Mysterious Park
Part 7
(Hetalia punya Hidekaz Himaruya bukan punya saya ._. )
Angin dingin berhembus pelan. Bau tanah akibat hujan memasuki bangunan. Namun samar-samar aroma asing ikut berhembus. Terdengar suara langkah pelan dan dua tiga langkah yang sedikit gemetar. Sebuah sosok berpakaian serba putih dengan noda darah kehitaman di sekujur tubuhnya memasuki bangunan itu. Kepalanya tidak ada.
"Berikan…kepalamu." Makhluk itu berbicara. Entah suara dari mana. Namun suaranya terdengar sangat jelas. "Aku ingin…kepalamu."
Sosok itu berusaha mendekati Gilbert, sang pemuda Jerman. Tangan sosok itu terjulur ke depan, berusaha meraih pemuda itu. Terlihat beberapa jari yang telah putus, dengan bekas luka mengerikan di tangannya. Bau amis darah mulai menusuk hidung.
"Pergi kau!" kata Gilbert. Ia muncur beberapa langkah. Mata crimsonnya menatap tajam makhluk itu. Tangannya siap mengayunkan pedang kapan saja.
Takut? Entahlah. Gilbert selalu menganggap dirinya hebat. Walau ia mengakui, liburan kali ini benar-benar merupakan sebuah mimpi buruk baginya. Peristiwa yang benar-benar tak ingin ia percaya sebagai kisah nyata.
Sosok tanpa kepala itu tetap melangkah maju. "Aku ingin kepalamu," bisik sosok itu dengan suara yang membuat Gilbert merinding. Suara sosok itu terdengar berat, menekan, serta dipenuhi rasa ingin memiliki yang besar.
"Kau tak memberiku pilihan…" sahut Gilbert. Ia berhenti melangkah mundur dan siap menyerang. "Kepalaku ini terlalu awesome untuk diberikan kepadamu!" Pemuda Jerman itu pun mengayunkan pedangnya ke arah sosok itu.
"Aku ingin kepalamu…" Sosok itu juga maju. Ia juga hendak menyerang Gilbert.
"Pergilah kau ke tempat asalmu!" Tanpa memberi kesempatan sedikitpun, Gilbert langsung menyerang, memotong tubuh makhluk itu, nyaris membelahnya jadi dua. Darah dari sosok itu tercurah kemana-mana. Detik berikutnya, makhluk itu lenyap. Jejak darah yang tercurah pun hilang.
"Hh… berhasil?" tanya Gilbert dalam hati. Tubuhnya masih sedikit gemetar. Walau telah lenyap, ia masih bisa merasakan bau darah dan warna merah yang sempat menempel di tangannya itu. Gilbert memang bukan tipe pemuda yang baik dan sopan seperti Kiku. Gilbert sering terlibat dalam perkelahian di sekolah. Melihat darah bukanlah hal yang aneh lagi baginya. Tapi tetap saja, darah sebanyak itu…darah dari orang mati dan yang nyaris mati…
"Sial!" Gilbert mengepalkan tangan kanannya dan memukul tembok yang berada di dekatnya. Terdengar suara hantaman yang keras dan tembok yang retak. "Ayolah, katakan ini mimpi buruk! Ini mimpi yang sangat tidak awesome! Ini…"
"Seharusnya kami tidak ke sini…" katanya kemudian dalam hati. "Seharusnya kami tidak bermain-main dengan penungggu tempat ini."
"Benar." Terdengar suara bisikan lain di belakangnya. "Dan seperti adikmu… kamu pengganggu… harus mati…"
…
Langit telah terang. Matahari terbit di sebelah timur. Pagi pun telah tiba. Di luar taman, tampak beberapa orang telah berkumpul.
"Akhirnya kita sampai juga!" Alfred berseru riang. Ia kini telah sampai di depan pintu gerbang taman bersama Arthur, Yao, Ivan, Francis, Bayu, Made, dan seorang berkacamata yang mirip dengan Alfred.
Arthur mengamati gerbang masuk taman dengan wajah serius. Ia mulai merasakan keanehan pada taman itu. Hawa yang muncul dari dalam bukanlah hawa tempat angker biasa. Tempat itu seperti disusupi sesuatu yang berbeda.
"Kalian…mau masuk juga?" tanya Made gugup. Setelah kejadian semalam, ia tak ingin ada orang yang memasuki tempat itu lagi. Apalagi kalau nantinya ikut hilang juga.
Bayu menggeleng. "Aku cuma mengantar saja," jawabnya. "Tapi aku harus minta maaf. Aku yang memberitahu kalian tentang tempat ini. Tak kusangka malah jadi begini."
"Sudahlah Bayu! Sang Hero ini pasti akan menyelamatkan mereka semua," kata Alfred. "Kau dan Made tunggu saja di sini."
"Iya, maaf!" sahut Bayu.
Yao menatap gerbang taman itu. Ia juga mulai merasakan perasaan aneh. "Yang ada di dalam bukan sekedar hantu biasa, aru," katanya dalam hati. Ia sedikit gugup. Ada suatu energi yang kuat dari dalam sana.
Ivan menepuk bahu Yao dan tersenyum. "Tenang saja Yao Yao!" katanya. "aku pasti akan menjaga Yao, da!"
Yao hanya mengangguk saja.
Sementara itu, Arthur masih mengamati gerbang dengan serius. Tapi Francis menatapnya dengan senyum mengejek. Melihat itu, Arthur pun balas tersenyum sinis. Mereka saling bertatapan kesal.
"Baiklah, kita tak perlu menunggu lebih lama lagi! Ayo, ikuti Hero ini masuk ke dalam!" seru Alfred. Ia segera berjalan, hendak memasuki pintu. Namun di depan pintu, ia membiarkan Arthur mendahuluinya. Ia berjalan di belakang Arthur, disusul oleh Francis, lalu Ivan dan Yao, lalu seorang pemuda berkacamata…
"Hati-hati ya!" seru Made.
Pemuda yang berada di paling belakang itu menoleh dan mengiyakan dengan suara pelan. Lalu ia masuk ke dalam taman.
…
Hening. Itu yang ada di benak Alfred saat mereka mulai memasuki taman. Ia mengira mereka akan langsung bertemu dengan setan-setan penjaga taman yang mengerikan. Ternyata dugaannya meleset. Yang terhampar di depannya hanyalah sebuah taman kosong yang tak terawat lagi. Pohon-pohon yang tumbuh besar dan liar, dedaunan yang berserakan, lalu bangunan-bangunan kosong. Tak ada siapapun, termasuk teman-teman mereka yang hilang itu.
"Hoooiii!" Alfred berteriak sekencang-kencangnya. "Feliciano! Kiku! Ludwig! Gilbert!"
Tak ada jawaban. Yang terdengar malah gema dari suaranya sendiri.
"Hoooiii!" Alfred berteriak lagi. Karena tak ada jawaban juga, ia menoleh pada teman-temannya. "Mungkin mereka jauh dari sini," katanya. "Kalau kita berjalan terus sambil memanggil mereka, pasti akan didengar."
Arthur tampak serius lagi sekarang. Berbagai pemikiran mulai memenuhi benaknya. "Tidak," katanya dalam hati. "Sepertinya semua tak akan berjalan semudah itu."
Arthur melihat sekelilingnya. Hawa aneh itu mulai dirasakannya lagi. Bukan karena tempat itu angker, tapi karena hal lain. Dan Arthur masih belum tahu apa itu sebenarnya.
Perlahan keenam orang itu berjalan, memasuki taman lebih dalam.
Yao masih terlihat gelisah. Ia mencemaskan adik sepupunya dan ketiga orang lainnya. Ivan menggandeng tangan Yao sambil tetap tersenyum tenang. Arthur membisu dengan wajah tegang, berusaha mencari tahu apa yang mengganggu pikirannya sejak tadi. Alfred terus berjalan dengan ceria dan penuh keyakinan, bahwa mereka pasti akan segera bertemu dengan teman-teman mereka yang hilang.
Matthew, pemuda berkacamata yang nyaris terlupakan itu membisu dengan pasrah. Ia yakin tak akan didengar atau dipedulikan. Jadi ia berjalan lambat dan agak tertinggal di belakang.
"Oi, Matthew!" Tiba-tiba seseorang memanggilnya.
Matthew mengerjapkan mata, tak percaya. Untuk pertama kalinya namanya disebut sepanjang perjalanan mereka dari Hetalia Gakuen ke sini. Ternyata ada orang yang bisa melihatnya, eh?
"Kenapa kau diam saja? Nanti kau tertinggal!" seru orang itu, Francis.
Matthew masih mematung. Ah iya, sepanjang yang ia ingat, selain saudaranya Alfred, hanya Francis yang bisa dengan mudah mengetahui keberadaannya. Matthew, pemuda yang berasal dari negara… yang kalau tidak salah disebut Kanada itu memang unik. Ia seorang yang pemalu dan pendiam. Kalau berbicara, selalu dengan suara kecil, nyaris berbisik. Berbeda dengan saudara jauhnya Alfred yang sangat berisik. Mungkin karena itulah keberadaannya jadi seolah tak terlihat oleh teman-temannya.
"Oi!" Francis memanggilnya lagi, lalu mendekatinya. "Jangan diam saja. Cepat jalan!"
"I…iya!" Matthew menjawab dengan sangat pelan. Ya, ternyata ia tak dilupakan begitu saja. Alfred memang sering sibuk dengan dirinya sendiri sehingga sering mengabaikan saudaranya itu. Tapi sepertinya pemuda Perancis itu selalu memperhatikannya.
Kedua orang itu pun kembali berjalan. Teman-teman mereka sudah tak tampak lagi sekarang. Keempat orang lainnya itu sudah berjalan duluan dengan pikiran yang dipenuhi kegalauan dan semangat mereka masing-masing.
"Ck…pasti mereka tak sadar kita tertinggal!" keluh Francis. Ia mempercepat langkahnya, sambil mengawasi Matthew yang berjalan di belakangnya. Ia memastikan Matthew tak lagi tertinggal.
"Alfred! Tunggu kami!" Matthew mencoba berteriak, memanggil saudaranya itu. Tapi teriakannya memang sangat pelan. Bahkan Francis di depannya pun hampir tak mendengarnya.
Francis melihat Matthew dengan iba, lalu berbalik lagi untuk melihat keempat temannya. "Oi, tunggu kami!" serunya kemudian.
Hening, tak ada jawaban. Bahkan suara berisik Alfred tak lagi terdengar.
"Hei, jangan bercanda kalian!" Francis mempercepat langkahnya sambil menarik tangan Matthew.
"Fr…Francis, tunggu!" Matthew kewalahan. Ia tak biasa berlari atau berjalan cepat. Nafasnya mulai tak beraturan.
"Oi, Alfred! Yao!" Francis memanggil lagi.
Tak ada jawaban. Tak ada suara.
"Ini bukan waktunya bercanda dan main petak umpet, kan?" gerutu Francis dalam hati. "Apa ini ide si alis tebal itu? Kenapa tidak nanti saja, saat sudah pulang dan keluar dari tempat ini?"
Matthew berusaha mengikuti langkah Francis. Ia tak mau tertinggal lagi. Tapi mendadak ia berhenti. Sebuah suara aneh terdengar di belakangnya. Matthew menoleh dan terbelalak. Ketakutan dengan segera menghinggapinya.
"Hei, kenapa berhenti?" Francis pun menoleh dengan kesal. Dan ia ikut terkejut.
Apa yang ada di belakang mereka membuat keduanya lemas ketakutan. Sebuah sosok dengan kepala terpisah dari tubuhnya tampak di belakang mereka. Tubuh sosok berpakaian putih compang-camping itu penuh luka. Sementara kepalanya tampak sangat mengerikan dengan satu rongga mata yang kosong dan lidah terjulur.
Sosok itu tersenyum. "Pengganggu," bisiknya
Tanpa menunggu lagi, Francis meraih tangan Matthew dan segera mengambil langkah seribu sambil berteriak-teriak ketakutan. Matthew mengikutinya, kali ini tanpa protes lagi. Ia juga berteriak ketakutan. Mereka berlari ke arah Alfred dan yang lainnya tadi berjalan.
Namun keempat teman mereka tak tampak juga.
…
"Matthew! Matthew!" Alfred berseru kencang. Ia memanggil-manggil saudaranya itu. Tapi yang dipanggil tak muncul juga.
"Francis!" Yao memanggil teman mereka yang satu lagi. Ini pun tidak dijawab.
"Hei, kemana kalian?" Arthur ikut memanggil. "Bloody frog, cepat keluar!"
Nihil. Kedua orang itu tak menjawab, juga tak tampak.
Kali ini Alfred mulai gelisah. Kalau saudaranya yang tak tampak, itu sudah biasa bagi mereka semua. Pastinya saudaranya itu sebenarnya ada di sana, hanya saja ia tak terlihat. Tapi kali ini Francis juga tak kelihatan. Dan sepertinya Matthew benar-benar menghilang. Kemana mereka?
"Mereka tak terlihat, da," sahut Ivan. Sejak tadi ia terus mengamati sekitarnya. Francis selalu memakai pakaian dengan warna yang mencolok. Hari ini pun Francis memakai atasan berwarna ungu terang. Di tengah-tengah tempat yang didominasi oleh warna hijau, cokelat dan abu-abu ini harusnya Francis akan terlihat jelas dimanapun ia berada. Tapi kali ini ia lenyap begitu saja.
"Sudah kuduga, aru," kata Yao. "Tempat ini memang aneh aru." Sejak tadi perasaan aneh itu belum hilang dari kepalanya. Ya, ia juga merasakan adanya energi aneh di sekeliling taman itu. Hanya saja ia tak tahu apa itu sebenarnya.
"Ada-ada saja. Kenapa mereka bisa hilang sih?" tanya Arthur, kesal. Tapi dalam hatinya ia juga bertanya-tanya. "Ada sesuatu yang tak beres di tempat ini," pikirnya. "Kami baru saja terpisah. Masa mereka bisa menghilang begitu saja? Harusnya mereka belum jauh dan masih bisa mendengar suara kami."
"Apa mereka ketakutan dan keluar dari taman, ya?" Alfred berbalik. Ia berjalan kembali ke arah pintu masuk.
"Masa sih?" tanya Yao, setengah tak percaya.
"Mengecewakan, da!" sahut Ivan.
Ketiga orang yang lainnya segera mengikuti Alfred. Mungkin saja Alfred benar. Mungkin kedua orang itu ketakutan dan keluar dari taman. Tapi mereka harus memastikannya. Mereka terus berjalan dan berjalan…
Lama mereka berjalan ke arah pintu msuk. Mereka pun sadar ada sesuatu yang aneh.
"Kenapa kita tak sampai-sampai, aru?" tanya Yao. "Kita mau kembali ke pintu masuk kan aru?" Rasanya sudah lama sekali mereka berjalan. Tadi sepertinya mereka tidak berjalan selama ini. Kenapa sekarang mereka tak sampai juga ke pintu masuk tadi?
"Eh aneh… Padahal jalannya benar kok!" Alfred mulai bingung. Ia juga mulai merasa aneh. Kenapa pintu tadi tak terlihat juga?
"Alfred, kita berjalan di jalan yang benar, kan aru?" tanya Yao. Apa mereka tersesat? Apa mereka telah berjalan ke arah yang salah?
"Tidak. Kita berjalan di jalan yang benar, da." Ivan langsung menyahut. "Tapi ada yang aneh dengan tempat ini, da."
"Iya. Padahal aku yakin ini arah yang benar. Tapi entah kenapa sepertinya pintu masuk itu hilang begitu saja," sahut Alfred.
'Ada yang aneh dengan tempat ini' Kata-kata Ivan barusan terngiang di benak Arthur. 'Pintunya seolah hilang begitu saja….'
"Yang jelas, jangan sampai kita terpisah lagi," kata Alfred lagi.
"Aku tak akan berpisah dari Yao Yao, da!" sahut Ivan cepat. Ia tersenyum pada Yao, membuat pemuda China itu ingin lari sekarang juga.
Arthur melihat sekelilingnya lagi. Hawa aneh itu terasa semakin berat saja. Ia gelisah. Apa hawa aneh ini yang membuat mereka tersesat?
Pandangan Arthur pun tertuju pada satu titik. Ia terkejut dalam diam. Di seberang sana, di balik sebuah pohon beringin yang besar, ada sosok mengerikan yang melayang.
…
Di sudut yang gelap di balik semak-semak…
Pemuda Italia berambut cokelat itu membisu. Tubuhnya gemetaran. Matanya mulai berkaca-kaca. Teriakan hampir saja mengalir keluar dari bibirnya kalau tak cepat-cepat ia tahan.
"A…aku tak boleh berteriak, vee…" katanya dalam hati. "Aku tak boleh membuat masalah lagi."
Di seberang sana, sosok tanpa kepala tengah berjalan-jalan. Sosok dengan baju putih lusuh berlumuran darah itu hanya mondar-mandir sejak tadi, seperti sedang mencari sesuatu. Sesekali ia berhenti, terdiam sebentar, lalu berjalan lagi. Terkadang ia tampak mengamati pohon atau semak-semak di sekitarnya. Tapi ia langsung lewat begitu saja.
Biasanya kalau melihat yang seperti ini, Feliciano pasti akan langsung berteriak dan lari ketakutan. Tapi ia sudah bertekad tak akan membuat masalah lagi. Siapa yang tahu, ternyata sosok itu tidak sendirian? Bagaimana kalau mereka dikejar?
Di sebelah Feliciano, Kiku terdiam menahan nafas. Ia siap menghadapi makhluk itu kapan saja. Namun ia memutuskan untuk menunggu. Tujuan mereka saat ini bukan untuk mengalahkan hantu, tapi mencari kedua teman mereka dan keluar secepatnya dari taman itu. Sebisa mungkin ia menghindari pertarungan. Apalagi lengan kanannya terluka. Jadi ia hanya diam. Mata cokelatnya terus mengawasi sosok itu, berharap ia segera pergi dari sana.
Sosok tanpa kepala itu berjalan pelan, lewat lagi di dekat mereka. Feliciano semakin takut. Kali ini sosok itu benar-benar dekat dengan mereka. Bagaimana kalau ia menemukan mereka? Feliciano berharap, semoga tak ada hantu lain yang datang.
Sosok itu ternyata tak mengganggu mereka. Ia lewat begitu saja, berhenti sejenak, lalu pergi. Sosok itu berlalu dan menghilang di ujung jalan sana.
"Vee~" Akhirnya Feliciano membuka suara, namun pelan seperti berbisik. "Apa dia pergi?"
Kiku masih terdiam. Ia menunggu beberapa detik, memastikan sosok itu tak kembali lagi. Satu…dua…tiga…sepuluh detik… Dan sepertinya sosok itu benar-benar pergi.
"Vee~ Syukurlah ia pergi!" Felicino tersenyum senang. Ia menghapus air mata yang hampir saja menetes di wajahnya.
"Ya," sahut Kiku. "Lebih baik kita menjauh sekarang juga dari sini," katanya kemudian.
"Iya, vee~ Kita harus pergi sebelum ia datang lagi. Ah, tapi jangan ke arah dia hilang tadi! Kita harus berjalan ke arah yang lain. Aku tak mau melihatnya lagi. Menakutkan, vee!" kata Feliciano. Lega rasanya bisa berbicara dengan bebas seperti biasanya.
Kiku mengangguk. "Kita ke arah sana saja," sahutnya pelan. Ia pun mulai berjalan ke arah yang berlawanan dari arah kepergian sosok tadi.
"Vee~" Feliciano mengangguk, lalu mengikuti Kiku.
Matahari bersinar dengan cerahnya. Panas mulai terasa. Jam di handphone Feliciano sudah menunjukkan pukul setengah dua belas. Sudah hampir tengah hari. Sejak pagi mereka terus berjalan, bersembunyi, dan berjalan lagi. Kini mereka melanjutkan lagi pencarian mereka.
"Ternyata taman ini benar-benar aneh," kata Kiku dalam hati. "Bukan hanya para penunggunya, tapi taman itu sendiri…"
Memori akan kejadian tadi pagi berputar kembali di benak pemuda Jepang itu. Ia dan Feliciano semalam tertidur di sebuah bangunan. Kiku terbangun di saat matahari sudah agak tinggi. Feliciano yang sedang membuat pasta tampak sangat senang. Pemuda Italia itu memberinya minum sambil berkali-kali minta maaf karena telah merepotkan, bahkan tertidur saat hendak berjaga. Tapi Feliciano berjanji akan membuat pasta yang enak. Pandangan Kiku pun tertuju pada botol air minum mereka yang telah terisi penuh, diletakkan tak jauh dari mereka. Di sebelahnya, tampak panci berisi pasta yang baru saja selesai direbus dengan air.
Saat ditanya air dari mana, dengan polosnya Feliciano menjawab itu adalah air dari keran di dalam bangunan itu. Keran di dalam bangunan itu masih mengeluarkan air bersih.
"Air bersih masih mengalir di tempat yang terlupakan?" Kiku terus bertanya-tanya dalam hati. Walaupun mereka tertolong juga karenanya, tetap saja itu merupakan hal yang aneh. Dan entah apa lagi yang akan mereka temui nanti… Mereka pun memutuskan untuk melanjutkan pencarian mereka, dan berusaha menghindari makhluk-makhluk aneh yang berkeliaran.
"Vee~ Kiku, lihat itu!" Tiba-tiba Feliciano menunjuk ke sebuah bangunan besar.
Kiku menoleh. "Bangunan itu…" katanya dalam hati.
"Vee~ Itu mirip dengan bangunan yang pertama kali kita masuki!" kata Feliciano.
Kiku hanya diam. Ia menatap bangunan itu baik-baik. "Feliciano-kun benar," pikirnya. Ia menatap kaca-kaca jendela bangunan itu. Ingatan Kiku cukup kuat. Ia masih hapal dengan bentuk bangunan yang kemarin ia masuki beserta detailnya. Ia juga sangat ingat dengan pintu bangunan itu. Masih sama seperti kemarin, pintu bangunan itu kini juga tertutup rapat. Dan di sebelahnya… terdapat sebuah jendela yang kacanya telah pecah, cukup untuk seseorang masuk ke dalam. Di sekitar jendela, terdapat pecahan-pecahan kaca. Sudah jelas, bangunan itu merupakan bangunan yang sama dengan yang mereka masuki kemarin, saat mereka terpisah dari Ludwig dan Gilbert.
"Tapi ada yang aneh, vee~" Feliciano melihat ke sekitarnya. Keningnya berkerut. "Kenapa bagian luar sini terlihat berbeda dengan yang kemarin?"
Mata Kiku menjelajah ke sekitarnya. "Ya," pikirnya. Walaupun bangunannya tampak sama, keadaan di luar bangunan tampak jauh berbeda. Kemarin hanya ada sedikit pohon di luar bangunan. Tapi sekarang pohon di sekitarnya tampak jauh lebih banyak. Posisinya juga berbeda dengan yang kemarin. Sayangnya, pintu keluar taman itu juga tak terlihat dari sana.
"Vee… itu pasti cuma bangunan yang mirip dengan yang kemarin!" sahut Feliciano.
Tapi rasa penasaran mulai timbul dalam hati Kiku. Perlahan ia mendekati bangunan itu. Pandangannya tak lepas dari pecahan-pecahan kaca di dekat pintu masuk. Letak pecahan kaca itu sama dengan bangunan yang mereka masuki kemarin.
"Vee~ Kiku, kita pergi saja! Aku takut. Di dalam kelihatan agak gelap." Feliciano memecah keheningan. Ia melihat ke arah dalam bangunan. Memang terlihat agak gelap. Di dalam juga terdapat serpihan kayu, seperti di dalam bangunan kemarin. "Kalaupun ini bangunan yang sama dengan yang kemarin, kita juga tak bisa berbuat apa-apa. Kita harus mencari teman-teman kita dan pintu keluar vee~"
Kiku mengangguk pelan. "Benar," katanya dalam hati. "Saat ini bangunan ini bukan hal yang penting." Ia pun menepis rasa penasaran yang menghimpitnya. "Sekarang kami harus mencari…" Kiku hendak berbalik. Tapi pandangannya terpaku pada sesuatu di dalam bangunan itu.
"Tunggu sebentar, Feliciano-kun!" sahut Kiku tiba-tiba.
"Vee?"
Kiku masuk kedalam bangunan dengan hati-hati. Feliciano melihatnya dengan heran, lalu ikut masuk. Ia tak ingin ditinggal sendirian di luar. Pemuda Italia itu melihat ke sekitar ruangan. Masih sama seperti kemarin. Ada tempat duduk itu, loket….jendela..
Kiku berjalan pelan, menunduk, lalu tampak mengambil sesuatu di lantai.
"Vee, Kiku… apa itu?" tanya Feliciano.
"Ini, kamera digital." Kiku menunjukkan benda yang dipungutnya. Benda itu adalah kamera digital berwarna silver. Kamera itu tampak seperti baru, bukan seperti benda yang sudah bertahun-tahun tertinggal di sana.
Feliciano tersentak melihatnya. "Vee~ Itu punya Gilbert!" serunya kemudian.
"Gilbert-san?" Kiku mengingat-ingat. Ya, kemarin Gilbert memang membawa sebuah kamera.
"Aku ingat karena Ludwig sering meminjamkannya padaku." Feliciano meraih kamera itu. "Vee… Aku yakin ini punya Gilbert!"
"Berarti…" Kiku melihat ke sekitarnya. "…apa Gilbert-san ada di dalam bangunan ini?"
"Vee…"
Kiku melihat ruangan itu baik-baik. Kalau kamera itu memang milik Gilbert, berarti pemuda itu memang pernah memasuki tempat itu. Tapi Kiku tak yakin temannya itu masih berada di tempat itu sekarang. Walaupun bangunannya terlihat besar, ruangan tempat mereka berdiri sekarang hanya sebatas itu saja…
"Tunggu…" Tiba-tiba Kiku menoleh ke arah pintu di dalam ruangan. Kemarin, pintu itu tampak tertutup rapat. Bahkan Feliciano tak bisa membukanya, karena mungkin terkunci. Tapi sekarang pintu itu tampak sedikit terbuka.
Perlahan Kiku mendekati pintu itu.
"Vee… Pintunya terbuka…" Feliciano berjalan takut-takut. Ia melihat pada celah yang terbuka. Ruangan di dalam pintu itu terlihat gelap. Ruangan apa yang ada di dalam sana? Apakah Gilbert ada di sana? Apakah… ada hantu juga si sana?
Kiku membuka pintu itu dengan tangan kirinya. Suara berderit terdengar, memecah keheningan. Di depan mereka, kini tampak sebuah lorong yang remang-remang, entah menuju kemana.
"Gilbert!" Feliciano berteriak, mencoba memanggil pemuda Jerman itu. Tapi hanya terdengar gema suaranya sendiri. "Gilbert! Vee… Ludwig!"
Kiku mengamati lorong itu. Dinding dan langit-langitnya sudah agak berantakan. Catnya sudah terkelupas. Beberapa batu tampak telah rontok. Dan di lantai…
Kiku menunduk, kecemasan mendadak mengusiknya. Di lantai, ada bercak kemerahan. Bercak itu tampak ada juga di depan mereka, sepertinya di sepanjang lorong itu. Di dekat mereka, bercak kemerahan itu terlihat lebih banyak.
"Itu….darah!" kata Kiku dalam hati. "Dan belum kering."
"Vee~ Gilbert dan Ludwig tak menjawab." Feliciano berhenti berteriak-teriak. "Mungkin mereka tak di sini."
"Tidak…mungkin mereka ada di sini," sahut Kiku.
"Vee? Tapi mereka tak menjawab."
"Mungkin mereka diserang. Lihat ke lantai!" jawab Kiku lagi.
Feliciano menatap ke arah lantai dengan takut sekaligus penasaran. Akhirnya ia menyadari jejak darah itu. "Vee! Darah!"
"Ya, mungkin mereka diserang. Mungkin makhluk yang menyerang itu masih mengejar mereka. Mungkin mereka harus sembunyi, jadi tidak bisa berteriak," kata Kiku lagi. Lalu dengan segera ia melangkah, memasuki lorong itu.
"Vee, tunggu aku, Kiku!" Feliciano pun ikut masuk.
Namun…
'BRAAAAKKK!'
Feliciano dan Kiku menoleh ke belakang. Mendadak pintu yang mereka masuki barusan tertutup dengan suara kencang.
"Vee!" Feliciano berlari ke arah pintu itu, lalu mencoba membukanya. Namun tidak bisa. "Terkunci, vee…"
Kiku terdiam. "Apa ini jebakan?' tanyanya dalam hati. "Tapi sepertinya kami tak punya pilihan lain sekarang. Bagaimana kalau Ludwig-san dan Gilbert-san benar-benar ada di dalam?"
"Ayo Feliciano-kun!" kata Kiku akhirnya. "Kita harus mencari Ludwig-san dan Gilbert-san"
"Vee…" Feliciano terdiam, takut. Sekarang mereka terkunci di dalam lorong yang cukup gelap. Entah apa yang akan ada di dalam sana. Tapi Ludwig dan Gilbert…
Akhirnya Feliciano mengangguk. Mereka kembali memasuki lorong, mengikuti jejak darah di lantai.
TO BE CONTINUED
