Title: Glass/Yoori.

Author: Meonk and Deog.

Genre: Angst, romance, hurt/comfort.

Rate: M.

Pairing: HaeHyuk.

Slight pair: SiHyuk, HaeMin, SiBum, KyuMin, HenBum, ZhouRy, KangTeuk, Hanchul, YeWook.

Cast: All super junior member.

Discleimer: Character in this story isn't mine! But the story is mine! And only mine!

Warning: Yaoi, Boys love, Shonen-ai, NC activity,GS for Sung Min, Heechul dan Leeteuk, EYD yang berantakan dll.

Summary: "Bukankah cinta seperti kaca? Terlalu frontal dan transparan. Bagi orang sepertiku cinta terlalu menggambarkanku dengan buruk. Pantaskah kusebut cinta? Hal yang terlalu menyakitkan, membawaku pada masa depan, mengoyakku hingga diriku benar-benar nyaris hancur, lalu kembali menariku kemasa lalu yang bahkan lebih buruk dari masa depan itu sendiri."

NO COPAST! NO PLAGIARISM.

Please don't bash chara!

Remember! It's just fanfiction!

Don't' Like Don't Read~

.

.

.

Author Pov.

Ia tersentak, pandangan mata entah mengapa menjadi begitu buram. Bukan hanya buram, perlahan segala warna mulai tersamarkan, hilang dan menampilkan kepekatan yang membutakan indera. Di dalam ruangan yang begitu gelap, Hyuk Jae terus berlari menyamakan langkah dengan suara dengung yang menyerang gendang telinga.

Namun ia tetap berada di tempat yang sama, tak berpindah barang sejengkalpun. Wajah putihnya mulai pucat, bahkan tak ada jalan keluar ditempat asing ini, indera perabanya hanya bisa merasakan udara. Begitupun kedua maniknya, tak mampu melihat apapun. Hanya satu warna yang terus menerus mengerubungi. Akhirnya ia berhenti melangkah saat seseorang mulai menggumamkan namanya.

Mengatupkan kedua kelopak mata singkat ketika sebuah sentuhan lembut menyentuh pipi, rasanya begitu nyaman dan tak asing. Ia mulai menerka siapa pemilik kedua jemari yang tengah bertaut diwajahnya. Tanpa segan, Ia mulai membuka mulut, mencoba untuk berinteraksi pada sosok didepan sana.

"Hae…" Ucapannya tersendat, ketika sebuah benda keras tepat berada disamping pelipis. Jantungnya tiba-tiba berpacu tak stabil, ada perasaan aneh. Bunyi klik tak asingpun mulai kembali terdengar. Beberapa detik posisi mereka seperti ini, dengan sebuah benda yang menempel erat dikepala juga jangan lupakan sosok didepan sana yang belum mengeluarkan sepatah kata apapun, berhasil membuat Hyuk Jae jengah. Ia berniat melangkahkan kaki namun ketika hal itu terjadi…

Klik…

Kegelapan mulai teredam, cahaya-cahaya terang mulai datang menyilaukan retina. Hyuk Jae membuka mata perlahan, dan lagi-lagi ia harus terbelalak.

"Apa yang kau lakukan?! Jauhkan pistol ini dariku!" Wajahnya bergetar, tubuhnya-pun mulai mengeluarkan keringat. Sebuah pistol melekat ditengah kepala, dengan pelatuk yang hampir tertarik. Hyuk Jae takut, ditambah dengan ekspressi datar sosok didepan sana terlihat begitu mengerikan.

"Cepat jauhkan!" Teriakkannya memekkan telinga, kedua lengannya hendak menepis namun harus kembali terhenti akibat sesosok yang kembali menggertak, meletakkan jari ditengah pelatuk tanpa sedikitpun memamerkan raut wajah berarti.

"Kenapa kau melakukannya lagi?" Sayup-sayup, ditengah kesunyian Hyuk Jae dapat mendengar suara itu. Hyuk Jae hanya menggeleng, ia tak tahu apa yang tengah dipertanyakan.

"Aku tidak melakukan apapun!" Giginya bergemeletuk, pada ketakutan yang mendalam ia mencoba menetralisir. Pandangannya terus-menerus tertuju pada satu arah, ujung pistol yang kapan saja bisa menenggelamkan nyawanya kedalam lubang hitam neraka.

"Kau mengkhianatiku!" Hyuk Jae membulatkan mata, satu kalimat yang selalu tak ingin didengarnya kini terlontar. Tenggorokkannya serasa mati, ia tak bisa menyangkal bahkan hanya untuk bernafas serasa begitu kelu. Perlahan ia melangkah mundur, suara tapakkan terdengar begitu kontras ditengah kesunyian yang terjadi diantara mereka.

"Kenapa kau melakukannya padaku?" Lagi tak ada respon, hanya gelengan tanda ketakutan yang dilontarkan Hyuk Jae. Ia terus melangkah mundur, namun sosok disana malah semakin mendekatkan tubuh. Menepis jarak yang menjadi penyekat antara kedua insan ini.

"Katakan padaku kenapa kau melakukannya! Bahkan kau melakukannya dengan Choi Siwon! Hyung-ku Lee Hyuk Jae!" Hyuk Jae terjatuh kelantai, derai air mata tak mampu dihindarkan lagi. Ia hanya bisa terisak, bahkan tak mencoba menyangkal saat benda itu kembali berada didepan mata.

"Bukankah sebaiknya kita mati bersama?" Saliva Hyuk Jae tertelan kasar, ia membulatkan mata dan sontak memfokuskan pandangan pada sosok yang tengah berdiri didepan mata.

"Kau gila?!"

"Bukankah kita sama-sama gila? Kau gila karena uang, dan aku yang gila karenamu." Lagi-lagi, sosok itu mendekat maju. Isakkan Hyuk Jae semakin mengeras, ia memejamkan mata saat jemari Donghae terlihat mulai menarik pelatuk. Tak pernah terpikirkan dalam benaknya, sosok yang pernah dicintai akan membawa dirinya menjemput kematian.

"Kita akan bertemu setelah ini, aku mencintaimu…" Dan seketika perkataan Donghae membuatnya harus kembali membuka mata…

DOR!

Pandangannya meremang, jiwanya telah pergi bersamaan dengan sketsa Donghae yang menyatu dalam kegelapan.

.

.

.

"Hyuk Jae-ah…"

"…"

"Hyuk Jae-ah…"

"…"

"Hyuk Jae-ah…"

"Donghae!" Donghae terpekik saat tubuh Hyuk Jae tiba-tiba terbangun, meneriakkan namanya begitu kencang membuat tubuhnya terdorong, menyapa jok mobil dengan sangat keras hingga menciptakan benturan kecil pada punggung.

Donghae meringis, denyutan kecil serasa menjalar keseluruh tubuh. Namun sebuah isakkan samar menghentikan aksinya, matanya membulat ketika tetesan bulir air mata mulai membasahi wajah Hyuk Jae.

Perlahan ia mendekat, tubuh Hyuk Jae masih bergetar dengan mata yang tersorot tak menentu. Kedua jemarinya perlahan menyentuh surai kehitaman sang kekasih, mengelusnya lembut lalu kembali bertatap pandang.

"Ada apa denganmu?" Sang kekasih tak merespon, sesekali ia menggertakkan gigi. Ruang imajinasi yang terlalu tinggi membuat mimpinya selalu buruk, bahkan ini yang terburuk.

"Hei." Gurat kekhawatiran mulai nampak, Donghae menggenggam jemari Hyuk Jae dengan lembut. Membawa tubuh Hyuk Jae perlahan kearah pelukannya, tatapan mata Donghae seolah menuntut penjelasan dari tangisan yang terjadi.

"Kau membunuhku…" Donghae menghentikan aktifitasnya, indera motoriknya serasa kaku. Ucapan Hyuk Jae seperti terulang terus menerus, perlahan rengkuhan itu terlepas. Manik mereka kembali bertabrakkan, samar-samar wajah Donghae mulai terlihat tak setenang tadi.

"Kenapa aku melakukannya?" Suara lembut itu membuat Hyuk Jae menggeleng, rasanya aneh jika semua kebohongan yang terangkum rapi malah terbongkar begitu saja. Beberapa saat menimbang, Hyuk Jae hanya menggeleng sebagai respon.

"Aku tidak tahu…" Donghae tersenyum kecil dibalik kekhawatirannya, jemarinya kembali terangkat dan menyentuh sejenak kedua pipi yang bersemu merah akibat tangisan tertahan.

"Kalau begitu jangan pernah memikirkan hal itu, aku hanya akan membunuhmu jika kau tidak lagi bersamaku." Kalimat itu terkombinasi dengan suara yang amat pelan, namun entah kenapa serasa begitu memekkan. Hyuk Jae tersentak, matanya terbelalak lebar. Ucapan Donghae tepat menghujam relung.

Beberapa saat Hyuk Jae terdiam, saliva yang terkumpul akibat rasa takut ditelannya dengan cepat lalu menghapus kristal bening yang menggenang di wajah. Ia memalingkan wajah kearah jendela mobil, sama sekali tak membiarkan kedua mata mereka saling berkontak.

"Aku tak menyangka kita akan secepat ini pulang ke Seoul, dan aku tak menyangka bekas memar diwajahmu akan membekas selama itu. Ini bahkan sudah hampir sepekan." Ia mencoba mengalihkan pembicaraan. Bahkan kepulangannya dari Venesia tidak mampu mengembalikan ketenangan. Donghae mengulum senyum, tatapannya terfokus kearah jalan. Menyetir mobil dengan kecepatan minim ditengah derasnya hujan kota Seoul.

"Kau harus menunggu sampai 4 bulan lagi, hingga semuanya benar-benar berakhir."

.

.

.

Aroma khas hujan menulusup masuk, mendominasi ruang penciuman. Dia tak tahu apa yang sudah membawanya ketempat ini. Hanya keegoisan, dimana ia diberikan langkah untuk mengubah hidup. Ditengah-tengah suhu yang merendah, ia mengeratkan mantel. Tak membiarkan udara yang mendingin menyentuh indera, apalagi membekukannya.

Kaki rampingnya tak pernah tinggal diam, sesekali tergerak tak tenang ketika pertanyaan yang begitu tak ingin dipertanyakan malah menuntutnya. Helaan nafas yang tak beraturan menandakan ketakutan juga keraguan, namun ketika pihak berwenang mulai mempertanyakan keyakinannya, perasaan samar kembali datang. Menguasai segala pemikiran hingga watak egoisme harus digerakkan. Dan jawaban 'ya' dengan intonasi mantap selalu dilontarkan.

"Haruskah aku memberikan ini pada suamiku?" Pertanyaannya membuat sosok didepan sana mengerinyit, namun sedetik kemudian ia mengangguk cepat. Menyerahkan lembar demi lembar kertas putih, kertas putih yang bisa dengan mudah menghapus statusnya.

"Seperti apa yang sudah kuberi tahu tadi, ada beberapa ketentuan yang memang harus dipenuhi. Kau bisa bicarakan lagi dengan suamimu jika masih merasa ragu-"

"Aku tidak ragu, aku akan segera menyiapkan pengacara." Kata-kata sosok itu terpotong, ketika Kibum mulai menyuarakan ketidak setujuan. Sosok itu hanya tersenyum, kemudian mengangguk dan mulai berdiri dari tempat duduknya.

"Baiklah, mungkin seminggu lagi kau bisa menyerahkan semuanya. Kalau begitu aku permisi." Anggukkan formal dilakukan selama beberapa detik, sosok berkacamata tebal itu kembali melanjutkan aktvitas, melangkah pergi menuju tempat dimana ia memulai pekerjaan baru.

Disinilah Kibum berada, berada dalam kantor kejaksaan dengan wajah yang amat pucat. Jemarinya menggenggam beberapa berkas dengan kuat, tak mempedulikan buku-buku kuku yang sudah memutih akibat kepalan yang begitu menyakitkan. Akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri, mengakhiri segalanya.

Beberapa saat termenung, ia mulai meraih ponsel yang berada tak jauh dari jangkuannya. Menghubungi kontak seseorang, dan ketika sebuah jawaban dari panggilan membuahkan hasil. Jemari lentiknya segara mengarahkan ponsel mahal itu kearah telinga.

"Yeobsaeyo?" Suaranya serak, dengan nada rendah seperti sedang memulai aktifitas yang begitu melelahkan. Dan Kibum cukup tahu, suara seseorang yang begitu tak ingin didengarnya bersama dengan sang kekasih.

"Henry-ah…" Suara lain menginterupsi panggilan. Bahkan suara desahan samar terdengar dengan amat sangat jelas.

"Ini aku…" Kibum mengatupkan mata, mencoba untuk tak mengeluarkan nada aneh. Sesekali ia menggigit bibir, menahan sesuatu yang ingin segara dikeluarkan.

"Aku tahu…" Nada disebrang sana terlalu dingin untuk diidentifikasikan sebagai suara sang kekasih, bahkan diusia hubungan mereka yang hampir menginjak angka keempat tahun, ini baru pertama kalinya suara sinis itu terdengar, terucap dari bibir sang kekasih.

"Aku melakukannya…, melakukan apa yang kau inginkan." Henry mengekerutkan kening saat pembicaraan mulai terjadi, sesaat ia terdiam untuk mengerti dan ketika perkataan itu mulai terproses. Henry tersendat, ia bahkan tak berseru kaget untuk mengambarkan keterkejutan. Bahkan hanya untuk menelan saliva, Henry serasa akan meregang nyawa.

"Hyhyung." Ia tak mampu lagi berbicara, entah harus senang atau tidak. Semuanya seperti tercampur menjadi satu.

"Ini keputusanku, aku melakukannya bukan karena ingin bersamamu. Ini cukup melelahkan bagiku dan aku ingin mengakhirinya. Semuanya terserah padamu, aku tidak akan memaksa, karena aku tahu kita tidak pernah saling mencintai." Henry terbelalak ketika kalimat terakhir terucap, bahkan ia dapat mengingatnya dengan jelas.

Baru hendak menepis persepsi buruk dari Kibum, panggilan segera terputus. Menyisakkan Kibum yang terisak ditengah derasnya hujan.

.

.

.

Sungmin mengadahkan wajah, dibalik jendela apartement ia bisa melihat jelas tetesan-tetesan air yang saling berlomba untuk membasahi wajahnya. Pelukan yang diberikan, tidak benar-benar dapat menghangatkan. Sungmin mengatupkan mata, menyapa sketsa hitam yang sejak lama dirindukan. Berniat mengalirkan dua ketenangan pada jiwa juga nuraninya.

"Pagi ini menyenangkan bukan?" Sungmin mengangguk dibalik rengkuhan pemuda itu. Senyum manis sedikit terlampir dibalik kegiatan dua insan ini. Suara riak air yang beradu dengan tanah coklat menjadi senandung lain bagi mereka.

"Apa menurutmu pagi selanjutnya akan lebih menyenangkan?" Kyuhyun menggidikkan bahu dibalik pertanyaan Sungmin. Ada beribu kemungkinan yang akan terjadi, dan ia tahu kemungkinan buruk akan mendominasi langkah mereka.

"Apa pendapatmu jika aku menyerah?"

"Cara apa yang akan kau lakukan untuk menyerah?" Kyuhyun mengeratkan rengkuhannya, ada gejolak batin ketika pembicaraan mereka mulai tertuju pada sosok itu. Kali ini Sungmin yang menggidikkan bahu, ia pikir cara buruk mungkin akan menjadi pilihan.

"Ibuku bilang, menghancurkan adalah pilihan terakhir." Kyuhyun belum berniat merespon, ia masih memproses segalanya. Dan suara dering dari ponsel Sungmin yang tergeletak tak jauh, cukup memberikan arti bahwa percakapan ini memang harus dihentikan.

"Ada telpon…" Kyuhyun berujar lembut sebelum memberikan kecupan tepat didaun telingan wanita cantik itu.

.

.

.

"Tadi kau menelpon Sungmin?" Percakapan mereka mulai terdengar, Donghae yang keluar dari bilik kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk sebatas pinggang cukup terkejut atas interaksi yang dilakukan sang kekasih dan sang istri.

Si lawan bicara mengangguk singkat, senyumannya mulai terkembang ketika siluet Donghae muncul menampakkan wajah tampannya ditambah dengan surai yang terbasahi oleh tetesan air, Hyuk Jae cukup mengakui bahwa sang kekasih memang pantas disebut tampan.

Hyuk Jae berjalan perlahan kearah Donghae, meraih sebuah handuk yang berada tak jauh dari jangkauannya. Lalu kembali melanjutkan langkah, menuju tubuh sang kekasih dan meletakkan handuk yang sempat diraihnya kearah surai Donghae yang terbasahi oleh air.

"Kau harus menjaga kondisi tubuhmu…" Jemari Hyuk Jae bergerak tak beraturan, mengeringkan rambut brunette Donghae perlahan sembari mendekatkan tubuh mereka, sedangkan Donghae hanya mampu mengulum senyum. Setidaknya kegiatan memadu kasih ini cukup jarang dilakukan ditengah-tengah kegiatan pertengkaran yang kerap terjadi.

"Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi…" Perkataan Hyuk Jae teredam ketika helaan nafas yang terdengar kontras memenuhi ruangan sunyi tempatnya berada, ada rasa ragu untuk melanjutkan ucapannya ketika tatapan Donghae seolah berniat untuk membungkam pembicaraan.

"Kau bisa melakukannya." Jemari yang awalnya diletakkan diatas pinggang, mulai bergerak menjauh. Menggapai tangan Hyuk Jae yang berada diatas surainya lalu mengenggamnya dengan erat.

"Aku akan menghentikannya." Lagi ia berujar, menyuarakkan sedikit pendapat ditengah rengkuhan yang semakin menipiskan jarak. Deru nafas Donghae-pun mulai berpacu, perasaan tak tenang mulai menulusp ketika pembicaraan mereka mulai terdengar tak mengenakkan untuk posisinya.

"Apa yang harus dihentikan? Hanya diam dan jangan lakukan apapun, biarkan aku yang melakukan semuanya." Intensitas suara Donghae semakin meninggi, hingga terdengar sedikit bergetar saat ia mencoba mengaturnya. Tubuhnya-pun semakin mendekat maju, tak ada sedikitpun rasa ingin kehilangan. Ia bahkan sudah mempersiapkan semuanya untuk 4 bulan yang dijanjikkan.

"Semuanya…, aku ingin menghentikan semuanya." Hyuk Jae menundukkan wajah dalam-dalam, ada satu hal yang bisa dipertaruhkan untuk mendapatkan segalanya, dan sekarang. Jati diri arogan mulai terproses, membuat sedikit saja sisi egoisme dan meruntuhkannya. Hyuk Jae rela melakukannya hanya untuk sosok didepan sana.

"Dengan meninggalkanku?" Hyuk Jae kontan menggeleng, bukan itu yang ingin dipertaruhkan. Dan walaupun ia ingin melakukannya, Donghae pasti tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

"Aku akan memohon padanya. Ancaman Ibu wanita itu benar-benar membuatku takut…" Sebercik raut wajah berbeda ditampilkan ketika pembicaraan mereka terhenti, pilihan merendahkan diri kini menjadi jawaban. Donghae terpejam sejenak, sebelum akhirnya mengecup singkat bibir plum sang kekasih.

"Apa menurutmu kau akan berhasil? Bahkan cara itu sudah kulakukan sejak dulu." Nada bicara ragu dari Donghae sekali lagi membuat Hyuk Jae harus menghela nafas, namun ia mencoba untuk tak putus asa. Tujuannya hanya satu, menghentikan ini sebelum semuanya menjadi semakin rumit.

"Aku tidak benar-benar yakin, tapi jika aku. Mungkin itu akan membuatnya merasa sedikit puas." Sekali lagi Donghae diam, kata-kata itu sudah cukup baginya untuk menggoyahkan pemikiran Hyuk Jae. Dalam diam, ia berharap Sungmin akan benar-benar melakukannya.

.

.

.

Sosok manis itu terlihat buruk didepan refleksi cermin. Ada begitu banyak noda ditubuhnya, dengan berbagai dosa yang dilakukan ia mulai memejamkan mata erat-erat. Bahkan bekas yang ditimbulkan usai pergelutan panas, ia yakin tak akan hilang dengan mudah.

Siapa yang menyangka kini ia kalah oleh rasa goyah, dengan seribu pemikiran ia mulai terjebak kedalam penawaran singkat itu. Frasa-frasa nyata itu mulai muncul, dengan kejanggalan yang menyesakkan ia membuat dirinya kembali terpendam dalam cinta yang lebih menyakitkan dari sebelumnya. Henry…, memutar leher. Menatap sang kakak yang tertidur pulas tanpa busana dibalik pantulan cermin.

Tubuhnya sudah terjamah, terjamah oleh seseorang yang tak dicintai dan kini sudah penuh dengan luka. Bukan luka yang ditinggalkan oleh Zhoumi, bukan juga luka karena Kibum. Ini luka yang tercipta oleh hati nurani yang mengkarat. Ia tersenyum, kata-kata Kibum yang menyayat batin sukses membuatnya tak mampu lagi meneruskan pilihan. Ia ingin menyerah, dengan batas waktu yang telah ditentukan. Ia memantapkan pilihan.

'Karena aku tahu kita tidak pernah saling mencintai…' Rasanya begitu menyakitkan saat kalimat itu terus berputar, memenuhi pikiran bahkan mengusai indera pendengaran. Tak ada kegetaran dari intensitas nadanya, dan ia tahu Kibum memang tidak pernah mencintainya. Tapi ia bersumpah, bahkan sampai saat ini ia tak pernah berpikir untuk melupakan.

"Haruskah aku melakukannya hyung?" Ia bermonolog, reaksinya memang tak berlebihan, kedua manik yang menatap lurus kearah cermin sama sekali tidak menampakkan gurat kesedihan. Namun tetesan air mata yang mulai melewati pipi putih, tak disadari. Ia hanya mampu terpejam sekuat tenaga, berharap pergi adalah keputusan yang tepat.

.

.

.

"Apa yang ingin kau bicarakan? Jika ingin bertemu denganku kau bisa menyuruhku datang ke café milikmu. Tidak perlu pergi jauh-jauh ke Pyeongchang-dong hanya untuk minum secangkir kopi panas." Bibir pulm-nya menyesap sedikit demi sedikit cairan pekat, jemari lentik yang mengapit sisi cangkir menciptakan keeleganan tersendiri yang melekat sempurna, sesekali Hyuk Jae menajamkan penglihatan saat kilatan tak ramah menjadi hadiah atas undangan tiba-tiba yang dilakukannya.

"Aku butuh ketenangan dan privasi tentunya. Terlalu menganggu jika harus membicarakan hal ini ditempat itu." Ditengah keparauan Hyuk Jae menjaga nada, sesekali ia memalingkan wajah saat kontak mata yang terjadi. Sungmin hanya menggidikkan bahu, ia sama sekali tak peduli dengan alasan yang dilontarkan. Cukup datang dan bicara. Lalu semuanya akan selesai.

"Kalau begitu apa yang ingin kau bicarakan padaku?" Sungmin menyilangkan tangan didada, punggungnya menempel erat pada badan kursi sementara wajahnya sedikit mengadah untuk menangkap dengan jelas reaksi Hyuk Jae saat berbicara padanya.

"Bisakah aku mengatakannya?" Sungmin mengkerutkan kening sejenak, lalu mengangguk saat dirasa Hyuk Jae memiliki hak untuk melontarkan pendapatnya.

"Ceraikan Donghae…" Kalimat yang terlontar skeptis itu membuat Sungmin tertohok. Wajahnya memerah meredam emosi yang meluap, jemari yang awalnya mengapit lembut pinggir cangkir dieratkan.

"Atas dasar apa kau menyuruhku melakukannya?" Dagu Sungmin terangkat naik, tak segan-segan ia melontarkan tatapan mengintimidasi. Namun Hyuk Jae malah merespon sebaliknya, tanpa ekspressi. Hanya tatapan datar seolah ia tak peduli.

"Aku tidak punya alasan, aku hanya ingin kau menceraikan kekasihku." Sungmin terperangah, wajahnya menatap Hyuk Jae tak percaya.

"Kekasihmu?" Penekanan kata itu dihadiahkan anggukan singkat, Sungmin tersenyum sinis sebelum melanjutkan kalimat selanjutnya.

"Pernikahan kami baru saja berlangsung, jadi itu tidak mungkin." Sungmin kembali bersikap tenang. Sesekali ia menghela nafas, tak ingin memperlihatkan reaksi berlebihan pada sosok didepannya.

"Kau bisa melakukannya jika kau mau." Hyuk Jae semakin meninggikan suara, bahkan ketika ia mengucapkan kalimat itu, ia sama sekali tak berkedip. Hanya untuk mendapatkan kata 'ya' ia akan melakukan segalanya.

"Tapi aku tidak mau, bahkan tidak bisa." Sungmin menjeda, ia menyunggingkan senyum lalu kembali menatap sosok didepannya, membuka sedikit mulut sebelum melanjutkan. "Bahkan jiwa yang tak bersalah harus kukorbankan untuk orang hina seperti Choi Donghae, jadi untuk apa aku melakukannya?"

"Kau hanya harus melakukannya, lupakan anak yang telah mati itu, lupakan Choi Donghae, lupakan segalanya. Anggap ini permintaan maaf dariku, bukankah ini yang selalu kau inginkan dariku?" Sungmin menggeleng sebagai jawaban, ia melakukannya bukan karena permintaan maaf tak berarti dari sosok didepannya.

Ia melakukannya demi jiwa yang telah pergi, jiwa yang pergi akibat kenaifannya.

"Aku menginginkan kehancuran kalian…" Suaranya terlalu lembut, nyaris tak terdengar. Tapi jarak antara mereka berdua begitu dekat, dan kata-kata itu sukses membuat Hyuk Jae terdiam sejenak.

"Kau berhasil melakukannya. Bahkan sangat sukses, karir Donghae hampir hancur, kau menghancurkan orang yang kau cintai, bahkan membuatnya terluka. Kau tahu bahkan Donghae harus menerima banyak pukulan karena ulahmu!" Hyuk Jae tak mampu lagi meredam kekesalannya, untung saja suasana café tempat mereka berada begitu tenang, hanya beberapa sosok yang datang sembari menikmati sore dimusim gugur.

"Itu bukan salahku! Itu salah kalian! Kenapa aku harus memikirkannya jika dia saja tidak pernah menyadari kesalahannya?! Anakku mati! Sebagai seorang ayah seharusnya dia bersikap tegas! Bukan malah membiarkan pelacur sepertimu merusak hubungan kami dan membiarkan egomu untuk membunuhnya!" Sungmin mengumpat keras, lelehan air mata itu terus jatuh membasahi wajahnya. Ini sudah kesekian kalinya ia menangis, menangis didepan siluet seseorang yang membuat hidupnya hancur berkeping-keping.

"Aku bahkan harus berada di Jepang selama beberapa bulan hanya untuk pemulihan…" Ia melanjutkan dengan nada lembut, sesekali jemarinya mencoba untuk menghapus sisa air mata namun tetap tak berhasil. Jatuh, tanpa penyekat sedikitpun.

"Itu bukan salahku, bukan juga salah Donghae." Rahang Hyuk Jae mengeras, ia mendirikan tubuh saat dirasa permohonan singkatnya harus berhenti sampai disini. Sebelum melangkah pergi meninggalkan Sungmin, ia terdiam memikirkan kalimat apa yang seharusnya menjadi penutup.

"Jika kau memang ingin menghancurkan kami, biarkan kami bersama. Tuhan akan dengan senang hati melakukannya untukmu. Pikirkan kata-kataku dan berhenti menyuruh ibumu untuk menemuiku." Ia melangkah keluar, tanpa sedikitpun memberikan tatapan iba pada sosok Sungmin yang terisak ditengah-tengah kesunyian.

Sosoknya semakin menghilang, bahkan rintihan kesedihan wanita cantik itu tak mampu menghentikan langkahnya untuk pergi.

.

.

.

Lee Hyuk Jae melangkah cepat, stasiun bawah tanah dipenuhi dengan berbagai sosok yang menghimpit tubuh kurusnya. Ia berlari kencang, ketika lautan manusia mulai berusaha melanjutkan aktifitasnya dengan meninggalkan stasiun kereta bawa tanah.

Trakkk!

Baru hendak menoleh untuk menyadari sebuah objek yang jatuh, tubuhnya kembali terhimpit untuk tetap melangkah maju. Tanpa sedikitpun memberi ruang untuk menggapai ponsel yang Donghae belikan untuknya, sekumpulan para pekerja kantor kembali mendesaknya untuk melangkah maju.

Ia mendesah pelan, ponsel bukanlah sesuatu yang akan dikeluhkan Donghae jika ia memintanya lagi, namun saat sebuah bunyi benturan terdengar dari kedua objek kasar yang saling bertabrakkan, perasaan tak nyaman mulai menyeruak masuk. Menciptakan sebuah persepsi-persepsi tak masuk akal yang mungkin saja akan menjadi nyata.

Akhirnya ia mulai terbebas dari pengapnya stasiun kota, mulai terlihat jalan Seoul yang disinari bias senja sang surya. Syal tebal yang membalut wajahnya dieratkan, baru hendak melanjutkan kepulangan dengan berjalan kaki sebuah suara malah menginterupsi langkahnya.

"Hyuk Jae-ah…" Hyuk Jae membalikkan tubuh kearah belakang, mata sipit itu sontak membulat ketika menangkap wajah seseorang kedalam ruang pandang.

"Siwon hyung?!"

.

.

.

Sungai Han nampak lebih tenang, alirannya-pun tak sederas tahun-tahun lalu. Tak ada suara riak yang selalu ingin mendominasi, hanya kedua insan yang saling menderukan nafas dibalik hembusan angin musim gugur. Sorot mata Hyuk Jae tak pernah lepas dari deretan air sungai ini, tempat dimana kebohongannya diketahui oleh 'pelanggan masa lalunya'. Tempat dimana ia memulai sebuah dosa baru.

Jemari mereka saling bertaut membentuk, mengikat tangan masing-masing. Kehangatan tersalur pasti meningkatkan suhu yang terjadi atas suasana hening dimobil mewahnya. Sesekali pemuda tampan itu menghadiahkan senyum, tetap tak ada kalimat yang digumamkan. Pandangan yang saling beradu menjadi interaksi lain antara dua insan.

"Kenapa kau bisa ada disini? Tidak ke café?" Siwon, laki-laki tampan itu memulai percakapan. Hyuk Jae terdiam, mulutnya yang terkatup rapat belum berniat membalas ucapan yang dilontarkan. Hanya anggukkan, pemuda manis ini tak ingin memulai percakapan panjang.

"Hyung aku lelah, bisa kau antar aku pulang." Sebuah kalimat akhirnya terlontar dari bibir kissablenya. Raut wajah yang menjenuh, mendefinisikan bahwa kelelahan yang diterima batin amat mendera akhir-akhir ini.

"Kerumahmu yang dulu?" Pertanyaan itu dibalas gelengan singkat. Maniknya kini terlaih pada mata elang sosok disampingnya, tatapan sendu dihadiahkan.

"Tidak, ke apartementku dan Donghae." Ucapnya tanpa jeda. Keraguan tak terlihat sedikitpun. Siwon membelalakkan mata, ide gila yang diucapkan spontan membuat jantungnya berpacu kencang. Ia menggeleng, jika menyetujui hal itu. Maka segala kemungkinan-kemungkinan buruk akan benar-benar terjadi.

"Kau tahu, itu akan-"

"Donghae bilang dia akan pulang lebih malam, jangan khawatir." Ucapan Siwon terpotong, senyum lima jari yang diperlihatkan tak benar-benar membuatnya yakin. Namun entah kenapa kepalanya mengangguk, tak ada kata tidak padahal akal sehatnya jelas-jelas menolak hal itu.

.

.

.

Donghae terduduk disisi ranjang, rasa tak nyaman hinggap sedari tadi, hingga membuatnya melupakan tanggung jawab, melupakan pekerjaan dan pergi tanpa ada sedikitpun rasa bersalah. Jadwal yang menumpuk, dilalaikan, ia tak peduli. Toh, namanya sudah buruk ditengah masyarakat.

Berulang kali ia mencoba menghubungi laki-laki itu, namun sosoknya tak pernah membalas panggilan. Terus diabaikan membuat pikirannya benar-benar tak tenang, segala kemungkinan mulai terangkum dan menciptakan kegelisahan tak kasat mata.

Akhirnya ia jengah, kunci mobil yang diletakkan diatas meja nakas segera diraih, dengan langkah yang menapaki lantai marmer dingin, ia berjalan keluar apartement. Menyusuri setiap tapakkan dengan pandangan menyelidik kesegala arah, berharap sesosok yang dikhawatirkan dengan mudah segera ditemui.

Bunyi lift yang terbuka segera dimasuki, tak segan-segan ia memencet tombol lantai dasar, segera beranjak pergi ketempat dimana sang kekasih biasanya berada lalu merengkuhnya lembut kedalam pelukan.

Surainya bertabrakkan, kecepatan langkahnya semakin terdefinisi saat pintu lift terbuka, memberikan pemandangan nyata parkiran apartement kearah indera. Langkahnya hendak mendekati arah mobil audi hitamnya, namun dua sosok yang berada tak jauh dari posisi, berada didalam mobil dengan cumbuan yang makin lama makin intens, membuatnya sontak berhenti melangkah.

Matanya memicing, mencoba menerka-nerka siapa sosok yang tak asing itu. Dan ketika pandangannya semakin jelas menangkap adegan-demi adegan yang ditampilkan, tanpa sadar setetes air mata jatuh. Tak mempedulikan statusnya sebagai seorang laki-laki.

Siwon, seseorang yang diberikan sebuah kecupan hangat dibibir oleh Hyuk Jae hanya membalasnya dengan senyuman hangat. Ini sudah biasa dilakukan, bahkan diawal pertemuan mereka pada 5 tahun yang lalu, hubungan mereka bisa dibilang lebih intim dari ini. Setalah memberikan salam perpisahan, Hyuk Jae segera keluar dari mobil.

Memberikan lambaian hangat pada sosok Siwon yang sudah membalikkan mobil, segera menjauh dari tempat yang mungkin bisa saja membahayakan posisinya.

Hyuk Jae membalikkan tubuhnya, dengan senyuman yang masih melekat diwajah. Ia melangkahkan kaki terus-menerus, tanpa melihat sosok didepan sana. Dan saat ia mengangkat wajah, hanya satu kata.

Tubuhnya bergetar, dengan ketakutan yang seakan-akan siap menenggelamkannya. Wajah Donghae yang terpenuhi dengan lelehan air mata, diam mematung tanpa sedikitpun memberikan tanda kehidupan. Hyuk Jae serasa bisu, indera motoriknya tiba-tiba mati tanpa sedikipun membiarkannya bergerak.

Brukkk!

Bahkan ketika tubuh Donghae jatuh terduduk dilantai, ia tak mampu melanjutkan langkah hanya untuk menggapainya. Bibirnya serasa kelu mengucapkan alasan hanya untuk sekilas berkilah. Wajahnyapun memanas, ia tahu ini akan menjadi sangat buruk.

"Kau melakukannya…, sekali lagi kau melakukannya. Bahkan dengannya…, dengan orang itu…" Saliva Hyuk Jae tertelan kasar, suara yang mengalun pelan, terasa memekkan telinga.

Bahkan ketika perasaan mereka nyaris hancur tak berbekas, Hyuk Jae hanya bisa berdoa.

.

.

.

TBC.

.

.

.

Mind to Review?

.

.

.

Author note: Ff-ini resmi bangkit (?) dari status semi hiatus. ^0^ hohoho~ Maaf atas keterlambatan updetnya, untuk chapt depan kami berencana mengudapte secapatnya. Karena memang, mungkin 2/3 chapt lagi cerita ini akan berakhir.

Maaf untuk segala kesalahan yang memperburuk ff-ini, seperti alur yang membosankan, typo, dll. Dan Terimakasih untuk para reviewer dan pembaca yang selalu menunggu kelanjutan ff ini. #bow.

Maaf juga belum bisa membalas semua review #deepbow.

Cho leelee: Sebelumnya salam kenal ^^ #deepbow dan terimakasih atas review dan pujiannya. Kami benar-benar merasa tersanjung. Ahh…mungkinkah Cho leelee-ssi adalah Author Cho leelee yang membuat ff mirrored love dan Costa Concordia? Jika iya kami benar-benar beruntung! Tahukah anda jika kami sebenarnya fans ada! Huwa xD! Sangat senang bisa bertemu disini! Dan tolong lanjutkan ff-mu Author-nim! Kami benar-benar menunggunya. Kami harap anda membaca balasan review ini ^0^. Sekali lagi terimakasih atas reviewnya~ #bow.

Thanks to review: Angelsuckid| Kikieunhaechul| Sang2gisa| Anonymouss| Anchofichy| Jewelrain| Amandhharu0522| Najika bunny| Lee Haerieun| PutriHaeHyuk15| Mizukhy yank eny| Eunhae forever| Haehyuk polarise| Cho leelee| Tina KwonLee| F-polarise| Niknukss| Dekdes| Lee ikan| Bluerissing| Melodyna|

*0* Terimakasih atas reviewnya~ #bow. Maaf jika ada salah kata dan ada yang belum disebut. Jangan kapok merivew ne? Sampai jumpa di chapt depan~