MINNAAAAAAAAAAA-SAANNNNNN
Gomen! Jangan timpuk saya! *plak*
Akane baru pulih kesehatannya, jadi masih dalam pengawasan orang tua buka laptopnya.
Huhuhuhu…. Jangan marah ya! *oi, kelamaan update, so pasti followernya marah dong!*
Oke, dari pada kebanyakan hal-hal yang nggak penting dari Akane, lebih baik kalian baca aja summarynya ya!
Jaa ne!
Don't try, to live so wise
Don't cry, 'cause you're so right
Don't dry, with fakes or fears
'Cause you will hate yourself in the end
You say, dreams are dreams
I am, not playing the fool anymore
You say, 'Cause I still got my soul
Take your time baby, your blood needs slowing down
Breach your soul to reach yourself before you gloom
Reflection of fear makes shadows of nothing, shadows of nothing
You still are blind, if you see a winding road
'Cause there's always a straight way to the point you see
Naruto © Masashi Kishimoto
Sorry Kushina © Namikaze Akane
Genre: Romance, Hurt/Comfort, Crime, and blablabla…
Rated: Teen (Not M!)
Main character: Namikaze Minato and Uzumaki Kushina (orang tua gue)
Languange: So pasti Indonesia
Warning: Typo, alur abal-abal, and Update pending
Don't like? Don't read!
Don't be a silent reader! Okay?
Ready
Take and…
Action!
"Kaa-san…. Tou-san… Tolong… Aku…. Aku… Sudah… Tidak… Tahan…" Minato kaget dengan perkataan Kushina.
Kushina pov~
Jujur saja, aku sudah tidak tahan dengan keputusan Minato. Aku hanya mengharapkan Minato di sisiku, walaupun seluruh dunia membenciku, menghinaku, dan berusaha untuk membunuhku. Biarlah aku menyerahkan semua kepunyaanku, tapi jangan Minato.
"Kushina" suara lembut kaa-san tiba-tiba muncul di telingaku. Pasti karena memikirkan Minato terlalu lama aku jadi begini.
"Kushina" lagi-lagi suara kaa-san muncul di telingaku.
"Kushina, kau harus berjuang. Jangan menyerah pada Sara. Aku tau, kalau menjalankan hidup di dunia ini sendirian memang berat. Tapi jalani, arungi dan lewati semua rintangan yang menghalangimu. Jangan biarkan Minato pergi dari sisimu. Aku hanya bisa memberitahukanmu tentang ini. Petunjuk lainnya bisa kau ambil dari reruntuhan rumah kita yang dulu. Di bawah kamar kaa-san, ada sebuah hadiah untukmu" aku tak percaya dengan apa yang aku alami sekarang. Suara kaa-san terdengar sangat jelas.
"Kaa-san…"
"Selamat tinggal Kushina" suara kaa-san tidak terdengar lagi.
Badanku terasa terhisap ke sebuah jurang tanpa dasar. Tanganku tidak dapat bergerak sepenuhnya, beitu juga dengan kakiku ini.
Kami-sama…. Tolong aku!
End of Kushina pov~
Ting… Tong…
"Kushina… Ayo kita pergi! Aku sudah tidak sabar!" terdengar suara Mikoto dari luar.
Minato kemudian membuka pintu. Mikoto kaget dengan keberadaan Minato di apartement Kushina. Aura suram di badan Minato tidak dapat di sembunyikannya lagi.
"Hei… Kenapa kau disini?" tanya Mikoto. Minato hanya bisa diam membisu.
Mikoto langsung masuk ke apartement Kushina tanpa menghiraukan Minato yang masih tertunduk diam membisu.
"Kushina…." Mikoto kemudian melihat keadaan Kushina.
"Hngh…" Kushina kemudian membuka matanya.
Mikoto langsung menghambur ke pelukan Kushina yang masih setengah sadar.
"Hnh… Lho Mikoto, kenapa kau ada di sini?" tanya Kushina yang telah sadar sepenuhnya.
"Aku tadi ingin menjemputmu. Tapi aku merasa sudah 100 tahun tidak ke apartementmu ini" MIkoto kemudian mengeratkan pelukannya pada Kushina.
"Lalu kan sekarang kau sudah ada di sini" Kushina kemudian mencoba meregangkan pelukan Mikoto.
"Iya iya. Sekarang bagaimana keadaanmu?"
"Agak sedikit pusing sih. Tapi tidak apa" Kushina kemudian memasang senyum palsunya dengan hampir sempurna.
"Kau tidak bisa bohong padaku Kushina. Kita sudah lama bersama-sama. Aku sudah tau sifatmu itu" Mikoto kemudian menyipitkan matanya ke arah Kushina dengan senyuman tersungging di bibirnya.
"Hahahaha… Baiklah, aku berbohong. Aku memang masih pusing dan agak sedikit lelah"
"Ya sudah. Kita melihat baju pernikahanku nanti malam saja. Bagaimana?"
"Maaf ya Mikoto. Aku tidak bisa" kata Kushina menyesal. Ia tau, tak banyak waktu untuk menyiapkan pernikahan Mikoto dan Fugaku. Keluarga fugaku mengatakan oernikahan mereka akan di adakan 1 bulan lagi.
"Kenapa?"
"Aku akan pergi ke rumah Minato untuk merundingkan perjodohan itu"
"Tak apa. toh besok masih bisa kan?"
"Iya juga ya"
"Ya sudah. Kau istirahat sana. Aku mau ke luar. Menelfon Fugaku agar dia pergi melihat persiapannya dulu" Mikoto kemudian mendorong Kushina untuk masuk ke kamarnya.
"Baiklah nyonya muda Uchiha" Kushina cekikikan sendiri dengan apa yang ia sendiri katakana.
"Sudah. Jangan menggodaku terus. Lebih baik kau istirahat"
Klak…
Pintu kamar Kushina pun tertutup.
"Baiklah Namikaze-sama. Ada apa kau ke sini?" Mikoto pun mengeluarkan deathglarenya yang paling baik. Aura hitam menyelimutinya, dan sebuah senyuman tersungging di bibirnya.
"A… Aku… tadi meminta… Kunci mobilku…" ucapan Minato terpotong oleh Mikoto yang menurutnya sangat mengerikan.
"EMANGNYA KUSHINA ITU PENCURI YANG MENCURI KUNCI MOBILMU APA? JANGAN SEMBARANGAN JADI ORANG! KUSHINA ITU WANITA BAIK-BAIK, BERBEDA DENGAN SARA" Mikoto meninggikan suaranya, 2 kali lipat dari nada bicaranya yang lembut.
"Hii…" Minato yang duduk di kursi itu pun memucat dengan aura membunuh dari Mikoto yang sangat kuat.
"Mikoto. Kau belum menelfon Fugaku?" tiba-tiba Kushina keluar dengan jubah mandinya yang berwarna putih ke luar.
Minato kaget dengan keadaan Kushina saat keluar kamar.
"Lho? Minato kok masih di sini?" Kushina kemudian buru-buru mengeratkan ikatan jubahnya. Mukanya bersemu merah seperti tomat.
"A… Aku?" Minato yang terpana dengan kecantikan Kushina pun langsung menunjuk dirinya sendiri.
"Iya. Kushina bertanya padamu! Dasar aneh!" Mikoto kemudian memukul kepala duren Minato.
"Mm…" Minato masih mencari kata-kata untuk menjelaskan alasannya masih di apartement Kushina.
"KAU JANGAN BERFIKIRAN YANG ANEH-ANEH TENTANG KEADAAN KUSHINA YANG SEKARANG YA!" Mikoto sudah paham dengan jalan fikiran cowok.
"Eh… Bukan! Enak saja! Kau itu yang fikirannya aneh-aneh" Minato kemudian bangkit dari duduknya.
"Lalu?"
"Aku mau menjelaskan. Tidak mungkin aku pulang ke rumah sekarang. Pasti kaa-sanku akan membunuhku" Minato kemudian memalingkan wajahnya ke arah pintu apartement.
"Ya sudah. Kau tinggal di sini saja sampai nanti sore. Kemudian aku akan menemanimu pulang saat sore hari" Kushina kemudian tersenyum tulus pada Minato.
Minato gugup, "Bagaimana dengan ku sekarang? Tak mungkin aku memakai baju ini seharian"
"Bajuku ada"
"Tapi kan baju perempuan. Gak lucu kalau aku memakainya"
"Bajuku ada juga baju cowok asal kau tau"
"Kau ini kan perempuan. Kenapa punya baju laki-laki?"
"Dulu aku ini ikut grup drama sekolah. Aku selalu mendapatkan baju laki-laki karena lebih cocok untukku"
Kushina kemudian masuk ke kamarnya.
"Nah, kau sudah tau kan kalau Kushina itu baik. Ia itu tampak teguh di luar. Tapi, hatinya itu hancur karena orang-orang seperti kau" Mikoto kemudian memandang sinis ke arah Minato.
"Maksudmu?" Minato bingung dengan kata-kata Mikoto yang menurutnya dari tadi seperti kotak Pandora.
"Abaikan" Mikoto kemudian masuk ke kamar Kushina.
Minato kemudian melihat-lihat isi apartement Kushina. Banyak piala dan medali di pajang di salah satu dinding yang mengarah ke dapur.
Penobatan penulis terbaik. Design sampul buku terbaik. Pegawai teladan. Siswi dengan kelulusan terbaik. Ketua klub penulis terbaik. Ketua klub drama teladan. Siswi paling berprestasi. Banyak penghargaan yang Kushina dapatkan. Sampai-sampai Minato tersenyum sendiri karena kagum.
Cklek…
"Ini baju dan celananya. Kalau kau mau istirahat, tidur saja di ruangan yang ada di ujung lorong sana"
"Arigatou!"
Kemudian Minato masuk ke ruangan yang Kushina katakan. Sementara Mikoto menatap tajam ke arah Minato.
"Sudahlah Mikoto. Dia bukan orang jahat kok" Kushina kemudian memegang pundak Mikoto.
"Kushina… Kau itu terlalu baik padanya. Dia itu bagaikan mawar yang merekah segar dengan duri terselubung di baliknya"
"Hsstt… Mikoto, jangan berburuk sangka dulu. Nggak baik UCHIHA MIKOTO!"
"Baiklah NAMIKAZE KUSHINA" Mikoto kemudian cekikikan dengan apa yang dikatakannya.
Muka Kushina kemudian memerah, "Heh, UCHIHA MIKOTO, jangan menjelek-jelekkanku terus dong! Namaku tidak akan ku ubah walaupun aku akan menikah dengan Minato"
"Baiklah-baiklah. Kita sudah besar, jangan saling mengejek terus!"
"Iya iya. Oh iya, aku mau bikin brownies untuk ku bawa nanti. Apa kau juga mau?"
"Hm… Boleh, kebetulan nanti Fugaku akan datang ke apartementku. Jadi aku juga mau"
"Baiklah" kemudian Kushina menuju tempat penggantungan apron.
"Ehh… Kushina! Kau kan harus istirahat!" sementara itu Kushina masih cekikikan karena ia berhasil mengelabui Mikoto.
"Aku sudah tidak apa-apa. Jangan khawatir!" Kushina kemudian mengambil bubuk brownies instan tersebut.
"Baiklah. Tapi jika terjadi sesuatu padamu. Aku tidak akan berbicara padamu lagi!"
"Iya iya! Cerewet!" Kushina kemudian mencibir ke arah Mikoto.
Kemudian mereka menuangkan adonan kue yang sudah mereka aduk hingga mengembang ke cupnya. Dan segera memasukkannya ke oven agar cepat matang.
"Huft… Akhirnya selesai. Dalam jangka waktu 30 menit, brownies itu akan matang dan mengembang dengan sempurna" Kushina kemudian tersenyum bangga, dan menghadap ke arah oven yang tengah memanggang adonan yang ia aduk dengan Mikoto tadi.
"Kushina… Kushina… Hobimu itu tidak berubah ya. Aku khawatir dengan oven itu" kata Mikoto sambil menggantungkan apronnya kembali.
"Kenapa? Kan nggak apa-apa" Kushina masih saja melihat ke arah oven tersebut.
"Bagaimana jika brownies itu terpengaruh aura Habanero-mu itu? Kan habaneromu itu sangat mematikan"
"Tidak mungkin. Buktinya kau sering memakan brownies buatanku, tapi kau tidak mati. Bahkan sekarang kau telah menjadi calon istri seorang Uchiha"
"Baiklah-baiklah. Dan sekarang rasanya kehidupan kita lebih berarti, dari pada saat kita masih di apartement kecil itu kan?"
"Iya. Tapi walaupun begitu. Kita dahulu sangat beruntung. Andaikan kita saat itu di usir dari sana. Mungkin kita sudah mati di jalanan"
"Iya. Apartement itu awet hingga sekarang. Aku berharap apartement itu tidak akan di hancurkan, di jual ataupun hal buruk lain terjadi pada apartement itu"
"Ya, semoga"
Sementara itu, Minato yang sedari tadi duduk di balik pintu mendengarkan percakapan dua gadis yang ada di sana dengan lengkap.
"Apartement kecil?"
Kediaman Namikaze.
"Makan malam dengan keluarga Sara?"
"Iya Misaki-sama"
"Batalkan! Aku ada janji makan malam juga dengan Minato dan suamiku malam ini. Oh iya, jangan lupa, siapakan makanan yang enak untuk malam ini. Jangan strawberry untukku, ingat itu. Tapi, jika aku mendapatkan satu saja strawberry di makananku, siap-siap kau akan ku pidanakan"
"Ba… Baiklah Misaki-sama" kemudian pelayan yang baru menyampaikan berita dari Hirota itu langsung ngibrit ke tempat telfon.
"Aku tidak akan masuk ke dalam jebakanmu Hirota" Misaki tersenyum penuh kemenangan.
Sementara di apartement Kushina…
"Mikoto, kau tidak gugup?"
Mikoto yang sedang chatting pun mendelik ke arah Kushina, "Gugup apa?"
"Kau kan akan segera menikah. Apa kau tidak gugup?"
"Buat apa gugup?" Mikoto paham dengan perasaan Kushina saat ini. Ia saja dan Fugaku berpacaran selama 3 tahun, baru mereka memutuskan menikah.
"Hah… Memang, kalau menikah karena saling mencintai itu adalah hal yang sangat mudah. Tapi, kalau menikah karena perjodohan yang sama sekali tak kau inginkan, rasanya seperti terikat di sebuah pohon, dengan tali yang sangat kasar. Dan saat kau berusaha lari, kau akan di hantui oleh rasa ketakutan seumur hidupmu"
"Kushina…"
"Bukankah takdir begitu jahat padaku?"
"KUSHINA!"
Kushina menatap heran kepada Mikoto. Sedangkan Mikoto merasa sangat terganggu dengan kata-kata Kushina.
"Berusahalah… Berusahalah untuk mencintainya!"
Kushina membelalak kaget dengan apa yang di katakan oleh Mikoto, "APA? I… Itu hal yang musatahil!"
"Kau ingat saat kepala panti mengatakan 'Tidak ada yang mustahil di dunia ini'?"
Kushina hanya menunduk diam, dirinya sedang berperang dengan sisi dirinya yang lain.
"Berusahalah! Aku tau kalau kau bukan orang yang lemah. Jadi, jangan menyerah! Berusahalah sampai titik terakhir!"
Minato yang sedang berbaring di kasur pun sedang mencari cara agar perjodohannya dan Kushina dapat di batalkan.
"Batal… Tidak… Batal… Tidak… Akh, aku bingung" Minato kemudian mendapatkan sms dari Sara.
Dari : Sara-hime
Isi:
Minato, kau ada dimana? Aku ingin bertemu denganmu. Aku kangen…
Minato kemudian me-reply sms Sara
Untuk : Sara-hime
Isi:
Maaf Sara-chan. Mobilku di sita oleh Kaa-san. Jadi aku tidak dapat ke rumahmu
Minato kemudian mengirimkan sms itu ke Sara. Dengan ragu, ia menghapus nama kontak Sara, dengan maksud mengganti nama Sara, dari Sara-hime dengan Sara-san. Ia melakukan ini karena ia sadar kalau ia akan menikahi Kushina, dan tak ingin menyakiti hati Kushina.
Tring…
Sms dari Sara kembali masuk ke handphone Minato. Minato kemudian membukanya.
Dari : Sara-san
Isi:
Kalau aku yang menjemputmu bagaimana?
Minato kemudian membalas sms Sara dengan perasaan bersalah.
Untuk : Sara-san
Isi:
Maaf, tapi aku tidak mau. Aku sedang berada di apartement Kushina.
Minato kemudian mengirim balasannya.
Tring… Handphone Minato kembali berbunyi. Minato kemudian membukanya. Dan sesi sms-an pun terjadi.
Sara: Apartement Kushina? Kenapa kau ke sana?
Minato: Kaa-sanku menyita mobilku di sini. Dan aku akan pulang dengan Kushina sore nanti. Nanti malam ada acara di rumah.
Sara: Jadi begini? Kau bermain di belakangku, dan menusukku dari belakang?
Minato: Bukan begitu maksudku. Tapi, aku dan Kushina akan menikah.
Sara: Tapi, kau sudah berjanji kau akan tetap bersama denganku.
Minato: Tapi bukan dalam artian menikah Sara.
Sara: Aku tidak peduli, walaupun kau akan menikah, aku akan tetap berusaha mendapatkanmu.
Minato: Maaf, tapi kita putus saja. Kita akhiri saja hubungan kita sampai di sini.
Sara: Itu tidak adil! Kau meminta putus secara sepihak! Walaupun kau menganggap hubungan kita sudah berakhir, tapi aku belum menganggap ini berakhir.
Minato: Tapi, aku akan menikah Sara! Tak mungkin aku akan menyakiti istriku nanti jika kita berhubungan terus.
Sara: Aku tidak peduli!
Minato akhirnya hanya bisa menghela nafas. Ia tau, jika ia melanjutkan percakaan tadi, bisa-bisa itu akan membuat hubungan pertemanannya dengan Sara. Minato kemudian mulai menghapus oto-foto Sara yang ada di handphonenya.
Di luar, Kushina sedang mengobarak-abrik isi lemarinya. Sedang mencari ramen instan, ia sangat lapar, karena ia hanya memakan makanan ringan saja. Tapi, ia tak menemukan sebungkus pun ramen instan.
"Mikoto, aku mau ke swalayan bawah dulu. Kau mau menitipkan apa?"
Mikoto yang ada di kamarnya kemudian mengeluarkan secarik kertas dan memberikannya pada Kushina.
"Aku mau nitip es krim, coklat, dan ramen instan juga"
"Oke. Aku ganti baju dulu"
Kemudian Kushina masuk ke dalam kamarnya. Saat Kushina masuk, Minato keluar dari kamarnya.
"Hh… Waktu berjalan sangat lambat ya!" Minato kemudian meregangkan otot-ototnya yang kaku di dekat dapur sambil mengambil air putih dingin.
"Iya. Sangaaaattt…. Lamban… sepertimu!" Mikoto kemudian melemparkan senyuman ejekannya yang nomor 1 ke arah Minato.
"Heh… Enak saja! Mana si tomat berjalan?"
Mikoto yang tidak terima dengan ejekan Minato pada Kushina langsung memukul Minato dari arah depan. Serangan itu tidak dapat Minato hindari karena serangan Mikoto tadi merupakan yang nomor satu dari yang lain.
Bruk…
Minato jatuh tepat di depan pintu kamar Kushina. Dan tepat saat itu juga Kushina keluar dari kamarnya.
"Lho? Minato? Kau kenapa?" Kushina kemudian berjongkok untuk meraih kepala Minato agar di angkat sedikit.
"Aduduh… Temanmu ini lho! Eh, tomat…"
Kushina kemudian berubah menjadi Habanero mematikan dan langsung menghempaskan kepala Minato yang ada di tangannya. Dan langsung memegang bahu Minato yang kaget di lantai.
"APA YANG KAU BILANG TADI MINATO-SAMA JENIUS?"
Minato yang baru sadar akan ucapannya yang dapat membuatnya masuk ke dalam liang kuburnya saat itu juga, "Maaf! Aku tidak sengaja! Sungguh!"
Minato yang sudah pucat, langsung di lepaskan oleh Kushina. Sementara Mikoto memasang senyum kemenangannya. Kemudian Kushina bangkit dan merapikan pakaiannya yang berantakan, lalu mengarah ke pintu keluar.
"Mikotooo! Aku pergi dulu!"
"Iyaa Iya…"
Minato masih ada di lantai dan masih kaget dengan apa yang barusan di alaminya. Dibantu malah mengejek yang membantu dengan ejekan yang paling berbahaya di dunia. Poor Minato… *puk puk*
"Nah, bagaimana? Makanya, lain kali, jangan sembarangan dengan Kushina"
"Tapi… Ada yang aneh…" Minato yang tadinya kaget, sudah memasang senyum yang diartikan sangat senang.
"Aneh apanya?"
"Aku merasa berada di dalam ruangan yang sangat nyaman. Belum pernah aku merasakannya. Nyaman, hangat, dan sangat mempesona" Minato yang menjelaskan sambil tersenyum-senyum, membuat MIkoto agak sedikit merasa aneh.
"Hei… hei… Jangan-jangan kau sudah jatuh cinta pada Kushina?" Mikoto langsung mengambil kesimpulan.
Minato yang kaget langsung bangkit dan langsung menatap MIkoto dengan aneh.
"Kenapa? Benar kau jatuh cinta pada Kushina?"
Minato kemudian meletakkan jari telunjuknya di bibirnya, "Ssttt… Jangan keras-keras"
"Benar ya?" Tanya Mikoto yang agak mulai penasaran.
"Bukan! Tapi… Aku nggak begitu tau sih…"
"Deg-degan ketika berdekatan, merasa nyaman di dekatnya, dan ingin bersamanya terus. Itu tanda-tandanya"
"Hanya 2 sih kemarin. Tapi tadi jadi semuanya"
"Baiklah, sekarang kau benar-benar jatuh cinta pada Kushina"
Klek…
"TADAIMAAAAA….." Kushina yang baru datang memberikan sambutan dengan sangat ceria.
"Okaeri" jawab Minato dan Mikoto bersamaan.
"Mikoto, ini semua yang kau pesan tadi. Aku mau ganti baju lagi dulu ya" Kushina kemudian melirik ke arah Minato.
Tatapan mereka bertemu Sapphire bertemu dengan Violet. Tatapan mereka mengartikan mereka bingung dengan perasaan mereka masing-masing.
"Hei! Kushina" Kushina terperanjat kaget dengan Mikoto yang tiba-tiba saja memanggilnya.
"Kenapa? Kau membuatku kaget lho!" Kushina kemudian memanyunkan bibirnya.
"Kau ini dengan si durian itu bertatapan terus. Aku takut saja kau di makan olehnya"
"Bicara apa kau Mikoto? Seperti anak kecil saja"
"Atau kau jatuh cinta padanya?"
Kushina yang kaget pun blushing, sama seperti Minato, "Hei… hei… Muka kalian memerah lho!"
Mikoto kemudian cekikikan. Sementara dua makhluk hidup yang di ganggu oleh Mikoto saling melihat wajah lawannya. Dan mereka semakin blushing.
"HEH! MIKOTO DIAM!" ucap mereka bersamaan.
Mikoto yang merasa di tekan kemudian membela dirinya, "Heh… Kalian berdua, kalau mau blushing jangan di sini! Ini ruangan umum!"
"Kata siapa ruangan umum? Ini tempat tinggalku tau!" Kushina hanya bisa menghela nafas ke arah temannya ini.
"Kan ku bilang ini ruangan umum! Kau ini! Bukan tempat umum. Bukannya ruang tengah sejak dulu merupakan ruangan umum?"
"Iya sih. Tapi ini kan masih di ruang lingkup apartementku!"
"Hah… terserahlah Kushina" kemudian Mikoto pergi ke dapur, lalu melihat oven yang ada di depannya. Sedangkan Kushina? Sedang mencak-mencak ke kamarnya.
Minato yang sudah kehilangan ekspresi blushingnya kemudian melihat handphonenya, lalu melihat sebuah pesan baru masuk.
Dari : Kaa-san
Isi:
Bagaimana di apartement Kushina?
Kemudian Minato membalasnya,
Untuk: Kaa-san
Isi:
Cukup menyenangkan, mengesankan, mengejutkan, dan menyedihkan.
Balas-balasan sms pun terjadi lagi(?)
Misaki: Maksud dari menyenangkan apa?
Minato: Disini tidak sepi seperti di rumah.
Misaki: Lalu mengesankan?
Minato: Walaupun dia tinggal sendiri, apartementnya rapi, bersih, cerah, dan benar-benar nyaman.
Misaki: Mengejutkan?
Minato: Tak kusangka walaupun hanya sebuah apartement yang sederhana, isinya melebihi rumah kita.
Misaki: Menyedihkan?
Minato: Karena aku putus dengan Sara di apartement ini.
Misaki: lalu bagaimana dengan Kushina?
Minato: Baik, ceria, penuh kejutan, cerdas, tak seburuk yang kubayangkan, bijak, dll. Pokoknya lebih baik dari Kaa-san.
Misaki: Kalau menjadi istrimu bagaimana? Sudah mencukupi kriteria?
Minato: Sudah. Tapi, mungkin latar belakang keluarganya saja yang tidak memenuhi.
Misaki: Jangan begitu. Sebenarnya keluarganya baik-baik kok. Kau mungkin akan terkejut mendengarnya.
Minato: Ya sudah.
Sesi sms-an kembali berakhir, dan cukup memakan waktu 20 menit. Tentu dengan posisi duduk di sofa.
Mikoto dan Kushina ternyata sedang sibuk di dapur, sedang memotong brownies agar rapi, tapi, ada kendala di sana.
"Hei Mikoto. Kau saja yang memotong kuenya. Supaya rapi. Ya?"
"Ng… Nggak deh. Aku motongnya pasti kayak ular lagi jalan"
Problematika diantara dua wanita ini pun terjadi. Mereka kemudian menghela nafas panjang.
Ternyata Minato mengintip dari balik dinding, karena penasaran, ia pun masuk ke dapur, "Hei, aromanya wangi sekali. Jauh lebih wangi daripada toko kue yang sering aku singgahi"
Mikoto kemudian menunjuk kea rah Kushina, "Dia yang membuatnya. Calon istrimu sendiri"
"Oh, boleh aku cicipi?" Minato kemudian tersenyum dengan senyum terbaiknya.
Kushina? Tentu saja memberikannya secara ikhlas pada Minato, walaupun merupakan bagian yang tidak terpotong rapi.
Mikoto yang tersenyum di dalam hati, menutupinya dengan bersikap datar saja. Seolah-oleh ia tak melihat apa-apa.
Don't try to life so wise
Don't cry 'cause you're so right
Don't dry with fakes or fears
'cause you will hate yourself in the end
"Oh, handphoneku berbunyi. Tunggu di sini!" Kushina kemudian mengambil handphonenya yang ada di meja ruang tengah.
Kushina kemudian melihat nomornya, tertera di layar dengan Username Kaa-san Minato.
"Minato, Kaa-sanmu menelfonku. Kau yang angkat atau aku yang angkat?" Kushina kemudian melihatkan handphonenya ke Minato, Minato dengan santainya menolaknya dengan isyarat. Karena tau maksud dari isyarat Minato, Kushina langsung mengangkatnya.
"Halo"
"Halo, Kushina, bisa berangkat jam 3 nanti ke rumah kami?" Tanya Misaki dari seberang sana.
"Lho? Kok…" ucapan Kushina terputus.
"Kakek Minato, ternyata sudah mendaftarkan pernikahan kalian tanpa sepengetahuanku. Dan hari ini dia sudah menyebarkan undangan ke semua kerabat kami"
