Glass Chapther 7.

Title: Glass.

Author: Meonk and Deog.

Genre: Angst, Hurt/Comfort, Romance, Drama.

Pair: HaeHyuk.

Slight pair: HaeMin, SiHyuk, SiBum, KyuMin, HenBum and all super junior official couple.

Cast: All super junior members 13+2.

Disclaimer: Cast dicerita ini milik diri mereka sendiri dan Tuhan. Sedangkan fanfiction ini murni milik kami berdua.

Warning: Yaoi, Boys love, Shonen ai, NC, GS for Sungmin, Leeteuk, and Heechul, OC, OOC, miss typo, typo(s), gaje, abal, EYD yang berantakan, dll.

Summary: 'Bukankah cinta seperti kaca? Terlalu frontal dan transparan. Bagi orang sepertiku cinta terlalu menggambarkanku dengan buruk. Pantaskah kusebut cinta? Hal yang terlalu menyakitkan, membawaku pada masa depan, mengoyakku hingga diriku benar-benar nyaris hancur, lalu kembali menarikku kemasa lalu yang bahkan lebih buruk dari masa depan itu sendiri.'

NO COPAST! NO PLAGIARISM!

Don't like~ Don't read~

.

.

.

Author Pov.

Tatapan matanya lurus kedepan, gerakan jarinya menyatu satu sama lain menciptakan sebuah kehangatan ilmiah. Sesekali disesapnya cairan hitam pekat yang kini berdiam tepat didepan meja tempatnya duduk. Cafe yang agak jauh dari café miliknya itu terlihat tak seramai miliknya. Hanya ada beberapa siluet wajah seseorang yang sibuk menikmati minuman mereka.

Bibirnya bergumam mengucapkan kata-kata penguat untuk mengambil keputusan.

"Kumohon jangan takut! Ini pantas untuknya, kuatkan dirimu. Jangan takut Lee Hyuk Jae, jangan takut!" Ia terus bergumam sembari memejamkan matanya. Laki-laki bernama Lee Hyuk Jae ini terlihat begitu tak tenang hingga suara ponsel menyadarkannya.

"Yeo…yeobsaeyeo?" Setelah meraih ponsel tipis itu, sapaan pembuka pembicaraan darinya menuntut sebuah jawaban dari orang disebrang sana.

"Kau sudah didalam? Aku sudah diparkiran." Sang penelpon dengan suara baritone indahnya menjawab, Hyuk Jae menghela nafas dalam, kegugupan itu kembali melanda. Suara 'tuk, tuk' dari permainan jari yang dilakukannya sangat kontras dengan keadaan hening sekitar.

"I..iya, aku sudah ada didalam." Ia menjawab, nadanya terdengar skeptis. Kepalanya bergerak kesana-kemari menyusuri kaca transparan yang menjadi sekat antara ruangan café dengan dunia luar. Senyuman itu terpasang, bukan karna sebuah rasa senang. Itu dilakukannya demi sebuah obsesi.

Sosok itu mulai memasuki café, ia tersenyum lalu langkahnya terdengar mendekat, sedikit lagi dan kini ia berada tepat didepan matanya. Mereka saling memamerkan senyuman, seolah-olah mereka adalah teman masa kecil yang terpisahkan oleh waktu lalu bertemu kembali saat masa depan mulai datang menjemput.

"Maaf membuatmu menunggu…" Sosok nyaris sempurna itu berujar, sudut bibirnya mengembang. Melengkungkan sebuah senyuman.

"Aku yang datang terlalu cepat." Hyuk Jae mengelak. Senyuman terus terpatri diparas manisnya, kegugupan yang melandanya sejak awal entah mengapa kini sirna sudah.

"Kau ingin memesan sesuatu?" Laki-laki nyaris sempurna akhirnya mendudukkan tubuhnya tepat menghadap wajah Hyuk Jae. Jemarinya bertuaut dengan jemari Hyuk Jae. Saling menggenggam hingga sebuah kehangatan tak bisa dielakkan lagi.

"Aku datang kesini bukan untuk makan, tapi untuk membicarakan hal 'itu'." Ia berujar tegas. Sang lawan bicara mengangguk paham. Tatapannya seperti mempersilahkan Hyuk Jae untuk berbicara terlebih dahulu.

"Benarkah ini akan benar-benar aman? Kau tahukan…, maksudku…, Donghae orang seperti apa. Awalnya aku benar-benar kaget, kau… kau… itu kakak dari Choi Donghae, ini memang cukup menyulitkanku untuk berpikir tapi setelah semuanya, setelah apa yang dilakukannya. Kurasa aku benar-benar membutuhkanmu..." Jelasnya panjang lebar. Bibirnya bergetar dan Siwon, laki-laki itu menyadari ketakutannya dengan sangat jelas. Genggamannya semakin menguat, mencoba menenangkan namja manis itu dari keterpurukkan.

"Aku membutuhkanmu…, setidaknya untuk menguatkan hatiku…" Lanjut Hyuk Jae. Siwon mengangguk, mengerti sekaligus mengiyakan.

"Aku juga…." Siwon berujar pelan. Ia menjeda ucapannya, membuat Hyuk Jae hanya terfokus padanya.

"Sangat membutuhkanmu…, entah apa yang bisa kulakukan jika kau menolak hal ini. Aku yakin suatu saat nanti kita bisa saling mencintai." Sangat lirih. Namja nyaris sempurna ini berkata sangat lirih.

"Aku takut, jikapun aku mengatakan 'ya' resiko yang terlalu besar akan mendatangiku. Bagaimana jika Donghae tahu tentang hal ini?" Hyuk Jae masih menuntut sebuah kepastian. Tangan yang awalnya hangat kembali mendingin ketika bibir merekahnya mulai mengucapkan nama sang kekasih.

"Aku yakin dia tidak akan tahu selama kita bisa menyembunyikannya dengan baik." Siwon meyakinkan pemuda manis didepannya. Hyuk Jae terdiam, walaupun kata-kata Siwon cukup meyakinkan tapi masih banyak kemungkinan yang akan terjadi dimasa depan kelak.

"Aku akan mencoba untuk mencintaimu…"

.

.

.

Flashback.

2 tahun yang lalu…

Hyuk Jae Pov.

Lift yang terbuka memaksaku untuk segera melangkah maju. Tapakkan kakiku menggema dilobi apartement sepi ini. Pandangan dua manik ini mengabur, hampir saja aku menyandung kakiku sendiri saat pergerakkanku terlalu cepat.

Lari, dan menuju tempatnya berada adalah tujuan utamaku untuk saat ini. Semakin aku mengencangkan langkahku, darah yang merembes melewati pori-pori kulit bibirku bertambah begitu banyak. Tangisan dan darahku turun berbarengan membasahi lantai.

Sebentar lagi, pintu apartementnya terlihat. Senyumanku kukembangkan dibalik isakkan ini. Aku sudah terlalu lelah, adikku hampir didepak dari sekolahnya, aku hampir mati karena hutang-hutang ayah semakin menumpuk. Segala konsekuensi sudah tak kupedulikan yang terpenting uang jaminan bisa berada ditanganku hari ini juga.

Bruagh…

Aku lengah dan tubuhku terjungkal keatas lantai, lantai dingin ini tepat mengenai wajahku. Padahal sebentar lagi aku akan menggapai pintu itu. Tubuhku sudah tidak kuat lagi…, kuputuskan untuk merangkak maju.

Rasa sakit begitu mendominasi, tangisanku mungkin akan menjadi awal dari semuanya. Dari segala dosa, juga kesalahanku. Saat pintu kayu itu tepat didepan wajahku, dengan susah payah kudirikan tubuhku, menopangnya dengan tanganku yang menggenggam erat gagang pintu.

Tok…

Tok…

Tok…

Melemah, ketukan pintu yang kuciptakan amat lemah. Dia tidak menjawab, dan aku bukan orang yang cukup sabar untuk memencet tombol bel.

Tok!

Tok!

Tok!

Aku mengencangkan intesitas ketukan yang kulakukan. Staminaku sudah hampir habis tapi dia masih belum juga mau menampakkan dirinya.

"Choi Donghae!" Aku berteriak.

"Donghaessi!" Tak ada jawaban. Aku masih berusaha mengetuk pintu sambil meneriakki namanya.

"Choi Donghae!" Masih tak ada jawaban. Aku sudah mulai takut, kakiku bergetar dan lagi-lagi tubuhku hampir tumbang menyapa lantai.

"Yak! Buka pintunya!" Teriakkan menggema hingga…

Ceklek.

Dia membuka pintu, wajahnya tepat berada didepan wajahku. Mata kami saling bertautan, tatapannya kosong. Semakin membuatku takut, apakah cara murahan ini akan berhasil membebaskanku dari beban yang kutanggung selama ini.

Hening…

Tak ada respon darinya, aku berdiri mematung didepan pintu. Laki-laki ini tidak mempersilahkanku untuk masuk, juga tidak menyuruhku untuk pergi. Mataku memanas, jemariku dengan kuat meremas ujung jaket yang kukenakan.

Bibirku kelu, dan suasana ini semakin membuatku tak nyaman. Ini jalan satu-satunya, jalan dimana harga diriku sirna sudah demi hal yang lebih baik…

Bruk…

Aku menjatuhkan diriku tepat didepannya, bersimpuh seperti seorang budak yang meminta rasa simpati pada tuannya. Donghae masih diam, bahkan ketika aku bersujud didepannya, tak ada respon berarti yang ditunjukkannya.

"A..aku menerima tawaran waktu itu. Bukan, mungkin saat ini lebih tepatnya aku sedang menjual tubuhku padamu." Aku memohon dengan isakkan yang makin mengeras. Aku berusaha menahannya, menutup bibir dengan telapak tanganku.

"Maafkan pemikiranku yang begitu naïf hingga dengan bodohnya pernah menolak tawaran itu. Hiks…kumohon maafkan aku." Hanya kata maaf yang bisa kulontarkan untuk saat ini. Donghae lagi-lagi tak merespon.

Tak ada jawaban, hanya tangisanku yang seakan meramaikan suasana sepi lobi ini.

"Kumohon bantu aku…, aku benar-benar membutuhkanmu." Kini aku meraih kakinya, memegang erat celana hitamnya. Dan aku mulai nampak seperti seorang pengemis…, kudongakkan wajahku menatap wajahnya.

"Tubuh dan wajahmu penuh luka?" Aku tercengang. Akhirnya dia mengeluarkan sebuah kalimat. Aku mengangguk membenarkan ucapannya yang sangat melenceng dari topik awal.

"Mereka memukulku…" Jawabku seadanya. Ia berjongkok menyamakan tinggi tubuhnya dengan tubuhku. Mengelus surai kecoklatanku sejenak, sebelum mengucapkan kata berikutnya.

"Kenapa kau terlihat begitu menyedihkan? Aku tidak pernah memintamu untuk berlutut padaku. Harusnya aku yang datang dan meminta ini padamu." Nadanya terdengar begitu lembut. Aku terkejut, apakah orang ini benar-benar Choi Donghae?

"Aku minta maaf…" Aku bergumam merespon ucapannya. Sedikit bingung dengan reaksinya tapi aku harus tetap seperti ini, demi sebuah kata iba.

Ia mendekatkan wajahnya, mengecup perlahan hidungku. Sekali lagi aku terkejut. Ada apa dengan orang ini?

"Berapa yang kau butuhkan?" Aku tersentak, ingin sekali aku berteriak kencang sembari menggumamkan kata 'Terimakasih' untuk Tuhan. Tapi saat ini, aku harus menahannya. Menjaga rasa simpati yang 'Pangeran' ini berikan padaku.

Dengan tergesa-gesa, aku mengeluarkan kertas putih dari kantong jaketku. Mengusap kasar air mata yang membasahi wajahku lalu memberikannya pada Donghae.

"Semuanya ada disana, uang jaminan, biayaya sekolah adikku yang menunggak, juga biayaya rumah sakit ayahku. Mungkin ini sedikit, atau benar-benar memberatkanmu, tapi kumohon, apapun akan kulakukan." Aku berujar panjang lebar. Bisa kulihat ia mengerenyitkan dahinya saat matanya tertuju pada jumlah nominal yang tertera dikertas putih itu.

"200 juta won?" Katanya terkejut, dengan ekspressi yang sulit diartikan.

Deg!

Aku tahu ini reaksi yang buruk…, aku menghela nafas dalam, mempersiapkan kata-kata apalagi yang bisa meyakinkannya.

"Biayaya adikku! Ayahku, juga jaminan hutang di klub. Hanya itu! Bunga dan hutang seluruhnya akan kuusahakan untuk membayarnya sendiri. Selebihnya, aku tidak akan meminta lagi." Ujarku mencoba meyakinkan. Ia terdiam menimbang ucapanku.

"Aku bisa mempercayaimu?" Ia bertanya dengan mimik wajah misterius. Suara beratnya sedikit terdengar menakutkan. Aku menelan ludah, setidaknya ini jalan satu-satunya yang ada.

"Aku berani mati jika aku pergi!"

Hyuk Jae Pov End.

Flashback off.

.

.

.

Author Pov.

Ia melangkah, semua orang terlihat sibuk. Dunia seperti mengacuhkannya tapi ia mencoba tidak peduli dan tetap terus melangkah maju. Orang disekelilingnya acuh, tak memperhatikan keberadannya. Ia mengadahkan wajahnya menatap langit.

"Huh~" Ia menghela nafas ketika rasa sesak begitu menghujam jantungnya. 'Pantaskah ia hidup?' atau 'Pantaskah ia mati?' kata-kata itu terus terngiang dikepalanya. Ia ingin bertanya, tapi kalian kira siapa yang akan menjawabnya? Tak ada seorangpun, karena ia yakin pergi atau tidaknya ia, bahkan Tuhan tak peduli.

"Mati? Haruskah?" Ia bergumam, membisikkan kata-kata itu ditunjukkan untuk sang dewa yang merajut takdirnya.

"Hidup? Pantaskah?" Kembali ia berbisik. Mungkin pada sang Dewi yang tak pernah sekalipun ingin menjawabnya. Lagi-lagi ia menghela nafas berat. Matanya mengedar, sebuah salon begitu menarik perhatiannya saat ini.

"Membuang sial? Mungkin 'iya'" Kesimpulan itu dikeluarkannya, hingga langkahnya terdengar mendekati salon tersebut.

.

.

.

"Kau menghilang, kau meninggalkanku, kau membunuhnya, dan kau menghancurkan hidupku." Sarkasme Sungmin saat laki-laki itu terdengar mendekatinya. Rumah baru mereka tampak hening, seperti tak ada kehidupan. Sama seperti pemiliknya yang tak berniat untuk hidup.

"Aku tidak pernah menghancurkan hidupmu…" Balas sang lawan bicara. Sungmin tersenyum sinis merespon.

"Tidak pernah?" Ia mengulang ucapan pria didepannya. Donghae, laki-laki itu terdiam tak ingin menjawab pertanyaan yang begitu sering dilontarkan untuknya.

"Membunuhnya, kau pikir itu tidak menghancurkanku?" Nadanya terdengar sinis, namun dengan intensitas volume yang masih rendah.

"Mengirimku ke Jepang selama satu tahun! Memaksaku mengaborsinya disana dan lebih buruknya, ayah dari anakku adalah seorang penyuka sesama jenis!" Nada yang dikeluarkan Sungmin semakin meninggi. Donghae tersentak.

"Dan kau kira bagaimana perasaanku?!" Sungmin kini berteriak sangat kencang. Tangisan menjadi awal petang mereka.

"Jangan berteriak padaku!" Donghae membentak, membuat Sungmin menghentikan tangisannya. Tangannya mengepal, sungguh dosa terbesar yang dilakukannya adalah mencintai laki-laki ini.

"Pergi…" Sungmin berujar lemah, tapi Donghae masih tetap diam.

"Pergi kubilang!" Kembali intensitas ucapan Sungmin kembali meninggi.

"Pergi dari sini!" Akhirnya jeritan mampu membuat lawan bicaranya menyerah untuk bersikap angkuh. Donghae mengambil kunci mobil yang berada diatas meja nakas kamar mereka, melangkahkan kakinya pergi dari rumah barunya bersama sang istri.

Langkah kaki Donghae terdengar semakin menjauh. Sungmin segera meraih ponselnya, menekan sebuah ikon kontak, lalu memulai koneksi telpon.

"Eomma…" Ia berujar ketika sebuah jawaban atas panggilan yang dilakukannya mulai terdengar.

"Ada yang ingin kubicarakan denganmu." Lanjutnya. Sang Ibu terdiam, mencoba mendengarkan isi hati yang akan dicurahkan sang anak.

.

.

.

Suara decitan pintu menginstrupsi mimpi indah pemuda manis ini. Dengan tubuh lunglai ia mendudukkan dirinya disisi ranjang. Ia tahu siapa yang datang, dan menurutnya ini adalah sebuah kemenangan. Donghae tidak pergi…, Donghae tidak menghabiskan malamnya bersama sang istri. Dan entah mengapa hatinya terasa puas.

Kerjapan mata menjadi reaksi awal ketika cahaya lampu mulai menembus retina matanya. Donghae menghidupkan saklar lampu kamar setelah sebelumnya memasukkan dirinya kedalam kamar berdiameter luas tersebut.

Sedikit terkejut dengan penampilan baru sang kekasih.

"Kau mengubah gaya rambutmu?" Donghae melontarkan sebuah pertanyaan. Surai yang awalnya berwarna sedikit kecoklatan, kini hitam pekat dengan potongan rambut yang lebih pendek dari sebelumnya.

Ia mengangguk, membenarkan ucapan Donghae.

"Aku membuang sial…" Katanya enteng. Donghae terdiam, sedikit menyunggingkan senyum saat alasan sang kekasih terdengar begitu sederhana juga tak masuk akal menurutnya. Ia menggantungkan jaketnya disisi pintu sebelum akhirnya berbaring disamping Hyuk Jae.

"Kenapa datang? Kukira kau tidak akan datang untuk beberapa hari kedepan." Hyuk Jae berujar lirih. Akhirnya ia ikut membaringkan tubuhnya kembali disamping Donghae. Manatap wajah pria itu sendu.

"Kau kira aku bisa meninggalkanmu?" Bukan sebuah jawaban yang dilontarkannya, melainkan sebuah pertanyaan lain.

Hyuk Jae menggidikkan bahu tak yakin. "Mungkin saja kau melakukannya…" Jawabnya. Donghae yang terlihat tak senang segera merengkuh tubuh kurus itu kuat kedalam pelukannya.

"Kita akan ke Venesia..." Lanjut laki-laki bermata teduh ini. Hyuk Jae mengerenyitkan dahinya bingung. Ia mendongakkan wajahnya menatap laki-laki didepannya.

"Untuk?"

"Resepsi pernikahanku akan dilakukan disana demi menghindari pers." Terangnya. Terlihat bahwa laki-laki ini mencoba membujuk sang kekasih untuk ikut dengannya. Hyuk Jae terdiam masih belum mau menjawab.

"Apa tidak apa-apa jika aku datang? Mereka pasti akan membunuhku." Jawabnya seadanya. Donghae menggeleng meyakinkan ditengah rengkuhannya. Tangannya menyusup kebaju tipis kelonggaran yang digunakan pemuda seputih susu ini.

"Hei, aku sedang bertanya!" Hyuk Jae terpekik tak senang ketika respon sang kekasih malah tak sesuai dengan keinginannya. Matanya tersorot tajam saling bertautan dengan mata teduh Donghae.

"Aku akan berusaha agar kau tidak terlihat mencolok disana." Donghae masih membujuk, bibirnya kini memulai sebuah tautan diantara mereka. Hyuk Jae terdiam dalam ciuman panas ini, tak berniat memejamkan mata.

Ia bukan tak menikmati sensasi itu, tapi dirinya ingin kedua obsidian hitamnya menjadi saksi atas segala limpahan cinta yang diberikan Donghae untuknya.

.

.

.

Kamar temaram itu terlalu hening. Kedua insan ini saling menatap satu sama lain, hingga percakapan mulai mengalir begitu saja. Sebuah pernyataan yang awalnya tak pernah terpikir kini menjadi topik pembicaraan mereka. Sang istri mengkerutkan keningnya ketika lagi-lagi sebuah tuntutan menjadi prioritasnya untuk menjalani hidup dikeluarga Choi.

"Venesia? Aku dengan begitu banyak pekerjaan?" Kibum terdengar tak senang dengan pernyataan sang suami. Novel yang harus dibuatnya terlalu menumpuk, dengan meninggalkannya sehari saja bisa membuat tumpukkan pekerjaanya semakin bertambah.

"Hanya seminggu, resepsi Donghae diadakan disana demi menghindari pers…" Siwon terus membujuk. Pergumulan mereka diatas selimut semakin menghangatkan kedua belah pihak. Kibum mengkerutkan kening masih menimbang.

"Deadline, kau tahukan akhir-akhir ini pekerjaanku semakin menumpuk." Kibum masih mencoba kekeh dalam pilihannya. Meninggalkan seminggu pekerjaannya itu sama saja membiarkan tulisan-tulisan itu menggunung diatas meja kerjanya.

"Kau bisa membawa pekerjaanmu kesana, dengan laptop dan email. Semuanya akan terselasikan." Siwon menjawab final. Kibum mengerenyit tak senang, akhir-akhir ini perubahan begitu terjadi secara signifikan pada laki-laki berwajah sempurna ini.

"Kau yakin?" Ucapan Kibum terdengar menantang. Siwon mengangguk tanpa pertimbangan yang pas.

.

.

.

Drt…

Drt…

Sebuah panggilan berhasil menginstrupsi pagi cerah yang akan ia mulai dengan senyuman, mungkin. Dengan cepat ia meraih ponsel yang berada disamping meja nakas ranjang. Matanya masih tak fokus akibat pengaruh kantuk yang melanda. Namun ketika sebuah nama terpampang jelas dilayar ponsel pintarnya kantuk sirna entah kemana.

Terlalu terkejut hingga hampir saja jemari lentiknya menjatuhkan benda canggih itu kebawah ranjang.

"Donghae! Hae-ah! Donghae!" Hyuk Jae terdengar panik. Ia mengguncang tubuh laki-laki disampingnya yang masih tertidur pulas. Dengan keterpaksaan yang amat mendalam, Donghae mencoba membuka kedua bola matanya.

"Wae?" Namja tampan ini terlihat tak senang saat waktu tidurnya direnggut begitu saja.

"Sungmin! Dia menghubungiku…" Hyuk Jae terlihat gelagapan. Tangannya menunjuk ponselnya yang masih terus bergetar saat sang pemilik belum memberikan sebuah jawaban.

"Angkat saja…, jika terjadi apa-apa aku akan membantumu." Donghae menenangkan sang kekasih. Hyuk Jae menghela nafas dalam, tangannya bergetar namun sedetik kemudian ia mulai megarahkan ponselnya kearah telinga setelah sebelumnya menekan tombol 'answer'.

"Yeobsaeyeo…" Jawabnya singkat. Matanya terus menatap mata sang kekasih yang juga menatapnya.

.

.

.

Krakk!

Tirai putih terbuka, gaun indah nampak apik dengan tubuh sempurna sang pemakai. Sang pemuda yang berada didepan wanita cantik itu terlihat terpesona beberapa saat. Pakaian mewah sangat pas digunakan oleh seorang yang sepadan.

" Cantik…" Ia berujar pelan.

"Sangat cantik…" Kembali ia menggumamkan kata pujian.

"Benar-benar cantik…" Tepat! Ia melontarkan kata itu hingga membuat wanita didepannya tersenyum sinis. Pemuda berkulit putih susu itu masih menatap kagum setiap jengkal objek indah didepannya.

"Kukira kau tidak akan datang saat aku menelponmu, kurasa keberanianmu benar-benar besar, tuan Lee Hyuk Jae." Sungmin menekankan kata-katanya. Hyuk Jae, atau Lee Hyuk Jae menggidikkan bahu, entah menyangkal atau membenarkan.

"Kau mengundangku untuk datang, jadi tentu aku harus datang." Ia membalas tak kalah sinis. Sungmin tertawa meremehkan. Sesaat hening, hingga sebuah suara benar-benar membuat mata Hyuk Jae membelalak lebar.

"Tentu, anakku sangat cantik." Suara angkuh dari seorang wanita anggun disudut sana membuat Hyuk Jae terdiam kaku. Ia tahu pasti, siapa wanita ini dan ia tahu pasti hal apa yang akan terjadi setelah ini.

"Kenapa terdiam Lee Hyuk Jaessi?" Heechul, wanita itu terlihat tak puas dengan reaksi Hyuk Jae yang nampak sangat lemah. Hyuk Jae menundukkan kepala, sungguh berhadapan dengan ibu istri dari kekasihnya tak pernah terpikirkan sebelumnya.

"Waeyeo? Dari cerita anakku kau terdengar sangat pemberani, tapi kenapa sekarang kau begitu polos, hm?" Walaupun intensitas suaranya lemah, Hyuk Jae tahu pasti dibalik itu semua ada sebuah ancaman.

"Tidak kusangka Choi Donghae seorang…" Heechul menjeda ucapannya. Ia tak senang ketika Hyuk Jae tak menatap matanya saat ia berbicara, apalagi sekarang Hyuk Jae menundukkan kepalanya. Menurutnya, itu benar-benar jauh dari kata sopan.

"Lihat aku…" Nada Heechul terdengar memerintah dirinya. Hyuk Jae mau tak mau mengangkat wajahnya, menatap onyx kelam yeoja cantik itu dengan bulir bening yang sudah memenuhi pelupuk matanya.

"Kau pasti berpikir aku terlihat menjijikkan karena menyerah dan mengadu pada ibuku bukan? Tak ada yang bisa kulakukan, Donghae oppa berada dipihakmu dan aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Bukankah mengundang ibuku kedalam permainan ini adil?" Jelas Sungmin panjang lebar. Spontan Hyuk Jae mengalihkan fokusnya kearah Sungmin. Ia menggeleng merespon, ia tahu tak ada sepatah katapun yang bisa membuatnya aman dalam posisi yang sekarang.

Sungmin berjalan pelan dengan gaun indahnya kearah tempat butik yang menjajarkan berbagai macam tuxedo. Jemari lentiknya meraih sebuah jas hitam yang terlihat paling murah disana. Setelah meraih jas hitam itu, dirinya berbalik pada posisi yang semula hingga keempat manik hitam kelam itu saling bertautan.

Brakkkkk!

Sungmin melempar jas hitam itu tepat kearah wajah Hyuk Jae. Mata pemuda manis itu terbelalak, ini bukan pertama kalinya ia dianggap seperti seorang pengemis, tapi posisinya kali ini benar-benar posisi terburuk yang pernah diterimanya.

Ia menitikkan air mata, matanya tersorot menatap jas hitam yang kini jatuh kebawah lantai tempatnya berpijak. Jas murah yang dianggapnya mahal itu kini juga terbasahi dengan air mata yang tak kunjung mau berhenti menetes.

Heechul berjalan pelan kearah namja manis ini, semakin cepat saat dirinya meraih sebuah tong sampah yang berada dipojok ruangan. Aneh, benar-benar tak ada seorangpun disini, bahkan para pegawai butik tak menampakkan batang hidungnya.

Brukkk…

Semua sampah yang berada ditong sampah tadi kini beralih mengguyur tubuh putih Hyuk Jae. Semua terdiam, tak terkecuali Sungmin yang terkejut dengan aksi sang ibu. Hyuk Jae menguatkan pejaman matanya, bau sampah sekarang mengotori tubuhnya juga tuxeodo yang berada dibawahnya.

Sampah berbaur dengan sampah, Hyuk Jae adalah sampah. Bahkan dirinya membenarkan hal tersebut. Ia sudah sangat dipermalukan hari ini oleh istri sang kekasih.

"Kau kira siapa dirimu hingga berani merendahkan anakku pelacur?!" Heechul berteriak histeris. Air mata tak bisa dibendung dari mata sang ibu. Heechul meraih surai Hyuk Jae, dan anehnya pegawai butik baru datang saat adegan ini sudah terjadi.

Hyuk Jae terduduk saat hujaman jambakkan juga pukulan ringan tertuju padanya. Tuxedo itu terinjak-injak. Tidak hanya dirinya, Sungmin masih berada dalam keterkejutannya.

"Jalang! Kau benar-benar pelacur! Laki-laki berorientasi seksual menyimpang sepertimu seharusnya lenyap dari dunia ini!" Wanita cantik ini semakin histeris dan Hyuk Jae masih tidak bisa melakukan apapun. Bibirnya kelu, jambakkan itu masih dilakukan Heechul bahkan ketika pegawai butik mencegahnya.

Hyuk Jae lagi-lagi menangis dalam diam…, ini kesekian kalinya dirinya ditentang untuk hidup didunia ini, bahkan oleh manusia…

.

.

.

Laki-laki cantik itu berjalan kearah meja sang asistent, Henry mengerenyitkan dahinya bingung ketika sebuah tiket pesawat berada dimeja kerjanya. Semakin bingung saat membaca bahwa tujuan tiket ini adalah benua Eropa.

"Apa ini hyung?" Akhirnya ia melontarkan sebuah pertanyaan. Sang pemberi tiket tersenyum menanggapi.

"Venesia, kita berlibur disana…" Ucap namja berkulit seputih salju ini enteng. Henry semakin bingung, dirinya mencoba mencerna setiap kata yang dilontarkan sang atasan, juga kekasih gelapnya.

"Berlibur? Venesia? Apa kau gila?" Henry melakukan aksi tak terima dengan sikap semena-mena Kim Ki Bum. Tatapannya memecing menatap lurus pria cantik ini.

"Kau tenang saja, suamiku sudah mengetahuinya. Bahkan dia ikut datang kesana. Ini tidak sepenuhnya berlibur, sedikit bermain-main dengan perasaanya tak apa bukan? Kau mencintaikukan?" Ucapan Kibum membuat namja manis ini terbelalak kaget. Setiap ucapannya terdengar begitu menantang, namun kalimat terakhir yang dilontarkannya, membuatnya tak mampu menolak.

"Tentu aku mencintaimu, lebih dari yang kau tahu…" Jawabnya tegas.

.

.

.

Suara air yang mengalir deras dari kamar mandi mendadak berhenti dengan keluarnya seorang pria bertubuh topless. Handuk yang melilit dipinggangnya menutupi bagian terintimnya. Mata sembab melingkar membuat siapa saja yang melihat keadaannya mungkin akan iba.

Langkahnya terhenti maju, tuxedo itu tertangkap retina matanya.

"Sial!" Ia mengumpat keras. Warna jas itu sudah sedikit usang, juga bentuk yang tak rapi lagi menjadi penghias pakaian murahan itu. Hyuk Jae tersenyum getir mengulang segala memori tentang kejadian yang melandanya siang tadi.

Begitu buruk, hingga ia benar-benar ingin menghapusnya dari benaknya. Hyuk Jae meraih benda itu kasar, membuangnya kelantai lalu menginjak benda itu dengan kakinya.

"Aku menjijikkan? Kau yang menjijikkan! Sialan! Kupastikan Donghae tidak akan benar-benar menjadi milikmu!" Kini ia bermonolog dengan dirinya sendiri, melampiaskan segala kekesalan masih dengan menghentak-hentakkan kakinya menginjak benda berwarna hitam pekat tersebut.

Namun ia berhenti menghentakkan kakinya saat merasa benda ini terlalu mahal untuk diinjak kaki kotornya. Ia terdiam sejenak menatap tuxedo yang semakin tak berbentuk itu. Tangisan kembali jatuh dan air mata kembali membasahi benda pekat ini.

Perlahan, ia menjongkokkan tubuhnya meraih benda itu dengan satu tangannya.

"Benar! Tidak seharusnya aku kalah!" Ia berteriak entah pada siapa. Dirinya berjalan kearah kamar mandi, berniat membersihkan benda itu dari segala kekotoran yang menimpanya hari ini.

.

.

.

3 hari kemudian…

Bandara Incheon nampak sepi, berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang biasanya sesak dipenuhi pengunjung. Donghae dan Hyuk Jae melangkah cepat sembari bergandengan tangan. Donghae tak takut dirinya menjadi pusat perhatian karena memang pakaiannya saat ini berhasil mengelabui masyarakat umum.

Jemari mereka semakin bertaut kuat, dentingan peringatan keberangkatan pesawat mulai berkumandang memenuhi ruang luas itu. Mereka berangkat lebih dulu 4 hari dari target sebelumnya, setidaknya berpikir untuk menghabiskan liburan panjang berdua.

"Gunakan waktu ini sebaik-baiknya untuk menghilangkan setres..., ibuku sudah tahu kau akan datang jadi bersikap tenang. Dia berjanji akan membantumu." Donghae sedikit berbisik kearah Hyuk Jae yang tengah berdiri menunggu keberangkatan mereka. Hanya sebuah anggukan singkat yang diberikannya sebagai respon atas pernyataan sang kekasih.

Lama mereka berdiri menunggu keberangkatan. Mata Hyuk Jae terlihat mengedar kesegala arah, mencari objek apa yang bisa menarik perhatiannya saat sang kekasih sibuk mengutak-atik ponsel mewahnya.

Dahinya sedikit mengkerut saat sosok wanita yang tampak familiar tertangkap iris obsidiannya tengah bergandengan dengan seorang laki-laki muda. Ia menepuk bahu Donghae, menyuruh sang kekasih untuk menatap kearah yang sama dengannya.

Ia menunjuk kedua insan yang saling melontarkan senyum satu sama lain. Donghae terlihat terkejut dan…

Secara kebetulan keempat orang ini saling menatap satu sama lain, ketika mata mereka sama-sama bertemu. Sama-sama menampakkan sebuah keterkejutan, dan sama-sama dipertemukan oleh takdir yang bahkan tak pernah berpihak pada mereka.

.

.

.

TBC.

.

.

.

Mind to Review?

.

.

.

Author note: Khusus untuk EunHae day kali ini kami updet cepet! ^^! Kkk~ jujur kami senang sekali hari ini~ Hari Eomma dan Appa saling terikat satu sama lain! Jadi polarise mari kita merayakannya dengan suka cita…heheheh~ selamat EunHaeHyuk Day untuk para Polarise~

Maaf untuk alur yang terkesan lambat, diksi yang aneh, cerita yang makin berbelit-belit dan banyaknya typo di ff ini #bow. Terimakasih untuk respon dan reviewnya ^^.

Kami juga minta maaf karena belum bisa membalas review, karena jujur kami buatnya buru-buru, berusaha agar dihari spesial ini kami bisa mengupdetnya XD! Sekali lagi terimakasih~

Jadi apakah ff ini masih pantas untuk dilanjutkan?