~The Dormitory~

.

Super Junior © SM Entertainment

.

Chapter 6 :

Confession

.

Rating : T

.

Cast :

Super Junior's members and the others support cast.

.

Pairing :

Super Junior's Pure Pairs.

.

Genre :

Romance, Friendship, School Life.

.

Warning :

Boys Love, Typo(s), Confusing Plot, AU, a Little OOC, Over.

.

~oOo~

.

Flames Are Not Allowed!

~Don't Like, Don't Read~

.

.

~oOo~

.

.


Ini bukan soal kenyamanan maupun profesionalisme.

Tapi ini soal yeoja itu. Yeoja?

Yeah~ katakan Hankyung melantur, namun ia tidak cukup rabun untuk menilai seseorang yang duduk di sampingnya tersebut dengan asumsi ia adalah seorang gadis.

Yah.. Gadis..

Gadis yang luar biasa cantik tentu saja..

.

.

.

Namja China itu hampir menghabiskan separuh kelas morfologinya dengan terpekur. Di awali dengan kejadian yang sukses menghebohkan siswa seantero sekolah di pagi hari, -kedatangan seorang siswi baru yang entah darimana asalnya. Hingga sampai pada saat si siswi baru tersebut dengan percaya dirinya yang kelewat pro akhirnya memperkenalkan diri di depan kelas dengan nama aslinya.

"Annyeong haseyo.. Kim Heechul imnida," katanya lancar dengan seulas senyum yang mampu melumerkan berpuluh pasang mata yang sedari tadi menatap penuh selidik kepadanya.

Hankyung berani bersumpah demi jas mahal Dolce & Gabbana milik Yoochun seonsaengnim. Dia benar-benar pusing. Ia muak. Ingin berteriak dan memaki-maki seluruh aturan tak waras yang memperbolehkan siswa siswinya untuk ber-crossdressing selama pelajaran berlangsung! Mungkin suatu hari ia ingin mencoba kostum Power Puff Girl saat pelajaran olahraga.

Namun sayangnya ia harus mengubur sejenak keinginan gilanya tersebut. Hankyung masih memiliki image penting di sekolah ini. Dan ia sadar akan hal itu.

Tapi keputusan bersabarnya itu tak ayal membuatnya harus ekstra menahan diri. Antara ingin membuka blazernya untuk menutupi paha Heechul yang terekspose bebas, atau cepat-cepat pergi dari neraka kelasnya dan menggiring Heechul demi meminta penjelasan atas aksi ekstrimnya hari ini.

"Tan Hankyung-ssi! Penjelasan saya ada di papan tulis di depan sini, bukan di paha Kim Heechul. Mengerti?"

Good! Mati kau Hankyung~ Rupanya ia terlalu lama melamun sambil menatap objek yang salah.

Wajah oriental itu pun sukses memerah bak kepiting rebus.

.

.

~oOo~

.

.


-Ruang Khusus Divisi Presiden Siswa, 04:30 pm-

"Kamsahamnida sunbae-nim untuk pengarahannya hari ini.."

Beberapa siswa berbadge divisi Organisasi Siswa membungkuk hormat kepada Siwon dan rekan-rekannya begitu sesi brieffing mereka mengenai pemilihan Presiden Siswa tahun ajaran baru telah usai.

"Minggu depan kita akan kembali mengadakan rapat untuk persiapan akhir menjelang pemilihan Presiden Siswa yang akan berlangsung satu bulan lagi. Mohon kehadirannya bagi para calon kandidat sekalian. Terima kasih dan selamat beristirahat."

Meja panjang ruang Organisasi Siswa pun berangsur menyepi. Meninggalkan Siwon, Donghae, Victoria dan dua calon kandidat yang masih membereskan perlengkapan mereka di sisi meja yang berbeda.

"Kami duluan ya Siwon-ah," pamit Victoria dan Donghae bersamaan.

Siwon hanya tersenyum dan membiarkan dua temannya tersebut meninggalkan ruangan terlebih dulu. Dengan santai ia membereskan berkas-berkasnya, namun manik tajamnya tak lepas untuk mengamati seorang namja yang nampak gusar di ujung sana.

"Ada yang bisa kubantu, Kibum-ah?" Akhirnya Siwon memutuskan untuk bertanya, karena kini hanya tinggal mereka berdua di ruangan itu.

"Kacamataku berembun dan aku kehilangan sapu tanganku," satu jawaban bernada nol derajat celcius meluncur dari bibir namja bermarga Kim tersebut.

"Kenapa tidak bilang dari tadi kalau kau kedinginan?" Siwon beranjak mendekati Kibum yang masih berkutat membongkar tasnya.

"Suhu di luar sana sudah sangat dingin dan kau menyetel AC ruangan ini dengan suhu minimum. Apa kau pikir anggota rapatmu beruang kutub semua, eoh?"

Alis Siwon naik sepasang. 'Kibum yang tak pernah berubah..'

Segaris senyum terlukis tulus di wajah tampannya. Sama sekali ia tak berniat membantu Kibum. Yang ingin ia lakukan sekarang hanyalah memandang. Menatap Kim Kibum-nya sepuas mungkin.

"Kau masih sama Kibum-ah. Kau selalu berubah menjadi cerewet jika kedinginan."

Deg~

Seketika semua aktifitas Kibum terhenti. Entah karena ia benar-benar sedang kedinginan atau ucapan Siwon yang terlalu mengejutkan. Namun kini ia merasa hatinya mendingin. Dingin yang sebenarnya.

"..."

"Kau masih marah denganku?"

"..."

"Kibum-ah.."

"Sudah sore, aku harus kembali ke asrama. Permisi." Kibum malas terjebak bahan pembicaraan Siwon.

Buru-buru ia melangkah keluar tanpa sedikitpun menoleh pada namja tinggi yang masih menantikan jawaban darinya.

"Tunggu Kibum-ah!" Sayangnya Siwon cukup gesit untuk menangkap lengan namja mungil itu.

"Apalagi?" Sungguh Kibum malas berbasa-basi dengan 'mantan' sahabatnya itu.

"Aku.." Siwon menggantung ucapannya. "Sekali lagi kumohon maafkan aku."

Reflek Kibum mendecih lirih. Ia sudah akan menepis tangan Siwon dan kembali berlalu, namun Siwon justru mempererat cengkramannya dan membuat tubuh Kibum kini menghadap padanya.

Ada rasa sesal yang sangat kentara dari raut wajahnya. Tapi Kibum tak melihatnya. Kacamatanya berembun total, dan ia bersyukur karena itu.

"Aku hanya ingin kita bisa seperti dulu lagi Bummie-ah.. Aku benar-benar menyesal tentang malam itu. Aku.. masih sangat menyayangimu."

Sosok Siwon yang tadinya hanya samar perlahan berangsur menjernih di mata Kibum. Saat itulah ia sadar bahwa sekarang embun di kacamatanya memudar. Dan ia juga sadar jika kini wajahnya dan Siwon berada pada jarak yang terlalu dekat hingga ia bisa merasakan hangat nafas namja maskulin itu menerpa pori-pori kulitnya.

Kibum terhanyut.. Siwon selalu bisa mempermainkan hatinya.

"Jadilah sahabatku seperti dulu lagi."

Nyut~

Dan Siwon yang selalu bisa menyentuh kembali 'luka'nya.

'Sahabat..'

Dalam hitungan sepersekian detik, wajah stoic itu pun kembali memasang topengnya. -Kibum the ice man.

"Kalau maksudmu aku harus menjadi seseorang yang mampu kau bodohi lagi, mohon maaf Tuan Choi, kau harus mengubur dalam-dalam mimpi indahmu itu!

−Permisi."

Cukup lama Siwon terdiam sampai punggung Kibum benar-benar menghilang dari pandangan. Tak ada tindakan berarti. Ketua Presiden Siswa itu hanya mampu menjerit dalam hati dan meninju udara.

.

.

~oOo~

.

.


Sudah menjadi kebiasaan Eunhyuk untuk menghabiskan akhir pekannya dengan menginap di asrama Ocean. Dari sekian banyak siswa asrama Blue, Eunhyuk termasuk siswa yang jarang berpulang kampung jika tidak sedang libur panjang. Dan secara kebetulan pula, siswa asrama Ocean memiliki hobi yang serupa dengannya.

"Hae-yaa.. Kau merubah password laptopmu eoh?"

Dan di sinilah namja berambut dark brown itu berada. Bersantai di kamar sahabat ikannya, Lee Donghae.

"Ketik saja 'CrazyMonkey' Hyuk! Semalam Leeteuk hyung menginstal ulang semuanya. Terpaksa aku rubah password-nya!" teriakan Donghae menggema dari dalam kamar mandi.

Di luar Eunhyuk hanya mencibir. Dari dulu Donghae memang tidak pernah jauh-jauh memakai kata Monkey sebagai password gadget-nya.

.

.

"Hyukkie-ya!" Donghae berteriak lagi.

Namun Eunhyuk yang telah fokus dengan streaming-nya sama sekali tidak mendengar teriakan itu, ditambah karena suara Donghae yang beradu dengan shower di dalam sana.

"Ya! Hyukkie!"

"Ne? Mwoo?"

Eunhyuk nyaris tersedak lidahnya sendiri dan jantungnya yang serasa ingin loncat indah. Bukan karena teriakan cempreng Donghae, melainkan karena namja pecinta ikan itu keluar dari kamar mandi tanpa mengenakan apa-apa. Telanjang, for a God shake!

"Demi Tuhan Lee Donghae, hilangkan kebiasaanmu berbugil ria seperti itu! Kau sudah tua, tau!" Eunhyuk bersungut frustasi. Menjadi teman Donghae selama 2 tahun bukan berarti ia sudah kebal dengan pertunjukan vulgar sahabatnya itu, Donghae memiliki kebiasaan buruk seperti anak usia lima tahun jika telah selesai mandi, dan Eunhyuk tetap saja berdebar-meskipun mereka sesama jenis-plus rona merah yang tidak pernah dapat ia sembunyikan.

"Libur tiga hari minggu depan aku akan ke Mokpo. Kau bagaimana?" Donghae sama sekali tidak mengindahkan protes Eunhyuk. Ia bertanya santai sambil memilih-milih pakaian tidurnya.

"Tumben?"

"Aku sudah membuat keputusan, Hyuk."

Eunhyuk termangu, menanti pernyataan mengejutkan Donghae selanjutnya.

"Aku akan mengenalkan Yesung hyung pada eomma."

Ckiit~

"Baguslah kalau begitu." namja penggila dance itu berusaha nampak tegar, walau hatinya lagi-lagi berdenyut ngilu.

Rencana liburan yang telah ia susun di otaknya bersama Donghae seketika meretak bak kepingan kaca yang tinggal menunggu detik untuk menjadi debu.

Namun jauh tanpa sepengetahuan Eunhyuk, dari bilik almarinya, Donghae sedang menatapnya penuh makna tak terbaca.

"Eunhyuk-ah.."

"Hm?"

Hup! Tanpa aba-aba namja bermata indah itu seketika langsung melompat ke ranjang empuknya dan menerjang tubuh kurus Eunhyuk.

Belum sempat Eunhyuk melayangkan protesnya, kaki dan tangan Donghae sudah melingkar indah mengunci pergerakan tubuhnya.

"Tidurlah bersamaku malam ini, Hyuk."

Sesaat Eunhyuk tercenung. Hening cukup lama sebelum suara dengkuran halus dan nafas yang teratur lamat-lamat menerpa bagian lehernya.

"Hh~ bagaimana bisa aku menghilangkan perasaanku padamu jika kau terus seperti ini..

.

.

..Selamat malam my fishy.."

.

.

~oOo~

.

.


Rok mini itu berayun tidak teratur mengikuti langkah-langkah panjang sepasang kaki yang kian meloncat-loncat kecil menyusuri koridor kelas dua belas. Entah angin apa yang sudah membawanya ke tempat asing seperti ini, namun namja cantik itu merasa bahwa ia harus mengunjungi tempat ini.

Ini sudah yang ketiga kalinya Heechul memutuskan untuk ber-cross dressing saat ke sekolah. Namun kali ini ia tidak lagi memanfaatkan perlengkapan-perlengkapan dari Victoria, karena ia sudah membeli semua kebutuhan gilanya itu sendiri.

Ddrrt.. Ddrtt..

Getar handphone menghentikan langkah kelincinya.

"Yeoboseyo Hankyungie~"

"Kau dimana Heechul-ah?" logat china beraksen korea itu sedikit membentak diujung sana.

"Eum?" Sejenak Heechul melirik ke arah arlojinya. Kelas berikutnya dimulai setengah jam lagi, lantas mengapa Hankyung tiba-tiba menelponnya. Namja cantik itu terdiam sesaat sebelum segaris senyum tercetak samar di bibir merahnya.

"Aku sekarang sedang jalan-jalan. Aku tidak tahu ini dimana, tapi tenang saja. Saran bocah setan kesayanganmu itu akan aku turuti jika nanti aku tersesat," jawabnya santai.

Nampak suara diujung telponnya sedang menghela nafas berat.

"Tapi kau kan sedang ber-crossdress dan... bagaimana jika nanti... aish, lupakan! Cepatlah kembali, mengerti?"

Pip pip pip..

Panggilan terputus sepihak. Sontak Heechul mengulum tawanya. Sama sekali ia tidak marah ataupun tersinggung. Ia justru sangat senang sekali. Semenjak ia mengenakan seragam wanita kesekolah, Hankyung jadi berlipat-lipat lebih protektif kepadanya. Saat berangkat ke gedung sekolah sampai kembali lagi ke asrama, Hankyung pasti tidak akan pernah berjalan jauh darinya. Melihat itu, ada kepuasan tersendiri bagi hati Kim Heechul.

Tapi kali ini, saat ada kelas kosong yang berharga, Heechul memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar. Bukan maksud kabur dari pengawasan Hankyung, namun ia hanya ingin sendiri. Itu saja.

.

.

.

"Tapi aku sudah lama menyukainya Tiff.."

"Persetan! Kau tidak boleh seperti ini Sooyoung-ah!"

"Kalian yang tidak boleh terus seperti ini! Kalian ini, mau sampai kapan membenci mereka, hah? Kalian terus melarang kami menyimpan perasaan untuk murid asrama Ocean, apa menurutmu lebih baik kami menjadi 'yuri' daripada menyukai mereka eoh?!"

"Di mataku, menjadi 'yuri' bahkan berkali lipat lebih baik daripada harus mencintai murid-murid sombong itu!"

"Kalian egois! Jangan menjadikan masa lalu kalian sebagai tameng kebencian kalian yang sebenarnya tidak beralasan itu! Apa... Apa satu tahun tidak cukup untuk mengikhlaskan Leeteuk dan Siwon yang sudah terang-terangan menolak kalian, Taeyeon-ah, Fanny-ah?"

Plak!

Sepasang mata Heechul nyaris melompat dari rongganya. Bukan salahnya mendengar percakapan itu. Bukan salahnya berdiri di sini, di balik pintu ruang ber-label "Beauty Class". Dan bukan salahnya pula dirinya dipertemukan dengan yeoja yang menurut kabar burung, sedang memendam rasa kepada Hankyung.

.

.

"Kau, Taeyeon-ah.. Berhentilah seperti ini dan mulailah menerima kenyataan bahwa Leeteuk oppa-mu itu gay dan hanya mencintai Kangin-ssi!"

Plak!

"Jaga bicaramu, Choi Sooyoung!"

Yeoja pendek yang rupanya bernama Taeyeon itu memekik murka. Wajahnya yang sebenarnya cantik kini memerah padam menahan amarah.

"Dan kau Tiffany! Siwon-mu... Sejak awal kau sudah mengetahui kalau Siwon menyukai Sungmin, benar? Dan dengan gilanya kau menyuruh murid kelas 12 untuk menyerang namja itu! Kau gila! Kau benar-benar sakit, Tiff! Kecemburuan buta membuat kalian tidak punya akal sehat!"

Plak!

"CUKUP Sooyoung-ah! Cukup! Aaarrgghh!"

Buagh!

.

Ini tidak bisa dibiarkan. Dengan mengesampingkan rasa syok yang meledak-ledak, Kim Heechul memutuskan untuk masuk ke medan berbahaya tersebut dan menghampiri sesosok yeoja yang kini tengah terhempas miris penuh lebam di wajahnya.

"Hentikan bodoh!" Hardiknya murka.

Di pandangnya wajah kedua yeoja yang sudah siap menerkam sewaktu-waktu tersebut dengan tatapan tak kalah liar.

"Siapa kau?!" desis Tiffany bingas.

"Jadi begini kelakuan murid asrama Sapphire yang terkenal dengan 'lemah lembut'-nya itu, eh?" Heechul ganti menantang dengan tatapan matanya.

Sekilas Tiffany melirik ke arah emblem emas yang tersemat rapi di dada seragam Heechul. Ocean.

"Murid asrama Ocean.." Dan sebuah seringai mencemooh terbit bak mentari di wajah cantik Tiffany.

.

.

~oOo~

.

.


-Kelas 10-A, 01:15 pm-

"Aku duluan ya, Ryeowook-ah." pamit Sungmin sembari mencangklong tas pundaknya kepada Ryeowook yang rupanya sedang sibuk menerima telepon dari seseorang.

Hari ini secara kebetulan kegiatan belajar mengajar kelas 10-A selesai lebih awal. Jelas hal tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh para siswa siswinya. Termasuk Lee Sungmin. Ia memutuskan untuk datang awal ke klub barunya untuk melatih kembali ilmu bela dirinya yang sempat meluntur akibat sudah lama sekali tidak ia gunakan.

Namja berpostur mungil itu melangkah santai sebelum secara tiba-tiba seseorang menahan pundaknya.

"Annyeong Sungmin," orang tersebut tersenyum padanya.

"Oh, annyeong Jungmo sunbae.." Sungmin membalas sopan.

"Kau sedang sibuk tidak sekarang?" Namja berpredikat ketua asrama Blue itu menelisik gesture Sungmin. Takut jika Sungmin sedang terburu-buru atau apa.

"Eum.. Tidak juga. Ada perlu denganku, Sunbae?"

Jungmo kembali tersenyum. Kali ini lebih lega.

"Ada hal yang ingin aku bicarakan. Yeah.. Jika kau tidak keberatan. Bagaimana?"

Sungmin terlihat berpikir sejenak sebelum mengiya-kan tawaran sunbaenya tersebut.

.

.

.

"Siang-siang begini ada kelas olahraga?" Alis Sungmin saling bertaut melihat lapangan sepak bola di hadapannya cukup ramai oleh siswa. Terutama run track-nya.

Jungmo mengajaknya berbincang di tribun lapangan bola khusus milik SM International. Kebetulan juga suasana siang itu tidak begitu menyengat, hingga mereka dapat ngobrol tanpa kepanasan.

"Ada olimpiade yang berlangsung tiga bulan lagi. Jadi tim perwakilan sekolah terpaksa harus mencuri waktu untuk intensif berlatih."

Yang bertanya hanya ber-O ria sambil terus menatap beberapa siswa yang sedang mengambil ancang-ancang di garis start.

"Aku turut prihatin dengan musibah yang menimpamu beberapa hari yang lalu, Sungmin-ah." Jungmo membuka pembicaraan.

Sungmin menoleh, sedikit tidak paham maksud kalimat Jungmo.

"Musibah?"

"Ya. Tentang penyerangan yang terjadi padamu. Aku sungguh merasa bersalah karena tidak bisa melindungi adik kelas dari asramaku sendiri. Aku ini... ketua yang bodoh ya?" kata Jungmo pelan. Ia tidak menatap Sungmin. Sedari tadi ia hanya menunduk dan memutar-mutar jarinya di lingkaran atas kaleng softdrink-nya.

Sungmin sudah paham maksud Jungmo. Jujur ia tidak ingin membahas soal itu lagi. Ia bahkan sudah lupa seolah kejadian itu tidak pernah terjadi.

"Gwenchana.. Aku baik-baik saja, Sunbae. Kau tidak perlu merasa seperti itu. Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik sebagai ketua. Dan penyerangan itu, benar katamu, semuanya hanyalah musibah," ucap Sungmin tulus, ia mencoba menegarkan kembali hati Jungmo.

"Aku dengar juga.. Cho Kyuhyun ya yang menyelamatkanmu?" lagi-lagi Jungmo tidak menatap Sungmin.

"Nde. Dia yang menyelamatkanku."

Nada suara Sungmin berubah. Jungmo merasakannya. Sungmin yang mencoba menghiburnya tadi dan Sungmin yang menanggapi pertanyaannya tentang Kyuhyun. Semuanya berbeda.. Sungmin jauh lebih 'bernyawa' saat membahas namja termuda se-Ocean itu.

"Tapi Cho Kyuhyun adalah murid asrama Ocean."

"Memang kenapa kalau dia murid asrama Ocean?"

Berubah lagi... Nada yang terdengar kini menjurus ke nada ketidak-sukaan terhadap sesuatu.

"Kau tidak curiga dengannya? Mungkin saja dia ikut terlibat dalam kasus penyeranganmu itu?" kali ini Jungmo mencoba menatap mata Sungmin.

"Aku yakin dia tidak seperti itu." sepasang mata rubah Sungmin bahkan ikut berbicara, tanda ia tidak suka dengan tuduhan tak beralasan Jungmo.

"Kau masih terlalu dini untuk mengenal siapa murid asrama Ocean, Sungmin-ah. Aku sarankan kau agar tidak terlalu dekat dengan mereka jika kau tidak ingin terluka."

"Apa yang membuat Sunbae membenci mereka? Sebenarnya murid asrama Ocean sudah melakukan apa kepada kita?"

Nampak Jungmo berdehem pelan di samping Sungmin. Ia tidak langsung menjawab dan memilih menghabisan beberapa teguk lagi sofdrinknya.

"Mereka sudah mengambil alih segalanya. Mereka terlalu istimewa sehingga para senat dan para guru mendewakan mereka. Meletakkan mereka di yang paling utama dalam bidang apapun. Mereka seolah dibutakan oleh para murid Ocean sampai-sampai kami, murid asrama Blue dimata mereka hanyalah berfungsi sebagai aksesori kelas."

"Mereka hanya sekumpulan siswa dengan aroganisme tinggi yang sama sekali tidak bisa menghargai orang lain dan selalu menginjak-injak yang lemah!"

Krak.. Secara emosional Jungmo meremas kaleng kosong di tangannya.

"Tapi menurutku Kyuhyun bukan orang seperti itu."

Hening...

Perlahan ada amarah yang entah mengapa tersulut di puncak kepala Jungmo saat Sungmin lagi-lagi membela Kyuhyun.

"Sudah kukatakan kau masih terlalu dini untuk menilainya, Sungmin." namja berambut perak itu mencoba menahan emosi.

"Yeah..." perlahan Sungmin paham. Ia mengangguk-angguk sendiri dan kemudian tersenyum masam. "Jadi kau mengajakku kemari hanya untuk menyampaikan hal ini padaku?"

"Aku hanya tidak ingin kau kecewa, Sungmin-ah."

"Asal Sunbae tahu, awalnya aku juga mengira jika murid asrama Ocean itu semuanya arogan dan sok. Namun setelah aku mengenal sendiri sosok Kyuhyun, aku rasa tidak pantas untuk menilai mereka secara subjektif."

Jelas sekali jika saat ini Kim Jungmo sedang benar-benar menahan dirinya agar tidak meriaki Sungmin langsung di depan wajahnya. Jungmo sungguh frustasi. Ia seperti melihat Eunhyuk kedua sekarang. Sungmin begitu berpendirian kuat, ia mungkin saja sudah terjebak permainan Cho Kyuhyun. Namun yang jelas, di sisi Jungmo, ia seolah sedang melihat suatu ancaman akan mendekatinya. Entah cepat atau lambat..

"Aku sudah memperingatkanmu, Sungmin."

Priiittt...

"Cho Kyuhyun, WIN!"

.

"Kau lihat, untuk apa mengikut sertakan murid asrama Blue jika mereka sudah tahu jika Cho Kyuhyun-lah yang selalu jadi yang pertama."

Jungmo mencibir sekilas saat melihat namja tinggi yang dari kejauhan pun auranya begitu kuat menguar, sedang tertawa penuh kebanggaan seusai mencapai garis finishnya.

"Semoga kau tidak menyukai orang yang salah, Min." ucapnya lirih untuk yang terakhir kalinya siang itu sebelum berlalu menginggalkan Sungmin yang masih terpaku pada arena berlari di hadapannya. Tepatnya pada sesosok namja yang kini sedang bersiap lagi di garis start untuk yang ketiga kalinya.

.

.

~oOo~

.

.


-SM International, 02:30 pm-

Mungkin ini salah satu hal yang membuat Leeteuk amat sangat menyayanginya. Dengan sekantong keripik kentang di tangannya, kedua bola mata berbinar dan wajah yang selalu nampak berseri-seri, plus semangat yang dibalut oleh sejuta kepolosan di dirinya, Lee Donghae menceritakan rencana liburannya yang telah ia susun sedemikian rupa kepada hyung tertua-nya yang dengan sabar menyimak setiap detilnya.

"Bagaimana menurutmu, hyung?" tanya Donghae di akhir ceritanya.

"Eum.." Leeteuk nampak seolah-olah sedang berpikir keras.

"Jadi kau sudah menetapkan hati untuk mengajak Yesung ke Mokpo dan mengenalkannya ke eomma-mu?"

Namja berambut hazel itu mengangguk mantap.

"Kau sudah mengabari Yesung soal rencanamu itu?"

Kali ini Donghae ganti menggeleng, tapi ajaibnya, hal itu tidak mengurangi intensitas semangatnya.

"Wae? Kau mau membuat surprize, eh?" dengan gemas Leeteuk merebut kantong keripik di tangan Donghae dan melahap habis isinya.

"Sesungguhnya aku grogi, hyung.." namja manis itu menggaruk tengkuknya malu-malu. "Aku takut Yesung-hyung tidak mau kuajak menemui eomma."

"Ya! Kau pesimis sekali! Mana nae Donghae yang tadi penuh semangat itu eoh?" Leeteuk meninju pelan lengan Donghae.

"Kau harus mengabarinya sekarang juga! Aku yakin Yesung pasti setuju." dan ditepuknya pelan pucuk kepala dongsaeng kesayangannya itu.

.

.

Sudah tujuh kali Donghae mencoba menghubungi nomer namjachingu-nya tersebut, tapi reaksi yang ia dapat sejak beberapa menit yang lalu hanya nada sibuk yang tak pernah berhenti.

Perlahan timbul kegusaran yang mulai merambati tiap sisi wajahnya. Leeteuk yang sedari tadi menemaninya jadi ikut harap-harap cemas melihat Donghae.

"Mungkin Yesung sedang sibuk, Hae.." hiburnya sabar.

"Nde.. Mungkin saja, hyung.." dengan lemas Donghae menyimpan kembali handphone hitamnya ke saku. Mungkin Leeteuk benar, Yesung sedang sibuk sekarang..

Mereka berdua sudah hendak beranjak dari tempat mengobrol mereka sebelum sebuah nama yang amat familiar di telinga keduanya tiba-tiba disebut oleh seseorang.

"Baiklah Yesung-hyung~ aku janji liburan minggu depan aku akan menemanimu full selama tiga hari! Oke?"

"Huh, kencan kau bilang? Hahahaha.. Kau benar-benar hyung yang sangat genit! Aku batalkan saja semua penawaranku tadi kalau kau masih terus berkata seperti itu!"

"Mwoo? Aniya aniyaaa.. Nde nde.. Arraseo.. Aku akan berkencan denganmu. Ke taman bermain, naik bianglala berdua dan membeli es krim cup jumbo bersama. Puas? Kau selalu menang tuan kepala besaaar.. Hahahahaha.."

.

.

Untuk sesaat baik Donghae dan Leeteuk, keduanya hanya bisa saling memandang tanpa ada yang berniat untuk berkata-kata. Pikiran mereka telah terucapkan tanpa harus melalui suara.

Yang bisa mereka lakukan hanya menatap punggung seseorang yang nampaknya masih asyik sendiri dengan dunianya. Menyimak nada bicaranya yang terkadang ceria, tersipu, marah, merajuk hingga pada tingkat termesra..

"Hyung..." untuk yang pertama kalinya sejak beberapa menit terakhir, Donghae bersuara.

Tapi Leeteuk tidak ingin menjawab. Leeteuk bahkan tidak tega barang sekedar menatap mata Donghae yang tampak tegar walau aslinya siap pecah..

"Hyung dengar? Dia menyebut nama Yesung-hyung kan?"

Lagi-lagi Leeteuk tidak menjawab. Sesungguhnya Leeteuk masih ingin menyimak pembicaraan murid asrama Blue tersebut di telponnya.

"Mungkin kau salah dengar, Hae." bisik Leeteuk mencoba menghibur.

"Aku tidak mungkin salah dengar karena dia Kim Ryeowook, hyung! Dia adik angkatnya Yesung-hyung!"

"Mwo?" kali ini Leeteuk sungguh terkejut. Donghae pernah bercerita soal adik angkat Yesung, tapi Leeteuk tidak menyangka jika dia juga murid di SMI High School.

"Jadi dia itu Kim Ryeowook?" ulang Leeteuk berbisik. Si objek pembicaraan berada kurang dari dua meter dari mereka.

"O.."

"Lalu?"

"Kau dengar kan, hyung. Liburan nanti mereka akan pergi bersama. Jadi... Jadi aku tidak akan mengganggu lagi." Kobar semangat di diri Donghae bagai tertimbun badai salju. Semuanya menghilang tak berbekas..

Satu-satunya hal yang bisa dilakukan oleh Leeteuk sekarang adalah membawa Donghae pergi dari sana. Donghae memerlukan waktu untuk berpikir dua kali dan memutuskan semuanya..

Namun..

"Bagaimana dengan Donghae-hyung? Kau jahat sekali kalau melupakannya!"

"..."

Untuk yang kesekian kalinya Leeteuk dan Donghae hanya bisa terpekur di tempat.

Mereka ingin mendengar lagi. Mendengar lebih banyak dan lebih jelas lagi percakapan Ryeowook dengan lawan bicaranya di telepon, namun entah suara Ryeowook yang semakin mengecil, atau telinga Donghae yang memaksa untuk tuli. Yang jelas ia ingin secepatnya pergi dari tempat itu.

Dan semakin ingin berlari saat satu kalimat terakhir terucap terlalu jelas dari bibir mungil Ryeowook,

"Nado saranghaeyo, Yesungie.."

.

.

~oOo~

.

.


Jarum jam Heechul sudah menunjuk angka tiga tepat, namun yeoja di sebelahnya ini tak kunjung menghentikan isak pilunya. Berkurang saja pun tidak.

"Mau sampai kapan menangis seperti itu? Kau mau membunuh dirimu sendiri dengan cara menangis sepanjang hari hah?" celetuk Heechul asal.

Sesungguhnya ia sudah bosan dan ingin kembali ke asramanya sejak dua jam yang lalu. Namun yeoja ber-name tag Choi Sooyoung yang nampak seperti korban kebakaran rumah ini membuat Heechul tidak tega untuk meninggalkannya begitu saja.

"Kau itu yeoja. Tidak seharusnya membiarkan penampilanmu compang camping seperti itu!" namja berparas cantik itu lagi-lagi menyeletuk asal.

"Kau tahu.." cicit Sooyoung tiba-tiba.

"Hari ini aku berencana akan menyatakan cintaku pada Hankyung-ssi.. Tepat pukul tiga."

"..."

Sooyoung mengeluarkan sebuah kertas kecil berwarna pink salem dari kantongnya dan kemudian memandanginya dramatis.

"Ini surat cadangan. Aku sudah berjaga-jaga jika suatu saat Tiffany dan teman-temannya mengetahui rencanaku dan menghancurkannya."

Mau tak mau Heechul sedikit penasaran. Entah ia ingin bersyukur atau kasihan melihat rencana Sooyoung yang nampaknya sudah gagal total.

"Kenapa harus jam tiga?" tanyanya basa-basi.

Yeoja itu menoleh padanya. Untuk yang pertama kalinya akhirnya Heechul bisa melihat wajah Sooyoung secara jelas. Sejak ia dan Heechul pergi dari 'terkaman' Tiffany dan Taeyeon, Sooyoung selalu menunduk dan menyembunyikan wajahnya. Namun sekarang, begitu yeoja itu menengadah, secara naluriah batin Heechul mengiba. Bibir Sooyoung berdarah, pipi kirinya lebam dan bekas tamparan menghias jelas di sana. Wanita menjadi amat sangat buas jika sedang tersulut emosi.

"Dulu saat Masa Orientasi Siswa, Hankyung-ssi pernah ditantang oleh para sunbae untuk menciptakan satu momen istimewa di saat senja tiba." Sooyoung memulai ceritanya sambil berdiri dan menatap jam katedral raksasa di arah barat.

"Banyak yang gagal dalam tantangan itu. Karena saat itu sedang musim gugur, dan matahari sama sekali tidak tentu datangnya," kenangnya.

Di sampingnya Heechul masih setia menyimak ceritanya.

"Tapi Hankyung-ssi berhasil," sorot mata Sooyoung menandakan bahwa ia amat sangat mengagumi sosok Hankyung.

"Dia berdiri di sana," telunjuk rampingnya menunjuk ke arah pusat lapangan raksasa di bawah sana.

"Tepat pukul tiga. Matahari yang sedang tidak bersinar terlalu terik membias sebuah bayangan dari pion-pion katedral di atas sana. Dan like a magic, Hankyung-ssi seolah-olah sedang berdiri di tengah sebuah tanda hati dengan bentuk yang amat sempurna."

"Hankyung-ssi seperti tokoh pangeran yang keluar dari dalam komik. Dia dan senja sama-sama indah. Tidak terlalu menyilaukan namun memiliki kesan mendalam."

Sooyoung menghentikan ceritanya dan menoleh pada Heechul di sampingnya. Sejujurnya Sooyoung tidak mengenal Heechul. Ia bahkan tidak mengetahui gender asli 'yeoja' yang dua jam lalu telah menyelamatkan separuh nyawanya tersebut.

"Dan bagiku, Hankyung itu adalah matahari. Matahari senja.."

Ucapan itu terlantun begitu saja dari belahan bibir Kim Heechul. Seperti angin yang membisik tapi begitu jelas terdengar, bahkan terlalu mudah ditangkap oleh syaraf pendengaran seorang namja yang sejak setengah jam sudah berada di antara mereka dan memperhatikan segalanya.

.

.

.

"Kau menyukai Hankyung-ssi?" pertanyaan pertama Sooyoung terucap sesaat setelah Heechul hendak berlalu.

Langkah namja itu terhenti namun ia tidak menoleh sama sekali.

"A-aniya. Lupakan saja," merasa tidak sopan, Sooyoung buru-buru mencabut pertanyaan bodohnya. "Terima kasih untuk yang tadi."

Di tempatnya, yeoja itu tersenyum. Ini adalah pertama kalinya ia tersenyum tulus untuk seorang yeoja bertitle "Ocean Academy", dan tidak ada rasa sesal yang menyisipinya. Sama sekali.

.

.

.

"Yeoboseyo Heechul-ah?"

"Ya?"

"Cepatlah kembali ke asrama."

"Algesseo Hankyungie~"

"Josimhae."

"Ne.."

.

Namja berdarah China itu menghela nafas panjang. Disimpannya kembali handphonenya dan membenarkan sebentar posisi ranselnya sebelum keluar dari balik pilar yang menyembunyikan tubuhnya dan kembali melangkah,

−Tiga meter di belakang langkah Heechul.

.

.

~oOo~

.

.


Kericuhan di asrama Ocean sering kali dipicu oleh beberapa sebab dan beberapa perkara tidak penting. Selain karena stok makanan, games, karaoke dan Victoria yang sedang masa pms, mereka juga sering diributkan dengan diskusi 'cara menghabiskan waktu libur dengan cermat dan hemat'. Seperti yang sedang terjadi sekarang, tepat pada jam santai masal, jam delapan malam, di ruang tengah, dimana sofa terempuk sedunia menjadi satu-satunya objek paling diincar jika mereka sedang berkumpul bersama.

Murid-murid asrama Ocean yang notabene berada jauh dari kampung halaman, secara naluriah sering kali memutuskan untuk menghabiskan waktu libur bersama. Di samping karena faktor malas, jiwa kebersamaan mereka yang kelewat lekat membuat mereka lebih senang jika bisa selalu berkumpul berdelapan tanpa ada bosan-bosannya.

Leeteuk yang terkenal dengan bijak namun 'terlalu hemat'-nya mengusulkan jika liburan kali ini dimanfaatkan dengan berwisata bahari, alasannya, selain bermanfaat bagi tubuh, wisata bahari juga merupakan cara liburan yang tidak menghabiskan banyak biaya.

Berbeda dengan si magnae Kyuhyun yang lebih senang berlibur dengan timbunan kaset game dan psp tercinta, alasannya tidak jauh berbeda, selain bermanfaat bagi penyegaran otak, bermain game bahkan jauh lebih hemat daripada berwisata.

Namun kedua pribadi manusia yang berbeda itu kali ini terpaksa mengalah kepada suara terbanyak, yakni usul Hankyung, Kangin, Victoria, dan Siwon, mereka ingin pergi ke pantai sebelum musim gugur tiba.

Lalu Donghae dan Heechul?

Donghae yang terpaksa merombak ulang rencana liburannya bersama Yesung, memilih untuk idem, alias setuju dengan segala keputusan yang ditetapkan. Batinnya masih kalut, dan ia hanya butuh penghiburan. Tanpa Yesung tentu saja.

Tapi berbeda lagi dengan namja cantik satu ini. Si anggota baru asrama istimewa itu menolak keras berlibur ke pantai. Alasannya sangat delusif, karena jika mereka ke pantai, ia tidak bisa bercross dressing di sana. Dia tidak mungkin berbikini. Karena err...

"Aku pantang menggunakan dada buatan!" ucapnya lantang sambil menyilangkan kedua tangan di dada.

Dan sayangnya keputusan yang lain sudah bulat. Liburan tiga hari minggu depan resmi dimanfaatkan dengan bermain di pantai! Deal.

.

.

.

~oOo~

.

.

.


Seminggu kemudian..

Kedelapan pasang mata itu sama-sama memejam khidmat. Membiarkan beberapa detik berlalu begitu saja untuk meresapi tiap liter udara bersih yang menyerbu rongga-rongga dada mereka. Memanjakan indera pendengaran sejenak dengan debur ombak yang samar-samar bergemuruh di kejauhan, dan menyapa sepoi angin yang menerpa lembut lapisan kulit masing-masing. Sungguh pesona alam yang tidak akan dapat mereka temui di kota besar Korea Selatan.

Mereka telah tiba di tempat tujuan. Sebuah daerah terpencil beberapa mil dari ibukota. Bukan merupakan daerah asing karena cukup banyak wisatawan maupun warga setempat yang juga menikmati wisata di daerah ini. Walau bukan termasuk tempat wisata besar, namun ke-alami-an alamnya membuat ketujuh namja plus satu yeoja ini memilih lokasi tersebut untuk menghabiskan liburan mereka.

.

.

.

"Aku sengaja memesan villa tipe ini, yang memiliki dua kamar besar dan satu kamar ukuran kecil. Victoria akan menempati yang kecil. Lalu aku, Donghae, Siwon dan Kangin akan sekamar. Sedang sisanya kalian bertiga, setuju?" ucap Leeteuk kepada Hankyung, Heechul dan Kyuhyun. Ia sudah siap dengan tiga kunci kamar begitu mereka tiba di sebuah villa tempat mereka akan bermalam.

"Andwae! Lebih baik aku tidur di pekarangan daripada harus sekamar dengan dia!", Kyuhyun protes keras sembari menatap horor ke arah Heechul yang balas menatapnya sengit.

"Tidur saja sana di pekarangan, bocah! Aku juga tidak sudi berbagi kamar dengan setan berisik sepertimu!" semprot Heechul sadis.

Sementara duo setan itu terus beradu mulut, Kangin mendekat ke arah Leeteuk dan membisikinya. Leeteuk nampak berpikir sejenak sebelum akhirnya ia berdehem keras untuk melerai Heechul dan Kyuhyun.

"Baiklah baiklah. Kyu, kau sekamar denganku, biar Kangin yang sekamar dengan Hankyung dan Heechul. Bagaimana?"

Bak hujan di gurun pasir, Kyuhyun pun tersenyum seperti tak waras. Dengan semangat ia mendekat ke Leeteuk sembari nyengir lebar. "Kau memang yang terbaik, hyung! Mana kunci kamar kita? Aku ingin memasang playstationku di sana."

Leeteuk cengo, Siwon memutar bola mata, dan Heechul mencibir, seharusnya dari awal mereka sudah tahu, Kyuhyun tidak akan pernah lepas dari teknologi bernama: Game!

Have a nice night, WonHaeTeuk..

.

.

~oOo~

.

.


Semilir angin menerbangkan helai-helai ikal legam Kyuhyun. Sebelum berlibur, namja termuda seasrama itu sengaja merubah warna rambutnya dan sedikit merapikan hair style-nya. Sesekali ia tersenyum kecil jika mengingat komentar hyung-deul-nya tentang tatanan baru rambutnya.

"Kau terlihat jauh lebih muda dan manly jika begitu," meski dongkol, namun Kyuhyun harus jujur, jika komentar sarkasme Heechul-lah yang paling 'mengena' untuknya.

"Iblis itu memang ingin kurobek mulutnya!" makinya membatin.

Selama ini tidak sedikit ia menerima surat dari penggemar rahasia maupun teman-teman sekelasnya sendiri. Tidak ada yang mengatakan bahwa Kyuhyun tidak populer. Sesungguhnya, dibanding Choi Siwon maupun Lee Donghae, Kyuhyun justru yang lebih sering mendapat hadiah dari para fansnya, baik berupa benda, sebatang coklat maupun sepucuk surat cinta. Namun akhir-akhir ini, beberapa dari penggemar rahasianya mengatakan bahwa dia terlihat sangat cantik. Hell! Mau tak mau Kyuhyun menjadi uring-uringan membacanya. Dia tampan, and he knows it!

.

Sore menyapa. Kaki-kaki panjang itu terus mengayuh lamban pedal sepeda fixie-nya menyusuri sepanjang garis pantai yang membentang luas di sebelah baratnya. Matahari masih nampak enggan berpulang ke peraduan. Seperti dirinya yang masih ingin berlama-lama menikmati sore hari di setapak ini. Ditambah dengan sepasang headset putih yang turut memanjakan pendengarannya dengan beberapa lantunan lagu favoritnya. Benar-benar sore yang sempurna..

Sejenak ia menjadi teringat seseorang. Seseorang yang sebenarnya sangat ia rindukan. Semenjak ia mendapat jadwal tambahan untuk latihan pra-olimpiade sekolah, waktunya untuk menemui orang tersebut benar-benar nihil. Dan sekarang, begitu ia sedang sendirian seperti ini, sosok indah itu perlahan menyita kembali seluruh pikirannya. Betapa ia ingin melihat paras manisnya. Mata indahnya, dan senyum yang selalu bisa memacu detak jantungnya.

[We've had many little quarrels.

We also had some days apart each other.

But each time, it reminded me that I need you.]

.

.

Namja itu terus mengayuh sepedanya. Sesekali ia melambatkan temponya begitu ia melewati tempat-tempat menarik seperti tempat yang sekarang ia jumpai. Sebuah taman kecil yang sangat unik karena ada papan catur raksasa di sana. Taman itu cukup ramai tetapi tidak terlalu padat. Dengan masih menaiki sepedanya, ia mengelilingi papan catur itu. Pionnya yang setinggi bahu orang dewasa, berjajar acak, mungkin memang sengaja ditata seperti itu. Beberapa orang banyak yang berfoto atau hanya sekedar bercengkrama. Namun obsidian kelam itu seketika menajam saat ia menangkap siluet seorang namja yang nampaknya sedang kesakitan di ujung petak.

Kayuhannya melambat saat dirasa sosok yang sedang terduduk menahan nyeri itu begitu familiar di matanya. Ia semakin mendekat untuk memastikan, dan hei...

Brak!

Semata-mata namja itu menggeletakkan sepedanya begitu saja lalu berlari menghampiri sosok tersebut.

"Sungmin?"

Kepala yang sedari tadi menunduk itu pun reflek mendongak cepat ketika mendengar namanya disebut.

"Kyuhyun sunbae?"

Dan begitu pun dengan sepasang bola mata rubah yang seketika membulat begitu ia menatap figur seseorang yang tidak asing lagi baginya itu sedang menunduk di depannya.

Kyuhyun terdiam. Sungmin terdiam. Pikiran mereka meneriakkan satu suara, mereka tidak sedang berhalusinasi bukan?

"Ini benar kau?" bahkan suara hati mereka pun berujar kompak.

Sungmin tertawa. Ia seolah lupa dengan sakit di pergelangan kakinya. Mimpi indah pun tidak, namun siapa yang menyangka jika ia bertemu Kyuhyun di tempat seperti ini?

"Kau benar Sungmin kan?" Lain Sungmin lain Kyuhyun. Nampaknya namja evil ini masih belum mempercayai takdirnya.

"Aigo.. Kenapa kebetulan sekali?" lirih Sungmin tidak habis pikir.

"K-kenapa kau bisa di sini, Min?"

"Aku sedang berlibur bersama Kibum sepupuku, Kyuhyun-ah. Kebetulan aku sedang ingin berskate board sendirian. Tapi sial, kakiku terkilir," ucap Sungmin menjelaskan. "Dan kau sendiri... Kenapa bisa kemari?"

"Aku juga sedang berlibur bersama hyung-deul yang lain."

Kyuhyun bukan tidak mempercayai fenomena "kebetulan", namun hei~ sepertinya rencana Tuhan terlalu mulus untuk setan sepertinya. ^^v

.

.

Sungmin tidak sanggup berjalan meski penginapannya tidak terlalu jauh dari taman itu. Kyuhyun yang khawatir akut menawarkan diri untuk mengantar walau Sungmin bersikukuh tidak ingin merepotkan. Akhirnya dengan sedikit paksaan dari Kyuhyun, Sungmin pun mau diajak berbocengan sepeda dengannya.

"Berpeganganlah. Jangan sampai jatuh."

Dengan hati-hati Kyuhyun menuntun Sungmin untuk duduk di bagian depan sepedanya. Setelah dirasa semuanya nyaman, perlahan Kyuhyun mengayuhnya lambat-lambat.

Hati Sungmin berdesir di saat ia merasa punggungnya bersentuhan langsung dengan dada Kyuhyun. Bentuk sepeda Kyuhyun mengharuskan posisi mereka menjadi cukup intim. Dengan Kyuhyun yang seolah sedang mengungkung tubuhnya dari belakang serta tubuh keduanya yang menempel erat. Kyuhyun berani bersumpah jika jantungnya sekarang sedang jumpalitan di dalam sana.

.

.

Warna jingga senja tidak bisa menutupi semburat merah yang kini mewarnai kulit seputih susu di pipi Sungmin. Seinchi pun ia tidak berani menoleh ke kiri. Wajah Kyuhyun berada pas di samping kiri wajahnya dan itu membuat dadanya semakin sesak. Ia bahkan bisa mencium wangi maskulin namja tampan itu meski sekarang keringat tipis perlahan melapisi bagian-bagian wajahnya.

"Maaf kalau aku berat," ucap Sungmin pelan karena ia merasa Kyuhyun mengayuh sepedanya dengan sangat lamban.

Sebaliknya, Kyuhyun justru tersenyum. "Kau memang berat. Aku tidak bohong."

Ucapan Kyuhyun sukses membuat Sungmin makin merasa bersalah. Ia menunduk semakin dalam.

"Tapi karena itu kau, entah kenapa aku merasa ringan."

Reflek Sungmin mendongak dan menoleh. Sebuah reflek yang sungguh salah, karena saat ia menoleh, Kyuhyun sedang mengerling dan tersenyum ke arahnya. Demi langit dan bumi, Cho Kyuhyun, jika di pandang dalam jarak sedekat ini, ternyata luar biasa mempesona.

Mata tajam itu. Hidung bangirnya, rahangnya yang tegas, serta bibir tebalnya yang merah alami. Sungmin jatuh cinta. Ia jatuh cinta dengan ciptaan Tuhan yang Maha Sempurna.

"Tidak usah terpesona seperti itu, Min. Aku tahu aku tampan," seloroh Kyuhyun saat ia merasa Sungmin tidak lepas memandanginya.

"Tidak ada memandang ke arahmu. Percaya diri sekali." Cepat-cepat Sungmin membuang muka. Wajahnya sudah benar-benar merona sekarang.

Melihat Sungmin yang tertangkap basah, Kyuhyun semata-mata tergelak. Ia sungguh gemas dengan sosok indah di depannya ini. Namun sekali lagi, lain Kyuhyun lain Sungmin.

Tawa Kyuhyun membuat sesuatu dalam diri Sungmin bergemuruh. Getar tawa Kyuhyun, sukses membuat roma Sungmin meremang. Dan kini namja ber-hoodie garis-garis itu harus mengutuk dalam hati, bagaimana rambatan panas dengan tidak sopannya menjalar hingga ke tengkuknya.

.

.

~oOo~

.

.


Semua anggota asrama Ocean tidak habis pikir dengan serangkaian peristiwa 'kebetulan' yang terjadi.

Secara kebetulan beberapa siswa asrama Blue berlibur di lokasi yang sama dengan mereka. Secara kebetulan juga mereka menginap satu komplek dengan villa Leeteuk dkk. Dan secara kebetulan pula kedua kubu itu kini bertemu di tempat yang sama dan di waktu yang sama pula.

"Tidak menyangka kita akan bertemu di lokasi liburan yang sama seperti ini, Leeteuk-ssi." Kim Jungmo yang pertama menyapa sok ramah pada Leeteuk cs yang sengaja berkumpul untuk berpesta api unggun di bibir pantai.

"Ne. Kebetulan sekali, Jungmo-ssi," Leeteuk mencoba seramah mungkin dengan ketua asrama Blue tersebut. "Rupanya kalian juga berlibur bersama, eoh?" Ia mengerling ke arah beberapa siswa asrama Blue lainnya yang juga turut berkumpul di sana.

Di belakang Leeteuk, Kangin mendengus malas. Moodnya memburuk drastis ketika ia tahu jika biang kerok sekolah sekelas Jungmo cs juga berlibur di tempat ini.

Ekspresi yang sama juga ditunjukkan oleh Victoria kala ia melihat Tiffany, Seohyun, dan Sooyoung juga ikut serta dalam kubu asrama Blue.

Sebenarnya Kyuhyun sangat bahagia saat mengetahui Sungmin juga berlibur di tempat yang sama dengannya, namun ia tidak begitu senang saat mengetahui kenyataan bahwa Sungmin ternyata satu grup dengan sunbae-sunbaenya yang pengganggu itu.

Bukan salah Sungmin sebenarnya. Ia hanya berlibur dengan teman-teman seasramanya. Siapa yang menyangka jika mereka ternyata akan bertemu dengan murid-murid asrama Ocean di sini?

Perasaan berkelut juga dirasakan oleh Siwon dan Donghae. Siwon mencelos saat matanya tidak sengaja bertemu pandang dengan seseorang yang kini sedang memapah Sungmin. Namja dengan tatapan sedingin angin malam. Bola mata yang terbingkai frame hitam itu balas menatap Siwon tenang.

"Kim Kibum.."

"Donghae-ya?"

"Donghae sunbae?"

Dan suara lain yang turut melengkapi kebersamaan mereka malam ini adalah..

"Eunhyuk-ah? Mochi-ah?"

Donghae tidak tahu harus tersenyum, bersorak girang atau malah terjun ke pantai. Dua namja di depannya itu adalah sahabat sejatinya, Lee Hyukjae. Dan hoobae kesayangannya, Henry Lau. Namun entah kenapa ketiganya bersikap seolah-olah mereka adalah orang asing. Ada sebuah rasa yang berkecamuk di batin mereka, dan mereka tidak tahu mengapa bisa demikian.

Runutan perjumpaan canggung itu tidak terlalu berefek pada Hankyung dan Heechul. Heechul, meski ia sedikit malas bertemu kembali dengan Sooyoung, tapi ia menunjukkan sikap seperti biasa. Seolah-olah ia dan Sooyoung tidak pernah mengenal sebelumnya. Dan Hankyung.. Namja itu tak jauh berbeda dengan Heechul. Meski ia akui, dia malas bertemu dengan Jungmo cs, tapi Hankyung tetap tenang dan sebisa mungkin tidak terlalu terbawa suasana.

"Mari kita nikmati liburan ini bersama, Leeteuk-ssi. Dengan tidak memandang latar belakang asrama maupun yang lainnya. Just have fun and enjoy our holiday!"

Jungmo berkata tenang dan riang. Namun Leeteuk dan yang lainnya tidak bodoh. Dalam kamus asrama Blue, tidak ada istilah berdamai bagi asrama Ocean. Apapun kondisinya.

.

.

.

.

~To Be Continue~

.

.

.


Annyeong~ apa kabar? Hehe~

Chapter ini sebenarnya engga rencana tebece di sini.. Tapi kalau diterusin bakal jadi sangat panjang~ -_-

Nah, daripada nanti ceritanya engga maksimal, jadi saya cut untuk dilanjut ke chapter 7 saja~ ehe.. :p

Chapter ini masih membingungkan pasti ya? ^^a maafkan saya yang terlalu bertele-tele dalam membuat alur..

Semoga chapter berikutnya akan memperjelas semuanya.. :))

Doakan bisa update cepat~ dukungan dan apresiasi teman-teman reader maupun reviewer sungguh menjadi pemacu(?) semangat saya.. ^^

ITECHAAAN . Viivii-ken . Lee bummebum . youi-chan . hana ryeong9 . Mrs EvilGameGyu . kyurielf . Qhia503 . maria8 . reaRelf . shizu indah . YunieNie . sitara1083 . Ciezie Orion Zordick . Dminniekyunnie . AngeLeeteuk . LeeShinHye . kim jae in elf1004 . RyeoFfan18 . Elfishy . cheonsa sha . AyuClouds69 . Hitsuru . Heenspiration . SB killersmile8687 . MichiMizuka . gengpetals . ulfarafida . psykkh . Kim HeeRa WKS . lailatul magfiroh16 . Juwi wkwk

Terima kasih untuk semuanya.. Koreksi saya jika saya melakukan kesalahan..

See you in The Dormitory 7th Chapter as soon as possible~ :D