tepat sekali perkiraannya, sang namja brunette datang menyusulnya.
Ia masih berpura-pura tidak tahu, sibuk dengan kegiatan membersihkan tangannya. Langkahnya berbalik dan tepat saat ia membalikkan tubuhnya, tangan laki-laki bernama Donghae ini memeluk pinggang kurusnya.
Tubuh Donghae tersudut dipojokkan toilet namun tetap dengan erat memeluk pinggang laki-laki manis didepannya. Hyuk Jae tersentak kaget, atau lebih tepatnya berpura-pura kaget.
Terpaan hembusan nafas Donghae dirasakannya dengan jelas. Wajah mereka begitu dekat sekarang.
"Kau berakting? Kau kira aku bodoh?" Ucap Donghae, pelukan pada pinggang laki-laki manis ini semakin dieratkannya. Hyuk Jae tersenyum menanggapi.
"Aku tidak menyangka kau akan menjadi pelanggan tetapku." Lanjut namja bergummy smile ini. Donghae tersenyum sinis lalu mendekatkan wajahnya keceruk leher Hyuk Jae. Hyuk Jae terdiam menerima aksi Donghae.
"Bukankah itu yang kau rencanakan sejak awal? Apa…, yang…, kau…, lakukan…, dengan pria itu?" Donghae bermain dalam setiap katanya. Lidahnya terulur membasahi leher putih yang dimiliki Hyuk Jae.
"Sama dengan apa yang kulakukan padamu…" Jawab Hyuk Jae dengan nada yang sangat seduktif. Donghae tersenyum getir lalu kembali menjilati leher putih didepannya.
Flashback off…
.
.
.
Author Pov.
Hyuk Jae membuka matanya ketika deringan ponsel dari sang kekasih menggaggu tidur indahnya. Pandangannya mengedar kesetiap sudut ruangan saat siluet sang kekasih tak nampak dalam indera penglihatannya, hingga suara gemercik air dari kamar mandi membuatnya menghela nafas panjang.
Jemarinya terulur meraih ponsel Donghae yang berada diatas meja nakas. Tanpa menatap siapa sang penelpon Hyuk Jae dengan segera menekan tombol 'answer'. Menjawab sang penelpon dengan suara paraunya. Beberapa saat menunggu masih belum ada balasan dari sang pemanggil.
Hyuk Jae mengernyitkan keningnya saat dirinya kini merasa teracuhkan.
"Yeobsaeyeo?" Ulangnya lagi. Seseorang disebrang sana menghela nafas panjang.
"Ini aku…" Suara lembut dari seorang wanita membuat Hyuk tersenyum kaku. Ia mengadahkan wajahnya lalu menghela nafas dalam.
"Tan Sungminssi?" Jawab Hyuk Jae mencoba memastikan.
"Dimana Donghae oppa?" Suara Sungmin berubah menjadi lebih sinis saat mengetahui bukan orang yang diharapkannya yang menjawab panggilan telponnya. Ia enggan menjawab pertanyaan Hyuk Jae, menurutnya sangat membuang waktu.
"Dia…"
Krieet…
Suara pintu kamar mandi mengalihkan pandangan Hyuk Jae. Siluet seseorang yang muncul dari balik pintu menghentikan percakapan sinis antara dirinya dengan Tan Sungmin. Donghae mengekerutkan keningnya ketika ponsel mewahnya kini bertengger manis ditelinga sang kekasih.
"Tan Sungmin…" Ujar Hyuk Jae ketus sembari mengulurkan tangannya, memberikan sang kekasih ponsel yang sepertinya akan menjadi alasan pertengkaran baru mereka.
Donghae terbelalak kaget. Dengan segera ia meraih ponsel tersebut. Melangkah menjauh dari kamar mereka. Tak membiarkan Hyuk Jae mendengar percakapan antara dirinya dengan sang istri.
.
.
.
Flashback 1 tahun yang lalu…
Author Pov.
Test pack dengan dua garis membuat seorang wanita cantik meneteskan air mata, entah air mata bahagia atau air mata kesedihan. Gurat wajah wanita itu menggusar saat sadar dirinya kini berada dalam pilihan tersulitnya. Ponsel yang sejak tadi digenggamnya terus menampilkan panggilan seseorang yang peduli padanya.
Beberapa panggilan terus membuat ponsel mewahnya bergetar. Ketakutan menjadi prioritas utama kenapa dirinya kini memlih untuk melarikan diri.
Wanita itu dengan cepat mengetikkan beberapa kata, mengirim beberapa kalimat penting untuk seseorang. Wanita cantik ini menghela nafas sembari menghapus air mata yang terus membasahi pipinya. Mencoba menegarkan diri atas jawaban apa yang akan dilontarkan namja yang akan menjadi calon ayahnya anaknya kelak.
.
.
.
"Apa yang ingin kau katakan?" Suara sinis dari seseorang semakin membuat wanita cantik itu meneguk ludahnya takut. Test pack yang digenggamnya terus saja menjadi fokus utamanya, masih menimbang apakah memberi tahu namja yang dicintainya itu adalah hal yang benar atau tidak.
Dengan perlahan, Sungmin. Wanita ini meletakkan test pack itu keatas meja didepannya. Jemarinya bergetar saat Donghae mengkerutkan keningnya bingung atas apa yang dilakukannya. Donghae perlahan meraih benda panjang itu dengan perlahan.
Mengamati setiap lekuk objek yang bisa menjelaskan alasan kedatangan tiba-tiba sang calon istri. Matanya membelalak lebar, sungguh ini benar-benar mengejutkan dan membuatnya ketakutan. Tapi demi sebuah harga diri, Donghae bersikap tak acuh seolah ia hanyalah korban dalam peristiwa itu.
"Aku takut oppa…" Sungmin berujar pelan. Isakkan yang awalnya ditahannya runtuh sudah, sama dengan dirinya. Donghae kini juga menahan ketakutannya, tak ingin hanya karna hal ini ia harus melepaskan segala obsesinya menjadi seorang aktor juga memiliki orang itu.
"Sungmin-ah…, ini…" Donghae tergagap. Terlalu cepat baginya untuk memproses apa yang baru saja terjadi didepannya. Dua garis, ia sangat mengerti tentang hal itu. Ditambah dengan ekspresi sang calon istri semakin membuatnya kebingungan.
"I..ni tidak mungkin!" Decihnya tak terima. Sungmin menggeleng, ia mencoba mengerti ketakutan pemuda yang dicintainya, tapi sungguh ia tak terima saat namja didepannya mencoba menghardiknya seperti seorang pembohong besar.
.
.
.
Namja bergummy smile itu melangkah pelan menuju apartement mewah yang ditempatinya lebih dari 1 tahun itu. Tangannya yang membawa banyak belanjaan tak mampu menyurutkan langkah kakinya untuk terus melangkah.
Langkah kakinya terhenti saat nomor kamar apartement yang didiaminya sudah berada didepannya. Ia menekan beberapa tombol angka yang menjadi password rumah mewahnya. Ia hendak masuk kedalam apartement mewah itu namun suara isakkan wanita menghentikan pergerakkannya.
Ia diam mematung didepan pintu apartementnya. Pintu yang awalnya menganga lebar kini ditutupnya sedikit, tak ingin Sungmin tahu akan keberadaannya.
Telingannya mendekat kearah pintu, mencoba mendengar pembicaraan yang dilakukan kedua orang itu.
"Dia tidak mungkin anakku! Jangan bercanda!" Sarkasme Donghae. Dua orang tersentak mendengar ucapan Donghae. Tidak hanya Sungmin, Hyuk Jae menutup mulutnya tak percaya. Belanjaan yang awalnya digenggamnya dengan erat jatuh berserakkan kelantai.
Sungmin menggeleng. Tangisannya semakin mengeras, ia jatuh terduduk dilantai meminta sebuah belas kasihan, namun sayang Donghae sama sekali tak menghiraukannya. Ia juga takut, berada dalam ketakutan terbesar.
"Anni…, oppa anni, aku berani bersumpah! Aku tidak pernah melakukan itu dengan siapapun kecuali denganmu!" Jawab Sungmin ditengah tangisannya. Donghae masih terdiam memastikan ucapan Sungmin, sedangkan Hyuk Jae kini benar-benar terjatuh dengan posisi terduduk dilantai depan apartement mereka. Makanan-makanan mahal yang dibelinya sudah tidak dipedulikannya.
"Sungmin-ah…, kumohon jangan seperti ini! kita hanya melakukannya sekali! Tidak mungkin kau langsung hamil hanya karena sekali bercinta! Jangan membohongiku Sungmin-ah!" Teriak Donghae menyangkal segala tuduhan yang ditunjukkan untuknnya. Ia membangunkan tubuhnya dari sofa yang didudukinya.
"Aku bersumpah oppa! Aku bersumpah! Su…sungguh…! Hari itu adalah masa suburku! Tolong jangan menuduhku!" Elak Sungmin. Posisinya yang masih bersimpuh didepan Donghae membuat Donghae sedikit iba, ia mengedarkan pandangannya kearah lain lalu menghela nafas panjang.
"Kita bicarakan besok saja…, aku butuh waktu untuk membiasakan diri…" Cetus Donghae. Sungmin mengangguk mengerti. Ia berdiri dari posisi yang sebelumnya, meraih tas mahalnya lalu berjalan menuju pintu keluar apartement.
Betapa terkejutnya Sungmin ketika sosok seorang namja manis tertangkap matanya tengah menangis disamping pintu apartement Donghae. Sungmin terdiam sejenak, hendak melangkah pergi. Sisa air mata yang membasahi wajahnya membuat dirinya tak terlihat jauh berbeda dari sosok menjijikkan didepannya.
"Menjijikkan!" Sungmin berucap sinis pada namja manis itu.
Hyuk Jae membangunkan tubuhnya dengan perlahan ketika bayangan Sungmin sudah menjauh. Ia memasukkan tubuhnya pelan kedalam apartement.
Meninggalkan dengan percuma makanan-makanan mahal yang baru saja dibelinya dengan uang Donghae. Keberadaan Hyuk Jae yang tiba-tiba muncul dengan wajah sembab sekali lagi menambah keterkejutan Donghae.
Donghae terdiam saat tatapan sinis lagi-lagi ditunjukkan Hyuk Jae untuknya. Langkah Hyuk Jae terdengar mendekati meja berkomposisikan kayu didepannya. Meraih test pack yang Sungmin berikan lalu kembali menatap Donghae.
"Sex? Kau melakukan sex dengannya?" Tanya Hyuk Jae sangat sinis. Donghae tertegun, ia tak ingin menjawab pertanyaan Hyuk Jae. Toh, tanpa menjawab Hyuk Jae sudah memiliki jawabannya.
"Dia hamil?" Tanya Hyuk Jae lagi.
Kembali Donghae terdiam. Bingung apakah dirinya harus menjawab 'ya' atau 'tidak'. Baginya tak ada jawaban yang akan memuaskan namja manis itu.
"Kau tidak menjawabku?! Jadi itu benar?! Kau akan menikah dengannya?!" Hyuk Jae membrondong pertanyaan-pertanyaan tersebut untuk Donghae. Namja bersurai brunette itu menggeleng menyangkal pertanyaan terakhir dari Hyuk Jae.
"Hyuk Jae-ah…" Donghae kehabisan kata-kata. Hanya nama itu yang bisa diucapkannya sekarang.
"Aku bahkan tidak menyangka kau akan melakukan ini…" Hyuk Jae menggelengkan kepalanya membuat aksi tak percaya.
"Kalian benar-benar menjijikkan! Kenapa kau melakukan ini padaku?! Bagaimana bisa kalian melakukan ini padaku?! Ya, aku tahu, aku memang pelacur rendahan tapi tidak seharusnya kau melakukan ini padaku!" Bentak Hyuk Jae. Ia mengacak rambutnya frustasi.
Donghae terdiam sejenak, kakinya berjalan mencoba memutus jarak yang memisahkan mereka. Mencoba merengkuh tubuh namja kurus itu, namun sayang sebuah dorongan kuat dari pria didepannya memaksanya menghentikan aksinya.
"Jangan menyentuhku!" Teriaknya.
"Kumohon maafkan aku, sungguh itu hanya sebuah kesalahan…" Alasan Donghae malah semakin membuat emosi sang kekasih tersulut. 'Kesalahan?' tentu saja kesalahan, bukankah pertemuan mereka terjadi juga karena sebuah kesalahan?
"Menggelikan! Apa hal itu bisa disebut kesalahan jika kau sudah menyadarinya sejak awal?!" Kembali sang namja manis berteriak. Nafasnya terengah menahan emosi yang sudah sejak awal meluap ketika bayangan pengkhianatan yang sering kali dilakukannya kini malah berbalik diterimanya.
"Dan apa kau tahu alasan kenapa aku melakukan hal itu?! Kau pergi dengan pria lain dimana seharusnya kita berkencan Lee Hyuk Jae!" Donghae balas membentak. Hyuk Jae tersentak kaget dengan bentakkan Donghae. Namun sedetik kemudian ia mengembalikkan ekspressi getirnya.
"Jadi maksudmu ini terjadi karena kesalahanku begitu?!" Hyuk Jae kembali bertanya. Ia menatap laki-laki didepannya tajam. Pintar sekali sang kekasih mencari alasan ketika kesalahan kini berada dipihaknya.
"Tidak bukan begitu…, maksudku…"
"Aku pergi meninggalkanmu atau gugurkan anak itu?" Ucapan Donghae terpotong saat satu pertanyaan sinis lagi-lagi terlontar dari bibir pulm sang kekasih. Tubuh Donghae menegang, haruskah dosa besar kembali dilakukannya?
.
.
.
TBC
.
.
.
Mind to review?
.
.
.
Author: Kami minta maaf jika chapt ini updetnya lama, maaf juga atas typo, alur yang aneh, diksi yang tidak tepat, juga kata-kata yang menyinggung readers sekalian. #bow. Untuk yang puasa kami mohon untuk tidak membacanya NC-nya. Sekali lagi kami juga minta maaf atas NC yang sangat jauh dari kata ASEM! #deepbow.
Jadi ucapan Sungmin saat dicafe sudah terjelaskan bukan? Kami juga sudah memberi clue adegan ini dichapt-chapt awal ^^.
.
.
.
Balas Review:
Hideyatsutinielf: Hehehehe, apakah chapter ini sudah menjelaskan kenapa obsesi Sungmin begitu besar chingu-deul? Hehehehe iya, Hyuk pake heroine…, hehehehe Terimakasih atas reviewnya ^^.
Guest: Kami juga buatnya dengan ketersiksaan batin chingu :'( #plak! Heheheheh…,Bwahahahaha mungkin si ikan memang biang keladi permasalahan dari ff ini chingu… #Haesiapinparang. Hihihihi~ kita lihat saja apa di chapt depan Hyuk masih menderita atau tidak :9. Hihihihi~ Terimakasih atas reviewnya ^^.
Bluerissing: Hehehehe, bolehkan kami panggil Bluerissing-ssi eonni? *puppy eyes* #muntah naga. Wkwkwkwkwk Inikan memang angst eonni ==", Dan karena sebuah keegoisan juga cerita ini bisa tercipta, jadi kami berterimakasih pada seseorang yang telah menciptakan sebuah keegoisan(?). Kesempatan apa ya eonni? Eum… tunggu next chapt ne eonni? ;). Terimakasih atas reviewnya ^^.
Jewelf: ah terimakasih! *bow* Sad ending? Oke chingu! Akan kami pertimbangkan! ^^b! Jinjjayeo? Kami juga angst lover… hehehehehe, oke deh! Saran chingu akan kami pertimbangkan :D! Sekali lagi terimakasih atas reviewnya ^^.
Haru54: /pukpuk/ chingu jangan nangis… ToT, hehehe kami minta maaf untuk chapt ini ngaretnya sampai 1 bulan, tapi kami usahakan chapt-chapt selanjutnya lebih cepat dari sebelumnya *bow*. Terimakasih atas reviewnya ^^.
Asha Lightyagamikun: eonni, kami gak tahu mesti bilang apa lagi… semua pendapatmu memang benar… :'), Donghae yang menyebabkan semua ini terjadi! Dia biang masalahnya! Dia harus dibunuh! #elfishykedip-kedip. Hehehehehe, terimakasih atas reviewnya eonni ^^.
Najika bunny: Kyaa! Jeosonghamnida! *bow* apa chapt ini bisa membantu chingu lebih mengerti jalan cerita ff ini? kalo belom tunggu next chapt ne? hehehehe XD, Ini sudah dilanjut… Terimakasih atas reviewnya ^^.
Lee Hyuk Nara: Bwahahaha, perlu pasokan ember chingu? #plak! Hahahaha senang rasanya klo ff abal ini bisa membuat chingu menangis… :), Yang jahat? Eum… kami juga bingung ==". Semua dibikin mati chingu? Serius? O_o, Maaf lama updetnya chingu…, bulan kemaren itu bulan puasa jadi pantang buat lanjuttin ff ini… sekali lagi kami minta maaf *bow* Ne! Terimakasih banyak atas reviewnya ^^.
Sullhaehyuk: Hihihi~ *sodorin tisu ke Sull.* Klo dichapt ini siapa yang tersakiti? Menurut kami sih Sungmin…, hehehehe… Klo Kyumin cepet bersatu ff-nya jadi cepet kelar chingu, mian ne? ;) #plak. Huweee~ *tarik Hyukmma* Ini sudah dilanjut, apa chapt ini sudah termasuk ekstreem? Hehehe ne bangaptayeo *bow* Terimakasih atas reviewnya ^^.
Nvyptr: O_o, kalau semua jahat yang baik siapa dong chingu? Ini sudah dilanjut, terimakasih atas reviewnya ^^.
Lee ikan: *gigit abs Hyuk* O_o? Donghae yang jahat chingu…, hehe bener gak? #plak! Hahaha, klo hatinya terobrak-abrik ntar kami bantuin beresin lagi :3, hehehehe, terimakasih *bow* Ini sudah dilanjut terimakasih atas reviewnya ^^.
: Huhuhuhu~ eonni jeongmal mianhaeyeo klo review eonni yang kemarin gak kami bales… ToT. Klo disini yang jahat masih Sungmin oppa eonni? Bwahahahaha iya eon, kami gak nyalahin Hyuk kok *gerayangin abs Hyukmma* hehehe Terimakasih atas reviewnya eonni ^^.
Guest: Hihihihi, iya Hyuk pacar yang tak dianggap chingu, Sungmin apa dichapt ini masih jahat? Hehehe disini udh ada alasan kenapa Minppa terlalu memaksakan cintanya :D, Hahahaha di next chapt pertanyaan chingu akan terungkap kenapa Hyuk ga mau pergi dari Donghae… hihihihi ini sudah dilanjut chingu XD! Oke deh chingu! Kami bakal terima saran chingu ^^b! Terimakasih atas reviewnya ^^.
Mrs. Lee Hyuk Jae: Jinjjayeo chingu? Ah~ sebenarnya sangat sulit bagi kami untuk menghilangkan kata-kata kiasan itu, karena ini sudah menjadi cirri khas kami… hehehe tapi kami akan berusaha untuk menghilangkannya sedikit demi sedikit…, terimakasih chingu atas sarannya XD. Hihihi terimakasih chingu-deul… hehehehehe, Sekali lagi terimakasih atas reviewnya ^^.,
86H0404H1015: /pukpuk hyukppa/ sedih juga ngetiknya chingu, kami gak tega sama Hyukppa yang imutnya minta ampun :'(. Bwahahahahaha XD, semoga otak kami juga menentang kata angst sehingga ff ini bisa berakhir happy ending. Hehehehe XD, Terimakasih atas reviewnya ^^.
MingMin: Annyeonghasaeyeo eonni *bow* ah~ jinjjayeo eonni? Terimakasih banyak *deep bow* Heheheh syukurlah jika kami bisa membangun feelnya eonni… :'), hehehehe peran antagonis memang sulit untuk ditetapkan…, hehehe terimakasih eonni *bow* Sekali lagi terimakasih atas reviewnya ^^.
guest: *angguk2* Hyukmma menderita disini chingu ToT… Hihihi~ iya, Hyukmma frustasi chingu, Andwe! Eomma harus sama kami! *tarik Hyukmma* *tendang Haeppa* #digetok. Maaf kami tidak bisa lanjut kilat chingu, sungguh kami minta maaf *bow* Ne! Terimakasih atas reviewnya! ^^.
Lee maria: Iya, dan ini kelanjutannya chingu :D. Terimakasih banyak *bow* hohohoho~ Terimakasih sudah menyukai ff abal ini XD. Ini sudah dilanjut! Terimakasih atas reviewnya ^^. #pelukbalik.
Amandhharu0522: *sodorin tisu ke chingu-deul* Bwahahahahaha! XD, kenapa curiga sama Jungsoo chingu? Hihhihi~ kasian Hyuk dipukulin terus, kami jadi ganti menggunakan secne mendayu-dayu deh chingu… :') Hiks! Hiks! Kami minta maaf ini updetnya sangat lama, *bow* hehehehe ini sudah dilanjut… Ne! Terimakasih atas reviewnya ^^.
Niknukss: Kyaaa! ini sudah updet lagi :D, Hehehehe apa dichapt ini Hyuk masih paling tersiksa? Atau Sungmin? *elap air mata eonni* /pukpuk* jangan nangis lagi ne eonni? bwahahahaha XD, happy end atau sad end kita lihat chapt akhir aja ne eonni? hihihihi~ , Chapt depan ucapan Siwon bakal terungkap, jadi pantengin terus ne eonni-ku? XD. Hihihi Terimakasih atas reviewnya ^^.
Mizukhy yank eny: *elap a!r mata ch!ngu-deul* XD !n! sudah d!lanjut ch!ingu, Ah~ Ter!makas!h *bow* Sekal! Lag! Terimakas!h atas rev!ewnya! ^^.
Lyndaariezz: Bwahahahaha XD, next chapt hal itu akan terungkap chingu :D, hihihi biar lebih kompleks kami tambahin scene WonHyuk chingu, :3 *alasan! bilang aja emg ribet* /biarin :P. Eum…, chingu bener…, Minppa dan Hyukppa sama-sama jahat… hihihihi~ Terimakasih atas reviewnya ^^.
Anchofishy: Iya chingu, Hae sama Won bukan saudara kandung, kalo gak salah capht kedua sudah kami sempilkan sedikit tentang itu XD. Hehehehe, mungkin hanya cara yang salah yang bisa membantunya meghilangkan segala beban #eaa. Bwahahahaha XD, Ming berada dalam kebimbangannya chingu… hihihhi~ Terimakasih atas reviwnya ^^.
F-polarise: jinjjayeo chingu? Ah~ jeongmal khamsahamnida! *bow* /pukpuk/ chapt ini udh ga bikin nangis lagikan? Hehehehehe terimakasih banyak! Sekali lagi terimakasih banyak atas reviewnya ^^.
Secret: Bwahahahahaha XD, apa chingu masih bingung? Apa chapt ini sudah berhasil menjelaskan kebingungan chingu? Hohohoho~ Syukurlah kalo feelnya bisa terasa chingu :), Oke! Saran chingu kami pertimbangkan! ^^b. Terimakasih banyak atas reviewnya ^^. Akhir kata… salam push dan guk! -.-!
Anonymouss: *tutup muka, takut muncrat* #ditabok. Bwahahaha mungkin yang gak waras itu yang buat ff ini eonni (boleh panggil eonnikan?) O_o? loncat dari jembatan? Trus nasib Hae gimana eonni? Hihihi~ iya, kami mau buat Donghae se-OOC, OOC-nya (?) Hihihihi~ ne! Kami 99 line! Salam kenal eonni XD. Eonni budhist? Kami menggunakan agama budha karena memang agar agamanya Donghae berbeda dengan Siwon dicerita ini. Hehehehe kami mirip-mirip budhist eon, agama kami Hindu :D. Ini sudah dilanjut, Terimakasih atas reviewnya ^^.
Myfishychovy: Bwahahahahaha XD, ini bukan ff gore chingu, gak terlalu kejam kok :3 #digeplak. Hohohoho~ kami tidak kejam chingu, ini tuntuttan otak/tukang ngeles=="/ Bwahahaha mungkin Ming masih dalam tahap kebingungannya chingu… XD, Ini sudah dilanjut! Terimakasih atas reviewnya ^^.
Puu: Annyeonghaseyeo Puu-ssi *bow* salam kenal nama kami febri dan febra. Ne! bangapseumnida! *deep bow* Hihihihi~ ne, chingu gweanchanayeo… :D, Bwahahahaha XD, seharusnya kami yang berterimakasih karena ada yang mau membaca apalagi mau meriview cerita ini XD *bow* hihihihi~ ne gweanchanayeo :D. Hehehehehe #blusshing. Terimakasih atas pujiannya *bow* Kami juga senang #PelukPuu-ssi* Hehehehe, kami senang Puu-ssi menyukai cerita yang kami suguhkan, Terimakasih banyak *bow*. Ini sudah dilanjut, Harusnya kami yang meminta maaf *bow* Sekali lagi terimakasih atas reviewnya ^^.
: *elap air mata chingu* Terimakasih banyak karena sudah menyukai ff ini XD, hehehehe *bow* Maaf atas keterlambatan updetnya *bow*. Dan sekali lagi terimakasih atas reviewnya ^^.
Deyerra: Ini sudah dilanjut chingu :D, Maaf atas keterlambatan kami mengupdet kelanjutan ff ini *bow* Terimakasih atas reviewnya ^^.
Elizabethkim: Hehehehe, terimakasih chingu *bow* Hehehehe, iya Hyukppanya kasian… :'(. Sekali lagi terimakasih atas reviewnya *bow*
Nasusay: Ne chingu, gweanchanayeo :D. Ah~ Terimakasih banyak *bow* Maaf atas keterlambatan updetnya chingu… *bow* Ne! Sekali lagi terimakasih atas reviewnya ^^.
Hehehehe sudah semuakan?
Hihihihi~ eum…, menurut pembaca sekalian siapakah yang lebih pantas disebut sang peran antagonis disini? Jika ada yang berkenan menjawab kami akan senang sekali… :D, Sampai jumpa di chapt depan ^^.
