Desclaimer : Yana Toboso's, but Sebastian is my fiancé *dibunuh Sebby FC*
Arigatou do'anya, akhirnya UN kelar juga. Kini tinggal do'a biar lulus. Amiiin. Mohon do'anya lagi ya readers, author juga nge-do'ain readers yang udah ujian biar lulus kok n.n/
Arigato gozaimas bwt Kaito Mine, hana-1emptyflower, and Minnie Trancy. Thx read revewnya... :-D
Bwt claire sakurazuka maap ternyata chapter ni jg belum ada stright nya, rencana sih ada, ternyata udah panjang bgt. Kemungkinan besar di chapter depan XD
Dan buat Kuro Phantomhive, ini saia udah bikin Ciel sesuai saranmu hehehehe
Chapter 7 : That Butler, Answer.
.
.
.
Bip…bip…
"Grr…"
Bip…bip…bip…
"Grrr….!"
Bip…bip…bip…bip…
"WOIIII! Matiin HP lo nggak! Gue nggak bisa konsen ngerjain PR nih!" akhirnya amarah Alois meledak juga.
"Maaf…maaf…" ujar Ciel lalu menyetting HP nya ke silent mode. Ia kini sedang berada di rumah Alois untuk mengerjakan PR bersama.
"Dari siapa sih? Berisik banget dari tadi!" kesal Alois.
"Dari Sebastian."
"Sebastian?"
"Ya. Sudah beberapa hari ini dia terus menelfon dan mengirimiku sms."
"Dan kau sama sekali tak menanggapinya?"
"Pernah kutanggapi. Tapi ia menanyakan hal yang sama terus menerus. Aku jadi malas."
"Memangnya tanya apa?"
"Jawabanku atas pernyataan cintanya."
Alois terdiam sejenak. "Dan jawabanmu?"
"Aku bilang belum bisa menjawabnya sekarang."
"Ayolah Ciel, kau pikir sudah berapa lama sejak Sebastian menyatakan cintanya padamu dan kau masih belum memberikan jawaban padanya? Memangnya apa yang kau tunggu sih? Bukannya kau juga menyukai Sebastian?"
"Heeeh diamlah, aku punya waktuku sendiri untuk menjawabnya."
"Waktu? Kapan itu?"
"Minggu depan."
"Minggu depan? Memangnya apa yang istimewa di hari itu?"
"Chee, kau tidak ingat ya? Minggu depan kan…ulang tahunnya Sebastian…"
~ OoooOoooO ~
Malam sudah sangat larut, Alois sedang pulas-pulasnya tidur saat dering HP nya membuat ia terlonjak kaget dan tersadar dari mimpi.
"HuuuHH! Siapa sih telfon malam-malam begini! Awas kalau bukan telfon penting!" kesal Alois dan segera menyambar HPnya. Tapi expresinya langsung berubah senang setelah membaca nama yang tertera di layar ponselnya. Claude Faustus.
"Moshi-moshi…" jawab Alois riang.
"Umm…apa aku mengganggu?" tanya Claude.
"Ah, tidak kok. Aku belum tidur, begadang hehehehe" bohong Alois.
"Waah, sama. Aku juga. Mau keluar bersamaku?"
Alois terbelalak tidak percaya. "Boleh!" girangnya.
"Baiklah, sebentar lagi kujemput. Bye…" dan Claude pun menutup telefon.
"Yuhuuuu…..kencan kencan…kencan kencan…" girang Alois sambil loncat-loncat di ranjangnya. Ia lalu segera bersiap-siap untuk kencannya malam-malam buta ini.
Tak berapa lama setelah Alois selesai dengan penampilannya, Claude menjemput. Dan merekapun segera pergi.
"Mau kemana?" tanya Claude tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.
"Umm…terserah Claude saja."
"Bagaimana kalau…"
"Oke! Aku setuju." Sahut Alois.
"Lho, aku kan belum bilang apapun." Heran Claude.
"Hehehehe kalau bersama Claude kemanapun aku mau." Cengir Alois. Mau tak mau Claude pun tertawa pelan dan mengusap kepala Alois dengan tangannya yang tidak memegang kemudi.
Mereka pergi ke carnaval pantai. Tapi mereka hanya berdiam di tempat peristirahatan dan menyaksikan meriahnya carnaval dari lantai 2.
"PopCorn?" Claude menawarkan sekotak popcorn pada Alois yang tengah berdiri sambil berpegangan pada pagar pembatas, menikmati keramaian carnaval dari jauh.
"Terimakasih." Alois menerima popcorn itu dan kembali focus ke carnaval.
"Mau ke sana?"
"Tidak. Aku mau berdua saja bersama Claude."
Lagi-lagi Claude terkikik geli akan ucapan Alois. "Kau benar-benar serius mau membuatku jatuh cinta ya…" goda Claude.
"Tentu saja." Alois menatap Claude dengan mata penuh kesungguhan, meski wajahnya blushing dan menunjukkan kalau ia grogi. Expresi Alois yang seperti itu sangat Claude sukai.
"Begitu?" senyum Calude lalu mengambil beberapa popcorn dan memakannya, begitu juga Alois.
"Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan teman-temanmu?" tanya Alois.
"Umm…kacau seperti biasa." Ucap Claude yang membuat Alois terkikik geli. "Kecuali Sebastian."
"Eh? Memangnya dia kenapa?"
"Kau tahu, sejak dia menyatakan cintanya pada Ciel dan Ciel belum menjawabnya, dia jadi sering bertingkah aneh. Ngomel-ngomel sendiri, atau sibuk menelfon atau mengirim sms sepanjang hari. Dia tampaknya benar-benar ingin segera mendapatkan jawaban dari Ciel."
Alois mengangguk perlahan, sebuah senyum penuh arti tersungging di bibirnya, dan Claude menyadari itu.
"Kenapa?" tanya Claude.
"Apanya?" heran Alois.
"Tentang Sebastian."
"Umm…tidak apa-apa."
"Owh…" Claude berusaha memancing, ia mendekatkan wajahnya pada Alois. Dan tentu saja membuat Alois blushing. "Mau main rahasia-rahasiaan nih…Boleh, tidak apa-apa deh…meski aku orang yang kau cintai, tapi kau tetap main rahasia-rahasiaan ya…" goda Claude dan semakin mendekatkan wajahnya.
"Ah, eh…i-itu…tidak ada yang kurahasiakan kok. Hahahaha" Alois mencoba mengelak. Tapi ia makin tak bisa menghindar saat Claude makin mengeliminasi jarak di antara mereka.
"Masih belum mau cerita…?" bisik Claude mesra, ngebuat Alois kalang kabut.
"Ng…mmnnn…a-anu …" Alois gelagapan. "Mi-minggu dep-pan …" Karena grogi, Alois mulai buka suara.
"Kenapa dengan minggu depan?" tanya Claude.
"U-ulang tahun Se-Sebastian..." Alois memejamkan mata erat saat akhirnya Claude mengecup sigkat bibirnya.
"Jadi Ciel akan memberikan jawabannya sebagai hadiah ulang tahun Sebastian?"
Glek!
"Mampus gue…" batin Alois dengan muka horror.
"A-ano…itu…"
"Hn…kau tidak bisa berbohong padaku, bocah blonde." Claude tersenyum penuh kemenangan.
"Ta-tapi…Claude, ja-jangan sampai Ciel tahu kalau aku memberitahumu ya…please…" Alois memohon. Ia tak mau Ciel marah padanya karena ia membocorkan rahasia diantara mereka berdua.
"Baiklah." Ujar Claude kalem.
"Janji?" Alois mengangkat kelingkingnya.
Claude tersenyum geli, Alois benar-benar seperti anak kecil. "Janji." Claude menautkan kelingkingnya ke kelingking Alois. Alois balas tersenyum.
"Oia…ci-ciuman tadi…" Alois tertunduk malu. "Apa boleh ku artikan kau sudah menerimaku…?"
"Heeeh dasar bodoh."
"A-apa?" Alois sedikit terkejut.
"Aku tidak pernah menganggapnya sebagai ciuman." Ucap Claude dengan nada ucapan yang dingin seperti ucapannya dulu. Dan seketika membuat Alois membeku. Tapi lalu…
"Bwahahaha…" Claude tertawa lepas lalu mengacak-acak rambut Alois. "Hihihi maaf, maaf, aku hanya bercanda."
Alois tertunduk. Tubuhnya sedikit gemetar. Ia takut terluka lagi seperti dulu, luka yang dulu saja rasanya bisa terbuka lagi kalau sedikit goresan membuka lukanya.
"Hei, aku kan bilang maaf." Claude memegang pipi Alois dan mendongakkannya, ia tersenyum lembut mendapati wajah Alois yang tampak seperti mau menangis.
"Jangan bercanda seperti itu lagi…" lirih Alois, suaranya nyaris tak terdengar karena berusaha menahan tangis.
"Baiklah baiklah, maafkan aku. Tadi aku memang menciummu, tapi bukan berarti aku menerimamu. Kau harus berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkanku, Trancy." Uji Claude.
"Iya." Ujar Alois mantap dengan mata penuh kesungguhan.
Claude tersenyum dan mengangguk. "Kutunggu perjuanganmu, your highness…"
Alois balas tersenyum, ia yakin akan bisa mendapatkan Claude. Ya, ia yakin bisa!
~ OoooOoooO ~
Bell istirahat baru saja berbunyi, Ciel dan Alois memasukkan buku-buku pelajarannya ke dalam tas dan bersiap menuju kantin. Tapi tiba-tiba HP Alois bordering, ia mengerutkan dahi heran karena yang menelfonnya adalah Sebastian.
"Kenapa Sebastian menelfonku dan bukannya Ciel?" batin Alois tapi lalu mengangkat telfon itu.
"Alooiiiissss…!" jerit Sebastian dengan nada amat sangat girang bahkan sebelum Alois sempat mengucapkan moshi-moshi.
"I-iya, ada apa?" bingung Alois.
"Kau bersama Ciel? Cepat menjauh darinya. Aku ingin bicara hal yang penting denganmu dan jangan sampai Ciel tahu."
"Umm…oke. Tunggu sebentar." Alois beralih menatap Ciel. "Ciel…kau bisa ke kantin dengan teman yang lain kan?"
"Kau mau kemana?" tanya Ciel.
"Ada telfon penting."
"Dari…?"
"Claude dong…" Alois berpura-pura.
"Huuu dasar." Ciel tersenyum jahil dan menjitak kepala blonde Alois. "Baiklah, aku ke kantin duluan ya…nanti kubawakan sesuatu supaya kau tidak kelaparan."
"Terimakasih…" balas Alois. Sepeninggal Ciel, Alois melihat sekeliling, kelas sudah kosong karena nyaris semua siswa pergi ke kantin. Ia kembali meletakkan telfon di telinganya. "Sebastian? Kau masih disana?"
"Yupz! Alois, apa benar kalau Ciel akan memberikan jawabannya di hari ulang tahunku?" girang Sebastian.
"Eh? Da-dari mana kau tahu?"
"Dari Claude."
"Lho…kok?"
"Ah, sudahlah. Lupakan soal itu. Aku punya rencana, kau harus membantuku. Ya…please…bantu aku."
"I-iya. Akan kubantu sebisaku."
"Yes! Wuhuuii…" Sebastian berteriak girang. "Baiklah, sepulang sekolah temui kami di café Lau. Jangan ajak Ciel. Beri alasan yang masuk akal supaya dia tidak curiga."
"Umm…yeah…"
"Nah, sudah dulu ya. B-…"
"Eh…tunggu tunggu." Cegah Alois.
"Ada apa?"
"Bisa kau berikan telefonnya pada Claude? Aku ingin bicara dengannya."
"Yow, tunggu sebentar ya…Claude!" panggil Sebastian.
"Hallo…?" Claude menjawab beberapa saat kemudian.
"Kau ini apa-apaan sih? Kenapa kau memberitahukannya pada yang lain?" kesal Alois.
"Lho? Kau kan Cuma bilang jangan sampai Ciel tahu kalau kau yang memberitahukannya padaku. Jadi…aku boleh memberitahukannya pada teman-temanku kan?" goda Claude.
"Cih! Kau menyebalkan!"
Claude tertawa kecil. "Baiklah, maaf maaf. Aku hanya kasihan melihat Sebastian. Dia benar-benar seperti orang gila. Dia tidak pernah konsen saat latihan, konser kami hampir saja kacau karena dia begini. Jadi ya…kuberitahukan saja. Tuh, dia langsung semangat."
Alois terdiam. Claude benar-benar memperhatikan Sebastian ya ...
"Halloo…kenapa diam?" heran Claude.
"Apa kau…masih menyukai Sebastian?" Alois menggenggam ponselnya dengan erat.
Terdiam sejenak. "Ya...tentu saja. Tidak mudah bagiku untuk melupakannya." Jujur Claude.
"Oh..." hanya itu yang terucap di bibir Alois, untuk kemudian hanya ada hening diantara mereka.
"Baiklah, kututup telfonnya. Aku ada latihan." Ucap Claude pada akhirnya.
"Ya..."
Dan Alois tetap memegangi telefon dengan mata sayu setelah Claude menutup sambungan telefon.
~ OoooOoooO ~
Waktu satu minggu berlalu dengan begitu cepat. Akhirnya hari ulang tahun Sebastian pun tiba.
Jam menunjukkan pukul 06.15 p.m. hari baru mulai memasuki malam, tapi Ciel sudah rapi dengan pakaiannya.
"Cieeel…kau sudah siap…?" terdengar teriakan Alois di luar sana. Ciel hanya geleng-geleng kepala. Alois memang selalu teriak-teriak di rumah Ciel, sama seperti di rumahnya sendiri, tapi toh Ciel tak keberatan. Mereka benar-benar sudah seperti keluarga.
"Hoi, ayo kita pergi." Alois nyelonong masuk ke kamar Ciel.
"Iya iya." Ciel tampak mengambil kado dari atas meja belajarnya.
"Hmmm hm…isinya apa tuh…" tanya Alois penuh selidik.
"Rahasia dong." Jawab Ciel. "Ayo pergi."
Mereka pun segera melesat menuju Villa di mana Sebastian merayakan ulang tahunnya. Di perjalanan, Ciel mendapat telefon dari Undertaker.
"Ah, payah nih…" keluh Undertaker.
"Kenapa?"
"Sebastian demam."
"Kan kau yang menceburkannya ke kolam tadi sore!" seru William dari kejauhan yang suaranya masih tertangkap oleh mic HP dan terdengar oleh Ciel.
"Iya iya, aku mengaku salah." Cibir Undertaker. "Ciel, maaf ya…pestanya jadi bakalan nggak seru. Tapi kau dan Alois tetap kesini deh, pesta diam-diaman juga oke kayaknya."
"Hn…baiklah. Aku dan Alois memang sudah di perjalanan. Sampai jumpa…"
"Yoo…"
Tak berapa lama, mobil Alois dan Ciel berhenti di depan sebuah villa mewah. Keadaan villa lengang seperti biasa, karena rencananya pesta memang akan diadakan kecil-kecilan bersama orang-orang terdekat saja.
Alois dan Ciel langsung disambut dengan hangat oleh tamu-tamu yang sudah duluan datang begitu memasuki villa.
"Naah, akhirnya bintang utamanya tiba juga." Ucap Undertaker, menghampiri Ciel dan Alois. "Sekali lagi maaf ya, gara-gara aku Sebastian jadi demam."
"Sudahlah Undertaker, bawa Ciel ke Sebastian. Dari tadi si crimpson itu terus memanggil nama Ciel kan…" ucap William.
"Iya, dasar cerewet. Ayo…" Undertaker berbalik dan menuju lantai dua diikuti Ciel dan Alois. Saat berada tak jauh dari sebuah pintu kamar, terdengar Grell berteriak dari dalam kamar itu.
"Oh…No~…Sebas-chan…" jerit Grell.
"A-apa yang sedang dilakukannya pada Sebastian?" ujar Alois curiga sekaligus menatap dengan tatapan horror.
"E-entahlah. Aku juga tidak tahu." Jawab Undertaker tak kalah ngerinya dengan expresi Alois.
"Cepat buka pintunya!"
Dengan sedikit perlahan, Undertaker membuka pintu di hadapannya. Tampak Grell tengah memegangi kepalanya erat sambil celingak celinguk, ia seperti sedang kebingungan. Undertaker pun membuka pintu seutuhnya.
"Ada apa Grell?" tanya Undertaker.
"Undertaker!" Grell langsung menghambur ke Undertaker, mencengkeram dadanya erat dan sok menangis di dada pria berambut silver itu. "Sebastian…hiks…"
"Kenapa dengan Sebastian?" tanya Ciel panic.
"Di-dia…hilang."
"Haaaaaahhhhh?" raung Ciel, Alois dan Undertaker bersamaan.
"Hilang? Jangan bercanda!" Undertaker melepas pelukan Grell dan memeriksa ranjang Sebastian yang kosong dengan selimut berantakan. "Mungkin saja dia di kamar mandi."
"Tidak, aku sudah memeriksanya." Ucap Grell lalu membuang ingus pake tissue dengan suara menjijikkan. Ciel memeriksa kamar mandi, yang memang kosong dan bahkan tak ada tanda-tanda habis dipakai.
"Aku akan beritahu Claude dan William. Mungkin saja mereka tahu Sebastian dimana." Ucap Alois dan segera keluar kamar mencari Claude dan William. Tak berapa lama, Alois muncul kembali bersama kedua orang itu.
"Sebastian hilang?" tanya William.
"Iya, tadi begitu aku kesini untuk mengantarkan obat dia sudah tidak ada." Jawab Grell. "Apa mungkin dia diculik? Soalnya ranjangnya berantakan dan jendelanya terbuka."
"Jangan ngawur. Sebastian itu bukan anak kecil lagi yang bisa dibawa penculik semudah itu." Kesal William.
"Kita cari di seluruh villa dulu. Kalau tidak ketemu baru kita lapor polisi." Ujar Claude.
"Benar juga. Oiya, karena villa ini besar, suruh yang lain ikut mencari juga. Ayo." Komando Undertaker dan merekapun segera berpencar. Mereka mencari ke seluruh villa dan sekitarnya, namun tetap tidak ketemu. Hingga mereka berakhir berkumpul di ruang tamu untuk mendiskusikan hal ini.
"Payah, kemana si jet black itu." Keluh William.
"Apa kita harus lapor polisi sekarang?" tanya Maylene, salah satu tim sukses Kuroshitsuji.
"Mungkin."
"Hei…aku menemukan ini." Ucap Ronald Knox, salah satu manager Kuroshitsuji. Ronald masuk ke ruang tamu sambil membawa sebuah kaset dvd.
"Ini bukan waktunya nonton film!" kesal Undertaker.
"Ini bukan film, bodoh. Aku menemukannya di kamar Sebastian tadi. Ada tulisannya dengan darah."
Ucapan Ronald cukup membuat shock juga.
"Cepat putar kasetnya, aku ingin lihat." Ucap Ciel tak sabaran. Ronald segera memutar dvd itu, rupanya dvd itu memang bukan film, melainkan dari orang yang membawa Sebastian.
"Sebastian ada di tangan kami." Ucap orang bertopeng di dalam dvd itu. "Kalau kalian ingin dia selamat, kami minta tebusan sebesar $100jt. Ayolah…boyband kalian kan sedang terkenal-terkenalnya, mana mungkin kalian tidak punya uang sesedikit itu. Temui kami di pelabuhan Star Line satu jam lagi. Kalau sampai terlambat, leader kalian ini akan kami perlakukan sesuka kami. Oia, kalian tentu tahu persyaratannya kan, jangan bawa polisi. Dan yang boleh ke kapal ini hanyalah para anggota Kuroshitsuji. Kalau ada yang melanggar persyaratan sedikit saja, kami akan menyebarluaskan hal ini ke media massa. Kalian tak ingin reputasi kalian tercoreng karena boyband seperti kalian bisa diculik kan? Hahahaha" dan dvd pun berakhir.
"Gila. Dia beneran diculik! Kayak anak-anak saja." Ujar Ronald yang sukses mendapat deathglare dari semuanya.
"Lalu bagaimana sekarang?" tanya Alois.
"Seperti yang dikatakan penculiknya, hanya kami yang akan kesana. Kalian tunggu disini." Ucap Claude.
"Jangan bodoh. Itu pasti tipuan." Ucap Grimsby, salah satu actor ternama yang berhubungan dekat dengan Kuroshitsuji. "Bagaimana kalau itu untuk memancing kalian supaya tertangkap semua, lalu mereka mencelakai kalian."
"Be-benar. Kita kesana bersama saja." Ucap Maylene.
"Kesana bersama-sama juga tidak mungkin. Dasar bodoh." Ucap William. "Biar kami saja. Diikuti Ciel dan Alois. Mereka kan direktur perusahaan besar, jika terjadi sesuatu, omomgan mereka pasti dipercaya oleh pihak yang dimintai bantuan, misalnya polisi atau FBI sekalipun."
"Ide bagus. Ayo pergi, kita tak punya banyak waktu." Ucap Claude. Ia dan ketiga kawannya, ditambah Ciel dan Alois segera pergi dari villa menuju pelabuhan Star Line. Tak butuh waktu lama untuk sampai disana karena kebetulana jalanan tak macet.
"Kita harus kemana?" tanya Undertaker setelah menuruni mobil.
"Iya ya, tadi di dvd tidak ada petunjuk lain selain pelabuhan ini. Cih! Padahal pelabuhan ini kan sangat luas." Ucap William.
"Kita berpencar." Usul Claude.
"Baiklah, aku, Undertaker dan Grell ke arah sana. Kalian ke arah sebaliknya." Ucap William.
"Oke. Hubungi aku kalau sudah temukan sesuatu." Ucap Claude.
William, Undertaker dan Grell yang masih sesenggukan pergi ke arah utara, sedangkan Claude, Alois dan Ciel ke Selatan. Mereka mencari ke sepanjang pelabuhan, bertanya hampir pada setiap petugas yang ditemui, tapi dengan menyamar tentunya, atau keadaan akan tambah kacau saja kalau mereka harus dikejar fans. Setengah jam mencari, mereka tak menemukan petunjuk apapun. Claude menghubungi ketiga temannya yang mencari ke arah lain, tapi sambungan berada diluar jangkauan.
"Tch! Apa-apaan ini. Mereka mematikan HP mereka?" kesal Claude karena tak tersambung satupun pada William, Undertaker ataupun Grell.
"Lalu harus bagaimana? Waktu satu jam sudah hampir habis." Ucap Alois. Tiba-tiba, terdengar dering dari sebuah telfon umum.
"Ha? Telfon umum bisa ditelfon?" bengong Alois. "Kayak di film horror aja."
"Jangan-jangan itu dari penculiknya!" ucap Ciel dan langsung menuju telfon umum itu.
"Tunggu, Ciel. Biar aku yang…" tapi cegahan dari Claude tak didengarkan Ciel karena Ciel sudah mengangkat telfon itu.
"Hallo!" ucap Ciel.
"Hn…lama sekali. Kalian belum juga muncul di hadapan kami. Nasib Sebastian ada di tangan kami lho…"
Ciel terbelalak saat mendengar suara teriakan Sebastian. "Dimana Sebastian?" bentak Ciel.
"Hn…sepertinya aku memang harus memberi petunjuk. Tapi…ada satu hal yang ingin kupastikan. Kau siapa? Suaramu seperti anak kecil, dan aku tidak yakin member Kuroshitsuji ada yang memiliki suara seperti anak kecil."
Nafas Ciel tercekat, mungkin seharusnya ia mendengarkan perkataan Claude yang ingin mengangkat telfonnya tadi.
"Kukuku jadi persyaratanku tentang hanya member Kuroshitsuji yang datang sudah dilanggar ya. Kalau begitu, aku sudah tidak bertanggungjawab lagi. Baiklah, tapi sesuai janji, aku akan memberikan petunjuk. Kapal yang kami tumpangi akan berangkat 15 menit lagi, dan sebagai hukuman atas pelanggaran persyaratan ini, kami akan membawa ketiga member Kuroshitsuji yang sudah berhasil kami tangkap. William , Undertaker dan Grell Sutcliffe."
"A-apa?" kesal Ciel.
"Tadinya aku hanya ingin menangkap mereka supaya tak menemukan kami sebelum uangnya ditransfer, tapi karena ternyata persyaratan sudah dilanggar, kami jadi akan membawa mereka juga di pelayaran ini. Dengan begini, manager Kuroshitsuji pasti akan lebih cepat mengirimkan uangnya kalau umpannya ada 4 orang. Iya kan…hahahahahaha" dan sambungan telfon pun tertutup.
"Sial!" rutuk Ciel.
"Kita harus segera mencari kapal-kapal yang pemberangkatannya sekitar 15 menit lagi." Ujar Claude yang mendengar pembicaraan di telfon tadi karena memang suaranya cukup keras. "Kita berpencar." Claude berlari menjauh.
"Tunggu Claude!" cegah Ciel. "Akan lebih baik kalau kita mencarinya bersa-…" belum selesai ucapan Ciel, Claude sudah menikung di salah satu tikungan, dan beberapa saat kemudian, terdengar jeritan Claude.
"Claude!" seru Alois dan Ciel, mereka segera berlari ke arah menghilangnya Claude tadi, tapi mereka tidak menemukan apapun. Yang ada hanyalah bercak darah.
"Claude~…" ucap Alois dengan suara bergetar. Tengah dalam kebingungan, tiba-tiba mereka mendengar suara khas kapal yang akan berlayar, tanpa pikir panjang lagi, mereka menepi ke pelabuhan. Dan benar saja, mereka melihat sebuah kapal pesiar yang sudah mulai berlayar.
"Jangan-jangan itu kapalnya! Lihat, ada orang-orang yang seperti sedang menculik!" tunjuk Alois, merujuk pada beberapa orang di atas kapal yang tengah menyeret seseorang dalam keadaan terbekuk.
"Benar, bukankah itu Claude! Lihat perawakannya!" Ciel membenarkan.
"Kita harus segera cari perahu motor untuk menyusulnya." Ucap Alois nyaris menangis melihat kekasihnya diseret-seret begitu.
"Tidak akan sempat. Penyewaan perahu cukup jauh dari sini. Kapal pesiarnya belum terlalu jauh dan jalannya masih lambat, kita berenang saja untuk menyusulnya. Pasti masih sempat! Apalagi ada tangga tali di teian kapal pesiar itu, kita bisa naik lewat situ" usul Ciel karena kemungkinan besar hal itu memang bisa dilakukan.
"Tapi kau kan tahu aku tidak bisa berenang!" dengus Alois.
"Kalau begitu biar aku saja. Kau cari bantuan!"
"Tapi, Ciel-…" seruan Alois tampaknya percuma karena Ciel telah terjun ke dalam air dan berenang dengan kecepatan menakjubkan menuju kapal pesiar yang semakin menjauhi dermaga itu.
~ OoooOoooO ~
Tidak terlalu sulit bagi Ciel untuk menjangkau kapal itu dalam kecepatan renangnya, tapi ia agak kesulitan saat memanjat tangga tali yang tergantung di sisi kapal karena tubuhnya yang basah itu tentunya. Yeah…tapi dengan sedikit kerja keras, Ciel berhasil naik ke atas kapal juga.
Ciel mengatur nafas sejenak, sebelum menyelinap masuk ke dalam kapal mewah itu. Ia menelusup dari dek ke koridor. Berusaha untuk tidak bertemu siapapun, dan jika bertemu, ia harus mengarang cerita supaya tidak dicurigai.
"Nak, kau mau kemana?" Ciel agak terlonjak mendengar panggilan itu. Ia berbalik dan melihat seorang petugas kapal menghampirinya.
"A-ano, aku terpisah dengan kedua orang tuaku." Karang Ciel.
"Memangnya orang tuamu di mana?" tanya si petugas lembut, agak membungkuk supaya sejajar dengan Ciel.
"Di-…" Ciel memutar otaknya, kira-kira dimana penculik itu menyekap Sebastian. "Ruang penumpang kelas satu."
"Baiklah, perlu kuantar?"
"Umm…kalau Anda tak keberatan." Ciel merasa beruntung. Jika bersama petugas ini, pasti tak akan ada yang mencurigainya.
"Baiklah, ayo ikut." Petugas itu berjalan dengan Ciel di sisinya. "Ah, kau pasti kedinginan. Pakai ini." Petugas itu membuka jaz seragamnya dan menyelimutkannya ke tubuh Ciel.
"Terimakasih banyak…tapi tidak perlu. Ini kan jaz kerja Anda."
"Tidak apa. Jaz kerja kan ada banyak. Kalau sampai kau sakit malah gawat. Di kapal ini pelayanan terhadap penumpang memang di nomor satu kan."
"Oh…"
Mereka terus berjalan melewati dek, lalu mulai memasuki koridor. Dalam perjalanan, Ciel mendengar beberapa orang bercakap-cakap dengan suara dipelankan.
"Mereka sudah dibawa ke ruangan boss kan?"
"Iya, sudah. Waah, tawanan kita jadi semua member ya... Padahal 1 orang saja cukup karena dia leadernya."
"Iya juga sih, ayo kembali ke sana. Boss menyuruh kita bersiap-siap kan…"
"Ya…"
Ciel yakin yang mereka bicarakan pastilah member Kuroshitsuji.
"Ngomong-ngomong kenapa kau bisa basah begini, nak?" tanya petugas yang bersama Ciel, menyadarkan Ciel dari acara mengupingnya.
"Ah, ano, tadi aku tercebur ke kolam." Alasan Ciel, karena tentu saja di kapal pesiar mewah begini pasti ada kolam renang di atas kapal. "Tuan, sudah dulu ya. Orang-orang tadi adalah pamanku, aku bisa minta di antar pada mereka. Terimakasih bantuannya…" Ciel membungkuk hormat pada si petugas lalu mengikuti orang-orang yang tadi membicarakan tentang tawanan.
Ciel mengikuti mereka di jarak yang aman, namun sepertinya mereka menyadari keberadaan Ciel karena mereka langsung berlari setelah sedikit melirik ke belakang. Tanpa pikir panjang, Ciel langsung mengejarnya. Tapi setelah menikung beberapa kali, ia kehilangan jejak.
Apalagi kini ia berada di lorong gelap yang tampaknya merupakan kamar penumpang yang tak terpakai. Ciel celingukan, hingga beberapa saat kemudian terdengar langkah orang berlari mendekat. Ciel merapat ke tembok supaya tak ketahuan, tapi sial, jejak kaki Ciel yang masih basah membuat orang itu terpeleset dan bahkan jatuh tepat di hadapan Ciel.
"Aaaarrgh…" seru orang itu. Mata Ciel membulat saat merasa mengenali suara orang tersebut.
"Se-Sebastian…?"
"Eh…?" perlahan orang itu duduk, memandang Ciel dengan seksama karena tempatnya gelap. "Ciel…?"
"Hah? Jadi ini betulan kau? Syukurlah kau selamat!" tanpa sadar Ciel langsung memeluk Sebastian.
"Baka! Bagaimana kau bisa berada di sini?" dengus Sebastian. Kesal sekaligus senang.
"Aku menghawatirkanmu." Ciel melepas pelukannya. "Kau bisa kabur? Bagaimana keadaan yang lain?"
"Yang lain? Siapa?"
"Semua teman-temanmu. Jadi kau tidak tahu kalau mereka juga tertangkap?"
"Apa? Sial! Aku tidak tahu. Aku berusaha kabur, mungkin mereka tertangkap setelah aku pergi."
"Sekarang bagaima-…" belum selesai ucapan Ciel, suara derap langkah kembali terdengar.
"Mereka pasti mengejarku. Ayo cepat pergi!" ucap Sebastian dan segera berlari dengan menggandeng tangan Ciel. Mereka terus berlari dari kejaran orang-orang itu, hingga langkah Sebastian terhenti saat menyadari mereka berada dimana. Atap lantai teratas dari kapal pesiar itu.
"Sial! Tidak bisa lari lagi!"keluh Sebastian. Tapi ini bukan sepenuhnya salah Sebastian, karena tampaknya orang-orang itu memang sengaja mendesak Ciel dan Sebastian ke tempat ini.
"Sudahlah, kalian tak bisa kabur lagi. Menyerah saja." Ucap salah satu dari orang bertopeng itu."
"Jangan mendekat!" Sebastian mengambil sesuatu dari saku celananya, sebuah granat.
"Eh? Dari mana kau mendapatkannya?" bingung Ciel.
"Merampas dari para penculik itu." Jawab Sebastian.
"Dasar bodoh." Ucap seorang pengejar. "Atap ini terlalu sempit, kalau kau melempar granat itu, kau juga pasti kena."
"Cerewet! Ciel, berpegangan yang kuat pada pagar pembatas." Perintah Sebastian dan langsung membuka lalu melemparkan granat itu.
DUAAARR!
Ledakkan pun terjadi, orang-orang itu terjatuh karena atap yang runtuh, tapi Sebastian juga terpental, dan kini ia terkatung-katung di tepian atap yang rusak dengan hanya berpegang pada ujung jarinya.
"Bertahanlah, aku akan menarikmu." Ucap Ciel, tapi Sebastian malah tertawa.
"Tubuhmu itu kecil, Prince. Tanganmu juga licin." Ejek Sebastian.
"Cerewet!"
"Sudahlah Prince, sebentar lagi aku pasti jatuh. Entah mati entah tidak dari ketinggian 7 lantai seperti ini. Tapi jika aku mati…"
"Cukup! Jangan bicara lagi!" Ciel berusaha menarik tangan Sebastian, tapi tampaknya percuma.
"Hihihi…Prince, mungkin aku akan mati. Jadi…bisakah aku mendengar jawabanmu sekarang? Setidaknya aku akan bisa mati dengan wajah tersenyum…"
"Jangan bicara seperti itu…aku…"
"Prince…jawab aku, apa kau…menerima cintaku…?"
"Aku-…"
"Jangan bergerak!" sebuah seruan terdengar dari arah belakang. Ciel menoleh, dan berdiri dua orang bertopeng lainnya. Dua orang itu langsung menyergap Ciel.
"Lepaskan! Lepas!" Ciel meronta, ia menatap Sebastian yang kini tersenyum dengan tatapan sayu.
"I love you…Prince…" dan pegangan Sebastian terlepas.
"Sebastiaaaaannnnnn…!" jerit Ciel, tapi orang-orang itu segera menyeret Ciel pergi. Mungkin ada baiknya juga, karena Ciel tidak harus melihat Sebastian terbanting ke bawah sana dengan darah berhamburan.
"Lepaskan aku! Lepas!" Ciel terus meronta saat kedua orang itu menyeretnya entah kemana. "Aku harus menemui Sebastian. Aku…ha-…"
Kedua orang itu kini membuka sebuah pintu dengan agak mendobrak, dan seketika mata Ciel terpejam kala cahaya terang langsung menyerbu penglihatannya. Lalu ia mendengar sebuah lagu didendangkan oleh banyak orang…ya, lagu. Lalu perlahan, Ciel pun membuka matanya. Dan seketika sapphire birunya membelalak saat melihat pemandangan ganjil di hadapannya.
Semua orang…ya, semua orang…termasuk Claude, William, Undertaker, Grell dan bahkan Alois, juga semua orang yang Ciel lihat hadir di pesta ulang tahun Sebastian di villa, mereka mengenakan gaun-gaun pesta, menyanyikan lagu 'happy b'day', juga ruangan terang itu yang penuh dengan pernak-pernik indah serta kue tart super megah di tengah ruangan dengan tulisan "Happy B'day Sebastian" , tentu saja hal itu membuat Ciel kebingungan setengah mati. Ia hanya bisa diam menatap apa yang ada di hadapannya kini, hingga matanya tertuju pada sosok yang sangat ia khawatirkan, Sebastian. Sebastian tampak sedang duduk di sebuah matras yang di atur sedemikian rupa di jendela seperti tempat penadah. Apa mungkin tadi Sebastian bukan jatuh ke lantai terbawah, melainkan jatuh ke matras yang tampak sudah diatur itu? Kalau begitu…hanya satu kesimpulan yang dapat Ciel ambil. Semua ini sudah direncanakan!
"Oi, Ciel…! Jangan diam saja." Cengir Undertaker, menghampiri Ciel bersama William, Grell dan Alois. Sementara Claude membantu Sebastian turun dari matras itu untuk masuk ke dalam ruangan.
"Hehehehe kau terkejut ya." Ucap William.
"Hohoho akhirnya kami bisa mengerjaimu. Ini pesta untukmu dan Sebastian." Ucap Grell.
"Maaf ya, ini rencana mereka lho…aku hanya korban" ucap Alois dengan tampang bersalah. Wajahnya benar-benar tampak menyesal "Tapi kau yang nekat nyebur ke laut itu bukan bagian dari rencana kok…mana mungkin kami merencanakan kau untuk mati. Syukurlah kau selamat."
Ciel tetap diam.
Sebastian menghampiri bersama Claude, ia tersenyum lembut pada Ciel.
"Maaf deh, hehehehe" ucap Sebastian. "Tidak hanya kau yang bisa merencanakan kejutan dengan menjawab pernyataanku di hari ul-tahku. Aku juga bi-…"
PLAAAKKK!
Sebuah tamparan mendarat telak di pipi Sebastian.
"Ci-Ciel…"
"Kau pikir…" ucap Ciel dengan suara bergetar. Wajahnya tertunduk, tangannya menggenggam dengan kuat. Lau ia mendongak dan berkata "Kau pikir seberapa khawatirnya aku padamu Hah! Aku sangat khawatir, BRENGSEK! Dan ternyata ini hanya main-main?"
Sebastian terbelalak dengan ucapan Ciel, apalagi karena sebulir air mata mengalir dari kedua sudut mata Ciel.
"Ci-Ciel…aku tak ber-…" Sebastian berniat mengusap air mata Ciel, tapi tangannya langsung ditampik oleh Ciel dengan kasar.
"Persetan kalian semua!" bentak Ciel dan langsung berlari pergi dari ruangan itu.
"Ciel!"
"Kau tau Sebastian…" Sebastian batal mengejar saat ucapan itu terlontar dari bibir Alois. "Seumur hidup sejak aku berteman dengan Ciel…" Alois menatap Sebastian tajam. "Baru kali ini aku melihatnya menangis."
Dan Alois juga berlalu dari ruangan itu untuk mengejar Ciel. Sementara kini Sebastian dan yang lainnya hanya bisa membeku di tempat.
~ To be Continue ~
Maap, apa critanya membosankan? Ditunggu kritik dan sarannya...XD
Mind to Review?
