Previous Chapter..

.

.

"Percayalah, para murid Ocean itu tidak seperti yang kalian pikirkan! Tidak ada gunanya kalian membenci mereka!"

.

"Masukkan Lee Hyukjae dalam daftar musuh kita!"

.

.

"Ehm, kalau boleh saya tahu, siapa yang akan menjadi kandidat terberat dalam pemilihan presiden siswa tahun ini, gyojangnim?"

.

"Kim Kibum imnida."

.

.

"Kau itu menyukai Kyuhyun ya?"

Eh?

"Aish, jangan berpura-pura Hankyung! Kau menyukainya kan? Kau cinta dengan bocah itu kan?"

.

"Aku tidak seperti itu, Kim Heechul!"

.

"-aku ini namja straight!"

.

.

.

"Apa menurutmu aku masih pantas menjadi Presiden Siswa untuk tahun ini?"

"Cih, seorang Choi Siwon pesimis? Mimpi apa aku semalam?"

.

.

.

"Hankyung.."

"Ya?"

"Apa kau pernah jatuh cinta?"

.

.

"Mungkin pernah.."

.

.

.

"Aku Ryeowook! Kim Ryeowook! Ingat?"

"Ryeowook? Adiknya Yesungie?!"

.

.

'Padahal appa berharap kalau tahun ini kau bisa masuk Ocean. Tapi nyatanya kau masih setia bertahan di asrama rendahan itu.'

.

"Aku ada rapat di klub. Aku akan menghubungimu lagi. Sampai jumpa."

.

.

.

"Aku hanya tidak bisa diam melihat 'mereka' yang semakin seenaknya pada 'kita'."

"Tapi kau tidak perlu membahayakan dirimu sendiri seperti ini, Kangin-ah."

.

.

.

"Demi Tuhan aku tidak mengenal kalian! Jadi cepat lepaskan aku, brengsek!"

Bugh!

"Kau?"

"Ayo cepat pergi dari sini!"

.

.

"Cho? Cho Kyuhyun?"

.

.

.

"Siapa yang 'diserang'?"

"Namanya Lee Sungmin."

.

.

"Lee Sungmin itu.. Sepupu dari Kim Kibum."

.

.

~oOo~

.

.


.

~The Dormitory~

.

Super Junior © SM Entertainment

.

Chapter 5 :

Fallen

.

Rating : T

.

Cast :

Super Junior's members and the others support cast.

.

Pairing :

Super Junior's Pure Pairs.

.

Genre :

Romance, Friendship, School Life.

.

Warning :

Boys Love, Typo(s), Confusing Plot, AU, a Little OOC, Over.

.

~oOo~

.

Flames Are Not Allowed!

~Don't Like, Don't Read~

.

.

~oOo~

.

.


"Hh~"

Choi Siwon lagi-lagi menghela nafas panjang. Entah sudah yang keberapa kalinya sejak semalam. Tepatnya sejak rapat dadakan itu selesai.

Selesai?

Tidak. Bagi Siwon, rapat itu belum selesai, dan tidak akan pernah selesai. Karena nyatanya semua teman-temannya masih meninggalkan sebuah tanda tanya besar di kepala mereka masing-masing mengenai kasus penyerangan itu.

—Terutama Kyuhyun.

Sejak pagi-pagi buta tadi, namja termuda se-Ocean itu tak urung jengah memberondong Siwon dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat kepala namja bertubuh atletis itu nyaris meledak di buatnya.

'Hyung, kenapa kau yakin sekali kalau Sungmin yang diserang itu adalah Sungmin sepupu Kibum?'

'Hyung, nama Lee Sungmin itu tidak hanya satu di sekolah ini!'

'Hyung, bagaimana ciri-ciri Sungmin sepupu Kibum itu? Siapa tahu kau salah menduga.'

'Hyung, kenapa mereka menyerang Sungmin?'

'Dan, darimana kau bisa mengenal Lee Sungmin?'

Pertanyaan-pertanyaan itu bagaikan monster yang terus berputar-putar di otaknya dan meraup habis seluruh sisa kesabarannya. Rasanya Siwon ingin terjun dari atap gedung sekolah.

Siwon bukannya tidak mau menjawab rasa penasaran Kyuhyun, hanya saja ia bingung harus menjelaskan darimana.

.

"Lee Sungmin.."

.

.

Sepoi angin di atap gedung serba guna sekolah menerbangkan helaian-helaian rambut pendeknya. Untuk sejenak, biarkan ia menikmati kesendiriannya. Sendiri adalah cara terampuh untuk menenangkan pikiran yang tengah berkecamuk. Melupakan sejenak pergolakan hatinya, dan mencoba untuk menutup mata. Hingga tanpa sadar, suasana tenang seperti ini perlahan mengambil alih kesadarannya..

.

'Bummie! Besok kita akan berjuang untuk masuk ke SM International! Semangat!'

'Ya! Untuk apa kau mengajakku dan Sungmin jalan-jalan tengah malam begini? Besok pagi kita harus mengikuti tes itu, Wonnie!'

'Tolong temani aku..'

'Untuk apa?'

'Malam ini aku ingin menembak Sungmin!'

Klakk..

.

Siwon terlunjak bangun. Nafasnya memburu dan keringat dingin seketika mengucur deras dari dahinya.

"Kenapa kejadian itu tidak bisa hilang dari otakku?"

Sungguh kini dadanya sedang berdenyut ngilu. Rasa bersalah itu kembali menggerogotinya.

Andai ia tidak membutakan perasaannya kepada Kibum saat itu...

'Siwon hyung, kenapa kau tega melakukan ini pada sepupuku? Kibummie sangat mencintaimu! Kenapa kau malah menembakku di hadapannya? Hiks~"

Dan semuanya tidak akan serumit ini jika ia mau bersabar..

'Kibum gagal tes. Masih untung ia bisa masuk asrama Blue. Pikirannya begitu kacau hari ini. Sebenarnya dia kenapa?'

Dan ia juga tak akan kehilangan sahabat sejatinya andai ia bisa bersikap dewasa malam itu.

'Aku membencimu, Choi Siwon! Dengarkan itu baik-baik! Aku sangat membencimu!'

Sebulir air mata jatuh dari mata kanannya. Dadanya benar-benar sesak. Jika menangis bisa memutar waktu ke masa lalu, maka ia rela menangis sejadi-jadinya, bahkan sampai jantungnya memekik, atau bahkan pecah sekalipun..

"Mianhae Kibummie~ Mianhae.."

.

.

~oOo~

.

.


-Kelas 10-A, 10:00 am-

Kelas matematika mereka baru saja berakhir. Ditengah gegapnya suasana kelas yang hendak menyambut bel istirahat, Ryeowook yang sedari pagi dihantui rasa penasaran tingkat dewa, langsung beranjak menggeser kursinya mendekat ke bangku Sungmin.

"Jadi, yang menyelamatkanmu kemarin bukan Siwon sunbae?"

Mata kecil Ryewook membulat maksimum, namun lain dengan suaranya yang melirih minimum.

Sungmin mengangguk enteng sembari membereskan beberapa buku tulis di mejanya. "Bukan dia."

"Tapi banyak yang berkata jika orang itu Siwon sunbae!"

"Kenapa mereka yakin sekali?", dahi Sungmin mengernyit kecil.

"Karena ada seseorang yang melihatnya sedang berdiri di dekat tempatmu disekap sore itu," suara Ryeowook semakin membisik.

Dahi Sungmin kembali mengkerut. Tapi dia tidak mau berpikir macam-macam. Dirinya sudah berhasil selamat, itu yang terpenting. Dan penyelamat yang sebenarnya adalah...

"Lalu siapa yang menyelamatkanmu?"

Deg..

Pertanyaan itu pun terlontar juga.

"Dia...", tanpa ia sadari, timbul semburat merah jambu di sekitar pipi atasnya.

Sungmin tidak menyangka jika hanya membayangkan wajah namja itu saja mampu membuat lidahnya kelu mendadak.

Mata foxy itu bergerak resah memandang ke sekeliling tanpa menghiraukan Ryeowook dan sejuta rasa penasarannya.

"Kau kenapa sih?", Ryeowook menggoyang-goyang lengan Sungmin. Namun namja berpipi tembem itu tetap mengalihkan pandangannya.

Dan tepat saat sepasang mata itu memandang ke luar kelas. Tubuh mungil itu terpaku.

Namja itu, Cho Kyuhyun, entah sejak kapan, sudah berdiri di depan sana dengan kedua tangan terselip di saku dan pandangan lurus ke depan─memandang Sungmin, tentu saja.

Deg..

"Kyuhyun sunbae.."

"Siapa?"

"Eh?", Sungmin reflek memutus ikatan pandangannya dengan Kyuhyun dan menoleh cepat ke arah Ryeowook yang cengo luar biasa.

"Kau bilang apa tadi? Kiyu-? Kiyu siapa?", ulang Ryeowook semakin penasaran.

"Memangnya aku tadi mengatakan apa?", Sungmin salah tingkah.

"Oh my~", Ryeowook memutar bola matanya. "Sudahlah, kajja kita ke kantin! Aku sudah lapar."

Saat tubuh Ryeowook beranjak meninggalkannya duluan, serta merta Sungmin langsung menarik nafas panjang.

"Ck~ kenapa jadi berdebar-debar seperti ini?", erangnya frustasi.

Dan begitu ia mencoba kembali melirik ke depan kelas, ternyata sosok itu sudah tidak di sana. Dan itu semakin membuatnya frustasi, entah kenapa.

"Haah~ jinjja! Nan michilgeotgatha," makinya pelan.

"Ya! Wookie! Tunggu aku!"

.

.

~oOo~

.

.


-Halaman Belakang Sekolah, 12:42 pm-

"Terima kasih sudah menemaniku tidur," ucap namja berparas cantik itu ambigu. Ia mengerjapkan matanya sebentar setelah hampir setengah jam lebih dirinya tertidur pulas.

"Tidak usah seperti itu. Lagipula aku tidak menemanimu tidur kok," Hankyung di sebelahnya hanya tertawa pelan sambil terus mengamati aktifitas Heechul dalam mengumpulkan kembali kesadarannya.

"Jadi kau tidak ikut tidur?", Heechul menyipit sekilas sembari menepuk-nepuk bagian bawah celana seragamnya yang penuh dengan rerumputan.

Ya, jam pelajaran ke 6 dan ke 7 kelas 11-B memang sedang kosong siang ini. Heechul yang sejak pagi tadi sudah dilanda rasa kantuk yang berlebih tentu saja memilih memanfaatkan momen kosong itu dengan tidur.

Dengan dinaungi pohon maple yang cukup rimbun, serta semilir angin yang begitu bersahabat, halaman belakang sekolah sungguh menjadi pilihan yang tepat untuk mengistirahatkan diri sejenak.

Heechul sudah menyukai tempat ini sejak awal ia menginjakkan kaki di SM Internasional. Suasana yang tenang, kicau burung yang sayup-sayup mengalun merdu, sepoi angin yang berhembus lamban serta suara debur air yang sesekali terdengar dari arah danau buatan, 200 meter dari tempatnya sekarang berada.

"Kau tidak ke klubmu?", tanya Heechul sekenanya, karena jujur saja, ia sedang kehabisan bahan pembicaraan dengan Hankyung. Mungkin juga karena efek sehabis bangun tidur.

Sedang yang ditanya hanya menggeleng pelan. "Di sana sedang sepi. Aku tidak ada teman mengobrol."

"Tapi di sini kau juga tidak ada teman mengobrol. Sedari tadi aku tidur. Bukankah itu lebih membosankan, eoh?"

Hankyung tersenyum tipis. Entah mengapa ia tidak tertarik untuk menghabiskan jam kosongnya dengan mengunjungi klub seni bela diri-nya atau sekedar membaca buku di perpustakaan, atau mungkin bermain basket seperti teman sekelasnya yang lain. Ia justru lebih tertarik untuk mengikuti Heechul diam-diam, mengamatinya, membiarkan namja cantik itu tertidur pulas untuk kemudian menemaninya hingga sang putri itu terbangun.

"Setidaknya ada kau di sini," Hankyung tersenyum tulus.

Deg.. Deg..

Rona merah itu hadir kembali.

Kata-kata Hankyung memang sulit ditebak.

"Pa-pabo!", cicit Heechul. Ia memalingkan muka.

"Kau tahu, sebelum kau masuk ke sekolah ini aku selalu kesepian," ucap Hankyung sambil merebahkan tubuhnya. Rupanya namja China itu mulai membuka dirinya.

"Berbeda dengan Leeteuk hyung yang sekelas dengan Kangin-ie, Kyuhyun-ie dengan Siwon-ie, serta Victoria dengan Donghae.."

Perlahan-lahan tangan kanan namja ber-onyx pekat itu terangkat, mencoba menggapai lembaran daun maple yang berterbangan tepat di atasnya.

"..Di kelas, hanya aku yang berasal dari Ocean. Dan itu membuatku menjadi amat sangat terasingkan."

Heechul menatap Hankyung dalam. Betapa ia menyimak segala kalimat yang meluncur dari mulut Hankyung. Meresapi dan sedikit-sedikit mulai ikut berempati.

Ia tahu benar bagaimana rasanya dianggap asing oleh lingkungan sekitar. Selama hidupnya, tepatnya sejak eomma-nya meninggal dunia 10 tahun silam, Heechul selalu ditentang keras oleh appa-nya untuk berhubungan dengan dunia luar. Dan itu membuatnya tidak pernah mengenal apa itu arti "sahabat".

Bisa masuk ke SM Internasional sungguh anugerah besar baginya. Dari sini ia berharap akan mampu meniti mimpi-mimpinya kembali. Menemukan teman dan mengepakkan sayapnya menuju ke taraf kedewasaan.

"Sejak aku melihat namamu berada pada daftar absen di kelas yang sama denganku, aku merasa seperti Tuhan sedang menjawab doa-doaku. Haha.", Hankyung kembali terkekeh.

"Kau boleh menganggapku berlebihan. Tapi memang begitulah adanya."

Dia tersenyum lagi.

Blush..

Tidak tahukah kau Hankyung, jika namja yang kini berada di hadapanmu sedang mati-matian menahan harunya?

"Hankyung..," panggil Heechul pelan. Suaranya sedikit parau.

"Ne?"

"Sepertinya kita mengucapkan doa yang sama," Heechul memandang Hankyung sayu.

Selembar daun kemerahan lima jari terbang melewati wajah Heechul dan mendarat tepat di atas dada Hankyung.

"Dan sepertinya Tuhan memang Maha mendengar."

Hening sejenak. Deru air danau membisik lembut. Selembut desir yang perlahan merambati dada Hankyung maupun Heechul. Namun detik berikutnya keduanya sama-sama terkikik geli dan kemudian tertawa lepas.

Di bawah naungan pohon maple dengan dedaunan jingga-nya yang sedikit demi sedikit meluruh bersama angin, sepasang sahabat baru ini telah mengikatkan diri mereka pada sebuah jalinan yang kasat mata.

Musim gugur akan segera tiba.

Nampaknya tahun ini akan menjadi musim gugur terindah di sepanjang hidup mereka. Dimana Hankyung dan Heechul akan melewatinya,

Bersama.

.

.

~oOo~

.

.


-Ruang Ekstrakulikuler Dance, 02.00 pm-

Seorang namja, hanya dengan mengenakan sleveless putih dan celana seragam biru sapphire-nya sedang meliuk anggun mengikuti irama musik RnB yang mengalun memenuhi ruangan berdinding cermin, tempatnya sekarang berada.

Keringat yang telah membanjir mencetak jelas lekuk tubuhnya. Sedang lengan atletisnya yang terekspose kini tengah mengkilap sempurna, begitupun dengan dahinya yang tak tertutup rambut, terkadang keringat yang jatuh di sana akan langsung terkibas karena gerakan tarinya yang tak kunjung berhenti.

Dua orang namja lain memperhatikan semuanya di sudut ruangan. Mengamati refleksi seseorang yang tengah menari di hadapan mereka dengan hati yang terus berdentum, mungkin seirama dengan beat dari musik RnB yang diputar. Diperhatikan dari sudut manapun, segalanya tetap indah. Tubuh itu sangat indah, dan tiap jengkal gerakan yang tercipta pun terlalu indah.

5 menit kemudian, lagu berangsur melembut dan tarian itu pun selesai.

"Perfect movement!", tepuk tangan terdengar riuh dari sudut ruangan, walaupun di sana hanya terdapat dua manusia.

Namja itu membalik tubuhnya dan melihat ke arah dua temannya sembari tersenyum lebar, sedikit tersipu karena tepukan tangan itu tak juga berhenti.

"Jangan berlebihan. Aku tidak sepandai kau, Hyuk!", namja itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu beranjak menghampiri dua rekannya di ujung.

"Tapi yang tadi benar-benar sempurna, Hae-ya!", Eunhyuk meraih botol minum di sampingnya untuk di serahkan pada Donghae yang masih terengah.

"Aniyo aniyoo.. Kau tetap juaranya, Hyuk! Kau pasti bisa lebih dari aku! I bet!", diteguknya air di botol itu dalam sekali minum.

"Ah, pabonikkayo! Kenapa tidak aku rekam saja tadi ya!", sesal Eunhyuk.

"Tapi bagiku, semuanya telah terekam dengan baik di sini, hyung," namja satu lagi yang duduk tepat di samping Eunhyuk akhirnya bersuara setelah beberapa saat hanya mampu terkesima dalam diamnya. Ia mengarahkan telunjuknya tepat ke dahi.

Mendengar itu, sontak Donghae dan Eunhyuk memandangnya bersamaan, cengo.

"Haha, mochi.. Kau juga berlebihan." Donghae menepuk ujung kepala namja berpipi cukup chubby itu sekali. Menghasilkan satu rona samar merah muda di sepasang pipi itu.

Mochi.. ya, Mochi. Adalah julukan spesial dari Donghae untuknya. Ia adalah salah satu dari berapa puluh siswa baru yang mengikuti ekstrakulikuler dance di SM International. Nama aslinya Henry Lau. Berdarah campuran, Korea, Hongkong dan Taiwan. Henry adalah siswa asrama Blue yang memiliki kemauan luar biasa di bidang dance. Bagi Eunhyuk maupun Donghae, para sunbae-nya, dia sangat memiliki bakat untuk itu.

Namun akhir-akhir ini, Henry mempunyai sebuah rutinitas baru yang hukumnya wajib ia lakukan. Yaitu, mengamati Donghae menari selepas jam ekstrakulikuler mereka selesai. Seperti sekarang ini, salah satunya.

"Donghae hyung, bolehkah aku meminta satu permintaan padamu?", pintanya tanpa memutuskan sedikitpun kontak matanya dengan Donghae.

Sedang Donghae hanya mengangguk meng-iya-kan sambil membenahi posisi duduknya agar berhadap-hadapan dengan Henry.

"Sebut saja."

"Aku ingin les privat menari dengan hyung, hanya dengan Donghae hyung, bolehkah?"

"Mwoo? Permintaan macam apa itu?!", Eunhyuk yang sedari tadi hanya memperhatikan mereka seketika angkat bicara. Alisnya meninggi begitu mendengar permintaan hoobaenya tersebut.

Donghae tidak menghiraukan Eunhyuk. Ia justru terlihat sedang memikirkan jawaban untuk Henry.

"Bagaimana, hyung? Bisa kan?", Henry kembali memohon dengan mata memelas yang dibuat sedemikan rupa tanpa mengindahkan instrupsi Eunhyuk.

"Eum..", Donghae mengetuk-ketukkan telunjuknya ke dagu, menimang-nimang permintaan Henry.

"Sebenarnya itu bukan permintaan sulit, mochi-ah," ucapnya. "Tapi aku tidak bisa seperti itu, mianhae.."

"Menambah kegiatan diluar ekstrakulikuler bukanlah perkara mudah. Apalagi yang hanya dilakukan oleh dua orang. Selain itu..", nada suara Donghae merendah.

"Asrama kita berbeda," timbul raut sesal yang cukup kentara dari wajah tampannya. "Akan sangat susah untuk bertemu."

Eunhyuk menatap Donghae cemas. Eunhyuk sangat tahu sifat Donghae yang tidak bisa tega terhadap orang lain. Ia tahu Donghae ingin sekali berkata 'iya', tapi semua pertimbangannya juga ada benarnya.

"Tapi akan aku usahakan, jika ada waktu luang, aku pasti menghubungimu! Bagaimana?", wajah Donghae perlahan berseri.

Namun mahluk berpipi bak kue mochi di hadapannnya itu masih saja mengerucutkan bibirnya. Ia sungguh ingin bisa privat dance dengan Donghae. Tapi ia tak mungkin memaksakan kehendaknya.

"Baiklah kalau begitu. Tapi... Aku punya satu permintaan lagi! Kali ini hyung tidak boleh menolak, arraseo?", Henry menatap Donghae lekat.

Ada yang berbeda dari senyumnya. Donghae tidak menyadarinya, tapi Eunhyuk tahu. Kue mochi itu... Sedang menyeringai?

"Apalagi ini?", batin Eunhyuk was-was.

"Y-ya! Kau jangan meminta yang tidak-tidak, mochi! Awas saja!", semprot Eunhyuk mengantisipasi.

"Oke, katakan saja," lain Eunhyuk, lain Donghae. Namja manis itu justru menanti permintaan baru Henry dengan tenang.

Ditatapnya balik bola mata Henry yang terus memandanginya. Bagi Donghae, mochi-nya itu benar-benar menggemaskan jika sedang merajuk.

Mereka berdua bertatap-tatapan lama tanpa suara, hingga beberapa menit kemudian, hal itu terjadi...

Chu~!

Henry mengecup bibir Donghae kilat.

"MWO HANEUNGEOYA?!", suara Eunhyuk memecah bagai petir.

"Donghae sunbae, aku menyukaimu. Benar-benar menyukaimu! Maukah kau menjadi namjachingu-ku?"

"BBWOOH?!"

.

.

~oOo~

.

.


-Asrama Blue, 02:50 pm-

Kim Jungmo marah total. Ia benar-benar murka kali ini. Wajah stoicnya memerah dan rahangnya mengeras hebat. Air mukanya siang ini sungguh bak ingin menelan kedua teman di hadapannya kini bulat-bulat.

"Ya! Hentikan wajah menyeramkanmu itu! Mereka mungkin salah target, Jungmo-ya," salah seorang di antara mereka akhirnya menyuarakan pendapatnya.

Namun sinar mata Jungmo tidak kunjung melembut.

"Nde, Simon benar. Mungkin saja murid kelas 12 yang menyerang Lee Sungmin kemarin memang salah target," timpal Taecyeon menyikapi.

"Otak mereka sudah di makan anjing!", Jungmo menggeram. Gigi-giginya sampai bergemerutuk satu sama lain.

"Menyerang Lee Sungmin yang jelas-jelas adalah anggota asrama Blue! Apa mereka sudah buta hah?!"

Brak!

Satu pukulan melayang indah di meja yang ia duduki. Namja berambut perak satu ini rupanya benar-benar naik pitam.

"Bayangkan, apa yang terjadi seandainya ada murid Ocean yang mengetahui hal ini? 'Penyerangan sesama anggota asrama Blue'? Bisa habis kita di tangan petugas detensi!"

Sesaat, Simon dan Taecyeon saling berpandang-pandangan cemas. Bukan cemas karena ucapan Jungmo, melainkan karena sebab yang lain.

Melihat kedua temannya yang seolah sedang menyembunyikan sesuatu, reflek Jungmo segera menegur salah satunya.

"Apa ada hal lain yang tidak aku ketahui, Simonnie?", selidiknya.

"Ee..", Simon memandang Jungmo takut-takut. "Sebenarnya..", lalu ia ganti melirik ke arah Taecyeon, meminta persetujuan.

"Sebenarnya?", dan tatapan Jungmo yang semakin mengintimidasi.

Simon menghela nafas berat, ia harus mengatakan apa yang ia ketahui namun tidak Jungmo ketahui.

"Sebenarnya, murid asrama Ocean sudah mengetahui perihal penyerangan itu, Jungmo-ya."

"MWORAGO?!", urat leher Jungmo nyaris putus akibat teriakannya.

"Bagaimana bisa?", ucapnya tidak habis pikir.

"Itu karena...", Simon kembali menggantung ucapannya. Melirik Taecyeon sekilas dan kemudian kembali memandang Jungmo.

"Karena kemarin.. Cho Kyuhyun yang menyelamatkan Lee Sungmin."

.

.

Namja ber-frame kacamata hitam itu seketika membeku. Ia mendengar semuanya. Mendengar semua perbincangan teman-temannya dengan sangat jelas. Bahkan teriakan Jungmo yang masih membahana di dalam sana. Bagaimana ia mengumpat dan menyumpah serapah.

Diremasnya kamus tebal bahasa Mandarin-nya erat-erat. Sementara hatinya sedang kalut bukan kepalang.

"Sungmin diserang?", bisiknya pilu.

"Tuhan.. Apalagi ini?"

.

.

Brak!

"Ya! Jungmo-ya! Kau mau kemana?!"

"Meluruskan otak seseorang!"

"Otak siapa yang kau maksud hah?!"

"..."

"Ya?! Jungmo, tunggu! Aish!"

.

.

Ketiga sosok itu telah menjauh. Jungmo dan kedua temannya sudah pergi dan menghilang entah kemana.

Lamat-lamat, namja berkacamata itu menghela nafas panjang. Ia lega karena kehadirannya tidak diketahui. Disandarkannya tubuh mungilnya di balik pintu yang terbuka. Sambil tetap memeluk kamus tebalnya, ia mendongak.

"Presiden Siswa..", lirihnya.

"Calon kandidat macam apa aku? Bahkan melindungi sepupu sendiri pun aku tidak bisa.."

.

.

~oOo~

.

.


-SM International High School, 15:25 pm-

"Hujan.."

Leeteuk, Kangin, Hankyung, dan Kyuhyun hanya mampu termenung menatap buliran kristal yang menetes di luar jendela. Dengan ditemani masing-masing satu cangkir kopi panas dan tumpukan laporan yang masih senantiasa berserakan memenuhi meja.

"Ya, hyung-nim, bagaimana jika hujan ini tidak kunjung reda sampai jam 5 nanti?" Yang paling muda akhirnya menginstrupsi lamunan kakak-kakaknya.

"Kita nekat saja bagaimana?" Kangin mengusulkan.

Namun seketika disambut oleh gelengan kompak dari ketiga rekannya yang lain.

"Kau ingin laporan-laporanku hancur atau bagaimana?" sambung Leeteuk frustasi.

"Kita bisa meminjam payung mungkin?" Hankyung menambahi.

Kangin mendecih, "Siapa orang bodoh yang mau meminjamkan payung kepada siswa macam 'kita', eh?

"Kangin-ah, jaga ucapanmu di tempat seperti ini!" tandas Leeteuk telak.

Sepasang mata teduh itu menelusur area di sekitarnya. Suasana kantin sore ini memang tidak terlalu padat. Namun tidak bisa juga dikategorikan sepi. Beberapa siswa masih sering berlalu lalang dan beberapa ada juga yang menunggu hujan reda sambil menikmati jajanan ringan kantin seperti halnya yang dilakukan oleh Leeteuk cs.

Jarak asrama Ocean dan gedung utama sekolah tidak bisa dikatakan dekat. Belum lagi berlembar-lembar laporan praktikum yang menjadi PR mereka. Bukan pilihan cerdas jika mereka memilih untuk nekat membelah hujan hanya demi sampai ke asrama.

Karena itulah, di sinilah mereka berada. Memanfaatkan waktu yang ada untuk mengerjakan tugas sekaligus menunggu langit berhenti menumpahkan tangisnya.

.

.

"Ngomong-ngomong, dimana yang lainnya?" tanya Leeteuk tiba-tiba.

Kyuhyun yang duduk paling ujung menoleh sekilas pada si penanya sementara jari-jarinya masih statis menari di tuts keyboard laptopnya. "Siwon hyung dan Victoria noona sedang di divisi presiden siswa..."

"Jam segini masih rapat?" sela Kangin heran.

Kyuhyun beralih melirik Kangin datar. "Akhir-akhir ini Osis sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan pesta musim gugur, hyung."

"Dan musim gugur bahkan masih 4 bulan lagi! Wow, rajin sekali.."

"Lalu yang lainnya? Heechullie? Donghae?" potong Leeteuk cepat, malas meladeni ocehan Kangin.

"Donghae di klub dance bersama Eunhyuk. Entahlah, kenapa mereka belum kembali sampai sekarang." kali ini Hankyung yang menjawab.

"Dan Heechul?"

"Heechul?" sejenak namja berhidung mancung itu terdiam. Benar juga, sejak bel pulang sekolah berdentang satu setengah jam yang lalu, teman sekelasnya itu menghilang entah kemana.

Hankyung sebenarnya sudah terbiasa dengan kebiasaan menghilang Heechul yang tak terprediksi, tapi sekarang, di cuaca yang buruk seperti ini, tiba-tiba muncul sebersit rasa khawatir di benak Hankyung.

Slash...

Kilat membias langit. 10 detik berikutnya, guntur saling berlomba memekakkan semesta.

Leeteuk benar-benar tidak konsentrasi dengan tugas praktikumnya. Pikirannya terpecah antara mengkhawatirkan 'anak-anak'nya dan 'bagaimana cara kembali ke asrama.' Bahkan kopinya pun tidak disentuhnya sama sekali.

Kangin yang mengetahui bahwa malaikatnya sedang risau, perlahan meraih tangan Leeteuk. Menautkan jari-jari besarnya dengan jemari ramping Leeteuk sembari membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Leeteuk seorang.

Tidak ada yang aneh dengan interaksi mereka berdua. Leeteuk dan Kangin memang saling melengkapi. Leeteuk adalah malaikat bagi Kangin, dan Kangin adalah sayap untuk Leeteuk. Mereka selalu mempunyai cara tersendiri agar bisa saling menenangkan.

Diam-diam Hankyung memandangi Kangin dan Leeteuk yang masih saling ber-skin ship. Namja berdarah China itu tersenyum samar. Sejak menginjak remaja, Hankyung percaya bahwa cinta itu hanya hadir untuk pasangan yeoja dan namja. Tuhan menganugerahkan perasaan saling melengkapi itu hanya untuk lelaki dan wanita. Namun sejak ia melihat Leeteuk dan Kangin. Tepatnya setahun yang lalu, Hankyung seolah menemukan kenyataan baru, bahwa cinta ternyata tidak memandang jenis kelamin.

Cinta tidak selalu berada pada kodratnya. Ia menyentuh hati siapa saja. Bahkan menyentuh hati Hankyung ketika melihat bagaimana cinta itu tercermin saat Leeteuk memandang Kangin dan begitu pula sebaliknya.

"Heechul-ah!"

Seruan Leeteuk sontak membuyarkan lamunan Hankyung. Ia nyaris saja kehilangan detak jantungnya saat itu juga.

Perlahan ada debaran aneh yang menelusup rongga-rongga hatinya saat nama Heechul disebut. Entah perasaan macam apa itu. Yang jelas sekarang ia... err, bahagia?

"Heechul-ah, kemarii..!" Leeteuk melambaikan tangannya pada Heechul yang sedikit tergopoh dari kejauhan.

Hankyung melihat ke arah Heechul yang berlarian kecil ke arah mereka. Tanpa ia sadari, hati kecilnya mengucap syukur karena Heechul ternyata baik-baik saja.

Heechul tiba dengan sedikit ngos-ngosan di bangku panjang Leeteuk cs. Rambut dan wajahnya sedikit basah, begitu pula seragamnya. Namja cantik itu rupanya kehujanan.

"Kau darimana saja, Chul-ah?" tanya Leeteuk cemas melihat penampilan Heechul yang awut-awutan.

"Aish, jinjja! Aku tadi tersesat, Teukkie.." adunya sambil melonggarkan ikatan dasinya dan membuka dua kancing teratas kemejanya.

"Aku mencari perpustakaan. Tapi saat hendak kembali, koridor utamanya sudah ditutup. Handphone-ku mati dan tidak ada siswa yang mau membantuku mencari jalan ke asrama."

"Bodoh sih." di ujung, Kyuhyun menggumam remeh. Namun cukup terdengar oleh yang lainnya.

"Apa katamu, bocah?" Heechul melirik sinis.

"Tinggal kembali ke perpustakaan, lalu melihat digital map yang ada di sana, apa susahnya?" sahut Kyuhyun enteng.

Mendengarnya, Heechul hanya menyeringai kaku. "Terima kasih atas sarannya. Semoga kelak kau tidak akan tersesat ke neraka."

Kyuhyun menatap Heechul bingas. Nyaris saja timbul percikan api di antara mereka andai Leeteuk tidak cepat-cepat mengalihkan pembicaraan Heechul.

"Lain kali mintalah Hankyung untuk menemanimu saat ke tempat yang belum kau kenal di gedung ini. Arrayo?"

Mendengar nama Hankyung disebut, Heechul otomatis menoleh ke arah Hankyung. Namun namja China itu justru hanya terdiam sambil memandang lurus ke arahnya.

Hankyung memandang Heechul dengan tatapan tak terbahasakan. Terkesan santai tapi intens. Di pandang seperti itu membuat Heechul mendadak salah tingkah.

"Ee.. Nde. Lain kali aku akan meminta tolong pada Hankyung saja." jawabnya kikuk.

"Kau basah sekali Heechul-ah, lihat rambutmu. Aigoo, kau bisa pusing kalau seperti ini," kata Leeteuk perhatian.

"Hujannya deras sekali di luar. Padahal hanya menyebrang sedikit tapi sudah basah seperti ini."

Heechul melepas karet yang menguncir rambut ekor pony-nya. Ia mengacak-ngacak sebentar rambut basahnya lalu kemudian menyibakkan pelan poninya yang menjutai.

Hal tersebut dilakukan Heechul dengan cukup cepat. Namun lain dalam dimensi pikiran Hankyung. Seluruh gerakan Heechul seolah melambat dalam gerakan slow motion. Bagaimana ia melepas kuncirnya, menyibak rambutnya, bahkan air yang menciprat dari helaian-helaian surai hitamnya.

Semua itu benar-benar bagaikan potongan karya seni di mata Hankyung. Hingga tanpa sadar, bibirnya membisikkan sesuatu. Sebuah kata yang berasal dari alam bawah sadarnya..

"Cantik.."

.

.

"Mwoo?"

Sekali lagi teriakan Kyuhyun membuyarkan lamunannya. Wajah Hankyung memerah total.

"Siapa yang kau bilang cantik, hyung?" selidik magnae itu.

"A-apa? Aku mengatakan apa tadi?" Hankyung menggaruk tengkuknya.

Ketiga temannya plus Heechul sama-sama memandangnya penuh tanya.

"Siapa yang tadi kau bilang cantik, hyung? Kita semua yang ada di sini mendengarnya," ulang Kyuhyun malas.

Hankyung kembali salah tingkah. Ia melirik ke arah Heechul. Mulutnya sudah membuka menutup hendak mengatakan sesuatu. Ia tidak tahu jika di depannya kini, Heechul sedang menanti letupan kembang api yang siap meledak di hatinya.

"I-itu.. Hee.."

Namja itu sudah akan menyuarakan isi hatinya, namun rasa ego kembali menguasinya, ia melihat tepat di belakang Heechul ada dua yeoja dari asrama Sapphire sedang menatap ke arahnya sambil berbisik genit.

"Sooyoung. Sooyoung cantik sekali," ucapnya lantang.

Jdeerr..

Seketika kembang api di hati Heechul melumer bagai disiram air bah.

.

.

~oOo~

.

.


-SM International High School, 10:15 am-

'Kibum-ah, kau diminta ke ruangan Osis sekarang juga. Ada yang ingin Siwon bicarakan denganmu. -Jonghyun.'

.

.

-Delete message.

.

"Ya, Kibumie, kenapa tidak kau balas dulu pesan dari Jonghyun itu, eoh?"

Kibum menoleh cepat ke arah namja yang entah kapan sudah berdiri di sampingnya dan memandangi handphone-nya dengan wajah yang sedemikian polos.

"Sungmin-ah?", Kibum terperanjat. Cepat-cepat ia menyimpan smartphonenya ke saku dalam blazer seragamnya.

"Sejak kapan kau di sini, Min?"

Sedang yang ditanya hanya nyengir tanpa dosa. "Sejak 5 menit yang lalu saat kau menerima pesan itu."

Kibum kehabisan kata-kata. Selama itukah ia memandangi pesan dari Jonghyun sampai akhirnya ia memutuskan untuk menghapusnya?

"Ee.. Lalu.. Ada apa kau kemari?" namja berkacamata itu mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

"Aku hanya rindu dengan sepupuku satu-satunya ini. Apa tidak boleh?" Sungmin mulai merajuk. Ia memeluk lengan Kibum erat sambil mengusap-usapkan pipinya di bahu Kibum. Persis seperti anak kucing. -_-

Diperlakukan seperti itu mau tidak mau Kibum langsung luluh. Hati Kibum mungkin memang sedingin es. Tapi jika sudah dekat dengan sepupu manisnya ini, Kibum tidak akan bisa mempertahankan sikap kakunya.

"Ayo, kemarilah. Aku juga mengkhawatirkanmu, Min."

Diajaknya Sungmin untuk duduk di bangku terdekat. Sejenak, timbul raut cemas di wajah stoic Kibum saat ia mengingat pembicaraan Jungmo dan teman-temannya dua hari yang lalu. Ia benar-benar sudah gatal ingin menanyakan langsung pada Sungmin.

"Ming.."

"Ne?"

"Apa benar kau pernah diserang oleh siswa kelas 12?"

Sungmin tidak langsung menjawab. Respon yang ia berikan hanya semakin mempererat pelukannya di lengan Kibum.

"Min-ah.." paksa Kibum.

"Nde.. Mereka menyerangku, Kibum-ah," ucapnya lirih.

Nyut~

Hati Kibum bak tersayat.

Ternyata benar yang Jungmo dan kawan-kawan katakan...

"K-kenapa mereka bisa menyerangmu?" suaranya dibuat sewajar mungkin sementara telapak tangan kirinya sudah mengepal keras.

"Aku tidak tahu."

"Lalu, kau baik-baik saja kan? Tidak ada luka sedikitpun kan?" Kibum membawa tubuh Sungmin untuk menghadap kearahnya.

Diperhatikannya wajah Sungmin senti demi senti, sampai ia yakin bahwa Sungmin-nya baik-baik saja.

"Aku baik-baik saja, Kibum-ah. Kau tidak usah khawatir." namja bergigi kelinci itu tersenyum.

"Oh ya, kau tidak ke ruang Osis? Bukankah Siwon sunbae memanggilmu?" kali ini Sungmin yang mengganti topik pembicaraan.

Kibum mendengus panjang. Ekspresi wajahnya kembali mengeras.

"Untuk apa mematuhi seseorang yang bahkan menyuruh orang lain untuk menyampaikan perintahnya. Dasar sombong," katanya malas sambil menurunkan intonasi di kalimat terakhirnya.

Namun Sungmin masih bisa mendengarnya, ia memandang Kibum sedih. "Kau masih membenci Siwon hyung?"

Mata teduh yang tersembunyi di balik bingkai kacamata itu terbelalak. Selama ini ia selalu menutupi pada Sungmin akan perasaan bencinya terhadap Siwon. Ia selalu meyakinkan Sungmin jika ia sudah tidak membenci Siwon dan akan berpura-pura netral jika sedang membicarakan 'mantan sahabat'nya itu.

Perihal mengapa ia tidak pernah dekat dengan Siwon lagi. Kibum dengan wajah datarnya akan selalu menjawab: "Kita tidak akan bisa seperti dulu lagi." Dan kemudian diakhiri dengan sebuah pelukan untuk Sungmin.

Lalu Sungmin?

Yang bisa ia lakukan hanyalah selalu menerima segala alasan sepupunya itu. Kibum yang terus berdiam dalam segala kebohongannya. Seperti halnya yang sedang ia lakukan saat ini.

Sungmin tersenyum hambar. Diraihnya tangan Kibum perlahan.

"Arraseo Kibum-ie. Aku tahu kau bukan pendendam."

.

.

.

"Ehm, Kibum-ah."

Sebuah suara berat menarik fokus Kibum dan Sungmin. Keduanya menoleh ke arah sumber suara secara bersamaan.

1 detik.

2 detik.

3 detik.

Diam. Kibum dan Sungmin hanya mampu diam. Diam dengan dua ekspresi yang berbeda.

─Kontras.

Dalam pikiran Kibum, ia benar-benar sedang dilanda kesialan yang luar biasa. Bertemu dengan sosok yang paling ingin ia hindari seumur hidupnya.

─Choi Siwon.

.

Namun lain dalam pikiran Sungmin. Bertemu Siwon tidak berarti banyak bagi dirinya, meski tersisip sedikit rasa canggung terhadap namja bertubuh proporsional itu. Tapi terlepas dari itu semua, Sungmin ingin mengumpati takdir yang meletakkannya pada moment yang tidak pernah ia impikan sama sekali.

Bertemu dengan Siwon sekaligus...

"Sungmin?", suara berat lain yang berasal dari seorang namja tinggi berambut brunette memanggil namanya.

"Kyuhyun sunbae..."

.

.

.

"Kalian sudah saling mengenal?" tanya Siwon memastikan.

Tapi Kyuhyun yang berdiri tepat di sampingnya justru tidak menggubrisnya sama sekali. Namja itu seperti membeku tiba-tiba.

Siwon beralih memandang Sungmin. Ternyata Sungmin pun juga hanya bergeming. Siwon tidak heran jika Sungmin dan Kyuhyun sudah saling mengenal, mengingat kejadian dua hari yang lalu dimana Kyuhyun-lah yang menyelamatkan Sungmin dari penyerangan waktu itu.

Di sisi lain, Kibum melihat semuanya. Ia melihat Siwon. Mata itu masih memandang Sungmin dengan caranya yang tersendiri. Dan entah mengapa, itu membuat dadanya ngilu mendadak. Ia mengatupkan rahangnya kuat dan kemudian berbalik tubuh hendak pergi.

Beruntung Siwon cepat-cepat mencegahnya.

"Kibum-ah!"

Namja es itu berhenti. Tanpa membalik tubuh, tentu saja.

"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."

"..."

Kibum hendak mengabaikan, namun Siwon buru-buru menambahi.

"Penting!"

"..."

"Tentang Osis dan divisi Presiden Siswa."

Gotcha!

Kibum menoleh, sedikit. Siwon tersenyum kecil. Setidaknya Kibum masih mau mendengarkannya.

.

.

Dengan terpaksa Kibum berbalik badan. Dan dengan terpaksa pula Kibum berbalik arah serta mengikuti langkah Siwon. Saat ia melewati Sungmin, ia berhenti sebentar, di tepuknya pelan pundak sepupunya itu sambil membisikkan sesuatu.

"Aku duluan ya Min."

Dan kemudian namja berkacamata itu kembali menekuk wajahnya sembari menghentakkan sedikit langkah kakinya.

Tanpa ia tahu, di depan sana, Siwon mati-matian menahan kikikannya. Kibum-nya benar-benar manis jika sudah seperti itu. Mirip seorang yeoja. ^^

.

.

Selepas kepergian Kibum dan Siwon, Kyuhyun dan Sungmin masih senantiasa bertahan dengan posisi berhadap-hadapannya. Canggung? Tentu saja~ tapi justru inilah saat yang paling Kyuhyun tunggu. Bertemu dengan Sungmin yang sedang sendirian.

"E.. Sungmin.. Apa kau sedang ada kelas?" Kyuhyun membuka pembicaraan.

"Anieyo Kyuhyun-ssi, ini kan jam istirahat." Sungmin menahan tawa.

Good! Dua kebodohan sudah Kyuhyun lakukan di hadapan Sungmin. Rasanya ia ingin membenturkan kepalanya ke dinding terdekat.

"Err, setelah istirahat maksudku.." kilah Kyuhyun tidak mau kehilangan wibawanya.

Sungmin nampak berpikir sebentar, "Ne, ada. Kelas Sosiologi. Waeyo?"

"Lalu apa sekarang kau ingin ke suatu tempat mungkin?" tanya magnae itu basa-basi.

"Sebenarnya aku ingin ke perpustakaan untuk mengambil formulir pendaftaran ekstrakulikuler. Tapi mungkin itu bisa nanti saja."

"Tunggu! Kebetulan aku sedang membawa beberapa formulir pendaftaran ekskul juga. Kau ingin daftar ekskul?"

"Ne. Aku ingin mendaftar di klub martial arts," ucap Sungmin malu-malu.

"Mwo? Martial arts? Kau?" Kyuhyun terkejut bukan main. Ia memperhatikan Sungmin dari atas sampai bawah. Sungmin yang bertubuh mungil dan berwajah manis itu mendaftar di klub martial arts? Apakah dia bercanda?

"Wae sunbae? Ada yang salah denganku?", tanya Sungmin mulai risih dipandangi Kyuhyun.

"Ah, aniya Sungmin-ah. Kalau begitu kajja kita pergi," ucap Kyuhyun kemudian. Tanpa sadar ia menggandeng tangan Sungmin dan membawanya berlalu.

Sungmin sedikit tertegun dengan perlakuan Kyuhyun, tapi ia tidak menolak. Satu kesimpulan yang tertulis di otak Sungmin tentang Kyuhyun: ternyata dia suka seenaknya -_-". Tapi entah mengapa, Sungmin menyukainya. Ia suka Kyuhyun yang selalu memimpin dirinya. Ia suka tangan Kyuhyun yang bertaut dijari-jarinya. Tangan hangat yang selalu melindunginya..

Mereka berjalan dalam diam. Di tengah perjalanan, Kyuhyun menyadari aksi bodohnya yang ketiga, menggandeng Sungmin tanpa izin. Tapi melihat Sungmin yang tidak menolak, ia malah semakin mempererat genggamannya.

Satu hal yang tidak ia sadari adalah, bahwa di sampingnya, Sungmin terus menunduk demi menyembunyikan pipinya yang semakin menghangat.

.

.

~oOo~

.

.


-Perpustakaan 10:30 am-

Srak..

Sraakk..

Berkali-kali namja berambut coklat ini membuka kasar halaman demi halaman buku paket fisikanya, sementara satu tangannya yang lain memijat pelan dahinya yang terasa pening.

"Massa beban 55 kilogram. Digantung diujung pegas. Pertambahan panjang pegas menjadi 25 sentimeter.."

Di lain sisi, bibir mungilnya terus berkomat-kamit membaca ulang soal yang tertera di sana, beradu dengan dering lamban dari handphone seseorang yang berada tepat di sebelahnya.

"Hh~ Hae-ya..", bisiknya pelan pada Donghae di sampingnya.

"Hm?"

"Bagaimana cara menentukan tetapan gaya pegas?"

"Apa?"

"Bagaimana cara menentukan tetapan gaya pegas?" ulangnya malas.

"Oh, tinggal gunakan hukum Hooke, dimana gaya akan berbanding terbalik dengan pertambahan panjang pegasnya. Dengan begitu kau bisa menemukan nilai tetapan gayanya."

"..."

Lee Hyukjae menoleh skeptis. Dan Lee Donghae masih tetap autis dengan touch screen tercintanya.

Ctak.

Eunhyuk meletakkan pensilnya dengan sedikit keras. Andai saja mereka sedang tidak di perpustakaan, maka Eunhyuk bersumpah akan mematahkan handphone si pecinta ikan badut itu.

"Apa sih, Hyuk?" rupanya perhatian Donghae sedikit teralih juga, walau sepasang matanya tidak menoleh pada Eunhyuk se-inchipun.

"Bisakah kau menunda acara ber-Kakaotalk-mu sebentar dan mengajariku menjawab satu soal saja, Lee Donghae seonsaengnim?"

Kali ini Donghae menoleh. Ia memandang Eunhyuk dengan tatapan super innocent-nya. Namun bagi Eunhyuk, wajah innocent Donghae itu lebih menjengkelkan dibanding ratusan soal fisika di buku paketnya.

"Hehe.. Arrayo Hyukkie. Aku akan mengajarimu," timpalnya sambil nyengir tak berdosa.

Ia mulai mencorat-coret buku tulis Eunhyuk dengan rumus-rumus yang tidak Eunhyuk paham. Dan voila! Kurang dari setengah menit soal itu terjawab begitu mudahnya.

"Jadi begini rumusnya, Hyuk. Pertama-tama, kau harus menggambar visual soalnya dahulu. Panjang awal pegas anggaplah bernilai nol, lalu.."

Ting..

Suara handphone terkutuk itu menyita kembali perhatian Donghae. Alhasil, ia menghiraukan Eunhyuk begitu saja dan kembali mengencani si layar sentuh.

Batas kesabaran Eunhyuk sudah di ambang batas. Ia sudah tidak peduli lagi, diraihnya handphone Donghae dengan sedikit kasar. Dahinya mencetak garis empat siku yang cukup kentara.

"Ya?! Kembalikan handphoneku, Hyuk!" namja pecinta ikan itu melayangkan protesnya.

"Andwaeyo Lee Donghae!" desis Eunhyuk.

"Kau kenapa sih?"

"Aku ingin menonjok seseorang," tantangnya.

"Aku ingin membalas pesan Kakao dari Yesung-hyung. Kemarikan handphoneku, Hyukkie."

Mendengar jawaban polos rekannya, Eunhyuk menjadi semakin ingin meremukkan handphone yang berada di genggamannya itu.

'Kenapa kau belum tidur, hyung?'

'Aku terlalu merindukanmu, chagi.. Aku ingin melihat wajahmu sebelum aku tidur.'

'Tapi aku sedang berada di perpustakaan, hyung. Tidak boleh ber-video call dulu.'

'Kalau begitu cium aku.'

'xoxoxoxoxo saranghae hyung..'

Isi perut Eunhyuk serasa memberontak ingin keluar. Membaca lovey-dovey Donghae dengan namjachingunya sungguh membuat lambungnya melilit.

"Pesan Kakaomu tidak penting sekali," cemoohnya sinis.

"Wae? Dia namjachinguku dan aku merindukannya. Apa yang salah?" Donghae tidak terima.

"Kenapa tidak kau cium saja handphonemu langsung hah? Bukankah namjachingumu ingin ciuman?" Eunhyuk semakin meremehkan. Ia sudah terlalu kesal dengan semuanya. Dengan Donghae yang menghiraukannya plus chat Donghae-Yesung yang sungguh menggelikan.

"Jika aku bisa ber-video call, maka aku akan melakukannya," jawab Donghae polos.

Ckit..

Lee Hyukjae tertohok. Hatinya tertusuk dengan pisaunya sendiri.

Sementara ikan dan monyet ini masih saling berdebat, tanpa mereka sadar, Henry masuk ke perpustakaan.

Ia sudah hendak mengisi daftar absen, namun melihat Donghae dan Eunhyuk, ia membatalkan semuanya lalu pergi begitu saja.

"Mochi?" Eunhyuk melihat Henry keluar ruangan.

"Mochi? Mana?" Donghae ikut penasaran.

Diliriknya Donghae sekilas sembari mencibir remeh.

"Untuk apa kau mencari Henry lagi?"

"Memangnya kenapa kalau aku mencari dia?"

"Kau sudah menyakiti hatinya, Hae!" tandas Eunhyuk penuh penekanan.

"Aku hanya mengatakan yang sejujurnya pada Mochi. Aku memang sudah memiliki namjachingu dan aku mencintainya."

Dada Eunhyuk serasa kembali diperas. 'Cukup, Hae! Kau semakin menyakiti banyak orang, kau tahu?'

"Tapi setidaknya tolaklah dia dengan baik-baik. Mochi itu... serius menyukaimu.."

'Terlalu perih Lee Hyukjae, kau akan membunuh dirimu sediri.'

"Lalu aku harus bagaimana? Memberi harapan pada Mochi yang itu artinya akan semakin menyakitinya, karena aku tidak akan menghianati Yesung-hyung sampai kapan pun juga!"

Deg..

'CUKUP! Cukup Lee Donghae! Kumohon jangan katakan lagi jika kau tidak ingin SAHABATmu ini mati muda!'

"Entahlah Hae, aku pusing! Aku ingin ke UKS saja." Eunhyuk menggeser kursinya hendak pergi dari sana, namun ia melakukannya terlalu keras sehingga menimbulkan suara yang cukup berisik.

"Ya! Hyukkie! Kau ini kenapa sebenarnya?!"

Dan teriakan Donghae pun dengan sempurna menyita perhatian seluruh penghuni perpustakaan, tak terkecuali.

"Lee Donghae, Lee Hyukjae! Tinggalkan perpustakaan jika kalian masih terus membuat gaduh!"

.

.

~oOo~

.

.


-Taman Belakang Sekolah, 11:30 am-

'Nama: Lee Sung Min

Kelas: 10-A

Asrama: Blue

Usia: 16 tahun'

"Tunggu!" Suara berat Kyuhyun memecah kekhusyuan seorang namja mungil yang kini tengah sibuk mengisi selembar formulir dengan wajah seriusnya.

Namja itu menoleh sebentar pada sang penginterupsi, sedikit takut jika ia salah mengisi. Karena sekarang ia tidak membawa correction pen, sementara pada form itu tidak diperbolehkan adanya coretan sedikitpun.

"Apa ada yang salah Kyuhyun-ssi?" tanyanya was-was.

Namun yang ditanya hanya tersenyum kaku sembari menggaruk sekilas tengkuknya yang tak gatal, "Ee.. aniya, hanya saja.. Kau.. Itu.. Benarkah usiamu 16 tahun?"

Sungmin, si namja bermata foxy itu mengangguk enteng. "Nde, waeyo?"

Kyuhyun tersenyum semakin kaku, "Kau tahu berapa usiaku?"

Kini gantian Sungmin yang menggeleng imut, entah sadar atau tidak, tingkahnya itu justru membuat Kyuhyun semakin kehilangan kata-kata.

"Aku 15 tahun, Sungmin-ah."

"Jinjja?" Suara Sungmin yang sedikit melengking nyaris mengundang perhatian siswa-siswi yang lewat di depan mereka.

"Wow! Hebat sekali!" pujinya.

Rahang Kyuhyun sontak membuka dengan indahnya. 'Hebat apanya?' Batinnya tidak habis pikir.

"Diusia sunbae yang 15 tahun itu sudah menginjak bangku kelas 11! Bukankah itu keren?" seolah membaca pikiran Kyuhyun, Sungmin mengutarakan pendapatnya dengan mata berbinar yang tidak dibuat-buat.

Bagaimana cara Kyuhyun mengatakannya? Bahwa namja manis yang kini duduk tepat di sampingnya itu terlalu ahli untuk mengelabuhi usianya. Kyuhyun bersumpah jika Sungmin bahkan lebih pantas menyandang usia 12 tahun dibanding dengan 16 tahun.

Sementara bibir Sungmin terus mengoceh tentang usia Kyuhyun dan sejuta kekagumannya, Kyuhyun diam-diam menaruh penuh perhatiannya. Sungmin begitu ekspresif dalam segala kepolosannya, dan itu membuat Kyuhyun perlahan melengkungkan segaris senyum di wajah tampannya.

"Hyung.." Kyuhyun membisik lirih.

"Eh?" Sungmin reflek menoleh, sepasang alisnya bertaut─heran.

Namun bukannya menimpali kata-kata Sungmin, namja berambut brunette itu justru mengeleng pelan.

"Gwenchanayo Sungmin-ah." ia tersenyum.

"Kau tidak perlu seformil itu denganku. Panggil saja aku Kyuhyun, tanpa suffiks '-ssi' ataupun 'sunbae'. Oke?"

Sesaat namja berpipi chubby itu terpekur. Dada bagian kirinya kembali berdetak cepat. Mengalirkan darahnya hingga ke pipi bahkan telinga.

"Arraseo Kyu.. Hyun.." Sungmin membisik perlahan. Sedikit canggung jika memanggil Kyuhyun tanpa embel-embel karena bagaimanapun juga, Kyuhyun lebih senior darinya.

Alih-alih tersinggung, Kyuhyun malah tersenyum geli. Selama ini ia tidak pernah mau jika dipanggil nonformal oleh para hoobaenya. Namun dengan Sungmin? Ia bahkan berharap imbuhan '-ie' suatu saat nanti bisa meluncur dari bibir plump milik si namja manis tersebut.

.

.

.

"Min.."

"Ne?"

"Kau tidak takut dekat denganku?"

Semilir angin menerbangkan helaian-helaian coklat miliknya. Entah kenapa, ketakutan itu perlahan menyusupi hatinya kembali. Sejak awal ia melihat Sungmin, ia tahu bahwa ia telah menempatkan dirinya pada titik resiko yang sangat kentara.

Sungmin dan dirinya berbeda asrama.

Jika ia mem-flashback memori beberapa bulan silam tentang ultimatum antar asrama, Kyuhyun merasa begitu pesimis.

'Murid asrama Blue maupun Sapphire dilarang keras jatuh cinta dengan murid asrama Ocean! Atau jika tidak, maka ia akan selamanya masuk pada daftar black-list SM International!'

Masih sangat segar diingatannya, bagaimana Eunhyuk─satu-satunya murid asrama Blue yang berani terang-terangan menentang peraturan gila itu, menjadi target bulan-bulanan teman seasramanya. Tak jarang ia mendapat bekas lebam di pipinya bahkan sampai terpingsan. Namun mirisnya, pengorbanannya itu tak sedikitpun diketahui oleh ia-yang-dicintai-Eunhyuk.

.

"Tidak. Sama sekali tidak." suara Sungmin membawanya kembali berpijak pada masa kini.

Kyuhyun menoleh cepat, dan Sungmin menatapnya. Ada kesungguhan yang tercermin di sana. Dan...

"Bagaimana aku bisa menjauhi orang yang telah menyelamatkanku? Lagipula.. Sekalipun bukan kau yang menyelamatkanku saat itu, aku tetap tidak akan menjauhimu, Kyuhyun-ah."

... Ada ketulusan yang tersisip di setiap katanya.

.

.

Bagai mentari pertama di musim semi, wajah tampan itu bersinar penuh harapan.

"Gomawo, Lee Sungmin.."

.

.

.

.

Beberapa meter dari tempat kedua insan itu saling berbincang, seseorang memperhatikan semuanya. Tidak sedikitpun ia melepaskan pandangannya dari kedua sosok yang tengah melempar senyum dan tawa itu.

Lamat-lamat, timbul kerutan di perpotongan alisnya, sementara wajah stoicnya mengeras perlahan. Satu tangannya yang tersisip di saku celana mengepal tanpa ia sadari.

"Cho Kyuhyun.."

.

.

~oOo~

.

.


"Brengsek!"

Kaki jenjang itu terus melangkah acak sementara wajahnya senantiasa menunduk dalam. Tak di hiraukannya lalu lalang puluhan manusia yang mulai memadati lobby tatkala bel penanda berakhirnya jam istirahat berdentang nyaring memanggil siswa-siswinya untuk segera melangsungkan kembali sesi belajar mereka.

Sesekali tubuh kurus itu menabrak beberapa siswa yang berpapasan dengannya. Berbagai jenis protes sampai umpatan ringan ia terima tapi ia tak peduli. Karena yang ada di pikirannya kini hanya satu: Menghindar dari Lee Donghae!

Membolos.

Ya, Lee Hyukjae akan membolos. Setidaknya ia bisa menghindari Donghae barang dua sampai tiga jam kedepan.

Hatinya masih berkedut perih tiap kali ia mengingat perdebatan mereka beberapa saat yang lalu di perpustakaan. Bagaimana Donghae mengutarakan rasa rindunya pada Yesung dan menghiraukannya.

Tess..

"Brengsek!"

Hyukjae lagi-lagi mengumpat keras. Kali ini ia mendongakkan kepalanya yang sedari tadi menunduk. Di usapnya kasar air mata yang menggenang di sana. Ia sungguh benci dengan dirinya.

Ia benci karena terlalu lemah dengan perasaannya.

.

.

Aula mungkin satu-satunya tempat tersepi siang ini. Aula SM Internasional berada di gedung terpisah dari gedung tempat belajar mengajar. Tempat itu terletak di jantung area sekolah, sangat strategis namun aman untuk membolos. Karena saat pelajaran di mulai, tidak akan ada kegiatan yang berlangsung di sekitar aula.

Eunhyuk melangkah yakin ke dalam gedung sekelas empire tersebut. Ia akan menghabiskan dua jam kedepan di sana sambil mendengarkan musik. Setidaknya dengan memutar lagu, ia tidak akan tertelan oleh kesunyian. Namun belum sampai ia menginjakkan kakinya di dalam gedung, sayup-sayup ia mendengar suara biola yang dimainkan begitu anggun di dalam.

Namja penyuka strawberry itu tertegun. Apakah sedang ada kegiatan di aula?

Perlahan ia mengintip lewat celah pintu yang terbuka, dan suara biola itu pun makin jelas menyapa indera pendengarannya. Mata bulatnya menelusuri tiap sisi aula, mencari siapakah gerangan yang mampu memainkan alat musik gesek tersebut dengan begitu sempurnanya. Dan ketika matanya tertuju pada satu objek di ruangan itu, hati Eunhyuk mencelos.

Henry. Kue mochi itu lah yang kini sedang memainkan biola putihnya dengan mata terpejam.

.

.

Eunhyuk bukanlah namja penggemar musik klasik. Tapi ia cukup tersentuh saat mendengar lantunan nada-nada yang di hasilkan oleh dawai biola Henry. Tanpa harus berpikir pun ia bisa merasakan, bahwa lagu yang Henry mainkan adalah sebuah lagu sendu.

10 menit berlalu, dan nada-nada indah itu pun berakhir.

.

.

"Well done, Mochi-ah.."

Henry yang baru saja meletakkan biolanya, sedikit terkejut dengan kehadiran Eunhyuk. Ia nyaris menjatuhkan busur biolanya.

"Hyung? Sejak kapan kau di sini?" tanyanya kaku.

Eunhyuk mendekat perlahan sambil menyunggingkan gummy smile-nya.

"10 menit yang lalu mungkin." ia menggedikkan bahu.

Henry tidak lagi berkomentar. Ia terlalu syok dengan kehadiran Eunhyuk yang tiba-tiba. Jujur saja, Henry tidak pernah ingin permainan biolanya di dengar oleh teman-temannya, apalagi seniornya.

"Kau ternyata sangat berbakat bermain biola. Kenapa aku baru tahu ya?" Eunhyuk masih menatap Henry takjub.

"Hanya hobi. Aku tidak seberbakat yang hyung kira," sahut Henry sambil mengemasi kotak biolanya.

"Kenapa tidak ikut klub musik saja, Mochi-ah?"

Namja berpipi chubby itu mengernyit sekilas. Tapi ia tidak ingin menjawab pertanyaan Eunhyuk. Andai saja Eunhyuk tahu, bahwa ia hanya ingin mengikuti klub dance. Dan itu semata-mata karena namja bernama Lee Donghae. Si namja jenius bermata indah yang membuatnya terkagum pada pandangan pertama.

"Hyung tidak ada kelas?" tanyanya menbelokkan topik.

"Aku ingin membolos," jawab Eunhyuk jujur. "Kau sendiri, tidak ada kelas?"

"Aku juga ingin membolos."

Kedua namja itu sama-sama terdiam sesaat. Terdiam dalam dimensi pikiran masing-masing. Hingga secara naluriah tubuh mereka beringsut mendekat dan pada akhirnya duduk bersebelahan di satu sisi aula. Toh mereka berdua sama-sama ingin membolos bukan?

"Kau tadi kenapa langsung pergi saat melihatku dan Donghae di perpustakaan?" Eunhyuk membuka pembicaraan yang tidak Henry sukai.

Namja berdarah campuran itu mendengus pendek. "Aku masih belum siap bertemu Donghae sunbae."

Eunhyuk tersenyum getir. Ternyata Henry masih terluka dengan penolakan Donghae beberapa hari yang lalu.

"Kau sungguh mencintai Donghae?"

"Mungkin.." mata sipit itu menerawang.

"Sesakit apakah penolakan itu bagimu, Mochi-ah?"

Henry tersentak ringan. Ia lantas membenahi duduknya dan menatap lurus mata Eunhyuk. "Sakit. Aku tidak menyangka jika pernyataan cinta pertamaku akan ditolak sementah itu."

Tidak perlu di jelaskan lagi. Sekarang Eunhyuk tahu, duka itu benar-benar mendalam bagi Henry. Rasa sakit itu masih berkilat jelas di sepasang manik karamelnya.

"Setidaknya kau lebih gentle dariku, Mochi-ah," gumam Eunhyuk sambil menatap lukisan di langit-langit aula.

Di sebelahnya, Henry hanya bisa menautkan alis tidak paham.

"Aku.." suara Eunhyuk semakin lirih.

"Aku bahkan sudah ditolak. Jauh sebelum aku menyatakan apapun."

.

.

~oOo~

.

.


Keesokan harinya..

"Kau gila!" yeoja berambut pirang itu menatap penuh emosi pada seseorang di hadapannya.

"Perfect! isn't it?"

"Kau bahkan lebih cantik dariku!" mata sipitnya memandang detil tubuh semampai di pelupuk matanya tersebut dari atas hingga bawah dengan sejuta rasa takjub.

"Aku rasa aku beruntung mengenalmu~" ucap si lawan bicara sambil mengerling pada sang yeoja pirang lewat cermin di depannya.

"Karena kau bisa seenaknya meminjam semua wardrobe-ku? Cih, lain kali kau harus membeli sendiri perlengkapan gilamu itu!"

Sentuhan terakhir, sebuah lipstick berwarna red rose memoles dengan sempurna bibir penuhnya. Setelah dirasa penampilannya cukup memuaskan, sosok itu berbalik. Sengaja ia menyibak pelan rambutnya yang tergerai indah. Menandakan betapa sempurnanya dirinya.

"Hella damn beautiful..!"

"More than you."

"Whatever."

"More than Sooyoung?"

"..."

Sejenak si yeoja pirang tersebut diam. Segaris seringai tercetak di bibir tipisnya sebelum menggantikannya dengan senyuman penuh arti.

"Lebih dari yang kau kira."

Sosok itu tersenyum puas. Ia meraih tas pundaknya, siap pergi. Namun sesuatu menyangkut pada sepatunya hingga ia nyaris terjatuh.

"Ya~ hati-hati dengan heelsnya. Itu mahal, tahu!"

"Arraseo. Aku akan menjaganya," ia mengedip sebentar dan kembali melenggang.

Tapi belum sampai ia meraih knop pintunya, sejenak tubuh itu berhenti.

"Terima kasih ya, Victoria NOONA."

Melalui cermin riasnya, yeoja bername-tag Victoria Song itu terkikik geli.

"Sama-sama, Kim Heechul EONNI.."

.

.

~oOo~

.

.


Hankyung berjalan sambil sesekali menoleh ke beberapa ruangan yang di lewatinya. Emosinya pagi ini sungguh awut-awutan. Semalaman ia tidak bisa tidur dengan nyenyak, entah mengapa.

Saat makan malam Heechul tidak ikut bergabung. Menurut informasi dari Leeteuk, Heechul sedang tidak enak badan.

Hankyung beberapa kali mencoba mengetuk pintu kamar Heechul, tapi beberapa kali pula ia mengurungkan niatnya, egonya masih mendominasinya walau rasa cemas melingkupi hatinya.

Namun kegalauan Hankyung tidak berhenti sampai di situ. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi dengan dirinya, yang jelas ia begitu ingin menemui Heechul.

Sangat ingin menemuinya.

Dan puncak dari rangkaian perasaan gundah Hankyung semakin berakumulasi saat ia menyadari bahwa Heechul juga tidak ikut sarapan bersama teman-teman seasramanya.

"Dia tidak ada di kamarnya. Tasnya pun sudah tidak ada. Mungkin sudah berangkat." Leeteuk-lah yang mengecek kamar Heechul.

Dalam hati Hankyung ingin mengutuk dirinya sendiri. Kenapa Leeteuk bisa berbicara setenang itu sementara dirinya tidak?

Point plus untuknya karena ia cukup pandai menutupi keresahannya...

.

.

"Sial! Kau dimana Heechul?"

.

.

.

"Ada siswi baru!"

"Apa? Dimana?"

"Semua sedang heboh di koridor! Dengar-dengar ia sangat cantik! Ayo kita kesana!"

Bugh..

Hankyung nyaris melayangkan umpatannya pada siswa yang dengan tidak sengaja menabrak pundaknya dari belakang andai ia tidak mengingat misi pentingnya untuk segera menemukan Heechul.

Bugh..

"Hei!"

Dua kali. Dan persetan dengan semuanya. Hankyung benar-benar akan menonjok habis orang yang mungkin menabrak dirinya untuk yang ketiga kalinya!

Bugh..

Tiga!

"Ya! Kau! Cari mati eoh?!"

Tangan Hankyung sudah terkepal siap melancarkan bogem mentahnya, namun riuh siulan dari arah lantai di bawahnya sukses menarik penuh perhatiannya.

Beberapa siswa-siswi berderet di sepanjang koridor. Dan semakin bertambah padat seiring berjalannya waktu.

Sejenak Hankyung melupakan misinya untuk mencari Heechul, semata-mata karena rasa penasarannya dengan sang objek atensi seluruh siswa SM International.

Dan rasa penasaran itu tak lama kemudian berhasil terjawab saat sosok itu berjalan tepat beberapa meter di hadapannya.

.

.

Rambut pirangnya tergerai indah menghiasi kepalanya dengan bubuhan aksesori berwarna merah terang. Poninya ia biarkan jatuh menutupi sebagian dahinya. Bibirnya merah merekah dengan senyum tipis yang menghiasi wajah cantiknya. Bidadari itu melenggang indah membelah koridor lantai 3 tanpa sedikitpun menghiraukan siulan-siulan dan tatapan kagum sekaligus iri yang mengarah ke dirinya.

"Cantik sekali.." beberapa siswa berbisik takjub.

"Anak baru?"

"Sepertinya begitu.."

"Dari asrama Ocean?" seorang yeoja berkata heran.

"Mana mungkin?" yang lain menambahkan.

"Karena di asrama Sapphire, tidak ada yeoja seperti dia."

Hankyung yang tanpa sengaja menguping pembicaraan siswi asrama Sapphire itu perlahan mencelos terpaku.

"Mworago?!"

.

.

.

~oOo~

.

.

.

To Be Continue.. ^^

.

.

Satu, dua, tiga, ..., enam, delapan?

Berapa bulan lamanya saya menelantarkan FF ini? ;;AA;;

Jeongmal mianhaeyo teman-temanku sayang~

Bukan bermaksud menelantarkan, hanya saja~ kesibukanku membunuh waktu berhargaku untuk melanjutkan FF ini~ TvT

Terima kasih untuk segala masukan, pujian, semangat, saran dan kritik yang sudah kalian tumpahkan(?) di chapter sebelumnya~ You guys all are my moodbooster I've ever had! *sesenggukan di bahu donghae*

Saya engga akan menelantarkan FF ini selama kalian selalu ada untuk mendukung saya~ ^^ makasih buat semuanya~

Semoga chapter ini sedikit bisa memperjelas apa yang masih membuat kalian bingung~ hehe..

Untuk rated, rencana awal sih saya emang pingin FF ini bakal naik rated~ kkk.. :p

Trus~~ soal pairing, ini bakal pure pair~ but a little bit complicated~ :p

Soal jumlah chap~~ yup! ini akan jadi long chap~ tapi mungkin cuma sampe belasan~ saya mabok ngetiknya~ u,u

Dan kenapa saya ga banyak membahas murid asrama Sapphire, itu karena saya lebih fokus ke tokoh-tokoh utamanya aja (read: suju)

Ohya satu lagi! Ada yang usul penambahan murid yeoja di asrama Ocean~ kkkk~ good idea! Saya pertimbangkan~

Dan Yewook shipper~ sabar ya sayang~ Yesung bakal muncul kok, ASAP! ^^

Terakhir, saya mau minta maaf (lagi) kalau moment tiap pairing-nya terlalu singkat.. Tolong jangan tabok saya.. T^T

Well, terima kasih sekali lagi buat yang masih mau membaca, menunggu dan mereview satu/dua patah kata untuk FF gaje ini.. *bow*

Ciezie . cloud3024 . RyeoRim411 . puzZy cat . WieLoveWolfBunnySelamanyah . SashaCloudie . Guest . reaRelf . Ladyming . mayahahaha . Qhia503 . niyalaw .dhianelf4ever . Min190196 . YunieNie . Sitara1083 . himesakiyuuji . Viivii-ken . potatostar . kangteuk shipper . kucing liar . Han-RJ . Blue DaFFodil . Lee Hyuka . yukakudo . Heenspiration . EvilBunny-JoY . hitsuru . maria8 . Mrs. EvilGameGyu . BabySiBum . dwita fee . all Guest :D . and Vivi~~~ ;D

Love u all~ mumumuuu~ :*

See you in the (hopefully) next chapter~

Silahkan tuangkan kembali segala uneg2 Anda di sini, pintu review saya selalu terbuka lebar~:

v

v

v