"Sasu-nii,"

Sasuke menghampiri sang adik yang tengah duduk di sofa ruang tamu. Pemuda tampan itu kemudian ikut duduk di sebelah kanan adiknya.

Sasuke mengusap kepala adik perempuannya dengan sebelah tangan, "Kenapa belum tidur, Yume?"

"Ada yang ingin aku tunjukan," Yume dengan segera mengapit lengan kiri Sasuke, dan menarik pemuda itu menuju suatu ruangan.

"Ini ruang pribadi Ayah, untuk apa kita kesini?"

"Sudahlah, ikut saja."

Dan keduanya masuk kedalam ruangan besar berisi benda-benda antik, serta buku-buku tua yang berjajar rapi di sebuah rak besar. Yume menarik Sasuke menuju meja kerja milik Uchiha Fugaku, Ayah mereka.

Tidak ada sesuatu yang istimewa di atas meja itu, hanya beberapa dokumen, lampu baca antik, dan sebuah buku bersampul biru tua polos yang terlihat cukup kusam. Yume menarik napas dalam, kemudian membuka halaman pertama buku bersampul biru itu.

"Album foto?" gumam Sasuke.

Di halaman pertama buku, terdapat dua buah foto keluarga. Yang membuat Sasuke heran adalah keluarga yang ada di foto tersebut, keluarga Uchiha dan keluarga Uzumaki-Namikaze.

"Tadi saat aku ingin pergi ke dapur, aku melihat Ayah baru keluar dari ruangan ini. Pintunya belum tertutup rapat, karena penasaran aku memberanikan diri untuk masuk. Dan aku mendapati album foto ini." Jelas Yume sambil kembali membuka halaman-halaman buku selanjutnya.

Sasuke mulai mengingat sedikit demi sedikit momen-momen yang ada di foto itu. Saat usianya masih 6 tahun, dan Yume belum lahir saat itu. Sasuke juga ingat sosok bocah berambut blonde yang ada di foto-foto itu. Itu adalah Uzumaki Naruto.

"Aku harus menanyakan hal ini pada Ayah dan Ibu."

Sasuke beranjak pergi dari ruangan itu, disusul Yume yang melangkah dengan tergesa di belakang Sasuke.


Oo Piyo-Chan oO


"Jadi Ayah, bisa tolong jelaskan apa yang terjadi di masa lalu?" tanya Sasuke mencoba setenang mungkin.

Uchiha Mikoto mengeratkan pelukannya pada lengan sang suami, berharap Fugaku tidak tersulut emosi mendapat pertanyaan tiba-tiba itu dari Sasuke.

Fugaku menggeram, "Apa penting untuk membicarakannya?"

"Ya. Kami harus tau alasan permusahan keluarga ini dengan keluarga Uzumaki-Namikaze." Jawab Sasuke.

Fugaku menatap Mikoto, dan istrinya itu balas menatapnya sambil mengangguk dan tersenyum. "Biar Ibu yang menjelaskannya, Sasuke." Ujar Mikoto lembut.

"Ini semua berawal karena kecemburuan kakekmu. Dulu Uchiha's Corp adalah satu-satunya perusahaan tersukser di Jepang, tapi semua itu berubah ketika UzuKaze Enterprise berdiri–" Mikoto menarik napas panjang sebelum melanjutkan ceritanya.

"–perusahaan itu mampu menyeimbangkan eksistensinya dengan Uchiha's Corp dalam waktu yang terbilang singkat, dan itu membuat kakekmu marah besar. Kakekmu melakukan segala cara agar pamor UzuKaze Enterprise menurun. Bahkan saat kami mengalami kecelakaan, kakekmu menuduh bahwa Paman Hashirama telah mensabotase mobil kami dan membuat kecelakaan terjadi, padahal itu semua ulah kakekmu." Mikoto mengakhiri ceritanya dengan setetes air mata yang dengan segera dihapusnya.

Sasuke sulit mempercayai ini. Uchiha Madara, kakeknya, sosok yang paling Ia hormati melebihi Ayahnya sendiri, ternyata hanya orang tua licik dengan segala kebusukannya. Sasuke tidak bisa tinggal diam, Ia harus mengakhiri permusuhan dua keluarga besar itu.

"Ayah dan Ibu berteman dengan mendiang Paman Minato dan Bibi Kushina?" tanya Yume dengan nada bergetar.

Fugaku tersenyum tipis, "Jauh dari kata teman, kami sudah seperti saudara."

"Aku janji akan mengakhiri permusuhan ini Yah, Bu. Aku janji pada kalian."

Fugaku dan Mikoto tersenyum, melihat kesungguhan di mata anak sulung mereka. Sasuke mampu membangkitkan secercah harapan yang sudah lama sirna.


Oo Piyo-Chan oO


"California? Hanya untuk meeting?" tanya Naruto dengan raut tidak percaya.

Iruka yang tak lain adalah asistennya mengangguk, "Menurut jadwal yang kuterima dari Sabaku no Company, kita akan di California sampai seminggu."

"Ini meeting atau liburan? Paman, coba telpon Gaara."

Iruka mengangguk kemudian dengan segera menghubungi pimpinan Sabaku no Company, Sabaku Gaara. Begitu tersambung, Iruka menyerahkan ponselnya pada Naruto.

"Ya Naruto, what's wrong?"

"Kau masih bertanya? Kau itu gila atau apa? Hanya untuk meeting, kita harus ke California?"

"Calm down. Lagipula, sudah kuurus semuanya. Besok kita berangkat."

"Jangan main-main denganku, Tuan Sabaku."

"Hei hei! Kita butuh refreshing , Naruto. Jangan kolot seperti nenek-nenek."

"KOLOT KATAMU?!"

"Sudahlah, bye!"

Dan setelah itu, sambungan telepon dengan Gaara terputus. Naruto menyerahkan kembali ponsel ditangannya kepada Iruka, kemudian menyuruh Iruka meninggalkan ruangannya.

"Ya Tuhan, apa yang tengah kau rencanakan?" Naruto mengusap wajahnya kasar, wajahnya terlihat kacau sekarang. Matanya seketika terbelalak, "Ini sama artinya, seminggu bersama Uchiha Sasuke, 'kan? Arrrgggh!"


Oo Piyo-Chan oO


"Hime, jaga diri baik-baik, 'kay?" Naruto menangkup wajah Hime dengan kedua tangannya.

Hime tersenyum, "Orang tua temanku itu akan menjagaku seperti menjaga anaknya sendiri, Nii-san. Kau tidak perlu khawatir, fokuslah pada proyek perusahaan. Ganbatte!"

Naruto membawa Hime ke dalam pelukannya. Seminggu akan terasa sangan lama jika tidak bertatap muka dengan sang adik. Tapi ini semua Ia lakukan demi kebahagiaan Hime, jadi Ia harus berusaha.

"Lagipula sudah ada aplikasi video call, 'kan? Kita bisa bertatap muka kapan saja, Nii-san." Hime masih mencoba meyakinkan Naruto, kalau Ia akan baik-baik saja.

"Baiklah-baiklah. Nii-san berangkat sekarang, ayo Paman Iruka. Jaa Hime-chan!" Naruto melangkahkan kakinya menuju taksi yang sudah dipesankan Gaara, sambil melambaikan tangannya ke arah sang adik.

Naruto dan Iruka memasuki taksi setelah memastikan koper-koper mereka telah masuk ke bagasi. Taksi melaju dengan kecepatan rata-rata ke salah satu bandara internasional yang ada di Tokyo.

"Kita akan naik pesawat pribadi Sabaku no Company. Dan kau akan duduk di sebelah Sasuke." Iruka mengecek e-mail baru yang dikirimkan oleh asisten Gaara.

Naruto menaikkan alisnya, "Kau bercanda, Paman? Duduk bersebelahan dengan Uchiha? Aku tidak mau!"

"Tuan Sabaku yang memintanya,"

Naruto mendengus kesal, Naruto curiga kalau Gaara berniat membuatnya dekat dengan Sasuke. Naruto tau betul, kalau sejak dulu keluarga Sabaku diam-diam berusaha membuat Uchiha dan Uzumaki-Namikaze akur. Tapi sepertinya usaha Gaara kali ini akan sia-sia seperti yang sudah-sudah.


Oo Piyo-Chan oO


Sesosok pemuda tampan berbalut pakaian casual duduk di salah satu kursi tunggu bandara. Matanya terfokus pada layar tab silver di tangannya.

"Yo Sasuke! Ini pesananmu." Sasuke menerima segelas espresso dari pemuda berambut perak yang tak lain adalah asistennya, Hatake Kakashi.

"Terimakasih." Sasuke menyesap sedikit espressonya.

Kakashi duduk di kursi kosong yang ada di sebelah Sasuke, kemudian melirik atasannya yang terlihat serius dengan sesuatu yang ada di tab silvernya.

"Kau sedang apa, Sasuke?"

"Membaca e-mail dari adikku. Oh ya, apa masih lama kita menunggu?"

"Yang kudengar dari Neji, kita hanya tinggal menunggu Naruto dan asistennya."

Sasuke mendesah pelan. Uzumaki itu benar-benar membuang waktunya percuma. Dan lagi, seminggu kedepan Ia akan lebih sering bertatap muka dengan pemuda blonde itu. Tapi dengan begini, akan lebih mudah baginya untuk memperbaiki hubungan dengan keluarga Uzumaki-Namikaze.

Tak lama kemudian, yang dinanti-nanti kini sudah tiba. Naruto dan asistennya melangkah semakin mendekat ke arah Sasuke dan Kakashi.

"Maaf kami sedikit terlambat," Iruka membungkukkan badannya.

Kakashi tersenyum, "Tak apa, lagipula Tuan Sabaku dan asistennya masih ada urusan dengan pilot pesawat yang akan kita tumpangi nanti."

Iruka mengangguk, kemudian mendudukkan diri di seberang Sasuke dan Kakashi, tepatnya di sebelah kiri Naruto. Naruto membuang muka saat tanpa sengaja manik safirnya bertemu pandang dengan manik kelam Sasuke.

Entah kenapa ada rasa rindu saat Ia menatap langsung kedalam mata Sasuke, seperti sudah lama tidak bertemu. Tapi Naruto tetaplah Naruto, dengan segala keangkuhannya, Ia berusaha mengabaikan rasa itu.

"Baiklah teman-teman, pesawat kita sudah menunggu. Ayo!" Ujar Gaara yang tiba-tiba sudah ada di antara mereka.


Oo Piyo-Chan oO


Sasuke memperhatikan gerak-gerik Naruto yang seperti tidak nyaman duduk di sebelahnya. Wajah pemuda blonde itu terlihat gelisah. Dan Sasuke kembali mengingat suatu hal tentang anak sulung mendiang Minato dan Kushina itu.

"Mau bertukar tempat?" tawar Sasuke.

Naruto diam sejenak, "Kalau kau tidak keberatan, boleh saja."

"Tentu tidak. Silahkan, Naruto."

Mereka kemudian bertukar tempat. Naruto duduk berdekatan dengan jendela, sedangkan Sasuke duduk di tempat Naruto sebelumnya.

Perjalanan Jepang-California memakan waktu lama. Dan saat kantuk mulai menyerang Naruto, tanpa sadar pemuda manis itu menyandarkan kepalanya ke bahu Sasuke, dan terlelap.

Sasuke tersenyum kecil, dia janji akan menjaga Naruto mulai saat ini. Karena Sasuke kini tau, kalau Naruto tidak setegar yang terlihat diluar.

"Oyasumi, Naruto."


Oo Piyo-Chan oO


TBC/END?

Terimakasih buat review di chap sebelumnya.

Review Please!