Di Rumah Sakit Konoha.

Plak…

"Dasar anak tak tau malu!" Misaki menampar Minato hingga Minato masih memegang pipinya setalah 3 menit sejak tamparan itu berlalu.

"Kaa-san! Aku kan tidak sengaja!" Minato mencoba membela dirinya.

"Tidak sengaja? Tidak sengaja katamu? Kushina sudah sangat berbaik hati padamu. Merelakan dirinya dimiliki oleh orang yang tidak mau belajar mencintainya, membuat dirinya tersiksa karena orang sepertimu. Apa kau tidak merasa malu?" tanya Misaki pada anaknya itu.

Minato hanya bisa terdiam. Ia tau tindakannya membuat Kaa-sannya marah padanya hingga seperti ini.

Pip…

Harum ruangan perawatan pasien menyeruak saat Minato membuka ruangan tempat Kushina di rawat. Infus terpasang di tubuhnya yang putih. Mikoto terlelap dengan sebuah selimut menyelimuti badannya. Minato merasa sangat bersalah pada Kushina. Karena ia merasa Kushina terlalu baik terhadap sifatnya.

Tok… Tok…

"Permisi" seorang pria bermata onix masuk ke ruangan tempat Kushina di rawat.

"Kau siapa?" tanya Minato yang bingung dengan lelaki itu, berani-beraninya masuk ke kamar wanita dirawat.

"Hn. Aku calon suami Mikoto. Namaku Uchiha Fugaku" Fugaku kemudian membangunkan Mikoto.

"Hnnh… Lho Fugaku? Kenapa kau ada di sini?" Mikoto bingung dari mana Fugaku mendapatkan info kalau dirinya ada di sana.

"Misaki-san menelfonku lewat handphonemu. Katanya kau ada disini. Karena aku khawatir dengan keadaanmu, maka aku langsung saja ke sini dari kantor kepolisian pusat yang kebetulan dekat dari sini" Fugaku kemudian membawa Mikoto pergi.

"Maafkan aku! Kami berdua pergi dulu" Fugaku menundukkan badannya dan langsung pergi dengan Mikoto.

Tinggal Minato dan Kushina di ruangan itu. Minato masih merasa ia sangat bersalah pada Kushina.

I'd chatch a grenade for ya

Throw my hand on the blade for ya

I'd jump in front of a train for ya

You know I'd do anything for ya

"Halo?" Minato mengangkat telfon di handphonenya.

"Minato, bisa kau jaga Kushina untuk malam ini?" kata Misaki tiba-tiba.

"Kenapa?"

"Aku ada keperluan, jadi kau jaga ia malam ini saja! Oke?"

"Ya ya. Ya sudah, aku mau tidur dulu di sofanya. Oke?"

"Iya"

Jam 5 pagi

"Ng… I… Ini dimana?" Kushina kaget ia berada dimana sekarang. Biasanya ia terbangun di kamarnya yang bernuansa putih dan beige itu.

Kemudian ia bangkit dari kasurnya, tetapi infusnya menyangkut.

'Oh, sialan' Kushina tersenyum miris. Kemudian ia mencabut infusnya dengan paksa, lalu ia memegangi tangannya karena pencabutan paksa infuse tadi.

Ia ingin pergi ke luar ruangan dengan maksud pergi mencari udara segar. Tapi, ia melihat Minato yang tertidur di sofakamarnya di rawat dengan balutan kaus biru tua dan celana jeans.

'Dia tinggal di sini semalaman? Hanya untuk menjagaku?' batin Kushina. Tanpa ia sadari mukanya langsung memerah seperti udang yang baru siap di rebus dan siap di hidangkan.

"Ng… Sara" kata Minato yang masih tertidur.

Kushina diam mematung setelah mendengar nama itu disebut oleh Minato. Ia tidak tau kenapa hatinya sangat sakit ketika Minato menyebutkan nama itu.

"Ng… Oh, kau sudah bangun rupanya" Minato yang baru bangun langsung bangkit dan duduk di sofa dimana ia tidur semalam untuk menjaga Kushina.

"Belum, aku belum bangun. Aku tertidur sambil berjalan" Kushina kesal dengan pertanyaan Minato yang ia anggap tidak bermutu.

"Oh, apa perlu aku ambilkan air agar kau bangun Kushina?" Minato tersenyum pada Kushina. Sedangkan Kushina hanya bisa terdiam seribu bahasa karena mukanya memerah lagi.

"Hei… hei… apa kau sakit?" Minato yang khawatir, langsung mendekatkan dahinya dengan dahi Kushina.

Kushina kaget dengan perlakuan Minato, ia belum pernah sekalipun di sentuh oleh satu orang pun laki-laki.

Plak…

"Mesum!" Kushina langsung berlalu meninggalkan Minato yang baru saja mendapatkan tamparan yang kedua dalam minggu ini.

Blam…

Kushina membanting pintu kamar itu dari luar dengan keras. Minato hanya bisa tercengan-cengang dengan kekuatan Kushina.

"Wah, baru kenal saja sudah berani-berani menamparku. Bagaimana jika kami nanti menjalin hubungan yang serius? Mungkin saja aku mati di tangannya" Minato tersenyum senang karena perlakukan Kushina. Bukan karena Minato suka di tampar oleh Kushina, tapi ia senang karena ia tau muka Kushina memerah akibat perlakuannya.

Kushina sekarang sedang berjalan di lorong rumah sakit. Ia merasa di belakangnya ada seseorang yang mengikutinya.

'Awas saja kalau ada yang berani-berani menggangguku. Akan aku hajar dia sampai babak belur!' Kushina masih was-was dengan kehadiran orang misterius tersebut. Tanpa pikir panjang, Kushina langsung berlari dengan sekuat tenaga, sehingga orang misterius tersebut kehilangan jejak Kushina.

"Hirota-sama, aku melihat wanita Uzumaki itu di Rumah Sakit Konoha. Ia tampak baik-baik saja" tiba-tiba orang misterius itu mendelik ke arah Minato berjalan.

"Lalu, bagaimana keadaan disana?" tanya Hirota.

"Hi… Hirota-sama, rupanya Namikaze Minato kekasih Sara-sama ada di sini juga. Tampaknya ia mencari wanita Uzumaki tadi" kata orang itu sambil bersembunyi di gudang perlatan kebersihan.

"Baiklak, berikan aku berita lagi nanti. Jangan sampai ketahuan" kemudian Hirota menutup pembicaraannya dengan orang misterius itu.

"Jadi… Minato juga ada disana?" Sara yang masuk ke ruangan kerja Hirota tanpa izin langsung tertunduk lesu.

"Sayang, kau tak perlu khawatirkan itu. Bisa saja Minato hanya ingin menjenguk Kushina. Jadi jangan terlalu khawatir" Hirota mencoba menenangkan putri semata wayangnya itu.

"Ta… Tapi, apa wajar, seorang lelaki menjenguk wanita jam segini? Apa ia tidak menjaga Kushina semalaman?" Sara meninggikan nada suaranya.

"Sara, kau terlalu khawatir padanya. Tou-san berjanji akan segera meminta Kaa-sannya Minato untuk segera melakukan pertunangan antara kalian berdua" Hirota meyakinkan anaknya agar tidak sedih terus menerus.

"Apa benar itu Tou-san?" Sara kaget dengan janji Tou-sannya padanya.

"Benar" Hirota tersenyum pada anaknya. Tapi, sebenarnya ia tau apa maksud Minato ada disana, dan sebenarnya jika bukan karena Sara, ia juga telah merancang pembunuhan untuk keluarga Namikaze itu.

Di Rumah Sakit Konoha. Jam 05.30

"Hoi! Kushina!" Minato menyapa Kushina dari jauh, langsung saja Kushina membuang mukanya.

"Hoi, Tomat!" karena kesal, Minato mengejek Kushina dengan kata 'Tomat'.

Kushina yang mendengar Minato mengucapkan kata kunci kotak Pandoranya yang sudah lama tidak di ucapakan orang lain, langsung menghadiahkan Minato Mode Habaneronya, rambutnya menjadi 9 untaian yang sangat sangar di mata semua orang.

"A… A… A…" Minato langsung memucat seperti mayat.

"APA A A A? HAH?" Kushina langsung bertanya pada Minato dengan aura mematikan.

"Ti… Tidak…" Minato masih pucat dengan gaya bicara Kushina.

Kushina sadar dengan apa yang dilakukannya. Ia kemudian meredam kemarahannya dan merapikan rambutnya kembali.

"Maaf ya! Aku sudah lama tidak mengeluarkannya, makanya aku sangat mengerikan" Kushina melirik ke arah Minato yang tidak pucat lagi.

"Tak apa. Lalu, kenapa kau mencabut infusmu? Bukannya kau harus istirahat?" tanya Minato.

"Kenapa harus istirahat? Oh iya, kau benar. Aku pingsan karena kelelahan semalam kan? Lalu, kau pergi begitu saja meninggalkanku dengan alasan mencari bantuan" Kushina tersenyum miris pada Minato.

"Ta… Tapi aku tidak…" ucapan Minato terputus karena kata-katanya di putus duluan oleh Kushina.

"Tidak bermaksud? Jadi apa maksudnya? Meninggalkanku untuk bangun, berjalan sendiri ke rumah sakit ini, dan membiarkanku mati karena stress dan kelelahan?" Kushina memandang ke langit yang mulai ke oren-orenan.

"Apa maksud perkataanmu itu? Aku tidak suka melakukan semua ini…" Minato menyadari apa yang ia katakan.

"Kalau tidak suka kenapa kau melakukannya? Bahkan kau menjadi stalker pasien pagi-pagi. Apa kau tidak sadar?"

"I… Itu…"

"Sudahlah, lupakan, abaikan, dan buang semua percakapan kita pagi ini dari otakmu yang ku dengar sangat jenius itu, dari pada memenuhi memorimu" Kushina berlalu meninggalkan Minato sendirian.

"Tidak! Itu hakku! Menyimpan semua memori yang pernah aku lakukan. Dan satu lagi, aku benci dengan perkataanmu itu! Bahkan mungkin menjadi sahabat saja aku sudah tidak sudi" Minato berkata dengan nada tinggi, sehingga membuat Kushina tersenyum sedih.

"Aku hanya menyukai Sara! Dan jangan harap kau akan mendapatkan hatiku ini!" perkataan Minato membuat Kushina semakin remuk hatinya. Tak ia sangka, Minato tidak menganggapya sama sekali.

Kushina pov~

Apa kau tau Minato? Di dalam hatiku yang paling dalam, aku mencintaimu sejak kita pertama kali bertemu. Tapi, kenapa kau harus memilih wanita yang membuatku remuk, hancur berkeping-keping, dan wanita yang telah membuatku lebih hina daripada hewan?

Apa cara pandangmu terhadapku sama dengan cara pandang Sara dahulu denganku?

Apa karena aku merupakan seorang anak yatim piatu? Pernah terbuang? Dan aku hanyalah wanita biasa yang merupakan anak 'mantan' pengusaha?

Aku benar-benar akan belajar membencimu Minato! Aku akan belajar tentang itu semua!

End of Kushina pov~

"Terserah kau mau bilang apa! Terus kau tiru sikap Sara-sama! Aku membenci kalian berdua!" Kushina langsung masuk ke gedung Rumah Sakit.

"Sara… Sama?" Minato bingung dengan apa yang dimaksud Kushina.

Minato langsung menelfon Kaa-sannya.

"Halo, Kaa-san. Ini aku, Minato. Aku ingin pulang" Minato langsung to the point saat berbicara pada Kaa-sannya.

"Halo, Minato. Ada apa? Kenapa kau ingin pulang sekarang?" Misaki bingung dengan perkataan Minato yang langsung to the point begitu.

"Aku ingin bertanya pada Kaa-san. Kushina berbicara aneh-aneh pagi ini" Minato yang sudah berada di parkiran basement membuka mobilnya.

"Okay… Aku akan berada di sana dalam waktu 5 menit. Jangan pergi! Atau siap-siap saja semua asetmu akan ku sita" Misaki mengancam Minato agar ia tak meninggalkan Rumah Sakit.

"I… Iya… Aku akan tetap stay kok Kaa-san" Minato langsung menuruti perintah Kaa-sannya saat itu juga dan langsung masuk ke kamar Kushina.

Di kamar Kushina.

Kushina sudah mengganti baju dengan bajunya yang kemarin ia pakai. Minato yang masuk ke kamarnya langsung terpana dengan Kushina yang saat ini akan pergi.

'Cantik… cantik sekali' batin Minato.

"Ada apa memandangku dengan tatapan mengerikan begitu, Minato-sama?" Kushina mendengus kesal karena ia terus saja dipandangi seperti itu.

"Ti… Tidak. Aku ingin bertanya padamu" kata Minato sambil menyiapkan pertanyaannya pada Kushina.

"Silahkan bertanya Minato-sama" Kushina membiarkan Minato bertanya padanya sebelum dia pergi.

"Kenapa kau memanggil Sara dengan suffix –sama dan mulai memanggilku Minato-sama sejak aku mengatakan aku membencimu?" tanya Minato penasaran.

Kushina terkejut dengan pertanyaan Minato itu. Ia tidak ingin Minato tau tentang masa lalunya. Ia juga tidak ingin Sara mengusik hidupnya lagi jika ia memberi tau Minato tentang kelakuan Sara padanya dulu.

"Boleh aku mengajukan persyaratan?" Kushina bertanya pada Minato agar Minato bisa seidkit bungkam.

"Boleh"

"Persyaratannya hanya satu. JANGAN BERTANYA LAGI" Kushina pun berlalu sambil tersenyum licik pada Minato.

"Hei! Apa…" Minato yang ingin protes, tidak melihat Kushina lagi, dan karena itu ia menghentikan acara protesnya.

Kushina berlari-lari ke luar Rumah Sakit dengan tergesa-gesa agar ia tidak di kejar oleh Minato. Tapi, saat ia berada di depan pintu utama untuk menaiki taksi, ia bertemu dengan Misaki yang baru saja keluar dari mobilnya.

Kushina langsung berbaur dengan orang-orang di rumah sakit yang berada di depan pintu. Akhirnya ia lolos dari rombongan Misaki cs.

Brak!

"Apa maksudmu Kushina pergi, hah?" Misaki marah karena Minato membiarkan Kushina pergi tanpa mencegahnya.

"Saat aku ingin bertanya, ia sudah pergi dari hadapanku" Minato membela dirinya agar ia tidak di kenakan sanksi.

"Oh ya ampun… Kami-sama, apa yang harus kulakukan?" Misaki melihat ke langit-langit ruangan Kushina di rawat.

"Itu dia!"

Di apartementnya, Kushina yang baru sampai langsung memasak air dan menghidupkan air kamar mandinya. Kemudian ia langsung membereskan apartemennya yang bertipe keluarga itu.

Mulai dari menyapu, mengelap lantai dengan tangan, mengelap semua perabotannya yang berdebu, membersihkan peralatan dapur, menyuci pakaiannya, dan lainnya ia lakukan sendiri.

Ting… Tong…

"Siapa?" tanya Kushina yang sedang memasak ramen instannya.

"Ini Kaa-san. Kushina, buka pintunya segera!" Kushina kaget karena Misaki tau letak apartementnya

Cklek…

"Kushina. Kenapa kau pergi dari rumah sakit tanpa membari tahuku?" Misaki langsung memeluk Kushina sambil melihat isi apartement Kushina.

"Aku membenci Rumah Sakit sejak dulu. Jadi aku pergi saja dari sana. Toh, Minato tidak melarangku" jelas Kushina.

"Oh, maafkan Minato ya Kushina!" kata Misaki sambil tersenyum cerah.

Di basement Rumah Sakit Konoha.

Pip… pip…

"Permisi Minato-sama. Kaa-san anda, Misaki-sama memerintahkan kami mengambil mobil anda secara paksa" kata seseorang bertubuh kekar dengan jas hitam yang Minato ketahui merupakan orang suruhan Kaa-sannya.

"Ti… Tidak! Aku tidak akan menyerahkannya" Minato bersikeras dan menyembunyikan kunci mobilnya di belakang tubuhnya.

Pria yang berbicara pada Minato itu mendelik pada anak dua buahnya. Dan kedua anak buahnya langsung mengambil kunci itu dari Minato. Pria tadi membuka pintu mobil Minato dan langsung masuk ke mobil Minato. Orang-orang yang menahan Minato tadi langsung masuk ke mobil dengan sigap.

"Hei!" Minato mengejar mobilnya yang sudah berlalu.

"KUSHINAAAAAAAAA!"

Back to Kushina apartement~

"Kushina, apa kau tidak ingin yang lebih besar dari apartement ini?" tanya Misaki mencoba mengetes sifat Kushina.

"Tidak. Bagiku, apartement ini sudah menjadi albumku. Dan aku tidak ingin pindah dari sini" kata Kushina sambil melihat-lihat apartementnya itu.

"Oh. Tapi kalau mengganti perabotan seperti sofa ini dengan sofa trend baru, bagaimana?" tanya Misaki.

"Tidak, aku hanya ingin menghemat uangku. Aku ingin membangun kembali Uzumaki Group yang telah runtuh, kembali menjadi perusahaan besar seperti masa kejayaannya dulu" jelas Kushina.

Misaki tertegun dengan tekat Kushina membangun Uzumaki Group lagi. Ia tau jika membangun sebuah perusahaan itu tidaklah mudah, butuh perjuangan, modal yang besar, dan butuh dukungan dari banyak pihak.

"Lalu, jika kau menikah dengan Minato, apa kau ingin pernikahan yang mewah?" tanya Misaki.

"Aku tidak akan meminta yang mewah. Aku hanya menginginkan pernikahan yang cuma pengikatan. Aku tau pernikahan kami akan hancur" kata Kushina miris.

Misaki kaget dengan kata-kata Kushina. Ia tau Kushina ingin sekali bebas dari perjodohan itu. Tapi, itu kepercayaan orang tua Kushina padanya.

"Kenapa kau berkata seperti itu?" tanya Misaki yang heran pada Kushina.

"Di rumah sakit tadi pagi. Aku dan Minato bertengkar. Kami memasalahkan tentang perasaan kami. Dan saat aku akan pergi, ia bilang 'Aku hanya menyukai Sara! Dan jangan harap kau akan mendapatkan hatiku ini!' Itu membuatku yakin dengan apa yang dikatakan Minato" kata Kushina.

Misaki tertegun dengan ucapan Kushina yang sangat menderita dengan keadaan sekarang.

"Ehm… Kaa-san, aku mau membuat teh dulu ya" Kushina langsung pergi ke dapurnya dan membuat teh hijau untuk Misaki.

Sementara itu, di kediaman Namikaze yang mewah dan bergaya Jepang-Eropa itu terparkir sebuah limosin berwarna hitam mengkilap.

Ting… Tong…

Cklek…

"Permisi, apa Misaki-sama ada di dalam?" Tanya Hirota.

"Maaf, Misaki-sama sedang pergi ke rumah sakit. Dan Akihito-sama sedang pergi ke Suna. Apa ada yang dapat saya bantu?" Tanya maid di rumah itu dengan sopan.

"Tidak, itu tidak perlu. Aku hanya ingin menitip pesan"

"Pesan?"

"Iya. Bilang pada Misaki kalau Hasegawa Hirota ingin menemuinya malam ini di restaurant Kamaguchi. Dan jangan lupa untuk mengajak Minato juga" pesan Hirota singkat.

"Baiklah Hirota-sama" kemudian Hirota berbalik masuk ke limosinnya.

"Tou-san, apa Minato ada di dalam?" Tanya Sara yang juga ada di dalam limosin.

"Entahlah, Tou-san hanya bertanya keberadaan Misaki-sama. Tapi sepertinya Minato belum kembali" Sara yang mendengar kata-kata Tou-sannya langsung tersenyum tipis.

"Oh ya sudah. Nanti malampun aku akan bertemu dengannya"

Di apartement Kushina.

"Kaa-san, aku mau membuat pancake. Apa Kaa-san mau pancake?" Kushina yang sudah lapar karena ia membersihkan apartementnya tanpa sarapan terlebih dahulu. Ddan sekarang sudah jam 9 pagi.

"Boleh, tapi jangan selai strawberry ya! Kaa-san alergi dengan strawberry"

"Oke!" Kushina mengacungkan jempolnya ke arah Misaki.

"Halo, restaurant Kamaguchi. Bisa memesan tempat untuk makan malam?"

"Bisa, untuk berapa orang?"

"Untuk 4 orang saja"

"VIP atau ruang biasa?"

"VIP"

"Baiklah. Pembayaran dilakukan saat anda datang ke restaurantnya saja"

"Iya. Dan aku ingin di salah satu dessertnya terselip strawberry ataupun segala yang berbau strawberry di dalamnya" Hirota tersenyum licik saat itu, karena memikirkan apa yang akan terjadi pada Misaki.

Di Apartemen Kushina.

"Wah, pancake buatanmu enak sekali Kushina" Misaki masih melanjutkan menyantap Pancake buatan Kushina.

"Hahahaha…. Kaa-san! Itu terlalu berlebihan lho! Masih kalah dengan Pancake dari kedai CakeDeli" Kushina tersenyum karena sanjungan MIsaki yang menurutnya berlebihan.

"Benarkah? Wah, kalau begitu aku harus mengadakan kontes antara kau dan pembuat Pancake di kedai CakeDeli, kan? Hahahahaha…."

"Kalau aku menang, berarti aku lebih pantas memiliki kedai itu kan?"

"Benar juga. Wah, kalau begitu… Apa perlu kita melakukan kontes itu?"

"Hahahaha…. Tidak perlu kaa-san. Aku tau kemampuan memasakku masih belum seberapa"

"Ya sudah. Ayo kita bereskan ini semua" Misaki kemudian bangkit dari tempat duduknya.

"Ayo" Kushina kemudian juga bangkit dan mencuci piringnya dan piring Misaki.

Ting… Tong…

"Siapa di luar?"

"Kaa-san…" kata suara yang di balik pintu apartemennya Kushina itu.

"Lho… Suara itu…" Kushina lalu membuka pintu dan mendapati Minato dengan tampang suram.

"Mi… Minato!" Kushina kaget dengan kemunculan Minato di apartemennya.

"Iyaa…. Ini…. Aku…." Minato kemudian masuk ke apartement Kushina dengan seenak jidatnya.

Misaki kemudian melihat siapa yang dating, kemudian ia langsung berdiri ke arah Minato.

"Kenapa kau ke sini? Kenapa tidak ke tempat Sara saja?" Misaki langsung berkacak pinggang.

"Kenapa? Ya, kenapa. Aku ke sini meminta kunci mobilku. Lalu aku akan pergi dengan tenang ke tempat Sara. Aku mau ke rumah dahulu sebelum itu" Minato langsung berdiri dan mengajukan tangannya ke arah Misaki.

"TIII….. DAK!" Misaki langsung berlalu ke arah dapur.

"Kaa-san. Kenapa?" Minato bingung dengan keputusan Kaa-sannya itu.

"Aku tau ini tidak masuk akal bagi kalian. Tapi, aku akan menyita mobilmu sampai kau nanti menikah dengan Kushina"

"APA?" Minato kaget dengan syarat yang di berikan Kaa-sannya itu.

"Iya. Mau bagaimana lagi. Aku telah memutuskannya. Dan… Tou-sanmu juga telah menyetujuinya Minato" Misaki kemudian memutar bola matanya.

"Hah… Maksudku… Apa?" Minato semakin bingung dengan apa yang dikatakan Misaki.

"Dasar! Tidak usah berbohong padaku lagi Minato! Aku tau kalau kau tidak setuju. Makanya aku telah membuat rencana ini sangat matang"

"Maksud Kaa-san, tanpa perundingan antara kita bertiga, aku akan di nikahkan segara dengan Kushina?"

"Iya. Tapi, kau salah menyebutkan. Seharusnya kita berempat"

"What ever! Tapi, bagaimana dengan Sara kaa-san?"

"Campakkan saja dia" Kata-kata Misaki membuat Minato seperti kehilangan akal sehatnya begitu saja.

"Hah? Yang benar saja!"

"Kenapa? Bukannya kalian baru pacaran 2 bulan?"

"Ta… Tapi…"

"Tidak ada tapi-tapian. Tou-sanmu akan datang nanti malam. Kita akan membicarakan pernikahanmu dan Kushina di rumah mala mini juga. Jangan mengelak!"

"Kaa-san!" Minato mulai meninggikan nada suaranya.

"Kau tidak bisa mengelak Minato! Kalau kau terus saja mengungkit-ngungkit hal-hal yang berhubungan dengan Sara lagi. Jangan harap kau akan menikmati hidupmu" Misaki kemudian membanting pintu apartement Kushina.

Kushina hanya bisa terduduk diam di meja makannya.

"Lihat… lihat apa yang kau lakukan!" Minato memarahi Kushina yang tidak bisa berkata-kata apa-apa.

Kushina semakin tertunduk dan tetap diam membisu.

"Hei! Jawab aku!" Minato mengangkat badan Kushina dan mensejajarkan badannya dengan Kushina.

Minato kaget dengan keadaan Kushina yang sudah pingsan.

"Hei! Hei! Kau jangan bercanda!" Minato tau keadaan Kushina seperti apa saat ini, mukanya pucat, air matanya jatuh ke tangan Minato, matanya sembab, dan ia tidak berdaya lagi.

Badan Kushina tersungkur ke lantai. Rambut merahnya menutupi parasnya yang putih dan cantik.

"Kushi… Ku… Kushina!" Minato lalu menggendong Kushina ala bridal style ke arah sofa.