Sebelumnya saya minta maaf untuk beberapa hal.
Pertama, saya sedang dalam proses penulisan skripsi. Sidangnya tepat sebulan lagi. Oleh karena itu setelah chapter ini, entah kapan lagi saya bisa melanjutkannya… Kalau bisa sih minggu depan. Tapi kalau tidak… maaf, tapi saya pasti akan menyelesaikan fict ini sampai tamat
Kedua, mungkin genre fanfict ini ke depannya akan berubah jadi semi fantasy… Karena itu untuk yang mengharapkan full horror, mungkin ga akan terlalu puas dengan fict ini.
Terima kasih untuk yang sudah review dan memberikan masukan.
Sekali lagi saya mohon maaf, dan selamat membaca…
Mysterious Park
Part 3
(Hetalia punya Hidekaz Himaruya bukan punya saya ._. )
"Pengganggu," bisik wanita berambut panjang itu. "Pengganggu harus dilenyapkan."
"Harus mati," sahut makhluk-makhluk lainnya.
Taman yang tadinya sunyi dan tenang itu mendadak ramai. Namun bukan ramai oleh manusia biasa. Melainkan sosok-sosok mengerikan.
"Ja…Jangan mendekat…" Feliciano semakin gemetar. Ia ingin berlari dan keluar secepatnya dari taman itu. Akan tetapi rasa takut telah melumpuhkan badannya.
Bagaimana tidak takut?
Di belakang wanita berambut panjang itu ada sosok yang mirip manusia. Namun wajahnya hancur. Tubuhnya sendiri juga hancur, daging yang membusuk tampak jelas dari tubuhnya. Di sampingnya ada makhluk yang hanya tinggal tulang belulang saja. Makhluk itu berjalan perlahan-lahan bersama mayat hidup tadi. Di balik pohon sana ada sesosok wanita lain. Mulutnya sobek hingga ke dekat telinganya. Wanita itu tampak tertawa mengerikan.
"Pe…pergi…" Feliciano ketakutan. "Jangan dekati kami!"
Mereka tidak peduli. Mereka terus mendekat.
Tiba-tiba sebuah tangan yang dingin dan basah menyentuh lengan Feliciano dari belakang. Feliciano pun refleks menoleh dan mendapati sesosok wanita berlumuran darah dengan wajah dan tubuh rusak tengah merangkak tepat di belakangnya.
"Huuuuaaaa!" Feliciano berteriak sekencang-kencangnya. "Lepaskan akuuu! Pergi kaaaaaauuuu!" Ia meronta sekuat tenaga, ingin melepaskan diri dari pegangan wanita itu. Feliciano juga mengacung-acungkan bendera putih yang entah dibawanya dari mana. "Aku menyeraaahhh! Lepaskaaaaaaaannnnn!"
Tapi wanita itu malah mempererat cengkeramannya.
"Pergiiiii! Lepaskan akuu! Aku…aku akan melakukan apapuun! Aku tak akan mengganggumu! Pergilah!" Feliciano terus berteriak-teriak.
Wanita itu merangkak semakin dekat. Tangan kirinya tetap mencengkeram erat lengan Feliciano. Sementara tangan kanannya mulai terjulur, hendak meraih wajah pemuda itu.
"Minggir kau!" Mendadak terdengar suara pukulan keras. Wanita itu melepas cengkeramannya dan tersungkur kesamping.
Kiku berdiri dengan nafas terengah-engah. Di tangannya tergenggam erat sepotong kayu yang kebetulan tadi ada di sampingnya. Dialah yang memukul si wanita tadi. Kiku terus mencoba melawan rasa takutnya. Tangannya kini mulai gemetar, menyadari perbuatan nekat yang baru saja dilakukannya.
Wanita itu bangun dengan marah. Kiku tahu, apa yang dilakukannya barusan pasti tidak menyenangkan. Tapi ia tak bisa membiarkan Feliciano begitu saja kan? Walaupun ia bingung juga kenapa ia bisa memukul sosok yang harusnya sudah mati itu begitu saja. Bukankah seharusnya mereka tidak memiliki wujud yang solid? Kiku membuang semua pemikirannya saat melihat wanita itu semakin mendekat.
"Ayo Feliciano-kun!" Tanpa menunggu lagi Kiku meraih tangan Feliciano, memaksanya untuk segera berdiri. "Kita harus segera pergi dari sini!"
Feliciano tak berkata apa-apa lagi. Ia berdiri secepatnya dan langsung berlari sekuat tenaga bersama Kiku.
"Vee~ Ba..bagaimana dengan Ludwig dan Gilbert?" tanya Feliciano sembari mereka berlari.
"…kita akan menghubungi mereka nanti. Semoga saja mereka telah keluar dari taman ini," sahut Kiku. Dalam hati ia tak tenang juga. Apakah Ludwig dan Gilbert telah bertemu dengan hantu-hantu itu juga? Apakah karena itu mereka tadi tak tampak lagi? Apakah mereka berdua telah keluar?
"Vee….dimana sih pintu keluarnya?" seru Feliciano. Mereka terus berlari dan berlari ke arah pintu keluar tadi. Tapi…
Mendadak langkah Kiku terhenti. Matanya terbelalak, tampak tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Keringat mengalir deras di wajahnya.
"A…ada apa?" Feliciano pun berhenti berlari. Ia mendekati Kiku. "Kita harus cepat keluar dari sini, Kiku! Jangan berhenti!"
"Lewat mana?" tanya Kiku pelan.
"Vee?"
"Lewat mana kita harus keluar?" tanya Kiku lagi.
"Lewat gerbang masuk tadi kan? Kita bisa keluar dari sana vee…" jawab Feliciano.
"Dimana gerbangnya?" tanya Kiku.
Dan Feliciano pun terdiam.
"Harusnya tadi kita belum berjalan terlalu jauh dari gerbang masuk," kata Kiku. "Seharusnya gerbang itu masih terlihat dari sini. Tapi…"
Feliciano membisu, melihat ke arah dimana seharusnya gerbang itu tadi berada. Yang ada kini hanyalah pepohonan yang lebat, hampir sama dengan suasana di belakang mereka. Dedaunan kering dan serpihan kayu berserakan. Juga ada beberapa bangunan rusak. Namun gerbang itu tidak tampak. Gerbangnya hilang?
"Kalian tidak akan bisa keluar." Wanita berambut panjang tadi melayang ke arah mereka. Tak lama kemudian sosok-sosok tadi juga bermunculan. Mereka tertawa-tawa.
"Mereka…mereka datang lagi…" Feliciano mulai gemetar lagi.
Kiku menggigit bibirnya, berusaha tetap tenang. Ia tak boleh takut. Ia harus tetap kuat. Ia tak boleh menyerah dengan ketakutan ini. "Ayo berpikirlah…" katanya dalam hati. "Dimana jalan keluarnya?"
Kiku yakin barusan mereka tidak berlari ke arah yang salah. Salah sekalipun, mereka baru berlari sebentar. Tak mungkin gerbang itu tak terlihat.
"Kalian akan terperangkap selamanya di sini." Mayat hidup tadi mulai angkat suara.
"Matilah…"
"Kiku tolongggg!" Feliciano berteriak. Sosok perempuan berlumuran darah tadi muncul lagi di dekat mereka dengan merangkak. Perlahan ia menyeret kaki Feliciano dengan kedua tangannya. Di belakangnya, perempuan lain membawa sebuah pisau…
"Veeee… Tolong akuuuuu!" Feliciano berteriak kencang. Ia hendak dibunuh!
Si perempuan siap menusukkan pisau ke tubuh Feliciano.
Kiku bereaksi cepat. "…tak kusangka saya benar-benar memerlukan ini…" katanya. Ia membuka tasnya dan mengambil sebuah katana dari dalamnya. Sebelum si wanita menusuk Feliciano, Kiku mengayunkan katananya ke arah pisau yang digenggam si wanita. Pisau itu terpental.
Wanita yang menyeret Feliciano tampak marah. Ia berdiri dan hendak menyerang Kiku. Darah dari si wanita berceceran di tanah. Perutnya sobek dan tampak sangat mengerikan.
Kiku mengalihkan pandangannya, berusaha tak melihat tubuh si wanita itu. Lalu ia mengayunkan katananya, bermaksud menakuti si wanita agar ia menjauh. Namun si wanita tidak mundur. Ia terkena tebasan Kiku. Tangan kanannya putus dan mengucurkan banyak darah.
Melihat itu Kiku diam tak bergerak. Harusnya hantu tak memiliki wujud solid. Tapi ini… Dan… apa yang telah ia lakukan? "S…saya…" Kiku berbisik pelan. "Saya tak bermaksud…"
Wanita tadi hanya tertawa. Ia tetap berjalan meskipun keadaan tubuhnya benar-benar hancur. "…kau harus mati," katanya.
Sosok yang lainnya ikut mendekat.
Feliciano melesat ke belakang Kiku. Ia memejamkan matanya erat-erat dan membenamkan wajahnya di punggung pemuda itu. "Tidak…" katanya. "Aku tidak mau berada di sini lagi. Aku ingin keluar. Aku takut…. Vee…"
Kiku berjalan mundur perlahan-lahan. Feliciano hanya mengikuti saja. Kiku juga merasa takut. Walaupun ia membawa senjata, ia tak pernah ingin menggunakannya. Kiku suka dengan katana itu dan membawanya sebagai…semacam jimat, itu saja. Ia tak menyukai pertarungan dan darah. Ia tak ingin menggunakannya, walaupun untuk melawan makhluk-makhluk mengerikan seperti ini.
"Kiku, usir mereka…" Feliciano sudah hampir menangis.
Si mayat hidup malah sudah mengacungkan kayu tajam yang baru saja dipungutnya.
Kiku menggenggam katananya erat-erat. "Mereka akan membunuh kami," pikirnya. "Kami tak boleh mati di tangan setan-setan ini…"
"Matilah!" Si wanita tadi maju dan mengayunkan tangan kirinya, berusaha meraih Kiku.
Tapi Kiku tak tinggal diam lagi. Ia langsung menyerang dengan katananya. Si wanita jatuh menjerit dengan tubuh nyaris terbelah dua. Makhluk-makhluk yang lain maju menyerang. Tanpa pikir panjang lagi Kiku menyerang mereka semua. Satu persatu makhluk-makhluk itu berjatuhan dan lenyap tanpa bekas. Namun si wanita berambut panjang menghilang.
"Lihat saja nanti," bisiknya.
Setelah itu taman menjadi sepi lagi. Tak ada makhluk mengerikan, tak ada setan yang bertumbangan di tanah, bahkan tak ada noda darah di katana milik Kiku.
"Mereka hilang…vee…." Feliciano melihat sekelilingnya dengan tak percaya. Sahabatnya berhasil memukul mundur makhluk-makhluk itu. "Vee~ Kiku, kamu berhasil!"
"Saya…" Kiku terdiam. Kepalanya dipenuhi bayangan akan peristiwa barusan. Ketakutan mulai menghantuinya lagi. Apa yang barusan telah ia lakukan? Makhluk-makhluk mengerikan…. Darah… pedang… tangan yang terputus… melenyapkan mereka…. Kiku menjatuhkan katananya dengan wajah pucat. Ia melihat kedua tangannya dengan gemetar. "Saya…membunuh mereka?"
"Kiku!" Feliciano memeluk sahabatnya itu. "Ja..jangan takut! Me…mereka setan, vee!" seru Feliciano. "Mereka sudah mati sejak awal! Dan mereka ingin membunuh kita! Mereka.. mereka harus diusir dan dilenyapkan!"
Kiku menoleh pada Feliciano. Ia bisa merasakan tubuh pemuda Italia itu masih belum berhenti gemetar. Ia pasti sangat ketakutan melihat makhluk-makhluk tadi. Apalagi ia hampir terbunuh tadi….oleh makhluk yang tak seharusnya masih hidup itu. Ya… faktanya, makhluk-makhluk itu memang telah mati. Seharusnya mereka tidak mengganggu Feliciano dan dirinya. Jadi apakah perbuatannya tadi itu salah?
"Vee… Ayo Kiku! Kita harus keluar secepatnya dari sini" kata Feliciano. "Aku takut nanti mereka datang lagi…"
Kiku menarik nafas pelan. "Tenang…" katanya dalam hati. Ya, ia tahu. Ini bukan saatnya untuk takut dan bimbang lagi. Mereka harus segera keluar.
"Tak akan kubiarkan mereka mengganggu kita lagi," kata Kiku akhirnya. "Kita pasti akan keluar dari sini…bersama Ludwig-san dan Gilbert-san."
"Vee~" Felicino mengangguk. "Semoga mereka baik-baik saja."
"Mereka pasti akan baik-baik saja," kata Kiku. "Mereka berdua adalah orang yang kuat dan berani. Mereka pasti akan selamat."
Feliciano mengangguk. Ludwig adalah ketua klub jurnalistik. Di saat deadline mengejar, ia adalah orang yang teguh dan terus bekerja tanpa mengenal lelah. Dan Gilbert…Ia selalu tampak bersemangat dimana saja. Dia yang mengaku dirinya sangat awesome itu pasti tak akan kalah oleh hantu-hantu tadi.
"Ayo!" Kiku mengambil katananya dan menggendong tasnya di punggunggnya. "Kita harus segera mencari mereka dan keluar dari sini."
Feliciano tersenyum lega melihat Kiku kembali tegar. Ia cepat-cepat mengangguk "Vee~ Ayo!" serunya kencang.
Kedua pemuda itu kembali berjalan. Mencari kedua temannya, mencari pintu keluar.
…
Asrama Hetalia Gakuen…
Yao, seorang pelajar yang berasal dari China sedang berjalan menuju kamarnya. Ini hari kedua liburan musim panas. Tapi ia belum berniat pulang ke negaranya.
"Kalau aku pulang, paling-paling hanya diceramahi aru," katanya dalam hati. "Dan tidak ada teman aru."
Teman ya… Mendadak Yao menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke belakang. Baru saja ia melewati kamar milik teman yang sangat dekat dengannya. Teman itu adalah Kiku, yang juga sekaligus merupakan saudara jauhnya.
"Akhir-akhir ini aku jarang ngobrol dengan Kiku aru," kata Yao dalam hati. Ia berbalik dan berjalan ke arah kamar Kiku. Kemudian Yao berhenti tepat di depannya. "Kiku ada di dalam atau tidak ya?"
Tangan Yao terangkat, hendak mengetuk pintu. Tapi seseorang berseru di belakangnya, membuat Yao menghentikan niatnya.
"Kiku tidak ada di asrama!" seru orang itu.
Yao menoleh. Itu Bayu, sang pemuda dari Indonesia.
Bayu mendekat ke arahnya. "Dia pergi bersama anggota klub jurnalistik lainnya ke negaraku, tepatnya ke pulau Bali."
"Oh…" sahut Yao singkat. "Bersama klub jurnalistik aru? Pasti ada yang ingin diliputnya," katanya dalam hati.
"Mereka ingin pergi ke tempat berhantu. Jadi aku memberitahu tempat bagus di sana. Kurasa mereka sekarang sedng berkeliling di sana," kata Bayu lagi.
Yao mengerutkan kening mendengarnya. "Aru? Tempat berhantu?" tanyanya heran.
"Eh…itu tugas untuk klub jurnalistik," jawab Bayu. "Mereka ditugaskan pergi ke tempat yang menyeramkan atau semacam itulah… Aku memberi tahu tentang Taman Festival Bali. Mereka tertarik dan pergi ke sana."
"Taman Festival Bali?" Yao tambah heran lagi. Ia belum pernah mendengar tentang taman itu. Yao tahu Indonesia. Yao juga tahu tentang pulau Bali. Banyak wisatawan dari negaranya berlibur di sana. Setahunya, Pulau Bali dikenal dengan pantainya yang indah. Pemandangan di daerah pegungungannya juga indah. Begitu banyak tempat wisata di sana termasuk desa Ubud yang dikenal dengan keseniannya. Tapi Taman Festival Bali?
"Memang tak banyak orang yang tahu sih… itu adalah taman bermain yang terlantar dan katanya berhantu begitu…" sahut Bayu.
"Hantu? Kenapa Kiku mau pergi ke tempat seperti itu aru?" tanya Yao.
"Karena tugas dari pembina klubnya. Mereka harus menulis artikel tentang tempat yang seru dan menyeramkan atau ya….seperti itulah! Kebetulan aku mendengar mereka berdiskusi. Jadi kuberitahu saja tentang tempat itu. Kebetulan juga waktu itu aku baru mendapat telepon dari temanku yang sudah berkunjung ke sana," jawab Bayu.
"…temanmu itu bertemu dengan hantu aru?" tanya Yao serius.
Ditanya seperti itu Bayu malah tersenyum lebar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sebenarnya sih yang melihat hantu itu hanya temanku saja. Tapi aku bercerita pada klub jurnalistik bahwa temanku dan semua anggota rombongannya melihat hantu. Ada hantu anak kecil, hantu wanita dan foto berhantu… Ng…sebenarnya yang dilihat temanku hanya penampakan yang tidak jelas. Tapi sepertinya Ludwig, ketua klub jurnalistik itu jadi tertarik. Hahaha…"
"…Jadi tempat itu benr-benar berhantu aru?" tanya Yao lagi. Wajahnya tampak lebih serius lagi sekarang.
"Tidak tahu. Rumornya sih begitu. Temanku juga melihat sekilas. Tapi entahlah~" sahut Bayu santai.
Yao terdiam sekarang. Bagi kebanyakan orang, mungkin memasuki tempat berhantu adalah hal wajar. Kebanyakan orang hanya diganggu sedikit dan gangguan itu berakhir setelah mereka keluar. Tapi bisa saja…
"Bisakah kau mengantarku ke sana aru?" tanya Yao kemudian pada Bayu. "Aku sedikit cemas…"
Bayu langsung terkejut, heran. "Hahaha… Kenapa kamu jadi serius begini? Tenang sajalah! Banyak orang masuk ke sana dan mereka baik-baik saja. Klub jurnalistik itu hanya mengambil foto dan menulis artikel. Banyak orang juga melakukannya. Katanya lusa mereka akan segera pulang," kata Bayu.
Yao terdiam lagi. "Bayu benar juga aru," pikirnya.
"Tapi kalau Yao mau ke sana, boleh juga. Nanti malam kita ke Indonesia. Kebetulan aku mau pulang. Sebelum pulang ke Jakarta, rasanya asyik juga ke Bali sebentar" kata Bayu.
"Hm…Baiklah aru! Aku akan ikut denganmu nanti malam!" sahut Yao. Memang dipikir-pikir Bayu benar. Harusnya tak ada yang perlu dicemaskan. Tapi entah kenapa rasanya ada yang mengganjal…
"Kalau Yao ikut, aku juga ikut da!" Tiba-tiba seseorang muncul di dekat mereka.
Yao menoleh. Ia kenal suara itu dan sama sekali tidak berharap akan mendengarnya sekarang. Itu suara Ivan! Pelajar dari Russia itu!
"Hai!" Ivan tersenyum sambil melambaikan tangannya. Di hari yang cerah ini Ivan tetap saja memakai pakaian kesukaannya, long coat berwarna cokelat muda dan syal di lehernya. Ia mendekati kedua temannya dan menoleh pada Yao.
Yao cepat-cepat memalingkan wajahnya. Ia enggan dilihat seperti itu. Yao tahu, Ivan itu senang sekali mengikutinya. Kemanapun Yao pergi, Ivan akan mengikutinya diam-diam. Terkadang Ivan juga dengan sengaja memperlihatkan diri sambil tersenyum misterius padanya. Entah apa yang diinginkannya.
"Halo, Ivan!" sahut Bayu. 'Kamu juga akan ikut ke Bali?"
"Kemanapun Yao Yao pergi, aku akan ikut da!" sahut Ivan, tetap dengan senyum misteriusnya.
Bayu mengangguk-angguk tanpa berkomentar lagi. Ia sudah mendengar sifat-sifat Ivan dari teman-temannya. Ivan itu misterius dan menyeramkan. Jadi Bayu tak ingin cari masalah dengannya.
Sementara Yao hanya bisa pasrah.
"Kalian mau ke Bali?' Mendadak seseorang dengan nada riang menginterupsi percakapan mereka lagi.
Bayu menoleh. Selain Ivan ternyata masih ada orang yang mendengar percakapan mereka. Hh…mimpi apa Bayu semalam? Kali ini bukan hanya satu orang. Selain si pemuda yang ceria, ada dua orang lagi yang datang mendekati mereka.
"Hei, git… Jangan bilang kalau kau mau ke Bali juga!" kata seorang pemuda dengan alis tebal pada pemuda ceria berkacamata tadi.
"Kenapa tidak Iggy? Seorang hero harus berani menjelajah ke seluruh tempat di dunia ini!" sahut sang pemuda berkacamata. "Dan Iggy juga harus ikut."
Mendengar itu, pemuda beralis tebal tadi jadi kesal. "Kenapa aku harus ikut?" tanyanya.
Sang pemuda ceria hanya tertawa. Nama pemuda itu adalah Alfred. Ia pelajar dari Amerika yang sangat suka menganggap dirinya sebagai hero. Sedangkan pemuda beralis tebal tadi adalah Arthur, pemuda berkebangsaan Inggris. Keduanya bersahabat dengan sangat dekat, walau sering terlihat bertengkar juga.
"Hh…pergi ke tempat berhantu tak cocok dengan diriku yang indah ini. Aku tidak akan ikut." Pemuda Perancis di sebelah mereka angkat suara. Namanya Francis, orang yang sangat menyukai keindahan (?)
"Oh…" Arthur menoleh ke arahnya dengan sinis. "Kau tidak ikut? Jadi kau takut ya?" tanyanya.
Francis melirik dengan kesal. "Bukannya yang takut itu kamu? Barusan kamu menolak diajak Alfred kan?" sahutnya.
"Enak saja! Aku tidak takut!" Nada bicara Arthur mulai meninggi.
"Aku juga tidak takut!" balas Francis.
Tak lama kemudian teriakan-teriakan mereka terdengar. Ya, mereka bertengkar dengan sangat indahnya.
"Jadi…" Yao melihat mereka dengan wajah lelah. Mereka adalah teman-teman sekelasnya. Ia biasa melihat pemandangan seperti ini di kelas. Karena itu beberapa hari ini rasanya ia ingin menyendiri sebentar. Tapi sepertinya langit belum mengizinkannya.
"Jadi malam ini mari kita berangkat ke Bali!" seru Alfred dengan suara lantang.
Tak jauh dari sana, seorang pemuda berkacamata yang mirip dengan Alfred duduk sambil memeluk boneka beruangnya erat-erat. Matanya berkaca-kaca karena sedih. "Uuh… Kenapa aku tak didengarkan?" tanyanya. "Aku juga ingin ke Bali…"
BERSAMBUNG
