Desclaimer : Yana Toboso

Ya ampuun, akhir-akhir ini saia lg stress berat =,= ampe bikin fict aja susah. Ini bikin ampe 4x n dihapus mulu, akhirnya selesai juga nih chapter. Kalau tidak memuaskan, maafkan author yg lg galau ini…*halaaah, nggak lagi galau pun fict gue ancur XD #plaak*

Reply review :

Arigato gozaimasu bwt ReBRn 19, Aihsire Atha, Zwart-Tumsa Matar. 564, Shiori Sasayanagi, Kaito Mine, VNRSKuroba1412, Kuro Phantomhive, dEviLune Michaelis, Rahel-chan Mikaerisu, hana-1emptyflower, Ciel-Kky30, and Alice Hitomu-chan. Arigtou read reviewnya...:D

# Bwt Rizuki tasuku : hoo 'Just to Burn the Past' juga lagu buatan saia, pan di a/n ada keterangannya O.o Trus huruf depan tiap lagu pan membentuk nama 'Charles Grey', kayaknya gak ada musisi yg nyiptain lagu repot-repot pake nama orang wkwkwkwkwk yosh, makasih udah review ya...:D

# yookei : eh lho? Kasian kenapa? O.o yosh, arigato read reviewnya :D

Chapter 10 : That Butler, Try to Love.

.

.

.

Minggu siang yang panas di atap Kuroshitsuji dorm, tapi tampaknya kelima orang itu sama sekali tak terganggu dengan sengatan matahari yang membakar kulit. Karena angin bertiup cukup kencang hingga hawa panas sedikit tersamarkan.

"Hei, aku tanya dengan serius." Ucap cowok bersurai hitam itu—William T. Spears—sambil menunjuk temannya yang bersurai merah panjang—Grell Sutcliffe—dengan gelas jus yang isinya tinggal setengah. "Apa yang kau lakukan dengan Sebastian di mansion Ciel waktu itu."

"Chee, apa aku harus menjelaskannya dengan detail." Goda Grell dengan senyum khasnya. Ia menatap kedua bocah yang duduk berhadapan dengannya di meja bulat itu. "Apalagi di depan bocah di bawah umur seperti mereka." Tunjuk Grell dengan jemari lentiknya.

"Kami sudah cukup umur kok!" seru kedua bocah itu bersamaan—Ciel dan Alois—dengan wajah sedikit merona.

"Lagipula sekarang Ciel kan pacarnya Sebastian. Dia berhak tahu dong." bela Alois dengan wajah tersipu.

"I-iya." Tanggap Ciel dengan wajah tak jauh beda dengan Alois.

"Ish ish ish…jangan-jangan kalian ingin belajar melakukan hal-hal dewasa seperti yang kami lakukan ya?" Grell kembali menggoda mereka.

"Sudahlah baka!" omel cowok berambut silver yang duduk di samping Grell—Undertaker—sambil memukul kepala Grell dengan majalah di tangannya. "Jangan mengoceh lagi. Cepat katakan apa yang sebenarnya kau lakukan bersama Sebastian."

"Sudah kubilang, aku melakukan 'itu' bersa-…"

"Tidak mungkin!" sentak yang lain kompak.

"Selera Sebastian itu tinggi." Sela William.

"Yang jelas bukan gender hermaprodit macam dirimu." Timpal Undertaker yang membuat empat siku-siku merah muncul di kepala Grell.

"Kalian menghinaku ya!" bentak Grell sambil menggebrak meja. Bukannya takut, keempat orang lainnya malah bersiul sambil menatap entah kemana dengan tampang innocence.

"Ngomong-ngomong, Sebastian dan Claude kemana sih? Lama sekali." Alois mengalihkan pembicaraan.

"Ke Mall. Belanja apa nggak tau." Jawab Undertaker.

"Nah, itu mereka." Ujar William saat melihat sebuah mobil hitam memasuki halaman dorm dan berhenti. Seseorang turun dari kursi penumpang.

"Lho, kok Sebastian turun dari kursi penumpang?" heran Alois.

"Iya ya. Claude bersama siapa di kursi depan?" tambah Ciel.

Tak berapa lama, dua orang keluar dari kursi depan. Dan mata Alois langsung melebar saat mengetahui kalau salah satunya adalah Claude, sedangkan satu lagi adalah seorang wanita bersurai violet panjang.

"Di-dia…" ucap Alois terbata.

"Tch! Iblis itu." Cibir William.

"Dasar perempuan sok cantik. Padahal aku lebih cantik." Ujar Grell sambil memain-mainkan rambutnya.

"Akhir-akhir ini Claude sering terlihat bersamanya ya…" ucap Undertaker.

"Perempuan itu siapa?" tanya Ciel, merasa jadi satu-satunya orang yang tidak mengenal wanita yang bersama Claude.

"Ha? Kau tidak kenal?" tanya Undertaker.

"Baguslah. Karena dia memang tidak terkenal kok." Sewot Grell.

"Dia…Hannah Anafeloz." Terang Undertaker. "Dia model yang saat ini sedang naik daun."

"Aku heran kenapa Claude bisa dekat dengan gadis seperti dia." Ucap William lalu balas melambai saat Sebastian melambai pada nya. Sebastian tampak segera berlari memasuki dorm, sepertinya ingin segera bergabung dengan yang lainnya. Sementara Claude hanya menatap ke atap sejenak lalu mengajak Hannah memasuki dorm.

"Hei, bagaimana kalau…" ucapan Grell terhenti saat melihat aura hitam keluar dari tubuh Alois. Yang lain langsung bermuka horror sambil meneguk ludah berat.

"Kukuku…" Alois ketawa iblis. Krek! Dan meja di hadapan mereka retak saat Alois menghujamkan kuku-kukunya disana. "Tidak akan kubiarkan siapapun menyentuh Claude." Ucap Alois, sepertinya penyakit psikopat nya kambuh (?).

Yang lain masih melongo, tapi lalu ketiga member Kuroshitsuji minus Ciel bersorak girang.

"Aku akan mendukungmu! Aku juga tidak suka perempuan sok itu." Ucap Undertaker.

"Yeah, aku rasa aku akan lebih rela kalau Claude bersamamu." Timpal William.

"Apalagi aku. Aku sangat benci gadis sok cantik itu. Heh, aku kan yang paling cantik." Grell mengibas rambutnya.

"Wow, kau mendapat banyak dukungan, Alois." Ucap Ciel. "Aku juga pasti mendukungmu. Aku juga akan membantu sebisaku."

"Kukuku terimakasih dukungannya. Biar kuhabisi dia." Seringai Alois yang lagi-lagi sukses membuat semuanya merinding.

~ OoooOoooO ~

Alois berjalan tegap menuju ruang tamu dimana Claude dan Hannah berada, tatapannya tegas dan menyiratkan ke-possesive-an yang tinggi.

Tok…tok…

Ia mengetuk. Dan tak berapa lama, pintu terbuka dan Claude muncul dari sana.

"Hn...Ada apa?" tanya Claude.

Alois masih tertunduk, bagian matanya menampakkan bayangan hitam layaknya seorang pembunuh. Lalu…

"Aku ingin minta tanda tangan Hannah." Cling! Cengir Alois super lebar sambil menunjukkan kertas dan bolpoin.

Gubraaaakk!

Untunglah Claude masih mempunyai sisi stoic, kalau tidak dia pasti sudah ber-gubrak-ria melihat perubahan drastic expresi Alois.

"Hn…Masuk." Ujar Claude sambil membetulkan letak kaca matanya.

"Hannah-baaa-chaaann, minta tanda tangan doooong…" riang Alois sambil berlari lalu menubruk Hannah.

"Hmph…!" Claude tampak membekap mulutnya sendiri untuk menahan tawa. Apa Alois bilang tadi? Baa-chan? Nenek?

"A-apa-apaan kau bocah kuning! Cepat lepaskan aku!" Hannah berusaha melepas dekapan maut Alois.

"Aku fans beratmu lho, Baa-chan."

"Berhenti memanggilku nenek! Bocah sialan!" Hannah memaksa lepas pelukan Alois, dan kini Alois duduk bersimpuh di hadapan Hannah layaknya anjing kecil yang minta perhatian tuannya.

"Baa-chan, minta tanda tangan dong." Ucap Alois dengan expresi seimut mungkin. *Kyaaaaaa…* eh? Apa Alois tidak salah lihat? Kenapa Claude memencet hidungnya?

Hannah tampaknya juga sedikit terpengaruh. Ia tampak ber-blushing-ria sebentar, tapi langsung memalingkan wajah dan memasang tampang arrogant lagi.

"Baiklah, tapi setelah ini kau harus pergi." Sewot Hannah lalu mengambil bolpoin dan kertas di tangan Alois, lalu memberikan tanda tangannya disana. "Nih." Ia menyodorkan ekrtas itu kembali dengan sedikit kasar.

"Arigatou Baa-chan." Cengir Alois.

"Sudah kubilang jangan panggil aku nenek!"

"Oia Baa-chan. Baa-chan mau ice cream? Mau yang rasa apa?"

"Aku tidak-…"

"Ah, dari majalah yang kubaca, Baa-chan suka rasa durian ya…Sebentar aku ambilkan." Alois segera beranjak dari duduknya.

"Tunggu! Aku bilang aku tidak mau! Lagipula aku benci duri-…" BLAM! Ucapan Hannah terpotong dengan debaman pintu yang Alois tutup saking semangatnya.

Drap…drap…drap…

Alois kembali dari dapur dorm dengan membawa segelas ice cream yang isinya sangat penuh.

"Ice cream datang…!" seru Alois sambil membuka pintu ruang tamu dan berlari menghampiri Hannah. Tapi karena menginjak tali sepatunya sendiri yang ikatannya terlepas, Alois terjatuh dan ice cream nya melayang lalu…plek! Nemplok tepat di wajah Hannah.

"Hmph…!" lagi-lagi Claude membekap mulutnya dengan punggung tangan.

"A-ahh…Baa-chan! Maafkan akuuuu!" Alois langsung menarik beberapa tissue yang ada di meja lalu mengelap ice cream di muka Hannah dengan sembarangan.

"Sudaaah, cukup! Cukup!" raung Hannah. "Biar kubersihkan sendiri. Tunjukkan aku dimana kamar mandinya!"

"Haik Baa-chan. Lewat sini…" Alois memandu Hannah menuju kamar mandi, meninggalkan Claude yang tampaknya siap meledakkan tawanya begitu mereka keluar.

Di perjalanan menuju kamar mandi, Alois melirik ruang TV dimana teman-temannya mengintip. Alois mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum penuh arti, lalu dibalas dengan acungan jempol dari teman-temannya.

"Disana Baa-chan." Tunjuk Alois.

Hannah memasuki kamar mandi sementara Alois menunggu di luar.

"Baa-chan…maaf ya…aku tidak sengaja." Ujar Alois.

"Sudah kubilang berhenti memanggilku Baa-chan, bocah!" balas Hannah dari dalam.

"Oia Baa-chan, sebagai permintaan maafku, bagaimana kalau kutraktir makan siang?"

"Aku tidak butuh! Lagipula apa bocah sepertimu punya uang jajan cukup untuk mentraktir seorang Lady?" sombong Hannah.

"Punya dong. Aku kan sudah menabung banyak di celengan laba-labaku."

Terbesit di pemikiran Hannah untuk mengerjai bocah satu itu.

"Celengan laba-laba katanya?" gumam Hannah. "Baiklah, biar kukerjai sekalian. Aku akan minta traktir di restaurant mewah."

Hannah segera mengakhiri acara bersih-bersih nya dan keluar dari kamar mandi.

"Baiklah, aku terima tawaranmu. Lagipula, aku memang belum makan siang." Ujar Hannah.

"Benarkah? Asyiiikkk…!" girang Alois. "Makan dimana?"

"Aku yang tentukan tempatnya. Kau ikut saja." Hannah berjalan dengan Alois di belakangnya. Ia mampir sejenak ke ruang tamu untuk mengambil tas tangannya sekaligus berpamitan pada Claude.

"Claude, aku pamit dulu. Ada bocah yang sok-sok an mau mentraktirku." Ucap Hannah dengan senyum mencibir. Claude hanya mengerutkan alis.

"Ayo." Ucap Hannah pada Alois, dan keduanya melangkah pergi. Sesaat Alois sempat melirik Claude dan ia melihat expresi kesal di wajah cowok bermata golden spider itu. Apa Claude cemburu? Lalu cemburu pada siapa? Pada Alois, atau pada…Hannah?

Claude nyaris beranjak untuk mengejar kedua orang itu, tapi tiba-tiba saja teman-temannya masuk dan menahannya.

"Eits, mau kemana?" Undertaker mendudukkan Claude lagi.

"Iya nih, ngumpul bareng aja yuk." Ucap William yang ikut menahan Claude.

"Aku harus mengejar mereka." Ucap Claude. "Perasaanku tidak e-…"

"Hei, bukankah lebih baik biarkan mereka berdua?" genit Grell sambil mencolek dagu Claude.

"Yeah, berdua lebih baik." Ucap Sebastian sambil merangkul pundak Ciel yang hanya bisa ber-blushing-ria.

"Memang apa bagusnya wanita itu sih?" tanya Grell.

"Dia…"

"Cukup! Aku tidak mau dengar apapun tentangnya." Potong Grell. Bukannya tadi dia yang nanya?

Claude masih sedikit memberikan perlawanan, tapi yeah…dia tidak bisa lepas dari cengkeraman teman-teman setannya ini.

~ OoooOoooO ~

Roozendarl Restaurant. Restaurant super mewah yang memiliki cabang nyaris di seluruh negara. Dan disinilah Hannah menghentikan mobilnya.

"Nah, ayo masuk." Ajak Hannah sambil keluar dari mobil diikuti Alois.

"Whoaa…besar…" Alois pura-pura kagum sambil melihat berkeliling. Padahal ini sih restaurant langganan dia sama Ciel.

"Heh!" Hannah hanya menyeringai dan terus membawa Alois ke salah satu meja kosong. Ia langsung mengambil buku menu dan memesan hampir seluruh menu yang ada di daftar. Tapi Hannah agak heran saat melihat expresi Alois yang malah menatap bingung.

"Baa-chan pesan banyak sekali? Nggak takut gemuk?" tanya Alois polos.

'Kenapa dia bukannya takut akan harganya?' batin Hannah. 'Jangan-jangan dia belum sadar kalau makanan disini sangat mahal? Ah, aku tidak peduli. Pokoknya dia yang harus bayar, aku akan langsung meninggalkannya nanti.'

"Ah, sudahlah." Ucap Hannah. "Hei, kutegaskan sekali lagi. Kau yang traktir semua ini kan?"

Alois mengangguk dengan senyum manisnya. "Aku kan sudah bilang ini permintaan maafku."

Hannah hanya memandang jutek sekaligus heran. Tak berapa lama kemudian, pesanan mereka datang. Karena saking banyaknya, pelayan bahkan membawakan meja troli sebagai tambahan untuk meletakkan makanan.

"Wow…kelihatannya enak. Mari makaaaan…" riang Alois dan mulai makan sementara Hannah hanya memandang sengit sambil meneguk wine nya.

"Baa-chan nggak makan?" tanya Alois di sela makannya.

"Aku sedang diet." Jawab Hannah sekenanya.

"Kalau sedang diet kenapa pesan sebanyak ini?"

"Biar kau yang makan supaya cepat besar, bocah kuntet. Oia, berapa usiamu? Kenapa pendek sekali?" cibir Hannah.

"Masa sih? Aku termasuk tinggi dibanding teman-temanku lho…"

"Berapa usiamu?" ulang Hannah sedikit kesal.

"13."

Gluk! Hannah nyaris tersedak minumannya.

"A-apa? 13?" ucap Hannah tak percaya.

"Kenapa? Apa aku terlihat setua itu?"

"Bu-bukan. Kukira kau sudah dewasa karena kau temannya Claude."

"Masa sih? Wajah seimut ini?" narsis Alois.

"Ya, kukira kau orang dewasa dengan tubuh mungil dan wajah imut."

"Waah, senangnya dipanggil imut oleh Baa-chan…" riang Alois yang lagi-lagi sedikit membuat Hannah merona saking imutnya.

Setelah selesai makan, Hannah memberikan tagihannya pada Alois. Alois dengan tenang mengeluarkan dompetnya, yang diikuti tatapan penuh selidik dari Hannah.

"Ini." Alois menyodorkan credit card pada cashier.

Hannah mengerjap kaget. "He-hei…kartu kredit siapa yang kau pakai itu? Kau mencuri milik orang tuamu ya?" tuduh Hannah.

"Tidak kok, ini milikku."

"Mana mungkin bocah macam kau…"

"Ini kartu kredit anda, Trancy-sama." Ucap sang petugas cashier yang membuat Hannah tercengang.

"T-Trancy?" ulang Hannah.

"Ayo pergi, mau pulang atau main kemana lagi?" tawar Alois.

"Tu-tunggu tunggu. Siapa namamu, bocah." Ucap Hannah.

"Ah, iya. Aku belum memperkenalkan diri, padahal sudah jalan sejauh ini. Hehehe" cengir Alois. "Namaku Alois Trancy. Salam kenal…"

Gulp! Hannah membeku di tempat.

'T-Trancy?' batin Hannah. 'Perusahaan terkenal itu? Perusahaan besar yang bahkan bekerja sama dengan Phantomhive company? Apa bocah ini putra dari pemilik perusahaan itu?'

"E…umm…A-Alois…?"

"Ya?"

"Umm...ehm!" Hannah memasang kembali expresi arrogant nya. "Permintaan maafmu belum sepenuhnya kuterima. Kau baru akan kumaafkan kalau kau mau mengajakku shoping." Ucap Hannah. 'Biar kumanfaatkan sekalian bocah kaya ini.' Pikir Hannah.

Jiiiitt…

'Lo mau morotin gue?' batin Alois. 'Sorry aja ya, ogah banget gue nraktir lo. Liat muka lo aja eneg gue! Ah, gue bales kerjain ah…'

"Eh…tapi…" ujar Alois.

"Tapi kenapa?" Tanya Hannah.

"Temani aku dulu ke Fantasy World ya…" cengir Alois.

"A-apa? Taman hiburan? Aku tidak mau. Seperti anak kecil saja!"

"Kalau begitu shoppingnya batal." Ancam Alois. Hannah harus berpikir seribu kali untuk melewatkan acara shoppingnya.

"Ba-baiklah. Tapi jangan terlalu lama." Jawab Hannah pada akhirnya.

"Asyiiikkk…" girang Alois. 'Mampus lo…' inner Alois.

Mereka lalu pergi ke Fantasy World. Dan baruuu aja masuk, Alois langsung menyeret Hannah menaiki roller coaster.

"Yuhuuuu…" seru Alois riang selama menaiki roller coster, lain dengah Hannah yang menjerit-jerit ga-je. Begitu turun dari wahana itu, Hannah langsung mual-mual. Alois mengajaknya duduk di salah satu bangku taman yang tak jauh dari wahana roller coaster.

"Dasar bocah sialaaann..!" omel Hannah. "Make up dan penampilanku hancur gara-gara naik wahana satu itu!" Hannah langsung mengeluarkan alat-alat kosmetik dan mulai memoles wajahnya. Alois hanya menatap jijik, untung Hannah nggak lihat.

"Oia, kubelikan ice cream ya…supaya lebih tenang." Tawar Alois.

"Apa? Lagi? Aku tidak…"

"Tenang, kali ini aku tidak akan menumpahkannya." Ujar Alois yang sudah berlari menghampiri tukang ice cream.

"Dasar bocah itu." Gerutu Hannah.

Tak berapa lama kemudian, Alois kembali dengan membawa dua ice cream di tangan kirinya, sementara di tangan kanannya…what? Apa tidak salah? Balon berbentuk love?

Hannah yang melihatnya sedikit tersentak, apalagi saat Alois menyodorkan balon itu padanya.

"Untuk Hannah…" senyum Alois begitu manisnya.

"Te-terimakasih…" tak ayal Hannah memalingkan wajah dengan pipi sedikit merona.

"Ini ice cream nya." Alois memberikan salah satu ice cream di tangannya.

"Terimakasih…" ucap Hannah sekali lagi dan hanya tertunduk sambil memandangi ice cream dan balon di tangannya. Sementara Alois sudah mulai menjilati ice cream nya.

"Kenapa? Tidak suka rasa strawberry?" Tanya Alois.

"Su-suka kok…" Hannah menjilat ice cream nya lalu menatap Alois. Ia lalu tersenyum lembut.

"Ada ice cream di pipimu…" senyum Hannah dan mengusap pipi Alois lembut. Alois sedikit heran juga akan sikap Hannah, tapi males lah buat nanya… "Hei, Alois. Setelah ini mau naik apa?"

"He…?" Alois heran sekaligus cengok. Kok Hannah jadi baik.

"Bagaimana kalau Ferris Wheel?"

"Ha?" Alois makin cengok. Ferris Wheel kan biasanya dinaiki oleh sepasang kekasih dan biasanya mereka akan berciuman saat mencapai puncak tertinggi?

"Kau tidak takut ketinggian kan? Ayo naik Ferris…"

"Cukup, Hannah!" potong seseorang. Alois dan Hannah menoleh, terkejut saat melihat Claude berdiri di hadapan mereka. Alois melirik ke belakang dimana Kuroshitsuji minus Claude plus Ciel terikat dengan nistanya di dekat pohon. Oke! Tampaknya Claude berhasil meloloskan diri dan bahkan membalikkan keadaan untuk membantai teman-temannya itu.

"Ayo pergi! Dan kau Alois, pulanglah. Ini sudah sore." Claude menyeret Hannah berdiri meski Hannah sedikit berontak.

Alois terkejut. Claude marah? Jadi Claude benar-benar serius menyukai Hannah? Dan dia cemburu karena Alois mengajaknya pergi? Alois benar-benar kecewa, juga sedih, ia rasa hatinya telah robek untuk yang kedua kali.

"Aku tidak mau, lepaskan aku!" Hannah berontak dan berhasil melepas cekalan Claude. "Memangnya apa hak mu? Suka-suka aku mau jalan sama siapa!"

"Ya! Kecuali dia!"

Eh? Alois, Ciel, dan member Kuroshitsuji lainnya cukup terkejut dengan jawaban Claude. Jadi maksud Claude adalah…

"A-apa maksudmu?" Tanya Hannah.

"Aku…aku tidak tahu. Tapi aku merasa tidak suka kau merebutnya dariku." Ucap Claude sambil menutup mulutnya sendiri dengan punggung tangan, meski begitu, semburat merah masih bisa terlihat di pipinya. "Yang dia sukai itu AKU!" lanjut Claude yang makin memperjelas argument Kuroshitsuji. Wajah Alois juga jadi merona karenanya.

"A-apa…? Ja-jadi kau…" ucap Hannah terbata. Ia menyadari apa maksud ucapan Claude. Tapi…ada sedikit rasa tidak rela di hatinya yang entah kenapa muncul. "Tidak bisa! Memangnya kau pacar Alois? Aku juga…"

"Ya! Aku pacarnya!" bantah Claude.

Deg!

Mata Alois terbelalak, rona di wajahnya kian jelas saja.

"Ap-apa?" Hannah terbata. Dia kelabakan sebentar lalu… "Agh!" raungnya lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Claude masih mematung selepas kepergian Hannah. Ia sama sekali tak berbalik ke arah Alois atau ke arah teman-temannya. Pokoknya jangan ada yang melihat expresi wajahnya saat ini.

Alois juga masih mematung, hingga ia mengerjapkan matanya beberapa kali dan menatap sosok di hadapannya. Ia lalu nyengir lebar dan langsung menubruk Claude dari belakang.

"Jadi Claude menerimaku? Yeeeeeeeyyyy….!" Girang Alois dan mempererat dekapannya pada tubuh Claude.

"Si-siapa bilang aku menerimamu!" ucap Claude.

"Tadi kau bilang begitu."

"Aku hanya mengatakan itu untuk mengelak dari Hannah. Aku tidak…"

"Lalu kenapa tidak suka aku bersama Hannah?"

"I-itu…itu…karena kau biasanya berisik mengejarku. Dan…"

"Dan kau tidak suka kalau aku tidak melakukannya lagi? Itu tandanya Claude suka aku kan…" ucap Alois tanpa sedikitpun senyumnya redup.

"Sudah kubilang…"

"Sudahlah Claude, akui saja…" ucap William yang disambut 'suit…suit…' dari yang lainnya. Entah sejak kapan mereka bebas dari jeratan maut Claude.

"Aku…aku hanya tidak suka kalau fans ku berkurang meski hanya satu." Claude masih berusaha mengelak.

"Oya?" Alois melepas dekapannya lalu melangkah ke hadapan Claude supaya bisa menatap wajahnya. Claude tampak tersentak lalu memalingkan muka dengan wajah sedikit merona. "Hihihi sudahlah. Ayo ke Ferris Wheel…" semangat Alois dan langsung menyeret Claude ke wahana yang satu itu, ngacangin Kuroshitsuji.

Di dalam Ferris Wheel, Claude memilih bangku yang berseberangan dengan Alois. Tatapannya juga tertuju ke pemandangan di luar sana, tak berani menatap Alois.

"Claude, sebentar lagi mencapai puncak lho…" ucap Alois.

"Lalu apa?"

"Cium. Katanya kalau sepasang kekasih berci-…"

"Sudah kubilang kita bukan sepasang kekasih." Claude beralih menatap Alois. Alois terdiam, sebenarnya sedikit kecewa, tapi ia sudah tidak mau lagi mengejar Claude. Ia ingin mendapatkannya secepat mungkin, sekarang juga.

Alois melangkah mendekati Claude, dan dalam satu gerakan cepat, ia mempersatukan bibirnya dengan bibir Claude. Tapi baru beberapa detik, Claude langsung melepaskannya.

"Kenapa sih?" Tanya Alois. "Bukankah tadi Claude yang bilang sendiri kalau Claude suka aku?"

Claude terdiam untuk beberapa lama, lalu menjawab…"Aku hanya…takut menyakitimu." Lirihnya.

"Apa maksud Claude? Mana mungkin aku terluka kalau bisa bersama orang yang kucintai!" tegas Alois.

"Aku masih mencintai Sebastian!" sentak Claude yang sontak membuat Alois membeku. "Kau tahu itu kan?" terdiam sejenak. "Aku terlalu mencintainya. Sangat mencintainya. Tidak mudah bagiku untuk melupakannya begitu saja."

Alois memundurkan tubuhnya dan kembali duduk di bangku seberang Claude.

"Aku…memang mulai menyukaimu." Lanjut Claude. "Tapi aku belum sepenuhnya bisa mencintaimu. Dan aku ingin menerimamu kalau aku sudah benar-benar melupakan Sebastian saja. Aku tidak mau kau terluka lebih jauh lagi karena aku."

"…" Alois menatap Claude tajam. "Kalau kau ingin menerimaku setelah melupakan Sebastian, lalu kenapa kau melarangku dekat dengan Hannah? Memangnya kenapa kalau aku dekat dengan orang lain? Mungkin saja aku bisa melupakanmu, sama seperti kau yang ingin melupakan Sebastian." Sindir Alois kasar.

"Aku…"

"Aku bukan benda mati Claude. Aku punya hati yang bisa hancur kapan saja, aku juga punya kaki yang bisa lelah untuk mengejarmu. Karena itula-…Hmmph…!" ucapan Alois terpotong saat tiba-tiba Claude menciumnya, juga menahan kedua tangannya di dinding kaca. "Ahh~…hahh…hahh…mmmnnh…" baru saja Alois menarik nafas setelah melepas ciuman, Claude sudah kembali menciumnya. Cukup lama, hingga Claude melepas ciuman itu dengan sendirinya, tapi wajah mereka masih begitu dekat.

"Bila saat itu tiba…" ucap Claude. "…aku yang akan mengejarmu."

Mata Alois terbelalak.

"Beri aku waktu. Sedikit saja. Aku akan segera mengubur semua kenangan tentangnya." Lanjut Claude. "Sampai saat itu tiba, teruslah mengejarku. Tapi jika kau berhenti dan berbalik menjauhiku, maka aku yang akan mengejarmu. Dan kupastikan aku akan mendapatkanmu."

Tepat setelah itu, Ferris Wheel terhenti dan pintunya terbuka. Claude berjalan keluar dari Ferris Wheel, sementara Alois masih disana. Terdiam untuk mencerna kata-kata Claude. Tapi beberapa detik kemudian, sebuah senyum terkembang di wajah Alois.

"Itu namanya egois!" sentak Alois.

Claude berhenti melangkah. "Ya, aku memang egois." Jawab Claude. "Dan kau menyukai orang egois ini." Senyumnya yang tentu saja tidak bisa Alois lihat karena posisinya yang membelakangi. Tapi entah bagaimana Alois yakin kalau Claude tersenyum. Ia pun tertawa senang lalu berlari ke arah Claude.

"Hahahaha begitu ya. Hei, nanti malam traktir aku candle light dinner ya…" goda Alois dengan kedua tangan terlipat di belakang kepalanya.

"Tidak."

"Hei, ayolah…"

"Hn…"

"Hn artinya iya."

"Hn…"

"Iya kan? Berarti traktir aku makan."

"Hn…"

"Claudddeee…..!" raung kesal Alois dihiasi suasana sunset yang menenangkan.

~ To be Continue ~

.

.

.

Mohon maaf kalo banyak typo.

Mind to Review?