PRECIOUS EYES
.
Main Cast :
Cho Kyuhyun
Lee Donghae
.
Genre : Friendship, Drama, Angst
.
Rated : T
Warning : Typo(s), bad plot, bored, OoC
Disclaimer : All Cast belong to God and themselves. I just own this story plot!
Don't Copy anything in this story without my permission!
.
LyELF
-Enjoy Reading!-
.
.
PART 7
ooOOoo Eyes ooOOoo
"Donghae?"
Yeoja paruh baya itu masih terus bergumam tidak percaya melihat sosok yang saat ini sudah berada di hadapannya. Kakinya melangkah maju untuk mendekat pada Donghae.
"Ne. Ini aku, ahjumma," balas Donghae pelan.
Kyuhyun yang mendengar itu sontak langsung menarik tangan Donghae untuk mundur. Apalagi melihat wanita itu mendekat ke arah hyung nya, Kyuhyun reflek maju selangkah seakan tidak ingin Song ahjumma mendekati Donghae sedikit pun.
"Kyu…" tegur Donghae sambil menarik tangan Kyuhyun. Dia sadar dan bisa merasakan Kyuhyun yang sekarang sudah berada di depannya.
Kyuhyun hanya melirik Donghae dengan ekor matanya namun tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya.
"Benarkah kau Lee Donghae?" Perhatian Donghae dan Kyuhyun kembali teralih pada wanita paruh baya dengan suara yang terdengar sedikit serak itu.
Kyuhyun menaikan sebelah alisnya. Ekspresi yang di tunjukkan ahjumma itu sangat berbeda dengan apa yang di lihatnya beberapa saat lalu. Wajah ahjumma itu berubah menjadi sendu dan matanya berkaca-kaca saat memperhatikan Donghae. Tak ada mimik pucat seolah melihat hantu lagi.
'Ahjumma ini seperti siluman.'
Entah darimana pikiran konyol itu mampir ke dalam benak Kyuhyun yang terus memperhatikan ekspresi wanita itu dengan seksama. Perubahan ekspresi secara tiba-tiba dari wanita itu membuat Kyuhyun menjadi sangat waspada.
"Ne, ahjumma. Ini aku—"
"Hyung!"
Donghae terlonjak saat Kyuhyun memotong ucapannya dengan sebuah pekikan yang menegur. Kyuhyun mendengus sebal. Bagaimana bisa Donghae menampilkan senyuman lebar dan ekspresi santai saat bertemu dengan orang yang sudah berbuat jahat pada dirinya sendiri?
"Waeyo, Kyu?" tanya Donghae dengan alis saling bertaut. Kyuhyun tidak menjawab. Ia hanya membawa Donghae untuk mundur beberapa langkah.
"Kyunie…" panggil Donghae yang merasa Kyuhyun membawanya mundur.
"Bagaimana kau bersikap seperti ini, hyung? Dia orang jahat, Hae hyung. Ekspresinya berubah dengan cepat. Dia pasti merencanakan sesuatu," bisik Kyuhyun.
Donghae menggelengkan kepalanya lalu mencubit pelan tangan Kyuhyun yang masih memegangi tangannya.
"Hyung, kenapa mencubitku?!" protes Kyuhyun sambil mengelus tangannya.
"Jangan berprasangka buruk, Kyu. Ahjumma bukan orang jahat," ucap Donghae membuat Kyuhyun terbengong.
Bukan orang jahat? Hei, Donghae hyung… Jika kau lupa, aku akan mengingatkanmu bahwa dia pernah membuangmu di tengah hari bersalju hingga malam. Membuatmu menunggu dan hampir membuatmu mati membeku di taman.
Ingin rasanya Kyuhyun melontarkan semua ucapan yang sudah melintas dalam benaknya. Namun melihat ekspresi Donghae yang terlihat tidak suka membuatnya mengurungkan niat untuk membeberkan ulang hal yang di lakukan ahjumma yang menurut Kyuhyun jahat.
"Kau tidak melihat ekspresinya, hyung. Dia seperti siluman yang sedang berpura-pura," seru Kyuhyun sedikit tidak masuk akal.
"Kyunie…" Donghae kembali menegur ucapan Kyuhyun yang sedikit keras itu, "Aku tidak bisa melihatnya namun aku bisa mendengar suaranya."
Kyuhyun mendengus sebal mendengar ucapan hyungnya itu. Kekesalannya bertambah saat Donghae memegang lengannya dan maju beberapa langkah mendekati ahjumma itu lagi. Tentu saja Kyuhyun setia mendampinginya.
"Song ahjumma…" panggil Donghae sambil menjulurkan tangannya ke depan seolah hendak menggapai ahjummanya itu.
"Aku baru in—"
Grep!
Donghae tersentak saat dirinya di tarik dalam pelukan yeoja yang seumuran dengan eommanya itu. Ucapannya yang tadi berhenti begitu saja. Bada yang masih berada dalam gendongan Donghae pun langsung melompat turun. Isakan tangis langsung meluncur dari bibir yeoja yang Donghae kenali sebagai sahabat eommanya.
Tentu saja Kyuhyun juga terkejut dengan hal itu. Dia tidak ingin yeoja itu menyentuh bahkan melukai hyungnya lagi namun kakinya justru mundur dua langkah seakan memberikan waktu agar hyungnya di peluk ahjumma itu.
Kyuhyun beralih melirik anak laki-laki yang entah sejak kapan sudah berada di sampingnya. Anak itu menoleh saat merasa di perhatikan. Keduanya bertatapan dan mengerjapkan matanya bingung.
"Donghae-ah, benarkah ini kau? Donghae…" racau Song ahjumma sambil mengelus rambut dan punggung Donghae bergantian.
"N-ne, ahjumma," seru Donghae membuat isakan yeoja itu semakin menjadi.
Donghae mengerjapkan matanya, sedikit bingung apa yang terjadi. Namun tangannya mulai terangkat dan membalas pelukan yeoja tersebut. Pelukan ini sedikit banyak mirip dengan pelukan eommanya.
"Mianhae… Mianhae… Ahjumma salah padamu, Hae-ah. Mianhae, jeongmal mianhae…"
Pantai yang sedaritadi sepi pun mulai terselimuti dengan isakan tangis dan racauan dari Song ahjumma. Donghae tak membalas. Dia terdiam seakan memberi waktu agar ahjummanya mengucapkan semua yang ingin di katakan.
"Ahjumma bersalah padamu, Hae. Tidak seharusnya aku meninggalkanmu di sana waktu itu. Aku menyesal, Hae-ah. Maafkan aku…"
Song ahjumma melepaskan pelukannya. Wajahnya sudah di penuhi oleh air mata. Tangannya terangkat dan menangkup wajah Donghae, meraba wajah anak sahabatnya itu dengan lembut.
"Setelah melakukan hal bodoh itu, aku selalu menyalahkan diriku sendiri. Aku menyesal. Aku tidak bermaksud membuangmu. Saat itu aku benar-benar bingung dan jenuh dengan semua keadaanku. Maafkan aku, Hae-ah."
Donghae mulai menarik sudut bibirnya membentuk senyuman tipis setelah mendengar penuturan tanpa jeda dari Song ahjumma. Ucapan itu terdengar begitu jelas. Intonasi dan nada nya pun meyakinkan Donghae bahwa yeoja itu tidak sedang berbohong.
"Aku benar-benar merasa bersalah padamu dan eommamu. Beberapa hari setelah aku meninggalkanmu, aku langsung mencarimu kemana-mana tapi aku tak berhasil menemukanmu. Aku sangat mengkhawatirkanmu, Hae."
"Ahjumma…"
"Tapi untunglah kau baik-baik saja. Aku senang bisa melihatmu di sini lagi. Aku sangat mencemaskanmu. Aku tidak bisa hidup tenang saat mengingatmu," ucap Song ahjumma dengan nada lega.
"Maukah kau memaafkanku, Hae-ah?" tanya Song ahjumma lagi setelah terdiam dan memandangi wajah Donghae.
Donghae melebarkan senyumannya. Tangannya terangkat dan menyentuh punggung tangan Song ahjumma yang masih menangkup wajahnya.
"Aku tidak pernah menyalahkanmu. Aku bisa mengerti," balas Donghae.
Song ahjumma kembali memeluk Donghae dan menuntaskan tangisannya dalam pelukan itu. Donghae pun hanya bisa terdiam.
Setelah beberapa saat, Song ahjumma melepaskan pelukannya. Di hapuskan jejak air mata di wajahnya lalu menatap Donghae dengan senyuman lembut.
"Syukurlah kau baik-baik saja. Aku senang kau bisa kembali kemari, Hae. Aku janji tidak akan melakukan hal bodoh lagi," seru Song ahjumma, "Aku juga menyayangimu sebagai anakku sendiri."
Donghae hanya menunjukkan senyuman manisnya, "Ne, ahjumma. Gomawo."
"Kau benar-benar Hae hyung?"
Namja kecil yang sedaritadi diam memperhatikan eommanya itu mulai bersuara sambil menarik-narik ujung kaus yang di kenakan oleh Donghae.
"Jino?" tebak Donghae dengan senyuman lebar.
Anak berusia sekitar 8 tahun itu menganggukkan kepalanya, "Ne, ini Jino. Hyung kemana saja? Aku terus menanyakan hyung pada eomma setiap hari. Aku merindukanmu, hyung."
Donghae terkekeh pelan, "Benarkah kau merindukanku?"
"Heum," Jino kembali mengangguk mantap, "Tidak ada yang menemaniku bermain lagi. Ah, bada juga merindukanmu. Aku merawat bada untukmu, hyung. Eomma bilang kau pasti kembali dan sekarang kau benar-benar pulang."
"Pantas saja bada langsung berlari. Dia pasti bisa merasakan kehadiranmu," cerocos Jino membuat Donghae semakin tergelak.
Donghae mengulurkan tangannya ke depan. Jino yang dulu sering bermain dengan Donghae pun mengerti. Ia meraih tangan Donghae dan menggenggamnya erat. Tawa riang khas anak-anak dapat terdengar oleh Donghae.
Kyuhyun bisa sedikit bernapas lega melihat senyuman di wajah Donghae. Namun ia tetap menampilkan tatapan tidak suka dan sorot mata tajam saat bertemu pandang dengan Song ahjumma.
"Kyunie…"
Lamunan Kyuhyun buyar saat Donghae memanggilnya. Kyuhyun pun langsung maju dan mendekati hyung nya itu.
"Heum. Waeyo?" tanya Kyuhyun datar.
Donghae hanya tersenyum mendengar perubahan di nada bicara dongsaengnya itu. Dia sadar bahwa Kyuhyun masih menyimpan rasa tidak suka dan waspada pada Song ahjumma. Tangan Donghae bergerak hendak mencari sosok Kyuhyun namun tak lama Kyuhyun justru meraih tangan itu terlebih dahulu.
"Ahjumma…" panggil Donghae membuat Song ahjumma yang masih menghapus buliran bening di pelupuk matanya menatapnya bertanya kembali.
"Ne, Hae-ah," balas Song ahjumma.
Donghae tersenyum mendengar suara balasan itu, "Ini… Dia dongsaengku."
"Mwo?" Song ahjumma sontak terkejut dengan ucapan Donghae barusan. Dia langsung menatap Kyuhyun dengan tatapan tidak percaya, "Maksudmu apa, Hae?"
Donghae terkekeh pelan lalu menunjukkan senyum childishnya.
"Dia adalah Kyuhyun. Aku sudah menganggapnya sebagai dongsaengku sendiri. Selama berada di Seoul, aku tinggal bersama Kyuhyun," jelas Donghae.
Song ahjumma menghela napas dan mengangguk mengerti. Dia mulai tersenyum lembut kepada Kyuhyun walau namja yang di perkenalkan Donghae itu tengah menatapnya dengan intens dan penuh selidik.
"Ne. Kyuhyun imnida. Bangapseumnida," ucap Kyuhyun memperkenalkan dirinya sendiri dengan setengah hati.
"Ne Kyuhyun-ah. Gomawo. Aku benar-benar sangat berterimakasih karena sudah mau menjaga dan merawat uri Donghae selama ini. Aku berhutang padamu," balas Song ahjumma masih dengan senyuman.
Kyuhyun hanya mengangguk dan tersenyum sedikit meremehkan, "Gwaenchana. Hae hyung sudah seperti hyung ku sendiri. Aku senang bisa bertemu dan tinggal bersamanya."
"Dan sepertinya… Aku harus berterimakasih pada Song-ssi karena jika kau tidak meninggalkan Hae hyung di taman, mungkin aku tidak akan bertemu dengannya," ucap Kyuhyun dengan nada mengejek.
Mendengar ucapan itu, Song ahjumma menunjukkan ekspresi sedihnya lagi. Perasaan bersalah itu kembali menyeruak dalam hatinya.
"Kyu…" tegur Donghae sambil mengeratkan genggamannya pada tangan Kyuhyun. Tak ada respon dari Kyuhyun membuat Donghae menghela napas sendiri.
"Kapan kalian tiba di sini?" tanya Song ahjumma untuk mengalihkan pembicaraan.
"Kami baru saja tiba, ahjumma. Aku memang ingin ke rumahmu tapi kami ke pantai dulu. Tak menyangka akan bertemu di sini," seru Donghae menjawab pertanyaan itu.
Song ahjumma menepuk lengan Donghae pelan, "Arrasso. Kita kembali ke rumah sekarang?" tanyanya.
"Ayo Hae hyung, kita pulang. Nanti temani aku bermain lagi seperti biasa ya?" seru Jino riang.
Donghae hanya terkekeh pelan lalu mengangguk, menyetujui permintaan anak itu. Jino langsung mengambil bada yang masih berputar-putar mengelilingi Donghae. Di gendongnya anjing putih itu dan mulai melangkah bersama dengan eommanya.
"Ayo, Hae hyung!" panggil Jino lagi karena Donghae masih terdiam di tempat.
"Hyung…"
Donghae tersenyum saat mendengar suara Kyuhyun yang sejak tadi di nantikannya. Kepalanya menoleh ke asal suara yang di dengarnya.
"Ne, Kyunie?"
Kyuhyun memandang ahjumma dan anaknya yang sudah berjarak beberapa meter dari mereka dengan tatapan sulit di artikan. Kembali di alihkan pandangannya menuju pada Donghae.
"Kita benar-benar akan menginap di rumah orang itu?" tanya Kyuhyun ragu.
"Ne. Waeyo?" Donghae balik bertanya.
Kyuhyun mendengus sebal, "Kalau aku tidak mau, bagaimana?"
Donghae sedikit terkejut dengan ucapan Kyuhyun. Dia terdiam sejenak dengan beberapa pikiran yang menghampirinya. Kyuhyun memperhatikan hyungnya dengan seksama.
"Kenapa Kyu tidak mau menginap di sana?" tanya Donghae.
"Sudah jelas 'kan? Aku tidak suka pada orang itu. Dia sudah membuangmu dulu," dengus Kyuhyun.
Donghae terkikik geli membuat Kyuhyun menatapnya bingung.
"Aku yang di buang saja tidak membenci Song ahjumma. Kenapa jadi kau yang membencinya, eoh? Toh, apa yang kau katakan tadi ada benarnya, Kyunie. Jika Song ahjumma tidak membuangku maka mungkin saja kita tidak akan pernah bertemu," ucap Donghae dengan pelan.
"Bukan seperti itu, hyung," Kyuhyun mendecakan lidahnya dan melipat kedua tangannya di depan dada, "Aku hanya tidak suka."
"Kyu…" Donghae menjulurkan tangannya dan menyentuh lengan Kyuhyun.
"Setiap orang pasti mempunyai kesalahan. Tidak ada manusia yang sempurna," Donghae berucap dengan serius, "Song ahjumma pun sudah meminta maaf. Aku bisa merasakan kesungguhannya saat meminta maaf tadi."
"Tidak perlu membenci atau berprasangka buruk. Setiap orang bisa berubah kapanpun bahkan hanya dalam waktu sedetik saja," ucap Donghae.
Kyuhyun terdiam mendengar ucapan itu. Pandangannya beralih menatap hamparan pasir berwarna keemasan yang di pijaknya.
"Kita hanya menginap semalam saja, Kyu. Tidak perlu cemas nde?" Donghae tersenyum. Terlihat dia tengah menanti balasan dari Kyuhyun yang tiba-tiba terdiam itu.
"Kyu…" panggil Donghae lagi.
Kyuhyun menghela napas lalu mengangguk pasrah, "Ne. Aku ikut hyung saja."
Donghae melebarkan senyumannya. Tangannya menjulur dan Kyuhyun yang mengerti langsung meraih tangan itu.
Pandangan Kyuhyun beralih menuju Song ahjumma dan Jino yang terlihat terdiam di depan sana seakan menunggu mereka untuk menyusul. Kaki Kyuhyun pun mulai melangkah. Donghae pun melebarkan senyumannya saat Kyuhyun mulai berjalan. Mereka pun berjalan beriringan menghampiri Song ahjumma yang sudah menunggu di depan sana.
Hae hyung… Satu hal lagi yang ku pelajari darimu. Kau mempunyai hati yang sangat baik. Kau mampu memaafkan seseorang yang sudah berbuat jahat padamu dalam waktu singkat. Tak mempunyai prasangka buruk, dendam ataupun kekecewaan yang terpendam lagi. Entah bagaimana caranya kau bisa mengontrol semua perasaan itu. Walaupun tak mampu melihat ekspresi yang di tunjukkan lawan bicaramu, kau memilih untuk percaya dengan apa yang tertangkap pendengaranmu.
.
.
.
Berputar…
Itu hal pertama yang di rasakan oleh Kyuhyun saat membuka mata dan langsung terduduk di atas futonnya. Semua hal yang terlihat seperti berputar baginya. Matanya menyipit dan kedua tangannya langsung memeganggi kepalanya, sedikit mencengkram helai rambutnya sendiri.
Seingat Kyuhyun, setelah tiba di rumah Song ahjumma, dia merasa sangat mengantuk. Tanpa sadar, Kyuhyun langsung tertidur dalam kamar yang di tunjukkan ahjumma itu. Entah berapa jam dia sudah tertidur tapi yang jelas sekarang Donghae tidak berada di kamar lagi seperti sebelum dia tertidur.
"Kepalaku… Appo," lirih Kyuhyun masih meringis kesakitan.
Menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan untuk memperoleh ketenangan. Matanya pun sudah terpejam kembali untuk menetralisir rasa sakit yang tiba-tiba di rasakannya. Rasa sakit itu berangsur menghilang membuat Kyuhyun bisa bernapas lega.
Kelopak mata yang sempat terpejam itu kembali terbuka. Terdiam sejenak, memandangi kedua tangannya sendiri. Setelah merasa cukup baik, pandangan Kyuhyun mulai berkeliling ke seluruh sudut kamar. Kamar yang tidak terlalu besar dan bergaya tradisional ini akan menjadi tempat menginapnya malam ini.
"Hae hyung kemana?" Kyuhyun menggembungkan pipinya kesal karena tak menemukan sosok Donghae yang tadi menemaninya di dalam kamar ini.
"Kenapa meninggalkanku sendirian di sini? Uh," gerutu bocah itu lagi.
Kyuhyun mulai beranjak berdiri. Di lipatkan kasur dan selimut yang tadi di gunakannya lalu meletakkan itu di sudut ruangan.
Di gesernya pintu kayu bergaya tradisional itu. Langit bertabur bintang menjadi pemandangan pertama yang menyapa Kyuhyun. Angin malam yang berhembus cukup dingin pun langsung menerpa tubuh kurusnya. Di eratkannya cardigan berwarna abu-abu yang Kyuhyun kenakan.
Kyuhyun terdiam sejenak di pelataran luar kamarnya ini. Di hirupnya udara bercampur aroma laut yang terasa cukup segar. Sangat berbeda dengan udara yang biasa di hirupnya saat berada di Seoul.
Pandangan Kyuhyun mulai menyapu sekitar. Kebanyakan rumah di pesisir pantai ini memang masih tradisional Korea termasuk dengan rumah Song ahjumma. Hampir seluruh bagian rumah terbuat dari kayu khusus yang tak mudah lapuk. Halaman rumah yang cukup luas dengan tembok batu yang mengelilingi sekitar rumah. Bagian belakang rumah ini pun langsung menghadap ke arah laut sehingga deburan ombak dapat terdengar jelas di tempat ini.
Kyuhyun menarik sudut bibirnya. Sepertinya dia menyetujui pernyataan Donghae bahwa tempat ini memang menyenangkan dan terkesan alami. Pantas saja Donghae menyukai tempat ini. Baru beberapa jam di sini saja, Kyuhyun sudah suka.
"Hae hyung…"
Kaki Kyuhyun mulai melangkah menyusuri pelataran rumah ini. Pandangannya mengedar ke beberapa ruangan yang terlihat sepi. Panggilan pun terus terlontar dari bibirnya.
"Hae hyung, eodiga eoh?" panggil Kyuhyun lagi.
Suara tawa samar-samar tertangkap pendengaran Kyuhyun. Tanpa di perintah, Kyuhyun melangkahkan kakinya menuju ruangan yang sepertinya memilikki tanda-tanda kehidupan itu.
Pintu sebuah ruangan sedikit terbuka. Kyuhyun mendekat dan mengintip apa yang ada di dalam ruangan itu. Donghae terlihat tengah bercanda dengan Jino. Kedua anak itu tertawa entah karena hal apa. Jino asyik menceritakan beberapa hal yang Kyuhyun tak mengerti.
"Kau mudah sekali beradaptasi, hyung," lirih Kyuhyun masih dengan pandangan terfokus kedua anak itu.
Sepertinya dua subjek yang di perhatikan Kyuhyun itu belum menyadari keberadaannya. Mereka terus berbincang seru. Dan entah mengapa Kyuhyun justru diam di depan pintu seperti ini.
"Tak terlihat canggung sedikit pun dengan anak yang sudah lama tidak kau temui eoh? Ck, bagaimana caranya? Kadang banyak hal dari dirimu yang terkadang membuatku bingung, hyung."
Kyuhyun masih bermonolog seorang diri seolah tanpa niat untuk masuk ke dalam.
"Kenapa berdiri di sini?"
Sebuah suara lembut membuat Kyuhyun mengalihkan tatapannya. Song ahjumma sudah berdiri beberapa langkah dari Kyuhyun. Dia membawa sebuah bakul yang Kyuhyun tidak tahu apa isinya.
Kyuhyun mengerjapkan matanya bingung sebelum menggelengkan kepalanya ragu, "Ani," jawabnya singkat.
Song ahjumma tersenyum kecil lalu mengangguk mengerti. Tatapannya beralih dari Kyuhyun menuju ke dalam ruangan. Di lihatnya Donghae tengah bercanda dengan anak satu-satunya.
"Jino sangat senang Donghae kembali kemari," lirih Song ahjumma.
Kyuhyun hanya memasang ekspresi datar saat berhadapan dengan yeoja paruh baya di hadapannya itu. Song ahjumma kembali tersenyum pada Kyuhyun sebelum melangkahkan kakinya menuju halaman di tengah rumah ini.
Sebuah meja yang cukup besar dan terbuat dari kayu terlihat menghiasi tengah halaman. Entah apa yang Kyuhyun pikirkan, namja itu justru melangkahkan kakinya mengikuti Song ahjumma. Di perhatikannya setiap gerak gerik yeoja itu dengan seksama.
Song ahjumma sendiri tidak protes dengan Kyuhyun yang menatapnya intens. Dia memilih fokus pada pekerjaannya. Di susunnya beberapa ikan yang ada di dalam bakul. Ikan-ikan yang sudah di keringkan itu di letakkan berjejer di atas meja kayu.
"Jadi selama ini, Hae tinggal bersamamu nde?" Song ahjumma memecah keheningan yang terjadi, "Pasti sulit mengenalkan suasana baru kepada Donghae saat awal-awal."
"Tidak juga," Kyuhyun menyahut ucapan itu, "Hae hyung sangat hebat dalam mempelajari hal baru. Dia itu hebat."
Song ahjumma mendudukan dirinya di sisi meja yang kosong. Di tatapnya Kyuhyun dengan senyuman manis.
"Ne. Kalian terlihat begitu dekat. Aku tidak pernah melihat Hae sedekat itu dengan orang lain," seru yeoja itu.
Kyuhyun menarik sebelah sudut bibirnya, "Bukankah kami sudah bilang tadi? Donghae sudah ku anggap sebagai hyungku sendiri. Begitupula sebaliknya."
"Kami ini keluarga… Jadi bukan suatu yang mengherankan jika kami dekat," tambah Kyuhyun.
Song ahjumma cukup tertegun dengan perkataan Kyuhyun. Dia sedikit menundukkan kepalanya lalu mengangguk menyetujui ucapan yang baru saja di dengarnya.
"Aku benar-benar berterimakasih padamu, Kyuhyun-ah. Terimakasih sudah menjaga Donghae selama ini," ucap yeoja itu tulus.
Kyuhyun menyembunyikan kedua tangannya dalam saku cardigannya. Ia terkekeh pelan lalu duduk di pelataran luar rumah itu.
"Sedikit aneh mendengar Song-ssi berucap seperti ini," seru Kyuhyun membuat yeoja yang berhadapan dengannya mengernyit bingung.
"Kau yang membuang Hae hyung saat itu 'kan? Meninggalkannya begitu saja di tengah hujan salju. Apa kau tahu?" Kyuhyun menggantung ucapannya lalu mengulas senyuman meremehkan.
"Jika aku tidak mendekatinya saat itu, Hae hyung pasti akan mati kedinginan. Dengan baju setipis itu, tanpa sarung tangan, topi dan sepatu boot. Saat itu, aku benar-benar mengira kau ingin membunuhnya."
Mendengar cerita itu, Song ahjumma semakin menundukkan kepalanya. Setetes air mata kembali lolos dari pucuk matanya. Ekspresi wajahnya pun berubah menjadi lebih sendu.
"Hae hyung sangat mempercayaimu. Dia rela menunggu berjam-jam di tengah salju seperti itu karena percaya bahwa kau akan segera datang dan menjemputnya. Dia sudah menggigil kedinginan namun karena janjinya, dia tetap berada di sana."
Ucapan Kyuhyun berubah menjadi lebih tinggi dan dingin. Sorot matanya pun berubah menjadi lebih tajam dan menatap lurus ke arah Song ahjumma. Dia tidak peduli jika sikapnya ini kurang ajar atau apapun. Kyuhyun hanya ingin mengungkapkan apa yang berputar dalam pikirkannya.
"Tapi nyatanya orang yang di tunggu tak kunjung datang hingga malam. Kau tahu? Hae hyung tidak pernah menyalahkanmu sedikit pun. Dia justru menyalahkan dirinya sendiri. Dia merasa tidak berguna dan hanya bisa menyusahkan orang lain. Karena merepotkan makanya kau membuangnya, itu yang di pikirkan oleh Hae hyung!"
Napas Kyuhyun cukup memburu setelah berucap setengah emosi seperti itu. Dia menarik napas dalam. Tatapannya mulai beralih menuju langit bertabur bintang di atas sana. Langit di tempat ini seperti lebih dekat dari yang di lihatnya di Seoul.
Tatapan Kyuhyun berubah melembut. Tangannya terjulur ke atas seolah ingin menjangkau satu saja bintang berkelip itu.
"Hae hyung punya hati yang tulus. Dia mengajarkan banyak hal padaku," lirih Kyuhyun sambil mengulas sebuah senyuman tipis.
Keheningan terjadi sesaat. Kyuhyun masih setia memandangi langit sedangkan Song ahjumma bergelut dengan pemikirannya sendiri.
Setelah puas memandangi langit, Kyuhyun mengembalikan tatapannya pada yeoja di depan sana. Di perhatikannya ahjumma itu dengan seksama.
"Dan sekarang… Aku cukup terkejut saat melihat kau yang menangis-nangis ketika bertemu Hae hyung. Aku tak menyangka kau akan bersikap seperti ini," seru Kyuhyun pelan.
"Aku… Aku sangat menyesal karena hal bodoh yang pernah ku lakukan pada Hae," Song ahjumma mulai membuka suaranya dengan lirih.
"Penyesalan selalu datang terakhir. Aku tahu itu," sahut Kyuhyun sambil tertawa pelan, "Aku hanya tidak habis pikir, bagaimana bisa kau membuang orang sebaik Hae hyung? Dia tidak punya salah padamu 'kan? Ah, apa benar hanya karena merasa kerepotan, kau memilih membuangnya?"
Song ahjumma menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tangannya terangkat dan menghapus jejak air mata di pipinya sebelum wajah itu kembali terangkat dan menatap Kyuhyun.
"Aku yang salah. Aku tidak berpikir panjang saat itu. Aku di butakan oleh stress dan rasa jenuh dengan kehidupanku," ucap yeoja itu.
"Aku dan suamiku bercerai beberapa tahun lalu. Dia pergi entah kemana dan meninggalkanku bersama Jino. Aku bekerja keras untuk menghidupi kami berdua hingga Hae datang," cerita Song ahjumma.
"Sebagai sahabat, aku harus memenuhi permintaan eomma Hae untuk merawat anak itu. Awalnya biasa saja. Tapi beberapa bulan bersama, aku mulai jenuh dengan keadaan kami. Hae memang tidak bekerja saat itu. Dia hanya menangkap ikan setiap harinya."
"Aku pun hanya menjual ikan di pasar. Kehidupan kami bertambah sulit. Aku tidak punya uang sedikit pun saat jualanku tidak laku. Aku frustasi dengan semua keadaan. Menghidupi diriku dan Jino saja cukup sulit tapi sekarang aku juga harus menanggung Hae."
Kyuhyun tertawa meremehkan mendengar cerita itu. Apa yang di perkirakannya benar. Kyuhyun mengalihkan tatapannya ke sembarang arah asalkan tidak menatap yeoja yang tengah bercerita itu.
"Hingga pikiran bodoh itu datang. Aku berpikir jika membuang Hae maka kehidupan kami akan sedikit lebih baik. Akhirnya aku membawanya ke kota saat ingin mengantarkan ikan. Aku sendiri bingung kenapa bisa tega meninggalkan Hae sendirian di taman itu."
Song ahjumma menarik napasnya dan menghembuskannya perlahan. Sesekali tangannya masih menghapus air mata yang meluncur tanpa di perintah.
"Tapi setelah kembali ke Mokpo, aku benar-benar menyesal. Setiap malam aku memimpikan Hae dan eommanya. Aku melanggar janji pada sahabatku sendiri untuk merawat Hae. Aku terus menyalahkan diriku saat itu."
"Karena itu, aku langsung mencarinya kembali ke seluruh taman dan kota. Tapi usahaku sia-sia. Aku tak bisa menemukannya. Akhirnya aku hanya bisa berdoa agar Hae baik-baik saja dan tetap berusaha mencarinya."
Song ahjumma menghela napas panjang sebelum mengulas senyuman tulus di wajahnya kembali. Di tatapnya Kyuhyun dengan lembut.
"Aku sangat berterimakasih padamu, Kyuhyun-ah. Sekarang Donghae sudah kembali," ujar Song ahjumma, "Aku berjanji tak akan mengulang kesalahan bodoh itu lagi. Aku akan menjaga Hae mulai sekarang."
Kyuhyun sontak menatap yeoja itu lagi dengan kerutan bingung di dahinya.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan Hae lagi. Aku berjanji akan menjaga Hae dengan seluruh hidupku. Aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri."
Mulut Kyuhyun sudah terbuka hendak membalas ucapan Song ahjumma yang cukup membuatnya terkesiap. Namun tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Ia hanya memandang Song ahjumma dengan sorot keterkejutan bercampur ketakutan.
Tunggu…
Dia bilang, Hae hyung sudah kembali dan mulai sekarang dia akan menjaganya?
Andwae! Hae hyung kembali ke tempat ini hanya untuk sementara waktu. Hae hyung tidak akan tinggal di sini lagi dan meninggalkan diriku sendiri.
Benar begitu 'kan? Hae hyung tidak mungkin melakukan itu…
Semua ucapan Song ahjumma terus terngiang dalam benak Kyuhyun. Bahkan sudah terjadi perang batin dalam benak namja itu. Ingin rasanya mengatakan bahwa Donghae tidak akan tinggal di sini lagi. Tapi entah kenapa Kyuhyun seperti kehilangan suaranya. Separuh hatinya menegaskan bahwa Donghae tidak akan pergi tapi setengahnya lagi seperti menyetujui ucapan ahjumma tersebut.
Kyuhyun menundukkan kepalanya dan meremas kedua tangannya sendiri untuk menyalurkan rasa cemas dan takut yang tiba-tiba menyelusup dalam hatinya.
"Eomma, kemari! Ppalli-wa!"
Seruan Jino dari dalam ruangan membuat Song ahjumma segera beranjak berdiri Di tepuknya pundak Kyuhyun lalu dengan isyarat kepala seolah menyuruh Kyuhyun untuk masuk bersamanya.
Kyuhyun hanya tersenyum tipis. Dia bergeming di tempatnya. Tak ada niatan sedikit pun untuk beranjak dari sana membuat Song ahjumma mendahuluinya untuk masuk.
Beberapa saat terdiam, Kyuhyun menolehkan kepalanya menuju ruangan yang terbuka tak jauh dari tempatnya. Bisa di lihatnya dengan jelas wajah Donghae yang sangat bahagia saat berbincang dan bercanda bersama Song ahjumma dan Jino. Kyuhyun memandang moment itu dengan tatapan sendu.
"Hae hyung… Kau tidak akan meninggalkanku 'kan?"
.
.
Hamparan laut yang terlihat gelap, hanya mengandalkan pencahayaan dari rembulan dan bintang di langit itu menjadi objek pemandangan yang cukup menarik perhatian Kyuhyun. Hembusan angin darat yang menuju ke laut selalu di manfaatkan oleh para nelayan untuk segera berlayar dan menangkap ikan walaupun hari sudah malam seperti ini.
Kyuhyun duduk di pelataran rumah Song ahjumma bagian belakang. Sisi rumah yang langsung menghadap ke arah laut. Punggungnya bersandar di dinding kayu. Salah satu kakinya di luruskan dan yang lainnya di tekuk. Kedua tangannya di lipat di dada untuk mencari kehangatan tersendiri di tengah hembusan angin dingin. Kedua matanya di pejamkan seolah menikmati semilir angin yang memainkan helai rambutnya.
"Kyu?"
Suara yang tidak asing itu tertangkap pendengaran Kyuhyun. Kelopak mata yang tadi tertutup itu perlahan mulai terbuka. Kepalanya langsung di tolehkan ke asal suara.
Donghae sudah berdiri beberapa langkah darinya dengan ekspresi bercampur bingung dan ragu.
"Kyuhyunie," panggil Donghae lagi untuk memastikan keberadaan dongsaengnya di tempat itu.
"Aku di sini, hyung."
Jawaban dari Kyuhyun membuat Donghae menghela napas lega. Senyuman mulai terlukis di wajahnya. Kakinya kembali maju beberapa langkah. Tangannya terulur untuk mencari keberadaan pasti Kyuhyun.
"Kyu?"
Kyuhyun menegakkan posisi duduknya. Tangannya terangkat dan langsung meraih tangan hyungnya itu. Menuntun Donghae agar duduk di sampingnya.
"Darimana kau tahu aku ada di sini?" tanya Kyuhyun sembari menyandarkan punggungnya lagi.
Donghae tersenyum lalu mengangguk, "Tadi aku minta Jino untuk menemaniku mencarimu. Dia bilang kau ada di sini dan setelahnya dia langsung pergi karena di panggil Song ahjumma."
Kyuhyun bergumam pelan untuk menanggapi penjelasan dari hyungnya itu. Donghae menautkan kedua alisnya. Ekspresi wajahnya di buat menjadi kesal.
"Kau sendiri sedang apa di sini, eoh? Kenapa tidak menemuiku? Aku cemas karena tidak menemukanmu di kamar, Kyu. Kau membuatku khawatir!" tukas Donghae.
Ekor mata Kyuhyun melirik ke arah Donghae. Senyuman geli terpantri di wajahnya kala melihat ekspresi yang di tunjukkan hyungnya itu.
"Kau mencemaskanku?" Kyuhyun justru balik bertanya.
Donghae mendengus sebal, "Tentu saja. Kau adalah adikku. Jika sesuatu terjadi pada adikku, bagaimana?"
Kyuhyun terkekeh pelan namun setelahnya pipinya menggembung kesal, "Aku bukan anak kecil, hyung. Tidak perlu secemas itu."
Keduanya terdiam untuk beberapa saat. Kyuhyun memandang apa saja yang ada di hadapannya sedangkan Donghae memilih untuk diam sambil memainkan gelang hitam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Donghae mulai memejamkan matanya untuk menikmati semilir angin yang memainkan helai rambutnya. Keheningan malam dapat terasa. Hanya suara deburan ombak yang mendominasi pendengaran mereka.
"Hyung…" panggil Kyuhyun memecah keheningan yang terjadi.
"Apa?" sahut Donghae yang sudah menunjukkan senyum manisnya.
Kyuhyun menarik napas dalam sebelum berucap, "Kau benar-benar menganggapku sebagai adikmu 'kan?"
Donghae mengerjapkan matanya mendengar pertanyaan Kyuhyun yang menurutnya sedikit aneh. Namun beberapa detik kemudian, namja berwajah childish itu justru tergelak. Kyuhyun langsung menolehkan kepalanya dan menatap hyungnya itu dengan pipi menggembung kesal.
"Hyung, aku serius!" sentak Kyuhyun cukup keras.
Donghae mengibaskan sebelah tangannya, masih dengan tawa geli yang meluncur dari mulutnya.
"Huh!" Kyuhyun mendengus sebal. Matanya terus memperhatikan gerak gerik Donghae
"Kenapa kau bertanya begitu, Kyunie?" tanya Donghae setelah mampu menghentikan tawanya.
Kyuhyun mengalihkan tatapannya menuju lurus ke depan lagi.
"Kyu?"
"Kau terlihat senang di sini, hyung."
Donghae mengerutkan dahinya mendengar ucapan Kyuhyun yang sedikit tidak sinkron dengan pertanyaan yang di lontarkannya. Namun Donghae memilih untuk diam dan menunggu kelanjutan ucapan Kyuhyun.
"Ku perhatikan, kau benar-benar senang berada di sini. Kau terus tertawa bersama anak itu. Kalian juga terlihat akrab."
Kyuhyun membenarkan posisi duduknya yang sedikit merosot. Namja itu mencari posisi yang lebih enak untuk melanjutkan ceritanya.
"Melihatmu bersama mereka seperti melihat sebuah keluarga yang berkumpul bersama," Kyuhyun menghela napasnya pelan, "Kalian terlihat begitu bahagia…"
Donghae tersenyum saat mulai menangkap arah pembicaraan Kyuhyun. Kepalanya mengangguk sekali, "Mungkin itu karena aku sudah lama tak bertemu dengan mereka. Jadinya sedikit rindu."
"Apalagi suara Song ahjumma sedikit mirip dengan suara eomma. Aku seperti sedang bicara dengan eommaku sendiri saat berbicara dengannya," tambah Donghae.
"Itu yang membuatmu tidak bisa membenci ahjumma itu?" tanya Kyuhyun.
Donghae terkekeh pelan. Tangannya terangkat dan meraba sekitar untuk mencari tangan Kyuhyun. Di tepuknya pelan punggung tangan Kyuhyun yang sudah di temukannya.
"Aniyo. Kita memang tidak boleh membenci seseorang, Kyunie," seru Donghae.
Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya, "Walaupun orang itu berbuat jahat pada kita? Itu tidak adil."
Donghae mengangguk mantap membuat Kyuhyun menghela napasnya kembali. Pandangan Kyuhyun teralih pada lantai kayu.
"Tidak ada orang yang sempurna. Setiap orang pasti memilikki kesalahannya sendiri. Jika dia punya salah padamu, tak ada salahnya memberikan kesempatan baginya untuk memperbaiki kesalahan itu. Jangan menyimpan dendam apapun."
Donghae berucap dengan pelan dan memberi jeda pada beberapa katanya agar lebih di mengerti bagi yang mendengarnya.
Senyuman tipis terlukis di wajah Kyuhyun. Ia menggelengkan kepalanya, "Aku tidak punya dendam pada siapapun. Hanya ada beberapa orang yang tidak ku sukai."
Donghae menganggukkan kepalanya, "Ingat saja kebaikan yang pernah mereka lakukan walau itu sulit. Jangan ingat hal buruk yang pernah mereka lakukan pada kita."
Kyuhyun tersenyum geli saat memperhatikan ekspresi Donghae yang terus menjelaskan beberapa hal. Terkadang Donghae terlihat begitu dewasa dan bijak tapi di sisi lain sikap kekanakan hyungnya itu tidak bisa di sembunyikan.
"Arasseo, hyung."
Kyuhyun mengalihkan tatapannya menuju langit malam bertabur bintang itu, "Kau tahu, Hae hyung? Terkadang aku ingin menjadi sepertimu."
Donghae cukup terkesiap mendengar gumaman dari Kyuhyun, "Aku?"
Kekehan pelan meluncur dari bibir Kyuhyun. Kepalanya langsung mengangguk, "Heum. Ada kalanya aku ingin tak melihat ekspresi dari orang yang ku ajak bicara. Cukup percaya dengan ucapan mereka saja."
"Yah… Kadang ekspresi seseorang itu bisa menipu kita. Banyak hal yang tersembunyi dari ekspresi itu," lirih Kyuhyun. Donghae terkekeh pelan.
"Kau tahu, Kyu? Kadang pendengaran kita bisa lebih sensitif dari penglihatan kita," seru Donghae, "Kau bisa mengetahui kebohongan seseorang hanya dengan mendengar suara mereka saat berbicara."
Ucapan Donghae membuat Kyuhyun tertegun. Kembali di tatapnya Donghae dengan berbagai ekspresi.
"Benarkah?"
"Aku bilang terkadang, Kyu."
"Bagaimana caranya, hyung?"
Donghae tersenyum geli mendengar nada penasaran dari dongsaengnya itu. Sedangkan Kyuhyun menatap Donghae was-was. Jika Donghae bisa mengetahui kebohongan seseorang hanya dari suara berarti mungkin hyungnya bisa mengetahui beberapa hal yang Kyuhyun sembunyikan beberapa minggu ini terutama mengenai penyakit itu.
"Hyung?" desak Kyuhyun tidak sabaran.
"Heum… Tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata," gumam Donghae membuat Kyuhyun menggigit bibir bawahnya.
"Berarti… Apa kau tahu jika aku sedang berbohong padamu, hyung?" tanya Kyuhyun ragu.
Donghae menautkan kedua alisnya, "Kau pernah berbohong padaku, Kyu?" Donghae justru balik bertanya.
"Itu…" Kyuhyun meringis dan merutuk pertanyaan konyol yang baru saja keluar dari mulutnya.
"Jangan pernah berbohong atau menyembunyikan apapun," ucap Donghae dengan nada di buat serius, "Karena aku pasti akan tahu juga nantinya."
Entah kenapa setelah mengatakan itu, Donghae justru tergelak sendiri. Donghae tidak sadar dengan perubahan ekspresi Kyuhyun yang menjadi lebih sendu itu.
'Mianhae, hyung. Walaupun begitu, aku tetap tidak bisa jujur tentang penyakitku. Aku tidak mau membuatmu khawatir. Maafkan aku.'
Hanya ucapan itu yang mengalun dalam benak Kyuhyun. Ia menatap Donghae beberapa saat sebelum menyandarkan kepalanya di pundak sang hyung. Donghae sedikit terkejut namun tak protes dengan kelakuan adiknya itu. Tangannya justru terangkat dan mencari surai rambut Kyuhyun. Di elusnya pelan rambut Kyuhyun yang sedikit menggelitik pipi Donghae.
"Jadi…" Donghae berucap kembali, "Kenapa kau bertanya seperti tadi?"
Kyuhyun mulai memejamkan matanya. Kedua tangannya kembali di lipat di depan dada.
"Bertanya yang mana?" tanya Kyuhyun.
"Yang pertama… Kenapa kau bertanya apa aku benar-benar menganggapmu sebagai dongsaengku," jelas Donghae.
Kyuhyun tak segera menjawab pertanyaan itu. Donghae sendiri masih setia menunggu suara Kyuhyun yang akan membalas ucapannya. Berharap Kyuhyun akan segera menjawab pertanyaan itu.
"Kau terlihat senang di sini, hyung."
Akhirnya suara yang di nantikan Donghae itu mengalun bersamaan dengan deburan ombak.
"Aku… Aku takut kau akan kembali tinggal di sini. Aku takut kau tidak mau pulang ke Namdaemun dan akan meninggalkanku sendiri," jujur Kyuhyun dengan suara lirih namun cukup membuat Donghae tertegun.
"Jika kau menganggapku sebagai adikmu sendiri…" Kyuhyun menarik napas dalam sebelum melanjutkan ucapannya, "Aku bisa sedikit lebih tenang. Setidaknya aku akan percaya bahwa kau tidak akan meninggalkan adikmu sendirian. Benar 'kan?"
Donghae tersenyum haru mendengar ucapan Kyuhyun. Matanya yang terasa panas dan berkaca-kaca itu mengerjap beberapa kali. Dari ucapan Kyuhyun, Donghae bisa menarik kesimpulan bahwa Kyuhyun tidak ingin dirinya pergi. Kyuhyun tidak ingin orang yang sudah di anggapnya hyung itu pergi dan meninggalkan dirinya.
Donghae mengelus rambut Kyuhyun dengan lembut, "Kyu percaya padaku?"
Suara Donghae mulai terdengar setelah Kyuhyun terdiam. Donghae bisa merasakan kepala Kyuhyun yang bersandar di bahunya itu mengangguk pelan.
"Aku benar-benar mengganggapmu sebagai adikku sendiri," ucap Donghae, "Saat bersamamu, aku merasa seperti saat bersama appa dan eomma."
"Aku tidak peduli dengan hubungan darah atau ikatan keluarga apapun. Kyuhyun yang ku kenal saat ini sudah cukup. Kau adalah adikku."
Kyuhyun yang masih memejamkan matanya mulai menarik sudut bibirnya kala mendengar ucapan Donghae yang penuh penekanan itu.
"Dan Kyu tenang saja. Siapa yang bilang aku akan tinggal di sini lagi eoh?" Donghae terkekeh pelan, "Tentu saja aku akan tinggal bersama adikku. Aku tidak akan tenang jika adik kecilku tinggal sendirian di kota besar."
"Aku bukan anak kecil, hyung!" protes Kyuhyun membuat Donghae semakin terkikik geli. Donghae langsung mengacak rambut Kyuhyun gemas.
"Jadi kau takut aku meninggalkanmu, begitu?" goda Donghae.
Kyuhyun mengerucutkan bibirnya sedikit, "Tidak juga," kilahnya.
"Benarkah?" Donghae tersenyum geli.
"Aku hanya tidak mau tinggal sendirian," tegas Kyuhyun.
Donghae menganggukkan kepalanya mengerti. Andai saja dia bisa melihat, ingin sekali rasanya melihat ekspresi yang Kyuhyun tunjukkan saat ini. Pasti akan lucu atau imut? Hanya membayangkannya saja membuat Donghae terkekeh sendiri.
"Hae hyung…" panggil Kyuhyun sembari membuka matanya yang sedaritadi terpejam.
"Apa?" sahut Donghae.
Kyuhyun menarik napas sebelum mengulas senyuman tulus di bibirnya, "Kyu… Kyu sayang Hae hyung," ucapnya penuh penekanan namun terdengar begitu manja, "Jadi Hae hyung jangan tinggalkan Kyu, nde?"
Donghae kembali di buat tertegun dengan ucapan adiknya itu. Ia terdiam sejenak, menyerap ucapan Kyuhyun barusan ke dalam hatinya. Tangannya beralih merengkuh tubuh Kyuhyun. Kepalanya pun mengangguk beberapa kali.
"Ne. Hyung akan terus menemani Kyunie," balas Donghae dengan sepenuh hati.
Ucapan Donghae membuat Kyuhyun melebarkan senyumanya. Matanya kembali terpejam untuk menikmati kehangatan dari pelukan seorang kakak.
Ucapanmu, ku anggap sebagai sebuah janji di tengah desiran angin dan deburan ombak ini. Perasaan cemas yang tadi ku rasakan sudah sirna. Aku akan mempercayai hyungku. Dia tidak akan meninggalkanku sendiri. Satu kalimat itu sudah cukup membuatku tenang. Terimakasih sudah menghilangkan perasaan seorang diri itu dari hidupku, hyung.
.
.
.
ooOOoo Eyes ooOOoo
Angin berhembus kencang dari arah laut menuju ke pantai. Angin yang biasa di gunakan pelaut untuk kembali ke pesisir setelah menangkap ikan semalaman. Langit berwarna biru cerah di hiasi awan putih nan lembut yang juga bergerak cepat seturut dengan angin yang membawanya. Sang mentari masih berusaha naik menuju puncak singgasananya. Kicauan burung camar menjadi lantunan lagu merdu yang terdengar di pantai yang tenang ini.
Ombak yang mencapai bibir pantai itu membawa beberapa binatang laut seperti kerang, siput dan bintang laut. Hamparan pasir keemasan itu pun mulai di penuhi kerang-kerang cantik beragam bentuk dan warna.
Derap langkah beberapa pasang kaki membuat kepiting yang tengah berjemur di pantai itu mulai bergerak kembali menuju laut. Tawa riang terdengar memecah ketenangan yang terjadi di pantai itu.
"Ya, ppalli-wa! Haha Kalian lama sekali!"
Guk!
Kyuhyun tersenyum lebar sambil melambaikan kedua tangannya. Pandangannya tertuju pada Jino yang menggandeng tangan Donghae. Keduanya berlari kecil untuk menghampiri Kyuhyun yang ada di depan sana. Anjing pomeranian putih bernama bada itu pun ikut berlarian dan kini sudah memutari Kyuhyun.
"Kyu hyung… Haahh cu-rang!"
Jino menghentikan larinya. Bocah itu melepaskan genggamannya pada tangan Donghae lalu berjongkok karena terlalu lelah berlari. Donghae pun terdiam. Kedua tangannya berkacak di pinggang. Napasnya terengah-engah. Demi apapun, ini pertama kalinya Donghae berlarian seperti ini sejak beberapa bulan yang lalu.
Tawa riang Kyuhyun dan gonggongan bada tertangkap pendengaran Donghae. Ia hanya menggelengkan kepalanya. Sedikit heran kenapa Kyuhyun bisa berlarian senang dari rumah Song ahjumma hingga ke pantai ini.
"Yuhuu~ aku yang menang!"
Kyuhyun merentangkan kedua tangannya ke atas. Matanya terpejam untuk menikmati angin laut yang menerpa tubuhnya. Semua beban pikirannya di enyahkan begitu saja. Liburan, bersenang-senang. Dua kata itu yang terus berputar dalam pikiran Kyuhyun.
"Senang, eoh?"
Kyuhyun membuka matanya dan menoleh ke samping. Donghae sudah berdiri di sana bersama dengan Jino. Senyuman lebar terpantri di wajah Kyuhyun. Ia mengangguk mantap.
"Ini menyenangkan, hyung. Rasanya aku seperti terbang."
Donghae tergelak mendengar ucapan Kyuhyun, "Kau bukan burung, Kyunie."
"Ish. Itu hanya perumpamaan, hyung."
"Berlebihan."
"Biarin."
Donghae tidak membalas ucapan Kyuhyun. Ia justru melepaskan sandal yang di kenakannya dan menginjak pasir lembut itu. Donghae tidak bisa menyembunyikan senyuman senangnya. Bukan hanya senang karena kembali ke kampung halaman tapi juga mendengar keceriaan Kyuhyun. Awalnya Donghae sedikit takut jika Kyuhyun tidak menyukai tempat ini. Tapi dugaannya salah. Kyuhyun terdengar begitu ceria layaknya anak kecil yang berlibur.
"Bada, kemari!"
Jino menepuk tangannya sambil berlarian di bibir pantai bersama bada yang mengikutinya. Kyuhyun hanya memperhatikan itu dengan senyuman geli. Tatapan Kyuhyun beralih kembali pada hyungnya.
Donghae berjongkok dan meraba-raba pasir. Sebuah kerang berwarna putih bersih di temukan Donghae. Di rabanya permukaan kerang itu sebelum senyuman lucu terpantri di wajah Donghae.
"Di sini banyak kerang," seru Kyuhyun sambil ikut berjongkok di samping Donghae.
Donghae menganggukkan kepalanya. Ia bisa merasakan tangan Kyuhyun yang merebut kerang yang ada di tangannya. Kekehan pelan dari Kyuhyun membuat Donghae ikut tersenyum.
Donghae beralih meraup pasir pantai dengan tangan kanannya, "Kyu, kau mau tahu apa yang sering di katakan orang daerah sini?"
"Eoh? Apa?" tanya Kyuhyun sambil menatap hyungnya bingung.
"Kebahagiaan itu kecil seperti butiran pasir sementara kesedihan itu sebesar batu karang," Donghae menaburkan pasir yang tadi di raupnya lalu terkekeh pelan.
"Dulu orang-orang sini mengalami banyak kesulitan dan penderitaan. Karena itu mereka menciptakan ungkapan seperti itu," jelas Donghae.
"Kau setuju dengan ungkapan itu, hyung?" tanya Kyuhyun masih memainkan kerang yang ada di tangannya. Bentuk kerang yang pipih itu sepertinya menarik perhatikan Kyuhyun.
Donghae mengangguk ragu, "Kadang aku setuju dengan ungkapan itu."
"Ada kalanya kita merasa bahwa kesedihan kita itu sebesar dan sekeras batu karang. Lalu kebahagiaan kita hanya sekecil butiran pasir," tambah Donghae.
Kyuhyun tersenyum geli lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. Di lemparnya kerang yang tadi di mainkan ke arah laut di depan sana. Beberapa perahu yang tengah berlayar mampu tertangkap penglihatan Kyuhyun. Ada banyak burung camar juga yang terbang menukik ke permukaan laut guna menangkap ikan.
"Kalau begitu…" Kyuhyun mulai mengeluarkan suaranya kembali setelah terdiam, "Kau hanya membutuhkan air laut, hyung."
Donghae menaikkan sebelah alisnya mendengar ucapan Kyuhyun, "Apa?"
"Ne. Kau butuh air laut, hyung," ulang Kyuhyun lagi.
"Kenapa butuh air laut?"
Kyuhyun terkikik geli saat melihat ekspresi bingung di wajah Donghae dengan ekor matanya. Ia menarik napas dalam sebelum menjelaskan maksudnya.
"Bukankah batu karang bisa terkikis oleh air laut?" seru Kyuhyun bertanya retoris.
"Sebesar dan sekeras apapun batu karang, jika terus terkena air maka akan terkikis juga. Dia akan berkurang dan mungkin bisa hancur."
Donghae termenung mendengar penjelasan Kyuhyun selama beberapa saat sebelum senyuman mulai terlukis di wajahnya. Kepalanya mengangguk seolah membenarkan ucapan Kyuhyun itu.
"Jangan hanya fokus pada kesedihanmu. Banyak hal yang bisa menghancurkan kesedihan itu jika kau mau melihat sekitar. Contohnya air laut yang bisa mengikis batu karang."
Jemari Kyuhyun mulai menari di atas permukaan pasir. Di lukisnya beberapa kata dan gambar di atas pasir itu.
"Lalu walaupun pasir itu ukuran kecil tapi bukankah jumlahnya sangat banyak? Kau tidak akan mampu menghitung setiap butiran pasir yang ada. Dan itu menunjukkan…" Kyuhyun tersenyum puas memperhatikan hasil karyanya di atas pasir.
"Kau bisa mempunyai banyak kebahagiaan seperti butiran pasir yang ukurannya kecil namun jumlahnya begitu banyak," lanjut Kyuhyun lalu beralih menatap Donghae kembali.
"Benar 'kan, hyung?" tanya Kyuhyun.
Donghae terlihat berpikir sejenak. Mencerna setiap kata dalam ucapan Kyuhyun. Hingga akhirnya senyuman childish itu semakin mengembang di wajahnya. Donghae tertawa kecil.
"Aku tidak menyangka kau bisa berpikir seperti itu, Kyunie," seru Donghae dengan nada girang.
Kyuhyun berdecih pelan namun tetap tersenyum, "Adikmu ini jenius, hyung."
Donghae menggelengkan kepalanya, "Ani. Kau seperti orang tua, Kyu," ralatnya.
"Mwo? Andwae!"
"Eoh? Berarti kau mau seperti anak kecil?"
"Aku bukan anak kecil!"
Kyuhyun menggembungkan pipinya kesal mendengar godaan dari hyungnya. Sedangkan Donghae sudah tergelak sendiri. Matanya terpejam karena tertawa geli mendengar balasan dari Kyuhyun.
Guk! Guk!
Tiba-tiba bada berlari mendekati Donghae. Anjing putih itu mengelilingi Donghae dengan ekor berkibas lucu.
"Hei bada-ya, waeyo?" seru Donghae sambil mengulurkan tangannya. Bada langsung menjilati tangan Donghae beberapa kali.
"Anjing itu sepertinya sayang sekali padamu, hyung," gumam Kyuhyun sambil memperhatikan gerak gerik bada dengan seksama.
Donghae terkekeh pelan, "Bada itu temanku, Kyu. Dia yang selalu menemani dan menuntunku kemanapun saat aku tinggal di sini."
Kyuhyun mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti, "Apa kau ingin membawa bada pulang bersama kita, hyung?"
Donghae terlihat berpikir sejenak. Tangannya meraba bulu bada yang masih saja menjilati tangannya yang lain.
"Ani. Aku tidak akan membawanya. Biarkan bada tetap di sini untuk menemani Jino," Donghae tersenyum lembut, "Lagian tak ada yang mengurusnya jika dia ikut bersama kita. Bada itu tidak bisa diam. Aku tidak mau mengurungnya di dalam rumah."
"Heum, kau benar juga," balas Kyuhyun sambil mengelus dagunya.
Bada menggigit tali yang terjulur di sisi tubuhnya yang terekat dengan kalung yang melingkar di lehernya. Di berikan tali itu kepada Donghae seolah ingin Donghae memegang tali tersebut seperti biasa. Donghae yang mengerti pun langsung menerima tali penuntun itu dan segera berdiri.
Guk!
"Bada, chakkaman!"
Setelah Donghae berdiri, anjing itu langsung berlari cukup kencang. Otomatis Donghae harus sigap dan mengikuti langkah anjingnya berlari.
Tawa geli meluncur dari mulut Kyuhyun. Melihat Donghae yang seperti di seret seekor anjing menjadi sebuah pemandangan yang cukup lucu baginya. Kyuhyun menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan untuk menghentikan tawanya.
Kyuhyun beralih menatap Jino yang sepertinya juga tengah memperhatikan Donghae yang kewalahan. Anak itu bertemu pandang dengan Kyuhyun. Dia melambaikan tangannya seolah memanggil Kyuhyun untuk segera bergabung dengan mereka.
Kyuhyun menganggukkan kepalanya. Memperhatikan Donghae yang masih berlari berkeliling pantai mengikuti bada sebelum beranjak berdiri.
Bruk!
"Ukh!"
Kaki itu baru saja ingin melangkah namun tiba-tiba semuanya terasa berputar. Kyuhyun langsung jatuh berlutut di pasir dan tangannya reflek menekan dadanya sendiri. Rasa sesak itu tiba-tiba muncul dan kembali menghimpit dadanya. Ringisan bercampur batuk pun meluncur dari mulut Kyuhyun. Kenyerian yang di rasakan di bagian dadanya membuat seluruh persendian di tubuh Kyuhyun terasa melemas seketika. Napasnya langsung memburu dan kelopak matanya langsung terpejam dengan erat.
"Ukh…"
Selama beberapa detik, Kyuhyun seolah tak mampu mendengar suara apapun. Rasa sesak dan nyeri yang menghujam dadanya sungguh terasa menyiksa.
"Ap—po," ucap Kyuhyun terbata di tengah napasnya yang terengah.
"Kyu hyung, gwaenchana?"
Sebuah suara akhirnya tertangkap pendengaran Kyuhyun. Kelopak mata yang tadi terpejam erat mulai terbuka sedikit. Jino sudah berdiri di hadapan Kyuhyun dengan tatapan bertanya. Kyuhyun ingin segera menjawab namun bibirnya terasa kaku dan sulit untuk di gerakan. Hanya hembusan napas dan batuk saja yang bisa Kyuhyun lontarkan.
Tak mendengar jawaban dari Kyuhyun, Jino mulai berjongkok di depan Kyuhyun. Di tatapnya Kyuhyun secara intens. Ekspresi cemas mulai terlihat di wajah bocah itu kala melihat ekspresi sakit dan mendengar rintihan dari Kyuhyun.
"Kyuhyunie!"
Kyuhyun mengangkat wajahnya sedikit saat mendengar seruan dari Donghae. Mata sayu itu memandang ke arah Donghae yang berdiri cukup jauh darinya bersama dengan bada. Donghae hanya menatap lurus ke depan berbeda dengan bada yang sepertinya menatap ke arah Kyuhyun. Seruan nama Kyuhyun dan Jino terus terlontar dari mulut Donghae.
"Hae hyung," lirih Kyuhyun.
Sebelah tangan Kyuhyun masih meremas kaus bagian dadanya sendiri sedangkan tangannya yang lain sudah meraup pasir dan mencengkramnya dengan sangat erat.
"Kyu!"
Seruan Donghae semakin terdengar keras kala tak merasakan kehadiran adiknya itu di sekitarnya. Kakinya mulai melangkah pelan menuju arah Kyuhyun bersama dengan bada yang menuntunnya.
"Kyu hyung, gwaenchana?" Jino kembali bertanya.
Kyuhyun mengulas senyuman yang sangat di paksakan untuk sedikit menenangkan anak yang ada di hadapannya. Pandangan Kyuhyun mulai menyapu ke sekitar. Hingga sebuah pohon kelapa menjadi pusat perhatiannya.
"Jino," panggil Kyuhyun dengan suara begitu lirih.
Jino yang merasa di panggil pun reflek menoleh ke arah Kyuhyun, "Ne, hyung?"
"Bantu aku… uhuk—haahh," Kyuhyun berusaha untuk berbicara. Tubuhnya benar-benar terasa begitu lemas sekarang. Seluruh tenaganya seperti habis terkuras untuk menahan rasa sakit ini.
"Pohon itu… Haaahh—bantu aku," Kyuhyun mengulurkan tangannya dan menunjukan pohon kelapa yang ada di pinggir pantai.
Jino menatap Kyuhyun dan pohon kelapa itu secara bergantian. Ucapan Kyuhyun yang tidak jelas membuatnya sedikit bingung. Setelah beberapa saat mencerna maksud Kyuhyun, akhirnya Jino bertanya.
"Hyung, mau aku membantumu ke pohon itu?" tanya Jino.
Kyuhyun menganggukkan kepalanya sekali dengan lemas. Matanya kembali terpejam dan napasnya mulai terdengar putus-putus.
Jino langsung berdiri. Berpikir sejenak bagaimana cara membantu Kyuhyun menuju pohon itu karena tubuh Kyuhyun jauh lebih tinggi dan berat darinya. Tanpa pikir panjang lagi, Jino meraih tangan Kyuhyun dan mengalungkan lengan itu ke bahunya.
"Ukh," Kyuhyun berusaha untuk berdiri. Di kerahkannya kekuatannya yang tersisa. Memaksa kakinya yang lemas dan bergetar itu untuk berdiri dan melangkah. Walaupun berat, Jino berusaha menahan setengah bobot tubuh Kyuhyun. Dia membantu dan sedikit menyeret Kyuhyun menuju pohon kelapa yang tadi di tunjuk oleh Kyuhyun.
Kyuhyun langsung terduduk begitu saja di pasir. Punggungnya langsung bersandar pada pohon kelapa itu. Rintihan sakit terus mengalun dari mulutnya. Dahinya berkerut menandakan sebesar apa sakit yang di tahannya.
"Kyu hyung, gwaenchana? Kau sakit ya?" Jino bertanya untuk kesekian kalinya, "Chakkaman, aku panggilkan Hae hyung dulu nde?"
Kyuhyun langsung meraih tangan Jino yang hendak berdiri. Kepala Kyuhyun langsung menggeleng dengan cepat, "Ja—ngan."
"Mwo? Waeyo?" tanya Jino bingung.
Kyuhyun terdiam sejenak, mengumpulkan tenaga untuk kembali berucap pada bocah itu.
"Jangan beritahu Hae hyung tentang hal ini—haahh… Ba-wa Hae hyung menjauh dariku," pinta Kyuhyun.
Jino memiringkan kepalanya, heran dengan permintaan Kyuhyun, "Waeyo? Hyung 'kan sakit."
"Jebal. Jangan sampai Hae hyung tahu tentang ini," Kyuhyun terus memohon. Butiran bening terlihat sudah menggantung di kedua pucuk matanya.
"Jino-ah, jebal lakukan apa yang ku minta nde?"
Jino mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Kyuhyun yang tak ingin menjelaskan itu. Di tatapnya Kyuhyun dan Donghae yang sudah mendekat ke arah mereka secara bergantian. Helaan napas akhirnya meluncur dari bibirnya.
"Baiklah," ucap Jino ragu lalu beranjak berdiri, "Apa kau tidak apa di sini sendirian, hyung?"
Mata Kyuhyun terbuka sedikit. Kyuhyun menganggukkan kepalanya sekali, "Aku ha-nya kelelahan saja. A-ku akan istirahat di sini."
Jino pun mengangguk mengerti.
"Jino-ah," Kyuhyun mengulas senyuman tipis, "Go-mawo."
Jino belas tersenyum. Setelahnya bocah itu langsung berlari meninggalkan Kyuhyun sendirian di bawah pohon kelapa. Dia berlari menghampiri Donghae yang terlihat kebingungan. Menarik tangan Donghae dan membawanya menjauh sesuai permintaan Kyuhyun tadi. Donghae menolak namun akhirnya ia pasrah dengan Jino yang merengek.
Tes!
"Appo…" lirih Kyuhyun bersamaan dengan setetes air mata yang meluncur. Menangis karena menahan sakit yang begitu menghimpitnya.
Rasa nyeri ini jauh lebih menyakitkan dari yang sebelumnya. Entah karena apa. Mungkinkah karena Kyuhyun berlari kencang tadi? Kyuhyun merutuk rasa sakit yang menyerangnya secara tiba-tiba tanpa mengenal waktu dan tempat ini.
Kyuhyun mengalihkan tatapannya ke arah Donghae yang menemani Jino bermain bersama bada. Memperhatikan mereka dengan tatapan sendu. Kedua tangan Kyuhyun mulai terkulai lemas di sisi tubuhnya. Bahunya naik turun seirama dengan napasnya yang putus-putus.
"Hae hyung…" lirih Kyuhyun sambil memejamkan matanya kembali, "Appoyo…"
.
.
Nyes!
Donghae yang tengah duduk dengan ekspresi serius dan alis saling bertaut itu terlonjak kaget kala pipinya merasakan sensasi dingin. Kepalanya reflek menoleh ke asal benda dingin yang menyentuh permukaan pipi kanannya. Suara tawa pelan yang tidak Donghae dengar beberapa saat lalu itu mulai mengalun.
"Kyu?!" seru Donghae setengah berteriak.
Kyuhyun masih menertawakan ekspresi kaget hyungnya itu. Ia mendudukan diri di samping Donghae. Kedua tangannya menggenggam dua botol minuman dingin.
"Melamun, eoh? Kau terlihat serius sekali, Hae hyung," ucap Kyuhyun santai dengan pandangan lurus ke arah laut.
Ekspresi Donghae tiba-tiba berubah menjadi kesal. Kedua sudut bibirnya di tekuk. Jika kedua matanya bisa menyorotkan perasaannya maka ia sudah menatap adiknya itu dengan tatapan tajam.
"Kau darimana, eoh? Tiba-tiba menghilang begitu saja. Sudah ku bilang, jika ingin pergi maka kau harus memberitahuku, Kyu. Kau tahu? Kau membuatku takut, bingung dan cemas, Cho!"
Kyuhyun menolehkan kepalanya, menatap Donghae yang sudah bicara panjang lebar dengan nada kesal. Senyuman geli terlukis di wajah Kyuhyun. Donghae terlihat marah saat ini. Bisa Kyuhyun lihat dengan jelas ekspresi kesal bercampur cemas itu melingkupi wajah hyungnya.
Jika seseorang marah karena hal sepele yang kau perbuat maka orang itu pastilah sangat peduli dengan dirimu.
Orang-orang sering mengatakan hal itu. Dan sepertinya Kyuhyun menyetujui ungkapan tersebut. Contohnya adalah yang terjadi sekarang.
"Cho Kyuhyun, aku sedang bicara denganmu!" sentak Donghae karena tak kunjung mendengar balasan dari adiknya itu.
Kyuhyun berdecih pelan namun tetap mempertahankan senyumannya. Di alihkan tatapannya pada salah satu botol minuman yang masih belum terbuka. Meletakan botol yang sudah di minumnya setengah di pasir begitu saja. Tangan Kyuhyun mulai membuka tutup ulir dari botol yang masih utuh isinya itu.
"Aku membeli minuman," jawab Kyuhyun santai. Ia meraih tangan Donghae dan memberikan botol itu pada hyungnya.
"Membeli minuman? Dimana?! Mana mungkin hanya membeli minuman bisa selama itu," balas Donghae ketus, "Jangan membohongiku, Kyu," desisnya.
Kyuhyun menampilkan seringaian tipisnya, "Aku membohongimu? Aku benar-benar beli minuman, hyung. Selain itu… Apa kau bisa menebak aku kemana?" godanya.
Donghae berdecih pelan, "Aku tidak sedang bercanda, Kyu."
"Siapa yang bilang kau bercanda, hyung? Aku tidak."
"Kyu, aku serius!"
"Ne, hyung. Arasseo, aku juga serius."
Kyuhyun melebarkan seringaiannya kala melihat wajah Donghae berubah menjadi cemberut. Kadang Kyuhyun merasa kalau Donghae itu lebih pantas menjadi dongsaengnya. Kekehan pelan meluncur dari mulut Kyuhyun karena memikirkan hal itu.
Donghae tak berucap lagi. Di minumnya air dari botol yang Kyuhyun berikan lalu meletakan botol itu di pasir. Sepertinya namja itu terlalu kesal dan bingung harus memaksa Kyuhyun jujur dengan cara apa.
Kyuhyun menghilang selama kurang lebih 45 menit. Apakah masuk akal jika membeli minuman selama itu? Tentu saja tidak! Bahkan jarak rumah Song ahjumma ke pantai ini saja hanya 5 menit. Dan Donghae yakin bahwa ada sesuatu yang di sembunyikan Kyuhyun darinya.
Donghae meluruskan pandangannya dan menatap kosong hamparan laut nan indah di hadapannya.
"Nae hyung marah, eoh?" tanya Kyuhyun dengan nada manja sambil menusuk-nusuk pipi Donghae dengan telunjuknya. Dia terkikik sendiri karena tak mendapat respon apapun dari Donghae.
"Kau darimana saja?" Donghae mengulang pertanyaannya. Di raihnya telunjuk Kyuhyun yang masih menyentuh pipinya lalu menggenggam tangan adiknya yang terasa sedikit dingin itu.
Kyuhyun menghela napasnya, "Aku tidak pergi kemana-mana, hyung. Aku memperhatikanmu yang bermain dengan Jino dan bada dari bawah pohon kelapa di pinggir sana. Angin semilir membuatku mengantuk dan akhirnya aku tertidur."
Tak seluruhnya apa yang Kyuhyun katakan itu sebuah kebohongan. Kyuhyun memang terus memperhatikan Donghae dari bawah pohon kelapa hingga akhirnya ia pingsan selama beberapa saat karena terlalu lelah menahan rasa sakit.
Donghae terdiam sejenak mendengar alasan yang di lontarkan adiknya. Tangannya mulai meraba tangan Kyuhyun hingga ke pangkal. Tangan itu pun terus naik hingga mencapai wajah Kyuhyun.
"H-Hae hyung! Kau mau apa?" seru Kyuhyun sambil menahan tangan Donghae yang mulai meraba pipinya. Kedua matanya menatap sosok hyungnya dengan tatapan heran dan takut.
"Kau diam saja," sahut Donghae sembari melepaskan tangan Kyuhyun yang menahan kegiatannya.
"Hyung, kau membuatku takut!"
"Diam!"
Desisan dari Donghae membuat Kyuhyun menggembungkan pipinya kesal. Akhirnya ia terdiam dan pasrah dengan tangan Donghae yang meraba seluruh permukaan wajahnya.
"Jangan menggembungkan pipimu," Donghae menepuk pelan pipi Kyuhyun yang masih menggembung.
Kyuhyun semakin heran dengan apa yang di lakukan hyungnya ini. Ia mulai memasang wajah tanpa ekspresi. Beberapa saat Donghae meraba wajah Kyuhyun. Mulai dari dahi, alis, mata, hidung, pipi, bibir hingga rahangnya. Kyuhyun tentu merasa risih mendapatkan perlakuan tidak biasa dari Donghae namun ia tetap diam seperti yang di perintahkan hyungnya.
Kyuhyun memperhatikan ekspresi Donghae dengan seksama. Kecemasan mulai mendominasi wajah hyungnya itu sekarang.
"Kyu…" seru Donghae pelan, "Gwaenchana?"
Kyuhyun menautkan kedua alisnya, bingung dengan pertanyaan yang di lontarkan Donghae.
"Eoh?"
"Garis wajahmu menunjukkan bahwa kau sedang pucat dan menahan sesuatu, Kyu. Apa kau sakit?"
Deg!
Jantung Kyuhyun berdegub kencang saat mendengar penjelasan dari Donghae. Matanya terbelalak tidak percaya.
"Kyunie… Apa kau sakit?" Donghae mengulang pertanyaannya lagi dengan cemas.
Kyuhyun langsung meraih kedua tangan Donghae yang masih menangkup pipinya. Kyuhyun melupakan satu hal. Donghae bisa membaca keadaan dan ekspresi seseorang hanya dengan merasakan garis wajahnya saja. Mungkin bagi orang biasa itu adalah hal yang aneh tapi bagi Donghae yang melakukan itu sebagai pengganti matanya untuk melihat ekspresi seseorang pastilah bukan suatu hal yang sulit.
"Kyunie sakit, eoh?" desak Donghae karena Kyuhyun belum menjawab pertanyaannya juga.
Kyuhyun menarik napas dalam sebelum terkekeh pelan, "Aku tidak sakit, hyung."
"Benarkah? Tapi garis wajahmu—"
"Ish, apa yang kau rasakan bisa saja salah. Aku tidak sakit, sungguh!" potong Kyuhyun.
"Tapi…"
"Hyung tidak percaya padaku? Kalau aku sakit pasti aku sudah merengek pada hyungku. Kau tidak mempercayaiku, eoh?"
Donghae menarik tangannya dari genggaman Kyuhyun lalu menghela napas panjang. Kepalanya menggeleng beberapa kali, "Ani. Bukan begitu maksudku, Kyu. Hanya saja…"
Kyuhyun tersenyum getir melihat hyungnya yang terdiam dengan ekspresi berpikir. Tidak, Kyuhyun tidak ingin berbohong. Tapi dia juga takut untuk jujur. Pernahkah kalian merasa seperti itu? Sepertinya apa yang Kyuhyun sembunyikan tidak akan bertahan lama dari Donghae. Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga 'kan?
"Jino kemana ya?"
Kyuhyun bertanya untuk mengalihkan pembicaraan ini. Donghae mengangkat wajahnya yang sempat tertunduk.
"Aku tidak melihat Jino dan bada. Mereka kemana, hyung?" tanya Kyuhyun lebih jelas.
"Jino sedang mengambil kail dan umpan untuk memancing," jawab Donghae pelan.
Mendengar jawaban itu, Kyuhyun melebarkan senyumannya. Matanya mulai berbinar. Andai Donghae bisa melihatnya pastilah Donghae akan tersenyum geli melihat ekspresi yang di tunjukkan adiknya itu.
"Memancing? Jeongmal? Aku menunggu hal ini, hyung," seru Kyuhyun antusias dengan nada riang, "Aku benar-benar ingin memancing!"
Akhirnya senyuman geli terpantri di wajah Donghae kala mendengar seruang riang dari Kyuhyun. Semua perasaan cemas dan bingung yang berputar dalam pikirannya tadi seakan menghilang saat ini.
"Hae hyung akan mengajarkan Kyu memancing 'kan?" tanya Kyuhyun dengan nada manja. Tangannya meraih lengan Donghae dan menggoyangkannya tak sabaran.
"Heum, bagaimana ya?" goda Donghae seolah berpikir.
"Ayolah, Hae hyung~" rengek Kyuhyun.
"Kau harus mengajarkanku memancing!" seru Kyuhyun penuh semangat, "Nanti aku akan memancing ikan yang besar. Bisakah aku memancing ikan paus atau hiu, hyung? Ah, itu pasti hebat. Aku pasti akan terkenal jika menangkap ikan paus!"
Donghae langsung tergelak mendengar celotehan dari Kyuhyun yang menggelitik pendengarannya. Ucapan semangat Kyuhyun yang membicarakan hal-hal konyol membuat Donghae tak bisa menahan tawanya. Tidak mungkin memancing ikan paus di tepi pantai dengan alat pancing dan umpan seadanya. Berapa umurmu sebenarnya, Cho Kyuhyun?
Donghae semakin tertawa terpingkal sambil memeganggi perutanya yang terasa geli. Kyuhyun terus berucap hal-hal lucu yang membuat hyungnya tak bisa berhenti tertawa. Setidaknya hal ini akan membuat Donghae lupa dengan apa yang mereka bicarakan tadi.
Sekitar 15 menit menit, Donghae dan Kyuhyun bercanda bersama. Jino pun datang bersama bada yang mengekorinya. Jino membawa dua alat pancing sederhana dan satu kotak umpan. Mereka beranjak dari pantai itu.
Menyusuri bibir pantai bersama sambil berbincang ringan. Mereka beralih ke sisi pantai yang lebih tinggi dari sebelumnya. Mereka berada di sebuah tanjung, daratan yang menjorok ke arah laut saat ini. Tempat yang cukup tepat untuk memancing.
Kyuhyun memandang horror sekaligus jijik ke arah kotak umpan yang di sodorkan Jino padanya. Entah umpan apa itu, terlihat kotor dan menjijikan, menggeliat dan berlendir juga berbau amis. Semangat Kyuhyun yang membara tadi tiba-tiba menjadi redup hanya melihat umpan yang ada di hadapannya.
"Kka. Pasang umpannya seperti ini, Kyunie."
Donghae meraup umpan yang menurut Kyuhyun menjijikan itu dengan santai. Di pasangnya umpan itu pada kail yang sudah Donghae raba dengan hati-hati sebelumnya. Kyuhyun memandang hyungnya dengan heran. Oke, jika Kyuhyun tidak bisa melihat umpan aneh yang ada dalam kotak pastilah Kyuhyun bisa santai meraup umpan itu seperti yang di lakukan Donghae.
"Sudah kau lakukan, Kyu?" tanya Donghae lagi.
"Ayo Kyu hyung, ambil umpannya lalu pasang di kailmu," timpal Jino dengan senyuman lebar.
Kyuhyun menyengir canggung. Di tatapnya kotak umpan itu dengan ragu, "Umpan apa itu, hyung?"
Donghae memiringkan kepalanya bingung dengan pertanyaan Kyuhyun. Namun ia mulai tersenyum dan menjawab, "Heum, hanya cacing. Benar 'kan, Jino?"
Jino tertawa kecil lalu mengangguk, "Ne, hyung. Ini hanya cacing dan ulat yang di campur dengan telur. Aku juga mencampurkan sedikit ikan-ikan kecil."
Jenis umpan yang biasa untuk menangkap ikan. Karena mereka memancing di tepi pantai dan hanya untuk kesenangan maka umpan yang di gunakan pun hanya seadanya. Oke, itu hal yang biasa bagi Jino dan Donghae. Namun bagi Kyuhyun yang pertama kali memancing, mendengar komposisi umpan dan pemandangan menjijikan itu sudah membuat perutnya mual. Kyuhyun ingin muntah melihat umpan itu. Cacing, ulat, ikan kecil di tambah dengan bau amis telur…
"Aku tidak mau!" seru Kyuhyun sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak mau apa?" tanya Donghae bingung.
"Aku tidak mau pegang umpan itu. Uh, itu menjijikan," Kyuhyun meringis sendiri.
Donghae terbengong mendengar penolakan Kyuhyun sebelum tertawa geli membuat dongsaengnya merengut kesal.
"Katanya kau mau memancing, Kyuhyunie," goda Donghae.
"Aku mau mancing tapi aku tidak mau memegang umpan itu!"
Akhirnya dengan senang hati, Jino membantu Kyuhyun memasangkan umpan itu pada kail pancing Kyuhyun. Sedangkan Kyuhyun hanya diam sambil memperhatikan umpan yang sudah terpasang di kailnya dengan tatapan jijik. Jika dia ikan maka dia tidak akan mau makan makanan menjijikan seperti ini. Harusnya mereka memberikan makanan yang enak bukan?
"Sudah?" tanya Donghae.
Jino tertawa kecil lalu menganggukkan kepalanya.
"Ne, hyung. Sudah," lapor Kyuhyun.
Donghae tersenyum. Dia terdiam sejenak sambil memejamkan matanya. Merasakan angin yang datang dari arah laut yang menerpa tubuhnya.
"Sekarang… Lemparkan seperti ini."
Donghae melemparkan tali pancingnya ke arah laut. Kyuhyun memandang takjub dengan apa yang baru saja di lakukan hyungnya itu. Mungkin bagi orang biasa, melemparkan kail seperti itu adalah sesuatu yang biasa. Tapi mengingat kondisi Donghae, itu suatu yang hebat menurut Kyuhyun.
Donghae hyungnya bisa melemparkan tali pancing tepat ke arah laut tanpa melihat arah dan jarak yang terpaut dari tepi tanjung. Donghae bisa memperkirakan hal itu dari arah dan kecepatan angin yang di rasakannya saja. Bukankah itu hal yang hebat? Satu hal lagi membuat Kyuhyun takjub dengan kemampuan yang di miliki Donghae.
"Ne."
Kyuhyun tersenyum senang sebelum melemparkan tali pancing ke arah laut seperti yang di contohkan oleh Donghae. Mereka duduk sambil berbincang bersama kala menunggu ikan yang akan memakan umpan pancing itu.
"Mwo?" Kyuhyun merasakan sesuatu yang menarik-narik pancingannya.
"Hyung! Ada yang menarik pancingku," seru Kyuhyun senang. Kedua tangannya langsung memegang pancing itu erat.
"Benarkah? Kalau begitu, sekarang tarik!"
"Mwo? Tarik apanya?"
"Tarik pancingnya, Kyu. Seperti ini!"
Kyuhyun memperhatikan Donghae yang tengah memberikan contoh menarik tali pancing yang semakin di tarik kuat ke bawah itu. Dari besarnya kekuatan tarikan itu, Kyuhyun yakin bahwa dia akan mendapat ikan besar.
Kyuhyun mulai fokus menarik pancingannya seperti yang di contohkan oleh Donghae tadi. Kurang lebih 10 menit Kyuhyun bergelut dengan pancingannya. Ternyata memancing itu tidak mudah dan perlu banyak tenaga juga. Kyuhyun sedikit menyesal melakukan kegiatan ini. Kelihatannya mudah tapi ternyata ini sulit dan melelahkan.
Bruk!
"Ukh…"
Donghae terlonjak kaget saat mendengar suara jatuh dan ringisan dari Kyuhyun. Senyuman geli di wajahnya memudar dan berganti dengan ekspresi cemas.
"Kyu, gwaenchana?" seru Donghae panik.
"Mwo? IGE MWOYA?!"
Donghae semakin terkejut saat mendengar teriakan dari Kyuhyun di iringi dengan tawa Jino. Dia menautkan kedua alisnya, "Apa yang terjadi?"
"Ahaha Kyu hyung… Dia jatuh karena menarik pancingannya terlalu kuat," seru Jino di tengah tawanya, "Lalu itu… Itu belut laut! Ahahaha."
Jino berjongkok sambil memeganggi perutnya yang terasa sakit karena terlalu banyak tertawa. Di tatapnya Kyuhyun yang tengah terbaring di atas pasir dengan seekor belut ukuran kecil yang sudah menggeliat di atas perutnya. Ekspresi geli, jijik dan takut yang Kyuhyun tunjukkan menjadi pemandangan lucu bagi Jino.
Donghae kembali duduk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Umpatan kesal dan berbagai macam hal mulai meluncur dari mulut Kyuhyun dengan nada ketakutan tapi Donghae tak mengerti dengan pasti apa yang terjadi.
"Aku benci memancing!"
.
.
.
ooOOoo Eyes ooOOoo
"Hae hyung..."
Kyuhyun memandang sendu Donghae yang tengah berlutut di depan batu nisan kedua orang tua. Kurang lebih sudah sekitar 20 menit, hyungnya itu terus berlutut di sana. Terdiam tanpa kata dan menatap kosong ke arah batu nisan itu.
Pandangan Kyuhyun memandang ke sekitar. Hamparan rumput dengan beberapa pohon menjulang tinggi menghiasi puncak dari Yudalsan ini. Makam kedua orang tua Donghae memang berada di kawasan pemakaman yang ada di puncak gunung ini. Song ahjumma yang mengantarkan mereka kemari. Dan sekarang yeoja itu bersama anaknya sudah turun terlebih dahulu dan memutuskan untuk menunggu di bawah.
Kyuhyun menghampiri Donghae dan ikut berlutut di samping hyungnya itu. Mata Kyuhyun terpejam untuk beberapa saaat. Melantunkan beberapa kalimat doa untuk dua sosok yang bahkan tak pernah di temuinya. Kyuhyun sudah melihat foto kedua orang tua Donghae dalam album yang di tunjukkan Song ahjumma.
"Appa… Eomma…"
Mata Kyuhyun kembali terbuka bersamaan dengan suara Donghae yang mulai mengalun. Kepala Kyuhyun menoleh ke samping dan dia cukup terkesiap saat melihat sepucuk air sudah menghiasi sudut mata hyungnya. Mata Donghae tidak terlihat berkaca-kaca. Mata itu tetap terlihat kelam tanpa kehidupan.
"Hae hyung…" lirih Kyuhyun sedikit tidak tega.
"Kalian tenang saja, nde? Hae baik-baik saja di sini. Hidup Hae juga sangat baik. Banyak orang-orang yang peduli dan sayang Hae sekarang. Kalian tidak perlu mengkhawatirkan Hae lagi," seru Donghae sambil mengulas senyuman manis.
"Hae sudah mampu hidup sendiri sekarang. Aku bukan orang lemah seperti dulu. Aku bisa melakukan banyak hal yang pasti akan membuat kalian terkejut."
"Ah, ini semua juga karena dongsaengku—haha. Kalian melihatnya? Aku membawa adik baruku kemari. Kalian mau berkenalan dengannya?"
Kyuhyun menundukkan kepalanya, menyembunyikan matanya yang sudah berkaca-kaca dan terasa panas. Kedua tangannya terkepal erat. Dia sangat tahu bagaimana perasaan Donghae saat ini. Walaupun sedih, Kyuhyun juga senang. Donghae memperkenalkan dirinya sebagai adik ke kedua orang tuanya.
"Namanya Kyuhyun. Dia yang membuatku kuat dan bangkit dari keterpurukanku. Aku sangat menyayanginya," ucap Donghae sambil terkekeh pelan.
"Kyu…" panggil Donghae yang di jawab dengan gumaman pelan dari Kyuhyun, "Perkenalkan dirimu pada appa dan eomma."
Kyuhyun tersenyum geli namun tetap melakukan apa yang di minta oleh kakaknya itu.
"Ahjussi, ahjumma. Jeoneun Kyuhyun imnida. Bangapseumnida," seru Kyuhyun sambil membungkukkan badannya di hadapan kedua nisan itu.
"Kau bisa memanggil mereka appa dan eomma juga, Kyu," ucap Donghae masih dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
Kyuhyun menyengir canggung namun tetap menganggukkan kepalanya, "Ne, hyung."
Setelah itu, Donghae kembali terdiam sejenak. Kyuhyun memperhatikan gerak gerik kakaknya itu dengan seksama. Mata Donghae terpejam dan Kyuhyun hanya bisa memperhatikan ekspresi tenang yang hyung nya tunjukkan itu.
"Aku akan kembali ke Seoul sekarang. Maaf, aku tidak bisa mengunjungi kalian sesering dulu. Tapi aku akan tetap mengunjungi kalian. Doakan Hae agar bisa menjadi orang yang berhasil nde?"
Donghae bangkit berdiri. Dia membungkukkan badannya 90 derajat di depan makam kedua orang tuanya. Kurang lebih 3 menit, dia terus membungkuk memberikan penghormatan pada kedua orang tuanya.
"Appa, eomma… Jeongmal kamsahamnida. Neomu bogoshippoyo," ucap Donghae akhir.
Donghae mundur beberapa langkah dan mulai membalikkan badannya. Kyuhyun menghembuskan napas panjang sebelum beranjak berdiri. Dia membungkukkan badannya beberapa kali lalu segera menghampiri Donghae.
"Kyu…" gumam Donghae saat merasakan Kyuhyun berdiri di depannya.
Kyuhyun tersenyum lalu mendekati Donghae. Tangannya beralih ke belakang kepala hyungnya itu. Menyandarkan kepala Donghae yang tertunduk ke bahu kanannya.
"Ne, hyung. Tidak apa, menangis saja. Mereka tidak akan melihatmu jika seperti ini," lirih Kyuhyun sambil menepuk-nepuk pelan punggung Donghae.
Aku tidak akan menangis di depan mereka lagi…
Kyuhyun ingat dengan jelas ucapan Donghae sebelum mereka berada di makam ini. Donghae pernah berjanji untuk tidak menangis di depan makam kedua orang tuanya lagi. Dan Kyuhyun sangat mengerti bahwa Donghae menahan air matanya kala berhadapan dengan makam kedua orang tuanya itu.
Selama beberapa saat Donghae terdiam dengan kepala tertunduk dan bersandar di bahu kanan Kyuhyun. Air mata yang sejak tadi di tahannya mulai mengalir. Membasahi kaus yang Kyuhyun kenakan. Bahunya bergetar bersamaan dengan isakan pelan yang mengalun dari mulutnya. Semua kenangan bersama kedua orang tuanya tiba-tiba berputar bagaikan video dalam benak Donghae. Sungguh dia sangat merindukan dua sosok itu. Sosok yang membuatnya hadir di dunia ini dan merawat dengan penuh cinta dan kesabaran. Sosok yang paling di sayangi dan di hormati oleh Donghae.
Kyuhyun menengadahkan kepalanya ke atas. Di tatapnya langit yang terlihat mendung dengan awan hitam yang cukup menghiasi itu. Waktu masih menunjukkan pukul 3 sore tapi langit sudah terlihat gelap seakan sudah malam. Untungnya tak ada butiran air yang jatuh dari awan mendung itu.
.
.
Keramaian terjadi di stasiun Mokpo. Tidak seperti biasanya. Penumpang terlihat memenuhi stasiun ini dengan ekspresi cemas dan bingung. Baru saja mereka mendapat info bahwa kereta yang menuju Seoul hari ini tak bisa beroperasi karena terjadi longsoran tanah yang menutupi rel di salah satu trayek.
Akhirnya banyak penumpang yang memang harus menuju ke Seoul tengah berpikir dan bingung sendiri. Mereka memadati stasiun dan berharap bahwa masalah bisa segera di tangani dan kereta bisa kembali melewati rel yang di tutupi tanah longsoran itu. Walaupun pihak stasiun sudah memberitahu bahwa kereta tak akan beroperasi hingga esok hari tapi para penumpang sepertinya enggan untuk meninggalkan stasiun itu membuat suasana stasiun menjadi lebih penuh sesak.
Donghae dan Kyuhyun menjadi salah satu pihak yang bingung dengan hal ini. Mereka duduk di salah satu sudut stasiun bersama dengan Song ahjumma dan Jino yang masih saja menemani.
"Besok aku harus sekolah, hyung," seru Kyuhyun dengan nada lemas, "Aku juga harus bekerja. Aku tidak mau izin dari restoran lagi. Aku tidak mau membuat Shin ahjussi kecewa."
Donghae menghela napas panjang. Dia juga tahu itu. Kyuhyun harus bersekolah. Dan mereka berdua juga harus bekerja. Itu adalah tanggung jawab mereka. Tapi jika keadaan seperti ini… Mereka bisa apa?
"Apa tidak ada cara lain untuk mencapai Seoul?" tanya Kyuhyun sambil menatap Song ahjumma dengan tatapan penuh harap.
Song ahjumma melipat kedua tangannya di depan dada. Ekspresinya juga menunjukkan bahwa wanita itu tengah berpikir.
"Sepertinya masih ada bus kota yang menuju Seoul untuk pemberangkatan terakhir," lirih Song ahjumma.
"Benarkah ahjumma?" tanya Donghae memastikan.
"Seingatku seperti itu. Tapi aku tidak yakin."
"Bus itu berangkat darimana? Tidak ada salahnya jika kita mengeceknya bukan?" tanya Kyuhyun.
Donghae mengangguk-anggukkan kepalanya, "Walaupun lebih lama, dengan bus kita akan memakan perjalanan sekitar 5 jam menuju Seoul. Jika berangkat sekarang, kita bisa sampai malam ini."
Song ahjumma tersenyum lalu mengangguk setuju. Dia meraih Jino yang sepertinya sudah mengantuk, di gandengnya tangan anaknya itu.
"Kita ke terminal saja sekarang. Kajja," ajak Song ahjumma.
Kyuhyun tersenyum senang lalu beranjak berdiri. Dia membantu Donghae untuk berdiri dan menuntun hyungnya itu berjalan mengikuti Song ahjumma.
Mereka naik sebuah bus dari stasiun menuju terminal. Hanya membutuhkan waktu 10 menit perjalanan menuju terminal itu. Mereka segera bertanya ke bagian informasi.
"Itaewon? Hanya tersisa menuju Itaewon?" ulang Kyuhyun lagi lalu menghela napasnya.
Kyuhyun berpikir sejenak sambil menatap Donghae dan Song ahjumma yang sepertinya menggantungkan keputusan di tangannya. Itaewon memang masih daerah Seoul tapi jaraknya menuju Namdaemun cukup jauh. Sepertinya mereka bisa tiba di rumah lewat tengah malam jika begini caranya.
"Baiklah. Aku pesan 2 tiket," seru Kyuhyun akhirnya menarik keputusan. Yah, lebih baik sampai tengah malam daripada ia harus izin sekolah dan kerja lagi. Ujian semakin dekat dan Kyuhyun tidak mau menorehkan sikap buruk dengan tidak masuk sekolah lagi.
"Benarkah kalian akan pulang sekarang? Tidakkah lebih baik jika kalian menginap semalam lagi dan berangkat besok?" tanya Song ahjumma yang terlihat khawatir.
Donghae hanya terdiam dan tersenyum tipis. Dia akan mengikuti keputusan Kyuhyun saja.
"Aniyo. Kami harus kembali sekarang. Aku juga harus sekolah besok," balas Kyuhyun.
Song ahjumma pun hanya bisa mengangguk pasrah. Dia mendekat ke arah Donghae dan meraih kedua tangan namja itu.
"Hae jaga diri baik-baik nde? Tetap hubungi aku," pesan ahjumma itu.
Donghae mengangguk pasti, "Ne, ahjumma. Kau tidak perlu khawatir."
"Kalian harus menjaga diri dan hidup yang baik di sana. Jangan sampai sakit nde?" Song ahjumma menatap Donghae dan Kyuhyun secara bergantian.
Kyuhyun menganggukkan kepalanya lalu tersenyum, "Ne, ahjumma tenang saja. Ah, maafkan sikapku yang sedikit tidak mengenakan sejak kemarin."
Song ahjumma terkekeh pelan melihat ekspresi bersalah di wajah Kyuhyun. Di tepuknya bahu Kyuhyun beberapa kali sambil menganggukkan kepalanya.
"Hae hyung dan Kyu hyung harus sering main kemari nde? Nanti kita bermain lagi," Jino mulai bersuara dan menatap kedua orang itu dengan mata berkaca-kaca, "Jino akan menunggu kalian."
Donghae mengulurkan tangannya yang langsung di sambut oleh Jino. Di rengkuhnya tubuh Jino sesaat sebelum tertawa pelan.
"Ne, hyung akan sering main ke sini. Jino harus menjaga eomma mu juga bada nde? Harus jadi namja yang kuat. Rajin sekolah dan jadi anak pintar," pesan Donghae. Jino menganggukkan kepalanya.
"Ne. Jadilah anak pintar sepertiku, bocah," Kyuhyun tertawa sambil menepuk-nepuk kepala Jino.
Jino menggembungkan pipinya dan mencibir Kyuhyun pelan. Namun bocah itu tiba-tiba memeluk Kyuhyun beberapa saat membuat Kyuhyun sedikit tertegun.
"Kyu hyung harus jaga Hae hyung," seru Jino.
"Heum… Dia hyungku. Dia yang harus menjagaku," balas Kyuhyun dengan seringaian di wajahnya.
Donghae yang mendengar perbincangan itu hanya menggelengkan kepalanya. Dia tersentak kaget saat merasakan pelukan dari Song ahjumma. Bibinya itu memeluk dirinya dengan hangat. Donghae terdiam dan membalas pelukan itu.
Setelah memberikan salam perpisahan, Donghae dan Kyuhyun segera naik ke bus yang akan membawa mereka ke terminal Itaewon. Song ahjumma dan Jino melambaikan tangannya hingga bus yang di naiki Donghae dan Kyuhyun itu berangkat dari terminal.
"Apa kau sedih, hyung?" tanya Kyuhyun sambil menyamankan posisi duduknya.
Donghae menganggukkan kepalanya, "Sedikit," jujurnya.
Kyuhyun tersenyum mendengar kejujuran itu, "Kita akan sering bermain kemari."
"Ne. Kyunie tidurlah. Kita akan melakukan perjalanan cukup jauh," ucap Donghae.
Kyuhyun terkikik geli namun tetap menganggukkan kepalanya. Dia menoleh ke samping. Donghae menyandarkan kepalanya ke jendela, hyungnya memang duduk di pojok dekat jendela. Mereka duduk di barisan pertama belakang kemudi supir.
"Kau juga, hyung. Kau juga terlihat lelah," balas Kyuhyun.
Donghae tertawa pelan, "Aku lelah menemanimu dan Jino bermain seharian."
Kyuhyun menggembungkan pipinya namun juga menatap Donghae dengan sorot bersalah, "Mianhae."
Donghae menjulurkan tangannya. Kyuhyun langsung meraih tangan hyungnya itu.
"Kyunie senang?" tanya Donghae.
"Heum. Weekend ini menjadi liburanku yang menyenangkan," seru Kyuhyun girang membuat Donghae terkekeh pelan.
"Kita harus sering berlibur seperti ini, hyung," tambah Kyuhyun lagi. Donghae menganggukkan kepalanya.
Mereka pun mulai berbincang ringan selama perjalanan. Makan beberapa bekal yang di bawa hingga tertidur karena terlalu lelah. Perjalanan 5 jam menjadi perjalanan yang cukup panjang yang akan mereka tempuh. Langit sudah menjadi lebih gelap. Rembulan tak mampu menampakan wujudnya karena awan hitam menyelimuti langit malam. Kabut yang cukup tebal pun terlihat di luar jendela, membuat supir bus harus mengumpulkan konsentrasi penuh untuk mengemudi. Jalanan yang cukup berlikuk dan sempit menjadi hambatan yang cukup di waspadai dengan suasana berkabut seperti ini.
.
"Uhuk… Ukh—"
Donghae membuka matanya kala mendengar suara lirih itu. Tangannya mengucek kelopak matanya yang terasa lengket. Dia terdiam sejenak. Mempertajam pendengarannya untuk mendengar seluruh suara yang di tangkapnya saat ini. Hanya terdengar perbincangan pelan dari beberapa orang beriringan dengan deru mesin bus yang terus berjalan. Donghae tak tahu dimana mereka saat ini. Sepertinya baru sebentar ia tertidur.
"Ukh… eunghh."
Donghae mengerutkan dahinya saat mendengar suara rintihan yang tadi sempat membangunkannya kembali. Suara itu terdengar begitu dekat. Tidak begitu jelas namun Donghae bisa mendengar batuk pelan dan ringisan itu.
"Kyu?" gumam Donghae masih memfokuskan perhatian pada suara yang di dengarnya.
"Eunggh…"
Hanya suara rintihan itu yang menjawab panggilan Donghae. Mata Donghae sontak membulat saat menyadari suara rintihan itu adalah suara adiknya. Tangan Donghae mulai meraba sekitar, mencari sosok Kyuhyun yang duduk di sebelah kirinya.
"Kyunie?" panggil Donghae lagi dengan nada mulai panik dan cemas.
Donghae menghadapkan dirinya ke samping kiri dan tangannya masih mencari sosok Kyuhyun. Ia menghela napas lega saat mendapatkan tangan Kyuhyun. Namun perasaan lega itu hanya bertahan sementara. Dia terkesiap saat merasakan tangan adiknya yang terasa begitu dingin seperti es. Donghae semakin panik sendiri.
"Kyuhyunie, gwaenchana? Apa yang terjadi, Kyu?" Donghae memberondong Kyuhyun dengan pertanyaan panik, tak mampu menyembunyikan kekhawatirannya. Dia sama sekali tak tahu apa yang terjadi pada Kyuhyun. Tapi mendengar rintihan di tambah dengan tubuh Kyuhyun yang terasa begitu dingin membuat Donghae yakin bahwa kondisi adiknya itu tidak baik-baik saja.
"Kyu, jawab aku! Kau kenapa? Gwaenchana? Kyunie!"
Kyuhyun yang tengah meringkuk di kursinya itu mampu mendengar setiap ucapan dari Donghae. Namun sulit sekali untuk membalas sepatah kata saja. Untuk bernapas saja sudah terasa begitu sulit dan menyakitkan. Kelopak matanya yang sedaritadi terpejam erat mulai terbuka dan memandang sayu Donghae yang sudah panik itu. Ia bisa merasakan tangan hangat Donghae yang menyentuh tubuhnya.
"Kyu! Jangan buat aku takut. Ada apa? Apa kau sakit? Kenapa? Katakan padaku," ucap Donghae panjang lebar bahkan terdengar tanpa jeda.
Mulut Kyuhyun sudah terbuka hendak berbicara namun tak ada suara yang mampu terdengar. Bibirnya bergerak namun Donghae tak mungkin bisa melihat pergerakan bibir yang hendak mengucapkan sesuatu itu. Akhirnya Kyuhyun pasrah. Ia kembali memejamkan matanya dan meringkuk sendiri. Berusaha meredam sesak dan sakit yang menyerang seluruh persendian tubuhnya. Rintihan sakit terus mengalun dari mulutnya bersama dengan batuk yang tak kunjung berhenti.
"Kyunie, jebal jawab aku. Ada apa? Kau benar-benar membuatku takut, Kyu."
Donghae hampir ingin menangis karena setiap ucapannya hanya di balas Kyuhyun dengan sebuah batuk atau rintihan sakit. Hatinya berdesir setiap mendengar rintihan itu. Andai saja dia bisa melihat, dia pasti tahu apa yang terjadi pada adiknya itu. Tapi sekarang, dia hanya bisa mendengar rintihan itu saja.
Seruan panik dari Donghae sedikit mengganggu penumpang lainnya. Beberapa orang menoleh ke arah mereka namun sepertinya tak ada seorang pun yang hendak menghampiri atau bertanya ada apa. Mereka seperti enggan meninggalkan kursi mereka sendiri.
"H-hyung…"
Akhirnya Kyuhyun mampu mengeluarkan suaranya lagi. Mata namja itu tetap terpejam dan napasnya masih terdengar putus-putus. Donghae yang mampu menangkap panggilan dari Kyuhyun langsung mendekat ke samping lebih lagi.
"Ne, Kyunie. Ada apa? Mana yang sakit, eoh?" tanya Donghae. Ketakutan dan kecemasan sudah menyelimuti ekspresi wajahnya saat ini.
Kyuhyun menarik napas dalam dan berusaha bersuara kembali, "Di—ngin. Dingin, hyung… Sa-kit."
Mendengar ucapan Kyuhyun itu membuat tangan Donghae langsung menarik Kyuhyun dan memeluk tubuh dongsaengnya dengan sangat erat. Dari jarak sedekat ini, Donghae semakin mendengar rintihan sakit dan napas Kyuhyun yang putus-putus itu dengan jelas. Hal itu tentu membuat dirinya semakin takut.
"Sudah tidak dingin? Aku akan meminta supir bus untuk mengantar kita ke rumah sakit. Kau sabar nde?" seru Donghae.
Donghae tersentak saat Kyuhyun meremas jaket yang di kenakannya. Donghae juga merasakan kepala Kyuhyun yang menggeleng beberapa kali.
"Ja—ngan," Kyuhyun kembali berucap dengan sangat lirih bahkan suaranya kalah dengan deru mesin bus ini.
"Ani. Kita harus ke rumah sakit. Kau sakit, Kyu. Tubuhmu benar-benar dingin," balas Donghae dengan suara mulai serak.
Jujur Donghae bingung harus berbuat apa saat ini. Yang ada di pikirannya hanyalah Kyuhyun dalam kondisi sakit. Dan hal yang perlu di lakukan adalah segera membawa Kyuhyun ke rumah sakit dan memberikan adiknya obat. Dia tidak berpikir bahwa bus ini bukanlah kendaraan pribadinya yang akan mengantarkan kemanapun dirinya mau.
Kyuhyun tetap menggelengkan kepalanya. Ia tak mampu membuka suaranya lagi. Hanya bisa meringis sakit dan sesak. Kedua tangannya terus meremas jaket yang Donghae kenakan. Pikirannya sudah kosong. Rasa sakit ini mengambil alih seluruh tubuh dan pikirannya. Namun dia juga tidak mau Donghae membawanya ke rumah sakit. Dia gagal menutupi rasa sakit ini dari Donghae tapi dia tidak mau Donghae mendengar ucapan dokter mengenai penyakitnya.
"Ahjussi!"
Donghae mulai berteriak dengan panik membuat semua orang yang ada di dalam bus beralih menatapnya bingung termasuk supir bus yang melihat lewat kaca spion.
"Ahjussi, tolong! Tolong! Dongsaengku sakit. Siapapun tolong!" teriak Donghae lagi masih memeluk erat tubuh Kyuhyun yang dingin dan lemas itu.
"Ada apa?"
Sebuah suara asing tertangkap pendengaran Donghae. Seorang namja paruh baya yang duduk di belakang bangku Donghae dan Kyuhyun berdiri dan menatap Donghae dengan bingung.
"Adikku kesakitan. Aku tidak tahu ada apa. Kita harus ke rumah sakit. Jebal, antarkan aku ke rumah sakit," pinta Donghae dengan nada memohon.
Beberapa orang yang menatap Donghae mengernyit bingung karena Donghae hanya menatap lurus ke depan dengan berbagai macam ekspresi antara cemas, takut dan bingung. Namun mereka sepertinya tidak terlalu mempedulikan itu, mereka lebih tertarik untuk beralih menatap Kyuhyun yang masih meringkuk dan merintih kesakitan dalam pelukan Donghae.
Seorang yeoja yang duduk di samping bangku Donghae mulai berdiri dan mendekati Donghae dan Kyuhyun. Dia mengulurkan tangannya dan menyentuh tubuh Kyuhyun.
"Tubuhnya dingin sekali. Dia sakit apa?" tanya wanita itu.
Donghae menggelengkan kepalanya. Rasanya ia sudah ingin menangis saat ini, "Aku tidak tahu! Tiba-tiba dia kesakitan begini. Tubuhnya benar-benar dingin karena itu ku mohon antarkan aku segera ke rumah sakit."
Donghae bisa mendengar bisikan-bisikan dari beberapa orang. Tak terlalu jelas karena hampir seluruh perhatian Donghae di pusatkan untuk mendengar suara rintihan Kyuhyun.
"Aku ingin membawa kalian ke rumah sakit," seru supir bus membuat beberapa orang bernapas lega terutama Donghae.
"Tapi… Tidak ada rumah sakit di sekitar sini. Kita harus menunggu hingga tiba di kota."
Donghae yang baru bisa bernapas lega itu kembali lemas. Dia tidak tahu ini dimana dan tidak tahu berapa lama mereka akan tiba di kota.
"Ini dimana? Kenapa tidak ada rumah sakit?!" seru Donghae dengan nada sedikit meninggi.
"Kau tidak bisa melihat?" akhirnya pertanyaan yang sedaritadi berputar di pikiran penumpang lain pun terlontar dari seorang namja.
Donghae menggigit bibir bawahnya, "Ini dimana?! Kapan kita sampai di rumah sakit?!"
Donghae tak menjawab pertanyaan yang menurutnya tidak penting itu. Dia hanya ingin tahu ini dimana dan berapa lama waktu yang di butuhkan untuk tiba di rumah sakit.
"Ini masih sekitar Gyeongju. Kita masih melewati jalan melewati hutan kecil. Sekitar setengah jam lagi kita baru keluar dari jalan hutan ini."
Donghae menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Tak mampu untuk bersuara lagi setelah mendengar penjelasan dari supir bus itu. Jika seperti ini tak ada yang bisa di lakukan. Hanya bisa menunggu.
Beberapa penumpang yang sempat menghampiri bangku Donghae dan Kyuhyun mulai kembali ke bangkunya masing-masing. Mereka memperhatikan keadaan luar lewat jendela yang cukup berembun. Hujan dengan intensitas tinggi sudah mulai turun sejak beberapa saat lalu. Kabut pun masih setia melingkupi jalan-jalan yang di lalui. Hanya ada pohon-pohon dan bebatuan besar yang menghiasi jalan sekitar. Tak ada rumah penduduk yang terlihat di jalan ini.
Supir bus memandang Donghae yang terdiam lewat kaca spion. Ia menghela napas berat. Ia mulai menambah kecepatan laju busnya untuk menembus jalanan ini.
"Kyunie sabar nde?" bisik Donghae sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Kyuhyun. Di elusnya punggung Kyuhyun beberapa kali.
"H-hyung… Ding—in," lirih Kyuhyun di tengah rintihannya, "Appo…"
Donghae menggigit bibir bawahnya sendiri. Merasa kesal pada dirinya sendiri karena tak bisa melakukan sesuatu pada adiknya yang terus merintih kesakitan seperti sekarang.
"Ne, hyung mengerti. Kyu harus kuat."
Hanya kata-kata penenang seperti itu yang bisa Donghae bisikan pada Kyuhyun yang sedikit demi sedikit mulai kehilangan kesadarannya. Masih bisa di dengarnya suara Donghae yang terus mengalun dengan samar-samar.
Sreett~
Ctar! DOR!
Tiba-tiba sebuah suara keras seperti ledakan itu terdengar bersamaan dengan sambaran petir di atas langit sana. Entah apa yang terjadi, bus yang melaju dengan kecepatan cukup kencang itu mulai kehilangan kendali. Teriakan histeris dari para penumpang pun saling bersahutan.
"Ada apa?!"
"Kenapa busnya seperti ini!"
Donghae yang masih di lingkupi rasa panik dan takut itu bisa merasakan pergerakan bus yang tidak terkendali. Degub jantungnya semakin berpacu tidak tenang apalagi mendengar teriakan histeris dan panik dari penumpang lainnya.
"Ban belakang bus pecah, aku kehilangan kendali!" teriak sang supir yang masih berusaha fokus dengan kemudinya. Ekspresi takut dan panik pun terlihat jelas dari wajah namja paruh baya yang mengemudikan bus ini.
Bus yang tengah berada di jalan menurun di tambah jalan licin karena air hujan membuat bus itu susah untuk di berhentikan. Bunyi decitan dari bagian belakang terdengar begitu nyaring. Suara klakson dari kendaraan lain di luar sana pun mulai bersahutan.
Donghae memejamkan matanya. Takut… Hanya satu kata itu yang mengalun dalam hatinya. Tak ada seorang pun yang tidak takut jika berada dalam situasi genting seperti ini.
Namun ada satu hal yang mengalihkan pikiran Donghae dari rasa takut dan panik karena bus yang melaju tanpa kendali itu.
Kyuhyun…
Keadaan Kyuhyun masih menjadi pikiran utama Donghae. Telinga Donghae sengaja di tulikan dari seluruh suara teriakan panik dari penumpang juga sahutan klakson di luar sana.
"Gwenchanayo, Kyuhyunie. Kita akan baik-baik saja," gumam Donghae seorang diri.
Donghae melepaskan pelukannya dari Kyuhyun yang sudah kehilangan kesadarannya sejak beberapa detik yang lalu. Tubuh Kyuhyun yang terkulai lemas itu, Donghae rebahkan di pangkuannya. Setelah itu, Donghae langsung menindih tubuh itu. Membungkukkan badannya seakan melingkupi tubuh Kyuhyun dengan tubuhnya sendiri.
Ckiittt!
TIN!
BRAK—PRANG!
Bus semakin melaju tidak terkendali. Semua penumpang di dalam sudah berteriak ketakutan saat merasa seperti di ombang ambing ke kanan dan ke kiri. Hingga sebuah sinar terang dari arah depan menyambut kehadiran bus yang melaju turun bebas itu. Sebuah truk berangkut barang siap menghantam bus jika sang supir bus tidak membanting stir ke arah kiri. Mereka berhasil lolos dari tabrakan maut itu. Namun bus semakin tak bisa di kendalikan hingga akhirnya mereka harus rela melewati pembatas jalan dan menabrak keras sebuah pohon besar di pinggir jalan. Belum lagi sebuah mobil yang harus menabrak body belakang bus. Bus itu hampir terguling ke arah kiri. Hampir seluruh kaca dalam bus pun pecah. Kepulan asap tebal pun mulai terlihat membumbung tinggi dari bagian depan bus.
.
"Eungghh…"
Lenguhan pelan meluncur dari mulut Kyuhyun yang sepertinya mulai mendapat kesadarannya kembali. Kepalanya terasa begitu sakit dan seluruh persendian di tubuhnya begitu pegal. Ia bisa merasakan rasa perih yang juga di rasakan beberapa bagian tubuhnya. Kyuhyun terbatuk pelan. Ia menarik napas dalam yang masih begitu menyakitkan. Dadanya masih begitu sesak seperti tadi.
Kyuhyun mengernyit bingung saat aroma anyir menyeruak masuk dalam indera penciumannya. Kelopak mata yang sedaritadi terpejam itu di paksa untuk terbuka walau terasa begitu lengket.
Berat…
Sesuatu yang berat seperti menindih tubuhnya. Dengan cepat ia menyingkirkan sesuatu yang menindih tubuhnya itu. Tangannya langsung beralih memeganggi kepalanya yang terasa pening. Rintihan sakit bisa dari beberapa suara asing bisa tertangkap pendengaran Kyuhyun membuat namja itu semakin mengernyit bingung.
Kyuhyun menegakan posisi duduknya. Matanya mulai terbuka secara perlahan. Hal pertama yang di lihatnya adalah kedua tangannya. Perih… Kyuhyun bisa merasakan perih di lengan kanannya. Ia terlonjak kaget saat melihat darah mengalir dari lengannya. Beberapa goresan dan sayatan kaca terlihat menghiasi permukaan kulitnya.
"Apa yang terjadi?" lirih Kyuhyun sambil berusaha mengumpulkan kesadarannya secara penuh.
Tangan Kyuhyun terangkat menyentuh dadanya yang masih meninggalkan rasa sesak itu. Mengatur napasnya menjadi lebih teratur.
Kepala Kyuhyun masih menunduk memperhatikan keadaan dirinya sendiri. Hingga tatapannya mulai beralih ke samping, melihat hyung yang duduk di sampingnya.
"Hae hyung… Apa yang terjadi?" gumam Kyuhyun masih suara lirih dan mata yang terbuka setengah. Sepertinya pelipis Kyuhyun sedikit terluka sehingga kelopak mata itu terasa kaku dan perih saat di buka.
Kyuhyun mengernyit bingung saat melihat jaket biru yang Donghae kenakan tadi. Ada bercak berwarna merah yang menghiasi jaket itu di bagian bahu kanannya.
"H-Hae—hyung?"
Mata Kyuhyun terbuka sempurna saat melihat wajah Donghae. Mulutnya bahkan terbuka tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Donghae tidak sadarkan diri. Tubuh Donghae terkulai tak berdaya di kursi yang tempatinya. Setengah wajah Donghae bagian kanan sudah bersimbah darah berwarna merah pekat. Darah yang sepertinya mengalir dari kepalanya. Darah pun keluar dari hidung dan telinga Donghae.
"H-Hae—hyung…"
Kyuhyun menggerakan tangannya yang terasa kaku. Di sentuhnya pundak Donghae dan menggoncangkannya perlahan. Tak ada respon dari Donghae. Hyungnya itu tetap diam tanpa membuka matanya sedikit pun.
Kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa Hae hyung seperti ini? Kenapa?!
Semua pertanyaan itu berputar dalam pikiran Kyuhyun. Bibirnya bergetar hebat hingga tak dapat berucap sedikit pun. Air mata langsung mengalir membasahi wajahnya melihat kondisi Donghae yang cukup mengenaskan baginya.
Kyuhyun mendekat ke arah Donghae. Ia langsung menarik hyungnya itu dan memeluknya erat. Kyuhyun menangis. Dia bahkan tidak tahu apa yang terjadi. Kyuhyun hanya bisa mengingat Donghae yang berteriak panik saat mendapatkan dirinya kesakitan beberapa saat lalu. Lalu sekarang? Dia sama sekali tidak sadar dengan kecelakaan yang terjadi barusan.
"Hae hyung, ireona…" lirih Kyuhyun di tengah tangisannya, "Donghae hyung!"
Teriakan Kyuhyun menggema di dalam bus itu mengalahkan rintihan sakit dari penumpang lain yang sepertinya juga terluka.
"Hae hyung, ireo—"
"Kyu…"
Kyuhyun mengerjapkan matanya mendengar suara lirih itu. Ucapannya terhenti begitu saja. Dia tidak salah dengar 'kan? Baru saja ia mendengar suara Donghae yang memanggil namanya. Kyuhyun melepaskan pelukannya dan menatap Donghae dengan penuh harap.
"Kyunie…"
Kyuhyun bisa sedikit menarik sudut bibirnya sekarang. Bibir Donghae bergerak memanggil namanya walau kedua mata hyungnya itu masih tertutup.
"Ne, hyung. Aku di sini. Bangunlah," seru Kyuhyun sedikit keras.
"Kyu…" Donghae menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan, "G-Gwaen—chana?"
Kyuhyun menganggukkan kepalanya beberapa kali mendengar pertanyaan Donghae yang sangat lirih untuk di dengar. Dia bahkan tidak merasakan rasa sakit lagi setelah melihat keadaan hyungnya seperti ini. Semua rasa sakit, nyeri dan perih itu menghilang seketika, tergantikan dengan rasa cemas dan takut.
"Aku baik-baik saja, Hae hyung. Bangunlah, kumohon. Kau juga baik-baik saja 'kan?"
Donghae menarik sudut bibirnya membentuk senyuman yang sangat tipis, "S-Syukur—lah."
Setelah mengucapkan kata itu, Donghae kembali kehilangan kesadarannya. Kyuhyun menggelengkan kepalanya. Tangannya terus menggoncang tubuh Donghae dari pelan hingga cukup kencang berusaha untuk terus membangunkan hyungnya itu.
"Andwae! Hyung, bangun! HAE HYUNG!"
Tangisan Kyuhyun kembali pecah. Kembali Kyuhyun memeluk tubuh Donghae yang terkulai lemas itu. Menangis selama beberapa saat. Mungkin menangis tidak akan menyelesaikan apapun. Tapi saat ini Kyuhyun merasa tidak berdaya. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan Kyuhyun tak mampu untuk berpikir lagi. Hanya menangis yang bisa di lakukannya.
Kyuhyun bisa mendengar suara ribut dari luar busnya. Entah apa itu, Kyuhyun tidak tahu dan tak mau peduli. Suara tangisannya mengalun di dalam bus bersamaan dengan rintihan sakit beberapa orang lain.
"Hae hyung—hiks… Ireo—Ireona, hyung."
Beberapa menit menangis sendirian, Kyuhyun mulai merasa lelah. Matanya yang terasa begitu perih itu mulai tertutup secara perlahan. Isakan kecil masih meluncur dari bibirnya hingga bibir itu terkatup sempurna. Secara berangsur, Kyuhyun mulai ikut kehilangan kesadarannya. Tubuhnya yang masih memeluk Donghae mulai terkulai lemas di sandaran kursi yang di dudukinya. Tak ada suara yang mampu di dengarnya lagi. Semuanya menjadi gelap dan sunyi.
.
.
.
-To be Continued-
.
.
Annyeong^^ /lambai-lambai tangan ; watados/
Setelah menghilang secara tiba-tiba, akhirnya Ly kembali \m/
Ahahaha, Jeongmal mianhae karena membuat kalian bingung dan kesal menunggu update-an FF ini… hehehe
Bingung mau ngomong apa /slaped/
Intinya, terimakasih untuk semua yang sudah meluangkan waktu untuk kontak dan mencari-cari kabarku lewat PM, Twitter maupun FB. Gak nyangka bakal di cariin :'D
Lalu untuk semua yang masih menantikan story ini…
Jeongmal Kamsahamnida /deep bow/
And then,
See ya next chap^^
Sign,
-LyELF-
