Chapter 2

A Red Ruby Necklace

Hutan masih aroma lembab akibat hujan yang menggutur kemarin malam. Matahari sudah berada di puncaknya, namun tetap saja sinar nya tak cukup kuat untuk menembus rimbunnya pepohonan di hutan tersebut. Angin bertiup lembut, menyusuri dedaunan, sesekali membawa dedaunan yang telah gugur menuju angkasa, sebelum akkhirnya menghempaskannya kembali ke tanah.

Di antara hijaunya hutan tersebut, terlihat sosok pemuda berambut navy blue tengah menyusuri hutan. Langkahnya ringan, santai, namun penuh kehati-hatian. Walaupun begitu, jikalau mau memperhatikan arah langkahnya, terlihat sekali bahwa langkahnya tidak beraturan; lebih tepatnya ia melangkah tanpa arah yang pasti. Bahkan sesekali ia berhenti, memandang sekeliling dengan pandangan menerawang, sebelum kembali melanjutkan perjalanannya.

Langkahnya terhenti ketika ia merasakan sepatunya menginjak sesuatu yang padat. Ia membungkuk dan mendapati batu merah berada tepat di bawah sepatu kanannya. Saat ia mengangkat batu itu, ternyata batu itu teruntai dalam tali keperakan, membentuk sebuah kalung. Kalung ruby merah.

-T-R-R-

"Kau tahu, aku mulai bosan dengan bunga mawar ini," gumam Mir, memainkan bunga mawar merah di tangannya.

"Yang menerima kiriman bunga kan aku," sahut Cagalli, asyik memilih buah-buahan. "Kenapa kau yang bosan? Lagipula," ia mengambil buah jeruk, memandanginya cukup lama sebelum akhirnya berpaling ke arah gadis berambut orange. "Untuk apa kau membawa bunga itu ke sini? Ke supermarket?"

Ya, siang ini keduanya sedang menjalankan "ritual" mingguan: belanja keperluan rumah tangga di supermarket. Setiap Rabu siang, sehabis menunggu Lym pulang ke rumah, ia dan Mir akan berjalan kaki ke supermarket tak jauh dari rumah Cagalli, ditemani payung masing-masing. Mir pernah mengajak Cagalli untuk pergi dengan motornya, namun Cagalli selalu lebih memilih jalan kaki. "Lebih menyehatkan," selalu menjadi alasan andalan Cagalli. Dan somehow, kalimat itu berhasil mempersuasi Mir.

Sebenarnya, alasan mengapa Cagalli memilih untuk berjalan kaki adalah karena ia tidak terbiasa menaiki kendaraan. Ia selalu berusaha menolak ajakan untuk menggunakan kendaraan, baik oleh Mir maupun oleh Shinn. Semenjak 6 bulan silam, baru 5 kali ia menaiki kendaraan. Lagipula, ia tidak pernah merasa lelah berjalan kaki.

"Tapi, apa kau tidak berpikir semua…" Mir merentangkan tangannya dengan lagak dramatis—jelas sekali mengabaikan pertanyaan Cagalli plus tatapan keheranan dari pengunjung supermarket yang lain—dan kemudian menangkupkan kedua tangannya di dada, menggenggam bunga mawar di tangannya erat-erat. "Semua ide tentang secret admirer dan bunga mawar berhiaskan catatan kecil yang—dulunya—romantik ini…sudah mulai membosankan?"

"Menurutmu lebih enak mana; jus jeruk atau jus apel?" gumam Cagalli, menengok rak apel di sebelahnya dan jeruk di tangannya bergantian.

"Jus jeruk,"

"Oke,"

"Lalu, apa kau masih memimpikan mimpi aneh itu?" tanya Mir, meletakkan bunga mawar di keranjangnya dan mulai memilih buah jeruk untuknya sendiri. "Tentang mengejar buah apel itu."

Cagalli mengangguk. Tangannya meraih beberapa buah jeruk dengan cekatan dan meletakkannya ke kantung plastik yang disediakan. "Sudah 3 bulan berturut-turut,"

Mir menatap jeruk-jeruk di kantung plastik Cagalli. "Kau yakin mereka semua," ia menuding kantung plastik Cagalli, "Manis?"

Cagalli mengangguk. "Toh selama ini pilihanku tak pernah salah, kan?" ujar Cagalli, tersenyum lebar.

Memang benar; entah bagaimana Cagalli sanggup membedakan mana buah yang lezat dan mana buah yang belum matang hanya dengan menyentuhnya sekilas. Seolah tangannya bekerja secara otomatis, tanpa menunggu perintah Cagalli. Ia tidak tahu bagaimana ia bisa melakukannya dan bukan satu dua kali saja ia mempertanyakan hal itu.

Namun kini masalah mimpi aneh yang selalu mengunjunginya selama 3 bulan terakhir, plus suara-familier-pengganggu-aksi-romantisnya-dengan-Shinn membuat pikirannya sedikit teralihkan—tunggu dulu, suara-familier-pengganggu-aksi-romantisnya-dengan-Shinn?

"Cagalli, pipimu memerah," gumam Mir, nyengir lebar. "Apa yang Shinn lakukan di pikiranmu siang-siang begini, Cagalli?"

"Bo-bodoh!" balas Cagalli, buru-buru mengalihkan pandangannya ke rak sayur yang terletak tak jauh dari dirinya. "Si-siapa yang memikirkan Shinn, huh?" ujarnya seraya beranjak pergi.

"Oh ya," gumam Mir, mengikuti Cagalli. "Kau tidak memikirkan Shinn dan segala ketampanan yang dia miliki. Berikutnya kau akan pura-pura tidak sadar dengan pandangan yang diberikan Shinn setiap kali melihatmu hanya dengan tank top dan celana pendek—"

"Mir!" desis Cagalli tajam. Ia kini bisa merasakan wajahnya memanas. "Jangan bicara hal konyol—"

"Waw,"

"Huh?" Cagalli berbalik ke belakang, mendapati sahabatnya menatap ke arah dengan tatapan…takjub?

"Mir? Ada apa?" ia menengok ke arah yang dituju Mir. Tidak ada diskon besar-besaran, tidak ada Dearka, tidak ada makanan gratis—hanya ada para pengunjung dan barang supermarket—

Oh.

"Kau melihatnya juga kan, Cagalli?" gumam Mir pelan.

"Jangan bilang yang kau maksud adalah—"

"Ya, makhluk rupawan di sana. Dengan blazer hitam dan turtleneck hijau," sahut Mir pelan, "Bagaimana menurutmu?"

Beberapa meter di seberang mereka, terlihat sosok pemuda berambut navy blue sebahu, dengan postur tubuh tegap dan memakai blazer hitam serta turtleneck hijau seperti yang digambarkan Mir. Biasanya Cagalli jarang sependapat dengan Mir; namun kali ini harus ia akui bahwa rupawan memang kata yang tepat untuk menggambarkan pemuda tersebut.

"Wah," nada suara Mir membuatnya berpaling. Ia heran kenapa Mir kini menatapnya, namun masih memasang senyuman lebar. Bukannya pembicaraan tentang Shinn sudah selesai?

"Apa?"

"Sepertinya baik Shinn maupun si secret admirer punya pesaing baru," ujar Mir riang. "Aku belum pernah melihatmu terpesona seperti ini sebelumnya,"

"Hah?" Oh, gawat. Rasa panas di wajahnya kembali muncul.

"Sudah kuduga, tipe pria idamanmu pasti bukan pria tampan normal nan biasa-biasa aja."

"Kau membuatku bingung, Mir,"

"Begini, berdasarkan pengalaman mengejar makhluk cantik nan tampan di lapangan selama bertahun-tahun, aku menyadari bahwa keindahan mereka sendiri terbagi dalam 3 katagori," ujarnya, matanya berkilat-kilat senang, "Pertama, 'keindahan-yang-normal' yang biasanya dimiliki mayoritas artis atau artis-artis yang biasanya melejit karena faktor keberuntungan semata. Kedua, 'keindahan-berkilau' yang di miliki oleh sebagian artis; Shinn pun sebenarnya bisa masuk katagori ini. Dan ketiga," ia melirik pemuda tadi sekilas sebelum berpaling ke Cagalli, "Adalah 'keindahan-abnormal'. Aku hanya bertemu sedikit artis yang punya pesona ini. Mereka yang memiliki 'keindahan-abnormal' ini memiliki sesuatu yang unik, berbeda dari orang pada umumnya. Keberadaan mereka biasanya menjadi pusat perhatian, di mana pun mereka berada, terlepas dari apapun yang mereka lakukan. Pemuda di sana itu," ia menuding pemuda rupawan di sana dengan jari jempolnya, "Termasuk golongan ketiga,"

"Kau benar-benar membuatku bingung sekarang, Mir," gumam Cagalli, menggelengkan kepala dan kemudian beranjak pergi. Persaingan antara Shinn, secret admirer, dan si rupawan? Absurd!

Tak berapa lama kemudian, setelah membiarkan Mir melangkah di depannya, ia berhenti sejenak dan berpaling ke arah si rupawan tadi; istilah 'keindahan-abnormal' cukup mengusik benaknya. Hanya ingin memastikan saja kok.

Dan itu dia, si pemuda rupawan, masih berdiri di tempat yang sama, namun kali ini pemuda itu tampak fokus pada satu hal—

Pemuda itu menatap dirinya lekat-lekat.

-T-R-R-

Ini bukan pertama kalinya ia datang ke supermarket dan berada diantara sedemikian banyaknya manusia; ia tak lagi terganggu dengan bisingnya suara manusia beserta suara detak jantung mereka. Ini juga bukan pertama kalinya ia dihujani tatapan dari segala penjuru; ia sedikit banyak sudah mulai terbiasa. Ini juga bukan pertama kalinya ia membeli barang kebutuhannya sendiri; sudah lama ia tidak bergantung pada pelayan atau pembantu dalam memuaskan nafsu makannya yang besar.

Jadi, mengapa hari ini ia merasa ada yang aneh?

Ia melanjutkan langkahnya dan berhenti di tumpukan makanan kaleng. Berusaha tidak menarik perhatian, ia mengambil makanan kaleng itu satu per satu dengan gerakan santai dan berhenti ketika keranjang di tangannya sudah penuh dengan makanan kaleng. Kemudian ia beralih ke rak minuman dan mengambil sebotol besar susu low fat. Tanpa sadar senyum tipis terlintas di bibirnya; Dearka pasti akan jengkel melihat dirinya membeli susu lagi, alih-alih red wine atau "minuman berkelas" lainnya. Sudah lama tidak melihat Dearka jengkel.

Sesuatu di saku blazernya bergetar, membuatnya buru-buru merogoh saku blazernya dan mengeluarkan kalung red ruby yang ia temukan tadi pagi. Batu ruby itu berpendar lemah diiringi mengeluarkan getaran tanpa henti; membuatnya teringat pada handphone yang baru-baru ini ia beli. Ada apa dengan kalung ini? Apa jangan-jangan kalung ini adalah salah satu hasil teknologi terbaru para manusia? Manusia dan teknologinya memang selalu membuatnya takjub—

Mendadak, seperti peluru yang melesat dengan kecepatan tinggi, penciumannya menangkap aroma asing. Aroma asing yang tidak dimiliki oleh manusia manapun di muka Bumi. Aroma asing yang tidak dimiliki benda macam makanan ataupun minuman. Aroma asing yang tidak dimiliki hewan dan tumbuhan manapun di muka Bumi. Aroma asing yang juga familier; bukan karena ia sering mencium aroma seperti ini, namun karena ia pernah mencium aroma asing ini dari jenis tertentu—

Ada seorang mystical di sini.

Mystical. Istilah yang merujuk pada kaum penghuni Bumi yang tidak termasuk dalam golongan manusia, hewan, maupun tumbuhan. Seperti hal nya manusia, mystical terbagi atas berbagai jenis dan kelompok, yang masing-masing memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri. Manusia hanya mengenali mystical sebagai para penghuni dunia dongeng—yang tentunya hanya dianggap mitos oleh manusia—seperti fairy, elf, vampire, werewolf, gnome, dwarf, mermaid, dragon, witch, shape-shifter, succubus, dan lain-lain—sehingga bukan hal aneh bila eksistensi mereka dapat tersamarkan dengan sangat baik. Di masa lalu, mystical cenderung hidup berkelompok dengan sesama jenis mereka namun di masa kini banyak diantara mereka yang mencoba berbaur dengan manusia; seperti pemuda berambut navy blue ini contohnya.

Dan sekarang, pemuda itu harus menemukan mystical lain yang juga berada di supermarket itu. Minimal ia harus memastikan bahwa keberadaan mystical itu di sini tidak akan membawa bahaya bagi manusia di sini. Ia tidak mau berada satu kota dengan mystical psikopat atau mystical berbahaya haus darah—ia yang sekarang hanya ingin hidup damai tanpa pertikaian, kalau kota ini berpotensi menyeretnya ke bahaya yang tidak perlu, lebih baik ia pergi.

Mengabaikan getaran kalung di tangannya, ia memasukkan kalung itu ke sakunya dan melanjutkan langkahnya, masih berusaha terlihat sesantai yang ia bisa. Walaupun begitu, ia tak lagi "membatasi diri"; ia mulai mendengar dengan lebih teliti, mencari adanya getaran keanehan—selain kalung ruby nya yang bergetar di saku blazernya, ia mengedarkan pandangan ke segala penjuru, melihat satu per satu wajah yang tampak di penglihatannya, serta ia mengikuti jejak aroma mystical yang masih bercokol dengan baik di penciumannya. Pikirannya masih berusaha menerka, siapa—atau lebih tepatnya mystical jenis apa—yang punya aroma…penuh rempah-rempah seperti ini. Rempah-rempah, hm? Bukan vampire, werewolf, ataupun mermaid. Mungkin jenis yang berhubungan dengan rempah-rempah; witch? Atau mungkin fairy yang hinggap di tubuh seseorang dan berkamuflase?

Radar penciumannya akhirnya 'mengerucut' pada dua 'tersangka', yakni dua gadis berusia kisara 20-an yang tengah asyik mengobrol beberapa meter dari tempatnya berdiri. Ia yakin sumber aroma itu berasal dari salah satu diantara mereka, hanya saja, ia tidak melihat ada keanehan di kedua gadis itu; mereka terlihat seperti manusia pada umumnya. Pendengarannya tidak menangkap ada yang aneh—

Ck, salah satu diantara keduanya menangkap basah dirinya.

Berpura-pura asyik mengamati tumpukan telur, ia memfokuskan pendengarannya pada kedua gadis tadi—nah, sepertinya kini keduanya menyadari keberadaannya. Sepertinya kehidupan yang damai melemahkan kemampuannya—

"Sepertinya baik Shinn maupun si secret admirer punya pesaing baru," ia mengenali suara itu sebagai suara si rambut orange. "Aku belum pernah melihatmu terpesona seperti ini sebelumnya,"

"Hah?" suara si rambut pirang. Plus suara jantung yang berdebar-debar kencang.

"Sudah kuduga, tipe pria idamanmu pasti bukan pria tampan normal nan biasa-biasa aja." suara si rambut orange lagi.

"Kau membuatku bingung, Mir," kali ini suara si rambut pirang terdengar kesal.

Dan kemudian terdengar si rambut orange berbicara panjang lebar mengenai hal yang tidak ia mengerti—bukan berarti ia menyesali hal itu. Hanya saja, sepertiny ia pernah mendengar nama si orange di suatu tempat…

Terdengar suara langkah kaki menjauh, membuatnya memberanikan diri berpaling ke arah mereka. Terlihat keduanya melangkah ke arah lain; melanjutkan belanja, mungkin?—tapi sekarang, bukan hal itu yang penting. Ia harus segera menemukan siapa pemilik aroma-mystical-tanpa-identitas itu—

Mendadak si rambut pirang berhenti, membiarkan temannya mengoceh sendiri di depan. Ia terdiam sejenak sebelum kemudian berpaling ke belakang, pandangan matanya terlihat mencari sesuatu—apa yang dia cari?

Dan ketika pandangannya bertemu dengan pandangan gadis itu, ia menemukan jawabannya.

Kini setelah ia terpisah dari temannya, aroma-mystical-tanpa-identitas masih bertahan di sana, malah justru semakin menguat. Sementara pandangan gadis itu jatuh tepat pada dirinya, menatapnya dengan sepasang mata coklat terang yang sarat akan rasa penasaran—seperti dirinya.

Gadis itu mencarinya.

Dan gadis itulah yang ia cari.

-T-R-R-

Sekuntum mawar merah, dengan dua helai daun menghiasi batang hijau panjangnya. Sepucuk kertas menempel di bunga itu, berhiaskan tulisan latin yang indah. Masih dengan pesan yang sama : "Dearest, Cagalli."

"Tuh kan," terdengar Mir menggerutu di sebelahnya, "Bunga yang sama. Pesan yang sama. Bahkan," Mir merebut mawar dari tangan Cagalli. "Wanginya pun sama."

"Mir," Cagalli memutar bola matanya, "Bukannya kau dulu pernah bilang kalau wangi mawar merah itu sama?"

Mir menghela nafas. "Bukan itu intinya." Ia menyerahkan mawar di tangannya, lalu merogoh tas belanjaannya dan mengeluarkan bunga mawar lain yang sedari tadi ia bawa. "Sepertinya kau memang harus banyak membaca buku dongeng,"

"Dan hidup di dunia fantasi sepertimu, huh?" Cagalli menggeleng. "Tidak."

Mir hanya tertawa, "Salam buat keluarga Asuka, ok?" ujarnya sebelum beranjak pergi.

Cagalli tak beranjak, hanya menatap kepergian Mir sambil tersenyum geli. Membaca buku dongeng, huh? Mungkin dia ada benarnya juga; siapa tahu dongeng bisa membuat mimpiku lebih bervariasi.

Memandangi dua mawar di tangannya membuat pikirannya melayang ke mimpinya semalam. Seperti hari-hari sebelumnya, tiap malam mimpinya diisi oleh buah apel yang menggelinding entah kemana dan dirinya dibuat harus mengejar buah itu. Mimpinya selalu berakhir dengan lenyapnya buah apel tersebut, membuatnya tersentak ke dunia nyata. Suara asing yang muncul di kepalanya semakin hari semakin menjadi-jadi; kini suara itu muncul tak hanya terbatas ketika ia bersama Shinn saja, namun merambah ke seluruh lawan jenis yang berada di jarak kurang dari satu meter, mulai dari anak kecil hingga kakek tua yang sering menyapanya setiap pagi. Ia memang masih takut dengan suara itu, namun kini ketakutannya sedikit teralihkan oleh perasaan kesal; pasalnya, suara itu semakin lama semakin keras, membuatnya pusing, dan hanya baru benar-benar berhenti bila ia berada di jarak—setidaknya—satu meter dengan lawan jenis; ia pernah hampir membentak teman Steira—seorang anak kecil, laki-laki, yang bahkan belum bisa mengeja namanya sendiri dengan lancar—yang mampir ke rumah dua hari yang lalu. Hal ini pula yang membuat hubungannya dengan Shinn merenggang; ia selalu menghindar ketika tangan Shinn hendak meraihnya, padahal sebelumnya ia selalu 'menerima'—kalau tidak mau disebut 'menantang'—Shinn dengan perbuatan jahil nan menggoda—

Ingatan tentang dirinya dan Shinn membuatnya menghela nafas—oke, sudah berapa kali ia menghela nafas akhir-akhir ini?—dan mengalihkan pandangannya ke langit senja di atasnya. Sejujurnya, akhir-akhir ini perasaannya pada Shinn semakin tidak menentu. Ia tak tahu apakah semua ini ada hubungannya dengan bunga mawar dari secret admirer, mimpi absurdnya, atau suara familier a.k.a suara-familier-pengganggu-aksi-romantisnya-dengan-Shinn yang membuat tubuhnya merinding; namun sepertinya perasaan suka—ia tidak berani menyebut, atau bahkan hanya membayangkan kata "C" di benaknyapada savior nya itu mulai pudar. Ada kalanya ia justru bersyukur suara itu muncul ketika ia dan Shinn berdekatan; suara itu menjadi 'kedok' yang membenarkan tingkah lakunya yang aneh.

Tapi Shinn tidak tahu tentang mimpi dan suara yang muncul di kepalaku—bagaimana kau bisa menganggap suara itu sebagai 'kedok', kalau yang Shinn tahu hanyalah sikapmu akhir-akhir seperti perawan tua menyebalkan yang muncul di reality show? Cagalli kembali menghela nafas. Memang siapa yang mau kau bohongi, Cagalli?

"Permisi,"

Suara asing spontan membuatnya terlonjak mundur, tanpa sadar ia menjatuhkan tas belanjaannya beserta bunga-bunga di tangannya. Mengerjap sesaat, Cagalli memandangi barang bawaannya yang jatuh sebelum berpaling pada si pemilik suara asing—

Oh.

-end of Chapter Two-


Catatan Lenn :

First, thank you for reading The Red Rose, gorgeous readers.

Ya, ini menjadi chapter dua dari The Red Rose Maaf sekali baru bisa posting sekarang. RL benar-benar menghisap kekuatanku, lahir maupun batin.

Sekalipun chapter 1 sedikit-banyak mirip dengan versi dulu (karena bagi Lenn, awal adalah segalanya), tetaplah ada beberapa perbedaan dengan versi awal TRR dulu. Ini dikarenakan efek banjiran ide di masa lalu yang megacak konsep awal, membuat Lenn tidak harus kemana dan berbuat apa selain membanting setir.

Oleh karenanya, daripada Lenn membahas satu per satu apa perbedaannya, ada baiknya readers fokus pada satu poin penting : TRR versi dulu dan TRR versi sekarang itu berbeda. Kalau bahasa pendeknya sih, "Mulai dari nol ya,"

Kritik dan saran akan sangat, sangat membantu keberlangsungan fic ini dan tentunya sangat, sangat Lenn harapkan. Lenn berusaha posting secepat mungkin, karena takut RL akan segera kembali memanggil; jadi...ya typo sana-sini pasti ada :(

In the end, thank you for reading The Red Rose, gorgeous readers. See ya.

Lenn.