Title: Glass/Yoori.
Author: Meonk and Deog.
Genre: Angst, romance, hurt/comfort.
Rate: M.
Pairing: HaeHyuk.
Slight pair: SiHyuk, HaeMin, SiBum, KyuMin, HenBum, ZouRy.
Cast: All super junior member.
Discleimer: Character in this story isn't mine! But the story is mine! And only mine!
Warning: Yaoi, Boys love, Shonen-ai, NC activity,GS for Sung Min, Heechul dan Leeteuk, EYD yang berantakan dll.
Summary: "Bukankah cinta seperti kaca? Terlalu frontal dan transparan. Bagi orang sepertiku cinta terlalu menggambarkanku dengan buruk. Pantaskah kusebut cinta? Hal yang terlalu menyakitkan, membawaku pada masa depan, mengoyakku hingga diriku benar-benar nyaris hancur, lalu kembali menariku kemasa lalu yang bahkan lebih buruk dari masa depan itu sendiri."
NO COPAST! NO PLAGIARISM.
Please don't bash chara!
Remember! It's just fanfiction!
Don't' Like Don't Read~
.
.
.
Author Pov.
Kecerobohan menghancurkannya, celah yang seharusnya digunakan untuk memohon lebih kini lenyap sudah. Bagi Hyuk Jae, tak ada lagi sebuah kesempatan. Harapannya sirna, bahkan Donghae yang hanya bisa terpekur seakan mengiyakan pendapatnya. Ia menjatuhkan tubuh ke lantai, pemberitaan buruk memekkan telinga.
Mencoba menutup mata, menghapus sketasa tentang kehancuran lalu pergi bersama Donghae. Skema hidup bahagia telah dirangkum, angkat kaki tapi nyatanya ini berbalik. Donghae terdiam, tak ada suara. Bahkan kedua insan yang sempat menginterupsi telah pergi. Mengarahkan setiap cacian padanya, dan Donghae seolah diam membisu tanpa kata.
Perlahan ia mendongak, lantai yang menyentuh kulit serasa membekukan. Lelah menangis, ia menghapus air mata. Garis kemerahan itu bergetar, ada beribu kata ketakutan yang harus terlontarkan. Tapi ia memilih untuk menenangkan laki-laki itu terlebih dulu.
"Maafkan aku, ini benar-benar kecerobohanku. Seharusnya ponsel itu bisa kuraih…" Donghae menggeleng, tidak sepenuhnya. Ini juga kesalahannya, prioritasnya kali ini adalah bagaimana mereka bisa pergi. Opsi untuk menetap diluar Korea kini terngiang, tapi ia tahu menjalankannya tak semudah membalikkan telapak tangan.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?" Hyuk Jae menggeleng, ia tak tahu. Sangat tidak tahu, kenyataan terasa blur. Seharusnya dari awal, ia tak terperangkap ditakdir ini, ia lebih memilih menjalankan dongeng kebahagian ketimbang hidup didunia nyata yang selalu menyudutkan dirinya.
"Haruskah kita mati?" Nada terucap datar, Hyuk Jae menitikkan air mata. Ia yang biasanya selalu marah tentang kematian, kini terlihat menerima. Logikanya tak berjalan seimbang dengan nurani, ia terdiam. Mungkin memang harus…
"Apa sebaiknya aku pergi?" Donghae membulatkan mata, setelah segalanya terjadi. Laki-laki ini malah memutuskan untuk lari. Ia menggeleng keras, tidak. Bukan itu yang seharusnya dilakukan.
"Hanya sementara…" Lagi ia melanjutkan, Donghae tetap menggeleng.
"Lalu kau akan meninggalkanku sendiri disini?" Hyuk Jae terdiam, tak berniat membalas ia mengalihkan pandangan. Perlahan tubuhnya terangkat naik, berjalan pelan kearah ranjang. Mendudukkan diri disudut lalu merengkuh tubuh Donghae lembut.
"Kita berdua disini, dan berakhir tetap dengan akhir yang diketahui." Hyuk Jae berbisik pelan.
.
.
.
Manik rubahnya memicing tajam, setiap pemberitaan yang diberitakan tak terkesan berlebihan. Ia mendesah pelan, kali ini ia berada diposisi yang dianggap benar. Ia tersenyum, sakit ketika Donghae menangis, sakit ketika dirinya harus merelakan satu jiwa, terobati perlahan. Kembalinya dia, seorang laki-laki naïf yang dengan bodohnya masih berdiri disampingnya.
Ia menatap jendela, cahaya keemasan yang dipertontonkan tak membuat keadaan lebih baik. Kembali ia tersenyum, untuk kali ini ia merasa lebih tenang. Hukum karma yang diceritakan kini benar-benar terjadi.
"Kapan akan pergi dari rumah itu?" Sesaat Sungmin mengerjapkan mata, suara laki-laki ini terdengar begitu lembut. Ia menggidikkan bahu, kapanpun ia siap, ia akan segera pergi. Untuk kali ini, ia masih memilih untuk berada disisi orang itu.
"Kapanpun itu, kau harus tetap menungguku Kyuhyun-ah…" Kyuhyun tersenyum, memang itu yang akan dilakukannya. Menunggu dan menunggu Tan Sungmin. Tubuh jangkungnya merendah, merengkuh tubuh Sungmin kedalam pelukannya. Bibir tebalnya menyentuh permukaan kening Sungmin. Mengecupnya lembut sembari bergumam.
"Kali ini, aku merasa kita akan benar-benar berakhir baik."
.
.
.
Kibum mengurut kening, denyutan yang terjadi tak pernah main-main. Selain kata tidak normal, ada beberapa berita yang menyatakan adik iparnya mengalami gangguan jiwa. Kini bukan hanya satu atau dua masalah yang terjadi, 3 masalah datang beruntun pada keluarga Choi.
Memilih tetap egois, Kibum mengeratkan mantel. Didalam rumah masih terasa dingin, keputusannya untuk berpisah dengan orang itu kini sudah bulat. Rengekkan sang anak untuk menghentikan segalanya bahkan tak diindahkan. Ia hanya ingin pergi, tak ada yang boleh tersakiti lagi. Choi Siwon, Henry Lau, bahkan dirinya.
"Aku tahu kau disana, masuklah…" Yang dipanggil kontan tersentak, sesaat kemudian tubuh tingginya memunculkan diri. Mata elangnya lurus, terfokus pada satu objek. Kibum yang tersenyum dengan tatapan lirih, menurut Siwon terlihat lebih menyakitkan ketimbang menangis sembari mendekap bibir.
"Tidak bisakah kau mengundurnya? Kau tahu, keluarga ini sedang ditimpa masalah yang cukup besar. Jika kau benar-benar pergi saat ini, aku tidak yakin ayahku akan hidup dengan benar." Kibum menggeleng, sejak awal ia memang harus pergi. Dengan senyuman yang masih terpasang nyata, perlahan ia mendekat kearah Siwon. Menjinjitkan tubuh, mengecup singkat bibir tipis itu.
"Walau ini bukan akhir yang diinginkan, nyatanya aku harus tetap melakukannya."
.
.
.
Menenteng banyak belanjaan, ia merasa kali ini ia lebih bahagia ketimbang dulu. Untuk sang adik, Hyuk Jae tersenyum. Selain sebuah tekenan batin, ia tak bisa memberikan apapun. Bukannya berniat menyalahkan takdir, ia memang seorang kakak yang tak bisa melakukan apapun.
Meninggalkan Donghae sejenak, ia melangkah pelan kekediaman sang adik. Rindu yang menyerang batin terasa lebih menusuk, entah mengapa ia merasa seperti tak akan melihat anak itu dalam waktu yang cukup panjang. Angin tengah malam yang berhembus, dibiarkan begitu saja. Tangan putihnya memutar knop pintu. Terdiam sesaat, sebelum melangkah masuk.
"Ryeowook-ah!" Ia tersentak, satu adegan dimana rumah yang didedikasikannya untuk sang adik hancur berantakkan. Obsidiannya mengedar resah, mencoba untuk tak berpikir negatif ia segera melangkah untuk menemukan sang adik. Kaca yang pecah sedikit melunakkan laju langkahnya, ia meiringis. Benda tajam itu sedikit menggores kulit.
"Ryeowook-ah! Eodiseo?" Kembali ia berteriak, tak ada jawaban. Sedikit lirihan kecil menjadi pertanda bahwa sang adik tetap berada ditempat ini. Mengikuti insting, ia berjalan pelan kearah kamar. Benda yang berserak tak beraturan mempercepat laju jantung.
"Ya Tuhan! Ada apa denganmu?!" Ia berjalan cepat, kenyataan sang adik menangis sambil bersembunyi disudut kamar membuat rasa khawatirnya meningkat. Satu dekapan erat ia hadiahkan demi menyurutnya isakkan itu.
"Ada apa?! Kenapa rumah bisa berantakkan seperti ini?! Dan ada apa dengan wajahmu?!" Pertanyaan itu datang bertubi, Ryeowook tak menjawab. Ia masih sibuk dengan isakkan yang terus tedengar. Beberapa kali nama seseorang yang dikenalnya terucap. Hyuk Jae meneguk ludah, ia harap tak ada lagi paksaan untuk meninggalkan.
"Orang tua kekasihmu brengsek! Dia brengsek! Anak buahnya memukulku dengan kayu! Rumah ini juga diacak-acak! Orang-orang itu benar-benar sialan! Hyung ayo pergi! Kumohon ayo pergi! Mereka mengancam akan membunuhku!" Dengan nada merengek, isakkan Ryeowook masih tak bisa berhenti. Berbalik, kali ini Hyuk Jae ikut menangis.
"Jangan berkata seperti itu! Sebenarnya ada apa?" Masih mencoba mengalihkan, Hyuk Jae tetap bertanya hal yang sudah diketahuinya pasti.
"Hyung…, kumohon. Tetap tinggal bersamanya itu percuma. Kumohon dengarkan aku, jika kau tidak pergi aku akan mati. Kau benar-benar ingin adikmu mati?! Ayo mita pergi ketempat yang jauh!" Hyuk Jae menggeleng, haruskah ia pergi dengan keadaan seperti ini? Donghae yang terpuruk karena ulahnya kini harus benar-benar ditinggalkan. Ia tak mau, sekalipun harus bukan seperti ini caranya.
"Kau ingin aku mati?! Kalau begitu bunuh aku sekarang! Daripada harus mati ditangan mereka, aku lebih baik mati ditanganmu. Sekarang bunuh aku! Hyung…, dengarkan aku." Mereka sama-sama terisak, dengan gelengan penuh Hyuk Jae terus memohon untuk tak dipaksa meninggalkan. Pada jeda yang terjadi, dibanding dianggap amat buruk oleh Choi Donghae, dia lebih memilih untuk membiarkan sang adik hidup.
"Hyung…!" Hyuk Jae menutup mata, pelukannya pada tubuh itu makin mengerat. Bibirnya yang sedikit terbuka bergetar tak normal, ia ingin bicara namun tenggorokannya terasa sangat kelu.
"Sekarang dengarkan aku, segera kemas bajumu. Dua jam lagi aku akan datang dan menyusulmu di stasiun. Aku harus mengurus sesuatu." Ryeowook mengangguk, ia tersenyum kecil. Akhirnya berhasil, ia tak ingin lagi hidup ditengah bayang-bayang keburukkan sang kakak.
"Kau berjanjikan? Aku akan menunggumu. Jangan kecewakan aku hyung…" Hyuk Jae meneguk ludah, ia mengangguk kecil. Ia berjanji akan kembali, dan pergi secepat mungkin.
.
.
.
"Kenapa baru datang?" Ia tersentak, baru saja membuka pintu suara itu lagi-lagi masuk ketelinga. Tangannya bergetar hebat, ini keputusan tersulit yang pernah diambilnya. Tak menyangka, yang benar akan berakhir baik dan yang salah akan berakhir buruk. Hyuk Jae masih mencoba menahan tangis. Ia tersenyum kecil, untuk terakhir kali ia mencoba memberikan senyum terbaik.
"Apa kau lapar?" Donghae menggeleng, sama sekali tidak.
"Ingin makan sesuatu?" Donghae menolak, tak ada. Nafsu makannya benar-benar hilang sejak kejadian tadi pagi.
"Tanganmu masih sakit?" Donghae mengangguk, rasa nyeri masih ada.
"Sedikit…" Hyuk Jae tersenyum, tapakkan rendah digunakannya untuk melangkah maju. Tak buru-buru, ia merengkuh tubuh Donghae lembut. Mengecup segala sisi wajah yang sang kekasih miliki, sambil bergumam hal yang bahkan tak pernah dipikirkan oleh Donghae.
"Aku menyayangimu…, aku benar-benar menyayangimu." Hyuk Jae bergumam lembut, Donghae mengangguk. Sekalipun tak ada kata cinta, tapi ia sadar. Kata-kata sayang tidak seburuk yang dikira.
"Bolehkah aku meminta satu hal?" Donghae mengangguk, apapun itu, selagi ia bisa. Ia akan memberikannya.
"Sentuh aku…" Donghae membulatkan mata, ini bukan sebuah permintaan yang begitu tabu. Tapi ada rasa janggal yang melekat, obsidian Hyuk Jae seakan menyiratkan hal lain. Ia tersenyum lembut, mendekatkan wajahnya kearah wajah Hyuk Jae. Memberi sedikit pagutan pada bibir penuh sang kekasih, sesekali tangannya bergerak perlahan melepas kancing kemeja miliknya.
"Apa ada masalah?" Ia berucap sembari memberikan sentuhan pada titik tersensitif sang kekasih, Hyuk Jae mengangguk.
"Selalu ada masalah, bukankah ini juga masalah? Setelah ini, bagaimana kau akan melanjutkan karirmu?" Menahan desahan, Hyuk Jae menjawab. Perlahan Donghae membaringkan tubuh sang kekasih diatas kasur. Ia menggidikkan bahu sesaat, tak pernah terpikirkan semuanya telah hancur.
"Aku tidak tahu, mungkin akan terus seperti ini. Bagaimana jika kita menetap di Paris?" Hyuk Jae mengangguk, mungkin lain kali ia akan berjanji. Sentuhan Donghae makin beralih, menjamah tubuh Hyuk Jae dan mengindikasikannya sebagai miliknya.
"Paris tidak buruk…, lain kali aku juga ingin mengunjungi Spanyol." Donghae mengangguk, Spanyol tidak masalah. Asalkan bersama orang itu, ia masih merasa baik.
Author Pov End.
.
.
.
Hyuk Jae Pov.
Aku mendirikan tubuh, tidurnya saat ini lebih nyenyak dari hari sebelumnya. Lebih tenang dari sebelumnya, tak ada lagi racuan. Aku hanya melihat bagaimana ia mencoba bahagia sebelum bangun. Bibirku bergetar, apakah ini jalan terbaik?
Kemeja yang berserakkan dilantai dengan cepat kuraih. Memakainya cepat, sekuat tenaga tak ada bunyi yang boleh kusuarakkan. Donghae tidak boleh tahu, jikapun aku pergi saat ini. Mungkin suatu saat kita bisa bertemu ditempat yang berbeda.
"Hiks…hiks…" Aku medekap mulut, tak boleh menangis. Tak ada yang boleh menangis, kami akan bahagia setelah ini. Aku berjalan pelan kearah meja, meraih pulpen. Menulis beberapa bait kata perpisahan. Tidurnya masih nyenyak…
Ingin kufoto untuk kenang-kenangan, tapi jika kulakukan. Aku akan semakin merindukannya. Kecupan terakhir kuberikan, masih mencoba tak meninggalkan jejak. Barang-barang yang kumiliki segera kukemas, bahkan fotoku. Tak akan kubiarkan tersisa, ia tak boleh mengingatku.
Bisakah kukatakan jika aku mencintainya? Bukan saat ini, tidak sekarang dan itu dulu. Walaupun telah hilang, tapi aku tahu hal ini masih ada. Aku minta maaf karena membuatmu seperti ini, aku minta maaf karena telah membuatmu mencintaiku. Aku minta maaf karena meninggalkanmu…, aku minta maaf karena aku menghancurkan hidupmu. Maafkan aku untuk semuanya…
"Donghae-ah…, aku pergi sebentar." Ia tak menjawab, tidurnya lebih tenang dari yang kuduga. Perlahan derit pintu tak kubiarkan mengusik, kali ini aku benar-benar berjanji, selain dirimu, hatiku hanya milikmu. Untuk selamanya dan terakhir kali, aku tidak akan pernah mencintai siapapun. Hanya kau, selamanya hanya kau Choi Donghae. Terimakasih…
Hyuk Jae Pov End.
.
.
.
Author Pov.
"Ryeowook-ah!" Suara teriakkan itu cukup menyentakkan, dari kejauhan Ryeowook melambaikan tangannya. Kaki-kaki kecilnya menyibak jarak, ia tersenyum. Sang kakak tak berbohong. Menunggu selama empat jam kini tak apa, yang terpenting ia dan sang kakak bisa pergi.
"Kenapa lama sekali?" Hyuk Jae tersenyum kecil, sekalipun terlambat ia tak akan mengingkari janji.
"Ada beberapa hal yang harus kuurus." Derit koper terdengar bertabrakkan dengan lantai stasiun, mereka berjalan beriringan kearah kereta.
"Kita mau kemana?" Hyuk Jae menggidikkan bahu, tak ada tujuan. Mungkin tempat terjauh dimana ia bisa bersembunyi.
"Kita kekampung nenek bagaimana?" Hyuk Jae mengangguk, ide yang bagus. Tempat itu cukup jauh dari Seoul. Tempat itu tak akan dijangkau oleh siapapun, termasuk orang itu. Ia tersenyum manis, menahan isakkan, ia mengadahkan wajah.
"Si kepala besar itu tahu kau pergi?" Ryeowook tersenyum kecut, jika sang kakak berpisah maka ia juga akan berpisah. Ini bukan saat dimana cintanya menjadi prioritas utama.
"Ya…, begitulah. Aku pergi, kau juga pergi. Kita impas." Hyuk Jae tersenyum, mungkin semuanya akan berakhir buruk. Tubuhnya memasuki salah satu gerbong kereta, memilih tempat terbaik untuk duduk lalu pergi. Setidaknya ia masih bisa tersenyum untuk terakhir kali.
Author Pov End.
.
.
.
Donghae Pov.
Perlahan kurasakan bias matahari menyerang retina, aku mengerjap. Tak ada suara yang biasanya menyapa gendang telinga, apakah dia belum bangun? Aku mengedarkan pandang, disampingku tidak ada siapapun. Keadaan kamar benar-benar rapih.
"Hyuk Jae-ah…" Tak ada sahutan, sekali lagi aku mencoba menerka ia ada disuatu tempat. Mungkin kamar mandi atau dapur. Langkah kakiku pelan, dikamar mandi tak ada siapapun. Pijakkanku kupercepat, didapur juga tidak ada.
"Hyuk Jae-ah!" Lagi, masih tak ada sahutan. Persepsi buruk mulai bermunculan, dari kemungkinan kecil hingga terbesar. Jantungku bergemuruh, sekali lagi aku berlari kearah kamar.
"Lee Hyuk Jae!" Gerakkan cepat, aku membuka lemari. Aku mengatupkan mata, dugaanku benar. Dia pergi, pergi meninggalkanku setelah apa yang dilakukannya. Apa kau benar-benar orang yang sebegitu buruk? Harusnya aku menyadari ini sejak awal. Kata menyayangi sama dengan meninggalkan. Kemana dia pergi? Aku masih berniat mencarinya.
Satu objek kini menarik perhatianku, sebuah memo kecil berwarna kecoklatan.
'Donghae kau mencariku? Aku tidak pergi. Aku hanya datang ketempat dimana aku harus tinggal. Jangan mencariku lagi…, semuanya memang harus berakhir seperti ini. Kau dan aku, hiduplah lebih bahagia lagi. Hidup tanpaku itu menyenangkan, carilah seorang wanita yang bisa memberikan seorang anak yang manis. Jangan mencintai laki-laki lagi bodoh! Ada banyak wanita diluar sana yang menggilaimu. Pilihlah salah satu, dan minta maaf pada Sungmin-ssi.
Aku benar-benar berdosa karena pernah memaksamu untuk membunuh anak kalian, aku benar-benar berdosa karena membuatmu seperti ini, aku benar-benar berdosa karena membiarkan laki-laki sepertimu mencintaiku.
Kita tidak berada dalam titik yang jahat atau baik, kita hanya memilih menjadi orang yang bersalah. Dan Tuhan, selalu memberikan hukuman pada orang yang bersalah bukan? Anggap kali ini kita adalah pihak yang berasalah, suatu saat nanti. Ketika kita bertemu lagi, ketika kau dan aku saling tersenyum, ketika tak ada lagi tangisan dalam senyuman. Aku akan berjalan kearahmu, memelukmu dan mencintaimu lebih dari dulu.
Aku minta maaf, maafkan aku. Terimakasih dan selamat tinggal.
-Aku, kekasihmu.'
Aku terjatuh kelantai, semua niatan untuk pergi menyusul sirna sudah. Tak ada lagi kesempatan untuk bersama, semuanya lenyap, semuanya pergi bersamanya. Aku menangis, untuk kali ini aku tak akan menghentikan isakanku.
Aku menutup mata, kau pergi maka aku memilih untuk pergi juga.
.
.
.
Sungmin menatapku, mata rubahnya memicing tajam. Dari sisi kiri, ada timbunan koper. Ia berdandan begitu cantik, mempoles wajah dengan make up seadanya. Kubalas tatapannya dengan lebih lembut, aku ingin meminta maaf. Seperti permintaannya, aku harus meminta pada Sungmin.
"Laki-laki itu meninggalkanmu oppa? Sudah kuduga dia bukan orang yang baik. Terimakasih atas semuanya, aku akan pergi." Aku terdiam, menatapnya sesaat.
"Aku minta maaf…" Dia tak bereaksi, setelah bunyi debaman pintu aku sadar aku memang tak pantas untuk dimaafkan.
Aku mendirikan tubuh, meraih kunci mobil yang berada dimeja nakas dekat ranjang. Senja datang, dan aku tidak melakukan apapun selain berdiam diri. Menunggu kemungkinan terbodoh untuk Hyuk Jae datang, aku tersenyum sesaat. Berhenti mengharapkan sebuah kemungkinan, semuanya akan berakhir.
Tujuanku kali ini, hanya pergi dan tak bertemu dengannya lagi…
Donghae Pov End.
.
.
.
Author Pov.
Senja yang membentang, tak seindah langit malam. Laki-laki bersurai brunette ini melangkah pelan, gesekkan pasir pantai yang menyapa kulit terasa lembut. Dari sisi kiri dan kanan, bayangannya terlihat nyata. Entah apa yang ada dalam pikirannya, ia hanya berjalan tanpa ekspressi. Tatapannya kosong, selain dirinya tak ada siapapun dipantai ini.
Debur ombak mengikuti langkah seolah ingin menyentuh laki-laki ini. Riakkan air saling bersahutan, gejolak alam makin terasa. Pria ini menyurutkan niat untuk diam lebih lama. Ia tersenyum singkat, meraih sebuah benda dingin dari kantong celana lalu mengarahkannya kepelipis.
Ia menutup mata, tak lagi ingin merasakan rasa sakit lebih lama pematuk mulai ditarik. Jantungnya berpacu cepat, ia meneguk ludah. Ia tak menyangka, kematian akan berada sedekat ini. Buliran bening meluruh jatuh, nafasnya perlahan melambat. Menurutnya ini sebuah penolakkan mutlak.
Tak ada lagi kesempatan, laki-laki ini berniat menyerah. Ketimbang mencintai yang lain, ia lebih memilih mati. Kali ini, bahkan keadaan tak bisa disalahkan.
"Saranghae…" Ia melirih, dan ketika ia menutup mata, peluru dari revolver itu menembus kepala. Dan sketsa hitam tak lagi seblur dulu.
.
.
.
"Selamat tinggal…" Masih sempat tersenyum, Kibum membuyarkan lamunan Siwon. Keadaan bandara tak sepenat biasanya hanya ketenangan yang mendominasi. Pakaian wanita, wig, dan make-up tak lagi membalut sekujur tubuh. Hanya jas hitam, laki-laki cantik ini terlihat begitu mempesona.
"Aku akan menyusulmu nanti…" Siwon tercekat, gelengan keras dari Kibum membuat kesempatan terakhirnya buyar. Shindong, putra kecilnya sudah terlalu lelah menangis. Kedua orangtua mereka kini tak lagi terikat sebuah ikatan pasti, hanya masa lalu dan Kibum berniat untuk segera menghapusnya.
"Setiap libur musim panas dan musim dingin, aku akan membiarkan Shindong bermain bersamamu. Terimakasih karena telah membiarkan anak ini bersamaku…" Siwon tersenyum miris, Shindong yang tertidur lelap dalam gendongan Kibum tak berniat dibangunkan. Tubuh tingginya merendah lamat, mengecup kening sang anak angkat sembari menggumamkan kata sayang.
"Ini benar-benar akan menjadi akhir, kau tidak menyesal?" Kibum mengangguk, sangat…, ia sangat menyesal. Namun tak ada yang harus dihentikan, ia harus pergi ketempat dimana jati diri, keegoisan, juga cintanya tak lagi dianggap topeng. Ia hanya butuh sebuah tempat dimana, Siwon, Henry dan dirinya tak bisa bertemu.
"Aku mencintaimu…, sangat…" Kibum tersenyum, ia mengangguk cepat. Memeluk tubuh Siwon singkat.
Ia pergi…, ini semua sudah berakhir.
.
.
.
"Sungmin noona!" Sungmin membulatkan mata, dari arah luar Kyuhyun melambaikan tangan sembari tersenyum manis padanya. Koper-koper yang dibawan tak seberat tadi, sekarang ada Kyuhyun yang membantu.
"Berat?" Kyuhyun menggeleng, ia malah tersenyum. Responnya begitu lembut, Sungmin sadar ia mulai mencintai.
"Dulu aku tidak pernah sekalipun menyesal karena menolakmu." Kyuhyun tersenyum kecut. Kalau dipikir-pikir ia seperti seorang nyamuk dulu.
"Sekarang, kebodohan terbesarku adalah mencintaimu." Kyuhyun membulatkan mata, sepersekian detik jantung berdegup tak normal.
"Noona?!" Sungmin tersenyum, akhirnya laki-laki ini tak lagi harus menunggu kebodohannya.
"Saranghae…"
.
.
.
Tak pernah terpikirkan, kedatangannya yang baru seminggu dikampung halaman kini dikejutkan dengan kabar kematian seseorang, tak pernah terpikirkan juga, ia kembali lagi ketempat ini. Donghae…, dia bodoh. Menurut Hyuk Jae dia laki-laki terbodoh, mati? Hyuk Jae hanya mampu menghela nafas. Donghae lebih memilih untuk menutup mata.
"Hyuk Jae-ah…, gweanchana?" Changmin mendekat kearah Hyuk Jae, ditempat ini dulu ia dan Donghae pernah berciuman. Menunggu para pelanggan café pergi, dan mencuri kesempatan untuk saling berbagi kasih sayang. Tempat ini adalah tempat dimana Donghae berjanji untuk menikahinya walau itu terdengar bodoh.
"Mau kubuatkan kopi? Aku akan mengantarmu kepemakamannya." Hyuk Jae menggeleng, buliran bening lagi-lagi jatuh. Entah sudah berapa kali ia menangis kali ini.
"Tidak kusangka dia sudah pergi…" Changmin tersenyum lirih, sesekali tangan lentiknya menepuk punggung sang sahabat lembut.
"Aku jahatkan?" Changmin tak menjawab, semua dari mereka jahat. Changmin hanya pihak yang tak terlalu mengerti tentang keadaan.
"Changmin-ah…" Laki-laki jangkung ini memfokuskan tatapannya, Hyuk Jae terlihat ingin meminta sesuatu padanya.
"Boleh aku minta tolong lagi?"
.
.
.
Ia menunduk, jajaran nama pada nisan seakan mencekik leher. Nafasnya sesak, baru kali ini ia merasa amat berdosa. Membunuh sosok itu, sosok yang begitu dicintainya. Tanah basah disekitar makin membulatkan niat. Ia dan Donghae-nya kini tersekat oleh beribu jarak. Langit menelan Donghae, dan ia berniat untuk ikut pergi bersamanya.
"Aku datang…, maaf baru bisa menyapamu." Nadanya ia buat setenang mungkin, semilir angin seakan menjawabnya. Ia tersenyum manis, seperti orang gila ada bisikkan dimana kata 'Tak apa' terlontar dan terniang.
Sebotol soju yang dibawa ia siramkan, menunduk sebagai penghormatan terakhir, meletakkan bunga lily diatas pusaran makam. Lalu tersenyum, bait doa pada sang Budha terdengar lirih. Meminta pengampunan pada sosok yang telah tidur. Hyuk Jae menangis, wajahnya basah sejak hari itu.
Merasa dikhianati keadaan, ia benar-benar menyalahkan diri atas dosa besar yang dilakukan. Mata yang terpejam kini terbuka, ia mendirikan tubuh. Berdiri tepat dihadapan makam, lalu meraih benda dingin cepat dari kantong celana.
"Banyak kata yang ingin kukatakan padamu nanti, kau harus berjanji untuk menjawabnya. Disana kau tidak akan lagi kesepian, kita bisa bersama selamanya." Nyatanya mereka tidak benar-benar bisa berpisah. Keputusan baru Hyuk Jae ambil, benda dingin itu ia letakkan tepat kearah pelipis. Menutup mata, laki-laki ini bergumam.
"Aku akan mencintaimu ketika kita bertemu lagi…" Dan kemudian, suara keras terdengar. Debaman nyaring menusuk indera, Hyuk Jae menutup mata. Tubuhnya jatuh kearah tanah, menyapa sketsa hitam untuk yang terakhir kalinya ia menangis.
.
.
.
Kemana perginya cinta?
Yang ia tahu ini bukan cinta yang diinginkan…
.
.
.
END.
.
.
.
Mind to review?
.
.
.
Author note:
/Hening/
Huaaaaahhhhh! Jadi endingnya seperti ini chingu-del xD, kkk~ niatnya sih kami janjikan endnya bakal 2 chapt lagi, tapi ternyata semuanya gak nyampe di target. Kkk, jujur aja, mata sama kepala kami sampe pusing kebanyakan nangis entah kenapa, chapt ini sukses buat kami bolak balik kamar mandi biar ingus gak keluar sembarangan /jorok.
Kkkk, ah…, mungkin banyak yang kecewa sama endingnya, akhirnya kematian dipilih sebagai tempat untuk menghentikan segala keegoisan, kami nggak sanggup kalo buat happy ending. Terlalu gak adil untuk karakter lainnya, misalkan Sibum, kalo dibuat happy ending Henrynya jadi pihak yang paling tersakiti x((. Mohon maaf kalo misalnya ending dari Ff ini ternyata nggak sesuai sama ekspetasi chingu-deul sekalian. Jeongmal jeosonghamnidah! Bow.
Sampai disini kisah dari HaeHyuk, dan Sibum couple, kami berniat buat sequelnya tapi nggak tahu bakal kami publish apa nggak, mungkin ending terbaik sampai disini sajakan?
Kkk~ Ah iya! Kami benar-benar berterimakasih atas respon kalian, mengikuti jalan cerita dari ff ini sampai akhir dan awal. Semuanya terimakasih banyak. xD #bow Jah...! Kami gk nyangka kalo cerita favorit kami berakhir disini xD!
Maaf untuk typo, diksi yang tidak tepat, alur cerita yang gaje, dan semua hal buruk yang membuat ff ini semakin buruk. Kami benar-benar minta maaf #bow.
Sekali lagi terimakasih, sampai jumpa di FF kami lainnya xD
/paipai/
Thanks To: Ratu kyuteukhae|Guest|Tina KwonLee|shika|niknukss|Anonymouss|PutriHaeHyuk15|Amandhharu0522|Tsuoiku Lee|Guest|secret|anchofishy|Lee Haerieun|KyuMinKyuMin|gyu|Melodyna|F-Polarise|mizhuky yank eny|
Jeongmal gomapseumindaaaa! #bow.
Untuk guest: kami nggak nyangka ternyata chingu deul juga pernah mengalami hal seperti ini, orang yang chingu bilang ketika menyayat nadinya, huffttt…, sayang sekali kalau kalian berpisah #tabok. Kkk, tapi untunglah sekarang kalian sama-sama bahagia. xD benarkah orang itu menggunakan nama chingu deul sebagai nama sang anak? Ya ampun, dia pasti sangat mencintai chingu-deul :')
Semangat untukmu chingu/eonni, kami selalu mendoakan yang terbaik untukmu! FIGHTING XD!
