MINNAAAAAAA

GOMEN NE!

Sepertinya dalam beberapa waktu yang akan datang, Akane akan hiatus. Karena persiapan ujian dan lainnya yang akan menyita seluruh waktu Akane untuk kembali berkarya dan meneruskan seluruh fict Akane.

Oke, ini dia Chapter 4 SORRY KUSHINA

. . .

Naruto © Masashi Kishimoto

Sorry Kushina © Namikaze Akane

Genre: Romance, Hurt/Comfort, Crime, and blablabla…

Rated: Teen (Not M!)

Main character: Namikaze Minato and Uzumaki Kushina

Languange: So pasti Indonesia

Warning: Typo, alur abal-abal, and Update pending

Don't like? Don't read!

Don't be a silent reader! Okay?

Ready

Take and…

Action!

"Kakek Minato, ternyata sudah mendaftarkan pernikahan kalian tanpa sepengetahuanku. Dan hari ini dia sudah menyebarkan undangan ke semua kerabat kami" Kushina yang mendengarnya pun terbatuk-batuk karena ucapan Misaki yang menurutnya hal yang sangat 'TIDAK WAJAR'.

Minato yang sudah merasa percakapan antara Kaa-sannya dengan Kushina 'TIDAK WAJAR', maka ia pun mengambil handphone yang ada di tangan Kushina dan langsung memasang loudspeaker.

"Halo Kaa-san, apa yang sudah terjadi?" Minato langsung 'To the Point' ketika menanyakan pada Kaa-sannya.

"Kakekmu, ternyata sudah mendaftarkan pernikahan kalian tanpa sepengetahuanku. Dan hari ini dia sudah menyebarkan undangan ke semua kerabat kita"

Minato yang kaget langsung tersedak remah brownies yang baru dia makan, "APA? YANG BENAR SAJA! AKU SAJA BELUM SETUJU JIKA AKU HARUS MENIKAH DENGANNYA!"

"Tapi, kau sudah jatuh cinta padanya kan?" celetuk Mikoto.

"Hoo… Mikoto, kau ada di sana juga?" Tanya Misaki.

"Iya Kaa-san. Hohoho… Aku setuju dengan keputusan kakeknya Minato!"

"Hei, hei Mikoto! Kau ini!" Kushina yang sudah agak kesal kemudian mengacungkan tangannya ke arah Mikoto.

"Sudahlah, jam 4 itu hanya setengah jam lagi. Para maid yang akan mengurus kalian akan datang sebentar lagi. Jadi, kalian tidak usah repot-repot"

"Oh, baiklah Kaa-san. Aku akan membantu dua manusia ini" celetuk Mikoto.

Ting Tong…

Minato kemudian membuka pintu apartement Kushina. Ternyata di depannya berdiri barisan maid yang baru di katakana oleh Kaa-sannya. Karena menurutnya jumlah maid yang Kaa-sannya kirim terlalu banyak, maka ia langsung mengambil handphone Kushina.

"KAA-SAN! YANG BENAR SAJA! MAID SEBANYAK INI UNTUK APA SAJA?"

Misaki yang merasa ada yang tidak beres, merasa kaget.

"Di sana ada berapa maid?" Tanya Misaki.

"15, 20. Yang benar saja 20 orang!"

"Lho? Kaa-san hanya menyuruh 10 orang kok. Jangan-jangan…"

"Kakek…"

Kemudian seorang lelaki berambut putih jabrik masuk ke apartement Kushina dengan senyuman simpul terpampang di wajahnya.

"Hm… Uzumaki Kushina, tak ku sangka" kata lelaki tersebut.

"Ka… Kakek!" Minato kaget dengan kehadiran kakeknya yang tiba-tiba.

Kushina dan Mikoto yang kaget saling berpandangan tak percaya, kalau kakek Minato yang terkenal sebagai penguasa bisnis di Konoha muncul secara tiba-tiba di apartementnya.

"Wah, ternyata Kaa-sanmu memang pintar mencari jodoh untukmu ya, Minato" Kakek Minato kemudian menepuk-nepuk bahu Minato.

Setelah puas menepuk bahu sang cucu, ia langsung mengarah ke Kushina, dan memandangnya sinis. Kushina yang merasa aneh bergidik ngeri. Tiba-tiba kakek Minato tersenyum seperti orang yang akan memangsa Kushina.

"Perkenalkan, aku adalah Namikaze Hiruto. Walaupun aku sudah punya cucu, aku ini masih berumur 7 tahun" katanya dengan bangga.

"70 tahun. Kakek jangan memutar balikkan fakta deh. Kakek sudah terlalu tua untuk melakukannya"

"Ho… Baiklah. Aku kali ini kalah darimu Minato"

Kemudian Hiruto menepukkan tangannya, para maid langsung masuk dan menarik Minato dan Kushina ke ruangan masing-masing yang tentu saja di bantu oleh Mikoto si usil *kena amaterasu Sasuke*.

2 buah koper besar masuk ke apartement Kushina. Tanpa mereka ketahui, gedung apartement Kushina itu sudah di kosongkan untuk keamanan sang penerus tunggal Namikaze Group.

Kushina yang tidak mau di tarik-tarik kemudian meronta-ronta meminta di lepaskan, "Oi! Oi! Denger gak sih? Aku nggak mau! Aduduh… Sakit tau! Tunggu bentar!"

Kemudian orang-orang yang menarik Kushina melepaskan Kushina, "Tunggu! Aku mau minum, aku belum minum setelah tadi menelfon! Haus tau!"

Kushina kemudian melenggang santai ke arah dapur. Tanpa banyak ritual, Kushina langsung mengambil sneakersnya dan berlari ke arah pintu apartementnya.

Grooommmmmm…..

"Hei Mikoto, sekarang sudah jam berapa? Tak bolehkah aku beranjak dari kursi ini? Sudah bosan aku duduk di kursi ini"

"Tenanglah Kushina. Baru 4.15, dan ini kan bagian finishing, jadi kau tidak usah khawatir. Jangan coba-coba untuk kabur lagi ya!"

"Tapi, aku sudah duduk di sini selama 40 menit! Aku bosan!"

"Salah sendiri. Untung saja Minato teriak kalau kau kabur" ucap Mikoto lega.

'Durian jelek sialan! Terkutuk lah kau!' rutuk Kushina dengan senyum iblisnya.

Flashback~

Minato bernasib sama dengan Kushina, ia juga di tarik-tarik oleh penata rias lelaki yang cukup tangguh. Tapi, ia malah melihat Kushina kabur dengan mudahnya. Karena merasa tidak adil, Minato pun tersenyum kuda.

"KUSHINA KABURRRR!" teriaknya. Sontak semua pelayan yang ada di rumah itu mengejar Kushina. Hanya 1 menit, Kushina kembali lagi ke apartementnya dengan sneakers yang masih di tangannya.

Sneakers itu belum sempat di pakai oleh Kushina, karena tangannya sudah di pegang oleh 2 pelayan.

Mukanya tertunduk marah, ia ingin sekali mengamuk di situ. Tapi, tentu saja tidak bisa, karena ia mlihat kakek Minato sedang tertawa dengan Mikoto memikirkan nasib Kushina.

End Of Flashback~

"Sudah! Cepat buka pintunya Mikoto!" Kushina yang di kurung di kamar agar tidak bisa kabur akhirnya keluar dari kamarnya.

Rambutnya di jalin, di atas kepala terdapat mahkota kecil dengan bertahtakan berlian dan di buat dari perak, dan pony-nya di jepit dengan jepitan berwarna putih mutiara juga. Ia menggunakan dress selutut berwarna putih mutiara. Aksesoris mewah melengkapi tubuh Kushina. Kecuali…

"Kushina! Mana high heels-mu? Kok malah pakai sneakers lagi?" Tanya Mikoto yang mulai frustasi dengan tingkah temannya ini dari ia bertemu Kushina pagi itu hingga saat itu juga.

"Plisss! Jangan seperti itu! Diam saja ya!" ucap Kushina sambil tersenyum dengan jari telunjuk di bibirnya.

"K-U-S-H-I-N-A! Jangan coba-coba untuk membujukku! Cepat pakai high heels-mu! Se-ka-rang!"

Akhirnya dalam 2 menit Kushina keluar dengan high heels di kakinya. Tapi, langkahnya sangat aneh.

"Mikoto! Aku tidak suka!" rengek Kushina.

"Aku tidak peduli! Kau sudah di tunggu di bawah! Ayo!" Mikoto kemudian membimbing Kushina berjalan, karena takut kalau-kalau Kushina terjatuh akibat tidak terbiasa dengan high heels.

Saat di bawah hanya satu mobil yang masih dalam keadaan terbuka pintu penumpangnya. Tentu saja untuk Kushina.

"Cepatlah naik. Nanti aku akan ke sana. Tentu dengan Fugaku" instruksi Mikoto saat akan berpisah dengan sahabatnya itu.

"Baiklah! Tapi, jangan lama-lama ya!"

"Iya! Bye!" kemudian Kushina masuk ke dalam mobil, meninggalkan Mikoto yang melambai-lambai ke arahnya.

"Sayang sekali ya! Tuan putri gagal melarikan diri"

Ternyata Minato juga ada di mobil yang sama, "Iya kan? Kau gagal?"

Kushina yang merasa di ejek kemudian memarahi Minato, "Heh Durian busuk! Nggak usah banyak bicara! Aku tau aku gagal! Tapi nggak sepasrah dirimu ya! B-A-K-A!"

Lalu perdebatan panjang pun terjadi.

Sesampainya di rumah Minato, banyak maid yang menyambut mereka dan memeberikan mereka bertiga jalan. Karena banyak media yang meliput acara tersebut.

Ckrik… Ckrik…

"Minato-sama, siapa nama istri anda ini?"

"Minato-sama, bagaimana anda dapat mengenal istri anda?"

Banyak lagi pertanyaan yang di lemparkan oleh reporter yang sudah berdesakan di Namikaze Mansion itu.

"NO COMMENT!" teriak Hiruto.

Lalu mereka bertiga dapat masuk dengan tenang ke Namikaze Mansion itu. Mansion yang bergaya Jepang-Eropa itu sangat megah.

"Tadaima" kata Minato.

"Oh… Okaeri. Kalian sudah datang. Silahkan duduk" kemudian Hiruto dan Kushina duduk.

Minato kemudian pergi ke atas, "Minato, mau kemana?"

"Mau ke kamarku. Ada apa?"

"Minato, ayo kita lanjutkan pembicaraan ini" ternyata Tou-san Minato sudah datang. Minato pun kembali turun.

"Baiklah, sekarang kita lanjutkan pembicaraan ini" kata Hiruto.

"Kamu Kushina?" Tanya Tou-sannya Minato.

"Benar, namaku Uzumaki Kushina" kata Kushina sambil berdiri dan menundukkan kepala ke arah Tou-sannya Minato.

"Hm… Baiklah. Silahkan duduk"

Kushina kembali duduk. Kemudian Hiruto bangkit dari duduknya.

"Baiklah, sekarang tentang pernikahan kalian. Seperti yang kalian ketahui, undangan sudah kakek bagikan. Kalian tau kapan akan dilaksanakan?" kata Hiruto sambil tersenyum misterius.

"Hm… 2 minggu lagi?" kata Misaki.

"Salah. B-E-S-O-K, Besok. Kalian tau? Besok merupakan hari terakhir di musim panas. Aku ingin sebelum musim gugur, kalian sudah menikah, jadi tidak ada tentangan dari siapapun. Hal ini sudah ku tuliskan di buku keputusan keluarga Namikaze" jelas Hiruto.

Kushina hanya bisa pasrah, Minato seperti akal sehatnya telah hilang, Misaki tersenyum senang.

"Oh iya. Hito, surat pernikahannya telah kau daftarkan bukan?"

"Sudah Tou-san" kata Tou-sannya Minato.

"Baiklah, sekarang ada yang ingin menambahkan?"

"Aku hanya ingin bertanya" kata Kushina.

"Ya Kushi. Silahkan?"

"Apa jika sudah menikah aku tidak boleh tidur sendiri lagi?"

Sontak pertanyaan itu membuat semua orang disitu sweatdrop. Misaki yang merasa paling sweatdrop.

"Ehmm… Hn… Bagaimana ya? Tentu saja Kushina. Namanya kau sudah menikah, tak mungkin kau tidur sendiri" kata Misaki kikuk.

"Oh… Kalau begitu, satu pertanyaan lagi. Apa aku boleh ke apartementku?" tanyanya.

"Maaf Kushina, sepertinya kau harus tinggal disini untuk selamanya"

"Apa? Aku tidak boleh ke apartementku? Oh god!" kata Kushina pasrah.

Misaki tersenyum kecil, karena tingkah Kushina persis seperti anak-anak.

"Ya sudah. Sekarang kita makan malam saja. Ayo!" ajak Misaki.

Kemudian mereka melanjutkan makan malam yang suasananya sangat hangat. Kushina dapat melupakan sedikit masalahnya.

Setelah makan malam, Kushina duduk di taman yang ada di halaman belakang Namikaze Mansion. Dengan Minato bersamanya, tapi dengan kursi dengan arah yang berlawanan.

"Hei, duren. Sepertinya kita akan bersama selamanya karena ini semua"

"Iya. Kurasa orang tuaku tidak mengerti. Ah… sudahlah" Minato kemudian bermain dengan handphonenya.

Angin malam berhembus ke arah keduanya. Malam yang gelap. Awan hitam menutupi bulan yang bersinar terang dengan bintang-bintang bertaburan di langit. Udara yang semakin dingin membuat Kushina agak menggigil, walaupun itu baru awal musin gugur.

Pluk… sebuah blazer hitam jatuh tepat di samping Kushina.

"Lho? Ini punyamu kan Minato?" tanya Kushina heran.

"Iya. Pakailah. Aku tau malam ini malam yang cukup panjang dan malam yang sangat dingin buatmu"

"Buatmu? Bagaimana menurutmu?"

"Menurutku biasa saja. Aku sudah dapat menerima semua ini. Karena memang beginalah nasibku. Tak perlu di tanyakan lagi. Aku sudah siap"

"Oh… Kukira kau tidak siap untuk menikah esok hari"

"Hah… itu sudah ku perkirakan sejak lama. Kakekku itu kan memang agak ya… gimana ya?"

"Hh… Ya sudahlah. Ini, ambil lagi ini. Aku mau masuk, seharusnya kau yang harus memakainya, karena kau yang akan di luar. Aku hanya ingin menghirup udara segar" kemudian Kushina melepas blazer Minato.

Minato kemudian memakainya. Tapi, Kushina merapikannya lagi, "Kau ini, seharusnya pakaianmu itu harus rapi. Jangan seperti ini"

"Baiklah nyonya" Kushina hanya bisa tertawa. Kemudian ia masuk ke mansion lagi.

Ternyata di dalam sedang diadakan konfrensi pers, "Nyonya, benarkah penikahan ini akan di selenggarakan esok?"

"Iya. Tetapi itu hanya pengikatan. Kami akan menyelenggarakan pestanya setelah beberapa urusan selesai"

"Jadi, dari keluarga kaya mana calon istri dari Tuan Muda Namikaze sendiri, apa dari keluarga Hasegawa? Bukankah sering terdengar bahwa Hasegawa Sara yang sering terlibat dengan kehidupan pribadi Tuan Muda Namikaze?"

"Bukan, dia dari keluarga Uzumaki. Anak tunggal dari Uzumaki Akihiro dan Uzumaki Akemi"

Para wartawan tampak sedikit terkejut. Mereka tau kalau keberadaan Kushina sudah sering di kabarkan telah mati.

"Jangan terkejut dengan pernyataanku. Aku yang lalai telah melupakannya setelah bertahun-tahun. Aku hanya tidak ingin aku menambah panjang kesalahanku ke Akemi" Misaki kemudian beranjak dari tempat duduknya. Ia dilindungi oleh pengawalnya.

Ia kemudian bertemu dengan Kushina. Misaki tersenyum pada Kushina. Mereka kemudian berjalan beriringan ke kamar sebuah ruangan. Tak sepatah katapu keluar dari mulut mereka masing-masing. Seperti terkunci setelah konfrensi pers tadi.

Kemudian mereka sampai, mereka pun masuk ke ruangan tersebut. Ternyata ruangan itu sebuah ruang baca yang mewah, dengan berbagai lapisan emas di mana-mana. Dan di sana buku-bukunya sangat lengkap, dari abad 18 hingga saat itu. Kushina terperangah dengan suasana ruangan itu.

"Ini ruang pribada keluarga Namikaze. Apa kau pernah melihat yang di publikasikan di Internet?"

"Hn… Tapi bagaimana mungkin sejauh ini berbedanya?"

"Oh, itu ruangan yang kami buat-buat untuk saat wawancara. Jadi, hanya anggota keluarga Namikaze yang tahu tentang ruangan ini"

"Tapi Sara pasti sudah ke ruangan ini"

"Belum. Ia belum resmi ku anggap sebagai anggota keluarga Namikaze. Ia kan hanya mantan pacar Minto. Jadi belum boleh masuk ke sini"

"Oh…" kemudian Kushina melihat-lihat ke rak yang berlabel 'Namikaze Minato'

Di rak itu ada photo album, berita-berita tentang perkembangan Minato, dll.

Grekkkkk….

Sebuah ruangan di depan Misaki terbuka, "Ayo Kushina"

Kushina kemudian mengikuti Misaki ke dalam ruangan itu. Ruangan itu sangat rapi, terdapat macam-macam harta yang amat berharga di ruangan itu.

"Ini ruangan apa?"

"Ini ruangan harta dan semua barang-barang yang dibeli saat lelang"

"Oh…" Kushina kemudian kembali melihat-lihat isi ruangan tersebut bersama Misaki.

"Kushina, ini ada sedikit kado untukmu" kata Misaki memberikan sebuah kotak berlapis perak ke Kushina.

Kushina kemudian membuka isi kotak tersebut. Isinya ternyata 2 buah kalung bertahtakan mutiara putih.

Kushina kaget bukan kepalang dengan isi kotak tersebut. Ia tahu, harga barang-barang tersebut tidaklah murah.

"Ah… Ng… Maaf sebelumnya, Kaa-san. Bukannya aku tidak menghargai pemberian Kaa-san, tapi ini sangat mahal. Aku tidak berani untuk mengambilnya. Aku ini kan orangnya ceroboh" kata Kusi=hina sambil terkekeh.

"Baiklah, tapi beok kau harus memakainya. Oke?"

"Oke"

Kemudian Kushina diantar pulang oleh para pengawal. Pengawal itu di khususkan untuk menjaga Kushina.

Saat sampai di apartement, Kushina melihat ke arah brownies yang ia buat, ternyata brownies itu masih ada di meja makan sejak sore tadi. Masih terbayang olehnya suasana di apartementnya yang ramai. Berbea dengan keadaan yang ia alami sekarang.

"Besok, apartement ini akan menjadi sedikit lebih ramai hingga hari-hari selanjutnya" kata Kushina.

Kemudian Kushina mengganti bajunya dan segera tidur.

Jam 8 pagi.

"Halo, Kushina. Kau dimana?" Tanya Mikoto.

"Aku ada di ruang tunggu pengantin. Upacaranya kan akan di laksanakan 30 menit lagi. Tapi, kenapa kau belum ada di sini?" Tanya Kushina yang agak cemas.

"Oh… Aku baru selesai bicara dengan Kaa-san. Kenapa?"

"Oh… Tidak apa-apa. Aku hanya kesepian di sini. Tidak banyak yang mengunjungiku. Hanya Tsunade-san saja yang datang. Karena memang hanya dia yang di beri tau"

"Baiklah, aku sudah ada di depan pintu ruanganmu" Mikoto kemudian membuka pintunya.

Kushina tampak menawan pada hari ini. Gaun putih mutiara melekat di tubuhnya. Dengan berbagai perhiasan yang berwarna putih mutiara. Rambutnya dijalin, dan dibiarkan menjuntai ke bawah. Jepitan yang ada di rambutnya tak lupa juga berwarna putih mutiara.

"Wah… Ini Uzumaki Kushina bukan?"

"Iya. Ini aku, aku tidak bisa ngapa-ngapain nih"

"Sabarlah, jika nanti acaraya selesai, malamnya kau harus lebih capek dari pada sekarang"

Mendengar itu Kushina semakin lemas. Ia tau sebentar lagi ia akan menjadi milik Minato seutuhnya.

"Hh… Aku tau itu. Tak kusangka ternyata kisah asmaraku ini sangatlah tragis"

"Sabar!" Mikoto kemudian mengusap-usap punggung sahabat karibnya itu.

Cklek

"Pengantin wanitanya silahkan masuk" kata pelayan yang membantu Kushina berjalan.

Kemudian Kushina berjalan menuju ruangan dilaksakannya acara pernikahan. Ia melihat Minato dengan setelan jas berwarna putih sedang menunggunya.

Dan Sara, juga hadir di sana dengan tatapan membunuh ke arah Kushina. Ia memakai gaun hitam dan segala pernak-pernik hitam.

"Nona, kau tampak sangat menawan hari ini" goda Minato.

"Terima kasih yang mulia" balasnya. Kemudian Minato menggandeng tangan Kushina menuju ke altar. Di sana telah menunggu seorang pendeta yang akan menikahkan mereka.

"Baiklah. Pada hari ini dua insan manusia di depanku akan diikat oleh tali pernikahan" kata pendeta tersebut.

"Sekarang, Minato Namikaze, bersediakah kau menikah dengan Uzumaki Kushina, mencintainya, sekarang dan seterusnya, dalam keadaan apapun?"

"Aku bersedia" kata Minato tanpa ragu.

"Uzumaki Kushina, bersediakah kau menikah dengan Namikaze Minato, mencintainya, sekarang dan seterusnya, dalam keadaan apapun?"

Kushina tampak ragu dengan keputusan yang akan di ambilnya, semua tampakberbisik-bisik karena mereka kira Kushina belum siap menikah dengan Minato.

"Ayolah Kushina! Ayo, jawab!" kata Mikoto khawatir.

"Aku… bersedia" kata Kushina dengan suara yang mulai tercekat.

"Baiklah. Dengan ini saya nyatakan Minato Namikaze dan Kushina Uzumaki resmi menjadi suami istri. Mempelai pria dipersilahkan mencium istrinya."

Minato menghirup nafa lega dengan keputusan Kushina tersebut. Lalu, Minato mendekatkan wajahnya ke wajah Kushina dan bersiap-siap untuk menciumnya.

"Kami-sama! Tolong aku! Ini first kissku. Jadi bantu aku agar aku tidak membunuhnya" batin Kushina.

Minato semakin dekat.

5 cm…

4 cm…

3 cm…

2 cm…

1 cm…

Minato akhirnya mencium Kushina di bibir, bukannya marah Kushina hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan Minato padanya. Adegan kissing itu berlangsung selama 2 menit. Para hadirin yang datang hanya bisa tercengang dengan Kushina yang bisa bertahan. Setelah itu Minato melepaskan ciumannya, membuat muka Kushina dan dirinya sendiri memerah.

Prok… Prok… Prok… Prok…

Para hadirin yang melihatnya bertepuk tangan dan berdiri karena bahagia. Kemudian acara menukar cincin yang membawakannya adalah Mikoto dan Fugaku yang datang bersamaan.

"Ternyata ada pasukan MinaKushi di sini" kata Kushina sambil berbisik pada Mikoto.

"Tentu saja. Sekarang pakailah, dan akhiri dengan ciuman lagi" kata-kata Mikoto membuat muka Kushina memerah.

"Kau gila!" kata Kushina sambil meringis. Minato hanya bisa terkekeh.

Kemudian Minato memasangkan cincin pernikahan yang bertuliskan Minato to Kushina di dalamnya ke Kushina.

Setelah itu giliran Kushina yang memasangkan cincin utnuk Minato. Dan sebuah kejadian tak teruga terjadi.

Minato kebali mencium Kushina. Tapi, ciuman ini ciuman di dahi.

Kemudian mereka membungkukkan badannya ke arah tamu yang datang.

"Selesai" kata Kushina dengan senyuman lega terpancar di wajahnya.

Setelah itu acara pun di lanjutkan di mansion yang hanya di hadiri oleh Mikoto, Hiruto, Fugaku, Misaki, Tsunade, dll. Acara itu hanya acara makan siang. Karena sorenya Misaki dan Hito akan pergi ke Sunagakure.

"Bagaimana? Cukup melelahkan tidak?" Tanya Mikoto yang penasaran.

"Tidak terlalu. Hanya saja aku agak sedikit khawatir" kata Kushina lesu.

"Kenapa?"

"Masalah nanti malam" sontak kata-kata Kushina tersebut membuat tawa Mikoto meledak.

"Ahahahaha… Kushina, sang habanero. Takut… hmp… pada huahahahaha…. Malam… pertamanya?" Mikoto tidak-henti-hentinya tertawa lebar.

"Mikotoooo! Ssttt!" Kushina kemudian membungkam mulut Mikoto.

Sementara Minato dengan Misaki…

"Minato, selama aku pergi, tolong jaga Kushina ya!" kata Misaki.

"Baiklah Kaa-san"

"Tolong tinggal di apartement Kushina untuk sementara waktu"

"Baik Kaa-san"

"Dan ini beberapa vitamin untukmu. Yang berwarna putih agar kau tetap sehat. Yang warna merah agar kau tidak kekurangan darah. Yang hijau, karena kau lelah, makanya aku memberi vitamin ini satu saja"

"Baiklah Kaa-san"

"Dan yang ini untuk Kushina. Aku tau dia lelah, makanya aku mempersiapkan ini"

Misaki kemudian memberikan semua obat-obatan itu ke Minato. Tanpa sepengetahuan Minato, obat yang berwarna hijau itu merupakan obat yang dapat membuatnya menggoda Kushina. Sedangkan obat untuk Kushina merupakan obat tidur. *Misaki licik* #plak *poor author*

Sorenya, setelah mengantar Misaki dan Hito, Kushina dan Minato pulang ke apartement Kushina dengan mobil Minato. *Minato: akhirnya mobilku kembali*

Saat sampai di apartementnya…

"Tadaima" ucap Kushina lesu.

"Okaeri" sambungnya. Kushina kemudian langsung masuk ke kamarnya. Sedangkan Minato sedang membawa barang-barangnya.

Minato membawa 2 koper penuh. Ia kemudian masuk ke kamar yang kemarin ia pakai.

"DIMANA KASUR LAMAKU?" ucap Kushina histeris. Minato yang kaget, kemudian masuk ke kamar Kushina. Kushina sedang meratapi kamarnya yang sudah di ganti dengan perabotan yang serba putih-biru.

"Ada apa?" Tanya Minato yang panik. Kushina yang sedang duduk hanya terdiam.

"Oh, ini pasti kerjaan kakek. Saat umurku menginjak 17 tahun. Kamarku berubah menjadi seperti kamar Kaa-san dan Tou-san. Aku kaget, semua perabotanku berubah dari saat aku pergi sekolah pagi hari dan pada siang harinya perabotannya berubah" jelas Minato. Kushina kemudian bangun dan berdiri di depan Minato.

Badan Kushina jatuh dalam pelukan Minato. Minato yang kaget kemudian melihat ke wajah Kushina yang memejamkan matanya.

"Kau lelah ya?" Tanya Minato lembut.

"Iya. Sangat lelah. Jadi, bolehkah kita melewatkan apa yang diimpi-impikan sepasang pengantin?" kata Kushina dengan muka memerah.

"Boleh, aku juga tidak terlalu peduli akan hal itu" kata Minato sambil mengeratkan pelukannya ke Kushina.

"Baiklah. Aku mau mandi dulu. Nanti barang-barangmu biar ku bantu membereskannya" kata Kushina sambil melepaskan pelukannya dari Minato.

"Iya. Pergilah" Minato kemudian kembali ke kamarnya. Ia membereskan baju-bau dan buku-bukunya.

I'd chatch a grenade for ya

Throw my hand on the blade for ya

I'd jump in front of a train for ya

You know I'd do anything for ya

"Sara-san?" batin Minato. Kemudian ia mengangkat telfon dari Sara itu.

"Moshi-moshi. Minato di sini"

"Moshi-moshi. Minato, ini aku Sara. Bagaimana pernikahanmu dengan Kushina? Menyenangkan?"

"Hm… Eng… Lumayan" jawab Minato. Setelah jawaban Minato tadi, hanya keheningan yang tercipta. Tak ada satupun kata-kata yang keluar dari mulut kalian.

"Minato. Aku sudah selesai, kau sudah bisa mandi sekarang" kata Kushina. Kata-kata Kushina yang terdengar oleh Sara. Dan itu membuat Sara mengepalkan tangannya dengan keras.

"Oh, baiklah. Aku segera mandi" kata Minato.

"Kau mau mandi ya?" Tanya Sara coba mengendalikan amarahnya.

"Iya. Oke, sampai jumpa" kemudian Minato menutup percakapan tersebut.

Kemudian Sara mengunci telponnya dan menangis keras. Lalu ia berusaha untuk tenang. Hirota hanya bisa mendengar isak tangis anaknya dari balik pintu kamar anaknya itu. Sara kemudian keluar dari kamarnya.

"Tou… Tou-san. Kenapa Tou-san ada di sini?" kata Sara sambil mengusap matanya.

"Sara, jangan berbohong lagi" kata Hirota sambil memeluk Sara.

"Tou-san… Tou-san ke… kenapa?" Tanya Sara terisak dengan suara parau.

"Aku tau si Namikaze itu membuatmu menangis setiap saat, walaupun kau menutupinya. Aku ahu hatimu selalu menangis karena si Namikaze itu juga" kata Hirota sambil mengusap kepala anaknya.

"Tou-san! Dunia tidak adil. Hiks… kenapa semua ini harus terjadi padaku?" tangis Sara di pelukan Hirota.

Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Hirota. Sara kemudian pergi ke arah garasi, meninggalkan Hirota yang memandangnya sedih. Ia pun pergi ke sebuah klub malam.

MinaKushi Apartement…

"Maaf ya. Makan malammu yang pertama hanya ramen instan" kata Kushina sambil tersenyum meringis.

"Oh, tak apa" kemudian Minato kembali menyantap ramen instannya.

Mereka duduk berhadapan, seperti seorang suami istri yang menikah atas kemauan mereka sendiri. Setelah mereka selesai makan, mereka membereskan barang-barang Minato yang masih belum di bereskan.

"Selesai" ucap Minato sambil mengelap keringatnya dengan tisu.

"Ya selesai" kata Kushina. Saat ia menoleh ke tas yang ada di ranjang Minato.

"Minato, ini isinya apa?" Tanya Kushina heran sambil menunjuk ke arah tas Minato.

"Oh itu isinya obat-obat, buku, dan laptopku" kata Minato sambil mengeluarkan obat yang di beri Misaki.

"Ini, untukmu, dari Kaa-san" Minato kemudian menyerahkan obat-obat yang di berikan MIsaki.

"Oh, Arigatou!" kata Kushina, kemudian pergi ke dapur dan meminumnya. Begitu juga dengan Minato yang beberapa saat kemudian muncul setelah meminumnya.

Kushina yang merasakan efek duluan kemudian mulai mengantuk, "Minato, aku tidur dulan ya!"

Kushinayang menguap ekmudian masuk ke kamarnya. Tapi, Minato kemudian juga ikut masuk ke kamar Kushina dan mulai menggoda Kushina.

"Kushina, kau tampak sangat menawan hari ini. Kau seperti bintang yang ada di malam ini" kata Minato tanpa sadar.

Kushina yang sudah setengah tertidur kemudian menyuruh Minato keluar. Tapi, bukannya keluar, Minato malah mengunci kamar Kushina dan mengambil kuncinya.

"Minato, ku suruh kau keluar, sekarang!" perintah Kushina. Setelah sepenuhnya bangun, Kushina melihat Minato telah melepas bajunya. Tubuhnya yang six-pack itu membuat muka Kushina memerah.

"Minato! Apa yang kau lakukan?" tanya Kushina histeris.

"Aku? Hanya ingin menjadikanmu milikku selamanya" kemudian Minato memeluk Kushina.

"Kau ini apa-apaan sih? Kembali sana ke kamarmu!" Kushina yang mukanya sudah sangat merah melepaskan pelukan Minato. Kemudian ia mencoba membuka pintu kamarnya.

"Kunci… kuncinya kemana?" Tanya Kushina bingung. Saat ia membalikkan tubuhnya, Minato sudah siap-siap untuk memeluknya.

"Kyaaaa…."

Paginya…

Kring…

Kushina bangun di kasurnya yang empuk. Ia kemudian mengingat-ngingat kejadian kemarin dan tadi malam. Ia ingat dengan jelas kejadian tadi malam. Dimana Minato menjadikannya sebagai miliknya. Tapi, ia hanya bisa pasrah, mengingat memang begitulah nasibnya. Ia melihat Minato masih tertidur pulas di sampingnya.

"Kau sudah bangun?" Tanya Minato yang sedang menatapnya dengan senyuman hangat di wajahnya.

Kushina kemudian memalingkan kepalanya dari tatapan Minato yang menurutnya seperti malaikat di luar, tapi maut di dalamnya. Minato kemudian berusaha mengingat-ngingat apa yang ia lakukan dengan Kushina kemarin hingga tadi malam. Kemudian ia sadar bahwa ia telah membuat Kushina sangat marah padanya.

"Ehm… Kushina. Ng… Aku… Minta maaf" katanya dengan muka memerah.

"Untuk apa?" Tanya Kushina ketus.

"Yang tadi malam itu… aku benar-benar merasa bersalah"

"Lalu? Kenapa aku harus memaafkanmu?" Tanya Kushina yang mulai penasaran.

"Ya, karena… kau adalah istriku. Dan seorang istri harus memaafkan suaminya" jawab Minato dengan cengiran khasnya.

Kemudian Kushina membalikkan badannya menghadap ke arah Minato. Dan memandangnya dengan wajah tidak senang.

"Kau tau? Kau merebut ciuman pertamaku. Dan sekarang kau sudah menjadikanku milikmu. Bukan hanya memperkosaku. Kau juga membuat banyak tandamu padaku" kata Kushina sambil memegangi lehernya.

"Hei hei… aku kan tidak memperkosamu. Kau sudah sah menjadi milikku" bantah Minato.

Kushina kemudian tersenyum pada Minato, "Kau ini! Ya sudah aku mau menyiapkan sarapan. Dan tentunya aku mau mandi dulu"

Kemudian Kushina melihat ke dalam selimut, kemudian menatap Minato dengan tatapan membunuh.

"Minato. Kau harus bertanggung jawab dengan keadaanku ini ya?" Kushina tersenyum membunuh ke arah Minato.

Minato yang bingung kemudian melihat ke bawah selimut, kemudian mukanya memerah seperti rambut Kushina.

"Ah… A… Ja… Jadi… Apa yang… Ng… Harus… Aku lakukan?" Tanya Minato gugup.

"Kau harus keluar dari kamarku. Sekarang!" perintah Kushina. Kemudian Kushina menarik selimut dan menggulung dirinya di dalam selimut. Tapi, sebuah tangan mengelus rambutnya.

"Rambutmu ini lembut, sangat cantik" goda Minato. Kushina hanya menghela nafas.

"Maksudmu apa?" Tanya Kushina yang bingung.

"Ng… kalau aku menyiksamu seperti tadi malam bagaimana?" Tanya Minato tanpa rasa bersalah.

"Ku bunuh kau kali ini. Malam ini aku akan menyiapkan banyak benda-benda tajam di sekitarku"

"Kau bercanda"

"Aku serius. Dengan sekali tusukan, aku akan membunuhmu"

"Baiklah, sekarang, kau mau mandi atau tidak?"

"Tentu saja mau!"

"Ya sudah. Aku kunci pintunya ya"

"Eh… Kembalikan kunciku" Minato kemudian berlari ke arah pintu kamar Kushina dan menuju ke ruangan tengah.

Duk…

Kaki Kushina tersandung kaki Minato yang kebetulan ada di depannya, dan Kushina pun menimpa tubuh Minato

Cklek…

"Kushi… na" Misaki yang membuka pintu apartement Kushina secara tiba-tiba itu kaget, pemandangan yang sangat 'mengejutkan' menyambutnya di pagi yang damai itu. Kushina yang berpenampilan seperi itu menimpa tubuh Minato yang hanya memakai celana pendeknya.

"KAA… KAA-SAN!"

Srshhh…

Gemericik air terdengar dari kamar mandi yang sedang di pakai oleh Minato. Malam ini hingga malam-malam yang akan datang, Minato akan tidur di kamar Kushina. Kushina yang sedang mengganti sprainya melihat darah di atas sprai berwarna putih itu.

"Kushina, tolong ambilkan celanaku di lemari ya" kata Minato dari kamar mandi.

Kushina sebagai istri yang baik mengambilkan celana untuk Minato. Setelah itu, ia menyerahkan handuk itu ke Minato lewat pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.

"Arigatou" tak beberapa lama Minato keluar dari kamar mandi, kemudian ia melihat Kushina dengan muka yang di tekuk. Kemudian ia melihat ke wajah Kushina. Tapi, Kushina selalu menghindar.

"Kenapa? Kau malu denganku?" Tanya Minato.

"Bukan. Aku menyadari banyak hal ketika Kaa-san datang tadi. Yang pertama seharusnya aku memang menjadi milikmu. Ke dua, aku malu kepada mu. Yang ke tiga, aku sangat malu pada Kaa-san"

Minato yang mendengarnya tertawa kecil dengan pernyataan yang Kushina berikan barusan.

Saat Misaki datang…

"KAA… KAA-SAN!"

"Mina… Kushi… Ya ampun. Kalian kenapa?" Tanya Misaki yang masih agak terkejut.

"Eng… Kami…" jawab Minato.

"Pasti kalian sudah melakukannya kan?"

"TI… TIDAK!" jawab mereka bersamaan

"Bohong! Kata Misaki.

"TIDAK!"

"Hh… Ya sudahlah. Aku hanya ingin memastikan kalau Kushina itu belum di sentuh atau belum. Ternyata, tebakanku benar. Minato tidak dapat menjaga hasratnya" kata Misaki sambil keluar.

Back to story…

"Hohohoho… Jadi, kau malu? Begitu?"

"Bukan begitu! Tapi…" Minato kemudian menarik wajah Kushina dalam-dalam, sehingga ia dapat mengecup pipi Kushina.

"Kurang kerjaan. Apa kau tak punya kerjaan lain? Oh iya, aku baru ingat, hari ini hari Minggu dan juga hari pertama musim gugur. Bukannya marah atau apapun itu. Lebih baik kau duduk saja dulu di ruang tengah, nanti aku akan keluar" Minato yang mangut-mangut dengan kata-kata Kushina kemudian keluar dari ruangan tersebut.

"Cepat!" kemudian Minato berlari ke ruang tengah. Kushina hanya bisa menghela nafas.

"Galak sekali ke suaminya sendiri" kata Minato.

"Aku mendengar itu kepala duren berduri" kata Kushina dari dalam. Sontak, itu membuat Minato duduk di ruang tengah dengan tenang.

5 Menit…

10 Menit…

30 Menit…

"Lama sekali beres-beresnya" gumam Minato. Karena penasaran, akhirnya ia masuk ke dalam kamar.

Ia melihat Kushina yang tertidur dengan wajah yang damai dan sejuk di meja. Ia melihat cara tidur Kushina yang tidak biasa, seperti terkena suatu biusan.

"Kushina…" saat Minato memegang badan Kushina, badan Kushina kemudian terjatuh dan tersungkur ke lantai.

Minato yang panik kemudian menggendong badan Kushina dan segera berlari meninggalkan apartement.

"Hoi, Kushina… Bangunlah!" kata Minato panik.

"Uhuk… To… Long… Aku… Sudah… Ti… Dak… Kuat…" kata Kushina dengan tersengal-sengal.

TBC