"Kalau boleh tahu, kesal kenapa?" tanya Wendy yang sudah sangat kepo dari tadi. "Aku.. benci dia karena dia mendekati Gray!" ujar Lucy. "Entah kenapa.. perasaan seperti itu muncul dariku.. tetapi.. aku tiba-tiba saja mencintai Gray! Aku cinta Gray saat aku pertama kali bertemu dengannya! Aku kesal pada gadis centil itu! Aku tidak suka padanya!".
Wendy terdiam dengan perkataan Lucy barusan.
"Lucy-chan…?" panggil Wendy. "Ya..?" jawab Lucy sambil mengatur nafasnya karena ia baru saja mengeluarkan isi hatinya dengan tergesa-gesa. "Kau tahu.. kalau Gray-senpai itu.. sudah berpacaran dengan Juvia-senpai kemarin," jelas Wendy.
Lucy kaget dan tiba tiba saja jantungnya berdetak kencang. "A—apa?!"
.
.
.
.
Daisuki da, Senpai!
© Fairy Tail, Hiro Mashima
© Daisuki da, Senpai!, Rushina
Warning: OOC itu nomer satu, GaJe, abal, Typo's maybe, alur gakjelas, bahasa Author nyelip.
Genre: Romance, friendship
Character: Gray F., Lucy H.
"Iya.." balas Wendy. "Kamu tahu dari mana Wendy?!" tanya Lucy. "Aku diberitahu—ehm.." ujar Wendy terputus-putus. "Aku adalah..".
"Ayolah, katakan saja!" seru Lucy sambil membulatkan matanya. "Aku sepupunya Gray. Jadi aku diberitahu Gray,"
.
.
Hening.
Lucy tersentak kaget. 'Wendy itu sepupunya Gray?'. "Maaf, seharusnya, kemarin aku membantumu. Tapi, karena aku sudah tahu perasaan Lucy-chan yang sesungguhnya aku akan membantu Lucy-chan untuk mendapatkan hati Gray-nii." Gaya bicara Wendy sudah berubah.
Padahal, tadi Wendy menyebutnya –senpai, bukan? Tapi, karena dia sudah jujur, maka ia merubah cara bicaranya.
"Begitu.. kalau begitu.. tolong bantu aku, ya!" ujar Lucy yang terlihat tidak marah tentang status Wendy yang sebenarnya. Tapi, yang Lucy heran, kenapa Wendy tidak memberitahu Lucy dari awal? Sudahlah, yang berlalu, biarlah berlalu.
"Un!" sahut Wendy cepat.
.
.
.
Lucy POV.
Beberapa bulan setelah perkataan Wendy yang membuatku kaget itu, diadakan sebuah lomba tingkat sekolahku yang bertema seni. Novel adalah seni bukan? Aku ditunjuk oleh Aries-sensei untuk menulis sebuah novel. Yah.. sebenarnya bukan novel sih.. tetapi cerita pendek.
Sekarang, aku sedang berpikir tentang apa tema cerita pendek tersebut. Apa, ya? Kalau tentang si cewek menyebalkan itu—Juvia, dia belum putus dengan Gray. Dari mana aku tahu? Aku punya teman—sahabat, bernama Natsu. Dia jomblo (gak ada hubungannya, Luce-_-). Dia teman dekatnya Gray waktu SMP. Aku sedang tidak mengandalkan Wendy karena dia sedang sibuk dengan urusan cintanya sendiri. Yaah, disini, Wendy punya banyak—pake banget—fans. Termasuk kakak kakak kelas.
Haah~ bagaimana kalau aku membuat cerpen tentang cinta segitiga? Hmm, yah.. yosh!
Aku mulai menulis rangkaian cerita dari tema yang kupilih tersebut. Tiba-tiba saja, ponselku berdering. Aku pun segera mengambilnya dan menatap ke layar ponselku, siapa yang menelponku?
Natsu. Natsu Dragneel.
Aku segera mengangkatnya dan menyapanya, "moshi-moshi, Natsu! Ada apa lu menelponku? Tumben sekali. Jangan jangan lu mau menanyakan PR, ya?".
"ah.. Moshi-moshi.. hem, bukan! Gue bukan mau menanyakan PR, makanya, dengerin dulu dong! Gue mau kasih saran ke lo, gimana kalau lu nembak Gray? Besok! Kayaknya sih, hubungan dia sama Jupi—eh, maksud gua Juvia, udah menurun! Soalnya, si Juvia lebih sering main sama Lyon!" seru suara diseberang sana menjelaskan.
"Oh.. gitu? Yaudah, gue besok pengen coba. Eh! Jangan besok, gue belom terlalu siap.. gimana kalau hari perlombaan seni?" usulku balik.
"boleh juga. Luce.. sebenernya ada yang mau gue omongin sama lo, tapi gua malu.." ucap Natsu misterius.
"Apaan? Ngomong aja kali," sahutku.
"Mendingan lu cari cowok laen aja deh.. move on gitu, kek. Misalnya.. *cough* ke gue gitu..".
"—Gue mau usaha dulu, untuk dapetin hatinya si Gray! Kalau nggak dapet, kali aja, gitu, Gue move on!".
"Yaudeh sih, terserah lo aja. Gue mau tidur dulu, nih ngantuk. Bye." Natsu mengakhiri percakapan tersebut.
Tunggu, kok tadi dia ngomong 'mendingan lu cari cowok laen aja deh.. move on, gitu, kek. Misalnya.. *cough* ke gue gitu..'.
Jangan jangan…
Ah! Gak mungkin lah. Si Natsu kan bilangnya dia suka sama Lisanna. Gak mungkin dong, dia suka sama aku.
Aku meletakkan ponselku ke meja belajarku. Aku memakai kacamata dan mengambil pensil, lalu menulis rangkaian cerita pendek tersebut.
.
.
.
Normal POV.
Hari ini adalah hari H, bukan hari biasa untuk pelajar Fairy Gakuen. Dua minggu setelah Lucy menyiapkan persiapan untuk perlombaan, akhirnya, selesai juga cerpennya. Lucy merasa deg-degan atas novelnya. Teman sekelas Lucy telah membaca cerpen Lucy. Mereka mengatakan bahwa cerpen Lucy sangat bagus dan dapat melelehkan hati yang membacanya, apalagi yang punya status percintaan cinta segitiga.
Selain karena lomba, Lucy juga akan menyatakan perasaannya pada Gray hari ini. 'Siapa tahu aja, dia berubah pikiran gitu. Terus dia mutusin Juvia dan pindah hati ke aku… hihihi~' pikir Lucy begitu.
Natsu—teman Lucy yang mensupport Lucy untuk menembak Gray. Tetapi, sebenarnya, ada rasa tak ikhlas juga muncul dalam hati Natsu. Entah mengapa.
"Lucy, ganbatte, ya untuk lombanya! Dan juga.. lomba untuk mendapatkan hati si Gray," ujar Natsu. "Tentu saja Natsu! Terima kasih ya, atas dukunganmu!" jawab Lucy dengan sebuah senyuman yang mengembang diwajahnya.
Hari ini, Lucy lebih percaya diri dari biasanya. Dari dalam hati Lucy yang terdalam, ia berpikir, 'mungkin benar juga kata Natsu. Akhir akhir ini.. aku jarang ngeliat si Gray makan siang bareng Juvia.'.
"Silahkan kumpulkan cerpen kalian disini, ya~! Semoga menang~.." seorang senpai berambut abu abu seperti ub—ah, tidak.. berambut abu abu yang cantik sedang berdiri di sebuah stand yang bertuliskan, 'LOMBA CERPEN SILAHKAN DIKUMPULKAN DISINI~!'.
Lucy segera berjalan ke-arah senpai tersebut. "Hmm.. Kamu Lucy, kan? Dari kelas X-7?" tanyanya lembut. "Iya.. benar sekali Mira-senpai." Jawab Lucy sambil tersenyum. "Kalau begitu, semoga menang, ya!" seru senpai yang bernama Mira—Mirajane Strauss.
Suasana sekolah juga berbeda. Lebih dipenuhi oleh kesenangan. Bahkan, sekolah lain pun mengunjungi sekolah mereka untuk melihat lomba seni tingkat Fairy Gakuen. Hmm.. mereka kesana juga karena ada bazaar, sih.
Lucy pergi dari stand itu. Ia berjalan ke-arah sebuah kelas. Bukan kelasnya. Tetapi kelas seseorang yang dicintainya. Gray.
Ia pergi kekelas XI-3.
Lucy menundukkan kepalanya. Hanya bisa berharap, Gray menerima cintanya.
Lalu, tiba tiba…
Gedubrak! [Dat sound-..-]
Lucy menabrak seseorang hingga jatuh.
"Bisakah kau melihat ja—oh.. Hai, Lucy," sapa seorang pria bersurai hitam.
"—Gray-sen.. Oh, hai juga.. Gray.." sapa Lucy balik sambil berdiri.
Suasana pun hening. mereka tidak saling bertatapan. Lucy menunduk, Gray menatap ke-arah jendela di lorong.
"Gray-kun.." Lucy pun mulai menatap Gray.
'-kun?' batin Gray kaget.
"Aku.. aku suka pada Gray-kun! Maukah Gray-kun menjadi.. ekhem.. pacarku?".
"Tapi Lucy—".
"Aku tau, kalau kamu sudah punya pacar! Tapi, tolong pikirkan baik-baik. Cintaku lebih besar daripada pacarmu! Karena, dia hanya ingin memanfaatkanmu! Mungkin..".
Gray menatap Lucy. Lucy menatap Gray. Begitu terus. Mereka sampai tidak berkedip.
Gray pun akhirnya berkedip dan menghela nafasnya. "Lucy, kau ikut lomba?".
"Iya! Aku ikut lomba! Jadi, sekarang, kamu ja—"
"Kamu ikut lomba apa? Kalau menang, aku akan senang dan aku mau kau jadi pacarku. Habisnya.. Juvia sedang menjauhiku juga tanpa alasan."
"Cerpen. Tapi, cinta Gray-kun tulus, kan?"
"Tentu saja. Siapa sih, yang tidak mau menerima gadis secantik dan sepintar dirimu?".
"Darimana kamu tahu aku pintar?" Lucy terheran heran.
"Natsu." Jawab Gray.
Lucy hanya ber-oh-ria. "Saa. Kalau begitu, aku tunggu hasilnya,"
Gray berjalan meninggalkan Lucy. Lucy bengong sejenak. Ia menggembungkan pipinya dan rasanya ingin berteriak, 'Semoga aku menaaaang~!'.
"Perhatian kepada peserta lomba cerpen. Silahkan turun ke aula gedung B untuk mengetahui hasil dari lomba cerpen. Terima kasih." Suara dari intercom mengagetkan Lucy yang sedang bercerita tentang kejadian tadi kepada Erza, Natsu, dan Wendy.
"Lucy! Ganbatte!" support Erza dan Wendy sambil menepuk pundak Lucy. Natsu tidak berkata apa-apa.
"Un! Yosh! Aku pergi dulu~!" Lucy beranjak dari kursinya dan pergi keluar kelas dan segera turun dari gedung A, menuju ke gedung B. gedung B itu, khusus yang SMP.
Lalu, dari dalam kelas, terdengar suara, "Hey, sebenarnya, kau tidak ingin dia menang kan?". Tetapi, Lucy tidak memperdulikannya.
Setelah sampai di aula gedung B, Lucy duduk di bangku terdepan. Disebelahnya, ada Lisanna, orang yang katanya di sukai oleh Natsu. Meski tidak ikut lomba, Lisanna tetap saja ingin menonton apa yang terjadi di perlombaan cerpen itu.
Lisanna hanya tersenyum, menandakan semangat pada Lucy. Lucy membalas senyuman Lisanna.
Lalu, kakak Lisanna—Mirajane, datang sambil membawa microphone dan sebuah kertas hasil dari perlombaan cerpen itu.
Tanpa basa-basi, Mirajane menyapa semua peserta lomba itu. Semua menyapanya dengan semangat. Lalu, Mirajane membacakan salam pembuka, dan pembuka. Seperti biasanya.
Dan, saat yang mendebarkan pun—yang menentukan nasib Lucy pun dimulai..
"Baiklah semuanya.. tidak banyak omong, langsung saya beritahu saja ya.. pemenangnya! Untuk kelas XII dulu, ya! Kan, kelas XII tidak ikut!" Mirajane pun mulai membacakan pemenang kelas XI, disambut sorak-sorai kelas XI.
"Ekhem! Nah, untuk kelas XI. Saya mulai dari juara harapan ke tiga." Lucy yang sudah berdebar debar langsung facepalm.
"Kenapa tidak langsung dikasih tau saja dari juara pertama.." gerutu Lucy.
Lucy pun bengong karena kesal.
Pikirannya melayang. Untung saja, nggak kesambet.
"—filia!" semua orang berteriak gembira.
"Ekh?" Lucy tersadar. "Ada apa?"
"Lucy, kau menang!" seru Lisanna.
"Juara?".
"Satu! Kamu nggak dengar? Ayo, maju!".
Lucy pun cengar cengir dan rasanya ingin menunjukan kepada seluruh dunia. "Gray, aku datang~!" batin Lucy gembira.
Setelah penerimaan piala dan piagam, Lucy kembali ke gedung A, tempat seharusnya ia berada. Saat dia sedang berada di lapangan outdoor, ia bertemu dengan Natsu. "Lucy!" panggil Natsu. Lucy menengok dan berlari ke-arah Natsu.
"Hey Natsu! Kau tahu? Aku ju—".
"Lucy." Panggil Natsu kali ini dengan nada serius. "Ada yang ingin kukatakan padamu.".
To be continued.
*guling gulingan* Waah~~~ Lucy menang, Lucy menang! Etto, sebelumnya, maaf ya, minna. Kalau alur ceritanya nggak nyambung.. soalnya, author sedang dalam masa-masa ulangan blok! Jadi, tingtkat keseriusan dalam membuat fic jadi terganggu karena ngurusin pelajaran. Yaudah, tidak banyak omong, aku langsung balas reviewnya.
Mako-Chan: Eh? Gomen ne.. kalau fic ini tidak memuaskan Mako-chan.. ^^a tapi, sebenernya, orang ketiganya cowok. Khihihi~ aku berubah pikiran._.
SakuraShadowSFC: aku juga benci dengan Juvia sih, sebenarnya. Apalagi GrUvia [etto, gomen bagi GrUvia lovers]. Makanya, baca aja ya! Terus, tinggalin ripiw lagi disini! Ya? YA?! /maksabangetsih/ oke abaikan. Kalau nggak mau ngeripiw juga gapapa lah.-.
Kalau begitu…
..
…
….
TINGGALKAN REVIEW YAA~! /JENGJENG!/
