Desclaimer : Yana Toboso's, but Sebastian is MINE! *nglindur* Zzzzzz

Update sebelum ujian nasional sekalian mohon do'a sama readers moga authornya bisa ngerjain soal dengan mudah and lulus dengan nilai memuaskan ya…Amiiiin…n.n

Chapter 6 : That Butler, Say Love

.

.

.

"Hei? Kau menangis?" tanya Ciel.

"Hah? Masa sih? Nggak kok, sapa juga yang nangis. Hueee..." ujar Alois.

"Nah, tuh kan nangis. Ada masalah apa sih?" tanya Ciel khawatir.

"Aku...aku...hiks..."

"Tenanglah, ceritakan saja padaku..."

"Hueee...telenovela-nya mengharukan bangeeeeettt..."

GUBRAAAKKK! Ciel ber-gubrak-ria dengan sangat tidak elite-nya, lalu mulai ngomel-ngomel pada handphone yang dipegangnya.

"Apaan sih! Gw kira kenapa! Dasar brengsekkkk!" Omel Ciel sementara Alois tengah tertawa terbahak-bahak di ujung telefon sana.

"Wkwkwkwkwk ma-maaf ... maaf... wkwkwkwkwk, habis lo khawatiran banget sih."

"Huuh! Lain kali gue nggak akan khawatir lagi sama elo!"

"Hehehehe maaf deh maaf hihihihi."

"Habis...kau tidak berangkat sekolah selama beberapa hari, tanpa kabar pula. Dari kemarin kutelfon tapi baru sekarang menyahut." Suara Ciel melembut. "Nggak tahunya malah lagi nonton telenovela!" omel Ciel selanjutnya.

"Hihihi maaf maaf, aku agak tidak enak badan selama beberapa hari ini. Aku seharian hanya berbaring di kamar dan malas sekali bangun bahkan untuk sekedar mengangkat telfon. Bagaimana dengan pelajaran sekolahnya?"

"Ha? Tumben sekali kau menanyakan pelajaran sekolah. Biasanya yang kau tanyakan 'apa ada yang baru tentang Kuroshitsuji? Bagaimana Claude ya…? Bagaimana perkembangan hubunganmu dengan…dan bla…bla…bla…" oceh Ciel.

Terdiam.

"Hei, kau masih hidup?" Tanya Ciel ngawur.

"Ha?"

"Huuh, kukira kau sudah mati." Dengus kesal Ciel.

"Hehehe maaf mengecewakanmu." Balas Alois.

Hening lagi.

"Hei, tumben kau tidak tanya apa-apa tentang aku dan Sebastian. Apalagi yang waktu itu aku melakukan hal konyol atas saran Charles Grey."

"Ha? Memangnya aku harus tanya ya?" goda Alois.

"Cih! Kau memang menyebalkan."

"Hehehehe iya deh iya. Bagaimana malam itu? Berjalan lancar?"

"Yeah…lumayan sih. Meskipun pada kenyataannya aku hanya mengobrol biasa dengan Sebastian dan tidak ada yang terjadi."

"Ha, jadi kau mengharap terjadi sesuatu?" goda Alois.

Seketika wajah Ciel berubah merah –meski Alois tidak bisa melihat tentunya- . "Bu-bukan begitu!" kesal Ciel, sementara Alois sudah mulai terkekeh lagi.

"Cih! Dari tadi kau tertawa melulu. Apa kau benar-benar sedang sakit!" rutuk Ciel.

"He? Siapa bilang aku sakit? Aku kan bilang aku tidak enak badan. Tidak enak badan bukan berarti sakit kan?" jawab Alois enteng.

"Dasar! Memangnya tidak enak badan kenapa?"

"…."

"Hei?"

"Ah, Ciel, sudah dulu ya…telenovela-nya sudah mulai. Bye…" dan Alois mematikan sambungan telefon. Meninggalkan Ciel yang kini berkedut kesal dengan bocah blonde satu itu. Hingga Ciel terdiam sendiri. Sejak kapan Alois menyukai telenovela? Pikirnya.

~ ] ! ~

Alois mendesah lelah begitu menekan tombol off di handphone-nya, ia terdiam, sedikit tertunduk dan berakhir dengan memeluk lututnya.

"Claude…" lirihnya. Ingatan malam itu melekat begitu jelas di otaknya.

"Kau…hanyalah fans!" …juga…" Aku tidak pernah menganggapnya sebagai ciuman!" kata-kata Claude itulah yang terus saja bermain di otak Alois, hingga membuat hati Alois serasa remuk dan pada akhirnya memutuskan untuk tidak keluar rumah selama beberapa hari –termasuk tidak berangkat ke sekolah–.

Tatapan Alois kini beralih ke seluruh dinding kamarnya yang nyaris tertutup sempurna oleh poster-poster Kuroshitsuji, terutama Claude.

"Ah, lama-lama begini aku bisa masuk RSJ!" dengus kesal Alois pada diri sendiri lalu beranjak bangun. Ia segera mengambil jacket dan kunci mobil. Hm…mungkin pantai bisa jadi tempat yang bagus untuk me-refresh pikiran.

Alois segera melesat ke pantai, mencari tempat yang agak sepi tapi juga tidak terlalu sepi. Soalnya kalau benar-benar sepi, bisa-bisa pikirannya melayang lagi pada Claude.

Alois berjalan di batas pantai, termenung sambil sesekali mengalihkan pandangannya ke laut lepas, berusaha membuang jauh-jauh kenangan malam itu. Tapi kenyataanya malah sebaliknya, kenangan itu bagai ombak laut yang datang kembali meski sudah dihalau. Alois ingat benar kenangan menyakitkan itu, kata-kata Claude, tatapannya, langkahnya, ah…bahkan Alois masih sangat ingat suara Claude malam itu. Suara yang…

"Alois…?"

Nah, benar kan. Alois masih sangat mengingat suara Claude, sampai-sampai berhalusinasi mendengar suaranya.

"Hei…Alois kan…?"

Cih! Mungkin kali ini Alois harus mengorek kupingnya supaya bisa mendengar dengan benar, mana suara yang nyata dan mana suara yang halusinasi.

"Hei…!"

Huh! Sekarang Alois malah berhayal Claude menepuk…eh, tidak, ini bukan hayalan, ini nyata. Alois merasa pundaknya ditepuk, dan ia pun segera memutar kepalanya untuk menatap siapa yang telah menepuk pundaknya. Dan mata ocean Alois mengerjap linglung saat bertemu pandang dengan tatapan golden spider. Sedangkan si pemilik mata emas hanya mengerutkan sebelah alisnya, heran akan expresi yang tampil di wajah Alois.

"A…?" malah huruf itu yang keluar dari mulut Alois.

" 'A' ? Apa?"

"Eh…?"

"…?"

"Kau…?"

"Kenapa? Ada yang aneh denganku?"

"Heeee? Claude kan?"

"….?" Keheranan. "Apa kau lupa pada wajahku?" rutuknya.

"Eh…uh…bukan, ano…aku Cuma sedang…yeah…error. Sendirian Claude?" Alois mencoba memanggil sekali lagi, memastikan kalau yang dihadapannya memang Claude, Claude Faustus, idolanya sekaligus orang yang dicintainya dan…orang yang telah menyakitinya malam itu.

"Tidak. Aku bersama teman-temanku. Bukannya kau sedang sakit?"

"Umm…si-siapa bilang?" meski sedikit, Alois senang juga Claude menanyakan keadaannya. Meski dalam hati sedikit heran, tentu saja karena sikap lembut Claude. Seakan kejadian malam itu benar-benar tidak nyata.

"Ciel yang mengatakannya. Dia menolak kami ajak ke pantai, katanya karena kau sedang sakit sehingga tidak bisa ikut. Dia tidak mau pergi tanpamu."

"Hee? Benarkah? Wah…aku harus cepat-cepat minta maaf." Alois mengeluarkan HP-nya dengan kikuk. Menulis pesan singkat pada Ciel untuk kemudian mengembalikan HP-nya ke saku masih dengan ke-kikuk-kannya.

"Mau bergabung dengan mereka?" tawar Claude, menunjuk dengan ibu jari ke arah teman-temannya yang sedang bermain volley pantai.

"Bo-boleh…" jawab Alois.

Claude pun membawa Alois ke tempat teman-temannya. Kuroshitsuji menghentikan sejenak permainan volley mereka begitu melihat Claude mendekat bersama Alois.

"Hei? Alois?" heran Undertaker.

"Yoo…" sahut Alois.

"Mana Ciel?" Tanya Sebastian.

"Umm…mungkin dalam perjalanan. Tadi aku sudah mengiriminya pesan kalau aku sudah tidak sakit dan sekarang di pantai bersama kalian."

"Owh…mau ikut main?" tawar Sebastian.

"Hei hei, ronde ini sedang panas-panasnya. Ohh~ aku tidak mau ada orang lain bergabung di tengah klimaks kita Sebbas-chan…" rajuk Grell.

"Yeah, tidak apa-apa kok." Ucap Alois dengan senyum sweatdrop.

"Yupz, nanti kalau Ciel sudah datang, kau, Ciel dan Claude boleh bergabung. Lalu Grell keluar karena kerjaannya hanya merepotkan Sebastian saja." Tambah William yang merasa yang bermain di team SebbyGrell hanya Sebastian saja. Sedangkan Grell hanya sebagai penghalang.

"Huuuh, apa maksudmu sih! Dari tadi kan aku yang mendapatkan point!" bantah Grell.

"Sudahlah, kita istirahat di sana saja." Ujar Claude yang tak ingin ocehan Grell bertambah parah. Ia dan Alois lalu duduk di bawah pohon kelapa setelah sebelumnya membeli es kelapa muda. Mereka duduk diam. Hanya itu. Sesekali Alois memerhatikan Claude, lalu pandangannya tertuju pada anggota Kuroshitsuji lainnya.

"Aish…kenapa Claude memakai T-shirt hitam dan celana jeans pendek sih…" batin Alois. "Coba saja dia hanya memakai celana renang seperti Undertaker, William dan Grell. Atau setidaknya seperti Sebastian yang memakai celana jeans pendek dengan jacket tanpa lengan yang tidak di slettingkan. Dengan begitu aku kan bisa melihat dada Claud-…." Memikirkan itu, Alois segera menggeleng keras. "Apa yang kufikirkan sih!" rutuknya dalam hati.

Tanpa Alois sadari, ternyata Claude memerhatikan tingkahnya yang 'agak' aneh tadi. Tangan Claude perlahan bergerak untuk meraih jemari tangan Alois yang berada di samping tubuhnya, rilex di atas hamparan pasir. Alois terhenyak mendapat sentuhan itu, ia menoleh ke arah Claude dan mendapati Claude juga tengah menatapnya. Jantung Alois berdegup kencang dan desiran darahnya seakan kian bertambah cepat.

"Aku…soal malam itu…" ujar Claude.

Alois diam, menunggu Claude melanjutkan kata-katanya.

"A-…"

"TEMEEE!" raung seseorang dan sebuah jitakan keras mendarat di kepala blonde Alois.

"Adoww!" Alois mengaduh sambil memegangi kepalanya, lalu memandang murka pada si pelaku penjitakan yang tak lain adalah teman bermata deep ocean-nya.

"Apaan sih Ciel!" omel Alois, berdiri berhadapan dengan Ciel.

"Kau tuh yang apa-apaan! Katanya sakit tapi malah kemari tanpa bilang-bilang! Kau mau bersenang-senang tanpa aku ya?" tuduh Ciel.

"Huuhh! Mana aku tahu, Baka! Aku juga kebetulan bertemu mereka!" sangkal Alois.

"Kau kan lagi sakit! Ngapain juga ke pantai? Pasti kau sengaja deh!"

"Hehh! Udah gue bilang…"

"Hei, sudahlah. Yang penting sekarang kita sudah kumpul." Claude melerai. "So, it's time to have fun. Ok?"

"Ya deeh…" jawab Ciel dan Alois pasrah.

"Oii…Ciel. Ikut main yuk…sama Alois dan Claude juga…" teriak Sebastian dari area volley pantainya.

"Yuhuuu akhirnya kau datang juga. Nah,Grell, time's up for you. Get out off here. Hush…" usir Undertaker.

"Haaiiihh…Sebbas-chan…masak kau tega mengusir aku…" rajuk Grell sambil menarik-narik baju Sebastian.

"Ne~ Grell, bukankah disana ada penjual mutiara? Kau bilang sedang mencari bubuk mutiara untuk kulitmu. Tanya saja pada penjual itu, siapa tahu ada." Alasan Sebastian –yang cukup tidak masuk akal. Coz mana ada bubuk mutiara di tempat penjual cendera mata dari mutiara–. Tapi gilanya, Grell percaya aja tuh, dan langsung ngibrit sambil jingkrak-jingkrak ga-je.

"Yosh…si pengganggu sudah disingkirkan. Ayo main…" semangat Undertaker.

"Ciel, Alois, lepas dulu pakaian kalian deh…" saran William yang melihat kedua bocah itu masih memakai jeans panjang dan jacket.

Alois dan Ciel melepas pakaian mereka, dan hanya memakai jeans pendek plus T-shirt bagi Alois, dan jeans pendek plus jacket tanpa lengan bagi Ciel. Waah…kayaknya udah jodoh sama Claude and Sebastian yak… =_= *Authornya sengaja kok…#dzig#*

Belum berapa lama mereka bermain volley pantai, Grell datang lagi sambil berteriak "Aku menemukan sesuatu yang seru lho…"

"Ayo Ciel…" Sebastian menyemangati.

"Yoo…hup…!" Ciel mengembalikan bola dengan indah.

"Jangan kira aku akan membiarkannya ya…" Alois menghadang, bersiap melompat dan…

"HEI! DENGARKAN AKU DONG!" seru Grell dan sukses membuat konsentrasi Alois hilang dan keseimbangannya goyah.

"Huaaa….." jerit Alois, bersiap merasakan kesleo saat jatuh, tapi ternyata tidak. Karena sepasang lengan menangkap tubuh mungilnya.

"C-Claude…" gagap Alois begitu mengetahui Claude yang menolongnya, sejenak wajahnya merona hingga Claude menanyakan keadaannya dan Alois buru-buru beranjak dari papahan Claude.

"Apa sih Grell! Ganggu aja!" rutuk William.

"Sudah kubilang aku menemukan sesuatu yang seru!" Grell manyun, sok imut banget deh *hoeekkk…* "Ini dia. Tada….." Grell menunjukkan sebuah gulungan yang Nampak seperti peta kuno. "Peta harta karun." Ucapnya sok dramatis.

"Hah? Peta harta karun?" Undertaker dan William sedikit tertarik, sementara Claude memerhatikan peta di tangan Grell dengan seksama.

"Itu kan hanya peta harta karun yang dibuat untuk acara 'search the gold' yang memang sedang diadakan di pantai ini." Ujar Claude.

"Huuuu…." Sorak yang lainnya pada Grell.

"Haish…aku tahu kok! Aku kan Cuma bilang ada sesuatu yang seru! Kita ikutan acara ini yukkk!" 3 rayu Grell.

"He? Memangnya hadiahnya apaan? Kalo nggak mutu gw nggak tertarik ah…"ucap William.

"Hadiahnya masih dirahasiakan. Makanya ayo ikut, pasti menarik deh…" Grell masih mencoba membujuk. Yang lain tampak saling tatap.

"Apa jadwal kita untuk nanti malam?" Tanya Sebastian.

"Istirahat. Karena besok pagi-pagi sekali harus berangkat ke tempat konser." Jawab Claude.

"Kalau begitu ada waktu kan…? Paling-paling acara begini hanya beberapa jam. Ini kan masih pukul 03.45 p.m." sambung Grell.

"Bagaimana?" Sebastian meminta pendapat pada Ciel dan Alois.

"Terserah. Kami ikut saja, ya kan, Alois." Jawab Ciel disertai anggukan Alois.

"Yosh…baiklah. Ayo ikut saja. Toh kita juga tidak ada kegiatan pasti kan?" putus William dan disetujui oleh semuanya.

Mereka pun segera menuju tempat pendaftaran, yang untungnya ditutup pada pukul 04.00 p.m. Yeah…nyaris saja terlambat memang.

Pukul 04.00 tepat, sesi pendaftaran ditutup dan panitia segera membuka acara itu. Para peserta pun segera bertebaran mencari lokasi seperti yang tertera di peta. Kuroshitsuji berkumpul sejenak untuk mendiskusikan strategi mereka.

"Tempatnya cukup luas nih…Kita berpencar saja." Saran William.

"Yosh, kita bagi menjadi dua team. Dan nanti kita akan bertemu di point terakhir untuk memecahkan teka-teki peta yang katanya ada di setiap point ini." Tambah Undertaker.

"Oke! Team 1, aku, Sebbas-Chan. Dan team 2, kalian berlima…" ucap Grell.

"NGGAK SETUJU!" ucap yang lain kompak.

"Baiklah, aku yang bagi." Sebastian menengahi. " Aku, Ciel, dan William satu team. Sisanya ke team 2."

"Aish…aku tidak mau! Pokoknya aku harus bersamamu, Sebbas-chan…" rajuk Grell yang akhirnya dikabulkan karena Grell terus ngoceh. Tak berapa lama, mereka pun berpencar dengan formasi Sebastian, Ciel, dan Grell, lalu Claude, Alois, Undertaker dan William.

~ OoooOoooO ~

"Senja perak di batas nyanyian sang camar." Alois membaca clue yang ia temukan di point pertama.

"Ha? Apa maksudnya? Kita harus memecahkan kata-kata aneh itu,eh?" ucap William.

"Ada tambahan note nya tuh." Undertaker menunjuk tulisan di balik clue tadi. "Jika sudah dapat memecahkan clue tersebut, silahkan menuju spot nya. Jika belum, silahkan ke point ke-dua untuk menemukan clue yang lainnya."

"Huuh…mana mengerti clue seperti ini. Ayo ke point yang ke-dua." Ucap para peserta lainnya yang juga menemukan clue yang sama. Mereka lalu berlomba-lomba ke point yang ke-dua.

"Apa kita ikut mereka?" Tanya William.

"Yeah…sepertinya harus begitu. Ayo…" sambut Undertaker dan mereka pun pergi begitu saja tanpa menghiraukan panggilan Alois.

"Aduh…kubilang kan tunggu karena sepertinya aku sedikit mengerti clue ini." Ujar Alois.

"Yeah…jadi kau mau memecahkan clue ini atau segera mengejar mereka?" ucap Claude.

"Eh?"

"Soalnya petanya ada pada mereka dan jujur saja, aku tidak begitu mengenal daerah ini dan yeah…GPS ku kutinggalkan di mobil bersama Handphone-ku juga."

"EEEEEHHHHH?"

"Hn? Sepertinya kau memilih untuk mengejar mereka. Ayo." Claude melangkah mengikuti arah perginya Undertaker dan William tadi, Alois mengikutinya dari belakang. Tapi setelah cukup lama berjalan, mereka tak menemukan kedua rekannya itu.

"Apa mereka melewati jalan lain?" gumam Claude. "Cih, bisa saja sih. Disini kan memang tidak ada jalan, hanya ada hamparan pasir, hutan bakau dan semak-semak"

"C-Claude…" Alois memeluk lengan Claude saat merasakan angin laut yang bertiup kian kencang karena matahari semakin condong ke barat. "Hari mulai malam, bagaimana ini? Bagaimana kalau kita tersesat disini? Disini gelap…"

Bisa Claude rasakan tubuh Alois yang gemetaran. Bukan rahasia lagi kalau bocah penyandang nama Trancy itu sangat takut pada gelap akibat trauma di masa lalunya.

"Tenanglah. Everything is gonna be okay." Hibur Claude, mengusap kepala Alois dengan sayang. "Oia, kau bawa HP kan? Coba hubungi yang lain saja."

Alois mengangguk dan mengambil HPnya. "What the Hell!" makinya. "Tidak ada sinyal…" ia menatap Claude dengan tatapan bingung. Ya, di pantai seperti ini kan memang kadang tidak ada sinyal. "Sekarang bagaimana Claude?"

Claude menghela nafas panjang. "Kita cari tempat tinggi supaya bisa melihat lebih jauh." Putus Claude. Alois hanya mengangguk dan mengikuti langkah Claude dengan tetap memeluk lengan pemuda bermata emas itu.

Mereka berakhir pada menaiki tebing karang yang lumayan tinggi. Tapi tidak buruk juga. Karena pemandangan sunset dari sana terlihat sangat indah.

Mata Alois berbinar dan senyumnya tak berhenti mengembang saat melihat pemandangan itu. Matahari yang mulai membenamkan diri di batas lautan, juga suara deburan ombak jauh di kaki karang sana. Benar-benar indah.

"That's so beauty, right?" ucap Claude yang dibalas dengan anggukan bersemangat dari Alois. "Kita istirahat sebentar, aku benar-benar lelah sudah berjalan sejauh ini." Claude menyamankan dirinya duduk di batuan karang, diikuti Alois yang kini duduk di sampingnya.

Angin laut berhembus kian kencang, membuat Alois kedinginan dengan pakaian yang dikenakannya. Ia memeluk lututnya untuk sedikit mengurangi rasa dingin yang menyergap, hingga dirasakannya kehangatan menjalar dengan cepat saat Claude merangkulnya, bukan…tapi mendekapnya dalam dekapan hangat.

"Kau kedinginan?" ujar Claude.

Alois mengangguk perlahan, merasakan wajahnya memanas karena dipeluk oleh Claude.

"Aku juga. Anginnya kencang sekali." Tambah Claude dan mengeratkan dekapannya.

Alois menyamankan dirinya dengan bersandar pada tubuh hangat Claude. Hangat…rasanya Alois tak ingin kehilangan kehangatan ini.

"Alois…"panggil Claude.

"Ya?" jawab Alois pelan.

"Soal malam itu…" jeda sejenak. "…maaf…"

"…"terdiam, menunggu Claude melanjutkan kalimatnya –lagi–.

"Ye-yeah…kau tahu kan bagaimana rasanya cemburu. Waktu itu emosiku benar-benar naik." Lanjut Claude. "Rasanya aku benar-benar marah, dan…tidak bisa mengendalikan diri. Maaf, karena aku berkata kasar…Kau pasti, membenciku ya…?"

Alois terdiam. Ya, benar. Ia sempat merasa hatinya hancur dan dunia seakan berhenti berputar kala itu. Tapi apa itu berarti ia membenci Claude?

"Aku tahu tidak akan mudah bagimu untuk memaafkanku." Lanjut Claude. "Tapi setidaknya…"

"Tidak kok…" potong Alois dan melepas sandaranya untuk bisa menatap Claude. "Beberapa hari ini aku sudah memikirkan hal itu, dan aku sudah putuskan bahwa…"

"Huwaaaaahhh…..curanggg!" sebuah suara menginterupsi mereka. Mereka menoleh dan mendapati Sebastian, Ciel, Undertake, William dan Grell menghampiri mereka dengan tampang kelelahan.

"Kalian kami tinggal ternyata malah sampai di last point duluan!" omel William.

"Eh? Last point ?" heran Alois.

"Yeah…kami berhasil memecahkan mysterinya." Ciel menatap lembaran kertas di tangannya. " 'Senja perak di batas nyanyian sang camar' dan 'Pendakian menuju gerbang putih nirwana' semuanya mengarah pada tempat ini. Tebing karang putih, tempat paling indah untuk melihat sunset disertai suara camar dan deburan ombak." Terang Ciel.

"Cih! Jadi yang di maksud senja perak adalah karang ini, juga nirwana yang berarti keindahan sunset jika dilihat dari sini. Menyebalkan!" gerutu Undertaker.

"Huuuhh…kok kalian bisa sampai disini duluan sih…" kesal Grell.

Alois nyengir. "Heheheh…itu sih…"

"Ra-ha-si-a" ujar Claude.

"Heeeh, ya sudahlah. Ayo kita cari last pointnya!" ucap William, dan merekapun mencari. Hingga mereka menemukan sebuah peti kecil yang ketika dibuka berisi sebuah kunci dan secarik note yang isinya.

"Bagi peserta yang sudah menemukan kunci ini, cepat kembali ke garis start karena hadiahnya ada disana dan juga last point bukan hanya terletak di satu tempat, jadi banyak kemungkinan kalau kunci yang sama telah ditemukan oleh peserta lain yang menemukan kunci di last point yang berbeda. So, cepatlah sebelum hadiahnya diambil oleh pemegang kunci lain!"

"EEEEHHHHHH?" raung mereka bersamaan, dan tanpa fikir lagi, Grell, William dan Undertaker langsung turun bukit menuju garis start, meninggalkan Sebastian, Ciel, Claude dan Alois yang kini hanya bisa saling tatap lalu tertawa kecil.

"Waah, kalau sudah begini jadi seperti double date ya…" ucap Sebastian yang membuat Ciel dan Alois merona.

"Oia, apa yang tadi mau kau katakan, Alois?" Tanya Claude.

"Ehh?" Alois blushing. "Ja-jangan disini." Ucapnya karena ada Sebastian dan Ciel.

"Lho? Memangnya kenapa? Biar kami jadi saksi. Heheheh" cengir Ciel.

Alois tertunduk sejenak, lalu menatap Claude dengan wajah blushing. "Aku sudah memutuskan kalau…" Alois menggenggam erat. "Walau Claude masih menyukai Sebastian dan tak akan menyukaiku, aku akan tetap mengejar Claude hingga suatu saat pasti akan membuat Claude jatuh cinta padaku!" Alois tertunduk, wajahnya benar-benar merah sekarang.

Hening, semuanya tercengang. Hingga …terdengar suara tawa kecil Claude. Alois mendongak, dan menatap wajah tertawa Claude. Manis…benar-benar manis.

"Baiklah, bocah Trancy." Claude menepuk kepala Alois. "Kalau begitu…Buat aku melupakan si kepala jet black bermata crimpson ini." Claude melirik Sebastian.

Alois terbelalak tidak percaya. Jadi Claude memberinya kesempatan?

Claude menarik nafas panjang sebelum berucap… "This is an order, make me falling in love with you, Alois Trancy."

Dan seketika senyum terkembang di wajah Alois. Tapi lalu wajahnya berubah serius dan membungkuk hormat layaknya shitsuji dan berucap. "Yes, your highness"

Dan mereka ber-empat pun tertawa…rasanya sebuah kelegaan menghampiri mereka setelah berhasil membuang jauh beban yang dirasa.

"Aku juga tak mau kalah." Ucap Sebastian. Sebastian berlutut di hadapan Ciel layaknya seorang pangeran yang melamar sang putri. "Would you be my lover and fill my empty heart ?…my deep blue ocean, Ciel Phantomhive…"

Ciel terbelalak, blushing, ingin rasanya ia langsung mengangguk dan menyatakan bersedia menjadi kekasih dari pangeran bermata ruby itu. Tapi sebuah ingatan merasuki pikiran Ciel, sehingga Ciel hanya tersenyum untuk kemudian mengatakan…

"Aku belum bisa memberikan jawabannya sekarang."

Dan tentu saja membuat ketiga orang di hadapannya heran.

"Aku akan menjawab pernyataanmu, tapi tidak sekarang. Beri aku sedikit waktu, my crimpson eyes prince."

Terhenyak sesaat, hingga Sebastian hanya bisa menghela nafas pasrah dan berkata…

"Yes, My Lord."

~ OooOooO ~

Heran, dan hanya bisa mengernyitkan alis saat melihat Grell, William, dan Undertaker berdiri bengong di dekat api unggun menghadap hadiah yang mereka dapat dari acara 'search the gold'.

"Hoi…" Sebastian menepuk bahu mereka. "Ada apa? Apa hadiahnya?" tanyanya yang belum tahu apa hadiahnya karena baru sampai bersama Ciel, Claude dan Alois.

William hanya menoleh tanpa kata dan menunjuk ke depan dengan telunjuknya. Sebastian, Ciel, Claude dan Alois mengikuti arah telunjuk William dan harus segera membekap mulut mereka untuk menahan tawa setelah melihat hadiah apa yang mereka dapat setelah capek seharian berlarian kesana-kemari. Yaitu…sekotak besar yang berisi poster, foto-foto lengkap dengan tanda tangan asli, kaos-kaos dan berbagai pernak-pernik lainnya serta kaset, CD dan DVD original KUROSHITSUJI.

"Wkwkwkwkwkwkwkwk " tak ayal tawa Sebastian pecah juga. Ciel dan Alois juga sama-sama terbahak, kecuali Claude yang hanya tertawa kecil.

"Bwahahahaha jadi…hahahaha…kita capek-capek seharian hanya untuk mendapatkan segala assessoris tentang diri kita sendiri? Hahahahah" tawa Sebastian.

"Hihihihi…kalian benar-benar terkenal sih…" tambah Ciel.

"DIAM!" bentak William, Undertaker dan Grell yang gondok setengah mati.

"Memangnya kalian sendiri tidak capek apa?" omel William.

Dan Sebastian, Claude, Ciel serta Alois hanya bisa tersenyum akan pertanyaan itu. Ya…mereka memang lelah, tapi mereka merasa begitu bahagia karena kejadian di bukit karang tadi. Ya…benar, pernyataan cinta itu…

~ To be Continue ~

Sekali lagi mohon do'anya buat UN nanti ya…XD maap kalo masih banyak typo

Mind to Review?

Balasan Review :

#Rofuneko : salam kenal juga Neko, makasih udah review :-D iya,Ciel udah mulai ngejar Sebby. Hahaha udah characternya Claude kali yak XD getok aja palanya ampe ngucur *digiles Claude* yosh...makasih sekali lagi

# claire sakurazuka : hooh, makasih. Maap bahasa inggrisnya ancur lol XD hn...rencananya chapter depan baru ada pasangan stright nya...keep reading and review ya...*ngarep* makasih udah review...

#lalalalalla lagi nyanyi gaje : Lol nama kamu bagus XD hohoho maap mengecewakan. Tapi inget rated gan, ini rated T sih...XD arigato reviewnya...

Buat hana-1emptyflower and Kuro Phantomhive saia bales via PM :-D

Sekali lagi mohon do'anya bwt ujian nasional ya...XD