Desclaimer : Yana Toboso. But dia udah dengan ikhlas ngasih Sebastian ke gue *ditendang ke lumpur Lapindo*
Special thanks to yang udah review, balasannya ada di bawah. Jgn lupa review lagi yak *dibogem* Bagi yang belum review, review ya…n.n
Chapter 2 : That Butler, Date.
.
.
.
Wajah-wajah ceria menghiasi sebuah gedung tempat akan berlangsungnya acara 'Meet the Lord' itu. Yupz, Meet the Lord, sebuah acara jumpa fans dengan Kuroshitsuji, Boyband yang tengah naik daun sekarang ini. Kenapa nama acaranya Meet the Lord? Karena jelas saja, Kuroshitsuji berasal dari bahasa Jepang yang artinya Black Butler. Karena hal itulah, fans-fans Kuroshitsuji disebut sebagai Lord, seperti halnya ELF bagi Super Junior de-el-el. Pssst…sekedar info, setiap kali Kuroshitsuji mengakhiri lagu, mereka pasti mengucap 'Yes My Lord' sambil membungkuk hormat layaknya Butler. So sweet…(?)
Oke, tinggalkan penjelasan membosankan di atas. Kini beralih pada dua bocah yang tengah ikut berdesak-desakan bersama pengunjung lainnya. Ciel dan Alois.
"Ugh…sesak sekali." Keluh Ciel.
"Iya, coba kita lebih tinggi sedikit." Balas Alois.
Ciel hanya menatap tidak suka karena merasa tersindir dengan ucapan Alois. Padahal Alois sama sekali tak bermaksud menyindir karena mereka memang pendek coz masih SMP sih…sedangkan fans-fans yang berjubel disana kebanyakan sudah remaja SMU atau Kuliah.
"Huuuh tau begini kubawa Bodyguard supaya kita tidak perlu berdesak-desakan begini." Keluh Alois lagi.
"He? Tapi tidak akan seru, biar saja kita merasakan sebagai fans kebanyakan seperti mereka." Cengir Ciel yang lalu diikuti anggukan Alois.
Setelah berjubel cukup lama, mereka bisa masuk dan mendapatkan tempat duduk di baris no.3 dari depan, soalnya baris 1 dan 2 untuk wartawan. Penonton langsung menjerit histeris saat Kuroshitsuji memasuki stage, duduk di balik meja panjang dengan michrophone dihadapan masing-masing. Untuk sesi pertama, acara lumayan membosankan karena hanya wawancara dengan wartawan. Tapi di acara kedua, suasana kembali meriah lagi setelah Kuroshitsuji mempersembahkan satu lagu.
"Annyeong haasseo, Konichiwa minnasan, How are you?" sapa Sebastian setelah mereka mengakhiri lagu. Langsung saja ucapan Sebastian disambut teriakan penonton.
"Nice to meet you again. Mmmccch…" Greill langsung sok-sokan tebar kissbye gratis, dan yang mencengangkan, ada aja penonton yang histeris bahkan sambil mimisan.
"I hope you enjoy this day. Have a great day for you all." Giliran William yang bicara dan kembali disambut sorakan penonton.
"Oke, setelah ini seperti yang telah kami janjikan, kami akan memberikan kenang-kenangan kecil untuk kalian." Ucap Claude sementara di bangku penonton, Ciel tengah kesulitan bernafas karena Alois mencekeknya saking girang melihat Claude. "Hn…tapi karena jumlahnya terbatas, akan diadakan dengan system undian. Gomenne~" ucap Claude penuh sesal, tapi penonton tetap histeris. Malah makin bersemangat karena harap-harap cemas siapa yang akan dapat.
"Yupz, kalian pasti sudah tidak sabar. Mari mulai undiannya." Ucap Undertaker yang keren dengan rambut panjangnya yang menutupi mata. "Ne~ kalian pasti sudah terdaftar dalam daftar pengunjung saat datang ke acara ini, dan nama itulah yang akan kami undi." Undertaker menuju sebuah alat pengundi yang berisi kertas kecil bertuliskan nama-nama pengunjung. "Kami akan bergantian mengundinya sampai 50 orang yang beruntung." Lanjut Undertaker.
"Aku pasti dapat!" ujar Alois penuh percaya diri. "Jadi nanti aku bisa berjabat tangan dengan Claude. Kyaaa…" jerit Alois yang spontan membuat Ciel sweatdrop. Tapi…sepertinya dewi fortuna sedang bosan untuk menghampiri CielAlois. Karena baik Ciel maupun Alois nggak ada yang dapat satupun dari hadiah-hadiah itu!
"Kok kita nggak dapet sih!" omel Alois.
"Hn…tenanglah, siapa tahu malah kita yang akan dapat hadiah sehari bersama Kuroshitsuji." Hibur Ciel.
"Itu lebih nggak mungkin lagi. Hadiah yang itu kan Cuma untuk 5 orang, tadi aja yang untuk 50 orang kita kagak dapet."
"Oke, ini hadiah utamannya." Ucap Sebastian. "Kencan sehari dengan kami. Kali ini undiannya akan dilakukan dengan cara yang istimewa." Penonton terdiam, saling berbisik, mencoba menebak seperti apa cara undiannya. Sebastian melanjutkan. "didaftar nama kalian juga ada nomor telfon kalian, aku akan mengambil 5 kertas itu dan menelfon nomor yang ada disana. Kalian, siapkan HP kalian, siapa tahu kau yang beruntung."
Penonton histeris lagi, tapi segera diam seketika saat Sebastian mengambil lima kertas secara acak. Lalu mulai menekan tombol HP sesuai angka yang tertera di kertas. Tak lama kemudian, terdengar bunyi ringtone dari seseorang, dan orang itu langsung menjerit histeris dan turun ke panggung dengan tatapan tidak percaya. Begitu seterusnya sampai 4 orang sudah terpilih.
Hingga saat Sebastian akan menekan nomor yang kelima, Ciel melihat Sebastian merogoh saku celanannya dengan sembunyi-sembunyi, mengeluarkan sesuatu namun hanya sebagian. Mata Ciel terbelalak, benda itu…kartu nama Ciel yang Ciel berikan waktu di restaurant.
"Se-sebastian…apa yang dia…"batin Ciel tak percaya saat HPnya berdering. Ciel masih diam sementara penonton menatap iri padanya.
"Hei" Alois menyikut Ciel. "HPmu."
"Tidak, itu pasti hanya dari orang-orang perusahaan." Kilah Ciel. "Aku akan keluar untuk mengangkatnya."
Alois meraih tangan Ciel dan tersenyum. "Kau jangan memikirkan aku, aku tidak apa-apa kok kalau kau yang dapat. Pasti masih ada banyak kesempatan aku bertemu Claude, aku kan kaya, bisa saja ku undang Claude ke rumahku." Alois nyengir lebar untuk meyakinkan sahabatnya.
Ciel agak tertunduk sebelum akhirnya melangkah ke panggung dengan seucap kata maaf terlontar dari bibir mungilnya.
Sorakan pengunjung membahana saat Kuroshitsuji saling berjabat tangan dengan para pemenang itu.
"Kau." Ucap Sebastian saat menyalami Ciel. "Maaf belum sempat menelfonmu. Aku khawatir nantinya kau akan menyebarkan nomorku." Mereka agak berbisik. Ciel menatap Sebastian datar.
"Tidak seharusnya kau melakukan itu." Ucap Ciel, membuat Sebastian tersentak. Apa Ciel tidak senang mendapat hadiah ini? "Aku bersama sahabatku, dan aku tidak akan pergi ke acara ini tanpanya. Dan kau, kau malah berbuat curang dengan menelfon nomor yang bukan tertera di kertas undian."
Sebastian menatap dengan tatapan bersalah. Dan Ciel, dia berbalik ke arah penonton, meminta perhatian dengan bicara melalui mic yang ia rebut dari panitia.
"Aku menolak hadiahku. Jadi Sebastian akan mengundi sekali lagi." Ucap Ciel lalu kembali ke tribun penonton. Meski heran, penonton tetap bersorak karena masih ada satu kesempatan lagi. Sebastian hanya menatap Ciel dengan senyum lembut sebelum kembali mengundi.
"Ah kau ini, kenapa menolaknya." Ucap Alois.
"Kencan seharinya kan pas hari sekolah." Alasan Ciel.
Alois menghela nafas lelah. "Aku tahu kau berbohong. Ini soal aku kan? Sudahlah Ciel, kau kan tidak harus sampai segitunya."
"Tidak juga tuh. Aku hanya tidak ingin bermain curang, nomor yang tadi diambil Sebastian kan memang bukan nomorku."
"Ha?" Alois menatap dongo.
"Ah, sudahlah"
Mereka kembali menatap pengundian. Kali ini Sebastian melakukannya dengan tidak curang. Tapi dasar emang jodoh kali yak? Ternyata kali ini yang terambil oleh Sebastian adalah nomor Ciel. Ciel langsung saja menatap horror sedangkan Sebastian cepat-cepat mengambil kertas lain sebelum dapat lemparan sepatu dari Ciel.
~ ] ! ~
Menjelang malam, barulah acara itu selesai.
"Ciel…temani aku ke toilet dong." Ucap Alois.
"Hn…" Ciel lalu mengekor Alois ke toilet yang masih berada di gedung tempat berlangsungnya acara tadi. Ciel menunggu sambil bersandar di tembok, memainkan HPnya untuk melihat video klip Kuroshitsuji.
"Sibuk?" Sebuah suara menginterupsi Ciel. Ciel mendongak.
"Sebastian?"
Sebastian tersenyum ramah. "Maaf soal yang tadi."
"Tidak masalah. Sedang apa kau disini?"
"Mencarimu."
"Untuk apa?"
"Untuk minta maaf tentunya. Dan…oia. Ini nomor HPku."
"Lho, jadi yang untuk menelfon tadi bukan milikmu?" Ciel mengambil kartu nama Sebastian, mencatat nomornya, lalu mengembalikannya lagi.
"Tentu saja bukan. Bisa-bisa nomorku tersebar ke seluruh negri. Bisa repot nantinya."
Pintu KM terbuka, Alois keluar dari sana, kaget melihat Sebastian. Tapi sejurus kemudian nyengir lebar.
"Salam kenal, aku Alois, temannya Ciel." Alois mengulurkan tangan. "Aku sudah cuci tangan kok."
Sebastian tertawa kecil lalu menjabat tangan Alois. "Salam kenal juga Alois. Hn...kalian masih SMP ya? Pendek sekali." Goda Sebastian.
"Hahahaha…iya" tawa Alois sambil memegangi Ciel yang siap menelan Sebastian hidup-hidup. Ciel memang sangat sensitive bila mendengar kata 'pendek'.
"Sebastian." Panggil seseorang, Sebastian menoleh.
"Claude? Ada apa?"
Claude menghampiri dan agak terkejut melihat Ciel dan Alois. Ia lalu tersenyum tipis. "Ada teman rupanya. Samal kenal, aku Claude." Claude mengulurkan tangan pada Ciel, Ciel menyambutnya.
"Aku Ciel, penggemar berat kalian. Salam kenal." Balas Ciel dengan tatapan kau-tidak-memperkenalkan-diri-aku-juga-sudah-tahu-siapa-kau.
"Lalu kau…" Claude mengalihkan tangannya pada Alois. Tercengang, begitu juga dengan Ciel dan Sebastian. Pasalnya, Alois tampak membeku dengan wajah semerah tomat. Ia sama sekali tidak bergerak, bahkan berkedippun tidak. Ciel mulai khawatir bagaimana kalau Alois lupa cara berbafas (?)
"Hei…" ucap Claude lembut sambil mengayunkan tangannya di depan wajah Alois dan…
"Alois!" jerit Ciel karena tubuh Alis roboh seketika. Pingsan.
~ ] ! ~
"CLAUDE!" jerit Alois begitu bangun dari pingsannya. Terdengar tawa Ciel dari arah samping.
"Tak kusangka, seorang Alois si hyperaktif bisa tidak berdaya di hadapan seorang Claude Faustus." Tawa Ciel.
"Aisssh…diam kau!" Alois melemparkan bantal ke wajah Ciel, dan barulah melihat sekeliling. "Kita dimana?" tanya Alois baru menyadari ia tak mengenali tempat dimana ia berada.
"Di kamar hotel Claude."
"Apaaaa!"
"Hei hei, jangan pingsan lagi."
"Nggak kok! Lo pikir gue cowok autis?"
'Iya' batin Ciel.
"Ngapain kita masih disini? Kau kan bisa membawaku pulang?"
"Tadinya juga mau begitu. Tapi Sebastian mencegahnya, katanya biar nanti Claude minta maaf secara langsung padamu."
"Haaah…" wajah Alois memerah lagi.
"Kalau kau pingsan tiap bertemu dia, kapan kau bisa ngobrol dengannya?"
"Iya aku tahu, tadi aku kan Cuma kaget aja. Kejadiannya terlalu mendadak."
Pintu kamar terbuka, Sebastian muncul bersama Claude. Alois dengan wajah blushing, langsung berdiri dan membungkuk. "Maaf." Ucapnya, membuat Sebastian tertawa kecil dan Claude hanya tersenyum tipis, seperti biasa.
"Tidak masalah, harusnya aku yang minta maaf. Mungkin aku mengejutkanmu." Ucap Claude.
"Hn…oia, Ciel bilang kalian fans berat kami kan?" ucap Sebastian, CielAlois mengangguk semangat. "Tapi sayangnya kalian tidak menang acara kencan sehari itu. Bagaimana kalau kalian pergi dengan kami malam ini?"
"APAAA!" jerit CielAlois bersamaan.
"E…a-ano, ka-kalo kalian keberatan juga tidak apa-apa." Tapi Sebastian langsung mengerti kalau yang terjadi malah sebaliknya melihat tatapan CielAlois yang ber-puppyeyes no jutsu. "Baiklah, ayo pergi." Senyum Sebastian lalu menyeret dua bocah itu pergi.
CielAlois pergi bersama Kuroshitsuji beranggota lengkap ke sebuah villa mewah.
"Kami mau merayakan kesuksesan launching album kami, jadi ke tempat seperti ini deh. Soalnya kalau di tempat ramai, bisa repot nantinya. Tidak apa-apa kan?" ujar William.
"Sangat tidak apa-apa" ucap CielAlois berbarengan lagi, widiih…kompak amat. Yak, sapa juga yang gak kompak diajak beginian. Serasa Kuroshitsuji milik berdua #plaak#
"Yu~Hu~ bersulang…" seru Greill semangat sambil mengangkat gelasnya.
"Bersulang…"sambut yang lain lalu saling men-adu-kan gelas dan meminum isinya. Meski itu hanya pesta kecil, keadaanya riuh juga karena sambil mendengarkan music Kuroshitsuji, apalagi dengan tingkah Greill Alois yang hyperaktif menari-nari. Eh eh, GreillAlois? Pasangan yaoi baru? O.O *digiles Alois*
"Nah, aku hafal gerakan kalian kan." Ujar Alois sambil nge-dance mengikuti music.
"Heh, lumayan juga. Coba yang ini." Ujar William lalu melakukan break-dance.
"Whoaaa…"sorak kagum yang lain. Sementara di jarak yang agak terpisah…
"Hei, kenapa kau mengajak kami?" tanya Ciel pada Sebastian.
Sebastian mengalihkan matanya ke Ciel. "Karena ingin saja. Aku kagum padamu yang lebih memilih temanmu daripada hadiah bodoh itu."
"Itu kan hal biasa. Tidak mungkin seorang teman meninggalkan temannya untuk kesenangan sendiri."
"Oya? Itu bukan hal biasa lho. Banyak sekali yang justru kebalikannya. Whuuuu…"seru Sebatian saat Claude juga ikut nge-dance bersama kawan-kawannya itu. "Dan lagi…karena aku ingin melihat teman-temanku segembira ini."
"…?"
"Kau tahu, Claude dan William itu nyaris tak pernah tersenyum. Hanya di depan fans saja mereka ramah. Dan berkat kalian berdua, mereka bahkan tampak begitu gembira. Kalian memang istimewa. Hehehehe"
"Biasa saja, sama seperti fans yang lain."
"Tidak. Kalau fans yang lain pasti mereka sedang teriak-teriak dan meluk-meluk kami sekarang. Tapi kau dan Alois…"Sebastian kembali menatap shapphire biru Ciel. "…kalian memperlakukan kami seperti orang biasa. Kau tahu, seperti…teman. Yah, teman."
Ciel segera memalingkan muka karena merasakan wajahnya memanas. "Kenapa kau tidak kesana saja." Ucap Ciel, mengarah kepada 'teman-temannya'.
"Boleh, kau mau melihatku nge-dance?" tantang Sebastian.
"Ya, suaramu memang paling bagus diantara mereka. Tapi dance-mu kan paling jelek." Goda Ciel yang sebenarnya tahu kalau dance Sebastian-lah yang paling bagus.
"Hn…lihat saja. Ayo." Sebastian segera bergabung dengan yang lain, adu dance. Tak ayal sesekali Ciel juga terbawa irama coz do'I juga hafal sebagian besar dance Kuroshitsuji meski jangan diusut kapan ngapalinnya? Dia kan sibuk terus di Phantom Corp ?
Malam semakin larut saat music mulai menghentak pelan.
"Huuuh…sudah kubilang jangan minum alcohol!" kesal Claude melihat teman-temannya tepar kecuali Sebastian yang meski mabuk tapi belum tepar.
"Hahaha mereka sudah tidak mematuhimu, ayah." Goda Sebastian.
"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu, kakek tua. Cepat ke KM dan rendam kepalamu sana!"
"Ya…hik…" Sebastian nyaris saja roboh kalau tidak tiba-tiba Ciel menahan tubuhnya.
"Ah, Ciel. Tolong antar dia ke KM. Maaf merepotkan…" ujar Claude. "Dan kau kakek tua, jangan terlalu bersandar pada Ciel. Kau berat tauk!"
"Hahahaha " Sebastian hanya tertawa sementara Ciel agak keberatan memapah Sebastian yang jauh lebih tinggi besar daripada tubuhnya itu.
"Biar kubantu." Ucap Alois saat Claude kerepotan membawa nampan berisi gelas-gelas kosong.
"Terimakasih." Claude menyerahkan satu nampan pada Alois lalu mereka berjalan ke dapur.
"Claude tidak minum?" tanya Alois.
"Tidak. Aku alergi alcohol."
"Ha? Benarkah? Wah…aku tidak salah meng-idolakan orang nih" girang Alois.
"hn…" Claude tampak tersenyum…senang? "Kau? Besok sekolah kan? Setelah ini kau harus tidur. Akan ku antar pagi-pagi sekali." Claude berusaha mengobrol, Alois merasa sangat senang. Ia tahu Claude sangat jarang bicara dan terkesan dingin, tapi kini malah mengajak ngobrol. Alois menanggapinya dengan antusias, apalagi dengan gayanya yang cute itu. Membuat Claude berkali-kali tersenyum bahkan tertawa kecil.
Sementara di Kamar Mandi (KM)…Sebastian tengah mengguyur kepalanya di wastafel, sedangkan Ciel menatapnya sambil bersandar di tembok.
"Maaf ya, merepotkan." Ujar Sebastian setelah selesai dengan airnya, ia lalu mengeringkan rambut dengan handuk kecil.
Ciel tersenyum kecil. "Tidak masalah"
Mereka keluar dari KM.
"Kau besok sekolah kan? Pasti akan terlambat deh. Menyesal pesta dengan kami?"
"Tentu saja tidak. Mana mungkin aku menyesal bisa bersama orang yang sangat kusukai."
Sebastian menatapnya, lalu tertawa kecil. "Rasanya aku mulai menyukaimu." Ucapnya.
Deg!
Tepat menembus jantung Ciel. Wajahnya langsung berubah merah seperti buah naga (?) *perumpamaan yang nggak so sweet*
"Sudahlah Ciel. " Batin Ciel pada diri sendiri. "Sebastian mabuk! Mabuk! Dia pasti asal bicara. Lagipula memangnya kenapa kalau dia bilang suka? Itu tandanya dia tidak membencimu. Ya, hanya suka! Kata yang biasa bukan? Ya…biasa. Suka…Suka…Suka…Cinta?"
~ ] ! ~
Sebulan setelah malam menyenangkan itu. Jam istirahat kedua. Sekolah Ciel.
"Ciel…..semalam Claude menelfonku!" seru Alois sambil mengguncang-guncangkan tubuh Ciel. Untunglah ini di atap gedung yang sepi sehingga Ciel tidak perlu menyumpal mulut Alois Karena berteriak tentang Kuroshitsuji. Kalau ada yang dengar bagaimana?
"Kencan pertama eh?" goda Ciel.
"Kencan apanya. Kan Cuma telefon? Juga Cuma sebentar, dia pasti sibuk. Kau sendiri bagaimana dengan Sebastian?"
"Pernah menelfon sekali. Juga telfon singkat. Yang sering malah Greill yang menelfon."
Alois sweatdrop. "Ternyata nasib kita sama, digerayangi oleh banci itu."
"Heeeh…" mereka menghela nafas kompak.
"Eh eh Ciel, aku kangen mereka nih. Sebulan ini tak bertemu karena tiap ada konser, kita pasti sedang ada urusan pekerjaan."
"ya, aku juga. Telfon juga hanya sekali sebulan ini."
"Bagaimana kalo kita menyelinap ke dorm mereka?"
"Apa?"
"Apa? Hanya mengintip mereka latihan dance untuk video klip baru. Tidak lebih."
"Tapi kalau mereka jadi mengira kita seperti penggemar kebanyakan yang maunya jadi stalker mereka?"
"Tidak mungkin deh…selama tidak ketahuan. Lagipula kita kan tidak ada maksud mengganggu mereka. Hanya ingin melihat, tanpa merekam atau yang apa. Jadi bukan stalker kan?"
Ciel berfikir sebentar. Lalu…mengangguk.
"Asyiiiikkkk!" girang Alois bersamaan dengan raungan bell masuk.
~ To be Continue ~
Balasan Review :
BlackDogQueen : Hooh, makasih sarannya. Aku jadi baca fict Pheromone-nya KillinHeaven. Tapi setelah kubaca…ayeee ternyata ide di otak saya nggak ada yang sama dengan fict disana ^O^ mungkin karena setiap manusia punya imaginasi berbeda kali ya? *kumat sotoynya* sekali lagi makasih telah memberitau n.n Ehehehe iya Kuroshitsuji, tapi kalo manggung gak pake pakaian shitsuji lah…pake pakaian keren ala Boyband dengan dominasi warna hitam n.n
Cassie si Cahaya Merah di Barat yang Mulai Terlupakan XD : Bwara Simple Simple … *jiaah malah nyanyi* iya, Sebby jadi Kyuhyun. *Peluk Kyuppa* XD *digiles ELF + Sparkyu* And, makasih banyak atas dukungannya
Me : Iya ini udah di update. Makasih ya udah suka fict-ku ini #terlalu bahagia karena u nulis 'sk BGT' direview# Semoga lanjutannya masih bisa dibilang bagus n.n
Sora Yoshimikaze : Salam kenal juga Sora, aku Kai, makasih udah review n.n Hadew, jadi ke Ge-Er ran nih gue udah dibilang bagus XD #Plaak# semoga yang ini masih bisa dibilang bagus u.u"
Finish chapter 2 n.n Semoga ceritanya tidak membosankan. Tapi kalau mebosankan, boleh kritik saran kok…Ditunggu reviewnya…
Mind to Review ?
