Mysterious Park
Part 4
(Hetalia punya Hidekaz Himaruya bukan punya saya ._. )
Hari sudah sore.
Matahari telah berpindah ke arah Barat. Cuaca masih tampak cerah. Di depan gerbang masuk Taman Festival Bali tampak dua orang anak kecil berlarian sambil tertawa-tawa. Kaki mereka penuh dengan pasir. Mereka berlari-lari dari arah pantai yang tak jauh dari sana.
"Eh, mai-mai (ke sini)! Lihat itu!" Tiba-tiba salah satu dari mereka berhenti dan menunjuk ke arah taman.
Temannya terdiam. Ia turut menghentikan langkahnya. Pandangannya mengikuti ke arah mana temannya menunjuk. Tatapannya pun berhenti pada pintu gerbang taman. "Tempat ape to (tempat apa itu)?" tanyanya.
Anak yang tadi hanya angkat bahu. Ia melihat gerbang dengan penuh semangat "Kayaknya seru kalau main ke sana…" sahutnya. Anak itu berjalan perlahan, mendekati pintu gerbang taman.
"Eh! Wayan! Wayan!" Mendadak seorang anak yang lain berteriak dan berlari mendekati mereka. "Tusing dadi masuk kema! Nak I bapa ngorahang ada leak ditu! (Tidak boleh masuk ke situ. Bapak berkata ada setan di situ)" serunya lagi
"Iihh…" Seorang dari anak tadi langsung bergidik ketakutan. Matanya menatap gerbang. Ia yang tadinya penasaran jadi enggan masuk ke sana. Ada setan? Ia takut mendengarnya.
Akan tetapi anak satunya yang dipanggil Wayan tadi menggeleng. "Bek orang biasa masuk. Sing ja kenape-kenape (Banyak orang biasa masuk tapi tidak apa-apa)," katanya.
Anak yang baru datang tadi cepat-cepat menyahut. "Katanya beda sekarang…"
"Beda kenken?" tanya anak yang bernama Wayan.
"Beda aja," sahut yang ditanya. "Hantunya tambah banyak, tambah angker. Kalau malam ada bola api aneh dari sana."
"Aaahh…mai mulih! (Ayo pulang)" Teman Wayan tadi langsung beranjak, hendak pergi secepatnya. "Suba sanja ne. De masuk-masuk ke tempat keto. Sing bisa mulih mara nawang… (Sudah sore ini. Jangan masuk ke tempat seperti itu. Tidak bisa pulang baru tahu…)"
Wayan terdiam di tempat. Matanya kembali menatap gerbang itu. Taman yang sepi… luas dan tampak tenang. Pasti asyik kalau berlarian atau main petak umpet di dalam kan? Tapi…. "Hantunya tambah banyak?" tanyanya dalam hati. "Ada-ada saja…"
Namun ia melihat matahari yang memang sudah mulai terbenam. Kalau tidak segera pulang, pastinya ia akan dimarahi oleh orang tuanya. Dan ia tak mau itu terjadi. Akhirnya dengan malas ia pun meninggalkan tempat itu, menyusul kedua temannya.
"Lain kali…" katanya dalam hati.
…
Hawa mencekam memenuhi taman. Sesekali angin bertiup pelan. Suara gesekan dedaunan dari pepohonan dan semak-semak yang tertiup angin terdengar jelas.
Feliciano menoleh ke sekitarnya dengan ketakutan. Suara-suara itu membuatnya merasa tak nyaman. Ia takut. Apakah hantu lain muncul? Namun ternyata berkali-kali dilihat, itu memang hanya suara angin dan dedaunan saja. "Vee…."
"Hanya suara angin," sahut Kiku.
Kedua pemuda itu terus berjalan. Sesekali Feliciano berteriak memanggil kedua teman mereka, Ludwig dan Gilbert. Kedua orang itu belum juga ditemukan. Mereka juga masih belum menemukan pintu keluar taman itu. Bahkan sepertinya mereka mulai tersesat. Kemanapun mereka pergi, mereka selalu merasa asing. Pemandangan yang terhampar di depan mereka selalu tampak tak sama dengan yang pernah mereka lewati… atau mungkin selalu tampak sama? Entahlah… Sejauh mata memandang, hanya tampak rumah-rumah kosong yang telah berantakan, pohon-pohon yang berdaun lebat, lantai semen yang dipenuhi lumut dan tanaman merambat yang tumbuh dengan liar. Kemanapun mereka pergi, hanya itu yang tampak.
"Ludwigg! Gilbeeerrrttt!" Feliciano mulai berteriak lagi, berharap kedua temannya segera menjawab. Tapi yang terdengar malahan hanya gema dari suaranya sendiri.
Feliciano mulai putus asa. Tempat itu memang aneh. Jangankan keluar, kemana mereka pergi sekarang saja mereka tidak tahu. Made memang sudah menceritakan tentang tempat itu. Harusnya taman itu tidak seluas ini. Seluas-luasnya, tak akan mungkin membuat orang tersesat dan tak bisa menemukan pintu keluar seperti ini!
"Ludwig! Gilbert!" seru Feliciano. Kemana kedua sahabatnya itu? Apakah mereka juga tersesat? Mungkinkah mereka sudah keluar? Feliciano hanya bisa berharap semoga mereka baik-baik saja. Dan sekarang… ke arah mana lagi mereka harus pergi?
"Tolooonggg!" Akhirnya Feliciano meneriakkan kata yang lain. "Siapapun juga, tolong kamiiii!"
'Kresek….'
Kiku menoleh dengan waspada. Lagi-lagi terdengar suara dedaunan. Tapi kali ini tanpa ada angin yang bertiup…
"Vee~ Siapa itu?" tanya Feliciano. "Ludwig? Gilbert?"
'Kresek….kresek….'
Tak ada jawaban. Yang terdengar hanya suara gesekan dedaunan.
"Vee….."
'Kresek….'
Kedua mata Feliciano melebar dengan tatapan tak percaya. Sesuatu muncul dari balik semak-semak. Dua sosok mengerikan…
"Huwaaaaaa!" Feliciano berteriak sekencang-kencangnya. Dengan cepat ia bersembunyi di balik tubuh Kiku.
Lagi-lagi hal mengerikan ada di depan mereka. Dua sosok yang berpakaian compang-camping dengan banyak perban melilit di sekitar tubuh mereka. Di sela-sela perban itu tampak tubuh yang telah membusuk. Kedua sosok itu berjalan dengan seringaian di wajah mereka.
"Ja…jangan mendekaaattt!" Feliciano berteriak dengan suara bergetar. Ia membenamkan wajah di punggung Kiku.
Kiku, pemuda Jepang itu tampak sedikit terganggu. Tapi dengan tenang ia menatap kedua sosok mengerikan di depannya. Ia mengeluarkan katana dari sarungnya dan menunggu dengan waspada.
"Huaaaaaaaa!" Feliciano berteriak ketakutan lagi saat mencoba melihat kedua sosok itu. Tubuh yang rusak dan tatapan itu…sangat menakutkan!
Keduanya bergerak pelan. Namun tiba-tiba mereka berlari dengan cepat.
"Jangan ke siniii!" Feliciano mencoba memohon.
Tapi kedua makhluk itu tak berhenti.
Keringat mengalir di wajah Kiku. Haruskah ia melawan lagi? Tapi tampaknya ia tak punya pilihan lain. Salah satu dari sosok itu menyerang Kiku. Pemuda itu segera mengayunkan katananya. Sosok itu mundur. Namun yang satunya malah melompat dan melayangkan pukulan. Kiku menghindarinya. Sosok yang satunya lagi sudah siap menyerang.
"Aaa….Aa…" Feliciano hanya bisa menggenggam erat bagian belakang jaket yang dikenakan Kiku. Ia mencoba menghindar sebisanya. Kedua makhluk itu tak hanya berusaha menyerang Kiku saja, tapi juga menyerang dirinya. "Hentikan!" seru Feliciano. "Jangan serang aku! Aku menyerah! Pergilaahhh!"
Tentu saja teriakan itu tidak digubris.
"Pengganggu….harus mati…" kata salah satu dari mereka.
"Kami tidak ingin mengganggu! Kami hanya ingin pulang!" seru Feliciano.
"Menunduk!" Kiku berseru kencang sambil meraih Feliciano dengan tangan kirinya. Tangan kanannya yang memegang pedang tampak menepis serangan dari salah satu makhluk mengerikan itu. Makhluk itu ternyata membawa pisau yang lumayan besar. Sosok satunya lagi tampak mengayunkan kayu yang besar. Nyaris saja Feliciano kena, kalau Kiku tidak menariknya
"Vee…." Feliciano hanya bisa diam, gemetar.
Kiku membiarkan pemuda Italia itu terduduk di tanah dan kembali menghadapi kedua makhluk tadi. "Kalau mau menyerangnya, hadapi aku dulu!" kata Kiku pada kedua sosok itu.
Kedua sosok itu menyeringai lagi. Dan mereka menyerang dengan cepat. Namun kekuatan mereka tak seberapa. Dalam sekejap mereka jatuh dengan berlumuran darah, lalu lenyap.
…
Kini hari telah gelap. Matahari telah tak tampak. Namun di dalam taman, tampak cahaya yang cukup besar. Cahaya itu berasal dari api unggun.
"Vee~ makan malamnya sudah siap!" Feliciano berseru riang. Di depannya kini telah siap dua porsi spagetty bolognaise yang disajikan di atas piring plastik. Tak jauh dari sana, ada dua buah panci berisi pasta dan sausnya. Baru saja ia selesai menyiapkan makan malam.
"Untung aku membawa bahan-bahan untuk membuat pasta!" kata Feliciano. Ia memberikan satu piring di depannya pada Kiku. "Vee~ ternyata berguna juga ya~"
"Terim kasih, Feliciano-kun!" Kiku menerima piring itu. Setelah itu mereka makan bersama.
"Kalau mau tambah, bilang saja. Pastanya masih banyak," kata Feliciano. "…aku juga memasak untuk Ludwig dan Gilbert. Vee~ siapa tahu mereka ke sini kalau mencium bau masakan…"
Kiku hanya diam. Hari sudah mulai malam. Sejak tadi mereka terus berjalan. Tapi hasilnya masih nihil. Feliciano mengajaknya beristirahat dan makan malam. Feliciano memang selalu membawa bahan-bahan untuk membuat pasta kemanapun ia pergi. Jadi soal makanan, tak masalah bagi mereka.
"Semoga Ludwig-san dan Gilbert-san menyadari aroma pasta ini…" kata Kiku dalam hati. Terpisah begini di tengah tempat yang berbahaya membuatnya tak tenang. Apalagi ia tak tahu apakah kedua temannya itu membawa bekal makanan atau tidak. Ia tak ingin keduanya kelaparan sementara ia sendiri bisa menikmati makanan yang enak.
"Vee~ Mereka tak datang juga..." kata Feliciano, memecah keheningan. Pemuda Italia itu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Dimana-mana tampak gelap. "Ludwig, Gilbert…dimana kalian?"
"Mereka pasti akan datang ke sini." Kiku mencoba berpikir positif. Ia tahu Feliciano sangat dekat dengan Ludwig. Mereka selalu bersama-sama berdua dan tak terpisahkan. Terpencar seperti ini bagi Feliciano mungkin terasa lebih berat dari dugaannya. Kenapa tak mencoba menghubungi lewat handphone? Jangan tanya. Mereka telah berusaha. Tapi tak ada sinyal sedikitpun di handphone mereka.
"Vee…" Feliciano hanya bisa mengangguk. Ia hanya bisa percaya. Semoga mereka bisa segera bertemu lagi.
Kedua orang itu pun terus menunggu dalam kesunyian.
Entah berapa lama waktu berlalu. Suasana terasa semakin sunyi. Tak ada lagi suara dedaunan. Angin malam itu cenderung tenang. Namun udara terasa agak dingin. Sesekali Kiku menambah kayu ke api unggun di dekat mereka. Selain untuk menghangatkan, ia berharap Ludwig dan Gilbert melihat cahaya itu dan segera mendekati mereka. Namun kedua orang itu masih tak tampak juga.
"Kenapa Ludwig-san dan Gilbert-san tak datang?" tanya Kiku dalam hati.
Melihat situasi sekitar yang gelap gulita, sudah jelas bahwa satu-satunya tempat yang terang di taman itu hanyalah tempat mereka sekarang. "Sebenarnya seberapa jauh kami terpisah?" pikir Kiku lagi
"Ludwig…" Feliciano berbisik pelan.
Kiku menoleh. Di sebelahnya, Feliciano tengah tertidur dengan lelapnya di atas tanah, bahkan mengigau. "Hh…" Kiku menghela nafas. "Bahkan dalam tidurnya, Feliciano terus mengingat Ludwig," katanya dalam hati.
"Vee~ Ludwig…. Kamu dimana?" Feliciano mengigau lagi. "Dingin…."
Mendengar itu, perlahan Kiku mengeluarkan selimut dari tasnya. Ia pun menyelimuti pemuda Italia itu. "Kita pasti akan bertemu dengan mereka," bisiknya. "Saya berjanji, kita semua akan keluar dari tempat ini dengan selamat!"
Feliciano kembali tampak tenang.
Melihat itu, Kiku lega dan menyandarkan diri ke pohon di belakangnya. "Apa aku juga tidur saja ya?" pikirnya kemudian. Matanya terus mengawasi Feliciano. Ia meletakkan katananya tepat di sebelahnya. Sejak tadi ia memang tak melepaskan senjata itu dari sisinya. Kiku selalu waspada. Mungkin saja mereka akan diserang lagi, kan?
Tapi mengingat itu, Kiku mengurungkan niatnya untuk tidur. "Aku harus tetap berjaga-jaga," katanya dalam hati. "Sudah malam begini, entah mereka akan menyerang atau tidak. Bahaya kalau kami berdua tidur begitu saja…"
Suasana taman saat itu memang relatif tenang. Tak ada tanda-tanda hantu akan menyerang. Tapi Kiku tak ingin lengah begitu saja. Ia memutuskan untuk tetap membuka mata lebar-lebar dan berjaga.
Dugaan Kiku tidak salah.
Tak jauh dari sana, wanita berambut panjang tersenyum lebar.
"Pengganggu," bisiknya.
…
Sementara itu….
Seorang pemuda berambut keperakan berjalan dengan penuh waspada. Ia menggenggam pedang yang tampak telah berkarat di tangan kanannya sambil terus melihat sekeliling. Tas kecilnya berada di bahunya, dalam keadaan sedikit terbuka.
Ia terdiam lama. Suasana di sekitarnya sepi. Tak ada tanda-tanda keberadaan siapapun.
"Sepertinya aman," kata pemuda itu dalam hati. Ia melangkah pelan ke bawah pohon lalu duduk di sana. Pemuda itu menutup wajahnya dengan tangan kirinya sambil menunduk dalam-dalam.
"West… kenapa jadi begini…" bisiknya.
Pemuda itu… Gilbert.
West adalah panggilan untuk adiknya, Ludwig. Di luar waktu sekolah, sang adik memang tinggal di Jerman bagian Barat, sementara Gilbert sendiri memutuskan untuk hidup mandiri di wilayah Timur.
Gilbert kini mengangkat wajahnya perlahan. Ia mengambil kamera dari sakunya dan melihat-lihat hasil pemotretan tadi dengan tak percaya. Tangannya tampak gemetar. Hingga foto yang menyedihkan itu tampak lagi di hadapannya. Ia tak ingin mempercayainya…
"Kenapa? Kenapa jadi begini?"
Angin kencang bertiup di sekelilingnya, menerbangkan dedaunan yang bertebaran di tanah.
"Kenapa West harus terbunuh?"
BERSAMBUNG
Yeah~ end of part 4
Ternyata saya masih bisa menulis. Ng …tapi saya merasa part ini mungkin agak berantakan. Saya memang sedikit tidak konsen. Maaf kalau agak mengecewakan.
Setelah ini mungkin saya benar-benar akan hiatus dua atau tiga minggu sampai sidang berakhir. Yah… mungkin sih… Tapi tinggal tiga minggu lagi menjelang sidang. Jadi nggak usah terlalu diharapkan
:'D
Eh ya, di awal chapter ini ada sedikit percakapan dengan bahasa Bali. Yang saya gunakan di sini adalah bahasa percakapan-bukan bahasa Bali halus- dan dicampur dengan bahasa Indonesia. Maaf kalau agak berantakan…
Baiklah, apa yang akan terjadi setelah ini?
Bisakah mereka keluar dari taman itu? Apa yang terjadi dengan Ludwig?
Bagaimana dengan Alfred dan pemuda lainnya yang hendak menuju ke sana?
Bersambung ke part 5 #dilempar
