"Bagaimana kau bisa kenal dengan Gray nii-.. maksudku, Gray-senpai?" tanya Wendy.

"Tadi aku hanya bertemu di tempat pemberhentian bis. Lalu, aku melihat dia memakai seragam Fairy Gakuen.. aku pun tertarik berkenalan padanya. Dia baik sekali!" jawab Lucy.

"Souka na~, kalau begitu, tadi saat makan siang Lucy-chan mau ngomong apa?".

- Flashback –

"Aku tadi pagi berkenalan dengannya, di halte bus. Dia orangnya sangat baik! Sudah begitu…" kata Lucy misterius. "Apa?" tanya Wendy. "Tidak, bukan apa-apa," jawab Lucy. "Souka na.." timpal Erza.

- Flashback end -

"Ahh, itu.." kata Lucy flashback dan tiba-tiba saja wajahnya memanas. "Dia itu.. tam-.. tampan!". "Eeeh… jadi Lucy-Chan suka sama Gray-senpai?!".

"Itu…"

.

.

.

.

Daisuki da, Senpai!

© Fairy Tail, Hiro Mashima

© Daisuki da Senpai, Rushina

Warning: OOC itu nomer satu, GaJe, abal, Typo's maybe.

Genre: Romance, friendship

Character: Gray F., Lucy H.

~Enjoy~


"Itu… aku tidak suka pada Gray-senpai! Aku hanya bilang kalau dia itu tampan!" ujar Lucy sambil melihat ke-arah lain. Wendy hanya mengangguk. Mereka terus berjalan.

Tak lama kemudian mereka sampai di pemberhentian bis. Sudah setengah jam mereka menunggu, bisnya tak kunjung datang. Wendy dan Lucy merasa pegal dan memutuskan untuk duduk di sebuah bangku di halte bis. Lucy—yang sudah merasa sangat pegal—langsung duduk tanpa menengok kanan-kiri.

Bruk!

"Ow! Bisakah kau melihat kalau ada tanganku di—Lucy?" omel seorang laki-laki.

"Maaf! Ehh, Gray-senpai?" ujar Lucy dengan nada-seperti-tak-percaya bahwa itu adalah Gray. "Sudah kubilang tak usah pakai –senpai. Entah kenapa, aku risih kalau dipanggil begitu. Oh, Wendy." Kata Gray sambil melihat Wendy—yang masih berdiri.

Wendy hanya tersenyum melihat Gray dan duduk disebelah Lucy.

Suasana pun hening. mereka semua hanya diam sambil menunggu bis yang akan mereka naiki. Lucy pun menjadi bosan dan berbasa basi dengan Wendy. Gray juga menjadi bosan dan merasa didiamkan oleh Lucy.

Sampai seorang gadis berambut biru mendatangi Gray..

"Gray-sama!" panggil gadis itu.

Spontan, mereka semua langsung menengok ke-arah sumber suara itu. "—sama?" gumam Lucy.

Gray membuang nafas dan menjawab panggilan sang gadis itu. "ada apa, Juvia?"

"Hem~ bisakah kau kesini sebentar?" pinta gadis yang bernama itu dengan centilnya. "Hueek, dia sangat centil!" komen Lucy dalam hati.

Gray pun berdiri dengan berat hati dan menghampiri Juvia. "Nee… ada apa, sih." Ujar Gray dengan nada dingin.

"Begini Gray-sama~. Etto, bisakah kita menjauh sedikit dari sini? Karena ini sangat penting!" seru Juvia sambil menarik tangan Gray hingga tubuh Gray pun tertarik dan menjauh dari halte bus. "Hei! Jangan narik-na—".

Lucy menyipitkan matanya dan memperhatikan mereka berdua. Juvia mengatakan sesuatu kepada Gray dengan pipi yang merah dan agak gugup. Gray—yang sedari tadi tampangnya cemberut berubah dengan sebuah semburat merah di pipinya.

Tapi, Lucy dan Wendy tak menyadari hal itu karena mereka sedang asyik memerhatikan sang gadis yang memberikan embel-embel '–sama' pada Gray.

Setelah Juvia mengatakan sesuatu pada Gray, Gray menyambut perkataan Juvia dengan sebuah anggukan. Juvia terlihat sangat senang dan rasanya ingin meleleh.

Lucy sama sekali tak memperhatikan Gray karena ia terlalu serius dengan Juvia. Entah kenapa, ada sebuah rasa kesal yang tumbuh pada hati Lucy terhadap Juvia. "dasar cewek caper! Centil!" batin Lucy kesal.

Sejak perkataan Juvia tadi, Gray tidak kembali ke tempat duduknya. Wendy pun mulai menaruh rasa curiga kepada Juvia.

Tak lama kemudian, bis mereka datang. Mereka semua langsung menaiki bis itu—kecuali Juvia karena rumah Juvia berbeda arah dengan mereka. Entah mengapa, Lucy merasa lega karena tak melihat sang gadis berambut biru itu.

Lucy duduk bersama Wendy, sedangkan Gray duduk bersama seorang diri sambil senyum senyum seperti orang gila yang baru keluar dari RSJ—mungkin.

.

.

.

"Gray nii-chan," panggil seorang gadis yang sepertinya adiknya Gray. "Yaa~" jawab Gray tidak seperti biasanya. Biasanya dia menjawab dengan nada dingin, tapi kali ini dia menjawab dengan nada yang senang hati dan sepertinya hatinya sedang berbunga bunga. "Ne.. katakana padaku, nii-chan. Siapa gadis yang tadi?".

"Dia adalah Juvia!" jawab Gray sambil menatap layar ponselnya. "Juvia-senpai? Teman nii-chan?" tanya si gadis kecil yang bersurai biru—tetapi bukan Juvia tentunya.

"Lebih tepatnya.." ujar Gray. "Pacarku!"

Deg!

Pacarnya… kakak?! Batin si gadis.

.

.

.

"Sebenarnya, ada apa sih dengan cewek yang tadi itu?! Ngeselin aja, deh. Sudah begitu, dia cari perhatian banget sama Gray-senpai!" seru Lucy sambil membanting tubuhnya di kasur yang empuk. Lucy merasa sangat kesal. Tapi dia juga merasa aneh, kenapa dia bisa kesal terhadap Juvia dan hubungan mereka—ehm, Juvia dan Gray?

"Sial! Jangan jangan aku cemburu.. tidak tidak! Aku tidak bisa jatuh cinta pada Gray-senpai! Baru berkenalan tadi!" dengus Lucy sambil meremas bantalnya.

"Aku… kenapa aku seperti tidak terima kalau Gray-senpai memiliki hubungan dengan gadis yang namanya Juvia itu?!" lanjut Lucy dan kali ini, sambil melempar gulingnya ke-arah tembok.

"Aku harap… mereka tidak berpacaran!" omel Lucy. Deg.. deg.. deg.. 'tunggu.. perasaan ini.. mungkinkah…?' batin Lucy dengan pipi yang merona

.

.

.

"Ohayou, Lucy-chan!" sapa Wendy sambil melambaikan tangannya pada Lucy yang baru saja masuk kekelas. "Ahh, ohayou, Wendy!" sapa Lucy balik sambil berjalan ke-arah tempat duduknya. Lalu duduk ditempat duduknya.

Wendy pun menghampiri Lucy dan duduk didepan Lucy. Lucy terlihat agak murung. Mungkin dia cemburu akan Gray. Wendy pun menyadari keganjalan yang ada pada Lucy.

"Ada apa, Lucy-chan? Kau terlihat murung.." tanya Wendy sambil memiringkan kepalanya sedikit. "Ehm.. kau kenal dengan gadis yang kemarin? Yang berambut biru itu?" tanya Lucy balik dengan nada yang agak ditekan saat mengucapkan 'berambut biru itu'.

"Ahh… aku kenal! Namanya, Juvia-senpai! Etto, memangnya kenapa?" kata Wendy sambil tersenyum kecil. "Juvia?! Aaaahhh! Aku kesal sekali dengan ga—senpai seperti dia!" geram Lucy sambil menggenggam erat roknya.

"Kalau boleh tahu, kesal kenapa?" tanya Wendy yang sudah sangat kepo dari tadi. "Aku.. benci dia karena dia mendekati Gray!" ujar Lucy. "Entah kenapa.. perasaan seperti itu muncul dariku.. tetapi.. aku tiba-tiba saja mencintai Gray! Aku cinta Gray saat aku pertama kali bertemu dengannya! Aku kesal pada gadis centil itu! Aku tidak suka padanya!".

Wendy terdiam dengan perkataan Lucy barusan.

"Lucy-chan…?" panggil Wendy. "Ya..?" jawab Lucy sambil mengatur nafasnya karena ia baru saja mengeluarkan isi hatinya dengan tergesa-gesa. "Kau tahu.. kalau Gray-senpai itu.. sudah berpacaran dengan Juvia-senpai kemarin," jelas Wendy.

Lucy kaget dan tiba tiba saja jantungnya berdetak kencang. "A—apa?!"

To be continued. . . .


Kyaa~! Akhirnya, selesai juga, chapter 2 ini!

Yosh, baiklah saatnya membalas review~!

SakuraShadowSFC : ha'i~ tentu saja boleh! Apakah sakura-chan berkenan untuk meninggalkan review lagi di chapter 2 ini?

Mako-chan : hemm.. makanya, Mako-chan baca terus yah, ceritanya! Natsu sih, sepertinya nanti akan kumunculkan.. tetapi dia bukan orang ketiganya! Hehehe~ aku juga fans graylu! Terimakasih atas dukunganmu, Mako-chan!

No name : Umm~ tentu saja~! :D

Saa.. jadi.. berkenan untuk meninggalkan review di chapter ini? Hem, no flame please!