Desclaimer : Kuroshitsuji is Yana Toboso's. But Sebastian is MINE! *ngimpi*
Spesial thanks to yang udah review, bagi yang belum review, ditunggu reviewnya ^^ Dan maap karena ada angin apa gw ganti judulnya. Coz kayaknya ni fict bahas Kuroshitsuji, bukan bahas Boybandnya XD *baru nyadar setelah chapter 5?*
Chapter 5 : That Butler, Wanna Burn the Past
.
.
.
Bibir Sebastian bergetar sebelum mengucap nama itu dengan sempurna.
"Charles Grey…"
Ketiganya mematung, hingga Claude dan Alois menghampiri. Claude juga sama terkejutnya saat melihat cowok berambut silver panjang di hadapan Sebastian dan Ciel, sedangkan Alois hanya mengangkat alis tanda heran.
"Wah…kalian sedang double date ya…" ucap Grey pada akhirnya.
"…" hening, tak ada jawaban apapun dari siapapun.
"Charles Grey…" seseorang memanggil, dan semua mata langsung tertuju pada si pemanggil. Tampak seorang pria dengan rambut golden agak panjang, menghampiri mereka.
"Aish…darling. Kemana saja, aku mencarimu dari tadi lho…Masak kau meninggalkanku di rumah hantu. Oh…nanti kalau rambutku rusak dimakan oleh hantu-hantu itu bagaimana. Kau bilang kau menyukai rambutku…" ucap pria itu dengan amat sangat lebaynya.
"Maaf, kukira kau sudah keluar dari rumah hantu. Aku juga mencarimu kemana-mana, Aleister Chamber" Balas Grey dengan cengiran khasnya.
"Hei, siapa mereka? Teman-temanmu?" Tanya Aleister.
"Oh iya, aku lupa memperkenalkan. Iya mereka teman-temanku. Ini Sebastian dan bersama mungkin pacarnya, lalu Claude dan bersama orang yang mungkin juga pacarnya. Teman-teman, ini Aleister Chamber, kekasihku. Dia Viscount of Druitt lho…" ujar Grey riang tanpa memerhatikan expresi terkejut dari Sebastian. Pacar?
"Hah? Sebastian dan Claude?" ucap Aleister. "Ohh…astaga…benarkah itu mereka…Member Kuroshit…"
"Sebastian, kita pergi!" potong Claude dan langsung menarik Sebastian pergi diikuti Alois dan Ciel.
"Mereka kenapa? Tidak sopan sekali. Padahal artis lho…harusnya ramah pada fans." Komentar Aleister.
Claude terus menarik Sebastian menuju tempat parkir, masih diikuti Ciel dan Alois. Tiba-tiba, Sebastian menyentakkan cengkeraman tangan Claude.
"Aku mau ke toilet dulu." Ucap Sebastian dan langsung pergi.
"Eh eh, Sebastian, tunggu, aku juga mau ke toilet." Kejar Alois. Kini tinggallah Claude dan Ciel yang menunggu di tempat parkir.
"Umm…Claude. Tadi itu…siapa?" Tanya Ciel hati-hati karena merasa Claude sedang marah melihat Sebastian tampak masih peduli pada Grey dilihat dari keterkejutan Sebastian tadi. Yeah, Ciel kan sudah tahu kalau Claude juga menyukai Sebastian.
"Charles Grey. Hanya orang brengsek!" jawab Claude tegas, tanda kemarahannya.
"Oh…" komentar Ciel pelan, tidak ingin bertanya lebih lanjut karena Claude terdengar benar-benar sedang marah saat ini.
"Bisa-bisanya dia muncul di hadapan Sebastian dengan menggandeng pacar barunya. Dasar brengsek!" Claude menghantam mobil dengan tinjunya.
"Dia marah karena Sebastian patah hati atau karena cemburu sih…" batin Ciel.
Claude menatap Ciel yang tetap diam, ia tahu kalau Ciel tengah memendam beribu pertanyaan namun tak diutarakannya.
"Dia itu…" Claude memulai, suaranya kembali melembut. "…mantan pacar Sebastian." Ucapnya. Hening sesaat. "Sebastian sangat mencintainya tapi dia pergi begitu saja tanpa alasan, memutuskan hubungan secara sepihak. Dan sekarang dia tiba-tiba saja muncul dengan kekasih barunya."
Untuk beberapa saat, hening kembali menyelimuti mereka.
"Apa Sebastian masih menyukainya? Apa dia tidak mencoba membuka hatinya untuk orang lain?" Ciel akhirnya memecah keheningan.
Claude diam-diam melirik Ciel tajam, merasa kesal karena ia tahu Sebastian mulai membuka hati untuk Ciel, meskipun untuk sekarang mungkin tertutup lagi karena kehadiran Grey.
"Tidak pernah." Jawab Claude pada akhirnya.
Ciel terdiam, sedikit kecewa karena itu berarti Sebastian tak membuka hati untuknya. Lalu apa yang mau Sebastian lakukan tadi? Bukankah menciumnya? Mungkin hanya pelarian. Itulah kesimpulan Ciel pada akhirnya.
Sementara di kamar mandi…
"Ah leganya…" ujar Alois lalu menuju wastafel untuk mencuci tangan. Ia agak heran melihat Sebastian yang diam mematung di depan wastafel. Tapi Alois diam saja dan melanjutkan cuci tangan untuk kemudian mengeringkannya. Selesai, tapi Sebastian belum bergerak se-inchi pun dari tempatnya.
"Umm…ano, Sebastian. Ayo kita kembali ke parkiran." Ujar Alois pada akhirnya. Diam, tak ada jawaban. "Sebastian?" Alois mencolek lengan Sebastian, dan barulah Sebastian tersadar dari alam bawah sadarnya (?)
"A…e…? Ya?" ujar Sebastian.
"sebaiknya kita kembali ke tempat parkir." Ulang Alois.
"O-oh…ya. Tentu saja, ayo."
Mereka lalu kembali ke tempat parkir dimana Ciel dan Claude tengah menunggu.
"Aku pulang bersama Sebastian. Kalian tidak apa-apa kan pulang sendiri?" ucap Claude.
"Ya, tentu saja. Aku kan bawa mobil." Jawab Alois.
Dan mereka pulang mengambil jalan terpisah. Sebastian dan Claude terus diam sepanjang perjalanan pulang, bahkan hingga mobil berhenti di tempat parkir dorm. Sebastian langsung keluar dari mobil tanpa bicara apa-apa dan langsung menuju kamarnya. Claude segera mengikuti setelah mengambil kunci mobil.
~CLAUDE'S POV~
"Sebastian." panggilku dan menyelipkan kaki di sela-sela pintu kamar yang nyaris ditutup oleh Sebastian. Sebastian diam, lalu menghela nafas dan membiarkanku masuk. Sebastian membanting tubuhnya di ranjang sementara aku menutup pintu dan diam-diam menguncinya.
"Kau masih memikirkannya?" ujarku basa-basi sambil menghampiri Sebastian.
"Tidak, aku hanya lelah dan ingin segera tidur" jawab Sebastian masih dengan posisi tengkurap. Aku mendekat perlahan, merangkak di atas tubuhnya. Kutundukkan kepalaku dan mendorongnya menuju leher Sebastian. Aku menyerang leher Sebastian dengan lidahku, dan sesaat kemudian kurasakan tubuhnya berjengit kaget. "C-Claude…" ujarnya terbata.
"Lupakan dia, Sebastian." Ucapku lalu membalikkan tubuh Sebastian dengan paksa dan menindihnya.
"C-Claude, apa yang mau kau laku-…Hhhhh…" ucapan Sebastian terpotong saat aku kembali menyerang lehernya.
"Lupakan dia Sebastian, lupakan! Mulailah melihatku!"
"Ti-tidak Claude! Aku tidak bisa! Jangan lakukan ini!" Sebastian berontak, memaksa duduk sehingga aku pun terpaksa berhenti.
"Aku…" nafas Sebastian terengah. "…tidak bisa melakukan ini dengan orang yang tak kucintai, Claude. Maaf…"
"…" Diam, tentu saja aku kecewa mendengar Sebastian mengatakan tak mencintaku. Aku beranjak dari ranjang, mengambil dasi Sebastian yang tergantung di dinding lalu kembali menghampiri ranjang dimana Sebastian berada.
"Anggap aku orang lain." Ujarku kemudian.
Hening sejenak, hingga Sebastian tertunduk dengan tatapan sayu lalu mengangguk lemah. Tanpa kata, kuikatkan dasi yang kupegang untuk menutup mata Sebastian.
"Siapa yang seme." Bisikku hingga suaraku terdengar seperti desau angin, sengaja supaya Sebastian tidak menganggap itu adalah suaraku.
"Aku." Ujar Sebastian. "Tapi kau yang di atas."
"Got it." Tanggapku, mata emasku menatap lekat tubuh Sebastian. Mungkin aku salah telah melakukan ini, tapi aku tak peduli. Yang ku pedulikan saat ini hanyalah fakta bahwa aku marah. Marah pada Sebastian, marah pada Grey, dan marah Ciel. Aku benci pada kenyataan bahwa Sebastian tak mencintaiku, aku benci kenapa Sebastian justru mulai membuka hati untuk Ciel meski kenyataan menunjukkan Sebastian masih menyukai Grey.
"Sebast~…" hanya erangan itu yang muncul mewakili berjuta perasaanku pada Sebastian. Kecewa, cinta, marah, semuanya. Tidak bisakah dia mulai menyukaiku? Ah, tidak. Mulai mencoba menyukaiku saja sudah lebih dari cukup. Kadang aku sendiri juga bingung, kenapa aku bisa sangat mencintai Sebastian. Apa yang bisa kusukai dari pria bodoh macam dia? Mungkinkah Senyumannya? Tatapannya? Ah,sepertinya…semua hal tentang dirinya. Termasuk semua kekurangannya yang justru menjadi nilai lebih bagiku. Kekurangannya, aku berharap bisa melengkapi, saling mengisi, tapi semua itu tampaknya hanya hayalanku saja. Betapa bodohnya aku.
"Ssssh….." kurasakan Sebastian berdenyut-denyut di dalam sana, tanda sebentar lagi ia akan mencapai puncak. Inilah saat yang kutunggu-tunggu, menunggu nama siapa yang akan ia serukan saat merasakan surga dunia. Ku raih dagunya untuk kemudian menawan bibirnya dengan bibirku, sekedar menunjukkan bahwa akulah yang saat ini sedang melakukan hal ini bersamanya, menunjukkan padanya nama siapa yang harus ia sebut saat mencapai puncaknya nanti.
Dan saat itupun tiba, Sebastian memaksa lepas ciuman, nafasnya terengah, dan…bibirnya bergerak untuk menyebut nama…
"C-Ciel…Hhhh…Hhhh…"
Oh, hebat! Bukan aku, bahkan bukan juga Charles Grey, melainkan si bocah brengsek itu. Aku sakit. Sebenarnya sejak awal aku sudah tahu akan jadi begini, tapi tetap saja kan? Ucapan nama bocah itu dari bibir Sebastian seperti pedang yang menghancurkan hatiku dalam sekali tebas.
Aku beralih dari atas tubuh Sebastian, segera mengambil celanaku yang tercecer di lantai dan memakainya.
"Tidurlah, kau pasti lelah." Ucapku sambil berlalu pergi dari kamar Sebastian. Aku masih berdiam diri agak lama di depan pintu kamar Sebastian yang tertutup. Hingga tak kusadari Grell mendekat.
"Hn hn hn, sedang apa kau di depan pintu kamar Sebas-chan." Ucap Grell penuh kecurigaan dengan tatapan meledek. "Ohh…ya ampun, bajumu basah. Apa yang…"
"Cih!" kutampik tangannya yang tadi hampir meraba baju bagian perutku yang basah karena cairanku sendiri. "Bukan urusanmu!" ujarku ketus dan segera pergi dari situ, membiarkan Grell yang masih mengoceh tak jelas.
~NORMAL POV~
Matahari sudah tinggi pagi itu, Sebastian keluar dari kamarnya sudah mengenakan pakaian rapi. Hari ini ada jadwal interview di salah satu stasiun televise. Ia berjalan menuju ruang televise untuk mengambil jam tangannya yang beberapa hari lalu tertinggal disana. Dan dahinya berkedut kesal saat mendapati William, Undertaker dan Grell tengah asyik nonton TV.
"Kalian apa-apaan sih! Ini sudah siang tahu!" omel Sebastian sambil mendekat.
"Seb, liat dulu bentar deh." Ucap Undertaker tanpa menoleh.
Sebastian menatap layar TV dan matanya terbelalak saat mengenali wajah dua cowok mungil itu ada disana. Ciel dan Alois.
"Mereka diinterview?" Tanya Sebastian yang dijawab dengan anggukan dari ketiga temannya. "Interview tentang apa?"
"Bisnis." Sahut William.
"Bisnis?"
"Ciel itu direktur perusahaan Phantom dan Alois adalah direktur perusahaan Trancy. Mereka diinterview tentang kerjasama perusahaan mereka." Papar Undertaker.
"Huuh, kita tidak tahu karena hanya berkutat dengan lagu lagu dan lagu." Tanggap Grell. "Ne~ rupanya bocah ingusan macam mereka lebih hebat dari kita. Ohh nooo~" Grell memegangi kepalanya dengan lebay.
"Eh eh, mereka di stasiun TV yang sama dengan yang akan kita datangi kan? Ayo cepat kesana, aku ingin bertemu mereka dan menanyakan hal ini. Hebat benar mereka kalau benar sudah jadi direktur di usia semuda itu." Ucap Undertaker dan langsung kabur diikuti Wiiliam dan Grell. Tampaknya ketiga makhluk itu punya pertanyaan yang sama untuk ditujukan pada bocah Phantomhive dan Trancy itu.
"Heeeh…" Sebastian hanya menghela nafas leIah untuk kemudian menyusuri koridor menuju tempat parkir. Saat hampir sampai di pintu keluar, ia bertemu Claude. Untuk sesaat keduanya diam dan hanya saling tatap. Hingga…
"Maaf…" ucap keduanya bersamaan. Hening kembali menyelimuti.
"Umm…y-ya sudah. Ayo keluar, yang lain sudah menunggu." Ucap Claude kemudian. Sebastian mengangguk lalu mengikuti langkah Claude menuju tempat parkir dorm.
Begitu keluar gedung, tiba-tiba terdengar bunyi 'pop' dan hujan kertas warna-warni langsung menyerbu Sebastian dan Claude.
"Kyaa…benar-benar tampan. Tidak salah aku mengidolakan mereka." Ucap sebuah suara yng langsung dapat dikenali meski baru mendengarnya sekali. Aleister Chamber a.k.a Viscount d' Druitt.
"Siapa dia Sebbas-chan. Norak sekali." Komentar Grell yang dapat anggukan setuju dari William dan Undertaker.
"Ohhh…aku pangeran dari Eropa yang mengidolakan kalian, terutama Sebastian. Karena tak kusangka, dia adalah mantan dari pacarku yang sekarang." Ucap Aleister.
Mata Sebastian menajam, lalu melangkah melewati Aleister tanpa permisi.
"Katakan padanya untuk mendengarkan lagu 'Just to Burn the Past' dan suruh amati lyric nya baik-baik!" ujar Sebastian ketus dan langsung membanting pintu saat memasuki mobil.
"Lyric?" batin Claude. "Sudah kuduga kalau lagu itu Sebastian ciptakan berdasarkan pengalaman masa lalunya bersama Grey. Tapi kurasa…ada sesuatu yang lebih." Claude beranjak memasuki mobil yang sama dengan Sebastian, disusul ketiga temannya.
"Haiiih…kalian jahat sekali, padahal sama fans." Ucap Aleister tapi tak dipedulikan. William yang duduk di belakang kemudi menjalankan mobilnya begitu saja.
Claude yang duduk di bangku depan tampak mengamati partitur lagu Just to Burn the Past sementara ketiga temannya yang duduk di belakang masih heboh soal Alois dan Ciel. Mata Claude memicing setelah mengamati lyric lagu bait demi bait. Ia menyadari sesuatu.
Rupanya, jika tiap bait lagu hanya diambil huruf depannya saja, maka akan membentuk nama 'Charles Grey'. Dan soal isi, jangan tanya lagi. Sudah pasti tentang Sebastian yang tersakiti dan ingin membakar a.k.a melupakan masa lalunya.
Tak berapa lama, mobil yang dikendarai Kuroshitsuji berhenti di depan gedung stasiun TV dimana mereka akan di wawancara. Undertaker, William dan Grell yang sudah tak sabaran, segera turun dari mobil setelah William melemparkan kunci mobil seenaknya pada petugas parkir supaya membawa mobil mereka ke tempat yang seharusnya.
"Dasar." Rutuk Sebastian lalu menyusul mereka bersama Claude.
~ ] ! ~
"Bocaaaaaahhhhhhh!" raung Undertaker, William dan Grell sambil menjitak kepala Ciel dan Alois bergantian. Mereka kini sudah berada di dalam studio dan sedang menemui bocah sasaran mereka.
"Kalian tidak pernah memberitahu kami!" omel Undertaker.
"Kalian gak nanya! Lagian kami kan terkenal, masak kalian nggak tahu" kilah Alois.
"Terkenal di kalangan bisnis! Kami kan musisi!" bantah William.
"Ahh…pengusaha muda."
Semuanya langsung menoleh ke arah sumber suara dengan speechles begitu mendengar suara menjijikkan itu yang tentu saja berasal dari mulut Grell. Mereka kian sweatdrop saat melihat Grell dengan pose yang…-oh le-bay- tengah mencolek genit dagu Ciel yang kini merinding sampe bulu jacketnya ikut berdiri.
"Ano, ngomong-ngomong Claude dan Sebastian mana?" tanya Alois sambil menyeret Ciel dari neraka (?) yang diberikan Grell.
"Tadi di belakang kami. Nah,tuh mereka." Undertaker menunjuk dengan ibu jari saat melihat Sebastian dan Claude menghampiri mereka.
"Hai Ciel, Alois. Apa kabar?" ucap Sebastian sambil merangkul pundak Ciel.
"Ehm ehm…" goda William dan Undertaker.
"Sebas-chaaaan…kenapa menyentuhnya? Kau tidak boleh menyentuh siapapun selain akyuuu." Raung Grell dengan nada manja.
"Hehehehe padahal baru sehari gak ketemu." Sambung Alois. "Ya kan Cla-…" Alois seketika terdiam saat menoleh pada Claude dan ternyata Claude tengah menatap tajam pada Ciel. Cemburu? Muka Alois langsung berubah muram. Jadi Claude belum bisa melupakan Sebastian? Lalu apa arti ciuman malam itu? Pertanyaan itulah yang kini memonopoli otak Alois.
"Kyaaa…akhirnya ketemu!" ucap seseorang yang langsung menyedot perhatian Kuroshitsuji plus Alois dan Ciel. Dari arah pintu masuk, terlihat Aleister dan…Grey memasuki studio dan menghampiri mereka.
Wajah Ciel juga langsung berubah muram dan seketika melepas tangan Sebastian yang masih bertengger di pundaknya.
"Ngapain sih tuh orang norak ngikutin kita." Bisik William.
"Boleh aku menendang bokongnya, Sebas-chan?" ucap Grell genit seperti biasa. Tapi ia terperangah juga saat tak ada jawaban dari Sebastian yang kini berwajah dingin. "Kau kenapa, Sebas-chan? Kenapa tiba-tiba berubah sedingin itu?" ucap Grell terus terang.
"Ah…? Oh, ti-tidak apa-apa." Sebastian tampak sedikit kaget dengan pertanyaan Grell.
"Hei hei, boleh minta foto bersama?" ucap Aleister.
"Tidak!" balas William dan Undertaker bersamaan.
"Bukan aku, tapi dia."Aleister menunjuk Grey dengan ibu jarinya. "Grey bilang ingin berfoto dengan Sebastian."
"He? Aku tidak pernah bilang begitu?" ujar Grey innocence. "Tapi nggak apa-apa sih. Kita kan sudah lama nggak foto bareng, iya kan Sebby." Senyum Grey, senyum lebar yang seperti biasanya.
Sebastian kembali membulatkan matanya. Tadi Grey memanggilnya apa? Sebby? Dulu itu adalah panggilan sayang dari Grey untuk Sebastian. Hati Sebastian mencelos, dia…jujur saja. Sudah amat sangat merindukan panggilan itu keluar dari mulut Grey, orang yang sangat dicintainya selama ini. Dan kini saat kata itu kembali terucap dengan manisnya bersama senyuman dari seorang Charles Grey, tubuh Sebastian membeku. Ia tak lagi punya daya untuk bergerak, seakan menantikan kalau Grey akan memeluknya saat ini juga.
Grey berjalan mendekat, langkah kakinya terdengar bagai suara malaikat di telinga Sebastian.
"Cepat…cepat…cepatlah datang Grey! Peluk aku sekarang juga!" jerit batin Sebastian.
Grey kian mendekat, tangannya terulur untuk meraih lengan Sebastian, mencari pose yang bagus untuk foto bersama idola. Tapi…saat jemari Grey baru menyentuh lengan Sebastian, tiba-tiba tubuh Sebastian menjauh, ah…lebih tepatnya, ditarik menjauh, oleh Claude.
"Acara kita sudah hampir dimulai!" ketus Claude dan langsung menyeret Sebastian pergi ke tempat acara diikuti member Kuroshitsuji lainnya.
"Yaah…gagal. Padahal kukira bisa memamerkan fotomu dengan Sebastian pada teman-temanku." Gerutu Aleister. "Biar mereka percaya kalau kau pernah pacaran dengan Sebastian."
"Haah. Sudahlah. Masih banyak kesempatan kan." Senyum Grey.
"Hei kau." Ucap Ciel dengan nada dingin tanpa menatap Grey dan Aleister. "Apa kau masih menyukai Sebastian?" tanyanya datar.
"Tentu saja tidak. Aku kan sudah bersama Aleister. Aku mencintai pacarku ini." Grey memeluk pinggang Aleister dari samping.
"Lalu untuk apa kau muncul di hadapan Sebastian!" Ciel agak membentak.
"Memangnya kenapa? Pacarku mengidolakannya, aku hanya menemani pacarku untuk menemui Sebastian. Memangnya…ah aku tahu. Kau cemburu ya?" tebak Grey.
Deg!
Ciel terbelalak, dan seketika wajahnya berubah merah.
"A-aku tidak…lagipula aku bukan pacarnya!" kilah Ciel.
"Hoo? Jadi belum jadian ya? Mau kubantu mendekati Sebastian." Grey melepas pelukannya di pinggang Aleister dan menghampiri Ciel. "Aku kan mantannya Sebastian, aku tahu banyak tentang dia. Mau kubantu?" tawar Grey lagi dengan senyum seperti biasa.
"Ci-Ciel…kau bilang mau beli minuman. Ayo." Alois coba menghentikan percakapan itu karena melihat wajah Ciel yang…well, memprihatinkan. Percampuran antara marah, malu, penasaran, grogi dll.
"A-aku…" Ciel tak meneruskan kata-katanya.
"Baiklah, sudah kuputuskan! Aku akan membantumu." Riang Grey. "ya kan, darling…" Grey beralih menatap Aleister.
"Tentu saja darling. Membantu teman kan pekerjaan yang mulia. Ohh…aku bangga sekali padamu." Aleister menghampiri Grey dan mengecup dahinya.
"Norak!" batin Alois.
"A-aku kan belum bilang setuju." Kesal Ciel meski wajahnya masih blushing.
"Sudahlah, tidak ada penolakan, little Robin. Kekasihku ini sudah berbaik hati mau membantumu, kau ti-dak bo-leh me-no-lak." Ujar Aleister dengan kerlingan penuh pesona yang memuakkan.
~ ] ! ~
"Satu nasehatku Ciel." Ucap Alois sok tua. "Jangan turuti nasehatnya jangan turuti nasehatnya jangan turuti nasehatnya." Alois geleng-geleng disco yang ngebuat Ciel sweatdrop.
"Sudahlah Alois, aku kan juga nggak sepenuhnya menuruti Charles Grey itu. Aku Cuma gak suka kalo Grey terus-terusan ngoceh karena aku tak menuruti sarannya." Kilah Ciel yang sebenarnya ingin menuruti ucapan Grey sepenuhnya. Tampaknya kini ia benar-benar telah menginginkan Sebastian sebagai kekasih, bukan hanya sebagai idola.
"Huuh…ya sudahlah. Kapan kau mau memulainya." Alois pasrah.
"Malam ini. Kata Grey lebih cepat lebih baik."
"Huuuuh…" lagi-lagi Alois ber-huh-ria. "Ya sudah, hati-hati. Kalau ada apa-apa beritahu aku ya."
"Iya, sudah pasti." Ucap Ciel lalu mengambil kunci mobilnya dan keluar dari rumah. Alois diam sesaat, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti Ciel secara diam-diam. Dia benar-benar khawatir pada sahabatnya itu karena Alois masih ragu Grey itu waras apa nggak (?).
~ oOOOOOo ~
Ciel berjalan santai -meski dengan jantung berdebar—menuju Dorm Kuroshitsuji, lengkap dengan headset yang nyantol di telinganya, dan headset itu terhubung dengan HP dan HP itu tersambung dengan HP Charles Grey. (Hadew…=,= readers mudeng gak ya gw ngomong apa? Ya intinya Charles Grey terhubung dengan Ciel lewat telefon gitu *JDUAK*)
"Pertama, ajak dia keluar. Ke club kek, atau ke restaurant, pokoknya ajak kencan." Ucap Grey di seberang telefon sana.
"Ok!" sahut Ciel dan memasuki dorm Kuroshitsuji. "Tapi kenapa aku harus mengajaknya langsung sih? Kenapa tidak lewat telefon saja?" ucap Ciel setelah di dalam lift.
"Itu untuk jaga-jaga kalau Sebastian tidak mau diajak jalan. Kau kan jadi tidak perlu repot-repot mencari alasan untuk mengunjunginya."
Ciel terus melangkah, menuju kamar Sebastian. Begitu sampai di depan pintu, ia mengetuk. Tak berapa lama pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok Sebastian yang agak terkejut dengan kedatangan Ciel.
"Ciel? Ada apa malam-malam begini?" tanya Sebastian.
"A-ano…apa kau…"
"Ah, masuk dulu lah. Tidak enak berbicara di depan pintu begini." Sebastian menggiring Ciel masuk dan mempersilahkannya duduk di sofa ruang tamu yang ada di kamar Sebastian. Yeah, kamar Sebastian itu kayak rumah mini aja. Ruangannya lengkap cuy…
"Sebentar. Kubuatkan minum." Sebastian beranjak ke dapur untuk mengambilkan minuman, dan tak lama kemudian kembali ke ruang tamu dengan membawa dua gelas milkshake coklat yang tadi dipesan Ciel.
"Ada apa malam-malam kesini?" Sebastian mengulang pertanyaannya yang belum sempat terjawab.
"Ano, kau sibuk? Mau keluar bersamaku?" tanya Ciel grogi, tertunduk tanpa mampu menatap Sebastian.
"Emm…sebenarnya tidak sih. Tapi manager kami melarang kami keluar supaya kami istirahat. Soalnya besok cukup sibuk."
"Oh…" hening sejenak, ternyata benar perkiraan Grey. "Hei, boleh pinjam toilet?" ucap Ciel. Sebastian mengangguk dan Ciel pun segera menuju kamar mandi.
"Sebastian tidak mau diajak keluar. Selanjutnya apa?" tanya Ciel pada Grey diujung telefon. Diam. Yang terdengar justru suara decak basah.
"O-oh, ma-af Ciel. Bisa kau ulangi pertanyaanmu?" ujar Grey. Ciel sweatdrop, apalagi saat mendengar suara yang ia kenali sebagai suara Aleister tengah berkata 'Ayolah, apa telefon itu lebih penting dariku? Aku sudah tidak tahan."
"Uggh…Aleister. Tunggu sebentar ung…Hhh…hhh…Ciel, begini saja. Aku sedang sibuk, aku akan menyarankan beberapa hal. Selanjutnya kau bi sa menentukan mana yang cocok dilakukan. Ugh…Aleister, tunggulah sebentar!"
Ciel makin speechles.
"Sebastian itu…ahh, suka kucing." Lanjut Grey.
"Hah! Kenapa kau tidak bilang dari tadi! Aku kan bisa membeli kucing sebelum datang kesini!" omel Ciel.
"Huuuh, apa boleh buat. Tapi kalau bisa kau membelinya siih…Ahhh, lalu…"
"Lalu?" ucap Ciel tak sabar.
"Lalu…hei hei hei! Aleister! Ja-ngan…aaaahhhhh!" dan telefon tertutup seketika. Ngebuat Ciel membatu di tempat.
"AAAAAARRRGHHHH, BAKA!" jerit Ciel frustasi.
"Ciel? Ada apa?" terdengar suara Sebastian dari luar.
"A…bu-bukan apa-apa kok." Kilah Ciel.
"Aku masuk ya?"
"Eh? Nggak nggak nggak, aku yang keluar saja. Tidak terjadi apa-apa kok." Ciel segera keluar dari kamar mandi dan mendapati Sebastian berdiri di depan pintu, raut mukanya tampak khawatir.
"Serius tidak terjadi apa-apa? Kau tidak terluka? Ada yang sakit? Apa kau jatuh?" tanya Sebastian sambil memeriksa sekujur tubuh Ciel. Ciel terkikik geli karena sentuhan Sebastian.
"Hihi…tidak apa-apa kok hihihi…sudah dong, geli tahu."
Sebastian tersenyum nakal, berniat menggoda Ciel , dan ia lalu betulan menggelitik Ciel.
"Aduh…geli…hihihihi…Sebas-…hentikan…geli…" Ciel meronta, dan justru menambah cepat gerakan Sebastian. Tanpa sadar, Sebastian merobohkan tubuh Ciel ke lantai dengan Sebastian di atasnya. Ciel masih tertawa geli sambil menggeliat-geliat yang membuat Sebastian sedikit…ehm, bernafsu.
Sebastian menghentikan aksinya, takut kalau ia akan kelewatan. Tawa Ciel juga mereda. Ciel menatap wajah Sebastian yang kini berada tepat dihadapan wajahnya, merasakan hangat nafasnya, ah…tidak, bahkan hangat tubuhnya yang kini menindih tubuh Ciel.
"Dia tidak complain dengan posisi ini?" batin Sebastian. "Apa dia tidak tahu apa yang bisa terjadi kalau terus seperti ini?"
"Sebastian…" panggil Ciel.
"Ya?" jawab Sebastian tanpa melepas pandangannya dari mata Ciel. Apa dia akan mengatakan 'sentuh aku' atau semacamnya? Pikir Sebastian.
"Kau…"
Sebastian menunggu kata-kata Ciel dengan berdebar.
"Kau mau…"
"Ya?" glek! Sebastian menelan ludah berat.
"Kau mau aku belikan kucing?"
"Eh?" *sweatdrop*
"Katanya kau suka kucing."
Sebastian masih tercengang karena dugaannya 1000% meleset. Dan…ia mulai terkikik geli dan akhirnya tertawa lepas. Bangkit dari posisi menindih Ciel.
"Kok ketawa sih!" Ciel ikutan duduk, blushing.
"Tidak. Hehehehe…kukira kau mau bilang apa. Hahaha…"
"Ha? Memangnya apa?" tanya Ciel polos.
"Ah, sudahlah. Bukan apa-apa. Hihihi…" Sebastian berdiri dan berjalan ke arah pintu. Membukanya "Kalau kucing aku juga punya. Sebenarnya bukan kucingku sih, tapi setiap malam dia mampir ke kamarku karena selalu kuberi makan."
Ciel beranjak mengikuti Sebastian, berdiri di sampingnya dan ikut melongok keluar.
"Ah, itu dia. Ciel, ckckck…sini sini." Sebastian membungkuk menyambut kucing hitam yang muncul dari ujung lorong dan langsung menggendong kucing itu.
"Eh eh? Ciel?" heran Ciel.
"Iya hihihi. Jangan Ge-Er lho…dia sudah ada disini sebelum aku mengenalmu. Aku memberinya nama Ciel karena matanya berwarna biru. Ciel kan bisa diartikan biru atau langit dalam bahasa Perancis." Papar Sebastian. Ciel hanya ber-oh ria. "Mau coba menggendongnya?"
"Eh? Ti-…" tapi belum sempat Ciel menyelesaikan kalimat penolakannya, Sebastian sudah meletakkan kucing itu di gendongan Ciel.
"Ha-hatchi…hachi…hatchi…" Ciel langsung bersin-bersin.
"Ha? Kau alergi kucing?"
"I-hachi…iya, hachi…"
Kucing itu kaget akibat bersin Ciel dan langsung bergerak liar, mencakar-cakar dada Ciel dan bahkan pipi kanannya.
"Hei hei hei…" Sebastian segera menarik kucing itu dari Ciel. "Uh…maaf ya Ciel." Sebastian mencoba menenangkan kucing itu.
"Kau minta maaf sama siapa sih." Ciel manyun.
"Hahahaha…tentu saja sama kamu. Duduklah disana, aku akan ambil kotak P3K." Sebastian segera membawa kucing itu ke ranjangnya, menidurkannya disana lalu mengambil kotak P3K dan menghampiri Ciel.
"Maaf deh…" ujar Sebastian lembut sementara Ciel masih manyun. Sebastian segera mengobati luka di pipi Ciel.
"Apa dadamu juga terluka?" tanya Sebastian.
"Entahlah, kan terlindung baju." Jawab Ciel.
"Tapi tidak ada salahnya di check."
"Iya juga sih, rasanya cukup perih." Ciel segera membuka bajunya, bertelanjang dada. Membuat Sebastian sontak menahan nafas. Padahal kalo mau memeriksa kan nggak harus dilepas. Apa Ciel ini benar-benar polos atau sengaja menantangku sih? Batin Sebastian tanpa melepas pandangannya dari dada polos Ciel yang ternyata banyak yang lecet membentuk cakar kucing.
"Hei, kau baik-baik saja?" tanya Ciel.
"Y-yeah…" Sebastian kembali ke alam sadarnya dan segera mengobati luka di dada Ciel. Sementara itu Ciel menerima sms dari Grey yang penulisannya sangat berantakan. Ciel bisa menebak Grey menulisnya sambil melakukan apa. Isi sms nya :
"sSsebastyann skkuka kuccing. Kkauui hgarus bersikkap mansja pasdanya sserpertii kucchingg" (translate ke bahasa manusia (?) : Sebastian suka kucing. Kau harus bersikap manja padanya seperti kucing.)
Ciel kembali meletakkan HPnya dan beralih menatap Sebastian yang sedang mengobati lukanya.
"Bersikap manja eh?" batin Ciel.
"Sebastian…" panggil Ciel manja.
Sebastian mendongak dan menatap tidak percaya, apa benar tadi Ciel yang memanggilnya?
"Umm…" Ciel mendekatkan wajahnya ke wajah Sebastian dan…menempelkan pipinya ke pipi Sebastian lalu menggosok-gosokkannya. Benar-benar seperti kucing yang ingin dimanja oleh majikannya. Sebastian terbelalak.
"Ci-ciel, apa yang kau…lakukan?" tanya Sebastian.
"Menjadi kucing. Katanya Sebastian suka kucing, tapi aku tak bisa membelikannya dengan tanganku sendiri karena aku alergi. Jadi tak apa kan kalo aku jadi kucing?"
Sebastian tertawa mendengar kepolosan Ciel lalu mengacak-acak rambut kelabu si bocah mungil yang kini blushing dihadapannya. Aish…benar-benar manis seperti anak kucing.
"Kau ini bisa saja." Senyum Sebastian, membelai pipi Ciel dengan lembut.
Sementara di luar sana, seseorang meneropong mereka lewat jendela kaca besar kamar Sebastian yang dibiarkan terbuka.
"Hn…tampaknya berjalan lancar. Grey rupanya masih waras untuk memberikan saran yang bagus." Ucap si pengintai pada dirinya sendiri.
"Alois Trancy. Sedang apa kau disini." Sebuah suara membuat si pengintai menoleh.
"Claude? Ano…eh, tidak sedang apa-apa. Kau dari mana?" tanya si pengintai yang tak lain adalah Alois. Alois menatap bungkusan yang ditenteng Claude, sepertinya Claude baru saja dari minimarket.
Claude memandang Alois curiga, apalagi dengan teropong yang ada ditangannya. Claude mendongak, dan matanya berubah tajam saat melihat jendela kamar Sebastian yang terbuka. Ia tahu kalau Alois baru saja mengintai ke arah itu. Tanpa persetujuan, Claude langsung merebut teropong yang dipegang Alois dan meneropong ke kamar Sebastian.
Mata emasnya seketika melebar dan sebuah decak kesal meluncur dari bibirnya. Ia segera mengembalikan teropong itu pada Alois dengan cara yang kurang sopan lalu berbalik.
"Tunggu!" cegah Alois sehingga Claude tidak jadi melangkah. Hening sejenak. "Kau masih menyukai Sebastian?" tanya Alois tegas pada akhirnya.
"Ya." Jawab Claude sama tegasnya.
"Lalu kau anggap aku sebagai apa?" Alois tahu mungkin Claude akan marah, tapi ia harus menanyakan ini.
"Kau…hanyalah fans." Jawab Claude datar.
"Apa! Lalu apa arti ciuman malam itu?"
"Ciuman? Heh…jangan membuatku tertawa. Aku tidak ingat pernah menciummu. Yang kuingat aku hanya memberikan nafas buatan padamu."
"Bukan. Bukan nafas buatan yang itu. Tapi ciuman saat melihat pesta kembang api!" Alois blushing dengan hebatnya.
"Oh…" ucap Claude, lalu sedikit menoleh ke belakang untuk menatap Alois. "Aku tidak menganggap itu sebagai ciuman."
Alois terbelalak, air matanya tiba-tiba saja menggenang di mata biru terangnya. Bibirnya bergetar, ingin mengatakan sesuatu tapi tak bisa.
"Selamat malam." Ucap Claude dan melangkah pergi. Sementara Alois masih membeku ditempatnya dengan tubuh yang gemetar. Hatinya sakit. Benar-benar sakit…
~ To be Continue ~
WTH…apa2an gw masangin Charles Grey sama Viscount d' Druitt O ah,iya. Dibawah ada lagu Just to Burn the Past *critanya* mohon maap kalo banyak salah kata di lagu itu. Maklum, bahasa Inggris gw ancur heheheheh (mohon reviewnya) Btw, chapter ini udah panjang kan? ^^ Ayeee…semoga gak membosankan *pundung* apalagi karena gw rasa, humornya sedikit di chapter ini u.u" Maap juga yak kalo masih banyak typo yang terlewat oleh mataku…
Balasan Review :
#Sora Yoshimikaze : bwehehehe map map, high five aja gw baru tau kemaren *katrik abiz* kyknya kudu lebih banyak baca fict nih gw XD he? Tanda bantu apaan yak? XD makasih reviewnya...
#Chiko-silver lady : krn gak log in, balesnya jg lewat sini ya...*digaplok* arigato gozaimas reviewnya :-D hei hei, ni KM uda ga Q singkat lg and nama Grell uda dibenerin. Ayeee *berhasil berhasil berhasil horeee* XD thanks sarannya
#makasi jg bwt hana-1emptyflower dan SiLLiequeenth, saia bales lewat PM
.
.
.
Just to Burn the Past
Call of night, take me to the sorrow which you gave that day
How can I escape with this hurt knees
And the loneliness which broke my heart, gave me more pain
Realize that it will never end, I'll take my own robe and heal it
Listen to my little heart and walk away from all memory about you
End! This hurt that I feel, I wanna burn it
Stop! Kill the night with star, Just to Burn the Past
Gone from the dark memory in the past where I have hurt
Really I wanna burn the past
Exactly I wanna you feel the same pain, but…
You can run away anywhere, so you will never feel it
