Desclaimer : Yana Toboso. Tapi Sebastian udah syah jadi milik gue *gak boleh protes, toh itu Cuma mimpi u.u"*

Spesial thanks to yang udah review. Buat yang belum review, ditunggu reviewnya n.n

Chapter 3 : That Butler, Missunderstanding.

.

.

.

"Rasanya aku mulai menyukaimu…Rasanya aku mulai menyukaimu…Rasanya aku mulai menyukaimu…" kata-kata Sebastian yang waktu itu terus terngiang di otak jenius Ciel. Hal itu jugalah yang menjadi salah satu alasan Ciel untuk menjadi orang bodoh seperti ini. Memakai pakaian cleaning service untuk mengendap-endap ke dorm tempat latihan dance Kuroshitsuji.

BLETAK!

Sebuah jitakan keras mendarat di kepala Alois.

"Aduh! Apa sih?" Alois memegangi kepalanya.

"Apa kau yakin mau menyamar seperti ini?" gerutu Ciel. "Maksudku, apa orang-orang yang melihat kita akan percaya kalau kita petugas cleaning service. Dengan wajah seimut ini-"-…e…ralat-ralat. Ciel gak mungkin narsis kayak begini. Ulang. "Maksudku, apa orang-orang yang melihat kita akan percaya kalau kita petugas cleaning service. Dengan tubuh sependek ini, tampang bocah dan juga baju yang kebesaran?"

"Eh?" Alois pasang tampang blo'on, seakan baru menyadarinya. "Ah sudahlah, terlanjur. Kita coba saja." Alois lalu menyeret Ciel masuk ke gedung itu, sambil membawa senjata utamanya, alat pel lengkap dengan ember dan gayung (?). Mereka berjalan cepat, seakan mau ke KM untuk mengambil air untuk mengepel, padahal mau ke lantai 3 dimana dance room berada.

Tak seperti yang Ciel bayangkan sebelumnya, perjalanan ternyata berjalan mulus. Mereka berhasil menyelinap ke dance room tanpa dicurigai. Alois semakin menyeringai lebar mendengar hentakan music. Tanpa banyak kata, mereka segera mengendap-endap ke ruangan dance room yang satu lagi, yang penuh dengan dinding kaca. Mereka hanya mengintip di pintu, karena pasti bakal ketahuan kalau masuk lebih dalam.

"Waaah…keren. Dance terbaru mereka. Gerakannya energik sekali." Puji Alois. Mata mereka terus menatap Kuroshitsuji itu yang tampak keren dengan hanya memakai jeans dan T-shirt, sehingga tampak seperti orang biasa. Artis kan juga manusia (?)

"Hup…one two three…one two…Hei, Greill. Kakimu salah lagi. Harusnya begini." Tegur Sebastian.

"Oh, maaf Sebbas-chan." Ucap Greill genit.

"Ya, kita mulai lagi."

"Hn…sebenarnya kita tak perlu pelatih dance lagi ya…Sebastian saja udah bisa jadi trainer kita." Celetuk Undertaker yang hanya mendapat senyuman singkat dari Sebastian. Mereka kembali berlatih.

"William, di bagian itu kau harus lebih energik, itu kan bagian kau menyanyi. Jadi-…"

"Hei! Siapa kalian?" sebuah suara menginterupsi komando Sebastian. Kuroshitsuji menoleh ke arah sumber suara dan melihat seorang petugas cleaning service sedang menarik-narik dua bocah yang berusaha kabur.

Tawa Kuroshitsuji nyaris saja meledak karena tahu kalau dua bocah itu adalah Ciel dan Alois, tapi Sebastian segera menempelkan telunjuknya di bibir, menyuruh diam. Yang lain bingung, tapi lalu tersenyum saat Sebastian mengerling penuh arti.

"Ehm!" Sebastian berdehm keras. Membuat bulu kuduk CielAlois berdiri. "Sepertinya ada yang mau menjelaskan sesuatu." Ucapnya lagi.

Dan kini, CielAlois tengah duduk bersimpuh dengan menundukkan kepala sementara Sebastian mondar-mandir di hadapan mereka, di tonton oleh 4 anggota Kuroshitsuji lainnya.

"Tak kusangka, kukira kalian berbeda dari fans-fans lainnya." Ucap Sebastian sok sadis. "Ternyata kalian sama saja. Lebih parah malah!" sedikit membentak. "Selama ini belum ada yang sampai memata-matai kami sampai begini."

"Ma-maaf. Kami tak bermaksud…"

"Tak bermaksud apa? Sudah jelas-jelas kalian menyusup!"

"Cih! Gara-gara kau nih." Tuduh Ciel dengan suara pelan.

"Enak aja, salahmu juga kenapa menggulingkan alat pel sehingga petugas melihat alat itu terjulur." Bantah Alois.

"Tapi ini kan ide lo! Gue udah bilang, gimana kalo mereka jadi nganggep kita kayak fans stalker yang lain!"

"Yee…salah sendiri lo setuju. Gue juga bisa pergi sendiri!"

"Apaaa? Bukannya lo ngrengek-ngrengek ke gue minta di temenin nguntit ya?" tanpa sadar Ciel menbentak, berdiri.

"Eh! Asal lo tahu aja ya, lo ikut gue tu karena kemauan lo sendiri!" Alois balas membentak, ikut berdiri, berhadapan dengan Ciel. Keduanya sama-sama bertampang predator, bisa dilihat aliran listrik dari mata mereka. Lalu…

Sruuut!

Celana Alois yang emang kebesaran, merosot turung hingga ke mata kaki. Dan detik itu juga, Kuroshitsuji tak bisa lagi menahan tawanya. Sementara Alois dengan wajah memerah, bergegas memakai kembali celananya.

"Kan sudah kubilang pakai sabuk." Ucap Ciel sambil menahan tawa.

"Diem lo!" kesal plus malu Alois karena masih ditertawakan anggota Kuroshitsuji.

"Tapi…terimakasih juga." Ciel agak berbisik. "Tampaknya mereka sudah tidak marah lagi."

Alois tercengang, lalu nyengir lebar, tapi segera sadar diri. "A-ano, kami minta maaf. Kami hanya…"

"Iya tidak apa-apa. Bwahahahaha" sahut William. "Kami…hahaha…sama sekali tidak marah. Sejak awal kami hanya ingin mengerjai kalian hahaha"

Ngek!

4 siku-siku merah terdampar di kepala CielAlois, coba saja ya yang didepannya bukan orang yang mereka kagumi, pasti 5 orang bodoh itu sudah terbang indah ke segitiga Bermuda.

"Hehehehe maaf ya…" Sebastian menyeka air mata yang keluar karena ketawa saking kencangnya. "Alois-chan, maaf deh. Tapi boxermu lucu sekali, motif laba-laba. Bwahahaha untung saja bukan motif Claude." Tawa Sebastian meledak lagi bersama 4 orang lainnya.

Alois, bukannya cemberut, malah tersenyum dan berbisik pada Ciel. "Ide bagus tuh Ciel, celana dalam motif Claude. Kau juga, nanti pesan celana dalam motif Sebastian." Bisik Alois watados yang ngebuat Ciel ber-gubrak-ria dengan amat sangat tidak elite. Ni orang otaknya bener kagak sih? Pikir Ciel.

15 menit setelah insiden memalukan itu, tawa Kuroshitsuji baru bisa benar-benar-benar-benar reda. Mereka duduk santai di dance floor.

"Kenapa tidak bilang kalau mau kesini? Setidaknya kami bisa menyiapkan sesuatu." Ucap Sebastian.

"Kami takut kalian sibuk." Sahut Ciel.

"Yeah…akhir-akhir ini memang lumayan sibuk. Hush!" usir Undertaker pada Greill yang memain-mainkan rambut panjangnya. Greill emang nggak bisa diem barang sebentar.

"Well, hari ini kita nggak ada kegiatan kan? Bagaimana kalau ke pantai sama-sama." Usul Claude.

"Eh eh, tidak kok. Setelah ini kami akan langsung pulang, kami tidak akan mengganggu kalian." Ucap Alois. Waaah, tumben ni anak otaknya bener. Pikir Ciel.

"Tidak apa-apa kok, kami memang ingin istirahat. Malah kebetulan kalian disini, biar ada suasana yang berubah gitu." Sahut William.

"Ya udah, yuk. Cepat ganti. Kalian juga." Ucap Sebastian menatap baju kedodoran CielAlois. Mereka segera ke ruang ganti, ganti pakaian bersama. Toh mereka sama-sama lelaki. Dan mereka nyaris terbahak-bahak lagi saat melihat boxer laba-laba Alois. Soal boxer yang Kuroshitsuji pakai…biarlah hanya author yang tau. *dzig*

CielAlois belum selesai ganti saat semuanya selesai. Pasalnya, mereka juga harus membersihkan tubuh dari pakaian cleaning service hasil nyolong yang pastinya berbau keringat. Ciel menatap sesuatu di lantai. Sebuah dompet. Ciel mengambilnya.

"Dompet siapa?" Ciel membuka dompet itu untuk melihat SIM/apapun yang bisa menunjukkan identitas si pemilik. Ternyata dompet itu milik Sebastian, dan…dan…Ciel menatap tidak percaya pada foto yang terpampang disana. Sebuah foto Sebastian bersama…ah, bukan bersama, tapi Sebastian sedang mencium pipi orang tersebut dengan mesra, penuh kasih sayang. Orang itu berambut silver panjang dengan bulu mata lentik seperti milik Ciel.

"Siapa?" batin Ciel. "Pacarnya? Aku tidak pernah mendengarnya dari media kalau Sebastian punya pacar." Entah mengapa perasaan Ciel seakan hancur berkeping-keping. Ciel sendiri bingung kenapa ia merasa seperti itu. Dia kan hanya menyukai Sebastian sebagai idola? Ayolah, mereka sama-sama lelaki. Tapi Ciel merasa begitu hancur, layaknya kaca yang terkena hantaman batu besar.

"Ada apa Ciel?" tanya Alois karena Ciel diam saja.

"E…tidak. Ini…dompet Sebastian tertinggal. Aku akan mengembalikannya. Aku duluan ya…"

"Ya." Jawab Alois meski Ciel sudah tak dapat mendengarnya karena telah menjauh dari kamar ganti itu. Dari Greill, Ciel tahu kalau Sebastian ada di atap. Ciel segera kesana. Sebastian tampak sedang memandang luas ke depan sambil berpegangan pada pagar pembatas. Ia menoleh saat mendengar langkah Ciel menghampirinya.

"Dompetmu." Ciel menyodorkan dompet itu dengan nada datar.

"Terimakasih." Sebastian tersenyum ramah seperti biasa sambil menerima dompet itu. Tapi senyumnya memudar seketika. "Darimana kau tahu ini dompetku? Kau membukanya?"

Ciel mendengar nada tidak suka dari ucapan Sebastian. "Tidak, tadi aku bertanya pada Greill" bohong Ciel.

"Oh…"

"Ya sudah, aku turun dulu menemui Alois." Ciel beranjak pergi setelah mendapat anggukan dari Sebastian.

Ciel langsung berlari keluar, hatinya serasa remuk entah kenapa. Apa karena ia mencintai Sebastian? Bukan menyukainya sebagi idola? Ya, tampaknya hal itulah yang terjadi. Ciel terus berlari dengan cepat sehingga tidak sempat berpapasan dengan Alois yang tengah menuju atap atas pemberitahuan dari Greill yang mengatakan kalau Ciel berada di atap untuk menemui Sebastian. Alois terus menuju atap.

Sepeninggal Ciel, Sebastian membuka dompetnya. Menatap foto yang ada disana.

"Masih memikirkan Charles Grey bodoh itu eh?" tegur seseorang. Sebastian menengadah, Claude.

"Tidak…" balas Sebastian lalu menutup dompetnya dan tersenyum, beranjak dari pagar pembatas, menghampiri Claude dan berhenti saat tubuhnya berada tepat di samping cowok berkacamata itu. "Ada orang lain yang mulai mengisi hidupku."

"Siapa?" tanya Claude dingin.

"Seseorang, dengan mata shappire biru yang indah"

"Bocah Phantomhive itu?"

Sebastian tidak menjawab, hanya tertawa kecil, lalu kembali melangkah, tapi tiba-tiba Claude memeluknya dengan kasar.

"Kenapa orang lain? Kenapa bukan aku, Sebastian! Kenapa kau tidak pernah mencoba menyukaiku!"

Sebastian agak tersentak. "Le-lepas…Claude. Kau memelukku terlalu erat"

"Kenapa, Sebastian! Kenapa kau tidak mau menyukaiku?"

"…" Sebastian terdiam sesaat. "Karena kau sudah kuanggap seperti saudara, Claude"

"Tapi…"

"Carilah orang lain. Jangan aku. Aku tidak bisa menjawab perasaanmu"

"Aku tidak bisa menyukai orang lain, Sebastian. Aku mencobanya, tapi tak bisa. Aku hanya mencintaimu"

"Claude…" bisik Sebastian, membiarkan Claude memeluknya, supaya Claude sedikit tenang. Sebastian tahu bagaimana sakitnya saat orang yang ia cintai ternyata tak mencintainya. Seperti Charles Grey, mantan pacar Sebastian yang meninggalkannya tanpa alasan jelas.

Sementara di balik pintu menuju atap, Alois Trancy tengah bersandar pada dinding. Nafasnya tersengal dan tanpa sadar air mata telah menggenang di mata biru terangnya. Ia sakit! Karena sejak awal ia telah mengakui pada dirinya sendiri bahwa rasa sukanya pada Claude lebih dari seorang fans kepada idola. Ya…perasaan yang lebih itu…Cinta. Karena perasaan itulah, ia merasa sakit seperti sekarang ini. Karena perasaan itulah, ia merasa begitu tertusuk saat mengetahui orang yang dicintainya mencintai orang lain yang dicintai sahabatnya.

~ ] ! ~

"Apa?" batal?" Jerit Undertaker dan William saat Greill mengatakan kalau mereka tidak jadi ke pantai.

"Tapi kenapa?" ucap William.

"Ugh…padahal aku sudah begitu stress disini" ucap Undertaker sok dramatis.

"Yeah…soalnya tadi kulihat dua bocah itu berlari keluar, lalu saat aku melihat apa yang terjadi di atap, tampaknya sedang kacau sekali. Ya ampun cin…please deh. Gak penting banget tahu nggak" celoteh Greill tanpa bisa dimengerti William dan Undertaker, Greill lalu melenggang pergi dengan anggun sambil me-manypady (nggak yakin penulisannya bener) kuku-kukunya. Sementara WillianUndertaker hanya saling bertukar pandang kebingungan.

~ ] ! ~

"Aku hanya fans mereka, aku hanya fans mereka, aku hanya fans!" berkali-kali Ciel meyakinkan dirinya. Ia takut sakit lagi kalau melihat Sebastian dengan orang lain, padahal ia kan seorang idola? Tentu saja selalu dikelilingi banyak orang.

Ciel menatap keluar jendela kamarnya, hari baru memasuki malam. Pandangan Ciel menerawang, mengingat kembali memory seminggu lalu saat ia melihat foto Sebastian dengan pacarnya.

"Ah…" Ciel menggeleng keras. Tiba-tiba HPnya berdering, telfon dari Sebastian yang sudah entah ke berapa kali dalam seminggu ini. Tapi Ciel mengacuhkannya. Ia merasa tak siap untuk mengobrol dengan Sebastian. Hingga ringtone berhenti, akhirnya Ciel mengambil HPnya, ia menatap layar HP yang menunjukkan 78 misscall di hari itu, dari nama yang sama, Sebastian Michaelis.

Ciel menekan tombol no, sehingga laporan itu hilang dan berganti dengan inbox yang terisi tidak kurang dari 50 sms di hari itu yang belum Ciel buka. Lagi-lagi dengan nama yang sama, Sebastian Michaelis.

Hingga tak lama kemudian, terdengar suara klakson mobil. Ciel melongok keluar dari jendela, dan shapphire birunya membulat tak percaya saat melihat seorang Sebastian Michaelis tengah bersandar di mobil hitamnya.

Ciel langsung kelabakan, keluar-nggak-keluar-nggak-keluar…ah…keluar saja deh. Masa mau disuruh nunggu disana tuh orang, nanti pintu kamar Ciel bakal di gebrak-gebrak oleh para pembokat yang mengatakan kalau diluar ada tamu.

Mereka saling diam sejenak saat sudah saling berhadapan. Hingga Sebastian mengalah untuk membuka percakapan.

"Kemana saja kau seminggu ini?" tanya Sebastian.

"Sibuk" jawab Ciel datar.

"Sampai tak sempat membalas sms-ku satupun?"

"…" diam, merasa bersalah.

Sebastian mendesah lelah, lalu menarik Ciel ke dalam mobil dan lalu menjalankan mobilnya.

"Sebenarnya ada apa hari itu? Kenapa kau dan Alois tiba-tiba saja pergi, dan bahkan tidak bisa kami hubungi sampai saat ini"

"Tidak kenapa-kenapa kok. Kami kan juga punya kesibukan masing-masing. Kalian juga pasti sedang sibuk kan?"

"Ya, tapi untuk minggu-minggu ini sedikit lebih senggang. Kami ingin pergi dengan kalian sesekali, tapi kalian sulit sekali untuk dihubungi"

"Oh…"

Hening. Kesunyian itu terus berlangsung sampai Sebastian memnghentikan mobilnya di pantai yang sepi. Mereka segera turun dari mobil dan berdiri di tepi pantai, memandang laut luas sambil bersandar pada sebuah batu karang besar. Masih hening, Ciel menatap laut di depannya, sedangkan Sebastian menatap laut di shapphire biru Ciel. Hingga…

Tanpa sadar Sebastian kian mendekatkan wajahnya pada wajah Ciel. Tak tau mengapa, Sebastian hanya mengikuti naluri, seakan Ciel punya daya magnetis bagi dirinya. Wajah mereka kian dekat, namun Ciel masih belum menyadarinya.

"Menurutmu kenapa Alois jadi agak murung begitu ya?" tanya Ciel tiba-tiba sehingga Sebastian segera menarik wajahnya.

"E…mu-murung bagaimana?" Sebastian sal-ting sendiri.

"Entahlah. Tapi ada yang berubah sejak kejadian hari itu. Apa kau tahu sebabnya?"

"Tidak" Sebastian tampak mengingat. "Tapi aku pernah dengar Greill bilang katanya Alois…" Sebastian membelalak tidak percaya, seakan baru mengingat sesuatu.

"Apa?" tanya Ciel.

"A-ano…itu…Greill bilang Alois sempat menyusulmu ke atap dan…"

"Dan?"

"Dan…" Sebastian menggantungkan kata-katanya, tampaknya sulit sekali untuk melanjutkan. Ia menarik nafas dalam lalu dalam satu tarikan nafas ia berkata…"Sepertinya dia melihat Claude memelukku"

Kini giliran Ciel yang membelalak tidak percaya. "A-apa?"

"Ye-yeah…Claude itu…sudah menyukaiku sejak lama. Dan…dan dia waktu itu memelukku karena aku bilang aku menyukai…" Sebastian membelalakkan mata lagi, segera menutup mulutnya dan ber –e- ria. "Ma-maksudku…aku bilang kalau aku sudah menganggapnya seperti saudara, jadi…"

"Oh, begitu. Pantas saja Alois murung sekali" Ciel tertunduk. Sebastian tampak menghela nafas lega karena Ciel memberi jalan untuk mengalihkan pembicaraan.

"Memangnya Alois tidak cerita padamu?" tanya Sebastian.

Ciel menggeleng. "Dia selalu saja begitu, tak pernah mau membagi kesedihannya denganku. Padahal dia selalu mengerti aku. Aku memang payah"

"Ah, tidak kok" Sebastian menepuk pundak Ciel. "Oya, bagaimana kalau kita membuat Alois dan Claude jadian?" usul Sebastian.

Ciel menatap Sebastian dengan mata berbinar. "Benarkah? Bisa? Kau tidak apa-apa?"

"Iya, tentu saja tidak apa-apa. Claude hanya bertepuk sebelah tangan padaku, lalu Alois pada Claude juga. Jadi kita jodohkan saja mereka. Setuju?"

"Mm!" Ciel mengangguk semangat. Sebuah senyuman terlukis di wajah manisnya, sedikit banyak membuat jantung Sebastian berdegup lebih kencang.

"Menjodohkan mereka, eh?" batin Sebastian. "Semoga saja bisa menjodohkan aku dan kamu juga" senyum Sebastian lalu menepuk-nepuk kepala Ciel. Mereka kembali menatap laut, rasanya perasaan mereka sudah sedikit lega.

~ To be Continue ~

Bwooosh…chapter 3 selesai. Btw…ni rate T apa rate K nih? Kok adegannya Cuma gini. Oiy, tenang Cin, di chapter-chapter ke depan bakal ada adegan yang sedikit lebih berperi ke rated T-an (?) See you next chapter. Don't forget to review…Update multi chapter, krn kayaknya pendek banget yak?

Bwt Sora Yoshimikaze : Oh, begitu yak? oke, lain kali semoga nggak ada. Thanks reviewnya n.n

Thx jg bwt BlackDogQueen, cahaya merah di barat yg mulai terlupakan, Me, Sora Yoshimikaze, SiLLiequeenth , chiko-silver lady , arigato reviewnya n.n