Desclaimer : Yana Toboso

Hueeeee update kali ini luama buanget gara-gara komputer gue rusak ToT dvd jg rusak pula *hajar kakak gue yg suka ngrusak* menderita banget deh gw akhir2 ini. Hiks...Baru aku tahu, gak bisa nulis fic sebegini menderitanya. Ide udah di otak tp gak bisa ditulis hiks...T-T

Reply review :

#buat deleted account - nn : huaaaa saia lupa nama kamu,maap. Tapi kok akun kamu di hapus? Kenapa? Dan gw jg ru tau kalo akun bs dihapus *katrox* kalo kapan2 mampir di fict ni, ni blsan review u yg kemaren. Hehe iya, coz disini lg pd bkin jealous si, nanti diperbanyak deh XD oh, chap ni saia usahain lucu. Kalo gak lucu ya...selamat menimpuki selera humur saia yg dangkal wkwkwkwk thax for read and review...

#Makasih buanyak buat dEviLune Michaelis, Rahel-chan Mikaerisu, Ciel-Kky30, blue0jewel, Kaito Mine, hana-1emptyflower, Aihsire Atha, VNRSKuroba1412, Ravincy Aloisa Phantomhive, and matryoshka56. Makasih banyak read reviewnya :D

# buat Guest : makasih, lain kali kuperbanyak adegan mereka hehehe XD makasih semangat, read and reviewnya ya...:D

#inarizushi : heee? Bisa2nya km gregetan ma claude #plaaak# hohoho tentang SebbyGrell masih rahasia, buka2an rahasianya nanti deh kalo uda ada even yg tepat XD oh, maksudnya crimpos itu matanya Sebby, bukan rambutnya. Matanya sebby pan merah. Aku lebih suka nulis crimson dr pd raven, coz raven kyknya udah pasaran gitu #kayak critanya gak pasaran aja -_-# yoo ini update, makasih read reviewnya :D

Chapter 11 : That Butler, Get Going.

.

.

.

"Aku masih mencintai Sebastian! Aku terlalu mencintainya. Sangat mencintainya. Tidak mudah bagiku untuk melupakannya begitu saja."

"…"

"…aku ingin menerimamu kalau aku sudah benar-benar melupakan Sebastian saja. Aku tidak mau kau terluka lebih jauh lagi karena aku."

"…"

"Kalau kau ingin menerimaku setelah melupakan Sebastian, lalu kenapa kau melarangku dekat dengan orang lain?"

"…"

"Aku bukan benda mati Claude. Aku punya hati yang bisa hancur kapan saja, aku juga punya kaki yang bisa lelah untuk mengejarmu. Karena itulah…"

"Bwaaahh!" Claude tersentak dari tidurnya dan langsung duduk. Nafasnya tersengal. Apa-apaan mimpi tadi? Bukan, bukannya Claude tidak ingat, ia ingat betul kalau mimpi tadi adalah record percakapannya dengan Alois beberapa waktu lalu, hanya saja…Claude heran mengapa mimpi itu hadir dengan bayangan yang sangat nyata…Seakan hal itu baru saja terjadi.

Claude menghela nafas panjang sambil mengusap seluruh wajahnya hingga kepala, sejenak…ia tertunduk dalam diam. Hingga ia mengulang kata-katanya waktu itu.

"Beri aku waktu. Sedikit saja. Aku akan segera mengubur semua kenangan tentangnya." Lirih Claude. Ia kembali terdiam, hingga beberapa saat kemudian tatapan matanya berubah tajam dan iapun segera turun dari ranjang.

"Tunggu saja, Alois. Aku pasti akan segera melupakannya." Tegas Claude sambil menyusuri koridor yang gelap.

~ OoooOoooO ~

Pppfffttt…!

"Uaapppaaaa….?" Bocah blonde itu menyemburkan makanan yang berada di mulutnya, ekspresinya menunjukkan keterkejutan yang luar biasa.

"Ada apa Alois?" Tanya si bocah berambut kelabu padanya. Si blonde—Alois Trancy—yang ditanya malah meletakkan telunjuknya di bibir, menyuruh si bocah kelabu diam dulu. Alois kembali menempelkan HP ke telinga. "Kau serius, Sebastian?" Tanya Alois pada si penelfon.

"Iya, aku serius." Jawab Sebastian. "Kami sudah tidak bisa mencegahnya. Kupikir kau akan bisa, jadi diam-diam aku menelfonmu."

"Ba-baiklah, aku segera kesana. Kau tahan dia ya…"

"Iya baiklah, aku akan mencoba mengulur waktu. Cepat ya…"

Klap!

Alois menutup telfon dan bergegas memakai jaz sekolahnya.

"Ada apa, Alois?" ulang si bocah kelabu.

"Gawat Ciel, kita harus segera ke dorm Kuroshitsuji." Ujar Alois pada si bocah kelabu—Ciel Phantomhive—.

"Memangnya ada apa?" Ciel melihat jam tangannya. "Ini sudah hampir masuk lho…"

"Tapi ini benar-benar gawat lho Ciel…"

"Iya, tapi gawat kenapa?"

"Claude…"

"Claude…?"

"Dia…"

"Dia…?"

Gluk! Alois menelan ludah berat.

"Mau keluar…dari Kuroshitsuji."

Hening…tampaknya Ciel sedang berusaha mencerna perkataan Alois.

"Uaapppaaaa….?" Kini giliran Ciel yang histeris, ngebuat Alois sweatdrop sekaligus ngebuat seisi kantin menutup kupingnya sekali lagi. "Kalo ini sih benar-benar gawat! Ayo cepat kesana."

"Ayo!"

Dan kedua bocah ini pun bergegas keluar dari kantin sekolah tanpa peduli pelajaran berikutnya. My my…anak baik dilarang meniru.

Di sisi lain. Dorm Kuroshitsuji.

Drap…drap…drap…

Pemuda ber-iris crimson itu—Sebastian Michaelis—berjalan cepat menuju sebuah kamar. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya mengetuk pintu kamar itu.

"Come in." sahut si pemilik kamar.

Sebastian pun melangkahkan kakinya memasuki kamar tersebut, dan mendapati sang pemilik kamar tengah menge-pack barang-barangnya.

"Ehm, C-Claude…kau yakin, tidak akan berubah pikiran?" ujar Sebastian.

"Hn…" sang pemilik kamar—Claude Faustus—hanya bergumam sebagai jawabannya.

"Tapi hei, ayolah…kenapa kau melakukan ini?"

Claude menghela nafas lelah, lalu menghentikan kegiatannya sejenak. "Sudah kubilang, kalau aku tetap disini, sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa melupakan perasaanku terhadapmu." Claude melanjutkan pekerjaannya yang tertunda—mengepack barang—. "Lagipula aku bukan keluar dari Kuroshitsuji, hanya break sementara saja sampai aku bisa sedikit melupakanmu."

"Yeah…tapi kan tidak harus begini."

Claude memutar bola matanya jengah, lalu menyampirkan jacket di tangannya lalu menarik kopernya turun dari ranjang. "Penerbanganku satu jam lagi, aku harus ke bandara sekarang." Ujar Claude dan menyeret kopernya menuju pintu.

"Cla-Claude, tunggu…" Sebastian mencegah Claude sebelum Claude membuka pintu, seakan berharap sesuatu muncul dari sana untuk membantunnya menahan kepergian Claude. "A…e…ano, kau yakin sudah tidak ada yang tertinggal?"

Claude menoleh dan memberikan deathglare terbaiknya pada Sebastian.

"Err…maksudku, foto kita mungkin?" lanjut Sebastian asal.

"Aku pergi untuk melupakanmu. Aku justru harus membuang foto semacam itu." jawab Claude.

"Umm…yeah. Lalu bagaimana dengan sikat gigi?"

"Sudah kubawa."

"Handuk?"

"Sudah."

"Penggaruk punggung?"

"…" -_-" *sweatdrop*

"Atau cuttonbud, kau sudah bawa cuttonbud?"

Twitch!

Claude membalikkan tubuhnya dan menatap Sebastian dengan muka horror. "Apa maumu huh?"

"Hehe…bu-bukan apa-apa…" elak Sebastian.

"Kalau begitu BIARKAN-AKU-PERGI-DENGAN-TENANG!" sentak Claude. Sebastian sweatdrop, ucapan Claude seperti ucapan untuk orang mati saja. Claude berbalik dengan cool-nya, menggenggam pegangan koper dan berjalan menuju pintu, lalu…

BRAKKK!

"Yohoooo…apa kabar semua? Aku datang kesini untuk menghibur dengan cerita ngawur semoga anda tidak kabur karena aku akan menghibur dengan cerita yang agak ngawur dan janganlah anda kabur karena saya akan menghibur dengan…" celoteh Alois yang niru-niru pantun di salah satu acara komedi yang tengah popular, meski bisa dikatakan tiruannya gagal total. Meskipun demikian, hal itu cukup membuat Claude membatalkan langkahnya karena ke-cool-lannya tadi hancur sudah dengan adegan mukanya tercium daun pintu.

Lain dengan Sebastian yang seakan inner-nya mengatakan 'banzaaii…' karena bantuan sudah datang.

"Kau…" geram Claude sambil memegangi mukanya.

"He? Claude, kau mau kemana?" rupanya Alois memakai taktik 'pura-pura tidak tahu' saat melihat koper yang ada di genggaman Claude.

"Bukan urusanmu." Jawab Claude ketus. "Lagipula mau apa kalian disini? Bukannya ini masih jam sekolah?" Tanya Claude, merujuk pada Alois dan Ciel—yang diam saja di belakang Alois—.

"Huh, aku juga tidak mau kesini, tapi Ciel memaksaku." Acting Alois, yang sedikit banyak ngebuat Ciel tidak terima.

"Memangnya kenapa Ciel memaksamu?"

"Dia menagih janji soal 'traktiran bulan madu' dari taruhan kita waktu itu. Waktu itu kan kita taruhan, kalau sudah ada pasangan yang tidak bertepuk sebelah tangan lagi, yang kalah harus mentraktir bulan madu." Terang Alois yang semakin memperjelas ekspresi 'tidak terima'nya Ciel.

"Aku tidak ingat pernah menyetujui taruhan itu. Bukannya waktu itu Sebastian juga menolaknya mentah-mentah? Iya kan, Sebastian?" Claude menoleh ke arah Sebastian yang malah nyengir kuda.

"Aku sangat setuju kok." Ujar Sebastian dengan watados-nya.

Twitch! Sebuah kedutan besar kembali bersarang di dahi Claude. Sepertinya dia disudutkan.

"Ah, sudahlah, tunggu apa lagi. Ayo berangkaaat…" semangat Alois dan langsung menyeret Claude—beserta kopernya—pergi.

~ OoooOoooO ~

Mereka pergi menggunakan jet pribadi Alois. Alois sengaja duduk di kursi yang berhadap-hadapan dengan Claude, sementara Ciel dan member Kuroshitsuji yang lain dengan sukarela mengusir diri ke bangku lain. Toh pesawatnya cukup besar.

Alois meletakkan kepalanya di atas meja dengan mata tetap memandangi Claude yang tampak cuek melihat ke luar sana.

"Claude…" panggil Alois pada akhirnya. Claude hanya melirikkan matanya sebagai respon. "Tadi kau mau pergi kemana sih? Mau apa?"

"…" terdiam sejenak. "Aku bermaksud pergi untuk melupakan Sebastian." Jujur Claude.

"Wah! Kau pergi demi aku!" Alois berdiri dengan semangatnya, ke Pe-De an dengan mata blink blink, sementara Claude hanya bisa illfeel. "Aish…tapi kenapa harus pergi?" Alois kembali duduk, kali ini memasang muka sok sedih.

"Kalau aku terus bersama Sebastian, bagaimana bisa aku melupakannya?" Claude beralih menatap Alois.

"Bisa kok." Senyum Alois. "Buktinya aku bisa membuatmu mulai menyukaiku tanpa harus menjauhkanmu dari Sebastian. Jadi…aku pasti bisa membuatmu melupakan Sebastian tanpa kau harus menjauh darinya kan? Hehe…" cengir Alois.

"…" terdiam sejenak, Claude tersenyum tipis. "Ya…" ujarnya kemudian. "Ngomong-ngomong…kita mau kemana sih?"

"Ah, itu…hehe, ada deh…" Alois sok misterius.

Beberapa jam kemudian.

"Jeng…jeng…ini dia…Tempat paling indah untuk berbulan madu." Semangat Alois. Sementara teman-temannya berdiri mematung dengan tatapan sweatdrop * angin dengan sebuah daun yang diterbangkan oleh angin tersebut.*

"Ini kan hanya pantai."

"Ya, hanya pantai biasa."

"Meskipun pemandangannya amat sangat bagus, tapi ini memang pantai."

"Ya, pantai dengan pasir putih ynag indah. Tapi hanya pantai."

"Bukannya Alois tidak bisa berenang? Kenapa dia suka sekali pantai?"

"Ya, memang ajaib. Ckckck…sungguh, ini hanya pantai."

"Ya, benar-benar pantai."

"Kau tahu, pan-tai."

"Pa-an-ta-ai…"

"P-a-n-t-a-i."

"Hei, sudah cukup! Jangan mengomentari pulau-ku dengan komentar tidak bermutu kalian!" omel Alois.

"Pulau-mu?"

"Pulau pribadi-mu?"

"Sungguhan pulau?"

"Benar-benar-benar pulau?"

"Jadi ini pulau? Bukan hanya pantai(?)"

"Ha? Pu-lau? P-u-l-a-u…? Pu…"

"Sudah cukup." Cegah Alois sebelum teman-temannya mengoceh lebih aneh lagi. "Ayo masuk, setelah itu baru kita main. Hehe." Alois membawa mereka memasuki sebuah rumah panggung yang cukup besar dan seluruhnya terbuat dari kayu. "Disini hanya ada 3 kamar. Sepertinya kalian sudah tahu bagaimana pembagiannya. Kukuku." Alois ketawa setan. "Ayo Claude." Alois langsung menyeret Claude ke salah satu kamar. "Tadaa…ini kamar kita. Sekamar berdua jadi benar-benar seperti suami istri ya…"

Bletak!

Sebuah jitakan mendarat di kepala Alois.

"Memangnya kau mau jadi istri dan melahirkan anak?" dengus Claude.

"Untuk Claude, aku sih tidak keberatan. Ahh…" Alois berpose genit sambil memonyongkan bibirnya. "Ah, sebagai istri yang baik aku harus memasak untukmu." Cetus Alois. "Baiklah, aku akan memasak. Kau dan yang lainnya main saja. Ciao…" Alois bergegas keluar kamar tanpa bisa dicegah, ia juga menyeret Ciel ikut ke dapur.

"Mereka mau apa?" sweatdrop Sebastian.

"Katanya mau masak." Ucap Claude.

"Waah, aku memang sudah lapar." Semangat William.

"Sambil menunggu, kita ke pantai saja. Ayo." Ajak Undertaker.

"Aku mau mandi saja." Ucap Grell, dan ketiganya pun pergi. Meninggalkan Sebastian dan Claude yang berwajah datar.

"Kau tahu Claude, sejujurnya aku agak khawatir dengan masakan mereka." Ujar Sebastian datar.

"Ya, aku juga." Jawab Claude, dan keduanya langsung menuju dapur.

"Ciel. Ayo kita tunjukkan kehebatan kita sebagai istri." Ucap Alois sambil memegang sebuah kol besar.

"Istri?" ujar Ciel agak sanksi.

"Iya." Alois meletakkan kol itu di telanan dan mengangkat pisau tinggi-tinggi. "Kita buat masakan special untuk mereka." Crash! Alois mengayunkan pisaunya dan crash crash crash! Memotong-motong kol itu dengan biadab, saking random-nya sampai tak berbentuk. Setelah itu Alois memasukkan semua kol ke dalam baskom besar, menambahkan 5 sendok garam, 3 sendok merica bubuk, sebotol bubuk cabai dan gula cair kedalamnya, lalu memasukkan baskom itu ke dalam…oven! Dan segera menutup pintu oven lalu menekan tombol on.

"Yatta…masakan ini pasti enak." Sorak Alois sementara Ciel hanya menatap horror.

"Hn…kunamai apa masakan ini ya?" Alois tampak berpikir. "Bagaimana kalau tasty cabbage for my lovely Claude."

"Kurasa lupakan saja!" seru Ci-…, ah, rupanya bukan hanya Ciel, melainkan Sebastian dan Claude juga.

"Eh? Claude? Ah, ngapain di dapur? Nanti masakannya jadi tidak surprise dong…" ucap Alois.

"Sudahlah, biar kami saja yang masak." Ujar Sebastian. "Kalian main saja."

"Tapi kami ingin masak untuk suami kami. Iya kan Ciel?" bela Alois.

"Tidak juga." Jawab Ciel datar.

"Sudahlah, biar kami yang masak. Aku tidak yakin masakanmu bisa dimakan." Ujar Claude.

"Ah, ya sudahlah. Ayo Ciel…" ajak Alois. "Oia…" Alois berhenti sebelum keluar dari dapur. "Jangan lupa nanti buka oven-nya ya…jangan sampai masakanku gosong. Seperti pemula saja."

Dweeng…

Sudahlah, lupakan saja. =_="

Setelah kepergian dua bocah aneh itu, dua cowok cakep pentolan Boyband Kuroshitsuji ini masak dengan sempurna layaknya seorang koki professional.

"Hm…sempurna." Gumam Sebastian sambil mencicipi masakannya. Tanpa ia sadari, Claude mencuri pandang ke arahnya, dan perlahan…

Grep!

Claude melingkarkan tangan kirinya ke pinggang Sebastian, sementara tangan kanannya memegang sendok sayur yang barusan dicicipi oleh Sebastian.

"Claude, apa yang…"

"Hanya ingin mencicipi masakanmu." Claude membawa sendok sayur itu ke mulutnya. "Enak."

"Yeah, tapi lepaskan tanganmu ini. Bagaimana kalau…"

"Bukannya ini salah mereka sendiri?" bela Claude.

"Eh?" bingung Sebastian.

"Aku sudah mau pergi tapi mereka menahanku, itu sama saja mereka mengizinkan aku bersamamu kan?"

"A-apa? Hei Claude, maksud Alois pasti bukan seper-…"

"Ssstt…" Claude mengangkat dagu Sebastian. "Diamlah, dan pejamkan saja matamu…" perlahan Claude mendekatkan bibirnya ke bibir Sebastian.

"Claude! Henti-…"

Bukk!

Sebastian speechles saat sebuah bola volley mendarat ke wajah Claude.

"Ah, maaf, tidak sengaja." Cengir Alois dari luar jendela. Meski bilang tidak sengaja pun, siapa saja pasti tahu kalau itu disengaja. Memangnya ada bola volley yang nyasar dari halaman ke dapur?

Sementara Claude membeku dengan wajah horror dan Alois nyengir kuda, member Kuroshitsuji lainnya tampak sedang menahan tawa.

~ OoooOoooO ~

"Waaah...enak, nyam..." komentar Alois sambil menyantap makan malamnya.

"Tentu saja, masakan mereka berdua memang paling enak." Komentar Undertaker sambil mengunyah.

"Hei, Ciel. Nanti kalau kau menikah dengan Sebastian, kau bisa makan enak setiap hari haha..." komentar William yang sontak membuat Ciel tersedak dan blushing hebat.

"Ya, tentu saja. Aku akan masak untukmu setiap hari, Prince." Tambah Sebastian yang tentu saja tidak memperbaiki keadaan.

"Cuih! Enak saja, yang akan menikah dengan Sebastian adalah aku!" protes Grell sambil menggigit makanannya sampai memenuhi mulut.

"Jangan mimpi!" sentak yang lainnya.

"Ehm, Claude. Apa kalau nanti kita menikah, kau juga akan masak untukku?" ujar Alois.

Krik...krik...

Claude sama sekali tidak menjawab. Dari raut muka horrornya dapat diketahui kalau ia masih kesal dengan kejadian sore tadi.

"Ah, ya sudah, tidak jadi saja." Ucap Alois dengan tatapan yang tak kalah beku dari yang lainnya saat melihat respon Claude. "Hei, bagaimana dengan masakanku tadi? Kau membukannya dari oven kan, Sebastian?" tambah Alois.

"Ehm, maaf Alois. Sudah dibuang..." sahut Sebastian datar.

"Uappaaaa!" Shock Alois.

"Hei, jangan marah padaku. Bukan aku yang membuangnya." Bela Sebastian. Alois menatap Claude dengan mata sok berkaca-kaca.

"C-Claude...kau tega. Hiks..." ucap Alois lebay.

"Makanan seperti itu sama sekali tidak bisa dimakan!" jawab Claude sadis. "Anjing pun tidak akan sudi memakannya."

"Huueeee...Claude jahat, Claude jahaaattt..." Alois pura-pura nangis sambil gegulingan di lantai.

"A-Alois, sudah cup...cup..." khawatir William, mencoba menenangkan Alois. Sementara Ciel yang sudah tahu tabiat Alois hanya sweatdrop.

"Hei Claude, tanggungjawab nih!" ucap William.

"Apa?" sindir Claude.

"Kata-katamu tadi keterlaluan tahu. Seharusnya kau menghargainya sedikit." Undertaker ikutan ceramah.

"Baiklah! Aku harus apa!" kesal Claude.

"Nah Alois, kau ingin apa dari Claude?" seringai Undertaker. Lho? Kenapa Undertaker yang menyeringai?

"Hiks...au mau atan hiks...uapin...Claude." Isak Alois.

"Apa?" tanya yang lainnya serempak karena tak mengerti bahasa bayi Alois.

"Ahh...aku tahu!" cetus Grell dengan lebay nya.

"Apa?" kini giliran pertanyaan itu yang ditujukan untuk Grell.

"Kau ingin ehm ehm...dengan Claude kan?" Grell mengedipkan matanya genit.

"Iya benaaaarrr..." semangat Alois yang padahal sama sekali tak menangkap maksud Grell. Sontak yang lain langsung mimisan berjama'ah, kecuali Claude yang hanya tersedak dan langsung ambil minum.

"Kyaaa kalau begitu ayo kita pergi. Biarkan mereka berdua hohoho" girang Grell.

"E-eh? Ta-tapi..." William agak keberatan, takut kalau ini hanya salah paham.

"Sudah sudah, ayo cepaaat..." Grell langsung menarik Undertaker, William, Sebastian dan Ciel pergi, meski jangan tanya berapa tangan Grell sehingga ia bisa menarik 4 orang sekaligus.

Krik...krik...krik...

Tinggallah Claude dan Alois dalam hening.

"Kok mereka pergi?" bingung Alois.

"Gara-gara kau, baka!" ujar Claude datar sambil menyesap minumannya.

"Apa sih? Aku kan Cuma bilang ingin disuapi oleh Claude?"

"Dan mereka pikir kau ingin ML denganku." Ucap Claude tanpa sensor.

"Uapppaaaa?" otak Alois langsung conect kalau soal beginian.

Dan untuk waktu berikutnya, suasana kembali hening.

"Ung...Claude?" akhirnya Alois si hyperaktif yang gak bisa diam barang sesaat, angkat suara. "Bagaimana kalau kita benar-benar melakukan 'itu'."

Pfffttt...!

Claude langsung menyemprotkan minumannya tanpa peduli image cool-nya hilang.

"Habis, daripada diam-diaman begini. Lagipula kita sekarang Cuma berdua." Tambah Alois, melipat tangannya di belakang kepala, pose santai.

"Jangan bicara yang tidak-tidak." Ucap Claude datar sambil mulai memberesi meja makan.

"Apanya yang tidak-tidak? Bukankah kalau aku ML denganmu, aku sepenuhnya menjadi milikmu?"

"Diamlah, kau tidak tahu apa yang kau bicarakan." Claude tetap cuek.

"Aku tahu kok. Aku juga ingat kalau ada ungkapan yang mengatakan kalau cinta datang sesudah sex!" Nada bicara Alois mulai meninggi.

"Sudah kubilang, kau tidak tahu apa yang kau bicarakan." Claude menghentikan kegiatannya demi menatap mata Alois yang terlihat serius. "Ungkapan itu...hanyalah omong kosong!" tegas Claude.

Ya, tentu saja. Karena Claude telah merasakannya sendiri. Dan Sebastian sama sekali tak jatuh ke pelukannya.

"Tapi Claude...kita bisa...mencobanya..." ujar Alois, sedikit tertunduk dan blushing.

"..." Claude terdiam, lalu perlahan mendekati Alois, jemarinya terulur untuk mengangkat dagu bocah blonde itu. "Kau mau mencobanya?" tantang Claude, sekedar untuk menggertak.

"Ya!" Jawab Alois pasti.

"Kau…jangan menyesal, bocah!" dan seusai berucap demikian, Claude langsung meraup bibir Alois, menciumnya dengan ganas.

"Mnnnhh…" Alois mengerang saat lidah Claude memaksa masuk ke mulutnya. Mereka berciuman cukup lama, hingga pasokan udara menipis, barulah Alois mendorong dada Claude sebagai isyarat untuk melepas ciuman.

"Haah…ha~ah…" Alois menghirup nafas sebanyak mungkin. Claude kembali mendekatkan bibirnya, namun tiba-tiba…

Gusrak!

Terdengar suara debaman dari luar jendela. Claude dan Alois langsung cengok.

"Tebakanku benar, mereka bukannya pergi tapi mengintip." ucap Claude yang tahu tabiat teman-temannya, ia mencium Alois tadi hanya untuk memancing mereka.

Claude dan Alois menghampiri jendela dan melihat keluar, tepat dimana tiga orang bodoh tampak jatuh dengan posisi saling bertindihan dan merintih satu sama lain.

"Nah, benar kan." Ucap Claude.

"A-hai…hahaha…" ujar William dan segera bangkit diikuti Undertaker dan Grell.

"Kalian sedang apa? Tanya Alois.

"A…uh…ano, tadi ada…"

"Bintang jatuh! Ya, bintang jatuh. Kulihat ada cahaya jatuh di sekitar sini, jadi kami kembali." Potong Grell terhadap ucapan Undertaker.

"Bintang jatuh eh?" ucap Claude sanksi.

"Ya." Ketiganya berusaha meyakinkan.

"Eh, ngomomng-ngomong…Sebastian dan Ciel mana?" Tanya Alois yang menyadari kalau kedua orang itu tidak ada. Undertaker, William dan Grell saling pandang, lalu berteriak histeris.

"Gyaaaa jangan-jangan malah mereka yang sedang berbulan madu betulan. Ayo cepat cari mereka! Jangan sampai kehilangan scene bagus." Dan dengan itu ketiganya minggat, meinggalkan Claude dan Alois ynag jhanya bisa cengok.

Di sisi lain, Sebastian dan Ciel tengah menusuri bibir pantai sambil ngobrol ringan.

"Tempat ini indah ya…" komentar Sebastian, merujuk pada pemandangan laut yang diterangi kerlip bintang.

"Ya, disini memang indah, suasananya juga tenang. Lain dengan sisi lainnya." Jawab Ciel.

"Sisi lain?"

"Di sisi lain pulau sangat ramai, bisa dikatakan kota metropolitan. Soalnya pulau ini selain pun pulau pribadi milik Alois, juga pulau pribadi untuk bisnis perusahaannya."

"Oh, begitu…Eh, kita kesana yuk." Sebastian menunjuk sebuah batu karang besar.

"Ya…"

Mereka berdua berjalan menuju batu itu, lalu duduk di bawahnya namun di tempat yang agak tinggi supaya tidak basah oleh ai laut.

"Hum...apa tidak apa-apa kita meninggalkan Alois dan Claude berdua saja?" Ciel agak khawatir.

"Tidak apa-apa. Aku tahu betul seperti apa Claude itu. Dia tidak akan macam-macam." Jawab Sebastian santai.

"Tapi..."

"Sudahlah, daripada membicarakan tentang mereka, lebih baik bicara tentang kita saja." Sebastian menatap Ciel dengan senyumannya, Ciel yang ditatap hanya bisa blushing dan langsung memalingkan muka.

"Kau benar-benar manis." Goda Sebastian dan langsung meraup bibir Ciel. Ciel yang tanpa persiapan, tanpa sengaja membuka mulutnya dan tentu saja Sebastian langsung melesakkan lidahnya ke dalam mulut Ciel.

"Hmph...mmnnhh...mmmnn..." erang Ciel sambil berusaha mendorong tubuh Sebastian menjauh, dengan terpaksa Sebastian melepas ciumannya.

"Ada apa?" heran Sebastian dengan tampang pura-pura ngambek.

"Jangan cium tiba-tiba dong!" ucap Ciel dengan wajah blushing.

"Memangnya kenapa?"

"Aku belum sempat menarik nafas supaya..." Ciel menghentikan ucapannya, wajahnya menjadi lebih merah lagi, membuat Sebastian tergelak.

"Supaya ciumannya bisa lama?" tebak Sebastian. "Hihihi baiklah..." kikik Sebastian. "Ah, Prince, aku pinjam HP mu." Ujar Sebastian.

"Untuk apa?" Ciel mengambil HP dari saku nya. "HP mu kenapa?"

"HP ku tertinggal di rumah pantai itu." Sebastian menerima HP Ciel dan menekan beberapa tombol. "Nah, sudah siap. Sekarang cium aku prince."

"Ap-apa!" Ciel blushing lagi.

"Hehe sebagai ganti yang tadi. Kan kau yang membatalkan ciumannya, jadi sekarang cium aku." Goda Sebastian sambil mengetuk-ngetukkan telunjuknya di bibir.

"Uhh...baiklah..." Ciel pasrah, ia mendongak dan memegang kedua pipi Sebastian dengan tangan mungilnya, lalu perlahan mengeliminasi jarak wajahnya dengan wajah Sebastian.

Cup...

Bibir Ciel menyentuh bibir Sebastian, ia mengulumnya pelan, lalu...

Ckrek!

Terdengar suara tombol kamera. Ciel langsung membelalakkan mata dan melepas ciuman, lalu menatap ke arah ponsel di tangan Sebastian yang terarah padanya.

"Hehehehe aku mendapatkan foto ciuman kita." Kekeh Sebastian dan melihat layar ponsel dimana foto ciuman mereka tadi terpotret dengan sempurna. "Aku akan mengirim foto ini pada yang lain."

"Apaaa! Tidak, tidak boleh!" Ciel berusaha merebut ponsel itu dari Sebastian, tapi tentu saja kalah tinggi meskipun mereka sama-sama duduk.

"Hahaha memangnya kenapa? Kejadian langka nih kau mau menciumku prince, aku ingin semuanya tahu." Sebastian terus menekan-nekan tombol HP untuk memilih list yang akan dikirim. Tapi karena Ciel terus berusaha merebutnya, Sebastian agak kerepotan dan asal ambil nomor dari recently sending. Toh Sebastian melihat nama-nama member Kuroshitsuji disana, berarti nggak masalah dong.

"Yosh, selesesai." Ujar Sebastian setelah menekan tombol send.

"Uhh...kau keterlaluan." Manyun Ciel yang membuat pipinya kena cubitan dari Sebastian saking imutnya. "Kau kirim ke siapa saja?" Ciel merebut Hpnya lagi dan mencari di daftar sent item, melihat status pengiriman foto tadi. Tiba-tiba mata Ciel terbelalak.

"Se-Sebast..." suara Ciel tercekat.

"Ada apa Prince?" Sebastian melongok layar HP Ciel yang memperlihatkan list number yang baru saja dikirimi foto tadi oleh Sebastian. Dan mata Sebastian ikut terbelalak saat melihat satu nama tertera di list itu.

Elizabeth Ethel Cordelia Midford.

~ To be Continue ~

.

.

Mohon maaf kalo banyak typo, ngetik di warnet nih DX sangat tergoda untuk buka situs dr pd nge-check typo *dihajar*