Title: Glass/Yoori.

Author: Meonk and Deog.

Genre: Angst, romance, hurt/comfort.

Rate: M.

Pairing: HaeHyuk.

Slight pair: SiHyuk, HaeMin, SiBum, KyuMin, HenBum, ZhouRy, KangTeuk, Hanchul, YeWook.

Cast: All super junior member. Discleimer: Character in this story isn't mine! But the story is mine! And only mine!

Warning: Yaoi, Boys love, Shonen-ai, NC activity,GS for Sung Min, Heechul dan Leeteuk, EYD yang berantakan dll.

Summary: "Bukankah cinta seperti kaca? Terlalu frontal dan transparan. Bagi orang sepertiku cinta terlalu menggambarkanku dengan buruk. Pantaskah kusebut cinta? Hal yang terlalu menyakitkan, membawaku pada masa depan, mengoyakku hingga diriku benar-benar nyaris hancur, lalu kembali menariku kemasa lalu yang bahkan lebih buruk dari masa depan itu sendiri."

NO COPAST! NO PLAGIARISM.

Please don't bash chara!

Remember! It's just fanfiction!

Don't' Like Don't Read~

Happy reading~

.

.

.

Author POV.

Kaki kurusnya bergerak-gerak gemetar, suhu tubuh yang menurun terdefinisikan dari tangan yang semakin mendingin. Obsidiannya bergerak gelisah saat dua pasang mata menatapnya dengan penuh kebencian. Peluh dingin menetes hingga hampir membasahi sebagian wajahnya. Kedua orang didepannya makin menajamkan penglihatan, tak terima dengan keberadaan sang antagonis.

Jemari pria disampingnya menelusup masuk perlahan memenuhi rongga kosong genggamannya. 'Rengkuhan' kecil yang Donghae lakukan bukannya membuat hatinya berhenti berdegup keras, tapi malah tergantikan oleh aliran darah yang semakin mengalir kencang.

Rasa takut yang mendera semakin bergemuruh ketika raut wajah salah satu pihak begitu mengintimidasinya dikondisi ini. Sungmin, wanita cantik itu tersenyum penuh kesinisan. Genggamannya pada jemari pria tampan disampingnya tak kalah mengerat. Mengekspresikan keromantisan palsu pada sang suami.

"Lepaskan tanganku Donghae-ah." Nadanya mengalun rendah, berbisik hingga nyaris tersapu angin. Ia menundukkan kepala, menatap objek dingin; lantai marmer. Sebagai bentuk ketakutannya atas reaksi berlebihan Sungmin. Namun Donghae merespon sebaliknya, genggaman tangannya semakin menguat. Matanya memicing tajam menatap adegan perselingkuhan yang makin transparan.

"Memperlakukanku seperti penjahat dan lihatlah ini, kau malah lebih rendah dari pelacur yang sering kau hina." Laki-laki bernama Choi Donghae angkat bicara, intensitas volumenya tak berlebihan namun sudut bibir yang terangkat naik menandakan ketegasan.

"Jaga ucapanmu!" Kyuhyun salah satu pihak yang merasa tak terima memekik tajam. Sungmin diam dalam senyuman manis yang membalut wajah cantiknya. Hatinya sudah mengkarat untuk mengenal rasa sakit hati yang selalu Donghae hujamkan padanya.

"Lepaskan tanganku! Aku ingin pulang!" Hyuk Jae menghentakkan kakinya menabrak alas lantai airport. Tangannya bergerak-gerak kasar mencoba melepaskan genggaman erat yang ditunjukkan Donghae. Air mata sedikit menggenang dari pelupuk matanya, kemungkinan-kemungkinan yang mungkin akan terjadi sudah terangkum jelas dalam benak laki-laki manis bernama Lee Hyuk Jae ini.

Sungmin makin mengembangkan senyum menawannya memperhatikan sketsa adegan yang tersuguh rapih didepannya. Pasangan yang mengkhianati satu sama lain kini saling menyalahkan. Menggunakan gumaman 'cinta' sebagai alasan apik pengcover sebuah egoisme.

"Kau diam jangan banyak bicara!" Donghae mendesis pelan. Hyuk Jae sebagai lawan bicara spontan terdiam dan memamerkan senyuman sinis. Giginya terdengar bergemeletuk saling beradu berharap intensitas kemarahannya bisa tersamarkan.

"Tidak kusangka kejutan seperti ini yang kudapatkan…" Sungmin membuka percakapan penyambung konflik antara keempat insan ini. Nafasnya memburu menyesuaikan setiap irama yang berdetak tak beraturan dijantungnya. Donghae mendongak, menatap Sungmin. Tatapannya membalas tajam setiap lontaran kata yang Sungmin ucapkan.

"Ini juga kejutan bagiku." Donghae membalas. Nadanya terdengar mirip dengan kesinisan yang Sungmin keluarkan. Kedua orang yang merasa teracuhkan kini memutar kedua bola matanya kesal.

"Kurasa ini sudah cukup, aku akan pulang…" Suaranya terdengar memparau. Hyuk Jae sedikit muak dengan percakapan suami-istri yang dipamerkan Sungmin dan Donghae. Tangannya menghentak kasar, masih mencoba melepaskan diri dari genggaman erat sang kekasih. Namun semakin ia mencoba, tangan memerah akibat cengkraman keras yang Donghae lakukan malah menjadi balasannya.

"Lepaskan aku!" Hyuk Jae merengek keras. Matanya kembali berkaca-kaca menuntut sebuah kebebasan kecil. Donghae tak membalas, masih mencoba mencari topik baru untuk menghardik sang istri.

"Baiklah, kalian pasangan yang serasi. Nikmati waktu kalian, dan bersiap untuk berpisah saat kita bertemu nanti, Sungmin-ah…" Donghae menyeringai dalam aksinya. Kakinya melangkah cepat dan tangannya menarik kasar tubuh Hyuk Jae untuk mengikuti langkahnya.

Pandangan wanita ini menanar. Ia menundukkan wajahnya selagi air mata itu terus mendesak jatuh. Kyuhyun, pangeran berkuda putih dikondisi ini mengurut pelan pundak Sungmin, berharap dapat memberikan sebuah ketenangan kecil bagi wanita yang begitu dipujanya.

"Kita…, berangkat besok saja." Sungmin bergumam. Ia memejamkan matanya, menikmati sentuhan-sentuhan lembut yang Kyuhyun berikan. Kyuhyun tersenyum simpul, tak berniat berkata apa-apa. Kepala mengangguk digunakannya sebagai respon.

.

.

.

"Pasti sangat menyenangkan bertemu istrimu sendiri ditempat ini dengan pria lainkan?" Didalam pesawat, Hyuk Jae masih mencoba untuk membuat pertengkaran kecil. Onyxnya menatap lekat pria yang duduk disampingnya. Donghae merenggut samar, dagunya terangkat naik seolah ia mulai mengerti topik pembicaraan yang dikeluarkan sang kekasih.

"Kau tahu kita sedang berada ditempat umum, diamlah. Aku tidak ingin memulai sebuah pertengkaran." Laki-laki yang berusia dua tahun lebih muda dari Lee Hyuk Jae ini membalas sinis. Senyum sinis juga gigi yang bergemeletuk sembarang menjadi refleksi kemarahan frontal yang diumbar Hyuk Jae.

"Bukankah itu yang sejak tadi kau lakukan?" Kembali ia mengucapkan sebuah pertanyaan dengan jawaban yang sudah diketahuinya. Donghae terdiam, tak berniat membalas. Peringatan yang dikeluarkannya tadi dirasa cukup untuk membuat Hyuk Jae bungkam.

"Kau cemburu karena melihat Sungmin bersama laki-laki tadi bukan?" Hyuk Jae menarik alibi sensitif, Donghae tersentak. Rona merah wajah memperlihatkan kemarahannya.

"Tutup mulutmu!" Katanya pelan tak ingin menjadi perhatian banyak orang. Namun dengan kesinisan yang terangkum indah didalamnya, Hyuk Jae cukup tahu bahwa laki-laki didepannya ini, kini benar-benar marah.

Takut-takut Hyuk Jae menelan saliva cepat. Pilihan terakhir yang dilakukannya untuk menenangkan diri adalah berbaring dikursi pesawat VVIP yang sudah khusus dipesan Donghae untuknya.

.

.

.

"Dibatalkan?" Bibir namja berdarah Cina ini bergetar kaku mengulang kalimat yang diucapkan pria cantik didepannya. Tangan putih itu mengepal erat, meremas tiket pesawat yang sudah dipesan sejak jauh-jauh hari.

"Setelah kupikir-pikir ini terlalu beresiko bagiku. Datang keacara pribadi dengan mengundang asistentku, bukankah itu akan menimbulkan kecurigaan?" Alisnya terangkat naik, meminta sebuah persetujuan dari agrumen yang diucapkannya. Raut wajah Henry mendadak masam. Hatinya bergemuruh tak menyetujui kalimat yang terucap tadi.

Bukankah Kibum mengatakan ia mencintainya?

Bukankah Kibum mengatakan bahwa ia membenci Choi Siwon?

Namun keadaan malah memutar balikkan segalanya dengan mudah, menciptakan sebuah fakta bahwa ia hanya menjadi pelampiasan sesaat. Ia sudah menyadari sejak awal tapi dengan bodohnya, ia masih mengangguk 'ya' saat Kibum hanya menggunakannya sebagai perisai perasaan ambigunya.

"Hyung…, bolehkah aku menjadi egois untuk saat ini?" Pertanyaan tanpa arti Henry mengkerutkan kening sang lawan bicara. Tatapan Kibum mulai waspada, tak menginginkan hal buruk terjadi di kantor tempat banyak orang mulai mencurigai hubungan mereka.

"Apa maksudmu?" Kibum mencoba mengklarifikasi, peluh samar mulai terasa membasahi sebagian wajah porselen seputih salju.

"Aku hanya ingin ikut. Kita berangkat diwaktu yang berbeda, aku ingin mengawasimu. Karena aku takut…," Henry menjeda ucapannya.

"Kau mulai luluh padanya…" Pancaran keseriusan dalam kalimat penutup itu sukses membuat bibir merekah Kibum terkatup rapat. Otak pintarnya mendadak terprogram dengan lambat saat benda kenyal tak bertulang bertaut lembut menyapu leher mulusnya.

Sedikit desahan menjadi respon awal, Henry perlahan membawa tangan seputih salju itu kebelakang tubuh sang pemilik. Kibum tetap tak memberi reaksi yang signifikan, ia masih dalam proses keterkejutannya. Matanya melurus, menatap surai kecoklatan laki-laki yang masih sibuk menggerayangi tubuh mulusnya.

.

.

.

8 jam waktu yang cukup lama untuk mereka menghabiskan malam ditengah suasana membosankan pesawat kelas VVIP. Hyuk Jae tak bisa mengatupkan mulutnya saat suasana kota Venesia menyambutnya dengan anggun. Bandara Marco Polo terlihat senggang, berbeda dari hari-hari biasanya. Gemerlap malam kota romantis ini terlihat sedikit kaku karena tak ada sedikitpun perubahan raut wajah yang Donghae tampilkan.

Wajah tampannya tersamarkan dengan ekspressi stoic yang sukses membuat laki-laki manis disampingnya berjengit tak suka.

"Kemana kita akan pergi?" Hyuk Jae memutus keheningan dengan pertanyaan sinis. Matanya terpacu pada iris kelam Donghae berharap mendapat respon sebaliknya.

"Kita ke Hotel San Clemente, rent car akan menjemput sebentar lagi." Donghae menjawab singkat. Senyum simpul sedikit terpampang dari wajah manisnya, tak sia-sia ia mencari informasi tentang Hotel mahal di Venesia, dan sekarang Donghae membawanya ketempat itu. Salah satu Hotel termahal dikota kebanggan Italia ini membuat renggutan itu sedikit tersamarkan.

"Setelah itu kita akan kemana?" Sadar suasana benar-benar kaku, Hyuk Jae mengubah raut wajahnya menjadi seriang mungkin memancing laki-laki dihadapannya agar membawanya ketempat mahal lainnya dikota ini.

Donghae terdiam sebelum menjawab. Jarinya terangkat naik, memberikan intruksi untuk duduk.

"Gondola?" Sebuah pertanyaan kembali dilontarkannya. Hyuk Jae memiringkan kepalanya, memperlihatkan antusiasme yang begitu tinggi.

"Cara satu-satunya untuk menikmati kota ini dengan keseluruhan adalah menaikki gondola. Menurutmu apa kita akan melewatkannya?" Hyuk Jae menggelengkan kepala menjawab pertanyaan yang dilontarkan Donghae. Senyum lima jari terkembang menjadi definisi sederhana atas pemulihan mood yang kembali membaik.

.

.

.

"Jadi uri Sungmin-ie, benar-benar tidak berangkat sekarang?" Genggaman wanita itu pada ponsel pintarnya semakin mengerat. Wajah cantik yang tertekuk tak senang menandakan aura kemarahan. Semakin lama ia berfikir, laki-laki bernama Lee Hyuk Jae itu semakin menyakiti sang anak. Kerutan-kerutan halus diwajah terlihat begitu kontras dengan paras anggunnya.

"…"

"Dan Choi Donghae dengan laki-laki itu pergi bersama?" Kembali ia mengulang kalimat yang dilontarkan sang bawahan disebrang sana. Setelah jawaban 'ya' meluncur dengan mudah, sedikit senyuman sinis terpatri diwajahnya.

Satu tangan yang kosong, menggenggam kuat kerah baju yang dikenakannya. Rasa sakit yang diterima Sungmin ikut menjalar menghujam hatinya. Ia, Kim Heechul, sebagi seorang Ibu. Merasa begitu direndahkan, ketika sang anak menangis dalam diam ia hanya tersenyum naïf seolah tak terjadi apapun.

"Lalu, dimana anakku sekarang?" Ia tak habis akal. Banyaknya pertanyaan yang muncul dibenaknya menuntut seribu jawaban. Otaknya berputar keras, mengkhawatirkan keberadaan Sungmin. Matanya terpejam, sketsa hitam mulai mendominasi ruang pandang. Tak segan kepalanya menggeleng, Cho Kyuhyun. Nama itu langsung menyeruak masuk menyerang indera pendengaran.

"Baiklah aku mengerti. Aku perlu bantuanmu untuk satu hal lagi…" Ia menggantungkan kalimatnya. Masih menimbang apakah keputusannya kali ini benar-benar tepat atau tidak. Setidaknya memberi hukuman kecil pada tikus yang berani menggangu kehidupan indah Tan Sungmin.

"Pesankan tiket untuk keluargaku dan keluarga Choi. Usahakan jam penerbangannya berbarengan dengan keberangkatan Sungmin." Nadanya terdengar lemah tapi jelas-jelas itu sebuah perintah. Sang bawahan mengiyakan, tanpa sedikitpun berniat bertanya apalagi membantah.

.

.

.

"Besok?" Wanita cantik tersebut terlihat terkesiap dengan pernyataan sang lawan bicara. Irisnya bergerak-gerak resah, genggamannya pada telpon rumah melemah hingga nyaris menjatuhkan benda itu kelantai. Kecurigaan-kecurigaan baru mulai memenuhi benaknya, seorang Kim Heechul yang terkenal kukuh dalam setiap ucapan kini dengan mudah melanggarnya.

"Ada apa?" Choi Young Woon, sang suami mau tak mau ikut bicara dalam interaksi tak langsung yang dilakukan sang istri. Posisi duduk yang tadinya menghadap smart tv, kini berbalik menatap sang istri yang tengah berdiri dengan ekspressi amat terkejut khasnya menghadap tembok.

Park Jung Soo belum berniat menjawab, ia masih harus menyelesaikan koneksi telponnya. Akhirnya sebuah salam penutup terlontar, menghentikan aksi dadakan yang dilakukan Kim Heechul. Jung Soo mendesah pelan, jari-jari jenjangnya melekat erat didinding dingin kediamannya. Kakinya bergetar mendekati sofa tempat sang suami duduk.

"Ada apa?" Kembali Young Woon mengulang pertanyaannya. Berharap kalimatnya kali ini tak diacuhkan seperti tadi.

"Kim Heechulssi memajukan waktu keberangkatan kita ke Venesia, bukan tiga hari atau dua hari lagi. Tapi besok…" Wanita cantik ini bergumam lembut, reaksi keterkejutan masih melekat erat diparas eloknya. Mata sang suami membelalak tajam, ekor matanya menyiratkan sebuah keterkejutan dengan kombinasi ketidak setujuan yang mendominasi.

"Apa dia gila?!" Sarkasme itu tak berlebihan mengingat hal ini pantas dilakukannya. Young Woon terdiam tak berniat membalas atau ikut menghardik istri teman masa kecilnya. Matanya tersorot lurus meminta penjelasan lebih dari istri menawannya.

"Lalu bagaimana dengan Donghae?" Kalimat itu sukses membuat tatapan Jung Soo meredup. Jemarinya kembali bergerak gelisah, Donghae…, situasi ini benar-benar menyulitkan anak tersayangnya. Sadar raut wajah yang dikeluarkan sang istri terlihat mencurigakan, Young Woon menaikkan sebelah alisnya tanda curiga.

Jung Soo masih terdiam, belum berniat menjawab pertanyaan yang ditujukkan padanya. Otaknya masih memproses jawaban apa yang pantas untuk dikatakan.

"Dia sudah berangkat lebih dulu. Dia bilang, dia ingin menenangkan diri." Jawaban dari sang istri mendadak membuat air muka laki-laki tampan ini berubah drastis. Kecurigannya mendadak menjadi sebuah fakta yang begitu memalukan. Darah mendesir cepat, memperlihatkan kemarahannya.

.

.

.

Sapuan angin pagi pertamanya di eropa tersampir rapi dengan senyum mengembang amat menawan. Tangannya merentang membentuk sayap, membiarkan udara masuk terserap oleh tubuhnya. Pelukan tiba-tiba yang dilakukan orang dibelakangnya kembali mengatur suhu tubuh yang mendingin akibat udara pagi. Masih tak berniat membalas atau kesal karena aktivitas tiba-tiba itu, Hyuk Jae tetap memejamkan matanya.

Kanal-kanal dengan air beriak ramai menjadi latar belakang kegiatan mereka. Nafas hangat seseorang terasa jelas diindera perabanya. Makin dekat, hingga benda kenyal itu mengecup singkat tengkuk putihnya. Perlahan tubuhnya bergerak menatap orang yang menginstrupsi pagi indahnya. Obsidiannya lurus terfokus pada sang lawan bicara. Sedetik kemudian, rengkuhan hangat dilakukan sebagai balasan.

"Terimakasih…" Sepenggal kalimat itu menjadi awal percakapan mereka. Donghae, laki-laki yang masih sibuk memeluk tubuh kurus Hyuk Jae mengangguk paham. Jari-jemarinya beralih lamat mengelus surai hitam sang kekasih.

"Untuk apa?" Sebuah pertanyaan singkat menjadi respon baru Choi Donghae. Jemarinya tetap asik bergerliya menelusup lebih dalam.

"Untuk semuanya." Hyuk Jae ikut menjawab singkat. Rengkuhannya makin mengerat pada laki-laki dihadapannya. Senyuman tak pernah lepas, melekat indah pada wajah manisnya.

"Harusnya aku mengajak Wookie kesini…" Sambungnya lagi. Donghae tersenyum samar, sebuah ciuman singkat mendarat pas dipucuk surai pekat sang kekasih. Lama hening, tak ada yang berniat memulai sebuah percakapan kembali. Hanya rengkuhan yang semakin menghangat juga deru nafas menjadi irama pagi mereka.

Drt…drt…drt…

Dering ponsel dari saku celana Donghae menginstrupsi suasana hening mereka. Hyuk Jae mendongakkan kepalanya menatap lekat wajah sang kekasih. Donghae tersenyum singkat membalas, satu tangannya teralih mengambil ponsel. Sementara satu tangannya masih merengkuh erat tubuh kurus Hyuk Jae.

"Yeobsaeyeo?"

.

.

.

Suasana makan malam di hotel bintang lima ini terlihat begitu elegan. Pijaran lilin juga musik klasik yang dilantukan begitu berirama. Menambahkan kesan romantis yang selalu diharapkan kedua pasangan ini. Hanya sedikit wisatawan yang terlihat memadati restorant VVIP itu.

Namun raut wajah dingin dari seseorang membuyarkan suasana yang begitu mereka idamkan. Bahkan tagliattele dengan truffle berkualitas tinggi yang menjadi pemanisnya, juga foie gras yang terbuat dari hati angsa pilihan kini tak menjadi fokus utama laki-laki bersurai brunette itu.

"Ada apa? Tadi siapa yang menelpon?" Tenor, suara tenor itu menghentikan akftifitas melamunnya. Donghae yang menjadi sorotan utama dari pemuda manis itu menoleh singkat. Bibir tipis yang awalnya terkatup rapat kini sedikit merenggang, bersiap menjawab.

"…" Masih diam, ia masih berpikir apakah memberitahu yang sebenarnya akan membuat sang kekasih tenang, atau malah semakin memperburuk suasana yang sudah membaik.

"Wae?" Kembali suara tenor itu melontarkan sebuah pertanyaan. Ekspressi Hyuk Jae terlihat begitu penasaran. Satu hari berada disalah satu tempat paling indah di eropa membuat otaknya sedikit melupakan kenangan-kenangan buruk yang terjadi bebarapa tahun belakangan.

"Mereka…, mereka sudah datang." Donghae menjawab absurd membuat air muka Hyuk Jae makin memperlihatkan kebingungan pasti.

"Mereka?" Hyuk Jae kembali mengulang kalimat yang dikatakan Donghae. Matanya mengedar menatap makanan yang sama sekali belum tersentuh oleh pemiliknya.

"Sungmin dan keluarganya, bukan, bukan hanya keluarganya. Keluargaku juga sudah sampai dibandara."

Ctang!

Pisau makan, garpu, juga piring keramik yang beradu menciptakan sebuah suara amat nyaring. Menggema memenuhi ruang luas yang sepi ini. Donghae menutup mata berusaha paham dengan keterkejutan yang dialami Hyuk Jae.

Obsidian Hyuk Jae memanas. Air mata sudah menggenang, bersiap membasahi paras manisnya. Bibirnya kelu, sedikit getaran menandakan bahwa ia benar-benar takut. Tangan Donghae beralih maju, mencoba memberikan kehangatan pada sang kekasih. Namun Hyuk Jae dengan cepat menipisnya.

"Lalu bagaimana denganku? Baru satu hari aku disini. Apa aku harus pulang?" Kepanikkan begitu terlihat jelas dari nada juga raut wajah yang dikeluarkannya. Butiran sebening kristal itu kini tak hanya menggenang tapi juga jatuh membasahi kulit seputih susunya. Donghae menggeleng pelan, ia tak setuju, dan tak akan pernah membiarkan pertanyaan yang diajukan sang kekasih terjadi.

"Tidak ada yang akan pulang…" Nada yang dikeluarkan Donghae terdengar amat lembut. Lamat-lamat jari-jari putihnya beralih menghapus jejak kristal yang dikeluarkan Hyuk Jae.

"Lalu bagaimana?! Ini benar-benar berbanding terbalik dengan rencana! 4 hari tanpa mereka, kini harus dihabiskan dengan 6 hari bersama mereka! Aku benar-benar akan mati jika tetap disini!" Hyuk Jae merespon tak terima. Sayup-sayup ucapannya terdengar seperti sebuah rengekkan. Donghae meneguk ludah cepat, otaknya berpikir keras mencari solusi.

"Tenang dulu, ini juga sangat tiba-tiba bagiku. Hotel mereka jaraknya lumayan dekat dengan hotel ini, tapi walaupun begitu kita masih beruntung karena menginap ditempat yang berbeda. Aku akan mengatur semuanya agar kau aman…" Penjelasan panjang lebar yang dilakukan Donghae tak mampu menyurutkan intensitas kepanikkannya. Tubuhnya mendadak dingin menyuarakan ketakutan yang begitu besar.

"Apa kau akan pergi? Meninggalkanku sendiri ditempat ini?" Dua pertanyaan itu sukses membuat bibir Donghae terkatup rapat. Sontak tubuhnya membeku. Ia tidak tahu…

Apakah ia harus pergi…?

Atau tetap bertahan tinggal bersama Hyuk Jae…?

.

.

.

Sosok menawan itu terdiam dengan mulut yang terkatup rapat tanpa celah. Hanya deru nafas dingin yang menandakan bahwa sosok itu masih bernyawa. Matanya tersorot lurus memandang bangunan-bangunan kuno dengan arsitektur menawan, namun ekspressinya sama sekali tak menampilkan gurat kekaguman.

Jemarinya menggenggam erat sisi balkon. Nafas yang tersendat menjadi gambaran sederhana ketakutan yang melandanya. Saat tiba dikota romantis ini, ia berpikir bahwa segala rasa ketakutannya akan musnah seiring pergantian mood. Namun prediksinya salah, Henry terus menghantuinya dengan berbagai cara. Dari menelponnya, mengirimkan berpuluh-puluh sms, sampai terus berusaha berkomunikasi dengannya lewat pesan e-mail.

Ia memejamkan mata, membiarkan fatamorgana hitam itu mendominasi arah pandang. Maniknya tak dapat diam, bahkan ketika ia mencoba untuk menenangkan pikiran. Aliran darahnya mendesir tak karuan, memori-memori buruk terus berputar. Tak memberikan dirinya jeda bahkan hanya untuk bernafas.

Kata-kata Henry terus berputar bak piringan hitam. Luluh? Mungkinkah pria sedingin es ini akan luluh? Bahkan dengan 1000 kemungkinan yang akan terjadi?

"Hhh…" Kibum mendesah, akhirnya ia kembali membuka mata. Namun pelukkan seseorang tiba-tiba mengagetkannya. Pekikan nyaring yang dilontarkan sang pelaku membuat senyum yang jarang diperlihatkan didepan umum itu kini terlihat.

Kibum perlahan membalikkan badannya, menatap sang pelaku yang tersenyum manis sembari memeluk kaki ramping sang eomma angkat. Gigi putihnya yang berderet rapi menampilkan ketulusan sang pemilik.

"Eomma!" Lagi pria ini tersenyum tulus saat suara tenor itu menyeruak masuk. Diraihnya tubuh sang anak secara perlahan lalu membawa Shindong kedalam rengkuhan hangatnya.

"Appa eodiga?" Suara lembut itu berkumandang. Shindong hanya tersenyum kecil lalu menunjuk seseorang yang berada dibelakang mereka. Kibum dengan lembut menolehkan wajahnya, matanya seketika meredup saat siluet namja nyaris sempurna itu terpampang jelas didepan mata.

"Aku menyuruhnya menghampirimu, wajahmu terlihat lebih buruk dari biasanya." Kibum tau sang suami tengah bergurau namun entah kenapa ia tak bisa menghentikan segala letupan emosi yang menghujam batinnya. Dipalingkan wajahnya secepat mungkin dan kembali menatap suasana kota Venesia lewat balkon mewah itu.

Siwon sedikit mengkerutkan kening, respon Kibum terlihat berlebihan namun sekali lagi ia menganggapnya angin lalu. Kaki jenjangnya perlahan mendekat lalu merengkuh erat tubuh sang istri.

Posisi keluarga kecil ini benar-benar menunjukkan keharmonisan. Shindong yang mulai menutup mata dengan gendongan hangat yang Kibum lakukan, sedangkan Kibum yang mulai nyaman dengan rengkuhan lembut yang Siwon berikan. Namun sayang sekali kata-kata Henry kembali membuat hatinya sakit, semua yang Henry katakan kemarin tanpa sengaja menghakimi semua dosa yang dilakukannya secara tidak langsung.

"Aku ingin mengajakmu pergi kesuatu tempat malam i-"

Sebelum membiarkan sang suami menyelesaikan kalimatnya, dengan cepat Kibum menggeleng. Bibirnya yang terkatup erat itu bergetar ketika hendak membalas ucapan sang suami.

"Aku tidak ingin pergi kemanapun hari ini."

.

.

.

Sketsa-sketsa mengerikan tampil bergantian dalam mimpinya. Matanya masih terpejam erat melawan rasa takut dari refleksi imajinasi. Hingga sebuah sketsa paling ampuh, membuat tubuhnya tersentak bangun. Nafasnya tersengal, jantungnya berdegup amat keras. Peluh dingin menetes berbarengan dengan kebingungan yang terjadi dalam otaknya. Tatapannya mengedar…

Suara riak air yang biasa menyambutnya dipagi hari kini tak ada, tergantikan dengan memo kecil yang terpatri jelas diatas meja nakas. Pandangannya memicing, memfokuskan diri pada bait demi bait kalimat yang tertulis didalam lembaran kertas berwarna coklat kastanye itu.

Kalimat itu terbaca cepat. Tiba-tiba raut wajah ketakutan berubah menjadi ekspressi kesedihan tak berarti. Air mata itu jatuh dan bibir pulmnya bergetar hebat.

"Donghae…" Panggilan nama lirih nyaris berbisik dikeluarkannya. Matanya masih mengedar pada setiap objek yang ada, berharap seseorang yang dicarinya menampakkan diri. Namun sayang…, itu hanya sebuah panggilan tak berarti.

Orang itu tak menjawabnya…

Orang itu pergi…

Orang itu meninggalkannya, padahal kemarin ia berjanji untuk tetap bersama.

Air mata itu kini jatuh sudah. Melesat mudah membasahi pipi putih mulus miliknya. Genggamannya pada selimut mengerat. Rasa takut kini kembali datang, berdegup keras membisikkan alunan merdu sunyi yang begitu ditakutinya.

"Donghae…" Lagi ia bergumam. Namun sekali lagi, tak ada tanda-tanda jawaban yang diberikan sang lawan bicara. Matanya masih mengedar mencoba mencari objek baru yang mungkin saja ditinggalkan Donghae padanya. Amplop berwarna coklat tua itu begitu mengusik pandangan, tangannya beralih perlahan meraih amplop tersebut.

Senyum sinis terpampang nyata saat dengan mudah ia berhasil membuka objek pekat itu. Segempuk uang uero kini menyambut ruang pandangnya. Tangannya meremas kuat benda berharga tersebut, tak peduli dengan nominal yang begitu banyak. Remasan itu semakin kuat, tangannya bergetar hebat.

"Jadi kau pergi?" Ia bergumam. Hatinya menggemuruhkan rasa tak percaya. Segempuk uang itu kini tergeletak tak berdaya dilantai dingin keramik hotel. Jemarinya bertaut mencari objek satu-satunya penyambung dirinya dengan laki-laki bernama Donghae.

Jarinya menyentuh layar dengan kasar. Berharap dengan panggilan yang dilakukannya, ia bisa mendapatkan sebuah klarifikasi singkat, namun sayang tak ada tanda-tanda jawaban yang diberikan Donghae. Obsidian indahnya sudah memerah, wajahnya juga semakin tak tenang. Sekali lagi sosok itu tak memberikannya sebuah harapan.

Akhirnnya Hyuk Jae menyerah untuk menghubungi Donghae. Jarinya dengan sigap menelusuri baris-baris nama yang bisa menghubungkannya dengan Donghae. Dan pilihan terkahir untuk menghubungi wanita itu adalah jawaban dari segalanya.

Sebelum memulai sebuah koneksi telpon, ia menelan salivanya. Memutus segala kegugupan yang tengah mendera. Ia memejamkan mata sejenak saat ponsel itu sudah terarah ketelinganya. Dan seketika indera motoriknya terasa tak berfungsi optimal ketika sebuah suara lembut menjadi jawaban dari segala hal.

.

.

.

Pagelaran seni abstrak yang tersaji mewah dihadapan kedua orang ini mendadak tak berarti apa-apa ketika sebuah panggilan menjadi awal dari kegusaran pagi yang mungkin indah bagi beberapa orang. Sungmin menatap nanar laki-laki disampingnya yang tengah menyaksikkan segala sketsa-sketsa indah yang digoreskan oleh seniman-seniman dunia dikanvas putih.

Ia belum berniat menjawab. Pandangannya menyusuri segala keapikkan dalam pameran seni bersejarah dikota Italia itu. Namun sedetik kemudian, akhirnya jemarinya bertaut, memutus getaran yang terus mencoba mengusik.

"Yeobsaeyeo?" Sungmin membalas panggilan yang tertuju padanya. Ekspressi wajahnya mendadak datar. Seolah dirinya sekali lagi menguatkan segala pertahanan yang sudah dibangunnya dengan susah payah.

"Dimana Donghae?"Sungmin tersenyum hambar. Sosok itu bahkan tak berbasa-basi seperti sebelumnya. Sungmin memilih menghela nafas sebelum menjawab.

"Dia ada disini, mau kusambungkan?" Donghae mengkerutkan kening ketika tiba-tiba wanita cantik itu memberikannya ponsel. Meminta Donghae untuk menyambung percakapan yang sempat terjeda.

"Nugu?" Donghae bertanya namun Sungmin tak berniat menjawab. Ia hanya mengulurkan tangannya, menyuruh Donghae untuk secepatnya menjawab.

Akhirnya dengan malas laki-laki itu meraih ponsel Sungmin, mengarahkan ponsel canggih itu tepat ketelingannya.

"Yeobsae-"

"Kau pergi?" Tiba-tiba Donghae tertohok. Suara tenor dari sebrang sana begitu familiar ditelinganya. Wajahnya seketika pucat pasi, bibir tipisnya bergetar tak menentu, nada sinis yang terlontar kaku bahkan lebih mengerikan dari sebilah belati tajam.

"Hyuk Jae-ah?" Donghae masih mencoba untuk memastikan. Hampir saja ponsel itu terjatuh keatas lantai tempat pameran seni itu berlangsung ketika sebuah teriakkan keras nan melengking itu terlontar dari sosok disebrang sana.

"Kau pergi meninggalkanku saat sehari sebelumnya kau berjanji tidak akan meninggalkanku! Kau gila Choi Donghae?!" Wajah yang sudah pucat itu kembali memutih, keringat dingin terus meluncur saat tak ada satupun kalimat lagi untuk mengelak. Sedangkan Sungmin, yang menyaksikan langsung keadaan dimana sang suami berselingkuh itu hanya tersenyum sinis. Matanyapun sudah berair, terbasahi oleh setitik kristal bening.

"A..anni." Bodoh! Ia masih berusaha mengelak ketika semua kenyataan sudah membuka lembarannya dengan jelas. Hyuk Jae mendecih pasti, raut wajahnya saat mendengar ucapan Donghae benar-benar berubah menjadi masam.

"Cepat kembali atau aku benar-benar akan pergi!" Donghae membungkam mulutnya, Hyuk Jae memutus koneksi secara sepihak dan itu nyaris saja membuat Donghae kehabisan oksigen untuk bernafas. Kaki-kakinya terasa kaku untuk mulai melangkah, rangsangan yang terjadi pada hatinya begitu bergejolak.

Dengan sekuat tenaga ia melangkahkan kakinya pergi namun tangan wanita cantik disampingnya berusaha untuk menghentikan segala pergerakkannya.

"Kumohon oppa, kali ini jangan pergi lagi."

.

.

.

Nafas Hyuk Jae memburu. Emosinya sudah berada diambang batas dan ia tak mampu lagi untuk membendungnya. Benda yang berada ditangan putihnya ditatapnya dengan lekat. Meremasnya dengan erat hingga…

Prankkkk!

Cermin yang ada didepan ranjang tempatnya berada pecah hingga berbentuk kepingan-kepingan kecil tak beraturan. Seorang Lee Hyuk Jae yang terkenal sangat peduli dengan barang berharga malah kini membanting ponselnya kearah meja rias hingga membentur cermin. Nafasnya semakin memburu namun sedetik kemudian ia mulai menghapus air mata yang sejak tadi menggenangi wajahnya.

.

.

.

Wanita paruh baya itu bergetar menggenggam ponsel yang dibawanya. Tatapan mengintimidasi tajam didapatkannya dari wanita yang duduk angkuh disofa kamar hotel tempatnya berada. Arahan yang diberikan Kim Heechul begitu pasti, hingga konsekuensi yang didapatkannya tak tanggung-tanggung saat ia berani bertanya apalagi membantah.

Dengan takut ia menyentuh layar ponsel, memulai sebuah koneksi telpon dengan pengawasan Kim Heechul.

.

.

.

Suara tenor dari dering smartphone yang tadi terkapar tak berdaya dilantai benar-benar mengejutkan pemuda manis ini. Ia tak menyangka, barang canggih yang sudah dilempar dengan amat kasar tadi masih bisa berfungsi dengan sebagaimana mestinya.

Ia berjinjit perlahan mendekat, serpihan-serpihan tajam cermin begitu dihindarinya. Perlahan tangan mulus seputih susu itu meraih benda yang masih terus berdering. Matanya membelalak lebar saat ikon kontak orang yang begitu dihormatinya terpampang dengan jelas dilayar handphone. Tak ingin membuat orang itu menunggu lama, Hyuk Jae dengan sangat cepat mengangkatnya.

.

.

.

"Yeobsayeo…" Jung Soo memulai sebuah percakapan dengan suara yang amat lirih. Heechul yang sejak tadi berada didepannya berjengit tak suka saat sang besan mengeluarkan sebuah respon yang bisa menimbulkan kecurigaan.

"…"

"Bisakah kita bertemu?" Jung Soo langsung ketopik pembicaraan. Heechul tersenyum manis saat sadar dirinya tak perlu menunggu lebih lama.

"…"

"Baiklah, aku akan mengirimkan alamatnya lewat pesan. Sampai jumpa…" Ucapan penutup itu langsung dibalas dengan tepukkan tangan oleh Kim Heechul.

"Terimakasih…" Heechul bergumam. Jung Soo tak membalas, ia menunduk kaku menatap lantai. Semua rahasia yang selama ini ditutupinya terbongkar sudah. Segalanya hancur, hanya menyisakan kepingan-kepingan tak layak untuk disusun kembali. Hampa dan perlahan lenyap, tanpa menyisakan apapun.

.

.

.

Donghae berjengit bingung. Tak ada seorangpun dikamar mewah ini saat ia datang. Dirinya malah kembali dikejutkan oleh kepingan-kepingan serpihan kaca yang nyaris melukai langkahnya. Nafasnya tersendat, sebuah alibi-alibi tak masuk akul menyeruak masuk menghantui benaknya.

Dimana Hyuk Jae…?

Kemana dia pergi…?

Dan apa yang dilakukannya…?

.

.

.

Langkah kaki terdengar perlahan memasuki restaurant sepi itu. Ia tak lagi bingung menatap suasana berbeda dari tempat ini, karena ia tahu pasti Park Jung Soo memesan ini semua khusus untuk mereka berdua.

Senyuman simpul dikeluarkannya saat seorang pelayan memberikan instruksi dimana ia harus duduk. Matanya mengedar, ketika tubuhnya sudah mendudukki sebuah kursi dengan komposisi kayu berkualitas tinggi. Musik klasik khas Italia begitu menyambutnya dengan apik. Seorang pelayan kembali datang, menuangkan wine dengan anggur pilihan kedalam gelas kaca cembung dihadapannya. Aroma wine menusuk penciuman, baru hendak menggenggam kaki gelas itu. Cahaya dari lampu yang tersaji tiba-tiba mati, redup, dan menyisakan kegelapan.

Hyuk Jae terdiam panik. Genggamannya pada kaca itu mengerat, dan saat cahaya kembali menyapa onyxnya. Siluet wajah wanita angkuh membuat hatinya tersentak.

"Orenmaneyeo…Lee Hyuk Jaessi."

.

.

.

TBC

.

.

.

Mind to Review?

.

.

.

Author Note:

Sebelumnya kami ingin mengklarifikasi sesuatu. Sungguh sangat disayangkan karna beberapa dari reader glass mengebash Sungmin. Kami sangat mencintainya, kami memilihnya menjadi cast di ff ini bukan karena kami membencinya, tapi karna kami mencintainya. Kami mohon sekali lagi untuk tidak mengebash Sungmin, ingat ini hanya karya fiksi. Terimakasih #bow.

Dan kami minta maaf untuk keterlambatan updet-nya juga terimakasih atas review kalian semua #bow. Maaf juga atas typo yang bertebaran, diksi yang tidak jelas, juga lambatnya alur dari kisah ini. Kami benar-benar minta maaf.

Kami juga minta maaf atas perubahan gaya bahasa di ff ini. Kami melakukannya karna kami ingin menyesuaikan dengan karya kami yang lain (Forget me not dan Iris)

Maaf juga karena belum bisa membalas review… jeongmal jeosonghamnida #bow.

Jadi apakah ff ini pantas dilanjutkan? Jika masih tolong tinggalkan review ^^.

Sekali lagi terimakasih untuk responnya. =D