Desclaimer : Yana Toboso, but Sebastian is my boyfriend muahahahahaha *digiles*

Gw LULUS, gimana dg readers semuanya? :D

Yohoo, gue sempet bingung buat nglanjutin chapter ini. Ampe nulis banyak terus gw hapus lagi krn nggak puas. Trus gw rombak critanya. Mikir di depan kompi ampe lamaaaa~…moga nggak mengecewakan deh ini. Amiiiin :-D

Reply Review :

Makasih byk bwt hana-1emptyflower, RenDhi Hausen Edelstein, Kaito Mine, dEviLune Michaelis, Kuro Phantomhive, Alice Hitomu-chan and ReBRn 19. Makasih read reviewnya :D

#bwt Nero-Dark Ventus : waaah begitu km nyanyi gw langsung nyari tuh lagu tuh XD biar bs ngrasain jg #plaaak tp menurutku Sebas lebih cocok nyanyi Mr. Broken Heart nya Yuya Matsushita *digampar* tp lagu tu jg cocok kok XD waaah met patah hati aja ya (?) saia menyediakan las hati, mau? Heheu makash, moga chapter ni alurnya jg gak maksa XP hoho lemon sebyyciel nya nanti-nantian kalo ada. Akunmu uda Q cai kok gak ada? Mungkin saia salah ketik nama akunmu kali yak XD hehe byk yg pengen ngebunuh lizzie yak XD makasih read reviewnya :D

#.id : hooo km review yg chapt 7 yak XD ho oh, chapter ntu jg byk yg ngomong terlalu gimana gitu *termasuk saia sendiri* #plaaaak XD makasih read reviewnya :D

#Aishire Atha : waah, pdhal K-Pop oke lho...ganteng2 *digampar* yosh makasih udah mau baca, pdhal km benci boyband XD chapter depan kayknya milik ClaudeAlois, waiting ea #ngarep. Makasih read reviewnya :D

Chapter 9 : That Butler, Lonely

.

.

.

Ciel's POV

Sepi…

"Cieeeell…"

Hampa…

"Ayo ayo, kita main apa?"

Kosong…

"Cieeeeel, kau mendengarkanku tidak sih…" dan sebuah jitakan mendarat di kepalaku.

"Auw…" keluhku. "Apa sih, Lizzie." Aku merengut, menatap kesal pada gadis pirang yang sudah resmi bertunangan denganku beberapa hari lalu.

"Kau ini kenapa sih? Bersemangatlah sedikit, ini liburan pertama kita sebagai tunangan lho…hihihi…" riang Lizzie dengan senyum terbaiknya yang bagiku sangat memuakkan. Aku tak menjawab pertanyaannya.

"Cieell…" panggil Lizzie lagi, sepertinya ia mulai kesal.

"Kau duluan saja, Lizzie." Ujarku sambil memalingkan wajahku dengan cuek dan mulai berjalan menjauhi Lizzie dengan menusuri batas pantai.

"Yaaah…kok gitu sih…" keluh Lizzie yang sama sekali tak kugubris. Aku terus berjalan dalam hening, namun pikiranku kalut. Jujur saja, aku…benar-benar kesepian. Padahal, pantai di musim panas seperti ini sangatlah ramai, dimana-mana ada manusia, tapi aku merasa…sendiri…

Aku tidak tahu kemana harus pergi untuk menghilangkan kesepian ini. Alois? Cukup. Aku sudah terlalu banyak merepotkannya. Sebastian? Oh, hebat. Kenapa lagi-lagi nama itu yang muncul di kepalaku. Tapi…mungkinkah kesepianku akan hilang bila bertemu dengannya? Tch! Yang benar saja. Kurasa dia bahkan sudah tak mau lagi melihat tampangku.

Jadi…kemana aku seharusnya pergi…supaya hatiku bisa sedikit terisi…?

Normal POV

Malam sudah semakin larut, dan angin bertiup kian kencang terlebih di tempat tinggi. Tapi…lagi-lagi pemuda bermata crimson itu -Sebastian Michaelis- tak peduli akan hal tersebut. Ia berjalan menuju atap dorm-nya dengan membawa gitar, sebuah kertas dan bolpoin.

Ia duduk dengan bersandar pada pagar pembatas, menyamankan diri dengan memegang gitar sekaligus pena-nya. Tampaknya ia ingin menciptakan lagu.

Tatapan mata crimpson-nya yang biasanya tajam, kini meredup. Menyiratkan seberapa berat beban yang kini dirasakanya. Sesaat, ia menghela nafas dalam-dalam, lalu memegangi dadanya. Ada rasa sakit disana, sakit…sekaligus hampa. Iapun mulai memetik gitarnya, ah, tidak, ia mengangkat penanya. Menuliskan sesuatu. Aneh, bukankah seseorang biasanya menciptakan lagu dengan menemukan melodi-nya dulu dan baru menulis lyric?

Ah, rupanya dia bukan menulis lyric, melainkan menuliskan sebuah nama secara vertical. Ya, huruf-huruf dari nama itulah yang akan menjadi huruf awal di tiap bait lagu yang akan ia ciptakan.

Selesai menuliskan nama itu, barulah ia mulai memetik gitar, menemukan melody yang tepat, lalu mulai menyusun lyric. Detik demi detik…bait-bait lagu mulai terbentuk. Huruf-huruf di kertas tadi mulai tersusun menjadi lyric yang indah. Hingga saat huruf terakhir yang belum terisi, Sebastian tampak tercengang dengan lyric yang ditulisnya sendiri.

Ia menggeram kesal, menggeretakkan gigi-giginya hingga tanpa sadar darah mengalir dari bibirnya. Ia bahkan lalu meremas kertas itu hingga tak berbentuk dan melemparnya. Ia lalu menyandarkan tubuh sepenuhnya pada pagar pembatas, mendongak dan merasakan semilir angin yang membelai tubuhnya.

"Dia menyakitiku…" ucap Sebastian pada dirinya sendiri. "Dia telah membuatku hancur…Dia menghianatiku…Dia brengsek!" sentak Sebastian di akhir kalimat, tapi lalu tertunduk sambil meremas rambutnya. Dia menjerit frustasi sesaat, berharap dengan teriakan itu bisa meluapkan sedikit kekesalannya.

"Tapi kenapa…" lanjut Sebastian. "Kenapa dia selalu saja muncul di kepalaku! Kenapa dia selalu saja memonopoli setiap detik waktuku! Dan kenapa…" jeda sesaat, Sebastian menatap kertas lyric yang barusan dilemparnya. "…aku merasa kesepian tanpanya…"

Hening tanpa pergerakan. Akhirnya Sebastian melangkah untuk mengambil kembali kertas lyric itu. Dibukanya kembali kertas yang sudah sangat lecek itu, memperhatikan lyric bait demi bait.

"Kau telah menghancurkanku…tapi kenapa aku malah menulis lyric seperti ini…kenapa bukan lyric kutukan yang muncul di otakku, kenapa malah…" Sebastian kembali terduduk, atau lebih tepatnya membanting diri untuk duduk. "Bodoh! Cepatlah datang kemari! Kau juga kesepian kan! Kau bilang kau tidak suka bertunangan dengannya. Jadi cepatlah datang kemari! Dasar bodooooohhh!" raung Sebastian. Nafasnya terengah, lama ia tetap dalam keadaan itu, hingga ia kembali menghampiri gitarnya.

Sebastian mengambil bolpoin tadi, lalu melengkapi bait terakhir lagu-nya yang diawali dengan huruf 'E'. setelah itu, ia kembali menarik nafas dalam-dalam. Dan kali ini…ia benar-benar menyanyikan lagu itu secara keseluruhan. Melody-nya mengalun begitu indah. Andai saja 'dia' yang namanya Sebastian jadikan sebagai huruf awal di tiap lagunya mendengarkan lagu ini, ya…andai saja…dan benar saja, hal itu 'mungkin' saja terjadi. Karena begitu Sebastian menyelesaikan acara nyanyi-nya, tiba-tiba…

Gusraaaakk!

Pintu atap terbuka dan muncul tiga sosok konyol dengan saling bertindihan.

"Adudududuh, sakit! Cepat bangun bodoooh!" omel Grell yang berada di posisi paling bawah.

"Aduuuh, William! Cepat bangun, bego! Berat niih…" omel Undertaker yang ada di atas Grell.

"Ugh…iya iya. Kakiku juga sakit nih…" keluh William yang ada di posisi paling atas, ia bangkit dengan perlahan, diikuti kedua temannya.

"Kalian sedang apa?" tanya Sebastian sweatdrop.

"Ng…?" seakan baru sadar, trio bodoh itu nyengir innocence sambil berkata "Ah, tidak sedang apa-apa kok…" sementara William tampak menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya.

"William, apa yang ada di balik punggungmu?" tanya Sebastian dengan muka horror.

Gulp! William langsung menelan ludah berat. "A-ahahaha bu-bukan apa-apa kok!"

"Bukan apa-apa? Berarti aku boleh lihat dong?" kratak! Sebastian menghampiri mereka sambil menggeretakkan tulang-tulang di tinjunya.

"E-eh…se-serius…" William dan kedua temannya itu mulai berjalan mundur.

"Kalau begitu perlihatkan padaku!" raung Sebastian dan langsung berlari ke arah mereka.

"Gyaaaaaaa apapun yang terjadi, pertaruhkan nyawa kalian supaya handycam ini sampai di tangan Ciel…!" seru William lebay sambil berlari menjauh bersama Grell dan Undertaker.

"What the Fuck! Handycam? Kalian merekamku barusan ya? Kembalikan rekamannyaaaaa! Aku belum ingin Ciel tahu!" mau ditaruh dimana mukaku, lanjut Sebastian dalam hati.

Sebastian –tak lupa mengambil gitar dan kertas lyric tadi— mengejar ketiga temannya tadi yang bilang mau memperlihatkan rekaman itu pada Ciel.

"Hei, apa kalian merekamnya dari awal lagu?" sempat-sempatnya Sebastian tanya saat aksi kejar-kejaran ini.

"Nggak kok." Jawab William sambil terus berlari.

"Nggak dari awal lagu, tapi dari awal kau memasuki atap." Tambah Undertaker.

"Jadi ungkapam kata hatimu tadi juga terekam dengan jelas." Sambung Grell.

"Brengseeeeekkk!" raung Sebastian. "Cepat berikan handycam itu!" Sebastian mempercepat larinya, tapi tampaknya gitar yang dibawanya sedikit memberikan beban. Apalagi berlari di koridor kamar yang sempit seperti itu.

"Lho? Ada apa Sebastian?" tanya Claude yang baru saja keluar kamar. Tampaknya Sebastian sama sekali tak menggubris dan terus berlari, tapi…

Ckiiiiiitt…!

Sebastian mengerem langkahnya mendadak dan balik lagi ke Claude.

"Nih!" Sebastian dengan seenak jidat memberikan gitar dan…o'ow, tanpa sadar kertas lyric-nya juga kepada Claude.

"Apa yang…" belum sempat Claude bertanya, Sebastian sudah kembali berlari mengejar tiga cecunguk itu. Tinggallah Claude yang kini bengong menatap kepergian teman-temannya. Lalu, pandangannya teralih pada benda-benda yang tadi dititipkan, ralat, dipaksa dititipkan oleh Sebastian tadi.

Daripada gitar, Claude lebih tertarik pada kertas kumal di tangannya, ia pun membuka kertas itu dan melihat isinya.

"Ini…" ujarnya kemudian.

~ OoooOoooO ~

"Huaaah…hosh…hosh…" William, Grell dan Undertaker terengah. Mereka berhenti berlari sambil ngos-ngosan di depan halte bus.

"Hosh…apa Sebastian masih mengejar? Hosh…" tanya Undertaker.

"Entahlah…gulp!...tadi dia…hosh…berhenti saat Claude keluar kamar." Jawab William.

"Mungkin saja dia akan mengejar lagi. Hosh…hosh…huuuh!" Grell yang pertama bisa menormalkan nafasnya, kini berkacak pinggang dengan anggunnya. "Memangnya kenapa kalau rekaman ini kita berikan pada si bocah kelabu itu?" Ujar Grell.

"Itu karena masalah akan semakin rumit kalau dia sampai tahu." Ucap sebuah suara.

"EeeH?" Grell, William dan Undertaker menoleh, mendapati Sebastian yang berdiri tak jauh dari mereka dengan tampang ngos-ngosan juga.

"Dia pasti akan semakin marah padaku." Alasan Sebastian dengan wajah merona.

Tercengang sejenak, sampai Grell menyadari sesuatu.

"Bohong ah! Justru masalah akan selesai kalau Ciel tahu kau masih menyukainya. Bilang saja kau malu kalau sampai kata hatimu yang secara terang-terangan tadi diketahui oleh orangnya." Tuduh Grell.

Jleb!

Rasanya ada anak panah yang nancep tepat di kepala Sebastian.

Tin…tin…

Sebuah bus berhenti tepat di depan mereka. Grell, William dan Undertaker segera menaiki bus itu, meninggalkan Sebastian yang kayaknya masih belum sadar.

1 detik…

2 detik…

5 menit…

"What the Fuck!" raung Sebastian yang baru sadar kalau bus yang membawa rekamannya sudah berjalan menjauh uh uh dari tadi. "Temeee!" raung Sebastian dan langsung kelabakan mencari taxi. Tak lama kemudian ia mendapatkan taxi itu.

"Pak, kejar bus di depan itu." Perintah Sebastian dan si sopir pun menurut. Tak butuh waktu lama sampai taxi yang dinaiki Sebastian hanya berjarak beberapa meter dari Bus yang dinaiki Grell, William dan Undertaker.

"Gyaaa kalau begini kita bisa terkejar nih. Pak, cepet dong!" omel Grell sambil nyekek si sopir bus.

"Eh?" William tampak memperhatikan sesuatu. "Ah, turunkan kami di tempat rental motor itu pak." tunjuk William pada sebuah rentalan motor.

Bus pun berhenti tepat di depan tempat rental itu. Tanpa menunggu lagi, ketiga member Kuroshitsuji ini segera turun dari bus dan menyabet 1 motor untuk masing-masing.

"Kami bayar nanti…!" teriak Undertaker saat sang pemilik rental teriak-teriak ga-je. Mereka bertiga langsung ngebut dengan motor track hasil nyolong mereka. Tapi rupanya Sebastian juga melakukan hal yang sama. Ia juga mengambil motor dari tempat rental itu.

"Cih! Jadi kayak balap liar. Bisa di uber polisi nih!" keluh William.

"Argh! Bodo! Ayo cepat." Ujar Grell. Meski bencis, rupanya doi bisa ngebut juga.

"Woooiii…cepet berhenti!" teriak Sebastian yang jaraknya sudah tak begitu jauh dari ketiga temannya.

"Nggak akan!" balas William.

"Itu hak pribadiku, bego!" maki Sebastian.

"Sebas-chan, memangnya kenapa sih Ciel nggak boleh tahu kalau kau masih suka dia?" Grell mencoba mengorek informasi. "Dia juga pasti masih suka kamu kan?"

"Mana mungkin! Dia sudah tunangan!" kesal Sebastian.

"Tapi kan dia nggak setuju dengan tunangannya itu!"

"Tapi bukan berarti dia akan menerimaku kan? Pernyataanku yang waktu itu saja tidak dijawabnya!"

"Bukan tak dijawab! Tapi belum sempat dijawab. Ah, aku tahu. Kau Cuma takut pada jawaban yang akan diutarakan Ciel kan?"

"Argh! Berisik! Pokoknya kembalikan rekaman itu!"

"Tidak bisa." Timbrung William. "Soal dia menerimamu atau tidak kan urusan nanti. Yang penting dia tahu kalau kau masih suka dia. Sebelum ini dia pasti beranggapan kalau kau sudah membencinya."

Sebastian terdiam. Ucapan mereka ada benarnya juga. Tapi…mengingat apa saja yang tadi Sebastian katakan di atap yang dengan jelasnya terekam di handycam itu, Sebastian jadi berpikir seribu kali lagi sebelum merelakan video itu diperlihatkan pada Ciel.

"Pokoknya balikiiiinn~!" raung Sebastian dan mempercepat laju motornya. Mereka saling berkejaran dengan kecepatan tinggi, hingga saat melewati pertigaan, mereka sama sekali tak memperhatikan lampu lalu lintas, toh jalanan tampak sepi. Mereka asal terobos saja tanpa sadar sebuah Lamborghini melaju kencang dari arah kiri.

"Gyaaaaa…!" baik mereka berempat ataupun Lamborghini itu sama-sama mengerem mendadak. Fiuuh…untunglah sempat. Hanya saja motor William dan Undertaker sempat menabrak trotoar dan roboh, meski sama sekali tak ada cedera. Hanya roboh saja. Sebastian dan Grell menghampiri mereka tanpa turun dari motor.

"Kalian tidak apa-apa?" si pemilik Lamborghini keluar dan menghampiri para pembalap dadakan itu. Ke empat member Kuroshitsuji itu menoleh dan agak terkejut melihat siapa pemilik Lamborghini tadi.

"Alois…?" ucap keempatnya serempak.

"Iya, ini aku. Ah, rupanya kalian." Ucap Alois. William dan Undertaker tampak menegakkan motornya kembali. "Mau kemana kalian?" tanya Alois.

"Ke…" seakan baru sadar akan tujuan awalnya, Sebastian segera meraung kesal. "Cepat kembalikan benda itu!"

"Nggak akaaann!" raung Undertaker dan William lalu segera menaiki motor mereka.

"Apapun yang terjadi kami akan membawa rekaman ini ke rumah Ciel! Ciel harus melihatnya!" tambah William dan keempatnya kembali melanjutkan aksi saling kejar.

"Oi…oi…tunggu…" ucap Alois yang pastinya tak digubris. "Padahal aku mau bilang kalau Ciel sedang tidak ada di rumah. Dia kan sedang liburan bersama keluarga Midford."

~ OoooOoooO ~

"Yeeaaah…sebentar lagi finish!" girang Undertaker setelah melihat gerbang mansion Phantomhive tak jauh lagi. Mereka semakin menambah kecepatan sampai menyadari sesuatu. Dan hebatnya, kesadaraan itu muncul di saat jarak mereka ke pintu gerbang tinggal beberapa meter lagi.

"Gyaaaa gerbangnya kan tertutup!" raung Undertaker, William dan Undertaker sambil meng-klakson habis-habisan dan berusaha mengerem sekuat tenaga, berharap terjadi keajaiban. Dan ya, keajaiban itu memang ada. Gerbang mansion Phantomhive rupanya menggunakan sensor suara, jadi begitu mendengar klakson, gerbang itu terbuka dengan sendirinya. Tapi mau bagaimana lagi? Ketiga, eh, keempat orang bodoh ini sudah terlanjur mengerem.

Motor mereka pun terhenti karena pengereman itu dan saling bertumbukan, ban motornya menggesek cepat dan pada akhirnya kehilangan kendali lalu nyusruk ke taman yang ada di kanan kiri jalan menuju manor house.

"Huaaaah…" mereka pun tepar dengan nafas tersengal. Mereka terlentang di rerumputan, sementara motor mereka, mereka biarkan roboh begitu saja. Aksi mereka tadi mau tak mau mengundang keributan. Butler keluarga Phantomhive, Tanaka, menghampiri mereka sambil membawa beberapa bodyguard.

"E-eh?" cengok Kuroshitsuji dikeroyok begitu rupa oleh para bodyguard. Saat mereka sudah nyaris diseret oleh para bodyguard itu, seseorang menginterupsi.

"Tunggu." Ucap Alois, memasuki gerbang dengan Lamborghini-nya yang kaca jendelanya ia buka. "Mereka bukan orang jahat. Mereka temanku dan Ciel juga." Ujar Alois.

"Saya mengerti." Ujar Tanaka sambil membungkuk hormat dan menyuruh para bodyguard-nya melepaskan Kuroshitsuji.

"Mohon maaf atas kekacauan ini." Alois turun dari mobil dan mewakili teman-temannya itu untuk minta maaf.

"Kami juga minta maaf karena langsung menangkap mereka." Sopan Tanaka. "Baiklah, mari masuk ke dalam."

"Apa Ciel ada?" tanya William langsung.

"Maaf, Bocchan sedang pergi bersama keluarga Midford."

"EEEEHHH?" shock Kuroshitsuji. Lho? Kok Sebastian ikutan nggak senang ya?

"Heeeh, aku juga sudah mau bilang begitu. Tapi kalian langsung main kabur saja." keluh Alois. "Memangnya ada apa kalian segitu 'semangat'nya mencari Ciel?"

Dweeng! Seakan baru sadar (lagi) Sebastian langsung bertampang setan.

"Cepat kembalikan benda itu!" raung Sebastian dan langsung menubruk William.

"Gyaaa…" reflek William meraih handycam yang tergantung di lehernya itu lalu melemparnya sembarangan, pokoknya jangan sampai kena sama Sebastian! Beruntung handycam itu ditangkap oleh Alois.

"Handycam? Apa isinya?" heran Alois.

"Apapun itu pokoknya Ciel harus melihatnya!" ucap William.

"Nggak! Jangan sampai dia melihatnya!" ucap Sebastian, berniat merebutnya dari Alois tapi langsung disergap oleh Grell, William, dan Undertaker.

"Cepat bawa pergi dan sembunyikan di tempat aman sampai Ciel kembali. Pokoknya dia harus lihat!" Undertaker meyakinkan.

"Baiklah." Ucap Alois dan mulai berlari menjauh. "Tanaka-san, tunjukkan tempat paling aman di mansion ini untuk menyembunyikan handycam-nya sampai Ciel pulang."

"Baik." Ujar Tanaka dan segera berlari mengikuti Alois bersama para bodyguard-nya.

"Heeiii…Tunggu!" Raung Sebastian. Dia benar-benar kesal pada ketiga sahabatnya ini. Dan karena kekesalannya itulah, tenaga Sebastian tampaknya jadi berkali-kali lipat. Ia memberontak dan akhirnya bisa meloloskan diri dari ketiga sahabatnya itu.

Sebastian langsung mengejar kepergian Alois. Alois tampak kaget karena pastinya langkahnya yang kecil akan segera terkejar. Ia menatap Grell cs yang ternyata ngikut di belakang Sebastian, dan terlihat William melambai-lambaikan tangannya sebagai kode 'lempar'. Melihat jarak Sebastian padanya yang kian dekat, tanpa pikir panjang ia melemparkannya ke William. Tapi…

Jeng…jeng…jeng…

Tinggi Sebastian yang 185 cm itu tentu saja bisa dengan mudah memotong arah operan (?) handycam itu.

"Gyaaaaaa" shock Alois, William, Undertaker dan Grell, sementara Sebastian tersenyum iblis.

"Tidak akan kubiarkan." Geram Grell. "Hyaaaaatt jurus Shinigami meraaah!" Grell langsung melompat, bersiap nendang Sebastian, tapi Sebastian lebih sigap dan segera menghindar.

Kabuuumm…! Grell sukses mencium aspal dengan anggunnya.

"Akan segera kumusnahkan barang laknat ini." Geram Sebastian dan dalam satu langkah, ia mengambil ancang-ancang, lalu…Hup! Ia melemparkan handycam itu sekuat tenaga ke arah pintu gerbang mansion yang sudah tertutup dari tadi.

"Huweeeee pasti ancur tuh…!" tangis Grell, William, Undertaker dan Alois dalam hati. Dengan effect slow motion, bisa dilihat saat-saat handycam itu meluncur manis menuju gerbang besi itu. Melayang…berputar…dan…pintu terbuka! Ya! Pintu gerbang itu terbuka karena sebuah mobil Ferrari hitam berjalan masuk melewati pintu itu. Masih effect slow motion, mata Kuroshitsuji minus Claude plus Alois (?) terbelalak, dan…

Bruuukk! *effect slow motion off* Handycam itu menghantam kaca depan mobil. Oke, kaca mobil itu memang baik-baik saja *mobil mahal gitu loh…* tapi bagaimana dengan handycam itu?

Pintu mobil terbuka dan seorang bocah bermata deep ocean keluar dari sana.

"Cieeeeeeellll…" seru semuanya dan segera berlomba lari menghampiri Ciel. "Cepat ambil handycam itu!" teriak William panic karena Sebastian juga ikut berlari ke arah yang sama.

"Jangan! Pokoknya jangan diambil!" protes Sebastian.

"Ha?" ujar Ciel bingung. Rupanya ia tak dapat mendengar ucapan William ataupun Sebastian karena mereka semua berteriak di saat yang bersamaan. Cengok melihat beberapa orang aneh menyerbu ke arahnya, Ciel menoleh dan mendapati sebuah handycam nangkrong di kap mobilnya. "Ha? Handycam siapa?" Ciel pun segera mengambil handycam itu. Tapi begitu menoleh ke depan…"Gyaaaaaa!" jerit Ciel dan…

Bruuuukkkhhh!

Orang-orang laknat tadi menubruknya secara bersamaan sehingga kontan handycam itu terlepas dari genggaman Ciel sementara mereka jatuh saling bertindihan.

"Ittaatatatatatat…Ittai…" Ciel yang berada di paling bawah tampak sangat menderita sementara 5 orang di atasnya sedang mengeluh penderitaan mereka masing-masing.

"Sudah pulang tuan muda? Kukira Anda baru akan pulang 2 hari lagi." ucap Tanaka *yang sempat-sempatnya* menyambut kedatangan Ciel.

"Aku bosan dan muak pada mereka. Jadi pulang tanpa pamit. Argh! Itu nanti saja! cepat bantu akuuuu!" raung Ciel.

Beberapa saat kemudian mereka sudah tak bertindihan lagi meski dengan tubuh yang masih pegal-pegal. Grell yang menyadari pertama kali.

"Heh, mana handycam nya?" tanyanya.

"Entah, tadi terlepas dari tanganku." Jawab Ciel innocence.

"Cepat cari!" keempat member Kuroshitsuji plus Alois segera gasrak-gusruk mencari benda itu.

"Ah, ini dia." Girang William saat melihat sesuatu seperti tali handycam di semak-semak.

"Mana mana mana." Yang lain segera menghampiri, tapi begitu diambil, rupanya itu Cuma daun kering. "Huuuuuuu…" koor mereka sambil mendorong-dorong kepala William.

Kcipak!

"Eh?" semua mata menoleh ke arah sumber suara. Tampak Tanaka memegang sesuatu yang baru saja diambilnya dari dalam kolam ikan yang berada di sisi kanan jalan.

"Mungkin ini yang kalian cari." Senyum Tanaka yang tetap saja membuat semuanya shock.

"Gyahahahahaha emang nggak gue izinin sih!" Sebastian ketawa iblis sementara yang lainnya meratapi nasib handycam itu.

"Hei, siapa tau memory handycam nya tidak apa-apa." Cetus Alois yang langsung ngebuat Sebastian membeku di tempat.

"Iya ya, cepat buka." Tambah William.

"Gyaaa kembalikaaan!" raung Sebastian tapi langsung ditikan oleh Undertaker.

"Cepat putar dan tunjukkan pada Ciel selagi aku bisa menahan Sebastian." Ucap Undertaker.

"Kayaknya handycam nya mati deh! Tadi udah dilempar and jatuh kesana kemari." Frustasi William.

"Di mobilku ada handycam tuh." Ucap Ciel yang langsung membuat mata semuanya berbinar.

"Aku ikut nahan Sebastian." Semangat William dan langsung ngebantuin Undertaker nahan Sebby. "Cepat tunjukkan video itu pada Ciel."

Ciel segera mengambil handycam itu dari mobilnya, lalu memasukkan memory tadi ke sana. Ciel, grell dan Alois menatap screen handycam dengan tidak sabar, sementara Sebastian teriak-teriak ga-je karena kali ini nggak bisa melepaskan diri.

"Yosh, mulai!" girang Grell, Ciel dan Alois melebarkan matanya supaya bisa melihat lebih jelas. Tapi lalu…"Eh?" ketiganya mematung di tempat.

"A-ada apa?" William dan Undertaker ikutan mematung, Sebastian juga.

Czzztt…czzt…

"Gyaaaa kayaknya memorynya juga rusak deh karena tadi masuk kolam." Jerit Grell sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.

"Huwahahaha kubilang juga apa." Tawa Sebastian. "Itu karena aku tidak-…"

"Eh, lihat, ada tayangannya." Tunjuk Alois yang lagi-lagi ngebuat Sebastian membatu. Alois, Ciel dan Grell kembali menekuni handycam itu. Memang ada gambar yang muncul, tapi tidak ada suaranya. Terlihat Sebastian sedang memainkan gitar di video itu, lalu macet sesaat, kemudian muncul gambar lagi dan kali ini ada suaranya.

"…be here when the rain falls and…" ceeeerrrtt…macet lagi dan dep! Kali ini benar-benar mati.

Semuanya terdiam. Ada yang sibuk mengumpat memory rusak, ada yang tercengang karena lyric dan lagu tadi.

"Se-sebenarnya…ini video apa?" tanya Ciel.

"Itu…"

"Jangan bilang, jangan bilaaaaang!" raung Sebastian tapi lalu dibekap oleh Undertaker.

"Itu lagu yang Sebastian buat khusus untukmu." Jawab Grell.

"Isinya tentang apa?" tanya Alois.

"Itu…"

"Pasti tentang kebenciannya padaku kan?" ujar Ciel, ia tertunduk dengan tatapan sayu. "Ya, aku tahu kok. Kalian tidak perlu repot-repot mengatakannya padaku."

"Bu-bukan begitu Ciel." Ujar William. "Sebastian sama sekali tidak membencimu. Lagu itu bahkan berisi tentang perasaan cintanya padamu."

"Ya, benar. Bahkan huruf di tiap awal lagunya adalah namamu." Ucap sebuah suara. Sontak semua mata tertuju pada orang tersebut.

"C-Claude…" guman Alois.

Tampak Claude keluar dari mobil yang baru saja memasuki gerbang dan menghampiri mereka dengan santainya.

"Dia benar-benar gila padamu." Ujar Claude dan menyerahkan selembar kertas lusuh pada Ciel. Ciel membaca kertas itu dan wajahnya langsung memerah plus berasap seketika.

"Ke-kertas itu jangan-jangan…" ucap Sebastian yang baru ingat kalau ia menyerahkan gitar sekaligus kertas lyric pada Claude.

"Hei, bodoh! Jangan diam saja." Claude melirik Sebastian kesal. "Ada yang harus kau katakan kan."

Glek! Sebastian menelan ludah sejenak, Undertaker dan William melepaskan Sebastian supaya bisa menghampiri Ciel.

"Umm…ano…apa jawabanmu atas…" Sebastian terdiam, mengingat surat di kado yang diberikan Ciel yang berisi 'cepat tembak aku lagi', Sebastian mengganti pertanyaannya. "Ma-maksudku…apa kau mau…jadi kekasihku?"

'Kyaaaa…' semua menjerit lega sekaligus bahagia di dalam hati. Mereka menatap Ciel yang kini masih tertunduk dengan wajah memerah.

"A-aku…" suara Ciel bergetar. "Aku tidak ingin menghianati wasiat kedua orang tuaku untuk bertunangan dengan Lizzie."

Raut Kuroshitsuji plus Alois berubah kecewa, apalagi Sebastian.

"Hahaha sudah kuduga." Tawa Sebastian tapi dengan raut wajah kecewa. "Kau pasti me-…"

"Tapi…" potong Ciel, ia berdiri dengan tangan terkepal meski sedikit gemetar. "A-aku begitu inginnya menjawab 'ya' atas pernyataan cintamu!" seru Ciel.

Deg!

Sebastian terbelalak tak percaya, begitu juga yang lainnya. Sebuah kebahagiaan yang meluap-luap menyergap langsung ke hati Sebastian. Dan tanpa bisa terkontrol lagi, Sebastian mendekap tubuh mungil Ciel dengan erat.

"Terimakasih…terimakasih, Ciel." Bisik Sebastian riang.

Dengan wajah blushing dan grogi, perlahan Ciel membalas pelukan Sebastian. Dan semuanya tersenyum lebar melihat kebahagiaan itu, terkecuali Claude yang hanya menampakkan senyum tipisnya.

"Huaaah, akhirnya jadian juga." Tepar Grell, ia duduk selonjoran di aspal dengan perasaan lega diikuti yang lainnya kecuali SebbyCiel, Claude dan Tanaka.

"Iya ya, acara lari-larian kita terbayar juga." Cengir Undertaker.

"Hn…Oia Grell, bukannya kau menyukai Sebastian? Kenapa kau ikut ngotot mempersatukan dia dengan Ciel?" heran William.

"Habis mau bagaimana lagi. Sebas-chan nggak makan, minum, juga nggak ngomong berhari-hari." Ucap Grell sok perhatian. "Dan yang paling parah dia mogok konser! Penghasilan kita bisa menurun drastic nih! Padahal aku sudah merencanakan perawatan terbaik untuk tubuhku dari hasil konser kali ini."

Grr…

'Ternyata memang kepentingan pribadi!' omel masing-masing di dalam hati.

"Pantas saja kau punya ide sedikit guna untuk merekam Sebastian." cibir Undertaker.

"Hooo jadi kau biang keladinya?" ucap Sebastian dengan suara horror. Ia mendekati Grell dengan tampang sangar.

"E-eh…i-itu…hahaha Se-sebas-chan…semua sudah selesai kan…ma-masa kau…tidak memaafkanku…" Grell kelabakan.

"Yeah, karena…" Sebastian makin mendekatkan wajahnya ke wajah Grell. "Aku harus mengucapkan terimakasih." Senyum Sebastian dan cup! Mengecup pipi Grell singkat.

"Eeeehhhh?" shock yang lainnya melihat pemandangan itu, sementara Grell masih melongo seakan belum sadar apa yang barusan Sebastian lakukan. Selang beberapa detik kemudian…

"Kyaaaaaa Sebas-chaaaan…!" jerit Grell lebay dan langsung nyeret Sebastian ke mansion Ciel.

"Hiiiieeeee apa yang mau dia lakukan pada Sebastian?" seru yang lain dan segera mengejar, tapi…BLAM! Pintu tertutup begitu SebbyGrell memasuki mansion.

"Nggak bisa dibukaa!" raung Undertaker sambil mencoba menarik-narik pintu itu.

"Aaahh~…"

Gluk!

Semua yang ada di sana mingkem begitu mendengar suara desahan Grell dari dalam sana.

"Aaahh, Sebas~chan…jangan disitu…Ahh~…"

Membatu mendengar suara tersebut, kalau di anime pasti tubuh mereka sudah putih polos dengan mulut berbentuk kotak karena mangap dengan lebarnya. Sebenarnya apa yang SebbyGrell lakukan sih?

"SEBASTIAAAAANNN…!" merekapun hanya bisa menjerit frustasi membayangkan keperawanan (?) Grell dipaksa diberikan kepada Sebastian.

~ To be Continue ~

.

.

.

Come here if you're tired of running

I'll be here when the rain falls and the wind blows, I promise…

Emptyness that you feel will be erased by me,-

Love who will always find you wherever you are

Perhaps you ever lost your sight and forgot

How to laugh, how to cry, so…just come to me

And I will make you comfort with my white feathers

Now just call my name, I'll be here like I always have

To grab your hands when you wanna touch your dream

Or jump for you when you feel the sky is too high

Maybe you didn't believe it, but one thing you must trust it

Hitori janai, you're not totally alon, my heart always here

It is place where you can fall into

Very important place that you must come for

Ending for all your stories, it's paradise of my heart…

(by. Kai Shadowchrive Noisseggra)

.

.

Maap kalo gak mutu bgt, n bahasa inggrisnya kacau. Maklum, kerjaan gw aja remidi tiap ada ulangan bahasa inggris wkwkwkwkwk XD

Mind to review?