Tittle : Still
Author : Kim Joungwook
Pairing : ChangHo/HoMin seme!Changmin
Length : 2
Genre : Romance
Summary : ["kau dimana, bodoh? Tidakkah kau merindukanku?", Jung Yunho] ["kuharap kau tahu, aku selalu mengingatmu. Dimanapun aku berada.", Shim Changmin] ChangHo/HoMin. Uke!Yunho
Warning : YAOI! Boyxboy! Tak suka dengan pairing-nya jangan dibaca! XP. Yunho-sentris. Jadi nanti isi FF ini dari sudut pandang Yunho, walaupun nanti tetap Author POV. Jadi semua full of Yunho's life.
.
.
.
Sedangkan Yunho menoleh, mencoba melihat siapa yang memasuki lift tadi. Dan saat ia melihat wajah namja itu, matanya membelalak. Ia menelan ludahnya tak percaya.
"C-Changmin"
.
.
.
Part 2
.
Keadaan hening menyelimuti suasana kedua namja itu. Cuaca diluar café yang cerah tak mempengaruhi atmosfer canggung yang menyelimuti dua namja itu. Tak ada yang bersuara. Mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Salah seorang memandang keluar jendela, mencoba acuh dengan pandangan namja didepannya yang tak berhenti memandangnya.
"jadi. Bagaimana kabarmu?" tanya Changmin, mencoba menghilangkan kecanggungan yang ada. Yunho menoleh, memandang malas ke arah Changmin.
"Kau bisa lihat sendiri. Aku baik-baik saja, Changmin-ssi." jawab Yunho. Changmin tersenyum, mencoba memberikan kesan baik di depan Yunho.
"apa pekerjaanmu sekarang?" tanya Changmin lagi. Yunho mendesah frustasi,
"Astaga, Changmin-ssi~ kau menarikku kemari hanya ingin menginterogasiku?!" ucap Yunho setengah berteriak. Changmin tertawa kecil melihat reaksi yang diberikan Yunho. sesuai prediksinya.
"kau tidak berubah." gumam Changmin. Yunho mendelik begitu mendengar kalimat Changmin.
"apa maksudmu tidak berubah?" tanya Yunho ketus. Changmin tersenyum, tangannya terulur dan membelai lembut pipi kanan Yunho, membuat pemiliknya terdiam dan menatap Changmin.
"kau masih Yunho-ku yang dulu." jawab Changmin pelan. Yunho menundukkan wajahnya, membuat tangan Changmin terhempas dari wajahnya.
"bodoh!" gumam Yunho, entah kenapa, pipinya memanas mendapat pandangan lembut Changmin padanya, apalagi tangan namja itu tadi juga menyentuh pipinya. Changmin tersenyum kecil melihat reaksi Yunho.
"aku harus bekerja." ucap Yunho sembari bangkit dari duduknya. Changmin yang melihat itu langsung ikut berdiri dan menahan lengan Yunho.
"kita belum selesai bicara, Yun!" cegah Changmin. Ia berjalan mendekati namja yang lebih tua darinya itu, melingkarkan tangannya di sekeliling pinggang Yunho dan memeluknya.
"aku merindukanmu." bisik Changmin. Yunho tersentak. Ia baru sadar bahwa Changmin kini memeluknya.
"saranghae~" bisik Changmin lagi. Yunho terdiam, ia tak memeluk balik Changmin ataupun melepas pelukan namja itu.
"mianhae. tapi aku sudah tak mencintaimu lagi." balas Yunho pelan. Changmin terdiam, ia semakin mengeratkan pekukannya.
"kau hanya lupa." ucap Changmin. Yunho menggeleng cepat.
"tidak. Aku memang sudah tak lagi mencintaimu" balas Yunho cepat. Changmin melepas pelukannya, meletakkan kedua tangannya di bahu Yunho dan menatap intens mata namja itu.
"kau hanya lupa. Dan akan kubuat kau mengingat cintamu padaku lagi."
.
.
.
"jadi, ada apa dengan Shim Changmin?" tanya Yoochun saat mereka tengah makan siang bersama di kantin kantor. Yunho mendesah berat mendengar pertanyaan itu.
"tak ada apa-apa dengan namja itu." jawab Yunho malas. Yoochun tertawa.
"lalu, kenapa kau datang ke kantor dengan wajah lesu dan tak bersemangat? Apa yang telah ia lakukan padamu?" tanya Yoochun lagi. Yunho memandang Yoochun dengan tatapan memelasnya.
"aku tak ingin kembali padanya. Tolong aku, Chun~" jawab Yunho. Yoochun yang mendengar jawaban Yunho memandang namja itu bingung.
"apa maksudmu?" tanya Yoochun.
"dia bilang dia masih mencintaiku. Dan dia bilang bahwa aku hanya melupakan cintaku padanya. Dia ingin memilikiku lagi~" jelas Yunho sembari meletakkan kepalanya di atas meja. Yoochun yang melihat sahabatnya itu hanya menepuk pundak Yunho pelan.
"yah~ kau tinggal meyakinkan dia bahwa kau tak lagi mencintainya kan?!" ucap Yoochun, mencoba memberikan solusi. Yunho mendesah keras.
"ya, do'akan saja aku tak terpesona olehnya." jawab Yunho pelan. Yoochun menaikkan sebelah alisnya.
"memang ia sebegitu mempesonanya di matamu?" tanya Yoochun lagi. Yunho mengangkat kepalanya, memandang Yoochun frustasi.
"Yah, kurasa dia memang sedikit mempesona." ucap Yunho. Yoochun tertawa melihat sahabatnya itu.
"eum, kukira dia terlihat lebih dewasa. Seingatku dulu rambutnya sedikit bergelombang dan berwarna coklat gelap. Sekarang lurus, ya? Warna coklat terang juga membuat ia terlihat lebih dewasa." ucap Yoochun, membenarkan kalimat Yunho. Yunho menghela nafsanya kasar mendengar ucapan Yoochun.
"kau tidak membantu sama sekali." ucap Yunho. Yoochun lagi-lagi tertawa.
"sepertinya kau senang sekali melihatku seperti ini." gumam Yunho. Yoochun menggeleng.
"ani. Ani. Aku bukannya senang melihatmu menderita. Hanya lucu saja, kau seperti ini hanya karena cinta masa lalumu." Yoochun berusaha membela dirinya. Yunho memutar bola matanya malas.
"Yah~ terserah katamu."
"eh, ngomong-ngomong, apa pekerjaannya?" tanya Yoochun. Yunho menatap Yoochun lalu menggeleng lemas.
"aku tak tahu. Aku tak bertanya apapun padanya tadi. Kau tahu?! Rasanya aku ingin menonjok wajahnya begitu melihatnya di lift tadi." ucap Yunho sembari mengepalkan tangan kanannya. Yoochun menggeleng tak habis pikir.
"kau bilang ingin menonjoknya, tapi malah mendapat ciuman dari namja itu." ucap Yoochun dengan seringainya. Yunho langsung melotot ke arah Yoochun.
"sembarangan! Kau pikir aku namja murahan yang diam saja dicium namja yang baru saja kutemui?!" ucap Yunho tak terima. Yoochun tergelak disemprot begitu oleh Yunho.
"yayayaya, setidaknya kau mendapat pelukannya." ucap Yoochun menaik turunkan alis kirinya. Yunho menatap curiga ke arah Yoochun.
"darimana kau tahu?" tanya Yunho penasaran. Yoochun tersenyum kecil.
"aku hanya menebak saja. Melihat dia bilang bahwa dia masih mencintaimu setidaknya dia akan memeluk atau menciummu." jelas Yoochun. Yunho menganggguk paham.
"yah~ untuk itu kau benar. Dia memang memelukku." ucap Yunho. Yoochun menggeleng melihat wajah frustasi Yunho.
"lebih baik kita kembali ke kantor. Masih banyak yang harus kita kerjakan."
.
.
.
Brakk!
"hah~!" Yunho langsung merebahkan tubuhnya diranjang. Barang dan baju-bajunya yang berserakan di atas ranjang ia geser begitu saja, menimbulkan bunyi yang cukup ramai karena barang-barang itu berjatuhan di lantai. Dan Yunho tak peduli sama sekali.
Apartement-nya memang sedang berantakan, sudah lebih dari 3 hari ia tidak membereskan tempat tinggalnya ini. Ia memang seorang yang tidak peka terhadap kebersihan dan kerapian, tetapi tidak dengan kamar mandinya. Ia selalu rajin membersihkan sepetak kecil bagian apartement-nya itu.
"lebih baik aku mandi lalu mencari makan malam saja." gumam Yunho. ia segera bangkit dari tidurnya, melepas jas dan juga dasinya.
"hah~ makan malam di kedai sushi pinggir jalan sepertinya tidak buruk." ucap Yunho sembari berjalan ke dapur. Tenggorokannya kering, minta dibasahi. Yunho mengambil sebotol air mineral dari kulkas dan segera menenggaknya.
Ting tong….
Suara bel mengusik pendengaran namja itu. Ia berjalan malas menuju pintu depan. Tangan kanannya masih memegang botol minumnya.
"sebentar!" Yunho berteriak dari balik pintu saat bunyi bel kembali terdengar. Ia menutup botolnya, menaruh di meja samping TV dan segera membuka pintu depan.
"annyeong haseyo~ saya tetangga baru disebelah apartement anda. Mohon bantuannya~" dan sederet kalimat itu langsung terdengar oleh Yunho begitu membuka pintu. Ia membelalakkan matanya melihat Changmin yang kini berdiri di sana.
"Changmin-ssi?" ucap Yunho tak percaya. Changmin hanya tersenyum dan mengangguk.
"ne?"
"ada apa kau kemari?" tanya Yunho ketus. Changmin tersenyum semakin lebar mendengar pertanyaan bodoh dari Yunho.
"aku tinggal di apartement sebelah, Yun~" jawab Changmin. Yunho membelalakkan matanya.
"kau pasti bercanda!" ucap Yunho frustasi. Ia tak habis pikir, apa dosa masa lalunya hingga harus bertemu lagi dengan Changmin~.
Changmin menggeleng.
"ani. Aku tak berbohong. Jika kau tak percaya, kau boleh datang ke apartementku sekarang." ucap Changmin, menawarkan apartement-nya sendiri. Yunho menggeleng cepat.
"tidak! Terima kasih!" jawab Yunho ketus. Changmin mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban Yunho.
"kau tak ingin melihat tempat tinggal baruku, Yun?" tanya Changmin dengan wajah memelasnya. Yunho menggeleng tegas.
"sudah kubilang tidak! Dan lagi, panggil aku Hyung! Aku lebih tua darimu, Changmin-ssi!" ucap Yunho, masih dengan nada ketusnya. Ia mundur kebelakang dan segera menutup pintu apartement-nya. Tapi pintu itu tak bisa menutup sempurna saat kaki Changmin menahannya.
"kau tidak sopan dengan menutup pintu begitu saja saat tetangga barumu sedang bertamu. Bahkan kau tidak mempersilahkanku masuk." ucap Changmin begitu Yunho membuka pintunya lagi. namja itu mendesah frustasi.
"apa yang sebenarnya kau inginkan, Shim Changmin?!" tanya Yunho ketus. Changmin melebarkan senyumnya dan langsung melenggang masuk, melewati Yunho begitu saja.
"wah~ apartementmu berantakan sekali, Yun~ ckckck, dasar jorok!" ucap Changmin begitu melihat keadaan apartement Yunho. Yunho membelalakkan matanya dan langsung menyeret lengan Changmin berusaha mengusir namja jangkung itu.
"keluar dari apartementku! Kau tak berhak masuk!" teriak Yunho. Changmin menghempaskan tangan Yunho dari lengannya begitu saja, membuat Yunho berbalik dan menatap tajam ke arah Changmin.
"keluar dari apartementku sekarang!" desis Yunho. Changmin tak bergeming dan justru balik menatap tajam ke arah Yunho.
"yack!" Yunho berteriak saat tiba-tiba Changmin mendorong tubuhnya hingga jatuh di lantai.
"appo~" gumam Yunho pelan. Ia tak menyadari, bahwa Changmin kini menyeringai melihatnya.
"appo?" tanya Changmin sembari mendudukkan dirinya disamping Yunho. Yunho mengerucutkan bibirnya, memandang tak suka ke arah Changmin.
"apa yang kau lakukan?!" Yunho memekik kecil saat Changmin tiba-tiba berada di atas tubuhnya, kedua tangannya juga dicengkeram Changmin dan diletakkan namja jangkung itu di atas kepalanya.
"turun dari tubuhku!" teriak Yunho. Changmin justru menyeringai. Tanpa aba-aba, ia langsung menyerang bibir Yunho. membungkam segala umpatan yang akan dilontarkan.
"ngh~" tanpa sadar Yunho melenguh saat bibirnya dilumat ganas oleh Changmin. Bahkan ia tak bisa menghirup nafas sama sekali. Hanya Changmin yang menggerakkan bibirnya dalam ciuman itu, sedangkan Yunho menutup rapat-rapat bibir miliknya, tak memperbolehkan Changmin memasuki rongga mulutnya. Dan Changmin tak kehabisan akal. Ia tetap gencar melumat bibir hati milik Yunho.
"argh!" Yunho berteriak kecil saat Changmin menggigit bibir bawahnya, membuat bibir hati itu mengeluarkan cairan merah.
"emh.." Yunho mendesah berat saat lidah Changmin menyapa rongga mulutnya, menyentuh langit-langit dan juga seluruh isi mulutnya. Rasa anyir darahnya terasa saat saliva mereka berdua bercampur.
"engh~" lenguhan Yunho terdengar samar saat Changmin melepas ciuman itu. Nafas mereka berdua terengah, dan dapat Yunho rasakan deru nafas Changmin di atas wajahnya. Jemari namja jangkung itu menyentuh sudut bibir dan juga dagu Yunho, membersihkan saliva mereka yang keluar. Hal itu membuat cengkeraman namja itu di kedua tangan Yunho juga melonggar, membuatnya bisa menggerakkan tangannya bebas.
"keluar kau, brengsek!" teriak Yunho tiba-tiba. ia mendorong tubuh Changmin dan berdiri, membuat Changmin memandang shock ke arahnya.
"keluar sekarang!" teriak Yunho lagi. ia menarik tangan Changmin dan membuat namja itu berdiri. Ia memukul pipi Changmin sekali, membuat pemuda jangkung itu sedikit terhuyung ke belakang, ia sudah akan terjatuh ke lantai akibat kerasnya pukulan Yunho, tetapi tangan Yunho yang menahan lengan kanannya membuatnya masih berpijak tanah.
"kau brengsek!" Yunho berteriak lagi sembari menyeret Changmin menuju pintu apartementnya. Ia mendorong kasar tubuh Changmin keluar.
"Yun, tunggu!"
Brak!
Pintu apartement Yunho dibanting oleh sang pemilik, menimbulkan bunyi yang sedikit keras. Changmin terdiam, mencoba memahami kejadian barusan yang berlalu sangat cepat. Dan saat ia sudah bisa memahami semua itu, ia menatap putus asa ke arah pintu apartement Yunho. Tangan kirinya terangkat dan menyentuh pipi kirinya yang tadi dipukul Yunho.
"aw!" ia merintih kecil. Pukulan itu meninggalkan lebam berwarna biru di pipinya.
"pukulannya sakit juga."
.
.
.
gajima han madil motanda
i baboga
naega wae i baboman bwasseul kka?
cham motnan neol
Baby Catch Me Catch Me
Catch Me, Girl, Tonight
"ngh~" Yunho melenguh pelan dan meraba meja nakas di samping tempat tidurnya, berusaha menggapai ponselnya yang sedari tadi berbunyi tanpa henti.
"yoboseyo?" suara seraknya terdengar lirih.
"yoboseyo? Kau dimana, yun?" suara Yoochun menyapa gendang telinganya. Yunho mengerang pelan, tangan kirinya yang tak memegang ponsel memijit pelipisnya, ia merasa pusing dan tak enak badan.
"aku masih di apartement. Mian. sepertinya hari ini aku tidak masuk kerja." jawab Yunho. suaranya masih terdengar serak dan lirih.
"kau baik-baik saja?" tanya Yoochun khawatir dari line seberang, suara Yunho benar-benar lirih. Yunho mengangguk, dan baru ia sadar, Yoochun takkan melihat anggukannya.
"ne. aku baik-baik saja, hanya merasa kurang enak badan. Gokjongma." ucap Yunho. dapat ia dengar Yoochun menghela nafsanya.
"baiklah. Nanti istirahat siang aku ke apartement-mu. Aku tak percaya kau baik-baik saja." Yunho tertawa kecil tanpa suara mendengar ucapan Yoochun.
"terserah kau sajalah." dan tanpa menunggu respon Yoochun, ia langsung menutup panggilan itu. Yunho meletakkan kembali ponselnya di meja nakas dan mencoba mendudukkan dirinya.
"ah, sudah jam 9" ucap Yunho pelan begitu tak sengaja melihat jam di dinding. Ia meraba dahinya sendiri, dan menyadari suhu tubuhnya yang meningkat.
"aku demam." gumam Yunho lirih.
"ah, aku juga belum makan malam kemarin." tambah Yunho. ia terdiam, mengingat kejadian kemarin malam, sebelum ia berakhir mengenaskan di atas ranjang, tanpa makan malam dulu. bahkan sekarang ia masih memakai kemejanya kemarin.
"aku harus mandi." ucap Yunho. ia berusaha menggerakkan tubuhnya, tapi kembali berhenti saat nyeri di perutnya menyerang.
"argh! Bodoh! Pasti kambuh lagi." gumam Yunho. ia memegang perutnya, wajahnya mengeryit, mencoba mengurangi nyeri yang melanda.
"lebih baik aku tidur lagi." dan Yunho akhirnya kembali berbaring, mencoba menetralisir nyeri yang ia rasakan. Dan sebelum ia memejamkan mata, ia mengetik pesan pada Yoochun. Menyuruh namja itu untuk benar-benar datang ke apartementnya.
"aku membutuhkanmu." gumam Yunho sebelum menutup matanya. Dan dia tak tahu, ia pingsan atau tidur saat kehilangan kesadarannya.
.
.
.
"Yun, bangun!" ucap Yoochun sembari mengguncang pelan bahu Yunho. Yunho menggeram pelan dan mulai membuka matanya.
"kau sudah datang. Chun." ucap Yunho begitu membuka mata dan menyadari kehadiran Yoochun. Yoochun mengangguk.
"kau demam. Perlu kupanggilkan dokter?" tanya Yoochun. Yunho menggeleng.
"tidak. Tidak perlu." jawabnya lemas. Yunho akan duduk dari tidurnya, tapi terhenti di tengah jalan saat nyeri itu menyerangnya.
"argh!" Yunho berteriak kesakitan. Yoochun yang mendengarnya langsung melihat Yunho panik.
"apa? Kenapa? Lambungmu sakit?" Tanya Yoochun. Yunho mengibaskan tangannya didepan Yoochun.
"aku baik-baik saja." ucap Yunho lirih. Yoochun yang melihat itu menggeleng tak percaya.
"kau tak baik-baik saja." ucap Yoochun. Ia mengambil mantel hitam milik Yunho dan menyuruh Yunho untuk memakainya.
"pakai ini dan kita pergi ke rumah sakit!" Yoochun memerintah sahabatnya itu. Yunho diam, ia tak memakai mantel itu, justru menatap bingung ke arah Yoochun.
"untuk apa kita ke rumah sakit?" tanya Yunho. Yoochun berdecak mendengar pertanyaan Yunho.
"Tentu saja untuk memeriksamu, bodoh!" jawab Yoochun ketus. Ia memakaikan mantel ke tubuh Yunho dan perlahan menarik sahabatnya itu untuk bangun dari ranjangnya.
"argh!" Yunho berteriak sakit begitu berdiri, membuat Yoochun memandang iba kearahnya.
"ayo kubantu." ucap Yoochun. Ia melingkarkan tangan kiri Yunho dilehernya dan tangan kanannya melingkar dipinggang namja itu.
"perlahan saja." Yoochun memapah Yunho menuju tempat mobilnya berada.
"dasar bodoh! Kau mau membunuh dirimu sendiri?! Kau tidak makan malam dan tidak sarapan. Apa maumu?!" ucap Yoochun ketus. Yunho meringis kecil.
"aku sedang tidak dalam mood baik untuk makan." jawab Yunho. Yoochun mendesah berat mendengar jawaban Yunho.
"yah, terserah!" Ucap Yoochun akhirnya. Ia hanya diam dan menuntun Yunho menuju mobilnya terparkir. Ia sedikit tak tega melihat raut kesakitan milik Yunho. tapi mau bagaimana lagi, semua ini juga salah namja itu sendiri.
.
.
.
"berbaringlah disini dulu, tuan. Akan saya panggilkan dokter untuk memeriksa anda." ucap seorang suster ke arah Yunho. Yunho mengangguk dan membaringkan tubuhnya di sebuah ranjang yang ada diruangan itu. Sedangkan Yoochun dan suster itu keluar.
"aku akan mengurus pendaftaranmu dulu." ucap Yoochun sebelum meninggalkan Yunho diruangan itu. Yunho hanya mengangguk sebagai jawaban.
"ini sungguh menyakitkan. Dasar bocah sialan!" Yunho berdesis pelan, merutuki sikap Changmin kemarin malam. Ia merasa dilecehkan oleh tindakan Changmin kemarin.
"ah, chaesunghamnida. Membuat anda menunggu lama." seorang dokter dengan jas putihnya memasuki ruang periksa itu. Yunho langsung menoleh, dan mendapati seorang dokter tengah berjalan menunduk kearahnya. Dokter itu tengah menulis sesuatu dicatatan yang tengah ia bawa. Yunho mengerutkan keningnya, merasa ada sesuatu pada dokter itu yang membuatnya mengingat bocah sialan yang membuatnya menangis kemarin.
"jadi, ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter itu begitu sampai di samping ranjang Yunho. Yunho sudah akan mengeluarkan suaranya saat dokter itu tiba-tiba mengangkat wajahnya dan membuat segala kalimat yang akan Yunho ucapkan terlupa begitu saja. Kedua namja itu saling bertatapan tanpa ada yang mengucapkan satu kalimatpun.
"Y-Yunho?" dan Suara Changmin yang memecah keheningan yang ada. Yunho terdiam, memalingkan wajahnya dari dokter -Changmin- itu.
"K-Kau sakit? Apa yang sakit? Apa aku menyakitimu? Kau baik-baik saja kan?" Changmin melontarkan sederet pertanyaan untuk Yunho. tetapi namja itu hanya diam dengan wajah yang tidak memandang Changmin.
"Yun?" Changmin menyentuh bahu Yunho, membuat namja itu sedikit tersentak. Yunho sudah akan menyingkirkan tangan Changmin dengan menggerakkan bahunya, tetapi nyeri itu datang lagi.
"Arkh!" Yunho berteriak kecil sembari memegangi perutnya yang terasa sangat nyeri. Keringat dingin yang tadi sudah menghilang kini terlihat membasahi wajah Yunho. kesadarannya juga mulai kabur, pandangannya terasa buram dan tak fokus. Dan hal terakhir yang dapat ia dengar adalah teriakan Changmin yang memanggilnya.
"Yunho!"
.
.
.
"kau sudah sadar?" tanya Yoochun begitu melihat Yunho membuka matanya. Namja itu mengerjapkan matanya beberapa kali, lengan kanannya ia letakkan di atas dahinya, menghalangi sinar lampu yang sangat terang.
"apakah masih terasa nyeri?" tanya Yoochun lagi. Yunho menurunkan lengannya dari atas dahinya, memandang Yoochun yang masih menetap lekat-lekat ke arahnya.
"aku baik-baik saja. Gokjong hajima." jawab Yunho sembari tersenyum kecil. Yoochun menghela nafas lega.
"Gila! Kau membuatku hampir terkena serangan jantung karena mendapat kabar dari dokter bahwa kau tak sadarkan diri. Kau berhutang nyawa padaku!" ucap Yoochun. Yunho tertawa.
"Kau berlebihan. Aku tak tahu jika bisa sampai pingsan. Hah~ kau tak tahu betapa menyakitkannya itu." jelas Yunho. Yoochun meringis kecil.
"yah~ setidaknya kau masih bisa tertawa." ucap namja cassanova itu. Yoochun memandang wajah Yunho, merasa ada sesuatu yang janggal di wajah namja itu.
"Yun, bibirmu terluka?" tanya Yoochun saat menyadari bibir Yunho yang sedikit bengkak dan ada bekas luka disana. Yunho megernyitkan dahinya dan meraba bibirnya sendiri, merasakan sedikit nyeri saat menyentuh bagian paling merah diwajahnya itu.
"entahlah. Aku tak menyadarinya." jawab Yunho. yoochun tertawa mendnegar jawaban Yunho.
"tentu saja kau tak menyadarinya! Kau pasti asik berciuman sehingga tak sadar bibirmu terluka." ucap Yoochun. Yunho meringis mendengar ucapan Yoochun.
"aku bukan seseorang yang berciuman dengan orang yang tidak kusukai." ucap Yunho datar dan terkesan dingin. Yoochun terdiam, ia memilih duduk disamping ranjang Yunho dan mengalihkan perhatiannya dengan mengupas jeruk di sana. Ia tahu, Yunho tak suka dnegna topik yang baru saja mereka bicarakan. Dan dia tak sebodoh itu untuk merusak mood sahabatnya yang tengah terbaring sakit.
Keadaan menjadi hening, Yunho memandang Yoochun yang kini tengah mengupas sebuah jeruk yang ada di meja samping ranjangnya.
"Chun, kau tahu siapa dokter yang memeriksa dan merawatku?" tanya Yunho. Yoochun mengangkat wajahnya dan menatap Yunho dengan alis yang bertaut.
"dokter yang merawatmu? Kukira kau sudah tahu. Bukankah kau sempat bertemu dengannya di ruang periksa?" Yoochun balik bertanya. Yunho tak tahu mengapa, tetapi jantungnya berdetak semakin cepat.
"hoksi, Shim Changmin uisa?" tanya Yunho pelan. Yoochun mengangguk.
"ne. itu kau tahu,kenapa mesti bertanya?!" jawab Yoochun, masih asyik dengan jeruknya. Yunho menatap tajam ke arah Yoochun.
"kenapa kau membiarkan dia menjadi dokter-ku!" teriak Yunho. Yoochun sedikit terlonjak mendengar teriakan Yunho.
"Ini di rumah sakit, bodoh! Jangan berteriak!" ucap Yoochun.
"lagi pula siapa yang memintanya merawatmu?! Dia sendiri yang melakukannya. Memang aku bisa me-request siapa dokter yang akan merawatmu?!" tambah Yoochun sewot.
"hah~ tapi kan. Akh, terserahlah!" Yunho tak melanjutkan ucapannya dan segera memiringkan tubuhnya, membelakangi Yoochun.
"ya, sekarang kau malah mengambek padaku!" ucap Yoochun, sedikit merasa bersalah. Tapi Yunho justru mendengus kesal saat berbalik dan melihat namja itu justru memakan jeruk-nya santai.
"selamat siang." sebuah suara menginterupsi kegiatan dua namja itu. Yoochun menoleh, dan mendapati seorang suster membuka pintu. Yoochun tersenyum dan berdiri dari duduknya.
"silahkan suster." Yoochun berucap sembari menggeser tubuhnya dari sisi ranjang Yunho. Suster itu masuk diikuti oleh dokter dibelakangnya.
"gwenchanayo?" sebuah suara menyapa telinga Yoochun, membuat namja itu menoleh dan menatap namja dengan jas putih itu.
"Changmin-ah, kau bertanya keadaanku atau keadaannya?" tanya Yoochun. Changmin tertawa.
"memang kapan aku bertanya keadaanmu, hyung? Tentu saja keadaan my Yunnie~" ucap Changmin sembari berjalan cepat menuju ranjang Yunho. suster yang melihat itu hanya mengedikkan bahu tanda tak peduli, dan sesungguhnya juga tak tahu apa-apa.
"kau bisa keluar jika sudah selesai Sulli-ssi." ucap Changmin. Suster yang bernama sulli itu mengangguk dan menyerahkan sebuah catatan kepada Changmin.
"ini catatannya. Dan kuharap anda melakukannya dengan benar, uisanim." ucap Sulli sembari berlalu dari ruangan itu. Changmin tertawa.
"seperti aku pernah melakukan kesalahan saja~" jawab Changmin acuh. Ia mendekati ranjang Yunho dan memutarinya, hingga kini ia berada di dekat infus namja itu.
"jadi, apa ada keluhan lagi, Yun?" tanya Changmin sembari memeriksa infus Yunho, dan mencatat hasilnya di kertas yang ia bawa. Yunho hanya diam, sedangkan Yoochun kini duduk di sofa yang disediakan di sana.
"percuma saja, ia tidak akan menjawabmu, Changmin." justru suara Yoochun yang terdengar oleh Changmin. Changmin hanya tersenyum menanggapinya.
"lambungmu tidak terlalu baik. kau harus dirawat di sini selama beberapa hari untuk menormalkan kembali lambungmu. Dan juga hasil rontgen akan keluar sore ini. Kita akan tahu apakah ada luka disana" jelas Changmin. Yunho tetap diam, memandang malas ke arah Yoochun yang menyeringai ke arahnya.
"mianhae." Changmin membelai rambut Yunho, membuat namja itu menoleh cepat ke arahnya.
"Jangan menyentuhku!" desis Yunho sembari menyingkirkan tangan Changmin dari kepalanya. Changmin terdiam, memandang sendu ke arah Yunho, yang justru dibalas dengan tatapan tajam oleh namja itu. Yunho sedikit terkejut saat melihat sebuah lebam di pipi kiri Changmin, sedikit merasa bersalah saat mengingat bahwa ia yang menorehkan luka lebam itu.
"eum, sepertinya kalian perlu bicara berdua. Aku pergi dulu." Yoochun langsung keluar dari ruangan itu begitu melihat atmosfer yang tidak menyenangkan diantara kedua namja itu.
"Jeongmal mianhae. Aku benar-benar minta maaf atas kejadian kemarin." ucap Changmin tulus. Yunho mendengus kasar dan memalingkan wajahnya dari Changmin.
"aku hanya terlalu merindukanmu. Aku merasa tak bisa mengontrol diriku begitu melihatmu. Mianhae." ucap Changmin lagi. Yunho membuang pandangannya, membuat Changmin mengusap wajahnya kasar.
"bagaimana cara agar dirimu percaya padaku lagi?" tanya Changmin frustasi. Yunho menoleh dan menatap tajam ke arah Changmin.
"percaya padamu? Lebih baik kau keluar sekarang, uisanim!" ucap Yunho tajam. Changmin balik menatap tajam ke arah Yunho, sangat frustasi atas segala penolakan yang Yunho lakukan selama ini.
"jadi, sekarang kau mengusirku? Sejak kapan seorang pasien mengusir dokter, hah?! Kau pikir sekarang kau dibawah kuasa siapa?! Kau dibawah kuasaku! Aku bisa membunuhmu sekarang jika aku mau!" ucap Changmin emosi. Yunho tersentak.
"bunuh saja aku!" teriak Yunho balik. Changmin terdiam, ia menatap dalam-dalam tepat ke mata Yunho. namja itu memejamkan matanya sesaat, mencoba meredam emosinya sendiri.
"aku tidak akan melakukan itu. Kau tidak mudah untuk dibunuh!" ucap Changmin sembari
tersenyum kecil, berusaha mengembalikan atmosfer hangat diantara mereka. Ia mengelus pelan bibir Yunho, menatap sendu luka yang kemarin ia torehkan. Yunho terdiam, membiarkan Changmin menyentuh bibirnya.
"aku mau tidur, lebih baik kau benar-benar keluar dari sini. Dan aku pinta, besok aku sudah bisa keluar, uisanim." ucap Yunho. ia berbalik, membuat tangan Changmin terlepas dari wajahnya dan mulai memejamkan matanya.
"saranghae." Changmin mencium pelan kepala Yunho dan segera berlalu dari kamar itu.
"kuharap kau tahu, aku selalu mengingatmu. Dimanapun aku berada." ucap Changmin sebelum benar-benar keluar dari kamar Yunho.
.
.
.
TBC
Yeay~ akhirnya chapter 2 dateng juga~ begitu susah menentukan karakter Yunho di sini. saya juga sedikit kecewa dengan FF yang saya buat ini, Yunhonya terlalu uke, huhu
but, overall, i love this FF because this is my first FF with ChangHo Couple~ Saranghae oppadeul~
Saya mau curcol sedikit, ada dua berita menggemparkan di hidup saya!
yang pertama sebagai Cassiopeia, Of course I'm so happy! TVXQ comeback 7th album and 10th anniversary. I'm so proud to be Cassiopeia.
but in my soul(?) as an ELF, I'm too sad to hear about Leeteuk's oppa. Leeteuk Oppa kehilangan keluarga tercintanya. Sangat sedih mendengar berita ini. Hwa~
Untuk semua review(s) yang masuk, saya ucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya, tak kusangka, mendapat komentar, huks….. v.v dan semua reader yang telah membaca FF abal ini. Saya ucapkan terima kasih juga. Tinggalkan review lagi, ne?
Pai pai~
