Langit terlihat begitu cerah. Suasana hari ini sangat baik. Tak ada tanda-tanda akan hujan. Teriknya matahari pun tidak terlalu menyengat. Lebih teduh dan menyenangkan. Membuat orang-orang yang keluar rumah cukup merasa nyaman di bandingkan hari-hari sebelumnya.
"Andwae! Aku tidak mau! Apa kalian tidak mendengarku, hah?! Aku bilang, aku tidak mau!"
Namun situasi panas justru terjadi di dalam sebuah kamar rawat rumah sakit swasta di daerah Seoul. Teriakan terus mengalun dalam ruangan itu. Sentakan yang berasal dari seorang namja yang tengah memandang tajam penuh emosi pada dokter dan perawat yang ada di sekelilingnya.
"Tapi Kyuhyun-ssi…"
"Aku tidak akan melakukan operasi itu! Aku akan pergi, sekarang!"
Kyuhyun kembali berteriak, memotong ucapan dokter yang berdiri beberapa langkah sedikit menjauh dari ranjangnya. Kamar rawat yang seharusnya rapi dan terawat itu sekarang tak ayalnya sebuah kapal pecah.
Tiang penyangga infus tergeletak begitu saja di lantai bersama bantal, buku dan beberapa benda lainnya. Benda-benda yang sudah di lemparkan oleh Kyuhyun untuk meluapkan emosinya guna mengusir orang-orang berseragam rumah sakit itu.
Walaupun mata Kyuhyun masih terlihat sayu dan wajahnya begitu pucat, Kyuhyun bersikekeuh dengan pendiriannya. Setelah terbangun dari tidurnya selama tiga hari itu, uisa segera memberitahukan bahwa mereka akan melakukan sedikit operasi agar penyakitnya tidak sering kambuh lagi. Ya, saat pertama kali Kyuhyun tiba di rumah sakit ini, dia sudah mendapat perawatan intensif dan penyedotan udara dalam rongga pleuranya. Namun untuk mencegah penyakit itu kambuh lagi, di perlukan operasi lanjutan.
"Aku hanya ingin pergi dari sini," seru Kyuhyun dengan suara lebih pelan. Di sandarkan punggungnya di dashboard ranjang.
Jujur, Kyuhyun masih merasa tubuhnya begitu lemas. Pandangan Kyuhyun beralih pada dirinya sendiri. Darah sedikit keluar dari pergelangan tangan kanannya karena Kyuhyun melepaskan jarum infuse yang tersemat itu secara tiba-tiba. Terlihat beberapa luka di sekitar lengannya akibat kecelakaan beberapa hari lalu.
"Kyuhyun-ssi, gwaenchana?"
"Jangan mendekat!"
Kembali teriakan itu terdengar saat uisa hendak mendekati ranjang Kyuhyun. Ekspresi cemas di wajah namja paruh baya itu bercampur dengan pasrah dan lelah menghadapi pasien pertama yang berani membuat kekacauan seperti ini.
"Aku mau pulang," seru Kyuhyun lagi, "Aku mau bertemu hyungku."
Kyuhyun hendak berdiri namun belum sempat berdiri tegak, dia kembali jatuh terduduk di ranjangnya.
"Kau belum pulih," ucap uisa dengan nada mulai tegas.
Perdebatan pun kembali terjadi antara Kyuhyun dan uisanya. Tiga orang perawat dalam ruangan itu pun hanya berdiri mematung di tempatnya. Tak berani bicara sedikit pun. Hingga perhatian semua orang teralih pada pintu yang di buka dengan tidak sabaran. Dua orang namja nampak setelah pintu itu terbuka.
Sungmin membelalakan matanya saat melihat keadaan kamar yang berantakan. Tanpa sadar, dia menggelengkan kepalanya beberapa kali. Berbeda dengan Yesung yang langsung menatap Kyuhyun yang masih berusaha berdiri dari ranjangnya.
Beberapa saat lalu, seorang perawat memberitahu Yesung dan Sungmin jika Kyuhyun sedang mengamuk di kamarnya. Sontak keduanya langsung berlari menuju kamar ini.
Yesung langsung melangkahkan kakinya untuk mendekati ranjang itu. Uisa memilih mundur beberapa langkah dari ranjang, memberikan ruang untuk Yesung.
"Mau kemana, eoh?" tanya Yesung dingin.
Kyuhyun memandang Yesung sekilas dan kembali berusaha berdiri, "Hae hyung… Aku mau bertemu dengannya."
Yesung memegang kedua pundak Kyuhyun dan sedikit memaksa anak itu untuk kembali duduk di ranjangnya.
"Dengan keadaan seperti ini? Tidak. Kau masih perlu banyak istirahat," tegas Yesung, "Lalu… Apa ini? Kenapa kau begini, Kyu? Apa salahnya menjalani operasi itu?"
"Kau tidak tahu apapun, hyung! Aku tidak mau!" sentak Kyuhyun sambil menatap tajam Yesung.
"Ya. Aku tidak tahu apapun karena kau yang menyembunyikannya dari kami. Bagaimana bisa kau menyembunyikan penyakit itu, hah?! Kau tahu apa dampaknya? Kau tambah parah. Kau tahu? Paru-parumu hampir bocor karena banyaknya udara itu! Kau bisa mati karena itu, Kyu!"
Kyuhyun sedikit mengerut takut saat Yesung berkata panjang seperti itu. Ini pertama kalinya, Yesung berkata keras dan membalas tatapan tajam Kyuhyun. Kepala Kyuhyun reflek menunduk dan kedua tangannya saling meremas.
"Kau masih mau keras kepala seperti ini?" Yesung memelankan suaranya.
"Aku sudah tidak apa-apa. Bukankah mereka sudah menyedot udara itu kemarin?" sahut Kyuhyun.
Yesung menghela napasnya lalu menganggukkan kepala, "Ne. Tapi mereka harus melakukan operasi lanjutan agar penyakit itu tidak kambuh lagi. Mereka menunggumu sadar dulu dan sekarang kau justru menolaknya? Kau tidak ingin sembuh, hm?"
Kyuhyun terdiam dan tidak menjawab lagi. Yesung bisa melihat mata anak di hadapannya ini sudah berkaca-kaca. Sungguh tidak tega melihatnya namun dia juga harus bersikap tegas untuk menghadapi kekeras kepalaan Kyuhyun.
"A-Aku ingin bertemu Hae hyung. Sudah 3 hari aku tidak menemuinya. Dimana dia sekarang? Hae hyung baik-baik saja 'kan?"
Kyuhyun bersuara kembali dan mulai memberondong Yesung dengan pertanyaan. Mengalihkan pembicaraan mereka tentang operasi itu. Kali ini Yesung yang terlihat bungkam. Hendak mengatakan sesuatu namun terlihat begitu ragu. Kyuhyun bisa melihat gelagat Yesung yang berbeda. Tangannya langsung terjulur dan mencengkram jaket Yesung.
"Yesung hyung, waeyo? Donghae hyung baik-baik saja 'kan?" desak Kyuhyun bersamaan dengan buliran kristal yang sudah mengalir dari kedua sudut matanya, sebuah ketakutan tersirat jelas di mata itu.
Sungmin yang sedaritadi diam di belakang Yesung mulai menarik napas dalam. Dia melangkah dan mendekati Kyuhyun. Di tariknya tangan Kyuhyun agar melepaskan cengkraman itu pada jaket Yesung. Dia menunjukkan senyuman manisnya pada Kyuhyun.
"Sungmin hyung… Hae h—"
"Dia baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir. Dia sedang tidur di kamarnya," jawab Sungmin sebelum Kyuhyun menyelesaikan ucapannya.
"Jeongmal?" Kyuhyun menatap ke dalam manik hitam Sungmin.
"Ye. Dan dia akan sedih jika tahu kau mengamuk seperti ini," lanjut Sungmin.
Kyuhyun menggelengkan kepalanya. Kini tangannya menggenggam erat tangan Sungmin, "Aku ingin bertemu dengannya."
Sungmin terlihat berpikir. Ekor matanya melirik ke samping, meminta sedikit pendapat pada Yesung yang masih terdiam. Yesung hanya menggelengkan kepalanya dan itu membuat Sungmin menghela napasnya.
"Aku akan mengantarmu ke kamar Donghae jika kau menyetujui operasi itu," ucap Sungmin.
"Sungmin hyung… Aku tidak mau. Aku sudah sehat, sungguh…" Kyuhyun menatap Sungmin dengan ekspresi memelas.
Sungmin menggelengkan kepalanya, "Kau bukan dokter. Aku lebih percaya dengan yang di ucapkan uisa mengenai kondisimu."
Kyuhyun mendengus sebal. Duduk lemas di atas ranjangnya kembali. Matanya bergerak gelisah dan masih terus menimbang-nimbang penawaran itu. Kyuhyun menghembuskan napasnya.
"Aku tidak punya biaya untuk operasi itu…" gumam Kyuhyun sangat lirih namun masih mampu di dengar oleh Yesung dan Sungmin.
Kedua orang itu kembali saling melempar tatapan. Tersenyum lega dan mendekatkan diri pada Kyuhyun. Keduanya duduk di sisi kanan dan kiri Kyuhyun yang masih mendudukan kepalanya.
"Apa gunanya kau punya teman, eoh?"
Ucapan Yesung membuat Kyuhyun menatap orang yang berada di samping kanannya dengan tatapan bingung. Beralih menoleh ke arah Sungmin saat orang itu merangkul bahunya.
"Jangan memikirkan apapun. Kami akan mengurus semuanya, Kyu," seru Yesung sambil menepuk-nepuk kepala Kyuhyun.
"Yesung hyung… Sungmin hyung…"
Kyuhyun memandang kedua orang itu dengan tatapan tidak percaya namun bercampur haru. Walaupun ada perasaan tidak enak karena merasa merepotkan untuk dua orang itu tapi Kyuhyun tidak percaya jika mereka mau membantunya.
"Bagaimana?" tanya Sungmin lagi. Enam orang dalam ruangan itu memandang Kyuhyun dengan tatapan penuh harap.
Hingga akhirnya Kyuhyun menganggukkan kepalanya sekali dengan pelan. Hal itu cukup membuat dokter, perawat, Yesung dan Sungmin menghela napas lega. Uisa segera meminta perawatnya untuk merapikan ruangan itu. Dan seorang lain segera keluar kamar untuk mengambil pot infus yang baru.
Di saat semua orang sibuk merapikan kamarnya, Kyuhyun masih terdiam. Duduk di ranjangnya sambil menundukkan kepalanya. Yesung dan Sungmin kembali melempar tatapan bingung dan sedih.
"Kyuhyun-ah…"
Kyuhyun bergeming. Dia mengggigit bibir bawahnya. Buliran bening dari matanya semakin mengalir membasahi wajahnya. Bayangan Donghae saat terakhir kali dia melihatnya di dalam bus itu kembali berputar dalam benaknya. Perasaan cemas dan takut kembali menyelimuti hatinya. Walaupun Sungmin mengatakan bahwa Donghae baik-baik saja tapi entah kenapa hati Kyuhyun justru berkata lain.
"Donghae hyung…"
.
.
.
PRECIOUS EYES
.
Main Cast :
Cho Kyuhyun
Lee Donghae
.
Genre : Friendship, Drama, Angst
.
Rated : T
Warning : Typo(s), bad plot, bored, OoC
Disclaimer : All Cast isn't mine but this plot story is mine!
.
LyELF
-Enjoy Reading!-
.
.
PART 8
ooOOoo Eyes ooOOoo
Suasana tenang terasa di sebuah ruangan yang di penuhi dengan beberapa peralatan medis. Hanya suara pelan yang berasal dari kardiograf dan ventilator saja yang mendominasi dalam ruangan itu. Hembusan angin dari air conditioner pun mampu terdengar karena sunyinya ruangan.
Intensive Care Unit (ICU) adalah fasilitas ruang rawat medis untuk pasien yang memerlukan pemeriksaan secara intensif.
Seorang namja terbaring pasrah dalam ruang ICU itu. Matanya terus saja terpejam seolah kelopak mata itu enggan untuk terbuka lagi. Sebuah masker oksigen menutupi mulut dan hidungnya guna membantu pernapasan dari namja tersebut. Perban putih pun terlihat membalut bagian kepalanya. Goresan luka masih bisa terlihat menghiasi wajah tampannya. Sekilas jika di lihat dari wajahnya dengan melupakan semua luka dan beberapa bagian tubuhnya yang terhubung dengan alat medis, namja itu terlihat seperti tengah tertidur dengan tenang dan damai.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Masuklah dua orang ke dalam ruangan ICU itu dengan menggunakan pakaian steril berwarna biru. Seorang perawat mendorong sebuah kursi roda yang di duduki seorang namja tampan untuk mendekati pasien yang terbaring dalam ruangan itu.
"Tolong tinggalkan aku sendiri di sini," pinta namja yang duduk di kursi roda itu pada perawat yang mengantarnya kemari.
Perawat itu terlihat berpikir sejenak. Tangannya masih setia memeganggi handle dari kursi roda salah satu pasiennya juga, "Tapi Kyuhyun-ssi…"
"Jebal, biarkan aku di sini. Aku ingin bicara berdua saja dengan hyungku."
Kyuhyun hanya memandang lurus ke arah Donghae yang terbaring di ranjang pasien ICU, tanpa mempedulikan perawat yang berdiri di belakang kursi rodanya. Tak sedikit pun manik caramel itu beralih dari tubuh kakaknya.
Perawat yang mengantarkan Kyuhyun pun akhirnya menghembuskan napas berat. Ia menganggukkan kepalanya. Setelah mengatakan beberapa pesan, dia langsung keluar dari ruangan rawat intensif itu.
Keheningan kembali terjadi dalam ruangan setelah perawat Kyuhyun keluar. Suara dari alat-alat medis masih saling bersahutan dalam ruangan tersebut.
Diam…
Alasan Kyuhyun yang ingin bicara berdua dengan hyung nya itu tidak terlaksana untuk beberapa saat. Dia justru terdiam seribu bahasa. Lidahnya terasa kelu untuk berucap kala melihat Donghae yang terbaring begitu saja.
Kyuhyun memutar kursi rodanya agar bisa lebih mendekati orang yang sudah di anggapnya kakak itu. Kini ia berada tepat di sisi kiri ranjang Donghae. Pandangannya beralih pada kardiograf dan ventilator yang di letakan di sisi kanan ranjang bersama dengan tiang infuse yang selangnya terjulur dan jarumnya tersemat dalam pergelangan tangan kanan Donghae.
Hembusan napas meluncur dari bibir Kyuhyun. Terlihat begitu lelah melihat kondisi kakaknya yang seperti ini. Namun sedetik kemudian, sebuah senyuman terlukis di wajahnya. Senyuman yang cukup di paksakan hadirnya. Di raihnya tangan kiri Donghae yang masih terasa cukup dingin. Tangan yang biasa mengelus rambutnya sebelum tidur itu telah terkulai lemas sejak seminggu yang lalu. Hati Kyuhyun berdesir saat mengingat hal tersebut.
"Hae hyung…"
Suara Kyuhyun akhirnya mengalun berpadu dengan sahutan suara alat medis. Sedikit terdengar serak namun sebisa mungkin Kyuhyun berucap dengan nada biasa bahkan di buat riang. Di elusnya punggung tangan kiri Donghae dengan pelan.
"Aku datang lagi ke sini," ujar Kyuhyun.
"Kau tahu? Aku merasa semakin sehat sekarang. Aku tidak merasakan sesak itu lagi setelah mereka melakukan operasi itu."
Tangan Kyuhyun yang lain menepuk dadanya pelan lalu kekehan pelan pun terdengar. Tak ada yang menyahut ucapan Kyuhyun. Dia hanya berbicara seorang diri. Donghae bergeming di ranjangnya, tanpa suara bahkan pergerakan sedikit pun. Berbicara sendiri seperti ini sudah sering di lakukan Kyuhyun sejak Donghae, hyungnya itu di nyatakan dalam keadaan koma.
"Hanya tinggal satu minggu lagi. Mereka akan mengontrol keadaanku selama satu minggu lagi. Jika penyakit itu tidak kambuh dalam satu minggu ini maka aku bisa keluar dari sini."
"Aku takut, hyung," lirih Kyuhyun sambil menundukkan kepalanya. Tangan Donghae yang tadi di elusnya menjadi di genggam cukup erat.
Kyuhyun terdiam sejenak hingga ia kembali mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis. Tangan Kyuhyun memijat pelan tangan kiri Donghae yang ada di dekatnya. Tangan hyungnya terasa dingin, sangat berbeda dari biasanya.
"Tapi kau tenang saja, aku pasti baik-baik saja setelah ini. Aku 'kan kuat, tidak sepertimu."
Tawa kecil kembali meluncur dari bibir Kyuhyun. Pandangannya mengedar pada tubuh Donghae yang tertutupi selimut hingga sebatas dada. Tangannya masih setia memijat pelan tangan kiri hyungnya itu. Kyuhyun menerawang kosong sesaat.
"Sepertinya setelah kita keluar dari rumah sakit… Kita harus bekerja lebih keras lagi. Kita berhutang banyak pada Shin ahjussi, Yesung hyung, Ming hyung dan Ryeowookie," seru Kyuhyun pelan lalu menghembuskan napas panjang.
Empat orang itulah yang membantu biaya perawatan Kyuhyun dan Donghae selama berada di rumah sakit. Jumlahnya pun sangat besar. Kyuhyun sedikit ragu bisa mengembalikan seluruh biaya itu. Walaupun empat orang tersebut bilang bahwa Kyuhyun tidak perlu memikirkannya dulu tapi tetap saja sedikit banyak hal itu mengganggu pikirannya. Berhutang pada seseorang itu tidaklah enak.
Musibah memang datang tanpa di duga dan Kyuhyun merasakannya sekarang. Entah mimpi apa dia sehingga mengalami kecelakaan seperti itu.
Pandangan Kyuhyun beralih menuju wajah Donghae. Uap putih samar terlihat dalam masker oksigen Donghae. Mata itu masih saja terpejam. Memperhatikan wajah Donghae yang seperti ini dengan seksama membuat hati Kyuhyun berdenyut sakit.
"Hae hyung, aku benar-benar tidak suka. Kenapa kau tidak membalas setiap ucapanku? Kau sangat tahu kalau aku tidak suka jika seseorang tidak membalas ucapanku. Aku seperti orang gila yang berbicara sendiri seperti ini," dengus Kyuhyun.
"Kau mendengarku 'kan? Kalau mendengar cepat balas ucapanku, hyung!"
Nada suara Kyuhyun cukup meninggi saat mengatakan hal tersebut. Mata Kyuhyun mengerjap berusaha menghilangkan embun yang sudah menutupi kedua manik caramelnya.
Tidak bisa…
Kyuhyun tidak bisa menyembunyikan ekpresi sedihnya lagi. Matanya semakin berkaca-kaca dan buliran bening sudah menggantung di pucuk mata Kyuhyun.
"Sampai kapan kau mau tertidur seperti ini, hyung? Apa kau tidak lelah?"
Kyuhyun menatap wajah Donghae yang masih di penuhi luka namun tetap terlihat tampan dan childish itu dengan penuh harap. Sepenggal doa mengalun dalam hati Kyuhyun agar kakaknya segera membuka matanya sekarang juga. Lebih baik melihat mata dengan manik terselaputi itu daripada melihat kelopak mata yang tertutup rapat seperti ini.
"Apa kau sedang bermimpi seru hingga tidak mau bangun, eoh? Cepatlah bangun, hyung. Aku membutuhkanmu. Apa kau tega membiarkanku sendirian di sini? Kau bilang kau tidak akan meninggalkanku jadi kau harus segera bangun."
Kyuhyun menggigit bibir bawahnya yang sudah mulai bergetar menahan tangisan yang mungkin bisa pecah kapan saja.
"Hanya luka sekecil itu dan kau tertidur hingga selama ini? Itu tidak masuk akal hyung-ah. Aku percaya kalau hyung ku itu kuat. Kau sudah melewati banyak hal yang lebih sulit dari ini jadi cepat bangun."
Tangan Kyuhyun mulai menggenggam erat tangan Donghae selama beberapa saat. Menyalurkan rasa hangat yang mungkin di butuhkan oleh kakaknya itu.
"Adikmu sedang ketakutan sekarang. Kau harus bangun dan menenangkannya. Hae hyung… Jebal ireonayo. Apa kau tidak mau melihatku, eoh?"
Kyuhyun menghembuskan napas panjangnya. Menarik tangannya yang tadi menggenggam tangan Donghae. Di hapuskan buliran bening di pucuk matanya sebelum air mata itu mengalir indah di pipinya.
Namun gagal…
Tangisan Kyuhyun justru pecah. Ruangan tenang itu sudah terselimuti tangisan, menandingi suara alat medis yang masih bersahutan. Perasaan ini sama seperti yang Kyuhyun rasakan saat melihat kedua orang tuanya berada di rumah sakit untuk terakhir kalinya dulu. Kyuhyun kecil tidak bisa melakukan apapun dan hanya menangis di samping kedua orang tuanya.
Tapi sekarang, Kyuhyun tidak mau hal itu terjadi lagi. Donghae harus bangun. Kyuhyun tidak mau salah satu orang paling berharganya pergi lagi karena dirinya.
"Hae hyung…" lirih Kyuhyun dengan suara paraunya. Nama Donghae terus di serukan Kyuhyun berulang kali.
Melihat kondisi Donghae yang seperti ini jauh lebih menyakitkan di bandingkan dengan kondisi Donghae yang sebelumnya. Sekarang kakaknya benar-benar tidak berdaya bahkan suara yang biasa menyapa pendengaran Kyuhyun pun tak mampu terdengar lagi. Tangan hangat yang selalu mengelus rambutnya sebelum tidur itu sekarang menjadi lebih dingin dan terkulai lemas begitu saja.
Aku sebagai kakak akan selalu berusaha menjaga dan melindungimu, adikku.
Ucapanmu terus mengalun dalam benakku. Ya, kau benar-benar melindungiku. Kau melingkupi tubuhku dengan tubuhmu agar aku tak mendapat luka sedikitpun saat itu. Mengorbankan dirimu sehingga kau yang terluka. Tapi… Tidak seperti ini yang ku inginkan, hyung. Aku tidak ingin kau berakhir di tempat seperti ini.
.
.
.
'Donghae-ssi terkena trauma kepala yang cukup berat. Sepertinya dia mengalami benturan di kepala dengan keras. Saat operasi pun kami menemukan beberapa pecahan kaca dan semua sudah di keluarkan. Sekarang kondisinya baik-baik saja. Namun sepertinya karena trauma kepala itu yang menyebabkan dirinya berada dalam kondisi kesadaran 3 atau keadaan koma. Kami akan terus mengontrolnya. Tapi kami tidak bisa memprediksi kapan Donghae-ssi akan tersadar dari komanya.'
Ucapan uisa-nim itu terus berputar dalam benak Kyuhyun. Tak pernah Kyuhyun bayangkan jika Donghae akan berada dalam kondisi seperti ini. Padahal rasanya baru kemarin mereka bermain dan bersenang-senang tapi sekarang…
Tidak ada yang bisa membaca masa depan. Semua bisa terjadi sesuai dengan yang di kehendaki oleh Tuhan.
Tapi…
Kenapa? Kenapa harus terjadi hal seperti ini? Kenapa harus ada kecelakaan itu? Kenapa Kyuhyun harus kambuh dan berada dalam puncak sakit tertingginya saat itu? Kenapa harus Donghae yang terluka cukup parah? Kenapa masalah selalu datang setiap saat?! Dan kenapa harus mereka?!
Pertanyaan dengan kata tanya 'kenapa' pun terus mengalun dalam benak Kyuhyun. Semua pertanyaan yang terus Kyuhyun tanyakan kepada entah siapapun yang mampu menjawab. Namun nyatanya tak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu. Setiap orang yang tengah menghadapi sebuah masalah besar, pastilah pernah memikirkan kata kenapa semua itu harus terjadi padanya. Pertanyaan yang biasa dan mungkin dapat di maklumi oleh sebagian orang.
Hati yang berontak seakan tidak terima jika masalah terus datang dan menghimpitnya. Masalah yang terkadang tak memberi waktu untuk bernapas sejenak karena otak terus di paksa berpikir dan mental yang di tuntut untuk menjadi lebih kuat.
Ya, sebagian orang pasti pernah mengalami hal tersebut. Tapi sekali lagi, tak ada yang bisa di salahkan dalam masalah. Tidak mungkin menyalahkan Tuhan yang memperbolehkan masalah itu untuk datang menghampiri kita. Hanya bisa berpikir bahwa masalah akan menempa kita menjadi pribadi yang lebih baik dan kuat. Bukankah tidak ada masalah yang tidak bisa di hadapi walau dengan keringat dan air mata?
Kyuhyun menghembuskan napas beratnya. Kepalanya di sandarkan pada kepala ranjang yang bersisian dengan dinding. Matanya terpejam berusaha menenangkan hatinya yang kembali berontak. Peringatan untuk tidak banyak berpikir keras seolah di lupakan Kyuhyun. Otak dan hatinya tak pernah bisa di paksa untuk diam dan tenang. Dia sendiri tidak mengerti kenapa.
Tangan Kyuhyun terangkat dan menyentuh dahinya, mengusap mukanya. Menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Tangannya beralih menyentuh dadanya sendiri. Senyuman sangat tipis bahkan seperti tak terlihat senyuman itu hadir di wajah Kyuhyun.
Setidaknya satu hal yang di syukuri Kyuhyun saat ini. Rasa sesak di dadanya sudah tidak di rasakan lagi. Sejak dokter melakukan operasi itu, Kyuhyun merasa jauh lebih segar. Seharusnya hal ini yang di lakukannya sejak awal. Kesehatan memang lebih penting daripada apapun.
Pandangan Kyuhyun beralih pada dua keranjang buah yang ada di meja nakas sebelah kanan ranjangnya. Keranjang yang di bawa oleh Shin ahjussi dan Ryeowook beberapa hari lalu. Dia sangat senang karena masih memilikki orang-orang yang peduli dan begitu baik pada dirinya.
"Hae hyung…" lirih Kyuhyun masih memandangi keranjang buah itu, "Cepat bangun. Jangan buat orang-orang di sekitarmu sedih."
Ingatan Kyuhyun kembali pada sosok Donghae yang berbeda ruangan dengannya. Jika dia bisa, Kyuhyun ingin menemani Donghae selama 24 jam. Tapi dokter dan perawat tak mengizinkan hal itu. Hal itu tidak baik untuk pasien dalam ruang ICU begitu pula dengan Kyuhyun yang masih memerlukan banyak istirahat. Kyuhyun hanya di izinkan untuk menemui Donghae saat siang dan malam hari selama tidak lebih dari 20 menit.
Kyuhyun menggembungkan pipinya. Pandangannya mengedar ke seluruh ruangan rawat ini.
Sepi…
Kamar rawatnya begitu sepi. Tadi siang ada Changmin yang datang kemari untuk menemaninya tapi sekarang Kyuhyun hanya sendirian. Ingin rasanya ia segera keluar dari rumah sakit dan kembali bekerja. Mencari lembar demi lembar won untuk mengganti biaya dirinya dan Donghae selama di rumah sakit kepada teman-temannya itu.
Cklek
Suara pintu yang terbuka membuat perhatian Kyuhyun teralih. Pandangannya beralih menuju pintu tersebut. Senyuman tipis kembali hadir di wajahnya kala melihat dua orang yang sering mengunjungi dirinya di tempat menyebalkan baginya ini.
"Kyu," sapa Sungmin sambil tersenyum lebar.
"Kau terlihat lebih sehat hari ini," timpal Yesung.
Kedua orang itu melangkahkan kakinya segera mendekati ranjang Kyuhyun. Sungmin meletakan sekotak kue di atas meja nakas sebelum duduk di sisi ranjang Kyuhyun yang kosong. Sedangkan Yesung melepaskan ranselnya dan mendudukan diri di kursi sebelah kiri ranjang.
"Ku kira kalian tidak akan datang hari ini," seru Kyuhyun.
Sungmin tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, "Kami sudah bilang akan datang jadi kami pasti akan datang."
"Mianhae, hyung. Aku selalu merepotkan kalian,"gumam Kyuhyun sambil tersenyum miris.
"Aniya," balas Yesung sambil menepuk punggung tangan Kyuhyun, "Kami tidak merasa di repotkan jadi berhenti berpikir seperti itu. Aku bosan mendengar ucapanmu itu, Kyu."
Kekehan pelan meluncur dari bibir Kyuhyun. Ia memandang Yesung dan Sungmin dengan tatapan senang. Pandangannya beralih menuju kue yang di bawa Sungmin tadi.
"Kau bawa apa, hyung?" tanya Kyuhyun sambil menunjuk bawaan Sungmin.
Tangan Sungmin terjulur mengambil bawaannya. Ia membuka kotak lalu menyodorkan satu buah cake tiramisu kepada Kyuhyun yang masih memandangi heran.
"Ku rasa pasien satu ini sudah di perbolehkan untuk memakan cake ini," ucap Sungmin, "Pasti bosan memakan makanan rumah sakit 'kan?"
Senyuman di wajah Kyuhyun melebar. Kepalanya mengangguk dengan semangat dan segera menerima cake yang masih di balut dengan plastik tipis. Kyuhyun memang sudah sangat bosan dengan masakan rumah sakit. Belum lagi setelah operasi itu, dia justru hanya mendapat asupan gizi dari infus.
Yesung dan Sungmin tersenyum senang melihat semangat Kyuhyun saat memakan cake itu.
"Beberapa hari lagi kau di perbolehkan keluar dari rumah sakit 'kan?" tanya Yesung. Kyuhyun hanya menganggukkan kepalanya.
"Setelah keluar dari rumah sakit, kau harus perhatikan kesehatanmu. Jangan terlalu lelah lagi, Kyunie," pesan Sungmin. Lagi dan lagi, Kyuhyun hanya menganggukkan kepalanya. Tidak ingin berucap atau berjanji dengan pernyataan itu.
"Bagaimana keadaan Donghae?"
Pertanyaan Yesung sukses membuat Kyuhyun menghentikan acara makannya. Raut wajahnya pun seketika berubah menjadi lebih murung. Kue yang masih setengah dalam genggaman tangannya sudah menjadi terlihat tak menarik lagi. Kyuhyun memangku tangannya di atas pahanya. Kepalanya merunduk dan sorot matanya menunjukkan kesedihan.
Melihat itu tentulah membuat Yesung menjadi tertegun dan merasa bersalah dengan pertanyaannya. Sungmin yang sepertinya mengerti perasaan Kyuhyun, mengulurkan tangannya dan mengelus punggung Kyuhyun perlahan.
"Tidak ada perkembangan. Dia masih tertidur seperti hari sebelumnya," lirih Kyuhyun.
Mata Kyuhyun seketika memanas saat mengingat Donghae yang biasanya tersenyum lebar saat bertemu dengannya. Kyuhyun mengerjapkan matanya berulang kali.
"Aku… Aku merindukan Hae hyung. Kenapa dia tidur lama sekali? Dia menyebalkan," seru Kyuhyun dengan suara serak.
"Dia pasti akan segera sadar, Kyu," ucap Yesung berusaha menenangkan.
Kyuhyun menggelengkan kepalanya secara reflek lalu menghela napas panjang, "Sudah tiga minggu, hyung. Aku takut dia…"
"Kalau Hae hyung tidak mau bangun lagi, bagaimana?" Kyuhyun melanjutkan ucapannya yang tercekat di tenggorokannya dengan suara sangat lirih.
"Jangan berkata begitu. Dia pasti bangun. Kau harus percaya padanya," Sungmin menatap Kyuhyun intens berharap agar anak yang lebih muda darinya itu tetap percaya dan berharap.
Tak ada balasan dari Kyuhyun yang setia menundukkan kepalanya. Sungmin dan Yesung saling bertukar pandang dan memikirkan cara untuk membuat Kyuhyun menjadi ceria lagi.
"Hae hyung…" Kyuhyun kembali mengeluarkan suaranya setelah terdiam beberapa saat.
"Dia harus bangun. Dia sudah berjanji untuk tidak meninggalkanku," gumam Kyuhyun pelan. Kedua sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman tipis.
"Ne. Dia pasti akan bangun sebelum kau keluar dari rumah sakit," seru Yesung yang di setujui dengan anggukkan pasti dari Sungmin.
"Aku akan memberinya pelajaran setelah dia bangun nanti. Dia akan menyesal karena tertidur lama."
Senyuman tipis di wajah Kyuhyun berubah menjadi seringaian. Yesung dan Sungmin yang melihat itu menaikkan sebelah alisnya sebelum menggelengkan kepalanya.
"Jika aku jadi Donghae, aku tidak akan bangun setelah mendengar ucapanmu barusan," seru Yesung.
Kyuhyun membulatkan matanya. Bibirnya mengerucut lucu, "Andwae! Hae hyung harus bangun!"
Mendengar bantahan itu, Yesung dan Sungmin sontak tergelak apalagi setelah melihat ekspresi Kyuhyun yang lucu. Kyuhyun menggembungkan pipinya mendengar tawa dari kedua temannya itu. Tak ingin mempedulikan itu, Kyuhyun melanjutkan memakan kuenya dengan sedikit kesal.
Suara pintu kamar yang terbuka secara tiba menarik perhatian ketiga orang yang berada di dalamnya. Kyuhyun mengerutkan dahinya. Seingatnya ini bukan jadwal uisa-nim untuk memeriksa keadaannya.
Seorang namja paruh baya tampak di balik pintu. Senyuman tipis terpantri di wajah namja itu kala melihat sosok Kyuhyun yang tengah menatapnya dengan ekspresi terkejut. Mata Kyuhyun membulat tidak percaya dengan sosok yang di lihatnya.
"Ah, anda sudah tiba di sini."
Perhatian itu terpecah kala Yesung mengeluarkan suaranya. Yesung melangkahkan kakinya menghampiri namja yang baru saja masuk. Dia membungkukkan badannya memberi salam sebelum mengambil alih keranjang buah yang di bawa namja itu.
Kyuhyun mengerjapkan matanya, berusaha meyakinkan dirinya bahwa orang yang muncul di dalam kamar rawatnya itu adalah pamannya sendiri. Dia mengernyit bingung saat Yesung terlihat mengenalnya.
"Kyuhyun-ah,"sapa namja yang berstatus paman dari Kyuhyun itu.
"Ahjussi," Kyuhyun menyahut dengan kedua alis yang saling bertaut, bingung. Bagaimana bisa pamannya tahu dirinya berada di rumah sakit?
Ahjussi melangkahkan kakinya mendekati Kyuhyun dengan Yesung yang mengekor di belakangnya. Sungmin pun bangkit dari duduknya dan sedikit menyingkir, memberikan ruang bagi ahjussi untuk mendekati Kyuhyun.
Dengan sekali tarikan, ahjussi membawa Kyuhyun dalam pelukannya. Dia merengkuh tubuh yang masih cukup lemas itu dengan erat seolah enggan untuk melepaskannya lagi. Kyuhyun sendiri tidak protes, hanya terdiam dengan beberapa pemikiran menghampiri benaknya.
"Ahjussi," lirih Kyuhyun.
Setelah beberapa saat memeluk anak dari noonanya itu, ahjussi melepaskan pelukannya dari tubuh Kyuhyun. Di tatapnya wajah Kyuhyun dengan tatapan sedih namun bercampur lega.
"Kyu kemana saja, eoh? Ahjussi mencarimu kemana-mana. Mengganti nomor ponsel tanpa memberitahuku. Beberapa kali aku ke sekolah juga tak bisa bertemu denganmu," cerocos ahjussi itu membuat Kyuhyun meringis.
"Mianhae."
Hanya satu kata itu yang mampu meluncur dari bibir Kyuhyun yang masih salah tingkah sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bukannya ingin melupakan kontak dengan pamannya itu namun Kyuhyun enggan mengganggu lagi, untuk itu dia tidak pernah menghubungi ahjussinya.
"Lalu, bagaimana ahjussi bisa tahu aku ada di sini?" tanya Kyuhyun heran.
Ahjussi tersenyum tipis, "Kemarin aku ke sekolahmu lagi dan salah satu gurumu memberikan alamat kau tinggal sekarang."
"Dan aku bertemu dengan ahjussi mu saat mengambil beberapa pakaianmu kemarin, Kyu. Aku baru ingin memberitahumu tadi tapi ahjussi mu sudah datang," Yesung mengungkapkan pertemuannya dengan paman itu.
Kyuhyun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Tatapannya beralih kembali pada ahjussi yang setia memperhatikannya dari atas hingga bawah. Lagi-lagi, Kyuhyun hanya bisa menyengir canggung.
"Kau baik-baik saja? Kau membuatku khawatir, Kyu," seru ahjussi sambil mengelus rambut ikal Kyuhyun pelan.
"Gwenchanayo. Aku baik-baik saja. Maaf aku membuat ahjussi khawatir," balas Kyuhyun dengan senyum menenangkan.
Kyuhyun memperhatikan ekspresi yang di tunjukkan oleh pamannya itu. Dahinya berkerut saat mendapatkan raut sedih dan lelah dalam wajah namja paruh baya itu.
"Ahjussi sendiri? Apa terjadi sesuatu? Kau baik-baik saja 'kan?" tanya Kyuhyun balik.
Mendengar pertanyaan itu, ahjussi hanya mengulas senyuman tipis namun tersirat kesedihan di sana membuat Kyuhyun semakin penasaran.
"Aku…" ahjussi menggantung ucapannya. Dia mendudukan dirinya di kursi sebelah ranjang Kyuhyun. Di genggamnya tangan keponakannya itu.
"Hmm, mianhae."
Seruan dari Sungmin membuat perhatian Kyuhyun dan ahjussi teralih pada Sungmin yang berdiri berdampingan dengan Yesung.
"Aku dan Yesung hyung akan menjenguk Donghae dulu," Sungmin melanjutkan ucapannya.
"Kalian akan kemari dulu sebelum pulang 'kan, hyung?" tanya Kyuhyun.
Yesung menganggukkan kepalanya lalu terkekeh pelan, "Tentu saja. Kami harus melaporkan kondisi Donghae padamu 'kan?"
Kyuhyun menyengir lebar, "Kau sudah mengerti, hyung."
Yesung dan Sungmin segera undur diri dari kamar rawat Kyuhyun. Menyisakan ahjussi yang setia menemani Kyuhyun dalam kamarnya. Keheningan terjadi sesaat. Ahjussi memperhatikan Kyuhyun dengan seksama sedangkan Kyuhyun hanya diam, menunggu pamannya membuka suara.
"Kyuhyun-ah."
"Ne?"
Hembusan napas panjang meluncur dari bibir ahjussi membuat Kyuhyun menambah rasa penasaran dalam diri Kyuhyun.
"Ada apa, ahjussi? Kau terlihat sedih," Kyuhyun tak mengalihkan tatapannya dari wajah sang paman.
Tangan ahjussi meraih tangan Kyuhyun. Menepuk punggung tangan itu pelan sebelum menggenggamnya erat. Tatapan ahjussi itu pun fokus pada tangan Kyuhyun. Entah perasaan aneh apa yang tiba-tiba melingkupi hati Kyuhyun. Ia menelan ludahnya dengan sulit saat ahjussi mulai membuka mulutnya hendak bersuara.
"Ada sesuatu yang harus ku sampaikan padamu, Kyuhyun-ah."
.
.
.
Derap langkah terburu terdengar di sepanjang lorong rumah sakit. Membuat beberapa pasien yang tengah santai di sekitar lorong itu menolehkan kepala ke asal suara. Seorang namja dengan wajah imut berjalan cepat sedikit berlari kecil di sepanjang lorong.
Hanya senyuman salah tingkah yang terlukis di wajahnya kala mendapat perhatian dari beberapa orang di lorong itu. Namun sepertinya ia enggan memperlambat langkahnya. Sepasang kaki yang di balut sepatu kets itu justru semakin berlari saat melewati sudut lorong yang lebih sepi. Sesekali tangannya membenarkan posisi tali tas punggung yang terselampir di kedua bahunya.
Pintu kamar rawat yang berwarna putih itu di buka dengan tidak sabaran oleh namja imut itu. Kedatangannya ternyata sudah di nanti oleh seseorang yang sudah rapi, dengan skinny jeans hitam dan kaus biru bercorak putih yang tengah duduk santai di ranjangnya.
"Kau datang lebih cepat dari dugaanku, Sungmin hyung," Kyuhyun menunjukkan ekspresi terkejut yang di buat-buat dengan senyuman lebar dan mata berbinar senang.
Sungmin menghembuskan napas lelah setelah berlari dari kampus menuju rumah sakit ini. Kepalanya menggeleng beberapa kali kala melihat Kyuhyun telah mengganti pakaian pasiennya dan terlihat lebih segar dengan pakaian biasa.
"Kau mau apa, hm?" Sungmin bertanya lirih sembari melangkahkan kakinya mendekati Kyuhyun.
Kyuhyun memiringkan kepalanya menunjukkan ekspresi polosnya, "Bukannya tadi aku sudah bilang di telepon kalau aku ingin hyung menemaniku membeli sesuatu?"
"Kau ingin keluar rumah sakit? Kau masih harus di sini hingga minggu depan, Kyu. Kau masih dalam tahap pengontrolan," seru Sungmin dengan penekanan.
"Arasseo," Kyuhyun mengangguk-angukkan kepalanya, "Aku hanya ingin keluar. Siapa yang bilang aku akan keluar dari rumah sakit sekarang."
Sungmin menaikkan sebelah alisnya mendengar penuturan Kyuhyun. Dahinya mengerut menandakan kebingungan tengah melandanya, "Lalu?"
"Aku hanya keluar sebentar untuk membeli sesuatu setelahnya aku akan pulang ke rumah sakit," Kyuhyun tersenyum senang.
"Ini bukan rumahmu, Kyu. Bagaimana bisa keluar masuk seenaknya begitu?" Sungmin memandang rekan kerjanya dengan heran.
"Tapi mereka mengizinkanku keluar."
"Mwo? Bagaimana caranya?"
"Ne. Mereka mengizinkanku keluar sebentar dan segera kembali kemari setelah selesai."
Sungmin terbengong dengan pernyataan Kyuhyun. Ini pertama kalinya ia mendengar bahwa pihak rumah sakit membiarkan pasien yang masih dalam tahap pengontrolan dan wajib berada di rumah sakit itu bebas berkeliaran begitu saja. Apa yang sudah di pikirkan oleh pihak dokter dan rumah sakit ini?
"Kau berbohong?" Sungmin menyipitkan matanya ke arah Kyuhyun dan menatap anak itu penuh selidik.
Senyum di wajah Kyuhyun memudar. Ia mendecakan lidahnya, mendengus sebal karena Sungmin tak mempercayai ucapannya.
"Aku tidak berbohong. Kau tidak percaya, hyung?"
Kyuhyun menghela napas kala Sungmin menggelengkan kepalanya dan tetap menatapnya penuh selidik. Tanpa berkata lagi, Kyuhyun merogohkan tangannya ke dalam saku celananya. Di keluarkannya sebuah kertas dan menyodorkan sebuah lipatan kertas ke arah Sungmin.
Dengan sedikit ragu Sungmin menerima kertas itu dan segera membukanya. Kembali ia di landa kebingungan saat membaca tulisan yang tercetak dalam kertas itu.
"Surat keterangan izin keluar dari uisa-nim?" Sungmin membaca rangkaian kata yang di tulis dengan ukuran cukup besar.
Kyuhyun hanya menyengir lebar sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sungmin mengerjapkan matanya bingung, "Uisa-nim benar-benar mengizinkanmu? Bagaimana bisa?"
Kyuhyun beranjak berdiri dan menepuk kedua pundak Sungmin, "Aku hanya meminta pada uisa untuk mengizinkanku keluar sebentar dan dia langsung mengizinkanku."
"Pasti ada yang kau lakukan selain itu."
Kyuhyun hanya menyengir lebar. Tangannya menyambar sebuah tas kecil yang tergeletak di meja nakas sebelah ranjang. Melampirkan tali tas itu di pundak kanannya.
"Jadi kau akan menemaniku 'kan, hyung?"
Sungmin tak segera membalas ucapan Kyuhyun. Di perhatikannya Kyuhyun dari atas hingga bawah lalu menatap wajah Kyuhyun dengan seksama. Meneliti ekspresi yang di tunjukkan Kyuhyun. Memang wajah itu terlihat lebih cerah dari hari kemarin namun masih terlihat samar raut pucat di dalamnya.
"Sungmin hyung," Kyuhyun mulai merengek sambil menarik-narik tangan Sungmin layaknya seorang anak kecil yang meminta sesuatu pada kakaknya.
Helaan napas yang keluar dari bibir Sungmin menandakan bahwa pemuda itu sudah menyerah. Dia menganggukkan kepalanya sekali membuat Kyuhyun bersorak senang. Tangan Kyuhyun langsung saja menarik tangan Sungmin dan menggiringnya keluar kamar rawat itu.
"Setelah selesai kita segera kembali ke sini," seru Sungmin.
Kyuhyun menganggukkan kepalanya mantap, "Tentu saja. Masih ada Hae hyung yang perlu ku jaga di sini. Aku hanya izin untuk keluar sebentar."
Kepala Sungmin menoleh ke samping dan tersenyum tipis, menatap Kyuhyun yang memandang lurus ke arah depan.
"Donghae? Bagaimana keadaannya hari ini?" tanya Sungmin hati-hati.
Kyuhyun tersenyum getir lalu menggelengkan kepalanya. Tanpa meminta penjelasan lebih lanjut, Sungmin mengerti maksud Kyuhyun. Pandangannya beralih menuju depan, memperhatikan hall rumah sakit yang cukup di penuhi oleh orang-orang.
"Aku harap dia akan segera bangun setelah aku membelikan sesuatu untuknya," seru Kyuhyun lalu menghembuskan napas panjang.
"Kajja, hyung."
Sungmin sedikit tersentak saat Kyuhyun kembali menarik tangannya saat berada di pelataran luar rumah sakit swasta itu. Kyuhyun menggiring Sungmin sedikit berlari meninggalkan kawasan rumah sakit. Beberapa kali Sungmin mengingatkan agar Kyuhyun tidak berlarian namun sepertinya Kyuhyun tidak mau menurutinya. Dia tetap berjalan dengan tergesa sehingga Sungmin hanya bisa menggelengkan kepalanya.
.
.
"Ming hyung, bagaimana menurutmu?"
Sungmin memperhatikan benda yang di sodorkan Kyuhyun tepat di hadapannya. Kyuhyun menatap Sungmin dengan tatapan bertanya sekaligus penasaran. Tangan Sungmin terangkat dan mengelus dagunya sendiri. Memperhatikan penampilan dari gitar akustik berwarna hitam bercorak biru yang di tunjukkan oleh Kyuhyun.
Beberapa saat lalu, Sungmin sempat mengernyit bingung kala Kyuhyun menarik ke dalam sebuah toko musik tak jauh dari rumah sakit ini. Beberapa menit melihat-lihat alat musik di pajang di dalam toko, Kyuhyun menghampiri Sungmin dan memperlihatkan gitar itu ke Sungmin. Hanya melihat ekspresi Kyuhyun saja, Sungmin bisa menduga bahwa Kyuhyun ingin membelikan gitar itu untuk Donghae.
"Untuk Donghae?" tanya Sungmin basa basi sambil tersenyum penuh arti.
Kyuhyun mengangguk dengan semangat lalu terkekeh pelan, "Aku melihat gitar ini sebulan lalu. Ku rasa Hae hyung akan menyukainya. Tapi aku tidak tahu menahu tentang gitar jadi aku ingin kau menilainya."
Sungmin mengambil alih gitar yang ada di tangan Kyuhyun. Di lihatnya bodi gitar akustik itu bagian depan dan belakangnya. Tangannya juga mengelus seluruh permukaannya. Gitar ini cukup berat dan itu menandakan kayu yang di gunakan adalah kayu yang cukup baik karena kayu yang berkualitas baik biasanya lebih berat di bandingkan dengan yang kayu biasa.
"Ya hyung, kenapa di goncang gitu?!" protes Kyuhyun panik kala Sungmin mengguncangkan gitar itu beberapa kali.
Kekehan pelan meluncur dari bibir Sungmin. Melihat ekspresi panik di wajah Kyuhyun menjadi pemandangan lucu tersendiri baginya.
"Tenanglah," seru Sungmin.
Kyuhyun menggembungkan pipinya, "Ish, gimana bisa tenang. Kalau gitar itu rusak karena kau mengguncangkannya, bagaimana? Kau tahu gitar itu harganya mahal, hyung."
Kyuhyun meringis saat melihat bandul harga yang masih melingkar di leher gitar. Sungmin tersenyum tipis. Ia beralih mendudukan dirinya di salah satu bangku panjang yang di sediakan.
"Tadi aku sedang mengecek apakah ada bagian yang kendor atau lepas. Tak ada suara aneh yang terdengar berarti aman. Tidak ada bagian yang kendor atau lepas dalam gitar ini."
Sungmin memberikan sedikit penjelasan pada Kyuhyun sembari menekan fret—bilah-bilah logam tipis di permukaan leher gitar— dan memainkan beberapa not. Mengecek volume dan nada-nada yang di keluarkan oleh gitar. Mengelus dan memetik senarnya satu persatu, memainkan beberapa not.
Kyuhyun hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia mendudukan diri di sebelah Sungmin memperhatikan Sungmin yang tengah memainkan dan mengecek beberapa bagian yang tidak Kyuhyun mengerti.
"Bagaimana menurutmu, hyung?" tanya Kyuhyun lagi setelah memberikan waktu sesaat untuk Sungmin mengecek gitarnya.
"Bagus," Sungmin mengalihkan tatapannya dari gitar di pangkuannya kepada Kyuhyun yang setia memperhatikannya, "Gitar ini bagus. Suaranya tidak ada yang sumbang dan semua notnya masih balance."
Senyuman senang terpantri di wajah Kyuhyun. Ternyata pilihannya tidak buruk juga walaupun ia hanya memilih berdasarkan penampilan fisiknya yang cukup menarik.
"Apa itu cocok untuk Hae hyung?" tanya Kyuhyun penasaran.
Sungmin terlihat berpikir sejenak sebelum mengangguk, "Leher gitar ini tidak terlalu tebal dan senarnya pun ringan saat di tekan. Ini akan memudahkan Donghae untuk memainkannya. Dia pasti suka."
"Apalagi jika kau yang membelikannya. Aku bisa jamin 100% bahwa dia pasti akan sangat menyukainya," tambah Sungmin lagi.
Kyuhyun terkekeh pelan sedikit tersipu malu. Ia menganggukkan kepalanya, "Ne. Aku juga sangat berharap Hae hyung akan menyukainya."
Sungmin hanya tersenyum. Senang juga melihat senyuman senang di wajah Kyuhyun. Sudah tiga minggu Kyuhyun jarang tersenyum riang begitu. Sepertinya Kyuhyun memang excited untuk membelikan gitar ini untuk Donghae.
Tangan Kyuhyun mulai merogoh saku jaket yang di kenakannya sebelum keluar dari rumah sakit. Mengambil sebuah amplop berwarna coklat dan menyodorkan amplop itu pada Sungmin. Sungmin tak segera mengambil amplop itu. Dia memilih menatap Kyuhyun dengan tatapan bertanya.
"Aku ingin mengembalikan uangmu yang ku pinjam untuk biaya rumah sakitku dan Hae hyung. Gomawo, Sungmin hyung," jelas Kyuhyun sambil meraih tangan Sungmin dan meletakan amplop itu di tangan hyungnya itu. Kyuhyun tersenyum tulus.
"Kyu, sudah ku bilang kau tidak perlu memikirkan ini. Kau bisa memakainya dulu," Sungmin seolah tidak enak dengan uang yang Kyuhyun berikan walaupun status uang itu adalah uangnya yang di gunakan pengobatan Kyuhyun beberapa waktu lalu.
"Aniya," Kyuhyun menggelengkan kepalanya, "Itu uangmu, hyung. Aku hanya ingin mengembalikannya."
"Kau bisa menggunakan ini untuk biaya lainnya yang lebih penting," ucap Sungmin.
"Aku sudah menuntaskan semua biaya pengobatanku dan Hae hyung. Semua sudah terlunasi jadi aku juga ingin mengembalikan uangmu, Ryeowookie, Yesung hyung dan Shin ahjussi."
"Kemarin ahjussi memberikan beberapa uang untukku," tambah Kyuhyun menjelaskan kala melihat raut bingung di wajah Sungmin.
Sungmin menganggguk mengerti, "Benar kau tidak membutuhkan lagi?"
"Tidak, hyung. Gomawo," Kyuhyun masih setia mengumbar senyuman tulusnya.
Mau tidak mau, Sungmin balas tersenyum dan menerima uang itu.
"Jika ada sesuatu, kau tidak perlu sungkan padaku, Kyu. Kau sudah ku anggap adikku sendiri juga," seru Sungmin.
Kyuhyun tertawa kecil lalu mengangguk pasti, "Tentu saja, Sungmin hyung."
Gitar akustik dalam pangkuan Sungmin beralih kembali pada Kyuhyun yang iseng menekan dan memetik senarnya. Kyuhyun sedikit mengerti dengan gitar namun tidak seahli seperti Sungmin dan sehobi seperti Donghae. Hanya sekedar tahu.
"Ku harap Hae hyung akan segera sadar," lirih Kyuhyun sambil memperhatikan gitar di tangannya.
"Aku tidak akan berhenti menyalahkan diriku sendiri sebelum Hae hyung sadar. Aku—"
"Itu bukan salahmu, Kyu. Itu adalah kecelakaan," Sungmin memotong dan segera meralat ucapan Kyuhyun.
Kyuhyun hanya tersenyum getir lalu menggeleng sekali, "Itu tetap salahku."
"Kyu…"
"Jika Hae hyung sadar maka aku tidak akan menyalahkan diriku sendiri lagi tapi jika tidak segera bangun, aku tidak bisa jika tidak menyalahkan diriku, hyung. Hae hyung seperti itu karena dia melindungiku. Dia bisa melindungi dirinya sendiri jika aku tidak pingsan saat itu."
"Tidak ada yang tahu apa rencana Tuhan, Kyu. Ini semua sudah menjadi rencanaNya dan percayalah bahwa ini akan menjadi indah nantinya. Donghae akan segera bangun."
Sungmin memandang sendu Kyuhyun yang mulai menundukkan kepalanya. Tangannya hanya memeluk gitar yang ada di pangkuannya. Hanya terdiam dengan wajah murung membuat Sungmin menghela napasnya.
"Bukannya kau selalu bilang bahwa Donghae akan segera bangun?" Sungmin menyerukan apa yang selalu Kyuhun katakana sebelumnya.
Kyuhyun mengangggukkan kepalanya, "Aku hanya takut, hyung. Hae hyung sudah terlalu lama tidur. Setiap hari aku menanyakan kondisinya pada uisa tapi tidak ada perkembangan sedikitpun."
"Aku tahu banyak orang yang koma dalam waktu lebih lama dari Hae hyung. Tapi aku tidak mau. Aku tidak mau Hae hyung tidur lebih lama lagi."
Suara Kyuhyun mulai terdengar bergetar. Kedua tangannya saling meremas untuk menyalurkan rasa gemas dan sesak yang menyelimuti dadanya saat mengingat kondisi Donghae. Matanya yang sudah terasa panas pun hanya bisa mengerjap beberapa kali untuk menghilangkan embun yang sudah mengaburkan pandangannya.
"Aku merindukan Hae hyung. Dia tidak boleh tidur selama ini. Dia harus segera bangun. Aku ingin melihatnya."
Sungmin menghembuskan napas panjang. Dia mendekatkan duduknya ke arah Kyuhyun. Tangannya terangkat dan merangkul bahu Kyuhyun dari samping. Di elusnya beberapa kali rambut Kyuhyun untuk menenangkan.
"Gwenchana. Aku mengerti, Kyu."
Mendapatkan bisikan itu di tambah tangan Sungmin yang mengelus rambut Kyuhyun, namja itu mulai memejamkan matanya. Membiarkan setetes air mata mengalir dari kedua sudut matanya. Lagi-lagi pertahanannya runtuh. Entah mengapa dia menjadi begitu lemah seperti ini.
Beberapa saat Sungmin terdiam, membiarkan Kyuhyun menuntaskan acara pelepaskan emosinya. Tangannya tak berhenti mengelus rambut Kyuhyun hingga anak itu cukup tenang.
"Donghae akan segera sadar seperti yang kau katakan. Dia pasti akan bersorak senang saat memegang gitar yang kau belikan ini untuknya."
Kekehan pelan meluncur dari mulut Sungmin dan Kyuhyun saat mereka membayangkan ekspresi senang Donghae dalam benak masing-masing.
Kyuhyun menganggukan kepalanya lalu menoleh kearah Sungmin. Di tatapnya Sungmin dengan tatapan tulus.
"Gomawo, Sungmin hyung."
Sungmin hanya tersenyum sebelum mengangguk. Ia bangkit berdiri dari duduknya, "Kajja. Kau harus segera kembali ke rumah sakit. Aku tidak mau kau terlalu lelah."
Kyuhyun menggembungkan pipinya mendengar ucapan Sungmin, "Aku baik-baik saja."
Rumah sakit. Entah mengapa, Kyuhyun merasa rumah sakit adalah rumah barunya sejak hampir satu bulan ini. Setiap hari dia berada di tempat membosankan itu. Walaupun malas, Kyuhyun ikut beranjak dari bangkunya.
"Aku ingin pulang ke rumah sebentar. Tidak apa 'kan, hyung? Sudah lama aku tidak pulang," pinta Kyuhyun.
"Tenang saja. Tidak ada barangmu yang hilang. Rumahmu aman, Kyu. Sebaiknya kita segera ke rumah sakit saja, nde?"
"Andwae. Aku ingin pulang sebentar. Jebal, Ming hyung~"
Sungmin menganggkat kedua tangannya sebatas bahu seolah menandakan ia kalah dan akan mengikuti keinginan Kyuhyun. Permintaan anak itu seperti tidak bisa di ganggu gugat sehingga Sungmin memilih untuk mengalah walau ia setia memperhatikan Kyuhyun sejak mereka menginjak luar rumah sakit. Sungmin tidak ingin Kyuhyun terlalu lelah.
Kyuhyun hanya tertawa melihat tingkah Sungmin. Kakinya melangkah lebih cepat untuk menyusul Sungmin. Tangannya setia mengganggam leher gitar akustik yang sudah di pilihnya untuk Donghae nantinya.
.
.
Pandangan Kyuhyun langsung mengedar sesaat setelah dirinya memasuki rumah kecil yang tidak di tempatinya hampir sebulan ini. Rumah kecil yang menjadi saksi bisu akan perjuangannya untuk hidup mandiri setelah keluar dari rumah pamannya dan menjadi saksi akan kebersamaannya bersama Donghae.
Tak ada yang berubah dari rumah itu semenjak di tinggalnya beberapa minggu lalu. Semua masih sama, hanya terlihat tetap bersih walau kosong selama beberapa waktu. Sepertinya Yesung yang sering ke rumah ini untuk mengambil keperluan Kyuhyun dan Donghae sesekali akan membersihkan rumah ini juga.
Kyuhyun menarik napas dalam dan melangkahkan kakinya menuju tempat tidur cukup besar di tengah ruangan. Di dudukan dirinya di atas kasur nyaman itu. Ia juga meletakan gitar yang sudah tersembunyi dalam sarungnya itu di sisi kanannya.
"Rasanya sudah lama sekali aku tidak pulang," gumam Kyuhyun masih setia memandangi setiap sudut rumahnya. Senyuman tipis terpantri di wajahnya.
"3 minggu lewat 3 hari," koreksi Sungmin yang baru saja masuk dalam rumah itu. Sungmin segera menghampiri Kyuhyun dan duduk di sisi kirinya.
Kyuhyun menggelengkan kepalanya, "Ani. Tepatnya 3 minggu lewat 5 hari aku tidak pulang ke rumah."
Sungmin tersenyum geli dan menganggukkan kepalanya mengerti. Di rebahkan tubuhnya di kasur, melepaskan lelah yang menyerangnya sesaat.
Tak ada yang bersuara setelahnya, baik Kyuhyun maupun Sungmin. Keduanya memutuskan untuk terdiam dan menciptakan keheningan dalam ruangan itu. Sungmin memejamkan matanya seolah ingin tertidur sedangkan Kyuhyun hanya duduk sambil menerawang jauh.
"Kyu…"
Panggilan dari Sungmin membuat lamunan Kyuhyun buyar. Kyuhyun menolehkan kepalanya dan langsung mendapati Sungmin yang tengah menatapnya intens walau masih dalam posisi tiduran.
"Waeyo, hyung?" tanya Kyuhyun.
"Ada apa?"
Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya mendengar pertanyaan Sungmin. Mulutnya terkatup, tak menjawab pertanyaan yang tidak di mengertinya. Sungmin menghela napas lalu merubah posisinya menjadi terduduk di sebelah Kyuhyun.
"Aku merasa ada yang aneh darimu sejak tadi. Semua baik-baik saja 'kan?" Sungmin bertanya lebih detail.
Mendengar itu Kyuhyun tertawa kecil lalu menggelengkan kepalanya.
"Aku baik-baik saja. Kenapa sejak tadi kau berlagak seperti detektif begitu, hyung?"
Sungmin mendengus sebal, "Aku tidak bercanda, Kyu."
"Aku juga serius, Sungmin hyung."
Kyuhyun tersenyum geli kala melihat Sungmin yang tidak bisa berkutik lagi. Sungmin mendecakan lidahnya namun tak melanjutkan ucapannya. Sungmin beralih mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut rumah.
Kyuhyun bangkit berdiri. Kakinya melangkah menuju meja nakas di sisi kanan ranjang. Tangannya dengan lincah segera membuka laci kedua dari atas. Beberapa benda terlihat berada di dalam laci itu. Namun hanya satu benda yang di ambil Kyuhyun. Sebuah buku dengan cover berwarna biru dan bergambar butiran salju bersama sebuah pulpen yang biasa di gunakannya.
"Sungmin hyung," panggil Kyuhyun yang di balas dengan gumaman pelan oleh Sungmin.
"Hae hyung itu tidak suka sendirian. Dia selalu takut jika berada di suatu tempat sendirian. Dia pekerja keras. Dia akan lakukan apapun untuk membuktikan pada semuanya bahwa dia bisa melakukan banyak hal."
Kyuhyun bercerita sambil menggerakan kakinya ke sana kemari. Beralih dari laci menuju lemari yang ada di sudut rumah dekat tempat tidur. Entah apa yang di cari di dalam lemari satu pintu itu. Sungmin hanya diam, memperhatikan pergerakan Kyuhyun dan setia mendengarkan ceritanya tentang Donghae.
"Terkadang dia juga keras kepala tapi dia akan mengalah jika kita sudah memelas seperti anak kecil. Ah, dia juga sangat suka anak kecil," Kyuhyun terkekeh pelan.
"Sebenarnya Donghae hyung tidak pernah bisa diam dan suka jahil juga. Tapi karena kondisinya membuat pergerakannya terbatas. Dia terlihat sering diam dan melamun tapi banyak hal yang berputar dalam pikirannya."
"Kalau marah, Hae hyung lebih memilih untuk diam. Tapi jika kemarahannya memuncak, dia bisa melempar berbagai barang apapun yang ada di sekitarnya. Ish, dia mengerikan."
Sungmin tertawa kecil kala melihat Kyuhyun yang meringis sendiri saat bercerita. Kyuhyun menghela napas setelah menemukan benda yang di carinya dalam lemari. Setelah mendapat benda-benda yang di inginkannya, Kyuhyun kembali menuju tempat tidur.
Kyuhyun memasukkan buku, pulpen, syal dan sebuah kotak kecil ke dalam tas yang di bawanya. Dia juga membenarkan posisi gitar yang tergeletak di kasurnya. Di rebahkan gitar itu dengan leher gitar berada di atas bantal layaknya seorang yang tengah tertidur.
"Sungmin hyung…"
"Apa?"
Kyuhyun tersenyum tulus sambil memperhatikan Sungmin.
"Tolong jaga Donghae hyung."
Raut wajah Sungmin seketika berubah setelah mendengar ucapan Kyuhyun yang lirih namun penuh keseriusan itu.
"Apa maksudmu, Kyu?"
Kyuhyun tertawa entah karena apa. Dia merenggangkan tangannya yang terasa pegal. Tanpa menjawab pertanyaan Sungmin, Kyuhyun melangkahkan kakinya menuju pintu.
"Ayo kembali ke rumah sakit," seru Kyuhyun.
"Hei, Cho Kyuhyun! Jawab aku dulu," Sungmin segera bangkit berdiri. Dia memandang gitar yang baru saja di beli Kyuhyun. Anak itu tidak membawa gitarnya lagi dan meninggalkannya begitu saja. Sungmin menggelengkan kepalanya dan tanpa banyak pikir, ia langsung menyusul Kyuhyun yang sudah keluar dari kamar.
"Kyuhyun!"
"Kajja, hyung. Aku tidak mau di marahi uisa-nim karena telat kembali."
.
.
.
Awan mendung sudah menghiasi langit kota Seoul walaupun hari masih begitu pagi. Kabut tipis terlihat menyelimuti kota dan membuat suasana dingin yang menusuk tulang. Suasana yang membuat orang-orang malas untuk beraktivitas.
Pandangan Kyuhyun lurus menatap jendela kamar rawatnya. Kaca jendela yang berembun membuat pemandangan kota yang sering di lihatnya setiap hari menjadi lebih buram. Walaupun begitu, Kyuhyun setia memandangi jendela itu. Memperhatikan pantulan dirinya di sana.
Suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatian Kyuhyun. Kepalanya menoleh ke arah pintu. Seorang yeoja dengan pakaian perawat masuk ke dalam kamarnya dengan mendorong sebuah troli dengan beberapa makanan di atasnya.
Perawat itu tersenyum lembut lalu melangkahkan kakinya menghampiri Kyuhyun.
"Pagi, Kyuhyun-ah. Ternyata sudah bangun ya," sapa perawat itu.
Kyuhyun hanya tersenyum tipis, "Aku bukan pemalas yang akan bangun siang. Apalagi rumah sakit tidak nyaman untuk tidur."
"Ne. Bersabarlah. Jika kondisimu stabil, kau bisa keluar dari sini dalam minggu ini."
"Aku sudah sehat, kanhosa. Kalian saja yang berlebihan," Kyuhyun merubah rautnya menjadi cemberut membuat perawat itu terkekeh pelan.
"Kami hanya mengawasi kondisimu agar tidak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan."
"Ya, ya, ya terserah kalian saja. Lagian aku masih perlu di sini untuk menemani hyungku."
Kanhosa menatap Kyuhyun dengan tatapan iba kala melihat pancaran sedih dalam mata anak itu. Kyuhyun sedikit menundukkan kepalanya, memandangi kedua tangannya yang bertumpu di atas paha. Hari ini dia belum mengunjungi Donghae namun pikirannya tak pernah lepas dari orang yang di anggapnya kakak itu.
"Aku belum mengunjungi Hae hyung," lirih Kyuhyun mengungkapkan pemikirannya.
Perawat itu menepuk pundak Kyuhyun, "Kau bisa ke sana setelah sarapan."
Kyuhyun mendengus sebal saat perawat itu mengangsurkan sebuah nampan berisi makanan sehat khusus untuk pasien di rumah sakit ini. Makanan yang menjunjung tinggi label 4 sehat 5 sempurna. Kyuhyun bosan dan sangat tidak menyukai makanan itu.
"Apa aku boleh saran, kanhosa?" Kyuhyun menatap perawat itu dengan tatapan aneh.
Kanhosa bergumam pelan lalu menganggukkan kepalanya, "Saran apa?"
"Jika kalian ingin pasien segera sembuh, bisakah kalian memberikan kami makanan yang lebih enak? Walaupun ini sehat tapi makanan ini tidak enak dan sama sekali tidak menarik untuk di santap."
Kyuhyun mengangguk-anggukkan kepalanya. Salah satu tangannya terangkat dan telunjuknya bergerak-gerak layaknya seorang guru yang memberi penjelasan pada muridnya dengan serius.
"Kita harus membuat pasien itu senang dan nyaman selama di rumah sakit. Bukankah hati yang senang itu juga merupakan obat paling ampuh?"
Kyuhyun meringis kala memandangi makanan yang sudah ada di pangkuannya, "Dan makanan di sini adalah makanan yang paling tidak ku sukai. Tidak menarik."
Mendengar saran berisi protesan itu justru membuat perawat yang berdiri di samping Kyuhyun tergelak. Tertawa geli setelah mendengar penuturan dari anak yang bicara blak-blakan. Kyuhyun memutar bola matanya malas, memandangi perawat yang tertawa itu.
"Aku serius, kanhosa!"
Perawat itu menganggukkan kepalanya, "Ne, kau benar. Hati yang senang memang obat yang paling manjur."
"Tapi apa kau tidak berpikir? Jika rumah sakit menyediakan makanan seperti di restoran, bisa-bisa pasien di sini justru betah dan tidak ingin keluar dari sini. Apa kau mau jadi penghuni tetap rumah sakit?"
Ucapan perawat yang bercanda dan sedikit menggoda itu membuat Kyuhyun termenung sesaat sebelum meringis. Kyuhyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Bukan itu maksudku," gumam Kyuhyun.
Perawat itu tersenyum, "Di sini kami bertugas untuk menjaga dan mengatur pola makan dan gizi yang terkandung dalam setiap makanan pasien. Saat di luar rumah sakit, kemungkinan mereka makan makanan yang tidak seimbang gizinya."
Kyuhyun mengangguk-anggukkan kepalanya seolah menyetujui ucapan itu.
"Sudah. Sekarang cepat habiskan sarapanmu."
Dengan sedikit malas, Kyuhyun mulai mengambil sendoknya. Memulai aktivitas sarapan dengan sesuap nasi dengan lauk omelletes dan beberapa sayuran yang memenuhi piringnya. Sedikit memaksakan diri agar menelan sayuran yang bisa saja di muntahkannya begitu saja.
Selama Kyuhyun memakan sarapannya, kanhosa yang berdiri di samping ranjang Kyuhyun mulai sibuk dengan catatannya sendiri. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar lalu fokus memperhatikan wajah Kyuhyun dengan teliti.
"Kau terlihat lebih pucat daripada hari kemarin, Kyuhyun-ah."
Seruan dari kanhosa membuat Kyuhyun menghentikan acara makannya sesaat. Dia menoleh dan memberikan perawat itu senyuman yang menenangkan seolah mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Pasti karena kau nekat keluar dari rumah sakit kemarin," tambah kanhosa.
Kyuhyun menggelengkan kepalanya, "Aku hanya keluar sebentar dan kembali sebelum waktu izin uisa berakhir. Tidak ada hubungannya dengan kemarin," sanggahnya kemudian kembali menyuap sesendok nasi.
Perawat itu hanya menggelengkan kepalanya. Selama dirinya bekerja di rumah sakit ini, baru sekarang dia bertemu dengan pasien bertipe Kyuhyun. Anak yang dengan berani memohon bahkan mengancam uisa akan mogok makan dan minum obat jika tidak di perbolehkan keluar dari rumah sakit selama beberapa waktu.
"Uisa-nim akan datang untuk memeriksamu sekitar 2 jam lagi. Sebenarnya tadi ia ingin kemari secepatnya tapi karena ada operasi dadakan jadi sedikit terlambat," ungkap kanhosa lagi.
Kyuhyun hanya bergumam malas untuk menanggapi informasi itu. Dia sudah bosan dengan pemeriksaan rutin oleh dokter jika boleh jujur tapi apa daya, dia harus bertahan dan menurut. Setidaknya uisa menjanjikan jika kondisinya stabil, dia bisa keluar dari rumah sakit dalam minggu ini.
Walaupun terlihat tidak peduli, Kyuhyun terlihat menambah kecepatan makannya. Sedikit tergesa-gesa menghabiskan semua yang ada di piringnya. Sebelum dokter datang untuk memeriksanya, Kyuhyun harus ke kamar Donghae terlebih dahulu kemudian mengunjungi sebuah tempat sesuai perencanaannya sejak semalam.
"Aku sudah selesai," Kyuhyun meletakan nampan di atas meja nakas sebelah ranjangnya lalu mengambil selembar tisu, membersihkan bekas noda makanan di bibirnya.
"Cepat sekali," komentar kanhosa heran.
Kyuhyun hanya tersenyum kecil lalu segera beranjak dari ranjangnya, "Aku mau ke kamar Donghae hyung."
Kanhosa menahan Kyuhyun, "Ini masih pagi, Kyu. Sebaiknya kau istirahat dulu. Kau bisa ke sana setelah uisa memeriksamu."
Kyuhyun menggembungkan pipinya kesal, "Aku bosan berisitirahat terus. Aku mau ke kamar Hae hyung sekarang. Aku akan kembali sebelum pemeriksaan uisa."
"Tapi…"
"Yeopo kanhosa, jebalyo…"
Kyuhyun mengatupkan kedu tangannya di depan dada dan menatap kanhosa itu dengan tatapan memohon. Rengekan beserta rayuan seperti anak kecil pun terlontar dari mulutnya. Akhirnya sang perawat hanya bisa menghela napas pasrah. Dia menganggukkan kepalanya.
Mendapat persetujuan itu, Kyuhyun langsung bersorak girang. Tanpa membuang waktu, dia langsung melesat keluar dari kamar sedikit berlari kecil. Perawat yang masih berada di kamarnya pun hanya bisa menggelengkan kepalanya heran.
.
.
Satu…
Dua…
Tiga…
Kyuhyun yang tengah menghadap dinding dan membelakangi ranjang sang hyung yang masih setia terbaring di sana mulai menghitung di dalam hati. Berhitung dari satu hingga tiga. Tepat saat kata tiga terlontar dari bibirnya, Kyuhyun akan berbalik dan menatap Donghae penuh harap. Sebuah harapan saat dia menghitung angka tiga dan berbalik, dia akan menemukan hyungnya sudah membuka kedua kelopak mata yang sudah tertutup cukup lama.
Sudah lima kali ia melakukan kegiatan yang terlihat konyol itu dan sudah lima kali juga helaan napas sedih bercampur kecewa meluncur dari bibirnya. Donghae bergeming. Tetap setia menutup kedua matanya bahkan tak terlihat sedikit pun pergerakan di seluruh tubuhnya.
"Hae hyung," Kyuhyun menggembungkan pipinya, "Kau memang menyebalkan."
Dengan sedikit kesal Kyuhyun mendudukan dirinya di kursi sebelah ranjang Donghae. Tangannya terangkat, sedikit menyibakan lengan baju steril yang sedikit kebesaran di tubuhnya. Kyuhyun mulai meraih tangan Donghae. Menggenggamnya dengan erat, memberikan kehangatan untuk tangan yang terasa dingin itu.
"Hae hyung, cepat bangun. Aku sudah menyiapkan beberapa hadiah untukmu jika kau bangun. Aku yakin kau pasti akan senang dengan semua hadiahku."
Kekehan pelan meluncur dari bibir Kyuhyun. Sebisa mungkin Kyuhyun mengontrol dirinya untuk tidak menangis setiap melihat Donghae seperti ini. Tidak seperti beberapa minggu lalu, dia selalu menangis kala melihat hyungnya itu.
Kyuhyun menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Suara alat kardiograf yang setia menunjukkan kehidupan bagi orang yang terbaring itu terus menyahut setiap detik dalam ruangan itu.
"Aku merindukan suaramu, Hae hyung," lirih Kyuhyun.
"Ah, Song ahjumma dan Jino akan datang lagi lusa ini. Kau tidak mau melihat mereka sedih 'kan?"
Pandangan Kyuhyun terus fokus pada wajah Donghae yang terlihat begitu tenang. Tidak seperti orang yang mempunyai penyakit berat. Wajah polos Donghae terlihat seperti seseorang yang tidur dengan begitu lelapnya. Kyuhyun tak mampu menyembunyikan senyuman gelinya.
"Besok kau harus bangun, Hae hyung. Kau dengar itu? Kau harus bangun," ucap Kyuhyun penuh dengan penekanan di setiap katanya.
"Kau harus bangun…" Tatapan Kyuhyun terlihat berubah sedikit menyendu, "…karena aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi."
Kyuhyun menghela napasnya sekali lagi sebelum tersenyum lebar dan manis.
"Aku harus pergi dulu sekarang. Jaga dirimu di sini baik-baik. Kalau kau sudah bangun dan merasa kesepian, cepat panggil aku nde?"
Kyuhyun tertawa kecil lalu beranjak berdiri dari kursinya. Dia menepuk pelan tangan Donghae beberapa kali. Memperbaiki selimut hyungnya lalu memberi salam dan segera keluar dari ruangan ICU itu.
Dengan sedikit tergesa Kyuhyun membuka pakaian sterilnya dan melesat pergi, menyusuri lorong rumah sakit. Tersenyum dan menganggukkan kepalanya saat berpapasan dengan dokter dan perawat yang di kenalnya sebagai salam. Hampir satu bulan di tempat ini, Kyuhyun mulai mengenal beberapa orang yang bekerja di sini.
Kyuhyun kembali ke kamar rawatnya setelah mengunjungi Donghae. Kamarnya sudah sepi, tak ada perawat ataupun dokter. Masih ada banyak waktu sebelum uisa datang untuk memeriksa keadaannya.
Getaran di atas meja nakas menarik perhatian Kyuhyun. Ponsel yang tergeletak di sana sudah bergetar hebat. Kyuhyun tersenyum kecil kala melihat incaller name di layar ponselnya.
"Ahjussi," sapa Kyuhyun saat dirinya menerima panggilan masuk itu.
Kyuhyun mendudukan dirinya di sisi ranjang. Terdiam, mendengarkan dengan seksama ucapan dari paman yang menghubunginya. Senyuman di wajah Kyuhyun mulai sedikit memudar, berganti dengan senyuman getir.
"Ne, arasseo. Aku akan menyelesaikan semua urusannya hari ini," Kyuhyun berucap dengan lirih.
Mata Kyuhyun terpejam sesaat lalu menghembuskan napas panjang, "Baiklah. Ne, ahjussi. Annyeong."
Kyuhyun meletakan ponselnya di atas meja nakas. Pandangannya menerawang, menatap kosong ponselnya yang kembali tergeletak di tempat asal. Beberapa saat terdiam, Kyuhyun mulai beranjak dari ranjangnya lagi. Tangannya terulur untuk membuka laci meja nakasnya.
Sebuah map berwarna biru di keluarkan. Membuka dan membaca beberapa kertas yang sudah tersusun rapi di dalamnya. Kepala Kyuhyun menganggukkan kepalanya saat mengecek setiap berkas yang ada.
"Satu hadiah lagi untukmu, Hae hyung."
Senyuman tipis terpantri di wajah Kyuhyun. Tanpa membuang waktu, Kyuhyun segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar rawatnya. Berjalan cepat menuju ruangan yang akan di tujunya.
Tok… Tok…
Kyuhyun mengetuk sebuah pintu berwarna coklat aboni dengan ukiran sebuah nama di permukaan bagian atasnya. Menunggu beberapa saat sebelum sebuah suara menyahut dari dalam. Suara yang mempersilahkan dirinya untuk masuk.
Tanpa pikir panjang, Kyuhyun segera membuka pintu di hadapannya. Kyuhyun tersenyum lebar seolah menjadi sapaan bagi orang yang berada di balik meja kerjanya.
"Aku tak menyangka kau akan kemari, Kyu," Jung Soo atau Dr. Park itu membenarkan posisi duduknya. Membuka kacamatanya dan meletakannya begitu saja di meja.
"Apa aku mengganggumu, hyung? Kau terlihat sibuk."
Kyuhyun mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan khusus dokter spesialis mata itu. Kakinya terus melangkah hingga tiba di hadapan meja. Tanpa di persilahkan terlebih dahulu, Kyuhyun langsung saja mendudukan dirinya di sana.
Jung Soo menggelengkan kepalanya. Tersenyum begitu ramah dan memperhatikan gerak-gerik Kyuhyun dengan seksama.
"Aniya. Aku tidak sibuk," balas Jung Soo.
Kyuhyun menarik salah satu sudut bibirnya, "Ya, pantas saja. Sepertinya pasienmu sedikit, hyung. Dokter lain sudah punya beberapa pasien yang mengantri di luar tapi kau tidak punya satu pun."
Mendengar ucapan yang sedikit menyindir dan blak-blakan itu tidak membuat Jung Soo sakit hati. Dia justru tertawa. Menyandarkan punggungnya di kursi besarnya, membuat posisi santai layaknya tengah mengobrol dengan seorang teman.
"Ne. Kau benar. Pasienku baru akan datang jam 10," seru Jung Soo, "Ah. Dan kalau kau mau tahu kesibukanku, kau bisa lihat tumpukan catatan medis ini?"
Kyuhyun menyengir saat Jung Soo menepuk-nepuk sebuah tumpukan buku, file atau apalah itu di sisi kanan mejanya.
"Kau memang sibuk, hyung," Kyuhyun meralat ucapan sebelumnya, "Sepertinya aku sudah mengganggu orang sibuk."
"Haha Ya, jadi apa yang membawamu datang menemuiku pagi-pagi seperti ini?" tanya Jung Soo langsung.
"Aniya. Apa aku tidak boleh main? Di kamar sendirian itu rasanya sangat membosankan, hyung."
Jung Soo tertawa kecil mendengar jawaban dari Kyuhyun, apalagi melihat ekspresi lucu dari anak yang duduk di hadapannya.
"Kalau begitu kau harus segera sehat dan keluar dari tempat ini," saran Jung Soo.
"Itu mauku," Kyuhyun mengangguk-anggukkan kepalanya, "Tapi uisa-nim tak memperbolehkanku pulang dulu. Jika dalam minggu ini kondisiku stabil maka aku baru bisa pulang."
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Jung Soo sembari menumpukan kedua sikutnya di meja.
"Seperti yang kau lihat," Kyuhyun tersenyum lebar, "Aku sangat baik."
Jung Soo memperhatikan wajah Kyuhyun dengan teliti membuat Kyuhyun menggembungkan pipinya, merasa risih di perhatikan intens seperti itu.
"Jung Soo hyung, bisakah jangan melihatku begitu?" Akhirnya protesan itu meluncur dari bibir Kyuhyun.
Jung Soo tersenyum geli, "Wajahmu masih sedikit pucat."
"Jangan memulai, hyung. Jangan berlagak seperti dokter lainnya. Aku bosan mendengar, wajahmu masih terlihat pucat. Aku baik-baik saja."
Kyuhyun menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Meletakan map yang di bawanya di atas pangkuannya lalu melipat kedua tangannya di depan dada.
Tak mempedulikan protesan dari Kyuhyun, Jung Soo kembali berucap, "Istirahat yang total dan jangan banyak berpikir. Nikmati hari-harimu di tempat ini."
Kyuhyun memutar bola matanya malas namun kepalanya tetap mengangguk sekali. Jung Soo pun tersenyum senang mendapat respon menurut dari anak yang sering di temuinya sejak beberapa bulan lalu.
Jung Soo menutup beberapa catatan medis di mejanya dan menyingkirkannya di sisi meja seolah tidak ingin memeriksanya dulu. Dia ingin menyediakan sedikit waktu untuk berbincang dengan Kyuhyun. Senyuman ramah terus terlukis di wajahnya.
"Aku baru berencana akan menemuimu dan Donghae sore ini setelah jam praktekku berakhir," seru Jung Soo kembali memulai pembicaraan.
"Kau bisa datang lagi nanti sore ke kamarku. Ah, jangan lupa bawa makanan yang enak-enak," canda Kyuhyun membuat Jung Soo terkikik geli.
Tangan Kyuhyun yang tidak bisa diam mulai terangkat dan memainkan sebuah hiasan meja berbentuk dua bandul yang bersisian. Ia pun terlihat asyik memperhatikan mainan barunya itu.
"Lalu bagaimana keadaan Donghae?" tanya Jung Soo lagi dengan hati-hati, "Apa sudah ada kemajuan?"
Pertanyaan Jung Soo membuat Kyuhyun menghentikan kegiatan salah satu tangannya yang memainkan bandul. Tangannya melayang di udara beberapa saat sebelum Kyuhyun menariknya dan meletakannya dengan lemas di atas pangkuannya.
Kyuhyun menggelengkan kepalanya dan menunjukkan ekspresi lesu, "Tidak ada. Dia masih tidak mau bangun juga."
"Uisa-nim juga bilang tidak ada perkembangan berarti. Hae hyung tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun," lirih Kyuhyun menambahkan dengan nada enggan.
Jung Soo menjadi mengiba melihat perubahan raut wajah Kyuhyun yang sangat berbeda dari sebelumnya. Dia menghembuskan napas beratnya. Mencoba tetap tersenyum menenangkan walau itu tidak akan berdampak banyak.
"Donghae pasti akan segera bangun. Aku percaya itu," balas Jung Soo membuat Kyuhyun menarik sudut bibirnya sedikit.
"Aku juga sangat percaya," Kyuhyun menganggukkan kepalanya sekali, "Aku hanya takut waktunya tidak akan cukup."
Ucapan Kyuhyun terdengar begitu jelas bagi Jung Soo yang reflek menaikan sebelah alisnya, "Maksudmu?"
Bukannya menjawab, Kyuhyun justru tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya. Dia berdeham sesaat untuk menghentikan tawanya itu. Jung Soo hanya bisa mengerutkan dahinya, semakin tidak mengerti.
"Aniya," jawab Kyuhyun singkat. Kembali menghumbar senyuman riang seperti sebelumnya.
"Ah, hyung… Boleh aku meminta sesuatu?" tanya Kyuhyun mengalihkan pembicaraan sebelum Jung Soo mengeluarkan suaranya lagi.
"Apa? Katakan saja."
"Bisa kau ikut memeriksa keadaan Donghae hyung?" Kyuhyun menatap Jung Soo dengan serius.
"Aku?" Jung Soo terlihat bingung dengan pertanyaan Kyuhyun, "Aku ini spesialis mata, Kyu. Ada dokter khusus yang memang bertugas untuk menangani keadaan Donghae. Lebih mengerti dan berpengalaman daripada aku."
Kyuhyun menggelengkan kepalanya, "Tapi ku rasa kau juga perlu memeriksa Donghae hyung."
"Untuk apa?" Jung Soo menautkan kedua alisnya. Semakin menatap Kyuhyun dengan penuh keheranan.
Terdiam…
Kyuhyun terdiam selama beberapa saat seolah tengah menyelami pemikirannya sendiri. Mencari dan merangkai kata yang akan di ucapkannya pada Jung Soo yang setia menatapnya. Helaan napas panjang meluncur dari mulut Kyuhyun.
"Mungkinkah Donghae hyung menjalani operasi mata di tengah keadaannya sekarang, saat tidak sadarkan diri seperti ini?"
Pertanyaan Kyuhyun membuat Jung Soo merubah ekspresinya menjadi lebih serius. Dia pun menegakan posisi duduknya dan menatap Kyuhyun meminta penjelasan lebih.
"Apa maksudmu, Kyu? Kenapa bertanya begitu?" Jung Soo balas bertanya.
"Hyung…" Kyuhyun menatap Jung Soo dengan tatapan menuntut jawaban, "Jawab aku dulu."
Jung Soo menghela napasnya, "Aku tidak bisa memberikan jawaban pasti. Tapi kurasa, itu tidak bisa. Terlalu bahaya melakukan operasi saat pasien memiliki kesadaran rendah. Kita tidak bisa memastikan keadaannya yang sebenarnya."
"Bisa kau memeriksa Hae hyung dulu?" tanya Kyuhyun lagi.
"Sebenarnya ada apa? Beritahu aku," Jung Soo mendesak Kyuhyun untuk menjawab pertanyaannya.
Kyuhyun kembali terdiam. Bola matanya terlihat bergerak gelisah dan pancarannya menunjukkan bahwa anak itu sedang bingung.
Setelah beberapa saat bergelut dengan pikirannya sendiri, Kyuhyun meletakan map yang sedaritadi di bawanya ke meja. Menyodorkan map itu ke hadapan Jung Soo.
Jung Soo beralih memperhatikan map di meja hadapannya. Terlihat ragu untuk membukanya. Kembali di alihkan pandangan untuk menatap Kyuhyun dengan tatapan bertanya. Kyuhyun hanya tersenyum tipis. Dengan kode matanya, Kyuhyun mempersilahkan Jung Soo untuk membuka map itu.
Tanpa membuang waktu, Jung Soo menarik map itu dan segera membukanya. Ada beberapa lembar kertas di dalamnya. Namun hanya membaca deretan tulisan di satu halaman saja sudah cukup membuat mata Jung Soo membulat tidak percaya. Secara reflek, kedua tangannya sedikit mencengkram sisi map yang di pegangnya.
Jung Soo kembali menatap Kyuhyun dengan tatapan sulit di artikan.
"Kyu…"
Kyuhyun hanya tersenyum melihat respon yang di tunjukkan oleh Jung Soo. Dia menganggukkan kepalanya seolah memberikan penegasan bagi Jung Soo.
"Tolong lakukan itu, hyung. Jika berhasil, Hae hyung pasti akan senang."
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Rumah sakit yang sepi semakin bertambah sunyi di hari sudah cukup larut ini. Beberapa pasien sudah terlelap di kamarnya masing-masing, menuruti anjuran dokternya agar banyak beristirahat. Hanya beberapa perawat yang masih berjaga dan mengontrol bersama petugas keamanan.
Namun dalam sebuah kamar rawat masih ada seorang pasien yang tidak tertidur. Dia tetap terjaga walau dokter sudah sering memperingatkannya agar beristirahat tepat waktu.
Cho Kyuhyun, ya mungkin anak ini menjadi salah satu pasien yang keras kepala dan sulit menuruti permintaan dokter dan perawatnya.
Kyuhyun masih setia duduk di ranjangnya. Terlihat begitu sibuk dengan beberapa lembar foto yang tergeletak begitu saja di atas selimutnya. Tangan Kyuhyun bergerak lincah, membubuhkan lem pada bagian belakang foto lalu segera menempelkan foto-foto itu dalam sebuah buku bersampul biru dan berlukiskan butiran salju di bagian depannya.
Mata Kyuhyun berbinar saat memperhatikan hasil karyanya sendiri. Melihat beberapa tempelan foto yang sudah di susunnya dalam buku itu. Tangan Kyuhyun beralih mengambil pulpen dan menorehkan tintanya di sisi foto.
"Hae hyung, wajahmu terlihat pabbo! Haha," oceh Kyuhyun seorang diri sambil menuliskan kata yang baru saja di ucapkannya dalam buku itu.
"Lihat… Kau tidak tahu 'kan kalau aku sering memfotomu? Haha."
"Aish, kau membuat lukisan sungai di bantalku saat tidur!"
Kyuhyun terkekeh pelan saat menuliskan beberapa komentar di samping foto yang sudah di tempelnya itu. Komentar konyol, aneh ataupun kadang saran dan kritikan dari gambar-gambar dari sepenggal kenangan yang telah di abadikan tersebut.
Tangan Kyuhyun kembali beraksi. Memilah beberapa foto yang sudah di cetaknya kemarin bersama Sungmin. Masih ada beberapa lembar lagi yang tergeletak di atas selimutnya. Matanya memperhatikan setiap lembarnya dengan seksama hingga fokus pada satu foto. Sebuah foto dimana Donghae tengah tersenyum begitu manis. Senyuman childish, ramah dan lembut yang sangat di sukai oleh Kyuhyun dan selalu membuatnya tenang.
"Aku merindukan senyumanmu, hyung…"
Suara Kyuhyun terdengar terkecat saat mengatakan hal itu. Matanya langsung terasa panas kala sekilas bayangan Donghae yang terbaring di ruang ICU itu melintas dalam pikirannya. Sudah hampir sebulan Kyuhyun tidak mendengar suara Donghae dan tidak melihat senyuman seperti dalam foto itu.
"Hae h-hyung…"
Kyuhyun mengepalkan kedua tangannya. Matanya terpejam sesaat, menenangkan hatinya yang berdesir dan berdenyut sakit. Ingin sekali rasanya meraung dan menangis. Memanggil nama seseorang yang sudah di anggapnya kakak itu.
Tak bisa menahan perasaan sesak dalam hatinya, Kyuhyun memilih meletakan buku di kasur. Kedua kakinya di lipat. Tangannya melingkar di kaki, memeluk kakinya dengan erat. Salah satu tangannya masih menggenggam foto Donghae.
Kyuhyun menundukkan kepalanya. Menyembunyikan wajahnya di atas lututnya sendiri. Tak berapa lama bahu anak itu terlihat bergetar. Isakan tangis yang terdengar memilukan langsung menyelimuti ruangan itu.
Tangisan Kyuhyun semakin menjadi saat kenangannya bersama hyungnya berputar dalam kepalanya. Tanpa di perintah, kenangan itu menyeruak keluar. Mengulang dan mengenang setiap moment kebersamaan mereka. Entah apa yang di rasakan Kyuhyun saat ini. Perasaannya campur aduk. Merasa sedih, rindu, bersalah dan bingung.
Kita bertemu dan tinggal bersama tidak dalam waktu lama. Hanya beberapa bulan. Tapi aku merasa, kita sudah melewati banyak sekali hal. Banyak yang sudah terjadi dan kita lewati bersama. Saat senang, sedih, haru, canda tawa dan banyak lainnya. Kita punya banyak persamaan dan perbedaan tapi kita bisa menyatukan semua itu. Kau yang membuatku tidak kesepian seorang diri dan mengajarkanku cara untuk selalu bersyukur. Kau sudah memberitahukanku sebuah arti dari kehadiran seorang kakak dalam hidupku. Donghae hyung… Sampai kapanpun, aku selalu menganggapmu sebagai kakakku sendiri.
.
.
Semilir angin yang begitu menyejukan…
Setitik cahaya mampu menyelusup dalam kelopak mata yang beberapa saat lalu terpejam.
Setitik cahaya itu berangsur menjadi lebih besar. Cahaya yang terang dan terasa begitu hangat.
Sepasang manik coklat langsung nampak saat kelopak mata itu terbuka. Mata yang begitu indah dan jernih. Mengerjap beberapa kali sebelum mengedarkan pandangan ke seluruh wilayah yang ada di sekitarnya.
Tanpa mengubah posisinya, tetap bersandar santai pada sebuah pohon besar, seorang namja mulai menggerakan kepalanya. Ke kanan dan ke kiri. Memandang takjub pada pemandangan yang ada di hadapannya.
Hal pertama yang membuat namja itu takjub adalah cahaya. Aneh mungkin namun itulah yang di rasakan olehnya. Cahaya terang ini bagaikan sebuah keajaiban yang di dapatkannya. Suatu hal yang sejak lama di impikannya. Melihat cahaya terang dan terasa hangat itu.
Lalu kedua, pemandangan indah yang tersaji di hadapannya. Sangat indah… Bahkan ini lebih dari sekedar sangat indah. Ini pertama kalinya dia melihat pemandangan sebegitu indah, terlebih dengan kedua matanya sendiri.
Pepohonan dengan daun rindang menghiasi sekitar area ini. Daunnya yang berwarna hijau segar sangat enak di pandang mata. Lalu di depan sana ada sebuah danau yang cukup besar. Danau dengan air begitu jernih. Aliran air mampu terdengar begitu jelas karena kesunyian yang terjadi di sana. Hamparan rumput hijau dan empuk pun terlihat menghiasi sisi danau. Bunga-bunga bermekaran dan menampakan beragam warna yang indah. Beberapa hewan seperti kelinci, rusa, tupai dan banyak lagi berkumpul di sana. Meminum air di danau, memakan rumput dan sekedar berkumpul bersama dengan kelompoknya. Kicauan burung pun menyelimuti area itu. Burung berbagai spesies berterbangan, menghiasi langit cerah.
Tak bisa menyembunyikan kekagumannya, namja itu menarik kedua sudut bibirnya. Sebuah senyuman. Dia tersenyum lebar dan senang melihat pemandangan menakjubkan di hadapannya.
"Apa aku sedang bermimpi?"
Kalimat itu yang pertama kali terlontar dari bibirnya, mengungkapkan rasa tidak percaya yang menyeruak dalam hatinya. Setelah puas memandangi pemandangan itu, dia mengalihkan tatapannya ke kedua tangannya sendiri.
Entah apa yang menarik. Namja itu masih setia tersenyum saat memperhatikan telapak tangannya sendiri. Seolah meneliti setiap garis yang terlukis di dalam tangannya.
Hembusan napas lega meluncur dari mulutnya. Matanya kembali terpejam sesaat. Menikmati semilir angin dan suara air juga kicauan burung yang begitu khas.
"Apa ini surga?" tanyanya pada dirinya sendiri.
"Aku…" Namja itu kembali berucap sembari meluruskan kakinya di hamparan rumput, "Aku bisa melihat."
"Apakah dunia seindah ini? Apa memang ini sudah di surga sehingga terlihat begitu indah?"
Seekor kelinci berwarna putih bersih menghampiri namja yang masih sibuk berargumen seorang diri. Sesuatu terlihat berada di mulut kelinci mungil itu.
Sebuah goncangan pelan membuat namja itu kembali membuka matanya. Masih mampu melihat pemandangan indah itu, tawa pelan meluncur kembali dari mulutnya. Tatapannya beralih pada kelinci mungil yang sudah berada di sisinya. Tangannya reflek terangkat dan mengelus kepala kelinci itu.
Sentuhan yang di berikan membuat kelinci itu menggeliat geli namun terasa nyaman. Namja itu hanya tersenyum geli.
"Eoh? Apa ini?"
Namja itu mengambil sesatu yang berada di himpitan mulut kelinci itu. Sebuah kalung dengan bandul berbentuk persegi panjang. Ada ukiran nama yang terlukis di permukaan bandul itu.
Lee Donghae
Namanya…
Itu adalah namanya. Donghae semakin melebarkan senyumannya kala melihat kalung itu.
"Ini untukku?" tanya Donghae pada kelinci yang setia berada di sisinya.
Seolah mengerti, kelinci itu menganggukkan kepalanya sekali. Donghae tertawa kecil lalu kembali memberikan sentuhan lembut pada kelinci itu.
"Apa artinya?" Donghae kembali berucap, "Apa itu artinya kalian yang berada di sini sudah menerima kehadiranku di sini?"
Donghae segera memakai kalung yang di genggamnya. Kini kalung itu telah melingkar indah di lehernya. Donghae mengelus bandul kalung itu sekali lagi.
"Gomawo," seru Donghae sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Donghae kembali menyandarkan punggungnya di pohon. Salah satu kakinya di tekuk dan yang lain masih terjulur lurus. Pandangan Donghae beralih menuju langit cerah yang ada di atasnya. Di perhatikannya setiap burung yang melintas terbang di sana. Hingga pandangannya fokus pada gumpalan awan putih yang berjalan seirama dengan tenang.
"Tempat ini sangat indah. Tuhan, bolehkah aku tinggal di tempat ini saja selamanya?"
.
.
.
Awan gelap sudah menghiasi kota Seoul sejak dinihari tadi. Rintik hujan dengan intensitas sedang terlihat begitu awet menyelimuti kota besar itu. Suasana menjadi lebih dingin dari hari biasanya dan membuat kadar malas dari orang-orang menjadi naik. Ingin rasanya tetap berada di atas kasur dengan selimut yang menghalang rasa dingin itu.
"Semua sudah di masukkan?"
Seorang namja paruh baya masuk ke dalam ruangan dengan senyuman lebar. Sebuah kotak berisi makanan berada dalam genggamannya.
"Ne, ahjussi."
Sapaan dari namja paruh baya itu hanya di balas singkat oleh Kyuhyun yang terlihat duduk di sisi ranjangnya. Dia hanya tersenyum tipis untuk menyambut kedatangan pamannya itu. Kyuhyun mengalihkan tatapannya ke selimut yang sudah terlipat rapi di ranjangnya. Menerawang kosong dan terjebak dalam sebuah lamunan.
"Kyu…" Ahjussi menepuk pundak Kyuhyun dan menatap keponakannya dengan tatapan cemas, "Gwaenchana?"
Kyuhyun sedikit terlonjak namun keterkejutannya langsung tertutupi dengan senyuman lebar yang hadir di wajahnya. Dia menggelengkan kepalanya, "Gwaenchanayo."
Ahjussi bisa menghela napas lega. Di tariknya kursi yang ada di sisi ranjang untuk mendekati Kyuhyun.
"Kka, makan sarapanmu dulu. Sesuai janji, aku membelikanmu bbokeumbbop karena hari ini kau resmi akan keluar dari rumah sakit."
Ahjussi mengangsurkan kotak berisi makanan itu ke pangkuan Kyuhyun. Dengan wajah riang Kyuhyun menerimanya.
"Gomawo, ahjussi. Aku sudah bosan makan makanan rumah sakit," seru Kyuhyun dengan nada sedikit mencibir.
Ahjussi terkekeh pelan, "Tapi kau harus tetap menjaga pola makananmu setelah keluar dari rumah sakit seperti yang uisa-nim katakan. Aku akan mengawasimu dengan ketat."
Kyuhyun memutar bola matanya malas, "Ahjussi mau menjadi uisa kedua untukku eoh?" Cih."
Tanpa melontarkan protesan lagi, Kyuhyun segera membuka kotak makanannya dan memulai acara sarapan paginya. Ahjussi terdiam dan memperhatikan Kyuhyun dengan seksama. Kyuhyun makan dengan pelan, sesekali mengaduk-aduk makanannya sendiri. Hal itu sukses membuat ahjussi menaikan sebelah alisnya.
"Ada apa?" tanya ahjussi tiba-tiba, "Ada yang kau pikirkan, Kyu?"
Kyuhyun menghentikan acara makannya. Terdiam dan memperhatikan pamannya dengan seksama. Hingga akhirnya sebuah senyuman menenangkan Kyuhyun tampilkan. Dia menggelengkan kepalanya seolah enggan menceritakan hal yang berputar dalam pikirannya.
"Aniya," jawab Kyuhyun singkat.
"Benarkah?" Ahjussi masih memandang Kyuhyun penuh selidik. Kyuhyun kembali menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk menegaskan.
Ahjussi menghela napasnya, "Ingat kata uisa, kau tidak boleh banyak berpikir dulu. Kondisimu bisa langsung drop jika kau berpikir terlalu keras."
Senyuman di wajah Kyuhyun berangsur menjadi senyuman miris. Genggamannya pada sendoknya semakin kuat membuat buku-buku tangannya memerah.
"Kyuhyun-ah."
Lagi-lagi panggilan dari ahjussi membuyarkan lamunan Kyuhyun. Hembusan napas panjang meluncur dari bibirnya.
"Aku ingat, ahjussi. Uisa-nim sudah mengatakan hal itu lebih dari puluhan kali," ucap Kyuhyun asal.
Tanpa mau berlarut-larut dalam pemikirannya, Kyuhyun memilih untuk melanjutkan sarapannya. Memakan dengan lebih cepat. Ahjussi pun hanya bisa terdiam dan memperhatikan Kyuhyun.
"Setelah ini aku mau menemui Hae hyung. Aku ingin bersamanya hingga sore," seru Kyuhyun.
Kyuhyun memandang ahjussi dengan tatapan penuh harap, "Ahjussi bisa menolongku 'kan? Tolong mintakan izin pada uisa agar aku bisa bersama Hae hyung hingga sore ini."
Ahjussi tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya, "Ne, aku akan menemui uisa nanti."
.
.
.
"Selesai."
Kyuhyun tersenyum puas memandangi tulisannya di halaman terakhir dari buku yang beberapa hari ini di tekuninya. Setiap kata dan perasaan yang ingin di keluarkannya sudah tertulis di dalam buku itu. Merenung sesaat, memandangi halaman terakhir dari buku tersebut dengan pandangan kosong. Senyuman tipis yang terlihat tulus terlukis di wajahnya kala melihat halaman demi halaman dari buku yang ada di tangannya. Buku yang sudah di penuhi deret tulisan beserta foto yang menjadi kenangan.
Pandangan Kyuhyun beralih menuju sosok kakak yang masih setia terbaring di ranjangnya. Di perhatikannya wajah Donghae dengan seksama dengan senyuman manis.
"Hae hyung…" Kyuhyun mulai menyerukan nama hyungnya lagi.
Sebenarnya sudah sejak beberapa jam lalu dia terus mengajak Donghae mengobrol sembari menuliskan buku itu. Dan sama seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada ucapan yang membalas setiap perkataannya. Hanya deru ventilator dan irama kardiograf saja yang terus terdengar.
"Aku sudah menyelesaikan ini," Kyuhyun mengibaskan buku yang di tangannya ke hadapan Donghae sambil terkekeh pelan.
"Kau bisa membacanya suatu saat nanti. Ini semua tentang kita. Dari awal aku bertemu denganmu hingga hari ini. Aku sudah mencatatkan ini spesial untukmu, hyung."
"Semua yang terjadi dan kurasakan sudah ku tuliskan di sini dengan jujur. Aku sudah tidak punya rahasia lagi padamu, Hae hyung."
Kyuhyun meletakan buku itu di sisi kosong ranjang Donghae. Tangan Kyuhyun beralih menggenggam tangan Donghae. Menggenggamnya dengan begitu erat seolah tak ingin melepaskannya lagi.
"Kau… Pasti akan suka jika melihat buku itu. Ah, tapi kau harus belajar membaca dulu."
Kyuhyun tertawa pelan membayangkan Donghae yang akan melihat suatu saat nanti. Ia jadi teringat bahwa hyungnya tak bisa melihat bentuk tulisan secara langsung, hanya melalui visual suara.
"Setelah belajar membaca, kau harus segera membaca buku ini. Arrachi?"
Terdiam…
Setelah mengucapkan itu, Kyuhyun mulai terdiam. Seperti kehilangan kata-kata atau sudah kehabisan kata karena sudah terlalu banyak ucapan yang di lontarkan Kyuhyun untuk mengajak Donghae bicara. Walau hanya perbincangan satu arah, Kyuhyun merasa ini lebih baik daripada hanya diam memandangi hyungnya yang terus tertidur seperti itu.
Namun sekarang Kyuhyun terlihat menikmati keheningan yang terjadi. Dia tetap diam dan memandangi Donghae dengan seksama. Memperhatikan lekuk wajah Donghae yang sebagian masih di balut perban. Pancaran mata Kyuhyun berangsur menjadi redup. Embun seolah mulai menutupi mata Kyuhyun sehingga dia mengerjapkan matanya berulang kali.
"Hae hyung…"
Suara Kyuhyun mulai menjadi lebih serak, "Jebal… Ireonayo."
Tes!
Akhirya air mata yang sejak tadi di tahan Kyuhyun berhasil lolos dari kedua sudut matanya. Isakan pun juga meluncur pelan dalam ruangan itu. Pertahanan Kyuhyun sudah hancur seluruhnya. Dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan perasaan sedih yang cukup menyesakan hatinya ini. Rasa sesak ini bahkan terasa lebih menyiksa di bandingkan dengan rasa sesak yang sering di alami saat penyakitnya kambuh.
Tetes demi tetes dari air mata Kyuhyun mulai membasahi pipinya lalu turun dan membasahi tangan Donghae yang masih dalam genggaman Kyuhyun. Kyuhyun meraung pelan dan terus menangis di sana. Tak peduli dengan janjinya yang tak akan menangis di hadapan Donghae. Dia menepis janji untuk menjadi lebih kuat saat menghadapi kondisi Donghae yang berada di bawah alam sadar.
Kyuhyun jauh lebih menyukai kondisi Donghae sebelumnya walau hyungnya tetap tidak bisa melihat. Setidaknya Donghae tidak hanya terbaring pasrah di tempat menyedihkan seperti ini.
"H-Hae hyung… Kau harus bangun."
Kyuhyun menundukkan kepalanya dan membuat aliran air matanya semakin deras membanjiri wajahnya, "Kyu ingin melihat dan mendengar suara Hae hyung. Kau harus bangun sekarang, hyung."
Seperti seorang bocah kecil yang memohon kepada kakaknya untuk sesuatu yang di inginkannya. Kyuhyun terus berharap bahwa tangan Donghae akan bergerak dan hyungnya akan segera mengeluarkan suara yang di rindukannya.
"Tidak ada waktu lagi, hyung. Hiks—jebal bangunlah…"
Tangan Kyuhyun mulai menggoncang pelan tangan Donghae seolah mendesak hyungnya untuk segera bangun. Suaranya pun sedikit meninggi, menggema dalam ruangan itu.
"Hae hyung,bangun… bangun… BANGUN!"
Kyuhyun sudah tidak mempedulikan jika dirinya membuat sedikit keributan dalam ruang rawat intensif. Tidak di hiraukannya lagi peraturan yang tertempel di dinding ruangan itu. Tidak sabaran dan gemas sudah membutakan Kyuhyun. Dia hanya ingin Donghae segera bangun dan keluar dari dunianya sendiri.
"Hyung, kau masih ingin melihatku 'kan? Kau tidak boleh tidur lebih lama dari ini lagi, hyung. Aku tidak ingin melihatmu tidur terus. Kau harus bangun!"
"Kau dengar aku 'kan? Kau pasti mendengarku. Jebal, bangunlah… Hae hyung."
Terdiam sesaat. Kyuhyun menuntaskan apa yang ingin di ucapkannya lewat tangisan yang tak kunjung berhenti. Dia merebahkan kepalanya di sisi tangan Donghae. Masih di genggamnya erat tangan yang terasa dingin itu.
Mata Kyuhyun yang masih berair mengerjap beberapa kali. Bukannya mereda, tangisan itu justru semakin keras dan memilukan bagi siapa saja yang mendengarnya.
"Uh."
Setelah puas dengan tangisannya, Kyuhyun mulai menghapus buliran air yang masih menggenangi pelupuk matanya. Baru saja ingin menghela napas lega setelah mengeluarkan sedikit bebannya lewat tangisan, namun yang keluar dari mulutnya justru ringisan sakit.
Tanpa di perintah, tangan Kyuhyun yang sejak tadi menggenggam tangan Donghae mulai beralih mencengkram pakaiannya sendiri. Matanya sontak terpejam begitu erat untuk menetralisir rasa sakit dan sesak yang tiba-tiba menghantam dadanya.
"Uh—H-Hae… Hyung."
Sakit…
Rasanya begitu berat hanya untuk mengambil oksigen untuk mengisi paru-parunya. Kyuhyun semakin meremas pakaiannya sendiri. Napasnya mulai terdengar putus-putus dan berat. Buliran keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya. Sedikit tidak wajar mengingat ruangan rawat ini sudah cukup dingin oleh pendingin ruangan.
Tangisan yang beberapa saat lalu mulai reda kembali terdengar. Berbeda dari sebelumnya, isakan Kyuhyun kini berbaur dengan ringisan sakit. Air matanya kembali mengalir bercampur dengan keringat dingin yang sudah membasahi tubuhnya. Entah karena sedih ataupun sakit yang di rasakannya.
"Tidak ada waktu lagi—haah… Hae hyung."
Kyuhyun berusaha membuka matanya walaupun hanya sedikit. Dia menggigit bibir bawahnya dan mengumpulkan tenaganya untuk mengeluarkan suaranya kembali.
"Jebal, ireona…"
Salah satu tangan Kyuhyun mulai terangkat dan terjulur, meraih tangan Donghae dalam genggamannya. Tangan yang sebelumnya hangat itu berubah menjadi lebih dingin. Kini tangan Kyuhyun tak ada bedanya dengan tangan Donghae yang dingin.
"Jika kau ma—sih ingin bersama—ku… Kau harus membuka matamu se—karang, Donghae hyung."
Akhirnya setelah mengucapkan kalimat itu, Kyuhyun tak mampu berucap lagi. Hanya deru napas putus-putus saja yang terlontar dari bibirnya. Matanya terlihat semakin sayu. Kyuhyun merebahkan kepalanya di sisi kosong ranjang Donghae.
"Hae hyung…" Kyuhyun mulai memejamkan matanya yang terasa begitu lelah, "Kyu menyayangi hyung."
Cklek!
"AIGOO!"
Pintu ruangan rawat intensif itu terbuka dan seorang perawat masuk dengan membawa catatan medisnya. Namun baru saja ia melangkahkan kakinya, ia terdiam. Matanya membulat sempurna melihat pemandangan di hadapannya.
Pandangan perawat itu fokus pada sosok yang terbaring di ranjang itu. Kelopak mata yang terpejam itu mulai bergerak gelisah, berusaha untuk terbuka. Dan secara perlahan, mata yang selama beberapa minggu itu terpejam akhirnya terbuka. Walau hanya terbuka sedikit dan terlihat sayu namun mampu membuat perawat itu berteriak histeris menandakan ketakjubannya.
Donghae mengerjapkan matanya dengan pelan. Kelopak matanya terasa begitu lengket. Matanya memandang lurus ke lampu yang berada di langit-langit kamar.
Gelap…
Tidak ada cahaya yang di lihatnya lagi seperti yang di alaminya sebelumnya. Hanya kegelapan yang kembali menyapa penglihatannya.
"K-Kyu—hyun…"
Suara Donghae yang terdengar begitu lirih dan teredam dalam masker oksigen yang di kenakannya sepertinya tak mampu di dengar oleh perawat yang terlihat sedikit panik. Perawat itu segera berlari menuju sebuah telepon yang tertempel di dinding dekat ranjang. Menghubungi bagian medis dan dokter untuk segera datang.
"Pasien di ICU 3 sudah sadarkan diri. Tolong segera kemari!"
Donghae mampu mendengar suara dari perawat itu. Namun sepertinya dia tidak mempedulikannya. Dia tengah mencari sebuah suara yang beberapa saat lalu menyapa pendengarannya dan membawanya keluar dari dunia indah yang di kunjunginya.
Suara Kyuhyun…
Donghae sama sekali tidak mendengar suara Kyuhyun lagi. Apakah dia hanya bermimpi? Dahi Donghae berkerut saat merasakan denyutan di kepalanya. Ia meringis kesakitan.
"Ne, uisa-nim. Lee Donghae sudah sadarkan diri," seru perawat itu lagi masih berbicara dengan orang yang berada di sebrang sambungan telepon.
"Tapi…" Perawat itu mengalihkan tatapannya menuju seseorang yang duduk di kursi samping ranjang Donghae dan tengah memejamkan matanya erat.
"Ada seorang yang tidak sadarkan diri di sini. Sepertinya dia pingsan."
Ucapan itu sukses membuat Donghae membulatkan matanya. Rasa sakit yang menyerang kepala tak bisa di rasakannya lagi. Dia tidak peduli dengan rasa sakit itu. Donghae berusaha menggerakan tangannya yang terasa begitu kaku. Dia meraung pelan karena tak mampu menggerakan tangannya sendiri.
Setetes air mata meluncur dari salah satu sudut mata Donghae yang terlihat putus asa dengan usahanya.
"K-Kyu…"
.
.
.
-To be Continued-
.
.
Annyeong~
Setelah berbulan-bulan FF ini ngadet, akhirnya bisa di updet juga^^
Sebenarnya chapter ini udah Ly updet di wp Ly kemarin tapi karena beberapa permintaan untuk update di sini, jadilah Ly updet di sini juga.
Tapi Ly udah mutusin buat bener-bener pindah publish semua FF ke wp jadi jeongmal mianhaeyo /bow/
Untuk yang masih penasaran sama lanjutannya, bisa mampir ke wp ku.
Lyelfictions . wordpress . com
Terimakasih untuk semua teman-teman FFn yang selalu mendukung FF ku di sini /deep bow/
And the last,
Jeongmal Kamsahamnida~~
And… Saengil Chukkae for Fishy oppa~~ \(^-^)/
Sign,
LyELF
