Chapter 1
Breakable Resolve
"Kau milikku, Cagalli."
-T-R-R-
"Mawar merah lagi, Cagalli?"
Gadis berambut orange pendek meraih bunga mawar dari kotak surat di depan rumah keluarga Asuka dan memberikannya pada gadis berambut pirang keemasan di sebelahnya. Sekuntum mawar merah, dengan dua helai daun menghiasi batang hijau panjangnya. Sepucuk kertas menempel di bunga itu, berhiaskan tulisan latin yang indah.
"Dearest, Cagalli," ucap Cagalli, menyerngitkan dahi. "Lagi-lagi tanpa identitas,"
Gadis di sebelahnya tersenyum. "Baru 6 bulan di sini saja kau sudah punya secret admirer, Cagalli," ujarnya seraya menepuk pundak Cagalli. "Kau beruntung sekali,"
Cagalli melempar pandangan mencela pada si rambut orange. "Nah, lihat siapa yang bicara; Mirrilia Haw, seorang mantan paparazzi kelas kakap yang berhasil menaklukkan hati salah satu 'buruan'nya : seorang model sekaligus artis papan atas dengan jutaan penggemar," Ia menyelipkan mawar merah di tas belanjaannya. "Semua orang juga tahu siapa yang lebih beruntung diantara kita,"
Mir hanya tertawa geli. "Aku hanya perlu Dearka seorang yang mengagumiku. Kurasa aku tak akan sanggup menangani seorang secret admirer, apalagi jika ia selalu mengirimkan bunga mawar merah setiap sore ke rumahku, 3 bulan nonstop. Tidak, tidak, aku tidak akan sanggup,"
"Sejak kapan kau jadi sinis begini, Mir?"
"Sejak 6 bulan terakhir, seingatku," jawab Mir cepat, memberi tatapan mencela. "Sahabat baruku lah yang mengenalkan seni bersilat lidah padaku, "
Cagalli hanya bisa menggeleng. Ia tak pernah menyangka, gadis berambut orange yang dulunya selalu ramah, bisa sinis juga. Bahkan lebih sinis dari dirinya sendiri—atau setidaknya itu yang dia pikirkan. "Sekarang aku mengerti kenapa sekarang Dearka sering mengomel tidak jelas padaku," gumamnya seraya menggelengkan kepala, "Kurasa aku memang berhutang maaf padanya karena sudah membuat tunangannya seperti ini," Saat melihat Mir tertawa, Cagalli kembali menyahut, "Setidaknya ada yang tidak berubah darimu; selalu memegang perutmu saat tertawa,"
Mendadak Mir berhenti, mengarahkan pandangannya pada tangan kanan di perutnya. "Waw, sungguh? Kurasa kau mengenalku lebih baik daripada diriku sendiri,"
Cagalli hanya mengangkat bahu, memilih untuk diam. Ia kembali memandang bunga mawar di tangannya, mengarahkan bunga mawar itu ke penciumannya. Seperti biasa, bau khas mawar menyeruak penciumannya, membuat tubuhnya rileks.
"Kau tahu," suara Mir membuatnya berpaling. Dilihatnya Mir menatap bunga di tangannya dengan pandangan menyelidik. "Aku penasaran; bagaimana si secret admirer mu tahu kalau kau suka bunga mawar?" gumam Mir dengan nada curiga, "Maksudku, sebelumnya kau bahkan tidak tahu bentuk bunga mawar itu seperti apa,"
"Bukan tidak tahu," kilah Cagalli, menyerngitkan dahi. "Tapi lupa,"
"Detail yang tidak penting," Mir menggeleng. Ia menatap bunga itu sejenak, sebelum tiba-tiba melayangkan pandangan ke sekeliling, seolah mencari-cari sesuatu.
"Jangan bilang insting paparazzi-mu mendeteksi ada penguntit di sekitar sini, mengamati kita lewat teropong," gumam Cagalli bosan, masih dengan bau mawar memenuhi penciumannya. "Ayolah, mungkin saja ia tidak peduli bunga seperti apa yang kusuka; mungkin sekalipun aku alergi pada bunga ini, ia masih akan tetap memberi bunga yang sama besoknya," Cagalli terdiam sejenak, berusaha mengalihkan Mir dari hipotesis absurd nya. "Bukannya dulu kau pernah bilang kalau mawar merah itu lambang cinta? Mungkin dia juga berpikiran seperti itu,"
"Kau benar-benar tidak punya daya imajinasi," gumam Mir, berpaling kembali ke Cagalli. "Mungkin sebaiknya kau banyak membaca buku dongeng Lym atau Steira,"
Cagalli memutar bola matanya. "Ide bagus. Mungkin aku juga perlu merengek pada Shinn agar boleh pergi ke sekolah bersama Lym atau Steira,"
Mir tertawa geli. "Kau lucu, Cagalli,". Ia melihat jam tangannya dan menggeleng perlahan. "Sepertinya aku harus pulang sekarang,"
Cagalli mengangguk. "Yup. Terima kasih sudah menemaniku belanja, Mir,"
Mir mengangguk. "Aku hanya berusaha menyelamatkan keluarga Asuka dari keracunan makanan, tidak lebih," ujar Mir seraya tersenyum jahil. "Oh, siapa yang tahu sarkastis itu menyenangkan?"
"Hanya kalau tidak salah bicara di waktu yang salah," Cagalli menggeleng kepala. "Kau tahu, menurutku Mir yang dulu lebih peka daripada Mir yang sekarang. Tapi setidaknya sekarang kau terlihat lebih bahagia—tunggu dulu, kurasa kebahagiaan tidak ada hubungannya dengan sarkastis atau kepekaan—"
"Sebaiknya kau berhenti sebelum pikiranmu berputar-putar seperti hamster yang berputar-putar di roda mainan," ujar Mir, menepuk pundak Cagalli. "Salam buat keluarga Asuka ya," ujarnya sebelum beranjak pulang.
Cagalli tidak menyahut; bukan karena memikirkan perubahan Mir atau apa, tapi karena kata-kata terakhir Mir tadi. "Berputar-putar seperti hamster ya…" ia menggelengkan kepala. "Rasanya kalimat itu familier sekali. Hm…"
-T-R-R-
Enam bulan yang lalu, Shinn Asuka menemukan seorang gadis berambut pirang pingsan saat ia tengah menjelajahi hutan di tepi kota DS untuk mengumpulkan tanaman obat buat anak sulungnya yang sakit. Ia bergegas membawa gadis itu ke rumah sakit, namun belakangan saat gadis itu sudah sadar, ia baru tahu bahwa gadis itu mengalami amnesia yang aneh; ia hanya mengingat namanya saja, tak lebih. Selain itu gadis itu juga tidak memiliki tanda pengenal atau apapun yang bisa membantunya mengingat masa lalunya. Tidak tega dengan keadaan gadis itu, Shinn Asuka memutuskan untuk membayar biaya pengobatan gadis itu dan juga mengajak gadis itu untuk tinggal bersamanya dan anak-anaknya—setidaknya sampai gadis itu berhasil mengingat sesuatu.
Hari demi hari berlalu dan baik keluarga Asuka maupun gadis itu sudah nyaman satu sama lain. Tak ada lagi pembicaraan tentang masalah amnesia yang dialami si gadis atau apapun yang berkaitan dengan masa lalu gadis itu. Selain dengan keluarga Asuka, gadis itu juga berhasil membangun pertemanan dengan tetangga-tetangga di sekitar rumah Asuka, bahkan bersahabat baik dengan seorang gadis cantik yang baru saja resign dari pekerjaannya lantaran mempersiapkan diri untuk menjadi ibu rumah tangga beberapa bulan kedepan.
Namun, semenjak tiga bulan yang lalu, setiap sore selalu muncul sebatang mawar merah, dengan dua helai daun dan sepucuk kertas yang tidak memuat identitas pengirim. Hanya sederet tulisan latin yang indah berisi, "Dearest, Cagalli.". Semenjak itu, si gadis sering bermimpi aneh. Ia bermimpi dirinya sedang mengejar buah apel yang menggelinding di tanah dan saat ia hampir meraih buah itu, mendadak buah itu lenyap.
Dan, di bulan keenam gadis itu tinggal bersama keluarga Asuka, si gadis mengalami keanehan lain…
-T-R-R-
"Cagalli?"
Cagalli tersentak, tanpa sadar pisau di tangannya terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai. Ia menoleh ke belakang, mendapati tangan pria berambut hitam berada di pundaknya. Mata merah pria tersebut menatapnya dengan tatapan khawatir. Cagalli mengerjap beberapa kali, kebingungan. "Ada apa, Shinn?"
"Kau…" untuk sesaat Shinn terlihat kalut, namun akhirnya ia menggeleng. "Sudahlah. Sepertinya mataku menipuku lagi,"
"Hah?" Cagalli memungut pisau di lantau. "Memangnya apa yang kau lihat tadi?" saat melihat ekspresi panik familier di wajah Shinn, Cagalli menghela nafas pelan. "Kau melihatku hendak mengiris pergelangan tanganku dengan pisau lagi?"
Shinn terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan.
Cagalli menggelengkan kepala. "Sepertinya kau perlu liburan, Shinn Asuka," ujar Cagalli ringan seraya kembali memotong wortel di hadapannya. "Kalau sampai pasien-pasienmu tahu bahwa dokter yang mengobati mereka sedang stress, bisa-bisa mereka semua kabur," Ketika Shinn masih tidak merespon, Cagalli berpaling ke arah Shinn, melanjutkan kata-katanya. "Kau sudah janji akan membawa Lym dan Steira keluar negeri akhir bulan ini kan? Bagaimana kalau kau ajukan saja waktunya jadi minggu depan?"
Kali ini Shinn menyahut. "Tidak bisa, aku sudah ada janji dengan beberapa pasien. Dan," Shinn mencubit pipi kiri Cagalli, "Kau juga ikut bersama kami, Cagalli. Titik,"
"Shinn!" erang Cagalli, berusaha melepaskan pipinya dari tangan Shinn. "Lepaskan pipiku!"
Shinn tertawa, melepaskan pipi Cagalli seraya memandang Cagalli dengan tatapan geli. "Kau ini lucu, Cagalli,"
Cagalli menggembungkan pipi, berusaha terlihat kesal. "Seandainya yang mengucapkan itu adalah Lym atau Steira, aku akan menganggapnya sebagai pujian. Tapi kalau yang mengucapkannya adalah om hidung belang yang sudah punya dua anak, entah kenapa aku merasa seperti dilecehkan,"
Shinn kembali mencubit pipi kiri Cagalli. "Siapa yang om hidung belang, hah? Aku ini baru 28 tahun!"
"Bagus, sekarang kau main curang; memakai usia sebagai alasan karena kau tahu aku bahkan lupa usiaku berapa," balas Cagalli sinis.
"Siapa yang main curang, hm?" tiba-tiba Shinn tangan kanan meraih pisau di tangan kanan Cagalli dan meletakkan di samping potongan wortel, sementara tangan kirinya menarik pinggang Cagalli, menyatukan keduanya dalam pelukan. Shinn menatapnya penuh arti, memamerkan senyum lebar, sementara Cagalli, sekalipun merasa tidak nyaman dengan posisi tangan Shinn sekarang, bersikap seolah ia tidak peduli dan balas menatap Shinn, menantangnya.
Cagalli…
Tiba-tiba terdengar suara familier di telinganya, membuat Cagalli spontan terlonjak; kedua tangannya bergerak berusaha melepaskan diri bahkan sebelum ia sempat memikirkan apapun.
Sebelum Shinn sempat bereaksi, Cagalli langsung mendorong Shinn keluar dari dapur. "Aku. Memasak." ujar Cagalli patah-patah, nafasnya terengah-engah. "Shinn. Mandi."
"Cagalli—" Cagalli langsung melesat kembali ke wortel dan pisaunya sebelum Shinn sempat menyelesaikan kata-katanya.
Ketika ia mendengar langkah Shinn menjauh, tanpa sadar Cagalli menghela nafas. Ia menatap kedua tangannya yang gemetaran. Ia pun masih terengah-engah dan ia merasakan jantungnya berdebar-debar sangat kencang. Keringat dingin mengalir di tengkuk Cagalli.
"Cih," gerutu Cagalli, berusaha keras mengendalikan diri, "Suara itu lagi…"
Akhir-akhir ini setiap kali ia dan Shinn berdekatan, selalu terdengar suara di kepalanya, memanggil namanya. Suara familier yang tidak bisa Cagalli ingat siapa pemiliknya. Suara itu seolah menjadi alarm di kepala Cagalli, membuatnya spontan menjauh ketika posisi mereka sangat berdekatan. Tubuhnya bergerak menjauh bahkan sebelum Cagalli sempat memikirkan apapun. Dan, sebagai efek tambahan, muncul perasaan ketakutan yang teramat sangat.
Sementara bagaimana perasaannya sendiri pada Shinn, ia sendiri juga tidak tahu—tidak, lebih tepatnya tidak yakin. Walaupun tak punya bekal ingatan apapun selain namanya, bukan berarti Cagalli buta dengan perlakuan Shinn kepadanya; mulai dari gurauan, rayuan, ejekan, cubitan di pipi, hingga memeluknya saat tidak ada kedua anaknya—tak perlu bantuan Mirrilia untuk mengkonfirmasi arti perlakuan Shinn padanya. Dan, ia akui, Shinn Asuka memang memiliki daya tarik yang membuatnya terpikat.
Namun ia sendiri merasa ada sesuatu yang menahannya—lebih tepatnya membelenggu perasaannya. Dan kenyataan bahwa suara familier yang ia dengar itu adalah suara laki-laki semakin menambah keraguaannya.
Kenyataan bahwa suara itu terasa familier, ditambah munculnya mimpi aneh yang sering kali datang semenjak ia menerima mawar merah pertamanya, semakin mengukuhkan hipotesis yang berputar-putar di kepalanya akhir-akhir ini : ingatannya, perlahan tapi pasti, mulai kembali. Dan semua itu karena mawar merah dari si secret admirer. Dan tidak menutup kemungkinan bahwa si secret admirer ini mengenalnya—bahkan mungkin saja suara familier itu milik si secret admirer.
Tapi…kalau memang si secret admirer itu mengenalnya, kenapa ia baru muncul 3 bulan yang lalu? Kenapa ia baru muncul setelah ia merasa nyaman dengan kehidupan barunya? Setelah ia berhasil lepas dari kesedihan akan hilangnya ingatannya, setelah ia berhasil menata kembali hidupnya, menemukan teman-teman baru, keluarga baru—bahkan mungkin cinta baru. Ataukah ini berarti si secret admirer tidak ada hubungannya dengan si suara familier atau pun masa lalunya?
Di atas segalanya, yang paling membuatnya penasaran adalah reaksi tubuhnya sendiri.
Kenapa tubuhnya seakan takut dengan suara itu?
-end of Chapter One-
Catatan Lenn :
Butuh Disclaimer? Oke :
GS-GSD bukan milikku. I'm just your average GS fans
Kritik dan saran sangat-sangat membantu Lenn. Could you help me, please? .
In the end, welcome to The Red Rose, gorgeous readers.
Lenn
