Chapter 3

Rated: T, Indonesian, Romance & fantasy.

Desclaimer :

Super Junior milik SMEnt, orang tua, keluarga, kerabat dan diri mereka sendiri.

Donghae is mine #Kalau boleh loh ^^

Fic ini milik HwiKa.

Rate: T

Pair : HaeKyu, yang lain temukan sendiri.

Genre : Fantasy, Romance sedikit Humor.

Warning : BL/Yaoi, OOC, Typo's, Aneh, Alur gaje, dan kekurangan

.

,

,

DON'T LIKE DON'T READ

.

.

,

Kini tubuh Eunhyuk sudah berada diatas tubuh Donghae dengan seringai setannya, mulai mendekati wajah Donghae, Donghae mencoba mendorong tubuh Eunhyuk tapi tidak berhasil.

Kyuhyun yang tahu apa yang ada dalam pikiran Eunhyuk tidak tinggal diam, Kyuhyun mengumpulkan konsentrasinya untuk menggunakan kekuatan sihirnya tapi entah kenapa kekuatan sihirnya sama sekali tidak berguna pada situasi genting seperti ini.

'Kenapa begini? Kekuatanku tak beguna sama sekali, Sial!' maki Kyuhyun dalam hati.

"H,,hyung apa yang mau kau lakukan?" suara Donghae terdengar bergetar.

Eunhyuk hanya membalas dengan senyum mesumnya kemudian tangannya mencengkram sebelah tangan Donghae dan membawanya diatas kepala Donghae begitupun dengan sebelah tangannya yang lain membuat Donghae semakin tidak bisa bergerak.

"Jangan khawatir aku tak akan macam-macam" desis Eunhyuk.

Kyuhyun semakin kesal melihat Eunhyuk yang mempermainkan Donghae namun kekuatan sihirnya benar-benar tidak bisa diharapkan, kedua manik Kyuhyun menyapu seluruh ruangan mencari sesuatu yang bisa digunakannya untuk menyingkirkan "Sunbae Mesum" itu tapi Kyuhyun tidak menemukan apapun.

Tiba-tiba tangan Kyuhyun menyenggol sebuah benda hitam dan pipih yang tergeletak disebelahnya, Kyuhyun ingat saking terkejutnya benda hitam itu jatuh dari genggamannya dan tanpa pikir panjang lagi Kyuhyun mengambil benda hitam itu dan melemparnya sekuat tenaga ke arah Eunhyuk.

Bagaikan adegan slowmotion benda hitam itu bergerak dengan lambat dan akhirnya berhasil mengenai pelipis Eunhyuk dengan sempurna hingga membuat Eunhyuk terhuyung ke belakang akibat timpukan maut dari Kyuhyun.

Pletak..

Kira-kira itulah bunyi yang ditimbulkan akibat lemparan maut seorang Kyuhyun namun berhasil membuat Eunhyuk menjauhkan tubuhnya dari Donghae dan juga berhasil membuat ukiran di pelipis Eunhyuk namun sekarang ditutupi cairan kental berwarna merah yang mengalir dari pelipis Eunhyuk.

"Yeay, berhasil" teriak Kyuhyun senang dengan tangan terkepal diudara.

Donghae segera bangkit dan duduk sambil mengatur nafasnya yang mulai habis akibat ulah sunbae mesumnya itu lalu melirik Kyuhyun yang kini berganti memasang expresi sedih.

Donghae mengikuti arah tatapan mata Kyuhyun yang terlihat sedih itu dan tertuju kepada benda hitam yang tergeletak tak berdaya didekat tubuh Eunhyuk yang tidak sadarkan diri.

"PSP nya.." lirih Kyuhyun lalu merangkak mendekati benda hitam yang sudah menjadi sahabatnya itu lalu memungutnya.

"Aish, sudahlah itu tidak penting. Lihat akibat ulahmu Eunhyuk Hyung jadi terluka tahu!" seru Donghae.

Kyuhyun menatap Donghae tak percaya, kesal, ya satu kata itu yang mencerminkan perasaan Kyuhyun saat ini.

"Wae? Kenapa menatapku seperti itu? kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu ini, arra?" Donghae bangkit dengan wajah datar seolah yang dilakukan Kyuhyun sangat tidak berarti baginya.

"Kau itu benar-benar menyebalkan!" teriak Kyuhyun tiba-tiba, Donghae menggosok-gosok telinganya.

"Yak! Kenapa berteriak seperti itu? kau mau membuatku tuli eoh?" sungut Donghae.

Kyuhyun bangkit dan berdiri dihadapan Donghae dengan wajah yang menahan emosinya.

"Aku benar-benar membencimu!" telunjuk Kyuhyun menunjuk tepat didepan wajah Donghae kemudian Kyuhyun berbalik meninggalkan Donghae yang memandangnya bingung.

"Kenapa dengannya? Marah-marah tidak jelas begitu, dasar aneh" gerutu Donghae melihat Kyuhyun yang sudah menghilang dibalik pintu.

"Aish, semuanya gara-gara sunbae mesum ini" Donghae menendang tubuh Eunhyuk yang tak sadarkan diri.

Donghae meninggalkan Eunhyuk yang pingsan dan berjalan keluar dari ruang latihan dance itu, ya Eunhyuk jelas belum mati ia hanya pingsan menurut Donghae beberapa menit lagi ia pasti bangun jadi tidak masalah meninggalkannya.

Donghae berjalan pulang menuju apartementnya namun pikirannya terganggu dengan Kyuhyun yang menghilang entah kemana, tadi ketika akan meninggalkan sekolahnya Donghae masih sempat melihat-lihat siapa tahu Kyuhyun masih disekitar sekolah tapi hasilnya Donghae tidak menemukan Kyuhyun dan akhirnya memutuskan pulang.

.

.

.

.

.

.

.

Sudah lima jam sejak Donghae pulang dari sekolah bahkan langit sudah menghitam sejak beberapa jam yang lalu tapi Kyuhyun belum pulang juga. Donghae duduk di sofa memikirkan kenapa Kyuhyun belum juga sampai, tidak mungkin Kyuhyun lupa jalan ke apartementnya, Kyuhyun tidak mungkin se-pabbo itu.

Perasaan khawatir semakin menyergap Donghae ketika suara gemericik air terdengar diluar apartementnya, Donghae beralih kedekat jendela langit sudah menjatuhkan permatanya sejak dua jam yang lalu dan belum berakhir hingga sekarang. Pikiran negative memenuhi otak Donghae, takut, ya Donghae takut terjadi sesuatu yang buruk dengan Kyuhyun. Donghae segera berlari meraih jaketnya dan mengambil payung didekat pintu dan segera menghambur keluar dari apartementnya yang hangat.

Angin dingin nan menusuk menyambut Donghae saat tiba dilantai dasar, Donghae merapatkan jaketnya lalu tanpa pikir panjang menerobos hujan yang sangat deras itu sambil memegangi payung yang melindungi tubuhnya tapi sebenarnya sama sekali tidak berguna karna hujan terlalu deras disertai angin membuat tubuhnya perlahan basah, tapi itu semua membuatnya semakin khawatir dengan Kyuhyun di tengah hujan deras seperti ini dia berada dimana.

Donghae berjalan menyusuri jalan yang biasa dilaluinya bersama Kyuhyun menuju sekolah karna kemungkinan Kyuhyun pasti melewati jalan ini untuk kembali ke apartementnya, sudah hampir setengah perjalanan Donghae ketika melewati sebuah taman bermain, kedua manik coklat madu milik Donghae menangkap potret seorang namja yang duduk di ayunan dengan kepala tertunduk dan Donghae sangat mengenal pakaian yang dikenakan namja itu, ya itu seragam sekolahnya.

Donghae sadar bahwa namja itu adalah orang yang sedari tadi ia cari, Donghae segera berlari dan melempar payungnya begitu saja lalu menghampiri namja yang duduk di ayunan itu. Donghae berlutut dihadapan namja itu perlahan tangannya terulur mengangkat dagu namja dihadapannya ini memastikan dia adalah orang yang dicarinya, sebenarnya Donghae ingin sekali langsung memeluk namja ini tapi ia ragu.

Kedua mata Donghae membelalak kaget menatap namja dihadapannya, wajahnya sangat pucat dan bibrnya hampir mebiru karna kedinginan.

"Kyuhyun-ah, apa yang kau lakukan disini? Dasar bodoh!" Donghae menangkup wajah Kyuhyun dengan kedua tangannya dan sensasi dingin menerpa tangannya, Kyuhyun menatapnya lemah tapi emosi masih menyelubungi Kyuhyun.

Kyuhyun melepas kedua tangan Donghae dari wajahnya dengan kasar.

"Ja..jangan de..kati aa..kuu" ujar Kyuhyun bergetar menahan dingin lalu mendorong tubuh Donghae hingga terjungkal ke belakang.

Kyuhyun mencoba berdiri tapi ia masih memegang rantai ayunan itu untuk menahan keseimbangannya setelah memperoleh keseimbangannya Kyuhyun mulai melangkah tertatih-tatih namun baru beberapa langkah tubuhnya ambruk seketika, untunglah Donghae segera menahan tubuh Kyuhyun agar tidak menyentuh tanah.

"Dasar bodoh" gumam Donghae, tanpa Doghae sendiri sadari ia bibir tipisnya menyunggingkan sebuah senyum bahagia melihat namja yang dipeluknya ini, kemudian Donghae menaikan Kyuhyun ke punggungnya dan membawanya pulang.

Selama menggendong Kyuhyun Donghae semakin takut karna tubuh Kyuhyun sangat dingin melebihi es, 'Sudah berapa lama anak ini diguyur hujan?' batin Donghae.

.

.

.

,

.

.

.

Donghae segera masuk ke apartement dan membawa Kyuhyun ke kamarnya dan membaringkan tubuh Kyuhyun diatas kasurnya, nafas Kyuhyun tidak teratur menahan dingin, giginya bergemeretak dan tubuhnya juga gemetaran.

Donghae langsung membuka seragam Kyuhyun yang basah kuyup itu, sebenarnya Kyuhyun berontak tapi sepertinya tenaganya sudah terkuras habis dan hanya bisa pasrah saja, Donghae mengganti baju Kyuhyun kemudian segera mengambil beberapa selimut tebal dari dalam lemarinya lalu membungkus tubuh Kyuhyun dengan selimut tebal berlapis-lapis agar Kyuhyun merasa hangat.

Kemudian Donghae berlari kearah dapur dengan cekatan Donghae membuat sesuatu yang menurutnya bisa menghangatkan tubuh Kyuhyun saat ini, tak dipedulikannya lagi tubuhnya sendiri yang sudah basah kuyup saat ini semua perhatiannya tertuju kepada Kyuhyun.

Donghae kembali ke kamarnya dengan membawa segelas Teh Hijau hangat dan handuk lalu diletakan di meja nakas disebelah tempat tidurnya.

"Kyuhyun-ah irreona" panggil Donghae namun Kyuhyun masih memejamkan kedua matanya dan tubuhnya juga masih bergetar.

"Nghh" lenguh Kyuhyun karna tak sanggup mengeluarkan kata-kata lagi.

Donghae tahu Kyuhyun masih sadar tapi rasa dingin membuatnya semakin lemah jangankan untuk duduk berkata saja sulit.

"Kyuhyun-ah, bangun sebentar aku membuatkan teh hijau"

Kyuhyun tak menyahut kedua matanya terpejam rapat, wajahnya yang bekulit pucat semakin terlihat pucat, membuatnya terlihat seperti zombie.

"Baiklah, aku bantu kau duduk ne?" Donghae segera membantu Kyuhyun untuk duduk sebentar dan meminum teh hijau buatannya.

Kyuhyun benar-benar tak punya tenaga bahkan untuk sekadar membuka mata namun ia berusaha membuka mulutnya yang terasa beku kemudian cairan hangat itu mengalir melewati tenggorokannya setelah beberapa kali meneguk teh hijau itu, rasa hangat menjalari tubuhnya perlahan membuatnya sedikit nyaman. Donghae kembali menidurkan Kyuhyun dan merapatkan selimutnya.

Donghae duduk dipinggir kasurnya menatap Kyuhyun yang memejamkan matanya, keningnya terus berkerut masih merasakan dingin, kedua manik coklat madu Donghae menelusuri setiap inci wajah Kyuhyun, poni coklat yang basah dan sedikit berantakan, hidungnya yang sangat mancung, kedua pipinya yang chubby, serta bibir tebal yang memucat membuatnya terlihat sangat, ehem manis.

Melihat surai coklat Kyuhyun yang sangat basah Donghae mengambil handuk yang dibawanya tadi lalu dipakai untuk mengeringkan surai coklat milik Kyuhyun dengn lembut, lagi-lagi Donghae menyunggingkan sebuah senyuman, Donghae tersadar saat bibirnya mulai lelah karna terus tersenyum bahkan dirinya tidak tahu sejak kapan ia tersenyum seperti itu. Donghae menggeleng kuat lalu menarik tangannya dan segera keluar dari kamarnya, ada perasaan yang sulit dijelaskan merasuki relung hatinya.

~ooo~

Donghae menghempaskan tubuhnya di sofa, dingin mulai menjalari seluruh tubuhnya, ya Donghae belum mengganti pakaiannya sejak tadi dan dia tidak peduli karna pakaiannya mulai mengering dengan sendirinya.

"Hatchi.." Donghae mengusap hidungnya yang sedikit berair sepertinya gejala flu mulai menyerangnya, tapi ia tak bergeming dan pikiranya mulai sibuk mencerna dengan apa yang baru saja ia lakukan.

'Untuk apa aku tersenyum melihatnya? Aish, sungguh bodoh'

'Kenapa aku juga menjadi lembut begitu kepadanya?'

'Aku membencinya, dan mungkin akan lebih baik jika aku memusnahkannya saja? Tapi …aku sendiri tidak tahu kenapa rasanya sulit sekali untuk melakukannya padahal itu sangat mudah' Donghae asyik bergulat dengan pikirannya.

'Apa yang terjadi sebenarnya denganku? Aku,,aku tidak mau kejadian seperti Hyung terulang lagi'

Hati Donghae kembali terkoyak mengingat Hyungnya, satu-satunya keluarga yang dimilikinya itu dan sekarang pergi meninggalkannya dengan menorehkan sebuah luka yang amat dalam, karna demi apapun Donghae tidak bisa menerima kenyataan pahit ini bahkan Donghae rela melakukan apapun asalkan Hyungnya bisa kembali seperti dahulu kala.

Flashback

"Mwo? Kau..kau mencintainya Hyung? Kau gila!" Donghae berteriak tak percaya.

"Ne, dan dia juga mencintaiku Donghae-ya, kau tahu aku harap "mitos" itu benar adanya agar Exorcist dan Penyihir berdamai dan tidak perlu memburu satu sama lain" seorang namja tampan tersenyum sangat manis tapi berbeda dengan dongsaengnya yang masih terpaku mendengar tiap kata dari Hyungnya itu.

"Darimana Hyung tahu dia mencintaimu?" tanya Donghae penuh selidik.

"Dia mengakuinya, dan aku akan menjadi orang pertama yang akan menyatukan dua kaum yang berbeda ini, kau senang kan Hae?"

Donghae diam seribu bahasa, jujur Donghae tak pecaya dengan mitos itu, mana mungkin dua kaum yang memiliki pandangan hidup yang sangat jauh berbeda itu bisa bersama hanya karna dengan ketulusan cinta, cih benar-benar tidak mungkin.

"Aku tidak setuju Hyung, itu semua hanya mitos, kumohon jangan terlalu percaya" ujar Donghae bersikeras.

Ya, Hyung Donghae sangat mempercayai sebuah mitos yang dahulu diceritakan oleh kedua orang tuanya ketika mereka berdua masih kecil, sebuah mitos yang mengatakan bahwa "Ketulusan cinta antara Exorcist dan Penyihir mampu mengubah kutukan kaum Penyihir dan membuat mereka berubah menjadi manusia seutuhnya", tapi mitos itu belum pernah terjadi hingga detik ini.

Hingga suatu hari Donghae mengetahui bahwa Penyihir yang dicintai Hyungnya itu hanya berbohong untuk mendapatkan Hyungnya karna Donghae melihat Penyihir itu menggunakan kekuatannya dengan sempurna padahal jika seorang Penyihir sedang jatuh cinta maka kekuatannya perlahan melemah.

Hari itu hujan deras, Donghae berlari menuju apartementnya untuk memberitahu kabar ini kepada Hyungnya sebelum terlambat.

Brak

Pintu menjeblak keras Donghae segera berlari kedalam.

"Hyung..kau dimana,,," teriak Donghae namun tak ada yang menyahutnya.

Donghae terus menelusuri apartementnya lebih dalam, jantungnya berdegup kencang karna senang dan bercampur khawatir berharap ia belum terlambat.

"Hyung,,,Penyihir itu berbo.." ucapan Donghae terputus saat manic coklat madunya menatap balkon apartementnya yang tertutupi tirai putih tipis yang melambai tertiup angin malam, sekilas menampilkan dua sosok namja yang saling berhadapan jarak wajah mereka berdua semakin tereliminasi. Kedua mata Donghae terbelalak lebar mengetahui dua sosok yang semakin mendekat itu.

"Hentikan!" teriak Donghae dan segera berlari kea rah balkon itu.

Tepat saat Donghae berada di depan kedua sosok itu, saat itu juga dua bibir yang seharusnya tidak pernah bersentuhan harus beradu dengan sosok manis yang lebih mendominasi dengan cepat sosok namja manis itu menekan tengkuk sosok tampan dihadapannya dengan seringai setan yang terlukis di bibirnya. Donghae mendorong tubuh namja manis itu sekuat tenaga menjauhi sosok namja tampan yang ternyata Hyungnya.

Tubuh sang namja tampan ambruk untunglah Donghae bergerak cepat menyanggah tubuh yang lebih besar darinya itu.

"Siwon Hyung,, ireona" Donghae terduduk sambil memeluk Siwon.

Tapi tidak ada jawaban dari bibirnya yang merah itu, Donghae menepuk pelan pipi Siwon dan pandangannya mulai mengabur karna genangan air di matanya.

"Hyung,,ireona, jangan tinggalkan aku, jebal" isakan mulai terdengar dari bibir Donghae.

"Tenanglah anak manis, Hyungmu itu belum mati" suara lain menyapa pendengaran Donghae yang seketika menoleh dengan tatapan tajam.

"Brengsek! Kembalikan Hyungku!" teriak Donghae murka.

Namja manis itu berekspresi sedih yang dibuat-buat

"Mianhe anak manis, aku tidak bisa berbuat apa-apa" tangannya terulur menepuk kepala Dongahe pelan seolah merasa iba.

Tiba-tiba kedua mata Siwon yang dipeluk Donghae terbuka tapi sorot matanya sangat kosong. Donghae tahu, sangat tahu bahwa jika begini sudah tak ada harapan lagi untuknya melihat Siwon menatapnya penuh sayang dan juga senyum khas Siwon dengan kedua lesung pipitnya yang manis. Tapi Donghae seolah lupa ingatan dan berharap Hyungnya langsung memeluknya tapi apa yang didapat Donghae…

Buak..

Donghae terpental saat sebuah tinju mendarat di pipi mulusnya dan membuat pelukannya terlepas begitu saja, sosok tampan itu bangkit dan berdiri disebelah sang namja manis-Penyihir-.

"Kau sudah bangun, chagiya?" sapa namja manis itu lembut dan membelai pipi Siwon kemudian memeluknya.

"Habisi dia untukku, chagiya" bisik namja manis ditelinga Siwon.

Pipi Donghae memerah akibat tinjuan dan cairan berbau garam mengalir disudut bibirnya, Donghae menyeka aliran darah itu dengan punggung tangannya lalu bangkit dan mencoba memeluk Siwon.

"Hyung,, ini aku Donghae, dongsaengmu" Donghae menatap penuh harap tapi manic hitam Siwon tak bergeming tetap dengan tatapan kosong yang tak berujung.

Buak..

Satu pukulan telak mendarat di perut Donghae membuatnya merasakan sesak yang teramat tapi Donghae tak berniat membalasnya dan masih mencoba merengkuh tubuh atletis Siwon itu.

"uhuk,,," Donghae terbatuk menahan sesak yang dirasa, Donghae memegang kedua pundak Siwon itu menatap manic matanya.

"H,,hyung,,sa,,dar,,lah" ucap Donghae terbata-bata.

Siwon seolah tak mendengar malah mendorong tubuh mungil Donghae hingga menabrak sebuah lemari kayu. Donghae masih mencengkram pundak Siwon itu membuatnya hampir ikut terjatuh bersama Donghae, Donghae tak peduli rasa sakit yang mulai menjalari tubuhnya.

Siwon menjambak surai coklat cerah Donghae hingga Donghae menengadah keatas, lalu dengan cepat membenturkan kepala Donghae ke dinding yang berada disebelah mereka.

Duak

Duak

Duak

Darah segar mengalir dari kepala Donghae oerlahan mengalir diwajah putihnya, pusing yang sangat mendera Donghae seketika setelah tiga kali Siwon itu membenturkan kepalanya ke dinding.

"H..yung, saa,,kit" desah Donghae lirih.

Sedangkan sang namja manis yang notabene adalah Penyihir yang membuat kedua kakak beradik itu berkelahi seperti itu hanya duduk manis di sofa menikmati pertunjukan yang sedang dilakukan budak barunya itu.

Siwon menghempaskan tubuh Donghae ke lantai yang dingin itu, Donghae merasa sakit yang amat sangat ditubuh dan juga hatinya tak menyangka Hyungnya sendiri melakukan ini padanya, rasa pusing mendera Donghae membuat pandanganya semakin kabur.

"Cukup chagi" ujar namja manis itu menghentikan gerakan kaki Siwon yang akan menginjak perut Donghae yang tergeletak tak berdaya.

Namja manis itu berjongkok disebelah Donghae dengan sebuah pisau nan tipis dan tangannya tapi cukup untuk merobek kulit manusia.

"Kau tahu aku sangat membenci para Exorcist seperti kalian" ujar namja manis itu menatap pisaunya.

"Dan aku juga sudah menunggu saat seperti ini, saat dimana aku bisa melihat kalian dibunuh oleh sesama kalian" suara namja manis itu terdengar dingin dan menusuk.

"Kau se,,tan ter,,ku,,tuk" ucap Donghae terbata namun nada dingin masih terdengar.

Namja manis itu terkekeh

"Hm,,karna setan ini sedang bermurah hati aku tidak akan membunuhmu sekarang anak manis".

Sejujurnya Donghae lebih memilih mati saat itu juga karna merasa tak sanggup untuk hidup tanpa ada Siwon disisinya. Donghae mengalihkan pandangannya kepada Siwon yang terdiam seolah hanya tinggal tubuhnya yang berdiri disana dan jiwanya pergi entah kemana membuat hati donghae berdenyut untuk kesekian kalinya.

"Bu..nuh aku" lirih Donghae menatap namja manis itu tajam.

"Aniya,, kalau aku membunuhmu itu tidak akan menarik eoh? Aku tak bisa melihat penderitaanmu ditinggal Hyungmu yang tampan ini"

"Hm, baiklah aku akan memberi sebuah "kenangan" untukmu, karna sebentar lagi aku harus pergi bersama Hyungmu ini" namja manis itu tersenyum atau lebih tepatnya menyeringai.

Tiba-tiba Donghae merasa perih dan sensai panas bersamaan yang sangat di daerah dekat pergelangan tangannya, Donghae memalingkan wajahnya menatap namja manis yang sedang berkutat dengan tangannya itu.

"Akhh.." desah Donghae menahan perih ditangannya ingin rasanya menarik tangannya tapi namja manis itu menahannya.

"H..hyung,, per,,ih" lirih Donghae menatap Siwon memelas.

"Selesai" ujar namja manis itu girang dan menunjukan "hasil karya"nya tepat di depan kedua mata Donghae.

Donghae menatap tangannya yang sudah dilumuri cairan kental merah dengan sebuah ukiran nama tapi matanya tak terlalu jelas melihatnya karna terhalang darahnya sendiri.

"Itu namaku, agar kau tidak melupakanku dan Hyungmu ini, arrachi?" namja manis itu bangkit dan berdiri disebelah Siwon.

"ah, sepertinya kita harus segera pergi chagi, ada kata-kata terakhir untuk dongsaengmu ini?" tanya namja manis itu kepada Siwon disebelahnya yang hanya menatap kosong ke Donghae.

"hm, tidak ada ya? baiklah kita pergi"

Donghae menatap wajah Hyungnya untuk terakhir kali dengan ketidakrelaan yang sangat.

'Hyung, jangan pergi, jangan tinggalkan aku' batin Donghae berteriak, menatap Siwon dengan berjuta kesedihan diwajahnya.

dalam hati ia berjanji akan membunuh Penyihir sialan itu demi menyelamatkan Hyungnya.

"Aku akan membunuhmu dan membawa Hyungku kembali" janji Donghae dalam hati kemudian kesadarannya menghilang.

End flashback

Donghae menatap tangan putihnya yang sudah tidak mulus lagi karna ada sebuah tanda yang sangat ia kutuk dalam hidupnya karna beraninya ia meninggalkan jejak ditubuhnya.

Tertulis jelas nama sang pembuat ,"Kibum" itulah namanya, wajah mengerikan yang bersembunyi dibalik sosok manis itu kembali terngiang dipikiran Donghae.

"Aku akan membunuhmu Kim Kibum" desis Donghae berbahaya.

TBC

.

.

.

.

.

.

Cuplikan chap depan.

"Arghh, kenapa kekuatanku menghilang? Apa yang terjadi denganku?"

"Kenapa dia jadi lemah begini? Apa mungkin dia sedang jatuh cinta? Tapi dengan siapa?"

"Perasaan apa ini? Aku hampir menciumnya, jika itu terjadi aku lebih baik mati saja!"

"Kau pengkhianat Kyu! Lebih baik kalian berdua mati saja!"

.

.

.

.

.

.

Update macam apa ini? Mian readers sekalian ideku sedang mentok-mentoknya makanya lama banget updatenya. Mian juga kalau tidak sebagus yang diharapkan readers sekalian ^^

Semoga penasarannya sedikit terobati readers sekalian dan masih ada yang berminat membacanya.

Jeongmal Mianhe readers

#BOW bareng Donghae dan Kyuhyun

Jangan lupa review lagi ne? supaya SeoHwi semangat lanjutnya ^^

.

.

Balasan review chapter 2:

Kyukyukyu: iyah imut nih ampe pengen cubit-cubit #plak #ditabok saeng Hyunka. Hehehe udah tau kan? Mian kelamaan update-nya ^^

Cho Yongmi: Ne, Yongmi-ah, Jonenun Seohwi imnida #ga da yang nanya Thor. Gomawo Yongmi-ah #Author sok akrab nih, mian kalau manggil nama aku ga tau umur chingu berapa hehehe.

Ne, Tom&Jerry versi Super Junior, hm udah tau kan bibir Hae ga kenapa-napa kok, aman terkendali berkat Kyu.

Ne, mian baru update ^^

Kyukyu:gomawo chingu ^^ ne, arraseo. Maklum ini fic pertama berchapter. Jeongmal gomawo atas kritiknya, janji deh ga gitu lagi.

Liu HeeHee: ne, poor Kyu.

Yeye: gomawo ^^, hehehe don't worry, itu first kiss maih aman kok. Mian, mian, mian ini update lama banget nih.

#bow berkali-kali, semoga penasarannya sedikit terobati.

Fujoshi-NYO: ne, benar sekali. Mian updatenya kelamaan banget, ide lagi mentok nih.

KimLeechiLici: anyyeong chingu, ne, its oke #keepsmile bareng Hae. Ne maksaih atas sarannya, emang belum keliatan banget sih agaknya siapa yang seme dan uke.

Exorcist itu seorang manusia yang mempunyai kekuatan spiritual gitu dan dibekali dengan sebuah buku suci, mereka bertugas untuk memburu Penyihir gitu, chingu.

ShadowPassingThrough: mungkin udah terjawab di chapter ini, happy reading ^^.

Manusia yang udah menjadi budak penyihir bisa dibebaskan dengan cara membunuh sang penyihir, tapi jarang terjadi sih kayak gitu.

Kalau penyihirnya mati otomatis budaknya bebas.

Exorcist bisa dimusnahkan Penyihir juga tapi dengan level kekuatan yang sudah cukup tinggi.

Ne, ini akun gabungan ku –SeoHwi- dan saengku –Hyunka-, disini kumpulan fic individu, fic individuku baru dua "Romantic Melody" dan "Magic Kiss" nah, sisanya punya saengku -Hyunka- tapi ada juga yang teamwork yang judulnya "Playboy wanna be" Cuma satu sih.

Gaemdin: hehehe, ide kepepet tuh, tenang aja Kyu pinter kok disini..

Ni chapter 3 nya, mian kalau lama banget nget nget, semoga penasarannya ilang walau ga sebagus yang diharapkan.

Cloud'yeppa: ne, uda dilanjut, mian kelamaan ^^

Evil Thieves: gomawo ^^, ni uda di update, mian lama nunggu. Semoga suka ^^

Raihan: Ni chapter 3 ny, mian kalau jelek ^^

Magnaekyu: ne udah dilanjut ^^