Title: Glass/Yoori.
Author: Meonk and Deog.
Genre: Angst, romance, hurt/comfort.
Rate: M.
Pairing: HaeHyuk.
Slight pair: SiHyuk, HaeMin, SiBum, KyuMin, HenBum, ZhouRy, KangTeuk, Hanchul, YeWook.
Cast: All super junior member. Discleimer: Character in this story isn't mine! But the story is mine! And only mine!
Warning: Yaoi, Boys love, Shonen-ai, NC activity,GS for Sung Min, Heechul dan Leeteuk, EYD yang berantakan dll.
Summary: "Bukankah cinta seperti kaca? Terlalu frontal dan transparan. Bagi orang sepertiku cinta terlalu menggambarkanku dengan buruk. Pantaskah kusebut cinta? Hal yang terlalu menyakitkan, membawaku pada masa depan, mengoyakku hingga diriku benar-benar nyaris hancur, lalu kembali menariku kemasa lalu yang bahkan lebih buruk dari masa depan itu sendiri."
NO COPAST! NO PLAGIARISM.
Please don't bash chara!
Remember! It's just fanfiction!
Don't' Like Don't Read~
.
.
.
Author Pov.
Kini segala fragmen cerita mulai terkumpul, menyudutkan dalam segala arah yang akan dilewati. Membuatnya bingung pada pijakkan yang harus dilakukan. Bergumam pada Tuhan benar-benar tidak membantu, apa lagi menangis. Ini hanya masalah kapan ia mulai menggunakan hati nuraninya. Hati nurani yang sudah lama mengkarat, hati nurani juga yang akan menghukumnya dalam segenap pilihan tak berujung.
Kombinasi warna hitam juga putih pada kehidupan tak membiarkan ia memilih untuk menjadi abu-abu. Hanya hitam dan putih, ia dan Donghae, tersakiti dan disakiti, mengeluh dan dikeluhkan. Semuanya berada dalam genggamannya. Dalam genggaman yang kapan saja bisa terhempas. Sayang sekali…
Pilihan yang diberikan Tuhan, hanya dua…
Menyerah…
Atau melepaskan…
Sorot mata tajam yang terlampir lurus kedepan, membekukan air muka yang sempat menghangat. Senyum tak lagi terkembang, hanya ilusi keheningan tak kasat mata yang sedari tadi disadari kedua belah pihak. Sosok didepan…
Sosok yang membuatnya bungkam, kelu, bahkan sulit bernafas. Sosok cantik dengan keanggunan juga keangkuhan yang terkombinasi diparas eloknya. Ia menjentikkan jari semakin kencang ketika kilatan sinis dihadiahkan, tak peduli kukunya patah. Ia hanya peduli, bagaimana dirinya bisa melarikan diri dari situasi mencekik yang tengah dihadapi.
Menunduk menahan rasa malu terlintas dibenaknya, bisikkan rasa bersalah terdengar menuntutnya untuk meminta maaf. Ia ingin, tapi ia bingung untuk apa. Untuk apa meminta maaf jika ia akhirnya lagi-lagi dihakimi.
"Lee Hyuk Jae." Nama itu dikeluarkan lembut dari bibir merekah wanita bernama Kim Heechul ini. Aroma anggur merlot yang terkuar digelas cembung memenuhi, memperlihatkan gerak-gerik tubuh wanita kelas atas. Siluet sempurnanya terpantul bias surya siang, terelak tak terkalahkan oleh objek apapun.
Kata-kata yang sudah terangkum sempurna terpecah ruah, terkunci dalam pemikiran singkat yang entah bagaimana mempersulit otaknya untuk mulai memproses apa yang ingin dibicarakan, menjawab interaksi langsung yang dilakukan Kim Heechul. Bibir yang bergetar, tergambar jelas dalam reaksi yang ditumpahkan, bahkan hanya untuk berkelit dirasa tak pantas untuk saat ini.
"Berusia 28 tahun, memiliki seorang adik bernama Ryeowook, ibumu mati karena bunuh diri, ayahmu mati karena keracunan alkohol, bekerja sebagai gigolo lima tahun lalu, menjadi simpanan seorang aktor yang parahnya sudah menikah sejak dua tahun lalu, dan memulai sebuah usaha dari uang 'menantuku'. Lihatlah ini, kehidupanmu bahkan sangat menarik jika dimainkan di opera sabun."
Mata Hyuk Jae mengabur, cairan bening itu bertumpuk. Ia dihakimi. Tertunduk dalam coretan merah dosa-dosa terdalam. Ia hanya bisa mendesah pelan, seakan menikmati segala hardikkan yang tengah dilayangkan.
"Untuk itu…., aku…, aku…, minta maaf." Ia tercekat, kerongkongannya terasa terbakar ketika menggumamkan hal itu. Maniknya bergerak-gerak resah, dia tak tahu. Apa kata maaf yang tadi terlontar benar-benar tulus atau tidak.
"Jangan minta maaf padaku, gumamkan kata-kata itu pada Tuhan. Aku bahkan tidak yakin, dia akan memberikan kursi pengampunannya padamu atau tidak." Sekali lagi nafasnya hampir habis.
Setiap kalimat yang Heechul katakan sukses membuatnya terhimpit. Berulang kali ia mencoba untuk bicara dan berkelit, namun sosok dihadapannya seperti menghipnotisnya untuk diam. Menggunakan nama 'Tuhan' adalah apa yang paling ditakutinya.
Benarkah Tuhan tidak akan melakukannya?
Kepalanya makin tertunduk menatap marmer dingin, menutupi garis wajah juga segala reaksi yang akan menggambarkan ketakutannya dengan jelas.
"Sejujurnya sulit untukku mengatakan ini, aku bisa saja membunuhmu jika kau terus mencoba menyakiti Sungmin-ku. Aku seorang ibu, aku wanita yang begitu lemah jika seseorang menyakiti anakku yang paling berharga. Kau pikir apa yang akan Tuhan lakukan melihatmu menghancurkan kehidupan bahagia orang lain? Tuhan-"
"Bisakah kau berhenti menggunakan kata Tuhan dihadapanku?" Kalimat nyaris terselesaikan itu terpotong dengan mudah. Hyuk Jae mengangkat kepalanya, menabrak lurus tatapan sinis yang sejak tadi mengintimidasinya. Air mukanya terlihat angkuh dengan dagu yang terangkat naik. Onyxnya memicing tajam, mengelak setiap kata yang wanita cantik ini tuduhkan.
Tawa renyah dengan intensitas rendah Kim Heechul keluarkan sebagai balasan. Ia berpikir laki-laki didepannya mulai memperlihatkan sosok yang sebenarnya.
"Apa yang salah dengan Tuhan? Aku bisa seribu kali menggumamkan kata itu, jika itu bisa membuatmu terbaring remeh dineraka." Ucapan penuh penekanan itu sukses membuat Hyuk Jae kembali tersentak. Giginya bergemeletuk rendah, harga diri yang memang sudah lama terinjak kembali menjadi taruhan atas segala permainan yang dilakukan. Tangannya bergetar…, definisi ketakutan yang sebenarnya mulai terlihat.
Hyuk Jae mendirikan tubuhnya, tak membiarkan hardikkan kasar lainnya menusuk indera pendengarannya lebih lama. Tatapan mata diputusnya, tapakkan kaki yang dilakukan amat lamat. Hingga sebuah suara kembali menginstrupsi untuk berhenti.
"Camkan kata-kataku. Ini bukan main-main, bahagia atau tidak. Itu tergantung keputusanmu pada Tuhan." Hyuk Jae menelan ludahnya singkat. Ia menutup matanya sekilas, langkah kakinya kembali berlanjut. Ancaman baru kini didapatkan..
.
.
Surai brunettenya bergerak perlahan, intensitasnya lemah nyaris tak terlihat. Setiap lekuk ruangan ditelusuri dengan hazel teduhnya. Kosong, ia tak menemukan apapun. Hanya cermin yang pecah, berserakkan dan bisa menyakitinya kapan saja. Berjam-jam ia ditempat ini, berjam-jam pula ia harus memecah keheningan dengan segala persepsi buruk yang memenuhi pikiran.
Dering ponsel yang tiba-tiba seakan menyentakkan jantungnya. Donghae, laki-laki itu membelalakkan mata ketika nama orang yang begitu ditakuti, kini terpampang jelas dilayar ponsel. Jemarinya bergetar hebat saat hendak mengangkat panggilan yang ditujukkan.
"Yeo..yeobsaeyeo?"
.
.
.
Ranjang berderit ketika tubuh ramping itu menabrak kasur dengan lembut. Cahaya surya yang menembus ruangan seakan menenggelamkannya dalam keheningan. Keheningan yang diinginkan, namun semakin lama semakin terasa memberatkan.
Deru nafas hangat tersampaikan. Sketsa hitam menyapa ketika kelopak mata, membingkai apik kedua obsidian indah itu. Pikiran rumit yang terkadang sulit dimengerti hanya tertuju pada satu orang, satu orang yang tiba-tiba terasa membahayakan posisi juga keadaannya saat ini. Kibum, pria cantik ini bergeliat resah dalam posisinya.
Karakter tenang yang menjadi ciri khasnya kini memberontak, dalam kondisi apapun, situasi apapun, Henry sangat berhasil membuatnya ketakutan.
Decitan pintu yang terbuka membuatnya tersentak, langkah lemah yang terdengar mendekat tak membuatnya ingin membuka mata. Ia tahu siapa yang datang, dan ia tak peduli. Orang yang selama ini masuk dalam garis keras pengusik hidup, datang mendekat dan kembali menggumamkan kata-kata 'cinta'.
Sosok yang datang itu terduduk disudut ranjang. Jemarinya terangkat naik, mendekat lalu menyusuri setiap lekuk surai sehitam arang didepannya. Mengedarkan kehangatan mendalam yang selalu memabukkan.
Kibum makin mengeratkan pejaman mata, kehangatan yang terasa saat ini jauh lebih menggila dari sebelumnya. Kehangatan yang sukses membuat kata-kata Henry beberapa hari lalu terulang bak piringan hitam.
"Kau cantik…" Choi Siwon bergumam. Jemari indah tidak lagi bermain disurai namja cantik itu melainkan kini mulai teralih kebagian tengkuk.
"Bahkan ketika wig menjijikkan ini tak lagi kugunakan?" Sarkasme itu menyentakkan Siwon. Sosok yang dikira sudah terlelap menyapa imajinasi pasti, kini menambahkan kilatan kesinisan pada pagi hari indahnya.
"Apa maksudmu? Aku tidak ingin memulai sebuah pertengkaran ditempat seindah ini." Lamat-lamat, ia berbisik penuh penekanan. Dalam setiap baris kata yang terlontar terdengar begitu ketus. Ini baru pertama kali sosok sempurna seperti seorang Choi Siwon memperlihatkan ketidak sukaannya.
Objek pekat itu terlempar keras keatas lantai, surai panjang yang selama ini berhasil menipu setiap khalayak yang melintas terkapar tak berdaya. Onyx elang yang sejak tadi mengekori setiap gerak-geriknya kini terfokus, terbelalak lebar menampilkan raut wajah keterkejutan khas.
Sedangkan Kibum yang kini sedang menampilkan sisi asli dari dirinya, menatap Siwon dengan manik yang tengah memerah. Emosinya meletup tak tertahankan. Segala ekspressi jiwa tengah dipertontonkan kepada orang yang telah mengisi hidupnya selama 7 tahun belakangan.
"Kau tahu?" Pertanyaan ambigu yang dilantunkan membuat kening pria sempurna itu mengkerut. Mempertanyakan kelanjutan dari kalimat yang kini membingungkan otaknya.
"Tentang Henry…" Kibum melanjutkan, sontak membuat Siwon terdiam. Ia menajamkan penglihatan namun menulikan indera pendengarannya. Tak berharap sepatah kata apapun terlontar dan mengurungnya dalam sisi keegoisan juga kesedihan.
"Jangan bicara…" Siwon mencoba menginstrupsi. Ditelan dengan susah payah saliva yang menggunung, rasa sesak juga rasa tak ingin terus menyeruak masuk hingga merajam dengan mudah segala kepercayaan yang tertanam.
Kibum terdiam, ia belum berniat merespon. Kaki-kaki jenjangnya perlahan menapaki lantai. Menopang berat tubuh dan menatap sosok didepannya dengan sinis.
"Berhenti berpura-pura…, aku tahu kau cukup pintar untuk mengetahui segalanya. Mengetahui hubungan yang terjalin antara aku dengan Henry." Siwon memejamkan mata. Tiba-tiba bibirnya terasa terlem dengan kuat. Pergerakkan indera motoriknya juga terasa terbatas. Semua karna Kim Kibum. Laki-laki dengan sejuta pesona memabukkan itu.
"Aku tidak berpura-pura!" Siwon balas berdiri bersamaan dengan teriakkan kencang yang terlontar. Maniknya basah akibat emosi yang meluap. Tangan kekarnya diletakkan diatas pinggang, dan bibirnya perlahan terbuka. Bahkan hidung mancung itu tak dapat lagi menghirup udara Venesia dengan mudah.
"Kau melakukannya! Kau selalu melakukannya!" Sekencang mungkin Kibum menyuarakkan kekesalan. Kakinya tak segan-segan menghentak, menabrak lantai dengan kasar. Jari-jemarinya tak tinggal diam mengacak surai sebahu yang dimiliki.
Siwon terdiam, setetes air mata yang jatuh tiba-tiba membuat waktu yang berputar dengan cepat itu terhenti. Ia perlahan mendekat, Kibum-nya menangis dan ia mencoba untuk merengkuh namja cantik itu kedalam pelukan hangatnya. Dan sekali lagi juga, penolakkan dengan sarkasme tinggi menjadi hasil dari tindakannya.
"Aku ingin menenangkan diri."
.
.
.
Bruagh.
Pukulan keras dari tongkat golf itu sukses menerjang wajahnya. Ini sudah kesekian kalinya benda dingin itu menyapa wajah mulusnya. Ia sudah lemas, matanya memerah akibat butiran bening yang tak berhenti mengalir, kulit putih itu juga dinodai bercak kemerahan, tak lupa dengan darah yang terus mengalir dari sudut bibirnya.
Bruagh.
Lagi, sang ayah menghadiahkan hujaman pukulan keras padanya. Isakkan-isakkan kecil akibat rasa sakit juga terdengar parau memenuhi ruangan kamar hotel. Teriakkan histeris dari sosok wanita yang tengah ditahan oleh beberapa orang bertubuh besar tak pelak membuat suasana ruangan makin mencekam.
Brak.
Sosok yang dihujami puluhan pukulan itu kini tertelungkup tak berdaya diatas lantai. Tangannya bergetar hebat dan gumaman tak jelas dikeluarkan sebagai bentuk perlawanan.
"Berani-beraninya kau membawa orang itu ketempat ini!" Teriakkan itu membuat seluruh insan yang ada dikamar ini tersentak hebat. Suara yang penuh membuat ruangan luas ini mendadak menjadi amat sempit. Jung Soo, satu-satunya wanita yang berada ditempat itu berteriak hebat ketika sosok sang anak kini tengah mencoba merangkak membangunkan dirinya.
Young Woon membuang tongkat golf itu tepat kesamping tubuh Donghae hingga nyaris membentur kepala sang anak. Dengusan kemarahan terlantun, kearoganannya terlihat ketika kedua tangannya dengan lihai tertopang didaerah pinggang.
"Aku membiarkanmu berhubungan dengannya tidak untuk sejauh ini. Berpisah dengannya sekarang, atau aku tidak akan membiarkanmu hidup dengan tenang. Malu yang kutanggung akibat ulahmu sudah lebih dari cukup. Kini tinggalkan orang itu…" Sayup-sayup kalimat yang dikeluarkan dengan lirih, namun intensitas juga mata yang memicing tajam membuat semua teralihkan dengan mudah. Laki-laki tampan itu sudah amat sangat marah saat ini.
Sosok itu masih tidak berniat menjawab. Mulutnya terbuka mencoba menggumamkan sebuah kata sebagai wujud penolakkan. Darah itu makin mengalir keluar, sedikit menodai lantai marmer dingin tempatnya tergeletak tak berdaya.
"Kubilang cukup!" Teriakkan dari Jung Soo sedikit mendapat perhatian dari Young Woon. Tatatapannya mengalihkan fokus pada yeoja cantik tersebut. Kilatan sinis tak lupa ia hadiahkan pada sang istri.
"Bawa nyonya keluar." Perintah itu amat tegas, beberapa orang berbadan tegap kini menyeret paksa Jung Soo dari ruangan mencengkam ini. Protes keras dari sang atasan tak dihiraukan. Beberapa dari mereka mencoba menutup telinga demi segempuk uang yang dijanjikan.
"Hiks…hiks…" Isakkan itu menguar kecil. Sosok tampan yang terkulai lemas tadi sekarang mencoba membangunkan diri melawan segenap ketakutan yang ada. Sang ayah mencoba terdiam, menungu kalimat apa yang dilontarkan sang anak sebagai jawaban.
"Aku memperingatkanmu. Ikuti kata-kataku, atau orang itu dan kau benar-benar akan kubawa membusuk dineraka." Lagi sebuah ancaman ditorehkan untuk situasi ini. Donghae tak memperlihatkan raut wajah ketakutan sedikitpun lagi. Ini cukup membuatnya muak, segela perjanjian yang dulu dilakukan sang ayah kini dilanggar dengan mudah. Ia memalingkan wajah sebagi bentuk awal penolakkan. Senyum sinis juga tak lupa dipamerkan.
"Sampai matipun itu tidak akan kulakukan. Kau melanggar janjimu ayah! Kau bilang semuanya tidak apa-apa jika aku mau menikahi Sungmin. Tapi sekarang, kau malah mengancamku dengan hal konyol ini!" Susah payah ia berteriak keras. Segala tenaga dikerahkan, ini pertama kali baginya menyorakkan kemarahannya pada sang ayah.
Bruagh.
Lagi pukulan keras dihadiahkan pada sang anak. Untuk berkali-kalinya Donghae jatuh tersungkur menabrak lantai. Belum sempat ia mendirikan tubuh lagi, pukulan dengan objek kayu keras dilayangkan. Tak main-main, Yong Woon memukulnya dengan sebuah kursi kayu kearah punggungnya.
"Ini tidak akan terjadi jika Kim Heechul tidak tahu, berpisah dengannya sebelum hal yang lebih besar dari ini kulakukan untuk meremukkanmu." Kalimat penutup itu tersamarkan akibat kondisi Donghae yang sudah amat lemah. Tatapannya pada sang ayah makin mengedar, tulang punggungnya terasa patah. Sosok tegap itu kini hilang berbarengan dengan tertutupnya pintu dikamar mewah hotel.
Tubuhnya bergetar hebat, ia tergeletak tak berdaya. Pandangannya lurus terfokus pada pintu. Dengan tenaga yang tersisa, jemarinya terarah mengambil ponsel yang terletak disaku celananya. Ia menekan layar kontak dengan kuat, gerakkan asal dilakukannya demi menempelkan benda tersebut kearah telinga.
Lama, tak ada jawaban. Tubuhnya masih tergeletak tak berdaya. Tangan mulusnya mendekap kuat mulutnya, menyamarkan isakkan yang kian mengeras.
"Hiks…hiks…, kumohon angkat telponku Lee Hyuk Jae."
.
.
.
Dering ponsel yang amat mengganggu dimatikan dengan cepat. Ia tak mau waktunya terusik. Waktu dimana ia tak ingin mengingat sosok tampan itu dalam hidupnya.
Kepalanya mengadah kearah langit, menatap bentangan biru sederhana yang menampilkan keindahan semu dalam kesederhanaan. Jantungnya terus berdegup hebat, senyuman tipis dikeluarkan awal dari reaksinya terhadap putaran masa lalu yang terus terngiang dimemori. Untuk saat ini, sosok manis itu mulai berniat untuk meremehkan takdir
Orang-orang yang berlalu lalang menjadi objek menarik untuk diperhatikan. Matanya memicing tajam, desahan nafas makin cepat dikeluarkan. Langkah kaki dilakukannya melambat, mengikuti arah orang didepan sana. Semakin cepat, semakin cepat, ia masih mencari arah mana yang akan dilalui. Tak ada yang dituju. Ia hanya ingin ketempat yang luas seperti langit diatas sana.
.
.
.
Hyuk Jae tersenyum miris. Ombak-ombak yang tergulung sempurna seperti memaksanya untuk bangun dan melangkah maju. Setiap gulungan, berhasil menjabarkan kesedihan yang menyelebungi hati dinginnya. Sepi, tempatnya berada benar-benar sepi. Hanya ada bebera nelayan juga burung camar yang terlihat asik dengan kegiatan pemanggil alam.
Tubuh kurusnnya dibangunkan dari pasir putih lembut. Perlahan ia melepas sepatu hitam yang menjadi alas kaki. Senyum simpul terkembang saat pasir lembut itu menyapa indera peraba. Lambat… kakinya maju perlahan, mengikuti ilusi yang berbisik. Langkah terus diambil, jarak antara dirinya dengan air asin makin dekat. Gulungan ombak makin membesar, dan ia mencoba tersenyum untuk itu. Suara burung camar kini tak lagi memekkan telinga. Seakan tuli, ia hanya bisa mendengar suara ombak yang berbisik.
Saling bersahutan, menyuruhnya untuk tetap maju. Kaki putih itu kini merasakan dinginnya air laut, satu tangan yang menenteng sepasang sepatu kini terlepas. Raga dan jiwanya seolah tak peduli, kepelikkan hidup ingin diakhiri dengan cepat. Menyapa keheningan adalah keputusnnya saat ini. Dan Tuhan memberinya jalan untuk itu.
Deg!
Jantugnya berdegup terasa hidup. Kalimat Tuhan dari pikirannya sukses menghentikan langkah kaki. Pandangan semu yang dihadiahkan pada laut kini berubah memicing tajam, ia tersenyum sinis.
"Tuhan…" Gumaman tentang sang agung diatas sana menjadi kalimat utama. Bibirnya makin melengkung, ia tak bahagia. Ini penggambaran lain dari kemarahannya. Untuk apa ia memutuskan bertemu Tuhan jika Tuhan pada akhirnya tak memberinya kursi pengampunan. Bukankah itu yang dikatakan Kim Heechul?
"Apa yang harus kulakukan untuk bertemu denganmu? Apakah sekarang? Apakah besok? Apakah aku dimaafkan? Ataukah aku harus membusuk dineraka?" Pertanyaan itu terlontar. Gesekkan angin pada udara seolah menjawab 'tidak' pada pertanyaannya. Lagi senyuman sinis dipamerkan, gerakkan cepat dilakukannya. Ia meraih sepatu hitam yang tergeletak tak berdaya tadi, lalu menghempaskannya melawan arah laut.
Akhirnya ia berbalik, lalu berlari kembali pada posisi semula. Menjauhkan diri dari gulungan ombak yang kapan saja bisa membahayakan nyawa. Ponsel yang bertengger disaku celana, diraih. Ikon kontak seseorang yang dirindukan menanti.
"Yeobsaeyeo? Siwon-hyung ini aku. Apa kau ikut ke Venesia? Bisa kita bertemu?" Setelah mendapat jawaban ia langsung melontarkan pertanyaan itu tanpa basa-basi. Hening, lama ia menunggu balasan. Hingga akhirnya sebuah keputusan terlontar dan menyunggingkan senyuman samar.
.
.
.
Mereka sama-sama menyunggingkan senyum. Ketulusan menjadi alasan, kesedihan menjadi jawaban dari pengkhianatan baru. Kedua orang ini sama-sama merasa nyaman dalam kukungan senja yang menyinari. Cahaya keemasan yang khas terasa dalam. Menghikmatkan kondisi hening dalam jangkuan garis cakrawala.
Pelukan kedua orang ini semakin mengerat, membiarkan kehangatan tak main-main menjalar, menyeluruh menyelimuti tubuh. Siwon dan Hyuk Jae saling merengkuh lebih dalam. Tak peduli dengan suara ombak yang seakan menentang aksi mereka.
Pasir pantai tempatnya berdiri semakin melembut, perasaan hangat yang sulit didapatkan dari sosok Donghae kini dengan mudah didapatkan saat Siwon melintas dalam benak terdangkalnya. Jari-jemari Siwon menyusup kedalam surai hitam Hyuk Jae. Mengeksplor setiap jengkal yang belum terjamahkan.
Perasaan kesepian mereka terjawentahkan ketika kecupan juga lumatan lembut menjadi penyambung tubuh, jiwa juga situasi. Cukup lama, pengambaran perasaan mereka tersampaikan hingga salah satu pihak mulai merasa membutuhkan udara.
Dengan nafas yang terengah Hyuk Jae melepaskan tautan diantara dirinya dengan Siwon. Pengkhianatan yang jauh lebih dalam mulai dilakukan, hingga taruhan hati nurani terus dipertanyakan dalam setiap jengkal senyuman yang terpampang nyata digaris wajahnya.
"Aku tidak tahu kau juga ikut ke Venesia…" Kalimat singkat itu mulai menyambung percakapan. Hyuk Jae hanya mampu tersenyum singkat menanggapi. Kilatan kesedihan yang awalnya terbingkai mulai dihapus, terganti oleh perasaan nyaman yang tak bisa digambarkan secara gamblang lewat kata-kata.
"Semuanya anak itu yang mengatur…, aku hanya bisa ikut dan menurutinya." Siwon mampu menangkap kegetiran dalam kata-kata yang tersampaikan. Perlahan, kaki jenjangnya tertekuk. Terduduk pada pasir putih yang menyerap kehangatan siang kota Venesia.
Tangannya menepuk pelan tempat disamping, menyuruh Hyuk Jae untuk ikut terduduk disampingnya. Hyuk Jae mengangguk sebagai balasan, hingga akhirnya kemesraan antara kedua orang yang sama-sama dilanda kepelikkan itu kembali dipertontonkan.
"Kibum…, dia sudah mengaku." Tatapan pria tampan itu terus melekat pada surya yang mulai berniat bersembunyi. Wajahnya mendadak masam. Nama yang sering ditorehkan dalam hatinya kini tak ingin diucapkan, bahkan hanya untuk mengingat wajah laki-laki cantik itu terasa sulit Siwon lakukan.
Hyuk Jae nampak terkejut, namun sedetik kemudian ia mengulum senyum prihatin. Lengan kurusnya terulur hingga tepukkan lembut pada punggung diberikan untuk menenangkan pria kelewat sempurna itu.
Keadaan kembali hening. Akhirnya mereka memutuskan untuk berkutat pada pemandangan tak kasat mata pada luasnya laut biru. Memaparkan pada takdir bahwa keputusan baru telah dipilih.
.
.
.
Akhirnya cahaya keemasan teremulasi oleh gempulan awan yang menghitam, memudarkan cahaya indah dengan pekatnya kehitaman malam dan tergantikan oleh bulan sebagai penerang lain. Pijakkan lemah terdengar semu, langkah kaki itu terseok-seok menahan beban tubuh. Wajah tampannya terbingai luka, memerah dan teraliri bercak darah.
Sudah hampir tengah malam, waktu yang cukup panjang hanya untuk sekedar bangun dari tubuhnya yang tergeletak lemah tadi. Pandangan miring ketika ia datang, tak menjadi halangan untuk tetap melangkah maju. Jemari lentiknya membuka pintu, menciptakan alunan lambut yang terjadi akibat decitan lemah. Senyum simpul terkembang ketika sosok yang begitu dirindukan juga dicari kini tergeletak manis terlelap menyapa alam mimpi.
Dengan intensitas rendah, ia munutup pintu. Tak ingin pemuda cantik didepannya terbangun akibat ulahnya. Remangan cahaya sedikit membuat langkah kaki tersendat menuju sosok itu, ditambah pandangan yang memudar akibat luka yang dialaminya menjadi penghalang berarti untuk saat ini. Ia mendudukkan tubuhnya tepat disamping ranjang, memperhatinkan setiap garis lekuk yang dihadiahkan Tuhan kepada sang kekasih.
Jemarinya terulur menyibak surai, menghalau objek pekat yang menghalangi setiap pandang.
"Hiks…hiks…" Lagi butiran itu menguar menciptakan sebuah suara kecil yang terdefinisikan sebagai isakkan lemah dari seorang Choi Donghae. Lamat-lamat, tubuhnya mendekat menyisih jarak antara keduanya. Hingga sebuah kecupan lembut Donghae berikan pada sang kekasih. Rasa darah bisa dirasakan inderanya. Menjadi satu, menyatu dengan bibir penuh sang kekasih. Kecupan-kecupan itu makin terasa hangat saat Donghae menggunakan kedua tangannya menahan posisi wajah Hyuk Jae.
Geliatan tak terima dikeluarkan sebagai respon awal keterkejutannya, air mata yang tergenang menambah keterkejutan seorang Lee Hyuk Jae. Matanya membelalak lebar, lagi-lagi ia harus tercekat menerima kenyataan bahwa tubuh juga wajah sang kekasih kini dipenuhi oleh luka.
Rengkuhan tubuh hangat dilakukannya dengan cepat. Tak ingin membuat pelukan itu menjadi sia-sia, Donghae membalas dengan pelukan yang lebih hangat dari sebelumnya. Dan mereka menangis bersamaan…
.
.
.
TBC.
.
.
.
Mind to review?
.
.
.
Author Note:
Hiyyyyyyaaaaaaaaaaaaa! xD, kkk~ kami datang lagi reader-deul~ kkk, ceritanya makin berbelit-belit? Kkk, kami rasa juga begitu #pundung ToT. Ada yang merequest buat Donghae disakitin~ wkwkwkwk, sudah kami buatkan? *evilsmirk. #ditendangbapak.
Ming-eonni #jduarrr! Maksud kami Ming oppa tidak kelihatan di chapt ini? yap! Di chapt ini kami fokuskan untuk konflik antara HaeHyuk, WonHyuk dan Sibum~ jadi Ming dan Kyu masih kami simpen di berangkas #dibekepJOYer.
Oke! Kami mau minta maaf untuk alur cerita yang makin buruk, typo, eyd yang berantakan dll. Wkwkwk xD! Jeongmal jeosonghaeyeo #bow.
Dan untuk yang mereview! Kami ucapkan terimakasih banyak! :* kalian semua penyemangat kami! Sekali lagi terimakasih~ #bow
Anonymouss: kkk~ bukan eon! Bukan eonni! Suer deh! #sungkem~ kkk~ terimakasih reviewnya! #bow.
Sang2gisa: aih…, jeongmal jeosonghaeyeo! Kami memilih Sungmin sebagai cast bukan karna kami benci Sungmin~ kami sayang Sungmin makanya kami pilih dia chingu~kkk #dibogem. KyuMin? Sippp! Chapt depan ne? kkk~
Karakter namjanya jangan terlalu cengeng? Oke! Terimakasih atas sarannya yang membangun! xD. Terimakasih atas reviewnya! Kkk~ #bow
Maaf karna hanya bisa membalas review diatas~ kami buatnya sangat-amat-terburu-buru. Kkkk~
Jadi apa ff ini pantas untuk dilanjutkan? ^^
See You next chapt~ /winks/
xD
