Tittle : Still

Author : Kim Joungwook

Pairing : ChangHo/HoMin seme!Changmin

Length : 3

Genre : Romance

Summary : ["kau dimana, bodoh? Tidakkah kau merindukanku?", Jung Yunho] ["kuharap kau tahu, aku selalu mengingatmu. Dimanapun aku berada.", Shim Changmin] ChangHo/HoMin. Uke!Yunho

Warning : YAOI! Boyxboy! Tak suka dengan pairing-nya jangan dibaca! XP. Yunho-sentris. Jadi nanti isi FF ini dari sudut pandang Yunho, walaupun nanti tetap Author POV. Jadi semua full of Yunho's life.

.

.

.

"saranghae." Changmin mencium pelan kepala Yunho dan segera berlalu dari kamar itu.

"kuharap kau tahu, aku selalu mengingatmu. Dimanapun aku berada." ucap Changmin sebelum benar-benar keluar dari kamar Yunho.

.

.

.

Part 3

.

"bagaimana kau bisa ada disini?" tanya Yoochun begitu melihat Yunho memasuki ruangannya. Yunho tersenyum dan mengangkat tangannya, memperlihatkan sebuah kunci mobil miliknya. "tentu saja aku mengendarai mobilku, Chun." jawab Yunho santai. Ia duduk di kursinya dan mulai menyalakan komputernya. Yoochun mendengus mendengar jawaban Yunho.

"aish! Bukan begitu maksudku! Tapikan kau harus istirahat dirumah dulu. kau belum pulih benar." ucap Yoochun. Yunho tertawa kecil.
"aku bosan, Chun. Lagipula sudah 5 hari aku tidak masuk kerja. Aku bisa dipecat jika terus tak masuk." jelas Yunho. Yoochun tertawa.

"aku tak akan memecatmu, Yun. Yah~ setidaknya sampai Changmin menyuruhku melakukannya." ucap Yoochun. Yunho menatap tajam ke arahnya.
"jangan menyebut nama bocah sialan itu!" ucap Yunho tajam. Yoochun semakin tertawa mendengarnya.

"yah~ terserahlah. Tapi karena kau sudah masuk, ini pekerjaan untukmu. Kau tahu, aku sangat sibuk tanpa ada dirimu." ucap Yoochun sembari menyerahkan beberapa dokumen ke atas meja Yunho.

"mianhae, Chun. Aku jadi merasa bersalah." ucap Yunho. Yoochun tersenyum dan menepuk pelan pundak Yunho.
"sudahlah, lupakan saja. Lebih baik kita datang ke acara peresmian gedung baru milik kita."

.

.

.

Yunho terlihat berjalan sedikit sempoyongan menuju apartementnya. Tadi ia sempat minum-minum dengan karyawan yang lain, merayakan keberhasilan di proyek mereka. Dan karena lambungnya yang bermasalah dan juga toleransinya pada alkohol yang buruk, ia terpaksa pulang duluan. Kesadarannya masih cukup baik hingga ia bisa menyetir sampai apartementnya dengan selamat.

"Yun? Kau mabuk?" sebuah suara menyapa Yunho saat ia akan membuka pintu apartementnya. Ia menoleh dan mendapati Changmin yang berjalan ke arahnya.
"Changmin-ssi, aku tidak mabuk." jawab Yunho, masih berusaha memegang kuat kesadarannya. Berulang kali ia mencoba memasukkan kunci di tangannya untuk membuka pintu, berkali itu pula ia gagal. Matanya sudah tak fokus untuk melihat tempat lubang kunci berada. Changmin mengernyitkan dahinya, menyadari aroma alkohol dari nafas Yunho.

"lebih baik kau segera masuk dan beristirahat. Biar kubantu." ucap Changmin. Ia mengambil kunci apartement Yunho dan membukakan pintu untuknya.
"masuklah, aku akan membuatkan teh hangat untukmu." ucap Changmin, Yunho yang melihat Changmin memasuki apartementnya mengernyit tak suka.
"untuk apa kau masuk apartement-ku? Lebih baik kau pulang." ucap Yunho tak suka. Changmin yang sudah akan masuk ke dalam apartement Yunho langsung menoleh, menatap Yunho yang kini malah melenggang santai memasuki apartementnya. Ternyata namja itu masih bisa mengingat kebenciannya pada Changmin meski ditengah kesadaraannya yang hampir menghilang.
"aku hanya ingin membantumu. Yun. Kau belum sembuh benar." jelas Changmin. Tanpa memperdulikan penolakan Yunho ia masuk dan menutup pintu.

"perlu kubuatkan teh ? Kau sudah minum obatmu, kan?" tanya Changmin sembari menyentuh pundak Yunho. Yunho yang sedang meminum air langsung menyentak tangan Changmin dan berakibat botol yang ia pegang terjatuh dan membuat airnya tumpah di lantai.
"jangan menyentuhku!" desis Yunho tak suka. Changmin diam dan justru memeluk Yunho.

"yak! Kubilang jangan menyentuhku!" Yunho berontak dalam pelukan Changmin, tapi namja itu justru semakin mempererat pelukannya, tak membiarkan Yunho melepasnya.
"saranghae, saranghae, Yunho-ah!" ucap Changmin. Yunho semakin gencar memukul Changmin, membuat namja jangkung itu sesekali meringis kecil.

"gojitmal! Kau pembohong! Aku tak percaya lagi padamu!" teriak Yunho. Changmin hanya diam dan tetap memeluk Yunho. "kau jahat! Kau meninggalkanku selama 3 tahun dan kini kau kembali lagi!" Teriak Yunho sebelum ia berhenti berontak. Ia tenang begitu teriakan itu terhenti.
"mianhae, mianhae." Changmin hanya bergumam lirih membalas ucapan Yunho.

"kau tak pernah memikirkan perasaanku. Kau menghilang tanpa mengucapkan apapun dan kini selalu mengatakan bahwa kau mencintaiku. Apa maumu sebenarnya?!" desis Yunho tak suka. Changmin melonggarkan pelukannya, memegang kedua bahu Yunho dan menatap wajah namja itu yang ternyata sudah berlinang air mata.

"kau jahat! Huks, aku membencimu!" ucap Yunho lirih ditengah isakannya. Sedikit pengaruh alkohol yang tadi ia diminum membuatnya sedikit kehilangan kendali akan tubuhnya. Bahkan kini ia menangis didepan Changmin.

"mianhae, Yun. Aku tak bermaksud seperti itu. Sungguh! Aku benar-benar men-"

"lepaskan aku! Lebih baik kau pergi sekarang. Kka!" Yunho kembali berteriak, kali ini ia menghempaskan kedua tangan Changmin dari bahunya dan mendorong tubuh Changmin menjauh.

"jika kau tak mau pergi, lebih baik aku yang pergi!" ancam Yunho saat Changmin tak beranjak sedikitpun dari tempatnya berpijak. Yunho segera berjalan keluar Dapur, tapi belum ada tiga langkah ia ambil, lengannya sudah dicekal oleh Changmin.

"yun, tunggu! Kau perlu mendengar penjelasanku!"ucap Changmin.

"kau tak perlu menjelaskan apapun! Aku membencimu, Changmin-ssi!" teriak Yunho, masih terisak pelan. Ia berniat melepas cengkeraman tangan Changmin dan berjalan menjauh, tapi karena lantai basah akibat minumnya yang tadi tumpah membuatnya tak sengaja terpeleset dan menarik Changmin hingga ikut terjatuh menimpanya.

Bruk!

Suara jatuh itu menimbulkan bunyi berdebum yang cukup keras.
"kau baik-baik saja?" tanya Changmin khawatir. Kedua lengannya menumpu di sisi tubuh Yunho, membuatnya tidak menimpa tubuh namja itu.

Yunho tak menjawab pertanyaan Changmin, Ia hanya terisak dan mencengkeram erat kemeja depan milik namja jangkung itu. Changmin meringis dan memeluk Yunho, membenamkan wajahnya dilekukan leher namja dibawahnya.

"mianhae, aku tak berniat sama sekali meninggalkanmu. Jeongmal mianhae." ucap Changmin pelan. Yunho balas memeluk punggung Changmin erat, seakan takut untuk melepasnya. Changmin yang merasakan itu tersenyum kecil.

"saranghae, Yunho-ah. Jeongmal saranghae." bisik Changmin lembut.

"Min, hiks, Minnie-ah."

Changmin membelalakkan matanya mendengar panggilan Yunho. sekian lama ia bertemu namja itu lagi, baru kali ini Yunho memanggilnya dengan panggilan itu. Panggilan kesayangan Yunho untuknya.

"ya, aku di sini, Yunho-ah. Aku di sini." jawab Changmin lembut, matanya perlahan tertutup, senyuman kecil tersunngging diwajahnya. "aku mencintaimu, Yun" gumam Changmin mempererat pelukannya di tubuh Yunho, yang juga dibalas oleh Yunho dengan pelukan erat juga.

.

.

.

Yunho menggeliat tak nyaman, matanya mulai terbuka. Ia merasakan tubuhnya terasa berat, seperti ditimpa oleh sesuatu. Ia mengerjapkan matanya sekali lagi, dan mulai melihat ke sekelilingnya. Dan benar saja! Ia menemukan sebuah lengan melingkari pinggangnya erat. Dan dapat ia lihat juga tubuhnya tak memakai baju, alias topless.

"ya! Apa yang terjadi?!" teriak Yunho. ia membalik tubuhnya dan mendapati Changmin tengah terpejam nyaman dengan tangan memeluk pinggangnya. Yunho memandang horror pada keadaannya saat ini.

"Irrona, Changmin-ssi!" teriak Yunho sembari mengguncang keras tubuh Changmin. Ia masih berusaha melepas pelukan Changmin dipinggangnya. Yang diteriaki mulai menggeliat tak nyaman, dan tanpa sadar melepas pelukannya di pinggang Yunho.

"ngh, kau sudah bangun, Yun?" tanya Changmin sembari membuka matanya perlahan. Yunho terdiam, melihat Changmin yang baru saja membuka mata di depannya membuat sekelebat memori masa lalu berputar didepannya.

"kau baik-baik saja, Yun?" tanya Changmin lagi begitu tak mendapati respon apapun dari Yunho. Yunho mengerjapkan matanya cepat dan memandang Changmin sendu.
"apa yang terjadi?" tanya Yunho pelan. Kepalanya sedikit pusing, mungkin efek alkohol semalam.
"tidak terjadi apa-apa. Semalam kau menangis hebat dipelukanku dan berakhir dengan tertidurnya dirimu karena terlalu lelah." jelas Changmin singkat.
"lalu, kenapa kau melepas bajuku?" tanya Yunho lagi. Changmin tersenyum, ia menyingkirkan poni Yunho yang menutupi wajah namja itu.
"bajumu basah kemarin, jadi aku melepasnya. Dan aku terlalu malas untuk memakaikan baju baru untukmu." jawab Changmin dengan cengirannya. Yunho menghela nafasnya.

"lebih baik kau pulang sekarang." ucap Yunho, sembari berusaha mendudukkan dirinya. Changmin menggeleng dan justru memeluk kembali pinggang Yunho, membuat namja itu kembali berbaring disampingnya. Yunho menghempas tangan Changmin dipinggangnya, menjauh dari tubuh Changmin dan turun dari ranjang.
"jangan berani-berani menyentuhku, brengsek!" desis Yunho sembari menatap tajam pada Changmin. Changmin menghela nafasnya, mendudukkan dirinya dan memandang Yunho dengan mata sayunya.
"aku tidak brengsek, yun" gumam Changmin, sedikit banyak ia tidak terima dipanggil brengsek oleh orang yang dicintainya. Yunho mendengus kasar, berjalan perlahan mendekati tempat Changmin berada.
"apa yang kau lakukan?" tanya Changmin panic saat Yunho mencengkeram kerah kemejanya. Yunho menyeringai kecil.
"apa yang kulakukan? Apa yang seharusnya kulakukan."

Bugh!

Yunho memukul pipi kanan Changmin, membuat tubuh namja itu terhempas kebelakang. Changmin segera bangun, kembali duduk diposisinya semula. Tangannya meraba wajahnya, meringis kecil saat merasakan nyeri di pipi kanannya.
"Yun!" refleks Changmin berteriak saat Yunho menarik kasar lengannya dan menghempasnya di lantai kamar. Yunho tertawa kecil melihat Changmin kesakitan.
"aku seperti seorang psiko yang menyiksa orang lain untuk kebahagianku." ucap Yunho. changmin terdiam, memandang Yunho dengan wajah sendunya.
"dan sejujurnya aku tak bahagia."
Bugh!
Yunho kembali memukul Changmin. Ia mencengkeram kerah Changmin dan mengangkat tubuhnya hingga berdiri didepannya. Ia melepas cengkeramannya dan memandang tajam ke arah Changmin yang kini berdiri dan juga tengah memandang kearahnya. Mereka terdiam, saling bertatapan dengan pandangan yang sirat akan makna. Changmin meringis kecil saat akan membuka mulutnya, pipinya terasa sangat nyeri untuk digerakkan. Yunho mendecih melihat itu, ia maju selangkah dan tanpa Changmin sadari, ia melangkah mundur.

"aku membencimu!"

Bugh!Yunho kembali memukul Changmin, melangkah maju saat tubuh Changmin terdorong kebelakang.

"aku membencimu!" Yunho memukul Changmin lagi. selangkah mendekati Changmin saat namja itu terdorong kebelakang karena pukulannya. Changmin hanya diam, membiarkan Yunho memukul tubuhnya berkali-kali hingga kini ia terduduk dengan dinding dibelakangnya. Lebih dari 5 pukulan yang ia dapat dari Yunho. bibirnya berdarah, wajah dan tubuhnya dapat dipastikan mendapat lebam yang tak sedikit.
"aku membencimu karena aku tak bisa membencimu, bodoh!" Yunho berteriak di depan Changmin yang kini memandangnya dengan tatapan sayu.

Yunho terdiam, menatap lama wajah Changmin yang sedari tadi ia pukul. Terlihat lebam yang menghiasi wajah namja itu, bahkan darah yang keluar dari luka di bibir Changmin kini mengalir hingga mengotori kemeja namja itu. Yunho mendesah pelan, mengusap wajahnya kasar. Ia melangkah mendekati Changmin dan mengulurkan tangan kanannya ke arah namja itu.
"ayo kuobati lukamu."

.

.

.

"kali ini saatnya diriku yang melakukan apa yang harus kulakukan." Changmin mencengkeram lengan Yunho yang akan melangkah menjauhinya. Yunho yang berniat berdiri dari sofa dan mengembalikan kotak P3K yang tadi ia pakai untuk mengobati Changmin kini terdiam. Membiarkan Changmin menarik tubuhnya hingga kini kembali duduk disamping namja itu.
"kujelaskan tentang hal yang sebenarnya terjadi padaku 3 tahun yang lalu." Changmin tahu, tubuh Yunho secara refleks menegang saat mendengar kalimatnya barusan. Changmin menggeser tubuhnya hingga kini bahunya menyentuh bahu Yunho. yunho menoleh, menatap Changmin dengan salah satu alisnya terangkat.
"berbaliklah kemari." pinta Changmin lembut. Ia menarik bahu Yunho hingga kini mereka bertatapan.

"dengarkan ceritaku dan jangan menyelanya." ucap Changmin. Yunho hanya diam, dan Changmin menganggap itu sebagai jawaban 'ya'.

"jadi, kau tentu masih ingat malam terakhir kita di apartementmu. Saat itu tak ada sekalipun terlintas dipikiranku untuk meninggalkanmu. Kita masih berangkat kuliah bersama, makan siang bersama, sampai beberapa saat sebelum pulang kuliah, appa menelponku. Appa bilang aku harus pulang saat itu juga. Aku yang masih menunggumu keluar dari kelas terakhirmu terpaksa menuruti perintah appa. Dan saat itu, aku mempunyai firasat tak menyenangkan. Aku sudah akan mengirimimu pesan, tapi ternyata appa sudah menungguku didepan gerbang universitas, membuatku yang akan mengeluarkan ponsel jadi tertunda. Aku mengikuti appa menuju ke rumah dan men-"

"langsung ke intinya. Aku tak suka kau bertele-tele. Aku seperti mendengar sebuah dongeng dan ingin tidur lagi." potong Yunho. Changmin tersenyum dan mengecup sekilas bibir Yunho, membuat namja itu membelalakkan matanya terkejut.

"arkh!" Changmin meringis kecil saat bibirnya terasa nyeri. Yunho memutar bola matanya memberi tatapan -sudah-tahu-sakit-.

"aku lanjutkan." ucap Changmin sembari tersenyum kecil. Yunho hanya menghela nafasnya.

"appa merebut ponselku dan membuka-bukanya. Aku tak tahu apa yang membuat appa melakukan itu, sampai appa menunjukkan foto dimana kita sedang berciuman dari ponselku. Aku kaget! Tentu saja, appa tak tahu soal ini sebelumnya. Dan ternyata, appa mengetahui hubungan kita saat ia menemukan fotoku yang sedang mencium pipimu dikamarku. Appa marah besar. Ia memukulku, mengurungku dikamar untuk merenungkan apa yang sudah kulakukan." Changmin terdiam sejenak, menghirup nafasnya sebelum melanjutkan ceritanya. Ia meringis kecil, merasakan nyeri dibibirnya. Yunho hanya diam, mencoba mendengarkan cerita Changmin baik-baik dan mengabaikan luka di tubuh Changmin yang ia torehkan.

"tiga hari aku tidak boleh keluar kamar. Seluruh alat komunikasiku diambil oleh appa. Dan saat hari ketiga aku lost contact denganmu, appa menyuruhku pergi ke luar negeri. Ani, bukan hanya aku, tetapi seluruh keluargaku. Appa juga meminta semua mengganti nomornya, dan mengancam siapapun yang berusaha menghubungimu. Sebagai seorang mahasiswa tengah semester, tentu saja aku menurut. Aku belum mampu hidup sendiri tanpa kedua orang tua. Katakan aku manja at-"

"kau memang manja." Yunho memotong ucapan Changmin sembari memutar bola matanya jengah. Changmin berusaha tertawa, tapi nyeri itu datang lagi saat ia akan membuka mulutnya. Ia hanya mengerucutkan bibirnya kesal. Yunho tertawa kecil tanpa sadar saat melihat wajah Changmin, membuat namja itu mengulum senyum melihat tawanya.
"aku kuliah diluar negeri, tepatnya di Jepang. Mendapat gelar dokterku dan menemui appa lagi. sekian lama aku tidak menyebut namamu di depan appa, dan saat aku menyebut namamu, appa langsung memandang nyalang ke arahku. Dan saat aku bilang bahwa aku akan kembali ke korea dan melanjutkan hidup di sini, appa memukulku. Lagi. kali ini lebih keras. Ia benar-benar menentang hubungan kita. Appa berusaha keras untuk membuatku kembali normal. Bahkan ia sudah menjodohkanku dengan banyak yeoja saat di Jepang. Ia selalu mengancam akan menendangku dari rumah dan tidak akan menganggapku sebagai anak lagi. dan aku sudah tak peduli lagi akan hal itu. Aku sudah muak menjadi anak penurut selama ini. Aku sudah merasa mampu membiayai hidupku sendiri. Dan akhirnya, aku langsung bertemu denganmu begitu aku membeli apartement di sini. Eomma dan nae yeodongsaeng juga setuju terhadap tindakanku. Eomma hanya ingin kebahagianku, itu yang dikatakannya saat aku meminta restu darinya" ucap Changmin mengakhiri penjelasannya. Yunho terdiam, ia memandang Changmin lama, mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua yang dikatakan Changmin tadi bukan sebuah bualan namja itu.

"Min?" panggil Yunho pelan. Changmin tersenyum mendengar panggilan Yunho.

"ne?"

"kau masih mencintaiku?" tanya Yunho. Changmin menautkan alisnya mendengar pertanyaan Yunho.

"tentu saja! Aku sudah mengatakan hal itu berkali-kali padamu." jawab Changmin. Yunho lagi-lagi diam. Ia tak tahu apa yang harus ia katakan pada Changmin sekarang.

"lalu, apa kau masih mencintaiku?" kali ini Changmin yang bertanya. Yunho menggeleng lemah.

"molla. Aku tak tahu perasaanku saat ini." jawab Yunho jujur. Changmin tersenyum dan mendekatkan tubuhnya pada Yunho, memeluk namja itu.

"aku tahu kau masih mencintaiku. Aku tahu itu." ucap Changmin. Yunho balas memeluk Changmin, menenggelamkan wajahnya di leher namja yang lebih tinggi darinya itu.

"akh! Jangan memelukku terlalu erat. Pukulanmu sakit, babo!" teriak Changmin. yunho tersenyum kecil.

"itu pantas kau dapatkan." bisik Yunho. Changmin tersenyum di tengah pelukannya.
"aku sangat mencintaimu"

.

.

.

"jadi, sekarang kalian kembali bersama?" tanya Yoochun pada pasangan ChangHo didepannya. Yunho hanya terdiam, menyesap capucinonya, tak berniat menjawab pertanyaan Yoochun. Berbanding terbalik dengan Changmin yang mengangguk antusias dan memeluk pinggang Yunho erat.

"ne. aku dan Yunho sekarang sudah kembali." jawab Changmin. Yunho memutar bola matanya malas mendapati reaksi Changmin yang terlalu berlebihan menurutnya. Yoochun dan Junsu yang ada disana mendesah lega.

"akhirnya kau bahagia, hyung." ucap Junsu. Yunho tertawa mendengar ucapan Junsu.
"seperti aku selama ini menderita saja." gumam Yunho. Junsu mengangguk.
"kau memang menderita. Kau tak melihat bagaimana tampangmu saat Changmin menghilang dulu. sangat mengenaskan. Kau bahkan menghancurkan apartementmu dan tidak makan selama 3 hari. Kau sangat tidak karuan saat itu hyung." jelas Junsu. Yunho merengut tak terima.
"hey! Tidak seperti itu juga kali." balas Yunho kesal. Mereka tertawa memandang wajah tak terima Yunho. Changmin mencengkeram lembut pinggang Yunho, membuatnya menoleh dan memandang Changmin bingung.

Chu~

"mianhae." ucap Changmin setelah sebelumnya mengecup cepat bibir Yunho. Yunho hanya mengerjapkan matanya bingung. Yoochun dan Junsu yang melihat itu terkikik geli.
"kau menggelikan, Yun~ bagaimana mungkin kau bertekuk lutut untuk bocah evil seperti dia!" ucap Yoochun, menyuarakan pikirannya. Yunho semakin merengut mendengar kalimat Yoochun.

"terserahlah!" ucap Yunho ngambek. Ia tak suka digoda seperti ini. Yang lain kembali tertawa menyadari Yunho mengambek.

"eh, jadi orang tuamu masih menentang hubungan kalian?" tanya Yoochun. Changmin mengangguk.

"ne. bahkan kau tahu hyung, aku benar-benar sudah tidak dianggap anak oleh appa." jawab Changmin. Yunho terdiam, menyentuh paha Changmin disampingnya.
"kau tak apa dengan keadaan seperti ini?" tanya Yunho khawatir. Changmin tersenyum.
"gwenchana. Asal bersamamu aku rela." jawaban Changmin yang mampu membuat seorang Jung Yunho merona.
"dasar!" Yunho memukul pelan paha Changmin yang tadi ia sentuh. Yoochun dan Junsu lagi-lagi tertawa.

"pemandangan langka melihat Yunho hyung merona." ucap Junsu di tengah tawanya. Yunho menghela nafasnya.
"ayo, Min kita pulang! Tak ada gunanya bertemu dengan dua orang menyebalkan ini." ucap Yunho. ia sudah beranjak dari duduknya, menarik lengan Changmin agar ikut berdiri juga.

"hey, hey! Jangan marah, Yun. Aku dan Junsu hanya bercanda." ucap Yoochun. Junsu mengangguk membenarkan. Changmin tersenyum,menarik lengan Yunho dan menyuruhnya kembali duduk.

"mereka benar, Yun. Lebih baik kita di sini dulu. lagipula kita pulang mau melakukan apa?" tanya Changmin. Yunho menghela nafasnya lalu kembali duduk.

"aku benar-benar akan membunuh kalian jika kalian menertawakanku lagi." ancam Yunho. Changmin tersenyum mendengar ancaman Yunho.
"eh, tapi aku cukup penasaran. Siapa yang memukulmu, Min? wajahmu terlihat membiru dibeberapa tempat." ucap Junsu sembari menatap wajah Changmin lekat-lekat. Yunho tertawa keras, berbanding dengan Changmin yang memegang wajahnya dengan helaan nafas kecewa.
"apakah masih terlihat jelas? Ah~ aku menyesal tidak memakai make up yang lebih tebal" ucap Changmin lirih. Junsu dan Yoochun saling bertatapan sesaat sebelum kembali memandang wajah Changmin.
"jangan-jangan Yunho yang memukulmu?" tebak Yoochun. Changmin memajukan bibirnya kesal. Harga dirinya sebagai seme terluka karena mendapat pukulan dari uke-nya (?).
"yah~ kau tahu sendiri bagaimana Yunho ketika marah dan sudah mengeluarkan jurus hapkidonya." jawab Changmin sembari menatap tak semangat pada Junsu dan Yoochun. Yunho berhenti tertawa dan menepuk pelan pundak Changmin.
"mian, mian. aku hanya terlalu emosi." bela Yunho. Changmin semakin memajukan bibirnya.
"dasar!" gumam Changmin. Ia menatap Yunho yang tertawa lagi, kali ini bersama Junsu dan Yoochun.

"Kita pulang sekarang, yuk!" ucap Changmin tiba-tiba, membuat ketiga orang disana menghentikan tawanya. Yoochun dan Junsu memandang Changmin bingung.

"wae? Kenapa tiba-tiba mau pulang?" tanya Yoochun. Changmin mengangkat ujung bibirnya, menampilkan smirk yang entah mengapa membuat Yunho sedikit merinding.

"aku akan melakukan sedikit 'olahraga' dengan Yunho, yah~ anggap saja sebagai hukuman untuk Yunho karena telah memukulku" bisik Changmin yang mampu didengar oleh tiga namja disana. Junsu dan Yoochun terdiam, memandang horror ke arah Changmin yang masih menyeringai dan Yunho yang melotot mendengar ucapan Changmin yang menurutnya tidak pantas didengar oleh Yoochun dan Junsu.

"dasar pervert!" ucap Yunho. ia memukul kepala Changmin, membuatnya meringis kesakitan. Junsu dan Yoochun yang melihat itu mau tak mau terkikik geli.

"Yun." panggil Changmin pelan. Yunho yang tadi memandang Junsu dan Yoochun yang tengah terkikik menoleh, memandang Changmin.

"saranghae." ucap Changmin tulus. Yunho tersenyum, mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Changmin.

"hm, I know it." balas Yunho.

"argh! Bisakah kalian tidak bermesraan didepanku terlalu sering?! Lama-lama mataku iritasi" geram Yoochun frustasi. Junsu tertawa mendengar gerutuan Yoochun.

"eum, kami tak yakin bisa melakukan itu." ucap Changmin. Yunho tertawa.

"terserahlah! Yang penting kalian bahagia." ucap Yoochun. Yunho terdiam, ia memandang lama ke arah Yoochun.

"wae?" tanya Yoochun begitu menyadari pandangan Yunho.

"gomawo, Chun. Aku berhutang banyak kepadamu." ucap Yunho. Yoochun tersenyum. "kau kan sudah kuanggap saudaraku, Yun. Santai saja." balas Yoochun. Yunho tersenyum haru mendengar itu.

"dan juga untukmu , Su. Gomawo." tambah Yunho. Junsu juga tersenyum. "cheonma!" jawabnya pelan. Changmin merengut mendengar ucapan terima kasih Yunho untuk dua namja didepannya itu.

"ucapan terima kasih untukku?" tanya Changmin kesal. Yunho tersenyum, mendekatkan wajahnya dengan wajah Changmin. "gomawo, chagi~" bisik Yunho tepat di depan bibir Changmin. Membuat Changmin langsung membungkam bibir Yunho, sensasi geli akibat terpaan nafas Yunho di bibirnya membuat gairahnya entah mengapa meningkat.

"malam ini kau benar-benar akan kuhabisi." bisik Changmin setelah melepas ciuman sesaatnya. Yunho tertawa.

"as you wish, Min~"

.

.

.

"kau lelah?" Tanya Yunho saat Changmin langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa begitu masuk ke dalam apartement. Berbaring di sofa panjang depan TV. Sudah sebulan sejak mereka berbaikan, kini mereka juga sudah tinggal di apartement yang sama, berbagi ruang bersama, bahkan berbagi ranjang bersama.

"hn, hanya sedikit banyak pasien hari ini." Changmin menjawab dengan gumaman kecil. Yunho tersenyum maklum. Sebagai dokter, terkadang Changmin bisa pulang lebih dulu daripada Yunho, atau pulang lebih larut darinya. Seperti saat ini. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam dan Changmin baru saja sampai di apartement.

"perlu kusiapkan air hangat?" tawar Yunho. Changmin menggeleng. "aku berencana langsung tidur. Aku terlalu malas hanya untuk mandi." Jawab Changmin. Yunho menghela nafasnya. Akan repot saat Changmin sudah mulai bersikap kekanakan seperti ini, bagaimanapun umurnya yang lebih tua dari Changmin terkadang membuatnya harus bisa bersikap lebih dewasa dari kekasihnya itu.

"kau tetap harus membersihkan dirimu dulu sebelum tidur, Min." ucap Yunho. ia menghampiri Changmin dan mengangkat alisnya saat melihat sofa yang penuh oleh tubuh Changmin yang berbaring di sana. Yunho menyeringai kecil melihatnya. Tanpa aba-aba, ia menduduki perut rata namja itu.

"arkh! Kau semakin berat, Yun!" ucap Changmin sembari mendorong Yunho agar turun dari tubuhnya. Ia bangun dan duduk di sofa itu begitu Yunho bangkit berdiri.

"kau menyebalkan!" Yunho merengut kesal. Meski ia memang membenarkan ucapan Changmin barusan. Ia merasa bertambah gemuk. Tapi tidak harus diungkapkan se-frontal itu juga, kan?!

"hey, hey, jangan mengambek! Kemarilah, duduk disini." Ucap Changmin sembari menepuk sofa disampingnya. Yunho menurut meski masih dengan bibirnya yang mengerucut kesal. Changmin tertawa. Yunho memang bisa membuat mood-nya naik turun. bahkan kini rasa lelahnya menguap entah kemana.

"kau senang hidup denganku lagi?" Tanya Changmin sembari memainkan rambut Yunho yang kini bersandar dibahunya. Yunho mengangguk kecil. "tentu saja." Jawabnya yakin.

"apa kau sudah bahagia dengan hubungan kita seperti ini?" Tanya Changmin lagi.
"iya. Aku sudah sangat bahagia." Jawab Yunho. ia memejamkan matanya nyaman saat Changmin kini menyusupkan tangannya di balik punggungnya dan mengelus lembut bahu kanannya.

"apa menurutmu kita perlu sebuah ikatan resmi?" Tanya Changmin. Yunho mengerutkan alisnya, matanya terbuka. "kurasa tidak perlu. Kita sudah bahagia dengan keadaan seperti ini. Kita saling memiliki, kita sudah ada untuk satu sama lain, kita bahkan sudah tinggal bersama. Hal seperti itu kurasa tak perlu lagi." jawab Yunho. Changmin menghela nafasnya.

"tapi aku ingin mengikat hubungan kita dengan ikatan resmi." Ucap Changmin. Yunho mengangkat kepalanya, memandang Changmin dengan ekspresi terkejut diwajahnya.

"apa sekarang kau sedang melamarku, Min?" Tanya Yunho. Changmin terkekeh melihat wajah terkejut Yunho. "yah, bisa dibilang begitu." Jawab Changmin sembari mengedikkan bahunya acuh. Yunho mencibir kecil.

"dasar tak niat!" ucap Yunho ketus. Ia kini merebahkan tubuhnya dengan paha Changmin sebagai bantalnya, ia sedikit mengantuk. "setidaknya jika ingin melamarku, lakukan dengan lebih romantis." Tambah Yunho. Changmin tersenyum, ia menundukkan wajahnya dan mengecup cepat bibir Yunho.

"saranghae~" ucap Changmin. Yunho tersenyum, menatap lekat kedua manik Changmin yang kini juga tengah menatapanya, merasakan getar nyaman yang kini menyerangnya lagi. ia tahu, rasa itu kembali.

"nado saranghae." Jawab Yunho yakin. Changmin tersenyum semakin lebar. Selama ini ia belum mendengar kalimat cinta itu terlontar secara langsung dan jelas dari bibir Yunho.

"aku akan menikahimu." Ucap Changmin. Yunho mengerutkan dahinya tak suka.

"seharusnya kau bertanya padaku, bukan langsung mengucapkan kalimat itu." Ucap Yunho. Changmin tersenyum."aku bertanyapun jawabanmu pasti iya. Jadi kenapa harus bersusah payah bertanya padamu?!" Changmin menyeringai melihat Yunho menganggukkan kepalanya.
"yah, ucapanmu benar juga." Ucap Yunho akhirnya. "tapi, kenapa kau ingin menikah denganku? Tidakkah cukup kehidupan kita sekarang?" Tanya Yunho. Changmin merundukkan wajahnya dan mencium bibir Yunho lagi. kali ini mengulumnya pelan.

"karena aku ingin kita memiliki sebuah ikatan sah yang membuat kita akan bersama selamanya. Karena aku ingin mengikatmu untukku sendiri. Biar semua orang tahu, kau milikku!" Jawab Changmin tepat di depan bibir Yunho. Yunho mendesah kecil, nafas Changmin yang menerpa bibirnya membuat ia bergerak tak nyaman.

"Min, jangan menggodaku. Iya, iya. Aku akan menikah denganmu." Ucap Yunho saat Changmin tidak menjauhkan wajahnya. Changmin terkekeh dan menegakkan kepalanya lagi. ia membelai sayang rambut Yunho.

"dasar egois!" ucap Yunho pelan. Changmin terkekeh lagi. ia menarik lengan Yunho, membuat namja itu duduk disampingnya.

"egois hanya dan selalu untukmu, sayang~" ucap Changmin sembari memeluk tubuh Yunho. Yunho tertawa, membalas pelukan Changmin.

"kita akan selalu bahagia." Ucap Yunho pelan. Ia menenggelamkan wajahnya di leher Changmin, memejamkan matanya nyaman.

"Ya, kita akan selalu bahagia."

.

.

.

END

.

.

.

"Min…"

"Hn?"

"apa aku sudah pernah memberitahumu?"
"Apa?"

"kau semakin tampan"

"uhukk! Mwo?!"

"…" /

"aku memang tampan."

"…" -_-

"kenapa?"

"aku menyesal memujimu."

*abaikan!*

.

.

.

Iya, iya. Saya tahu ini cerita mainstream banget! Tapi mau gimana, lagi?! Nggak ada ide buat tuch couple yang baru aja aku kenal. Lagipula aku bukan tipe orang yang suka buat FF dengan konflik banyak dan berkepanjangan. 3 chapter sudah cukup panjang bagiku. -,-

PS : Buka folder lama, eh, ketemu foto Yunho pre-debut, waktu lagi foto ama Jaejoong and Heechul. Gila! Dia imut banget dengan gingsul-nya! Kya~ . *abaikan*

Dan ini sebagai FF terakhir saya sebelum hiatus. Yah~ sekitar kurang lebih satu atau dua bulan kedepan saya tidak akan aktif di FFn, karena tugas sekolah yang menumpuk, dilanjutkan ujian kenaikan kelas, lalu study tour. Yah~ sebagai pelajar, tugas utama saya memang belajar, kan?! So, hontou ni gomennasai, minna san~ *bow*

Oke, oke, don't forget to Review, ne? ._.