Mysterious Park
Part 9
(Hetalia punya Hidekaz Himaruya bukan punya saya ._. )
Senja kembali tiba. Langit tampak cerah dengan warna jingga yang menghiasinya. Suara ombak terdengar samar-samar. Tepat di depan pintu gerbang, di luar taman, Made dan Bayu duduk diam.
"Sudah pukul lima sore." Bayu melirik jam tangannya untuk kesekian kalinya. "Belum ada kabar juga dari mereka."
Made melirik Bayu dengan gelisah. Ini sudah sore. Dan tidak ada kabar juga dari teman-teman mereka yang masuk ke dalam taman. Sudah dari pagi. Apa benar mereka tak akan apa-apa? Dan bagaimana dengan mereka yang masuk sejak kemarin?
"Kita pulang saja." Bayu bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya pada Made. "Sebentar lagi malam. Kita tunggu di rumah saja."
"Tidak!" Made menggeleng cepat. "Aku ingin menunggu di sini saja," sahutnya lagi sambil memandang pintu masuk taman. Ia tak ingin pulang sebelum memastikan teman-teman Bayu itu baik-baik saja. Bagaimana kalau benar-benar terjadi sesuatu yang buruk?
"Ini salahku," kata Made dalam hati. "Seharusnya aku tak membiarkan mereka masuk."
"Sudahlah Made!" kata Bayu. "Aku mengerti perasaanmu. Aku juga sangat ingin menemukan mereka. Ingin memastikan kalau mereka baik-baik saja. Tapi kamu tak boleh di sini terus. Orang tuamu akan kuatir."
"Tapi bagaimana dengan teman-teman kakak?" tanya Made. Wajahnya tampak seperti orang yang ingin menangis. "Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk? Taman itu harusnya tak terlalu luas. Dalam kondisi kosong begitu, harusnya bahkan tak perlu waktu setengah hari hanya untuk mengelilinginya. Kenapa mereka tak keluar juga? Selama ini hal seperti itu tak pernah terjadi. Aku takut…"
"Mereka tidak akan apa-apa!" seru Bayu sambil mengepalkan tangannya. Ia tahu betul bahwa Made benar. Kalau bukan karena hal yang aneh atau berbahaya, harusnya kesepuluh temannya itu sudah keluar sekarang. Tapi Bayu hanya bisa percaya semoga semua baik-baik saja. "Mereka pasti akan keluar," sahut Bayu lagi. "Mereka pasti akan pulang dengan selamat."
Made hanya bisa menunduk dan diam. Hanya bisa berharap apa yang dikatakan Bayu itu benar. Semoga mereka semua pulang dengan selamat.
…
"Huwaaaaaa! Jangan tangkap kami! Jangan kejar kami!"
Suara teriakan membahana di dalam taman. Tapi bukannya suara dari Feliciano yang biasanya akan lebih dulu berteriak. Suara itu justru berasal dari Alfred.
"Berisik! Tutup mulutmu, git! Kalau kau berteriak terus, mereka akan terus mengejar!" kata Arthur sambil melirik temannya itu dengan kesal.
"Ta…tapi mereka menakutkan!" sahut Alfred, tak jelas dengan ekspresi takut atau justru malah senang.
Ia dan Arthur kini tengah berlari kencang. Kiku dan Feliciano menyusul di belakang mereka. Di belakang keempat orang itu, mayat-mayat hidup dengan rupa mengerikan tengah mengejar mereka. Jumlah yang begitu banyak membuat keempat orang itu memutuskan untuk lari daripada menghadapi mereka.
Alfred terus berteriak-teriak. Arthur sampai terus memprotesnya. Kiku kehilangan kata-kata untuk membuat mereka tenang. Sementara Feliciano, tak seperti biasanya, ia hanya diam dengan wajah murung.
"Bodoh! Lari lebih cepat lagi! Mereka semakin mendekat!" Arthur menengok ke belakang dan melihat kawanan makhluk mengerikan itu semakin cepat. Sebentar lagi mereka pasti akan terkejar.
"Ini sudah paling cepaaat!" seru Alfred.
Mereka berlari dan terus berlari. Namun mendadak…
"Uwaaa!" Feliciano berteriak, lalu terdengar suara berdebum yang cukup keras. Pemuda Italia malang itu tersandung akar pohon yang ada di tanah dan terjatuh.
"Ck, bikin repot saja!" Melihat itu, Arthur segera berbalik, diikuti oleh Alfred. Keduanya menarik pistol mereka dari saku. Musuh telah semakin dekat. Rasanya mustahil menarik Feliciano tanpa berurusan dengan mereka semua.
"Feliciano, cepat bangun!" seru Alfred. Ia menembak ke arah salah satu makhluk yang telah begitu dekat. Makhluk itu pun tersungkur ke belakang dan lenyap. Tapi puluhan lainnya terus maju.
"Vee~ maaf…" Feliciano berusaha bangkit berdiri. Tapi Arthur bisa melihat pemuda itu kini gemetaran. Apa dia ketakutan?
"Feliciano!" Alfred memanggil lagi sambil terus menembaki musuh-musuh yang hendak menyerang.
Arthur pun ikut menembak juga. Beberapa meter dari mereka, Feliciano bangun dengan perlahan-lahan. Jelas, ia tampak ketakutan. Dalam hati Arthur sedikit gelisah. Kalau Feliciano tak cepat-cepat lari, mereka harus menghadapi kawanan monster itu. Sedangkan senjata mereka terbatas…
"Tolong bantu Feliciano-kun berdiri!" Di tengah kebimbangan itu, tiba-tiba saja Kiku berbisik, lalu maju melewati Arthur dan Alfred.
Arthur tersentak kaget melihatnya. Sekilas ia melihat kemarahan di wajah temannya itu. Detik berikutnya, tahu-tahu saja Kiku menghadapi semua mayat hidup itu, sendirian.
"Hei, jangan bertindak bodoh!" Arthur mencoba mengingatkan. Tujuan mereka bukan menghadapi hantu. Mereka harus menemukan teman-teman mereka dan keluar dari sana. Namun Kiku tampaknya tak mendengarkan. Ia terus menyerang dan menyerang dengan katananya.
Keringat mengalir di wajah Arthur. Entah kenapa ia jadi sedikit takut. "Belum pernah aku melihat Kiku seperti ini," katanya dalam hati. "Apa yang dipikirkannya?"
"Oi, Iggy!" Suara seruan Alfred membuyarkan pemikiran Arthur. Arthur menoleh lagi pada Alfred. Pemuda Amerika itu telah menggendong Feliciano di punggungnya. "Cepat, kita harus lari!" serunya lagi.
"Ya," sahut Arthur. "Tapi Kiku…"
Arthur menoleh lagi pada Kiku. Pemuda Jepang itu masih terus menyerang kawanan mayat hidup itu. Satu persatu mereka tumbang dengan cepat.
"Oi, Kiku!" Alfred berteriak memanggilnya. "Cepat, kita harus pergi dari sini!"
Namun Kiku seolah tak mendengarkan. Ia masih terus berusaha menjatuhkan semua makhluk itu. Ia menyerang tanpa ampun.
"Ck, sial!" Arthur akhirnya mengangkat pistolnya lagi. Ia membantu Kiku menyerang kawanan mayat hidup itu.
"Iggy!" Alfred ingin mencegahnya. Namun dengan segera ia mengurungkan niatnya. Ia tahu, bahaya jika menghadapi kawanan musuh itu sendirian. Entah apa yang dipikirkan Kiku. Tapi mereka tak bisa membiarkannya begitu saja, kan? Jadi Alfred memutuskan untuk diam, menjaga Feliciano yang masih digendongnya. Pemuda Italia itu tampaknya sudah lebih tenang. Hanya saja Alfred masih belum mau menurunkannya. Ia ingin tetap siap membawa Feliciano lari kapan saja.
Kawanan mayat hidup itu berkurang lebih banyak lagi. Arthur terus menembaki mereka sementara ia melihat Kiku masih terus menyerang dengan katananya. Satu persatu musuh mereka berjatuhan.
"Benar-benar kawanan yang menyusahkan!" kata Arthur dalam hati. "Mereka sebenarnya tidak terlalu kuat. Hanya saja mereka selalu muncul dalam jumlah banyak. Tapi ada yang aneh dengan semua ini…"
Arthur mengingat lagi dengan perasaan gelisah yang dihadapinya saat memasuki taman itu. Waktu itu ia merasakan sesuatu yang berbeda pada taman itu. Taman itu bukan sekedar tempat angker biasa, kini ia semakin yakin dengan hal itu.
Sebenarnya ini bukanlah kali pertama Arthur berhadapan dengan hal-hal mistis. Bahkan sebenarnya hal-hal mistis telah menjadi bagian dari hidupnya. Ia memang memiliki kemampuan untuk melihat hal-hal seperti itu. Ia bisa melihat hantu ataupun makhluk lain. Namun ia memang tak pernah mengatakannya pada orang di sekitarnya. Ia tahu mereka hanya akan menertawakannya saja.
Terbiasa dengan semua itu membuat Arthur juga mulai memahami keadaan di sekelilingnya. Ia tahu hantu itu sebenarnya jarang sekali mencelakai orang. Mereka sebenarnya muncul hanya karena ganjalan dan beban yang tak terselesaikan semasa hidup mereka. Mereka biasanya hanya ingin minta tolong agar orang lain bisa membantu mereka menyelesaikan semua beban itu. Beberapa dari hantu memang kadang suka menakuti orang. Terkadang ada juga yang membahayakan. Tapi tidak seperti di taman itu, dimana hantunya seolah tak terbatas, dapat dilihat dan disentuh siapapun dengan mudah, dan selalu ingin membunuh orang.
"Ada sesuatu yang lain di taman ini," pikir Arthur lagi. "Dan kini semua makin jelas."
"Iggy, di belakangmu!" Tiba-tiba Alfred berteriak.
Arthur menoleh dengan terkejut. Tepat di belakangnya telah ada sosok yang siap menyerangnya.
"Sial, aku lengah!" gerutu Arthur. Ia segera mengangkat pistol dan menekan pelatuknya, hendak menembak. Namun peluru dari pistol itu tak keluar.
"Sial…pelurunya habis!" kata Arthur dalam hati. Sementara itu makhluk itu telah mengayunkan tangannya ke arah pemuda Inggris itu.
Akan tetapi makhluk itu menghentikan gerakannya dan menoleh ke belakang dengan marah. Kiku telah menyerang dengan katananya. Makhluk itu pun berbalik dan menyerang Kiku.
"Iggy!" Alfred berlari ke arah Arthur sambil tetap menggendong Feliciano. "Kau baik-baik saja?" tanya Alfred kemudian.
"Ng…iya." Arthur mengangguk pelan, masih cukup terkejut dengan serangan mendadak tadi. Untung Kiku menyerang makhluk itu. Jika tidak, pastilah saat ini ia tidak bisa berdiri seperti ini.
"Hh…syukurlah!" sahut Alfred. "Tapi kita harus segera pergi dari sini. Makhluk yang barusan itu muncul mendadak, menembus tanah. Bisa saja yang lainnya datang lagi."
"Ya, sebaiknya begitu," sahut Arthur. Ia menarik nafas dan menenangkan diri sebentar, lalu kembali mengisi pistolnya dengan peluru. "Aku tak boleh lengah lagi, katanya dalam hati. "Tapi barusan ada yang aneh lagi…"
Arthur menoleh pada Kiku yang masih menghadapi makhluk yang tadi menyerangnya itu. Arthur pun bisa melihat bekas tebasan pedang di kepala makhluk itu.
"Kiku tak mungkin melonggarkan serangannya," pikir Arthur lagi. "Seharusnya makhluk itu telah jatuh saat diserang tadi. Apakah makhluk itu….lebih kuat dari yang lainnya?"
Makhluk yang lebih kuat? Apa arti semua ini?
"Kiku!" Suara teriakan cemas Feliciano membuat pikiran Arthur kembali ke dunia nyata. Kiku terjatuh setelah makhluk itu mengayunkan tangannya dengan kuat. Makhluk itu juga hendak menyerang lagi.
"Kau tunggu di sini!" Alfred cepat-cepat menurunkan Feliciano dari punggungnya. Lalu sambil berlari ke arah Kiku, ia menembak makhluk itu. Perhatian makhluk itu pun teralih pada Alfred.
"Sudah kuduga," kata Arthur dalam hati lagi. "Tembakan Alfred juga tak banyak berpengaruh. Makhluk itu lebih kuat dari makhluk lainnya. Tapi…" Arthur siap mengangkat pistolnya. "Dia juga bukan pemimpin mereka."
Arthur pun menarik tangan Feliciano. "Ayo!" katanya kemudian. "Kita harus pergi dari sini!"
Feliciano hanya mengangguk. Setelah itu keduanya berlari mendekati Kiku. Sesekali Arthur menembak makhluk-makhluk lainnya yang mencoba mendekati mereka. Beruntung, mereka itu lenyap hanya dengan satu serangan.
"Vee…Kiku!" Feliciano segera membantu Kiku berdiri. "Ayo, Kiku! Kita pergi saja…" katanya lagi.
Kiku berdiri dengan wajah tertunduk. "Maaf," bisiknya.
"Ayo cepat!" Arthur berteriak pada mereka berdua. Lalu perhatiannya teralih pada Alfred. Pemuda Amerika itu masih menembaki makhluk itu, sementara sang musuh terus menyerang, seolah tak mengenal rasa sakit. Tembakan Alfred hanya membuat gerakan makhluk itu terhenti sesaat.
Arthur menarik nafas. "Baiklah," katanya dalam hati. "Ini akan jadi kesempatan kami." Ia pun menembak ke arah makhluk itu. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali hingga peluru di dlam pistolnya habis. Gerakan makhluk itu pun terhenti untuk beberapa saat.
"Cepat!" seru Arthur kemudian.
Alfred menoleh dan mengangguk. Dengan segera ia berlari ke arah ketiga temannya. Setelah itu mereka terus berlari. Makhluk-makhluk tadi mulai mengejar mereka lagi. Alfred pun melepaskan beberapa tembakan ke arah para musuh, membuat beberapa dari mereka kembali berjatuhan. Setelahnya keempat orang itu terus berlari hingga sosok-sosok mengerikan itu tak tampak lagi di sekitar mereka.
…
"Sepertinya kita aman sekarang." Arthur menutup pintu ruangan. Keempat orang itu kini berada di dalam sebuah bangunan. Di luar, hari mulai gelap. Ruangan tempat mereka berada pun hanya diterangi cahaya kecil dari senter Feliciano. Kawanan hantu tadi tampaknya telah berhenti mengejar mereka. Mereka memutuskan untuk istirahat sebentar.
"Wuah, tadi nyaris saja!" seru Alfred. "Mereka benar-benar mengerikan! Untung Sang Hero ini berhasil mengatasinya!"
"Tutup mulutmu, git!" seru Arthur dengan kesal. Padahal tadi pemuda Amerika itu tampak ketakutan dan terus berteriak-teriak. Apa ia tak bisa tenang sedikit saja? Dan…mengingat soal teriakan, Arthur kini melihat Feliciano. Sejak tadi pemuda Italia itu nyaris tak berteriak lagi. Walau terlihat sangat ketakutan, ia diam saja. Arthur jadi bertanya-tanya, kenapa ia berubah seperti itu? Apakah kehilangan kedua teman mereka telah membuatnya berubah?
Dan, hh…. Kehilangan ya? Arthur tak ingin mempercayai fakta itu. Tapi ia juga merasakan ada sesuatu yang aneh.
"Vee~ Jangan bergerak!" Suara Feliciano memecah pemikiran Arthur lagi.
Arthur sedikit terlonjak, lalu menggerutu dalam hati. "Sejak kapan aku jadi suka melamun seperti ini?"
"Saya tidak apa-apa, Feliciano-kun!" sahut Kiku. Ia tampak berusaha menjauhkan diri dari Feliciano.
Feliciano tak menyerah. Ia pun menarik tangan kiri Kiku dan memaksanya duduk. Kiku terpaksa menurut. Setelah itu Feliciano membuka jaket Kiku dan meraih lengan kanan temannya itu.
Nafas Arthur tertahan. Di lengan kanan Kiku, terdapat kain yang berwarna merah pekat. Namun warna itu bukan berasal dari kain itu. Itu… "Darah?" tanya Arthur dalam hati. "Sejak kapan ia terluka? Apakah sejak tadi ia melawan makhluk-makhluk itu dengan keadaan seperti itu?"
"Vee!" Feliciano tampak terkejut melihat keadaan temannya itu. "Harusnya tadi Kiku jangan banyak bergerak!"
"Maaf, Feliciano-kun…" sahut Kiku. Ia pun kembali diam, membiarkan Feliciano mengganti kain yang membalut lukanya. Kiku sekarang merasa lebih tenang. Ia tadi begitu marah saat melihat kawanan mayat hidup itu. Yang ia pikirkan tadi hanyalah menghabisi semua monster itu. Ia tak ingin mereka menyentuh teman-temannya lagi.
"Apa yang terjadi?" Alfred mendekati Feliciano dan Kiku dengan tak sabar. Senyumnya juga tampak memudar. Ia juga melihat tubuh Feliciano yang lecet-lecet. Pakaian yang dikenakannya juga tampak sobek di bagian bahu dan lengan kirinya. Ada noda kemerahan di sana. Sebenarnya apa saja yang dialami oleh mereka sejak kemarin?
"Kami diserang kemarin," jawab Feliciano. "Ada setan yang membawa pisau! Lalu banyak makhluk mengerikan. Mereka…"
"Feliciano…" Mendadak Arthur memotong kalimat pemuda Italia itu. Sejak tadi hal aneh terus mengganggu pikirannya. Ia merasa harus mengetahui sesuatu. "Bagaimana kalau kau menceritakan apa saja yang telah kalian alami sejak kemarin?" tanya Arthur kemudian. "Ng…Aku tahu, mungkin berat menceritakannya. Tapi…"
"Baiklah!" Tiba-tiba Kiku menjawab. Ia mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk. "Saya akan menceritakan semuanya. Dan bagaimana kalau Arthur-san juga menceritakan apa yang telah terjadi? Arthur-san dan Alfred-san ke sini juga dengan yang lainnya, kan?"
Arthur mengangguk. Ya, mereka tadi memasuki taman itu bersama dengan yang lainnya. Mengingat itu, Arthur jadi cemas juga. Bagaimana dengan mereka sekarang? Yao dan Ivan kelihatannya akan baik-baik saja. Ivan itu sosok yang misterius dan terlihat kuat. Tapi Francis dan… yang kalau tidak salah bernama Matthew itu?
Hanya saja saat ini Arthur ingin mengetahui semuanya. Jika semua terjawab, mungkin mereka akan bisa menghentikan kegilaan di taman ini dan mereka pasti akan bisa keluar dengan mudah.
…
"Sudah mulai malam…" Made menatap ke arah langit. Jarum jam pada arloji di tangan Bayu telah menunjukkan pukul setengah delapan. Keduanya masih juga menunggu dengan gelisah di luar taman. Made mulai putus asa. Beberapa kali ia mencoba menelepon salah satu dari kawan Bayu itu. Tapi semuanya berada di luar jangkauan.
Bayu mulai menghentak-hentakkan kakinya, tak sabar. Ia tahu, ia tak bisa hanya menunggu lagi sekarang. Ia harus melakukan sesuatu. Teman-temannya itu dalam bahaya, ia yakin itu. Tapi apa yang harus dilakukannya sekarang?
"Made akan panggil Balian ke sini!" Akhirnya dengan putus asa Made bangkit berdiri. Balian adalah sebutan untuk orang semacam paranormal di Bali. Saat ini hanya itu yang terlintas di pikiran Made. Di dalam sana ada hantu. Dan perlu seseorang yang kuat yang bisa mengusirnya.
Kali ini Bayu tak menjawab lagi. Ia hanya bisa berharap itu adalah jalan terbaik untuk menolong teman-temannya. Sedikit yang ia sesali, kenapa sejak awal bukan itu saja yang mereka lakukan?
"Mau kemana, Dik?" Tiba-tiba saja seorang bapak mencegat Made.
Made sedikit terkejut dan menoleh. Ia tak memperhatikan darimana bapak itu tadi muncul. Made pun mengamati bapak itu. Siapa dia? Dilihat dari pakaiannya, kelihatannya ia orang lokal. Apa ia penduduk di sini?
"Sa…saya mau pergi," jawab Made seadanya. Kalau ia menceritakan semuanya, paling-paling ia hanya akan ditertawakan, bukan? Tak semua penduduk lokal mempercayai cerita hantu, Made tahu itu.
"Bapak lihat dari tadi kamu duduk di sana dengan temanmu itu," sahut bapak itu sambil melihat ke arah Bayu.
Bayu pun berdiri dan mendekati keduanya. "Ada apa, Pak?" tanyanya.
"Ah, tidak!" Bapak itu tersenyum. "Bapak cuma heran, ngapain kalian duduk di sana dari tadi."
Made memperhatikan bapak itu lebih lagi. Logat Balinya cukup kental, walau ia berbicara dengan Bahasa Indonesia. Apakah Made bisa percaya pada orang itu? Kalau bapak itu adalah penduduk di daerah itu, mungkin ia tahu bagaimana keanehan taman itu, kan? Mungkin ia bisa membantu…
Dengan resiko tidak dipedulikan, Made perlahan angkat suara. "Pak…" sahutnya. "Teman saya dari pagi masuk ke taman."
Raut wajah bapak itu langsung berubah. Ia tampak mengerutkan kening. "Masuk ke sana?" tanya bapak itu.
Made mengangguk. "Tapi mereka belum keluar. Kemarin juga ada teman saya yang masuk ke sana. Janjinya keluar sebelum malam. Tapi sampai sekarang mereka belum keluar," sahutnya lagi.
"Beh, anak muda zaman sekarang!" Bapak itu menghela nafas. "Ngudiang masuk kema? Cara sing ada gae gen…(Buat apa masuk ke sana? Seperti tidak ada kerjaan saja)"
"Pak, sekarang kami harus bagaimana?" tanya Made. "Apa yang sebenarnya ada di sana? Waktu saya ke sana, semua baik-baik saja."
Bapak itu kembali menoleh pada Made. "Kapan kamu ke sana?" tanyanya.
"Beberapa hari yang lalu," jawab Made.
"Kalau begitu kamu belum tahu. Tempat itu sekarang beda," sahut sang bapak.
"Beda?" Bayu ikut menimpali. "Bapak itu tahu sesuatu," katanya dalam hati. "Semoga saja itu bisa membantu."
Namun hal yang dikatakan bapak itu sungguh di luar dugaan.
"Orang yang masuk ke sana, tidak akan bisa pulang lagi," katanya.
"Ma…maksud Bapak?' Made terkejut, tak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu. Yang masuk ke sana tidak akan bisa pulang lagi? Apa itu berarti mereka tak akan selamat?
"Bapak juga tak tahu bagaimana pastinya. Yang jelas, beberapa hari ini ada orang yang masuk ke sana. Tapi tak ada satu pun yang keluar lagi. Sudah ada yang mencari mereka. Tapi yang mencari malah ikut hilang," jawab sang bapak.
"Sudah memanggil paranormal?" tanya Bayu. Ia gelisah lagi sekarang.
"Sudah. Tapi mereka juga tidak bisa apa-apa," sahut bapak itu. "Mereka cuma bisa diam, lalu sembahyang. Mereka pesan, jangan ada lagi yang masuk ke sana."
Tenggorokan Made tercekat. Ia tak tahu harus berkata apa lagi. Tak adakah yang bisa menolong mereka? Bahkan paranormal pun menyerah?
Bayu menatap pintu masuk taman itu dengan sedikit gemetar. Sekarang harus bagaimana? Apa benar yang masuk ke sana tak akan bisa keluar lagi? Bagaimana dengan teman-temannya? Apa yang terjadi di sana? Apakah mereka…tak akan selamat?
…
"Jadi begitu…" Arthur mengangguk kecil setelah Kiku selesai bercerita.
Kiku telah menceritakan semua yang ia alami sejak kemarin. Mulai dari masuknya mereka ke dalam, terpisah dari Ludwig dan Gilbert, lalu bertemu para hantu. Kiku juga menceritakan setiap detail dari peristiwa-peristiwa itu, hantu apa saja yang mereka temui.
Feliciano sedikit menambahkan cerita itu dengan menceritakan hantu yang dilihatnya di malam hari saat Kiku tertidur. Pemuda Italia itu bercerita dengan takut-takut. Setelah itu Kiku bercerita tentang keran air yang masih menyala dengan baik di dalam bangunan. Dan cerita pun berakhir setelah Kiku menceritakan apa yang terjadi di lorong. Mata Feliciano tampak berkaca-kaca saat mendengarnya. Tapi ia hanya diam, berusaha untuk tidak menangis.
"Jadi benar dugaanku," kata Arthur dalam hati. Berdasarkan pengalamannya terhadap hal-hal mistis, ia mulai membuat beberapa kesimpulan. Dan ia mulai yakin terhadap kesimpulan itu.
"Lalu bagaimana dengan Arthur-san?" tanya Kiku kemudian. "Apa yang terjadi dengan Arthur-san?"
"Oh ya…"Arthur menoleh pada temannya itu. "Awalnya kami mendengar Yao mencarimu. Lalu Bayu berkata bahwa kalian ke Bali," sahut Arthur. "Akhirnya kami memutuskan untuk mencari kalian…" Arthur pun mulai bercerita. Bagaimana mereka semua akhirnya memutuskan untuk ikut, lalu bagaimana mereka mendengar Made menelepon Bayu di bandara. Sebelum berangkat ke Bandara, Arthur dipaksa oleh Alfred membawa senjata. Mungkin ada hal-hal berbahaya, itu kata orang yang langsung mengklaim dirinya sebagai Hero itu. Arthur juga bercerita bagaimana mereka memasuki taman. Lalu Francis dan seorang…yang kalau tak salah bernama Matthew itu hilang. Lalu akhirnya Arthur dan Alfred terpisah dari Yao dan Ivan.
"Setelah itu, kami bertemu kalian," sahut Arthur.
Kiku mengangguk-anggukkan kepala saat mendengar semuanya.
"Tapi…sebenarnya aku merasakan adanya hal aneh di taman ini…" kata Arthur lagi.
"Apa itu?" tanya Kiku.
"Sebenarnya…" Dengan ragu Arthur mengungkapkan pemikirannya tentang hantu. Bagaimana hantu itu sebenarnya tidak berbahaya. Dan pola aneh dari para hantu di sini. Arthur juga sedikit bercerita bagaimana sejak kecil, ia sudah sering berurusan dengan makhluk gaib. Kali ini Arthur tak peduli lagi akan ditertawakan atau tidak. Toh mereka juga sudah menghadapi hal-hal yang tak bisa dipercaya.
"Jadi…" sahut Arthur setelah ia mengakhiri ceritanya. "Mungkin kita sudah sama-sama mendapatkan kesimpulan dari semua ini kan?"
"Kesimpulan apa itu, Iggy?" tanya Alfred penasaran.
"Ada seseorang yang mengendalikan hantu di sini, Alfred-san!" jawab Kiku. Mendengar cerita Arthur tadi, itulah kesimpulan yang bisa diperolehnya.
"Ralat, mungkin juga bukan orang Yang jelas, siapapun dia, ia memiliki kekuatan untuk memimpin hantu-hantu di sini dengan suatu tujuan," sahut Arthur kemudian. "Kata Made, sebelumnya di sini tak pernah terjadi seuatu yang kelewat aneh, kan? Jadi si pemimpin itu belum lama masuk. Ia yang mengendalikan semua yang ada di sini. Ia membuat hantu-hantu di sini menjadi begitu beringas. Ia membuat hantu-hantu itu tak lagi bersikap seperti hantu biasa. Dan ia membuat kita tak bisa menemukan pintu keluar."
"Hm… Jadi kalau kita bisa menemukan pemimpin itu, kita bisa keluar dari sini, kan?" tanya Alfred. "Wah, tahu ada jalan keluar dari tempat ini saja sudah membuatku senang!"
"Ya. Dan mungkin itu tidak mudah. Tapi hanya dengan bertemu si pemimpin itulah kita bisa keluar dari sini," jawab Arthur.
"Apa mungkin pemimpinnya adalah hantu wanita berambut panjang itu? Dari cerita Kiku tadi, sepertinya ia sering muncul," tanya Alfred.
"Belum tentu juga," jawab Arthur. "Tapi satu hal yang pasti, ia sekarang berada di dalam taman ini. Dan kita harus mencarinya."
"Vee…tapi Ludwig dan Gilbert…" sahut Feliciano. Nada suaranya terdengar sangat sedih. "…mereka tak akan kembali."
"Kita tak boleh menyia-nyiakan kepergian mereka!" Kiku menepuk pundak Feliciano perlahan. "Mereka memang sudah tak ada. Tapi…kita harus keluar dari sini, demi harapan mereka."
"Benar, kita harus keluar dari sini," sahut Arthur. "Jangan ada yang mati lagi!"
"Sang Hero ini tak akan membiarkannya!" kata Alfred sambil menunjuk dirinya sendiri. "Sang Hero akan berjuang. Kita akan temukan si pemimpin, mengalahkannya dan keluar secepatnya!
"Kalau begitu…" Arthur mengeluarkan sebuah buku dari balik bajunya. "Menurut buku sihir ini, cara untuk menemukannya…"
"Eh?" Ketiga temannya pun terkejut. Apa yang barusan Arthur katakan?
"Kenapa kalian?" Arthur menatap ketiganya dengan bingung. Kenapa mereka terkejut seperti itu? Ada yang aneh dengan dirinya?
"A…apa tadi kamu bilang? Buku sihir?" tanya Alfred kemudian. Ia masih tak percaya. Sihir? Apa temannya ini sedang bercanda?
"Oh, buku ini…" Arthur hendak memperlihatkan buku itu pada teman-temannya. Tapi…
"Vee!" Tiba-tiba Feliciano berteriak dan meraih Kiku dengan gemetar.
"Bloddy hell! Ada apa?" tanya Arthur. Hampir saja ia melompat kaget mendengar teriakan Feliciano itu.
Alfred juga nyaris berlari ketakutan. Sementara Kiku hanya bisa pasrah dirangkul Feliciano yang tengah gemetaran.
"A…ada suara…" sahut Feliciano. "Tadi ada suara tangisan!"
Ketiga temannya itu langsung terdiam. Suasana pun kembali menjadi hening. Arthur mengedarkan pandangannya ke sekitarnya, memastikan tak ada makhluk aneh di sekitar mereka. Sekilas semua tampak baik-baik saja. Akan tetapi sayup-sayup mereka mulai mendengar suara.
Suara itu…suara isak tangis seseorang.
"Vee! Benar kan?" kata Feliciano. "Ada yang menangis!"
Ketiga temannya pun langsung bersikap wasapada. Mereka siap dengan senjata mereka. Suara tangis itu berasal dari bagian dalam bangunan, entah dari mana.
Arthur mencoba melihat ke arah suara itu. Sulit. Keadaan ruangan begitu gelap. Mereka tadi memutuskan untuk mematikan senter. Selain menghemat baterainya, mereka menghindari resiko ditemukan oleh para penunggu taman. Tapi apa itu sia-sia saja?
Suara isak tangis itu semakin jelas. Kiku berjalan perlahan, hendak menuju ke arah sumber suara itu.
Feliciano buru-buru mencegahnya. "Jangan!" bisik Feliciano.
"Tapi kita harus mencari suara siapa itu, Feliciano-kun!" kata Kiku. Ia penasaran. Memang ada hantu yang menangis. Namun mungkin saja itu adalah suara teman mereka kan?
"Biar aku saja yang ke sana!" sahut Arthur tiba-tiba. Ia melirik ke arah Kiku. "Kau harus menyimpan tenagamu sampai kita bertemu dengan pemimpin para hantu itu. Kau tak ingin lenganmu jadi tak bisa bergerak saat kita berhadapan dengannya, kan?" kata Arthur padanya.
"Ya," sahut Kiku. "Tapi…"
"Kalau ada apa-apa, aku akan lari," sahut Arthur. "Tenang saja! Lagipula aku sama sekali tak merasakan aura berbahaya di sini."
"Vee~ Kuharap itu salah satu teman kita!" kata Feliciano.
Arthur mengangguk. Kiku sudah tidak protes lagi. Perlahan-lahan Arthur berjalan.
"Eh tunggu, Iggy! Aku ikut!" Mendadak Alfred berjalan cepat ke arah Arthur.
"Tunggu di sini dan jaga mereka berdua, git!" sahut Arthur kesal. "Lagipula suara itu tidak jauh."
"Setidaknya bawa ini!" Alfred memberikan senter pada pemuda Inggris itu.
"Ck, katakan sejak tadi dong!" Arthur pun menerima senter itu dan kembali berjalan. Senter di tangannya ia nyalakan.
Suara tangis di tengah kesunyian memang terdengar mengerikan. Arthur menahan nafas saat berjalan mendekati sumber suara itu. Saat ini ia memang tak merasakan aura jahat. Tapi bagaimana kalau sosok yang menangis itu juga menakutkan? Arthur pernah melihat hantu yang tak berbahaya, namun memiliki sosok yang mengerikan. Entah seperti apa sosok yang akan ditemuinya sebentar lagi.
Dengan senter yang cukup terang, Arthur bisa melihat sebuah pintu yang telah terbuka di depannya. Pintu itu sepertinya menuju ruangan lain dari bangunan tersebut. Ragu-ragu Arthur masuk ke dalam. Mendadak terdengar suara teriakan.
"Huwaaaaa!"
"Siapa itu?" Refleks, Arthur mengarahkan senternya pada sumber teriakan. Tangan kanannya yang memegang pistol, sudah siap menembak. Tapi niat itu diurungkannya. Sosok di depannya itu manusia biasa.
"A…Arthur?" Sosok berkacamata itu tampak terkejut.
"Lho, kamu kan…" Arthur juga terkejut. Orang di depannya itu adalah temannya yang tadi ikut bersamanya. Kalau tidak salah namanya Matthew. Pemuda yang kalau tak salah berasal dari negara…ng… Kanada itu duduk dengan kedua kaki tertekuk di lantai. Ia tampak ketakutan. Matanya sembab, seperti habis menangis. Bajunya tampak kotor, mungkin dipenuhi tanah. Tapi juga ada noda kemerahan di bajunya itu.
"Matthew!" Tiba-tiba saja Alfred menerobos masuk. Ia segera menghampiri saudaranya itu.
"Al…fred?" Matthew masih tampak terkejut. Ia diam saja saat Alfred memeluknya kencang.
"Syukurlah kamu tidak apa-apa! Syukurlah kamu baik-baik saja!" seru Alfred senang.
"Iya…" sahut Matthew. "Syukurlah Alfred juga…"
"Hei, git! Bukannya kamu harusnya menjaga Kiku dan Feliciano?" tanya Arthur dengan tatapan kesal.
"Maaf, maaf!" Alfred menoleh padanya dengan ceria. "Tapi mereka juga ikut masuk kok!"
"Eh?"
"Kami di sini, Arthur-san," sahut Kiku tiba-tiba.
"Vee~"
Arthur hampir melompat saat tahu kedua orang itu ternyata berada tepat di belakangnya. Kegelapan ini memang membuat orang mudah memikirkan hal-hal mistis.
Feliciano tak memedulikan Arthur. Pandangannya pun tertuju pada pemuda yang tengah didekap oleh Alfred. "Vee~ Ternyata kamu!" kata Feliciano. "Kamu…eh…siapa ya? Yang jelas, kita teman."
"Aku Matthew," jawab Matthew pelan. Ia sedikit mengeluh. Kenapa nyaris tak ada orang yang bisa mengingatnya?
"Senang melihat Anda baik-baik saja, Matthew-san!" kata Kiku.
"Ya," jawab Matthew dengan mata berkaca-kaca. "Aku juga senang…"
"Ngomong-ngomong dimana si kodok sialan itu?" tanya Arthur. "Euh, maksudku Francis. Tadi kau bersamanya, kan?"
"Ah iya! Matthew, kemana kalian berdua tadi? Tiba-tiba kalian hilang begitu saja. Kami mencari kalian dengan panik. Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Alfred.
Mendadak Matthew terdiam. Ia hanya menunduk. Bahunya sedikit gemetar.
'Hei, Matthew! Ada apa?" Alfred jadi bingung melihat saudaranya itu. Apa ia menangis? Kenapa?
"Francis…dia…" Matthew mencoba menjawab di sela-sela isakannya.
"Oh, jangan katakan bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi!" keluh Arthur dalam hati. Ia memang selalu bertengkar dengan Francis. Tapi Arthur tetap menganggap Francis sebagai teman. Ia tak ingin terjadi sesuatu dengan Francis. "Jangan katakan…"
"Dia…" Matthew menarik nafas. Lalu ia menyahut perlahan. Hal yang paling tak diharapkan ternyata telah terjadi. "Francis telah terbunuh…"
…
"Satu lagi."
Dalam kegelapan, sebuah sosok tersenyum dengan puas. Tangan kirinya yang telah rusak menyentuh pelan besi-besi yang menjadi tembok dri penjara di depannya. Di dalam sana, terbaring tubuh Ludwig dan Gilbert. Dan bukan hanya mereka berdua saja. Kini ada tubuh lain di sana… Francis.
"Tiga orang telah gugur." Sosok itu berbisik lagi. "Berikutnya siapa ya?"
Sosok itu kemudian berbalik, berjalan pergi. "Aku tak sabar lagi," katanya. "Semua pengganggu harus mati."
Setelah itu suasana kembali hening. Namun di dalam sel, mendadak tubuh Ludwig membuka mata.
TO BE CONTINUED
