Mysterious Park

Part 8

(Hetalia punya Hidekaz Himaruya bukan punya saya ._. )

Keadaan di sekitar lorong tampak remang-remang. Nyaris tak ada cahaya yang masuk, kecuali sedikit sinar matahari yang menerobos dari retakan-retakan kecil di langit-langit.

Feliciano dan Kiku berjalan melalui lorong itu. Jejak tetesan darah masih tampak jelas di lantai, sementara ujung lorong belum juga tampak. Keduanya membisu cukup lama.

"Vee~" Feliciano akhirnya memecah kesunyian itu. Ia tak tahan terus berdiam, sementara benaknya dipenuhi ketakutan dan berbagai pertanyaan. "…di sini gelap sekali…"

"Ya," jawab Kiku tanpa mengalihkan perhatiannya dari arah depan. "Hati-hatilah berjalan, Feliciano-kun!" Di sekitar mereka, semakin banyak pecahan-pecahan batu yang berasal dari tembok yang telah lapuk. Kiku tak ingin sahabatnya itu sampai terjatuh karena tersandung.

"Veee…" Feliciano tak berkata apa-apa lagi. Berada di tempat seperti ini dan situasi begini membuatnya ingin lari saja. Dalam hati ia sedikit mengeluh, kapan semua ini akan berakhir. "Aku ingin pulang," pikirnya. "Tapi jejak darah itu…Gilbert atau Ludwig mungkin terluka. Mungkin mereka dalam bahaya."

Mereka terus berjalan, kembali dalam keheningan. Sesekali Feliciano melihat ke sekitarnya. Makin masuk ke dalam, lorong itu terasa makin gelap. Mungkin tak banyak lagi ada retakan di langit-langit sehingga sinar matahari yang masuk mulai berkurang. Feliciano ingin mengeluarkan senter yang dimilikinya. Tapi itu senter satu-satunya yang ia punya. Ia tahu ia harus menghemat baterainya. Entah berapa lama lagi mereka harus berada di taman ini. Jika hari ini mereka harus bermalam lagi, tentu mereka akan memerlukan senter itu.

"Malam ya…" gumam Feliciano lagi. Sebenarnya ia tak ingin sampai bermalam lagi di taman itu. Menakutkan..berbahaya… Dan mengingat tentang hantu, Feliciano mulai merinding lagi. Bagaimana kalau di lorong yang tengah ia masuki ini juga ada hantu? Kata Kiku, mungkin Gilbert dan Ludwig ada di dalam, tengah dikejar hantu. Bagaimana kalau mereka dikejar juga?

'GRATAK'

Sebuah suara mendadak terdengar di belakang mereka.

"Ve!" Feliciano langsung melompat ketakutan karenanya, sementara Kiku hanya menoleh ke belakang dengan waspada.

'GRATAK'

"Apa itu?" Dengan cepat Feliciano bersembunyi di belakang Kiku dan mencengkeram erat jaket pemuda Jepang itu. Baru saja ia memikirkan tentang hantu, sudah ada bunyi aneh di belakang mereka. Sebenarnya suara apa itu?

"Seperti suara sesuatu yang jatuh…" sahut Kiku. Ia mencoba memfokuskan pandangan, melihat ke arah suara itu. Siatuasi ruangan yang kurang cahaya membuatnya tak bisa melihat terlalu jauh dengan jelas.

'GRATAK'

Suara itu terdengar lagi. Lalu disertai suara 'bruuuk' yang keras.

"Vee!" Feliciano nyaris berteriak kencang. Tapi ia ingat bahwa ia tak boleh membuat masalah lagi. Suaranya barusan saja sudah terlalu keras untuk memancing kedatangan makhluk-makhluk itu. Dilihatnya Kiku hanya diam di tempat dan menggenggam katananya erat-erat, siap menariknya dari sarungnya kapan saja.

"Kiku, kita lari saja!" bisik Feliciano kemudian. Ia tak mau berurusan dengan hantu lagi. Ia tak ingin lagi melihat sosok menyeramkan. Yang ingin Feliciano lakukan sekarang hanya lari ke tempat yang aman.

'srek..srek….'

Kali ini terdengar suara langkah kaki yang sangat pelan. Seseorang…dan kelihatannya lebih dari itu, tengah berjalan ke arah mereka.

Kiku mundur beberapa langkah. "Apa yang harus saya lakukan sekarang?" tanya Kiku dalam hati. "Kalau kami lari, apakah mereka akan mengejar?" Kiku sendiri sebenarnya juga tak ingin berurusan dengan hantu lagi. Tapi ia tak ingin kalau hantu itu mengejar mereka nantinya. Ia tahu, di depan sana kemungkinan besar ada kedua temannya yang dalam bahaya. Mungkin di depan sana juga ada kawanan hantu. Entah apa yang terjadi jika mereka sampai dikepung dari dua arah.

'srek…srek…'

"Veee…." Feliciano semakin ketakutan. Langkah-langkah kaki itu terdengar semakin dekat. Pemuda Italia itu pun memalingkan wajahnya dari arah depan, tak ingin melihat sosok yang akan datang. Tapi saat ia melihat ke samping…

Di tembok…terlihat wajah orang!

"Pengganggu." Sosok di tembok itu berbicara. Wajahnya tampak menyeringai. Salah satu rongga matanya kosong. Darah mengalir dari rongga mata itu.

"Huwaaaa!" Feliciano tak bisa menahan diri lagi. Ia melepas pegangannya dari Kiku dan berlari kencang. Ia berlari memasuki lorong itu lebih dalam tanpa pikir panjang.

"Feliciano-kun!" Kiku mencoba memanggilnya, namun sia-sia. Sahabatnya itu berlari begitu saja. Kiku akhirnya mengejar Feliciano, sebelum pemuda Italia itu berlari semakin jauh lagi.

"Feliciano-kun, jangan berlari lagi!" seru Kiku. "Jangan sampai terpisah!" Melihat situasi di luar sana yang membingungkan, bukannya tak mungkin di dalam sana juga sama. Bisa saja mereka terpisah dan sulit untuk bertemu lagi.

"Itu tak boleh sampai terjadi," kata Kiku dalam hati. "Saya harus menjaga Feliciano-kun!"

"Vee!" Tiba-tiba Feliciano berteriak lagi. Kali ini disertai suara jatuh.

"Feliciano-kun!" Kiku berlari lebih cepat. Ia mulai kuatir. "Apa yang terjadi dengan Feliciano-kun?" tanyanya dalam hati. Seharusnya pemuda Italia itu tak lari begitu saja. Harusnya Kiku bisa mencegahnya.

"Kiku, tolong!" Kali ini Felicino berteriak minta tolong.

Teriakan itu membuat Kiku terkejut dan cemas. "Feliciano-kun dalam bahaya," katanya dalam hati. "Semoga saja ia baik-baik saja. Suara itu sudah tak jauh lagi…"

Kiku terus berlari. Lorong itu cukup gelap sehingga ia tak bisa benar-benar memastikan apa yang ada di depannya. Tapi akhirnya ia melihat Feliciano di depan sana. Pemuda Italia itu terduduk di lantai dengan gemetar ketakutan.

"Feliciano-kun!" Kiku memanggil pemuda Italia itu. Ia cukup lega melihat Feliciano baik-baik saja. Kelihatannya ia tak terluka. "Syukurlah…"

Belum sempat Kiku menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba sesuatu menarik tangan kanannya. Tarikan itu sangat kuat hingga pemuda Jepang itu terhempas pada tembok.

"Kiku!" Feliciano tampak meronta-ronta, berusaha melepaskan diri dari sesuatu.

Kiku menarik nafas perlahan dan membuka mata. Benturan tadi telah mengenai luka di lengan kanannya. Kiku mengernyitkan keningnya ketika mencoba bergerak. Sepotong tangan muncul dari balik tembok, mencengkeram erat lengan kanannya. Dan di sebelahnya tampak wajah orang. Wajah yang kehilangan satu bola mata itu tersenyum penuh kepuasan. Wajah yang menginginkan nyawa.

"Veee! Lepaskaaaannn!" Feliciano menghentak-hentakkan kedua kakinya. Sepasang tangan juga muncul dari lantai, mencengkeram erat kedua kaki Feliciano. Saat ia berusaha melepaskan diri, kedua tangan itu malah menariknya lebih kencang lagi.

"Pengganggu. Terima saja nasib kalian." Wajah di tembok itu berbisik. "Kalian akan mati, seperti kedua teman kalian."

"Vee?" Feliciano berhenti berteriak. Apa yang barusan dikatakan oleh wajah mengerikan itu? Apa ia tidak salah dengar?

"Benar…" Tiba-tiba saja muncullah sebuah sosok dari arah bagian dalam lorong. Sosok wanita berambut panjang dan berbaju putih yang tengah melayang. "Kedua teman kalian sudah mati."

Feliciano tertegun. Ia diam, berusaha mencerna baik-baik apa yang baru saja didengarnya. Apa kata wanita itu? Kedua teman mereka sudah mati? Feliciano menggelengkan kepala dengan cepat. "Bohong!" serunya kemudian. "Kau bohong! Ludwig dan Gilbert masih hidup!" Tentu saja ia tak percaya. Kedua sahabatnya itu adalah orang-orang yang kuat. Mereka pasti tak akan mati begitu saja, kan?

Tapi wanita itu tertawa. Begitu juga dengan wajah yang muncul di tembok itu. Mereka tertawa dengan nada mengejek. Setelah itu, mendadak suara lain terdengar tak jauh dari sana. Suara yang sudah tak asing lagi bagi Feliciano dan Kiku.

"Feli…." Suara itu adalah suara Gilbert.

'GRATAK'

'GRATAK'

'BRUUUKKKKK'

"Bloody hell, apa yang kau lakukan?" Arthur protes dengan wajah kesal. Walaupun kesal, tapi ia bisa menahan suaranya hingga hanya terdengar sebagai bisikan. Ia menatap Alfred yang kini berada tepat di atas tubuhnya.

"Ahaha…maaf maaf!" Alfred tersenyum ceria dan segera menyingkir dari atas Arthur.

Kedua orang itu pun bangkit berdiri dan melihat keadaan di sekitarnya. Entah berada di mana mereka sekarang. Di depan mereka, hanya ada lorong yang gelap. Arthur melihat ke atas. Langit-langit di atas mereka kini berlubang. Arthur menghela nafas, masih merasa kesal. Ia melirik pemuda Amerika di sebelahnya dengan tatapan tajam. "Kalau saja orang ini tak menarikku tadi!" keluhnya dalam hati.

Mereka berdua, bersama Yao dan Ivan tadi tengah mencari-cari Matthew dan Francis yang mendadak hilang. Lalu Arthur melihat sosok aneh di balik pohon beringin. Itu sosok wanita bermulut sobek, yang tengah melayang. Dan entah bagaimana, ternyata Alfred juga melihatnya. Tiba-tiba saja Alfred menarik tangan Arthur dan berlari kencang sambil berteriak-teriak. Yao memanggil mereka, tapi Alfred tak mendengarnya lagi. Setelah itu Arthur hanya bisa pasrah, membiarkan Alfred berlari menariknya. Mereka terpisah dari Yao dan Ivan. Entah berapa lama mereka berlari dan berlari. Mereka berlari-lari masuk-keluar bangunan juga. Lalu tiba-tiba saja tanah yang mereka pijak malah runtuh dan di sinilah mereka sekarang, di dalam lorong yang tampak misterius.

"Lorong apa ini?" Arthur melihat ke sekitarnya. Lorong itu tampak gelap. Temboknya sudah lapuk. Banyak lumut tumbuh di sekitarnya. Langit-langit di sana tampak sudah retak-retak juga.

"Hei, lihat ini!" Tiba-tiba Alfred menunjuk ke lantai dengan wajah serius.

Arthur pun menunduk. Kini ia bisa melihat tetesan berwarna merah di sepanjang lorong. "Ini…" Ia tampak sedikit terkejut. Pemuda itu pun berjongkok, memeriksa jejak kemerahan itu. "Ini darah. Dan masih belum lama…"

"Apa terjadi sesuatu dengan mereka?" tanya Alfred. Keempat teman mereka yang merupakan anggota klub jurnalistik telah menghilang di taman itu sejak kemarin. Tak hanya itu, mereka juga terpisah dari semua teman mereka. Entah apa yang telah terjadi. Apalagi mereka tahu, ada yang tak beres di taman itu. Ada makhluk-makhluk mengerikan di sana.

"Sebaiknya kita memeriksa ke dalam," kata Arthur kemudian. Perlahan ia berjalan. Sebenarnya ia tak yakin harus berjalan ke arah mana, karena mereka terjatuh begitu saja di tengah-tengah lorong. Tapi ia terus berjalan. Alfred pun mau tak mau mengikutinya.

"Huwaaa!" Tiba-tiba saja terdengar suara teriakan. Lalu terdengar suara orang yang berlari kencang.

Arthur dan Alfred berpandangan, memastikan mereka tak salah dengar. Ya, itu adalah suara dari orang yang tengah mereka cari-cari. Itu suara Feliciano.

"Feliciano-kun!" Kali ini terdengar suara dari teman mereka yang lain, Kiku.

Arthur masih tak bergerak. Ia senang mendengar suara kedua temannya itu. Tapi kenapa mereka berteriak? Apakah mereka bertemu dengan sesuatu yang mengerikan? Tapi ia tahu apa yang harus ia lakukan bersama Alfred. Mereka harus mengejar kedua teman mereka.

"Feli…" Terdengar suara Gilbert.

"Gilbert?' Feliciano menoleh ke arah asal suara itu. "Vee?"

Dari belakang sosok sang hantu wanita, sosok lain muncul sambil merangkak perlahan. Beberapa kali keluhan kesakitan terdengar darinya. Feliciano memicingkan kedua matanya, berusaha melihat di tengah gelapnya ruangan. Siapa yang datang? Apakah itu benar-benar Gilbert? Sosok itu terus mendekat, hingga akhirnya Feliciano dan Kiku bisa melihat dengan jelas siapa yang datang. Itu benar-benar Gilbert. Pemuda albino itu datang dengan tubuh yang penuh dengan darah.

"Gilbert!" Feliciano berteriak, melihat temannya itu dengan wajah tak percaya. Apa yang telah terjadi? Kenapa Gilbert sampai seperti itu?

"La…ri…Feli…" Gilbert berusaha berbicara. Tapi suaranya tertahan. Ia batuk dengan keras. Bersamaan dengan itu, darah mengalir dari bibirnya.

"Gilbert-san!" Melihat itu, dengan segera Kiku mengangkat katananya. Ia memotong tangan yang sejak tadi terus menariknya. Tanpa peduli dengan sekitarnya lagi, Kiku menghampiri Gilbert dan duduk berlutut di sebelahnya.

"Gibert-san!" panggil Kiku lagi.

"Kiku…" Gilbert mengangkat kepalanya dan berhenti menyeret tubuhnya. Wajah pemuda itu juga penuh dengan luka. Pandangan matanya tampak tak fokus lagi.

"Apa yang terjadi, Gilbert-san? Apa ini perbuatan mereka?" tanya Kiku. Suaranya sedikit bergetar. Marah, perasaan cemas dan bingung bercampur aduk dalam hatinya. Melihat keadaan temannya itu, Kiku ingin menghabisi pelakunya sekarang juga dan membawa temannya keluar dari sana.

Gilbert tak menjawab pertanyaan Kiku. Ia tertunduk sebentar, tampak menahan sakit. "Bawa lari…Feli." Akhirnya Gilbert berbisik. "Aku sudah …tak bisa…."

"Jangan bicara begitu, Gilbert-san! Kita akan lari bersama-sama!" seru Kiku. Ia pun bangkit berdiri dan mendekati Feliciano. Dengan segera, Kiku melenyapkan tangan yang berusaha menyeret Feliciano. "Ayo, Feliciano-kun!" kata Kiku kemudian.

"Vee~ Gilbert!" Feliciano langsung berlari dan menghampiri Gilbert. Ia mencoba mengangkat tubuh sahabatnya itu. "Gilbert, bertahanlah! Kiku benar, kita harus bersama-sama!"

Namun Gilbert malah berusaha menepis tangan Feliciano. "Feli…sudah…" katanya. "Tinggalkan aku"

Feliciano menoleh dan menggigit bibirnya. Ia kini bisa melihat keadaan Gilbert dengan jelas. Luka di tubuh temannya itu terlalu banyak. Dan darah terus mengalir. Entah sudah berapa lama Gilbert dalam keadaan seperti itu. Feliciano tahu, kalau Gilbert tak segera dibawa ke rumah sakit….

"Kenapa jadi begini?' tanya Feliciano dalam hati. "Apa yang harus kami lakukan sekarang ini?"

"Tinggal menemukan Ludwig-san…" Kiku berbisik pada dirinya sendiri. Ia mengepalkan tangan kirinya erat-erat. Ia kesal. Kalau saja mereka menemukan Gilbert lebih cepat. Dan kini, bagaimana dengan Ludwig?

"Vee! Iya, kita tinggal menemukan Ludwig! Setelah bertemu Ludwig, kita keluar bersama-sama dari sini!" seru Feliciano. Ia memaksa dirinya untuk tersenyum, kemudian menoleh pada Gilbert. "Karena itu, Gilbert harus tetap kuat, ya…"

"Tidak…" sahut Gilbert. "Tinggalkan saja…aku…"

"Bicara apa kamu..." kata Feliciano. "Gilbert tenang saja! Kiku itu sangat kuat. Dia akan membereskan semua hantu di sini! Lalu kita temukan Ludwig. Setelah itu, kita cari jalan keluar…"

Kata-kata pemuda Italia itu terhenti. Membereskan semua makhluk mengerikan itu? Mencari jalan keluar? Apakah akan semudah itu? Tapi dengan cepat ia kembali menyahut dengan riang. "Se…setelah itu kita pulang! Vee~ Aku akan memasak pasta yang enak saat kita tiba di rumah! Lalu…liburan khan masih panjang. Kita bisa berjalan-jalan ke tempat lain yang indah! Karena itu…karena itu…" Wajah Feliciano mulai basah oleh air mata. Ia melihat Gilbert yang semakin melemah. "Karena itu…Gilbert harus bertahan. Kita harus keluar bersama-sama…"

"Kesesese… aku akan sangat senang…jika itu bisa terjadi…" sahut Gilbert. Ia terbatuk lagi, lalu tersenyum tipis walaupun rasa sakit terus menggerogoti tubuhnya. "Tapi maaf. Kalian…harus lari dari taman ini…berdua"

"Vee?"

Senyum kecil itu menghilang dari wajah Gilbert. Wajahnya kini tampak serius. Dan tak hanya itu. Kesedihan juga tampak di wajah pemuda itu. "Maaf Feli…" Gilbert mencoba berkata-kata. "…adikku sudah…mati"

"Bohong" Feliciano langsung menyahut, tak percaya. "Bohong! Gilbert pintar bercanda!"

"….kameraku…" Gilbert berbisik pelan. "…semua ada di kameraku"

"Bohong!" Feliciano kali ini berteriak kencang. Ia mengguncang tubuh Gilbert. Ia tak mau mempercayai kata-kata Gilbert. Ludwig tak mungkin mati! Ludwig pasti masih hidup! "Katakan dengan jelas, Gilbert! Itu pasti bohong! Ludwig baik-baik saja! Ludwig masih hidup!"

"Feliciano-kun!" Dengan cepat Kiku menarik tangan Feliciano, berusaha menghentikannya.

"Vee…" Feliciano pun terdiam dan menurunkan tangannya. Lalu menunduk lemas. Ia masih tak percaya. Dan ia masih tak mau percaya kata-kata Gilbert. Tapi… apa dalam keadaan seperti itu, Gilbert bisa berbohong?

"Kiku…" Gilbert pun menoleh pada pemuda Jepang itu.

Kiku mendekat padanya dalam diam.

"Kiku berjanjilah… Bawa Feli…keluar…"

"Kita akan keluar bersama-sama!" sahut Kiku cepat. "Aku berjanji akan membawa Feliciano-kun keluar. Dan Gilbert-san juga…"

Mendengar jawaban Kiku itu, Gilbert tersenyum. Tiba-tiba saja hal yang ditakutkan terjadi. Gilbert menutup kedua matanya.

"Satu lagi pengganggu telah lenyap." Sosok wanita berbaju putih tadi tersenyum. Ia mengangkat tangannya. "Karena ia sudah mati, tubuhnya menjadi milik kami."

Setelah itu, mendadak tubuh Gilbert lenyap.

"Vee…" Feliciano terdiam. Matanya menatap lantai, tempat Gilbert baru saja terbaring. Pandangan matanya tampak kosong. "Ini tidak mungkin…" pikirnya. "Ini pasti bohong!"

Feliciano berharap semua ini hanya tipuan. Semua ini hanya mimpi, atau mungkin lelucon. Feliciano berharap setelah ini hantu-hantu itu tertawa, lalu berkata 'selamat datang di atraksi terbaru kami di taman ini'. Lalu Gilbert dan Ludwig muncul dalam keadaan sehat, lalu minta maaf karena telah menakut-nakutinya. Feliciano berharap setelah itu mereka keluar dan pulang bersama-sama.

Namun tak terjadi apapun. Hantu-hantu di sekelilingnya tertawa. Tapi itu tawa puas, penuh kemenangan, tawa tak sabar…ingin mengambil nyawa mereka semua. Gilbert dan Ludwig tak muncul lagi. Dan walaupun tak ingin percaya, Feliciano tahu bahwa sebelum menghilang tadi, nafas Gilbert benar-benar terhenti.

"Gilbert…" Air mata Feliciano menetes. Ia masih berharap semua ini bohong. Atau semua ini hanya mimpi. Tapi semua itu nyata. "…Ludwig…"

"Bunuh mereka!" Sosok wanita berbaju putih itu berbisik lagi.

Sosok di dinding tertawa. Tangan-tangan di dinding dan di lantai muncul kembali, hendak meraih Feliciano.

Tapi Kiku menebas tangan-tangan itu dengan cepat. Ia menatap sosok wanita dan wajah di dinding itu dengan marah. "Minggir!" katanya dengan dingin. "Pergi kalian semua!"

Pemuda itu pun maju, hendak menyerang sosok wanita berbaju putih itu. Namun berpuluh-puluh pasang tangan menghalanginya.

"Minggir!" Kiku menghalau tangan-tangan itu tanpa rasa takut. Ia terus menyerang dan menyerang, tak peduli dengan lengan kanannya yang terus protes terhadap setiap gerakan yang ia lakukan. "Sosok wanita itu pelakunya…" katanya dalam hati. "Ia yang membunuh Gilbert-san!"

Kiku terus menyerang, mencoba mendekati wanita berbaju putih itu. Sayangnya perlawanan Kiku sia-sia. Tangan-tangan itu terus bertambah banyak. Salah satunya berhasil menangkap Kiku dan menghempaskannya ke lantai. Beberapa dari mereka juga bergerak, menangkap Feliciano yang masih terdiam dengan wajah penuh air mata.

"Berhentilah melawan!" Sosok wanita berbaju putih itu mendekati Kiku. Kiku mencoba melepaskan diri. Namun tangan-tangan itu mencengkeramnya dengan sangat kuat. Sosok wanita itu tersenyum padanya. "Percuma saja," katanya. Ia mengulurkan tangannya ke arah mata kanan Kiku, seolah siap mencongkelnya."Kau akan menjadi bagian dari kami!"

"Tidak akan!" Mendadak seseorang berseru kencang. Lalu terdengarlah suara letusan pistol.

Sang wanita itu mundur dengan terkejut. Sebutir peluru melewatinya, nyaris saja mengenainya. Wanita itu menoleh. "Siapa itu?" tanyanya.

Tak ada jawaban. Namun terdengarlah suara letusan pistol lagi. Peluru dari pistol itu menyerang sosok yang ada di dinding. Suara teriakan pun terdengar. Sosok itu lenyap, diikuti dengan lenyapnya semua tangan di sekitar sana.

"Sang Hero akan menghentikan kalian!" Kedua orang itu kini menampakkan diri. Mereka adalah Alfred dan Arthur. Kedua orang itu menggenggam pistol dan kini mereka menatap sang hantu wanita dengan tajam.

"Oh, kalian ya…" Sang hantu wanita itu sedikit terkejut melihat kedatangan mereka yang tiba-tiba. Tapi ia kembali tersenyum senang. "Kalian juga tak akan lolos," katanya kemudian. "Lihat saja nanti. Bersiaplah, kalian juga akan mati. Dan tubuh kalian akan menjadi milik kami." Setelah itu, sosok itu perlahan menghilang.

"Hahaha! Lihat, dia takut!" Alfred pun tertawa dengan wajah ceria. Kemudian ia menyimpan pistolnya di sakunya dan mendekati Feliciano. Alfred ingin tertawa senang, memeluk temannya itu, senang melihatnya baik-baik saja. Namun ia melihat Feliciano yang hanya tertunduk diam.

"Hei, apa yang terjadi?" tanya Alfred dalam hati. Raut wajahnya pun akhirnya berubah menjadi serius. Biasanya pemuda Italia itu selalu tertawa senang. Alfred tahu, mereka berada dalam situasi tak menyenangkan. Tapi seperti apapun situasinya, biasanya Feliciano akan selalu mencoba untuk tersenyum. Tapi apa yang terjadi kali ini? Alfred pun duduk di samping Feliciano. "Hei, kamu tidak apa-apa?" tanyanya kemudian.

"Vee…" Feliciano hanya diam, menatap Alfred sebentar, lalu menunduk lagi.

Alfred semakin bingung dibuatnya. Ia pun menoleh pada Kiku yang berusaha bangkit berdiri.

"Hati-hati!" Arthur tampak membantunya. Pemuda Jepang itu barusan nyaris terjatuh, kalau saja Arthur tak menahannya. Kiku menoleh pada Arthur dan mengucapkan terima kasih. Keduanya pun berjalan, mendekati Feliciano dan Alfred.

"Maaf tadi kami terlambat datang!" kata Alfred pada Kiku. "Kami datang ke taman ini bersama Bayu dan yang lainnya. Katanya kalian hilang. Ng…sebenarnya apa yang telah terjadi barusan?"

Kiku tertunduk mendengar pertanyaan itu. Ia teringat lagi dengan tujuan mereka datang ke tempat itu. Tadinya mereka hanya ingin menulis artikel. Mereka hanya ingin berjalan-jalan. Tapi semuanya jadi seperti ini…

"Oi!" Arthur menepuk pundak Kiku dengan bingung. Kenapa temannya itu malah diam saja? Dan kenapa Feliciano juga tiba-tiba diam dengan wajah penuh air mata? Sebenarnya apa yang barusan telah terjadi? Dalam hati Arthur menyesal telah terlambat sampai di tempat itu.

"Maaf." Kiku berbisik pelan. Berat baginya untuk mengatakan semuanya. Ia juga masih tak ingin mempercayainya. Tapi ia harus mengatakannya. "Gilbert-san…terbunuh."

"Apa?" Alfred menyahut dengan nada tak percaya.

"Gilbert-san terbunuh." Kiku mengulangi lagi jwabannya. "Tubuhnya telah hilang…mungkin dibawa kawanan hantu itu."

"Jangan bercanda!" seru Arthur. Ia menatap wajah Kiku. "Gilbert yang mengaku dirinya awesome itu? Mana mungkin ia bisa terbunuh begitu saja!"

"Maaf," sahut Kiku lagi. "Tapi itu benar. Dan mungkin Ludwig-san juga…"

"Kiku…" Akhirnya Feliciano mengangkat kepalanya, menatap Kiku dengan mata sembab. "Aku ingin melihat kamera Gilbert."

"Kamera? Ini tentang apa lagi?" tanya Alfred sambil menoleh pada Kiku. Ia masih belum bisa percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Tapi ia juga tak meragukan kesungguhan Kiku. Dilihat dari situasinya, Kiku tak mungkin berbohong. Namun…ia tak ingin percaya…

"Kiku…" Feliciano meminta lagi. "Tolong!"

Kiku menghela nafas, tak menjawab. Gilbert tadi berkata bahwa Ludwig telah mati, dan semua ada di kameranya. Kiku tahu, Feliciano ingin melihatnya. Feliciano pasti ingin tahu apa yang terjadi pada Ludwig. Kiku sendiri juga ingin tahu apa yang telah terjadi. Tapi ia tak yakin untuk melihatnya, apalagi membiarkan Feliciano untuk melihatnya.

Namun Kiku melihat kesungguhan di mata Feliciano. Ia pun menyerah dan mengeluarkan kamera Gilbert yang ditemukannya di luar tadi dari sakunya. Tadi memang akhirnya ia yang menyimpannya. Akan tetapi kamera itu tak langsung ia berikan pada Feliciano. Dengan perlahan Kiku menyalakan kamera digital itu dan melihat-lihat hasil fotonya. Di antara hasil pemotretan itu, ada sebuah video. Video yang memperlihatkan hal mengejutkan….

"Kesesesese~ Aku yang awesome ini akan merekam situasi di sekitar sini!"

Awalnya Gilbert terlihat sedang bercanda. Ia menyalakan tombol perekam kamera itu dan mulai merekam situasi di sekitarnya. Lalu ia berkomentar, seperti penyiar di televisi. Ia mengomentari situasi di sekitar taman. Dari hasil rekaman, tampak bahwa Gilbert belum terlalu jauh dari bangunan yang dimasuki Feliciano dan Kiku. Letak beberapa pohon di depan Gilbert masih diingat oleh Kiku.

Gilbert dalam rekaman itu masih terus berkomentar. Namun tiba-tiba saja terdengar suara teriakan.

"West!" Lalu terdengar suara Gilbert yang terkejut. Sepertinya setelah itu ia menoleh ke arah suara teriakan itu. Entah secara sadar atau tidak, kamera yang dipegangnya masih merekam setiap peristiwa yang terjadi. Kini di depan Gilbert tampak Ludwig yang terbaring di tanah dengan luka parah di sekujur tubuhnya. Tatapan pemuda Jerman itu tampak kosong, dan ia tak bergerak lagi.

Kiku hampir saja menjatuhkan kamera itu saking terkejutnya. Wajahnya memucat. "Jadi benar?" tanyanya dalam hati. "Ludwig-san sudah…."

"Vee~ apa yang Kiku lihat?" Feliciano langsung merebut kamera itu dari tangan Kiku. Ia pun menonton video itu dengan tak sabar. Ia harus tahu semuanya. Ia harus tahu apa yang telah terjadi pada Ludwig. Mungkin tadi Gilbert bercanda. Mungkin Gilbert telah salah atau apalah… Tapi Feliciano harus menelan kekecewaan. Video itu membuktikan bahwa sahabat yang paling disayanginya telah meninggal.

"Ludwig…" Air mata Feliciano menetes segera setelah ia menonton video itu. "Ludwig…"

Bukan ini yang ingin dilihatnya. Feliciano ingin melihat wajah Ludwig yang biasanya. Wajah yang tersenyum padanya, walau seringkali sahabatnya itu memprotes kebodohannya.

"Ludwig…Ludwig…" Feliciano mulai terisak-isak. Ia tahu Ludwig tak akan kembali padanya. Ludwig tak akan lagi memarahinya, tak akan lagi menjaganya dan tak akan lagi tersenyum padanya. Tangis Feliciano pun pecah. Sahabatnya itu…kini pergi untuk selamanya.

Arthur hanya bisa diam dan melihat ke arah Feliciano. Alfred tengah merangkul Feliciano, mencoba membuatnya sedikit lebih tenang. Namun Arthur juga melihat mata Alfred yang berkaca-kaca. Arthur mengepalkan tangannya. Walaupun Ludwig dan Gilbert tak terlalu dekat dengannya, tapi mereka adalah temannya juga! Kenapa jadinya seperti ini?

"Ludwig!" Suara Feliciano terdengar keras di lorong yang sunyi itu. Arthur pun memalingkan wajahnya, tak bisa lagi melihat wajah Feliciano tanpa ikut merasa sakit. Pandangan Arthur kini tertuju pada Kiku. Pemuda Jepang itu hanya tertunduk diam dengan bahu bergetar.

"Kiku…"Arthur menepuk pundak temannya itu.

"Arthur-san…" Kiku menoleh sedikit ke arah Arthur. Jelas bahwa ia berusaha menahan air matanya. Kiku mencoba untuk kuat, tapi tak bisa menyembunyikan perasaannya seutuhnya.

"Sudahlah!" Arthur menepuk pundak Kiku lagi. "Kalau kau ingin menangis, menangislah. Jangan tahan air matamu!" Kemudian Arthur memalingkan wajahnya. "Aku tak akan melihatnya."

"Arthur-san…" Kata-kata Kiku terhenti. Ia hanya mampu memalingkan wajahnya dan air mata mulai bergulir di pipinya.

Di dalam kegelapan…

Tampak sesosok wanita berambut panjang dengan baju putih tengah berdiri dengan wajah tersenyum. Pandangannya tertuju pada dua orang yang tengah terbaring dengan mata terpejam, yang ditempatkannya di dalam sebuah ruangan yang cukup besar. Ruangan itu dikelilingi oleh jeruji besi, seperti sebuah penjara.

Sosok wanita itu tampak puas melihatnya.

"Kau berhasil?" Sosok lain yang membawa api obor di tangannya, mendekati wanita itu.

Wanita itu menoleh dan menjawab dengan anggukan. Lalu perhatiannya teralih pada dua tubuh yang berada di dalam sel. Kini api obor yang dibawa oleh sosok yang baru datang tadi membuatnya bisa melihat dengan jelas kedua orang itu…Ludwig dan Gilbert.

"Dua pengganggu telah ada di sini," kata wanita itu. "Yang lainnya akan segera kubereskan."

BERSAMBUNG

Yap, pengaruh HetaOni lumayan terasa di chapter ini. Tapi karena ini bukan fanfict HetaOni, maka jalan ceritanya juga tidak akan sama dengan HetaOni.

Jadi…apakah yang akan terjadi lagi? Bisakah mereka semua keluar dengan selamat?