"Yang Mulia Raja Durandal," suara datar familier mengusik lelap seorang pria berambut hitam panjang yang tengah berbaring di ranjangnya. Perlahan ia membuka mata, menatap sosok wanita berambut coklat pendek di sampingnya. Wanita itu tidak mengatakan apapun; hanya mengangguk sebelum kemudian menarik selimutnya ke atas, menutupi sekujur tubuhnya.

"Yang Mulia Raja Durandal," suara datar familier itu terdengar lagi, membuatnya berpaling ke arah pintu besar di seberang ruangan. Itu Rey, batinnya. Dia kembali, huh?

Ia beranjak berdiri, meraih pakaiannya yang bercecer di lantai dan mengenakannya dengan cepat. Kedatangan Rey malam-malam begini hanya berarti satu hal : ada perkembangan mengenai keberadaan mereka—atau setidaknya itulah yang ia harapkan.

Memang sudah waktunya ia muncul. Ia bergegas menghampiri pintu di seberangnya. Ini pertama kalinya Rey mengejar buruannya lebih dari sebulan.

"Yang Mulia Raja—" ia membuka pintunya, mendapati sosok pemuda berambut pirang panjang berdiri beberapa langkah di hadapannya. Ia melangkah keluar dari kamar, menutup pintu di belakangnya, sebelum kembali menatap pemuda tersebut dengan senyum di bibir. "Kau datang Rey,"

Rey membungkuk perlahan, bertumpu pada lutut kanannya dengan kepala menunduk. "Yang Mulia Raja Durandal," gumam Rey, "Maafkan saya, hingga detik ini saya belum berhasil menangkap Hibiki bersaudara—"

"Tapi kau kemari pasti bukan tanpa alasan," sela Durandal cepat. Rey tidak mungkin membangunkannya larut malam seperti ini tanpa alasan. Tidak mungkin.

Rey terdiam beberapa saat sebelum menyahut. "Maafkan saya, Yang Mulia. Saya harus melanjutkan pengejaran saya—dan saya sudah berjanji untuk melaporkan apa yang bisa saya laporkan sebulan sekali—"

"Dan kau memilih malam ini untuk melaporkan," ia kembali menyela. Senyum di bibirnya lenyap sudah. Tidak ia sangka, akan datang hari dimana seorang Rey bisa mengecewakannya. "Kegagalanmu selama sebulan terakhir,"

Rey hanya terdiam.

Tanpa sadar Durandal menghela nafas; ia tidak bisa, tidak boleh marah pada Rey. Ia masih belum bisa mengambil hati seluruh penduduk di Soverein; ia tidak boleh kehilangan sekutu yang ia miliki.

Setidaknya sebelum mereka jatuh ke tangannya.

"Pergilah," akhirnya hanya itu yang bisa ia ucapkan. "Kembalilah ketika kau sudah menemukan mereka," lanjutnya sebelum ia kembali ke kamarnya.

"Siap, Yang Mulia," sahut Rey pelan sebelum beranjak berdiri dan melangkah pergi dengan seringai lebar di bibirnya.

-L-A-T-E-R-

Tak berapa lama kemudian Rey tiba di depan sebuah rumah mungil di pinggir hutan. Ia sudah hendak mengetuk pintu ketika tiba-tiba pintu rumah itu terbuka, memperlihatkan sosok perempuan berambut merah pendek yang memasang wajah cemas. "Rey," gumamnya cepat, kedua tangannya menarik tangan kanan Rey. "Ayo masuk,"

Pintu di belakang mereka menutup. "Bagaimana kau tahu kedatanganku, Lunamaria?"

Yang ditanya justru berdecak kesal. "Aku bisa mencium baumu dari jarak 1 kilometer, Rey," ia melepas blazer yang dikenakan Rey dengan cepat dan menggantungnya di balik pintu. "Kau sedang berbicara dengan seorang nekomata, kau ingat?" ia melepas kedua sarung tangan Rey dan meletakkannya di meja samping pintu. "Atau aku perlu menggoyang-goyangkan ekorku, seperti yang kulakukan kemarin malam?"

"Tidak perlu," ujar Rey, "Dan kau tak perlu memperlakukanku seperti anak kecil,"

"Aku tidak memperlakukanmu seperti anak kecil. Mana mungkin aku mengencani anak kecil," Lunamaria menggeleng, "Sekarang duduklah, akan kuambilkan kau minum,"

Ray hanya bisa mendesah pelan sebelum ia menarik kursi terdekat dan beranjak duduk, menatap langit-langit kayu yang menaunginya. Pikirannya terfokus pada satu hal—

"Tidak bisakah kau berhenti mengejar mereka, Rey?" suara Lunamaria memecah lamunannya; terlihat Lunamaria menawarkannya segelas anggur merah.

Rey meraih minumannya dengan malas. "Kau tahu itu perintah, Lunamaria,"

"Kau tahu bukan itu maksudku," Lunamaria menarik kursi dan duduk di hadapan Rey. "Aku tidak akan cemas kalau tujuanmu mengejar mereka hanya sebatas karena perintah Raja,"

Rey memejamkan mata, menyisip minuman di tangannya perlahan.

"Kau terobsesi pada kekuatan si kakak dan pesona si adik," gumam Lunamaria, tersenyum getir. "Kau tidak hanya sekedar mengejar mereka—kau ingin meraih mereka, menenggelamkan diri dalam kekuatan dan pesona mereka,"

Rey tidak menjawab. Masih memejamkan mata.

"Kalau kau berhasil menangkap mereka, berikan pada Raja, Rey," lanjut Lunamaria, meraih minuman di tangan Rey. "Raja tahu apa yang terbaik,"

"Tapi dia tidak tahu apa yang kuinginkan, Lunamaria," suara Rey bergetar, menahan amarah. "Dia tidak mau tahu,"

Lunamaria mendesah pelan. "Rey…,"

"Mereka milikku, Lunamaria," ujar Rey seraya beranjak berdiri, melangkah melewati Lunamaria dan melangkah masuk ke dalam salah satu pintu di ruangan itu.

Lunamaria sudah hendak menyusul Rey ketika ia melihat selembar kertas terselip di blazer yang dikenakan Rey. Tergerak oleh rasa penasaran, ia menghampiri blazer Rey dan mengambil kertas yang terselip di kantong blazer Rey.

Selembar kertas dengan guratan pensil, membentuk sosok seorang gadis berambut pendek yang sangat familier. Di bawahnya terdapat tulisan tangan khas Rey, berisikan kalimat yang membuat Lunamaria menggigit bibir.

"Kau milikku, Cagalli."

-T-R-R-


Catatan Lenn :

Mari kita mulai dengan hal sederhana, seperti :

Rate : M

Disclaimer : Sudah jelas kan? GS-GSD bukan milikku. Satu-satunya yang bisa ku klaim adalah alur cerita dan dialog yang terkadang (atau sering kali) OOC.

Pairing : Sungguh, sudah jelas banget kok. Kalau merasa belum jelas, ikuti aja ceritanya *promosi* *wink*

Warning : Kemungkinan OOC, kemungkinan crack pairing, kemungkinan unrealistic events and story yang sangat tinggi. Masih kemungkinan sih, tapi ya…namanya juga warning.

In the end, please enjoy, gorgeous

Lenn