~The Dormitory~

.

Super Junior © SM Entertainment

.

Chapter 4 :

Love?

.

Rating : T

.

Cast :

Super Junior's members and the others support cast.

.

Pairing :

Super Junior's Pure Pairs.

.

Genre :

Romance, Friendship, School Life.

.

Warning :

Boys Love, Typo(s), Confusing Plot, AU, a Little OOC, Over.

.

~oOo~

.

Flames Are Not Allowed!

~Don't Like, Don't Read~

.

~oOo~

.

.


-Kelas 11-C-

Lee Hyukjae menatap jenuh pada seorang namja dan seorang yeoja yang sekarang sedang duduk di hadapannya layaknya bos mafia yang tengah menginterogasi anak buahnya.

"Mau apa lagi?", tanya Eunhyuk malas sembari memainkan bolpoin hitam di tangannya. Memutar-mutarnya asal.

"Mau sampai kapan kau akan terus berpihak pada 'mereka'?", ucap seorang namja berwajah sedikit kotak kepada Eunhyuk.

"Hh~", satu helaan panjang sebagai jawabannya.

Eunhyuk amat sangat hafal dengan perangai kedua teman sekelasnya ini. Ia tahu benar kemana arah pembicaraan mereka selanjutnya. Dan bisa dibilang, ini bukan yang pertama kalinya Eunhyuk menghadapi situasi seperti ini. Mungkin sudah yang keseratus kalinya, entahlah..

"Jauhi 'mereka'!", kali ini ganti si yeoja yang angkat bicara.

Tidak ingin berlama-lama meladeni pembicaraan tak penting ini, Eunhyuk segera menegakkan posisi duduknya. Memicing sekilas pada kedua sosok yang masih senantiasa menunggu reaksi darinya tersebut, sebelum beranjak dari bangkunya.

"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menjauhi 'mereka' apalagi memusuhi 'mereka' seperti yang kalian lakukan, Simon-ssi, Tiffany-ssi.", ujarnya penuh penekanan.

Ia berlalu meninggalkan dua orang yang saat ini tengah memandang punggungnya dengan geram. Bahkan namja yang bernama Simon itu nyaris meremukkan handphone yang sedari tadi digenggamnya.

Namun sebelum Eunhyuk benar-benar keluar dari kelasnya yang saat itu memang sedang sepi, ia berhenti. Menoleh sebentar tanpa berbalik tubuh.

"Percayalah, para murid Ocean itu tidak seperti yang kalian pikirkan! Tidak ada gunanya kalian membenci mereka!"

"Kau itu hanya dimanfaatkan, Lee Hyukjae!"

Sejenak Eunhyuk menghentikan langkahnya, sesaat setelah mendengar teriakan dari yeoja bernama Tiffany tersebut. Hanya sebentar, karena selanjutnya ia hanya meringis kecil lalu benar-benar pergi dari tempat itu.

'Kalian tidak tahu apa-apa.'

.

.

Brak!

"Lee Donghae sialan itu pasti sudah meracuni otaknya!", seru Simon geram.

Sebelum handphone di tangannya benar-benar hancur, Tiffany segera merebutnya. Membuka flipnya dan men-dial nomer yang ada pada recent call.

'Yeoboseyo?'

"Sepertinya Hyukjae tidak bisa diajak kompromi lagi!"

'...'

"Ya! Jungmo-ya! Kenapa diam saja?"

'Aku tidak suka dengan musuh dibalik selimut. Tapi baiklah, kalau itu Hyukkie, aku tidak masalah.'

Pip!

"Apa katanya?"

"Masukkan Lee Hyukjae dalam daftar musuh kita!"

.

.

Kita tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya tersembunyi dibalik fisik seseorang sebelum kita mau mencoba untuk membuka hati dan berbaur dengan orang tersebut.

Apa yang dapat dinilai dari kedua mata kita, belum tentu sesuai dengan visualisasinya.

Membenci seseorang yang bahkan tidak pernah kita kenal sungguh merupakan suatu kesalahan besar.

'Siapa hitam? Siapa putih?'

Begitulah..

Ada garis pemisah yang membentang antara mereka para siswa asrama Blue dan Sapphire dengan mereka para siswa asrama Ocean. Garis yang membatasi pergaulan di antara mereka.

Garis yang membuat seolah-olah mereka ada di dua dunia yang berbeda. Dunia yang mungkin tak akan pernah bisa bersatu.

'Jangan dekati Lee Donghae! Dia hanya akan merendahkanmu, Hyukkie!'

-Apa?

-Apa salah Donghae?

'Aku tidak akan pernah menjauhinya! Kalian dengar itu hah? Kalian mau memukulku? Silahkan!'

'Hyukjae murahan!'

'Hyukkie, kau harus semangat!'

Ingatan-ingatan masa lalu itu bagaikan melody yang senantiasa berputar di otaknya. Hina'an, cacian bahkan makian sudah menjadi bumbu tersendiri dalam perjalanan hidupnya.

Eunhyuk menghela nafas panjang. Dia memang tidak sepandai Cho Kyuhyun, tapi ia cukup puas dengan hati bersih yang selalu ia miliki. Karena dengan itu, ia bisa melihat sisi lain dari kelompok yang selalu dibenci oleh teman-teman seasramanya. Sisi lain yang membuat hidupnya jauh lebih berwarna.

Lee Hyukjae menemukan keluarga baru yang sangat menyayanginya. Dan ia tak pernah menyesali itu.

.

~oOo~

.


-Ruang Kepala Sekolah-

"Bapak benar-benar bangga denganmu, Siwon-ssi!"

Namja paruh baya berfisik tinggi tegap itu menyunggingkan senyum lebarnya pada Siwon. Menjabat tangan Siwon erat dan menepuk-nepuk bahunya.

"Tidak salah jika kau terpilih menjadi Presiden Siswa sejak kau baru masuk tahun ajaran pertama dulu."

"Kamsahamnida, gyojangnim."

"Bapak harap, tahun ini kau akan terpilih kembali menjadi presiden siswa. Sungguh SM International sangat berterima kasih padamu. Kau sudah membuat citra kami di mata sekolah lain menjadi naik dengan signifikan berkat kemampuanmu saat program study banding beberapa bulan yang lalu."

Choi Siwon tersanjung. Kepala sekolahnya ini selalu saja menganak emaskannya. Tapi bukan berarti ia tidak suka akan hal itu. Hanya saja Siwon merasa tidak enak hati. Ia berjuang demi nama sekolah ini hingga keluar negeri dengan tulus. Ia sudah cukup puas dengan menyumbangkan medali dan trophy pada beberapa ajang olimpiade yang diikutinya. Ia tidak perlu sanjungan berlebih seperti ini. Baginya, itu terlalu muluk..

"Tapi sayang sekali, sepertinya tahun ini rivalmu untuk memperebutkan kursi presiden siswa nampaknya akan cukup sulit."

Siwon terdiam. Selama ini semua calon kandidat presiden siswa pasti bukanlah murid sembarangan. Tapi, jika kepala sekolah sendiri yang sudah memperingatkannya seperti ini, hal tersebut pastilah bukan main-main.

"Ehm, kalau boleh saya tahu, siapa yang akan menjadi kandidat terberat dalam pemilihan presiden siswa tahun ini, gyojangnim?"

Sang Kepala Sekolah tersenyum sekilas. Senyum yang berarti menenangkan sekaligus penuh makna.

"Ia akan kemari sebentar lagi, tunggulah.."

.

Tok tok tok!

"Permisi gyojangnim."

"Nah, itu dia orangnya! Kau akan segera tahu!", ucap sang kepala sekolah misterius.

"Masuklah!"

Dan saat sosok itu memasuki ruangan, Siwon reflek membelalakkan matanya. Mencoba menatap jauh ke dalam sepasang bola mata namja yang saat ini sedang berdiri acuh di hadapannya-memastikan tidak ada yang salah dari pengelihatannya. Namun mata yang tersembunyi di balik bingkai hitam itu hanya balas memandang Siwon dingin. Sejenak, Siwon tercekat..

"Dialah salah satu kandidat presiden siswa tahun ini, Siwon-ssi. Semoga kalian bisa bersaing secara sehat. Tolong perkenalkan dirimu, nak."

Dengan masih mempertahankan sikap acuh nan dinginnya, namja itu memperkenalkan diri, yang ia tahu semuanya hanya untuk formalitas belaka.

"Kim Kibum imnida."

.

.

"Kau tidak main-main ya, Bummie.."

Satu ucapan menggoda meluncur dari bibir Sang Presiden Siswa tampan satu ini.

"Jangan memanggilku seperti itu, Choi Siwon-ssi.", tandas Kibum dingin.

Mereka berjalan beriringan begitu keduanya keluar dari ruang kepala sekolah beberapa menit yang lalu. Sebenarnya tidak beriringan, hanya saja Siwon yang masih penasaran dengan dicalonkannya Kibum sebagai kandidat saingannya kelak, membuatnya ingin sekali mengorek alasan dari namja berhati es tersebut. Ia pun berusaha menyamai langkah Kibum yang secepat kilat itu.

"Kenapa kau senekat ini?"

Kibum menoleh tajam. Sebentar. Karena setelahnya ia kembali menatap depan.

"..."

"Kau tidak akan menang, Bummie. Kutu buku sepertimu tidak akan bisa menjadi leader."

Reflek Kibum menghentikan langkahnya. Kedua telapak tangannya mengepal erat. Sungguh ia ingin menonjok habis namja sombong di sampingnya itu.

"Jangan sok mengenal siapa aku!", geramnya tanpa sedikitpun menatap Siwon. "Satu lagi! Akan kubuktikan kalau aku bisa mengalahkanmu! Jadi siapkan saja masa-masa kehancuranmu, Tuan Presiden Siswa yang terhormat."

Namja itu berlalu. Melanjutkan langkah seribunya tanpa seujung kuku pun mengindahkan Siwon yang tengah terpaku di tempatnya.

Punggung itu semakin menjauh. Tapi Siwon tak lagi berniat untuk mengejarnya. Ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan. Alasan seorang Kim Kibum.

'Ia benar-benar membenciku.', gumamnya miris.

.

~oOo~

.


-Kelas 11-B-

Kim Heechul masih menggerutu dalam diamnya. Letak bangkunya yang kebetulan bersebelahan langsung dengan jendela sungguh menjadi poin plus untuk keadaan moodnya saat ini.

Ia bisa saja meledak dan melakukan hal-hal lain yang lebih anarki, jika saja pemandangan danau buatan yang tersuguhkan jauh di bawah sana tidak cukup mampu untuk menekan emosinya.

Setidaknya dominasi warna hijau pepohonan dan gradasi pantulan warna air danau bisa sedikit menenangkannya.

"Kyuhyun itu memang seperti itu," kata Hankyung berusaha untuk menghibur Heechul. Karena jujur saja, sikap Heechul yang seolah ingin memakan orang itu benar-benar mengganggunya.

"Dia itu susah untuk menerima orang baru. Yah, kau tahu sendiri lah, dia sedikit kekanakan."

"Aku ingin dia cepat wajib militer!"

Sahutan Heechul membuat Hankyung terkikik kecil. Dia sungguh masih kesal dengan magnae satu itu.

Mendengar kekehan Hankyung, Heechul impuls menoleh ke samping kanannya. Memutuskan kontak matanya dari si cantik danau, dan beralih pada si tampan Hankyung.

"Bocah setan itu sudah kurang ajar padaku, Hannie~ Aku sungguh ingin mencuci otak mesumnya!", rajuknya manja. Hei, kemana sikap dinginmu beberapa detik yang lalu, Chul-ah?

"Haha, sudah kubilang kalau dia itu memang begitu. Tapi lambat laun, dia pasti bisa bersikap sopan padamu. Kyu itu sebenarnya anak yang baik.", sahut namja China itu tenang. Namun rupanya Heechul tidak menyukai cara berbicaranya.

Alis si namja berparas cantik itu bertemu. Bibir pinknya merenggut keras. Dan mata bundarnya menyipit tajam.

"Kau itu menyukai Kyuhyun ya?"

"Eh?", Hankyung terperangah. Jujur ia tidak paham dengan apa yang baru saja dilontarkan oleh mulut Heechul.

"Kau berbicara seolah-olah sudah mengenal Kyuhyun dari A sampai Z, bahkan secara tidak langsung kau juga memujinya! Apa itu namanya kalau bukan 'suka'?", cecar Heechul. Sungguh saat ini dada kirinya sedang berdenyut perih.

"K-kau ini bicara apa? Siapa yang menyukai Kyuhyun? Aku tidak tahu apa maksudmu kata-katamu."

Heechul memutar bola matanya malas. Wajah sok polos Hankyung membuatnya makin ingin mencakar tembok.

"Aish, jangan berpura-pura Hankyung! Kau menyukainya kan? Kau cinta dengan bocah itu kan?", desaknya.

Hankyung yang mulai jengkel dengan sikap Heechul sontak menutup buku paket kimianya cukup keras. Bukannya ia marah pada teman baru seasrama itu, ia hanya tidak suka jika ada seseorang yang tiba-tiba membelokkan arah pembicaraan mereka begitu saja.

"Aku tidak seperti itu, Kim Heechul!", tandasnya lalu beranjak dari bangkunya.

"Dan satu lagi-", tambahnya sebelum benar-benar meninggalkan Heechul.

"-aku ini namja straight!"

Dan Kim Heechul pun hanya mampu terdiam di tempatnya. Setajam-tajamnya ucapan Kyuhyun, ternyata kata-kata ringan Hankyung justru lebih berpotensi untuk mengoyak jantungnya.

Brak!

Satu buah bolpoin hitam melayang menghantam whiteboard. Huh, untung saja kelas sedang dalam kondisi kosong. Mood Heechul sudah rusak total!

.

~oOo~

.


-Kelas 11-A-

Masih amat lekat gambaran namja itu dalam benaknya. Ini sudah kedua kalinya Kyuhyun tidak bergabung dengan teman-temannya yang lain saat bel istirahat memanggil.

Pikirannya sedang sibuk memainkan cuplikan-cuplikan gambar wajah bak malaikat yang ditemuinya pagi tadi dalam sebuah adegan slow motion yang berpendar-pendar.

"Hh~ Siapa sih dia.."

Kyuhyun bertanya pada udara. Kebodohannya adalah, ia langsung pergi saat namja bermata foxy tadi mengatakan kalau ia adalah murid kelas sepuluh. Hanya itu. Entah karena Kyuhyun yang terlalu salah tingkah atau karena ia memang mengganggap sosok itu benar-benar seorang malaikat dalam arti harfiah-sehingga ia memutuskan untuk langsung pergi begitu saja. Tapi yang jelas, sekarang ia sedikit menyesali tindakannya.

"Oi!", sebuah suara berat menyadarkannya.

Namja bersurai eboni itu menoleh, kembali berpijak pada dunianya.

"Ayo ke kantin!"

"Aku belum lapar, Hyung!", sahutnya malas. Membuat namja yang mengajaknya mendecih pelan.

"Masih marah dengan Heechul hyung?"

Kali ini Kyuhyun sedikit tersentak. 'Kok Heechul?', batinnya.

"Aniya. Sudah kebal.", jawabnya ketus.

"Lalu?"

"Aish, kau ini 'kepo' sekali sih hyung! Baiklah kita makan, tapi kau yang traktir!", Kyuhyun menyeringai. Semakin lebar saat mengetahui Hyung-nya yang bertubuh proporsional itu bergidik ngeri.

Dompetnya yang tebal akan menjerit kembali~ Oh Tuhan~

"Ya Siwon hyung! Kenapa diam saja! Ayo makan!", dan namja titisan devil itu menyeringai menang.

.

.

Seperti biasa, suasana kantin siang itu bak pasar grosir di akhir pekan. Lalu lalang ratusan manusia memadati seluruh penjuru surga kuliner tersebut seolah esok adalah hari puasa sedunia. Mayoritas dari pengunjungnya adalah mereka yang datang hanya untuk sekedar mengisi perut atau berbincang. Tapi tidak jarang juga yang menyalah gunakan kantin sebagai sarana beradu otak, adu kekuatan, dan adu kemolekan.

"Itu Leeteuk hyung dan yang lainnya masih di sana! Kajja!", ajak Kyuhyun bersemangat. Tapi tiba-tiba langkah Kyuhyun terhenti saat merasakan tangan Siwon menahan pundaknya.

"Bisakah kita tidak bergabung bersama mereka?"

Kening Kyuhyun otomatis mengkerut. Apa hari ini Siwon sedang bokek sehingga ia tidak mau bergabung dengan yang lainnya?-takut jika ia terpaksa harus menraktir semuanya?. Kyuhyun berspekulasi dalam pikirannya.

Tapi raut wajah Siwon lantas menghapus segala hipotesa-hipotesa ngawur Kyuhyun. Wajah stoic itu mengeras, seperti ingin menumpahkan sesuatu dalam dirinya.

"Baiklah. Terserah kau saja, hyung!", Kyuhyun akhirnya mengalah-tumben?

.

Makanan sudah tersaji di hadapan mereka berdua sejak 10 menit yang lalu. Seporsi Soon Dubu untuk Kyuhyun, dan seporsi Bulgogi untuk Siwon. Tapi yang saat ini tersuguhkan justru adalah, piring Kyuhyun yang sudah bersih dan piring Siwon yang masih penuh.

'Tadi katanya tidak lapar?', Siwon mencibir.

"Kyu.."

"Hm.."

"Apa menurutmu aku masih pantas menjadi Presiden Siswa untuk tahun ini?"

Kyuhyun mengangguk mantap sambil sibuk mengunyah suapan terakhirnya.

"Tentu saja! Selama aku masih belum mau mencalonkan diri, cuma hyung satu-satunya calon yang pantas untuk kembali menjabat kursi tertinggi organisasi itu!"

"Tapi mungkin persaingan tahun ini akan jauh lebih berat, Kyu.", timpal Siwon, malas meladeni kenarsisan dongsaengnya itu.

"Cih, seorang Choi Siwon pesimis? Mimpi apa aku semalam?", cibir Kyuhyun.

Timbul atmosfer keheningan dalam sesaat. Dalam sudut pandang Siwon tentu saja.

"'Dia' mencalonkan diri, Kyu. Ah, lebih tepatnya, dicalonkan..", Siwon meneguk teh ginsengnya sekali.

Sejenak, pandangan matanya menerawang. Kyuhyun bisa merasakannya, bahwa saat ini Hyungnya satu itu sedang benar-benar dalam kondisi tertekan. Dan satu-satunya hal yang bisa membuat sosok tegar Choi Siwon menjadi lunak seperti ini hanyalah...

"'Dia'? Kim Kibum?", lirih Kyuhyun cemas.

Siwon mengangguk berat. Irisan daging sapi yang semula menggugah selera kini hanya menjadi saksi bisu akan figur seorang Choi Siwon yang sedang dilanda badai dilema.

.

~oOo~

.


-Asrama Ocean, 22:05 pm-

Hankyung berbaring terlentang di atas kasur queen size-nya. Mata elangnya menatap lurus ke langit-langit kamarnya yang di dominasi oleh warna baby blue. Sebersit rasa lelah menghinggapinya. Tugas laporan Sejarah Korea sepanjang 30 lembar cukup menguras energinya malam itu.

Namun entah mengapa rasa kantuk tak kunjung menyapanya. Ia masih sembilan puluh persen terjaga. Tidak ada suara lain yang menyelimuti kamar itu kecuali deru halus dari coolpad Hankyung yang masih menyala.

"Sebaiknya aku minum susu. Bisa gawat jika aku terserang insomnia.", ucapnya bermonolog.

Hankyung meninggalkan kamarnya. Menuju pantry yang letaknya tidak terlalu jauh dari ruangannya.

Ia mengambil sebotol susu vanila dari dalam kulkas. Meneguknya langsung karena itu memang botol susu miliknya. Setelah dirasa cukup, Hankyung berniat untuk segera kembali ke kamarnya.

Tapi saat ia hendak menyentuh knop pintu, ada sesuatu yang menarik perhatiannya.

Balkon belakang asramanya..

.

Perlahan ia langkahkan kaki-kaki jenjangnya mendekati balkon. Ia tahu jika ada seseorang di sana. Tapi Hankyung justru melangkah seolah-olah akan menangkap basah maling jemuran.

Klek!

Dibukanya pintu kaca balkon tersebut. Namun rupanya seseorang yang saat ini sedang di sana dan tengah membelakanginya itu tidak menyadari kehadirannya. Ia tetap bergeming. Bahkan sampai Hankyung benar-benar mendekati sosoknya.

"Heechul?"

Sosok itu berjengit singkat. Pandangan matanya yang sedari tadi terpaku menatap kelamnya langit malam seketika beralih pada Hankyung yang sudah berdiri di sampingnya-canggung.

"Belum tidur?", tanya Hankyung basa basi.

"Belum ngantuk."

Hening kembali.. Desir angin mengambil alih.

"Kau kenapa juga belum tidur?", Heechul akhirnya bersuara.

"Belum ngantuk."

Heechul menoleh cepat. Tapi Hankyung masih setia menatap langit dengan ekspresi tenangnya.

"Ya! Kau jangan mem-beo ucapanku!"

Namja China itu terkikik geli. "Aku jujur kok. Bukan mem-beo."

"Menyebalkan!", dengus Heechul. Membuat Hankyung kembali terkekeh.

Sekilas Heechul melirik Hankyung. Namja ini.. Sudah lupakah ia dengan kejadian tadi pagi di kelas?

Dada Heechul bergemuruh di tengah heningnya malam. Semoga Hankyung tidak mendengar.

"Hankyung..", lirihnya.

"Ya?"

"Apa kau pernah jatuh cinta?"

Hankyung menoleh cepat. Secepat sengatan listrik yang tiba-tiba menyentuh sarafnya.

"Mungkin pernah.."

"Bagaimana rasanya?"

Heechul kembali melirik Hankyung. Tapi namja China itu hanya menengadahkan kepalanya menatap sesuatu yang jauh di atas sana.

"Entahlah.", Hankyung menggedikkan bahunya. "Rasanya aneh. Seperti ada yang menguncimu pada sesuatu yang tak terlihat. Seperti tubuhmu sedang dirasuki oleh sesuatu yang sangat hangat. Dan organmu yang bekerja di luar kendalimu."

"Kau sendiri, pernahkah jatuh cinta?"

"Mungkin pernah.", Heechul tersenyum hambar.

"Ya! Sekarang kau yang mem-beo!", sungut Hankyung.

"Eh? Aku kan hanya berkata jujur!", bela Heechul.

Sekelebat keheningan nyaris kembali mendominasi sebelum Heechul buru-buru memecahkannya.

"Yah~ Sekarang aku tahu..", Heechul melembut.

"Apa?"

"Aku.."

Heechul menggantung kalimatnya. Kepalanya kembali mendongak untuk menatap gelapnya angkasa yang tak berbintang. Angin malam menyapu keduanya. Menerbangkan anak-anak rambut Heechul yang menjuntai di sekitar telinganya.

Pemandangan indah itu tidak sengaja terekam oleh iris obsidian Hankyung. Walaupun malam itu langit sedang polos tanpa cahaya. Tapi tidak bagi namja China itu, karena kini ia tengah melihat sesuatu yang bahkan jauh lebih indah dari kejora.

".. aku mungkin sedang jatuh cinta. Aku bisa merasakan dia datang. Sekalipun kadang dengan cara yang sedikit menyakitkan."

Hankyung terenyuh. Sebuah paku es imajiner menembus ulu hatinya. Untuk yang pertama kalinya sejak pertemuan mereka, Hankyung melihat sisi lain dari seorang Kim Heechul. Sisi lain yang seolah menariknya jauh ke dalam hatinya.

.

~oOo~

.


Keesokan Harinya..

Praktek Biologi merupakan salah satu kegiatan yang paling banyak diminati sekaligus paling merepotkan bagi kebanyakan siswa SM International High School.

Salah satu contoh nyatanya dapat kita temui melalui seorang namja berpostur mungil yang saat ini tengah berjalan kewalahan dengan membawa beberapa kantong plastik berisi ikan mas berwarna orange mencolok.

"Aku benci praktek menggunakan makhluk bergerak! Dan kenapa harus aku yang membawa spesimen-spesimen ini? Hari ini kan bukan jadwal piket lab-ku!", ocehan-ocehan menggerundel itu terus meluncur dari bibir tipisnya. Langkah namja ini tergopoh-gopoh, membuat air yang berada dalam kantong plastik yang dibawanya berguncang beberapa kali. Sepertinya ia sengaja membuat mahluk hidup di dalamnya mabuk.

Satu tikungan lagi, dan ia akan sampai ke lab Biologinya. Namun karena terlalu bersemangatnya-atau lebih tepatnya emosi-ia sama sekali tidak memperhatikan jalan. Alhasil, ia pun menabrak seorang namja tepat saat ia hendak berbelok.

"Ouch!", kepalanya yang menunduk terantuk bahu namja yang tak sengaja ditabraknya. Syukur kantong ikannya tidak terjatuh.

"Ah, mianhae..", ucap namja di depannya saat melihat raut kesakitan dari si namja mungil.

"Gwenchana. Aku yang seharusnya minta ma.."

Ucapannya terhenti. Kepalanya mendongak dan ia mendapati sesosok namja tampan yang kini juga balas memandanginya.

"Lee Donghae sunbae?", pekiknya dengan iris membulat sempurna.

Sedang namja yang ternyata adalah Donghae, rupanya ia masih berusaha untuk mengenali sosok yang saat ini sedang berdiri di hadapannya tersebut.

"Aku Ryeowook! Kim Ryeowook! Ingat?", namja mungil itu berseru gemas melihat ekspresi Donghae yang tak kunjung mengenalinya.

Sedetik, iris Donghae pun ikut membulat. "Ryeowook? Adiknya Yesungie?"

Ryeowook lantas mengangguk semangat. Selama ini ia hanya bisa melihat sosok Donghae dari kejauhan. Ingin hati untuk mendekatinya, tapi berita yang beredar selama ini tentang sosok Lee Donghae membuatnya enggan untuk menyapanya langsung.

'Donghae itu murid asrama Ocean. Dia sombong! Dan satu lagi, murid asrama Blue pantang untuk menyapa para murid Ocean! Ingat itu!'

Mata bulat Ryeowook mengerjab beberapa kali. Ditelusurinya penampilan Donghae dari mulai raut wajahnya sampai gerak tubuhnya. Donghae yang tengah dipandang seperti itu, mengira jika Ryeowook sedang melamun, namun saat ia hendak menepuk pundaknya, namja mungil itu bereaksi.

"Senang bertemu denganmu, Donghae sunbae..", Ryeowook tersenyum canggung.

Sejujurnya ia sama sekali tidak akrab dengan Donghae, meskipun Donghae adalah namjachingu dari hyung angkatnya sejak setahun yang lalu, namun Donghae jarang sekali main kerumah mereka. Bertemu langsung pun mereka hampir tidak pernah.

"Sama-sama Wookie..", Donghae balas tersenyum ramah. Senyum hangat yang begitu tulus. Senyuman seorang kakak terhadap adiknya.

"Oh ya, kau kelas berapa? Mau praktek Biologi ya?", lanjutnya.

Namja bersurai karamel itu mengangguk kikuk. "Aku kelas 10-A. Ee.. lain kali aku harap kita bisa bertemu lagi. Annyeong sunbae..", jawabnya sambil berpamitan.

Tepat saat Ryeowook berlalu melewati tubuh Donghae, sang namja yang lebih tua memanggilnya.

"Panggil saja aku 'hyung', Wookie.. Oh ya, salam untuk hyungmu ya.. Aku merindukannya.. Hehe.."

Sekali lagi Ryeowook mengangguk kikuk, tersenyum sekilas pada Donghae lalu berjalan menuju lab Biologinya. Dalam hati namja mungil itu membatin, 'Sama sekali tidak sombong. Terlalu ramah malah.'

.

.

Tubuh tegap Donghae sudah menjauh.

Tubuh mungil Ryeowook sudah masuk ke dalam lab Biologi-nya.

Di lorong yang pagi itu sedang sangat sepi. Di lorong tempat kedua namja tadi saling bertegur sapa. Tak satu pun dari mereka yang menyadari, jika tidak jauh dari tempat mereka berinteraksi, ada seorang namja lain yang selalu memperhatikan mereka. Mendengarkan setiap kalimat yang meluncur. Dan merenggut perih di balik bilik tempatnya bersembunyi.

Sendirian..

.

~oOo~

.


-Asrama Sapphire, 02:30 pm-

'Tahun ini kau harus ikut kelas intensif, mengerti?', terdengar suara seorang namja di ujung teleponnya.

"Algeseo, appa. Kau tak perlu mengawatirkanku,"

'Appa tidak percaya denganmu. Kau harus mengirimkan bukti tertulis jika kau telah mengikuti kelas itu!'

"Ck, kau tidak usah mengaturku. Aku tahu apa yang harus kukerjakan."

'Kim Jungmo! Sopanlah sedikit dengan orang tuamu!'

Jungmo memutar bola matanya. Jempol tangannya benar-benar risih ingin segera menekan tombol stop dial di handphonenya.

'Appa tidak mau tahu, tahun ini kau harus bisa ikut olimpiade dibidang exact! Jangan mempermalukan appa. Kau tahu sendiri kan kalau relasi-relasi appa menganggap kau itu murid Ocean.', nada suara diseberang telpon sejenak merendah-mengecil lebih tepatnya.

'Cih, padahal appa berharap kalau tahun ini kau bisa masuk Ocean. Tapi nyatanya kau masih setia bertahan di asrama rendahan itu.'

Sakit. Ini bukan yang pertama kalinya suara mencemooh itu melesat menembus gendang telinganya. Tapi entah mengapa Jungmo tak kunjung merasa kebal. Walaupun tak sesakit awalnya, tapi intensitas ketajamannya masihlah sangat terasa.

"Aku ada rapat di klub. Aku akan menghubungimu lagi. Sampai jumpa."

Pip.

Wajah stoic itu mengeras, sekeras remasan tangannya pada handphone di genggamannya. Rahang namja berambut perak itu mengatup rapat. Namun lapisan bening kristal di kedua bola matanya tak dapat menyembunyikan emosi yang sebenarnya.

"Jungmo sunbae~! Kyaaa~ itu Jungmo sunbae kan? Omoo~ dia tampan sekali.."

Bahkan teriakan-teriakan yeoja disekitarnya pun tak mampu menutupi gaung tajam yang masih melekat di telinganya tersebut.

.

Sebenarnya tujuan awalnya ke asrama Sapphire ini adalah untuk menemui Tiffany, rekannya sesama klub musik. Tapi ia sungguh tidak menyangka jika ayahnya benar-benar sukses menghancurkan moodnya hari ini. Dan rupanya, rentetan kesialannya belum berakhir sampai disitu saja.

Dua meter di hadapannya, muncul seorang yeoja yang sangat tidak ia harapkan kehadirannya. Yeoja yang berpenampilan cukup mencolok dengan pandangan mata acuh tanpa seulas senyum pun di wajah orientalnya.

"Victoria," desis Jungmo. Ia mempercepat langkahnya. Entah kenapa, ia jadi ingin sedikit mengerjai yeoja centil itu.

"Qiannie.."

Victoria berhenti. Mendongak. Menatap langsung ke bola mata namja yang memanggilnya dengan sebutan 'aneh' itu.

"Wow! Ada angin apa, ketua asrama Blue yang berwibawa ini berkeliaran di asrama khusus yeoja? Mencari mangsa untuk kau cumbu nanti malam, eoh?", ucap Victoria setengah mencela.

Jungmo menyeringai. Ia sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan pedas Victoria yang baginya tidak bermutu itu.

"Dan seorang yeoja siluman di asrama yeoja tulen?", balasnya tak kalah sadis.

Sejenak keduanya saling melempar pandang sengit. Jika aliran listrik adalah hal yang tak kasat mata, maka kalian pasti bisa melihat bagaimana sengatan listrik yang muncul dari kedua bola mata mereka saling bertumbukan.

"Aku malas mengurusimu. Minggir!", Victoria hendak pergi. Suara bisik-bisik tak nyaman disekitarnya mulai membuatnya risih. Ia sadar jika pertemuannya dengan Jungmo di 'area' terlarang seperti ini bukanlah kondisi yang menguntungkan baginya. Ia malas menjadi pusat perhatian.

"Salam untuk teman-teman 'malaikat'mu itu ya..", ucap Jungmo keras-keras. Sengaja memancing perhatian.

Victoria meremas tali tas sampingnya. Jika saja ini bukan wilayah asrama Sapphire. Jika saja ia tidak menyerahkan thesis ke guru Sosiologinya yang sedang berada di asrama itu. Dan jika saja ia tidak sendirian.

Yah, Victoria selalu sendirian..

Resiko sebagai satu-satunya yeoja penghuni asrama paling sempurna sesekolah.

Ia tidak peduli. Kata-katanya terlalu berharga untuk meladeni orang-orang sirik seperti Jungmo.

.

~oOo~

.


-Koridor Kelas 11, 03:10 pm-

Kyuhyun berjalan santai sambil memainkan PSP hitam tercintanya. Walaupun pandangan matanya terfokus penuh pada layar 6 inch di genggamannya, namun langkah namja tinggi ini masihlah tetap seimbang menembus keramaian di sepanjang koridor.

"Kyu!"

Leeteuk menghambur tiba-tiba dari arah belakang. Merangkul punggung Kyuhyun yang saat itu sedang dalam keadaan tidak siap untuk diterjang. Akibatnya, namja evil itu sedikit limbung ke samping.

"Hyung!", protesnya kesal. "Kau bisa membuatku game over, tahu?"

Leeteuk terkekeh ringan. "Mianhae, Kyu.. Habisnya kau terlihat serius sekali. Main apa sih?", selidiknya penasaran.

Sedang yang ditanya hanya balas melirik Leeteuk singkat.

"Mana Kangin hyung?", Kyuhyun bertanya balik.

"Molla..", Leeteuk menggedikkan bahu acuh.

"Kalian marahan?"

"Aniya. Kangin sedang ada urusan saja. Jangan salah paham.", ditepuknya pelan kepala Kyuhyun. Namun nada suaranya sedikit mengambang.

Kyuhyun hanya mengangguk maklum. Setelahnya, mereka berdua kembali berjalan beriringan, dengan Leeteuk yang merangkul bahu magnae-nya, dan Kyuhyun yang kembali fokus dengan benda pusakanya. Ditambah backsound suara tembakan yang sesekali terdengar dari PSP Kyuhyun.

"Akhir-akhir ini kau jarang berkumpul bersama kita saat jam istirahat. Kemana saja?", Leeteuk memecah keheningan.

"Aku sibuk, Hyung."

"Sibuk mengencani dia?"

Kyuhyun melirik sekilas pada Leeteuk yang tengah menunjuk ke arah PSP tersayangnya.

"Aku baru saja menginstal game baru. Makanya aku berambisi untuk menamatkannya."

Sekali lagi Leeteuk tersenyum simpul. Namun Kyuhyun tidak melihatnya. Ia terlalu asyik berkutat dengan dunianya, sehingga ia sama sekali tidak menyadari ekspresi yang tertoreh di wajah malaikat Leeteuk.

Ada yang berbeda dari sinar matanya, seolah hyung tertuanya itu sedang berusaha menekan sebuah gejolak dalam hatinya. Namja berjuluk angel without wings itu nampak beberapa kali menengok ke arah jendela di sepanjang koridor di samping kirinya. Entah apa yang dicarinya.

Namun pandangan Leeteuk terputus seiring dengan berakhirnya jendela-jendela itu di ujung koridor. Namja berlesung pipi itu menghela nafas berat. Dan hal tersebut tidak sengaja tertangkap oleh telinga Kyuhyun. Membuat namja tinggi itu spontan menoleh..

"Kau kenapa sih, Hyung? Kalau ada masalah cerita saja."

Tidak ada jawaban dari Leeteuk. Hanya senyuman yang bisa ia berikan untuk membuat kekhawatiran dongsaengnya itu menghilang.

Hup!

Dan dengan tanpa aba-aba, Leeteuk langsung melompat ke punggung Kyuhyun. Piggy back. Untung saja Kyuhyun cukup sigap dan cukup kuat untuk menahan berat tubuh Leeteuk. Walaupun sedikit tidak ikhlas, tapi akhirnya ia pun mau juga menggendong hyung tercintanya itu.

"Ingat umur, Hyung. Aku saja yang lebih muda darimu tidak pernah tuh memintamu untuk menggendongku.", canda Kyuhyun sembari terkikik ringan.

Lagi-lagi Leeteuk tidak menjawab. Ia hanya mengeratkan pegangannya pada leher Kyuhyun sambil membenamkan wajahnya di sana. Setidaknya dengan begini ia bisa sedikit tenang.

"Puff, the magic dragon lived by the sea and frolicked in the autumn mist in a land called Honah Lee.."

"Little Jackie Paper loved that rascal Puff, and brought him strings and sealing wax and other fancy stuff."

Di sepanjang perjalanan mereka, Kyuhyun bersenandung pelan. Magnae itu, walaupun terkadang ia sangat pedas dan usil, namun bagi Leeteuk, hanya ia yang paling tahu bagaimana membuatnya merasa nyaman dan tenang seperti ini.

"Together they would travel on a boat with billowed sail, Jackie kept a look out perched on Puff's gigantic tail,"

"Noble kings and princes would bow whenever they came,

Pirate ships would lower their flags when..

.. roared.. out.. his.. name..."

Senandung Kyuhyun melambat. Begitupun dengan langkah kakinya. Leeteuk yang menyadari itu seketika mengangkat wajahnya. Ia ingin tahu apa yang sedang terjadi pada magnaenya tersebut.

"Kyu?", panggilnya.

Namun Kyuhyun hanya bergeming. Sorot matanya lurus ke depan. Tertuju pada beberapa objek-sebenarnya hanya satu objek-yang berada kurang lebih 5 meter di depannya.

Terlihat ada sekitar 2 sampai 3 namja yang sedang mengepung seseorang di ujung tikungan. Memepetnya di pilar besar yang sedikit tersembunyi, sembari menyeringai mengerikan.

Melihat itu, sepasang orbs Kyuhyun otomatis menajam. Diperhatikannya lingkungan sekitar, sepi.. Koridor tempatnya sekarang berdiri memang tergolong kawasan yang tidak banyak dikunjungi siswa.

Jarak Kyuhyun yang cukup jauh dari gerombolan itu membuatnya kurang bisa menangkap pembicaraan mereka. Dan firasat buruk Kyuhyun mulai memuncak ketika ia melihat salah satu dari ketiga namja yang ada di sana mengeluarkan sebuah benda metalik kecil dari dalam saku celananya. Kyuhyun tidak cukup buta untuk dapat langsung menyadari bahwa benda itu adalah pisau lipat. Seketika nafas namja brunette ini memburu, terlebih ketika ia melihat bagaimana ujung pisau itu nyaris menyentuh pipi seseorang yang sedari tadi berontak dalam kungkungan beberapa namja di sana.

"Hyung..", Kyuhyun berbisik pelan sekali pada Leeteuk yang masih berada di gendongannya.

Bruk!

Semata-mata magnae itu langsung melepas pegangannya pada tubuh Leeteuk begitu saja. Leeteuk yang tidak siap, otomatis melimbung. Ia sudah nyaris jatuh dengan tidak elitnya, jika seseorang tidak sigap menangkapnya saat itu juga.

Hup!

"Kangin?", Leeteuk mencelos.

Kangin tidak menjawab apa-apa. Dia sedikit membenarkan gendongannya pada tubuh Leeteuk lalu berbalik arah sambil membopongnya.

"Kangin-ah.. Tapi Kyuhyun.. Dia.."

"Biarkan saja dia, Teukkie. Dia sudah besar.", potong Kangin cepat.

Leeteuk sebenarnya masih tidak ikhlas meninggalkan Kyuhyun yang entah kemana itu, tapi sorot tajam dari mata Kangin sontak membuatnya terdiam dan menurut. Mereka pun kembali hening dengan pikiran masing-masing.

"Kau darimana?", satu pertanyaan yang meluncur di tengah kebisuan mereka.

Terdengar Kangin menghela nafas pendek. "Kau tahu aku kemana, hyung."

"Kau baik-baik saja kan?", tatapan Leeteuk menjadi nanar. Wajah Kangin yang cukup dekat darinya-mengingat posisi mereka yang sedang dalam bridal style, membuat Leeteuk bisa melihat secara jelas keringat yang mengucur dari pelipis Kangin, serta bekas tanah yang sedikit menempel di pipi kekasihnya itu.

"Aku baik-baik saya, hyung. Kau tidak perlu khawatir.", dan tatapan Kangin pun juga mulai melembut.

"Aku hanya tidak bisa diam melihat 'mereka' yang semakin seenaknya pada 'kita'."

"Tapi kau tidak perlu membahayakan dirimu sendiri seperti ini, Kangin-ah.", suara Leeteuk terdengar bergetar. Diusapnya sayang pipi Kangin, menghilangkan bekas kotor yang tersisa disana.

"Ini bukan yang pertama kalinya, hyung. Aku sudah terlanjur masuk kedalam lingkaran perang itu. Dan demi nama asrama kita, aku tidak akan menyerah begitu saja. Kau.. Kau tidak usah mencemaskanku. Yang perlu kau lakukan hanyalah tetap melindungi anak-anak semampu yang kau bisa. Arraseo?"

Dalam pelukan Kangin Leeteuk mengangguk. Dikecupnya singkat dahi Leeteuk ketika ia merasa lehernya sedikit basah. Ya, malaikatnya sedang menangis saat ini.

"Gomawo, Kangin-ah."

Setelah itu mereka berdua pun kembali melangkah dalam diam.

.

~oOo~

.


Kyuhyun menggeram seiring langkah kakinya yang semakin cepat dan menghentak. Ujung pisau lipat itu menyentuh pelan bidang mulus nan kenyal milik seorang namja yang kini tengah meringis cemas di hadapan seorang namja lain berwajah tirus dengan seringainya. Pisau itu bergerak menyusuri tulang pipi hingga rahang bawah.

"Kau ingin aku mengukir sesuatu di pipi mulusmu ini, my bunny boy?", namja berwajah tirus itu menatap Sungmin remeh. Ya, seseorang yang saat ini tengah berada di kepungannya adalah si namja aegyo tahun pertama bernama Lee Sungmin.

Sedangkan Sungmin yang kedua tangannya dicekal hanya mampu membalas tatapan namja di hadapannya dengan jijik. Jika saja kedua tangannya bebas, ia bersumpah akan menghajar habis ketiga namja mesum yang tak dikenalnya ini.

"Lepaskan aku!", desis Sungmin. Tubuhnya terus bergerak meronta.

"Owh, rupanya kelinci kecil kita satu ini sudah mulai merasa gerah, eoh?", cibir si namja berwajah tirus. Kedua temannya ikut menyeringai lebar.

"Demi Tuhan aku tidak mengenal kalian! Jadi cepat lepaskan aku, brengsek!", kesabaran Sungmin mulai memasuki ambangnya, mata foxy yang tadinya hanya mampu memandang kosong, kini berubah mengkilat tajam.

Mendengar bentakan Sungmin membuat ketiga namja yang mengepungnya seketika mengetatkan cekalannya pada tubuh mungil itu.

"Kau berani pada kami eh, slutty? Layani kami dulu, maka kau akan kulepaskan!"

"Cuih!", Sungmin tidak tahan lagi. Satu ludahan darinya berhasil mengenai wajah tirus di hadapannya.

"K-kau?", namja di depan Sungmin terkesiap. Wajahnya mengeras siap memukul Sungmin, tapi sebelum pukulannya berhasil menyentuh wajah porselen itu, sesuatu dengan keras menerjangnya hingga ia terhempas sedikit jauh kebelakang.

Kedua namja yang lain otomatis ikut terkejut dengan pergerakan tiba-tiba dari rekannya, membuat pegangannya pada kedua tangan Sungmin sedikit mengendur.

Kesempatan emas itu tidak begitu saja disia-siakan oleh Sungmin. Dengan sigap, namja chubby itu serta merta langsung menyikut keras kedua rusuk namja yang tadi mencekalnya.

"Aw, shit!", kedua namja itu meringis kesakitan. Sungmin pun terbebas.

Tapi tidak hanya sampai disitu, tanpa diduga, ternyata si namja berwajah tirus yang tadi telah jatuh terhempas, kini ia kembali berdiri dan siap untuk menerjang Sungmin. Namun belum sempat dirinya menyentuh Sungmin, lagi-lagi..

Buagh!

Ia kembali tersungkur. Jatuh lebih jauh dari yang pertama.

Sungmin menoleh cepat. Ia ingin melihat seseorang yang sudah menyelamatkan dirinya dari terkaman serigala-serigala lapar itu.

Dan ketika mata rubah itu menemukan objek yang saat ini tengah berdiri di sampingnya, ia benar-benar terperangah.

"Kau?"

"Ayo cepat pergi dari sini!", bukannya menjawab pertanyaan Sungmin, namun objek itu malah menggandeng tangan Sungmin dan membawanya pergi meninggalkan tempat itu.

Selepas kepergian Sungmin bersama sang sosok misterius, salah seorang dari ketiga namja yang sedang menahan sakit di tempat kejadian perkara tersebut mencoba untuk tetap mengenali sosok yang tadi sudah menendang perutnya dengan sangat keras. Matanya yang memburam sedikit banyak mampu untuk menangkap siluet namja yang kini tengah berlari menjauh bersama calon mangsanya.

"Cho? Cho Kyuhyun?", bisiknya parau.

.

Sungmin yang masih tidak sadar sepenuhnya akan kondisi dirinya, hanya menurut saja. Membiarkan namja brunette itu terus menggiringnya, membawanya pergi entah kemana, tanpa ada sedikitpun niat untuk bertanya kemana tujuan mereka sebenarnya.

Hingga kini mereka telah tiba di halaman belakang gedung sekolah. Tepat di depan danau buatan yang terbentang indah di hadapan mereka. Keduanya berdiri bersebelahan.

"Eung, jeongmal gomapseumnida, sunbaenim. Kau sudah menolongku, tadi.", ucap Sungmin sembari membungkuk dalam.

"Kau baik-baik saja kan?", namja itu lagi-lagi tidak mengindahkan ucapan Sungmin.

Sungmin yang merasa aneh dengan umpan balik lawan bicaranya, memutuskan untuk menegakkan kembali tubuhnya.

"Aku baik-baik sa-", Sungmin menghentikan kata-katanya. Jarak tubuhnya dan namja penolongnya itu rupanya terlalu dekat.

Sejenak memori otaknya kembali memutar cuplikan kejadian yang berlangsung kemarin pagi di UKS. Dan entah mengapa, hal itu membuat sesuatu dalam diri Sungmin berdentum cepat.

Untuk sesaat, sepasang bola mata foxy bening itu tak kunjung mengerjap. Hey, dia tidak sedang melihat hantu!

Hening menyapa. Keduanya sama-sama diliputi suasana canggung.

"Ee..sekali lagi terima kasih.", Sungmin memecah suasana.

"Sama-sama.", jawab Kyuhyun datar, tapi sebenarnya tidak. Batinnya sedang bergolak di dalam sana. Sosok malaikatnya sekarang berdiri di hadapannya! Bohong besar jika ia tidak gugup.

Sungmin mengecek arloji pink-nya sekilas, "Sudah sore, sebaiknya kita kembali ke asrama.", ucapnya sopan. Hendak melangkah meninggalkan Kyuhyun yang masih mematung.

Namun sebelum sosok indah itu benar-benar pergi, Kyuhyun dengan sigap memanggilnya.

"Hey!"

"O?", Sungmin menoleh.

"Namamu siapa?",

Lee Sungmin memandang Kyuhyun, terdiam sebentar sebelum tersenyum sekilas, "Lee Sungmin. Namaku Lee Sungmin, Kyuhyun sunbae."

Kyuhyun sadar ia telah melontarkan satu pertanyaan terbodoh dalam sejarah hidupnya. Setiap siswa pasti memakai name tag. Mengapa ia tidak membaca saja tadi?

Tapi senyuman Sungmin mampu mengalihkan segalanya. Dada Kyuhyun menghangat. Apalagi Sungmin juga memanggil namanya tadi. Bibir plump itu menyebut namanya! Oh, rasanya dada Kyuhyun ingin meledak saat itu juga.

Dan saat punggung si namja aegyo itu semakin menjauh, namja evil itu sekonyong-konyong langsung mengacak rambutnya frustasi.

"Lee Sungmin. Kau sukses membuatku terlihat bodoh, kau tahu?"

.

~oOo~

.


-Asrama Ocean, 09:05 pm-

"Ada penyerangan lagi?"

Leeteuk yang baru saja datang dari pantry sambil membawa segelas coklat panas, langsung ikut menimbrung saat Kyuhyun dan kawan-kawan sedang melakukan kegiatan 'rapat dadakan' mereka sebelum tidur di ruang tengah.

"Mereka murid kelas dua belas.", Kyuhyun menimpali.

"Siapa yang 'diserang'?"

Semua mata yang ada disana seketika memandang cemas satu sama lain dengan makna yang berbeda-beda. Kangin bahkan terlihat sedang berpikir keras saat itu.

"Namanya Lee Sungmin.", jawab Kyuhyun lirih.

"Lee Sungmin?", Siwon mengulang dengan nada dipenuhi penekanan yang tidak santai sama sekali.

Sekarang semua mata ganti tertuju pada Siwon. Ingin mendengar penjelasan dari namja bertubuh proporsional tersebut.

Seolah mengerti arti dari tatapan teman-temannya, Siwon pun tak mau lama-lama berdiam.

"Dia murid asrama Blue.."

"Apa?", kali ini ganti Kyuhyun yang bersungut-sungut. Joystick yang di pegangnya sampai meluncur jatuh dari genggamannya.

"Hei, bocah setan! Bisakah kau tidak berlebihan dalam menanggapi sesuatu?", Heechul angkat bicara. Sebenarnya ia tidak terlalu mengurusi arah perbincangan teman-temannya, tapi teriakan Kyuhyun yang terlalu berlebihan-baginya-itu membuatnya sedikit terusik dari acara bermain game-nya.

Namun Kyuhyun hanya melemparkan death glare tanpa berniat membalas ucapan Heechul. Ia sedang tidak mood untuk berperang dengan namja cantik satu itu.

"Murid kelas dua belas yang 'menyerang' Sungmin juga murid asrama Blue. Ini aneh! Tidak biasanya ada 'penyerangan' sesama anggota asrama.", Leeteuk berpikir serius. Asap yang mengepul dari cangkir bergambar bebeknya masuk memenuhi rongga penciumannya.

Baik Kyuhyun, Kangin, Donghae, Hangeng maupun Victoria semuanya mempunyai satu pikiran seperti Leeteuk. Kecuali Heechul yang notabene masih termasuk murid baru yang kurang menahu mengenai 'masalah' antar asrama. Dan Siwon yang tiba-tiba berkata lirih di tengah heningnya ruangan itu,

"Masalah sebenarnya bukan itu. Tapi.. Mengapa mereka 'menyerang' Lee Sungmin yang jelas-jelas adalah sepupu dari teman istimewa mereka sendiri.."

"Maksudmu?", sela Kangin cepat.

Siwon memandang ketujuh temannya dengan nanar sebelum tersenyum getir kepada Leeteuk yang memandangnya penuh arti.

"Lee Sungmin itu.. Sepupu dari Kim Kibum."

.

.

.

~To Be Continue~

.

.


Annyeonghaseyo yorobeun~~

Maaf ya lama update.. Banyak sekali 'something' yang membuat saya menunda-nunda pengupdate'an ff ini.. Termasuk soal 'pembersihan' massal ff" di SPI tempo hari.. Hiksue~ :'(

Sempet galau juga antara mau pindah 'rumah' atau engga, tapi akhirnya saya memutuskan untuk tetep stay disini dulu selama eksistensi saya masih diterima dengan baik oleh reader dan admin ffn.. *plak* ^^v

Untuk chap ini, saya tahu ini mengecewakan, makin membingungkan, makin ga tau arah dan tujuannya, makin gaje dsb.. Mianhae reader-deul~~ *bungkuk2*

Terima kasih buanyaakk buat semua reviewer yang sudah memperkenalkan diri, mensupport, dll, di chapter sebelumnya~ saya seneng banget.. :'D Salam kenal semua~ ^^

[ Finda ISTRI nya HEECHUL (Finda, saya juga istrinya Heechul loh~ -_-v) . puzZy cat . Lee HyoJoon . KyuLoveMin . Choi Sung Mi . Cie Maknae AdmrHyukkie . KimJWandMe . cloud3024 . Nissa youichi (hai Nissa, panggil aku Saeko aja~ salam kenal ya~~ :D) . ressijewelll . Sibumxoxo . cacacaMinnieYuu . kucing liar . LJ . dhianelf4ever . YunieNie . Chely . Cho Rai Sa . Viivii-ken . mayahahaha . Cloud'sHana . Haruu 'Ruu' Kim . Kyeopta . rhie sparkyumin . vaii-fallenangel . SooHyun1997 . Park soohwa lovekyumin . Pumpkin Ite . yadong wannabe . Vessalius-san ]

.

Buat yang nanya FB sama Twitter, omo~ saya malu sekali~~ hehe.. -^^- FB saya Saeko Kapti, twitter-nya: TwilightSun

Tapi, by the way~ apa masih ada reader yang sudi membaca ff ini? O_o *lambai2 ke layar*

Kalau masih ada, review please~ I really need your feedback guys~

GamsaHAE~ :')

NB: also read my first Han-Chul-Si-Bum genderswitch remake fanfiction titled "Supernova" just in Rate M area~ kkk.. I lup u~~ ;)