Mysterious Park

Part 10

(Hetalia punya Hidekaz Himaruya bukan punya saya ._. )

"Francis telah terbunuh."

Kata-kata itu terus terngiang di pikiran Arthur. Francis telah terbunuh. Ia sudah pergi. Ia sudah tak ada lagi di dunia ini.

'Brukkk!'

Arthur menjatuhkan diri ke lantai, berlutut. Ia menatap Matthew dengan tak percaya. Francis? Kenapa harus dia? Kenapa harus ada yang mati? Kenapa?

"Vee bohong!" Feliciano juga berusaha mengabaikan kata-kata Matthew itu. Ia menunduk, berusaha menahan tangis. Ia tak ingin percaya. Tapi….

"Matthew…" Suara Alfred terdengar serak. Ia menatap saudaranya baik-baik, mencoba memastikan apakah ia sedang berbohong atau tidak. "Benarkah itu?"

Matthew terisak lagi, lalu mengangguk.

Alfred tak berkata apa-apa lagi. Ia yang paling tahu sifat saudaranya itu. Ia tahu saudaranya itu pasti berkata jujur saat ini. Lagipula siapa yang mau membohongi orang lain dengan lelucon seperti itu? Matthew benar. Ia pasti tak akan berbohong. Dan itu artinya Francis benar-benar telah terbunuh. Ia sudah tak ada lagi di dunia ini.

"Siapa pelakunya?" Kiku bertanya perlahan, meski ia sudah tahu jawabannya. Tapi ia ingin memastikan makhluk seperti apa yang membunuh Francis.

"Hantu! Ada banyak hantu yang mengejar!" sahut Matthew. Ia terisak sebentar. "Kami…kami terus berlari. Kami mencoba lari dari kejaran mereka. Dan akhirnya kami terkepung. Aku selamat, karena sepertinya aku tidak dilihat oleh hantu-hantu itu. Tapi Francis… Hantu wanita berbaju putih itu…"

'DUGH!'

Tiba-tiba saja Arthur menghantamkan kepalan tangannya ke tembok. Bibirnya terkatup rapat. Dari pandangan matanya, jelas ia tampak marah. Hantu wanita berbaju putih… Ia tahu makhluk itu. Tadi ia melihatnya. Bahkan dari cerita Kiku, hantu itu tampaknya sering memimpin gerakan hantu yang lain. Kali ini pun, apakah benar ia adalah pelakunya? Apakah ia adalah pemimpin yang hendak mereka cari itu?

"Sialan!" seru Arthur dalam hati. "Apapun itu, aku tak akan memaafkan makhluk itu! Aku pasti akan membereskannya hingga ia masuk ke dasar neraka!"

Ya, pasti hantu wanita berbaju putih itu yang menyebabkan semua ini. Ia yang terlihat memimpin para hantu. Ia yang menyebabkan kematian Ludwig, Gilbert dan Francis. Dan tampaknya bukan hanya Arthur yang berpikiran seperti itu.

"Jadi begitu?" Tiba-tiba Kiku angkat suara. "Jadi dia ya?"

Mendadak Kiku membalikkan badannya, lalu melangkah pelan. "Dia penyebab semua ini," katanya dalam hati. "Dialah yang kami cari. Dan saya harus menemukannya sekarang juga dan melenyapkannya!"

"Vee, Kiku!" Melihat itu, buru-buru Feliciano menarik tangan Kiku. "Jangan pergi!" serunya lagi.

"Lepaskan saya, Feliciano-kun!" seru Kiku, tanpa menoleh. "Saya harus mencarinya sekarang juga!"

"Tidak!" Feliciano menjawab dengan berteriak. Ia tetap menggenggam erat tangan Kiku. "Vee, Kiku tidak boleh pergi! Tidak untuk sekarang ini!"

"Feliciano-kun!" Kiku membalikkan badannya. Tak seperti biasa, kali ini ia tampak sangat marah. Kini mereka telah mengetahui siapa yang mungkin telah memimpin para hantu itu. Pemuda Jepang itu ingin segera membereskan semuanya. Tapi…

"Ve…" Feliciano menunduk dan mulai terisak. "Kiku tidak boleh pergi!" katanya lagi. "Kiku tidak boleh mencari hantu itu sendirian."

"Feliciano-kun…" Kiku menggigit bibirnya. Tiba-tiba saja emosinya yang meluap tadi menjadi reda. Pemuda Italia di depannya itu kini sedang menangis. Kiku sadar, tak seharusnya ia bertindak ceroboh. Tak seharusnya ia buru-buru ingin pergi. Perasaannya sedang kacau. Ia tahu, semua itu hanya akan menyeretnya ke dalam kegagalan yang tak akan bisa diubah lagi.

"Maaf," sahut Kiku akhirnya. "Saya…Saya tidak akan pergi sekarang. Maafkan saya!"

"Veeee." Feliciano masih terisak-isak. Ia masih belum melepaskan tangannya dari Kiku. Malah ia terus menggenggam tangan Kiku dengan erat.

"Feliciano-kun…" Kiku mendekati sahabatnya itu dan menepuk pundaknya. Ia benar-benar merasa bersalah kali ini. Ia tahu Feliciano lah yang paling merasa kehilangan atas kematian ketiga teman mereka, terutama kematian Ludwig. Seharusnya Kiku tak lagi menambah kesedihan dan ketakutan Feliciano.

"Kiku, jangan pergi!" kata Feliciano sambil terisak. "Kalau pergi sendirian…Kiku bisa dibunuh!"

"Saya tidak akan pergi sekarang," sahut Kiku cepat. "Dan saya tidak akan terbunuh. Kita akan menghadapi si pemimpin jika kita sudah siap. Lalu kita keluar dari sini bersama-sama."

"Iya benar!" Tiba-tiba saja Alfred berteriak dengan cerianya, mencoba memecah suasana yang suram. Arthur langsung menoleh padanya, merasa terganggu dengan teriakan mendadak itu. "Kita akan pergi bersama-sama dan akan keluar bersama-sama!"

"Veeee…"

"Uh, ya kalian benar!" Kali ini Arthur yang angkat suara. "Maaf tadi aku juga emosi." Pemuda Inggris itu juga jadi merasa tak enak. Bagaimanapun juga dialah yang tadi pertama kali menunjukkan kekesalannya. Mungkin saja Kiku jadi terpancing karena itu kan?

"Sudahlah!" sahut Alfred dengan setengah memaksakan diri untuk tersenyum. "Sekarang bagaimana kalau kita istirahat dulu? Hari sudah malam. Mungkin besok kita bisa memikirkan strategi dengan tenang," katanya kemudian.

Istirahat? Ya. Hari sudah malam. Mereka harus istirahat. Besok mungkin akan menjadi hari yang berat. Matthew memang telah ditemukan, tapi mereka masih harus mencari dua teman mereka yang masih terpisah. Dan mungkin mereka akan menghadapi sang pemimpin.

"Ve!" Feliciano akhirnya mengangguk dan menghapus air matanya. Ia hanya bisa berharap semoga mereka bisa keluar tanpa harus kehilangan lagi.

Malam semakin larut. Situasi di dalam taman masih terasa hening. Di bangunan yang tadi, Matthew duduk menyandarkan diri di tembok. Ia memeluk boneka beruang yang sejak tadi dibawanya di dalam tas. Boneka itu memang selalu dibawanya kemana-mana. Memang aneh, seorang laki-laki membawa boneka. Tapi hanya boneka itu yang selalu menemaninya dan membuatnya tak lagi merasa kesepian karena terabaikan. Selain itu…

"Dare?" Sebuah suara nyaris membuat Matthew melompat kaget. Ia pun menunduk ke bawah, ke arah boneka beruangnya. Hh… kenapa ia lupa bahwa boneka itu bisa bicara kalau dipeluk terlalu kencang? Ya, di dalam boneka itu ada sebuah alat. Tapi kata-kata yang selalu diucapkannya hanya 'dare?' Dan itu membuat Matthew refleks menjawab… "Aku Matthew."

Matthew akhirnya kembali duduk dengan tenang. Ia menarik nafas dalam-dalam, menenangkan diri dari keterkejutannya barusan. Di sebelah Matthew, tampak Alfred yang tengah tertidur pulas. Lalu di sebelah Alfred, Arthur juga tampak tertidur. Kedua orang itu harusnya mendapat giliran berjaga saat ini.

Berjaga? Ya. Kelima orang itu tadi memutuskan untuk berjaga secara bergiliran sepanjang malam. Walaupun bangunan yang mereka masuki saat ini tampak cukup aman, mereka tak mau mengambil resiko. Harus ada yang berjaga untuk melihat apakah ada yang akan menyerang mereka atau tidak. Dan kali ini harusnya Alfred dan Arthur yang berjaga. Harusnya kedua orang itu baru boleh tidur beberapa jam lagi, lalu membangunkan Matthew dan Kiku untuk giliran berjaga selanjutnya. Tapi yah…

Matthew menghela nafas. Alfred dan Arthur mulanya berjaga dengan tenang. Matthew nyaris tertidur. Entah bagaimana dengan Feliciano dan Kiku. Tapi tampaknya mereka berdua telah tertidur lebih dulu. Matthew sempat diceritakan bahwa kedua temannya itu nyaris tak bisa tidur dengan tenang pada malam sebelumnya. Mereka pasti lelah sekarang. Suasana tadi begitu tenang. Ketika Matthew nyaris memasuki alam mimpi, tiba-tiba saja Arthur mulai berteriak seperti biasa pada Alfred. Alfred juga mulai berisik. Matthew akhirnya terjaga, tak bisa tidur lagi dan hanya berbaring dengan sedikit kesal. Hh… padahal sedikit lagi ia bisa tidur.

Entah berapa lama Matthew mencoba tidur lagi. Tahu-tahu saja suasana menajdi tenang. Ternyata Alfred dan Arthur tertidur begitu saja! Dengan sedikit mengeluh akhirnya Matthew bangun dan memutuskan untuk berjga. Harusnya ia berjaga bersama Kiku. Tapi ia tak ignign membangunkan temannya yang baru saja tidur itu. Matthew juga mendengar bahwa mereka telah mengalami banyak hal sulit. Sedangkan Matthew sendiri tadi hanya bisa berlari. Kali ini ia tak ingin membebani siapapun lagi.

Udara malam mulai terasa dingin. Matthew memeluk boneka beruangnya lebih erat lagi. Suara 'dare?' pun terdengar lagi dan Matthew menjawabnya. Setelah itu ia melihat satu persatu temannya yang tengah tidur. Beruntung, setidaknya mereka semua memakai jaket. Yah, tentu saja mereka tak mengira akan bermalam di tempat seperti ini.

Di tempat seperti ini dan keadaan seperti ini. Lalu teman-teman mereka…

Matthew memejamkan matanya perlahan. Peristiwa tadi siang kembali terbayang. Ia dan Francis berlari kencang. Hantu-hantu itu terus mengejar mereka. Mereka berdua ketakutan. Mereka tak tahu bagaimana harus menangani hantu. Apalagi hantu sebanyak itu. Matthew hanya tahu bahwa mereka berdua harus lari. Di depan sana harusnya Alfred dan yang lainnya belum jauh. Mereka pasti mendengar teriakannya dan akan segera menolong.

Tapi entah berapa lama mereka berlari. Mungkin hampir setengah hari. Kedua orang itu berlari, namun tak juga menemukan teman-teman mereka. Dengan lelah akhirnya Francis dan Matthew mencoba bersembunyi. Mereka memasuki sebuah gedung. Tapi yang mereka temukan di dalam justru lebih mengerikan. Makhluk-makhluk serupa manusia, namun dengan tubuh yang tak utuh lagi mulai menyerang ke arah mereka. Bukan! Mereka menyerang Francis. Hanya Francis dan Matthew tidak. Francis tak bisa menghindar. Ia ditarik oleh kawanan itu. Matthew mencoba menolong. Tapi tentu saja ia tak bisa mengalahkan tenaga tarikan dari sekian banyak makhluk. Matthew mencoba memukuli hantu-hantu itu. Tapi ia tahu, ia begitu lemah. Ia mencoba mengalihkan para hantu itu. Ia ingin agar mereka mengejarnya saja dan berharap mereka melepaskan Francis.

Namun Matthew sadar, para hantu itu tak bisa menyadari keberadaannya. Bakat 'menghilang' itu memang membuatnya selamat saat ini. Bisa saja tadi ia juga ikut ditrik. Hanya saja ia tak bisa menyelamatkan temannya.

Matthew tak tahu harus berbuat apa lagi. Francis pun sepertinya hanya bisa pasrah. Ia tersenyum dan berbisik, meminta Matthew untuk lari dengan indah sebelum para hantu itu menyadari keberadaannya. Setelah itu hantu wanita itu datang. Ia membawa sebuah pisau dan membunuh Francis.

Matthew merasa marah, takut. Ia tak bisa berlari dan hanya diam di tempat. Hantu-hantu itu lalu pergi begitu saja, membawa tubuh Francis. Kemudian Matthew tak ingat lagi dengan apa yang ia lakukan. Ia hanya ingat ia berlari. Ia tak tahu kenapa ia berlari dan hendak kemana ia akan pergi. Ia berlari, memasuki sebuah bangunan dan hanya bisa menangis mengingat semuanya. Ia menangisi kepergian Francis, menangisi ketidakberdayaannya. Setelah itu Arthur datang.

"Matthew-san?" Tiba-tiba terdengar suara Kiku yang memanggilnya, menyadarkannya dari lamunannya.

Matthew membuka mata, menoleh ke arah Kiku. Cepat-cepat ia mengusap kedua matanya yang hampir meneteskan air mata. "Ka…kamu sudah bangun?" tanyanya, gugup. Padahal harusnya ini belum waktunya mereka berjaga

"Ya. Saya melupakan sesuatu," sahut Kiku. Ia tampak mencari sesuatu di dalam tasnya. Setelah menemukannya, ia mengeluarkannya. Sebuah selimut. Kiku menyelimuti Feliciano yang tidur di sebelahnya dengan selimut itu.

"Selimut?" Matthew agak terkejut. Ia tak menyangka temannya itu membawa-bawa selimut.

"Ng…iya! Saya dengar, bulan ini udara di sekitar Denpasar akan menjadi sangat dingin. Tadinya kami berencana menginap di rumah Made. Jadi saya tak ingin merepotkan. Saya juga tak menyangka selimut ini akan berguna seperti ini," jawab Kiku.

"Oh…" Matthew mengangguk. Memang, untuk ukuran sebuah kota, udara di sekitar mereka saat ini memang cukup dingin. "Hm… tapi kenapa Feliciano?" tanya Matthew ragu. Kenapa Kiku memakaikan selimut itu pada Feliciano?

Kiku tersenyum kecil. "Tak ada alasan khusus," katanya. "Udaranya cukup dingin. Feliciano-kun adalah orang yang polos, seperti anak-anak. Dan saya kuatir akan itu. Saya kuatir ia akan terkena flu."

Matthew mengangguk-angguk. Walau tak terlalu dekat, ia tahu sifat Feliciano. Wajar jika semua orang menguatirkannya.

"…saya telah berjanji pada Gilbert-san. Saya akan membawa Feliciano-kun keluar dari sini dengan selamat." Kiku tiba-tiba menyahut lagi. "Saya akan menjaganya dengan nyawa saya sampai saat itu tiba."

Matthew terdiam mendengarnya. Ya, tentu saja. Ia tahu orang Jepang sangat memegang janji dan menepatinya. Kiku pasti akan menepati janji itu apapun yang terjadi, kan?

Matthew ingin mengobrol lagi dengan temannya itu, ingin agar ia menceritakan semuanya dengan lengkap. Sebelum tidur tadi ia hanya mendengar cerita mereka sepotong-sepotong saja. Sebenarnya apa saja yang telah terjadi di taman ini? Matthew hendak angkat suara. Namun…

"Hahahahaha!"

Tiba-tiba saja suara tawa bergema di ruangan tersebut.

"Hahahahaha!"

Suara tawa itu terdengar lagi. Sepertinya suara seorang laki-laki tua. Suara itu bergema hingga terdengar cukup panjang dan mengerikan.

Kiku berdiri sambil menggenggam katana miliknya. Ia melihat sekeliling dengan waspada, mencari asal suara tawa itu. Matthew pun mengarahkan senter ke sekitarnya. Untuk beberapa saat suara tawa itu berhenti. Namun…

"Hahahaahaha!"

Suara itu kembali terdengar.

Setelah itu suara lain juga terdengar. Awalnya terdengar seperti suara kucing yang mengeong. Namun suara itu berubah.

"Raaawr… Rr…aw…. Awrr…"

Suara kucing itu jadi terdengar seperti suara manusia.

"A…apa itu?" tanya Matthew. Keringat dingin mengalir di wajahnya. Suara tawa itu sendiri sudah cukup membuatnya merinding ketakutan. Lalu suara kucing itu… Ia ingin menyembunyikan diri dan tidur secepatnya.

Kiku tak menjawab pertanyaan Matthew. Ia hanya melihat sekitarnya. Kiku tahu, kucing terkadang bisa bersuara aneh seperti itu. Kadang suaranya bisa terdengar aneh, seperti suara manusia. Suaranya memang terdengar agak menakutkan. Tapi sekarang bukan itu masalahnya.

"Siapa yang akan muncul?" tanya Kiku dalam hati.

Sekeliling mereka cukup gelap. Cahaya dari senter yang berada di genggaman Matthew tak cukup terang untuk melihat keseluruhan ruangan. Lebih-lebih, senter milik Feliciano itu sudah mulai kehabisan energi. Kedua orang itu kini hanya bisa menunggu sambil terus mewaspadai sekitarnya. Lalu mendadak terdengar suara ketukan di jendela.

"Suara dari jendela?" tanya Matthew. Dengan ragu Matthew melayangkan pandangannya ke arah jendela. Jendela itu ukurannya sangat besar, nyaris seukuran pintu dan hanya ditutupi kaca. Suara ketukan itu terdengar lagi. Dan Matthew hampir melompat saat tahu siapa yang datang.

Di luar sana tampak seorang laki-laki yang tampak sudah sangat tua. Kulit di wajahnya terkelupas. Daging dari tubuhnya juga terlihat mulai rontok. Tulang-tulangnya sedikit terlihat. Pakaiannya terlihat lusuh dan compang-camping berwarna keabuan. Ia juga membawa sebuah tongkat panjang di tangan kirinya yang digunakannya untuk menopang tubuhnnya. Laki-laki di jendela itu tersenyum menyeringai, memperlihatkan gigi-gigi yang tajam. Lalu ia tertawa dengan tawanya yang aneh dan bergema menakutkan.

Matthew terdiam, menahan nafas. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa yang akan dilakukan hantu kakek itu? Apa…

'PRAAK!'

Tiba-tiba saja hantu kakek itu menghantamkan tongkatnya ke jendela. Jendela di depannya retak seketika. Kakek itu kemudian mendorong kaca-kaca yang telah retak itu, seolah ingin masuk ke dalam. Beberapa pecahan kaca pun mulai berjatuhan.

Melihat itu, perlahan Kiku berjalan ke arah pintu keluar.. "Matthew-san, tunggulah di sini!" katanya. "Saya akan membereskannya."

"Eh…tapi…" Matthew hendak mencegah. Membereskannya? Apa tidak apa-apa melawan makhluk itu begitu saja? Apa tidak sebaiknya mereka lari saja? Tapi Matthew tak berkata apa-apa lagi. Kiku telah keluar dari bangunan itu. Matthew juga berpikir akan sulit untuk lari dari makhluk itu begitu saja. Teman-teman mereka masih tertidur. Lari dalam keadaan terkejut karena baru terbangun adalah hal buruk yang tak boleh sampai terjadi, itu pikir Matthew. Jadi ia hanya bisa membiarkan Kiku menghadapi kakek itu. Dan tugasnya sekarang adalah… "Aku harus berjaga dan bersiap membangunkan yang lainnya," kata Matthew dalam hati.

"Ja…jangan, aru!" Suara Yao terdengar dari dalam kegelapan.

"Kenapa, da? Yao Yao tenang saja. Ini tidak akan sakit, da!" Kali ini terdengar suara Ivan.

"Kumohon aru! Jangan lakukan itu, aru!" kata Yao lagi.

"Tenang saja. Aku akan berhati-hati, da!" sahut Ivan. "Nah…"

"A…aru! Itu sakit, aru!" Tiba-tiba saja yao berteriak.

"Cuma akan sakit sedikit, da! Setelah ini Yao Yao akan tenang…"

"Sakit sedikit apanya? Bukan begitu cara membalut luka! Sudah kubilang biarkan aku melakukannya sendiri saja, aru!"

Yao menepis tangan Ivan dari kakinya dan menyalakan senter. Lalu ia meraih perban yang membalut kaki kirinya dan membukanya. Terlihat luka yang cukup besar di kakinya itu. Sebelum Ivan angkat suara lagi, cepat-cepat Yao membalut luka itu sendiri.

"Ah, ternyata begitu ya!" sahut Ivan. Ia pun tersenyum pada Yao.

Yao mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan kesal. "Hh…" Ia menghela nafas. "Kenapa aku harus bersama orang ini, aru?" tanyanya dalam hati.

Arthur dan Alfred tadi berlari entah kemana. Ia dan Ivan juga akhirnya berlari setelah menyadari ada makhluk aneh di dekat mereka. Mereka berhasil lari. Tapi setelah itu mereka bertemu banyak makhluk aneh. Kedua orang itu akhirnya mencoba melawan. Yao adalah seorang ahli bela diri dan Ivan menghantam hantu-hantu itu dengan pipa air yang entah didapatnya dari mana. Mereka bisa mengatasi hantu-hantu itu. Namun serangan terakhir tadi berhasil melukai kaki Yao. Sekarang mereka mencoba bersembunyi di dalam sebuah bangunan. Untungnya Yao membawa obat-obatan sehingga ia bisa mengobati lukanya.

Kini kedua orang itu terdiam dengan pemikirannya masing-masing.

"Kemana yang lainnya, aru?" keluh Yao dalam hati. Ia merasa tak tenang jika hanya bersama Ivan di tempat seperti ini. Selain kuatir dengan banyaknya hantu-hantu yang menyerang, Yao juga gelisah melihat Ivan yang terus tersenyum ke arahnya. Entah apa yang diinginkan pemuda Russia itu darinya. Yao jadi semakin ingin bertemu dengan yang lainnya saat ini juga. Entah ada dimana mereka sekarang. Lama berputar-putar di dalam taman membuat Yao mengerti. Seseorang atau apapun itu, telah menutup jalan masuk taman itu dan membuat mereka tersesat.

"Hh…kalau begini terus, kapan aku akan bertemu dengan yang lainnya, aru?" pikir Yao lagi.

Dengan lelah ia menyandarkan diri di tembok. Lalu pandangannya tertuju pada sesuatu di dekatnya.

"Ini…" Yao meraih sesuatu dari lantai. Senter yang masih menyala membuatnya bisa melihat dengan cukup jelas. Sesuatu yang diraihnya itu adalah potongan pasta.

"Seseorang pernah makan pasta di sini, aru!" kata Yao dalam hati. Pasta? Apakah Feliciano? Apakah Feliciano pernah berada di tempat itu? Pertanyaan demi pertanyaan pun muncul dalam benak Yao. Setelah itu kemana Feliciano pergi? Apakah ia masih berada di dekat sini? Apakah ia dan yang lainnya baik-baik saja?

"Ada apa Yao Yao?" Pertanyan Ivan membuyarkan pemikiran Yao. Ivan terlihat bingung melihat temannya itu. Apa yang dilihat Yao? Apa yang ditemukannya?

"Aku…." Mendadak Yao bangkit berdiri. Mungkin karena melihat sisa pasta itu, tiba-tiba saja dorongan di dalam hatinya menjadi semakin kuat. Ia merasa tak boleh menunda-nunda lagi. "Aku ingin mencari mereka sekarang, aru!" katanya kemudian.

"Hahahahaaha!"

Suara tawa yang menyeramkan bergema lagi. Hantu berwujud kakek itu terus berupaya menyerang. Ia mengayunkan tongkatnya dengan cepat.

Kiku menahan serangan-serangan itu dengan katananya dan sesekali menghindar. Ia berusaha mencari saat yang tepat untuk menyerang. Namun sulit. Kakek itu terus-menerus menepis serangannya dengan mudah.

"Dia sangat cepat," kata Kiku dalam hati. "Ia juga berbeda dengan hantu-hantu sebelumnya. Ia lebih kuat."

Kiku mundur beberapa langkah dan mencoba menyerang lagi. Ia mengayunkan katananya ke arah samping dari tubuh kakek itu. Kakek itu menepis dengan tongkatnya. Kiku hendak menyerang lagi. Kakek itu juga bergerak maju, hendak menyerang. Pedang dan tongkat mereka pun beradu sesaat hingga keduanya mundur. Namun kakek itu kembali maju dengan cepat dan mencoba menyerang lagi. Dan kakek itu kembali tertawa dengan suaranya yang mengerikan.

"Ini gawat!" kata Matthew dalam hati. Kiku terlihat mulai terdesak. Kakek itu terus menyerang tanpa memberi celah sedikitpun. Kiku hanya bisa bertahan, menepis serangan itu atau menghindar. Kiku nyaris tak punya kesempatan untuk menyerang. Sedangkan lengan kanannya mulai protes lagi. Gerakannya mulai terlihat kacau.

"Kalau begini terus, bahaya!" pikir Matthew. "Aku harus melakukan sesuatu!"

Matthew bangkit berdiri dan terdiam ragu. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Maju melawan hantu itu? Matthew melihat ke sekeliling dan melihat beberapa potongan kayu yang cukup besar berada tak jauh darinya. Ia bisa menggunakannya sebagai senjata. Tapi…melawan makhluk itu?

Matthew bergidik ngeri melihatnya. Hantu itu wajahnya rusak dan daging di tubuhnya mulai membusuk dan berjatuhan. Ia tak yakin bisa menghadapi makhluk seperti itu. Lebih-lebih makhluk itu sangat kuat.

Akhirnya dengan setengah putus asa Matthew kembali duduk. Ia menoleh pada saudaranya yang masih tertidur.

"Alfred! Alfred!" Matthew mencoba membangunkan saudaranya itu. Ia juga memanggil Arthur yang tidur di sebelah Alfred. "Hei, Arthur! Bangunlah!"

Arthur sama sekali tidak bergerak. Begitu juga dengan Alfred. Walaupun berteriak, suara Matthew tetap saja terdengar sangat-sangat kecil. Ya, itulah salah satu penyebab kenapa Matthew bisa 'menghilang' dengan sempurna.

"Alfred! Arthur!" Matthew mencoba berteriak lagi. Tapi tetap saja tak ada respon. Tak tahu harus bagaimana lagi, Matthew pun mencoba mengguncang tubuh Alfred dan Arthur. "Bangunlaah!" seru Matthew.

Kali ini tampaknya Matthew berhasil. Perlahan Arthur membuka matanya. "Ada apa?" tanyanya lelah. Arthur masih belum lama tidur. Ia terlihat masih sangat mengantuk. Bahkan tampaknya ia bangun dalam keadaan setengah tertidur. Pemuda Inggris itu menoleh pada Matthew dengan pandangan penuh tanda tanya.

"A…ada ada hantu!" Matthew menjawab dengan panik. "Kiku di luar…"

Arthur menatap Matthew dengan bingung. Ia baru saja bangun. Butuh waktu baginya untuk mencerna kata-kata Matthew. Ada hantu menyerang? Di luar?

Arthur pun mengedarkan pandangannya ke jendela. Jendela besar itu telah retak dan mulai pecah. Namun Arthur masih bisa melihat situasi di luar. Dan ia menahan nafas karena begitu terkejutnya. Kiku telah jatuh di tanah dalam keadaan penuh luka! Di sebelah Kiku, seorang kakek yang membawa tongkat tengah tertawa.

"Bloody hell! Hantu sialan itu!" Arthur bangkit berdiri dengan cepat dan berteriak. Teriakan itu sampai membangunkan Alfred. Arthur sendiri benar-benar terbangun sekarang. Melihat situasi di luar, buru-buru ia meraih pistol di sakunya dan hendak menembak.

Akan tetapi…

"Pengganggu harus mati."

Sebuah suara terdengar entah dari mana. Suara itu seperti suara seorang perempuan, namun terdengar aneh dan menakutkan.

Gerakan Arthur terhenti sesaat setelah mendengar suara itu. Suara siapa itu? Darimana suara itu berasal?

Sebelum sempat bertanya-tanya lagi di dalam hati, mendadak rasa sakit yang luar biasa menghantam tubuh Arthur. Perlahan darah mulai menetes dari punggungnya. Pemuda Inggris itu ambruk ke lantai dengan luka cakaran yang cukup dalam dari bahu kiri sampai ke punggungnya.

"Iggy!" Sekilas Arthur mendengar suara Alfred yang berteriak kepadanya. Tapi Arthur tak menjawab.

"Rawwwrr… Ra…wrrr…."

Suara kucing yang aneh itu terdengar lagi. Dari dalam kegelapan, sebuah sosok kini mulai tampak dengan jelas. Itu adalah sosok kucing besar berwarna hitam. Matanya menyala kehijauan di dalam kegelapan. Di kakinya terdapat cakar yang tajam, yang kini telah berlumuran darah.

"Hahahahaahaha!"

Suara tawa yang mengerikan itu memecah keheningan lagi. Kakek yang wajahnya nyaris hancur itu mengangkat tongkatnya. Sisa-sisa darah menetes dari tongkat itu.

Di sebelah kakek itu, Kiku mencoba bangkit berdiri, berusaha melawan rasa sakit yang menggerogoti saja hantu kakek itu berhasil menjatuhkannya.

Semuanya terjadi dengan cepat. Kakek itu terus menyerang tanpa henti. Tadinya Kiku masih bisa mengatasinya. Namun tiba-tiba saja sebuah serangan membuat katana yang dipegang oleh Kiku terpental. Tidak jauh. Hanya saja Kiku tak memiliki kesempatan untuk mengambilnya lagi. Kakek itu menarik tangan kanan Kiku yang mulai terasa sakit, kemudian menusukkan tongkat yang dipegangnya ke arah tubuh pemuda Jepang itu. Tongkat kayu dengan pegangan berukiran naga itu ternyata memiliki ujung yang tajam, setajam pisau.

Kiku mencoba menghindar. Tapi tetap saja tongkat itu berhasil melukainya. Setelah itu kakek itu terus menyerang. Ia tak memberi kesempatan sedikitpun pada Kiku untuk melawan. Akhirnya Kiku jatuh ke tanah, nyaris tak bisa bangkit lagi.

"Hahahaahaha!" Kakek itu tertawa lagi. Dan ia kini mendekati Kiku, hendak menyerang lagi. "Pengganggu harus mati!" katanya kemudian.

Kiku menggigit bibirnya. Ia tahu apa yang akan terjadi kalau ia tak segera bangun. Tapi sekarang membuka mata pun terasa sulit baginya. Bukan hanya lengannya yang terasa sakit. Tapi juga tubuhnya. Darah juga mengalir dari luka-lukanya

"Kiku berjanjilah…" Kata-kata terakhir Gilbert terngiang lagi di benak pemuda Jepang itu. "Bawa Feli…keluar…"

"Saya…. harus… membawa Feliciano-kun keluar dari taman ini…" pikir Kiku. Ia mencoba menyeret tubuhnya, berusaha mati-matian untuk bangun. Ya. Tak seharusnya ia tergeletak di sana. Harusnya ia bangkit. Harusnya ia melawan kakek atau hantu apalah itu. Harusnya ia mengalahkan kakek itu bagaimanapun caranya. Dan harusnya ia tetap menjaga Feliciano, membawanya keluar.

Namun….

"Maaf, Feliciano-kun…" bisik Kiku.

Tongkat kakek itu mulai mencabik punggungnya.

Sementara itu di lain tempat, mendadak Yao jatuh berlutut di tanah. Jantungnya berdebar kencang. Keringat mengalir deras di wajahnya.

"Apa ini, aru?" tanyanya dalam hati. "Firasat buruk apa ini, aru?"

Pemuda Cina itu mengangkat wajahnya perlahan. "Apakah Kiku, aru?"

TO BE CONTINUED