Mysterious Park

Part 6

(Hetalia punya Hidekaz Himaruya bukan punya saya ._. )

Bayu dan teman-temannya telah berada di dalam pesawat. Mereka semua kini tengah terdiam. Bayu telah menceritakan semuanya pada mereka. Ketiga anggota klub jurnalistik plus Gilbert itu telah menghilang. Mereka berjanji untuk keluar dari taman pukul lima sore. Tapi hingga kini, mereka belum juga keluar. Karena berada di dalam pesawat, Bayu dan yang lainnya tak bisa menghubungi Made lagi. Tapi mereka tahu, ada sesuatu yang tak beres di sana.

"Apa yang terjadi pada mereka aru?" tanya Yao dalam hati. "Mereka tak mungkin sengaja menakut-nakuti Made." Ya, apalagi Kiku. Yao tahu betul sifat adik sepupunya itu. Ia tak akan mungkin sengaja menghilang dan menakut-nakuti orang lain seperti ini. Kalaupun mereka sengaja, tak mungkin mereka membiarkan orang yang menunggunya sampai menangis ketakutan kan?

Yao semakin gelisah. Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka? Apakah…karena hantu? Kenapa mereka harus pergi ke tempat seperti itu?

"Yao Yao tenang saja da." Mendadak Ivan menepuk pundak pemuda China itu dan berbisik padanya. "Aku yakin mereka akan baik-baik saja da."

Yao menghela nafas. Ia ingin mengiyakan kata-kata Ivan, walaupun ia tak suka kalau harus sepakat dengannya. Tapi… ia tetap merasa sesuatu yang tak beres telah terjadi di Bali sana. Yao dibesarkan di China. Ia mengenal banyak cerita yang berhubungan dengan sesuatu yang gaib. Ia tahu bahaya jika bermain-main dengan hal seperti itu. "Kau tak mengerti aru," sahut Yao kemudian. "Hantu atau semacamnya kadang bisa menjadi sangat berbahaya aru."

"Tapi kurasa Ivan benar. Kita tak boleh terlalu cemas dulu." Francis yang sejak tadi mendengarkan, ikut bicara. "Mereka adalah orang yang pemberani….kecuali Feliciano. Tapi mereka pasti akan selamat."

"Benar!" Alfred ikut menimpali. "Dan kalau mereka tak keluar juga, biar sang hero ini yang mencari mereka!"

"Bukan hanya kau saja. Kita semua juga akan mencari mereka, bodoh!" sahut Arthur.

"Oh ya? Aku tak yakin kau berani masuk ke sana," ejek Francis pada Arthur.

Mendengar itu Arthur langsung menatap Francis dengan kesal. "Apa kau bilang? Paling-paling kau yang lari ketakutan duluan melihat hantu di sana!"

"Bukannya alismu duluan yang akan rontok melihat hantu?"

"Kau!"

"Kaauuu!"

"To…tolong kalian semua tenang!" Sosok berkacamata di dekat mereka mencoba bicara. Tapi lagi-lagi ia tidak dipedulikan. Ia pun berjongkok di pojokan meratapi nasibnya.

Di dalam Taman Festival Bali…

"Kikuuuuu!" Feliciano berteriak kencang.

Kiku jatuh ke tanah, memegang lengan kanannya. Lengan yang tertusuk itu kini berlumuran darah. Dan ia benar-benar kesakitan. Kiku hanya mampu memejamkan mata erat-erat.

"Kiku! Kikuu!" Feliciano langsung meraih tubuh Kiku. Ia mengguncang tubuh sahabatnya itu dengan ketakutan. "Kiku, buka matamu veee… Kiku!"

Pemuda Jepang itu tak juga membuka mata. "Sakit." Hanya itu yang ia pikirkan saat ini. Rasa sakit hampir menghilangkan kesadarannya. Ingin rasanya ia segera tertidur saja. Berharap ini hanya mimpi buruk. Berharap ini tidak nyata. Berharap ketika ia membuka mata, ia tak lagi berada di taman itu. Mungkin di rumahnya, atau mungkin di asrama. Tapi… "Ini bukan mimpi."

Feliciano terus memanggil nama sahabatnya itu. "Bagaimana ini veee?" tanyanya dalam hati. "Apa yang harus kulakukan? Aku payah. Aku tidak berguna. Aku…."

"Meleset…" Wanita berpakaian putih di depan mereka mengangkat pisaunya lagi. Ia tampak tak puas melihat semua itu. Baginya, semua pengganggu, harus mati. "Tapi sekarang tidak akan kubiarkan meleset lagi…"

"Veee!" Feliciano melihat wanita itu. Ia berhenti berteriak-teriak. Wajahnya memucat. Sosok mengerikan itu bersiap menyerang lagi. Tak hanya sosok itu. Tangan-tangan misterius yang tadi menyerang mereka juga mulai bergerak lagi. "Vee, pergi kaliaaaannn!" seru Feliciano kemudian. "Jangan dekati kami lagi! Pergi!"

Kiku memaksakan diri untuk membuka mata. "Saya harus bangun…" katanya dalam hati. "Saya harus…menghadapi mereka…"

Wanita itu maju menyerang dengan pisau di tangannya. Feliciano hanya mampu berteriak. Namun Kiku bangkit berdiri. Ia meraih katana miliknya yang terjatuh tadi di dekatnya. Wanita berbaju putih itu mengayunkan pisau ke arahnya. Kiku menghentikannya dengan katana miliknya. Pisau wanita itu terlepas dari genggaman dan terjatuh.

"Kau!" Wanita itu langsung mundur dengan sangat cepat ke belakang tangan-tangan misterius tadi. Ia berdiri, terdiam, melihat dengan tak percaya. Kenapa pemuda itu masih berdiri juga?

Kiku bernafas cepat. Cairan merah pekat masih mengalir di tangannya. Pandangannya mulai kabur lagi. Tapi… "Saya tidak boleh jatuh lagi," katanya dalam hati. "Saya harus menjaga Feliciano-kun. Setidaknya…dia harus keluar dari sini."

"Kiku…" Mata Feliciano berkaca-kaca. Ia tak tahu harus lega atau bagaimana sekarang. Ia senang melihat sahabatnya bangkit. Tapi musuh masih berada di depan mereka. Dan jumlah mereka tidak sedikit.

"Feliciano-kun…" Kiku menoleh pada pemuda Italia itu. "Lari…" bisiknya kemudian.

Feliciano cepat-cepat menggeleng. "Tidak!" sahutnya.

"Cepatlah!" kata Kiku. "Saya tidak tahu sampai kapan saya bisa menahan mereka. Kau harus lari sekarang juga."

"Tidak!" seru Feliciano. "Aku…aku…" Dengan gemetar Feliciano bangkit berdiri. "Aku tidak akan lari! Aku tidak akan membiarkanmu sendirian melawan mereka!"

"Serang mereka!" Wanita berbaju putih itu memberi perintah pada tangan-tangan di depannya. "Jangan biarkan mereka hidup."

"Feliciano-kun! Lari!" seru Kiku.

Tangan-tangan di depan mereka telah bergerak. Ada yang bergerak di tanah, ada yang melayang. Yang pasti, mereka siap untuk membunuh.

"Aku tidak akan lari!" sahut Feliciano lagi. Namun mendadak ia meraih kedua tas yang tadi ia jatuhkan. "Aku tidak akan lari sendirian!" Pemuda itu kemudian menarik sebuah kain berwarna putih yang besar dari saku bajunya dan melemparnya ke arah tangan-tangan itu. Tangan-tangan itu tak jadi menyerang. Mereka terhalang oleh kain putih besar itu.

"Ayo, Kiku! Kita lari!" Feliciano menarik tangan Kiku. Dengan segera ia mengeluarkan kemampuan terbaiknya dalam melarikan diri. Ia berlari secepat kilat. Hanya dalam hitungan detik, keduanya lenyap dari pandangan.

"Mereka…" Wanita tadi terdiam. Sekali lagi ia tampak terkejut. Tapi ia kembali menyeringai. "Mereka tak akan bisa keluar dari sini," bisiknya. "Pengganggu harus mati."

Langit yang tadinya tampak cerah dengan bulan yang terlihat jelas, kini berubah gelap. Awan tebal tampak menutupi langit. Suara petir mulai terdengar. Tak lama kemudian gerimis turun membasahi bumi.

Feliciano menutup pintu dengan nafas terengah-engah. "Hampir saja, vee~" katanya. Ia meletakkan tas miliknya dan tas Kiku di sudut ruangan.

Tak jauh darinya, Kiku duduk bersandar di tembok. "Hh… Sepertinya kita aman sekarang," sahutnya.

Kedua pemuda itu kini berada di dalam sebuah bangunan. Mereka berhasil melarikan diri dari kejaran makhluk-makhluk mengerikan tadi. Karena hujan tampak akan segera turun, mereka masuk ke bangunan terdekat untuk berteduh. Di taman itu banyak bangunan terlantar. Mereka memasuki salah satu. Setelah memastikan tempat itu aman, mereka memutuskan untuk berdiam di sana.

"Veee~ Semoga mereka tidak datang lagi," kata Feliciano. Ia berjalan perlahan, lalu duduk di sebelah Kiku. Ia pun tersenyum. "Semoga kita bisa tidur nyenyak sekarang," katanya lagi.

Kiku mengangguk, lalu mengalihkan pandangannya ke arah langit-langit. "Ya, semoga saja benar begitu," pikirnya. "Semoga mereka tak datang lagi, setidaknya untuk malam ini." Keadaan di sekeliling mereka cukup gelap kali ini. Feliciano memang membawa sebuah senter kecil. Namun senter itu hanya cukup untuk menerangi sedikit bagian dari ruangan itu. Dan entah berapa lama baterai senter itu bisa bertahan. Mereka tak membawa baterai cadangan. Kalau sekeliling mereka benar-benar gelap nanti, mereka tak akan tahu jika hantu-hantu itu datang. Sedangkan mereka tak mungkin menyalakan api unggun di dalam bangunan.

"Oh ya!" Mendadak Feliciano angkat suara, memecah kesunyian. Ia menoleh pada Kiku. "Tanganmu bagaimana?" tanyanya cemas.

"Saya baik-baik saja," jawab Kiku cepat. Lengan kanannya masih terasa sakit. Tapi ia tak mau membuat Feliciano cemas.

Feliciano tampak tak setuju. Ia mengeluarkan kain putih lagi dari sakunya, kali ini ukurannya tidak terlalu besar. "Vee~ coba kulihat!" Feliciano meraih tangan kanan Kiku, hendak membalut luka sahabatnya itu.

Kiku menatap pemuda Italia itu dengan sedikit heran. "Kenapa Feliciano-kun membawa-bawa kain putih sebanyak itu?" tanyanya dalam hati. Tapi ia ingat lagi kalau Feliciano suka sekali membuat bendera putih. Jadi kain-kain itu pasti kain yang ia gunakan untuk membuat bendera itu.

"Vee…" Senyum di wajah Feliciano pudar setelah melihat keadaan Kiku. Bagian lengan dari jaket yang dikenakan pemuda itu kini telah dipenuhi warna merah. "…darahnya banyak sekali…"

"Saya tidak apa-apa," kata Kiku lagi. "Feliciano-kun juga terluka kan? Tadi juga diserang…"

Feliciano teringat dengan luka di bahunya. Tapi itu hanya luka kecil. "Jangan dibandingkan dengan ini!" sahut Feliciano. "Aku benar-benar tidak apa-apa. Tapi Kiku…"

"Tidak apa-apa. Sudah tidak sakit lagi" Kiku mencoba tersenyum. Saat ini Feliciano tampak hampir menangis. Ia tak ingin itu terjadi.

"Jangan bohong vee…" Feliciano membuka jaket yang dikenakan Kiku. Kemudian ia menaikkan lengan kanan baju pemuda itu. Feliciano terdiam sebentar dengan ketakutan. "Lukanya cukup lebar…" katanya dalam hati. "Apa Kiku akan baik-baik saja?"

Tapi Feliciano tak membuang waktu lagi. Ia berusaha menghentikan darah yang mengalir dan membalut luka itu dengan kain-kain yang dibawanya. Kiku hanya diam, tak protes lagi pada sahabatnya itu. Dan mendadak ia merasa sangat lelah. Perlahan Kiku memejamkan mata.

"Vee? Kiku?" Feliciano memanggil Kiku. Pemuda Jepang itu tak menjawab.

"Kiku?" Ketakutan memenuhi pikiran Feliciano lagi. Tapi cepat-cepat ia menepisnya jauh-jauh. Dilihatnya Kiku masih bergerak, bernafas… "Kiku cuma tidur ve…" pikir Feliciano kemudian. "Ia akan baik-baik saja."

Feliciano pun menyelesaikan pertolongan daruratnya dan membaringkan Kiku di lantai. Tasnya ia gunakan sebagai bantal. Setelah itu Feliciano hanya duduk diam.

"Veeee." Feliciano melihat jam di handphonenya. Sekarang sudah pukul satu pagi. Dan sekarang ia terjaga sendirian. Sendirian begini membuatnya benar-benar gelisah. Ia tak yakin dengan keadaan Kiku. Lalu bagaimana kalau hantu-hantu tadi datang lagi? Ia tak akan bisa melawan mereka!

"Ludwig…" Feliciano ingat lagi dengan sahabatnya itu. Di sekolah, dulunya Feliciano sering diganggu anak-anak yang nakal. Tak peduli mengibarkan bendera putih sebanyak apapun, tetap saja ia diganggu. Tapi Ludwig pasti akan selalu datang menolongnya. Seberapa kuat pun anak-anak nakal itu berkelahi, Ludwig pasti akan selalu menang. Ya… biasanya Feliciano selalu tergantung pada Ludwig. "Sekarang kamu dimana veee~?"

Feliciano ingin menangis. Kali ini ia benar-benar merindukan kehadiran Ludwig. Memang aneh, karena belum genap satu hari mereka berpisah. Tapi ia benar-benar berharap Ludwig ada di sini, juga Gilbert. Lalu mereka berempat keluar secepatnya dari taman mengerikan ini.

'kresk'

Dari luar mendadak terdengar suara dedaunan yang diinjak. Suara itu membuat Feliciano membeku sesaat. Cepat-cepat ia mematikan senter di tangannya.

'kresk'

"Siapa itu?' tanya Feliciano dalam hati. Jantungnya berdegup kencang, keringat dingin mulai mengalir di wajahnya. "Jangan…" pikirnya lagi. "Kalau itu adalah hantu, jangan datang kesini!"

Feliciano menoleh ke arah Kiku. Ia ingin membangunkan sahabatnya itu, ingin menangis dan meminta tolong. Tapi ia tak ingin merepotkan Kiku lagi.

'kresk'

Feliciano menelan ludah. Dengan gemetar ia meraih katana milik Kiku dan menggenggamnya erat-erat. Ia tahu ia tak bisa menggunakannya. Ia tahu ia tak memiliki kemampuan bertarung sedikitpun. Tapi saat ini ia harus bisa melindungi diri dan sahabatnya.

'kresk kresk'

Pemuda Italia itu kini menggigit bibirnya, berusaha untuk tidak berteriak ketakutan. Suara itu kini tepat terdengar di depan pintu masuk.

"Jangan..Kumohon jangan ke sini!" seru Feliciano dalam hati. "Vee~ Kalau itu Ludwig atau Gilbert, mereka boleh masuk. Tapi kalau hantu, pergilah!"

Suara itu terdengar menjauhi pintu. Lalu melewati jendela. Jendela yang berada di sebelah pintu itu cukup besar untuk melihat separuh dari badan manusia ke atas. Feliciano menahan nafas saat melihat siapa yang lewat.

Sosok manusia tanpa kepala berjalan melewati bangunan itu.

Feliciano tak bergerak. Ia menunggu sosok itu pergi dan berharap semoga sosok itu tak menoleh ke dalam dan melihatnya Ia tak ingin melawannya. Ia juga tak ingin membangunkan Kiku. Ia hanya ingin secepatnya keluar tanpa harus berhadapan dengan sosok mengerikan lagi.

Sepertinya harapan itu kali ini terkabul. Sosok tanpa kepala itu hanya lewat. Lalu terdengar menjauhi bangunan itu. Tubuh Feliciano langsung terasa lemas karena sangat lega. Matanya mulai berkaca-kaca lagi. "Semoga mereka tak datang lagi," katanya dalam hati.

Di bagian lain Taman Festival Bali…

Gilbert berlari memasuki sebuah bangunan. Gerimis mulai turun. Tadinya ia ragu untuk masuk. Tapi ia tak punya pilihan lain. Ia tak mau basah kehujanan di luar.

"Ck, kenapa harus hujan?" gerutunya. "Benar-benar tempat yang sangat tidak awesome…"

Gilbert menoleh ke sekitarnya. Bangunan itu cukup bersih. Ia pun duduk begitu saja di lantai dan meletakkan tas miliknya di sampingnya. Sementara tangan kanannya tetap menggenggam pedang yang sejak tadi dibawanya.

"Untung saja aku menemukan pedang ini," katanya dalam hati. "Memang sudah tidak awesome lagi." Ia melihat karat di sekitar pedang itu. "Tapi cukup untuk melindungi diri."

Pedang itu ditemukannya tadi di bawah sebuah pohon. Pedang itu dalam keadaan tertancap begitu saja di tanah. Tadinya Gilbert hanya melihatnya dengan bingung saja. Pedang? Di tempat seperti itu? Pedang itu juga kelihatannya bukan senjata khas daerah Bali. Pedang itu seperti pedang ksatria Eropa yang digunakan pada zaman perang berabad-abad yang lalu. Kenapa pedang seperti itu bisa ada di tempat itu?

Tapi Gilbert tak mempermasalahkan itu lagi. Baginya cukup karena sekarang ia memiliki senjata untuk melindungi diri. Jadi benda itu resmi berada dalam tangannya, hingga kini.

Gilbert menghela nafas mengingat semua itu. Ia merebahkan dirinya dilantai. "Tapi,seandainya aku menemukannya lebih cepat… West pasti tidak akan…"

'kresk'

Terdengar suara dari luar. Suara seseorang yang berjalan.

'kresk kresk…'

Gilbert langsung duduk kembali. Ia tampak waspada. Walaupun di luar gerimis masih turun, suara itu terdengar dengan jelas. Gilbert tahu, ada seseorang di luar sana.

'kresk krek…'

"Hantu lagi ya…" pikir Gilbert. Bahunya sedikit bergetar. "Tidak…aku yang awesome ini tak boleh takut. Aku harus menghadapinya kalau perlu…"

'kresk…'

Suara itu mendekati pintu dan terus terdengar. Kini terlihat sudah sosok yang berjalan di luar itu. Sosok manusia tanpa kepala. Sosok itu masuk ke dalam bangunan tempat Gilbert berada.

"Ck… dasar makhluk yang tidak awesome!" Gilbert bangkit berdiri. Ia bersiap menghadapi makhluk itu.

"Berikan…" Tiba-tiba saja terdengar suara lain, entah darimana. Suara yang terdengar mengerikan. Suara itu berasal dari sosok tanpa kepala itu. "Berikan kepalamu…"

BERSAMBUNG

Saya kembali! Eaaaa skripsiku selesai, tapi sidangnya belum.

Tapi saya enggak tahan ingin menulis. Ya begitulah…

Maaf kalau chapter ini pun agak berantakan dan kurang panjang. Saya mencoba menulis sepanjang mungkin, tapi berhubung pikiran masih terbagi-bagi *dan bukan terkali-kali (Apa deh?)* Daripada tambah hancur nanti fictnya…

Saya akan mencoba memperpanjang dan memperbaiki lagi di chapter selanjutnya.

^^b