Saya kembali lagi~
Namun karena sidang belum lewat, mungkin setelah ini saya hiatus 2 minggu lagi XP
Terima kasih untuk semua masukannya. Dan terima kasih sudah mengingatkan. Ya, saya sedikit terinspirasi dengan HetaOni. Dan pedang milik Gilbert juga terinspirasi dari sana. Hanya saja cerita ini akan berbeda dari HetaOni. Tidak akan ada waktu yang diputar balik, dan… ya, lihat saja nanti~
Tadinya Gilbert kurencanakan membawa kayu yang dipungut di hutan sebagai senjata. Tapi rasanya tidak seru dan tak adil kalau hanya Kiku yang membawa senjata ._.
Nanti akan kutulis kenapa Gilbert bisa sampai membawa senjata juga
Lalu maaf dengan typo. Keyboard komputerku sudah mulai bermasalah dan kadang walau sudah dibaca dua tiga kali tetap masih ada yang terlewat ._.
Mysterious Park
Part 5
(Hetalia punya Hidekaz Himaruya bukan punya saya ._. )
Di luar taman…
Made gelisah. Sudah empat jam lebih ia menunggu di sana. Tapi keempat tamu itu tidak juga keluar dari taman. Ia hampir menangis. Berkali-kali ia mencoba menelepon. Namun kata-kata yang terdengar hanyalah saat ini telepon yang ia tuju berada di luar jangkauan…
"Seharusnya sinyal handphone di dalam baik-baik saja," pikir Made. "Sewaktu aku masuk, aku masih bisa menghubungi orang tuaku… Tapi kenapa sekarang seperti ini?"
Made melihat-lihat ke arah taman dari pintu gerbang. Ingin sekali ia masuk dan mencari mereka semua. Tapi hari sudah gelap… "Kenapa? Kenapa mereka tak muncul juga? Kenapa tak bisa dihubungi?" Made semakin bingung. Ia takut untuk masuk ke dalam. Tapi menunggu? Sampai kapan ia harus menunggu? Bagaimana kalau dibiarkan? Namun bagaimana kalau ternyata terjadi sesuatu dengan mereka?
"Bagaimana ini?" tanya Made dalam hati. "Apa yang harus kulakukan?"
Made meraih handphonenya lagi, mencoba menelepon lagi. Tapi lagi-lagi ia harus kecewa.
'Nomor yang Anda tuju berada di luar jangkauan…'
Air mata mulai menetes di wajah pemudi itu. Berusaha mengalahkan rasa takut, ia mencoba melangkahkan kaki mendekati pintu masuk. Ia ingin masuk ke dalam. Tapi ia terlalu takut untuk itu. Bayangan misterius yang dilihatnya beberapa hari yang lalu kembali merasuki ingatannya.
Made menggeleng dengan cepat. Ia tak akan sanggup untuk masuk. Namun tak bisa hanya diam saja. Akhirnya dengan putus asa, Made menelepon Bayu.
…
Bayu telah berada di bandara. Di sampingnya, tampak teman-temannya sedang duduk dengan ceria. Alfred, Arthur, Yao, Ivan, Francis, dan…satu orang berkacamata yang nyaris tak tampak… Mereka tengah menunggu pesawat yang akan mengantar mereka ke Bali.
Tiba-tiba handphone milik Bayu berdering. Bayu segera mengambil handphonenya dan melihat nama si penelepon . Made?
"Halo…" Bayu menjawab telepon itu. "Ada apa, Made?"
"Kak…kak Bayu…" Terdengar suara isak tangis. "Kak Bayu…"
"Made?" Bayu terkejut. "Kenapa kamu menangis?"
"Kak….Mereka…mereka…" Made mencoba bicara. Tapi air matanya terus menetes.
"Tenang Made! Ada apa? Ceritakan saja padaku!" sahut Bayu.
Yao menoleh ke arah Bayu setelah mendengar nama Made dan kata 'menangis'. "Apa tadi yang ia katakan, aru?" tanya Yao dalam hati. "…bukankah Made itu teman Bayu yang dari Bali? Dia menangis aru?"
"Made, tenanglah!" Bayu angkat suara lagi.
"Ada apa? Ada apa?" Alfred yang mendengar itu langsung bertanya-tanya. Arthur menatap pemuda Amerika itu dengan tajam, menyuruhnya diam.
"Kak…mereka hilang…" Akhirnya Made mulai bisa mengendalikan dirinya. "Keempat teman kakak itu tidak keluar juga dari tadi…."
Bayu terdiam. "Hilang?" tanyanya dalam hati.
"Aku berjanji akan bertemu dengan mereka di luar pukul lima sore… Tapi sampai sekarang mereka tak terlihat juga. Handphone mereka tak bisa dihubungi…. Katanya di luar jangkauan. Aku….aku takut kak…." cerita Made.
Bayu melirik jam tangannya. Sekarang seharusnya sudah pukul sembilan malam lebih di Bali. Berarti sudah empat jam lebih. Tak mungkin keempat orang itu melupakan janji mereka sampai selama itu kan?
"Kak… bagaimana kalau terjadi sesuatu…" sahut Made lagi.
"Tenang. Tenang saja. Kamu tidak usah cemas. Mereka akan baik-baik saja, oke?" sahut Bayu.
"Oi…apa yang terjadi?" tanya Alfred lagi.
Yao menatap Bayu dengan kuatir. Apa yang sebenarnya telah terjadi?
"Ya…mungkin saja sebenarnya mereka sudah keluar dan mencoba menakutimu. Kau pulang saja sekarang. Nanti mereka pasti akan menghubungimu," sahut Bayu lagi. "Aku dan teman-temanku akan segera ke sana juga. Jadi jangan cemas ya…"
Yao mengerutkan kening. Jelas telah terjadi sesuatu di sana. Dan itu menyangkut keadaan teman-temannya dan adik sepupunya….
"Oke, aku tahu mereka bukan tipe orang yang seperti itu. Tapi aku yakin mereka akan baik-baik saja. Jadi tenang, oke? Pulanglah. Besok kita cari mereka bersama-sama…"
"Bayu!" Alfred tampak tak sabar. Ia segera mendekati pemuda itu. "Apa yang terjadi? Kenapa dengan mereka semua?" tanyanya.
Bayu menghela nafas. Ia menatap teman-temannya. "Mereka hilang," katanya pelan.
…
Malam semakin larut. Jam di handphone Kiku telah menunjukkan pukul dua belas malam. Pemuda Jepang itu belum tidur. Ia masih berusaha untuk tetap terjaga. Sebenarnya ia mengantuk juga. Perjalanan yang lama ke Bali hingga ke tempat ini, belum lagi berkeliling sepanjang hari hingga bertemu dengan hantu…semua itu membuatnya lelah. Tapi rasa tanggung jawab untuk menjaga sahabatnya berhasil membuatnya tetap membuka mata.
Di saat seperti ini Kiku sangat berharap bisa segera bertemu dengan Ludwig dan Gilbert. Kalau ada mereka, ia bisa bergantian tidur dan berjaga di saat malam dan tak perlu was-was begini. Kalau hanya bersama Feliciano begini, Kiku tak bisa tidur begitu saja. Ia tak ingin jika ia tertidur nanti, para hantu malah menyerang mereka. Jadi begitulah…
Kiku mengambil kayu di dekatnya dan menambahkannya ke api unggun yang tak jauh darinya. Ia tetap membiarkan api itu tetap menyala. Setidaknya dengan menambahkan kayu, ia juga bisa sedikit bergerak dan membuatnya tidak mengantuk.
"Saya harap besok kami bisa keluar dari tempat ini bersama-sama…" kata Kiku dalam hati. Ia kembali duduk dan bersandar di pohon. Pandangannya teralih pada Feliciano yang tengah tidur dengan tenangnya. Dengan iseng Kiku mengambil kameranya dan memotret Feliciano yang sedang tidur. Feliciano sendiri benar-benar tertidur lelap hingga tak sadar dirinya dipotret.
Kiku tersenyum tipis dan menyimpan kameranya di dalam tas. "Akan kutunjukkan pada Ludwig besok…" katanya dalam hati. Ya, semoga besok mereka telah bertemu dengan pria Jerman itu dan kakaknya. Ia menatap ke langit. "Semoga pagi segera tiba."
Malam itu memang terlihat tenang. Kesunyian masih memenuhi tempat itu. Tak ada suara ataupun sosok yang mengganggu mereka. Tapi tentu saja pagi hari akan lebih baik daripada situasi tempat ini pada malam hari.
Kiku kembali duduk dalam diam. Ia melihat sekelilingnya. Suasana masih gelap. Tak tampak cahaya sedikitpun di kejauhan sana. Berarti kemungkinan kedua teman mereka tak juga berada di sekitar sana. Sudah berapa lama mereka terpisah? Seluas apa tempat ini sampai-sampai mereka tak bertemu satu kalipun selama itu?
Angin dingin membuyarkan pemikiran Kiku. Suara dedaunan yang bergesekan dengan tanah mengusiknya. Kiku melemparkan pandangan ke sekitarnya. Dedaunan beterbangan tertiup angin. Dan…hei….apa itu?
Pandangan Kiku terhenti pada satu titik. Sesosok bayangan putih tampak berlalu dengan cepat di kejauhan sana.
"Siapa?" tanya Kiku dalam hati. Ternyata ketenangan tadi itu tak berlangsung lama.
'sreek…srek…'
Kiku menoleh ke arah lain. Lagi-lagi tampak ada bayangan putih berlalu di kejauhan. Lalu…suara itu…
Kiku menoleh lagi. Sepotong tangan manusia, tanpa tubuh, tampak di tanah. Jari-jarinya bergerak pelan, membuat tangan itu berpindah tempat. Tangan itu hendak meraih Feliciano yang tengah tidur lelap.
"Feliciano-kun!" Kiku memanggil pemuda Italia itu. Dengan cepat ia mengambil katananya dan menebas tangan misterius itu. Tangan itu lenyap.
Tapi tangan itu tidak hanya satu. Beberapa saat kemudian tangan-tangan lain bermunculan di tanah, mencoba meraih mereka. Kiku terpaku sesaat. Tangan tanpa tubuh…Kenapa di tempat ini ada begitu banyak hal aneh? Kiku menggelengkan kepala. "Bukan saatnya untuk takut" pikirnya.
Tangan-tangan itu bergerak.. dan tak hanya merayap di tanah, tapi juga melayang.
"Feliciano-kun!" Kiku mencoba membangunkan sahabatnya itu.
Tangan-tangan itu mencoba mendekati mereka. Kiku mencoba melenyapkannya satu-persatu. Namun jumlahnya terus bertambah.
"Bangun, Feliciano-kun!" seru Kiku lagi. "Kita diserang! Hantu-hantu itu mulai datang!"
"….vee?..." Feliciano membuka mata perlahan. "Ada apa Kiku?" tanyanya. Dirinya masih belum sepenuhnya sadar. Matanya masih sangat berat.
"Hantu-hantu itu datang!" sahut Kiku.
Mendengar kata 'hantu', Feliciano langsung melompat bangun. Ia menarik selimutnya dengan heran juga. Apa Kiku yang menyelimutinya? Tapi Feliciano langsung ingat dengan hantu tadi.
"Mana hantunya?" tanya Feliciano sambil melihat sekeliling. "Veeee!" Ia langsung berteriak ketakutan melihat tangan-tangan yang mencoba mendekati mereka.
"Feliciano-kun, kemasi barang-barang secepatnya!" kata Kiku. Ia menyerang tangan-tangan yang mencoba mendekati mereka. "Setelah itu cepatlah bersempunyi!"
"Eh…bersembunyi?" tanya Feliciano.
"Ya," jawab Kiku. Ia menghindari tangan yang melayang ke arahnya. Satu tangan mendekati kakinya. Kiku mengayunkan katananya, memotong tangan itu. Tangan itu lenyap. Tapi tangan-tangan lainnya terus mendekat.
"Mereka banyak sekali," kata Kiku dalam hati. Ia melihat sekelilingnya. Puluhan…bahkan mungkin ratusan tangan mencoba mendekati mereka. Semakin lama gerakan mereka juga terasa semakin cepat.
"Kiku…" Feliciano masih terdiam. Lari? Sementara temannya di sini sedang kesulitan?
Beberapa tangan melayang cepat ke arah mereka. Kiku menebas semuanya dengan segera. Lalu ia beralih lagi ke arah yang lainnya. "Feliciano-kun, cepatlah!" seru Kiku lagi.
Feliciano segera membereskan barang-barang mereka dan bersiap lari. Beruntung, tak ada satupun tangan yang menyerangnya. Kiku menghadapi semuanya. "Aku…aku harus lari…" Feliciano menoleh sekilas ke arah tangan-tangan itu dengan ketakutan. "Aku…aku takut vee…." Ia mulai gemetar. "Kenapa…kenapa kami harus mengalami hal seperti ini?"
Feliciano memejamkan mata erat-erat. Ia siap berlari sekencang mungkin. Namun ia terhenti. Ia menoleh ke arah Kiku. "Tidak…. Aku tidak bisa pergi…."
Kiku sedang menghadapi tangan-tangan itu. Sepanjang perjalanan tadi, Kiku selalu melindunginya. Bahkan saat tertidur pun, Kiku menjaganya…menyelimutinya.
"Aku…." Feliciano mengepalkan tangannya erat-erat. "Aku tidak boleh lari!" Ia menurunkan kedua tas yang hendak dibawanya. Dengan gemetar Feliciano berjalan, mengambil kayu yang besar. Setelah itu Feliciano berdiri diam. Ini memang keputusan yang sangat sulit baginya. Ia takut. Ia ingin lari. Ingin berteriak-teriak memohon agar mereka pergi saja. Tapi ia tak bisa melakukan semua itu. Saat ini…. "Aku harus mengusir mereka."
Feliciano menghapus air matanya yang hampir menetes. Ia menggenggam kayu dengan kedua tangannya. Ia melihat Kiku mulai kewalahan menghadapi serbuan tangan-tangan misterius itu. Satu tangan mencengkeram kaki kiri pemuda Jepang itu. Tangan yang lain mencoba menariknya.
"Heeeiiii!" Feliciano berseru dengan lantang. "Tangan-tangan jelek! Kenapa kalian hanya menyerang temanku saja? Veee~ Aku ini sangat hebat lho! Lawan aku kalau berani!"
Beberapa tangan tampak diam. Kiku sendiri sangat terkejut.
"Apa yang kau lakukan?" seru Kiku. "Cepat lari, Feliciano-kun!"
"Tidak." Feliciano menggeleng. Ia tahu saat ini ia masih gemetaran. Ia bahkan tak punya strategi apapun untuk melawan tangan-tangan itu. Tapi ia memutuskan untuk tidak lari.
Sebagian tangan-tangan itu mulai bergerak, hendak menyerang Feliciano.
"Hentikan! Lawan kalian adalah saya!" seru Kiku. Ia mencoba menghalangi tangan-tangan aneh itu, namun gagal. Jumlah mereka terlalu banyak. "Feliciano-kun, lari!"
"Aku tidak akan lari!" Feliciano berteriak kencang.
Tangan-tangan itu melyang ke arahnya. Feliciano mengayunkan kayu di tangannya ke sembarang arah.
"Pergi! Pergi kalian!" seru Feliciano. Ia berusaha memukul tangan-tangan itu. "Jangan ganggu temanku! Jangan ganggu kami! Biarkan kami pergi dari tempat ini!"
Kiku mengayunkan katananya, berusaha menyerang secepat mungkin. "Saya harus cepat," katanya dalam hati. "Feliciano-kun dalam bahaya…"
Tapi jumlah tangan-tangan itu tak berkurang juga.. Malah mereka bergerak semakin cepat….semakin cepat…
"Aaaa!" Feliciano berteriak kesakitan. Satu tangan mencakar lengan kirinya.
Kiku langsung menoleh dengan cemas. Tangan-tangan lain mulai menarik Feliciano, dan mencoba mencakarnya lagi. Pemuda Italia itu terjatuh ke tanah.
"Pe…pergi kalian…vee….." Feliciano menggenggam erat kayunya lagi, berusaha bangkit. Tapi tangan-tangan itu menarik-nariknya terus. Sebuah cakaran mengenai bahu kirinya. Darah mulai mengalir pelan dari lukanya.
"Feliciano-kun…." Melihat itu, Kiku tak peduli lagi dengan sekitarnya. Ia menerobos tangan-tangan itu dan menebas apa saja yang berusaha mendekatinya. Segera saja ia telah berada di sebelah Feliciano. Kiku segera menyingkirkan tangan-tangan yang mengganggu pemuda Italia itu.
"…vee…Kiku…maaf.." kata Feliciano. Ia tertunduk. Lagi-lagi ia harus diselamatkan sahabatnya itu
"Kenapa kau tidak lari?" tanya Kiku, setengah berteriak. Ia tahu pemuda Italia itu paling ahli dalam hal kabur. Tapi kenapa itu tidak dilakukannya?
"Aku…aku tidak mau lari vee…" jawab Feliciano. "Aku tak mau sendirian. Kalau lari, kita harus lari bersama-sama! Kalau melawan…kita harus melawan mereka bersama-sama!"
"Mereka terlalu banyak," kata Kiku. Ia berbalik, mengayunkan katananya. Beberapa tangan yang mencoba menyerang mereka menghilang setelah terkena serangan. "Kalau kita lari bersama-sama, mereka akan terus mengejar."
"Ka…karena itu aku ingin melawan mereka bersama-sama, vee!" kata Feliciano. Ia meringis dan memegang bahunya yang terluka. "Kupikir kalau bersama-sama, pasti akan lebih mudah…"
Kiku menghela nafas, lalu berbalik, menghadapi lagi tangan-tangan yang kembali menyerang. "Tidak semudah itu juga," katanya. "Saya sangat berterimakasih karena Feliciano-kun mau membantu. Tapi…"
"Aku tahu…" kata Feliciano-kun. Ia tahu…ia memang berniat baik. Tapi ia tak bisa apa-apa. Ia hanya seorang yang payah dan hanya bisamelarikan diri kan? "Mungkin memang seharusnya aku lari saja." Ia mengangkat kepalanya. "Vee~ Aku memang tak bergu…." Feliciano tak jadi meneruskan kata-katanya. Ia melihat sesosok bayangan putih melesat ke arah mereka di kejauhan sana. "Kiku! Veeeee bayangan putih!"
Kiku, yang tengah berkonsentrasi pada tangan yang hendak menangkap kakinya, langsung menoleh. Sosok putih itu sudah tepat berada di depannya. Wanita dengan baju putih berambut panjang…menyeringai dengan wajah rusak.. Di tangannya tergenggam sebuah pisau
"Pengganggu…" bisik wanita itu. Ia mengayunkan pisaunya.
"…terlalu cepat…" kata Kiku dalam hati. Ia mencoba menghindar. Namun terlambat. Wanita itu berhasil menusuk lengan kanannya.
"Pengganggu…harus mati…" Wanita itu mencabut pisaunya dengan kasar.
Kiku hampir berteriak kesakitan. Darah mengalir deras dari lengannya. Mendadak pandangannya menjadi buram.
Feliciano menahan nafas, melihat sahabatnya jatuh ke tanah. "Kikuuuuu!" serunya
TO BE CONTINUED
