Desclaimer : Yana Toboso's. But Sebastian is MINE!

Spesial thanks to yang udah review n.n Bagi yang belum review, ditunggu reviewnya…

Chapter 4 : That Butler, Start the Plan.

.

.

.

"Hallo Alois?" sapa Ciel.

"Hi? Tumben telefon minggu pagi begini" jawab Alois.

"Kau juga, tumben sekali jam segini sudah bangun. Baru pukul 05.00 a.m lho…"

"Hehehehe iya. Lebih tepatnya karena habis tidak tidur semalaman"

"Hah? Kau begadang?"

"Yeah…"

"Begadang kenapa?"

"…" tak ada jawaban. "Ah, ada apa menelfon?" mengalihkan pembicaraan.

"Jalan yuk. Aku bosan di rumah"

"…" diam lagi. "Baiklah, kemana?"

"Kalau kau keberatan tak usah memaksakan diri" Ciel mendengar nada lelah dari sahabatnya itu.

"Tidak kok, aku juga sedang bosan. Kemana?"

"Emm…tergantung nanti. Kita ketemu di caffee Lau satu jam lagi ya…sekalian sarapan. Jangan sarapan dari rumah lho"

"Baiklah. Sampai nanti"

"Ya"

Telefon tertutup. Ciel menatap sayu, nada suara Alois sangat tidak bersemangat.

~ ] ! ~

"Hei Claude" Sebastian menepuk bahu Claude dari belakang. Claude meoleh, tersenyum lebar, senyum yang hanya ia berikan pada Sebastian.

"Ada apa?" tanya Claude, membelai rambut Sebastian lembut. Sebastian menyingkirkan tangan Claude dengan sopan, membuat si pemilik tangan tersenyum kecewa.

"Aku ingin makan di luar. Ikut ya…" rayu Sebastian.

Claude tak dapat menolak permintaan orang yang dicintainya itu. Ia tersenyum dan mengangguk. Sebastian balas tersenyum.

"Temui aku satu jam lagi di Caffee Lau ya…" tambah Sebastian.

"Tidak kesana bersama?"

Sebastian menggeleng. "Aku ada urusan sebentar. Tidak apa kan?"

"Ya"

Dan Sebastian tersenyum lagi.

~ ] ! ~

Caffee Lau. Pukul 06.00 a.m. Meja no.6.

"Uh, maaf terlambat" Ciel menghampiri Alois.

Alois tersenyum. "Aku yang datang terlalu cepat"

"Sudah pesan makanan?"

"Belum"

"Tolong pesankan ya. Menu seperti biasa. Aku mau ke toilet dulu"

"Ya"

Pintu Caffee terbuka.

"Claude, aku ke toilet dulu ya. Kau ke meja no.6, aku sudah pesan tempat itu" ucap Sebastian dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Claude. Claude berjalan ke meja no.6. Sedikit terkejut mendapati Alois Trancy berada disana. Tapi ia tetap mendekat.

Alois Trancy duduk dengan bosan setelah memesan, tiba-tiba mata biru cerahnya menangkap sosok Claude menghampiri. Agak terkejut, tapi lalu tak bisa menahan senyum melihat orang yang dicintainya itu.

"Maaf, boleh duduk disini? Sebastian menyuruhku menunggu disini"

"Ya, silahkan saja" Alois tersenyum ramah. Ia tak bisa marah pada Claude, sama sekali tidak. Meski kalau difikir lagi, kenapa ia harus marah?

"Ada cerita apa selama seminggu ini?" tanya Claude.

"Tidak ada yang istimewa. Sekolah, nilai jelek, dan dihukum guru. Sudah sangat biasa" jawab Alois, senyum tak memudar dari bibirnya.

Claude tertawa kecil. Membuat Alois terpana, blushing. Dia, orang yang di depannya, Claude yang biasa, Claude yang hanya bisa ramah di hadapan orang lain. Tidak ada yang bisa dibenci darinya.

"Kau sendiri?" balas Alois.

"Banyak hal buruk. Jatuh dari tangga, harus membersihkan dorm, dan semuanya karena 4 orang bodoh yang seenaknya saja itu"

Alois tertawa, rasa marah dan kecewa pada Claude sudah sirna begitu ngobrol dengannya. "Bagaimana bisa begitu?"

Dan mereka bercerita, dengan sangat akrab. Sedangkan dua insan di KM tengah menatap mereka sambil tersenyum.

"Rencana pertama sukses!" girang Ciel. Mereka ber-tos ria. Mereka? Ya, Ciel dan Sebastian.

"Lanjut ke rencana kedua" balas Sebastian tak kalah riang.

"Yeah, tapi aku mau pipis dulu" Ciel menuju tempat untuk pipis.

"Hei, aku ikut"

Ciel meoleh dengan tatapan heran.

"Aku ingin melihat motif celana dalammu"

BLAM! Pintu stall terbanting dengan keras sedangkan Sebastian hanya tertawa terbahak-bahak karena Ciel yang akhirnya masuk ke salah satu stall dengan membanting pintu.

"Hai" Sebastian muncul bersama Ciel menghampiri Claude dan Alois. "Double date nih, hihihi" goda Sebastian lagi sementara Alois dan Claude menatap dengan tatapan iblis karena tahu hal ini sudah direncanakan oleh dua orang bodoh dihadapan mereka.

"Hn…kita ke Fun Land yuk. Taman ria yang baru buka itu lho…pasti seru" ajak Ciel.

"Yuk" Sebastian dan Ciel berbalik untuk pergi.

"Kita makan dulu deh…aku lapar" ucap Alois. Sebastian dan Ciel menoleh dan menjulurkan lidah dengan tampang mengejek.

"Kami sudah makan. Kalian makan berdua saja ya…" ucap mereka dan seketika kabur sebelum mendapat bogem mentah dari dua orang yang mereka kerjai.

"Me-mereka ini…" geram Alois dengan tampang algojo.

"Heeeh…sudahlah. Kita makan saja dulu" Claude mendesah lelah. Di tengah makan, mereka mendapatkan mms yang membuat mereka naik darah lagi. Mms dari SebbyCiel yang isinya foto dompet Alois dan Claude, sementara pesannya berisi : "Sebagai jaminan kalian akan ke Fun Land, kami menyita dompet kalian. Tenang saja, makanan sudah kami bayarkan. Ticket masuk juga sudah kami pesankan. Cepat datang ya…;-p"

"WHHATTT THE HELLLL ARE THEYY DOINGG FOR USSSSS" jerit Alois saking kesalnya. Apalagi saat sms kedua menyusul, masih dari SebbyCiel. Isinya : "Supaya lebih romantic, mobil Alois kubawa bersama Sebastian. Kalian pergi bersama dengan mobil Claude ya…:-D"

Hn hn hn…sekarang jangan tanya kenapa tiba-tiba Caffee Lau meledak terkena bom mungkin?

~ ] ! ~

"Die die die die! I'll kill them!" geram Alois sepanjang perjalanan mencari SebbyCiel. YupZ! Mereka sekarang sudah berada di Fun Land, mencari SebbyCiel untuk segera menelannya hidup-hidup setelah berhasil menemukan.

"Hai Alois! Claude! Kami disini!" jerit Ciel. ClaudeAlois menoleh, mendapati SebbyCiel sudah duduk di dalam sepeda air berbentuk bebek sambil nyengir lebar.

"Tunggu disana brengsek!" seru Alois dan langsung menuju area bebek air. Claude Cuma bisa geleng-geleng kepala mengikuti kemarahan Alois. Claude tidak begitu marah sebenarnya, tapi karena Alois sangat bernafsu membunuh mereka, rasanya ia tak keberatan untuk membantu Alois menyelesaikan misinya (?). Sementara AloisClaude memesan sepeda air, SebbyCiel sudah mengayuh ke tengah.

"Pak! Cepet dong!" bentak Alois pada petugas yang tengah mengambilkannya bebek air.

"Maaf menunggu, ini sepeda airnya" ucap petugas tadi, mendekatkan sepeda air itu ke kolam di hadapan ClaudeAlois. Dan…sontak mata Alois melebar dan Claude nyaris tidak bisa menahan tawa karena melihat bebek air yang disediakan untuk mereka berbentuk angsa yang tengah berciuman dengan hiasan love love norak dan balon-balon love lengkap dengan pita pink yang menambah norak bebek, eh…angsa itu.

"NGGAk ADA YANG LAIN APA?" raung Alois.

"Tidak ada, yang tersisa hanya ini. Ini sudah dipesan oleh dua orang tadi yang entah siapa dan katanya untuk kalian"

"Ya udah deh! Ayo Claud-…" Alois menoleh ke belakang, dan sontak wajahnya merona melihat Claude tengah terkikik geli sampai air matatanya sedikit keluar.

"Maaf, hihihihi. Kau lucu sekali, benar-benar seperti bocah" kikik Claude, membuat Alois blushing setengah idup. "Ya sudah, ayo. Mau menghajar dua Shitsuji dan Lord bodoh itu kan?" Claude menepuk kepala Alois dan naik ke sepeda air super norak itu, beberapa detik kemudian. Mereka langsung mengayuh dengn cepat. Mengejar SebbyCiel yang sudah jauh di kolam super luas itu.

Sementara si petugas tadi tengah melongo.

"Eh? Claud? Claude maksudnya?" tiba-tiba mukanya berubah horror. "CLAUDE FAUSTUS MAKSUDNYA? KUROSHITSUJI? BERARTI YANG TADI ITU SEBASTIAN MICHAELIS? TIDAAAAAKKK….KENAPA AKU TIDAK MENYADARINYA!"

Teriakannya yang super heboh tentu saja mengundang perhatian orang yang langsung bertanya-tanya dimana Claude dan Sebastian. Dan dengan ikhlas, ia menunjuk ke arah dua bebek air yang tengah berkejar-kejaran. Dan tentu saja, jangan tanya bagaimana reaksi pengunjung selanjutnya.

"Hei! Sini lo!" jerit Alois sambil nunjuk-nunjuk SebbyCiel, ia mengayuh semakin cepat bersama Claud, tapi SebbyCiel juga tak kalah cepat dan tetap sambil mengejek sehingga membuat Alois tambah naik darah.

"Eh eh, suara apa tuh?" Ciel menghentikan sejenak adu mulut mereka. Alois, Claude, Ciel dan Sebastian mendengarkan dengan lebih tajam, dan menoleh ke arah tepian dimana banyak orang-orang berteriak dan bahkan banyak sepeda air bermuatan banyak orang yang tengah menuju mereka. Dan gilanya lagi, bahkan ada yang memakai perahu motor.

"Gyaaa…cepat kabur!" SebbyCiel dan ClaudeAlois menggenjot sepeda secepat mungkin. Menuju terowongan buatan yang di dalamnya ber-arus agak deras. Sengaja di desain seperti area arum jeram supaya pasangan yang masuk kesana lebih romantic katanya…

"Waduhwaduhwaduhwaduhwaduh…ngapain kita kesini nih!" histeris Alois sambil terus menggenjot padahal arus sudah cukup deras.

"Kita harus cepat sembunyi. Mereka pasti segera mengejar" ucap Ciel.

"Mana ada tempat sembunyi di dalam terowongan buatan macam gini?"

"Bagaimana kalau terjun ke air?" usul Claude.

"Eh?" ucap 3 orang lainnya.

"Kita sembunyi dulu di sela-sela karang buatan, setelah aman baru keluar dan pergi dari sini" lanjut Claude.

Suara orang-orang kian terdengar keras, tak ada pilihan lain. Merekapun segera melompat ke dalam air dan dengan agak bersusah payah meraih tepian karena arus yang cukup deras. SebbyCiel sembunyi di balik karang di sisi kiri terowongan, sementara ClaudeAlois di sisi kanan terowongan.

"Kau tidak apa-apa?" Sebastian tampak khawatir pada Ciel.

"Tidak. Memangnya kenapa?"

"Airnya cukup dalam. Bahkan untukku"

"Aku tidak apa-apa, kan pegangan pada karang"

Ya, meski berpegang pada karang, tapi Sebastian tahu Ciel agak kewalahan karena arus memang deras. Lalu…tangan kiri Sebastian melingkar di pinggang Ciel sementara tangan kanannya untuk berpegangan. Ciel blushing mendapat sentuhan lembut itu, menatap Sebastian.

"Tidak apa-apa" senyum Sebastian yang membuat jantung Ciel berdegup lebih cepat. Sementara di sisi kanan…

"Claude, hueeee…gue lupa kalo gue nggak bisa berenang" Alois memeluk leher Claude erat-erat.

"Hihihihi" kikik Claude.

"Kok ketawa sih! Aku jago olahraga kok! Kecuali berenang. Jangan bilang aku cemen!" omel Alois tanpa ditanya, membuat tawa Claude semakin meledak.

"Kau lucu sekali" ucap Claude. "Ah, mereka datang. Cepat merunduk lebih dalam"

Mereka merunduk, sementara para fans yang mengejar tampak masih bersemangat mengejar sepeda air Claude dan Sebastian yang sudah kosong. Setelah rombongan fans berlalu, Sebastian dan Claude saling memberi kode. Mereka lalu berjalan dengan berpegang pada dinding terowongan menuju pintu masuk terowongan yang tidak terlalu jauh, melawan arus. Begitu mereka keluar, mereka masih harus berenang ke tepian.

"Hueee…nasib gue gimana nih" ucap Alois.

"Tenanglah. Cukup tahan nafas. Aku akan membawamu berenang bersamaku" ucap Claude. SebbyCiel tersenyum puas mendengar itu. Merekapun berenang, eh..bukan. tapi menyelam, menuju tepi kolam. Coz kalo berenang dipermukaan terus ada yang liat, bisa gawat tuh. Dan nasib Alois yang malang, yang namanya orang nggak bisa berenang tuh pasti takut air, dan walau Cuma disuruh nahan nafas, orang-orang yang nggak bisa berenang pasti cenderung takut dan membuang cepat-cepat pasokan udara di paru-paru. Contohnya kayak adik gue ((?) lha kok curhat?).

Alois yang dengan cepat kehabisan nafas, padahal di atas mereka ada perahu bebek lain sehingga mereka tak bisa muncul ke permukaan, sehingga…

Chuu~

Claude membagi nafasnya dengan Alois, membuat Alois terbelalak, blushing, dan tepar seketika. Baguslah (?) Sementara Sebastian yang melihatnya hanya bisa mengeluh dalam hati, cobaaaaa aja Ciel nggak bisa berenang. Heehh…nasib lo Seb, punya gebetan perfect macam Ciel.

"Uhuk uhuk…" Alois terbatuk setelah naik ke daratan.

"Fiuuh…syukurlah. Kalian baik-baik saja kan?" tanya Sebastian.

"Ya…"

"Tidak denganku. Hueee…" keluh Alois.

"Oya?" Ciel tersenyum nakal sambil menaruh telunjuknya di bibir, membuat Alois blushing mengingat ciuman Claude tadi dan langsung melempar Ciel dengan sepatunya. Ciel hanya bisa tertawa puas.

"Habis ini kita ngapain nih?" tanya Alois.

"Aku masih ingin disini. Cari kios pakaian yuk, lalu melanjutkan main" ucap Sebastian yang tanpa persetujuan langsung membawa ke-3 temannya untuk melakukan apa yang ia usulkan.

Setelah itu mereka baru bisa benar-benar bisa bersenang-senang dengan bebas. Coz, mereka juga beli masker dan topi, sehingga pastinya nggak ada yang mengenali. Mereka bermain sampai malam tiba.

"Hei Sebastian. Nanti ada pesta kembang api kan?" bisik Ciel pada Sebastian.

"Ya, lalu?"

"Kita kerjai mereka lagi yuk. Siapa tahu mereka nanti benar-benar ciuman dengan romantic dan lalu jadian?"

Sebastian tersenyum dan mengangguk dengan semangat. "Apa rencananya?"

"Ice cream"

"Ice cream?"

"Coklat"

"Coklat?"

"Ice cream coklat. Dua makhluk itu sama-sama menyukai ice cream coklat kan? Kita borong semuanya dan sisakan satu untuk mereka"

Sebastian tersenyum mengerti, lalu…tos! Dengan Ciel.

! OoO!

"Hei, beli ice cream yuk" ajak Ciel yang tentu saja langsung disetujui oleh semuanya. Mereka lalu membeli ice cream, dan seperti dugaan, Claude dan Alois memesan ice cream rasa coklat.

"Kita makan sambil lihat pesta kembang api" ujar Ciel sambil menunggu apa yang dipesan.

"Ah, maaf. Yang rasa coklat sudah habis" ucap si penjual. "Hanya tersisa satu"

"Argh! Masa sih!" frustasi Alois.

"Kalau begitu untukmu saja" ucap Claude. "Aku akan memesan rasa yang lain"

"Benarkah? Asyiiiik" Alois menerima ice cream coklatnya. Dan belum sempat Claude memesan rasa yang lain…

"Ah, pesta kembang apinya sudah dimulai" ujar Ciel dan langsung menyerat Alois keluar sedangkan Sebastian menyeret Claude. SebbyCiel menyeret ClaudeAlois ke tepian kolam sepeda air yang agak sepi dan hanya ada beberapa pengunjung yang tak memerhatikan mereka karena tempatnya lumayan redup sehingga ClaudeSebby bisa membuka masker secara bebas. Lalu tanpa disadari ClaudeAlois, SebbyCiel menjauh, mengintip mereka dari balik tanaman hias.

"Indahnya, emmm…"gumam Alois sambil menikmati ice cream coklatnya. "Iya kan Claude?" Alois menoleh ke Claude. Claude balas menatap, dan matanya terpaku pada bibir Alois yang basah, terlihat manis dengan sisa lelehan ice cream coklat.

Dan…apa yang diharapkan terjadi. Claude meraih dagu Alois, mengangkatnya sedikit dan kian mendekatkan wajahnya ke wajah Alois. Alois blushing, tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi ia sama sekali tak menolak. Ia bahkan mulai memejamkan mata, hingga matanya terpejam sempurna saat bibir mereka saling bersentuhan.

Ciel menatap pemandangan itu sambil tersenyum bahagia. "Rencana kita berhasil Sebas-…" kata-kata Ciel terpotong saat menoleh ke Sebastian dan ternyata Sebastian tengah menatapnya. Perlahan…Sebastian melakukan hal sama seperti yang Claude lakukan. Mengangkat dagu Ciel untuk kemudian mengeliminasi jarak diantara bibir mereka. Ciel memandang lurus ke mata Sebastian, ia tak peduli saat ingatannya melayang pada foto di dompet Sebastian. Ia tak peduli. Sungguh! Biarlah untuk saat ini ia merasakan luapan cintanya pada Sebastian tanpa ada penghalang apapun. Bibir mereka kian mendekat, hingga…

"Sebastian?"

Sebuah suara menginterupsi mereka. Mereka terpaksa segera menarik wajah mereka menjauh dan menoleh ke arah sumber suara. Mata Sebastian dan Ciel sontak terbelalak lebar melihat seseorang yang kini berdiri di hadapan mereka, orang yang tadi menginterupsi ciuman mereka, seorang pria dengan rambut silver panjang, dengan bulu mata lentik seperti bulu mata Ciel.

Bibir Sebastian bergetar sebelum mengucap nama itu dengan sempurna.

"Charles Grey…"

~ To be Continue ~

Apa terlalu pendek? O.O sudah 8 halaman computer lho…