Mysterious Park
Part 2
(Hetalia punya Hidekaz Himaruya bukan punya saya ._. )
Sepi. Itulah yang terlintas pertama kali saat mereka memasuki taman. Tak ada satu orang pun. Made memang sempat bercerita bahwa tempat itu sudah sangat-sangat jarang dikunjungi. Bahkan orang Bali pun mungkin sudah lupa dengan keberadaannya. Made sendiri hampir tak ingat, kalau saja klub fotografinya tak mengajaknya ke sana.
Keempat orang itu, anggota klub jurnalistik plus Gilbert, perlahan berjalan lebih ke dalam lagi. Pohon-pohon tumbuh dengan liar di sekeliling mereka. Dedaunan kering berserakan di jalanan. Jalanan yang dilapisi semen tampak telah retak-retak. Tanaman-tanaman kecil yang merambat dan rumput pun timbul dari retakan-retakan tersebut. Di kejauhan sana tampak beberapa bangunan yang juga sama tak terawatnya. Lumut tumbuh dimana-mana. Pecahan-pecahan bangunan pun berserakan.
"Waah!" Feliciano berseru kagum. Matanya berbinar saat memandang sekelilingnya. Ternyata taman itu tak seberapa menakutkan seperti bayangannya. Ia malah senang dengan kesunyian tempat itu.
"Oh, ternyata hanya begini saja!" Gilbert tampak sedikit kecewa. "Kupikir akan menakutkan seperti apa. Wah, tidak se-awesome bayanganku ini…"
Ludwig hanya diam dan menulis sesuatu dalam catatannya. Kiku sibuk memotret sekitarnya.
Keadaan di sekitar mereka begitu tenang. Tidak ada penampakan. Tidak ada hantu. Hanya sebuah tempat yang sunyi.
Feliciano melangkah lebih jauh lagi, melewati tumpukan daun kering yang berserakan dan mendekati sebuah bangunan yang cukup besar. Pecahan kaca berserakan di sekitarnya, beserta pecahan-pecahan batu dari tembok. Pintu bangunan itu tertutup rapat. Namun jendela besar di sebelahnya pecah, membuka jalan bagi mereka untuk masuk. Feliciano terdiam. Ia ragu untuk masuk. Keadaan di dalam rasanya sama hancurnya dengan di luar.
"Tapi kelihatannya di dalam juga tak ada hantu…" pikir Feliciano. Ia melihat ke arah dalam. Dan ia menjadi penasaran. Feliciano ingin tahu keadaan di dalam sana. Hanya saja ia tak ingin masuk sendirian. "Aku harus mengajak yang lainnya vee~" pikirnya lagi. Ia pun berbalik dan melihat Kiku sedang memotret tak jauh darinya.
"Kiku, Kiku!" Feliciano mendekati Kiku dengan riang. "Kita masuk ke dalam sana, yuk! Aku penasaran apa saja yang ada di sana! Vee~" ajaknya sambil menunjuk jalan masuk pada bangunan besar itu.
"Ng…masuk ya?" Kiku tampak ragu, antara melihat-lihat di luar saja atau masuk ke dalam bangunan.
Ludwig mendengar pembicaraan mereka dan melihat ke arah bangunan itu. Sebenarnya ia ingin masuk juga. Tapi ia belum puas mengamati keadaan di luar sini. "Kalian berdua masuklah!" katanya pada akhirnya. "Aku dan Gilbert akan menunggu di sini sambil melihat-lihat. Kalau kalian sudah keluar, giliran kami yang akan masuk nanti."
"Vee~ " Feliciano tampak senang. Ketua klub jurnalistik itu telah memberi izin padanya untuk masuk. Ia menoleh pada Kiku. "Ayo Kiku, kita masuk ke sana!" ajaknya.
"I…iya…" jawab Kiku. Ia menggenggam erat tas ranselnya dan mengikuti Feliciano. Keduanya pun masuk perlahan ke dalam gedung. "Hati-hati, banyak pecahan kaca di sini," katanya kemudian setelah melihat keadaan di sekitar jalan masuk.
"Vee~ Tenang saja. Pecahan kacanya hanya di dekat jalan masuk saja," sahut Feliciano. Ia berlari masuk lebih dalam lagi.
Kiku berjalan perlahan. Sesekali ia berhenti untuk memotret. "Sudah kuduga, tak akan ada hantu di sini," katanya dalam hati. "Tapi menarik juga bisa mengunjungi tempat seperti ini…"
Potongan-potongan dan serpihan kayu tampak berserakan di lantai bangunan. Tak jauh dari tempatnya berdiri ada suatu tempat yang mirip dengan loket.
"Apa dulunya ini merupakan tempat pembelian karcis masuk bagi pengunjung taman?" Tapi Kiku juga melihat pintu besar yang tertutup di dekat sana. "Mungkin juga dulunya ini adalah gedung bioskop," pikirnya lagi.
"Vee~ aku jadi penasaran dengan apa yang ada di balik pintu ini…" Feliciano mendekati pintu itu dan mencoba membukanya. Tapi pintu itu tertutup rapat. "Vee~ Tidak bisa dibuka.."
"Sudahlah Feliciano-kun. Kita lihat tempat lain saja!" sahut Kiku. Ia juga penasaran. Tapi tak baik jika mereka membuka pintu itu dengan paksa. Tadi Made berkata bahwa sebaiknya mereka tidak bertindak sembarangan bukan?
"Hh… Kenapa harus dikunci sih?" Feliciano kecewa dan beralih dari pintu itu, kembali melihat sekitarnya.
Ada tempat duduk dari bahan semen berbentuk lingkaran besar di tengah-tengah sana. Semut-semut kecil merayap perlahan di atasnya. Ah, tapi apa itu tempat duduk ya? Feliciano tak terlalu yakin. Apa dulunya orang bisa duduk disini sambil menunggu giliran untuk membeli tiket? Ia mulai berandai-andai.
Kiku berjalan ke kiri, melewati loket. Di depan loket ada kaca-kaca dimana mereka bisa melihat keluar, ke tempat tadi. Kiku bisa melihat Ludwig dan Gilbert dari sana. Mereka tampak ayik mengobrol. Gilbert mengeluarkan kamera dari tasnya dan memotret sekelilingnya juga. Iseng-iseng Kiku memotret mereka dari dalam. Kaca yang buram memang sedikit mengganggunya. Tapi Kiku tak terlalu peduli.
Setelah itu Kiku berbalik, hendak berjalan lebih jauh lagi. Sebuah tanaman merambat tampak bergelantungan dari langit-langit ke bawah. Kiku memotretnya, lalu memotret loket di sebelahnya. Ia juga berbalik dan memotret Feliciano yang tampak sibuk dengan tempat duduk (?) berbentuk lingkaran besar itu. Hm…sepertinya ia mengamati sesuatu.
Mendadak Feliciano duduk begitu saja di sana. Feliciano menurunkan dan membuka tasnya lalu mengambil kotak makanan. "Aku lapar vee~" kata pemuda Italia itu.
Kiku hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Ia hendak berjalan lagi. Namun sesuatu di dekat jendela menarik perhatiannya.
"Apa itu?" tanya Kiku dalam hati. Tampak sebuah jaket berwarna coklat tua tergeletak begitu saja di bawah sana, di antara serpihan-serpihan kayu. Kiku berjongkok dan meraih jaket itu.
"Sepertinya jaket ini belum terlalu lama di sini," pikirnya lagi. Jaket itu belum terlalu rusak. Kalau sudah lama, tentu jaket itu akan dipenuhi debu atau serpihan kayu. Tapi jaket itu tampak utuh. Kecuali bagian depannya..ada lubang yang cukup besar di sana dan noda berwarna merah kehitaman di sekeliling lubang itu.
"Ini…" Kiku terkejut. "..darah?"
Kiku meletakkan tas dan kameranya perlahan di sampingnya dan mengamati jaket itu baik-baik. Ternyata bukan hanya di bagian depan. Ada noda kehitaman lain di sekitar jaket itu. Di tangan, di bahu…
"Siapa pemilik jaket ini?" pikir Kiku. "Kenapa ada begitu banyak noda darah pada jaket ini?" Apa iya ada penjahat yang melarikan diri dan bersembunyi di sini? Itu hal pertama yang terlintas di benaknya. Ataukah ada orang yang terlibat perkelahian? Tapi Kiku menepis pemikirannya. Lubang dibagian depan jaket itu…seperti bekas gigitan binatang buas…
Kiku menjatuhkan jaket itu dan segera berdiri saat menyadarinya. "Masa sih?" pikirnya. "Tak mungkin ada binatang buas di sini…" Namun Kiku ingat informasi yang diperolehnya dari internet. Taman itu juga dulunya merupakan tempat penampungan hewan langka. Di sana juga ada kolam reptil…dengan beberapa ekor buaya.
"Vee…ada apa Kiku?" Feliciano mendekati Kiku, menduga ada sesuatu yang aneh ditemukan oleh sahabatnya itu. Melihat Kiku yang terdiam dan melihat ke bawah, Feliciano langsung tertarik untuk melihat ke bawah, dan ia melihat jaket itu. "Jaket siapa ini?" tanyanya kemudian.
"Entahlah," jawab Kiku pelan. "Tidak…tidak mungkin ada buaya lepas!" Ia mencoba berpikir logis. "Buaya-buaya itu pasti telah dipindahkan saat tempat ini ditutup. Dan jaket ini… mungkin hanya orang iseng saja." Tapi untuk apa seseorang iseng menaruh jaket yang tampak berlumuran darah seperti itu?
"Vee~ jaket ini berlubang!" Tanpa Kiku sadari Feliciano telah meraih jaket itu dan mengamatinya. "Pantas saja jaket ini dibuang pemiliknya! Ng…noda apa ini yang banyak di sini…"
"Turunkan jaket itu, Feliciano-kun!" kata Kiku tiba-tiba dengan setengah berteriak.
Feliciano agak terkejut. Ia menjatuhkan jaket itu dan menoleh pada Kiku. "Kenapa vee?" tanyanya.
Kiku terdiam. Ia sendiri tak tahu kenapa ia harus berkata seperti itu. Tapi jaket itu benar-benar membuat perasaannya tak enak. "Tidak apa-apa," kata Kiku kemudian. "Kita keluar saja. Tak ada yang bisa kita amati lagi di sini. Biar Ludwig-san dan Gilbert-san giliran masuk." Kiku segera meraih tas dan kameranya.
"Vee…Kiku takut ya?" tanya Feliciano.
Gerakan Kiku terhenti. Takut? Apa yang ia takutkan? Tak ada hal yang membuatnya harus takut. Perasaannya tak enak, itu saja. Kiku menggeleng pelan menjawab pertanyaan Feliciano itu.
"Kiku sakit? Tidak enak badan?" tanya Feliciano lagi. Ia sedikit cemas. Biasanya Kiku selalu tampak tenang. Tapi sesaat tadi ia terlihat gelisah.
"Tidak tidak… Saya hanya ingin melihat suasana di luar saja," jawab Kiku. Ia segera melangkahkan kaki, menuju ke luar.
"Vee~ Tunggu aku!" buru-buru Feliciano mengambil tasnya yang masih berada di tempat duduk tadi. Ia pun mengikuti Kiku ke luar.
Kiku melihat sekelilingnya. Ludwig dan Gilbert tak lagi berada di tempat tadi. "Harusnya mereka belum jauh," pikir Kiku. Tadi Ludwig berjanji akan menunggu mereka. Lagipula setelah ini giliran mereka yang akan masuk ke dalam.
"Ludwig!" Feliciano berteriak, memanggil pria Jerman itu. "Gilbert, Ludwig! Kami sudah keluar nih!"
Tak ada jawaban.
Kiku yakin tadi mereka berdua masih di sekitar sana. Bukankah tadi ia sempat melihat mereka dari jendela di dalam, bahkan memotret mereka? Kiku jadi menyesal kenapa ia tak melihat ke arah mana kedua orang itu pergi setelahnya.
"Gilbert, Ludwig!" Feliciano memanggil lagi.
Tapi kembali tak ada jawaban.
"Gilbert, Ludwig! Jangan bercanda di saat seperti ini!" seru Feliciano. "Vee~"
"Ludwig-san! Gilbert-san!" Kiku ikut memanggil. "Hh..bisa-bisanya mereka bermain petak umpet di sini!" keluhnya dalam hati.
"Vee…mereka meninggalkan kita" Feliciano tertunduk lesu. "Apa mereka ingin menakut-nakuti kita?"
"Tidak. Saya rasa mereka terlalu asyik melihat-lihat hingga tak sadar berjalan terlalu jauh." Kiku mencoba tak berpikir negatif. "Mungkin sebaiknya kita berjalan saja sambil mencari mereka."
"Baiklah," sahut Feliciano.
Mereka hendak berjalan. Namun Kiku merasakan adanya hawa aneh di belakang mereka. "Apa itu?" Dengan cepat Kiku menoleh. Sesosok wanita berbaju putih dengan rambut panjang menutupi wajahnya telah berdiri di belakang mereka. Tangan kanannya terangkat, hendak meraih bahu Feliciano.
"Awas Feliciano-kun!" Kiku menarik Feliciano secepatnya dan menjauhi wanita itu.
Feliciano terkejut. "Ada apa sih?" tanyanya.
Kiku hanya terdiam. Matanya menunjukkan ketakutan yang besar. Ia mencoba tenang. Namun pada akhirnya ia hanya mampu terdiam, nyaris gemetar. Wanita itu berdiri tak jauh dari mereka. Kakinya…tidak menapak tanah.
"Vee?" Dengan penasaran Feliciano berbalik, melihat ke arah yang dilihat Kiku. Matanya pun terbelalak, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "A…a…" Feliciano langsung gemetaran dan jatuh terduduk.
Wanita di depannya melayang perlahan ke arah mereka. "Pengganggu," bisiknya pelan.
"Ha…hantu…" Felicino berkata dengan ketakutan. "A…ada hantu…"
Bukan hanya wanita itu saja sepertinya. Sesaat kemudian sosok-sosok lain bermunculan. Sosok-sosok yang mengerikan…
BERSAMBUNG
Seperti yang sudah kutulis sebelumnya, beberapa hal di sini adalah nyata. Misalnya saja tentang bangunan dan isinya tadi… Tentu saja minus jaket itu. Kalau ada yang mau lihat foto-fotonya, bisa lihat di google atau hubungi saya 8D
Ng… sedikit membahas tentang hantu…
Waktu itu aku masuk bersama teman-teman sekelasku plus beberapa orang dari luar kampus yang menjadi model pemotretan. Tapi akhirnya kami berpencar dan berjalan sesuai dengan kelompok (Pemotretan dilakukan secara berkelompok. Tiap kelompok terdiri dari 4-5 orang ditambah dengan 1-2 orang model). Aku pergi berlima. Waktu itu kami bingung dengan tema apa yang akan kami angkat. Karena baju yang kubawa yang bisa dipakai sang model tanpa harus ke kamar ganti adalah yukata…waktu itu tema yang kami putuskan akhirnya adalah 'Hantu Jepang' XP
Tapi akhirnya kami tidak bertemu dengan hantu. Yang melihatnya adalah anggota kelompok yang lain ._. Katanya dia sampai nangis gitu…entah apa yang dilihatnya.
Ya, itu cerita sekilas saja tentang kejadian nyata….
Terima kasih untuk yang sudah baca dan review, juga untuk yang fave~
Chapter selanjutnya mungkin minggu depan, dengan hal-hal tak terduga lainnya 8D
