Desclaimer : Yana Toboso, but Sebastian is my fiancé *gaplocked* XD

Yohooo akhirnya update juga. Maaf lama nunggu (emang ada yg nunggu?) abiznya nulis gak kelar-kelar, pake edit sana sini pula. Heheu...gomen sekali lagi...

Reply Review :

Makasih byk bwt Secret BlackHeart, hana-1emptyflower, Half-Human Girl, Alice Hitomu-chan, Kaito Mine, and RenDhi Hausen Edelstein. Arigato read reviewnya...

# buat Nero-Dark Ventus -I hate Hacker : hohohoh maaf, chapter lain saia akan berusaha lebih baik lg :D owh, soal Sebas, Ciel pan mau jawab pernyataan do'i pas ul-tah, sapa aja jg pasti PD bakal diterima laah, kan sbg hadiah heheheh. And soal ClaudeAlois, yeah, mereka belon jadian, lha wong Claude masih suka sebas XD hehehe, emang Ciel nelpon pas Grey lag *piiiiiip* (sensor) kok #plaaak

Ha? Akun kamu yg mana? Waah, kelewatan tuh si hacker. Pan para pembaca gak tau kalo itu bukan kamu, coz akunnya kamu. Hehew, ternyata aku jg review #plaaak iya, saya akan hati-hati. Terimakasih byk nasehatnya, jg terimakasih read reviewnya :D

Chapter 8 : That Butler, Fiance

.

.

.

.

Air laut yang terbelah oleh laju kapal pesiar mewah itu nampaknya tak mengganggu ketenangan di permukaan samudra yang terbentang luas. Jernihnya langit malam yang bertabur bintang menambah keindahan kala kilau bintang-bintang terpantul manis di permukaan laut.

Sungguh pemandangan yang sempurna. Namun tak mampu membuat si pemilik shaphirre blue ocean itu terkagum. Matanya hanya menatap kosong pada sudut malam, sambil sesekali tiupan angin mempermainkan rambut kelabu nya.

"Ciel…" panggil seseorang. Mendapat panggilan itu, sang pemilik shaphirre biru sedikit melirik ke belakang demi mendapati seorang bocah blonde berdiri tak jauh darinya.

"Ada apa, Alois?" tanya bocah yang dipanggil Ciel itu.

"Ano…kau mau pulang?" tanya Alois, menatap sahabatnya itu, sekaligus menatap dimana mereka berada. Sebuah landasan helicopter di atas kapal pesiar.

"Ya…" jawab Ciel.

"Boleh aku ikut?"

"…" hening sejenak. "Ya…" jawab Ciel kemudian.

Mereka saling diam sampai sebuah helicopter terbang mendekat dan landing di landasan itu. Ciel nyaris melangkahkan kaki untuk menaiki helicopter itu saat pendengarannya menangkap sebuah panggilan yang terpaksa membatalkan langkahnya.

"Ciel…" panggil orang itu. Ciel tak menoleh, tapi ia tahu siapa yang barusan memanggilnya. Sebastian. "Kita harus bicara." Lanjut Sebastian.

Ciel tak menghiraukan dan kembali melangkah.

"Ciel, tunggu!" ulang Sebastian, berlari menghampiri Ciel serta mencekal lengannya. "Kumohon…" pinta Sebastian.

"Lepas." Ucap Ciel sedatar mungkin dan tanpa pemberontakan akan cekalan di lengannya.

"Ciel, kumohon." Ulang Sebastian.

"Lepas." Ciel juga mengulang ucapannya. Hening sejenak, hingga Sebastian menghela nafas dan perlahan melepas cekalannya terhadap Ciel. Tanpa kata lagi, Ciel memasuki helicopter diikuti Alois.

"Jalan." Ucap Ciel dan helicopter pun segera take off meninggalkan kapal pesiar mewah itu.

Sepanjang perjalanan pulang, Ciel sama sekali tak bicara. Ia sibuk mengutuk diri sendiri karena bisa-bisanya terjebak dalam permainan konyol Sebastian. Tch! Menyesal ia telah merasa khawatir.

Tak berapa lama, helicopter telah mendarat di kediaman Trancy. Setelah Alois turun dan berbasa-basi sebentar, helicopter kembali take off menuju kediaman Phantomhive.

"Bocchan…" seorang kakek tua berseragam butler menghampiri Ciel begitu Ciel turun dari helicopter.

"Ada apa, Tanaka-san?" tanya Ciel.

"Anda sudah ditunggu."

"Oleh siapa?"

"Oleh keluarga Midford."

Glek!

Sontak wajah Ciel membiru. "A-aku mau ke kamar saja. Katakan aku sedang sakit." Ujar Ciel.

"Baiklah, Bocchan."

Keduanya lalu berjalan menuju mansion dengan Ciel berjalan di belakang Tanaka sambil memegangi jaz buntut nya. Tapi belum sampai setengah perjalanan menuju kamar, tiba-tiba…

"Cieeeeeel…" panggil riang seorang gadis. Wajah Ciel kian pucat mendengar suara itu. "Tanaka-san. Ciel mana?" tanya gadis pirang itu. "Ho?" ujarnya saat meilhat Ciel di belakang Tanaka. "Kyaaaaaa Cieeeel…" seru si gadis dan langsung berlari memeluk Ciel dan memutar-mutar tubuhnya.

"Elizabeth, hentikan!" ucap Ciel.

"Aiiish, sudah kubilang berapa kali untuk memanggilku Lizzie." Gadis itu melepas pelukannya pada Ciel.

"Untuk apa datang kemari?" tanya Ciel langsung.

"Hihihi ra-ha-si-a. Ayo ke ruang tamu, ayah, ibu dan kakak sudah menunggu." Lizzie menyeret Ciel.

"Hah? Apa? Mereka juga datang?" tanya Ciel tapi tak dihiraukan Lizzie. Mereka ke ruang tamu dan mendapati keluarga Midford sudah duduk di sana. Dengan sedikit cemberut, Ciel ikutan duduk dengan Lizzie yang masih setia nemplok di tangannya.

"Grr…" Edward, kakak Lizzie tampak tak senang melihat adiknya bersama Ciel.

"Hoo…kau dari mana calon menantuku?" ujar Alexis Leon, kepala keluarga Midford.

"A-apa? Ca-calon menantu?" kaget Ciel.

"Alexis, jangan bicara begitu sebelum menjelaskan duduk perkaranya!" omel Francis, istri Alexis.

"Iya Ciel, kita akan tunangan." Jelas Lizzie yang malah membuat Ciel tambah shock.

"Apa? Tunangan!" histeris Ciel.

"Iya, aku sudah tidak sabar lagi." Lizzie menarik Ciel berdiri dan memutar mutar tubuh Ciel kayak gangsing.

"A-aku tidak mau!" tolak Ciel.

"Jangan belagak deh!" Omel Edward sambil nunjuk-nunjuk Ciel. "Aku juga nggak rela kalau adikku yang manis bakal tunangan sama kamu!"

"Edward!" bentak Francis, membuat Edward bungkam seketika. "Dan kau Elizabeth, berhentilah bertingkah kekanak-kanakan!"

"Hihihi, iya ibu." Lizzie segera mengajak Ciel duduk.

"A-apa maksudnya ini? Tunangan?" ulang Ciel.

"Ehm, Ya." Jawab Francis. "Keluarga kita sudah saling sepakat sejak kalian lahir untuk menjodohkan kalian."

"Apa? Sepakat? Kalian dengan ayah dan ibu ku?" ulang Ciel.

"Ya."

"Cih, bodoh sekali kau tidak tahu. Bukankah keluarga kita sudah saling mengenal sejak lama." Cibir Edward.

"Itu karena tidak ada yang bilang apapun padaku! Lagipula kukira kedekatan keluarga kita sudah benar-benar seperti saudara. Bagaimana bisa tiba-tiba aku harus bertunangan dengan Lizzie!" protes Ciel.

"Bukan tiba-tiba, tapi sudah ditetapkan sejak dulu." Ralat Francis.

"Lalu kenapa sejak dulu ayah dan ibu diam saja? Kalian juga tidak bilang apapun?"

"Itu karena kedua orang tuamu bilang kau baru boleh tahu setelah cukup umur. Tapi mereka malah sudah meninggal, sehingga kami memutuskan untuk mengatakannya sekarang supaya kau punya persiapan untuk pertunangan sekaligus pernikahanmu dengan Elizabeth nantinya." Tambah Alexis.

Ciel hanya bisa menggeram kesal.

"Begitu tahu, aku langsung senang sekali lho Ciel." Ucap Lizzie. "Karena selama ini aku sudah menyukaimu. Tak kusangka kita malah akan bertunangan dan menikah nantinya."

"Sudah kubilang aku tidak mau." Protes Ciel.

"Ini adalah amanat dari mendiang orangtuamu. Apa kau mau menghianatinya?" tutur Francis.

Ciel tertunduk dan hanya bisa diam. Hatinya sekarang benar-benar sakit, belum lepas masalahnya dengan Sebastian, kini bertambah satu lagi masalah.

"Pertunangan kalian akan dilaksanakan minggu depan." Ucap Francis yang membuat Ciel kembali terbelalak.

"Kalian bilang kalau aku sudah cukup umur?" kesal Ciel, meskipun seandainya sudah cukup umur pun ia akan tetap menolak.

"Hanya tunangan. Barulah .menikahnya kalau kau sudah cukup umur." Jelas Francis.

Ciel bungkam, ia benar-benar tak tahu harus apa. Dalam hati ia menjerit memanggil nama Sebastian, meski ia sendiri bingung mengapa nama itulah yang ia serukan dalam jiwanya.

~ OoooOoooO ~

Esoknya Ciel berangkat sekolah dengan lesu, membuat Alois bingung karena Ciel tak bicara sepatah kata pun. Alois pikir itu masalah tentang Sebastian, sehingga Alois tak bertanya lagi kenapa Ciel begitu. Kejadian itu berlangsung selama beberapa hari, hingga Alois menerima sepucuk undangan yang membuat matanya terbelalak seketika.

"Bocchan…" panggil Thompson pagi itu. Alois yang tengah menikmati hari minggunya dengan bersantai di tepi kolam renang tak begitu mempedulikan panggilan butler-nya itu. "Ada undangan." Lanjut Thompson dan barulah Alois sedikit merespon.

"Dari siapa?" tanya Alois lebih pada dirinya sendiri sambil menerima undangan yang disodorkan Thompson. Ia membuka undangan itu dan seketika matanya terbelalak melihat nama yang tertera di sana.

"Ciel Phantomhive…Elizabeth Ethel Cordelia Midford…tunangan?" shock Alois. Terdiam sejenak dengan kekagetannya, ia lalu segera memasuki mansion, menuju kamar dan segera ganti baju. Ia lalu melangkah keluar mansion menuju garasinya. Tanpa kata lagi, ia segera ngebut dengan mobil Ferrari nya menuju kediaman Phantomhive.

"Selamat dat-…" tampaknya ucapan selamat datang dari Tanaka tak dipedulikan oleh tamunya itu. Alois segera menuju kamar Ciel, dan benar saja. Sang Phantomhive muda itu memang sedang berada di sana sambil menatap keluar jendela dengan murung.

"Alois, ada apa?" Ciel sedikit terkejut, apalagi saat Alois tiba-tiba menyeretnya tanpa kata. Alois memaksa Ciel masuk ke dalam mobilnya, lalu segera menjalankan mobil itu dengan kecepatan tinggi.

Ciel hanya bisa diam akan tingkah sahabatnya itu.

"Turun." Komando Alois setelah mobil mereka berhenti di pantai yang sepi. Mereka berdua keluar dari mobil dan berdiri di batas pantai. Hening untuk beberapa saat, hingga Alois menyodorkan sesuatu pada Ciel. Undangan pertunangan Ciel.

"Apa ini?" tanya Alois sarkatis.

Ciel hanya tertunduk.

"Kenapa kau tak bilang apapun padaku, Ciel?"

"…"

"Apa-apaan pertunangan ini? Bagaimana dengan Sebast-…"

"Diam!" bentak Ciel. Entah kenapa ia merasa marah begitu nama Sebastian disebut, apalagi berhubungan dengan pertunangannya. "Ini bukan urusanmu!" tambah Ciel.

"Ciel! Apa kau setega ini? Kau membuang Sebastian begitu saja? Dan bahkan tanpa sepatah katapun?"

"Sudah kubilang diaaam!" Ciel menutup kedua telingannya dengan kedua telapak tangan. Alois tersentak, apalagi saat melihat tubuh Ciel berguncang pelan, dan melihat cairan bening keluar dari kedua mata Ciel. Ciel tak terpejam, pasti ia masih berusaha membendung air matanya itu. "Memangnya kau tahu apa huh?" bentak Ciel. "Kau tidak tahu apa-apa!"

Alois bungkam, lalu memeluk sahabatnya itu, mengusap rambutnya lembut.

"Jadi kau juga tidak menginginkan ini eh?" tanya Alois dengan suara serak. Ia sendiri heran sejak kapan ia ikut menangis. Ia ingin berucap lagi sekedar untuk menghibur Ciel, tapi suaranya serasa tak mampu keluar lagi. Ia hanya bisa menggigit bibirnya untuk menahan air mata yang semakin deras mengalir dari kedua matanya tanpa melepas pelukan terhadap Ciel.

~ OoooOoooO ~

Jam baru menunjukkan pukul 07.00 p.m. tapi udara sudah cukup dingin di atap gedung itu. Angin berhembus kencang, membuat udara semakin menusuk. Tapi tampaknya pemuda bermata crimpson itu tak merasa kedinginan. Ia tetap bertahan di atap itu sambil berpegang pada pagar pembatas dan menatap ke depan.

"Sebastian…" panggil seseorang.

Si crimpson itu menoleh, mendapati sahabatnya yang bermata golden spider itu tengah menghampiri.

"Ada apa, Claude?" tanya Sebastian.

"Kau sudah lihat ini?" Claude menyodorkan sebuah kotak kado pada Sebastian. Sebastian menerimanya dengan alis berkerut.

"Itu hadiah dari Ciel saat ulang tahunmu. Tercampur dengan kado-kado yang lain sehingga baru ditemukan sekarang." Jelas Claude.

Sebastian segera membuka kado itu yang ternyata isinya adalah sebuah jam tangan edisi terbatas yang pasti harganya sangat mahal. Sepertinya Ciel tahu kalau Sebastian sangat suka memakai jam tangan. Ada sebuah surat disana, Sebastian segera membacanya.

"Sebastian, selamat ulang tahun ya…soal jawabanku akan pernyataanmu, ehm…kuucapkan secara lisan saja. Cepat tembak aku lagi hahaha. Oia, soal hadiahnya, maaf kalau kau tidak suka. Aku tidak tahu seleramu. Tapi kukira, kalau memakai jam tangan ini kau akan terlihat…umm, apa ya? Aku lupa. Haha. By. Ciel Phantomhive."

Sebastian tersenyum miris membaca surat itu.

"Aku harus bicara dengannya." Ucap Sebastian dan segera pergi dari atap. Ia mengambil jacketnya di kamar, lalu melangkah keluar.

"Sebastian, kau mau kemana?" tanya Ash Landers, manager utama Kuroshitsuji.

"Aku ada urusan di luar." Jawab Sebastian.

"Ajak teman-temanmu."

"Ap-Apa?"

"Aku hanya akan mengizinkanmu pergi kalau teman-temanmu juga pergi. Akan terlihat aneh kalau di malam setelah konser akbar kau pergi tanpa teman-temanmu. Public bisa membicarakan yang macam-macam."

"Tap-tapi…"

"Kalau kau tidak setuju maka tetaplah di dorm."

Sebastian hanya menggeram kesal.

Di ruang TV.

"Yooo…kita saksikan gulat professional antara Grell Sutcliffe dengan William T. Spears." Ucap Undertaker dengan menggunakan sandal jepit sebagai mic. Di depannya, William dan Undertaker sudah saling berhadapan ala pegulat professional.

"Siaaap? Mulaaaaiii…"

"Hyaaaaahhh…." Seru William dan Grell dengan bantal di tangan masing-masing. Buukkk! Mereka adu bantal. Apanya yang gulat?

"Ayo ayooo" Undertaker memberi semangat sambil nimpukin kedua temannya pake sandal jepit. "Lawan teruuss…"

Plok…plok…Ash menepuk dua kali sambil memasuki ruang TV untuk menarik perhatian. Di belakangnya mengekor Sebastian dan Claude.

"Semuanya, Sebastian mengajak kalian keluar." Ucap Ash sedikit berteriak.

"Ayoo ayooo…" Undertaker terus berteriak.

"Heeeyaahh…" raung William dan menggebukkan bantal ke Grell. Grell juga tak mau kalah, ia ambil ancang-ancang dan mengayunkan bantalnya kuat-kuat. Tapi karena kepleset sandal jepit yang tadi dilempar Undertaker, bantalnya terlepas dan wuuung…terbang mulus.

Buuukk!

"Eh?"

Grell, William, dan Undertaker membeku di tempat mendengar suara 'bukk' tadi. Ketiganya menengok kaku ke arah melayangnya bantal tadi dan mendapati bantal itu nemplok di wajah managernya. Bantal itu merosot turun dan memperlihatkan wajah managernya yang tersenyum manis, tapi bagi ketiganya senyum itu adalah senyum iblis.

"Wah wah…kalian sedang main apa?" ujar Ash.

"A-Ano, main gulat,eh, perang bantal hahahaha." Ujar William.

"Bantal?"

"I-iya…"

"Bantal?" ulang Ash.

Glek!

"I-iyaa."

"Bantal!" ulang Ash dengan tampang semakin horror.

"Kabuuuuuuurrrr…" seru Grell, William dan Undertaker serta menerobos keluar melalui pintu di belakang Ash, menabrak Sebastian dan Claude yang jadi ikutan terseret karena ulah mereka.

~ OoooOoooO ~

"Fiuuh, untung bisa kabur." William menarik nafas lega sambil merilexkan tubuh di kursi penumpang.

"Yeah, Ash kalau sudah marah merepotkan juga." Sahut Undertaker yang duduk di sampingnya.

"Aiiish,cat kukuku mengelupas karena gulat tadi. Owh, nooo…" Grell sibuk sendiri.

"Sebenarnya kita mau kemana sih?" tanya Undertaker pada Claude dan Sebastian yang duduk di kursi depan, Claude memegang kemudi.

"Ke rumah Ciel." Jawab Sebastian cuek.

"Apa? Asyiiikkk…kita lanjutkan pesta waktu itu?" seru William.

"Tck! Diamlah. Awas kalian kalau sampai mengganggu acaraku!" kesal Sebastian.

"Kalau takut kami mengganggu kenapa kau mengajak kami?" sewot Undertaker.

"Ash yang menyuruhku."

"Buuu…"

Tak lama kemudian mobil mereka sampai di depan gerbang mansion Phantomhive.

"Hei, sepertinya sedang ada pesta?" ucap Undertaker.

"Bukannya kita kesini memang untuk pesta?" ujar William.

"Kau tahu soal ini, Sebastian?" tanya Claude.

"Tidak. Aku tidak tahu kalau sedang ada pesta." Jawab Sebastian.

"Lalu?"

Gerbang terbuka.

"Kita masuk saja." Ucap Sebastian, Claude pun segera menjalankan mobil memasuki area mansion Phantomhive. Cukup jauh dari pintu gerbang sampai ke mansion, dan sepanjang perjalanan dihiasi pernak-pernik mewah.

Mereka turun di depan pintu utama mansion, sedangkan mobil diserahkan pada petugas parkir. Mereka saling tatap, tapi kemudian melangkahkan kaki memasuki mansion.

"Maaf, undangannya tuan?" ujar kedua penyambut tamu.

"Mampus." Gumam Undertaker. "Lo punya undangannya gak Seb?"

Sebastian menggeleng.

Grell menghampiri salah satu penyambut tamu itu dan memberikan kiss bye tapi di jarak yang sangat dekat.

"Apa kau tidak mengenal kami?" ujar Grell genit, bergelayut manja di pundak sang penyambut tamu. "Kami ini artist yang di undang khusus ke pesta ini." Grell menjilat leher si penyambut tamu. Ngebuat tuh orang merinding disco dan langsung mempersilahkan Kuroshitsuji masuk.

"Wuaaah…" kagum William, Undertaker dan Grell begitu memasuki pesta. Benar-benar mewah. Dan kini mereka merasa aneh dengan diri mereka sendiri karena tak memakai pakaian resmi. Semua tamu tampak memakai gaun dan jaz, pakaian resmi ala bangsawan.

"Heheu, kita ganti baju dulu yok…" pundung Undertaker.

Mereka masih mematung di tengah ruangan pesta itu. Hingga MC membuka suara.

"Baiklah, sepertinya para tamu undangan sudah datang. Mari kita sambut pasangan pertunangan ini, penerus keluarga Phantomhive, Ciel Phantomhive dan Lady Elizabeth Ethel Cordelia Midford."

Deg!

Kuroshitsuji langsung membeku di tempat, terutama Sebastian.

Tepuk tangan riuh memenuhi ruangan, dan dari atas tangga dari lantai dua, seorang gadis cantik berjalan dengan riang sambil memeluk lengan seorang bocah berambut kelabu. Keduanya tampak serasi, sang gadis terlihat sangat cantik dan sang pemuda juga sangat tampan er…imut mungkin lebih tepat.

Mereka menuruni tangga dengan dua orang pemuda mengiringi di belakang mereka. Edward dan Alois.

Awalnya Alois berjalan dengan tenang, sampai matanya menangkap pemandangan mencolok di tengah ruangan.

"Ciel…" panggil Alois setengah berbisik, suaranya tersamar di tengah riuh tepuk tangan. "Ciel…" ulang Alois dan menepuk pundak Ciel. Ciel menoleh. Alois menunjuk dengan wajahnya, sehingga Ciel mengikuti arah tatapan Alois.

Seketika kedua shapirre birunya membola mendapati Kuroshitsuji berada di tengah ruangan itu. Tengah menatapnya!

"Ada apa Ciel?" tanya Lizzie karena tiba-tiba Ciel menghentikan langkahnya. Suasana berubah lengang, para tamu mengikuti arah tatapan Ciel dan mendapati kelima pemuda keren tengah berdiri di tengah ruangan. Seakan memberi jalan, para tamu menepi sehingga arah tatapan Ciel dan Kuroshitsuji tak terhalang seorang pun.

Untuk beberapa saat suasana benar-benar sunyi senyap, hanya terdengar bisikan lirih para tamu tapi lalu menghilang lagi.

"Jadi…" akhirnya Sebastian membuka suara. "Ini jawabanmu…? Ciel Phantomhive."

Hening lagi. Ciel tak tahu harus bicara apa. Hingga Sebastian meneruskan ucapannya.

"Fine." Ujar Sebastian. "Maaf sudah mengganggu acara ini." Sebastian lalu berbalik dan pergi meninggalkan ruangan bersama teman-temannya.

Sepeninggal mereka, suasana kembali ribut dengan bisik-bisik para tamu. Sementara Ciel tak bergeming dari tempatnya. Seakan baru tersadar, beberapa detik kemudian Ciel melangkahkan kaki untuk mengejar Kuroshitsuji, tapi lengannya didekap oleh seseorang.

"Cieeel…ini pertunangan kita lho…" ucap Lizzie yang mendekap lengan Ciel dengan erat, sementara Ciel hanya bisa pasrah menatap kepergian Kuroshitsuji dengan pandangan tak rela.

Lain dengan Alois. Ia ingin menebus kesalahannya yang lalu terhadap Ciel dan Sebastian. Nekat, Alois langsung melesat menyusul Sebastian dan kawan-kawan tanpa menghiraukan apa yang akan terjadi di pesta selanjutnya.

~ OoooOoooO ~

Sepanjang perjalanan kembali menuju dorm, Kuroshitsuji sama sekali tak buka suara. Grell, William dan Undertaker yang biasanya ribut pun ikut bungkam, seakan ikut mengerti perasaan Sebastian.

Braak!

Sebastian keluar sambil membanting pintu mobil setelah mobil berhenti di depan dorm Kuroshitsuji. Ia berjalan cepat menuju satu-satunya tempat yang biasa menenangkannya. Atap.

"Brengsek!" kesal Sebastian sambil menghantam pagar pembatas atap. Pikirannya campur aduk. Ia tak tahu harus bagaimana. Mengamuk? Rasanya gila. Ini kekesalannya sendiri, ia tak ingin orang lain jadi korbannya. Hingga akhirnya ia pun hanya terduduk pasrah sambil bersandar pada pagar pembatas itu.

"Hebat. Dulu Grey dan sekarang Ciel." Gumamnya dan tersenyum pahit. "Cinta itu memang brengsek!"

"Kenapa tidak denganku saja?" ucap seseorang, memasuki atap dan berjalan ke arah Sebastian.

"Claude…" gumam Sebastian.

"Kalau denganku…kau pasti takkan terluka seperti ini Sebastian." Claude berlutut di hadapan Sebastian. "Kalau denganku…aku bersumpah takkan menyakitimu, dan aku bersumpah takkan membuatmu terluka." Claude membelai pipi Sebastian dengan punggung telunjuknya. "Mulailah melihatku, Sebastian…" perlahan Claude mendekatkan wajahnya ke wajah Sebastian.

"Claude, aku…" ujar Sebastian terpotong oleh sebuah seruan.

"Tidak boleh!"

Sebastian dan Claude menoleh ke arah pintu dan mendapati seorang bocah blonde berdiri di sana.

"Alois…?" ujar Sebastian agak terkejut.

"Claude itu milikku, Sebastian." Ujar Alois penuh percaya diri sambil menghampiri mereka. "Kau tidak boleh memilikinya."

"Tch!" decih Claude kesal. "Aku bu-…"

"Ciel juga…" potong Alois. "Ciel adalah milikmu, Sebastian. Kau tidak boleh berpaling pada yang lain."

Sebastian tertawa singkat.

"Milikku?" cibirnya. "Lalu pertunangan siapa tadi?"

"Ciel sama sekali tak menginginkan pertunangan itu, Sebastian."

"Tapi sama saja kan? Dia tetap bertunangan! Lagipula, dia memang hanya mempermainkanku sejak awal. Dia sengaja tidak memberikan jawabannya atas pernyataanku hanya untuk membuatku hancur dalam hari pertunangannya!" Sebastian menumpahkan segala kekesalan dan sakit hatinya.

"Kau salah Sebastian." Jawab Alois tetap dengan nada rendah. "Ciel menyukaimu. Dia ingin menerimamu sebagai hadiah atas ulang tahunmu. Dia ingin dirinya menjadi hadiah terindah dalam hidupmu."

"Tapi apa hasilnya!" bentak Sebastian.

"Apa kau tahu, Ciel menceritakan pertunangannya padaku sambil menangis. Dan harusnya kau dengar siapa nama yang dia sebutkan dalam tangisnya itu, karena nama itu adalah namamu."

Sebastian terbelalak.

"Masih belum terlambat, Sebastian. Ciel belum menikah, kau tahu." Lanjut Alois.

"Jadi kau mau bilang Sebastian harus membatalkan pertunangan Ciel, begitu?" timpal Claude. "Konyol sekali. Berurusan dengan keluarga bangsawan, apalagi urusan internal seperti ini, sama saja dengan cari mati."

Alois menghela nafas, lalu menjawab pernyataan Claude.

"Keluarga bangsawan memang rumit, terlalu banyak aturan dan lain sebagainya. Tapi bukan berarti tak ada celah kan? Apalagi Ciel, pihak yang bertunangan sendirilah yang tidak menyetujuinya."

Hening. Ketiganya bungkam.

"Hn…aku mau kita taruhan." Seringai Alois pada akhirnya. "Sebastian, aku tahu kau masih suka Ciel. Dan kau Claude, kau masih menyukai Sebastian. Sedangkan aku, tentu saja masih menyukai Claude."

"Lalu?" tanya Sebastian sedikit penasaran.

"Kita taruhan. Siapa yang bisa menjadikan cintanya tidak bertepuk sebelah tangan." Jelas Alois dengan seringaiannya. "Aku akan membuat Claude jatuh cinta padaku, Claude membuat Sebastian jatuh cinta padanya, dan Sebastian, kau harus membuat Ciel kembali ke pelukanmu. Lalu yang kalah…"

Sedikit memberi jeda.

"Mentraktir bulan madu kemanapun pasangan yang menang mau." Lanjut Alois.

"Bulan madu?" raung Grell, William dan Undertaker yang ternyata nguping di balik pintu, ngebuat Alois, Sebastian dan Claude cengok.

"Hehehehehe…" Grell, William dan Undertaker cengengesan sambil menampakkan wujudnya.

"Apa kalian setuju?" tanya Alois pada ketiganya.

"Hah, kami juga diajak?" tunjuk William pada dirinya dan kedua temannya.

"Tentu saja."

"Asyiiikkk….pasti kami setuju dong!" girang ketiganya.

"Hei! Aku belum bilang menyetujuinya!" kesal Sebastian, tapi tampaknya sama sekali tak didengar karena teman-temannya itu masih saja bersorak dan menghayal tentang liburan mereka.

"Hei, nanti saat mereka bulan ma-…"

"Diaaaamm!" bentak Sebastian pada akhirnya, membuat suasana hening seketika. Sebastian bangkit, menatap tajam Alois.

"Memangnya siapa bilang aku masih menyukai Ciel?" ucap Sebastian sarkatis. "Dia hanyalah penambah rasa sakitku. Tak jauh beda dengan Charles Grey! Mereka sama-sama brengsek! Aku tidak sudi kembali lagi padanya." Sebastian melirik Claude. "Dan memangnya siapa yang telah meresmikan Claude sebagai kekasihmu. Dia masih menyukaiku dan selamanya akan begitu! Dan jangan salahkan aku kalau aku berpaling padanya! Ayo Claude." Sebastian menarik Claude pergi, meninggalkan Alois dan ketiga member Kuroshitsuji dalam beku.

"Ada ide?" tanya Undertaker, melirik ketiga orang didekatnya.

William dan Alois angkat bahu sambil saling tatap. Sedangkan Grell…

"Aku punya id-…"

"Shut Up!" bentak tiga orang lainnya dan beranjak meninggalkan atap.

"Hei! Apa-apaan kalian! Katanya nanya apa aku punya ide!" Grell mencak-mencak.

"Nggak ada yang nanya lu kok." Sahut William.

"Iya, ide dari lo pasti nggak guna." Tambah Undertaker yang membuat mereka bertiga akhirnya benjol kena timpuk sepatu high heels yang dikenakan Grell.

Di sisi lain, Sebastian akhirnya menghentikan langkah dan melepas pegangan tangannya pada Claude. Ia berdiri dua langkah di depan Claude.

"Maaf atas ucapanku tadi." Ucap Sebastian lirih.

Claude melangkah mendekati Sebastian. "Tidak ada yang perlu dimaafkan." Ia menopangkan dagunya di pundak Sebastian, sedikit menghembuskan nafasnya di leher sang raven. "Kutemani malam ini?"

"Maaf." Ucap Sebastian lagi dan melepaskan diri dari Claude dengan sedikit kasar. Ia lalu pergi dari hadapan Claude tanpa sepatah katapun.

Sepeninggal Sebastian, Claude hanya bisa diam. Hingga sebuah kalimat meluncur dari bibirnya.

"Kau bohong waktu berkata itu semua kan? Karena sampai kapanpun kau tidak akan pernah berpaling padaku." Ujar Claude pahit.

Sebastian membuka pintu kamarnya dengan pikiran kalut, lalu tepat saat ia akan menutup pintunya lagi, ia dikejutkan oleh sesosok 'bola bulu' yang muncul di ambang pintu.

Tatapan Sebastian berubah melembut dan sebuah senyum tipis terlukis di bibirnya. Lalu dengan penuh kasih sayang, ia menggendong 'bola bulu' berwarna hitam itu.

"Kau lapar?" Tanya Sebastian sambil menutup pintu.

"Miaw…miaw…" hanya itu jawaban yang diterimanya, tapi cukup membuat Sebastian tersenyum lagi.

"Baiklah, tunggu sebentar ya, Ci-…" Sebastian batal merapalkan nama kucing itu. "Sepertinya aku harus mengubah namamu. Umm…bagaimana kalau kuro? Bulumu kan hitam."

Seakan tidak suka, kucing itu tak memberikan ngeongan apapun sebagai jawaban. Sebastian pura-pura tak mempedulikan itu lalu menurunkan si kucing dari gendongannya. Sebastian beranjak menuju dapur, mengambil sekotak makanan kucing dan menuangkannya di mangkuk binatang peliharaan pastinya. Tapi ia heran saat kucing itu tak muncul di dekatnya, padahal biasanya ia langsung menghampiri begitu Sebastian mengambil makanan.

"Kuro…" panggil Sebastian, tak ada respon. "Kuro…" panggilnya lagi dan tetap tak ada respon. Sebastian kembali ke ruang tengah dan mendapati kucing itu ada disana. "Kuro, kau ini kenapa sih. Ini makananmu." Sebastian menyodorkan mangkok makanan itu di depan sang kucing.

"Miaw…" kucing itu malah menatap Sebastian tanpa mempedulikan makanannya. Sebastian terdiam, mata crimpsonnya bertemu dengan mata biru si kucing. Entah kenapa rasanya Sebastian ingin menangis saja.

"Oooke, aku menyerah." Ujar Sebastian. "Kau tidak mau kupanggil dengan nama Kuro?"

"Miaw…"

"Baiklah, Ci-…" Sebastian tercekat. "Argh! Sudahlah,cepat makan makanannya!" raung Sebastian frustasi dan akhirnya masuk kamar dan membanting diri di ranjang. Ia setengah bersandar ke kepala ranjang dan mengusap wajahnya, seakan dengan begitu segala masalahnya akan hilang.

"Miaw…" kucing itu muncul di depan pintu, menatap Sebastian. Lalu melangkah dan menaiki ranjang, duduk di hadapan Sebastian. "Miaw…" kucing itu menatap lurus ke mata Sebastian. Sebastian balas menatap, tatapan tajamnya perlahan berubah menjadi sayu, hingga tangannya terulur untuk membawa kucing itu dalam dekapannya.

"Ciel…Ciel…Ciel…" bisiknya ambigu. Sebenarnya siapa nama yang dipanggilnya? Nama kucing itu atau…

~ To be continue ~

Oke. Maaf banget kalo di chapter ini nggak ada humornya. Soalnya konflik nggak mendukung banget sih =,= gw jadi bingung mau nambahin humor dimana. Maaf kalo chapter ini jadi membosankan. Tapi jangan kabur dong #plaaaak XD chapter depan saia usahain laaah…

Yosh, akhir kata, Review please…