Desclaimer : Yana Toboso

Huaaaa…akhirnya bisa update juga TOT *menangis bahagia* Masih ada yang inget ma fic ini gak ya? =_= moga aja sih masih ada yang inget and bersedia baca. Buat yang bersedia baca, makasih ya… apalagi buat yang bersedia review juga, arigato gozaimasu terimakasih banyak thankyou very much ^O^ :-D dan Maaaffff banget, kayaknya gak ada humor di chapter ini deh. Hiks…T-T entah otak saya yang stuck, atau emang kisahnya lagi gak mendukung. Yah…mau bagaimana lagi, hope you enjoy this chapter

Makasih banyak yang udah nyempetin review, here's the Reply Review :

#Guest(blue0jewel) : aish, makasih bgt ya uda mau nungguin fic ga-jeku T-T #menangis terharu. And maaaaffffffff banget update nya lama (lagi) gegara ga punya lappie nih...#author kismin XXDDD and, maaaafff lagi kalo chapter ini kayaknya gak ada humornya T-T hahaw makasih byk uda read and review ya...:-D

#Jncik : hahaha begitulah, abisnya aku suka boyband sih ^O^ ini kan fanfiction, bs bebas berimajinasi :3a apalagi kuroshitsuji ada drama musicalnya, pada nari kayak boyband kan? Makasih atas flamenya ^-^ ditunggu flame selanjutnya...

#miharu31 : iya ini update, makasih read reviewnya ^-^

#earl civon : terimakasih banyak...makasih juga read reviewnya ^_^

#sukiiii : ini lanjutannya XXDDD moga bisa mengobati setengah penasaranmu (?). salam kenal balik, makasih ya read reviewnya :D

#Kaoru-chan : iya ini lanjut, makasih banyak uda nunggu and makasih jg read reviewnya...:D

And makasi banyak yg uda nyempetin log in bwt review :

wkyjtaoris ALL / Demonic Kuroi Blue / hana-1emptyflower / Ciel-Kky30 / dEviLune Michaelis / dEviLune Michaelis / Kaito Mine / Anglo-Japanese AsaKiku-chan / No. Looking / kalhusna / Himeji Arisa / AteraAteru / Aihsire Atha / voly ichi yama / Wiwitaku / Selrine Chii / fetwelve . makasih banyak atas read reviewnya ya...:-D

Chapter 12 : That Butler, Complicated

.

.

.

Untuk beberapa waktu, ketujuh pemuda itu terdiam dengan tampang bingung. Mereka duduk mengelilingi sebuah meja dan sama sekali tak ada yang angkat suara untuk setidaknya sejak 30 menit yang lalu.

"Jadi…" ujar si golden spider memecah keheningan. "Kau tanpa sengaja mengirim foto ciuman kalian berdua pada Lizzie, tunangan Ciel?" ia mengulang pokok permasalahan yang membuat mereka saat ini terdiam seribu bahasa.

"Kau kan tidak perlu mengulang pokok masalahnya Claude," ucap si shinigami merah. "Dan lagi…" ia melirik Claude. "KENAPA KAU KELIHATAN SENANG BEGITU SIHH!" omelnya sambil nunjuk-nunjuk Claude.

"Apa terlihat begitu? Aku sedih kok," ting! Claude membetulkan kacamatanya dengan anggun.

"Sudahlah, sekarang pikirkan mau bagaimana," lerai William saat Grell tampak mau membantah lagi. "Tidak mungkin kan mencegat foto itu di jaringan, saat ini saja pasti fotonya sudah sampai."

"Kukuku menarik," ucap Undertaker.

"Apanya?" deathglare Sebastian.

"Hei Ciel, Lizzie tidak menghubungimu setelah pengiriman tadi?" Tanya Undertaker, tak menghiraukan Sebastian.

"Iya, dia tidak menelfon atau sms balik," jawab Ciel masih lesu.

"Keluarganya juga?"

"Iya."

"Itu artinya dia belum memberitahu keluarganya kan? Bagaimana kalau kau bertaruh dia mau menyembunyikan hal itu dari keluarga kalian?"

Ciel terbelalak, sama sekali tak terpikir olehnya Undertaker akan mencetuskan pemikiran gila itu.

"Ba-baka!" omel Sebastian. "Itu sama saja mengatakan kalau Lizzie akan memanfaatkan foto itu agar Ciel mau menuruti kemauannya dan sebagai gantinya dia tidak membocorkan foto itu ke keluarganya kan?!"

"He? Begitu ya?" Undertaker pasang tampang watados a.k.a wajah tanpa dosa.

"Tapi…" ujar si blonde yang dari tadi diam saja. "Aku…tidak berpikir begitu."

"Apa maksudmu, Alois?" ucap Sebastian, semua mata menatap ke arah Alois yang memang agak memisahkan diri, dia duduk di pintu yang terbuka dengan tatapan menerawang.

"Maksudku…Elizabeth tidak seburuk yang kalian kira lho…"

~OoooOoooO~

"Hahaha Lizzie, ayo kejar aku," riang si bocah pirang itu sambil terus berlari di sepanjang labirin mawar.

"Ah, Alois. Tunggu aku, rok ku kan panjang, susah buat lari," sahut si pirang yang dipanggil Lizzie. Akan tetapi bocah ber-shapphire cemerlang itu tetap berlari mengejar si blonde satunya, takut kehilangan jejak dan tersesat di labirin mawar itu.

Mata Lizzie menangkap bayangan Alois yang menikung ke kiri, ia pun mempercepat lari nya dan ikut menikung, tapi tiba-tiba…

"Kyaaa…"

Bruukkk!

Ia menabrak seseorang dan orang itu terjatuh.

"Ah, maaf Ciel, aku tidak sengaja," ucap Lizzie begitu melihat siapa yang ia tabrak, ia segera mengulurkan tangan untuk membantu si bocah kelabu itu berdiri.

"Tidak usah," Ciel menampik tangan Lizzie kasar. "Makanya kalau jalan lihat-lihat!"

"Ah, maaf, tadi aku mengejar…"

"Mengejar? Cih! Seperti anak kecil saja!" dan Ciel mendorong Lizzie dengan kasar hingga menabrak tanaman mawar di belakangnya.

"Auw…" keluh Lizzie, tapi Ciel tak mempedulikan dan melenggang pergi begitu saja. Alois yang melihatnya segera menghampiri.

"Kau tidak apa-apa, Lizzie?" Alois membantu Lizzie bangun.

"Iya, tidak apa-apa," senyum Lizzie.

"Ah, tanganmu berdarah, pasti terkena duri mawar," panik Alois.

"Tidak apa-apa, cuma luka kecil."

"Argh, Ciel keterlaluan! Akan kuha-…"

"Jangan…" cegah Lizzie. "Ano…mungkin dia memang sedang marah karena sesuatu yang lain. Dia kan tidak pernah kasar padaku."

"Iya sih, tapi kali ini dia sudah keterlaluan. Kan tidak seharusnya…"

"Elizabeth!" panggil seseorang. Keduanya menoleh, tampak Francis menghampiri mereka. "Jangan bermain terlalu jauh, nanti kalau tersesat akan merepotkan!"

"Iya ibu, maaf…"

Francis terhenyak saat melihat luka di tangan Lizzie meski Lizzie segera menyembunyikannya.

"Ano…tadi aku kurang hati-hati, sehingga aku terjatuh, hehe…" alasan Lizzie.

"Kau ini! Kau pasti tadi kejar-kejaran! Seorang lady tidak seharusnya bertingkah seperti itu. Ayo kembali ke mansion dan obati lukamu! Setelah itu kau harus menerima hukuman!" omel Francis dan melenggang pergi.

"Iya," senyum Lizzie dan mengikuti langkah ibunya, sementara Alois hanya bisa terdiam melihat itu.

~OoooOoooO~

Ciel turun dari mobilnya dengan lesu. Ia berjalan gontai menuju pintu utama mansion. Pikirannya kembali tertuju pada ucapan Alois.

"Aku…tidak berpikir begitu. Maksudku…Elizabeth tidak seburuk yang kalian kira lho…"

Ya…mereka bertiga memang berteman sejak kecil. Wajar kalau Alois mengerti karakter Lizzie, tapi…apa benar, Lizzie bisa…menerima…soal…foto…ciu-…

"?!" Ciel terkejut saat matanya menangkap bayangan seseorang yang ia kenal tengah duduk di lantai sambil memeluk lutut dan menyembunyikan kepalanya di samping pintu utama mansion.

"Lizzie!" seru Ciel sembari menghampiri sosok itu dan segera berjongkok di hadapannya, memeriksa apakah gadis itu baik-baik saja.

"Ah, Ciel…kau sudah pulang…" senyum Lizzie dengan suara lemah.

"Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa tidak masuk saja? Di luar kan dingin! Ini masih dini hari!" panik Ciel sembari melepas jaket nya dan memakaikannya pada Lizzie. "Argh! Di mana Tanaka, kenapa dia tidak menyuruhmu…"

"Jangan memarahinya. Aku yang meminta supaya aku tetap di sini kok," ujar Lizzie sayu. "Soalnya…aku ingin…Ciel sendiri yang mengatakan…"

Bruukh…

Dan Lizzie pun tumbang.

"Lizzie!" seru Ciel. Ia segera membopong Lizzie ke dalam, membawanya ke kursi santai di depan perapian. Ia hendak mengambil selimut hangat saat tiba-tiba Tanaka sudah menyodorkan selimut itu pada Ciel.

"Terimakasih," lirih Ciel dan segera menyelimuti Lizzie dengan selimut itu.

"Nona Elizabeth menolak diajak masuk," terang Tanaka. "Katanya ingin menunggu tuan muda pulang. Dia juga menolak saat saya memberikan selimut."

"Tidak apa-apa. Terimakasih Tanaka-san," ucap Ciel maklum. "Tolong segera panggil dokter."

"Baik tuan muda,"

"Dan bawakan coklat panas untuk Lizzie…"

"…" terdiam sejenak, lalu membungkuk hormat dan segera melaksanakan perintah tuannya.

Ciel mendekati Lizzie, memandanginya sejenak hingga jemarinya terulur untuk membelai pipi Lizzie.

"Baka, apa yang kau lakukan sih!" ujarnya pelan.

Lizzie perlahan membuka matanya saat merasakan sentuhan lembut itu.

"Ciel…" lirihnya dengan senyum lemah tersungging di bibirnya. "Aku…"

"Sudahlah, diam dulu di sini. Tanaka sedang memanggil dokter, dan aku sudah menyuruhnya membuatkan coklat panas," ucap Ciel, masih membelai pipi Lizzie dengan lembut.

Lizzie tersenyum lembut. "Ciel selalu baik…itulah kenapa aku menyukai Ciel,"

Ciel terdiam sejenak, sekelebat memory kembali terlintas di otaknya.

"Aku ini…jahat. Aku pernah mendorong Lizzie sampai Lizzie terluka kan…" lirih Ciel.

Lizzie menggeleng. "Itu kan karena Ciel sedang kesal sendiri. Lagian setelah itu Ciel juga minta maaf…"

"…" Ciel hanya bisa terdiam. Ia ingat kalau saat itu dia sedang marah karena gambar nya tak sengaja ketumpahan kopi oleh anjing peliharaannya, Pluto. Ia kesal dan memutuskan untuk keliling labirin untuk menyendiri supaya kemarahannya reda sendiri, tapi malah Lizzie menabraknya sehinnga ia pun lepas control dan menumpahkan kemarahannya pada Lizzie.

"Ciel…" suara panggilan Lizzie membawa Ciel kembali ke dunia nyata. "Soal foto yang kau kirim…"

Mata Ciel terbelalak.

"…bisakah Ciel menjelaskannya?" lirih Lizzie dengan suara bergetar, meski begitu ia masih memaksakan seulas tersenyum. "Aku…ingin Ciel menjelaskannya secara langsung. Makanya…aku datang kemari…"

"Lizzie, itu…"

"Tuan muda, dokter sudah datang," ucap Tanaka, menyelamatkan Ciel dari penjelasan yang belum ia tahu apa yang akan dijelaskannya.

Dokter segera memeriksa keadaan Lizzie, lalu memberikan beberapa nasehat dan juga obat, setelah itu barulah ia pergi.

"Tanaka-san, bawa Lizzie ke kamar. Dia harus istirahat," ucap Ciel.

Tanaka hanya membungkuk hormat, lalu membopong Lizzie ke kamar, sementara Ciel pergi ke kamarnya sendiri. Ia termenung sambil menatap langit berbintang dari jendela besar kamarnya.

Haruskah ia memberitahu Sebastian tentang Lizzie saat ini?

Tok tok tok…

"Masuk," ucap Ciel.

Haruskah ia meminta pendapat Sebastian bagaimana caranya menjelaskan hal itu pada Lizzie?

Pintu terbuka, tapi Ciel tidak mengalihkan pandangannya dari jendela barang se-inchi pun, ia sudah tau siapa yang datang.

"Ada apa, Tanaka-san?" Tanya Ciel saat Tanaka hanya diam setelah beberapa saat.

Atau…

"…nona Elizabeth itu…gadis yang baik," ujar Tanaka. "Orang tua anda pasti menginginkan yang terbaik untuk anda,"

…atau…haruskah ia meninggalkan Sebastian demi Lizzie?

Deg!

Mata Ciel terbelalak saat pertanyaan ketiga itu muncul di otaknya. Ia menggertakkan giginya saat Tanaka kembali membuka suara.

"Tapi…"

"Keluar!" bentak Ciel.

"Tuan muda…"

"KELUAARRR!" bentak Ciel sekali lagi, dan tanpa kata lagi, Tanaka segera keluar dari kamar majikannya itu setelah sempat membungkuk hormat meski Ciel tak mempedulikannya.

~OoooOoooO~

"Jadi…" mata golden spider itu memicing sweatdrop. "…apa yang kau lakukan di sini, Alois?"

"Heee tentu saja menginap, aku tidak akan bisa tidur kalau sedang ada masalah begini," riang (?) Alois sambil seenaknya melepas pakaian dan kini hanya menyisakan sebuah boxer yang nempel di tubuhnya. Boxer motif Claude. Ya, motif Claude! Sepertinya ide-nya dulu terealisasikan sudah.

Claude hanya memejam dengan empat siku-siku bertengger di dahinya, tak habis pikir dengan kelakuan bocah blonde yang mengaku menyukainya itu.

"Terserahlah," ucap Claude pasrah dan segera berbaring di ranjangnya. Tubuhnya sudah terlalu lelah untuk ber-deal-ria dengan apa yang terjadi.

"Lho, Claude tidur gak ganti baju? Masa tetap pakai celana jeans? Nanti itu-nya sakit lho…" ucap Alois yang lagi-lagi membuat siku-siku merah itu bertengger di dahi Claude.

"Sudahlah, cepat tidur," dengus Claude.

"Hee…cepat ganti baju dulu. Seenggaknya ganti celana. Gak sehat lho…tidur pakai celana ketat," Alois menarik-narik lengan Claude.

"Tidak perlu, kalau hanya seka-…"

"Ayo cepat ganti, ayo…"

"Sudah kubilang, tidak perlu!" ucap Claude agak keras hingga Alois berhenti menarik-narik tubuhnya. Claude menghela nafas, lalu duduk dan menatap Alois.

"Claude…menurutmu…"

Apa? Apa Alois akan marah lagi? Akan menangis lagi? Pikir Claude.

"…kalau Sebastian dan Ciel berpisah bagaimana?"

Pertanyaan diluar dugaan itu sempat membuat Claude terhenyak.

"Apa maksudmu?" Claude membetulkan kacamatanya.

"Seperti yang Grell katakan, apa mungkin kalau itu terjadi, kau akan senang karena masih punya kesempatan untuk bersama Sebastian? Apa kau-…"

Brukh…!

Ucapan Alois terhenti saat tiba-tiba tubuhnya terdorong hingga terbaring di ranjang, sementara Claude merangkak di atas tubuhnya.

"Untuk saat ini mungkin 'iya'…" lirih Claude, perlahan menurunkan kepalanya. "Tapi aku sudah berjanji akan segera melupakannya kan?"

Mata Alois terpejam saat jarak wajah mereka kian dekat, tapi terbuka lagi saat tak merasakan sentuhan di bibirnya. Claude malah membaringkan kepalanya di samping kepala Alois dengan nyaman.

"Aku serius saat mengatakan akan segera menyukaimu," lanjut Claude, kali ini membaringkan tubuhnya di atas tubuh mungil Alois. "Tapi tidak begitu saja langsung melupakannya, juga tidak begitu saja langsung menyukaimu," Claude memeluk Alois erat.

"Karena…aku pernah bersumpah akan mencintai Sebastian sampai detak jantungku berhenti…"

~OoooOoooO~

Sementara itu, Sebastian juga tengah melamun di kamarnya. Hingga ia merasa cukup lelah dan berniat untuk menutup tirai jendelanya saat tiba-tiba kaca itu pecah karena sesosok putih menerobos masuk ke kamarnya.

"G-Grey…?" sweatdrop Sebastian begitu mengenali sosok itu. "Hhhh…kau tidak berubah ya, bisakah kau bertamu dengan lebih normal?" Sebastian memijit pelipisnya pelan.

"Thehehe ini kan cara masuk yang keren," Grey mengusap pakaiannya yang terkena pecahan kaca. "Ah, aku lapar. Kau punya makanan apa Sebby?"

"Sebelum itu, mau apa kau kema-…"

"Waah ada pudding…" tapi Grey sudah tak mendengarkan dan bahkan saat ini sedang mengacak-acak kulkas Sebastian. Sebastian hanya geleng-geleng kepala dan menyusul Grey ke dapur.

"Kau mau apa kemari?" ulang Sebastian setelah menarik sebuah kursi dan duduk.

Grey tak menjawab dan terus saja mengunyah.

"Kau ada masalah dengan Aleister?" tebak Sebastian.

Grey tampak menghentikan gerakannya, lalu mulai menarik diri dari pintu kulkas dan berdiri di dekat Sebastian.

"Ya…" jawabnya dengan muka cemberut. Manis. Apalagi dengan sisa pudding coklat di pipinya. Tapi Sebastian kini sudah punya Ciel, dan dia takkan tergoda dengan itu. Ya, tidak akan. Setidaknya…itu keyakinannya.

"Habis Aleister bego banget! Bego bego bego!" omel Grey sambil memukuli dada bidang Sebastian, kelakuannya masih tetap manja seperti dulu saat ia masih pacaran dengan Sebastian.

"Sssst…sudahlah…" Sebastian menenangkan Grey dan merengkuhnya ke dalam sebuah pelukan. "Baiklah, malam ini kau menginap di sini saja. Sampai perasaanmu te-…"

"Benarkah?" girang Grey, melepas pelukan dan menatap Sebastian dengan tatapan bling bling. "Terimakasih. Sebby memang baik. Mmmch…!"

Dan Sebastian terbelalak saat sebuah kecupan mendarat di pipinya. Sementara Grey langsung kabur ke kamar dan langsung terjun ke ranjang.

"Yeeey…" riangnya sambil loncat-loncat.

Sebastian hanya tersenyum simpul lalu menyusul ke kamar setelah sempat menutup kulkas kembali.

"Hey hey hey…jangan loncat loncat begitu, nanti ranjangnya ambruk. Kita mau tidur di mana?" Sebastian duduk di tepian ranjang. Tapi grey tak mendengarkan dan masih meloncat-loncat dengan riangnya.

"Hei…" Sebastian menangkap tubuh Grey dan menariknya berbaring. "Dasar bandel," Sebastian menggelitiki Grey.

"Haha…hahaha, geli, Sebby-chan…hahaha…" Grey menggeliat-geliat geli, tapi Sebastian malah tambah menggodanya.

"Hihi, ini hukuman kalau kau bandel."

"Haha…sudah…hentikan…hahahihihi…"

Sebastian menghentikan aksinya, dan kini menatap Grey yang mulai menghentikan tawanya. Grey juga balas menatap, bahkan tangannya terulur untuk meraih leher Sebastian dan melingkarkannya di sana.

"Kau masih tampan seperti dulu," canda Grey dan menyentil hidung mancung Sebastian. Sebastian hanya tersenyum menanggapinya.

"Dan kau masih nakal seperti dulu," Sebastian balas mencubit hidung Grey.

"Ngh…" Grey manyun saat rasa panas menyergap hidungnya.

Keduanya kembali saling tatap, hingga entah sadar atau tidak, wajah Sebastian perlahan mendekat ke wajah Grey, sedangkan Grey juga perlahan memejamkan matanya,

Deg!

Seakan baru tersadar dengan apa yang akan dilakukannya, Sebastian terhenyak. Ditatapnya wajah manis Grey dengan mulutnya yang sedikit terbuka, menantikan ciuman darinya. Benar-benar menggoda. Perlahan mata Grey kembali terbuka.

"Ada apa?" lirih Grey saat Sebastian tak melakukan apa-apa.

"Aku…"

Grey tampak sedih, sepertinya luka batinnya kembali terusik, dan itu membuat Sebastian tak memikirkan apapun lagi. Ia ingin menghapus luka itu. Perlahan…ia kembali mengeliminasi jarak di anatar mereka, dan menautkan bibir itu ke bibir dingin Charles Grey.

"Ngh…" erang Grey, merespon ciuman Sebastian, ia meremas rambut Sebastian kuat untuk memperdalam ciuman. "Mmnnh…"

Sebastian seakan tak memikirkan apapun lagi, yang ia lakukan saat ini hanya mencium Grey, dan gerakannya makin lama makin liar.

"Mmnh…hahh…hah…" Grey terengah saat ciuman itu terlepas, wajahnya merona karena kehabisan nafas. "Sebby-ch…mmmnhh…" dan ia kembali mengerang saat Sebastian kembali menautkan bibirnya.

~OoooOoooO~

"Hoaaaahhhmmm…" Alois menguap lebar sambil meregangkan otot-ototnya, kesadarannya yang belum pulih benar membuatnya mengerjap sambil menatap sekeliling. Bukan kamarnya. Ah, ia ingat, semalam ia (memaksa) menginap di kamar Claude.

"Ohaiyo…" sapa seseorang.

Alois menoleh dan mendapati Claude muncul dari dapur dengan membawa nampan berisi makanan.

"Ohaiyo…" balas Alois sembari tersenyum, ia melirik jam. Sudah jam 10 a.m. Well, sudah tak bisa dibilang pagi memang.

"Cepat mandi sana, setelah itu sarapan," Claude mengacak rambut Alois setelah sebelumnya menaruh nampan itu di meja.

"Iya…" Alois segera turun dari ranjang dan menyambar handuk, lalu berlalu ke kamar mandi. Claude hanya tersenyum singkat menatap kepergian Alois. Untuk kemudian, matanya teralih saat melihat ponsel Alois berdering, dan matanya terbelalak saat mendapati nama dan contact picture si penelfon.

Hannah Annafeloz.

Apa selama ini Alois masih berhubungan dengan Hannah? Apa mereka masih sering bertemu? Apa mereka…

Kesal. Claude segera mengambil ponsel Alois dan menekan tombol answer. Ia menempelkan HP itu ke telingannya, tapi ia tak bicara sepatah kata pun.

"Ohaiyo…" sapa Hannah dari ujung sana. "Biar kutebak, kau pasti baru bangun tidur ya? Dari tadi telfonku tidak diangkat. Dasar pemalas," ucap Hannah dengan nada riang. Apa dia sudah sebegitu akrabnya dengan Alois? "Oya Alois, hari ini pergi yuk…ada restaurant baru lho…katanya masakannya enak. Tenang saja, kali ini aku yang traktir. Kau mau kan?" cerocos Hannah. Claude masih diam. "Alois?" ulang Hannah. Masih diam. "Hei…"

"Jangan ganggu dia lagi!" ucap Claude tegas dan langsung mematikan telefon. Ia mendengus kesal dan nyaris saja membanting HP Alois kalau saja ia tak punya cukup akal sehat. Ia hanya segera mengusap wajahnya supaya lebih tenang.

Di sisi lain, Grell tengah bersenandung riang sepanjang koridor menuju kamar Sebastian. Ya, seperti biasa, dia ingin meminjam sesuatu something apapun itu dari leader-nya, dasar tukang rental. Dan tujuan utamanya tentu saja menggoda Sebastian yang masih tertidur supaya bangun, baginya pemandangan terindah adalah saat Sebastian membuka matanya untuk pertama kali.

"Hihihi Sebas-chan…" lirih Grell sambil perlahan membuka pintu ruangan Sebastian. Sebastian memang punya kebiasaan buruk selalu lupa mengunci pintu ruangannya. Dengan langkah perlahan, Grell menuju kamar Sebastian sambil membayangkan kejahilan yang akan dibuatnya nanti.

Krieeett…

Perlahan ia membuka pintu kamar Sebastian, dan…

"He?"

Cengok sendiri saat justru ia yang terkejut begitu mendapati Sebastian–dengan tubuh telanjang yang tertutup selimut sampai ke pinggang–masih tertidur pulas dengan seseorang–yang sama-sama telanjang–tidur di pelukannya.

"Kyaaaaaaaa…!" jerit Grell spontan yang tentu saja menggemparkan seluruh penghuni dorm.

Sebastian yang mendengar jerit mengejutkan itu juga langsung terbangun dari tidurnya. Ia mengerjap menatap Grell ada di kamarnya.

"Apa sih, Grell? Berisik!" dengusnya seraya menyingkirkan selimut dari tu-…tapi batal saat menyadari keadaan tubuhnya yang naked. Ia menoleh ke samping dan mendapati Charles Grey yang masih bergelung nikmat di bawah selimut dengan keadaan yang sama.

"I-ini…" Sebastian bingung mau memberikan alasan. "K-kan salahmu sendiri yang seenaknya menerobos masuk kamar orang!" omelnya sembari cepat-cepat mengenakan boxernya.

"Tapi…Sebas-chan, kau kan sudah jadian dengan Ciel? Apa yang sudah kau lakukan bersama makhluk ababil itu?" Grell nunjuk-nunjuk Grey dengan nistanya.

"Bu-bukan urusanmu!" Sebastian menghampiri Grell dan mendorong punggungnya keluar kamar. "Sudah, pergi sana. Jangan buat keributan atau yang lain akan…"

"Ada apa Sebastian? Sepertinya ribut sekali?" Alois muncul masih mengenakan piyama mandinya, rambutnya juga masih basah. Ia mengernyit heran saat melihat Sebastian yang hanya mengenakan boxer.

"Bu-bukan apa-apa. Grell hanya terkejut karena melihatku hanya mengenakan-…"

"Ngh…Ada apa sih, Sebby-chan?" sialnya Grey muncul dengan selimut membungkus tubuhnya yang telanjang dan penuh kissmark itu sebatas pinggang, ia masih mengucek matanya tanda ia baru bangun tidur. "Aku masih ngantuk…" rajuknya.

Hening…

Tak ada suara apapun yang terdengar, atau gerakan sekecilpun yang terjadi.

"Hng…?" Grey kembali menggumam heran dan mengedipkan mata innocence saat menatap sekeliling. Yang ia lihat adalah Sebastian, si shinigami merah yang tukang ribut, dan seorang bocah blonde dengan piyama mandi. Dan baginya, itu sama sekali tak menjelaskan apapun.

"Se-Sebas…" ujar Alois terbata. "Apa yang kau laku-…"

"Oh…jadi ini?" ucap sebuah suara.

Semuanya menoleh, dan mata mereka membulat begitu mendapati seorang bocah ber-shaphire biru muncul di ujung koridor.

"Ci-Ciel…" gumam Alois tak percaya, sementara Sebastian tak mampu berkata apapun.

"Tidak apa-apa. Kau mempermudah keputusanku," ucap Ciel dengan nada datar, tapi jelas-jelas matanya memancarkan kekecewaan dan kesedihan. "Aku kemari untuk membahas soal bagaimana aku, kau dan Lizzie ke depannya. Tapi sepertinya kau sudah memberiku kemudahan, Sebastian."

"Ciel…aku…" Sebastian tersendat. Ia tak tahu harus mengelak apa, karena faktanya, ia memang bersalah.

"Fine, masalah selesai. Semoga kalian bahagia," ucap Ciel lalu membalikkan badan dan pergi dari hadapan mereka.

"Ciel…tunggu!" seru Sebastian, tapi Ciel sudah hilang dari pandangan.

"Kejar dia, Sebastian! Cepat kejar!" omel Alois, tapi Sebastian masih terpaku di tempatnya. Ia tak tahu harus melakukan apa setelah berhasil mengejar Ciel nantinya.

"Kau juga!" Alois ganti menatap Grey. "Setidaknya kau menyuruh Sebastian untuk mengejar Ciel. Kau juga bersalah atas…"

"Aku tidak tahu," ucap Grey datar. Matanya menatap kosong ke arah kepergian Ciel. "Aku tidak tahu harus menyuruh Sebstian mengejar dia atau tidak. Karena…" mata Grey beralih menatap Sebastian. "Aku sendiri tidak pasti dengan perasaanku…"

Mata Sebastian terbelalak begitu kalimat itu meluncur manis dari mulut Grey. Apa itu artinya Grey juga masih punya perasaan terhadapnya? Apakah hubungan Grey dengan Aleister tidak sedalam yang ia kira? Mungkinkah mereka masih bisa-…

"Kalian benar-benar keterlaluan!" omel Alois lagi. "Apa kalian-…"

"Apa itu pantas dikatakan olehmu?" ucap sebuah suara. Alois menoleh, dan melihat Claude berdiri tak jauh darinya. "Orang sepertimu, sebaiknya mengoreksi diri sendiri sebelum menghakimi orang lain."

"Apa…maksudmu…?"

Claude tak menjawab, hanya matanya mengisyaratkan supaya Alois melihat ke ujung koridor yang lain. Dan mata Alois terbelalak saat melihat seorang wanita berambut violet berdiri disana dan tersenyum ke arahnya. Hannah Annafeloz.

"Pergilah. Kau ada kencan dengannya kan? Dasar brengsek," ucap Claude datar dan segera berlalu dari hadapan mereka.

.

.

.

~ To be Continue ~

.

.

.

Fufufu gimana? Udah complicated belum? Kalo belum ya map aje XXDDD Oiya, btw, kayaknya ini dua chapter terakhir lho ^-^ so, RnR ya…

Read n Review please…