Chapter 3

Lost Sister

Kira Yamato memang tidak pernah menjadi seorang elf sejati. Ibu kandungnya adalah manusia biasa, sementara ayahnya adalah elf. Ia tidak pernah memiliki rambut pirang seperti elf pada umumnya; rambutnya coklat gelap dan, entah bagaimana, tidak pernah bisa ditata rapi. Ia tidak memiliki kecakapan fisik seperti elf pada umumnya. Nah, ia bahkan tidak memiliki telinga lancip khas elf. Kalau saja ia tidak bisa merapal mantra kuno bangsa elf, mungkin tidak ada yang percaya bahwa ada darah elf di nadinya.

Saudara kembarnya bernasib sedikit lebih beruntung daripada dirinya. Rambut pirang keemasan ala elf, telinga lancip ala elf, kecakapan fisik ala elf, serta paras cantik nan rupawan ala elf. Ia bahkan punya sifat keras kepala dan mudah curiga ala elf. Kembarannya benar-benar mewarisi sifat-sifat genetik ayah mereka.

Kira memandang cermin di hadapannya. Pandangannya tertuju pada sebuah tato berbentuk bulan sabit merah menghiasi leher kanannya. Tanpa sadar ia mengusap tato itu seraya mendesah lirih. "Ibu," gumamnya perlahan. "Kami…kami berhak memilih jalan hidup kami, kan?"

Terdengar suara pintu terbuka, membuat Kira berpaling. Sosok gadis berambut pink yang digelung rapi di tengkuk, dengan gaun tidur berbahan satin berwarna lavender yang membungkus tubuhnya yang ramping. Dengan sepasang telinga lancip—lebih pendek dari telinga elf, wajah bentuk hati, mata biru terang, serta kulit pucat, siapapun tahu bahwa gadis itu tidak terlihat seperti manusia biasa.

Tanpa sadar Kira menyunggingkan senyum. Nah, gadis itu memang bukan manusia; ia bidadari. Bidadarinya.

"Kira," suara merdu nan lembut terucap dari bibir gadis itu. "Kau baik-baik saja?"

Sungguh, Kira tak habis pikir; bagaimana bisa ayah dan para tetua elf menganggap gadis rupawan itu adalah monster? Hanya karena ia berasal dari bangsa yang punya reputasi buruk, bukan berarti ia juga demikian kan? Tidak kah mereka bisa melihat ketulusan dan kemurnian yang dimiliki pujaan hatinya itu?

Kira hanya bisa menggelengkan kepala; bagi ayah dan para tetua, dunia itu terbagi menjadi dua kelompok : bangsa elf dan bangsa non-elf.

Sentuhan lembut yang familier membuat Kira membuka mata; gadis itu sudah berada di hadapannya. Senyum sedih tersungging di paras cantik gadis itu. "Dia pasti baik-baik saja, Kira," ujarnya perlahan.

Ingin sekali Kira percaya pada kata-katanya.

"Lacus," gumam Kira pelan, tangan kanannya mengelus pipi kiri gadis di hadapannya. "Cagalli…dia...," ia terhenti sejenak, tak sanggup mengatakan apa-apa lagi. Tidak setelah ia merasakan air mata mengalir di pipi kirinya.

Cagalli…Di mana kau?

Ia mengira Lacus akan menenangkannya seperti biasanya; Lacus akan menggenggam tangannya sambil mendendangkan lagu dalam bahasa siren yang—sekalipun tidak ia pahami artinya—selalu berhasil membuatnya tenang.

Jadi, sejujurnya, ia kaget ketika Lacus malah melingkarkan tangan di pinggang Kira, menariknya perlahan dalam pelukan. "Tidurlah, Kira," pinta Lacus lirih, "Kumohon,"

"Kau duluan saja, Lacus," ujar Kira, berusaha mengendalikan suaranya, bersyukur air matanya tak lagi mengalir. Ia tak tega melihat Lacus ikut bersedih seperti itu. Ia menunduk pelan, tangan kanannya menyentuh dagu Lacus. "Aku…masih belum mengantuk,"

Lacus mendongak, menatap Kira lekat-lekat. "Kira…"

Kira berusaha menyunggingkan senyum lebar, "Jangan khawatirkan aku, La—"

Kecupan lembut namun panjang di bibir Kira membungkam suaranya.

"Kira," gumam Lacus pelan di sela ciuman mereka, "Semua akan baik-baik saja," ia beralih mengecup leher kanan Kira, "Kumohon, tidurlah,"

"Lacus," perubahan nada suara Kira membuat Lacus terdiam. Ia mendongak, mendapati sepasang mata ungu menatapnya penuh arti. "Kau benar-benar ingin aku tidur?"

Ciuman di awal tadi sebenarnya belum cukup untuk mengusir kekalutan hati Kira, namun ketika Lacus beralih ke lehernya, secara nyaris otomatis pikirannya teralihkan dengan sempurna.

Walau bagaimanapun juga, darah manusia juga mengalir dalam darah Kira. Dan siapa pun juga tahu kalau manusia berada di urutan ketiga dalam hal ketertarikan terhadap aktivitas seksual—setelah vampire dan werewolf, tentunya.

Lacus mengerjap. "Tentu saja," jawab Lacus, terlihat kebingungan.

Terlepas dari pengalaman aktivitas seksual mereka, sepertinya Lacus masih belum bisa menerka kapan dan apa yang bisa membuat Kira horny.

Seperti mencium leher Kira, misalnya.

"Benarkah?" gumam Kira, masih mempertahankan eye contact dengan Lacus sementara kedua tangannya perlahan bergerak menyusuri tubuh Lacus.

Ketika tangan kiri Kira berhenti di pinggang Lacus sementara tangan kanannya menyusuri sisi kanan tubuh Lacus perlahan, barulah Lacus paham maksud ucapan Kira. "Sepertinya," Lacus menyunggingkan senyum kecil, "Aku justru membuatmu tidak bisa tidur," ia menggeleng perlahan, "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud—"

"Tak apa," gumam Kira, yang kini sudah menyusuri leher Lacus dengan bibirnya. "Mungkin dengan begini aku bisa tidur lebih cepat dari dugaanku,"

"Ba-bagaimana bi-bisa?" Kira tak bisa menahan senyum saat mendengar jawaban Lacus yang terbata-bata. Senyumnya semakin lebar saat ia merasakan tubuh Lacus bergerak mendekatinya, menempel erat.

"Karena sebelumnya aku berencana menunggu matahari terbit," gumam Kira perlahan, beralih menyusuri telinga kanan Lacus.

Lacus mendesah pelan, kedua tangannya menyusuri kemeja putih yang dikenakan Kira. "Kira...,"

"Iya, Lacus?"

"Ti-tidurlah,"

"Tentu," jawab Kira sembari tertawa geli. Bila ada persamaan antara Lacus dan kembarannya, mungkin itu sifat keras kepala yang mereka miliki—dan pemikiran itu membuatnya geli. "Kalau kau mau menemaniku,"

"Me-menemani ap—"ucapan Lacus terhenti saat tangan Kira bergerak menyusup ke dalam gaun tidurnya, menyusuri setiap senti tubuhnya.

"Bagaimana?" tanya Kira seraya memasang senyum lebar.

Lacus bisa merasakan jari-jari menyusup pakaian dalamnya. "Ba-baiklah," jawabnya, memandang Kira lekat-lekat. "Ta-tapi nan-nanti kau ha-harus tetap ti-tidur,"

Kecupan panjang dan dalam dari Kira menutup pembicaraan mereka malam itu.

-end of Chapter Three-


Catatan Lenn :

Remake oh remake :")

Jikalau ada yang ingat setidaknya 2 perbedaan versi ini dengan versi dulu…

Enjoy, gorgeous.

Lenn